.
.
.
Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho
Warning : OOC, kata-kata membingungkan, alur gak jelas, bahasa campur aduk, dan segala kekurangan lainnya
4 hari kemudian...
Ai memandangi 3 buah obat yang dipegangnya dengan teliti. Dia sudah menghabiskan waktu 4 hari belakangan ini untuk membuat obat itu. Obat yang akan membuat Conan dan dirinya sendiri kembali ke wujud asli mereka. Ai menghela nafas sebentar dan melakukan pemanasan ringan pada kedua tangannya yang sudah terasa sangat lelah karena selalu digunakan untuk bekerja lembur membuat penawar itu.
'Akhirnya penawar permanen ini jadi juga.' Batin Ai lega.
Tentu Ai senang akan hal itu. Namun di sisi lain, ia menjadi sedikit risau. Entah kenapa Ai merasa belum siap mengabari Conan tentang keberhasilannya ini.
'Apa mungkin aku sudah terlanjur...'
Ai menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pemikirannya tersebut. Walaupun bimbang, Ai tetap memutuskan untuk menyampaikan kabar baik tersebut pada Conan.
~OOO~
Conan menuju ke rumah Professor untuk mengetahui kabar baik apa yang akan disampaikan oleh Ai. Sepulang sekolah tadi, Conan mendapat SMS dari Ai yang mengatakan kalau dirinya mempunyai kabar baik untuk Conan.
Sesampainya di rumah Professor...
"Yo, Haibara. Apa kabar baik yang ingin kau sampaikan ?" Tanya Conan.
"Menurutmu apa, Tuan Detektif ?" Ai balik tanya dengan nada sinis seperti biasa.
"Oi...oi. Kau ini selalu saja."
Ai hanya tersenyum samar mendengar jawaban Conan. Menggoda Conan seperti ini selalu memberikan kesenangan tersendiri bagi Ai.
Ai merogoh saku jas lab miliknya untuk mengambil sesuatu. Setelah itu, Ai langsung menyerahkan benda yang berada digenggamannya kepada Conan tanpa banyak bicara.
"Ini kan..."
"Itu penawar permanen APTX4869." Jelas Ai.
"Terima kasih, terima kasih ya, Haibara" ucap Conan secara spontan. Ia sangat senang karena setelah menunggu cukup lama, pada akhirnya dia bisa kembali ke wujud semula. Menjadi seorang Shinichi Kudo dan tentu saja kembali kepada sosok Ran Mouri yang telah menunggunya.
'Benarkah demikian ? Rasanya ada yang mengganjal,' pikir Conan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Ai. Gadis itu menundukkan kepalanya, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.
'Apa karena Haibara aku menjadi ragu ?'
Ai Haibara, sosok yang telah menemani Conan dalam setahun belakangan ini. Dari awal bertemu Haibara, Conan sudah dibuat bingung dengan sikap yang dimilikinya. Dingin, tegas, dan tidak peduli pada orang lain, begitulah kesan pertama Conan terhadap Ai. Namun seiring berjalannya waktu, Conan mulai mengenal lebih dalam sosok Ai. Ia sebenarnya memiliki sifat baik hati. Hanya saja, Ai enggan menunjukkannya kepada orang lain. Sikap dingin dan tegasnya hanyalah topeng untuk menyembunyikan kebaikan dan kesedihan yang dimilikinya.
Conan tersenyum sendiri mengingat bagaimana hubungannya dengan Ai selama ini. Pada akhirnya, ia menyadari maksud dari keraguannya tadi. Conan tidak ingin berpisah dari Ai.
"Hei Haibara, kau juga akan berubah , kan ?" Tanya Conan pada akhirnya.
"Maksudmu ?" Ai bingung dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Conan.
"Berubah ya berubah. Menjadi Shiho Miyano." Jelas Conan.
"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Ai yang terkesan ambigu.
"Jawaban macam apa itu ?!" Protes Conan.
"Apa itu menjadi masalah, Kudo ?" Tanya Ai.
"Tidak, itu tidak menjadi masalah. Hanya saja aku ingin kau juga berubah menjadi Shiho Miyano. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa kalau aku tidak akan sanggup berpisah denganmu." Ucap Conan jujur. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa bersikap seperti ini.
'Perasaan apa ini ? Kenapa aku seperti tidak rela kalau Haibara tetap menjadi Ai Haibara ? Apa mungkin aku menyukai Haibara ? Arggh...apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?' Pikir Conan frustasi.
