Don't Hold Back
Disclaimer : All Character Harry Potter punya Mommy Jo Rowling
Pukul 6 Draco tiba di Malfoy Manor yang di sambut oleh peri rumah di depan pintu ganda manor-nya, "selamat datang Young Master Draco," sambutan dari wibky salah satu peri rumahnya sambil membungkuk memberi hormat.
"Dimana Ayah dan Ibuku?" tanya Draco pada si peri rumah.
"Master dan Mistress sudah menunggu anda di living room Young Master," jawab Wibky.
Draco hanya mengangguk, lalu pergi ke ruangan yang disebutkan peri rumah.
Pewaris tunggal klan Malfoy itu membuka pintu ganda ruang keluarga, dia melihat ayah dan ibunya tengah duduk di sofa, ibunya menoleh saat pintu yang memasuki ruangan tersebut terbuka. "Draco," sapa ibunya gembira, dia berdiri dan menghampiri Draco yang juga sedang berjalan menghampirinya, Lucius mengikuti dibelakang istrinya. "Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Narcissa memeluk putra semata wayangnya.
Draco membalas pelukan ibunya dan mencium pipinya, "aku baik-baik saja Bu," jawab Draco. Lalu mengangguk pada ayahnya.
"Kita makan malam dulu, kau belum makan kan? Aku sudah meminta peri rumah untuk menyiapkan makanan kesukaanmu." Narcissa menggiring putranya ke dining room, yang diikuti suaminya dalam diam.
Mereka duduk di dining table dengan posisi seperti biasanya. Lucius duduk di kepala meja, menandakan bahwa dia adalah kepala keluarga, Narcissa dan Draco duduk di sebelah kanan dan kirinya. Draco meminum jus labunya, lalu memakan Wonton Soup kesukaannya. "Ayah, Ibu. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian." Draco berkata setelah menyuapkan dua sendok soup ke dalam mulutnya.
Narcissa meletakkan sendoknya, membersihkan mulutnya dengan serbet, mengangkat tangannya, tanda untuk berhenti. "Nanti son, kita akan berbincang-bincang setelah makan malam kita selesai. Sekarang habiskan dulu makananmu."
Draco mengangguk, lalu mereka menyantap makan malam dalam diam sepanjang waktu yang tersisa.
Selesai makan malam Draco dan kedua orangtua-nya duduk di ruang keluarga, ditemani wine berkualitas tinggi untuk melengkapi suasana keluarga yang tengah bercengkrama.
"Bagaimana N.E.W.T mu son?" Narcissa memulai pembicaraan.
"Good. Aku yakin nilaiku akan bagus nanti."
"Well done," balas Ibunya.
"Aku ingin kau mulai belajar membantuku mengurus perusahaan kita, Draco." Ayahnya yang kali ini bersuara.
'Jika kau tak mengusirku dari keluarga tentu saja.' Draco berkata dalam hati. "Akan aku usahakan Ayah," jawab Draco pada ayahnya.
"Itu keharusan Draco." Lucius memperingatkan putranya, tak ada tawar menawar.
Draco hanya mengangguk, bukan waktunya saat ini mengkonfrontasi ayahnya mengenai hal itu, ada hal yang lebih penting yang harus dibahas sekarang. "Ayah, Ibu. Aku pulang ke rumah karena ingin mengatakan sesuatu kepada kalian." Draco memulai topik yang akan disampaikannya.
"Ada apa son?" tanya Ibunya tersenyum. Ayahnya hanya mengangguk, mempersilahkannya berbicara.
Draco meneguk wine yang ada ditangannya, lalu meletakan gelas yang telah digunakannya di meja. Dia menghela nafas dan berkata, "Aku ingin memberitahu kalian bahwa.. kurang dari dua bulan lagi, aku akan memiliki keturunan."
Hening...
Draco tau orangtua-nya syok menerima kabar ini, meski mereka tak menunjukkan ekspresi apapun. Draco menunggu reaksi mereka sebelum melanjutkan.
"Benarkah?" tanya ibunya, memecah kesunyian. Draco mengangguk. "Kau tidak sedang bercanda kan?"
Draco menggeleng, "Tidak Ibu, aku serius."
"Lalu siapakah wanita yang membawa cucuku, son?" tanya Narcissa lagi.
"Hermione Granger."
Narcissa POV
Flashback
Musim panas. Dua bulan sebelum Hogwarts dibuka kembali pasca perang..
Aku mengetuk pintu ruang kerja suamiku, tanpa menunggu jawaban dari dalam aku masuk dan menutup pintu dibelakangku. "Aku dengar kau mengajukan petisi 'repatriated' untuk para Muggleborn dan Squib." Kataku tanpa tedeng aling-aling.
"Cissy," sapa suamiku mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang sedang dibacanya.
Aku duduk di sofa sebelah perapian dalam ruang kerja Lucius Malfoy alih-alih di depan meja kerja suamiku itu. "Kau harus mencabut petisi mu itu."
"Kenapa? Kau sekarang ingin jadi pecinta Muggle?" tanya Lucius bingung.
