SUPPOSED

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And OCs

ChanBaek (GS)

Drama, Angst

DON'T LIKE DON'T READ!


••Second Last Chapter••


Sojin terpaksa menyudahi meeting ketika asistennya memasuki ruang rapat dengan wajah panik sebelum kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya. Lantas wanita setengah baya itu bergegas meninggalkan ruangan yang sontak mengundang kernyitan heran dari setiap staf perusahaan yang juga mengikuti jalannya meeting pagi ini.

Dengan pongah, Sojin mengurai langkah tanpa terlihat gentar sedikit pun meski kini ia tahu akan berhadapan dengan pihak kepolisian yang menurut informasi dari asistennya mereka sengaja datang untuk menemui dirinya.

Untuk apa?

Sebenarnya Sojin tidak sepercaya diri itu saat ini, mengingat hal-hal yang menyangkut pihak berwajib seperti kepolisian selalu berhasil membuat ketakutan dalam dirinya mencuat. Untuk beberapa saat ia berdiri di depan pintu ruangannya sebelum kemudian menghela napas panjang dan menarik knop, lantas melangkah masuk.

Di dalam ruangannya, kini ia dihadapkan pada dua orang yang jelas terlihat bahwa mereka memang para personil penegak hukum.

Dan Sojin harus sekuat tenaga menyembunyikan kegugupan atau bahkan ketakutan dengan cara menelan salivanya susah payah.

Setelah berjabat tangan, Sojin tak menampakkan keramahan sedikit pun pada raut wajahnya meski sebenarnya ia belum tahu apa tujuan pihak kepolisian itu datang menemui dirinya. Namun tentu saja satu hal menjadi semakin jelas bahwa wanita paruh baya itu memang selalu antipati dengan aparat penegak hukum dan antek-anteknya.

Ya. Bisa dibilang mereka semua adalah ketakutan terbesar dalam hidupnya.

"Park Sojin-ssi, maksud dan tujuan kami datang kemari untuk menanyakan perihal kesaksian anda pada kasus pembunuhan yang melibatkan Byun Hana-ssi sebagai tersangka dan Lee Hyunjae-ssi sebagai korban puluhan tahun silam. Untuk itu kami sangat mengharapkan kerja sama dari anda."

Rentetan kalimat yang terlontar dari salah satu orang di hadapannya membuat sekujur tubuh Sojin diselimuti gigil seketika.

Bagaimana tidak?

Ketakutannya mulai mengemuka karena kedua bola matanya nyaris melompat keluar. Sojin tidak tahu mengapa orang-orang di hadapannya saat ini membicarakan hal yang tidak masuk akal tersebut. Tentu saja, Sojin sudah mengubur rapat-rapat kejadian itu dan ia tidak ingin siapapun mengoreknya kembali. Karena besar kemungkinan hal itu akan menjadi pemicu hancurnya hidup yang jauh dari hukuman yang selama ini ia jaga mati-matian.

"Park Sojin-ssi?"

Lamunan Sojin membuyar, lantas dengan kemampuan luar biasanya dalam berkilah, wanita itu berhasil menguasai diri dan berdeham. Menatap orang-orang di hadapannya dengan berani.

"Apa kalian mengantongi izin resmi untuk melakukan penyidikan ini?" Tanya Sojin dengan pongah, menyilangkan kedua kaki, lantas menaikkan dagu dengan angkuh.

Kedua petugas kepolisian tersebut tampak membeku dengan pertanyaan Sojin, mereka memang tidak mengantongi izin resmi. Hal ini mereka lakukan semata-mata karena mengikuti instruksi salah satu petinggi penegak hukum yang cukup memiliki otoritas. Namun tentu saja, apa yang saat ini mereka lakukan tidak dibenarkan tanpa surat izin resmi.

"Ahh kutebak kalian tidak mempunyai izin resmi." Tukas Sojin diiringi decihan merendahkan. "Mengganggu waktuku saja!" Lanjutnya dengan geram sebelum kemudian bangkit dari kursinya. "Bagaimana bisa petugas kepolisian bersikap teledor seperti ini. Apakah atasan kalian tahu akan tindakan gegabah kalian? Perlu kuberitahu bahwa aku mengenal nyaris dari seluruh petinggi penegak hukum yang siap mencopot lencana kalian dalam sekejap!" Tegas wanita paruh baya itu.

"Tunggu, Park Sojin-ssi!"

Langkah angkuh Sojin terhenti meski ia enggan untuk berbalik. "Jika ada yang ingin kalian bicarakan mengenai kasus pembunuhan itu, kalian bisa bicara dengan pengacaraku. Aku tidak mempunyai waktu untuk mengurus hal-hal yang tidak penting! Satu lagi, silahkan tinggalkan kantor ini dan kalian boleh kembali jika sudah mengantongi izin resmi." Finalnya berhasil membungkam petugas kepolisian tersebut sebelum kemudian keluar dari ruangannya.

Langkah angkuh wanita paruh baya itu mulai kehilangan kekuatannya beberapa saat setelah dirinya berhasil memasuki lift menuju lantai basement.

"Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Perintahnya mutlak pada sang asisten yang sedari tadi setia mengekorinya.

Ya. Rasa penasaran Sojin kian membuncah tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa kasus itu kembali mencuat ke permukaan?

Dan tentu saja itu bukanlah hal bagus.

Sojin tidak bisa diam saja. Ia telah berjuang bertahan hidup dalam kubangan darah dan menutup rapat masa-masa kelam itu. Siapapun yang telah berani mengusik kehidupannya yang tenang dengan membawa-bawa kembali kejadian itu benar-bebar memancing kemarahanan seorang Park Sojin.

Dan wanita paruh baya itu tidak akan memberi ampun.

Ya. Siapapun itu.


••Supposed••


Heechul masih bersikap tenang meski informasi yang didapatnya saat ini tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.

"Apa tidak ada cara lain agar kasus itu kembali diusut?" Tanya wanita paruh baya itu pada salah satu jaksa penuntut kenamaan yang ia percaya untuk membantunya menghancurkan Park Sojin.

"Ini tidak mudah." Sahut sang jaksa. "Seperti yang nyonya katakan kejadian itu terjadi sudah lebih dari dua puluh tahun, sementara untuk kejahatan dengan ancaman pidana penjara lebih dari tiga tahun, daluarsa penuntutan pidananya adalah sesudah dua belas tahun. Dengan demikian, atas perhitungan masa daluarsa atas kejadian yang berimbas pada suatu pembunuhan itu maka upaya penuntutan pidananya menjadi hapus atau tidak dapat dilakukan penuntutan. Terlebih poin utama di sini perkara yang kita hadapi sudah tuntas dan optimal menurut kewenangan dari kejaksaan." Ia menghela napas sejenak, terlihat gusar. "Bukankah wanita itu benar-benar mengerikan? Semua perbuatan kejinya dilakukan dengan begitu bersih dan bahkan tidak meninggalkan satu pun jejak." Lanjutnya kemudian.

Heechul mulai terlihat resah, ia mengakui bahwa tidaklah mudah untuk menyerang Park Sojin saat ini. Iblis itu tengah berada di atas angin dan tentu Heechul tidak senang akan hal itu, karena ia sudah bersumpah tidak akan hidup dengan tenang sebelum menyaksikan penderitaan Park Sojin di balik jeruji besi dan membayar semua penderitaan yang Hana atau bahkan Baekhyun alami selama ini.

Oh tentu saja, satu hal mulai terlintas di benak Heechul. Hukum memang belum berpihak padanya kali ini, namun Heechul mempunyai berbagai cara lain agar Sojin membayar semua perbuatan kejinya.

Bukankah ada hukuman tanpa hukum?

Ya. Heechul hanya harus menyusun rencana dan menyerang Sojin dengan cara lain dan secara perlahan hingga wanita iblis itu tak berkutik atas penyesalannya sendiri.


••Second Last Chapter••


Lelaki itu masih terlihat sama berantakannya seperti terakhir kali, bahkan tidak ada aroma lain yang menguar dari tubuhnya saat ini selain bau alkohol menyengat dari minuman yang beberapa hari terakhir menjadi teman setianya. Bedanya kali ini, Chanyeol tidak sedang menjelma menjadi seorang pecundang yang bersembunyi di balik tirai apartemennya yang tertutup rapat.

Ini adalah hari dan kali kelima di mana Chanyeol dengan setia berdiam diri di dalam kendaraannya, bertingkah seperti seorang penguntit, memasang mata elang yang tak pernah melemah tertuju pada sesosok bocah berseragam taman kanak-kanak, berwajah mungil lucu, meski begitu tingkah ceria nan menggemaskannya tidak pernah gagal membuat dada Chanyeol dipenuhi rasa sesak, lagi-lagi terkoyak menyakitkan.