Sementara itu, Ai masih terkejut dengan perkataan yang diucapkan Conan tadi. Ia mencoba menelusuri wajah Conan untuk melihat apakah ada tanda-tanda kebohongan dalam ucapannya. Namun Ai tidak menemukan tanda-tanda itu.
Dalam hati, ia tidak ingin terlalu berharap pada Conan. Tapi, pada akhirnya Ai tetap mengiyakan permintaan Conan.
"Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu itu, asalkan besok kau membelikan aku tas Fusae keluaran terbaru." Kata Ai disertai senyuman khasnya.
"Tentu. Tas itu akan berada pada genggamanmu besok." Ucap Conan.
"O ya kapan kita akan berpamitan dengan anak-anak Detective Boys ?" Tanya Ai.
"Besok. Jadi malam nanti, kau persiapkan barang-barang yang dibutuhkan." Jawab Conan.
"Baiklah, aku mengerti."
~OOO~
Malam harinya, Conan menghubungi orang tuanya (orang tua Shinichi maksudnya) yang kebetulan sudah pulang ke Jepang untuk meminta mereka membantunya melaksanakan rencana besok. Setelah selesai, Conan segera berkemas dan memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper. Ran yang melihat tindakan Conan menjadi heran.
"Apa yang kamu lakukan Conan ?" Tanya Ran.
"Aku sedang berkemas kak Ran. Besok orang tuaku akan menjemputku pulang." Jawab Conan dengan tidak enak hati begitu melihat ekspresi dari Ran yang cukup menyedihkan.
"Jadi kamu akan pergi ?" Tanya Ran sambil menahan tangis. Selama ini, Ran sudah menyayangi Conan dan menganggapnya seperti adik sendiri jadi wajar saja kalau Ran bersikap seperti itu.
'Bagus sekali, kau membuatnya menangis lagi,' rutuk Conan dalam hati.
"Aku minta maaf ya kak Ran kalau kesannya terlalu mendadak, soalnya aku juga baru dapat kabar dari orang tuaku tadi. Maaf juga, kalau selama tinggal di sini aku sering ngrepotin kak Ran dan Paman," ucap Conan.
"Nggak ngrepotin kok, Conan. Aku malah senang kamu ada di sini karena kamu selalu menghiburku jika aku sedih. Kamu juga selalu membuatku semangat menjalani hari-hariku. Untuk itu, aku sangat berterima kasih padamu." Kata Ran sambil memeluk Conan erat.
"Saat sampai di sana, jangan lupa menghubungiku ya." Lanjut Ran.
"Tentu. Kak Ran di sini juga jangan terlalu bersedih ya. Aku tidak ingin melihat kak Ran menangis lagi." Kata Conan sambil berusaha membersihkan sisa air mata yang tersisa di pipi Ran.
Dan malam itu, adalah perpisahan yang mengharukan untuk Conan dan Ran.
~OOO~
Pukul 08.30
Orang tua Conan menjemputnya dengan menggunakan mobil sedan warna putih. Sementara, Ran dan Paman Kogoro melepas kepergian Conan dengan ikhlas, seorang wanita berumur sekitar 30 tahunan turun dari mobil untuk mengucapkan terima kasih kepada Ran dan Kogoro yang telah merawat Conan dengan baik.
Setelah sesi pembicaraan yang singkat, wanita tersebut kembali masuk mobil dan diikuti oleh Conan. Lalu perlahan-lahan mobil itu pergi menjauh dari kantor detektif.
Pukul 08.45
Rencana kedua dari Conan dimulai. Conan dan orang tuanya menjemput Ai di rumah Professor Agasa. Di depan rumah professor, Ai dan anak-anak detective boys sudah berkumpul. Dilihat dari ekspresi anak-anak yang sedih, Conan tahu kalau Ai sudah memberitahu mereka tentang kepergiannya.
"Hai semuanya," sapa Conan pada anak-anak itu.
"Oh Conan, apa kau sudah mau pergi ?" Tanya Mitsuhiko.
"Iya. Aku sekalian mau jemput Haibara." Ucap Conan.
"Apa kita bisa bertemu lagi, Conan ?" Kata Ayumi.
"Entahlah, Ayumi. Aku juga tidak tahu." jawab Conan. Jawaban yang membuat Ayumi sedikit kecewa.
"Jangan lupakan kami, ya." pesan Genta pada Conan.
"Tentu, aku tidak akan pernah melupakan kalian." ucap Conan.
