...
..
.
Ini adalah akhirnya, sayang.
.
.
.
REALLY?
KyuMin Fanfiction.
Romance, Hurt/Comforts.
Boys Love, MPREG, AU? Kemungkinan OOC.
Kyuhyun dan Sungmin adalah milik SparKyu dan Pumpkins.
Just enJOY.
.
.
.
.
.
.
^Normal POV^
.
.
.
"Hati-hati Ming. Aigoo… aigoo…"
Di rumah nan hangat itu nampak sepasang kekasih hidup yang baru saja memasuki rumah mereka dengan yang lebih tinggi dari belahan jiwanya itu, sibuk menjaga dan memperhatikan tiap langkah pemuda manis yang sedari tadi terus ia rangkul.
"Nan gwaenchanna. Omo ya Kyu… kau berlebihan." Si manis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap belahan jiwanya yang sudah seperti ini selama sebulan ini.
"Appa, umma 'kan hanya hamil, hamil itu bukan penyakit 'kan? Nde haraboji?" sementara pangeran kecil rumah itu memandang bingung tindakkan sang appa yang begitu melindungi bahkan menjaga eommanya sampai seperti itu.
"Hamil itu bukan penyakit nak. Appa hanya ingin memastikan ummamu baik-baik saja. Sandeullie tak mau 'kan kalau adik nanti terluka?" Kyuhyun yang kini sudah duduk di samping Sungmin yang sudah ia pastikan duduk dengan nyaman terlebih dahulu, menjawab pertanyaan anaknya itu.
"Geurrae! Adeul gak mau adik sakit." Jawab sang pangeran kecil itu disertai anggukan mantapnya.
"Nah, makanya appa harus menjaga umma dan adik yang berada di perut umma dengan baik. Kau mau membantu appa?" tanya Kyuhyun sembari mengelus ringan pipi sang anak yang sangat mirip dengan Sungmin. Setelahnya Kyuhyun beranjak ke dapur untuk membawakan minuman, Sungminnya haus.
"Hah… appa, apa-apaan itu. Aku 'kan cuma hamil dan dia bersikap seperti aku ini penyakitan." Gerutu Sungmin pada appanya yang sedari tadi hanya diam menyaksikan drama keluarga milik keluarga kecil anaknya itu.
"Sejujurnya Min. Appa mungkin bisa saja lebih dari Kyuhyun. Meskipun ini bukan kandungan pertama yang appa hadapi. Tapi… kau tahu? Ini pengalaman pertama appa menghadapi pria yang hamil, terlebih lagi pria itu adalah anak kesayanganku." Jawab Kang In dengan tenang, berbanding dengan Sungmin yang makin memajukan bibirnya itu.
"Kkkk~ adik… yang baik di dalam sana nde? Lihat gak? Kami sayang adik~ jadi yang baik di perut umma, kalau udah bosan, adik keluar aja… jangan lama-lama di perut umma, biar Adeul ada teman mainnya. Arra?"
Suasana yang sebelumnya penuh dengan rajukan Sungmin itu mendadak menghangat dan terdengar lucu setelah Sandeul berucap seperti itu.
"Adik akan keluar kalau sudah waktunya Sandeullie." Jawab Kyuhyun sembari memberikan minuman yang diminta Sungmin.
"Ung, appa. Apa Hyukie samchon bisa seperti umma? Apa Adeul nanti punya adik juga dari Hyukie samchon?" mata yang menduplikat Sungmin itu berbinar sembari melayangkan pertanyaan itu pada Kyuhyun.
"Molla, mungkin jika Hyukie samchon-mu itu seistimewa uri umma~." Jawab Kyuhyun yang memang tidak tahu apakah Hyukjae seistimewa Sungminnya. "Nah, sudah bertanyanya, ini sudah malam jadi Sandeullie ikut appa, sudah waktunya tidur nak." Setelah menggendong Sandeul ke dalam dekapannya Kyuhyun melangkah meninggalkan ruangan kembali, untuk mengantar dan memastikan anaknya nyaman di atas tempat tidurnya.
"Apapun itu, anakku memang istimewa." Ujar Kang In setelah memandang kepergian cucu dan menantunya itu. "Aku tak tahu apa yang dimakan istriku ketika hamil. Tapi dia melahirkan anak yang selalu membanggakan." Kang In menatap putra satu-satunya itu dengan sayang.
"Appa, apa benar aku membanggakan? Apa aku tak membuatmu malu?" tanya Sungmin.
"Buat apa appa malu? Dengan keadaanmu? Menikah dengan laki-laki dan bisa memiliki cucu kalian dari pernikahan kalian?" tanya Kang In dengan senyum gelinya melihat anaknya kembali merengut. "Appa, menerima dirimu apa adanya nak. Appa, mengutamakan kebahagiaanmu. Lalu untuk apa aku harus malu? Jika diantara kebahagiaanmu itu terselip kebahagiaan milikku juga? Hanya satu yang kuminta darimu nak. Tetaplah sehat."
"Nde?" respon Sungmin yang tak mengerti dengan permintaan appanya.
"Tetaplah sehat untuk bisa selalu berada bersama kami. Tetaplah sehat untuk bisa mendidik anak-anakmu nanti, untuk bisa selalu menyalurkan cintamu pada mereka. Arraseo?"
.
.
.
Sungguh, betapa bahagianya Sungmin saat ini. Kehidupannya terasa sempurna. Ya, rasa sakit itu, perlahan disembuhkan oleh sang terkasih. Dua minggu sesudah Kyuhyun tahu perihal anak keduanya, ia segera menyiapkan segalanya. Ya segalanya, segalanya termasuk kembali mengikat Sungmin dalam pernikahan yang suci. Kembali mengikat Sungmin untuk menjadi pendamping hidupnya.
Lima hari sebelum hari pernikahannya, Sungmin dibuat bingung dengan kedatangan Song Qian, Jaejoong, serta Hyukjae yang menyanderanya dan membawanya ke sebuah salon.
"Untuk mempercantik dirimu, oppa. Walaupun, aku tahu dengan pasti… kau bahkan lebih cantik dariku." Jawab Song Qian saat Sungmin bertanya apa yang sedang dilakukan mereka terhadapnya.
Dan dengan hadirnya Jaejoong, perawatan tubuh Sungmin itu bukan main-main dilakukan. Sungmin harus rela menuruti Jaejoong. Lagipula… seakan dibawa ke nirwana, saat Sungmin merasakan nyamannya perawatan tubuh itu.
"Hati-hati dengan perutnya, nona. Kau takkan mungkin mau menghilangkan keponakan kami yang sedang ada dalam kandungannya 'kan?" peringat Jaejoong saat salah seorang pegawai salon itu berancang-ancang untuk memijat Sungmin. Meskipun sempat terkejut dan heran, pegawai salon itu segera saja mempercayai dirinya akan tamat kalau terjadi apa-apa pada kandungan pria yang sedang ditanganinya itu.
Saat hari beranjak siang, dan ketiga orang itu menyeret Sungmin ke sebuah restoran, Sungmin menggerutu kesal. Ia sudah tak bertemu anaknya sedari pagi. Dan ia khawatir anaknya akan mencarinya.
"Tenang hyung. Berikan sedikit waktu untuk kau merawat dirimu. Dan berikan sedikit waktu pada Kangin ahjussi untuk merawat cucunya." Dan hanya itu jawaban yang Hyukjae berikan.
Selesai makan siang, Sungmin dibawa menuju sebuah butik ternama langganan Jaejoong. Mengukur ukuran tubuhnya, itu yang Sungmin lakukan di sana. Sementara ketiga orang itu hanya asik melihat katalog yang berisikan ratusan tuxedo indah. Saat di salon pun, hanya Sungmin yang mendapatkan perawatannya, sementara ketiganya hanya asik memandangi Sungmin dan memberi perintah pada pegawai yang menangani Sungmin untuk lebih hati-hati.