Tidak ada yang tahu betapa Chanyeol ingin sekali merengkuh dan mendekap sosok mungil itu dengan erat.

Byun Jesper.

Putranya.

Malaikat kecil yang Tuhan ciptakan sebagai darah dagingnya.

Chanyeol tersenyum pahit tatkala di seberang sana dilihatnya Baekhyun keluar dari sebuah mobil. Seperti biasa, wanita itu akan berlutut sembari merentangkan tangan sebelum kemudian pelukan sempit Jesper melingkar di lehernya.

Oh, betapa Chanyeol ingin sekali menjadi bagian dari mereka. Namun tentu saja Itu hal yang mustahil, mengingat Byun Baekhyun saat ini menganggap dirinya tidaklah lebih dari seorang penjahat yang harus dihindari. Chanyeol bahkan yakin, wanita itu akan langsung bersiaga dalam mode bahaya jika saja dirinya menangkap sosok Chanyeol berada di sekitarnya.

Ya. Ingat penolakannya terakhir kali.

Air muka Chanyeol yang semula dipenuhi rasa iri pada momen penuh kasih sayang dari Baekhyun dan Jesper yang selama lima hari ini tidak pernah absen dari atensinya mulai menampakkan ekspresi lain tatkala seorang lelaki yang begitu ia kenal ikut keluar dari mobil yang semula Baekhyun tumpangi.

Kim Jongin?

Ada kerut kentara di dahi Chanyeol saat melihat Baekhyun maupun Jesper masuk ke dalam mobil Jongin, namun tak berlangsung lama karena dengan sigap lelaki itu menginjak pedal gas dan mengikuti mereka.

Tidak ada hal yang berarti, ternyata Jongin hanya mengantarkan Baekhyun dan Jesper pulang ke apartemen.

Sesaat setelah kendaraan Jongin meninggalkan area basement apartemen, Chanyeol mulai turun dari mobilnya dan mengikuti Baekhyun yang sudah memasuki elevator, sebelumnya Chanyeol melihat bahwa jagoan kecilnya telah terlelap dalam gendongan ibunya.

Lelaki itu menekan nomor lantai tempat di mana Baekhyun tinggal, ia tidak peduli meski harus mendapatkan penolakan untuk ke sekian kalinya. Chanyeol hanya akan tetap pada tujuannya, memohon ampun kepada Baekhyun dan juga putranya.

Karena tidak ada hal lain yang lebih penting dalam hidupnya saat ini selain pengampunan mereka.

Bunyi nyaring elevator menandakan Chanyeol telah sampai pada lantai yang dituju. Dilihatnya belasan meter dari tempatnya berdiri Baekhyun tengah menekan sandi apartemen.

Wanita itu sedikit kesulitan karena posisinya menggendong Jesper yang tengah terlelap.

Namun belum lagi ia berhasil menekan sandi apartemen, ekor matanya telah lebih dulu menangkap sosok lain di sekitarnya, merasa sedikit curiga karena sosok itu mendekat kearahnya Baekhyun membalik setengah badan dan pada saat yang sama ia dikejutkan oleh Chanyeol yang berdiri tak jauh darinya.

Lelaki itu terlihat mengerikan, dalam artian dia benar-benar bukan Park Chanyeol sang superstar berwajah cerah yang kerap dilihatnya di layar televisi melainkan seorang lelaki berkantung mata hitam, berantakan, berwajah kusut, dan seolah tak memiliki tujuan hidup.

Namun tentu saja hal itu tidak sedikit pun membangkitkan rasa simpati Baekhyun, justru ia merasa semakin muak melihat tampang lelaki itu.

Ya. Baekhyun benci.

Sangat membencinya.

Wanita itu mengeratkan pelukannya terhadap Jesper, memasang gestur melindungi yang begitu kentara sampai membuat pasokan udara begitu sulit untuk masuk ke dalam paru-paru Chanyeol.

"Baekhyun.. aku-"

"Mau apa lagi kau kemari? Aku tidak sudi mempunyai urusan lagi denganmu!" Cela Baekhyun dengan tajam sementara tatapannya sudah membeku sejak awal.

"Kumohon.." Chanyeol menghela napas berat, terdengar payah. "Aku hanya ingin pengampunanmu. Aku.. tidak tahu lagi harus melakukan apa.." Paraunya kemudian.

"Pengampunan, katamu." Kata Baekhyun seolah meremehkan. "Aku bukan Tuhan. Jadi jangan pernah berharap kau bisa mendapatkan pegampunan dariku, Park Chanyeol."

Kelopak mata mungil yang sedari tadi tertutup seketika terbuka, Jesper terjaga.

"Setidaknya maafkan semua kesalahanku, Baekhyun kumohon.." Sesal Chanyeol seraya menggosokkan kedua telapak tangannya dengan gestur memohon.

Baekhyun tidak menyahut, ia sudah terlalu muak. Wanita itu lantas menekan kembali sandi apartemennya.

Chanyeol nyaris mengereng frustasi, pikirannya benar-benar buntu jika sudah dihadapkan pada kebencian Baekhyun terhadap dirinya.

"Jesper." Tukas Chanyeol putus asa, menghentikan gerak Baekhyun yang hendak membuka pintu.

Tanpa alasan yang jelas, mendadak tubuh Baekhyun diselimuti gigil kentara.

"Atau aku harus memanggilnya Park Jesper?" Tanya Chanyeol dengan getar suara lemah.

"Jangan!" Sahut Baekhyun dengan cepat. Ia kembali berbalik lantas melayangkan jari telunjuk sebagai peringatan. "Jangan bicara sembarangan!" Geram Baekhyun. "Apa hakmu berkata seperti itu dan dengan lancang mengganti nama putraku, huh?!" Suaranya naik sekian oktaf, marah tentu saja.

"Kau bertanya hakku? Hakku terhadap Jesper? Apa harus kuperjelas bahwa Jesper adalah darah dagingku, huh?!" Bentak Chanyeol tak kalah geram.

Baekhyun mundur satu langkah, tanpa bisa dicegah air matanya menetes.

"Ahh apa perlu aku tunjukan hasil tes DNA yang menyatakan bahwa Jesper adalah putraku, Byun Baekhyun?!"

Si wanita menggeleng keras, mengeratkan pelukannya pada Jesper, seperti tengah menegaskan bahwa ia menolak membenarkan ucapan Chanyeol.

"Aku.. aku Park Chanyeol adalah ayah biologis dari anak yang tengah kau peluk saat ini. Aku ayah Jesper." Tegas Chanyeol. "I'm his daddy." Lanjutnya dengan putus asa.

"He's mine!" Teriak Baekhyun, lalu menggeleng keras dan menegaskan bahwa Jesper adalah miliknya seorang.

Dan Park Chanyeol tidak memiliki hak apapun terhadap Jesper.

"Jangan pernah berani menyentuh putraku." Baekhyun bergegas membuka pintu apartemen, namun sebelum masuk ia berhenti sejenak. "Kau.. kau hanya anak seorang pembunuh! Dan ingat ini baik-baik, apakah anak pembunuh sepertimu layak berteriak lantang dan mengaku-ngaku sebagai ayah kandung dari putraku?" Tukas Beakhyun dengan tajam, mutlak dan tidak memerlukan jawaban sama sekali.

Setelahnya, wanita itu masuk ke dalam apartemen diakhiri bantingan pintu yang cukup keras.

Baekhyun diam selama beberapa saat di depan pintu, mengatur helaan napasnya yang memburu sebelum kemudian ia melangkah lemah menuju kamar Jesper.

Dibelainya wajah tertidur Jesper sesaat setelah membaringkan bocah itu di ranjangnya.

"I'm sorry." Bisik Baekhyun dengan suara parau lantas mengecup dahi Jesper sebelum kemudian berlalu dari kamar putranya tersebut.

Suara pintu tertutup menjadi satu-satunya alarm yang membuat kelopak mata Jesper terbuka lebar. Bocah itu mengerjap seraya menatap langit-langit kamarnya.

"D-daddy?" Gumamnya dengan ragu diiringi getar samar di dalam nada suaranya.

Chanyeol mematung di posisinya, dari sekian banyak hal sulit yang tengah ia alami, kalimat paling tabu itu akhirnya terucap dari mulut Baekhyun.

Memukulnya secara telak.

Menyakitkan hingga mampu membuatnya terpaku tak berdaya.

Kau hanya anak seorang pembunuh

Kau anak pembunuh

Jadi, seperti ini rasanya dicela dan dicap sebagai anak seorang pembunuh, rasanya benar-benar menyakitkan. Bukan hanya Chanyeol tidak terbiasa dengan julukan tersebut juga karena memang hal itu terucap langsung dari mulut Baekhyun.

