Ringkasan Pilot Cerita:
Chapter 1: Kotori Minami, Rin Hoshizora dan Maki Nishikino terlibat dalam sebuah musibah besar yang tiba-tiba menghancurkan gedung sekolah mereka. Mereka kemudian memutuskan melompat dari gedung ketika lantai hampir ambruk. Namun Maki kemudian menyadari bahwa Kotori tiba-tiba... lalu di luar pagar, Umi Sonoda dan Eli Ayase berjalan tertatih-tatih memasuki gerbang sekolah lalu tidak sadarkan diri dan seorang gadis berdiri diatas gedung sekolah mengamati itu semua.
Chapter 2: Sebuah kebenaran diceritakan, seorang gadis misterius bernama Hanayo Koizumi datang dihadapan mereka dan memperkenalkan diri sebagai seorang The Keeper. Namun, dia tiba-tiba menuduh mereka sebagai dalang kekacauan ini. Seminggu sebelumnya, ada sebuah pertemuan antara A-RISE dan µ's yang pernah dilakukan.
Chapter 3: Pada akhirnya kebenaran ini tidak menjawab apapun dan para gadis saling tuding menyalahkan. Pada saat itulah ibu kepala sekolah, Mrs. Minami yang telah sadar menjadi penengah untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Saat itu, sore hari menjelang dan satu hari penuh tragedi terlalui.
Chapter 4: Hanayo Koizumi diundang untuk menginap di rumah keluarga Minami. Malam tiba, Hanayo tiba-tiba mengajak Kotori Minami untuk keluar rumah menuju taman. Disanalah Kotori Minami melihat sendiri kenyataan pahit yang sedang terjadi, para monster muncul untuk menerkamnya dan Hanayo hadir untuk mengalahkan mereka. Di dunia mimpi, Kotori Minami berjumpa dengan seseorang yang menceritakan tentang identitas Warrior dan pertemuan supernatural Kotori Minami baru saja dimulai.
Chapter 5: Kelima gadis yang masing-masing memegang kartu khusus telah berkumpul di sekolah dan disana mereka sepakat untuk menyelamatkan Kousaka Honoka di dalam hutan. Tapi, sesuatu mulai muncul di dalam gedung sekolah yang sudah mulai hancur itu. Tiga orang terlihat keluar melalui pintu itu dan mereka berhasil mematahkan senjata tali cambuk Hanayo!
Mereka lalu tiba di dalam hutan dan pertarungan sesungguhnya terhadap monster yang telah mendekat baru dimulai. Namun, Hanayo Koizumi tiba-tiba mengarahkan senjatanya kepada para gadis. Dia menantang Kotori Minami untuk bertarung dan pada akhirnya gadis berambut coklat abu-abu itu berhasil mengalahkannya. Kemudian, para monster itu berhasil dikalahkan juga.
Chapter 6: Monster penjaga pintu gerbang muncul. Dua ekor monster. disanalah Kotori Minami memperoleh kekuatannya untuk berubah menjadi Wing Knight namun pada menit terakhir ketika Kotori Minami hendak menghabisi mereka, Hanayo Koizumi datang untuk mencegahnya. Senjata terlanjur dilepaskan namun pada saat itulah terungkap mengapa Eli Ayase mati-matian melindungi mereka. Itu karena kedua monster tersebut adalah Nico Yazawa dan Nozomi Tojo.
Chapter 7: Mimpi buruk dan Mimpi Indah Eli Ayase Ayase tiba. Ketika sedang mengisi air dia menemuka sesosok tubuh mungil sedang tergeletak pingsan. Itu adalah Alisa Ayase. Mereka lalu membawanya ke dalam perkemahan. Diluar kemah, Hanayo Koizumi tiba-tiba angkat suara untuk tidak membawa serta Alisa dalam perjalanan ini dan konflik dengan Eli Ayase tidak dapat dihindari.
Pagi berikutnya, kedua orang itu sudah pergi, lalu Umi Sonoda pergi dan terakhir Kotori Minami. Mereka berempat pada akhirnya bisa bertemu namun Umi tiba-tiba menghilang secara misterius dengan meninggalkan jejak noda darah di tanah. Kotori Minami kemudian pergi mencari Umi Sonoda namun tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi pada Alisa Ayase. Dia menyerang kakaknya dan menikamnya dengan pisau! Jati diri palsu Alisa lalu terungkap, Kotori Minami dan Hanayo Koizumi bertarung sekali lagi.
.
.
Lalu selanjutnya . . . . .
.
Warrior Diary:
"Aaaahh... Aku kehabisan Mie Ramen-nyaaa! Jadi penasaran apakah di dalam hutan ini ada toko yang menjual mie ramen yah?" – Rin Hoshizora.
.
.
CHAPTER 8 : ONE SPIRIT FIGHTER!
.
.
.
Part 1: Missing.
.
3 Jam Sebelumnya
Suasana hutan pagi hari ini terlihat begitu sunyi. Suara burung dan serangga kecil yang saling menyanyi dan menyapa sinar mentari pagi masih belum sepenuhnya mengisi sudut terdalam hutan ini. Suasana di dalam hutan masih dingin karena diselimuti hawa dingin malam yang masih tersisa walaupun secara perlahan-lahan itu menghilang diterpa aliran angin sepoi-sepoi pagi. Meskipun begitu...
Ini tidak seperti biasanya...
Para gadis itu saat ini kembali melanjutkan perjalanan di dalam hutan dengan mengandalkan kedua kaki mereka. Tidak ada yang salah, sesudah mengemas perlengkapan tenda maka mereka bergegas melanjutkan perjalanan mengikuti petunjuk Hanayo Koizumi yang membimbing langkah mereka semua.
Harus diakui bahwa selain Hanayo, tidak ada seorangpun diantara para gadis itu yang mengetahui tempat kuil itu berada. Umi Sonoda dan Eli Ayase yang sebelumnya pernah pergi kesana mengatakan bahwa mereka tidak bisa mengingat lagi letak tempat kuil tersebut. Kesulitan bertambah karena mereka tidak memiliki device pelacak "4-RIS3" yang dimiliki oleh sekolah UTX dalam rangka menemukan bangunan kuil misterius. Mereka sepenuhnya menyerahkan langkah takdir mereka kepada Hanayo.
Namun, kali ini berbeda...
Dan perjalanan takdir kehidupan ini telah membawa kepribadian mereka semakin menjauh dari kehidupan normal yang pernah mereka alami sebagai seorang gadis biasa.
Pertama adalah Kotori Minami, semenjak dia menerima takdirnya sebagai seorang Warrior maka dia sudah tidak bisa lagi dikategorikan sebagai seorang gadis biasa. Sekilas tampak tidak jauh berbeda dari anak gadis normal, tingkahnya masih imut dan mudah memberi perhatian terhadap orang lain tapi ketika anak itu memegang senjata dan berubah menjadi seorang Warrior maka tidak ada lagi istilah kompromi. Dia akan segera memutuskan apakah itu baik atau buruk, musuh atau teman, hitam atau putih dan tidak segan untuk membunuh bila dia mendapati itu masih abu-abu.
Lalu kemudian, Eli Ayase yang semenjak awal telah mengawasi mereka sebagai kakak tertua di kelompok ini sebelum adanya Nozomi dan Nico juga tidak kalah aneh. Beberapa kali dia terlibat konflik langsung dengan Hanayo Koizumi baik sebagai kawan ataupun rival namun peristiwa terakhir itu telah membuatnya berubah. Sikap dan keputusan heroik Hanayo yang telah dia tunjukkan untuk membela Eli Ayase telah memberikan bekas tersendiri di hatinya sehingga mungkin tanpa dia sadari kini Eli Ayase sudah menjadi pendukung loyal Hanayo dalam segala keputusan yang telah dia buat bahkan tanpa berniat meninjau ulang maksud tindakannya itu walaupun jika itu adalah tindakan yang merugikan atau mencurigakan bagi kelompok.
Karena itulah Umi Sonoda menjadi merasa kesepian.
Hanayo Koizumi sebelumnya lebih dekat dengan Kotori Minami dan Umi Sonoda cenderung dekat dengan Eli Ayase. Meskipun Eli Ayase lebih dekat dengan kedua anak kelas tiga lainnya namun Umi masih bisa merasakan perhatian khusus kepadanya. Tapi saat ini sudah berbeda, sosok Eli Ayase yang sekarang telah berpihak kepada Hanayo sehingga membuatnya tidak terlalu dekat dengan Umi Sonoda.
Sama seperti keadaan pagi hari ini dimana Eli Ayase telah terlebih dahulu pergi meninggalkannya. Sebenarnya bukan hanya Eli Ayase saja bahkan seluruh gadis lainnya juga telah pergi dari perkemahan pagi ini kecuali Rin Hoshizora yang dia temukan masih tidur satu tenda bersamanya.
Karena itulah keadaan ini tidak sama lagi...
.
Dan demikianlah awal cerita ini.
Pagi hari ini cuma Umi Sonoda dan Rin Hoshizora saja yang berjalan kaki di dalam hutan. Keduanya memakai pakaian jaket sport dan celana training dengan sepatu sandal yang biasa mereka gunakan untuk kegiatan olah raga. Di Sekolah Otonokizaka, kedua gadis ini memang terlibat dalam kegiatan ekstra kurikuler sekolah di bidang olah raga. Karena itulah, Umi Sonoda terbiasa memakai pakaian hiking untuk acara menjelajah di alam bebas seperti saat ini dan Rin Hoshizora yang terbiasa dengan olahraga lari lebih nyaman memakai setelan track suit miliknya.
Meskipun hanya dua orang namun perjalanan ini tidak pernah menjadi sepi karena Rin Hoshizora semenjak keberangkatan awal terus mengomel setelah mengetahui Maki Nishikino juga turut pergi meninggalkannya dan Umi Sonoda yang terus mendengarkan itu juga tidak bisa berbuat apa-apa selain turut mengeluh dalam hal yang berbeda dengan mulut terdiam. Maksud hati ingin kesal dengan ulah sia-sia Rin Hoshizora namun Umi Sonoda lebih memilih untuk diam karena dia sama sekali tidak ingin menambah persoalan dalam pertengkaran yang sia-sia.
Beberapa kali dia membuang nafas dengan wajah muram. Semangatnya memudar seiring langkah kaki yang menggapai lemah, saat ini satu-satunya hal yang dia inginkan hanya sesegera mungkin menyelesaikan perjalanan ini menuju titik pertemuan yang tertulis di secarik kertas yang sedang dipegang di tangan kirinya sekarang. Bagaimanapun juga, terlalu lama berada di dalam hutan yang hal tertutup rapat dengan pepohonan semacam ini memang merupakan sebuah fakta yang mengerikan namun ditinggalkan dan terpisah dari kelompok di dalam hutan itu sungguh tidak lucu dan lebih mengerikan lagi.
[Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini?]
Umi Sonoda mengakhiri pemikirannya dengan kembali menghela nafas panjang.
.
"Umm... Umi -senpai!"
Sang gadis yang suka menirukan mimik kucing itu mencoba menarik perhatiannya namun Umi Sonoda Sonoda masih terus hanyut di dalam lamunannya.
"Umi-senpai!... Umi-senpai!..."
Kembali gadis setinggi 155 cm itu memanggil senpai-nya namun kali ini tidak sekedar memanggil dari dekat namun juga berteriak cukup keras di dekat telinganya.
"U M I – ! ! "
"Kyaaaa! Gezzz... Rin, berhenti menggangguku!"
"Maaf... tapi Rin capek! Daritadi kita berdua cuma berjalan terus tanpa tahu mau pergi kemana, kan?!" rengek Rin Hoshizora manja kepada Umi Sonoda.
"Gezz... Kalau kamu capek sebaiknya jangan banyak bicara, Rin!" kata Umi Sonoda singkat tanpa menghentikan langkahnya. Rin Hoshizora merasa kesal karena tingkah pembicaraan ini malah mengingatkannya dengan teman satu kelasnya yang sudah hilang entah kemana.
"..."
"Simpan saja energimu itu, perjalanan kita ini masih panjang, tahu!."
["Demi Tuhan, sebenarnya mereka itu kemana sih sekarang?! Kenapa kalian semua tega pergi meninggalkan kita, sih?!"]
Umi Sonoda mengeluh dalam pikirannya sambil menghela nafas panjang.
.
.
Pagi hari itu di tempat perkemahan Umi Sonoda yang telah bangun dari tidurnya dan keluar dari perkemahan seperti biasanya. Sudah lima hari mereka berada di dalam hutan ini dan sudah menjadi kebiasaan rutin baginya untuk mematikan api unggun dan mengemasi barang-barang yang sudah tidak digunakan sehingga tidak memperlama waktu pengemasan ketika hendak berangkat.
Waktu masih menunjukkan jam 5 subuh namun Umi Sonoda kemudian menyadari ada sesuatu yang janggal disini. Dia melihat di sekeliling dan menyadari bahwa tenda-tenda yang berada di sebelahnya sudah tidak ada. Bahkan tidak terlihat jejak yang tersisa di sekitar perkemahan hanya ada tenda miliknya saja.
Panik segera melanda dirinya sehingga membuatnya kembali memasuki tenda hanya untuk memastikan gadis yang ada bersamanya, Rin Hoshizora itu nyata. Syukurlah, itu adalah benar. Namun itu sama sekali tidak membuatnya lega karena dia menjumpai bahwa seluruh perlengkapan kemah milik teman-teman lainnya telah lenyap dan yang tersisa disana hanya secarik kertas yang tertempel di bagian depan tendanya. Kertas itu bertuliskan:
.
"Maaf mengejutkan kalian. Kami harus pergi terlebih dahulu untuk mencari bekal makanan untuk perjalanan berikutnya. Temui kami di bawah tebing dekat sungai sekitar 5 KM di utara dari tempat ini, kami akan menunggu kalian disana. Tolong yah, Umi-chan 3."
.
Umi Sonoda merasa mengenali ciri khas tulisan ini secara spesifik. Saat ini sebuah senyuman terlukis di wajahnya setelah selesai membaca tulisan tersebut. Meskipun ini sama sekali tidak membuatnya lega dan tenang namun setidaknya kepercayaan dirinya kembali bangkit untuk menemukan kembali harapannya yang baru saja sirna
.
[ Demi Tuhan, apa yang sebenarnya sedang mereka pikirkan saat ini?!... Bahkan Eli Ayase-san juga tega meninggalkanku. Tapi... Entah kenapa, aku merasa kok ada sesuatu yang janggal yah?..]
Lagi-lagi, Umi Sonoda kembali termenung. Pada saat itu Rin Hoshizora kembali menyadarkannya dengan sebuah pertanyaan sederhana.
"Anoo, Umi-senpai.. Apakah kamu tidak lapar?"
Kali ini Umi Sonoda menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Rin Hoshizora dengan tatapan bengong.
"Hah?... Oh iya, kita belum sempat makan sarapan yah?."
"Humm..." Rin Hoshizora menganggukan kepala dengan muka lesu. "Setelah kamu membaca surat itu kita langsung bergegas meninggalkan kemah, nyaa. Jadi...?"
"Nih, aku masih punya kue manju. Mau?"
Umi Sonoda mengeluarkan bekal roti manju yang masih ada di dalam tasnya dan memberikannya kepada Rin Hoshizora.
"Selamat makan..."
Rin Hoshizora yang menerima roti manisan isi kacang merah tersebut tanpa berpikir panjang dan langsung memakannya dengan lahap. Sebenarnya hanya tersisa satu roti disana dan Umi juga tidak protes karena tidak bisa memakan apa-apa dan turut tersenyum kecut. Setelah itu mereka berdua kembali meneruskan perjalanan kaki mereka yang sepertinya masih jauh itu.
"Jadi, Umi-senpai, sampai berapa lama lagi hingga kita sampai ke tempat itu?" tanya Rin Hoshizora dengan mulut penuh roti.
"Mungkin 2 kilometer lagi." jawab Umi Sonoda singkat.
"Jadi..."
"..."
"..."
"hmm...?!"
"..."
Tiba-tiba suara Rin Hoshizora terputus dan tidak terdengar lagi...
Mendadak tidak ada lagi ocehan yang terdengar oleh Umi Sonoda dari gadis kucing tersebut. Umi Sonoda kemudian menjadi tegang dan mulai panik saat menyadari bahwa suasana di dalam hutan menjadi lebih sunyi senyap sekarang. Detak jantung di dalam dada Umi Sonoda berdebar semakin kencang, berpacu dalam aliran adrenalin yang semakin deras di dalam darahnya. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang ganjil telah terjadi di tempat ini. Dengan perasaan was-was akhirnya Umi Sonoda memberanikan diri untuk memalingkan mukanya kebelakang untuk memastikan keberadaan Rin Hoshizora dan benar saja.
Rin Hoshizora sudah tidak ada disana! .
"R-R.. Rin Hoshizora-chan?! Kamu ada dimana?!" teriak Umi Sonoda panik namun tidak terdengar suara balasan dari sang kohai.
Umi Sonoda Sonoda dengan langkah panik dan keringat dingin yang bercucuran di wajahnya terus berusaha untuk mencari Rin Hoshizora. Dia kembali menyusuri jalan yang sudah mereka lewati sebelumnya namun Umi Sonoda melihat bahwa tidak ada satupun jejak kaki yang menandakan bahwa Rin Hoshizora pernah berjalan kembali melewati tempat itu. Umi Sonoda merasa pusing dan lelah ketika mendapati hal ini. satu-satunya teman perjalanan yang selama ini berada disisinya juga telah menghilang begitu saja.
Saat ini keberadaan Rin Hoshizora benar-benar seperti menghilang ditelan hutan..
.
.
Part 2: Reunion.
.
1 Jam berlalu namun Umi Sonoda tetap tidak mendapatkan apa-apa. Dia berlari-lari dan terus mencari namun Rin Hoshizora tetap tidak dapat ditemukan. Keberadaan anak itu lenyap begitu saja, dia yang seharusnya berada tepat dibelakangnya. Umi Sonoda tidak tahu harus berbuat apa dalam kondisi semacam ini, hal yang pertama yang bisa dia lakukan adalah menelusuri kembali rute jalan awal mereka menuju tempat perkemahan sembari memperhatikan sebelah kiri dan kanan.
Langkah kakinya membawanya kembali menelusuri jejak-jejak tapak kaki yang tertinggal di atas tanah berembun namun itu semua tidak ada gunanya. Empat jejak sepatu berbeda itu berujung kepada dua jejak sepatu tepat di tempat Umi Sonoda berdiri sebelumnya.
Umi Sonoda hanya bisa menggerutu dan menyesali detik-detik terakhir kali dia mendengar suara Rin Hoshizora yang sebelumnya berada persis di belakangnya namun kemudian dia lenyap. Langkahnya semakin lelah, keringat mulai membasahi tubuhnya dan baju dalam yang dikenakannya. Nafasnya semakin tidak beraturan sehingga membuat energinya berkurang drastis ditambah lagi pagi ini dia masih belum sempat makan sarapan lantas pada akhirnya Umi Sonoda memilih untuk menyerah dan mengistirahatkan kakinya.
