"Di dalam hatimu yang penuh cinta, ada aku yang sedang menenun kebahagiaan."
-RED NIGHT-
::
Kyuhyun sudah ada di sana menunggunya, ekspresinya tampak cemas. Lelaki itu setengah berdiri ketika melihat Sungmin mendekat.
"Sungmni." Gumam Kyuhyun menatap Sungmin dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba Sungmin merasa kasihan kepada lelaki ini, lelaki yang begitu kuat dan berkuasa. Tetapi sekarang tampak begitu lelah dan berantakan, apakah itu karena dirinya?
"Sungmin." Kyuhyun menatap Sungmin dalam ketika perempuan itu duduk di depannya, "Terimakasih sudah mau bertemu denganku dan memberiku kesempatan kedua. Aku.. aku ingin menjelaskan semuanya padamu.."
Sungmin tersenyum lembut pada Kyuhyun, "Aku sudah tahu semuanya, Kyuhyun."
"Sudah tahu semuanya?" Kyuhyun mengerutkan keningnya.
"Iya." Sungmin menganggukkan kepalanya, "Guixian memberitahuku semuanya tentang kisah pertunanganmu dengan Seohyun. Dia meluruskan semua kesalahpahaman."
Itu adalah salah satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Kyuhyun . Guixian memberitahu Sungmin? Semuanya? Apa maksud Guixian? Selama ini Kyuhyun masih menyimpan kecurigaan dan mengira bahwa Guixian juga menyukai Sungmin. Tetapi dengan memberitahu Sungmin dan meluruskan semua kesalahpahaman, bukankah Guixian sama saja membantu Kyuhyun?.
"Apa yang Guixian beritahukan kepadamu?"
"Semuanya." Sungmin menatap Kyuhyun dengan lembut, merasa tidak tega ketika menemukan kepedihan di mata itu. Dia yang menyebabkannya. Kemarahannya waktu itu, ketika dia tidak mau menerima penjelasan Kyuhyun telah membuat lelaki itu menderita.
"Dan apakah dia mengatakan bahwa aku tidak mencintai Seohyun sama sekali?" suara Kyuhyun menjadi serak.
Sungmin menganggukkan kepalanya, "Maafkan aku Kyuhyun atas semua kesalahpahamanku kepadamu. Aku mengataimu lelaki jahat, aku menganggapmu sama brengseknya dengan Jungmo. Ternyata kau hanyalah lelaki yang terlalu baik hati."
Kyuhyun mengernyit pedih. "Dan kebaikan hatiku ternyata membuatku tersiksa. Dulu aku mengira bisa menjalaninya bersama Seohyun. Toh pada awalnya aku mencintainya, aku pikir aku bisa menerima dan memaafkan... Tetapi kemudian seperti katamu, mudah memang untuk memaafkan, tetapi sulit untuk melupakan..." Kyuhyun mendesah, "Setiap melihat Seohyun aku merasa muak, membayangkan harus menjalani hidupku bersamanya membuatku sangat tersiksa... Tapi janji sudah diucapkan dan harus ditepati, aku bertekad untuk menjalankannya." Mata Kyuhyun menatap Sungmin dalam-dalam, "Sampai akhirnya aku bertemu denganmu."
Sungmin membalas tatapan Kyuhyun dan membiarkan lelaki itu meraih jemarinya dengan lembut.
Kyuhyun lalu melanjutkan. "Aku tidak pernah menyapa pelanggan manapun sebelumnya, apalagi seorang perempuan, sama sekali tidak pernah... Tapi kau membuatku tidak bisa menahan diri, kau dengan tubuh mungilmu dan ekspresi seriusmu ketika menghadap laptop membuatku melupakan semua aturanku. Aku menyapamu dan kau membalas sapaanku." Kyuhyun menatap Sungmin dengan penuh cinta, "Detik itu juga, ketika kau mengucapkan 'hello' kepadaku, kau sudah memiliki hatiku."
Sebuah pernyataan yang sangat indah. Mata Sungmin tiba-tiba terasa panas. Lelaki ini sungguh tak disangka telah menumbuhkan cinta yang begitu dalam dan tulus kepadanya.
"Maafkan aku karena tidak mempercayaimu." Bisik Sungmin lemah.
Kyuhyun mengangkat bahunya, "Situasinya seperti itu, aku tidak menyalahkanmu. Aku sendiri juga salah, tidak menceritakan keadaanku dari awal padamu. Aku pikir aku bisa melepaskan diri dari masalah ini."
"Melepaskan diri?"
"Ya. Aku sedang berencana melepaskan diri dari Seohyun." Kyuhyun tampak malu, "Rupanya aku tidak sebertanggungjawab yang kau kira. Ketika aku jatuh cinta, aku rela melakukan apapun demi memiliki kekasihku." Kyuhyun tersenyum sedih, "Kau mungkin merasa aku laki-laki yang rendah."
Bicara tentang seohyun membuat Sungmin teringat akan kata-kata guixian, wajahnya berubah serius.
"guixian.. dia melakukan sesuatu untuk melepaskanmu dari Seohyun."