Lekaki itu menelan salivanya dengan terbata, pahitnya kenyataan bertubi-tubi yang menghantam dirinya benar-benar membuat lelaki itu buntu dan tentu saja menyedihkan.

Kali ini ia harus rela menerima kembali penolakan Baekhyun, karena memang dirinya sadar bahwa tidak akan mudah memberi maaf pada orang yang sudah menoreh begitu banyak luka selama ini.

Chanyeol menarik napas panjang, namun tentu saja ia tidak akan menyerah dan lelaki itu akan kembali lagi sampai ia benar-benar diampuni.

Ketika Chanyeol berbalik, ia tak lantas melangkah melainkan kembali mematung sementara atensinya sudah lebih dulu tertuju pada sosok Jongin yang menampakkan ekspresi terkejut luar biasa.

Melihat dari raut wajah temannya yang terlihat syok, sepertinya Chanyeol harus memberikan banyak penjelasan karena tentu saja Jongin pasti mendengar topik pertikaian antara dirinya dengan Baekhyun sesaat yang lalu.


••Supposed••


Untuk ke sekian kalinya Sojin berdecak kesal. Dan untuk ke sekian kalinya pula asistennya hilir mudik ke dalam ruangannya untuk memberi laporan seputar nilai saham perusahaan yang hari ini mendadak turun, meski tidak drastis tapi perlahan Sojin bisa mulai menghitung kerugian yang akan ia alami.

Park Corporation adalah salah satu perusahaan multinasional terbesar yang mana selalu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Bahkan perusahaan tersebut tak jarang menjadi pembicaraan hangat di beberapa stasiun televisi.

Maka tak heran jika hal sekecil apapun tentang perusahaan tersebut mudah tercium oleh media.

Kehadiran pihak kepolisian di hari sebelumnya telah sampai ke telinga beberapa pihak, media, dan bahkan para pemegang saham.

Beberapa artikel di media online bahkan beramai-ramai membuat spekulasi miring mengingat Park Corporation adalah satu-satunya perusahaan yang tidak pernah sama sekali terlibat dengan pihak-pihak berwajib, dikenal bersih dari tindak menyimpang melawan aturan hukum membuat perusahaan yang Sojin pimpin itu kini berada dalam situasi yang cukup membuat wanita paruh baya itu memijit pelipisnya untuk ke sekian kali.

"Apa kau sudah mencari tahu?" Tanya Sojin yang masih menyandarkan kepalanya pada kursi kerja, raut wajahnya terlihat kacau.

"Ya, Sajangnim." Sahut sang asisten seraya menyerahkan beberapa lembar informasi yang langsung disambar oleh Sojin. "Namanya Kim Heechul. Menurut informasi yang saya dapat, beliau telah bekerjasama dengan salah satu penyidik kejaksaan untuk mencoba membuka kembali kasus pembunuhan yang terjadi pada seorang wanita bernama Byun Hana puluhan tahun silam."

"Dia memiliki catatan kriminal?" Tanya Sojin sesaat setelah membaca lembar profil di tangannya.

"Ya. Menariknya, beliau tercatat sebagai narapidana yang berbagi satu sel dengan Byun Hana."

Tangan Sojin mulai mencengkram sisi kertas yang berada di tangannya. Meski pikirannya masih dilingkupi berjuta tanya. "Aku tidak mengenal wanita ini sama sekali."

"Tetapi Kim Heechul sepertinya mengenal anda dengan sangat baik. Pihak kepolisian yang kemarin datang adalah hasil campur tangan beliau."

"Apa kau bilang?" Beo Sojin. "Tapi apa alasannya?"

"Maaf, sajangnim. Sepertinya Kim Heechul mencurgai sesuatu yang berhubungan dengan kasus pembunuhan itu."

Sojin mulai bereaksi lebih jauh. Ia menengadah, melempar wajah terkejut yang tak repot-repot ia tutupi. "Lalu, apa kau mendapat informasi lebih tentang wanita ini?"

"Ya. Kim Heechul juga tercatat sebagai ibu angkat dari Byun Baekhyun yang tak lain adalah putri kandung dari Byun Hana."

Sederetan kalimat itu sontak membuat tubuh Sojin membeku hingga bulu disekitar tengkuknya berdiri, gigil menyerangnya seketika. Awalnya Sojin memang sangat bingung karena ia tidak mengenal sama sekali Kim Heechul, namun ketika mendengar informasi terakhir dari asistennya sontak saja ia mengerti dengan siatuasinya saat ini.

Berbagai spekulasi bermunculan di otaknya.

Mungkin saja, Byun Baekhyun, anak itu berniat membalas dendam terhadapnya.

Sojin menggeleng pelan. Tidak mungkin anak itu tahu segalanya. Setahu Sojin, ia sudah menutup rapat masa lalunya tanpa jejak sedikitpun.

Kembali, Sojin menggeleng. Lalu mengapa para polisi itu mendatanginya dengan membawa-bawa kasus pembunuhan itu?

Sojin merasakan kepalanya kian berat karena berbagai kemungkinan tersebut, dan tentu saja ia tidak akan membuat keresahannya berlanjut. Sojin akan mencaritahu lebih jauh tentang apa yang terjadi saat ini.

Jika benar wanita bernama Kim Heechul dan Byun Baekhyun itu mencoba mengusiknya, maka Sojin tidak akan tinggal diam.

Berani sekali kalian!

Kepalan tangan Sojin kian mengerat.

Dari awal ia sudah menegaskan bahwa ia tidak akan memberi ampun terhadap siapapun yang berani menganggu ketenangan hidupnya.

Tentu saja, Sojin tidak akan membiarkan dirinya hancur karena dosa masa lalunya. Baginya, itu sudah berlalu.

Dan sebelum Heechul maupun Baekhyun mengasah taringnya lebih jauh, maka Sojin akan menyerang mereka lebih dulu.

"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi?"

Sojin langsung memusatkan perhatian pada sang asisten yang tengah menerima panggilan telepon, bawahannya itu terlihat terkejut juga panik ketika berbicaa dengan lawan bicaranya di seberang sana. "Ada apa?" Tanyanya dengan perasaan yang mengganjal, seperti firasat bahwa ada sesuatu lain yang buruk terjadi.

"Maaf, Sajangnim." Tukas sang asisten sebelum kemudian menyambar remot kontrol dan menyalakan televisi.

Diduga kuat kesaksian Park Sojin terhadap kasus pembunuhan yang sempat menggemparkan masyarakat Korea puluhan tahun silam itu merupakan kesaksian palsu. Spekulasi ini diperkuat oleh banyaknya artikel di media online yang menyebut bahwa ada konspirasi dibalik perkara yang terkait.

"Sajangnim, saat ini wartawan telah memenuhi halaman gedung."

Sojin masih kehilangan kosa kata ketika asistennya kembali memberinya informasi mengejutkan sesaat setelah mendengar sederetan kalimat mengejutkan lain yang dibawakan oleh pembawa berita yang terpampang di layar televisi.

Lalu dengan amarah memuncak, ia menggebrak mejanya cukup kuat hingga membuat asistennya tersentak.

Sojin tentu tidak akan tinggal diam. Ia akan melawan siapapun yang berani membuat situasi menjadi semakin kacau seperti saat ini.

Dan ia sudah tahu siapa yang layak menerima kemarahannya tersebut.


••Second Last Chapter••


"Park Sojin pasti sedang kewalahan saat ini." Tukas Heechul sesaat setelah menyesap kopinya, duduk di sofa yang empuk, menyilangkan kedua kaki sementara atensinya masih tertuju pada layar televisi yang tengah menyiarkan berita terbaru seputar Park Sojin.

"Tapi, Omma.. apa begitu saja cukup?" Tanya Junmyeon di seberangnya.

Baekhyun yang duduk di sisi lain sofa sedari tadi tak bersuara.

"Tentu saja tidak. Hal ini tidak sesederhana seperti yang kau pikirkan." Heechul menyandarkan punggungnya dengan nyaman. "Harus kau tahu bahwa cara seperti ini akan mempengaruhi psikologi seseorang, lalu mengacaukan emosinya secara perlahan. Dan tidak ada yang lebih menyiksa daripada terjebak dalam perasaan kalut karena dibayang-bayangi rasa takut."

Junymyeon mengangguk-angguk paham, mulai mengerti dengan siasat yang ibunya lakukan.

Sementara itu, hal ini juga berpengaruh pada Park Chanyeol yang tak lain adalah putra dari Park Sojin. Dikabarkan bahwa sejak kemarin, sejumlah wartawan telah memadati kediaman sang aktor.