"Kurasa, berikan warna putih saja. Sesuai tema 'kan? Dan untuk Sungmin, sematkan sedikit warna merah muda… bagaimana?" diskusi ketiga orang itu, sementara Sungmin menghampirinya, Song Qian langsung menjaga langkah kaki Sungmin. Semuanya tak ingin terjadi apa-apa pada Sungmin.
Dan oh, Jaejoong bisa memaksakan kehendaknya… yah, pakaian yang mereka bincangkan itu selesai dengan indahnya tepat dalam waktu dua hari.
Sorenya, Sungmin diantarkan pulang dengan selamat, dan segera tertidur setelah Song Qian memberikan ramuan herbal yang disarankan Yunho, dokter yang sebelumnya menangani kehamilan Sungmin.
.
.
.
Sungmin sudah berandai-andai akan pernikahannya kala Jaejoong, Song Qian serta Hyukjae menyeretnya ke butik dan memilih sebuah tuxedo indah itu. Tapi… ia tak mau berandai terlalu tinggi akan pernikahannya. Kyuhyun tak pernah mengatakan apapun akan pernikahan, tak pernah menyinggung sedikitpun tentang pernikahan itu. Jadi, harapan akan pernikahan itu harus Sungmin kubur sejauh mungkin.
Hari-hari yang berlalu terasa begitu cepat. Hari yang akan selalu dikenang Sungmin itu telah beranjak pada hari yang sesungguhnya. Hari ini, tepat saat fajar menyingsing, Sungmin takkan melupakan hari terindah sepanjang masanya ini. Saat matanya terbuka, saat orang pertama yang ditatapnya adalah Kyuhyun yang tersenyum manis. Mengecupi kedua kelopak mata yang baru saja terbuka itu. Dan berbisik merdu, sebuah kalimat yang sarat akan kebahagiaan, kalimat yang menumbuhkan pengharapan, dan kalimat yang menjanjikan kebahagiaan.
"Pasangan hidupku, bersiaplah. Aku akan menunggumu." Setelah berkata seperti itu dan mengecup singkat bibir indah Sungmin. Kyuhyun berjalan meninggalkan kamar mereka, meninggalkan Sungmin dengan kebingungan yang melanda. Dan hal yang mengejutkan itu terus berlanjut saat Jaejoong masuk ke kamar mereka, menuntun Sungmin lembut menuju kamar mandi.
"Mandilah." Ucap Jaejoong dengan senyum hangatnya, dan memperhatikan bathup Sungmin yang sudah terisi air hangat dan aroma floral yang lembut menguar dari air itu. "Kyuhyun mengikuti saranku rupanya. Mandilah, jangan lama. Hari ini akan banyak hal penting yang akan kau lalui. Jja!" setelah itu Jaejoong meninggalkan Sungmin yang termenung sesaat sebelum memutuskan untuk mandi dan mengikuti saran Jaejoong untuk mandi dengan cepat.
Dan begitu ia telah selesai dengan air beraroma floral itu, Sungmin yang sudah kembali masuk ke kamarnya, kembali dibuat terkejut saat mendapati beberapa orang sudah berada di kamarnya.
"Jaejoong ah, Eunhyuk ah… mwoya ige?" tanya Sungmin.
"Kemari hyung." Hyukjae berdiri dari duduknya dan menuntun Sungmin menuju kursi rias di kamar Sungmin dan Kyuhyun yang baru beberapa bulan ini berada di kamar mereka, entahlah, di kehamilan keduanya ini… Sungmin menjadi lebih manja, lebih senang merias diri, bahkan sangat senang menggoda Kyuhyun. Saat ia berasumsi jika anak mereka perempuan, Kyuhyun hanya tertawa dan mengatakan, "bagaimana jika anak kita lagi-lagi putra yang manis seperti Sandeullie dan juga ummanya?" setelah itu Sungmin merajuk seharian, ah satu lagi… Sungmin sangat sering merajuk di kehamilan keduanya.
"Hei, mana ada calon pengantin yang melamun di hari pernikahannya?" ucapan itu segera saja membangunkan Sungmin dari lamunannya dan menatap pemuda manis ber-gummy smile di hadapannya.
"Aku? Menikah?" mata indah mengerjap beberapa kali dan memandang bingung, ia tak mengerti… sungguh.
"Masih tidak mengerti, oppa?" tanya Song Qian yang baru saja masuk ke kamar Sungmin dengan setelan tuxedo indah berwarna putih. "Kau, Lee Sungmin akan menikah kembali dengan Cho Kyuhyun, masih belum mengerti juga?" Song Qian menjawab disertai kekehan gelinya saat melihat mata Sungmin mengerjap sekali dan mengalirkan air matanya begitu saja.
"Aku? Aku tidak bermimpi 'kan?" tanya Sungmin sembari menatap ketiganya, mengharapkan satu jawaban pasti dari mereka.
"Hyung, bagaimana ini bisa menjadi mimpi kalau selama beberapa hari ini kami menyiapkannya tak kenal waktu? Si Cho bodoh itu, semua kemauannya selalu saja harus dituruti. Jadinya kami juga ikut kewalahan dengan kemauan magnae satu itu. Tapi… itu semua akan terbayar jika kami melihat kau dan Kyuhyun tersenyum di hari ini. Berbahagialah hyung. Jangan berpikir ini hanyalah mimpi, tersenyumlah dan jemput kebahagian kalian." Hyukjae yang biasanya, takkan berkata seperti ini di hadapan Sungmin. Hyukjae yang biasanya pasti ikut menangis bersama Sungmin. Dan benar saja, mata Hyukjae sudah memerah dan menahan air matanya sebisanya.
"Hapus air matamu, Sungmin ah. Biarkan kami melakukan tugas kami untuk menyulapmu hari ini, dan jangan ganggu kami dengan air matamu." Ucap Jaejoong sembari memberikan tisu pada Sungmin yang ditanggapi Sungmin dengan kekehan gelinya.
"Jadi aku benar-benar akan menikah dengan Kyuhyun 'kan?" tanya Sungmin saat ia selesai mengusap air matanya.
"Aigoo, iya Sungmin oppa! Kau akan menikah kembali dengan Kyuhyun. Hah… kalian memang cocok, sama-sama keras kepala…" gerutu Song Qian sembari mengeluarkan beberapa alat rias yang akan digunakannya untuk menyulap Sungmin.
"Lihatlah pipi ini…" gerutu Jaejoong saat sedang memoles pipi putih Sungmin. "Bagaimana bisa sekenyal, seputih, selembut dan sebulat ini?" gerutu Jaejoong lagi saat melihat pipi Sungmin.
"Maksudmu aku gendut begitu?" delik Sungmin pada Jaejoong.
"Bukannya pipimu dari dulu memang bulat seperti itu hyung? Kenapa kau berpikir kau gendut? Aku saja iri melihat pipimu… pipiku tirus begini…"
Obrolan itu mengalun begitu saja di ruangan itu, obrolan ringan yang sarat akan kebahagian di dalamnya. Sesuai dengan keadaan yang akan mereka sambut, semuanya dipenuhi dengan kebahagiaan.
Setelah setengah jam berlalu, Sungmin kembali memasuki kamar mandinya untuk mengganti bathropenya dengan tuxedo indah yang dibawa Song Qian tadi. Pakaian itu melekat indah di tubuh Sungmin, dan membuat nyaman perutnya tempat bernaung sang buah hati.
.
.
.