Aku memutar bola mata, "Bukan seperti itu. Aku hanya khawatir, jika kau melakukannya dan petisi itu disetujui, maka kau akan membuat dunia sihir Inggris tanpa penghuni lagi dalam beberapa puluh tahun kedepan."
"Kenapa bisa seperti itu?" tanyanya, makin tambah bingung dengan jawabanku.
Aku menghela nafas lalu berkata, "aku akan ceritakan ini padamu, kau harus dengarkan baik-baik." Dia mengangguk,
"Suatu hari ketika Voldemort sedang berada disini," Lucius sedikit bergidik mendengar ku berani memanggil nama Tuan-nya beberapa tahun yang lalu. Meskipun dia sudah mati, butuh sedikit usaha bagi para Pelahap Maut untuk membiasakan diri menyebut namanya dengan lantang. "Aku mendengarnya berbicara ketika aku melewati pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Pria setengah keturunan Muggle itu berkata tentang kutukan Dark Mark. Dengan segera aku melewati kamarnya dan memanggil Wibky untuk mendengarkan percakapan itu sepenuhnya."
Lucius mengerutkan dahi, tetapi perkataan ku berhasil menarik perhatiannya. "Kutukan Tanda Kegelapan? Maksudmu ada kutukan dalam Dark Mark yang ada ditangan kiriku ini?"
"Tepat sekali."
"Kutukan apa?"
"Setelah Wibky mendengarkan percakapan Voldemort dia melapor padaku." Aku melanjutkan.
"Apa yang dia katakan?"
"Bisa tidak kau berhenti bertanya dulu, aku akan menceritakan semuanya padamu." Protesku padanya.
Lucius memutar bola matanya, "Fine." Lalu dia bangkit dari meja kerjanya dan duduk di sebelahku.
"Wibky melapor bahwa Voldemort memberi kutukan pada Dark Mark pengikutnya. Kutukan yang membuat para Pureblood tidak akan memiliki keturunan jika menikah dengan sesama Pureblood. Aku bertanya pada Wibky, siapa orang yang Voldemort ajak bicara di kamar itu, dia menjawab Severus Snape dan Womtail."
"Severus?"
Aku mengangguk. "Ya. Beberapa bulan setelah perang usai aku menemui Severus di kediamannya, aku bertanya mengenai pembicaraannya dengan Voldemort waktu itu. Severus membenarkannya dan menjelaskan detilnya padaku, dia bilang bahwa Kutukan Dark Mark pada perang dunia sihir pertama membuat para Pelahap Maut yang menikahi sesama Pureblood tidak bisa memiliki keturunan yang banyak, mungkin itu sebabnya kita hanya bisa memiliki Draco." Mata Lucius melebar, tetapi dia tetap diam mendengarkan ku melanjutkan cerita.
"Tetapi pada perang dunia sihir kedua, ketika Voldemort kembali saat pertandingan Triwizard. Dia memperkuat kutukannya, para Pelahap Maut yang memperoleh Dark Mark tidak akan mempunyai keturunan jika dia menikah dengan sesama Pureblood."
"Tapi kenapa Vold.. Dark Lord berbuat seperti itu?"
"Kau harus membiasakan diri menyebut namanya. Dia tidak pantas disebut Lord.!" Ucapku kesal. "Si brengsek itu ingin menghancurkan generasi penerus Pureblood. Dia takut jika suatu hari pengikut-pengikutnya yang berstatus Pureblood akan memberontak karena merasa derajatnya lebih tinggi dibanding dia yang seorang Halfblood." kataku geram, "Ironis bukan? Disaat kita mengabdi pada orang yang berjanji akan menegakkan supremacy Pureblood - orang yang bahkan bukan seorang Pureblood - ternyata berencana melenyapkan generasi penerus kita. Dia benar-benar telah membodohi kita habis-habisan."
Lucius sedikit kaget dengan reaksiku, dia belum pernah melihatku seperti ini, karena aku biasanya memang bukan tipe orang yang suka meledak-ledak seperti ini.
"Tapi apa kau yakin bahwa semua itu benar? Maksudku, kenapa Dark.. si brengsek itu mengatakannya pada Severus dan Wormtail?"
Aku ceritakan pada suamiku bahwa aku telah melakukan riset semenjak mendengar tentang kutukan itu, sudah tiga tahun aku habiskan untuk memantau perkembangan statistik kelahiran Pureblood. Hasilnya sudah dapat dipastikan dengan akurat, para Pelahap Maut berstatus Pureblood yang menikah dengan sesama Pureblood ataupun Halfblood, sampai detik ini belum ada yang mendapatkan keturunan, sedangkan yang menikah dengan Mudblood sudah ada yang memiliki penerus, bahkan lebih dari satu. Aku pun menyebutkan nama-nama Pelahap Maut yang aku maksudkan untuk memperjelas hasil riset ku.
Aku juga melakukan perbandingan untuk menguatkan buktinya, aku memantau perkembangan statistik kelahiran Pureblood yang orangtua-nya tidak memiliki Tanda Kegelapan. Semuanya telah dikaruniai keturunan, salah satunya adalah Bill Weasley yang telah memiliki dua putri hasil pernikahannya dengan Fleur Delacour.