Umi Sonoda memilih untuk duduk jongkok di bawah pohon besar yang melindunginya dari sinar mentari pagi yang mulai terik. Kemudian dia memejamkan matanya sejenak berusaha untuk menenangkan dirinya. Rasa putus asa yang begitu besar segera melanda dirinya, kedua tangan yang memegang kepala seakan hendak menahan beban besar di dalam kepalanya yang meluap-luap hendak keluar di dari dalam otaknya.
Dia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
Meskipun Umi Sonoda adalah sosok wanita yang tangguh tetapi dia juga bukanlah tipe gadis yang suka ditinggal seorang diri.
.
Drap... Drap... Drap... Drap...
.
Umi Sonoda masih dirundung dalam kegelisahan dan keputus-asaan saat ini. Jam tangannya menunjukkan pukul 7 pagi. Matahari pagi juga telah sepenuhnya melingkupi seisi hutan sehingga memberikan sensasi rasa hangat di kulitnya. Meskipun begitu Umi Sonoda sama sekali tidak merasa nyaman dengan suasana ini bahkan dia lebih memilih untuk menangis meski tidak ada air mata yang bisa keluar karena sudah terlalu banyak cairan yang keluar dari dalam tubuhnya.
Namun, tiba-tiba Umi memaksakan badannya untuk segera berdiri dalam posisi siaga. Telinganya menjadi lebih waspada untuk menangkap sebuah gerakan misterius yang hendak mendekatinya. Menggunakan insting tajamnya, Umi Sonoda mendeteksi adanya suara derap langkah kaki dari arah dalam kegelapan Hutan yang sedang berjalan konstan menuju ke arahnya.
Umi bukanlah gadis yang biasa, memang sekilas dia tampak seperti anak remaja biasanya sama seperti Kotori Minami, teman sekelasnya. Namun, dia juga tidak bisa dikategorikan sama semacam itu. itu karena faktor keluarganya yang telah membesarkannya. Nama klan Sonoda yang disandangnya memiliki makna khusus dalam silsilah keluarga jepang lainnya. Nama ini adalah salah satu nama kasta keluarga ksatria terhormat yang pernah melayani pemerintahan jepang di era Edo secara turun-temurun. Karena itulah darah seorang ksatria jepang sejati juga ikut mengalir di dalam tubuh Umi Sonoda secara alami dan berkat itulah dia diajarkan untuk tumbuh sebagai seorang pejuang sejati dan dibesarkan sebagai seorang ksatria yang siap membela negaranya di era modern ini.
Dan kali ini insting itu mengatakan bahwa ada bahaya negatif sedang datang mendekatinya karena itulah dengan sigap dia segera mengeluarkan Pedang Love Live Blade miliknya dan mengacungkannya ke asal suara lemah tersebut berasal.
.
Drap... Drap... Drap... Drap...
.
"S-SIAPA ITU?!"
Tubuh Umi Sonoda gemetar saat mendengar langkah kaki teratur itu semakin mendekatinya.
.
Drap... Drap... Drap... Drap...
.
Sembari memasang pose kuda-kuda jurus tertentu, Umi Sonoda segera meningkatkan ketajaman insting bertarungnya dalam rangka menghadapi sosok misterius yang akan menghampirinya. Sekali lagi Umi mengulang pertanyaannya namun bukannya mendapatkan sebuah jawaban malahan sosok misterius itu berhenti langkah dan bersuara untuk menyapa Umi Sonoda dengan tawa cekikik yang khas.
"Khu-khu-khu... Umi -chan, kamu ini ternyata polos sekali yah?" ujar suara misterius tersebut sedikit tertawa. Itu adalah suara seorang gadis muda dan anehnya Umi Sonoda merasa heran karena pernah mengenal akrab suara tersebut.
"Ahh, jangan terlalu tegang begitu dong untuk menyambut teman lamamu."
"?"
"Huh? Kamu tidak mengenal aku lagi? Ahh, aku jadi sedih nih. hu hu hu hu..."
"Heh?! S-Suara itu? Mungkinkah? Kamu adalah..."
Umi masih terperangah untuk yakin dengan tebakan di dalam pemikirannya. Dia sengaja menyangkal itu karena melihat fenomena yang telah terjadi akhir-akhir ini sulit untuk dia menaruh harapan yang bisa terwujud menjadi kenyataan. Singkatnya, dia tidak ingin menaruh ekspekstasi yang tinggi yang nantinya berujung kepada kekecewaan. Sejujurnya menaruh harapan yang terlalu besar itu memang baik namun bila kamu tidak dapat mengendalikan itu maka semuanya akan berujung kepada keputus-asaan yang teramat besar dan itu hanya menjadikan senjata makan tuan. Oleh sebab itulah dia lebih memilih untuk membiarkan sosok itu mendekatinya.
Mendengar dari suaranya, jelas bahwa sosok itu adalah seorang perempuan.
Namun pertanyaan utama dari topik kali ini bukanlah jenis kelaminnya tetapi "Siapa dia?"
Umi Sonoda sudah tidak mau lagi menebak dan bersiap menerima kenyataan yang ada, apapun itu dan kemudian gadis itu muncul.
Perlahan-lahan sosok wanita misterius itu berjalan keluar meninggalkan bayangan gelap hutan menuju tempat Umi Sonoda berada yang disinari cahaya mentari pagi yang cukup terang. Perlahan-lahan derap langkah kaki itu menunjukkan sosok sang pemilknya menyongsong tempat keberadaan sinar matahari. Pertama adalah kain setelan Hakama berwarna merah yang berukuran panjang hingga menutupi mata kakinya. Kedua adalah baju Haori berwarna putih yang membuat sosok wanita misterius tersebut mirip dengan seorang Miko di dalam kuil. Ketiga adalah rambut panjang dengan poni depan datar yang terpotong tepat di atas alis matanya.
Dengan mata terbelalak, Umi Sonoda menatap sosok gadis misterius yang baru keluar dari hutan itu sembari menahan nafas. Ujung kerongkongannya menjadi kering saat mengetahui dia. Ya, Sosok gadis itu memang akrab bagi Umi Sonoda.
"K—Kamu?"
"Yooo... U-MI-CHAN, sudah lama kita tidak bertemu, yah?!"
Gadis itu tersenyum saat mengangkat tangan kiri untuk menyapanya. Di hadapan Umi Sonoda kini telah berdiri seorang gadis yang berumur sekitar 16 tahun dan memakai pakaian wanita tradisonal jepang, satu set pakaian Hakama lengkap dengan sebilah pedang yang disarungkan di pinggang kirinya.
"M-MOTOKO!"
Umi Sonoda tidak mampu lagi menyembunyikan perasaan bahagianya saat mengetahui secercah harapan yang sudah dia kuburkan dalam-dalam bahkan untuk berani menebak sosok tersebut ternyata berubah menjadi kenyataan. Dengan sepenuh hati dia berteriak sambil berlari menyongsong sahabat yang nyata di depan matanya saat ini.
"...Ternyata kamu masih mengingat aku yah. Senangnya." Motoko tersenyum kecil.
Umi Sonoda terus berlari menyambut keberadaan dia yang berdiri sekitar 5 meter dari tempatnya berdiri saat ini. air mata yang tidak dapat dikeluarkan sedari tadi tiba-tiba turun begitu saja membasahi pipinya. Sejujurnya ini terlalu tiba-tiba. Umi sama sekali tidak menduga ini karena itulah keadaan saat ini seakan membuka keran emosinya yang sudah lama di tutupnya.
"Meskipun... Aku tidak tahu apakah kamu masih akan senang mengingatku, Setelah aku selesai membunuh teman-temanmu itu"
"Ehh?!"
Bagaikan disambar petir, Umi Sonoda benar-benar terkejut mendengar perkataan akhir Motoko tersebut sehingga dia secara refleks menghentikan langkah kakinya. Saat itu jarak di antara mereka ada 2 meter lagi. Gadis itu masih terus tersenyum saat menatap wajah bingung Umi Sonoda.
.
"K-K.. Kamu bilang apa, Motoko?! K—Kamu bercanda, kan?" Umi Sonoda mendengar itu dengan jelas namun dia sama sekali tidak dapat mempercayai hal yang telah didengarnya barusan.
"..."
Gadis itu tetap tersenyum. Matanya juga tertutup melengkung seakan ingin tersenyum pula dan dia menganggukan kepala secara ringan. Itu tidak normal. Gadis itu mengerti maksud perkataannya kan?
Maksudnya, apakah dia memang pernah mengenal teman-teman Umi?
Maksudnya, apakah mungkin Motoko, gadis yang bersahabat dengan Umi tega untuk melakukan itu?
Maksudnya, jadi tujuannya dia menemui Umi saat ini untuk apa?
Umi Sonoda sama sekali tidak mampu memikirkan ini. hal yang bisa dia lakukan saat ini adalah mengatupkan mulutnya dan gigi gemeletuk untuk menangkis prasangka buruk yang menghampirinya. Namun sekuat apapun dia menyangkalinya keberadaan gadis itu dan menghilangnya teman-teman Umi saat ini adalah bukt sahih yang tidak dapat di bantah.
"A-a... Apaan maksud perkataanmu itu?!... Gak mungkin kamu penyebab menghilangnya teman-temanku, kan?!"
Umi Sonoda berusaha menurukan intonasi bicaranya supaya emosi dirinya tidak terlihat sedang labil selagi menahan badannya agar tidak gemetar. Satu-satunya jawaban yang dia inginkan adalah jawaban "bercanda... hahahaha... kamu terlalu serius, Umi." namun itu tidak terjadi. Gadis yang diajak bicara, Motoko tanpa mengeluarkan suara hanya memberi anggukan kepala sambil tetap tersenyum bangga.
"BOHONG!"
"Gu gu gu... Ah, Ini membosankan...! Aku kira Para Warrior itu memang benar-benar kuat seperti yang 'mereka' takutkan. Ternyata mereka semua itu begitu lemah dan tidak berdaya! Aku bahkan tidak perlu mengeluarkan keringat setitikpun untuk meringkus mereka sekaligus."
.
"Motoko, kamu lagi bercanda kan?!" Umi Sonoda lagi-lagi masih menyangsikan perkataan temannya barusan. "A.. ha ha ha... Iya! Pasti kamu sedang bercanda kan! Ha ha ha ha!"
"...Bahkan itu berlaku untuk kohai terakhirmu itu."
Detik Motoko mengatakan perkataan terakhirnya maka senyuman yang menghiasi wajah Umi Sonoda secara resmi telah lenyap dan berganti dengan aliran suasana murung yang melingkupi dirinya.
Dia tidak bisa mempercayai ini.
Tiba-tiba Motoko mencabut bilah pedang kayu itu dari sarungnya dan mengayunkan tepat ke depan muka Umi Sonoda dengan keras. Tebasan pedang itu memang tidak mengenai Umi Sonoda secara langsung, namun sayatan angin tipis yang dihasilkan dari tebasan pedang itu begitu kuat dan tajam sehingga membuat pipi Umi Sonoda berdarah akibat terkena aliran angin itu.
Dia tidak mau mempercayai ini.
"Hei... Apa-apaan ini, Motoko!"
Sekali lagi Motoko tidak bermakud menjawabnya selain terus memberi wajah senyum palsu namun kembali dia mengayunkan tebasan pedangnya, kali ini dia mengarahkannya kepada salah satu batang pohon yang ada di samping kanan Umi Sonoda dan dalam waktu sekejab pohon itu langsung tumbang hingga hampir mengenai tubuh Umi Sonoda yang tetap berdiri kaku di tempatnya berdiri.
"Kamu... Apa yang kau mau, Motoko?!" Tanya Umi Sonoda dengan perasaan kalut.
Dia menolak mempercayai ini
"Ehmm, Yang aku mau?"Motoko bersuara dengan tenang. "Aku cuma mau kamu, U-MI-CHAN."
Dengan tenang gadis itu menyesuaikan dirinya agar bisa mengatur suaranya secara lembut. Sejak tadi dia sama sekali tidak membuka matanya namun kali ini menanggapi perkataan Umi, gadis itu secara serius berniat menjawabnya. Matanya mulai terbuka menunjukkan bola mata hitamnya. Bola mata yang memancarkan api berkobar nyala seakan hendak memanggang lawan bicaranya.
"AYO KITA BERTARUNG!."
Umi Sonoda berganti menanggapi itu dengan tersenyum. Namun senyuman ini tidaklah seperti pada mulanya namun bercampur dengan keringat yang menetes deras membasahi kulitnya. Sambil tersenyum dia berusaha mengigit bibir bawahnya keras-keras untuk meyakinkan keadaan saat ini. sakit. Dan darah segar ikut menetes dari dari permukaan yang sobek tersebut.
"Sudah kuduga kamu menginginkan itu, tetapi... Maaf, aku sudah bersumpah kepada diriku sendiri untuk tidak pernah mengangkat senjataku untuk bertarung lagi." kata Umi Sonoda dengan tegas.
"Heh? Sumpah?!..."Motoko terdengar heran meanggapi itu bahkan perkataan yang diludahkannya barusan penuh dengan nada ejekan.
"Omong kosong! Orang sepertimu yang sudah terbiasa untuk mengingkari janjinya sendiri, saat ini mengatakan bahwa kamu sekarang telah bersumpah?!"kata Motoko sambil tertawa lepas."HAHAHAHA... Lelucon apa lagi ini?!"
"?!"
"Cuih! Umi-chan, kamu itu..."
Dia sama sekali tidak menerima ini. Kedua bola matanya yang terbuka lebar hendak mengatakan itu.
"Kamu itu... MENJIJIKAN!"
.
.
Part 3: Tender Hunter
.
"T-Tunggu sebentar Motoko... Aku tidak bermaksud begitu!"
Umi Sonoda mencoba mengutarakan sepatah dua kata untuk menyanggah pendapat Motoko namun sebelum gadis itu sempat meludahkan perkataannya, sang gadis tradisional itu sudah menaruh ujung bilah pedangnya secara lurus di depan hidungnya, kedua tangannya memegang dengan arah berlawanan, tangan kanan berada di gagang pedang dari atas sementara tangan kiri memegang gangang pedang dari bawah dan kedua kakinya yang separuh terbuka menjejak tanah merupakan teknik kuda-kuda khusus. Pada dasarnya teknik pedang ini digunakan untuk menusuk dinding yang memiliki ketebalan berlapis-lapis dalam sekali gerakan dengan kekuatan penuh .
Umi Sonoda benar-benar tidak paham dengan kelakuan sahabatnya saat ini namun pernah sekali melihat Motoko memakai teknik ini untuk memecahkan bebatuan bukit kapur di sebuah pegunungan dengan sekali gerakan layaknya menusuk kain basah dan bukit segera runtuh dalam waktu hitungan detik. Umi masih mengenal teknik pedang ini dan itu artinya jika dia tidak mengatur siasat untuk melakukan serangan balasan maka nyawanya akan hilang dalam hitungan detik saja.
Umi Sonoda hanya bisa menggertakkan gigi sambil terus berpikir tentang langkah yang akan dia ambil untuk menghadapi Motoko.
Entah mengapa keadaannya bisa menjadi seperti ini. Bila ini adalah kondisi normal maka seharusnya kedua sahabat ini bisa duduk di bawah pohon yang rindang ini sambil berbicara santai dengan menikmati secangkir teh bersama-sama. Namun kenyataannya tidak seperti itu.
Tidak ada banyak waktu.
Dia harus memutuskannya sekarang.
Umi kemudian membulatkan tekadnya sambil memegang Love Live Blade yang sudah ada di tangannya untuk menghadapi temannya dan pertarungan klasik ini segera dimulai!
Motoko sembari memusatkan perhatiannya ke arah depan dan kedua tangannya memegang erat ganggang pedangnya bersiap untuk mengunci targetnya. Kemudian dengan satu hentakan kaki kirinya, Motoko segera melompat mengarah kepada Umi dalam satu gerakan lurus cepat berusaha untuk menancapkan mata pedangnya membelah dada tersebut.
"HYAAAAATTTTTT!"
Motoko melompat ke depan dengan ujung pedangnya lurus mengarah ke muka Umi Sonoda. Namun berkat antisipasi yang telah dipikirkan secara cepat Umi Sonoda berhasil menghindari serangan tersebut dan berputar ke sebelah kanan menghindari daya tarik angin kencang yang lurus menerpanya. Belum berakhir. Dia tidak menyangka akan mendapatkan serangan tiba-tiba semacam itu setelah Pedang Love Live Blade miliknya secara refleks bersentuhan dengan baja pedang yang kembali diayunkan mengarah kepadanya.
"Trangg... Trangg! Trangg... Trangg!""
Umi Sonoda berhasil menangkis seluruh serangan Motoko dengan mudah namun kehebatan besi pedang Motoko membuat Umi Sonoda kalah tenaga serangan dan membuatnya harus terpental jatuh ke belakang dengan keras.
"Apa yang kamu lakukan ini Motoko!" teriak Umi Sonoda sambil berusaha untuk berdiri. Sang lawan tidak menjawabnya bahkan sebuah senyuman jahat terlukis di bibirnya sekarang.
"kekekeke... kekekekeke..."
"HAH, I-ITU?! P-P.. Pedang itu... You-tou Hina?!"(arti: Hina Blade / Pedang Hina)
"Oh, ternyata kamu masih mengenalnya, yah?" Motoko kembali tersenyum saat mengacungkan pedangnya dan memperhatikannya secara seksama.
"B-BAGAIMANA...?!"
"?"
"D-DARI MANA KAMU MENDAPATKANNYA?! BUKANKAH PEDANG TERKUTUK ITU SUDAH LAMA DIMUSNAHKAN OLEH SENSEI PADA WAKTU ITU!"Umi Sonoda memuntahkan perkataannya dengan mata terbelalak.
You-tou Hina.
Pedang Hina, Pedang Terkutuk.
Pernah ada suatu pedang yang dibuat sebagai senjata suci khusus bagi padepokan Shinmei-ryu. Sejatinya sekolah Shinmei-ryu merupakan sekolah seni bela diri untuk berlatih pedang. Di tempat inilah Umi pernah belajar pedang bersama Motoko. Sejatinya, sekolah ini merupakan milik Motoko yang merupakan penerus tempat dojo ini dan itu termasuk pedang Hina tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Motoko menyadari fakta bahwa pedang Hina adalah sebuah pedang yang diciptakan berdasarkan persyaratan 'alat penebusan dosa' yaitu sebuah upacara penyucian benda keramat yang diperlukan untuk membuang hawa negatif dari jiwa jahat para musuh yang pernah bertarung dan dikalahkan oleh ahli pedang Shinmei-ryu.