Sungmin kini telah bersiap untuk memasuki pekarangan indah tempat ia akan kembali mengucapkan janji setia sehidup sematinya. Di sampingnya, Kang In, sang appa menatapnya dengan penuh haru. Putranya, akhirnya ia bisa mendampingi dan melepaskan putranya pada kebahagiaannya. Meski mereka sempat saling menyakiti dan terpisah, tapi hati yang saling bertaut diantara putranya dan menantunya itu membuatnya yakin untuk kembali membiarkan anaknya direngkuh oleh kebahagiaannya bersama Cho Kyuhyun.
"Siap?" tanya Kang In saat sudah waktunya ia dan Sungmin menuju tempat pemberkatan pernikahan. Sungmin hanya mengangguk singkat dan mulai merangkul lengan kekar sang appa, lengan yang selama ini selalu melindunginya. Perlahan pasangan appa dan anak itu meniti rerumputan hijau nan indah itu. Berjalan diantara kelopak bunga lili putih yang menuntun mereka menuju altar.
Mata Sungmin sedikit terpaku melihat tempat ia berada saat ini, seakan familiar dan ia pernah melihatnya entah dimana.
Puluhan kursi putih dilapisi kain indah berwarna putih gading, jalanan menuju altar yang terhias kelopak bunga kesukaannya, rerumputan hijau indah yang dikelilingi pohon sebatas pinggang orang dewasa, dekorasi hijau dan putih ini… Sungmin merasa pernah melihatnya.
Sesaat sebelum Sungmin sampai di altar, ia melihat untaian bunga yang merambat di sebuah tiang-tiang kokoh yang membentuk miniatur gerbang istana. Tepat di bawah gerbang itu, berdiri Kyuhyun dengan gagahnya disertai tuxedo putih yang membalut tubuh maskulinnya.
Saat ia sedang terpaku pada Kyuhyun, dapat ia rasakan tangan sang appa melepaskan rengkuhan tangan Sungmin pada lengannya dengan lembut.
"Kuserahkan putraku yang berharga kembali padamu, ini kesempatan terakhirmu. Aku takkan memberikan kesempatan yang lainnya padamu. Gunakan dengan baik kepercayaanku ini, ya?"
"Aku takkan mengulangi kebodohan yang pernah kubuat, abeoji. Kupastikan padamu, putramu yang berharga ini adalah segala-galanya bagiku. Kebahagiaannya, kebahagiaan anak-anak kami adalah kebahagiaanku juga." Ucap Kyuhyun, dan setelahnya ia mengamit tangan Sungmin yang sudah diserahkan oleh mertuanya.
"Baik… bisa kita mulai pemberkatannya?" sang penyatu dua insan itu tersenyum melihat anggukan sepasang manusia yang akan segera bersatu, keduanya memancarkan cinta dan kasih sayang begitu kuat. Cukup itu saja sudah menjadi alasan kuat ia menyatukan kedua hati yang sudah bertaut itu.
Semuanya, berjalan lancar bahkan tanpa hambatan. Janji suci telah kembali mereka ucapkan. Janji suci yang dulu sempat mereka ingkari, kini mereka berjanji kembali dengan tulus dan takkan mengulangi kebodohan yang sama untuk mengingkari janji yang telah melantun dari bibir keduanya.
Anak mereka, jagoan kecil mereka, pangeran mereka… berjalan ke hadapan mereka dengan langkah yang serius serta tatapan berhati-hati. Cho Sandeul hanya tak mau benda indah di tangannya itu terjatuh. Benda indah pilihannya bersama sang kakek, benda indah yang akan digunakan sebagai simbolis pengikat kedua orang tuanya. Melihat anak manis itu yang meskipun sedang memperhatikan langkahnya dengan hati-hati namun senyum bahagia terulas di bibir yang menduplikat bibir manusia yang telah mengandung dan melahirkannya itu, semua orang yang hadir di pernikahan itu terbelah antara perasaan haru dan juga geli saat melihat ekspresi si pangeran cilik itu.
"Appa… pakaikan ini pada umma nde? Dan Adeul mau, appa dan umma bersama selamanya!" perintah si pangeran cilik itu begitu ia telah berdiri tepat di hadapan kedua orang tuanya.
"Tentu saja, nak. Kita akan selalu bersama selamanya, appa, umma, Sandeullie dan juga adik." Janji Kyuhyun sebelum mengusap singkat pipi putih putra manis mereka dan mengambil sepasang cincin indah berhias permata itu kemudian menyerahkan pasangannya kepada Sungmin agar mereka bisa saling mengikat dengan benda indah itu.
Senyuman bahagia mengulas begitu sepasang kekasih hati itu selesai melingkarkan cincin indah itu. Tamu undangan pun tak luput dari senyum bahagia. Sandeul yang menyaksikan pernikahan kedua orang tuanya itu pun tersenyum dengan bahagia, terlebih lagi saat melihat sang appa merengkuh pelan pinggang sang umma dan mulai melancarkan kecupan kecil untuk sang terkasih.
Aigoo… semuanya terpana akan keindahan dan kebahagiaan pernikahan itu. Sehingga melupakan si pangeran kecil yang harusnya tak menyaksikan itu secara intens.
.
.
.
Setelah sesi pemberkatan dan pengikat yang diakhiri dengan kecupan penuh cinta itu, Kyuhyun membawa Sandeul ke dalam pelukannya, memeluknya bersama Sungmin. Mengalirkan rasa mereka, rasa sayang mereka, rasa bersyukur mereka karena… meskipun Sandeul terlahir di saat keduanya sedang menjauh, Sandeul… anak mereka adalah harta berharga mereka dan salah satu pengikat hati dan pemersatu mereka yang takkan memudar akan apapun. Di tambah lagi, anak kedua mereka.
"Kyu… boleh bertanya sesuatu?" tanya Sungmin saat mereka sedang berdua di tengah-tengah tamu undangan mereka.
"Hm? Mau bertanya apa?" jawab Kyuhyun sembari mengecupi kening Sungmin yang berkerut itu.
"Aku… kenapa merasa kenal tempat ini ya?" akhirnya Sungmin menanyakan juga hal ini, jujur saja ia seperti mengenal tempat ini namun ia tak mengingat apakah ia pernah datang ke sini.
"Oh itu…" Kyuhyun tersenyum kecil sebagai respon lanjutannya. "Tempat ini 'kan kau yang membuatnya, sayang. Aku hanya merealisasikan tempat ini menjadi kenyataan saja." Jawab Kyuhyun.
"Maksudmu apa sih?" tanya Sungmin dengan bibir yang merengut dengan lucunya itu. Kapan Sungmin membuatnya coba? Dan apa juga maksud Kyuhyun dengan merealisasikannya?
"Kau yang menggambar tempat pernikahan impian ini, sayang. Aku hanya merealisasikannya saja agar tak sekedar menjadi sketsa impianmu." Jawab Kyuhyun disertai kecupan kecil di hidung Sungmin.
"Huh?" pikiran Sungmin kini melayang pada sketsa-sketsanya… ah! Dia teringat. Ia pernah menggambar tempat yang mirip seperti tempat ini disela-sela kegiatannya menyelesaikan sketsanya untuk pakaian pernikahan Yunho dan Jaejoong dulu. Sketsa yang menjadi saksi bisu bagaimana pada akhirnya sketsa itu hanyalah sketsa yang tak pernah terealisasikan karena pada akhirnya, Sungmin dan Kyuhyun berpisah.
Namun kini, sketsa itu menjelma menjadi tempat terindah yang mereka gunakan untuk mengikat janji suci yang bahkan menggetarkan nirwana itu.
"Bagaimana kau bisa mengingat setiap detailnya Kyu?" tanya Sungmin lagi setelah ia kembali mengedarkan pandangannya dan menemukan seluruhnya serupa dengan sketsanya itu.