Kyuhyun tampak terkejut, "Melakukan apa?"
"Dia bercerita bahwa sebenarnya yang diincar Seohyun adalah dirinya."
"Ah ya." Kyuhyun tersenyum, "seohyun mengejarnya setengah mati, tetapi kau tahu Guixian. Dia tidak serius menanggapi Seohyun, hingga Seohyun berpindah padaku. Aku waktu itu kesepian, masih memendam kesedihan karena harus meninggalkan sekolah kokiku. Dan seohyun menghujaniku dengan perhatiannya, pada akhirnya aku menerima bahwa dia adalah wanita yang akan berada di sisiku."
"Guixian menceritakan pengkhianatan Seohyun kepadaku." Gumam Sungmin dengan wajah prihatin.
"Ya. Itu juga." Wajah kyuhyun tampak serius, "Karena itulah aku memahami penderitaanmu. Bagaimana sakitnya ketika kita dikhianati oleh orang yang kita percayai. Aku paham sekali bagaimana rasanya, tetapi mungkin aku tidak sesakit dirimu karena pada akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak mencintai seohyun sedalam itu. Dan kurasa seohyun juga tidak mencintaiku, mungkin aku hanyalah pelariannya dari Guixian."
"Guixian mengetahui itu Kyuhyun, dan dia sudah bertekad untuk melepaskan Seohyun dari dirimu. Dia mendatangi seohyun dan melamarnya."
"Apa?" Kyuhyun terperanjat, menatap Sungmin dengan kaget, "Apa katamu?"
"Guixian merasa bahwa ini adalah waktunya dia yang bertanggung jawab untukmu. Dia berkata bahwa dia sudah begitu egois selama ini, dan membiarkanmu menanggung semuanya."
"Guixian mengatakan itu kepadamu?" Kyuhyun sungguh tidak menyangka guixian yang begitu tidak peduli kepada apapun mau melakukan ini untuknya.
"Ya kyuhyun. Dan seohyun menerima lamaran guixian, dia akan membatalkan pertunangannya denganmu."
"Oh Astaga." kyuhyun tidak tahu bagaimana perasaannya. Di sisi lain dia merasa sangat lega karena bisa melepaskan diri dari seohyun. Tetapi di sisi lain perasaan bersalah yang amat dalam memukulnya karena itu berarti dia membuat guixian yang terjebak bersama seohyun selamanya, berakhir bersama orang yang tidak dia cintai. Guixian akan sangat tersiksa, dan kyuhyun tidak mungkin membiarkan guixian menanggung semuanya.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Azka mengetuk pintu apartemen Guixian dengan keras, dan butuh sepuluh menit dia menunggu sampai Guixian membuka pintunya. Adiknya itu tampaknya baru terbangun dari tidurnya.
"Ada apa hyung? Kenapa kau kemari tengah malam?" Guixian mengangkat alisnya dan meminggirkan tubuhnya, memberi jalan Kyuhyun untuk masuk.
Kyuhyun melangkah masuk lalu berdiri di tengah ruangan dan menatap Guixian dengan tajam.
"Aku sudah mendengarnya dari Sungmin, kau melamar Seohyun."
Tidak ada ekspresi apapun di wajah Guixian, "Oh. Ya hyung, maafkan aku belum memberitahumu. Tetapi aku dan Seohyun berencana untuk datang ke kantormu besok pagi dan mengatakan semuanya."
"Jangan berbuat bodoh demi diriku, Guixian." Kyuhyun bergumam pelan, ada kesedihan dan kesakitan di wajahnya, "Aku tahu kau sama sekali tidak mencintai Seohyun, kau akan menyiksa dirimu seperti yang kulakukan selama ini. Jangan lakukan Guixian, Jangan lakukan demi diriku."
Guixian tersenyum, lalu menepuk pundak kyuhyun, "Jangan memohon kepadaku seperti itu. Aku tahu kau melakukan segalanya untuk memikul tanggung jawab atas diriku, dan kurasa kini saatnya aku yang membalas budi."
"Kau adikku, dan aku tidak mungkin menjerumuskanmu dalam penderitaan seperti ini." Sela Kyuhyun keras.
Guixian mengangkat bahunya, "Dan kau hyungku, aku tidak akan rela kau kehilangan cinta sejatimu hanya karena sebuah tanggung jawab."
Kyuhyun kehabisan kata-kata mendengar kata-kata Guixian. Dia tersentuh. Selama ini dia mengira Guixian egois, berniat menjalani hidup sesukanya dan tidak memikirkan orang lain. Adiknya ini ternyata sangat menyayanginya.
"Meskipun aku berterima kasih, aku tetap tidak akan membiarkan kau berakhir dengan Seohyun." Gumam Kyuhyun akhirnya.
Guixian menatap kyuhyun dengan bingung, "Tidak ada cara lain , inilah satu-satunya cara. Pulanglah, milikilah Sungmin, dan berbahagialah. Dan aku akan berusaha menjalankan peranku dengan sebaik-baiknya. Kalau dipikir-pikir Seohyun tidak terlalu buruk." Gumam Guixian sambil tersenyum masam.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Kau tidak tahu, aku merencanakan menjauhkan Seohyun dengan menggunakan ."