Meski begitu, pihak agensi memilih untuk tidak mengaitkan hal tersebut dengan karir keartisan Park Chanyeol. Hal ini terbukti dari beredarnya kabar bahwa aktor tampan tersebut akan menghadiri even fansign di salah satu pusat perbelanjaan yang akan digelar besok.

Heechul mencibir remeh mendengar berita tersebut. "Bagaimana bisa anak itu bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa?" Geramnya, mengingat Chanyeol seolah tidak peduli dengan situasi yang sudah jelas menyangkut tentang dirinya. "Oh sulit memang jika darah seseorang yang tak tahu malu sudah mengalir di tubuhnya, maka tak heran jika anak itu lebih memilih menutup telinga dan bertindak pengecut seperti itu." Kesal Heechul.

"Sudahlah imo." Gumam Baekhyun. Tidak bermaksud apapun, hanya saja topik seputar Park Chanyeol selalu berhasil membuatnya muak. Meski ia tidak membenarkan ucapan Heechul, karena seingatnya kemarin wajah lesu serta kalimat maaf Park Chanyeol masih terngiang di benaknya.

Baekhyun menggeleng pelan, ia tidak boleh terpengaruh hanya karena lelaki itu menunjukan betapa menyesal dirinya.

Yang harus Baekhyun tegaskan bahwa tidak ada ampun untuk pendosa seperti Park Chanyeol.

"Apa kau baik-baik saja?" Heechul bertanya pada Baekhyun, melihat wajah putrinya yang tampak pucat membuatnya cemas seketika.

Baekhyun mengangguk pelan, meski sebenarnya ia merasa sedikit kurang sehat. Sejak beberapa hari terakhir tubuhnya lebih mudah lemas dan nafsu makannya sedikit terganggu.

"Hei, kenapa wajahmu pucat sekali?" Junmyeon pun ikut bertanya.

"Aku baik-"

Baekhyun belum sempat menuntaskan kalimatnya ketika mendadak ulu hatinya merasakan perih luar biasa. Wanita bangkit dari sofa lantas berlari menuju kamar mandi seraya memegangi perutnya.

Oh ya, bahkan akhir-akhir ini Baekhyun juga sering kali merasa mual hingga berakhir memuntahkan isi perutnya di wastafel seperti yang terjadi saat ini.

Setelah mencuci mulutnya, Baekhyun menatap bingung pada refleksi wajahnya di cermin. Dahinya mengkerut dalam, pertanda bahwa ia tengah memikirkan suatu hal.

Kepalanya yang terasa begitu pusing membuatnya enggan berpikir lebih lama, wanita itu akhirnya memilih keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di sofa.

"Kau yakin baik-baik saja? Apa kita perlu ke dokter?" Heechul kembali melontar tanya. Cemas jelas saja dengan kondisi Baekhyun yang tidak biasa.

"Aku tidak apa-apa, Imo." Sahut Baekhyun, mencoba menenangkan Heechul.

"Ini mungkin karena kau terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini. Jaga kesehatanmu, nak. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang berpotensi membuat kondisimu drop." Tukas Heechul penuh perhatian.

"Aku akan mengingatnya."

"Oh ya, B. Bagaimana Jesper? Apa demamnya sudah reda?" Tanya Junmyeon.

Sementara bocah kecil yang saat ini menjadi topik pembicaraan ketiga orang dewasa di ruang keluarga itu sedari tadi memusatkan atensinya pada televisi di balik celah pintu kamarnya. Mengamati wajah Park Chanyeol yang terpampang jelas di layar kaca, lalu pertanyaan yang sama kembali memutari benaknya.

Apa benar Ahjussi keren itu adalah ayahnya?

Jesper menutup pintu kamar dengan pelan, lalu kembali merebahkan tubuhnya di ranjang sesaat setelah mendengar Baekhyun akan memeriksa keadaannya.

"Honey?" Baekhyun muncul di balik pintu, lalu mendekat pada ranjang dimana putranya tengah terbaring.

"Mommy.." Gumam si kecil dengan suara parau.

"Oh jagoan Mommy sudah bangun?" Tukas Baekhyun seraya membelai wajah pucat Jesper, lalu memeriksa suhu tubuh putranya tersebut.

Semalam, mendadak suhu tubuh Jesper naik. Baekhyun tidak tahu mengapa tiba-tiba, namun jelas hal itu membuatnya khawatir setengah mati. Ia bahkan begadang semalaman untuk menjaga jagoannya itu.

"Kenapa menatap Mommy seperti itu?" Tanya Baekhyun, merasa ada yang aneh dengan tatapan di balik iris bening putranya. Terlebih sejak kemarin, Jesper terlihat lebih banyak diam dari biasanya.

"Bisakah Mommy memelukku sekarang?" Pinta Jesper, lantas menggeser tubuhnya ke samping, memberi ruang untuk ibunya agar ikut berbaring.

Senyum lembut terulas di bibir Baekhyun, tanpa membuang waktu ia segera naik ke atas ranjang lalu merengkuh tubuh mungil putranya ke dalam pelukan.

"Halmoni dan Samchon mencemaskanmu." Gumam Baekhyun seraya menepuk halus punggung Jesper. "Maka dari itu, Jesper harus cepat sembuh."

"Mom.."

"Ya, sayang."

"Jika Daddy ada di sini, apa dia akan mencemaskanku juga? Apa dia akan memelukku seperti ini juga?"

Yang terdengar setelahnya hanya sunyi. Tepukan di punggung Jesper berhenti bersamaan dengan membekunya Baekhyun. Lidah wanita itu untuk ke sekian kalinya kelu, tidak tahu harus menjawab apa karena kosa katanya seolah lenyap.

Baekhyun berkedip lemah, tidak mengerti mengapa mendadak Jesper bertanya seperti itu?

Tidak tahukah anak itu bahwa pertanyaan tersebut adalah hal yang paling Baekhyun hindari?

"Mom?" Cicit Jesper seraya menarik sedikit ujung pakaian ibunya.

Baekhyun terhenyak, sadar dari lamunannya. Lantas memeluk Jesper lebih erat tanpa sepatah kata pun sebagai jawaban.

"Apa pertanyaanku membuat Mommy sedih?"

Baekhyun menggeleng.

"Kalau begitu bolehkan aku bertanya tentang Daddy?"

Suara serak Jesper menusuk ulu hati Baekhyun secara telak. Ya, jika saja tidak terdengar nada penuh harapan di dalam kalimatnya.

Baekhyun masih bungkam. Hal yang membuat Jesper berpikir bahwa ia tidak harus menanyakan apapun tentang ayahnya.

"Maafkan aku, Mommy. Aku tidak akan bertanya apapun lagi tentang Daddy." Cicit si kecil lalu menenggelamkan wajah di dada ibunya. Merasa bersalah karena ia tahu telah membuat ibunya sedih dengan pertanyaannya.

"Tidak apa-apa, sayang." Sahut Baekhyun, lantas mengecupi puncak kepala putranya.

"Mom, aku kedinginan. Bisakah Mommy memelukku lebih erat?"

"Tentu, sayang." Baekhyun mengeratkan pelukannya.

Jesper mengangguk pelan. "Pelukan Mommy benar-benar nyaman, bisakah seperti ini sedikit lebih lama? Aku ingin mengingat rasa hangatnya." Ucapnya dengan suara lemah.

Baekhyun mengernyit heran, itu permintaan sederhana namun mengapa perasaan Baekhyun mendadak diliputi ketidaknyamanan?

Seolah ada sesuatu yang mengganjal di balik ucapan putranya tersebut.

"Kau yakin tidak perlu ke rumah sakit?"

Jongade bertanya dengan cemas pada Chanyeol. Hari ini ia dijadwalkan menemani aktor populer itu untuk menghadiri even fansign.

Chanyeol menggeleng, lantas menelan tablet parasetamol yang Jongdae bawa sesaat lalu.

"Wajahmu pucat, lagipula tumben sekali kau demam? Sudah lama sekali sejak terakhir kali." Gumam Jongdae, merasa heran meski sebenarnya ia tidak harus merasa seperti itu, mengingat akhir-akhir ini Park Chanyeol hidup seenaknya, dalam artian lain lelaki itu seolah keluar batas.

Meskipun beberapa hari terakhir Chanyeol cuti dari segala kegiatan keartisannya, namun Jongdae tidak pernah melewatkan sedikitpun perhatiannya pada lelaki itu. Jongdae bahkan tidak mengingat sudah berapa kali ia melarang Chanyeol untuk berhenti mengkonsumsi minuman keras disamping rasa pensarannya tentang masalah apa yang tengah Chanyeol hadapi sehingga membuat lelaki itu menjelma menjadi manusia menyedihkan akhir-akhir ini.