"Apa bukti ini tidak cukup untuk meyakinkan bahwa kutukan itu memang ada?"
"Itu sudah cukup. Tapi aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin mencabut petisi itu semau ku, semua itu hasil kesepakatan semua anggota organisasi Pureblood."
"Aku punya solusinya," Aku menyeringai. Lucius menaikkan sebelah alisnya, menanyakan maksud dari perkataanku. "Kita tidak perlu mencabut petisinya. Kita hanya perlu mengubah isi pengajuan petisinya -tanpa mencabutnya- dengan syarat, Muggleborn harus mau dinikahkan atau paling tidak, mau memberikan keturunan dengan mantan Pelahap Maut. Muggleborn yang tidak bersedia akan di 'repatriated ' ke dunia Muggle. Kita negosiasikan dengan anggota Orde dan kementrian. Aku yakin para anggota organisasi akan setuju."
"Bagaimana kau begitu yakin?"
Aku memutar bola mata, lagi. "Oh ayolah Lucius, sekarang aku tanya padamu, kau akan menerima cucu seorang Halfblood atau memilih tidak memiliki penerus lagi setelah Draco?"
Kepala keluarga Malfoy itu berpikir sejenak, "Kau benar, tentu aku tidak akan membiarkan keluarga Malfoy tidak memiliki generasi penerus lagi." Aku menyunggingkan bibir, tepat seperti dugaanku. "Baiklah, aku akan angkat topik ini pada pertemuan organisasi selanjutnya." Dia setuju.
"Tunggu Lucius. Sebelum kau membahas masalah ini dengan anggota organisasi, kita harus membuat rencana terlebih dahulu."
"Rencana?"
"Sebelum orang lain, kita harus menentukan lebih dulu Muggleborn mana yang sesuai untuk Draco, kita harus selangkah lebih maju dari yang lain."
Lucius menatapku, seperti tau apa yang ada dibenakku. "Aku tau, kau sudah menentukan pilihannya bukan? Siapa pilihanmu?"
Aku tersenyum, "Hermione Granger."
"Mudblood Potter of best friend?"
Aku mengangguk, "The brightest Witch of her age. Dia adalah Mudblood yang paling sesuai untuk Draco, bahkan dia sangat sesuai menjadi Mistress seorang Malfoy, selain status darahnya of course."
Dia menatapku dengan tatapan tak percaya, "Tapi mereka tidak menyukai satu sama lain, bahkan Draco sangat membencinya."
"Kau yakin?"
"Ya. Yang aku tau begitu," jawabnya.
"Aku Ibunya, aku paling mengenal putraku." kataku mantap, "Apakah kau tidak merasa janggal setiap kali Draco libur sekolah, dia selalu membicarakan gadis itu? Memang bukan membicarakan hal yang baik, tapi apa kau pikir itu hal yang normal? Draco selalu complain karena Muggleborn itu selalu unggul nilai akademiknya satu tingkat di atas-nya, membicarakan tingkah lakunya, fisiknya, cara dia berbicara, apa yang dikatakannya, bagaimana dia menjadi murid kesayangan professornya. He is fancy her even when he was at first grade." Mata Lucius terbelalak,
"Tapi Draco terlalu berbakti kepada kita, dia takut mengecewakan kita maka dia menyimpan cintanya disudut hatinya yang terdalam. Atau mungkin Draco masih terlalu muda untuk menurunkan gengsinya dan mengakui perasaannya pada gadis yang merupakan musuh bubuyutannya itu."
"Okey, anggap Draco menyukainya."
"He is."
Lucius mendengus, "Fine. Tapi bagaimana dengan Miss Granger? Bukankah dia membenci Draco?"
Aku tertawa singkat mendengar pertanyaan yang diajukan suamiku, "kau terlalu meremehkan pesona putramu Lucius." Aku menyeringai, "kita hanya perlu memberi Draco sedikit 'dorongan' dan memberi mereka kesempatan untuk 'mengenal' satu sama lain."
"Maksudmu?"
"Kau tenang saja, serahkan hal itu padaku. Kau hanya perlu mengundang Severus ke rumah. Kau bisa tanyakan lebih detil padanya mengenai kutukan itu dan aku bisa mengajukan permintaan kecil ku kepadanya." Lucius memutar bola matanya, sepertinya kegiatan itu menjadi hobi kami saat ini.
"Setelah itu kau bisa mendiskusikannya kepada anggota organisasi dan bernegosiasi dengan kementrian." Tambahku, mengabaikan reaksi suamiku, "Ingat satu hal, kau harus mengklaim Hermione Granger untuk Draco sebelum yang lain mendahuluinya. Jika kita harus menerima seorang Mudblood di keluarga kita, Hermione Granger lah orangnya. Malfoy selalu mendapatkan yang terbaik bukan?"
Dengan itu Lucius bangkit dari sofa, kembali ke meja kerjanya. Menulis surat kepada Severus Snape untuk mengundangnya makan malam di Manor, memasukkannya kedalam amplop dan menyegelnya dengan emblem M yang indah berwarna hijau, berbeda dengan emblem M kementrian sihir yang berwarna coklat yang lugas. Lelaki aristokrat itu memanggil burung hantunya, mengikat suratnya pada kaki sebelah kanan burung berwarna putih itu, lalu membiarkannya terbang menembus cakrawala, melintasi pepohonan dan sungai-sungai, mencari kediaman orang yang dimaksud oleh tuannya.