"Suho? Sahabatmu dari sekolah memasak itu?"
"Ya. Suho yang itu, aku menyuruhnya untuk mendekati Seohyun dan merayunya dengan segala pesonanya." Pipi Kyuhyun tampak merona, sedikit malu, "Yah, memang aku menggunakan cara pengecut di sini, menusuk Seohyun dari belakang. Tetapi cara ini juga bisa menjadi bukti untukku apakah Seohyun benar-benar setia dan mencintaiku. Dia pernah mengkhianatiku sekali, dan aku ingin melihat, jika ada kesempatan, akankah dia mengkhianatiku lagi?"
"Dan ternyata?" Guixian bertanya meskipun sepertinya dia sudah tahu jawabannya.
"Dan dia mengkhianatiku, dia menjalin hubungan dengan suho, bahkan suho bilang seohyun tidak menolak ketika dia menciumnya. seohyun mengira aku tidak tahu karena itu dia tetap memaksa melanjutkan pernikahan ini sambil terus mengungkit rasa tanggung jawabku."
"Dasar perempuan jalang." Guixian mengumpat kasar, lalu mengangkat bahunya meminta maaf ketika Kyuhyun melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya, "Maafkan aku, aku sudah sejak awal tidak menyukainya, apalagi ketika pada awalnya dia mengejarku, lalu mengejarmu, dan kemudian mengkhianatimu."
Kyuhyun tersenyum lembut, "Dan kau dengan sukarela mau mengorbankan hidupmu untuk berakhir dengannya, hanya demi aku."
"Bukan 'hanya'. Kaulah satu-satunya keluargaku yang tersisa di dunia ini. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia." Gumam Guixian pelan.
Mata Kyuhyun berkaca-kaca, "Dan aku akan melakukan semuanya juga, untuk membuatmu bahagia, Guixian."
Kedua kakak beradik itu berpelukan dengan penuh perasaan, lalu Kyuhyun melepaskan pelukannya dengan canggung, karena sudah lama sekali dia tidak memeluk adiknya. Dia mengangkat alisnya dan menatap Guixian ingin tahu, "Tantangan untuk memperebutkan Sungmin dulu itu, kau sengaja melakukannya?"
Guixian terkekeh, "Aku hanya ingin sedikit mendorongmu."
"Sudah kuduga." Kyuhyun mencibir, "Walaupun aku sempat sangat marah padamu, kau pandai sekali berakting."
"Dan kau sangat pencemburu, aku hampir tidak kuat untuk menyembunyikan tawa geliku waktu melihatmu marah dan mulai mengancamku." Guixian akhirnya tertawa.
Kyuhyun tersenyum malu, "Lakukan semua seperti rencanamu Guixian, kurasa aku akan menggunakan Suho untuk menyelamatkanmu."
"Bagaimana caranya?" Guixian menatap Kyuhyun bingung.
"Kita akan menemukan cara." Kyuhyun menghela napas panjang. Dia harus menemukan cara, karena dia tidak mungkin tega membiarkan Guixian menanggung semuanya untuknya.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
"Guixian mengorbankan diri untukmu? Sungguh tidak terduga," Suho terkekeh, "Bersyukurlah Kyuhyun berarti kau sangat disayangi."
Kyuhyun melemparkan pandangan serius kepada Suho, "Tetapi aku masih membutuhkanmu untuk menyelamatkan Guixian, bagaimana hubunganmu dengan Seohyun akhir-akhir ini?"
Wajah Suho tampak masam, "Dia menghindariku akhir-akhir ini, kurasa dia mulai serius dengan Guixian." Suho mengangkat alisnya menatap Kyuhyun, "Sepertinya kali ini dia sungguh-sungguh ingin memiliki Guixian."
Gawat. Kyuhyun menghela napas panjang, kalau begini caranya, rencananya untuk menggunakan Suho sebagai senjata tidak dapat digunakan.
"Tetapi aku punya satu pemikiran untukmu." Suho bergumam misterius, membuat Kyuhyun langsung memperhatikaannya. "Pemikiran yang mungkin harus kau selidiki Kyuhyun, karena kupikir Seohyun membohongi kalian semua."
"Membohongi kami?" Kyuhyun mengernyitkan keningnya, "Apa maksudmu?"
"Aku punya seorang nenek yang sudah tua di panti jompo, dia tidak dapat berjalan dan harus berada di kursi roda. Beliau hidup bersama kami di rumah keluarga kami dan aku menghabiskan banyak waktuku untuk merawatnya." suho memajukan tubuhnya, "Dari pengalamanku itu, sepatu atau sandal yang dipakai oleh orang yang lumpuh biasanya solnya masih bagus seperti baru, karena sama sekali tidak pernah dipakai. Tetapi... kau tahu aku sering berkunjung ke tempat Seohyun, dan dia memakai sandal rumahnya di dalam... aku beberapa kali menggendongnya dan membantunya berpindah tempat. Dan aku sempat melihat, sol sandalnya sudah tidak seperti baru lagi dan sedikit aus... seperti sering dipakai berjalan-jalan."