"Kapan acaranya mulai?" Tanya Chanyeol seraya berpakaian.

"Sekitar dua jam lagi." Sahut Jongdae. Untuk beberapa saat ia termangu karena merasa tidak tega melihat wajah pucat Chanyeol. "Kau yakin baik-baik saja?" Tanyanya lagi memastikan.

"Choi Siwon tidak akan membiarkanku kali ini." Tukas Chanyeol, terdengar merendah.

Jongdae mengangguk setuju. "Sajangnim sepertinya tidak punya pilihan lain. Dia terpaksa mengakhiri masa cutimu dan memberimu kesibukan demi meredakan berita-berita yang saat ini sedang viral. Kau tahu tidak sedikit yang beranggapan bahwa cutimu itu berkaitan dengan masalah pelik yang tengah dihadapi oleh perusahaan ibumu."

Chanyeol bungkam. Lebih tepatnya ia terlalu malas untuk berpikir lebih jauh karena memang pikirannya sudah terlanjur bercabang. Ada begitu banyak hal rumit yang menjadi bebannya saat ini dan ia tidak ingin hal itu bertambah. Karenanya ia memilih untuk menuruti Siwon kali ini.

"Setelah lulus, Byun Baekhyun bekerja di salah satu perusahaan mode terkenal di Canada."

"Kirimi aku alamat Byun Baekhyun, sekarang." Tukas Sojin terdengar yakin.

Saat ini ia memang tengah mengemudikan kendaraannya pada satu tujuan. Yaitu untuk menemui Byun Baekhyun secara langsung.

Oh tentu saja, Sojin tidak akan tinggal diam ketika dirasanya anak itu sedikit banyak sudah mengusik pikirannya sejak kemarin hingga membuat wanita paruh baya itu sulit memejamkan di malam hari.

Sojin bertekad untuk menghadapinya secara langsung. Baik itu Baekhyun maupun Heechul. Maka siang ini ia meyakinkan dirinya untuk mendatangi kediaman Baekhyun. Setidaknya ia harus melakukan sesuatu meskipun harus memberikan peringatan atau jika perlu ancaman.

Ya. Sojin terbiasa melakukan intimidasi kepada setiap orang yang dianggapnya sebagai musuh. Ia menegaskan bahwa mereka tidak boleh menganggap seorang Park Sojin remeh dan berani bermain-main dengannya.

Karena, Sojin tidak mengenal kata ampun bagi siapapun yang mengusik dan mengacaukan hidupnya.

"Sudah saya kirim melalui email, Sajangnim." Tukas sang asisten yang masih terhubung melalui sambungan telepon dengan Sojin.

"Bagus! Apa ada informasi penting lain tentang Byun Baekhyun?"

"Ya, belum lama ini Byun Baekhyun dan juga putranya beserta Kim Heechul dan-"

"Apa kau bilang? Putra?"

"Ya, Sajangnim. Byun Baekhyun mempunyai seorang putra bernama Byun Jesper. Saya sudah mengirim informasi lengkap beserta fotonya."

Dahi Sojin berkerut dalam, ia menutup perbincangannya dengan sang asisten, lantas menghentikan kendaraannya di pemberhentian terdekat untuk meneliti informasi yang dikirim oleh asistennya tersebut, diamatinya layar komputer tablet di tangannya dengan seksama. Membaca setiap informasi dasar seperti nama lengkap, alamat dan sebagainya. Ada pula beberapa foto Baekhyun, Heechul dan seorang pemuda yang tak Sojin kenal, lalu beberapa foto bocah laki-laki yang Sojin tebak adalah Byun Jesper yang dimaksud.

Wajah wanita paruh baya yang perlahan termakan usia itu tampak tak bergeming, ekspresinya sulit terbaca sesaat setelah meneliti lebih jauh wajah bocah bernama Jesper tersebut.

Ketika Sojin masih diliputi perasaan asing karena melihat wajah Jesper, dering telepon kembali terdengar berbunyi.

"Situasi semakin memburuk, Sajangnim. Beberapa perusahaan bahkan membatalkan kontrak kerjasama berikut yang telah disepakati. Kerugian mulai terlihat begitu spesifik dan bahkan beberapa aset Park's Group juga terancam. Dan tuan Kris sedang berusaha menangani kekacauan di perusahaan saat ini. Beliau begitu kewalahan."

"Ba-bagaimana bisa itu terjadi?" Tanya Sojin dengan suara terbata.

"Beberapa artikel baru muncul dan berada di urutan pertama di mesin pencarian, Sajangnim."

"Berita apa lagi sehingga membuat perusahaan terancam mengalami kebangkrutan seperti ini?!" Geram Sojin seraya menaikkan volume suaranya. "Kirimkan padaku artikelnya sekarang!" Perintahnya diakhiri dengan bantingan keras pada handsfree yang sesaat lalu menempel di telinganya.

Sojin kembali memusatkan atensinya pada layar komputer tablet, lantas mulai membaca beberapa artikel yang terpampang.

-HEADLINE NEWS #1:

Netizen dihebohkan oleh salah satu artikel di situs online terkenal: Pembunuhan yang dilakukan oleh pengusaha kenamaan berinisial PSJ!

-HEADLINE NEWS #2:

Pengusaha P ini terlibat skandal pembunuhan!

-HEADLINE NEWS #3:

Posting artikel mengejutkan, sumber ini mengatakan PSJ sebagai pelaku pembuhan puluhan tahun silam.

-HEADLINE NEWS #4:

Netizen menduga kuat PSJ yang dimaksud adalah presiden direktur perusahaan multinasional, Park Sojin.

-HEADLINE NEWS #5:

Di saat maraknya berita miring mengenai sang ibunda, Park Chanyeol justru tengah menghadiri even fansign di pusat perbelanjaan ini.

Sojin membanting komputer tablet ketika bahkan deretan artikel mengenai dirinya belum seluruhnya ia baca. Matanya memicing tajam sementara kedua tangannya telah lebih dulu mengepal geram. Lantas setelahnya ia memukul kemudi mobil berkali-kali seraya mengacak rambut diiringi teriakan frustasi.

"Berani sekali kalian!" Teriaknya dengan marah. "Kim Heechul, Byun Baekhyun!" Lanjutnya kembali memukul kemudi mobil.

Sudah Sojin pastikan bahwa dalang dari semua kekacauan ini adalah mereka berdua.

Tanpa berpikir panjang, Sojin menginjak pedal gas. Membelah jalanan membabi buta. Tujuannya saat ini tentu sudah jelas, ia akan menemui Byun Baekhyun dan jika memungkinkan akan memberinya pelajaran.

Amarah yang memuncak membuat pikirannya buntu, tak ada hal lain dalam benaknya saat ini selain membalas kekacauan yang telah dua wanita sialan -menurutnya- itu perbuat.

Sesampainya di alamat yang dituju, Sojin hendak memutar kemudi dan memasuki basement jika saja atensinya tidak lebih dulu menangkap sesuatu yang menarik.

Dalam jarak sekian meter, seorang bocah lelaki yang terlihat kebingungan menyapa atensi, seorang diri berdiri di depan gedung apartemen.

Sojin membandingkan wajah mungil itu dengan foto yang terpampang di layar komputer tabletnya.

Dan ternyata sama.

Kini ketertarikannya seolah berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi amarah yang menggebu, bahkan keinginannya untuk menampar Byun Baekhyun menguap.

Setelah dipikir lebih jauh, Sojin nyaris melakukan tindakan ceroboh dengan mendatangi kediaman Baekhyun. Seharusnya ia bersikap tenang tanpa mengundang kecurigaan siapapun. Dengan begitu ia bisa sedikit mengurangi asumsi tentang dirinya yang saat ini tengah diperbincangkan banyak orang.

Sojin menggeleng pelan, lalu menghembuskan napas, mencoba bersikap tenang.

Jika mereka berani bermain-main dan menusuk Sojin dari belakang, maka wanita paruh baya itu hanya harus mengikuti permainan tersebut.

Untuk sesaat, pikiran Sojin terlempar pada beberapa artikel yang sempat ia baca sesaat lalu. Di urutan terakhir berisi artikel tentang putranya, Park Chanyeol.

Satu nama yang berhasil membuat tubuh Sojin diselimuti gigil. Hal yang paling ia takuti, kelamahan terbesar yang tidak orang ketahui sesungguhnya tentang dirinya adalah putranya sendiri.

Ya. Sojin takut.

Takut menghadapi reaksi Chanyeol jika putranya itu tahu semua kebohongannya.

Dari semua hal yang menjadi prioritas Sojin, Park Chanyeol lah yang berada di urutan pertama. Ia menyayangi putranya itu lebih dari apapun. Maka menghindari potensi kehilangan Chanyeol adalah hal yang ia lakukan mati-matian selama ini.