"Aku punya salinannya." Jawaban ringan Kyuhyun itu dihadiahi delikan kesal dari Sungmin.
"Hei kau! Kau melanggar hak cipta seseorang dengan memperbanyak sketsaku tanpa seijinku!" gerutu Sungmin kesal.
"Kau akan tetap marah meskipun aku kini menjadikan sketsamu menjadi seperti ini, sayang?" tanya Kyuhyun yang sedikit terperanjat mendengar ucapan Sungmin.
"Anni." Jawab Sungmin cepat. "Siapa bilang aku marah? Gomawo Kyu, gomawo…" lanjut Sungmin setelahnya.
"Apapun untukmu, sayang." Jawab Kyuhyun sembari mengeratkan tautan tangannya pada tangan indah yang sangat sesuai di genggamannya itu. Dan dari tempat mereka berdiri dapat dilihatnya, pangeran kecil mereka berlari dengan menarik sebelah tangan anak yang lebih tua darinya serta seperti menghindari seorang bocah kecil yang mengejar pangeran mereka.
"Appa! Umma! Tupai jelek itu mengatur-atur Adeul seenaknya! Tupai jelek itu melarang Adeul bermain dengan Maru hyung!" adu Sandeul saat sudah berdiri di balik perlindungan kedua orang tuanya.
"Maru yah, kau datang? Mana appa dan ummamu? Hyung belum bertemu dengan mereka." Sungmin sedikit terkejut melihat Kang Maru datang ke pernikahannya seorang diri.
"Biasa hyung, mereka sedang berdebat ringan di sana." Jawab Maru serta menunjuk kedua orang tuanya yang berdiri di kejauhan. "Ah, selamat atas pernikahan kalian ya hyung, aku senang melihat senyuman hyung lagi, belum lagi senyuman uri Sandeullie. Sandeullie senang sekali katanya, ia akhirnya bisa bersama appanya." Ucap Maru dengan pembawaannya yang tenang untuk anak kecil yang baru saja menginjak usia sebelas tahun itu.
Kyuhyun yang sudah diceritakan oleh Sungmin tentang keluarga bocah di hadapannya hanya mengangguk maklum saat mendengar anak itu memanggil Sungmin dengan sebutan hyung. Dan Kyuhyun kini menatapi bocah tupai yang merengut kesal melihat interaksi orang menyebalkan tukang senyum itu dengan calon mertuanya.
"Kau! Jauh-jauh dari Sandeullie ku!" geram Baro saat melihat Maru menepu-nepuk pipi Sandeul.
"Kau yang jauh-jauh dari adikku bocah mesum." Tiba-tiba saja dari belakang Baro, Changmin yang datang entah dari mana itu menarik kerah kemeja Baro. Bocah yang terlalu tinggi untuk ukuran anak yang berusia sembilan tahun itu dengan mudahnya menarik Baro menjauh dari Sandeul. "Kau pikir aku tak melihat apa yang kau lakukan pada adikku? Anak siapa sih kau, menyebalkan sekali. Sudah mesum, pendek, muka mirip tupai pula." Ah sungguh, mulut Changmin itu…
Baro yang dipermalukan seperti itu merengut kesal. Ia kesal. Bocah tiang di hadapannya itu mempermalukannya di hadapan calon mertuanya dan juga, bocah bebek yang ditaksirnya itu malah meledeknya dibalik punggung bocah tukang senyum itu.
"Maaf saja Changmin ah, Baro yang seperti itu adalah anakku." Dari arah belakang mereka pasangan orang tua Choi Baro itu datang saat melihat anaknya terlibat keributan kecil. Tak luput orang tua Changmin pun datang untuk melihat kelakuan anaknya.
"Eoh? Siwon ahjussi? Pantas saja anaknya begitu." Keluh Changmin yang mengenal Siwon sebagai artis terkenal dan sekelagus artis playboy. "Anakmu dengan Kibum sonsaengnim?" tanya Changmin saat melihat tangan Siwon dan Kibum, orang yang dikenalnya sebagai guru privatnya itu, saling bertautan. "Hiii… mengerikan sekali anak kalian." Komentar Changmin dengan lancangnya.
"Jung Changmin." Panggil Yunho dengan nada rendah yang mengerikan, penuh peringatan.
"Waeyo, appa? Anak ini, melecehkan adikku! Bagaimana bisa aku diam saja? Seenaknya memegang eongdongi Sandeul dan tersenyum mencurigakan setelahnya? Hiii… anak ini pasti sering melihat kelakuan Siwon ahjussi." Changmin yang tak gentar dengan tatapan appanya itu kembali membuka mulutnya, menimbulkan reaksi berbeda dari setiap orang.
Sungmin, serta merta membawa anaknya ke pelukannya dan sedikit mendelik pada bocah tupai di hadapannya. Ia tak kenal anak itu maupun orang tuanya yang ia ingat adalah orang tua anak itu dulunya senior Kyuhyun yang cukup dekat dengan Kyuhyun saat di bangku kuliah.
Kyuhyun, hanya melengos lelah saat mengingat Choi Baro memang mirip sekali kelakuannya dengan senior mesumnya itu.
Yunho, yang tadinya ingin memarahi Changmin, ikut-ikutan mendelik pada Baro. Siapapun yang berurusan dengan Sandeul, harus berurusan dengan dia. Dia sebagai dokter dan ahjussi yang membawa Sandeul dengan selamat sampai ke dunia ini. Dan dia tak rela jika bocah tupai di hadapannya itu menakuti Sandeul.
Jaejoong tak kalah menyeramkan lagi, kalau tak ditahan Yunho mungkin ia bisa melakukan hal yang tak mungkin dibayangkan oleh siapapun pada appa anak mesum di hadapannya. Rekan sesama artisnya itu memang terkenal mesum dan siapa sangka? Anaknya juga sepertinya?
Sementara Kibum, sebagai sosok eomma si bocah mesum hanya bisa menghela nafas. Anaknya, membuat masalah lagi.
Song Qian yang datang bertepatan saat Changmin membalas ucapan appanya itu kini ia merapat ke sisi Sungmin, bermaksud menjaga Sungmin dan Sandeul.
Eunhyuk dan Donghae yang datang bersama Song Qian, hanya bisa menatap tak percaya pada keempat bocah yang berstatus muridnya itu.
"Menurutku, kenapa kalian tak membuat status anak ini menjadi bertunangan saja, Sungmin ah?" Gary yang datang belakangan setelah menyelesaikan adu mulut ringannya dengan Jihyo, memecahkan suasana tegang dengan sebuah ide konyol yang langsung ditanggapi penolakan oleh sebagian besar orang yang berada di sana.
"Umma, appa benar-benar harus belajar kapan seharusnya ia mengeluarkan ide tak masuk akalnya itu…" Maru hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan sang appa yang tak pernah berubah, kelakuan tak bisa membaca situasi. Sementara Jihyo langsung saja memukul kepala sang suami.
"Choi Baro bodoh, kau sudah ditolak habis-habisan oleh keluarga besar seseorang yang kau sukai. Makanya, ubah taktikmu dalam mendekati seseorang yang kau sukai. Jangan menggunakan cara menyebalkan appamu!" ucapan Kibum, yang sedari tadi menutup mulutnya, sontak membuat semuanya memandanginya.