Mereka yang mati oleh ujung pedang para pahlawan aliran Shinmei-ryu diwajibkan untuk memurnikan senjata mereka agar tidak ternoda dengan keburukan dan kenistaan jiwa ksatria yang dikalahkannya yang bermaksud buruk atau masih memiliki perasaan dendam negatif. Oleh karena itulah pada upacara penyucian pedang yang setiap tahun diperlukan suatu wadah penyucian khusus yang mampu memindahkan 'dosa' mereka dan pedang Hina itulah wadahnya. Akibatnya, pedang itu lambat laun berubah fisik menjadi semakin kuat karena mengandung energi jahat yang besar diikuti dengan bentuk fisik bajanya yang semakin hitam karena dimakan hawa kebencian dan dendam kesumat.
Suatu ketika peristiwa buruk pernah terjadi melibatkan pedang tersebut.
Sejatinya, pedang ini hanya bisa dikendalikan oleh keluarga Aoyama saja, termasuk Motoko namun karena sebuah kejadian yang melibatkan Umi Sonoda yang dengan secara ceroboh memegang pedang tersebut telah membuat Umi berubah sifat menjadi menggila karena dirasuki nafsu jahat pedang tersebut. Beruntung, seorang sensei berhasil mengalahkan kekuatan itu sekaligus membebaskan Umi dari kerasukan roh jahat tersebut sebelum pedang itu sanggup menyerap seluruh aliran kekuatan kehidupannya.
Kemudian, setelah melihat betapa mengerikan dan bahaya pedang ini maka Motoko meminta sang sensei untuk melenyapkan pedang tersebut karena tidak ingin hal serupa terjadi kembali pada Umi ataupun kepada orang normal lainnya.
Namun ternyata saat ini benda itu secara fisik telah ada!
Ini bukanlah benda tiruan. Umi Sonoda yang pernah bersentuhan secara fisik dengan benda itu mengetahui sendiri bagaimana sensasi negatif yang tercipta saat berdekatan dengan benda itu. dia meyakini bahwa pedang yang dipegang oleh Motoko saat ini adalah Hina Blade yang asli.
"Khu... khu... khu... Itulah keistimewaan kami para Clandestine!"
"Huh?!"
" Apakah kamu tahu bahwa ada perbedaan besar antara seorang manusia biasa dan seorang Clandestine, Umi-chan" kata Motoko sambil melangkah pelan menghampiri pedangnya yang masih tertancap di tanah.
"Clandestine? Apa maksudmu itu?!"
"Oohhh? Sepertinya kamu masih belum tahu apa-apa tentang kami yah, Umi?" tanya Motoko sambil mengangkat pedang Hina miliknya.
"Umi-chan, kamu tahu kan segala sesuatu di dunia ini selalu terbagi menjadi 2 bagian yang dibuat serasi dan saling berlawanan secara setara dan harmonis. Ada sisi terang, ada sisi gelap. Ada sisi baik, ada sisi buruk. Ada kekuatan baik, ada juga kekuatan jahat. Dan yang terakhir, apabila di dunia ini ada kekuatan kebajikan yang bernama Kesatria Warrior, Kesatria Terang menurutmu apakah kebalikan dan lawan yang sebanding akan itu? ya, itu adalah kejahatan dan kegelapan. Itulah kami Kesatria Clandestine, Kesatria Kegelapan
"T—Tidak mungkin."
"Singkatnya, Umi-chan... Aku adalah seorang Clandestine dan tugasku adalah untuk membunuh setiap Warrior yang ada di muka bumi ini! Termasuk kamu." terang Motoko dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Nggak mungkin... K—Kamu ini ngomong apaan sih Motoko?!"
"Hah, Masih belum ngerti? Aku heran apakah kapasitas otakmu sudah menyusut sekarang, yah?" Motoko menunjukkan ekspresi wajah kecewa sambil menghela nafas panjang saat menatap wajah Umi yang masih belum tidak memiliki petunjuk dengan segala ucapannya barusan.
"Baik, Lihatlah pedang ini baik-baik! Inilah kemampuan khusus milikku sebagai seorang Clandestine. Seperti katamu tadi, ini adalah Pedang You-tou Hina yang pernah dimusnahkan oleh Sensei. Tetapi dengan kemampuan khususku sebagai seorang Clandestine maka aku mampu menciptakan kembali senjata yang sudah pernah dimusnahkan ke dalam genggamanku."
"Hah! B—Bagaimana itu mungkin?!" tubuh Umi Sonoda menjadi sedikit gentar ketika mengetahui fakta tersebut sehingga tanpa sadar badannya mundur beberapa langkah ke belakang sambil memegang kedua lengannya erat-erat.
"Biar aku memberitahukan kepadamu tentang asal kekuatan Clandestine yang sebenarnya. Asal kekuatan kami ini sejatinya merupakan cerminan dari sifat kegelapan hati manusia. Bukankah sebelumnya kamu sudah pernah melihat sendiri kan betapa hebatnya kekuatan kegelapan hati manusia itu?"
Tiba-tiba Umi Sonoda teringat dengan peristiwa mengerikan yang pernah di alaminya ketika sosok "Alisa" yang secara tiba-tiba muncul dan berujung pada penyerangan kepada dirinya. Mengingat itu Umi merasa mual karena kilas balik darah dan bau amis yang terekam di dalam otaknya.
"Manusia pada sejatinya adalah makhluk yang tamak dan serakah. Ini adalah hal yang wajar, tidak hanya aku saja, kamu juga pasti mengerti itu dengan baik. Clandestine juga tidak jauh berbeda dari itu. kami hanya mengolah ''sumber daya tidak terbatas' tersebut menjadi 'tenaga dan kekuatan' kami. Dengan memanfaatkan kekuatan kegelapan hati manusia maka kami dapat mengubahnya menjadi sumber senjata yang mematikan, "Kekuatan Mutlak!". Termasuk kekuatan untuk menciptakan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin ataupun menghadirkan benda yang telah lama musnah atau hilang di masa lampau menjadi benda nyata di masa kini."
"..."
"Begitulah sehingga aku bisa mendapatkan pedang terkutuk "You-tou Hina" ini di dalam genggamanku. Selain itu aku juga masih memiliki berbagai senjata terlarang lainnya yang pernah dimiliki oleh para dewa saat masa perang dulu." Motoko sambil memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya dan mengeluarkan sebuah bola kecil.
"...seperti ini!"
Motoko melemparkan sebuah bola ke arah Umi Sonoda. Umi Sonoda yang panik berusaha untuk menangkis bola itu dengan pedang Love Live Blade miliknya namun terlambat, bola itu sudah berada tepat dihadapan wajahnya dan...
"KYAAAAAAAAAAA..."
Umi Sonoda hanya bisa menjerit panik saat melihat bola itu retak dan mengeluarkan pijaran sinar yang sangat terang di hadapannya. Dan...
KAAA...BOOOMM...!
Tiba-tiba bola itu meledak dan menghancurkan lokasi tempat Umi Sonoda berada. Ledakan itu begitu kuat sehingga membuat tubuh Umi Sonoda terpental jauh meninggalkan tempatnya berada dan menuju ke dalam pelosok hutan yang tertutup rerimbunan pohon yang rapat. Beruntung, dia berhasil selamat karena masih bisa menangkis sebagian besar dari serpihan ledakan bola tersebut sehingga tidak menyebabkan luka yang terlalu parah baginya.
"MOTOKO... HENTIKAN! SEORANG KESATRIA SEJATI TIDAK AKAN BERTARUNG SEPERTI INI!" teriak Umi Sonoda yang masih terus berlari dan mencari tempat persembunyian di dalam hutan dengan suara terengah-engah.
"Oww, Kau benar, Umi! Kalau begitu bagaimana kalau kamu juga serius untuk bertarung melawanku sekarang?!" balas Motoko sambil berjalan tenang mencari keberadaan Umi Sonoda di dalam hutan.
"Tcih...!"
Motoko berjalan dengan santai sambil melompat-lompat dengan langkah besar menyusuri hutan tersebut. Entah bagaimana caranya dia bisa melacak keberadaan Umi Sonoda namun kemudian dia berhenti di depan sebuah pohon besar dan mengamati pohon itu dengan seksama beberapa saat. Saat itu sebuah senyuman kembali terpasang di wajahnya saat dia menebaskan pedangnya untuk membelah pohon besar tersebut secara vertikal menjadi 2 bagian.
Motoko tersenyum saat melihat targetnya. Di sana, Umi Sonoda ternyata sedang bersembunyi di balik pohon tersebut. Umi Sonoda kemudian berbalik untuk melihat apa yang sudah terjadi di belakangnya dan dia tidak bisa menyembunyikan perasaan ngerinya setelah menyaksikan sendiri kehebatan sosok Motoko yang telah membelah pohon besar tempatnya berlindung sedang berdiri melihat dirinya sambil tersenyum.
"KE~TE~MU!" seru Motoko dengan nada nyaring.
"Kenapa? Kenapa Motoko.. Kenapa kamu menjadi seperti ini sekarang?" tanya Umi Sonoda gentar. "Bukankah kita berdua telah bersumpah hanya akan memakai menggunakan kekuatan ilmu bela diri kita untuk melindungi umat manusia?!"
Dia tidak menjawab.
"...Kamu sebagai penerus keluarga Aoyama dan a.. aku sebagai penerus keluarga Sonoda. Bukankah itu janji yang pernah kita berdua buat dulu?!"
"Hmm, Umat manusia yah? Umm.. Aku sudah lupa, tuh!" Motoko menjawab dengan senyum sinis.
"Kau tahu Umi-chan bagaimana perasaanku pada saat pertama kali menerima anugerah kekuatan ini? Pada saat itu aku menjadi tersadar bahwa betapa piciknya pikiranku selama ini karena telah berpihak kepada umat manusia."
"Hah?!"
"Manusia adalah makhluk yang lemah. Dan kini aku sudah sadar bahwa untuk bisa bertahan hidup di dunia maka kamu tidak bisa menjadi manusia yang lemah itu kamu harus menjadi makhluk yang lebih kuat dari seonggok makhluk berjalan tegak yang hanya bisa menindas sesamanya dan untuk menjadi makhluk yang paling kuat di dunia ini maka aku membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar lagi." kata Motoko seraya berjalan mendekati Umi Sonoda. "Karena itulah aku bergabung dengan Clandestine!"
"Tidak! K-Kenapa?!"
Umi Sonoda dengan tatapan tidak percaya saat melihat sosok sahabatnya saat ini sudah berbeda dengan yang pernah dia kenal selama ini. Tiba-tiba kenangan masa lalu yang pernah dia alami bersama dengan Motoko pada saat SMP terlintas di dalam pemikirannya.
.
.
"Umi-chan, kamu tahu tidak bahwa meskipun dunia ini penuh dengan kejahatan tetapi aku percaya bahwa masih ada banyak orang baik di bawah langit ini yang masih pantas untuk kita lindungi..."
.
.
"MOTOKO! KENAPA... KENAPA KAMU MEMBUANG RASA KEMANUSIAANMU DAN BERGABUNG DENGAN CLANDESTINE?!"
.
.
"...Karena itu kita tidak boleh mati secara sia-sia selain untuk kemanusiaan"
.
.
"Rasa Kemanusiaan? Heh?!"
Motoko sedikit tersentak saat mendengar perkataan Umi Sonoda. Sekilas Umi terlihat lega sudah memuntahkan perkataan tersebut meski dirinya masih menggigil hebat. Namun...
"HAHAHAHAHA... Kamu masih mengingat itu Umi-chan?! Apakah kamu tahu bagaimana pengalamanku selama ini setelah berjumpa dengan berbagai macam manusia lainnya? Apakah kamu ingin mendengar kesimpulanku terhadap perkataanmu barusan?"
Umi menganggukkan kepala sambil meneguk ludahnya sendiri.
"Itu semua tidak ada gunanya! Itu semua tidak penting!"
"T—Tapi...!"
"Benar, Aku dulu memang pernah mengatakan manusia itu kuat karena mereka saling bergantung satu sama lain. Tetapi hingga hari ini, apa yang aku temukan adalah mereka itu cuma sekumpulan sampah! Manusia yang selama ini aku tahu hanya bisa memanfaatkan sesamanya demi kepentingan dirinya sendiri dan setelah berhasil maka mereka tidak akan segan-segan untuk meninggalkan temannya begitu saja! Apakah rasa kemanusiaan seperti itu yang kamu banggakan, Umi-chan?! Hah?!"
"Itu..."
"Oleh karena itu, Aku sudah memutuskan pemikiranku bahwa kedamaian bumi ini tidak akan terjadi jika diserahkan ke dalam tangan manusia. Bumi ini hanya akan menjadi damai jika ada kekuatan lain yang lebih kuat dan mampu lebih berkuasa selain manusia yang sudah mengotori lingkungan ini dan karena itulah aku bergabung dengan Clandestine. Itu karena aku percaya hanya Shadow Master saja yang bisa menyelamatkan planet ini. Tidak, bukan hanya planet ini namun seluruh alam semesta juga."
"TAPI MEREKA ITU KAN JAHAT?!" teriak Umi Sonoda dengan suara melengking.
"Jahat?!..."
"Iya, cara pandangmu itu naif! Kamu hanya baru melihat segelintir orang saja dan menyimpulkan bahwa bumi ini tidak berharga bagi manusia lagi? Lantas kamu tidak mau mengakui kebaikan yang sudah diperbuat manusia bagi bumi ini? Menurutmu, bumi ini tidak akan hancur bila dikuasai manusia?!"
"..."
"Omong kosong! Apa yang terjadi di bumi ini semuanya adalah kehendak Tuhan. Karena Tuhan yang sudah menetapkan manusia untuk mengolahnya maka bumi ini bisa hidup hingga saat ini. lalu, kamu hendak memusnahkan kami? Apakah kamu melawan kehendak Tuhan?!"
"Ya. Aku akan melawan Tuhan! Itu tidak masalah bagiku, baik atau jahat itu hanya masalah sudut pandang orang yang melihatnya saja. yang terpenting adalah siapa yang lebih kuat di dunia ini. Jika kamu bisa lebih kuat maka kamulah yang akan menang dan orang yang menang adalah orang yang pantas untuk menjadi penguasa dan memerintah semuanya. Itulah peraturan hidup yang aku tahu di dunia ini selama ini"
"Motoko, Kamu itu..."
"KAMU ITU MENYEDIHKAN!" teriak Umi Sonoda geram.
"..."
"Harus aku akui memang contoh orang-orang buruk yang pernah kamu temui, orang yang memandang rendah manusia lainnya itu memanglah sampah namun orang yang membuang rasa kemanusiaannya demi kepentingannya sendiri itu jauh lebih rendah daripada sampah, Motoko!"
"Tchh, sudah cukup bicaranya! Begini saja, jika kamu mampu mengalahkanku mungkin aku akan memikirkan ulang pendapatku mengenai manusia." tantang Motoko.
"MOTOKO! INGATLAH KAMU ITU JUGA MANUSIA!"
.
.
Part 4: Sayonara, Honey!
.
"MOTOKO! INGATLAH KAMU ITU JUGA ADALAH SEORANG MANUSIA!"
"DIAM...!"
Motoko kembali mengayunkan sabetan pedangnya kepada Umi Sonoda dari sebelah kiri namun gadis berambut bitam biru berhasil mengelak dan menangkis balik memakai love live blade miliknya dalam sekali jurus sebelum akhirnya memilih untuk kabur dan bersembunyi ke pedalaman hutan.
"UU... UMI SONODA! BERHENTI MENGHINDAR! AYOLAH BERTARUNG DENGANKU SECARA SERIUS SEKARANG!"
Terlihat jelas bahwa gadis berpakaian bak seorang miko itu terlihat kesal dengan gemeletuk gigi yang semakin keras ingin melumat gigi lainnya.
"Untuk apa aku harus bertarung denganmu? Kamu dan Aku itu teman. Bukankah kita berdua sudah berteman akrab sejak lama?! Lagipula..."
"Tch, Sahabat?! Sahabat macam apa yang dengan sengaja mengingkari janjinya sendiri?!"
"Janji?" kali ini giliran Umi Sonoda yang berguman heran.
"Cih, kamu bahkan tidak bisa mengingatnya!" Motoko yang tampak geram mulai kehilangan pengendalian diri sehingga berteriak keras-keras. "Bahkan untuk sebuah ucapan yang pernah kamu ucapkan sendiri, kamu tidak bisa memegang itu baik-baik dan kemudian kamu barusan hendak menyatakan dirimu sendiri sebagai sahabatku?! Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai itu?!"
"...motoko!"
"Umi Sonoda, dirimu sendiri itulah yang menyedihkan!"
Pada saat itu Umi Sonoda baru saja berhasil memanjat pohon untuk menghindari kontak mata langsung dengan Motoko yang baru saja mendekati lokasinya berada, gadis itu dengan langkah santai terus berjalan seraya memalingkah pandangan matanya ke kiri dan kanan secara cepat seperti sebuah alat pemindai yang sedang menangkap gambar target buruannya dengan pandangan cepat.
Seharusnya itu adalah strategi yang sempurna.
Dalam beberap waktu Umi Sonoda meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak akan tertangkap basah. Motoko yang terlalu fokus untuk menatap padangan didepannya menjadi tidak waspada dan membuang kemungkinan bahwa musuhnya bisa saja bersembunyi di bawah tanah ataupun di atas pohon. Beberapa langkah telah terlewati. Umi secara refleks menutup mulutnya supaya nafasnya yang berburu kencang tidak terdengar.
Namun itu semua tidak berjalan lancar.
Sebuah gerakan tiba-tiba dari Umi Sonoda yang mulai kehilangan keseimbangan di atas dahan pohon itu membuat dedaunan berjatuhan secara tidak normal. Celakanya, Motoko menyadari itu dan segera memalingkan pandangan matanya menuju ke atas langit. Dan disanalah gadis itu mulai tersenyum kembali.
Umi Sonoda dengan langkah panik bergegas untuk melompati dahan demi dahan pohon yang ada untuk pergi semakin jauh. Gesekan demi gesekan pohon semakin membuat daun-daun berguguran dengna tidak wajar. Motoko pada saat itu tidak tinggal diam, langkah kakinya mulai mengejar mengikuti daun-daun yang jatuh tidak wajar terbang di bawa oleh angin. Saat itu pakaian Umi sama sekali bukanlah kostum yang tepat untuk berkamuflase dengan warna ungu yang terlalu mencolok dengan hijaunya daun.
Pada saat itu Motoko akhirnya bisa tersenyum seringai.
Umi Sonoda yang semakin berkeringat tidak berani lagi menoleh ke belakang melainkan terus melompat dan tetap menatap ke depan saja. Hanya saja, tindakan itu ternyata begitu naif. Umi tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat dan pada saat itu sebuah suara berbisik tepat di telinga kirinya.
"Baiklah jika itu yang kamu mau, Aku tidak akan menahan diri lagi sekarang. Terimalah ini!"
Umi Sonoda terlalu takut untuk menoleh yang dia tahu saat ini adalah bulir-bulir keringat yang besar sudah mengalir deras menutupi permukaan wajahnya. Namun pada saat itu dia memalingkan wajahnya dan . . . .
Tidak ada siapa-siapa!