Kyuhyun tertegun, pemikiran itu sama sekali tidak pernah terbersit olehnya. Dia mendengar sendiri diagnosa dari dokter rumah sakit bahwa Seohyun akan lumpuh selamanya. Dan dia mempercayainya sampai saat ini. Tetapi mungkinkah Seohyun membohonginya? Batinnya langsung mengiyakan, yah, mungkin sekali seohyun membohonginya, kelumpuhan itu adalah satu-satunya pengikat rasa tanggung jawab kyuhyun terhadap seohyun. Dan jika seohyun tidak lumpuh lagi, sudah pasti kyuhyun akan meninggalkannya.
"Mungkin kau bisa menghubungi dokter pribadi Seohyun dan meminta informasi." Suho bergumam memberi usul.
Kyuhyun sudah pasti akan melakukannya, dan jika sampai dokter itu berbohong, dia pasti akan menyesalinya. Kyuhyun akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kebenaran.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Untunglah ketika resepsionisnya mengabarkan bahwa Guixian datang mengunjunginya bersama Seohyun, Suho sudah meninggalkan kantor itu. Kalau tidak semuanya akan berubah menjadi drama yang buruk di antara mereka.
Kyuhyun mempersilahkan dua orang itu masuk, berakting sebaik-baiknya seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.
"Hai Hyung." Guixian masuk sambil mendorong kursi roda Seohyun, sempat-sempatnya dia mengedipkan mata kepada Kyuhyun, membuat Kyuhyun tersenyum masam.
"Hai Guixian." Kyuhyun menatap Guixian dan Seohyun bergantian, "Kau tidak bilang akan kemari, Seohyun, dan sungguh tidak disangka aku melihat kalian berdua datang bersama. Apakah kalian memang datang bersama, atau kalian bertemu di depan?"
"Kami memang datang bersama, Kyuhyun." Seohyun tampak gugup, Kyuhyun tampak begitu mendominasi di ruangan kantornya yang formal ini, dan tiba-tiba Seohyun merasa takut. Dia sudah pernah mengkhianati Kyuhyun sekali dan dia melakukannya lagi, bahkan kali ini dengan adik kembar Kyuhyun sendiri. Tetapi Keenan sudah meyakinkannya bahwa Kyuhyun tidak akan marah, karena dia tahu pasti bahwa Kyuhyun tidak mencintainya. Dan lagipula, Seohyun berpikir bahwa dia berhak memiliki cinta sejatinya. Guixianlah cinta sejatinya, lelaki yang sangat diimpikannya sejak dulu, dan sekarang ketika akhirnya bisa memiliki Guixian di tangannya, Seohyun tidak akan pernah melepaskannya.
"Kami datang untuk mengatakan sesuatu kepadamu. Dan kami harap kau tidak marah." Guixianlah yang angkat bicara, lalu dia meremas pundak Seohyun dengan lembut dan menenangkan Seohyun. "Katakan kepada Kyuhyun, Seohyun."
Kyuhyun menatap Seohyun dan Guixian berganti-ganti, "Mengatakan apa?".
Seohyun meletakkan kotak cincin di meja di dekat Kyuhyun, dia merasa mantap sekarang. "Aku ingin mengembalikan cincin pertunangan ini." Gumamnya.
Kyuhyun engangkat alisnya, "Mengembalikan cincin pertunangan? Apa maksudmu, Seohyun?"
Seohyun melirik ke arah Guixian dan tersenyum ketika melihat Guixian menatapnya penuh cinta dan memberi semangat, "Aku tidak mencintaimu Kyuhyun, kurasa aku tidak pernah mencintaimu. Ketika Guixian melamarku, aku baru sadar bahwa selama ini aku hanya menganggapmu sebagai pengganti Guixian."
Kurang Ajar. Meskipun sudah tahu, tetap saja Kyuhyun tidak bisa menahan diri untuk mengumpat dalam hatinya. Seohyun menganggapnya sebagai pengganti tetapi dia dengan egoisnya menahan Kyuhyun untuk dimilikinya. Bahkan Seohyun bertekad membawa hubungan mereka ke pernikahan. Wanita ini memang egois dan licik... sangat licik dan Kyuhyun harus berhati-hati menghadapinya. Dia harus memikirkan informasi Suho tadi dengan baik dan bertindak dengan hati-hati pula. Kalau memang yang dikatakan Suho benar, itu akan menjadi senjata besar untuk menyelamatkan Guixian.
"Kau melamar Seohyun?" Kyuhyun berpura-pura terkejut, menatap Guixian yang tampaknya berusaha menyembunyikan senyum gelinya.
"Aku melamarnya Hyung. Karena aku tahu kau tidak mencintainya, dan Seohyun tidak mencintaimu. Seohyun mencintaiku dan aku pikir dia berhak untuk bahagia bersamaku."
"Aku sangat mencintai Guixian, Kyuhyun. Aku harap kau mengerti." Seohyun menyela dengan bersemangat, "Aku ingin menikah dengan Guixian dan hidup bersamanya selamanya."