"Maafkan aku Choi Siwon ssi, Kim Kibum ssi. Kenapa kalian semua membahas tentang perasaan seperti itu pada anak sekecil mereka? Aku bahkan ragu apakah anakmu mengerti perasaannya saat ini, mereka masih terlalu kecil. Biarkan mereka bermain layaknya anak-anak seusianya. Jangan menjejali mereka dengan perasaan yang bahkan orang dewasa saja masih sukar mengertinya. Lagipula, perasaan sepihak takkan bisa dipaksakan. Boleh saja kalau memang anak kalian mengerti apa perasaannya itu, tapi bisakah kalian mengerti perasaan anakku yang takut terhadap kelakuan anak kalian?" Sungmin yang sedari tadi ingin menyampaikan hal itu akhirnya merasa lega saat sudah bisa mengeluarkannya.
"Sungminku benar hyung. Jangan membuat seorang bocah, menjadi dewasa sebelum waktunya. Jangan memaksakan kehendak. Dan aku takkan menyetujui siapapun yang mendekati anak-anakku, yang malah membuatnya ketakutan." Ucap Kyuhyun pada orang-orang disekitarnya.
"Baik-baik, kita lupakan masalah ini nde? Kita biarkan mereka berteman seperti anak seusianya. Kau dengar itu Choi Baro?" Siwon pada akhirnya menengahi perdebatan itu.
"Aku akan mengawasi anakmu dengan ketat hyung." Ucap Kyuhyun disertai seringaiannya.
"Aku juga akan mengawasi bocah tupai itu, ahjussi." Ucap Changmin dengan seringaian yang tak kalah menyebalkan. Sepertinya, ada yang menemukan pasangan partner-in-crime nya.
Sementara itu Cho Sandeul yang menjadi objek perdebatan itu, tengah asik meminum jus pear kesukaannya yang ditawarkan oleh Donghae. Hyukjae dan Donghae memang sengaja menjauhkan Sandeul dari perdebatan yang cukup konyol itu.
"Tak kusangka, ada orang yang lebih konyol dari kita ya Hyukie." Ucap Donghae dengan nada sing-a-song.
"Kau saja yang konyol, aku tidak." Balas Hyukjae, yang hanya ditanggapi senyuman Donghae.
Sementara itu Kang In hanya mengamati kelakuan pasangan muda di hadapannya dengan senyuman.
"Kurasa, anak kita benar-benar bahagia bersama cucu dan menantu kita, yeobo. Kau melihatnya 'kan? Bagaimana senyuman menawannya itu terulas saat ia merangkul tangan kekasih hatinya. Kau masih melihat kami di atas sana dan menjaga kami selalu 'kan? Kami selalu mencintaimu, tetap jaga dan lindungi kami dari sana, serta tunggulah aku di sana, kita akan bersama sebentar lagi, saranghae." ucapan penuh haru itu dibalas dengan semilir angin yang menerpa kulit Kang In, membuat Kang In bahagia. Seakan… angin itu menyampaikan balasan sang terkasih di surga sana.
.
.
.
"Sedang memikirkan apa, sayang?" Kyuhyun yang baru saja selesai mandi, mendapati kekasih hatinya itu sedang termenung dan tersenyum sendiri.
"Ah, Kyu…" Sungmin sedikit terperanjat sebenarnya, tapi akhirnya ia bisa mengendalikan detak jantungnya. Kyuhyun yang menguarkan aroma segar selepas mandinya itu, memeluk Sungmin dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu sang terkasih.
"Iya aku. Kau melamunkan apa tadi? Sampai tersenyum sendiri seperti tadi." Tanya Kyuhyun sembari mengelus perut Sungmin dengan lembut dan penuh kagum.
"Hari pernikahan kita. Aku hanya tak bisa membayangkan, Cho Sandeul ku, putra kecil ku itu sudah ada yang melirik." Terang Sungmin sembari menikmati usapan lembut tangan Kyuhyun.
"Oh tentu saja. Dia seorang Cho Sandeul, anakku yang merupakan duplikat sempurna dirimu. Siapa yang takkan melirik? Tapi tetap saja, aku tak mau anak kita dewasa sebelum waktunya. Dan lagi… Cho Sandeul, banyak yang menyayanginya. Aku tak menyangka saja bisa melihat si Jung dan putranya segeram itu."
"Changmin memang menyayangi Sandeul sejak pertama kali melihat Sandeul. Disela-sela liburannya ia pasti selalu berkunjung untuk menemui kami di Paris. Anak itu bisa merajuk habis-habisan pada orang tuanya jika tak diikut-sertakan saat ingin bertemu kami. Changmin juga pernah bilang ia ingin memiliki adik seperti Sandeul. Aku beruntung ya Kyu, anakku banyak yang melindunginya." Sungmin berbalik dan menatap Kyuhyun dengan pandangan haru.
"Yang lebih beruntung itu aku, anak-anak kita dan kau adalah keberuntungan sejatiku. Saranghae. Jeongmal jinjja saranghae." Tangan Kyuhyun menangkup kedua pipi Sungmin, mengelus lembut pipi yang sedang merona itu.
"Nado. Nado saranghae." Balas Sungmin pelan. Mengahayati setiap kata cinta yang ia ucapkan serta menerima setulusnya perasaan yang diberikan oleh Kyuhyun.
Bibir Kyuhyun perlahan mengecupi kening indah Sungmin, perlahan turun ke kedua kelopak mata indah Sungmin. Kelopak mata yang menyembunyikan keindahan lainnya di dalamnya. Berlanjut ke kedua pipi putih yang sering merona di saat kehamilan keduanya itu. Benar, anak kedua mereka membuat aura Sungmin semakin indah, memukau serta semakin cantik. Lalu, pemberhentian terakhir Kyuhyun adalah lipatan bibir Sungmin yang terlalu menggiurkan untuk terlewati. Bibir yang baru saja mengucapkan kata-kata yang melambungkan hati Kyuhyun. Bibir yang selalu mampu menenangkan Kyuhyun saat kata-kata penghibur dan semangat keluar dari bibir itu. Bibir yang akan selalu Kyuhyun jaga untuk tersenyum selalu. Takkan ada lagi lirihan pilu yang akan keluar dari bibir itu.
"Hei…" panggil Kyuhyun sesaat setelah ia selesai melepas pagutannya.
"Hmm?" gumam Sungmin sebagai responnya. Mata keduanya masih saja terpejam. Jarak keduanya masihlah begitu dekat, sehingga mereka bisa saling merasakan hembusan nafas hangat dari sang terkasih.
"Entah kenapa aku sangat ingin memakan ayam madu saat ini. Mau menemaniku mencarinya?" pertanyaan Kyuhyun itu sontak membuat Sungmin memandang Kyuhyun.
"Selarut ini? Yang benar saja Kyu…" balas Sungmin kemudian.
"Sebenarnya aku ingin kau pergi juga denganku, tapi tak apa, udara malam tak baik untukmu dan anak kita. Aku pergi sendiri saja ya?" tanya Kyuhyun lagi.
"Tunggu dulu Kyu." Sungmin sontak saja menghentikan Kyuhyun saat Kyuhyun sudah bersiap-siap dengan mantel berpergiannya itu. "Entah kenapa aku… aku merasa saat ini kau seperti orang yang sedang mengidam." Ucap Sungmin lagi.
"Molla. Mungkin saja benar. Dulu, beberapa bulan sebelum kau pergi, seingatku aku juga pernah tiba-tiba saja memakan sayuran. Entah apa yang terjadi padaku, saat itu bahkan Eunhyuk hyung sampai histeris melihatku." Ucapan Kyuhyun itu disertai dengan tatapan menerawangnya kala mengingat keajaiban tingkahnya dulu.
"Aku pernah mendengar, ada pasangan yang mengalami mengidam sepertimu sementara yang mengandung tak ada keinginan sama sekali untuk mengidam. Dan jujur saja, saat mengandung Sandeul dulu aku memang tak menginginkan apapun, sekarangpun juga begitu. Ternyata kau yang mengidam ya?" tanya Sungmin sembari mengusap lembut pipi Kyuhyun.