Chanyeol tidak boleh tahu kebenarannya. Namun berita yang sudah menyebar saat ini tentu tak akan luput dari perhatian putranya tersebut. Hal yang membuat Sojin perlahan kian diliputi rasa takut dan juga marah.

Marah karena hal yang Sojin hindari itu kini justru berada di luar kendalinya. Menjadi begitu kacau, dan yang patut Sojin salahkan tentu saja Byun Baekhyun.

Ia menganggap Baekhyun telah memanfaatkan media agar Chanyeol curiga terhadap dirinya, agar putranya itu tahu semua kebenarannya.

"Wanita sialan!" Geram Sojin seraya meremas kemudinya

Berani sekali kau memanfaatkan putraku. Batin Sojin, sementara atensinya memicing, menatap tajam pada bocah yang masih setia berdiri di depang gedung apartemen.

Perlahan senyuman miring tercetak di bibir wanita paruh baya itu, kedua mata tajamnya begitu jelas terbaca. Menyimpan beragam kejahatan yang ditujukan pada sosok mungil di seberang sana.


••Supposed••


Ketika Baekhyun menyuruhnya untuk beristirahat guna memulihkan kembali kesehatannya yang sempat menurun, Jesper dengan patuh menurut.

Sejak kemarin, bocah itu hanya berbaring di atas ranjang dengan kondisi dahi terselimuti handuk kecil yang setia Baekhyun kontrol kehangatannya.

Namun hari ini berbeda, Jesper tidak lagi bergumul di bawah selimut meski demamnya belum reda sepenuhnya, bocah itu justru terlihat berjalan berjinjit di ruang tamu menuju pintu utama apartemen.

Tangan kecil itu masih berupaya menggapai knop seraya menyapukan atensinya dengan waspada, takut jika ibunya yang tengah mandi mendadak muncul di sana.

Diam-diam si mungil merasa lega karena Heechul dan Junmyeon tidak berada di apartemennya saat ini. Karena jika mereka ada, Jesper tidak mungkin berhasil sampai di depan pintu dan keluar dari apartemen tanpa diketahui oleh siapapun termasuk ibunya.

Bocah itu mengeratkan jaket bermotif kartun favoritnya seraya menekan tombol lift, mengingat dengan jelas apa yang kerap Baekhyun lakukan di depan elevator tersebut.

Senyum lemah tergurat di wajah kecilnya yang pucat ketika pintu elevator terbuka. Masih dengan mengandalkan ingatan tentang tombol apa yang sering ibunya tekan ketika berniat menuju lobi apartemen, jemari mungil itu menekan tombol yang sama seperti yang tersirat dalam ingatannya.

Langkah kecil pada marmer dingin lobi apartemen itu sempat terlihat ragu saat keluar dari elevator, namun ketika mengingat kembali wajah lelaki dewasa yang lebih sering dijumpainya melalui layar televisi, Jesper akhirnya memberanikan diri untuk berjalan lebih jauh hingga mencapai luar gedung apartemen.

Bingung kembali menyertainya tatkala tubuh mungil itu berdiri di tengah hilir mudik penghuni apartemen di luar gedung.

Itu namanya taksi, bentuknya memang tidak sama dengan mobil Mommy Jesper. Tapi kegunaannya sama, yaitu untuk mengantar siapapun yang ingin bepergian jauh. Kemanapun.

Setelah diliputi kebingungan yang cukup lama, akhirnya otak cerdik Jesper kembali bekerja. Perlahan ia mulai mengingat bentuk sarana transportasi bernama taksi yang sempat Junmyeon beritahu kepadanya. Mata jernih itu menyapu ke segala arah sebelum kemudian ia berbinar melihat hilir mudik taksi di jalan seberang gedung apartemen.

Langkah kecilnya kembali terurai, meninggalkan area gedung apartemen hingga berdiri di trotoar. Junmyeon juga pernah memberitahunya tatacara menghentikan taksi. Dan tentu saja Jesper mengingatnya, perlahan tangan kecil itu mulai melambai ketika dari jarak puluhan meter sebuah taksi hendak melintas ke arahnya.

Jesper sempat merengut bingung karena sudah tiga taksi yang lewat namun tak ada satupun yang berhenti.

Namun ia tidak menyerah, hingga percobaan keenam akhirnya membuahkan hasil. Sebuah taksi berhenti tepat di hadapannya.

"Nak, apa kau mau naik taksi ini?" Tanya sang supir sesaat setelah membuka kaca mobil.

Jesper mengangguk, lalu meraih knop dan menariknya sebelum kemudian masuk. Setelah duduk manis, Jesper merogoh saku jaketnya lalu menyerahkan catatan kecil bertuliskan sebuah alamat, meski tulisan tersebut terkesan amatir karena ditulis sendiri oleh Jesper namun sang supir taksi bisa membacanya dengan baik.

Times Square, 15, Yeongjung-ro, Yeongdeungpo-gu, Seoul

"Nak, apa kau ingin pergi ke mall ini sendirian?" Tanya sang supir dengan kerutan sempurna di dahinya.

Bagaimana tidak? Kebingungan serta kecurigaannya terasa wajar karena mendapati pelanggan seorang anak kecil.

"Ya, Ahjussi. Aku mau bertemu Daddy." Sahut Jesper dengan antusias.

Tekad kuat tersebut didapat Jesper setelah kemarin ia menonton berita seputar Park Chanyeol melalui celah pintu kamarnya. Dan anak secerdas dirinya tentu tidak melewatkan satu kata pun saat pembawa berita menyebutkan alamat lengkap di mana Chanyeol akan menghadiri even fansign. Meski Jesper tidak mengerti apa itu? Namun ia tahu bahwa lelaki yang ingin ia yakini benar-benar ayah kandungnya itu akan berada di alamat yang susah payah ia tulis pada selembar catatan kecil tersebut.

"Ahh jadi kau berniat menemui ayahmu?" Tanya sang supir lagi, kini wajahnya tampak sedikit lega mengetahui maksud dan tujuan Jesper.

Lagi, bocah itu mengangguk.

"Baiklah, Ahjussi akan mengatarmu kesana, nak."

Jesper tersenyum senang meski wajahnya kian terlihat pucat saat ini. Namun ia tidak peduli, yang ingin dilakukannya saat ini adalah bertemu dengan Park Chanyeol dan menanyakan langsung apa benar dia adalah ayahnya?

Karena tentu saja menanyakannya pada Baekhyun yang kerap menunjukan ekspresi sedih bukanlah ide bagus.

Dan Jesper tidak ingin membuat ibunya sedih untuk ke sekian kalinya.

Chanyeol sedikit bernafas lega sesaat setelah memberikan tanda tangan pada penggemar terakhir yang menghadiri even fansignnya hari ini, meski pikirannya masih belum jernih dari berbagai permasalahan yang tengah di hadapinya.

"Kerja bagus, Chanyeol-a." Seru Jongdae.

Setelah memastikan situasi di luar gedung aman dari kendali para wartawan yang sejak awal memburu Park Chanyeol, Jongdae baru memberanikan diri membawa Chanyeol meninggalkan venue. Dibantu oleh beberapa keamanan bertubuh besar, kedua lelaki itu mulai melangkah keluar.

"Tidak ada jadwal lain bukan? Kalau begitu berikan kunci mobilku."

"Ta-tapi kau mau kemana? Seharusnya pulang saja dan beristirahat, kondisimu masih belum sepenuhnya membaik."

Disamping kekhawatirannya pada kondisi kesehatan Chanyeol, Jongdae juga merisaukan keamanan lelaki itu mengingat saat ini dia sedang diburu oleh media.

Hal itu pula yang membuat pihak agensi membatasi jumlah penggemar yang datang pada even fansignnya kali ini.

Diam-diam Jongdae merasa lega karena berita mengehebohkan lain tentang ibu Park Chanyeol keluar disaat even sedang berlangsung. Jongdae enggan memikirkan kekacauan apa yang akan terjadi jika para penggemar Chanyeol membombardirnya dengan sejumlah pertanyaan terkait artikel-artikel tentang ibunya tersebut.

"Ada hal yang lebih penting untukku saat ini di banding kondisiku, Hyung." Sahut Chanyeol seraya membayangkan wajah Baekhyun dan juga Jesper.

Jongdae diam untuk beberapa saat, meski beberapa hari terakhir ia kerap mendapati raut sedih bergelayut di wajah Chanyeol, namun Jongdae masih belum terbiasa mengingat Chanyeol itu tidak pernah menunjukkan ekspresi lain selain wajah dingin selama ini. Walaupun tidak pernah terpikir oleh Jongdae bahwa hatinya akan terenyuh melihat wajah sedih bercampur putus asa tersebut.