Motoko saat itu ternyata telah melayang bebas di udara tepat berada di depannya dengan jarak sekitar 10 meter. Tanpa ragu-ragu dia melayangkan pedangnya sejurus menebas Umi Sonoda yang masih tercekat di tempatnya.
Tidak ada persiapan, Umi Sonoda hanya bisa terpaku dalam posisi terus melompat. Pikirannya kacau, dia tidak tahu lagi apakah harus menghindar, terus maju, atau mundur turun ke bawah. Dia tidak dapat memutuskan itu. Lalu, sesuatu terjadi kepada tubuh Motoko yang tiba-tiba bercahaya dengan percikan listrik statis yang melayang tipis melingkari sekujur tubuhnya namun listrik itu bukannya menyetrum dirinya malahan mengalir ke ujung pedangnya dan berkumpul menjadi satu sehingga membuat pedang itu bercahaya.
"RAIMEIKEN!" (note: Teknik Pedang Petir)
Tebasan pedang yang menghasilkan angin bercampur listrik statis itu menerjang layaknya angin topan yang tajam. Setiap pohon yang dilaluinya terbelah menjadi potongan kecil hingga membuat sebuah pemandangan luas bagi Umi Sonoda. Pada saat itu Umi Sonoda yang masih berada di udara tiba-tiba menutup jarak kakinya sembari meluruskan badan. Dia tidak lagi melompat namun memilih untuk membiarkan badannya jatuh ke atas tanah. Sebuah awan debu mulai tercipta saat Umi menghentak bumi tiba-tiba dan ketika awan debu itu menghilang Motoko baru menyadari bahwa buruannya telah pergi.
Tidak mau kehilangan target. Motoko kemudian berhenti di sebuah dahan besar dan mulai menebaskan pedangnya ke arah Umi Sonoda yang masih terus berlari kencang mencari persembunyiaan. Sebuah ayunan pedang yang terlepas dengan keras itu kembali menciptkan hembusan angin yang begitu tajam bercampur dengan debu kilat yang terus berlari mengejar targetnya, Umi Sonoda.
Bagaimanapun juga, Umi Sonoda kembali tidak menduga akan serangan ini sehingga dia gagal mengantisipasi serangan pedang Motoko tersebut dan harus menerima resikonya tubuhnya terpelanting keras menghantam batang pohon besar yang berdiri kokoh di depannya sekaligus dengan sengatan arus listrik tinggi yang dia rasakan selanjutnya.
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!"
Itu terlalu keras. Umi Sonoda bisa merasakan seluruh punggungnya menjadi remuk setelah menghantam bidang melengkung kasar yang berada di belakangnya. Seluruh kulit tubuhnya mengeluarkan darah tipis karena lecet setelah ambruk ke tanah dan menerpa kerikil kasar yang menyambutnya.
"Cihh, lemahnya... Kamu bahkan tidak mampu membalas seranganku!" kata Motoko dengan nada angkuh. Sedangkan Umi Sonoda terus mencoba untuk berdiri dengan tertatih-tatih untuk terus bangkit dari tempatnya jatuh.
Kali ini dia tidak akan lari lagi.
Dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk meluruskan kesalah pahaman yang ada diantara mereka.
Dia akan bertarung sekarang!
Dia dalam keadaan serius menguatkan hatinya sambil mengatupkan giginya rapat-rapat. Suara gesekan di dalam mulut itu menggema di dalam kepalanya seraya memberikan sensasi ketegangan batin yang semakin bertambah bagi Umi Sonoda. Bagaimanapun juga tidak ada cara bagi Umi untuk bisa berkelakuan tenang saat menghadapi teman yang sudah lama dia kenal itu sekarang.
Motoko tidak sedikitpun memberi kesempatan jeda bagi Umi untuk bisa beristirahat lalu kabur. Dia memilih untuk menyiksanya di depan matanya dengan sabetan pedang miliknya secara periodik daripada bermain petak-umpet seperti tadi. Maka dari itulah dia memilih untuk terus berjalan menghampirinya dengan santai. Sementara itu Umi Sonoda juga memilih untuk mengangkat senjata andalannya untuk melawan Motoko sekarang. Sebuah senjata khas yang menjadi icon miliknya itu dia keluarkan dari ransel belakangnya.
"Tunggu sebentar, apa itu?! Busur Panah?!"
Alih-alih menjawab, Umi Sonoda bahkan menghiaraukan sepenuhnya dan terus mempersiapkan perlengkapan senjatanya, kali ini sebuah anak panah dan menaruhnya di ujung busur.
"Hei, Umi Sonoda! Lelucon apa ini! Mana pedangmu yang tadi?!"
"..."
"Mustahil! Jangan bilang kalau kamu yang sekarang ini mau menghadapiku dengan senjata mainan itu?! keluarkan pedangmu!"
"Tidak butuh!"
"Huh?!"
"Aku tidak membutuhkan pedangku untuk mengalahkanmu, Motoko!" teriak Umi Sonoda lantang.
"Apa kamu bilang?! Kamu kira seorang petarung pedang sepertiku akan kalah dengan seorang pemanah? Kamu gila, yah?! Sudah jelas-jelas tidak ada kesempatan bagimu untuk melukaiku dalam dengan memakai alat itu dalam pertarungan jarak dekat semacam ini." seru Motoko penuh amarah.
Itu benar, bagaimana panah bisa menang melawan pedang? Di dalam peperangan, pemanah selalu ditempatkan di barisan paling belakang dan melepaskan serangan paling awal untuk mematikan daya tempur musuh yang maju menyerang pertama kali. Pemanah membutuhkan jarak untuk bisa memenangkan pertempuran jika dia tidak mendapatkan itu maka sia-sialah pertarungan semacam ini. selain itu pemanah juga memerlukan medan yang strategis, seperti tempat yang tinggi atau jarak yang tidak dapat dideteksi musuh dengan mudah. Ini semua diperlukan untuk menjaga konsentrasi dalam melancarkan serangan.
Sekarang, bayangkan apabila syarat-syarat ini tidak dipenuhi? Bayangkan jika seorang pemanah lalu berhadapan langsung dengan petarung pedang. Dapatkah dia melepaskan panahnya dengan tepat? Ataukah sang ahli pedang yang terlebih dahulu membunuhnya?
Jawabannya adalah meski masih mungkin untuk menang namun peluang berhasilnya rendah. Karena itulah Motoko menghina daya tempur Umi Sonoda sekarang.
"Kamu akan segera menyesali perkataanmu itu!"
"KYOKUDAI RAIMEIKEN! (Teknik Pedang Petir MAX)"
Dengan penuh amarah Motoko sekali lagi mengeluarkan jurus sabetan pedang yang dengan percikan listrik statis yang lebih dahsyat daripada sebelumnya kepada Umi Sonoda. Kini teknik tebasannya membentuk hembusan kilatan petir yang jauh lebih besar sehingga mampu menumbangkan ranting pohon yang ada di sekeliling Umi Sonoda dalam sekali jalan. Umi Sonoda juga tidak tinggal diam begitu saja bahkan dia sudah bersiap membalas serangan tersebut dengan melesatkan beberapa anak panah dari busur miliknya.
"ARASHI YARUHI SHOOT!" (Teknik Panah Badai)
"Brukk...!"
Kedua hembusan angin yang datang berlawanan saling membentuk ombak angin yang mengaum dengan ganas. Mereka saling bertemu dan saling bertumbukkan untuk mengadu kekuatan yang mereka miliki. Umi sonoda sendiri tidak terlalu memahami bagaimana bentuk duel kekuatan dapat terjadi namun dia memiliki keyakinan bahwa dia dapat menghadapi ini.
Dan, ombak angin miliki Umi semakin melaju menembus ombak angin milik Motoko. Keduanya bertemu menuju intinya dan membuat bentuk laju angin tersebut semakin tidak stabil. Kemudian, angin itu saling melaju ke samping membentuk sudut putar sehingga terlihat bahwa kedua angin itu telah bersatu membentuk angin puting yang bergerak semakin ke atas.
Sesudah itu, angin itu lalu saling menghancurkan inti masing-masing sehingga angin puting itu menjadi tidak stabil dan menghilang dengan sendirinya.
Pada akhirnya, duel berakhir imbang. Serangan hembusan angin hasil tebasan pedang Motoko mampu diatasi oleh serangan angin yang dihasilkan oleh anak panah Umi Sonoda. Serangan yang memanfaatkan energi angin itu kemudian menciptakan angin puting yang kemudian hancur dan membentuk badai angin debu hebat yang menghalangi pandangan mereka berdua.
Beberapa waktu berselang dan Motoko mengibaskan tangannya untuk menghalau debu yang sudah mulai surut namun pada saat itu tidak ada seorangpun yang dapat dilihatnya. Rival utamanya, orang yang sangat dia temui itu telah menghilang. Umi Sonoda telah memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari hadapan Motoko.
"BERHENTI BERMAIN-MAIN DENGANKU, UMI SONODA!"
Motoko tersenyum dengan raut muka tertekuk saat mengetahui ini. Mimik mukanya terlihat semakin merah sebagaimana dengan perasaan kesal yang meliputinya semakin besar setelah mengetahui Umi Sonoda sudah tidak berada disana.
"Baiklah, kalau itu keputusanmu! Kalau begitu aku tinggal menebang seluruh pohon di hutan ini saja! Hahahaha...!"
Motoko menggila. Dia lalu menghancurkan isi hutan ini dengan membabi buta dan tanpa arah sehingga dapat terlihat bahwa pepohonan yang ada di sekitar jangkauan areanya sudah rata dengan tanah. Sementara itu, Umi Sonoda yang saat ini masih bersembunyi di atas pohon masih menantikan waktu yang tepat untuk bisa mengeluarkan jurus andalan miliknya.
"KAIYO NAMI NO UTSU! (Teknik Tembakkan Ombak Laut)"
Pada saat Umi Sonoda yang ada di atas pohon telah mengunci pergerakan Motoko yang ada di atas tanah dengan bidikan mata panahnya. Seperti halnya tadi, Umi Sonoda memang ahli dalam hal kamuflase di atas pohon sehingga menyulitkan Motoko untuk melacaknya. Kini tinggal Umi sendiri yang beraksi. Kemenangannya di tentukan dengan anak panah yang dilesatkannya.
Sekali untuk selamanya.
Jika dia bisa melumpuhkan pergerakan Motoko bahkan untuk satu sisi badan saja maka ada kemungkinan dia menaklukan Motoko. Target realistis yang bisa dia bayangkan adalah membidik tangan kanan yang dia gunakan untuk mengangkat pedangnya. Jika Umi bisa melumpuhkan tangan itu maka kekuatan Motoko akan tumbang sekitar 40%. Begitulah pikiran naifnya.
Lalu, setelah yakin bahwa tergetnya telah terkunci dia kemudian melompat dari tempat persembunyiannya sambil melepaskan panahannya.
SPLAAAASSSHHH!
Namun, gadis itu tersenyum.
"Ahh, Di sana!"
"Trang... Trang... Trang... Trang..."
Tanpa diduga Motoko ternyata sanggup membaca arah serangan Umi Sonoda dan menghalau ketiga anak panah yang sudah dia lepaskan dengan mudahnya. Umi Sonoda yang melihat bahwa serangannya tidak berguna hanya bisa terperangah dan terjatuh dengan keras di dasar tanah. Keadaan berbalik, Umi Sonoda yang terluka parah kini berada pada pihak yang tidak diuntungkan.
"Jangan meremehkan aku yah. Meskipun aku sudah lama tidak bertemu denganmu tapi hingga saat ini aku masih hafal taktik bertarungmu itu Umi Sonoda!". Motoko mendengus dengan senyum kemenangan.
"Gyaahhhh..."
Umi Sonoda hanya bisa melolong keras saat Motoko menendangi tubuhnya yang sudah terluka parah dan tidak berdaya hingga dia terpental menuju tepi jurang yang merupakan akhir dari area hutan ini.
"Pertama-tama, menyerang musuh secara langsung lalu mundur untuk bertahan sambil mengamati pergerakan lawan sampai musuh lengah dan setelah itu barulah kamu menyerang dengan mengeluarkan jurus pamungkasmu."
Motoko hendak tertawa saat menjelaskan perkataannya ini namun dia berusaha menahan ekspresi wajah tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga kini hanya terlihat tawa meringis dari wajah Motoko saat menyambut Umi yang semakin getir menahan rasa sakit yang meliputi tubuhnya.
"Kamu ini tidak berubah yah, Umi Sonoda."
Umi berusaha merangkak mundur dengan menyeret tubuhnya ke arah belakang.
"Bahkan meskipun sekarang kamu telah menggunakan senjata yang berbeda tapi tetap saja memakai pola serangan yang sama seperti yang dulu."
Umi sekali lagi mencoba menyeret tubuhnya namun dia terkejut saat mengetahui jengkal terakhir yang ada di belakangnya. Itu adalah hembusan angin yang kuat.
"Sayang sekali, aku yang sekarang berbeda dengan diriku yang dulu... "
Umi Sonoda menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui tempat dia berada ternyata merupaka ujung bukit dan di belakangnya hanya terdapat pemandangan langit biru yang membentang luas.
"Aku yang sekarang ini jauh lebih kuat, Umi Sonoda!"
Motoko menghunuskan mata pedangnya tepat dihadapan Umi Sonoda dan bersiap untuk mengeluarkan jurus pedang Raimeiken kepadanyasekali lagi.
"Selamat tinggal Umi Sonoda-ku sayang!"
Itulah kata-kata terakhir Motoko yang diucapkannya kepada Umi Sonoda sebelum dia melepaskan teknik pedangnya untuk melontarkan tubuh Umi Sonoda terjatuh terjun ke bawah jurang.
"TIDAAAAKKKKK!"
.
.
Part 5: The Lost Promise
.
4 Tahun yang Lalu
Hari senin ini, Sebuah gedung aula sekolah SMP Tokyo khusus wanita nampak ramai dengan banyak gadis-gadis muda yang tidak saling kenal sedang berbaris rapih sesuai dengan urutan yang tertera pada nomor kelas mereka. Sebuah sikap khidmat dan anggun ditunjukkan oleh sebagian besar dari mereka saat memperhatikan sambutan dari bapak kepala sekolah yang memulai ceramah 10 menit yang membosankan tersebut.
Wajah mereka anggun, polos dan penurut, meskipun ada juga gadis yang memilih untuk bersenda gurau. Ini adalah sebuah masa yang wajar. Sebuah masa transisis yang mereka hadapi dengan senyuman seiring bertambahnya usia. Satu tahap yang harus mereka jalani dan menentukan langkah yang mereka nantikan di masa depan, yaitu masa remaja.
Tidak lama berselang kemudian Upacara Sekolah berakhir dan terlihat beberapa gadis yang mulai mencoba membiasakan diri untuk bergaul dengan teman-teman barunya, meskipun ada juga gadis yang memilih untuk menyendiri. Bagaimanapun juga mereka tidak sedang berdiam di satu tempat itu saja namun berusaha untuk mengenal lingkungan sekolah mereka yang baru.
Demikian juga kepada kedua gadis yang kebetulan memilih untuk menyendiri. Dengan penuh langkah ragu dan mawas diri agar tidak menganggu teman-temannya mereka berhati-hati keluar dari bangunan aula dan berjalan mengelilingi area sekolah.
Kedua gadis ini berjalan dalam arah yang berlawanan. Meski begitu tidak ada tanda-tanda antusias saat mereka mengunjungi satu demi satu ruang klub yang menyambut mereka hingga tibalah mereka di sebuah bangunan dojo sekolah. Kedua gadis itu tidak saling mengenal dan datang dari arah berlawanan, meskipun begitu itu tidak serta merta menyurutkan ketetapan hati penuh semangat kemudian mereka mulai memasuki salah satu ruangan ekstrakulikuler di sekolah ini, klub kendo.
.
"H-Hai, perkenalkan namaku Umi Sonoda, salam kenal"
Gadis yang baru saja memakai seragam latihan kendo dan hendak memasang Bogu (pakaian pelindung di kendo)itu hanya bisa terpaku bengong saat melihat sebuah tangan terulur menyambut dirinya. Seorang gadis berambut hitam biru memanjang itu tersenyum penuh keramahan kepada anak kelas satu lainnya yang ikut bersamanya memasuki ruangan ini.
"Sa-Salam kenal, namaku Motoko" jawab gadis itu gugup saat menyambut jabat tangannya.
"Wah, aku tidak menyangka sekolah kita ini memiliki klub kendo, lho. Aku pikir aku hanya akan bisa melatih kemampuan pedangku di rumah saja."
"Ka-kamu sudah bisa kendo?"
"Ahh... tidak ada yang istimewa sih, cuma sekedar latihan biasa, hanya sekedar mengenal lebih dalam tentang budaya jepang saja."
Sang gadis berambut hitam biru itu mengibaskan tangan berusaha merendah saat melihat raut muka antusias dari gadis yang baru saja dia temui itu.
"Ehh? I-Itu... I-ITU LUAR BIASA SEKALI, SONODA-SAN!"
Motoko, gadis yang baru saja dia temui itu membelalakkan mata dan mencondongkan badannya tanpa canggung secara refleks.
"Ehehehe... Te—Terima kasih... K—Kamu semangat sekali, yah..."
Sang lawan bicara segera memegang kedua bahu lengannya dengan maksud menahan badan gadis itu supaya tidak semakin mendekat kepadanya, kedua matanya berfokus kepada tumpuan tangannya yang berusaha keras menahan antusias gadis tersebut. Umi Sonoda berpikir apabila dia mengendurkan tangannya mungkin badan gadis itu akan segera jatuh menimpa kepadanya. Tapi, syukurlah, gadis itu juga segera sadar dengan kelakuannya dan menarik diri untuk menjaga sikapnya.
"Hyaa, M—Maaf...! A—Aku tidak menyangka dapat bertemu dengan seorang gadis yang juga memiliki minat yang tinggi dengan kebudayaan jepang di sekolah ini. Aku sebenarnya khawatir tidak dapat menyalurkan perasaan antusias yang aku miliki sebagai bagian diriku. Bagaimanapun juga, aku adalah salah satu pewaris sekolah bela diri Shinmei-ryu yang tidak bisa memisahkan diri dengan ilmu pedang. Karena itulah aku bersyukur sekolah ini memiliki klub kendo. Bukan begitu, Sonoda-san?"
". . . . . . . . ."
Tiba-tiba Umi Sonoda menjadi diam terbisu, badannya menjadi berdiri mematung setelah mendengar perkataan Motoko tersebut. Sesaat setelah itu tubuhnya menggigil sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas.
"Shin-mei-ryu... s-hin-me-ir-yu... shi-n-m-eri-yu..."
"S... Sonoda-san?" tegur Motoko yang segera membuyarkan lamunan Umi Sonoda dan dengan refleks gadis itu menangkap tangannya.
"Motoko?... Apakah kamu dari keluarga Aoyama? Motoko Ayoma, kah?" tanya Umi Sonoda ragu.