"Tak masalah 'kan? Setidaknya aku tahu aku bisa memperolehnya, dan takkan mengancam anak kita dengan makanan aneh yang masuk ke dalam tubuhmu. Jadi, mau menemaniku mencari ayam madu?" ajakan Kyuhyun untuk yang kedua itu disetujui Sungmin. Segera saja Kyuhyun mencari dan memakaikan baju hangat dan mantel berpergian Sungmin.
"Kajja." Ucap Kyuhyun sesudahnya.
Sedangkan Sungmin hanya tersenyum saja saat melihat tangan Kyuhyun yang menggenggam erat tangannya dan ia takkan membiarkan tangan itu terlepas lagi dari genggamannya.
'Ah, aku juga tidak muntah-muntah di pagi hari… apa Kyuhyun juga yang mengalaminya ya?' pertanyaaan yang tak sempat Sungmin lontarkan itu terjawab keesokan harinya, saat ia melihat Kyuhyun buru-buru pergi ke kamar mandi mereka dan memuntahkan cairan putih dari mulutnya.
'Aigoo… bahkan morning sickness juga dia yang mengalaminya.'
Setelahnya, Sungmin bergegas menyediakan teh berperisa mint dan memberikan snack asin untuk Kyuhyun. Dan setelah melihat Kyuhyun yang sudah membaik, baru Sungmin bisa meninggalkan Kyuhyun di kamar untuk melakukan tugasnya, memasak sarapan untuk keluarga kecilnya.
.
.
.
Meskipun usia kandungan Sungmin saat ini sudah memasuki bulan keenam, kandungan yang sehat itu, tak mengahalangi Sungmin untuk bekerja di kantornya. Meski ia hanya bertahan hingga jam makan siang dan dilanjutkan dengan menjemput pangeran kecilnya.
Seperti hari ini, Sungmin sudah duduk dengan nyaman di bangku taman yang menghadap kelas anaknya itu. Menunggu anaknya keluar kelas di bawah sejuknya pohon oak yang menaunginya dari teriknya matahari.
"Umma!" teriak Sandeul begitu ia mendapati eommanya di tempat yang sama seperti hari-hari sebelumnya saat menjemputnya.
"Hai sayang. Bagaimana harimu?" tanya Sungmin saat pangeran kecilnya itu melayangkan senyuman yang tak kalah bersinarnya dari sang surya.
"Baik umma. Adik, hari ini baik-baik saja di dalam 'kan?" tanya Sandeul sembari menempelkan telinganya di perut sang eomma.
"Adik tidak nakal hari ini. Ia mematuhi kakaknya dengan baik." Ucap Sungmin saat mengingat wejangan Sandeul pada adiknya itu sebelum berangkat sekolah.
"Ung, itu baru adikku. Umma~ Changmin hyung masih belum keluar kelas ya? Adeul sudah lapar…" rajuk Sandeul sembari memegangi perutnya. Ia sungguh tak sabar untuk pulang dan memakan masakan Sungmin, tapi hyung tiangnya itu belum juga keluar kelas. Hyung tiangnya yang selalu saja main ke rumahnya sepulang sekolah sampai ia dijemput Yuno ahjussinya ataupun Jae ahjussinya.
"Kajja kita pulang ahjussi." Changmin tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan mereka dengan nafas tersengal-sengal sehabis berlari.
"Aigoo, kau berkeringat seperti itu…" Sungminpun mengelap lembut keringat yang mengalir di wajah keponakannya itu.
"Ah, senangnya hidupku. Kurang apa lagi? Sudah punya umma cantik, pandai memasak baik hati pula. Aku juga punya ahjussi yang tak kalah cantik dan selalu memperhatikanku." Gumam Changmin disertai cengiran bahagianya.
"Ahjussi cantik itu, umma ku. Umma ku dan adik! Hyung tak boleh merebut umma kami!" tiba-tiba saja Sandeul menjerit kesal mendengar ucapan Changmin.
"Dengar ya baby Deullie~ hyung sudah cukup dengan umma hyung sekarang. Dia umma terbaik yang diberikan untukku. Umma ku ya hanya Kim Jaejoong. Dan umma mu ya Lee Sungmin. Tenang saja, hyung takkan mengambil umma mu, baby Deullie." Dan kalau Changmin sudah mulai memanggil Sandeul dengan sebutan baby, berarti Changmin sedang mengolok-oloknya.
"Siapa yang baby! Adeul sudah jadi kakak! Hyung jangan membuat Adeul malu di depan adik ya!" ancam Sandeul dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Sudah kalian berdua, ayo kita pulang." Sungmin pun akhirnya menengahi pertengkaran lucu kedua bocah manis itu dan mengandeng tangan mungil Sandeul menuju mobilnya, serta Changmin yang berdiri di samping mereka.
"Aku bertugas mengawasi tiga baby, ahjussi. Jadi jangan menggandengku seperti baby juga." Ucap Changmin dulu saat Sungmin ingin menjangkau tangan Changmin.
Jung Changmin yang mendengarkan dan melaksanakan tugas dari Cho Kyuhyun tentang menjaga ketiga baby dengan baik.
Sementara itu, setelah ketiganya pergi, Choi Baro kecil berdiri dibalik bayang-bayang koridor kelasnya itu menggumamkan sesuatu.
"Aku berjanji Cho Sandeul. Kau akan menyukai Choi Baro ini secara perlahan. Kalau anaknya sudah mulai menyukaiku, baru aku akan berusaha memikat calon mertuaku."
Ah… berjuanglah, Baro kecil yang sudah dewasa sebelum waktunya.
.
.
.
Saat ini Kyuhyun sedang menunggu dengan panik di depan pintu utama rumah sakit tempat ia bekerja, pasalnya tadi saat ia baru saja selesai dengan pasiennya, Hyukjae menelponnya dan mengatakan jika Sungminnya akan segera melahirkan. Sungminnya, mengalami kontraksi dengan interval yang tak begitu jauh saat ia sedang menjemput Sandeul. Kebetulan, Hyukjae yang memang tak ada jam mengajar saat itu sedang menemani Sungmin menunggui Sandeul sembari menunggu Donghae yang saat itu sedang mengajar di kelas Sandeul.
Betapa paniknya Hyukjae saat itu, ia langsung saja masuk ke kelas Donghae yang masih menyelesaikan sedikit materi pelajarannya, meminta Donghae segera menyiapkan mobil.
"Sungmin hyung akan melahirkan, bodoh! Cepat siapkan mobilnya!" sembur Hyukjae saat melihat Donghae yang tak kunjung bergerak, dan setelah dibentak seperti itu baru Donghae bergerak. Untung, otak Donghae bisa sedikit berjalan dan menitipkan muridnya sampai jam pulang berdering pada salah satu rekannya.
"Cho Sandeul, cepat ikut samchon." Ucapan Hyukjae itu diangguki oleh Sandeul yang langsung berlari menuju tempat sang eomma. Berjalan di samping sang eomma yang sedang dipapah oleh samchonnya.
"Akh…" Sungmin sedari tadi tak henti-hentinya meringis sakit.
"Tenang hyung… berbaringlah… tarik nafas pelan-pelan hyung tenangkan dirimu…" ucap Hyukjae yang membaringkan Sungmin di jok belakang mobil Donghae.
"Sonsaengnim! Tunggu aku!" mungkin karena keributan kecil yang dibuat Hyukjae itu tersebar dengan cepat, Changmin kini sudah berlari menuju mobil Donghae untuk kemudian masuk ke mobil Donghae dan duduk di kursi yang sama dengan Sandeul, tepatnya kursi di samping kemudi.
Hyukjae maupun Donghae tak ambil pusing akan kelakuan Changmin.