Aku menghampiri suamiku, mengecup pipi pria yang aku cintai itu, lalu meminta izin untuk keluar ruang kerjanya, menghabiskan waktu sore hari di perpustakaan keluarga.
Malam hari surat balasan dari Severus Snape datang, tertera pada suratnya bahwa dia bersedia berkunjung ke Malfoy Manor besok lusa pada pukul 7 malam.
.
Draco terlihat sedikit terkejut mendapati ayah baptisnya berkunjung ke Manor dan makan malam bersama kami, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia menyapa mantan guru ramuannya itu seperti biasa, lalu pamit undur diri untuk bertemu teman-teman Slytherinnya.
Lucius membawa Severus Snape ke ruang kerjanya, aku muncul beberapa menit kemudian setelah aku memerintahkan peri rumah untuk membawakan wine ke ruang kerja suamiku.
Kami duduk di sofa dan memulai pembicaraan setelah Mipsy menyuguhkan wine untuk kami.
"Aku yakin undanganku kemari tidak hanya untuk menyantap makan malam saja, ada hal yang ingin kalian sampaikan padaku?" kata Snape to the point.
"Lucius ingin mengetahui kebenaran tentang kutukan Dark Mark itu Severus," Aku yang menjawab.
"Kau belum memberitahunya?"
"Sudah sebagian,"
Snape mengangguk lalu menatap Lucius, "Yang dikatakan istrimu benar, Voldemort memberi kutukan pada Dark Mark yang ada di tangan kiri kita. Apa yang membuatmu ragu, kau bisa tanyakan padaku."
"Kenapa Dark.. Voldemort mengatakannya hanya padamu dan Wormtail?"
Kepala asrama Slytherin itu bercerita bahwa dia bertanya pada Voldemort tentang kepercayaannya pada pengikutnya yang sebagian besar adalah Pureblood, mengingat dirinya adalah seorang Halfblood yang sudah pasti dianggap lebih rendah dari para pengikutnya yang berstatus Pureblood. Lalu Voldemort menberitahunya tentang kutukan Dark Mark. Selain karena Snape adalah seorang Halfblood yang sama seperti dirinya, pada waktu itu Snape juga seorang mata-mata yang paling dipercayainya, dia mengira bahwa Halfblood Prince itu telah membunuh Dumbledore -yang ternyata hanya rekayasa belaka- Dan untuk Wormtail karena dia adalah anjing penjaga yang patuh dan setia.
Snape juga bercerita kepada suamiku bahwa dia memantau kelahiran Pureblood seperti yang aku lakukan, bahkan selama ini dia sudah berusaha mencari ramuan dan mantra yang dapat menghapus kutukan itu, tapi sampai detik ini hasilnya masih nihil.
"Kau harus tetap berusaha mencari penangkalnya Severus, aku akan membantumu. Kau belum mencari referensi dari perpustakaan keluargaku kan? Cobalah cari disini, perpustakaan keluarga Malfoy lebih besar dan lebih lengkap dari Hogwarts bahkan perpustakaan manapun di wilayah eropa. Buku-buku ilmu hitam, dark art, kami punya semua. Aku yakin kutukan itu pasti berasal dari ilmu hitam." Pinta Lucius mengebu-gebu.
Snape mengangguk, "aku akan coba cari disini."
"Good. Cissy akan membantumu dan jika kau masih kekurangan orang atau bahan ramuan atau apapun yang kau butuhkan untuk membuat penangkal kutukan itu, kau katakan saja padaku."
"Tapi sebelum itu aku mempunyai satu permintaan juga padamu." ujar Snape.
"Katakan,"
"Soal petisimu tentang 'repatriated ' ..."
.
Pagi-pagi sekali keluarga Malfoy menerima sebuah surat dari Hogwarts, surat undangan kembali ke sekolah tentu saja. Wibky yang saat itu mengambilnya dari burung hantu milik Hogwarts, segera peri rumah itu melapor kepadaku.
Aku buka surat itu, membacanya sekitar satu menit. Aku lihat kembali amplop surat itu, selain sebuah surat, didalamnya terdapat sebuah pin yang sangat familiar bagiku, pin prefek, lebih tepatnya Head Boy.
Aku tersenyum puas, permintaanku dipenuhi oleh Snape.
Ketika Snape datang ke manor tempo hari, aku telah memintanya untuk membujuk Dumbledore agar Draco menduduki posisi ketua murid putra, -yakin bahwa posisi ketua murid putri akan jatuh pada Hermione Granger- sebagai syarat bahwa aku akan membantu membujuk teman-teman sosialitaku yang merupakan para istri dari anggota persatuan para Pureblood, untuk menangguhkan petisi 'repatriated '.
Aku ingin membuat Hermione Granger lebih 'mengenal' Draco, aku yakin bahwa War Heroin itu akan jatuh pada pesona putraku. Jika tidak, posisi itu akan memudahkan ku untuk 'membantu' mewujudkannya, melancarkan rencanaku.