Sebuah wajah yang mengerut tampak dari muka Motoko yang serta menganggukkan kepala pelan untuk menjawab pertanyaan Umi Sonoda tersebut. Demikianlah, Umi Sonoda tidak bisa lagi menyembunyikan ekspresi keterkejutannya setelah mendapati jawaban tersebut. Secara refleks dia kemudian melepaskan pundak gadis itu dan terjatuh mundur ke belakang. Dia begitu gemetar bagaikan melihat sosok orang suci yang memancarkan sinar terang yang hebat kepada orang pendosa yang berada di depannya.
"M-M... Maafkan atas ketidak sopananku! Aku tidak bisa percaya bahwa orang yang disampingku ini berasal dari keluarga Aoyama yang termahsyur itu" kata Umi Sonoda yang masih tersungkur di lantai kepadanya dengan kepala membungkuk.
"Ehh? Kamu berlebihan... Aku malah tidak sehebat itu" jawab Motoko dengan tersipu malu. "Dibandingkan dengan kakakku, aku ini sama sekali tidak ada apa-apanya..."
"Nggak mungkin. Aku sudah mendengar kehebatan padepokan pedang Shinemei-ryu yang merupakan padepokan pedang nomer satu di jepang. Sebuah aliran pedang legendaris yang diajarkan oleh keluarga Aoyama secara generasi ke generasi terdapat disana. Motoko-san, karena kamu juga berasal di keluarga Aoyama tentu saja kamu adalah orang yang sehebat itu."
"Sudah kubilang, aku ini tidak sehebat itu. Karena itulah aku bersekolah di SMP ini."
"Heh? Perdebatan ini tidak akan mencapai titik temu jika tidak dibuktikan langsung. Kalau begitu bagaimana kalau kamu sekarang latihan kendo bersamaku saja, boleh?" Umi tidak dapat menahan senyum antusiasnya saat mengutarakan maksud hatinya.
"Menarik, boleh juga. Mohon kerja samanya, yah?" jawab Motoko sambil tersenyum ceria.
Momen itu adalah pertemuan pertama kalinya ketika Umi Sonoda dan Motoko Aoyama saling berduel dengan pedang kayu mereka. Saat itu kedua gadis cilik itu masih belum mengetahui makna dari pertarungan yang sebenarnya mereka hanya sekedar berlatih pedang dengan mengibaskan pedang kayu yang ada di tangan mereka masing-masing.
Satu hal yang mereka tahu hanyalah sensasi yang menggetarkan hati ketika pedang kayu mereka saling bersentuhan satu sama lain daripada menjadi rival yang sedang berkompetisi. Mereka lebih mirip anak kecil polos yang baru tahu caranya mengangkat pedang. Dengan polos, hanya ada senyum tawa di wajah mereka.
"TERBUKA...!"
Gadis itu berseru sambil melakukan gerakan menusuk kepada lawan mainnya. Pedang kayu itu dengan kecepatan secepat kilat menjurus ke arah kiri dada sehingga mengakibatkan gadis itu jatuh terpental ke lantai kayu secara refleks.
"Aduh!"
Itu adalah gerakan Tsuki (tusukan) namun sengaja diturunkan menuju dada sehingga tidak menghasilkan poin. Bagaimanapun juga ini bukanlah kompetisi bahkan bukan juga latihan resmi hanya sekedar latihan privat saja dan gadis yang terjatuh itu melepas helm pelindung kepalanya sambil menunjukkan senyuman lebarnya.
"Baik.. Baik... aku menyerah Motoko, aku kalah... hahaha..."
"Hahaha... Bagaimanapun, kamu juga hebat, Umi-chan" ujar Motoko sambil mengulurkan tangan kepadanya.
"Ehh... Umi-chan?" celetuk gadis itu terkejut.
"Hmmm... Ada masalah? Oh tidak, kebiasaan burukku!... Aku selalu cepat sok akrab dengan orang yang baik denganku! K-Kamu keberatan yah aku panggil Umi-chan?.. Eh, Sonoda..-san?
"Emmhhmmm... Tidak, tidak, aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu." sanggah Umi Sonoda dengan cepat. "Lagipula jarang sekali ada orang yang memanggilku seperti itu selain keluargaku"
"Jadi kamu keberatan, yah?"
"Nggak!, Tentu saja, tidak! Bahkan aku suka kamu memanggilku seperti itu!" jawab Umi Sonoda panik. "...Lagipula kita ini kan teman."
"Teman yah?" pinta Motoko sambil tersenyum.
"H—Haik!"
"Haik... T—Terima kasih..."
.
2 tahun yang lalu
Kedua gadis itu duduk santai di atas atap sekolah yang kosong pada saat jam istirahat setelah meloloskan diri dari pengawasan para guru sekolah. Saat ini mereka telah memasuki kelas 3. Sambil menikmati minuman kaleng berkarbonasi yang mereka bawa mereka dari kantin. Mereka duduk bersebelahan dengan serasi.
"Ahhh, Waktu berjalan dengan cepat yah...! Tidak terasa sebentar lagi adalah hari kelulusan." kata Umi Sonoda sambil menenteng pedang kayu di bahu kanannya.
"Jadi, Apakah kamu siap?!" tanya Motoko yang telah berdiri dan berhadapan muka dengan muka di depannya.
"Heeh... Tentu saja!" Umi Sonoda menyambut itu dengan senyuman licik sambil mengacungkan shinai (pedang kayu) ke hadapan gadis yang menantangnya.
"Aku sudah tidak sabar untuk bisa segera menghajarmu lagi..." kata Motoko dengan tawa seringai.
"Hei, bukannya kamu sudah sering melakukan itu...!" protes Umi Sonoda. "Lagipula, sejak kapan aku benar-benar kalah dari ilmu pedangmu? Kita ini setara tahu!"
"Hahahaha..."
"Kalau begitu, bisakah kita mulai sekarang?!"
"Haik!"
Berikutnya adalah adegan pertarungan pedang kayu klasik yang sering mereka mainkan di waktu senggang. Semenjak hari mereka bertemu hingga hari itu mereka tidak penah lelah untuk saling berduel pedang. Ada kalanya salah satu dari mereka kalah telak namun itu tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap mengangkat pedang kayu dan tetap saling bertarung hingga tiba saatnya mereka berdua telah memasuki kelas 3 semester akhir. Hanya tersisa beberapa hari hingga waktu kelulusan mereka.
Selama di SMP, Mereka berdua sudah menjalin hubungan yang erat sebagai sepasang sahabat yang akrab. Sayang sekali, mereka berdua tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMA yang sama. Itu karena Motoko telah ditunjuk oleh ayahnya pergi ke SMA yang telah dipilihkan keluarganya, SMA Raika, Tokyo. Sekolah yang terkenal dengan pelajaran Kendonya. Sedangkan Umi Sonoda memutuskan untuk masuk ke SMA pilihan ibunya, SMA Otonokizaka, Kanda. Sekolah tempat ibunya pernah belajar SMA. Sebenarnya Umi Sonoda ingin satu sekolah dengan Motoko, hanya saja letak SMA Raika itu terlalu jauh dari rumahnya.
Setelah itu,
Kedua gadis itu kembali berada di atas atap sekolah sambil membaringkan badan di atas lantai yang panas karena sinar terik matahari siang. Bagiamanapun juga itu tidak menghentikan kelakuan mereka yang sedang bersantai sambil menggenggam tangan bersama.
"Kejuaaraan nasional yah?" gumam Motoko sambil melihat langit biru cerah bersama Umi Sonoda yang sedang tiduran di sampingnya.
"Umi-chan, Aku akan mengasah teknik pedangku lebih keras lagi dan menjadi semakin kuat dan semakin kuat lagi lalu aku akan menjadi petarung pedang nomer satu di jepang!."
"Kalau begitu sama sepertiku juga!" balas Umi Sonoda singkat.
"Aku sudah tidak sabar menunggumu untuk menjadi rival utamaku disana" respon Motoko tersenyum.
"Disana yah?..." gumam Umi Sonoda.
"...Kejuaraan nasional kendo tingkat SMA"
"Budokan!" ucap mereka serempak. "Budokan!"
"Kalau begitu, Sampai jumpa disana... Motoko" Kata Umi Sonoda yang bersiap untuk pulang ke rumah, sambil melambaikan tangan perpisahan kepada sahabatnya itu
"Kau juga Umi Sonoda-chan." Jawab Motoko dengan senyum simpul tipis.
"Selamat tinggal..."
"Selamat tinggal, yah?" Pinta Motoko dengan nada murung.
Titik lintasan akhir telah tiba kini giliran mereka berganti jalur dan melintasi persimpangan dua arah. Mereka sama sekali tidak tahu kapan akan bertemu kembali. Satu janji yang mereka buat bahwa ada satu tempat yang hendak mereka kunjungi. Bukan untuk hari ini namun suatu hari di masa depan.
.
1 tahun yang lalu
"READY! FIGHT!"
Seorang guru kendo di sebuah SMA Kanda memberikan aba-aba kepada dua petarung kendo wanita yang sudah bersiap di posisi mereka masing-masing beserta shinai yang ada di tangan mereka. Ini tidak sama dengan tingkat SMP karena kedua sudah diperbolehkan memakai tingkat sulit untuk mengalahkan lawan mereka.
"Hiyaattt...!"
Salah satu lawan mulai maju menyerang dengan menyeretkan kaki secara bergantian mendekati lawannya. Tanpa ragu-ragu gadis itu mengangkat shinai dan bersiap menebas kepalanya. Ini adalah teknik 'men'. Gadis itu sepertinya tidak berniat mengulur-ulur waktu sehingga dia ingin melumpuhkan sang lawan secepat mungkin namun itu tidak berlangsung secepat itu.
Sadar sang penyerang hendak melakukan serangan ke kepala, si lawan segera menjinjit kecil melompat ke belakang dengan ujung shinai yang tetap teracung ke depan sehingga kedua pedang kayu itu saling beradu terlebih dahulu. Sesudah itu dia memutar shinai 180° lalu menyentak ujung pedang itu hingga sang penyerang mulai terkecoh dan arah shinai berubah menuju samping kiri. Dalam satu gerakan bersamaan sang lawan lalu melakukan tebasan ke arah badan di sebelah kanan perut.
Sebuah poin berhasil dicuri untuk sang lawan.
Sang penyerang tidak serta merta menerima kekalahan itu. Dia segera meneruskannya dengan berbalik dan melompat ke belakang. Dengan gerakan cepat dia melakukan tebasan ke arah kepala secara berulang-ulang meskipun belum mengenai pelipisnya. Sang lawan bahkan dengan tenang menarik kakiknya ke kiri dan kanan secara bergantian tanpa membuang nafas. Kemudian,
Sang lawan mulai melakukan Taiatari, teknik mendeketi dan mendorong tubuh lawan, ketika sang penyerang dalam posisi mengangkat shinai ke udara. Dia mendorong tubuh lawannya dengan menggunakan lengan kirinya lalu melakukan tebasan menyilang mengenai bagian perut kiri hingga dada kanan atas lawannya.
Gerakan itu terlalu cepat untuk diatasi sehingga sang penyerang kehilangan kendali atas shinai miliknya dan pedang kayu itu terjatuh dari genggamannya.
"HAIK!"
Sang wasit atau guru pembina memberikan aba-aba untuk mengakhiri pertarungan ini. Sementara itu gadis yang kehilangan shinai-nya itu jatuh tersungkur dengan kaki ke tanah seakan tidak percaya dengan hasil akhir ini.
"A-Aku..."
Gadis itu dengan suara serak memuntahkan kata-katanya. Bahkan di dalam Bogu-men yang menutupi kepalanya itu dapat terlihat mata yang terbelalak terbuka lebar.
"Aku tidak percaya... aku kalah!" gumam sang gadis sambil bersiap membuka helm yang menutupinya.
"Kenapa aku bisa kalah dari anak pembuat kue manju seperti dia!" surai panjang hitam kebiruan mulai teruntai dengan anggun saat lepas dari tudung rambutnya.
"Kamu hebat, Umi Sonoda-san!" ujar gadis itu sambil mengulurkan tangan kepadanya.
"Minggir!" Umi Sonoda menampik uluran tangannya dan segera berdiri.
"Hei, jangan marah begitu dong!... lagipula, ini kan cuma latihan biasa jadi tidak perlu setegang itu." kata gadis berambut coklat ginger itu dengan ramah.
"Aku minta pertandingan ulang!"
"Hah... Emangnya kamu tidak capek? Hihihi..."
"Ayo bertarung!" Kata Umi Sonoda sambil mengacungkan pedang kayunya tepat di muka gadis itu.
"Yah, kalau itu maumu sih.. yah, AYOO...!"
Gadis itu kembali menutup Bogu-men yang melindungi kepalanya dan memasang kuda-kuda kembali untuk bersiap meladeni tantangan Umi Sonoda.
"HONOKA!... HYAAAAATTT!"
Honoka, gadis bermata biru itu dengan tenang menerima setiap tebasan shinai dan beralih dalam posisi bertahan-menyerang secara teratur. Seperti tadi, dia dapat membaca arah gerakan Umi Sonoda selanjutnya dan dengan mudahnya menangkis serangan shinai itu melalui celah serangan yang terbuka. Kedua petarung mengambil jarak dalam posisi masing-masing sebelum maju untuk memberikan tebasan pedang terbaik mereka dalam satu kali jalan. Kemudian,
BAAANNGG!
"Aku... kalah..." gumam gadis itu pelan dengan kepala menyentuh tanah.
"Ahh... sudah jam 5 sore. Maaf Umi-chan aku harus langsung pulang sekarang. Aku sudah berjanji dengan ayahku untuk membantunya membuat kue." kata Honoka yang segera bergegas mengambil tas latihannya setelah menanggalakn pakaian bogu dan pulang. "Datanglah ke tokoku sekali-sekali. Aku akan mentraktirmu kue manju... "
"Bye-Bye..."
.
Sementara itu di dalam dojo,
"Sial... bagaimana mungkin aku bisa kalah dari anak seperti dia." pikir Umi Sonoda kesal sambil berulang kali memukul lantai kayu itu dengan penuh perasaan galau. Pada saat itu pertarungan di adakan di luar jam ekstrakurikuler sehingga tidak ada seorangpun yang tinggal di tempat itu.
"Ini tidak adil! Padahal aku sudah berlatih shinai secara serius sejak kecil. Bahkan aku sudah pernah berlatih menggunakan pedang sungguhan namun aku masih kalah dengan anak itu! apa yang salah denganku? Mengapa aku begitu lemah?!"
"Gadis itu, anak yang bergabung dengan klub kendo sekolah baru-baru ini!."
"Dia sama sekali bukan orang yang spesial, bahkan dia hanya bisa bermalas-malasan saja ketika di dalam kelas. Aku tidak terima dengan kejadian hari ini! Aku pastikan akan terus mengingat peristiwa ini dan bersumpah untuk pasti mengalahkan dia suatu hari nanti! Aku akan menunjukkan kemampuanku!"
"PASTI!"
"AKU HARUS... BISA...!"
.
Di Rumah Kediaman Keluarga Sonoda.
"Aku pulang!" sahut Umi Sonoda sambil membuka pintu rumahnya.
"Selamat datang! Ah, Kamu terlambat pulang lagi Umi?" sambut Ayahnya yang telah menanti di depan pintu.
"Latihan ekstra lagi yah?! Jadi apakah kemampuan bela dirimu sudah meningkat sekarang?! Hahahaha...!" selagi sang ayah tertawa, Umi Sonoda sebisa mungkin membuang muka agar tidak menunjukkan muka gelisahnya.
"Seperti yang diharapkan dari pewaris keluarga Sonoda, kamu pasti bisa melakukan itu!"
"Baiklah, setelah ini ayah akan mengajarimu seni kaligrafi. Kamu tidak lupa itu, kan?!" kata Ayahnya dengan penuh semangat namun sebuah suara lembut menegur beliau dari belakang.
"Ayah, jangan terlalu keras dengan anakmu. Dia bahkan belum sempat melepaskan sepatunya tetapi kamu sudah menceramahinya sebanyak itu di depan pintu rumah." tegur Ibu Umi Sonoda yang baru saja keluar dari dapur.
"Ahhh... aku keterusan, yah?! Hahahaha..." kemudian sang ayah kembali berbalik menuju ruang tamu
"Umi-chan, selamat datang." sambut Ibunya dengan suara ramah. "Ayo, segera masuklah. Ibu sudah menyiapkan makan malam di meja makan."
"Terima kasih, Ibu."
Di dalam Rumah, Umi Sonoda hanya bisa duduk melamun dan termenung memikirkan kejadian tadi. Dia tidak habis pikir kenapa bisa kalah dengan anak itu. Bahkan pada saat di meja makan, Umi Sonoda tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menatap mata kedua orang tuanya. Oleh karena mereka telah begitu bangga dan memberikan harapan yang tinggi kepadanya. Jadi, Umi Sonoda merasa saat ini dia sudah mengecewakan harapan mereka berdua.
.
Di Dalam Gedung Latihan Kendo Sekolah
"Honoka, ayo kita tanding ulang!" Tantang Umi Sonoda kembali dengan semangat berkobar-kobar.
"Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu! Pasti!"
"Baiklah, jika itu memang keinginanmu!" jawab Honoka yang menerima tantangannya. Mereka berdua kini berdiri di tengah arena dojo dengan shinai di kedua tangan mereka untuk bersiap bertarung.
"Ugh!"
Tiba-tiba Umi Sonoda memegang perutnya yang mendadak kesakitan. Sembari sedikit mengerang dia sebisa mungkin menahan ekspresi wajahnya yang selalu gagal bereaksi poker-face.
"Hmm.. Kamu tidak apa-apa, Umi Sonoda?, tanya Kousaka Honoka cemas. "Sepertinya kamu terlalu memaksakan diri saat ini Umi Sonoda. Apakah kamu kurang cukup tidur malam tadi?"
"Diam! Aku tidak butuh belas kasihanmu!"
Setelah mengatakan demikian pertarungan kendo yang tidak resmi ini dilakukan. Kedua gadis yang berdiri di ruang dojo itu sejatinya tidak memenuhi syarat untuk melakukan latihan Kendo karena keduanya tidak memakai alat pelindung bogu mereka. Bisa dibayangkan betapa sakitnya pedang kayu yang langsung mengenai kulit ketika tebasan demi tebasan dikeluarkan. Dan,
"TAPP! TAPP! TAPPP!... TAPP! TAPP! TAPPP!"
"Sudah cukup! Hentikan Umi Sonoda-chan... Kamu jangan keras kepala!" teriak Honoka Kousaka saat menangkis tebasan terakhir pedang kayu Umi Sonoda. Dengus nafas besar dapat terdengar dari antara mereka berdua saat ini.
"Aku tidak percaya ini! Aku heran kenapa kamu ingin sekali mengalahkanku?!"
"Diamlah!"
"Ayolah, Ini kan cuma latihan kendo biasa, tidak ada seorangpun yang untung dengan hasil ini karena tidak tercatat di rekor pertemuan resmi, kan?! Lagipula pertarungan ini bukan juga pertarungan kejuaraan sebenarnya?! Jadi untuk apa kamu memaksakan diri untuk melakukan ini?!"