Setelah selesai berpamitan, Conan dan Ai masuk ke mobil yang segera membawa mereka pergi menjauh dari rumah Professor Agasa.
"Apa kita benar-benar tidak akan pernah bertemu lagi dengan mereka ya ?" Tanya Ayumi kepada Mitsuhiko dan Genta begitu mobil sedan yang membawa Conan dan Ai sudah tidak terlihat.
"Mungkin kita memang berpisah dengan mereka untuk saat ini dan tidak tahu kapan kita akan bertemu dengan mereka lagi. Tapi kita tidak perlu bersedih, karena perpisahan adalah hal yang biasa dalam hubungan persahabatan. Walaupun kita berpisah, asalkan kita mengingat kebaikan yang pernah dilakukan oleh sahabat kita, aku yakin hubungan persahabatan kita akan tetap terjaga." Hibur Mitsuhiko pada Ayumi.
Ayumi memandang Mitsuhiko dengan terpana, sedangkan Genta hanya tersenyum.
"Kata-kata yang bagus Mitsuhiko. Dapat darimana kau ?" tanya Genta.
"Eumm... Kata-kata itu aku ambil dari salah satu novel koleksi kakakku. Apa kalian mau melihatnya ?" Tawar Mitsuhiko.
"Ya, aku mau melihatnya. Karena aku penasaran dengan novel yang kau baca itu." Kata Genta.
"Baiklah. Ayumi juga ikut kan ?" Tanya Mitsuhiko.
"Iya. Aku juga ikut." Jawab Ayumi.
Mereka bertiga pun menuju rumah Mitsuhiko untuk membaca novel koleksi dari kakak Mitsuhiko dan hampir melupakan kesedihan yang dialami karena kepergian Conan dan Ai.
~OOO~
Sementara itu...
Conan dan Ai sedang mengobrol di dalam mobil.
"Apa kau tidak kasihan pada anak-anak itu ? Mereka sepertinya sangat sedih dengan kepergian kita." Kata Ai.
"Kau tidak perlu khawatir pada mereka. Kalaupun mereka sedih, itu wajar karena mereka masih anak-anak. Tapi aku yakin lambat laun, mereka pasti bisa menerima kepergian kita." Balas Conan.
"Mungkin kau benar..." Ucap Ai.
"Hubungan kalian sepertinya tambah akrab ya." celetuk Yusaku yang sedang menyetir mobil. Ia tadi menyamar sebagai ayah Conan.
"Betul itu. Sudah seperti sepasang kekasih," sahut Yukiko yang duduk di samping Yusaku.
"Ibu ini apa-apaan sih. Aku dan Haibara itu hanya teman." Ucap Conan sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedikit merona. Sementara Ai, hanya diam tidak mengucapkan apapun.
"Terserah kamu saja. Tapi asal kau tahu, wajahmu tidak bisa bohong," kata Yukiko. Conan tidak membalas ucapan ibunya ini dan hanya menatap sebal ke arahnya.
"Sebenarnya kita sekarang mau kemana ? Kok dari tadi tidak sampai-sampai juga ?" Tanya Ai untuk mengalihkan percakapan.
"Pertanyaan yang bagus, Ai-chan. Sekarang kita akan pergi ke mall." Jawab Yukiko.
~OOO~
Di mall
"Untuk apa kita ke sini, Bu?" Tanya Conan ketika ia, Yukiko, Yusaku, dan Ai sudah masuk ke area mall.
"Apa kau lupa Shin-chan ? Kamu kan harus berterima kasih pada Ai karena sudah bersusah payah membuat obat penawar itu untukmu. Kau sendiri yang bilang lewat telepon kemarin, katanya mau memberikan tas Fusae keluaran terbaru untuk Ai." Jelas Yukiko.
"O iya, aku lupa hehehe..." Ucap Conan sambil nyengir tanpa dosa.
"Dasar. Baiklah, Ai-chan ayo kita berbelanja. Kalian mau ikut atau menunggu di sini ?" Tanya Yukiko pada Conan dan Yusaku.
"Aku akan menunggu kalian di kafe sebelah sana." Kata Yusaku sambil menunjuk sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
"Aku juga ikut menunggu di sana," ujar Conan. Lebih baik ia ikut ayahnya daripada ikut ibunya dan Ai berbelanja. Conan tidak ingin diganggu lagi oleh 2 wanita yang hobi menggodanya itu.
~OOO~
Yukiko dan Ai sampai di sebuah toko fashion yang menjual berbagai macam tas branded. Mulai dari Fusae, Gucci, Prada, dan merk-merk lain yang Ai yakini harganya tentu tidaklah murah.