Aku mengetuk pintu kamar putraku, "Son, apakah Ibu bisa masuk?"
"Sebentar Bu," jawab suara dari dalam. Dua puluh detik kemudian pintu terbuka, memperlihatkan seorang pemuda yang memiliki rambut dan mata khas seorang Malfoy. "Ada apa Bu?" tanya Draco membuka lebar pintu kamarnya, membiarkan aku masuk.
"Ada surat dari Hogwarts, bacalah." jawabku menyerahkan amplop beremblem H itu pada putraku.
Draco tak mengambil suratnya, "Tak perlu Bu, aku sudah tau isinya apa. Pasti sama seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk kembali ke sekolah."
"Tidak. Kali ini ada yang berbeda, bukalah." Aku bersikeras.
Draco mengerutkan dahinya, "apa yang berbeda?" Dia mengambil amplop yang aku sodorkan, membaca suratnya. "Head Boy?" Draco melihat lagi amplopnya, lalu mengambil Pin yang ada didalamnya. "Kenapa aku?"
"Kau murid laki-laki terpintar di Hogwarts, mampu memimpin penghuni asramamu dan disegani penghuni asrama lain. Memang seharusnya siapa yang lebih cocok?" ujarku.
"Aku ini mantan Pelahap Maut Bu?"
"Son, kau jangan meremehkan dirimu sendiri. Siswa Hogwarts yang berstatus mantan Pelahap Maut bukan hanya dirimu, jadi kau tak perlu merasa rendah diri seperti itu." jawabku.
"Tapi aku yang memasukkan bibi Bella dan para Pelahap Maut lainnya ke Hogwarts. Apa Dumbledore sudah gila?" katanya, keras kepala.
"Jadi kau tidak senang?"
"Bukan begitu, hanya saja ini sedikit mengejutkan. Diluar perkiraanku."
Aku tersenyum, "Well, mungkin karena kemampuanmu memang luar biasa dan reputasi keluarga Malfoy masih dipandang tinggi diluar sana bahkan oleh anggota Orde sekalipun."
Draco mengangkat bahunya, "Perhaps. Setidaknya tahun ini aku akan memiliki ruangan sendiri."
"Good. Berpikirlah yang positif son, jangan remehkan dirimu sendiri." Draco mengangguk, "bagaimana jika siang ini kita beli kebutuhan sekolahmu di Diagon Alley?" usulku.
"Ibu saja yang belikan, hari ini aku ada janji bermain Quidditch di Manor Montague."
Aku menghela nafas, "jadi putraku ini sekarang sudah dewasa? sudah tidak mau lagi berbelanja bersama wanita tua ini." kataku main-main.
Draco memelukku, "Tidak seperti itu Bu. Aku mau menemani ibu jalan-jalan, tapi hari ini aku sudah janji dengan teman-temanku dari jauh hari. Kami akan bertanding hari ini, aku harus sering berlatih Quidditch lagi Bu, karena aku masih kapten Quidditch Slytherin. Bahkan tahun ini aku akan sibuk oleh dua jabatan sekaligus." Draco merajuk.
Aku tersenyum, "Baiklah. Ibu akan siapkan semua perlengkapan sekolah anak Ibu yang manja dan banyak kegiatannya ini. Kau tulislah daftar kebutuhanmu, serahkan pada Ibu sebelum kau pergi."
"Aku ini anak Ibu satu-satunya, jika bukan aku, siapa lagi yang akan Ibu manja." ujarnya membela diri.
"Kau ini. Mulutmu pintar sekali."
"Aku rasa itu gen dari keluarga Black," katanya, menyeringai.
Aku hanya tertawa, bahagia melihat putra semata wayangku ceria kembali. "Ayo kita ke dining room sama-sama, ayah mu pasti sudah menunggu disana."
Draco mengangguk, lalu kami keluar kamar, melewati lorong-lorong dan turun di tangga lantai 3 menuju dining room.
Aku melihat putraku, rasanya baru kemarin aku masih menggendongnya dalam pelukanku, melihatnya tertidur pulas dengan memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut. Sekarang tingginya sudah melewatiku, hampir sejajar dengan ayahnya.
Selama Voldemort ada disini sampai berakhirnya perang dunia sihir kedua di Hogwarts, aku selalu cemas akan keselamatan putraku, juga kesehatan mentalnya. Aku yakin dia pasti ketakutan tapi dia pandai menyembunyikan perasaannya, juga Occlumency-nya. Tapi kami sudah melewati masa suram itu dan aku bahagia dia sehat dan aman sekarang, seperti ketika dia masih bayi.
Kini hanya satu kekhawatiran yang belum teratasi, kelangsungan generasi penerus putraku. Tapi itu tak akan lama lagi menjadi masalah, karena aku akan menyelesaikannya.
Kau akan mendapatkan yang terbaik son, Malfoy selalu mendapatkan yang terbaik. Aku yakin kau akan bahagia, karena aku akan mewujudkan cinta yang sekian lama tersembunyi disudut hatimu, cinta dalam diammu, cinta dalam kebencianmu.
.