"Itu... Itu karena aku harus lebih kuat daripada siapapun..!" Jawab Umi Sonoda.
"Oh, Terus?! Lalu, setelah kamu menjadi kuat apa yang ingin kamu lakukan?!" tanya Honoka datar.
"Itu..." Umi Sonoda ragu-ragu melanjutkan perkataannya. "Sudahlah, kamu jangan sok berlagak jago berkata seperti itu karena sedikit unggul dariku yah?! Lagipula pertarungan ini belum berakhir!"
Dengan sekali gerakan cepat, Honoka Kousaka menghentakkan kaki kanannya ke depan dan menjuruskan tebasan pedang kayunya ke arah depan wajah Umi. Itu adalah men. Umi Sonoda yang terkejut menerima serangan itu hanya bisa membelalakkan matanya lebar-lebar tanpa mengeluarkan suara. Kousaka Honoka kemudian menarik shinai-nya dan berbalik memunggunginya.
"Kamu tahu Umi Sonoda, aku juga bergabung dengan klub kendo ini bukan semata-mata untuk sekedar berolah raga saja. Sama sepertimu aku juga berusaha mencari cara agar bisa menang. Aku juga ingin menjadi kuat." ujar Honoka sambil menyarungkan shinai.
"Namun aku ingin menjadi kuat bukan hanya karena sekedar untuk menang saja, tetapi karena ada sesuatu yang ingin aku lindungi, sesuatu yang paling berharga di dalam hidupku untuk saat ini, itu adalah sekolah ini!"
"Sekolah ini? Maksudmu?"
"Heh? Kamu sudah dengar kabar kalau sekolah ini akan segera ditutup, kan?"
Umi Sonoda kemudian mengingat sebuah selebaran yang tertempel di papan pengumuman beberapa minggu yang lalu tidak lama setelah dia memasuki sekolah ini.
"Itu karena sekolah ini kurang menarik untuk bisa mendapatkan banyak siswa baru. Aku pikir itu karena kita kurang menonjol dalam bidang prestasi baik secara akademik ataupun bidang lainnya. Oleh karena itu aku mau mengikuti kompetisi kendo nasional tingkat SMA dan memenangkannya!"
"Heh?"
Umi Sonoda tidak tahu harus berkata apa kepada gadis ini. ini tidak terasa masuk akal baginya karena sebagai anak kelas satu yang baru memasuki sekolah ini dan memikirkan hal semacam ini terasa begitu jauh.
Dia bahkan bukan anggota OSIS namun ingin melakukan pekerjaan sebagai Humas sekolah ini?
"Selain itu, aku memang sangat menyukai sekolah ini melebihi apapun. Mamaku pernah bersekolah disini, begitu juga dengan nenekku. Bisa dibilang bahwa sekolah ini memiliki makna tersendiri untuk keluargaku. Oleh karena itulah aku tidak akan menyerah untuk berjuang mempertahankan sekolah ini dengan cara apapun. Pertama-tama aku akan berjuang dengan cara memenangkan kejuaraan kendo nasional ini!" terang Honoka menutup ceramahnya.
.
Begitulah awal mula aku bertemu dengan anak itu, Kousaka Honoka. Sejatinya, dia itu bukan siapa-siapa. Hanya seorang gadis normal biasa yang pemalas di sekolah namun memiliki cita-cita yang besar. Mulai saat itu dia telah mengajarkan satu hal yang paling berharga di dalam hidupku bahwa pertarungan itu sejatinya bukan sekedar mencari siapa yang terkuat tetapi untuk melindungi sesuatu yang berharga.
Kemudian, mulai sejak saat itu aku memutuskan untuk mendukung keputusannya dan ikut membantunya berlatih teknik ilmu pedang dengan lebih baik lagi. Itu adalah awal cerita pertemuan kami dan bagaimana kami bisa bersahabat. Bersama dengan Kotori Minami, temannya sejak kecil kami selalu ngumpul bareng dan bersenda gurau mengamati tingkah lakunya yang unik.
Lalu pada kejuaraan kendo SMA tingkat nasional kami berdua berhasil memasuki tahap semifinal. Sayang sekali, pada tahap ini aku harus berhadapan dengan Kousaka Honoka lagi. Dan seperti yang diduga, aku sekali lagi kalah darinya namun kali ini aku tidak kecewa akan hal tersebut.
Kemudian,
Pada pertandingan final Honoka bertanding melawan Motoko dan SMA Otonokizaka berhasil memenangkan kejuaraan Kendo SMA tingkat nasional. Pada saat itu aku benar-benar bahagia bisa ikut merayakan kemenangan Honoka tersebut. Namun aku melupakan sesuatu...
Aku melupakan Motoko.
Ahh... pantas saja dia marah kepadaku, itu karena aku sudah melupakan janjiku... kepadanya.
.
.
Part 6: Revive Me!
.
"Selamat tinggal Umi Sonoda,tersayang!"
Itulah kata-kata terakhir Motoko yang dapat di dengar oleh Umi Sonoda pada saat dirinya terjatuh dari atas jurang. Dari ketinggian 2000 meter setelah dia meninggalkan jejak tanah dia atas bukit dia tidak memiliki pijakan apa-apa lagi selain menggantung di antara angin yang menghembus hebat.
"TIDAK! Aku tidak mau mati seperti ini!" gumam Umi Sonoda dalam pikirannya.
"Aku... Aku harus tetap hidup! Karena aku..."
.
"...tetapi karena ada sesuatu yang ingin aku lindungi, sesuatu yang paling berharga di dalam hidupku untuk saat ini."
.
"AKUUU..."
"AKU MASIH MEMILIKI HAL YANG BERHARGA UNTUK HIDUPKU!"
Umi Sonoda dengan segenap suara di kerongkongannya berteriak di tengah hembusan angin besar. Di sela-sela keputus-asaannya, Umi Sonoda menemukan tekad yang murni untuk tetap hidup. Sebuah tekad besar yang kemudian akan membawa Umi Sonoda kepada takdir hidupnya yang baru.
Seorang Dewi spesifik dari tahta tempatnya berada sedang mengamati keadaan bumi yang kacau. Meskipun tidak tampak mencolok namun dia juga ikut memperhatikan gadis yang sedang kesusahan tersebut. Parasnya cenderung iba karena sifat welas asihnya. Dewi ini tidak banyak mengeluarkan suara namun merupakan pendengar dan pengamat yang baik termasuk ketika dia memperhatikan serius keinginan gadis tersebut. Dewi itu mendengar permohonan Umi Sonoda dan mengabulkan keinginannya. Sesuatu yang dahsyat segera terjadi pada saat itu ketika dia mengulurkan tangannya kepada bumi.
Sebuah pancaran energi yang berwarna biru segera mengalir dan terbang menuju angkasa raya yang gelap dan bergerak menuju bumi dalam hitungan detik. Kekuatan itu adalah sebuah anugrah yang diberikan oleh dewi tersebut kepada Umi Sonoda seorang. Sebuah kekuatan besar yang hanya dipercayakan kepada dia seorang, kekuatan seorang Warrior.
Umi Sonoda masih dalam keadaan terjun bebas saat mengingat kembali janji yang pernah hilang itu. Pikirannya kosong namun hatinya tidak rela bila semuanya ini berakhir begitu saja. Lalu, pada saat itulah secara ajaib muncul sebuah alat 'Device Charge' berwarna biru di genggaman tangan kiri Umi Sonoda. Sebuah alat 'Device Charge' yang sama yang dimiliki oleh Hanayo Koizumi dan Kotori Minami untuk berubah wujud menjadi Warrior.
Sementara itu di saat yang sama, Umi Sonoda juga terkesima saat melihat kartu miliknya tiba-tiba terbang melayang sendiri di depan matanya dengan kilauan sinar biru yang terpancar sangat terang. Sebuah fenomena yang benar-benar saat aneh sementara dia menyadari bahwa nyawanya akan segera lenyap dalam hitungan detik. Namun, dia tidak dapat memikirkan hal yang semacam itu. Apa yang ada di depan matanya mungkin adalah sesuatu yang asing namun dia memilih untuk menggapai hal tersebut daripada tidak bertindak apa-apa yang berujung pada kesia-siaan.
Tanpa berpikir panjang dia segera mengambil kartu itu dan menggesekkan kartu tersebut ke 'Device Charge' miliknya. Kemudian dia berseru:
"BUSHIMO!"
Umi Sonoda tidak terlalu mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada saat ini. Dia hanya 'mematuhi' sugesti kehendak tubuhnya yang bergerak secara otomatis tanpa bisa dia kendalikan. Segalanya terasa sangat imajinatif dan nyaris tidak bisa dipercaya ketika dia merasakan sebuah aliran gelombang kekuatan yang begitu dahsyat merasuk tanpa henti ke dalam tubuhnya. Kekuatan besar yang melingkupi dan menjalar ke seluruh tubuh hingga tanpa sadar dia sudah mendapati sebuah pakaian armor baru spesifik telah melekat pada tubuhnya. Itu adalah sebuah kostum Warrior.
Saat itu, gelombang kekuatan terus menerus berdatangan dari berbagai penjuru mata angin seolah-olah tidak sabar memasuki tubuhnya. Umi Sonoda tahu itu semua dan dia merasa begitu ketakutan karena pengalaman spiritual yang sangat tidak biasa untuk pertama kalinya. Sesuatu hal lain yang membuat dia ketakutan adalah karena fenomena kekuatan angin yang memasuki dirinya itu membuat posisi tubuhnya seakan tertahan di tempat. Ya, dia berada pada posisi melayang di udara.
Bahkan dia nyaris tidak ingat bahwa saat ini dia baru saja terjun bebas. Kakinya seolah-olah dapat menjejak dia awan putih yang terasa padat meskipun itu cuma angin saja. Saat ini sepertinya hukum gaya gravitasi tidak lagi berlaku bagi Umi Sonoda.
"Gyaaaa... apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadaku!"
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Umi Sonoda merasakan secara langsung pengalaman supernatural aneh seperti ini. Walaupun selama ini dia sudah sering diajari oleh orang tuanya untuk bertapa dan memperdalam ilmu spiritualnya melalui ajaran konfusius dan shinto tetapi itu sama sekali tidak ada bandingannya dengan keadaan yang dia alami saat ini.
Dan di dalam ketakutannya itu Umi Sonoda menutup matanya rapat-rapat berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi semata. Pada saat itulah segala sesuatunya menghilang. Tepat seperti yang dia inginkan segala sesuatu yang dia lihat dan rasakan saat ini hanyalah kekosongan gelap belaka. Gelap gulita itu kemudian berubah menjadi putih terang yang begitu silau. Ketika dia membuka matanya dia menyadari bahwa tempat dia berada saat ini bukan lagi di bawah bukit tempatnya terjun bebas melainkan sebuah tempat di dimensi lain yang hanya terdiri dari warna putih saja.
Dan keanehan ini tidak hanya berhenti di titik ini saja. Bahkan Umi Sonoda semakin merinding ketika dia mendengar sebuah suara wanita secara samar-samar dari dalam hatinya sedang memanggil dirinya.
Wanita itu berbicara, katanya:
"Umi Sonoda... Mulai saat ini Aku memberkahimu dengan kekuatan baru. Terimalah kekuatan ini dan jadilah seorang Combat Warrior. Segala ilmu pengetahuan dan bakat perang akan menjadi bagianmu. Dimanapun kamu maju untuk berperang kamu akan bertugas menjadi pemimpin utama bagi kelompokmu. Kekuatan ini hanya bisa digunakan dengan menggunakan kebijaksaan jadi gunakanlah sebaik-baiknya. Seandainya ada hal yang diluar batas pencapainmu sekarang kamu tidak perlu berputus asa, jangan memaksakan diri karena seiring bertambahnya waktu kamu akan mengerti itu semua. Jadi, mulai saat ini Aku mempercayakan kekuatanku sepenuhnya kepadamu. Dan... Kirin, Aku serahkan anak ini kepadamu."
Umi Sonoda pada saat itu hanya bisa terperangah keheranan dengan kepala menengadah ke atas untuk mencari sumber suara tersebut namun dia tidak dapat menemukan siapapun. Namun sesuatu yang supernatual tiba-tiba terjadi dihadapannya. Di tempat yang sudah berwarna putih terang itu tiba-tiba muncul sebuah cahaya yang berkilauan lebih terang lagi dan menghiasi warna putih itu seperti polesan porselin pada batu keramik yang telah diasah.
Pada cahaya terang tersebut muncul sebuah tempat singgasana dimana seorang wanita berparas anggun dengan rambut hitam lurus memanjang sedang duduk disana. Bahkan, tidak hanya dia sendiri melainkan seekor hewan berperawakan kuda namun berkepala sesuatu hewan yang lain sedang berdiri disampingnya.
Wanita itu bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun saat menatap Umi Sonoda dengan senyuman terlukis di bibir merah meronanya. Meskipun begitu entah mengapa gadis itu tidak ingin bertanya apa-apa, dia merasa bahwa senyuman tersebut telah menceritakan banyak hal kepadanya sehingga menghapus seluruh keraguan di dalam hatinya untuk mempertanyakan maksud kehadiran dia disana.
Dengan tenang, Umi Sonoda maju perlahan-lahan dengan sikap penuh rasa hormat menghadap wanita tersebut. Dengan penuh rasa rendah diri dia menekuk kaki kiri ke belakang dan bertumpu pada kaki kanan yang masih tegak, dia bersujud dalam posisi ksatria seperti hendak menerima anugerah yang akan diserahkan oleh perempuan tersebut.
"A.. Aku mengerti..." ucap Umi Sonoda singkat sambil terus bersujud memberi hormat kepada wanita itu. Wanita itu kemudian mengulurkan tangannya seolah hendak mengusap rambut Umi Sonoda dari kejauhan. Tidak terasa apapun bagi Umi Sonoda namun setelah itu wanita itu menghilang secara misterius. Kini hanya ada Umi Sonoda dan Kirin, sang kuda naga itu saja yang tinggal di tempat tersebut.
Umi Sonoda hanya bisa memandang takjub ketika melihat sosok kuda naga itu berdiri memandang lurus kepadanya. Kirin sang kuda ajaib itu memang seekor Animal Guard yang dipersiapkan untuk dia. Hewan ini berbentuk seperti seekor kuda emas namun memiliki kepala seperti naga dengan kumis yang tersulur panjang, dua buah tanduk seperti kijang menjad mahkota kepalanya dan kaki jenjang yang tegap dan rambut seperti singa yang memenuhi ekor dan sekitar lehernya. Kelebihan lainnya dari kuda ini adalah bahwa hewan ini dapat terbang dan menjejakkan kakinya di udara meski tidak memiliki sayap.
"H—Hai?! K.. Kamu siapa...?!"
Sayang sekali Animal Guard ini tidak dapat berbicara layaknya Animal Guard lainnya seperti Onix milik Hanayo atau Garuda milik Kotori Minami.
"Brrrruuuffffhhh..." kuda itu melengking sembari menghentak kaki ke tanah.
Hewan itu bahkan tidak berbicara dengan bahasa manusia namun Umi Sonoda menanggapi itu dengan sebuah senyuman di wajahnya.
"Begitu yah, aku mengerti sekarang."
Kirin hanya bisa berkomunikasi dengan Warrior yang terpilih melalui hati saja. Dengan cara ini Umi Sonoda tetap bisa mengerti apa yang diinginkan oleh Kirin dan sebaliknya meskipun tanpa perlu mengeluarkan sepatah katapun.
"K-Kirin?!... Unn, S-S.. Salam kenal yah..." kata Umi Sonoda yang mulai tenang. Dengan perlahan-lahan dia mencoba mendekati Kirin untuk mengelus kepala naga kuda itu.
Kuda itu duduk merendahkan dirinya sehingga membuat Umi Sonoda bisa menyentuh setiap bagian badannya. Sosok Kirin yang tenang membuat Umi Sonoda merasa aman berada di dekatnya, kini tanpa rasa takut lagi Umi Sonoda memeluk akrab kuda spiritual tersebut. setidaknya begitu hingga kuda itu menggoyang-goyangkan badannya seolah meminta perhatian. Umi lalu mengamati itu dengan pandangan keheranan.
"Brrrruuuffffhhh..."
"A.. Apa?!... Menaikimu?!... B-B.. Boleh kah?!" tanya Umi Sonoda terkejut saat menatap mata Kirin yang sedang merendahkan tubuhnya sedemikan rupa. Kirin lalu menganggukkan kepalanya kepada Umi Sonoda sebagai jawaban bahwa dia sungguh-sungguh menginginkan itu.
Umi Sonoda lalu lekas menaiki punggung Kirin untuk menunggangi hewan tersebut meskipun kuda itu tidak terbiasa dinaiki oleh seseorang. Bagaimanapun juga pengalaman ini menjadi sebuah kisah pertama kalinya bagi Umi Sonoda menunggangi seekor kuda selama hidupnya. Kirin, sang hewan supernatural itu lalu berdiri tegap layaknya kuda perang bersama panglimanya yang bersiap untuk bertempur.
Dan tepat setelah Umi Sonoda menaiki Kirin, Umi Sonoda merasakan bahwa aliran kekuatan yang semenjak tadi dia rasakan tiba-tiba langsung berhenti. Umi Sonoda mendapati kembali bahwa pandangan matanya tentang ruangan itu telah hilang dan berganti menjadi tempat awal dimana dia berada, di atas awan tepat di sebelah tebing curam dimana dia sedang terjun bebas. Umi Sonoda kembali merasakan tarikan gravitasi bumi yang membuat mereka berdua akan jatuh bersamaan namun berbeda dengan keadaan sebelumnya. Kali ini Umi Sonoda telah berganti rupa dalam wujud seorang Warrior dengan sebuah kuda naga yang dia tunggangi, Kirin yang berdiri di atas awan kemudian dengan mantap melangkahkan derap kakinya menaiki angin dan awan tersebut dan terus naik melawan hembusan angin yang terus turun ke dasar. Mereka menuju puncak langit hingga sampai ke tebing jurang.
Sementara itu, Umi Sonoda yang mengalami itu sendiri seakan hanya bisa dibuat takjub dan heran saat dia mengetahui bahwa dirinya saat ini sedang berjalan terbang melayang bersama Kirin menapaki langit. Di dalam pikiran sang ksatria itu hanya terlintas satu hal: "Aku sudah melihat takdirku dan mulai dari titik inilah aku akan melakukannya."
Sebuah suara kemudian terucap sembari dia mengelus kepala kuda naga itu yang tetap fokus menjaga langkah kakinya.
"Kirin, mulai dari sekarang mohon bantuannya yah!" teriak Umi Sonoda dengan penuh semangat.
.
.
Part 7: Restore Feeling!
.
DUAAARRR...!