Kyuhyun tidak melewatkan ekspresi muak yang sempat terlintas di wajah Guixian, tetapi kemudian adiknya itu menutupinya dengan baik.
"Well kurasa kalian berdua serius, aku bisa berbuat apa?" Kyuhyun mengangkat bahunya, "Kurasa aku harus mengucapkan selamat."
Seohyun hampir memekik kegirangan karena jawaban Kyuhyun itu. Dia lalu mendongak dan menatap Guixian dengan senyuman penuh kemenangan.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
"Jadi begitu ceritanya." Kyuhyun bergumam lembut kepada Sungmin. Mereka sedang berpelukan di sofa apartemen Sungmin, setelah memakan makan malam yang khusus dimasakkan Kyuhyun untuk Sungmin. Setelah itu mereka melewatkan malam dengan bersantai dan menonton TV. Kyuhyun bercerita panjang lebar tentang pertemuannya dengan Guixian, pertemuannya dengan Suho, dan kedatangan Guixian bersama Seohyun ke tempatnya untuk mengembalikan cincin pertunangannya.
Kyuhyun menunduk lalu mengecup dahi Sungmin yang meringkuk di dalam pelukannya dengan lembut, "Aku lelaki bebas sekarang Sungmin, Lelaki bebas yang bisa kau miliki."
Sungmin menenggelamkan tubuhnya di dada Kyuhyun yang bidang dan memeluknya semakin erat,
"Aku senang bisa memilikimu, aku bahagia Kyuhyun."
"Aku akan selalu menjadi milikmu Sungmin, sekarang ataupun nanti." Kyuhyun mendongakkan dagu Sungmin, lalu mengecup bibirnya dengan lembut dan intens. "Dan semua impian kita akan terwujud, kau akan menjadi perempuan pertama yang kupuja dipagi hari ketika aku membuka mataku, dan menjadi yang terakhir kupeluk di malam hari ketika aku beranjak tidur."
"Kau sangat romantis." Sungmin terkekeh ketika Kyuhyun melepaskan kecupannya, "Dan aku suka."
Kyuhyun tertawa, "Aku tidak pernah seperti ini dengan perempuan manapun. Kau tahu... semua orang menganggapku kaku." Kyuhyun tersenyum malu, "Bahkan kadang aku merasa iri kepada Guixian yang dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata puitis untuk merayu seseorang."
Sungmin tertawa, "Menurutku au cukup puitis untukku.." Dia memeluk Kyuhyun dengan manja, lalu teringat sesuatu dan dahinya berkerut, "Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Kyuhyun?"
"Mengenai Seohyun?" kyuhyun mengangkat bahunya, "Well aku menganggap info dari Suho perlu ditindak lanjuti. Aku sudah menceritakan kepada Guixian dan dia setuju untuk bersama-sama menemui dokter pribadi Seohyun besok."
"Kalau Seohyun memang berbohong, berarti dokter pribadi Seohyun ikut membantunya membohongimu." Gumam Sungmin merenung.
Kyuhyun mendesah, "Mau bagaimana lagi, dokter itu adalah dokter pribadi Seohyun selama bertahun-tahun. Dia adalah sahabat dekat kedua orang tua Seohyun, mungkin persahabatannya itulah yang menjadi alasan utamanya membantu menutupi kebohongan Seohyun. Tetapi bagaimanapun juga, aku dan Guixian akan membuatnya bicara."
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
"Dari awal saya sebenarnya sudah tidak setuju dengan kebohongan ini." Tanpa diduga dokter pribadi keluarga Seohyun langsung mengungkapkan semuanya tanpa menutupi apapun. "Tetapi ayah Seohyun memohon kepada saya, dia meminta saya tidak memberitahukan kepada anda, bahwa Seohyun sudah bisa berjalan... Dia menangis dan mengatakan bahwa Seohyun akan bunuh diri kalau sampai anda meninggalkannya." Dokter itu mengangkat bahunya dengan menyesal. "Saya minta maaf atas kebohongan ini, saya memang bersalah. Tetapi pada waktu itu, saya memandang Seohyun seperti putri saya, dan saya tidak tega menghancurkan hidupnya."
Guixian dan Kyuhyun saling melempar pandangan. Sekarang semua sudah jelas, Seohyun selama ini membohongi mereka dengan berpura-pura lumpuh.
Mereka bisa saja membawa semua bukti ini ke depan Seohyun, melemparnya ke mukanya, dan membuatnya malu. Tetapi itu tidak akan membuat Seohyun menyesal. Itu tidak akan membuat Seohyun membayar setimpal kebohongan yang telah dengan tega dilakukannya dengan kejam.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Guixian menjemput Seohyun untuk makan malam bersama, Seohyun sudah berdandan secantik mungkin dan menunggu di kursi rodanya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, dan di mobil Seohyun menoleh kepada Guixian dengan tatapan manja.
"Memangnya kita mau kemana?" tanyanya mesra.