"Bagaimana hasil negosiasinya?" tanyaku pada Lucius ketika dia memasuki kamar tidur kami.
Lucius menghela nafas, "Setelah diskusi dan perdebatan panjang di organisasi persatuan para Pureblood, serta negosisasi dengan pihak Orde dan kementrian. Akhirnya petisi 'repatriated ' diubah dan disepakati."
"Apa isinya? Apa yang diubah?" tanyaku, penasaran.
"Cissy, biarkan aku mandi dulu,"
"Baiklah, kau lepas pakaianmu, aku akan siapkan airnya,"
Setelah mandi dan memakai piyama, Lucius bergabung bersamaku di ranjang. Aku letakan buku yang tengah aku baca di nightstand lalu menagih janji suamiku.
"So?"
Lucius membuka laci nightstand-nya, mengambil sebuah perkamen dan diberikannya padaku.
Kesepakatan itu berisi :
1. Para Muggleborn yang dipilih harus mau menikah atau memberikan keturunan dengan mantan Pelahap Maut yang memilihnya.
2. Hak asuh anak dalam pernikahan atau hubungan ini akan jatuh pada Pureblood/Mantan Pelahap Maut.
3. Para Muggleborn ataupun publik tidak diperbolehkan mengetahui tentang kutukan Dark Mark.
4. Petisi ini akan dimulai satu tahun setelah perjanjian ini disepakati.
Perwakilan pihak kementerian atau anggota Orde yang melanggar akan mengakibatkan petisi 'repatriated ' bagi seluruh Muggleborn akan disetujui dan dilaksanakan.
Para Muggleborn yang menolak atau melanggar akan di Obliviate dan dibuang ke dunia Muggle.
Ditandatangani oleh Mentri sihir Inggris, ketua Orde dan ketua organisasi persatuan para Pureblood.
Aku tercengang membaca isi kesepakatan itu, lalu menatap suamiku. "Pihak kementrian dan Orde setuju?" tanyaku tak percaya.
Lucius mengangkat bahu, "mereka tak punya banyak pilihan, lagipula kementerian sebagian besar masih dipegang oleh Pureblood."
"Aku tau alasan untuk point ke empat, pasti anggota organisasi ingin menunggu hasil pencarian penangkal kutukan Dark Mark terlebih dahulu." Lucius mengangguk.
"Sebagian besar Pelahap Maut berasal dari Slytherin, tentu saja mereka sangat cerdik dan licik. Tapi untuk point yang pertama, bagaimana jika Muggleborn yang terpilih atau mantan Pelahap Maut yang memilih sudah menikah?" tanyaku tentang isi petisi yang sedari tadi mengusikku.
"Para Pelahap Maut yang telah menikah akan menjadikan Muggleborn yang dipilihnya sebagai istri/suami simpanan atau hanya berkewajiban memberi anak. Sedangkan Muggleborn yang telah menikah hanya diberi kewajiban untuk memberikan keturunan saja." Lucius menjelaskan.
"Kau sudah mengklaim Hermione Granger untuk Draco kan?"
"Sudah. Semua anggota organisasi sudah menentukan pilihan. Daftarnya ada di kementrian." jawabnya.
Aku mengangguk, "Kau tidak ikut mengklaim untuk diri sendiri kan?"
"Tidak. Untuk apa? Aku sudah punya Draco dan aku tidak suka Muggleborn. Lagipula aku hanya mencintaimu." Lucius menyeringai.
Aku mendengus, "Ternyata Draco memiliki gen playboy dari mu."
"Kenapa kau tidak percaya? Cissy, harusnya kau memberiku reward, aku sudah membereskan masalah kita." masih dengan seringaiannya.
Aku memutar bola mata, "Aku lelah seharian membeli kebutuhan sekolah Draco, memang kau tidak lelah pulang sampai malam seperti ini?"
"Ya. Setelah berminggu-minggu berdebat dengan anggota organisasi dan seharian bernegosisasi dengan kementrian, terlebih dengan anggota Orde. Siapa yang tidak akan kelelahan."
Aku tersenyum dan mencium suamiku, "It was definitely frustrated, right?"
Dia balik menciumku, "Yeah, it was. Tapi ini lebih baik dibanding ketika si keparat itu tinggal disini." Aku mengangguk. "Ayo kita tidur, tapi aku mau reward ku tengah malam nanti." katanya, menggoda lagi.
Aku hanya tertawa, tapi mengangguk dan mengecup bibir suamiku sebelum kami menyelinap ke balik selimut berwarna hijau tua.
.
Kali ini aku sengaja memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan teman-teman sosialita di kediaman keluarga Zabini, aku mempunyai misi yang harus segera aku jalankan. Ketika pertemuan telah usai aku menanyakan keberadaan putra tunggalnya kepada nyonya rumah.
Beruntung putra Zabini itu ada di rumah -sebenarnya aku sudah tau kalau Blaise pasti ada di rumah karena Draco juga tidak pergi hari ini- tepatnya di ruang belajarnya. Aku meminta izin kepada nyonya Zabini untuk bertemu dengan putranya, mengatakan bahwa aku ingin menanyakan sesuatu tentang Draco. Magdalena Zabini mempersilahkanku menuju ruangan yang menjadi salah satu tempat privasi putranya itu.