Sebuah suara letusan menggelegar keras di atas bukit kala derap kaki kuda telah menggapai tanah. Umi Sonoda yang menunggangi Kirin telah berhasil sampai di atas tebing. Gadis itu tersenyum setelah memandang belakang badannya. Sebuah pemandangan langit putih kebiruan yang membentang luas bahkan sepertinya sulit dipercaya bahwa disanalah tempat dia sebelumnya terjun bebas menanti kematiannya.
Kirin, kuda naga itu tiba-tiba mengangkat bagian atas badannya seraya menderapkan kaki depan dan segera melesat bagaikan kilat untuk mencari jejak Motoko. Tidak terlalu sulit melacaknya karena Kirin bisa mengendus jejak tidak wajar yang tercetak di atas rerumputan dan tanah. Arah mereka tidak berbelok-belok hanya lurus berjalan hingga sampai di sebuah pohon terbesar di tempat itu.
Pada akhirnya mereka tiba. Disinilah Umi Sonoda melihat Motoko Aoyama sedang tiduran dan duduk bersandar di bawah pohon besar rindang itu dengan muka lesu. Ada sekitar jarak 500 meter diantara mereka berdua berada. Baik Umi Sonoda maupun Motoko Aoyama tidak bereaksi apa-apa dalam jarak sedekat itu, bahkan Umi sendiri tidak tahu harus berbuat apa sekarang ketika orang yang paling dia sudah menemui rivalnya. Namun, derapan keras tapak kaki Kirin yang menjejak tanah memaksa Motoko untuk membuka matanya dan betapa terbelalaknya kelopak matanya ketika mengetahui bahwa sang target ternyata masihbelum mati.
"Aku kembali Motoko!" kata Umi Sonoda dengan senyuman penuh percaya diri.
"Hahh! B-B... Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!" seru Motoko panik.
"Pakaian itu!... Ah, begitu yah! Aku mengerti sekarang... Umi-chan, pada akhirnya kamu telah mengambil jalanmu dan berhasil bertransformasi menjadi seorang Warrior yah sekarang?!" Motoko tersenyum licik memaparkan perkataannya.
"Benar... Aku adalah seorang Warrior! Dan inilah sumpahku sebagai seorang Warrior bahwa aku akan menyelamatkanmu dari pengaruh jahat yang telah menjerat hidupmu saat ini! Aku bersumpah akan mengembalikanmu kepada dirimu yang semula, Motoko!" kata Umi Sonoda lantang dengan mata berkaca-kaca menatap sahabatnya itu.
"Baiklah, ini semakin seru... Akhirnya kamu mau bertarung dengan sungguh-sungguh, kan?!"
Motoko tersenyum seringai menatap Umi Sonoda yang menatapnya tajam dengan jari telunjuk di tangan kanan mengarah kepadanya.
"Terima ini!... Sonic Bomb!"
Motoko melompat jungkir balik sambil melemparkan bom tangan ukuran mini di dalam genggaman tangannya yang segera melesat menyerang Umi Sonoda bak peluru senapan namun dengan kemampuan Umi Sonoda sekarang dia berhasil membaca gerakan bola-bola tersebut lalu menebas bom itu menjadi dua bagian menggunakan pedang angin yang terbentuk secara otomatis di tangannya. Jurus ini begitu langka, hampir-hampir terlihat bahwa dia tadi sedang menebas bom tersebut hanya dengan menggunakan jari telunjuknya saja.
Pecahan bola-bola bom tersebut pada akhirnya meledak meninggalkan bekas asap yang membuat pandangan Umi menjadi terbatas namun di balik kabut asap itu telah menanti serangan berikutnya. Motoko tiba-tiba meloncat ke dalamnya dan hendak menebas yang ada di dalamnya namun Umi Sonoda dengan pedang anginnya ternyata lebih mudah mengoyak asap tersebut dan ikut menerbangkan Motoko di dalamnya hingga terpental.
Namun, Motoko tidak membiarkan dirinya terbawa angin begitu saja. Dia memutar badannya sehingga tebasannya kembali mengarah kepada Umi Sonoda. Setidaknya Umi Sonoda akan segera terluka di bagian punggungnya jika seandainya dia tidak menarik katana di sarung kanannya yang membuat gesekan baja segera berbenturan dan menciptakan percikan api yang merah menyala. Kedua gadis itu lalu mementalkan diri sehingga menciptakan jarak yang lumayan jauh dari pandangan mata di antara mereka berdua
"Hehehehe... Oww, Akhirnya kamu mengeluarkan pedangmu yah! Hahaha..."
"Heh... Apanya yang lucu?!"
"Hahaha...Kamu lupa yah?. Bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan untuk tidak akan menggunakan pedang lagi? Kau ini tidak pernah berubah, Umi. Selalu saja mengingkari janjinya sendiri... Hahaha..."
"Oh, begitu yah.. Hahahaha... Yah, Aku mengerti. Kalau begitu maafkan aku." kata Umi Sonoda tersenyum sambil memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang.
"Kirin, tolong simpan pedang ini, yah."
Umi Sonoda memerintahkan sang Kuda untuk memungut pedang yang telah dia lemparkan ke udara. Sementara Kirin yang mendengar perintah itu lalu membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan pedang itu seutuhnya hingga tidak tampak kembali batang pedangnya.
"APA?!"
"Kalau begitu aku cukup menggunakan panah saja untuk melawanmu...", kata Umi Sonoda sambil menatap tajam Motoko dan tiba-tiba sebuah senjata panah beserta tabung busur emas telah muncul di dalam genggaman Umi Sonoda.
"Tcih, kamu benar-benar meremehkan aku yah?! ...RASAKAN INI!"
Motoko Aoyama dengan Hina Blade di tangannya tampak geram dengan ulah Umi Sonoda yang tampil kalem namun cenderung sombong di matanya sehingga dia mengambil inisiatif untuk maju terlebih dahulu menyerang Umi Sonoda dengan kecepatan kilat. Sementara itu Umi Sonoda juga tidak mau kalah, dia segera menaiki Kirin dan bersiap meladeninya untuk berhadapan secara langsung
"KIRIN, AYO MAJU!"
Umi Sonoda yang masih menunggangi di atas Kirin menfokuskan sasaran busur panahnya kepada Motoko Aoyama yang berlari dengan ganas juga tidak berusaha menghindar ketika gerakannya sudah dikunci namun dia malah semakin dekat menuju kepada gadis itu.
Umi Sonoda dengan tenang lalu melepaskan beberapa anak panah emas miliknya secara berurutan menuju Motoko Aoyama. Sementara itu meskipun Motoko Aoyama dapat membaca arah serangan anak panah Umi Sonoda, dia tetap merasa kesulitan untuk menghindari kecepatan kilat anak panah itu.
Satu, dua, dan tiga anak panah berhasil di hindari oleh Motoko Aoyama, akan tetapi satu hal yang tidak diketahui oleh sang Clandestine itu adalah dampak dari serangan anak panah Umi Sonoda ternyata tidak hanya itu saja oleh karena setiap anak panah yang mendarat di tanah akan selalu menghasilkan dampak ledakkan yang setara dengan kekuatan daya ledak Roket.
"Gwaaaa!"
Motoko seketika menjadi kehilangan keseimbangan akibat ledakan yang mengguncang tanah tempat dia berdiri, dia tidak mampu berbuat apa-apa selain terpental ke udara mengikuti daya lontar ledakkan yang dihasilkan oleh anak panah Umi Sonoda tersebut. Kelelahan oleh serangan sebelumnya, dia tiba-tiba diperhadapkan dengan kemunculan serangan anak panah Umi Sonoda yang lainnya. Motoko dengan sigap berusaha menangkis anak panah itu dengan pedangnya, akan tetapi kekuatan anak panah yang dilepaskan oleh Umi Sonoda jauh lebih besar daripada kekuatan yang dihasilkan oleh Hina Bladesehingga membuat pedang terkutuk itu patah dan berhasil melukai bahu kiri Motoko!
"T-Tadi itu... A-Apa yang sebenarnya telah terjadi?!"
Gadis itu menggigil saat merasakan bahunya keram dan mati rasa.
"Ahh... B-Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!"
Dia berusaha menarik anak panah emas tersebut namun sia-sia.
"P-Panah... Panah itu telah mematahkan pedangku!"
Sementara itu saat dia melihat ke tanah betapa terkejutnya dia melihat kepingan pedang baja hitam yang sudah hancur kehilangan rupanya dan sekedar menjadi logam besi biasa saja.
"Bagaimana mungkin?!"
Kali ini dia berusah menarik anak panah itu dengan seluruh tenaga di tangan kanannya dan berhasil. Tangan kiri itu masih mati rasa namun segenap kekuatannya beralih tumpuan kepada tangan kanannya.
"Tidak, Ini pasti Cuma kebetulan saja! Yah, Sekali lagi!"
Motoko Aoyama lagi-lagi menyangkal tentang kehebatan kekuatan Umi Sonoda dan memutuskan untuk tetap menyerang Umi Sonoda menggunakan pedang terkutuk lain yang dia panggil. Sebuah pedang iblis bermata tiga yang dapat mengeluarkan api di setiap sisi mata pedangnya itu tampak menyala di tanganya. Nama pedang itu adalah Cerberus.
"Ciyattt!"
Motoko Aoyama kini menjadi putus asa lalu melompat untuk memberikan serangan kejutan kepada Umi Sonoda namun dari sisi bawah Umi Sonoda juga telah siap untuk membidikkan panahnya sekali lagi ke bahu kiri Motoko. Umi Sonoda memang berniat melumpuhkan tangan kirinya hingga tidak dapat digunakan kembali.
"...Dan ini yang terakhir", Kata Umi Sonoda dengan mata terpejam menguatkan hati untuk melepaskan anak panah terakhirnya.
"Golden Flash Shoot!"
Sesungguhnya adalah kesalahan fatal bagi Motoko Aoyama untuk menyerang Umi Sonoda dari atas karena posisi ini sama sekali tidak menguntungkan dan membuat dia sama sekali tidak dapat mengelak dari bidikan dan serangan Umi Sonoda. Kini, Kemenangan sempurna Umi Sonoda sudah bisa dilihat di depan mata.
"Ehh?... TIDAKKK!"
Teriak Motoko saat merasakan anak panah emas itu menembus bahu kirinya. Dan membuatnya jatuh terjerembab di tanah dengan darah yang mengucur deras di tangan kirinya. Secara otomatis, pada kondisi normal saat ini dia sudah tidak akan mampu lagi untuk mengangkat pedangnya.
"Cukupppp! A-Aku kalah... Aku mengaku kalah... Umi-chan!" kata Motoko sambil membuang pedangnya ke arah Umi Sonoda.
"M-Motoko?!"
Sebuah senyum simpul mulai terlihat di wajah Umi Sonoda ketika dia merasa temannya sudah mengangkat bendera putih. Kirin yang sedari tadi bertarung dalam posisi melayang di udara kemudian turun ke tanah dan mendekatinya. Namun, tiba-tiba sebuah senyuman mulai muncul di wajah Motoko Aoyama.
"Namun demikian, bagaimana kalau kamu juga melakukan satu hal untukku... Umi-chan, bisakah kamu... Bisakah kamu mati saja, Umi Sonoda!" seru Motoko yang tiba-tiba duduk bersilah sambil mengulurkan semacam tali cambuk dari lengan kanannya dan mengikat kaki kiri Sang Kuda, Kirin kemudian Motoko Aoyama yang mengendalikan sepenuhnya cambuk tersebut menarik tali itu sehingga membuat sang Kuda dan Umi Sonoda yang masih menungganginya ikut terjatuh.
"Cetarr!"
Umi Sonoda yang terjungkal ke tanah berhasil berdiri tanpa mengalami cidera yang berarti namun berbeda dengan Kirin yang mengalami luka yang cukup serius pada bagian kaki kirinya sehingga tidak mampu untuk berdiri kembali. Sementara itu, tali yang membelit kaki kirinya juga masih berada disana, tali itu agaknya memiliki kekuatan spesial untuk mengurung kekuatan supernatural Kirin sehingga membuatnya tidak ubah layaknya kuda biasa.
"Dengan begini kamu tidak bisa lari lagi, Umi! Aku sadar perbedaan kekuatan kita berdua adalah karena kamu lebih diuntungkan oleh kuda sialan itu, kan?!"
Wajah gadis itu nampak bergelora ketika melihat musuhnya diam mematung melihat hewan pelindungnya sudah ditaklukan. Namun wanita itu tetap berkata sambil tersenyum simpul.
"Tidak... Kamu sepertinya masih belum mengerti yah, Motoko!"
"Majulah! Ayo serang aku!" tantang Motoko.
"Baiklah, namun sebelumnya bolehkah aku menggunakan senjata lainnya?"
"Emangnya harus gitu kamu tanya hal seperti itu kepadaku terlebih dahulu? Terserah kamu!"
"Baiklah, kalau begitu! Datanglah,Tongkat Tiang Surga!"
Tanpa membuang waktu lagi Umi Sonoda lalu maju menyerang Motoko Aoyama. Pertarungan antar senjata tongkat dan pedang tidak bisa dihindari lagi. Beberapa kali Motoko Aoyama mencoba mencari celah untuk menusukkan pedangnya namun Umi Sonoda berhasil menghindarinya dan memberikan pukulan balasan melalui tongkatnya.
"Sial, hampir saja!"
Umpat Motoko yang merasakan bahwa pelindung dadanya telah terbelah akibat hantaman tongkat Umi Sonoda.
"Kamu tahu Motoko, sejak dulu aku selalu mengagumimu. Sungguh suatu kehormatan bagiku bisa mengenalmu, seorang pewaris tunggal sekolah bela diri Shinmei-ryu secara langsung. Oleh karena itulah aku selalu menganggap bahwa kamu adalah seorang petarung pedang terhebat yang pernah aku kenal di muka bumi ini. Namun, meskipun demikian..."
Umi Sonoda menarik nafas panjang untuk beristirahat sejenak.
"Aku juga tidak mau kalah! Sebagai penerus keluarga Sonoda aku juga harus lebih hebat lagi, karena itulah aku telah terbiasa untuk belajar segala kebudayaan tradisional jepang termasuk untuk menguasai berbagai ilmu seni bela diri lainnya. Tidak bisa 100% menguasai ilmu pedang bukanlah sesuatu hal yang memalukan bagiku. Oleh karena itulah aku meletakkan pedang kendo-ku dan mulai belajar tentang kyudo."
"Berisik...!"
"...Karena itulah aku menjadi Combat Warrior!" teriak Umi Sonoda dengan tatapan mata tajam kepadanya.
"Rasakan ini..."
Motoko kembali menyerang Umi Sonoda dengan mengayunkan pedang Cerberus miliknya. Pedang itu begitu berbahaya karena kobaran api yang keluar dari ujung mata pedangnya sanggup membakar apapun yang telah mengenainya. Meskipun demikian Umi Sonoda tidak berusaha menghindar dari tempatnya berdiri sekarang.
"Aku harap kamu bisa mengerti Motoko bahwa di dunia ini ada sesuatu yang tidak bisa ditaklukan hanya dengan mengandalkan kekuatan saja." Kata Umi Sonoda sambil menatap matanya.
"Untuk bisa menaklukan sesuatu yang tidak bisa mengandalkan kekuatan itu maka kamu memerlukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih kuat dan lebih besar daripada energi apapun di dunia ini. Sesuatu yang disebut "Cinta."
Tiba-tiba Umi Sonoda mundur selangkah dari tempatnya berdiri dan memasang kuda-kuda untuk mengayunkan ujung tongkatnya tepat menuju bawah dagu Motoko sehingga membuat gadis berambut hitam itu terpelanting di udara hingga pedangnya terlepas.
"Selamat tinggal Motoko!"
"Gyaaaaaaaaaaaaaaah!"
.
.
Chapter 8: Never Forget You!
Seketika itu juga awan debu terbang menghampar di tengah daratan hijau yang tertutup pepohonan lebat. Disana kedua gadis yang saling bertempur itu telah mempertaruhkan kekuatannya dan saling bertukar serangan.
Salah seorang dari mereka kini terbaring di tanah dengan semburat darah merah yang keluar dari mulutnya meringis kesakitan. Bagian bawah dagunya nampak biru membengkak dan tangan kirinya juga terkulai lemas seolah sudah kehilangan kekuatan untuk menggerakkan ototnya.
"Urgghh... Kamu memang kuat, Umi!" Motoko Aoyama berusaha memuntahkan kata-katanya bertautan dengan nafas tersengal-sengal dan semburan darah yang keluar dari mulutnya. "...Tapi, ini masih belum selesai!"
"SUDAH CUKUP MOTOKO! LEBIH DARI INI MAKA KAMU AKAN MATI!"
"Kalau memang kamu mampu... bunuh aku kalau bisa, Umi! Jangan hanya mengucapkan kata-kata pengandaian semacam itu!"
"Tapi, aku nggak akan melakukan itu!"
"Apa masalahnya?! Kamu mau bertemu teman-temanmu lagi , kan? Kalau kamu ingin membebaskan teman-temanmu itu maka kamu harus membunuhku terlebih dahulu!"
"Ehh... K-Kenapa?! Aku tidak mau membunuh siapapun! Aku hanya mau teman-temanku kembali... termasuk kamu!"
"Heh?! Termasuk aku? Kalau begitu antara teman-temanmu dan aku, siapa yang lebih penting?" dia mengucapkannya sambil tersenyum. Bahkan Motoko tidak berusaha menunggu jawaban Umi setelah menanyakan itu sembari dia melanjutkan perkataannya.
"Sudah kuduga, tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi disini! Lagipula, sejak awal kamu sudah tidak peduli kepadaku, kan? Jadi apa masalahnya?!"
"Nggak! Aku menyukaimu! Aku peduli kepadamu!"
"Bohong!"
Sebuah pedang yang muncul tiba-tiba melayang dengan bebas menuju arah Umi Sonoda saat Motoko mengatakan itu namun Umi dengan mudah menangkisnya menggunakan busur emasnya. Air mata mulai keluar membasahi pipinya saat ini.
Keheningan sejenak melingkupi tempat itu namun Motoko kemudian tersenyum menanggapi kondisi aneh ini.
"Umi Sonoda, aku memberimu satu kesempatan terakhir. Kalau kamu memang peduli kepadaku maka satu permintaanku saat ini. Bidik panahmu disini sekarang." katanya mengarahkan jari telunjuknya ke bagian dadanya.
"Aku sudah mengurung teman-temanmu ke sebuah dimensi lain yang tidak ada di dunia ini namun berhubung langsung dengan dimensi kerajaan kegelapan Shadow Master. Sesungguhnya, teman-temanmu sudah tidak ada di dunia ini lagi atau katakan saja mereka sudah mati sejak 5 jam yang lalu namun bukan berarti mereka sudah kehilangan nyawanya. Hanya saja mereka sudah tidak bisa dikatakan masih hidup lagi."
"Sementara aku, sebagai pemegang kunci dimensi tersebut memiliki wewenang untuk mengurung mereka namun tidak berwenang untuk membebaskan mereka. Atau anggap saja, nyawa teman-temanmu saat ini bergantung erat dengan jiwaku. Mereka terpenjara di dalam jiwaku. Jadi, jika kamu ingin membebaskannya sementara tidak memiliki kuncinya maka hanya satu hal yang yang kamu perbuat kan? Ya, hancurkan saja penjara itu.