"Nah, Ai-chan, pilih tas yang kamu sukai ya." Ucap Yukiko.
"Apa benar tidak apa-apa Yukiko-nee ?" Tanya Ai. Ia sudah tahu dari Conan kalau ibunya yang satu ini paling tidak suka dipanggil dengan sebutan tante atau baa-san.
"Tidak apa-apa kok, tidak usah sungkan-sungkan." Kata Yukiko.
Akhirnya, Ai memutuskan untuk tetap memilih tas yang diinginkannya yaitu tas Fusae keluaran terbaru dan tidak memikirkan masalah biaya karena bagi keluarga Kudo, uang memang tidak menjadi masalah.
Setelah membelikan tas untuk Ai, Yukiko mengajaknya untuk berbelanja pakaian. Selagi memilih pakaian yang cocok, Yukiko mengajak Ai untuk mengobrol.
"Hei Ai-chan, sebagai ibu dari Shinichi, aku sangat berterima kasih padamu. Kamu telah merubah sikap dari anak itu." Ucap Yukiko.
"Maksudnya ?" Tanya Ai bingung.
"Semenjak Shinichi, yah... mengecil menjadi anak SD lagi, sikapnya mulai berubah. Dia mulai bisa peduli pada orang lain dan lebih peka terhadap keadaan orang di sekitarnya. Untuk itu, aku sangat berterima kasih padamu. Jika bukan karena obat darimu itu, mungkin sikap Shinichi tidak akan berubah. Tetap egois, tidak peka, dan menutup diri." Jelas Yukiko.
"Begitukah menurut Yukiko-nee ? Aku sendiri menganggap diriku ini tidak layak mendapatkan kebahagiaan setelah apa yang ku perbuat, terutama pada Kudo-kun. Aku telah membuatnya kehilangan masa remajanya yang penuh kebahagiaan dan aku juga yang telah membuatnya berpisah dengan orang yang sangat dicintainya." Ujar Ai.
"Itu tidak benar, Ai-chan. Setiap orang di dunia ini layak mendapatkan kebahagiaan, termasuk kamu sendiri. Walaupun mungkin, kamu telah melakukan kesalahan tapi kan kamu sudah berusah menebusnya. Buktinya kamu sudah bersusah payah membuat penawar itu. Jangan terlalu memandang rendah dirimu, Ai-chan." kata Yukiko.
Mendengar perkataan Yukiko, membuat hati Ai merasa lebih tenang. Selain itu, percakapannya dengan Yukiko membuat Ai merasakan hal yang sudah lama tidak rasakannya yaitu interaksi antara ibu dan anak.
'Jika saja, ibuku masih hidup apakah dia akan mengatakan hal yang menenangkan seperti itu, ya ?' Pikir Ai.
~OOO~
Di kafe...
"Mereka itu kemana, sih ? Lama sekali belanjanya." gerutu Conan.
"Sabar saja, namanya juga wanita." Sahut Yusaku.
Mereka berdua sudah menunggu di kafe ini hampir satu jam lebih jadi maklum kalau Conan sudah mulai kesal.
"Shinichi, apa aku boleh tanya sesuatu ?" Ucap Yusaku dengan mimik muka serius.
"Tanya apa, Yah ?" Kata Shinichi.
"Sebenarnya, bagaimana perasaanmu terhadap Haibara itu ? Aku sering melihat kau begitu akrab dan peduli padanya. Apa kau menyukai wanita itu ?" tanya Yusaku.
"Entahlah aku juga tidak tahu. Aku sering merasa bingung dengan perasaanku sendiri. Setiap aku berada dekat dengannya, entah kenapa aku merasa nyaman. Dan ketika aku melihatnya bersedih, aku selalu ingin menghiburnya. Apa itu yang dinamakan perasaan suka ?" Jawab Conan. Yusaku tersenyum penuh arti setelah mendengar jawaban Conan.
"Mungkin inilah saat yang tepat bagimu untuk mempelajari definisi perasaan suka yang sebenarnya." Ujar Yusaku.
"Apa maksud Ayah ? Apa menurut ayah perasaanku tadi membuktikan kalau aku suka pada Haibara ? Tapi itu tidak mungkin kan, aku sudah menyukai Ran sejak dulu. Jadi bagaimana mungkin aku menyukai 2 orang sekaligus ?" Tanya Conan.