"Masuk," kata suara dari dalam setelah aku mengetuk pintu ruang belajarnya.
"Blaise," sapaku.
Sahabat putraku itu mengangkat wajahnya, lalu berdiri, terkejut melihatku ada disini.
"Mrs. Malfoy?"
"Sejak kapan kau tidak memanggilku Bibi Cissy lagi?"
"Maaf Bibi Cissy," jawabnya gugup. "Silahkan duduk." Dia menunjuk sofa dengan sopan.
Dia menawarkan segelas wine lalu mengambil duduk di sofa yang berhadapan denganku.
"Kau sudah menerima surat dari Hogwarts?" tanyaku beramah tamah.
"Sudah. Aku dengar Draco tahun ini dipercaya menjadi Head Boy." jawabnya.
"Ya. Tahun ini dia akan menjabat dua posisi, pasti akan sibuk sekali. Kau harus membantunya Blaise, ingatkan dia untuk makan tepat waktu."
Blaise mengangguk, "aku akan membantunya semampuku Bibi Cissy, jangan khawatir."
Aku tersenyum. "Aku selalu tau kau sahabatnya yang terbaik dan bisa diandalkan."
"Itu juga karena Draco sahabat terbaikku." balasnya, tersenyum.
"Ya. Aku tau kalian sangat dekat seperti saudara, seperti aku dan Ibumu. Untuk itu aku pikir kau adalah orang yang tepat."
"Maksud Bibi?" tanyanya bingung.
"I need your Favor.."
.
Tadi pagi Blaise Zabini mengirim surat padaku, mengatakan bahwa ia ingin berbicara denganku, tentu soal Draco. Lalu aku katakan untuk datang ke Manor.
Aku sedang di perpustakaan ketika Blaise datang, peri rumah melapor bahwa tamu yang aku nantikan telah tiba dan sudah membawanya ke living room.
"Blaise," sapaku ketika membuka pintu ganda living room.
Pewaris tunggal klan Zabini itu menoleh, meletakan gelas wine yang tengah ia minum, lalu berdiri. "Bibi Cissy," sapanya.
"Apa kabar, bagaimana sekolahmu?" tanyaku basa-basi.
"Aku baik, terima kasih." balasnya.
Aku mempersilahkannya duduk kembali, lalu aku mengambil tempat duduk di sofa yang berhadapan dengannya. "Aku kemarin bertemu Magdalena, dia gembira sekali perusahaannya di Itali sudah kembali stabil."
"Itu semua berkat Bibi, terima kasih." jawabnya ramah.
"Tidak perlu begitu, kita ini sudah seperti saudara sendiri, tentu harus tolong menolong."
Blaise mengangguk, "aku kesini untuk mengatakan padamu tentang Draco, tapi terlebih dulu aku ingin bertanya pada Bibi."
Aku mengangguk, mempersilahkannya berbicara.
"Saat malam pesta ulangtahunku di bar, -pesta yang Bibi Cissy hadiahkan padaku- Malam yang sama ketika Gryffindor mengadakan pesta. Hermione Granger tanpa sengaja meminum lust potion. Apakah Bibi Cissy yang melakukannya?" tanyanya hati-hati.
"Benar," jawabku singkat.
Pria berdarah Itali itu terkejut, "tapi kenapa? Bagaimana bisa?" tanya Blaise sedikit terbata.
"Mata-mataku di Hogwart bukan hanya dirimu Blaise," jawabku sejujurnya.
"Cormac Mclaggen. Aku sudah curiga ketika Draco bercerita bahwa Granger tidak sengaja meminum lust potion malam itu. Level 4.! Mustahil Mclaggen mendapatkan ramuan itu sendiri." Ungkapnya
"Benar, aku yang menyuruhnya."
"Tapi bagaimana bisa Mclaggen berbohong dibawah ramuan veritaserum?"
"Kau yakin tidak tau jawabannya?" aku balik bertanya.
Blaise mengerutkan dahinya, berpikir. Aku memberinya waktu. Tak lama wajahnya menatapku horor, "Bibi Cissy meng-Obliviatenya?"
Aku mengangguk, "bukan aku yang meng-Obliviatenya secara langsung, tapi secara teknis aku memang melakukannya."
"Tapi kenapa, kenapa Bibi Cissy ingin Draco tidur dengan Granger? Sebenarnya berapa orang mata-mata yang mengawasi Draco? Bagaimana jika Mr. Malfoy tau?" Blaise tak kuasa menghujaniku pertanyaan.
"Aku rasa kau tidak perlu tau Blaise." jawabku ramah.
"Tapi aku membawa berita penting, sebelum aku mengatakannya aku ingin tau dulu apa motif Bibi? Karena ini menyangkut keselamatan seseorang."
Aku menghela nafas, "aku tidak bermaksud jahat Blaise."
"Tentu Bibi tidak bermaksud jahat pada Draco, tapi Granger?"
Aku menghela nafas lagi. "Baiklah, aku akan katakan padamu apa motifku, tapi kita harus membuat Vow dulu agar kau tidak mengatakannya kepada siapapun. Apakah berita yang akan kau sampaikan cukup berharga untukku?"