Guixian tersenyum, matanya mengarah ke jalan di depannya, wajahnya tidak terbaca, "Kita akan makan di salah satu cafe milik Kyuhyun, kau tidak keberatan kan? Makanan di cafe itu sangat enak dan suasananya romantis."
"Apakah Kyuhyun akan ada di sana?" Seohyun mengeryitkan keningnya. Pasti suasana makan malam yang romantis akan rusak kalau Kyuhyun ada di sana.
Guixian melirik sedikit dan tersenyum, "Cafe itu miliknya, mungkin saja dia akan ada di sana, mungkin juga tidak."
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Mereka lalu memasuki Garden Cafe itu, sebuah cafe yang indah dengan pepohonan hijau yang memenuhi sekelilingnya. Dindingnya dibatasi oleh kaca bening yang menampilkan pemandangan taman yang luar biasa indahnya. Cafe itu cukup bagus, meskipun Seohyun sedikit kecewa.
Bukankah keluarga Kyuhyun dan Guixian memiliki banyak rumah makan bintang lima? Kenapa Guixian malah mengajaknya merayakan pertunangan mereka di cafe biasa seperti ini? Padahal dia sudah memakai gaun terbagusnya dan berdandan semewah mungkin karena mengira Guixian akan membawanya makan malam di hotel yang mewah. Seohyun mengenakan gaun berwarna putih dengan hiasan renda keemasan di kerah dan lengannya. Gaun ini sangat mahal, pesanan khusus, tetapi tentu saja gaun ini sangat pantas dipakai di perayaan pertunangannya dengan Guixian. Seohyun melirik cincin di tangannya dengan bahagia.
Cafe itu cukup ramai, kelihatan dari luar. Beberapa orang memilih duduk-duduk bergerombol dan bercakap-cakap. Beberapa orang duduk dan menikmati minumannya di bar yang kelihatan dari kaca yang bening. Setelah membantunya turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya, Guixian mendorong kursi roda Seohyun dengan hati-hati memasuki cafe.
Mereka memilih meja di sudut yang sepi, Guixian menyingkirkan kursi dan mengatur kursi roda Seohyun supaya pas di sana. Dan Shindonglah yang melangkah mendekati mereka.
"Selamat malam Tuan Guixian, makan malam istimewa yang tuan minta sudah disiapkan." Dengan sopan Shindong menyalakan lilin di tengah meja, menampilkan cahaya temaram yang indah dan sangat romantis. Pipi Seohyun memerah karena bahagia dan dia menatap Guixian dengan penuh cinta.
"Kau menyiapkan makan malam istimewa untukku?" bisiknya mesra.
Guixian tersenyum misterius, "Tentu saja sayang, dan aku harap kau akan menyukai setiap detiknya."
Makan malam berlangsung romantis dan nikmat, meskipun Guixian tampaknya tidak banyak bicara. Ketika saat terakhir, Guixian menawarkan kepada Seohyun.
"Kau mau kopi untuk penutup?"
"Apa?" sebenarnya Seohyun sudah kenyang, dan dia tidak menginginkan kopi, karena kopi membuatnya susah tidur di malam hari. Tetapi Guixian tampaknya punya maksud tersendiri.
"Malam kita tidak hanya akan berakhir di makan malam ini Seohyun, aku punya rencana supaya kita menghabiskan malam di rumahku." Guixian mengedipkan matanya, "Dan itu bukan untuk tidur. Jadi kurasa kau butuh kopi."
Pipi Seohyun memerah ketika memahami maksud Guixian. Dia dan Guixian akan bermesraan, batinnya bersemangat. Memang Guixian berbeda dengan Kyuhyun, Kyuhyun sangat dingin. Jangankan bermesraan, lelaki itu jarang menyentuhnya kecuali hanya memegangnya lembut, atau memberinya kecupan di dahi. Padahal Seohyun sangat haus akan perhatian laki-laki. Karena itulah dia tidak menolak perhatian yang dilimpahkan Suho kepadanya. Bahkan ketika Suho menciumnya dulu, Seohyun tidak menolak dan malahan menikmatinya. Sayangnya Suho masih kalah kalau dibandingkan dengan Guixian, Seohyun akhirnya memilih menjauhi Suho karena tidak mau lelaki itu menjadi penghalang hubungannya dengan Guixian.
"Kurasa aku mau secangkir kopi." Gumamnya malu-malu.
Guixian terkekeh, lalu memberi isyarat kepada Shindong, "Dua cangkir kopi." Gumamnya sambil mengedipkan mata, Shindong menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi.
Tak lama kemudian Shindong datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang masih mengepul panas.
"Hmm kopi ini aromanya nikmat, Shindong dan sangat panas, aku yakin aku akan menikmatinya." Guixian bergumam ketika Shindong mendekat, sementara itu Shindong tertawa menanggapinya. Sayangnya karena tertawa dan terlalu memperhatikan Guixian, nampan di piringnya oleng dan gelas kopinya jatuh miring tumpah ke samping ke arah Seohyun.
Guixian langsung berteriak memperingatkan, "Seohyun! Menyingkir, kopinya sangat panas!" serunya.