"That's the point, Shinichi. Itu yang harus kamu cari tahu. Aku tidak ingin kamu nantinya menyesal karena memilih pilihan yang salah. Untuk itu, mulai sekarang belajarlah memahami perasaanmu sendiri," nasihat Yusaku.
Conan tidak membalas ucapan dari Yusaku namun diam-diam dia juga memikirkannya. Tidak lama berselang, 2 orang yang sudah ditunggu dari tadi, akhirnya datang.
"Maaf kami lama. Keasyikan belanja soalnya," kata Yukiko.
"Tidak apa-apa. Ayo pulang, sudah hampir waktunya makan siang." Ajak Yusaku.
~OOO~
Sesampainya di rumah keluarga Kudo
"O ya, di mana Subaru-san. Kok dia tidak ada?" tanya Conan begitu mereka berempat sudah masuk ke dalam rumah.
"Kemarin dia sudah pindah ke apartemen barunya. Ia juga mengucapkan terima kasih padamu karena telah mengizinkannya tinggal di sini untuk sementara waktu." jawab Yusaku. Conan hanya membalasnya dengan 'oh' singkat.
"Aku akan menyiapkan makanan untuk makan siang. Sementara menunggu, kalian bisa 'berubah' terlebih dahulu karena aku juga sudah tidak sabar melihat wajah remaja kalian," kata Yukiko kepada Conan dan Ai. Mereka berdua tidak membalas ucapan Yukiko dan langsung menuju kamar mandi. Kamar mandi di rumah ini ada 2 yaitu di lantai bawah dekat dapur dan di lantai 2 sebelah kanan dari kamar milik Shinichi. Conan memilih menggunakan kamar mandi sebelah bawah, sedangkan Ai memilih menggunakan kamar mandi yang ada di atas.
~OOO~
Sesampainya di kamar mandi, Conan menatap obat yang ada di genggamannya dengan seksama.
'Dengan obat ini, aku akan menjadi Shinichi Kudo kembali.' pikir Conan. Ia menelan obat tersebut dengan hati-hati. Setelah menelan obat itu, efek sakitnya mulai terasa. Conan merasakan nyeri yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Perlahan, Conan mulai merasakan pusing. Ia menutup mata untuk mengurangi rasa pusing yang mulai bertambah. Setelah rasa pusingnya hilang, barulah Conan membuka matanya. Penglihatannya agak sedikit kabur namun perlahan mulai terlihat jelas. Ia melihat ke arah cermin.
'Selamat datang kembali, Shinichi Kudo'
Shinichi lalu mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan sebelumnya dan segera menuju ke ruang makan. Yukiko, Yusaku, dan Shiho sudah duduk di kursi ruang makan sebelum Shinichi datang. Setelah Shinichi duduk, barulah acara makan siang itu dimulai. Di sela-sela waktu makan, Shinichi diam-diam melirik ke arah Shiho yang duduk disampingnya.
'Ternyata benar kata Ayah. Aku harus segera memahami perasaanku ini,' pikir Shinichi.
Shinichi baru tersadar dari ketika ponselnya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Ia segera membuka pesan itu dan mulai membacanya.
~OOO~
Pesan dari : Jodie Sensei
Hey, Cool Kid, aku ada kabar baik untukmu. FBI sudah berhasil memecahkan kode enkripsi dari data-data yang diserahkan Bourbon beberapa hari yang lalu. Besok kami akan mengadakan rapat gabungan dengan perwakilan CIA, PSB, dan Kepolisian untuk membahas mengenai strategi penyerangan ke markas besar Black Organization. Kau diundang datang ke rapat itu karena kemampuanmu cukup mumpuni dalam menyusun strategi.
Itu saja untuk hari ini, besok jangan lupa datang ya.
To be Continue
Author Note :
Update pertama di tahun 2017...
Sebelumnya aku ingin minta maaf kepada para pembaca karena chapter ini cukup berantakan dan mungkin kurang nge-feel (terutama bagian perpisahannya). Yah, itu karena akhir-akhir ini aku lagi kehilangan mood nulisku, apalagi setelah tragedi kartu SD kemarin. Btw, aku ingin mengucapkan terima kasih bagi yang udah review.
Emm, apa lagi ya ?
O ya, untuk chapter ke depannya aku ingin fokus lagi kepada kedua tokoh utama fic ini (Amuro dan Hidemi) karena sepertinya untuk beberapa chapter terakhir ini, aku terlalu sering menggunakan tokoh pendukung. Doakan saja semoga mood nulisku balik lagi.
Sekian, review please