Jongdae menghela pelan, merogoh saku mantel lalu menyerahkan kunci mobil kepada Chanyeol sesaat setelah mereka berada di luar gedung mall. "Mobilmu di seberang jalan sana." Tukasnya seraya menyapu seluruh atensi ke berbagai arah, memastikan keadaan aman sebelum kemudian berpisah dengan Chanyeol.

Suasana tidak terlalu ramai ketika Chanyeol berjalan menuju kendaraannya mengingat beberapa jam lalu hujan mengguyur bumi dan baru reda tiga puluh menit sebelum acaranya berakhir. Hal yang membuat lelaki itu merasa cukup lega karena ia tidak perlu menutup penampilannya secara berlebihan demi menghindari hilir mudik setiap orang yang sudah dipastikan mengenal dirinya.

Meski tanpa sepengetahuannya ada sosok mungil berwajah pucat, berbalut jaket tipis sedikit basah akibat terkena air hujan tengah mengekorinya dari belakang.

Langkah kecil itu tampak kesulitan mengimbangi langkah lelaki dewasa yang masih tak menyadari kehadirannya. Meski sebenarnya ia sudah mencoba memanggilnya berulang kali.

"Ahjussi.." Suara parau itu terdengar payah seiring dengan langkahnya yang kian intens, mengikuti sosok yang begitu menyita perhatinnya selama ini.

Tidak ingin kehilangan jejak, Jesper memilih berlari kecil meski tubuhnya sudah merasakan lelah yang luar biasa namun senyuman itu masih terulas di bibirnya yang sudah semakin pucat.

Daddy.. batin bocah itu, merasa tidak berani melafalkannya secara langsung.

Lampu lalu lintas berwarna hijau menyambut Chanyeol, lelaki itu memastikan situasi sudah aman sebelum mulai melintasi zebra cross. Ia berjalan cepat, namun belum lagi selusin langkah yang ia ambil ketika suara benturan keras di belakangnya terdengar. Refleks Chanyeol berbalik hanya untuk mendapati sebuah mobil berhenti, lalu atensinya beralih, di depannya tepat di atas aspal seorang anak kecil terkapar, beralaskan cairan kental berwarna merah pekat. Darah itu mulai mengalir, bercampur sisa air hujan di atas hitamnya permukaan jalan.

Chanyeol menatap nanar sementara tubuhnya telah lebih dulu diselimuti gigil kentara ketika kesadaran menghantamnya secara telak.

Chanyeol mengenali anak kecil itu.

Di tengah pekikan terkejut para pengguna jalan, lelaki itu melangkah kaku. Mendekat pada sosok mungil yang wajahnya telah dihiasi cipratan darah.

Lutut Chanyeol terhempas dengan sendirinya, menghantam permukaan aspal cukup keras. Matanya terbelalak ngeri sementara kepanikan telah mewarnai wajahnya. Tangannya bergetar hebat, lalu terulur hanya untuk mendapati satu kata bernada lemah yang berhasil membuat hatinya hancur berkeping-keping.

"D-daddy?"

Tanpa mampu berucap, ditengah perasaan terkejut luar biasa yang masih menguasai seluruh saraf di dalam tubuhnya, Chanyeol merengkuh tubuh mungil bersimbah darah itu dengan bergetar ke dalam pelukannya.

"Finally, I find you." Senyuman Jesper kembali terulas meski kesadarannya kian terenggut. Suaranya mulai terdengar pelan, hal yang membuat Chanyeol menggeram tertahan, menahan rasa sesak yang semakin mengendap di balik tulang rusuknya.

Lelaki itu menggeleng keras, isakan pelan lolos ketika dirasanya pelukan Jesper mengendur. "No no no.. I'm here.. Daddy is here.. stay with me." Ucapnya dengan suara bergetar diringi tangis keras.

Sebelum pandangannya menggelap, di antara dengung yang mendominasi indera pendengarannya, Jesper dapat mendengar Chanyeol menyerukan namanya berkali-kali.

Park Jesper.

Pandangan matanya kosong, tertuju pada permukaan lantai dingin rumah sakit, lekat seolah ia dapat menghitung jumlah partikel debu di sana.

Chanyeol tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar ketika mungkin sebagian besar penguni rumah sakit mengenali dirinya, ia bahkan tidak peduli jika mereka semua membicarakan sikapnya beberapa saat lalu ketika ia nyaris menghajar paramedis yang tengah bertugas dan mendesak mereka memberikan pertolongan pada putranya yang telah tak sadarkan diri dalam gendongannya.

Yang ia pedulikan saat ini adalah Jesper yang masih mendapatkan penanganan darurat dari dokter, tidak dengan yang lain.

Chanyeol menatap nanar pada kedua telapak tangan dan pakaiannya yang dihiasi darah mengering.

Aroma karat kuat yang menguar di seluruh tubuh membuatnya dadanya semakin terasa sesak.

Mengingat kembali Jesper yang terkapar bersimbah darah beberapa waktu lalu benar-benar membuat luka di hatinya kian menganga. Entah sejak kapan rasa sayang yang begitu mendalam kepada Jesper itu tumbuh di dalam hatinya. Hal yang membuat Chanyeol dengan sosoknya yang tidak pernah mengenal kata takut kini mulai merasakan perasaan tersebut.

Chanyeol takut. Ia tidak pernah berharap Jesper memanggilnya ayah dalam keadaan seperti itu.

Helaan napas berat lolos terbata dari hidung mancungnya, bersamaan dengan itu hentakan stiletto yang terdengar gaduh memenuhi indera pendengarannya.

Chanyeol menengadah, mata sayunya menangkap sosok Baekhyun berwajah panik, menahan tangis, tengah mengurai langkah beberapa meter darinya.

Baekhyun berlari seperti kesetanan, menyusuri koridor rumah sakit dan meninggalkan Heechul, Junmyeon dan juga Sehun di belakangnya.

Kabar yang ia dapat dari pihak rumah sakit melalui sambungan telepon benar-benar membuat kalut, disamping perasaan resah sebelumnya karena ia tidak mendapati Jesper di kamarnya.

Baekhyun tidak berharap mendapatkan kabar keberadaan Jesper dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa kondisi putranya itu sedang kritis.

Baekhyun tidak ingin mempercayainya, namun sosok lelaki yang atensinya tangkap tengah terduduk lesu di atas permukaan lantai membuat keyakinannya yang menegaskan bahwa Jesper baik-baik saja hancur seketika jika saja tidak ada noda darah yang menghiasi nyaris seluruh pakaian lelaki itu.

Langkah Baekhyun perlahan melemah saat dilihatnya Chanyeol bangkit, melempar wajah sendu seolah tengah memberitahu kabar terburuk. Lutut wanita itu melemas dengan sendirinya, tubuhnya limbung meski begitu ia tetap berjalan kearah Chanyeol.

Tatapan Baekhyun kosong seolah kehilangan jiwanya. Lantas tangannya terulur, mengepal sebelum kemudian melayangkan pukulan lemah pada dada Chanyeol berulang kali.

"Dia mencoba menemuimu.." Cicit Baekhyun, sadar bahwa lokasi kecelakaan yang dialami putranya adalah tempat di mana Chanyeol menghadiri even fansign.

Chanyeol bungkam, tertunduk lesu tanpa menghentikan pukulan lemah yang Baekhyun layangkan terhadap dirinya.

"Jesper.." Suara Baekhyun bergetar hebat, lalu tanpa bisa dibendung lagi, air matanya lolos. "Putraku.. A-apa yang terjadi pada putraku?" Masih memukul dada Chanyeol, tangisnya kian terurai.

Chanyeol menangkap kedua pergelangan tangan Baekhyun, menghentikan pergerakan wanita itu hingga membuatnya mendongak menatap si lelaki dengan mata basahnya.

"Tolong katakan padaku bahwa Jesper baik-bajk saja." Raut wajah memohon Baekhyun membuat hati Chanyeol kembali teriris. Tangisnya yang pilu membuat lelaki itu tidak kuasa untuk tidak merengkuhnya ke dalam pelukan. "Kumohon.. kumohon katakan dia baik-baik saja." Baekhyun mulai berontak, berteriak dalam pelukan Chanyeol, memukul dada bidang lelaki itu berkali-kali. Tangisnya semakin pecah ketika membayangkan kemungkinan terburuk yang dialami putranya. Sedang kepalanya mulai terasa pusing bersamaan dengan tubuhnya yang melemas. "Park Chanyeol katakan padaku bahwa putraku.. bahwa putramu.. putra kita baik-baik saja. Komohon.." Finalnya sebelum kemudian kesadarannya terenggut.