Hyukjae segera saja menghubungi Kyuhyun setelahnya.
"Kau! Cepat siapkan dokter persalinan Sungmin hyung! Kami sedang diperjalanan menuju rumat sakit. Sungmin hyung akan melahirkan." Tak perlu membentak seperti apa yang ia lakukan terhadap Donghae, Hyukjae yakin Kyuhyun akan cepat tanggap pada situasi darurat seperti ini.
Dan benar saja, Kyuhyun sudah menghubungi Yunho dan Song Qian untuk mempersiapkan ruang operasi tempat bersalin Sungmin. Kini ia sedang menunggu di pintu masuk rumah sakit dengan beberapa suster yang bersiap untuk Sungmin dengan ranjang rumah sakit mereka.
Tak lama, sekitar dua puluh menit kemudian, mobil Donghae yang memang dipacu secepat mungkin itu berhenti tepat di hadapan Kyuhyun. Donghae yang segera keluar dari mobilnya itu turut membantu Kyuhyun untuk meletakkan Sungmin dengan nyaman ke ranjangnya.
"Kyu…" rintih Sungmin kesakitan, matanya yang mengabur menahan sakit itu menatap Kyuhyun seakan mencari kekuatannya.
"Gwaenchanna. Anak kita akan lahir dengan selamat. Aku akan terus di sampingmu." Kyuhyun berujar demikian bersamaan tangannya yang menggenggam Sungmin dan kakinya yang berlari untuk mengantarkan Sungmin secepatnya ke ruang operasinya.
"Cho uisanim…" gumam Yunho saat melihat Kyuhyun sudah setengah jalan menuju ruang operasi.
"Lakukan yang terbaik dari kalian, aku hanya akan berada di dalam untuk mendukungnya. Aku takkan mengganggu kerja kalian." Ucap Kyuhyun yang diangguki oleh Yunho dan juga Song Qian.
Saat Sungmin sudah siap dengan operasinya, Yunho bersiap dengan peralatannya setelah memastikan detak jantung dan kondisi tubuh Sungmin yang cukup stabil untuk melakukan operasi itu cukup memudahkan pekerjaan para dokter siang itu.
"Umma dan adik baik-baik saja 'kan?" tanya Sandeul yang saat ini sedang dipeluk oleh Hyukjae.
"Tentu, Sungmin hyung itu kuat. Buktinya saja Sandeullie bisa terlahir dengan selamat. Sekarang adikpun akan terlahir dengan selamat. Doakan saja semoga semuanya bisa membantu umma mu di dalam sana."
Saat lengkingan bayi itu terdengar, Kang In yang baru saja tiba di depan ruang operasi itu tertegun takjub mendengar tangisan cucunya. Donghae dan Hyukjae saling berpandangan, seakan tangisan itu adalah nyanyian peri kecil di telinga mereka. Sementara Sandeul melompat dari pelukan Hyukjae untuk berdiri di depan pintu, diikuti Changmin yang juga takjub mendengar suara adik bayi barunya itu.
Terlebih dari semua kebahagiaan itu, Kyuhyun lah yang paling bahagia.
"Peri kecil ku telah lahir… peri kecil kita telah lahir, sayang." Gumamnya penuh takjub saat bayi merah itu menangis di pelukannya. Mendekatkan sang peri kecil pada sosok hebat yang telah mengandung dan melahirkan itu, tangan Kyuhyun bergetar karenanya.
"Cho Yo Jung…" gumam Sungmin kala ia mengecupi kening anaknya.
"Yo Jung? Kau menamainya peri kecil?" tanya Kyuhyun saat melihat Sungmin yang masih saja mengecupi anaknya.
"Ung! Dia memang secantik peri kecil, kau juga tadi menyebutnya peri kecil. Bagaimana menurutmu?" jujur, mereka memang belum menyiapkan nama untuk anak yang bahkan dengan sengaja tak ingin mereka ketahui jenis kelaminnya, kejutan saat setelah persalinan menurut mereka. Dan kala melihat keindahan sang putri kecil mereka, nama itu terlontar begitu saja dari bibir Sungmin.
"Kau memang belahan jiwaku. Aku juga berpikir akan nama itu saat pertama menggendongnya!" ucap Kyuhyun dipenuhi senyuman bahagianya.
"Nah! Pasangan di sana! Biarkan aku mengambil Yojungie, dan memandikan bayi merah ini." Song Qian yang sedari tadi diam melihat interaksi pasangan itu bergerak mengambil Yojung dari rengkuhan Sungmin untuk dibersihkan dan dipakaikan pakaian hangat. "Kajja, peri kecil. Mandi dengan ahjumma cantik ini. Saat sudah wangi, baru kita kembali lagi menemui orang tua mu." Song Qian tak henti-hentinya tersenyum saat ia sendiri, ia tak membiarkan suster lainnya untuk menyentuh si peri kecil, pergi memandikan Yojung. Bahkan tadi, saat Yunho bertugas membedah perut Sungmin, ia sendiri yang mengangkat si peri kecil dari kenyamanannya di perut Sungmin.
Sementara itu, Sungmin yang sudah selesai ditangani Yunho, bahkan perutnya sudah menyatu kembali itu, hanya bisa tersenyum saat melihat kelakuan Song Qian.
"Nah kau, karena anemiamu itu selain kau akan dipasangi infus, kau juga akan diberikan darah tambahan. Setelah ini, aku akan meminta Jaejoong yang memperhatikan makananmu." Ujar Yunho saat ia dan susternya sudah selesai membersihkan tubuh Sungmin dan bersiap membawa Sungmin ke kamarnya yang sudah disiapkan. Dan masalah makanan Sungmin setelah melahirkan, dulu memang Jaejoong juga yang bertanggung jawab akan hal itu.
"Ung. Gomawo Yunho yah." Ucap Sungmin yang perlahan mulai menutup mata kala obat bius yang baru saja ditambahkan dosisnya itu mulai bekerja.
"Aku harus membiarkannya tidur untuk beberapa saat, makanya aku menambahkan dosis obat biusnya." Setelah berujar seperti itu, Yunho dan Kyuhyun bersama-sama mengantar Sungmin ke kamarnya. Dan sesaat setelah keluar dari pintu, mereka dapat melihat keluarga mereka yang menunggu kabar.
"Bayi perempuan yang sehat, Cho Yojung." Jawab Kyuhyun singkat. Segera saja semuanya mengikuti langkah kaki Kyuhyun dan Yunho ke kamar rawat Sungmin.
"Appa, jadi aku punya yeodongsaeng? Mana uri Yojungie? Umma kok tidur sih appa?" serobot Sandeul saat mereka sudah sampai di kamar Sungmin. Melihat itu, Kyuhyun hanya tersenyum geli dan mulai merengkuh pangerannya ke pelukannya.
"Ne, kau sekarang menjadi seorang oppa. Uri Yojungie sedang dimandikan Qian ahjumma. Dan uri umma, dia kelelahan nak. Jadi biarkan uri umma beristirahat nde?" tanya Kyuhyun yang diikuti anggukan bersemangat dari Sandeul.
.
.
.
Sungmin tersenyum penuh kala melihat sebuah kamar indah berwarna merah muda bercampur dengan indahnya interior kamar.
"Selamat datang di rumah, uri Yojungie." Ucap Sungmin kemudian, berbisik di telinga anak yang sedang tidur di pelukannya.
Hari ini, tepat seminggu setelah hari kelahiran anaknya, Sungmin dan si buah hati sudah diperbolehkan pulang. Hanya Kyuhyun yang menjemput dan membawanya ke rumah. Namun, di rumahnya, tak Sungmin sangka sudah disiapkan sebuah pesta penyambutan untuknya dan si peri kecil yang disiapkan oleh putranya dan sang appa.