"Nggak.. aku nggak mau! Nggak mau!"
"Bunuh aku, Umi-chan! Lagipula, saat ini sudah terlambat... semuanya sudah terlambat, Umi-chan! Diriku saat ini sudah tidak bisa diselamatkan lag. Sejak dari awal ketika aku memilih menjadi Clandestine, aku sudah menukarkan nyawa manusiaku demi kekuatan baruku ini. jadi kamu mengerti maksud perkataanku, kan? Aku ini pada hakikatnya hanya manusia iblis aja. Seonggok setan yang sudah kehilangan jiwanya."
"Tapi... ini tidak masuk akal!"
"Sudahlah... jangan terlalu dipikirkan! Cepatlah! Aku akan membiarkanmu untuk membunuhku sekarang! Cepatlah lakukan itu selagi masih ada waktu! Selagi teman-temanmu masih ada di tempat itu dan belum dibawa ke hadapan Paduka Shadow Master. Karena jika itu terjadi maka kamu mungkin sudah tidak memiliki kesempatan untuk bertemu mereka kembali!"
"Motoko! Apakah... Apakah benar-benar tidak ada cara lain?! Aku sungguh tidak mau kehilanganmu..."
"Tidak ada. Cepatlah, sudah tidak ada waktu lagi! Aku mohon... Aku mohon bunuhlah aku!" Pinta Motoko sambil meneteskan air mata.
Saat itu Umi Sonoda menjadi benar-benar ragu karena dipaksa menerima sugesti Motoko Aoyama dengan sangat mendesak. Pikirannya ragu karena tidak ada satu alasan yang kuat mengapa dia tidak bisa menyelamatkan teman-temannya yang terpenjara di suatu tempat tanpa membunuhnya?
Bukankah di setiap tempat selalu ada jalan keluar alternatif?
Apakah tidak mungkin menyelamatkan Motoko Aoyama yang ingin melepaskan kekuatan jahat yang merasukinya saat ini? Umi terus memikirkan itu hingga pada akhirnya dia harus mengucapkan pemikirannya.
"K-Kenapa kamu bersikeras supaya aku harus membunuhmu?!"
Gadis itu tersenyum.
"Ugh, Sudah tidak banyak waktu lagi... Mungkin, Mungkin ini adalah kesempatan terakhirku untuk bisa berbicara denganmu sebagai seorang manusia, Umi-chan."
"Hei, apa maksud perkataanmu itu?!"
"Aku akan memberitahukan kepadamu satu rahasia kecil tentang kami, para Clandestine. Sebagaimana kamu tahu bahwa Clandestine sepertiku mendapatkan kekuatan ini berasal dari perjanjian dengan kekuatan kegelapan. Oleh karena itu ketika kami, para Clandestine dikalahkan maka diri kami tidak akan musnah begitu saja melainkan seiring berjalannya waktu tubuh kami akan berubah wujud menjadi mahkluk abadi dan lahir ke dalam sosok gelap sejati kami yaitu monster buas yang segera mengambil alih tubuh ini. Umm... tidak, lebih tepatnya bahwa sejak awal monster itu sudah ada di dalam tubuh ini, kami hanya meminjam kekuatan mereka untuk digunakan bertarung jadi ketika jiwa kami mati maka yang tersisa di dalam tubuh ini tinggal roh monster buas itu."
Jadi... Motoko melanjutkan perkataan berikutnya dengan genangan air mata yang membasahi pipinya.
"Jadi, bisa kamu bayangkan apa yang terjadi kepada diriku setelah ini, bukan? Tubuh manusia Motoko ini hanya sebuah cangkang dari kekuatan Clandestine, dan tubuh fana ini sudah tidak mampu untuk bertahan lagi"
"Motoko... apa maksudmu sebentar lagi kamu akan berubah menjadi monster?"
"i...iya. Seekor Monster buas akan segera mengambil alih hidupku dan pada saat itu tiba maka Motoko ini tidak akan mampu untuk memikirkan hal yang lain selain bertarung, mengamuk dan membunuh. Pada saat itu tiba maka Motoko yang kamu kenal sebagai seorang manusia ini sudah tidak ada lagi di dalam dunia, aku sudah mati dan telah kehilangan akal sehat pikiranku sebagai seorang manusia layaknya seorang Zombie atau binatang liar, tubuh ini akan berubah menjadi monster gelap seutuhnya."
"Nggak mungkin!"
"Itulah faktanya, Umi Sonoda! Karena itulah silahkan bunuh aku selagi ada kesempatan!"
"Tapi...!"
"Angkat pedangmu wahai ksatria! Setidaknya dengarkanlah permintaan tulus dari seorang yang kamu panggil sebagai seorang sahabat ini. Untuk sekali lagi, aku mohon untuk sekali lagi... Aku mohon bertarunglah denganku sebagai sesama ksatria untuk terakhir kalinya. Dan kali ini pastikan untuk bertujuan membunuhku!"
Motoko mengatakan itu dengan segenap sisa tenaganya dengan perkataan lembut dan mengangkat kakinya supaya berdiri tegap menghadapi sahabatnya tersebut.
"Cukup Motoko! Aku tidak mau lagi bertarung! Aku tidak mau kamu mati
"AKU MOHON, UMI SONODA!"
Motoko secara serius memekikan perkataannya sembari mengeluarkan lingkaran sihir untuk memanggil sebuah senjata lainnya dari dalam sana, itu adalah sebuah pedang. Sebuah pedang Shirisaya berwarna putih yang sejatinya merupakan pedang asli kesayangan Motoko sejak kecil. Dia menamakan pedang itu "Shisui" yang berarti "Pemutus aliran air".
.
Pada saat yang sama, Kirin juga memuntahkan dari dalam mulutnya sebuah pedang untuk diberikan kepada Umi Sonoda.
"Kirin?!"
Umi Sonoda tetap menerima pedang yang dilemparkan tersebut namun dia terus menatap Kirin dengan tatapan bimbang. Kuda itu seolah mengerti keheranan tuannya dan hanya menganggukkan kepala seraya memberi restu untuk mengabulkan permintaan sahabatnya itu.
"B-Baiklah, aku mengerti..." kata Umi Sonoda dengan perasaan berkecamuk.
"Angkat pedangmu sekarang, Umi Sonoda!" teriak Motoko dengan berlinangan air mata namun kali ini tatapan matanya berbeda dengan yang sebelumnya. Matanya terlihat lebih bersinar dengan kemilaunya menggantikan tatapan kegelapan yang selama ini telah bersarang di hatinya. "Umi-chan,jangan pernah kamu sekali-kali melakukan ini dengan setengah hati ataupun ragu! Bertarunglah sungguh-sungguh demi aku! Lakukanlah ini semua demi masa depan seluruh umat manusia!"
"Demi Umat manusia!"
"Demi Umat manusia!"
Kedua gadis itu pada akhirnya saling bersahut-sahutan ketika masing-masing dari mereka bertukar serangan untuk mengadu kekuatan pedang satu sama lain dengan begitu intens tanpa berhenti.
.
.
Pada hari itu, di tengah kepanikan yang melanda diriku.
Aku sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di dalam hutan ini aku bisa bertemu dengan sahabat lamaku. Sebuah pertemuan yang tidak pernah aku hendaki namun begitu aku rindukan.
Perjumpaan yang pertama dan yang terakhir kalinya.
Sekali lagi kami saling bertarung dengan perasaan murni sama seperti saat pertama kali kami bertemu di masa SMP. Pertarungan terakhir ini bahkan tidak berbeda dari pertarungan biasa yang sering kami lakukan dulu. Pertarungan saling ngotot yang biasanya dimenangkannya atau olehku juga
...hanya saja untuk kali ini aku yang bisa mengalahkannya.
Atau lebih tepatnya dia sendiri yang merelakan dirinya untuk sengaja tertikam oleh pedangku.
Dengan pedang di tanganku ini aku menusuk perut Motoko hingga badannya memeluk tubuhku erat-erat.
.
.
"Te... Terima kasih Umi-chan. Ini adalah pertarungan yang bagus!" kata Motoko sambil tersenyum.
Sementara itu Umi Sonoda tidak bisa berbuat apa-apa selain meratap dan menyaksikan kematian sahabatnya di dalam pelukannya. Dia begitu tertegun sampai-sampai dia tidak mau mengeluarkan air matanya karena tidak pantas untuk melakukan itu.
"Maaf, aku tidak terlalu kuat untuk menjadi lawanmu!"
"M-MOTOKO!"
"Hei... Hei, jangan menangis... Ini masih belum berakhir, kan?! Perjalananmu sebagai seorang warrior bahkan baru dimulai sekarang. Karena itu aku yakin kita pasti akan bertemu lagi, kan?"
Pada akhirnya Motoko dengan tangan berwarna merah berusaha mengusap pipi Umi Sonoda yang telah basah oleh air mata. Gadis itu dengan setiap nafas terakhirnya berusaha mengguratkan kesan terakhir bagi sahabatnya. Sebuah senyuman pun terukir di bibir merahnya mencoba menyentuh hati yang dirundung kesedihan tersebut.
"Ummm... Aku janji kita pasti akan bertemu lagi! Aku janji akan membangkitkanmu!"
Umi Sonoda membalas senyuman itu dengan air mata yang semakin banyak tertumpah menghapus warna merah yang membalur tangan Motoko Aoyama.
"Umm, Tentang gadis berambut coklat ginger itu..."
?
"Ahh, Aku mengerti sekarang... gadis itu memang luar biasa, yah?!"
Motoko berkata secara random kepada Umi Sonoda dengan setiap jengkal nafas terakhirnya.
"Pada waktu final itu aku dikalahkan olehnya bukan karena teknik pedangnya yang begitu hebat ataupun aku yang terlalu lemah. Gadis itu sejatinya Cuma anak SMA normal yang biasa-biasa saja seperti gadis normal lainnya bahkan bukan seorang ksatria namun dia berhasil mengalakanku dengan begitu hebat... hahahaha..." kata Motoko dengan nafas terputus-putus diselingi batuk. "G... Gadis itu berhasil menang karena hasrat luar biasa dan perasaan cinta yang dia milikinya serta semangat dari orang-orang yang mendukungnya yang selama ini sehingga dia bisa memiliki kekuatan untuk memenangkan itu.
"Sekarang, Aku pikir sudah mengerti mengapa kamu begitu menyukai gadis itu... Dan juga mengapa Master begitu menginginkan dirinya untuk berada di sisinya."
"Ehh, H- Honoka?! Apakah kamu sedang membicarakan tentang Honoka? J—Jadi, dia masih hidup, kan?!"
"Umm..." (Motoko menganggukkan kepala). "Umi-chan, kamu harus segera menyelamatkan sang putri selagi masih belum terlambat. Jika tidak..."
"Honoka, apa yang sedang terjadi kepadanya sekarang?!"
"Mungkin sudah tidak ada cara lagi untuk membuatnya kembali menjadi manusia normal."
"Hei, dimana dia sekarang?! Motoko beritahu aku?!"
"Maaf aku tidak bisa banyak membantumu sekarang. Umi-chan, aku mohon maafkan aku selama ini... Selamat tinggal, Umi Sonoda!"
Dan dengan kata-kata itu Motoko lalu menghembuskan nafas terakhirnya diiringi dengan bentuk tubuhnya yang perlahan-lahan berubah menjadi butiran-butiran debu dan kemudian menghilang ditelan hembusan angin.
"MOTOKOOO!"
.
Setelah kematian Motoko Aoyama kemudian secara ajaib muncul sebuah lingkaran portal magis di hadapan Umi Sonoda yang kemudian memuntahkan ketujuh sosok temannya.
Semuanya tepat seperti yang telah dikatakan oleh Motoko sebelumnya. Ketujuh gadis itu tampak baik-baik saja dan masih dalam keadaan tertidur di atas tanah.
Umi Sonoda lalu segera menghampiri mereka dan berusaha membangunkan mereka untuk memastikan keselamatan mereka. Pada akhirnya, mereka berhasil bangun tanpa ada keluhan sedikitpun. Motoko Aoyama berhasil menjaga janjinya untuk tidak menyakiti sahabatnya sama sekali.
Kemudian, Umi Sonoda lalu menjelaskan kepada mereka tentang kejadian yang baru saja mereka alami, mereka yang menghilang secara ajaib, pertemuannya dengan Motoko Aoyama, dirinya yang bertransformasi menjadi seorang Warrior dan tentang keadaan Honoka saat ini.
Setelah mendengarkan itu mereka berbalik menanyakan keadaan Umi Sonoda namun Umi tetap menguatkan hatinya dan menyatakan semuanya baik-baik saja. Kemudian, mereka memutuskan untuk bergegas melanjutkan perjalanan berikutnya ke tempat perhentian selanjutnya untuk bisa secepatnya bertemu dengan Honoka.
Pada akhirnya separuh hari berhasil dilalui dan mereka mendirikan tenda untuk beristirahat di bawah lembah dekat aliran sungai yang mengalir dengan teduhnya. Peralatan perkemahan dan api telah terpasang sebagai tanda pemukiman ada di daerah itu.
Berbeda dengan keadaan sebelumnya, kali ini keheningan dan kesendirian yang di alami Umi Sonoda tidak berlaku kembali seiiring dengan ramainya ketujuh orang ini saling bercengkrama.
Namun Umi Sonoda memilih untuk menyendiri di atas batu yang ada di atas tebing lembah di atas perkemahan mereka.
.
"Hmm... Kotori?" seru Umi Sonoda terkejut saat melihat Kotori Minami datang menghampirinya sambil membawakan seikat bunga lily putih untuknya. Gadis itu menundukkan kepala untuk menjawab keheranan sang penanya.
"Maaf Umi -chan, aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu."
"Unn... Itu bukan salah kamu, kok!" jawab Umi Sonoda tersenyum simpul dan menggelengkan kepala.
"Kami berdua adalah seorang ksatria. Kami tahu mengapa kami bertarung dan itu semua adalah jalan ksatria yang sudah dia pilih. Itu sama sekali bukan kesalahan siapapun. Clandestine itu hanyalah manipulasi dari trik iblis yang sudah mengotori hatinya. Jika ada orang yang harus disalahkan maka Shadow Master itulah oknum yang tepat. Karena itulah tidak ada yang perlu disesalkan disini...!"
"Apakah.. kamu yakin?"
"Ehh, K—Kotori...?!" seru Umi Sonoda terkejut saat gadis berambut abu-abu itu memeluknya dengan erat sekarang.
"M—Menangis... Jika kamu ingin menangis maka menangislah sepuasmu sekarang, Umi -chan. Aku akan ada untukmu saat ini! aku tahu sedari tadi kamu memendam perasaan itu kan?"
"Haah? Ko-Kotori..."
"HUAAAAAA... AAAAAAAAA!"
Pada akhirnya kedua gadis yang berada di atas tebing itu duduk saling berpelukan dan menangis bergantian untuk melepaskan perasaan sesak yang mengisi dada mereka. Bahkan, seisi perkemahan itu tahu betapa beratnya beban yang di tanggung Umi Sonoda saat ini.
Dari bawah tebing, di perkemahan itu setiap gadis tanpa berbicara saling menundukkan kepala dan berdoa agar nyawa teman Umi Sonoda diberi ketenangan dan semoga perjalanan mereka berikutnya tidak akan lebih buruk daripada ini.
.
-Chapter 7: End-
.
.
Salam dari saya, selamat datang di fanfic terpanjang di kategori ini yang mungkin pernah kalian baca. Mungkin gak bakalan banyak yang baca cerita ini karena genre yang sedikit minat, dll namun bagaimanapun juga saya puas ketika menulis ini karena berhasil menumpahkan seluruh perasaan saya di setiap ceritanya.
untuk kali ini, inspirasi cerita ini berasal dari Bima Satria Garuda dan salah satu film Kamen Rider Movie (silahkan tebak sendiri scene mana dan film yang mana)
Sebuah nama Motoko Aoyama menjadi cameo cerita ini. Mungkin hanya sedikit orang yang kenal. Gadis ini adalah salah satu lakon Love Hina dan lengkap dengan jurusnya. Silahkan google saja jika masih belum ngerti.
Untuk cerita selanjutnya mungkin akan bernasib sama seperti chapter ini - nunggu update 1 tahun dulu agar kelar semuanya. lol
Sekian dari saya, salam hangat dari penulis.
.
- Lee -
Bab Tambahan:
Sementara itu di sebuah lorong spesifik di bawah sebuah bangunan yang berbentuk layaknya istana namun lebih sederhana layaknya puri kastil.
"B—Bagaimana dengan keadaan di atas?"
"Ampun paduka ratu, pasukan musuh masih mengepung kita namun seluruh rakyat sudah berhasil mengungsi ke dalam hutan."
"Baiklah, itu masih merupakan kabar baik. Cepat segera perintahkan panglima untuk menarik mundur pasukan istana dan segera menyelamatkan nyawa mereka hingga perintah lebih lanjut."
"Ampun paduka ratu.."
"Hmm? Ada apa kepala istana?"
"Sebenarnya, panglima istana baru saja dikalahkan beserta para sisa pasukan kerajaan lainnya. Hanya tinggal rombongan kita saja yang bisa menyelamatkan diri sekarang."
"Apa! Kalau begitu kita harus cepat bergegas meninggalkan lorong ini menuju tempat bunker selanjutnya!"
Rombongan kerajaan mini yang terdiri dari sang ratu dan para pengawalnya yang merupakan penghuni asli hutan itu kemudian melarikan diri dari tempat itu.
Sebuah perang sipil dan pemberontakan telah pecah melanda sebuah kerajaan di tengah hutan itu ketika bencana dari Shadow Master sedang melanda dunia.
.
Di sebuah tempat lainnya yang hanya diketahui sedikit orang.
Erangan suara dari seorang gadis terdengar samar-samar menggaung di ruangan itu namun suaranya hampir tidak terdengar karena berada di dalam sebuah peti transparan tertutup. Di dalam peti itu penuh dengan cairan yang seluruh menutupi tubuhnya.
Gadis itu mengerang dengan posisi mata tertutup dan tubuh lesu, sepertinya dia masih belum menyadarkan diri.
Seorang sosok berdiri di depannya menatap peti transparan yang memperlihatkan kondisi gadis yang berdiri terbuju kaku dalam keadaan mata terlelap dan tanpa sehelai benang yang menutup tubuhnya.
Sebuah alat yang seperti kabel namun bukan kabel tertanam ke dalam kepalanya. Menembus bagian tertentu di dalam otaknya.
Sebuah alat seperti monitor memantau keadaan tubuh gadis itu dengan sangat intens. Sambil tersenyum oknum itu bergumam:
"Bagus, tinggal 60% lagi."
.
.
Disclaimer: Chapter 8 ini sudah pernah dipublikasikan di wattpad pada tanggal 11 Maret - 05 Mei 2017