Blaise mengangguk. "Sangat," jawabnya yakin.
"Baiklah, aku percaya penilaianmu."
.
"Cissy, kenapa dari tadi kau selalu tersenyum." tanya Lucius ketika kami sedang makan malam.
"Aku akan menceritakannya nanti saat kita sudah di kamar tidur."
"Kenapa kau tidak mengatakannya sekarang?"
"Tidak baik berbicara ketika kita tengah makan, lagipula aku ingin menceritakannya saat kita sedang santai." jawabku, tersenyum pada suamiku. Dia hanya mengangguk.
Aku baru bergabung di ranjang ketika Lucius berkata, "senyummu belum hilang, aku jadi sedikit khawatir." godanya.
Aku menepuk lengannya pelan, lalu menceritakan berita yang dibawa oleh Blaise sore ini, aku juga mengatakan tentang Vow yang aku buat dengan pewaris tunggal Zabini itu dan memberitahunya tentang misi kita.
"Kau yakin dia bisa dipercaya?"
Aku mengangguk, "aku akan pastikan besok ke St Mungo."
"Tapi kau bilang Healer Turrell membuat Unbreakable Vow dengan Draco, jika benar dia pasti tidak akan memberitahumu."
"Dia tidak harus memberitahuku. Kau tenang saja, aku punya caraku sendiri untuk mendapatkan informasi itu. Besok aku pasti bisa membawa salinan dokumen tentang cucu kita." Aku menyeringai.
"Kau sangat Slytherin."
"I am. Oh ya Lucius, aku ingin kau besok datang menemui semua kepala redaksi surat kabar yang ada di Inggris, minta mereka untuk tidak menerbitkan berita tentang kehamilan Hermione Granger, juga tidak mempublikasikan artikel tentang Draco yang berhubungan dengan Muggleborn itu. Bungkam mereka dengan cara apapun."
"Kenapa? Tidak ada yang perlu mereka khawatirkan jika publik mengetahuinya kan?"
"Blaise yang memberi saran, dia bilang Draco dan Miss Granger takut kita tau tentang cucu kita. Mereka bahkan meminta semua murid Hogwart tidak menyebarkannya keluar Hogwart agar tidak jadi berita di surat kabar. Tapi Blaise percaya bahwa tidak semua murid Hogwart akan bungkam maka kita harus bungkam redaksinya."
" Tapi kenapa Draco harus takut pada kita?"
Aku memutar bola mata, "Draco kan tidak tau bahwa kita yang mengaturnya. Lagipula lebih baik jika mereka yang katakan sendiri, kita harus memberi mereka waktu agar siap berhadapan dengan kita. Sangat baik bagi hubungan mereka jika mereka takut kepada kita. Mereka akan saling melindungi, menjaga cucu kita dengan baik. Terlebih Miss Granger tidak perlu tau bahwa kita menginginkannya agar dia tidak curiga pada kita."
"Kau sangat Slytherin,"
"Kau sudah mengatakannya."
.
Pagi hari aku mendapatkan surat dari Draco, dia akan berkunjung ke rumah malam ini dan mengatakan bahwa dia ingin berbicara hal penting denganku dan Lucius.
"Hari ini telah tiba," kataku saat Lucius sedang duduk di kepala dining table untuk sarapan bersamaku.
Ayah dari putra tunggal ku itu mengerutkan dahinya, sebelum dia bertanya aku sodorkan surat dari Draco. Dia membacanya lalu menatapku.
"Ingat, kita harus pura-pura tidak tau sampai Draco mengatakannya pada kita."
Lucius mengangguk, "apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
Inilah saatnya..
End Flashback
A/n : Sepertinya ini adalah chap terpanjang yang pernah saya bikin di ff ini.
Chapter ini buatnya agak repot dan harus sedikit extra keras karena menjabarkan main story ff ini. Semoga twist-nya ga overdosis ya and masih masuk akal. Chap ini saya ga terlalu mikirin dinamiknya karena udah ribet sama penjelasannya, coz inilah ide awal ff ini, mau ngasih pesan bahwa di dunia ini ga ada yang kebetulan wkwkwk. What do you think?
Oh, dan ga lupa untuk tema 'repatriated' dan kutukan Dark Mark yang menginspirasi ff ini creditnya buat Delancey654, yang menurut saya, itu adalah salah satu alasan yang paling masuk akal untuk mempersatukan Dramione dan agar keluarga Malfoy yang aristokrat+pureblood turun temurun itu bisa menerima Mudblood di keluarganya.
Aquadewi : bikin satu aja udah ribet banget, tapi seneng sih setidaknya saya ikut berpartisipasi nyumbang ff otp. gimana kalo translate aja biar ga repot mikirin plot?
Staecia : tenang aja mood saya datang dan pergi dengan sendirinya.
Just A Guest : berarti bisa disimpen nih perasaan cadangannya.
Yui : udah di update nih. ga lama kan?
Puma178 : terima kasih apresiasinya. iya kan, ketara banget kan jetlagnya, chap ini juga kurang bagus nih, saya mesti cari ilmu and referensi lebih banyak nih.