Serta, saat Sungmin dibawa ke kamar si buah hati yang ternyata dipersiapkan oleh sang haraboji dalam seminggu ini membuat hati Sungmin kembali menghangat.
"Oppa sendiri loh yang memilihkan boneka-boneka di sana, jadi nanti Yojungie bisa bermain dengan boneka lucu itu." celoteh Sandeul saat ia berdiri di samping box adiknya, memandangi sang adik yang tertidur nyaman di ranjang barunya.
"Yojungie akan menyukainya, uri oppa." Jawab Sungmin sembari mengusap pelan rambut halus Sandeul.
"Semakin diperhatikan, Yojungie, semakin mirip Sungmin…" ujar Kang In yang ikut-ikutan berdiri di samping box Yojung seperti apa yang Sandeul lakukan.
"Memang, meskipun Yojungie satu-satunya wanita di rumah ini. Tapi rumah ini kembali diisi manusia manis dan cantik. Nde, abeoji?" ucap Kyuhyun menyetujui perkatan Kang In tadi.
"Benar, hah~ kecantikan istriku benar-benar abadi di anak dan cucu-cucuku." Kepala Kang In mengangguk-angguk singkat sembari membayangkan kecantikan istrinya itu.
"Jika demikian aku sangat berterima kasih akan kecantikan eommonim." Jawab Kyuhyun yang dihadiahi delikan Sungmin dan bibir mengerucut Sandeul. Kapan sih dua pria tampan di hadapan mereka berhenti mengatakan mereka cantik dan manis?
"Hei, ayo kita mulai makan malamnya." Tiba-tiba saja Donghae masuk ke kamar dan memanggil tuan rumah untuk memulai makan malam serta pesta penyambutan Sungmin. Dan Sandeul lah yang pertama kali merespon dengan berlari ke arah Donghae untuk meraih tangan Donghae dan berjalan beriringan ke ruang makan.
"Walaupun aku tahu ini terdengar konyol…" sesaat Kang In keluar dari kamar, Kyuhyun mulai menggumam. "Aku masih saja cemburu melihat Sandeul yang dekat sekali dengan ikan itu."
"Kau ini…" dan Sungmin hanya bisa terkekeh kecil mendengarnya.
.
.
.
Malam itu, Sungmin terjaga dari tidurnya saat merasakan kasur tempat Kyuhyun berada kosong. Saat Sungmin mengerjapkan matanya mencoba meraih fokusnya, Kyuhyun sedang berjalan ke arahnya.
"Eh? Kau terbangun?" tanya Kyuhyun
"Kau habis dari kamar Yojungie?" bukannya menjawab, Sungmin malah balik bertanya.
"Iya, popoknya sudah tak nyaman lagi. Makanya ia tadi menangis, tenang saja aku berhasil membuatnya tertidur dengan nyaman." Perlahan Kyuhyun masuk ke dalam selimut hangatnya bersama Sungmin. Saat Kyuhyun telah terbaring di sampingnya, Sungmin segera saja mendaratkan kepalanya di dada Kyuhyun dan menjadikan lengan Kyuhyun sebagai bantalnya.
"Seharusnya kau membangunkan aku, kau lelah bekerja seharian dan masih harus terbangun untuk mengurusi Yojungie." Gerutu Sungmin saat sedang menyamankan letak kepalanya.
Memang, selama tiga bulan ini Kyuhyun selalu menjadi appa yang siap siaga. Ia tahu, Sungmin sudah lelah mengurusi kedua buah hati mereka di siang hari. Belum lagi si peri kecil yang memang butuh perhatian ekstra. Jadi ia sebagai seorang appa, mana mungkin ia tega membangunkan Sungmin saat si peri kecil itu terbangun di malam hari yang entah karena ia lapar ataupun karena popoknya sudah tak nyaman lagi. Terkadang Sungmin memang akan protes seperti tadi, namun tak jarang Sungmin mengucap syukur karena Kyuhyun mengerti dirinya dengan baik. Saat mereka sedang di rumah dan Sungmin membutuhkan tangan ekstra untuk pekerjaan rumah pun Kyuhyun takkan segan-segan menggantikannya. Kyuhyun akan melakukan apapun itu, kecuali memasak tentu saja, dan menyuruh Sungmin untuk memperhatikan anak-anaknya saja.
"Hei…"
"Hmm?" tanggap Kyuhyun yang sudah akan memejamkan matanya saat Sungmin memanggilnya.
"Kau tahu? Aku benar-benar mencintaimu." Ucapan Sungmin itu tak pelak membuat Kyuhyun tersenyum bahagia. Ia yang sedari tadi menghirup wangi dari rambut Sungmin itu kini menatap Sungmin yang memang sedang menatapnya juga.
"Aku tahu. Aku bahkan lebih-lebih mencintaimu. Kau, dan anak-anak kita adalah prioritas utamaku. Karena aku mencintai kalian." Kyuhyun mengecupi bibir Sungmin yang melengkung bahagia saat mendengar ucapan Kyuhyun tadi.
Malam itu… saat mereka sadar sumber kebahagiaan sejati mereka sudah mereka rengkuh ke dalam kebahagiaan, benar-benar sebuah kebahagiaan, mereka menyelami kebahagiaan itu lebih dalam dengan hati yang melantunkan rasa syukur akan ketulusan cinta yang mereka peroleh.
Kesalahpahaman adalah sebuah masalah yang wajar saja terjadi di sebuah kehidupan bahkan sebuah hubungan seperti pernikahan. Tapi… saling menyakiti meskipun masih saling mencintai adalah hal yang takkan bisa diterima. Jangan… jangan pernah sekalipun kita dengan sengaja menyakiti orang lain yang pernah menyakiti kita tanpa ia sadari dan ia tak pernah berniat seperti itu sama sekali.
Kyuhyun dan Sungmin, berbahagialah dengan cinta kalian.
.
.
.
KKEUT!
FIN!
TAMAT!
.
.
.
Ya, aku gak mau menyakiti mereka lagi yang tanpa sengaja pernah membuatku tersakiti. Meski berkata selamat tinggal, tapi mataku tak pernah bisa berpaling dari couple ini… apa yang bisa kulakukan? Hanya… kembali menata hati untuk percaya dan semakin membuat kuat landasan kepercayaan itu.
Dan akhirnya, ini adalah multi-chaptered pertamaku yang selesai dengan memakan waktu yang lama dalam pengerjaannya. Bahkan aku sempat akan membiarkan ini terbengkalai begitu saja. Maafkan atas keegoisan aku yang membiarkan pembaca "Really" bertanya-tanya kapan kelanjutan cerita ini dapat mereka baca.
Jika menilik kebelakang, cerita ini… entah kenapa mengalir begitu saja saat penulisan pertamanya. Dan sudah tahu jika cerita ini terlalu banyak celah yang membingungkan pembaca, aku masih saja pada akhirnya membiarkan pembaca membaca ceritaku. Seiring chapter, aku masih meraba… sebenarnya cerita ini akan seperti apa? Karena itu lah, setiap chapternya memiliki interval waktu yang berjauhan. Tapi, pada akhirnya… aku membawa chapter terakhir ini untuk yang bersedia membacanya.
Aku tak pernah sekalipun meminta feedback kalian di chapter sebelumnya… tapi untuk chapter ini, maukah kalian memberikan feedback/review kalian terhadap cerita ini? Terima kasih bagi yang bersedia. Terima kasih untuk yang mendukung tulisanku selama ini, dan juga yang menyemangatiku di "Delusional Love".
Jja, semoga bisa bertemu kalian di ceritaku yang lainnya dalam waktu dekat.
Annyeonghigaseyo~
…
..
.