Dan dengan gerakan refleks Seohyun menyingkir, menghela napas panjang karena lega ketika cairan kopi yang mengepul panas itu tidak mengenai dan melukainya, dia bergidikmembayangkan luka bakar yang akan dideritanya kalau terkena cairan panas itu. Untunglah gerakan refleknya cukup bagus.
Seohyun menoleh untuk tersenyum lega kepada Guixian, ketika menyadari bahwa Guixian dan Shindong sedang tertegun dan menatapnya dengan tajam.
Seohyun menundukkan kepalanya dan kemudian menyadari bahwa dia sudah berbuat kesalahan yang luar biasa fatal... Karena dia terlalu panik menghindari kopi panas itu, tanpa sadar dia sudah melompat berdiri dari kursi rodanya.
"Aku bisa menjelaskan..." seohyun berseru panik ketika melihat ekspresi jijik muncul di wajah Guixian. Bahkan pelayan setengah baya sialan yang tidak bisa memegang nampan dengan benar itupun ikut memandanginya dengan mencela.
"Menjelaskan apa Seohyun? Bahwa kau selama ini membohongi kami? Membohongi Kyuhyun, aku dan semua orang?"
"Bukan begitu..." Seohyun meninggikan suaranya, keringat dingin muncul di keningnya. Dia gugup dan ketakutan, tidak menyangka bahwa pada akhirnya dia akan ketahuan, "Aku melakukannya karena aku mencintaimu Guixian, aku mencintaimu, bukankah kau juga mencintaiku?"
Guixian bersedekap, menatap Seohyun dengan dingin, "Karena mencintaiku? Aku tidak percaya." Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan jijik, "Kau melakukan kebohongan ini ketika kau masih bersama Kyuhyun. Jelas sekali bahwa kau berpura-pura lumpuh bukan karena mencintaiku, tetapi karena keegoisanmu ingin memanfaatkan rasa bersalah Kyuhyun, karena obsesimu untuk memiliki Kyuhyun."
"Ya. Aku memang melakukannya!" seohyun berteriak dengan frustrasi karena dia sudah kepalang basah, "Tetapi itu semua sudah tidak penting lagi. Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Tidakkah ini membuatmu bahagia? Aku yang bisa berjalan disisimu dan membuatmu bangga? Kita saling mencintai bukan, Guixian?" Seohyun mulai gemetaran, "Kita akan menikah dan berbahagia kan Guixian? Aku akan memilikimu, bukan?"
Guixian mencibir, "Kau hanya bisa memilikiku dalam mimpimu Seohyun." Lalu lelaki itu melemparkan bom kejam itu kepada Seohyun, "Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu. Aku melamarmu dan sebagainya karena ingin melepaskan Kyuhyun dari cengkeraman perempuan licik sepertimu. Hyungku itu terlalu baik hati untuk menyingkirkanmu secara langsung dan kau memanfaatkan kebaikan hatinya tanpa tahu malu. Sekarang kau harus menyingkir dari kehidupan kami, Seo Joo Hyun."
Airmata meleleh dari wajah Seohyun, dia menatap Guixian dengan shock dan sedih, "Kau tidak akan melakukannya kepadaku kan Guixian? Aku mencintaimu!"
Guixian memalingkan mukanya dan berdiri, "Pergilah Seohyun sebelum aku marah dan lebih mempermalukanmu lagi. Kau dan keluargamu telah menipu kami. Aku dan Hyungku bisa saja melakukan pembalasan kejam kepadamu dan keluargamu, tetapi kalau kau menyingkir sekarang, kami tidak akan melakukannya."
"Guixian..." Seohyun berusaha memanggil dan memohon, tetapi wajah Guixian tampak dingin dan penuh kebencian.
"Supir di luar akan mengantarmu pulang, kau bisa mendorong kursi roda itu sendiri bukan?" Lelaki itu melirik Seohyun dengan tatapan merendahkan. "Dan omong-omong, cincin itu bisa kau tinggalkan sebelum pergi."
Lalu Guixian melenggang pergi, meninggalkan Seohyun yang berdiri dan menangis histeris memanggil-manggil namanya.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Kyuhyun berada di ruangan kerjanya yang berdinding kaca, mengamati semua kejadian itu. Ketika akhirnya Seohyun pergi ke luar dengan di antar Shindong yang membantu mendorong kursi rodanya, menuju sopir dan mobil yang sudah menunggu, Kyuhyun memejamkan matanya dengan lega.
Selesailah sudah.
Tubuhnya menegang selama mengawasi Guixian datang dan mengajak Seohyun makan malam. Dia takut rencana mereka tidak akan berhasil, dia takut bahwa kopi itu akan menumpahi Seohyun yang memilih tidak bergerak dari kursi rodanya dan melukainya. Mereka mengambil resiko yang cukup besar dengan rencana ini. Dan itu semua sepadan. Seohyun sudah pergi dari kehidupan mereka selamanya. Dia dengan rencana licik egoisnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengganggu kehidupannya.
Kyuhyun melangkah mundur dan langsung menghubungi Sungmin. Suara Sungmin yang menyahut lembut di seberang sana langsung menyejukkan perasaanya.