"Baekhyun-a!" Heechul terperangah, sementara Sehun telah mengambil alih Baekhyun dan menggendongnya menuju UGD.

Mengabaikan keterkejutannya sendiri mendengar Baekhyun mengatakan bahwa Jesper adalah putranya dan juga Chanyeol.

"Brengsek!" Junmyeon melayangkan pukulan keras pada wajah serta perut Chanyeol. "Apa yang sudah kau lakukan pada adik dan keponakanku?!" Tanyanya lalu kembali melayangkan pukulan pada Chanyeol yang terlihat pasrah, tak melawan sedikitpun. "Apa tidak cukup penderitaan yang kau berikan kepada Baekhyun selama ini, huh?!" Bentaknya tanpa bisa menahan amarah.

Sebuah tamparan pun ikut Heechul layangkan kepada Chanyeol. "Apa kau masih tidak mengerti bahwa anak seorang pembunuh sepertimu tidak pantas dekat dengan putriku, huh?!" Tukasnya. "Sekarang juga kau enyah dari sini. Jangan pernah berani mendekati Baekhyun dan juga Jesper!" Lanjutnya, menakan pita suara dengan geram. "Dan jika kau masih nekat, aku akan memastikan kau mendekam di penjara!" Finalnya sebelum kemudian menyusul Sehun ke UGD.

Junmyeon menatapnya tajam lalu ikut melangkah, mengikuti ibunya.

Tangan Chanyeol terkepal erat.

Mengapa semua ini terjadi padanya?

Kumohon katakan padaku bahwa Jesper baik-baik saja.

Daddy..

Putramu.

Anak pembunuh sepertimu..

Jangan pernah berani mendekati Baekhyun dan Jesper!

Anak pembunuh!

Anak pembunuh!

Mata yang semula terlihat lesu kini mulai menajam, tangannya kian terkepal erat mengingat ada satu nama yang berhak ia salahkan atas semua hal buruk yang menimpanya.

Chanyeol berbalik lalu berjalan menyusuri koridor. Menumpuk amarahnya yang sudah akan meledak.

Ya, pembunuh itu yang seharusnya menanggung semua ketidakadilan yang Chanyeol alami.

Lelaki itu tidak lagi mengelak, ibunya memang seorang pembunuh. Setidaknya keyakinannya bertambah ketika mengingat dengan jelas mobil yang melaju kencang, melarikan diri sesaat setelah menabrak Jesper.

Chanyeol mengenal mobil itu dengan baik, mobil ibunya.

Lelaki itu membanting pintu mobil cukup keras, lantas menginjak pedal gas dan membelah jalanan ibukota dengan membabi buta.

Dari awal aku tidak berniat mengampuni semua kejahatan yang Omma lakukan, meski begitu aku masih seorang anak yang berpikir bahwa apakah pantas aku mengutuk ibuku sendiri?

Tapi hari ini Omma membuat kesalahan yang fatal, dengan menyentuh putraku, Omma telah membuatku yakin bahwa pembunuh memang harus mendapat ganjaran sekalipun itu kau, ibuku sendiri.


••Second Last Chapter••


Awalnya, Sojin pikir setelah menabrak Jesper dengan niat mambalas Baekhyun dan juga Heechul, ia bisa bernapas dengan lega. Ia pikir akan merasa puas ketika membayangi hancur dan tersiksanya Baekhyun meratapi putranya yang sekarat. Namun nyatanya perlahan ia mulai dirayapi perasaan resah yang tak kunjung mereda.

Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya berjalan hilir mudik di ruangan kerjanya sesaat setelah ia kembali.

"Sajangnim, para wartawan semakin memadati gedung kantor dan-"

"Suruh keamanan membereskan mereka semua! Begitu saja tidak becus, apa kau sudah bosan dengan pekerjaanmu dan ingin kupecat?!" Bentak Sojin tak sabaran karena pikirannya telah dipenuhi oleh berbagai hal rumit saat ini.

Sang asisten membungkuk paham sebelum kemudian keluar dari ruang kerja atasannya.

Sementara itu, Sojin kembali diliputi perasaan resah. Tidak. Kini kegelisahannya berubah menjadi perasaan takut.

Memikirkan akibat dari semua perbuatannya.

Bagaimana jika anak itu meninggal?

Bagaimana jika polisi menangkapnya?

Bagaimana jika Chanyeol..

Sojin tersentak karena seseorang merangsek masuk ke dalam ruangannya, ia hendak akan mengutuk si pelaku jika saja tatapan tajam dari mata yang memerah bagaikan saga yang Chanyeol lemparkan kepadanya tidak lebih dulu tertangkap oleh atensi.

"Astaga, nak! Apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu lebam dan pakaianmu dipenuhi darah?" Seru Sojin dengan cemas, melupakan sejenak perasaan risaunya. Disamping menghindari tatapan tajam Chanyeol yang seolah siap mengulitinya hidup-hidup.

Chanyeol berjalan kearah ibunya, lalu tanpa berkeinginan menyahut ia mencengkram leher Sojin dengan sebelah tangan.

"Bagaimana? Apa aku sudah terlihat seperti anak seorang pembunuh?!" Tanyanya di balik gemertak gigi.

Sojin terpekik tertahan, sementara matanya sudah lebih dulu terbelalak karena Chanyeol, putranya sendiri mencekiknya dengan sebelah tangan.

"Ini adalah darah dari seorang anak yang kau coba bunuh beberapa jam yang lalu, Park Sojin!" Geram Chanyeol mengeratkan cengkraman tangannya di leher Sojin. Tidak memberi kesempatan ibunya untuk berbicara.

Sojin meronta hebat, mulutnya terbuka mencoba meraup oksigen.

Chanyeol menghempaskan leher ibunya dengan kasar. "Kenapa? Kenapa kau melakukan semua itu?!" Bentaknya dengan marah. "Kenapa kau membuatku menerima akibat dari perbuatanmu?"

Perlahan tatapan Chanyeol melemah. "Pembunuh!" Tegasnya melempar pandangan kebencian terhadap ibunya.

Sojin masih terbatuk-batuk ketika mencoba meraih tangan putranya.

"Aku membenci seorang pembunuh, sekalipun itu kau."

Nada dingin Chanyeol menghantam ulu hati Sojin secara telak, dirasakannya sakit luar biasa menerima tuduhan itu dari mulut putranya sendiri.

"Aku tidak akan mengampuni semua kebohonganmu padaku selama ini, bahkan selamanya aku akan mengutuk perbuatanmu kepada Jesper. Dan ingat, kau sendiri yang menanamkan kebencian ini. Semua perbuatan kejimu."

Sojin masih mematung dengan sorot terluka ketika beberapa orang dari pihak kepolisian masuk ke dalam ruangannya.

"Park Sojin-ssi, anda kami tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan dengan modus tabrak lari kepada saudara Byun Jesper." Tukas salah satunya, sementara yang lain meringkus Sojin dan memasangkan borgol di kedua pergelangan tangannya.

"Tidak. Aku tidak melakukannya!" Dalih Sojin. "Aku tidak bersalah!" Teriaknya kemudian, mencoba berontak saat pihak kepolisian mulai menyeretnya keluar. "Chanyeol-a.. Omma tidak salah! Tolong Omma! Omma tidak bersalah!" Teriak wanita paruh baya itu, memohon pertolongan kepada putranya.

Sia-sia saja, karena faktanya Chanyeol sendiri yang melaporkan Sojin kepada polisi.

Lelaki itu bergeming, enggan untuk sekedar berbalik dan menatap ibunya yang sudah diseret oleh pihak berwajib.

Ia masih berdiri di sana, di ruang kerja Sojin yang terasa begitu dingin dan sunyi. Lalu perlahan, tubuhnya mengeluarkan getaran kecil sebelum kemudian sebuah isakan lolos terdengar.

Lelaki itu menangis di balik punggung tangannya, tubuhnya merosot karena ia tak memiliki sisa tenaga untuk menopang tubuhnya sendiri.

Chanyeol tidak pernah mengingkan semua hal buruk ini terjadi.

Lahir dari rahim seorang wanita keji bukanlah keinginannya.

Bukan salahnya jika ia berpikir bahwa seorang ibu adalah sosok yang mesti ia percayai lebih dari siapapun.

Dan di luar kendalinya jika ia termakan setiap kalimat dusta, salah sangka hingga membenci seorang Byun Baekhyun dan menoreh luka yang teramat pedih di hati wanita itu.

Meski begitu..

Adakah cara untuk memberitahu dan meyakinkan mereka yang menghakiminya bahwa Chanyeol juga terluka?

TBC

AN:

Aku tau mas, aku mengerti :'(