"Hallo?"
Kyuhyun tersenyum, "Semua sudah selesai, Sayang. Aku akan segera kesana."
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Kyuhyun melihat Guixian yang sedang bercanda dengan Shindong di bar ketika dia menuruni tangga. Dia mendekati mereka.
"Hai Hyung." Senyum Guixian tampak lebar, "Kau melihatnya tadi?"
Kyuhyun menganggukkan kepalanya, "Terimakasih Guixian, kau membuat semuanya menjadi mudah untukku."
"Aku akan mengirimkan tagihannya nanti." Guixian mengedipkan sebelah matanya menggoda, "Mungkin aku akan meminta makanan gratis di sini setiap hari sebagai bayarannya."
Kyuhyun melemparkan tatapan mata mencela, "Silahkan kalau kau tidak tahu malu." Lelaki itu lalu terkekeh, sebuah tawa yang terdengar menyenangkan karena sekarang hatinya benar-benar ringan, "Aku akan ke tempat Sungmin."
Guixian dan Shindong saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti ketika melihat Kyuhyun berjalan dengan sedikit tergesa dan penuh kebahagiaan keluar dari cafe. Pundaknya tampak tegak tanpa beban, seakan semua kesakitannya yang berat telah disingkirkan dari dirinya.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
"Saat ini aku merasa begitu ringan." Kyuhyun menatap Sungmin dan tersenyum lebar, "Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya."
Sungmin menatap kekasihnya yang tampak begitu bahagia itu dengan terharu. Kyuhyun memang telah menanggung beban berat begitu lama, karena menanggung beban demi kebahagiaan orang lain. Dan sekarang, lelaki itu layak untuk bahagia. Sungmin berjanji dalam hati dia akan membahagiakan Kyuhyun sebisanya. Sedapat mungkin untuk menebus segala beban dan penderitaan yang selama ini ditanggung oleh Kyuhyun.
Dengan senang dia memeluk Kyuhyun yang langsung membalas pelukannya dengan sayang. Lelaki itu mengecup dahinya dan menatapnya lembut.
"Terimakasih Sungmin." Bisiknya penuh cinta.
"Untuk apa?"
"Karena muncul di hidupku dan mengubah segalanya untukku. Kau membuatku berani melanggar semua prinsipku dan mengejar kebahagiaanku. Kau memberiku kebahagiaan yang dulu bahkan tidak pernah berani aku impikan." Mata Kyuhyun berkaca-kaca, lelaki itu mengungkapkan perasaannya dengan sepenuh hatinya.
Mata Sungmin sendiri terasa panas, menyadari betapa besarnya cinta yang diberikan Kyuhyun kepadanya. Lelaki ini benar-benar tulus kepadanya sejak awal, seorang lelaki yang dipenuhi kebaikan hati yang luar biasa. Dan Sungmin memilikinya, mereka saling memiliki.
"Aku mencintaimu Kyuhyun." Sungmin berbisik pelan, menutup matanya yang penuh air mata, membiarkan kekasihnya itu mengecup sudut matanya yang basah, lalu dahinya, lalu ujung hidungnya dan kemudian bibirnya. Mereka berciuman dengan penuh cinta kemudian, bibir mereka bertaut mencicipi kemanisan satu sama lain.
Ketika Kyuhyun mengangkat kepalanya dia menatap Sungmin dengan serius.
"Kurasa aku tidak ingin berlama-lama lagi,"
"Berlama-lama untuk apa?" Sungmin mendongak, menatap Kyuhyun dengan penuh ingin tahu.
"Untuk menikah." Lelaki itu mengeluarkan kotak cincin di saku celananya dengan gugup, "Aku.. eh aku membelinya sejak kemarin... "
Sungmin tertegun, kotak itu sudah pasti sebuah cincin, dan itu berarti Kyuhyun melamarnya. Dia tidak menyangka Kyuhyun akan melakukannya secepat itu. Tetapi apalagi yang perlu ditunggu? Mereka sangat pas bersama, mereka saling melengkapi satu sama lain, dan mereka sangat bahagia bersama.
Mata Sungmin kembali basah oleh air mata ketika Kyuhyun membuka kotak cincin itu dan berbisik parau kepada Sungmin.
"Maukah kau menikahiku sayang? Maukah kau menjadi yang pertama kulihat ketika bangun di pagi hari, dan menjadi yang terakhir kupeluk ketika aku menutup mata di malam hari?".
Tentu saja Sungmin mau, dia menganggukkan kepalanya, tidak mampu berkata-kata karena perasaan bahagia yang membuncah memenuhi rongga dadanya. Sungmin menganggukkan kepalanya sambil berurai air mata, dan Kyuhyun mengecup dahinya dengan lembut.
Lelaki itu lalu memasangkan cincin itu di jari manis Sungmin dan memeluk kekasihnya erat-erat. Rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memeluk sang pujaan hati dalam rengkuhan lengannya, menyadari bahwa mereka akan bersama selamanya, menjelang hari demi hari sambil bergandengan tangan.
END
