Elfjoy137 Present

KYUMIN FANFICTION

Bared To You

Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast

Rate : M

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan, ada beberapa tokoh OOC

DLDR

Please enjoy ^^

Remake Novel karya SYLVIA DAY 'Bared To You'.

Hak cipta terjemahan Indonesia : Gramedia

This is mature story. Don't Like? Just Don't Read !

P.M : All is Sungmin's POV

Ok. Let's check this out !

.

.

.

~JOYER~

.

.

.


.

BAB 11

.


Aku dengan cepat membuka situs lainnya dan menemukan foto yang sama dengan judul dan artikel yang serupa. Aku pun merasa cemas. Kalau satu ciuman saja bisa menjadi tajuk utama, bagaimana jika aku dan Kyuhyun bisa membuat hubungan kami berhasil?

Tanganku agak gemetar sementara aku menutup situs-situs itu.

Aku tidak suka dikenal orang banyak. Hal itu melindungiku dari masa laluku. Hal itu melindungi keluargaku dari aib, dan juga Kyuhyun. Aku bahkan tidak punya akun di jejaring sosial, jadi orang-orang yang tidak aktif dalam hidupku tidak bisa menemukanku.

Dinding tipis tak kasat mata antara aku dan pers hilang sudah.

Aku memikirkan reaksi Kyuhyun tentang kekacauan ini. Dan ibuku. Tidak lama lagi ibuku pasti akan meneleponku dan melebih-lebihkan—

"Sialan." Teringat bahwa ibuku tidak memiliki nomor ponselku yang baru, aku meraih telepon di meja dan menelepon kotak suara ponselku yang lain memastikan apakah ibuku berusaha menghubungiku. Aku mengernyit ketika mendengar kotak suaraku sudah penuh.

Aku menutup telepon dan meraih dompetku, lalu pergi makan siang, tahu bahwa Donghae akan membantu menyelesaikan masalahku.

Aku begitu kebingungan ketika aku tiba di lobi sampai aku bergegas keluar dari lift dengan satu pikiran, menemui Donghae. Ketika aku melihatnya, aku tidak memperhatikan orang lain sampai dengan mulus Kyuhyun mencegatku untuk menghalangi langkahku.

"Sungmin." Ia menunduk menatapku sambil mengerutkan kening. Ia menangkap sikuku dan membalikanku sedikit. Saat itulah aku melihat dua orang yeoja dan seorang namja yang menghalangi pandanganku darinya tadi.

Aku berhasil tersenyum kepada mereka. "Halo."

Kyuhyun memperkenalkanku kepada rekan-rekannya dengan siapa ia akan makan siang. Lalu ia permisi sebentar dan menarikku ke samping. "Ada apa? Kau terlihat cemas."

"Ada dimana-mana," bisikku. "Foto kita berdua."

Ia mengangguk. "Aku sudah melihatnya."

Aku mengerjap menatapnya, bingung melihat sikapnya yang tak acuh. "Kau tidak mempersalahkannya?"

"Kenapa harus mempersalahkannya? Untuk sekali ini, berita mereka benar."

Kecurigaan menggerogotiku. "Kau merencanakannya. Kau sengaja menyebarkan berita."

"Tidak sepenuhnya seperti itu," katanya halus. "Si fotografer kebetulan ada di sana. Aku hanya memberinya foto yang layak di cetak, dan aku memberitahu salah satu juru bicaraku untuk menyatakan dengan jelas siapa kau sebenarnya dan apa arti dirimu bagiku."

"Kenapa? Kenapa kau melakukannya?"

"Kau punya cara sendiri untuk mengatasi sifat cemburumu, dan aku punya caraku sendiri. Kita berdua sudah tidak boleh didekati oleh siapa-siapa lagi dan sekarang semua orang sudah mengetahuinya. Kenapa kau mempersalahkannya?"

"Aku mencemaskan reaksimu, tapi ada lagi….Ada hal-hal yang tidak kau ketahui dan aku—" aku menarik napas dalam-dalam dan gemetar. "Hubungan kita tidak bisa seperti ini, Kyuhyun. Kita tidak boleh menjadi berita umum. Aku tidak mau—Sialan. Aku hanya akan membuatmu malu."

"Kau tidak akan membuatku malu. Itu tidak mungkin." Ia menyapu sejumput rambutku dari wajahku. "Bisakah kita membicarakannya nanti? Kalau kau membutuhkanku—"

"Tidak, tidak apa-apa. Pergilah."

Donghae mendekat. "Semuanya baik-baik saja?"

"Hai, Donghae. Semua baik-baik saja." Kyuhyun meremas tanganku. "Nikmati makan siangmu dan jangan cemas."

Ia bisa berkata seperti itu karena ia tidak tahu apa-apa.

Dan aku tidak tahu apakah ia masih menginginkanku setelah ia tahu semuanya.

Donghae menatapku sementara Kyuhyun berjalan pergi. "Cemas tentang apa? Apa yang salah?"

"Semuanya." Aku mendesah. "Ayo, kita keluar dari sini, dan akan kuceritakan kepadamu saat makan siang."

.

.

.

"Well," gumam Donghae sambil menatap situs yang kukirim kepadanya dari smartphone-ku. "itu ciuman yang luar biasa."

Donghae menjejalkan ponselnya ke dalam saku. "Minggu lalu kau terus menolaknya karena dia hanya ingin tidur denganmu. Minggu ini ia mengumumkan bahwa ia sedang menjalin hubungan penuh komitmen dan penuh gairah denganmu, dan kau masih tidak senang. Aku mulai kasihan pada namja itu. Dia tidak bisa menang dengan usahanya."

Ucapan Donghae membuatku tersengat. "Para wartawan akan sibuk menggali, Donghae, dan merka akan menemukan 'kotoran'. Dan karena 'kotoran' ini bagus bagi mereka pasti mereka akan memberitakannya kemana-mana, dan itu akan membuat Kyuhyun malu."

"Baby girl," Donghae memegang tanganku. "Kangin sudah mengubur semua itu."

Kangin. Aku menegakkan tubuh. Aku sama sekali tidak memikirkan ayah tiriku. Ia sudah melihat bahwa bencana akan datang dan tetap menyembunyikannya, karena ia tahu apa yang akan terjadi pada ibuku apabila semua orang tahu. Tetapi…. "Aku harus berbicara dengan Kyuhyun tentang hal ini. Dia berhak diperingatkan."

Membayangkan diriku berbicara dengan Kyuhyun tentang hal itu membuatku tersiksa.

Donghae tahu jalan pikiranku. "Kalau kau berpikir dia akan mencampakkanmu dan kabur, kurasa kau salah. Dia menatapmu seolah-olah kau satu-satunya orang di dunia ini."

Aku duduk bersandar di kursi dan mencerna semua yang dikatakan Donghae. "Donghae, aku sangat menyayangimu."

"Aku juga, sweetheart. Mau tahu saranku? Terapi pasangan. Aku selalu berencana melakukannya setelah aku menemukan pasangan yang tepat untukku. Dan cobalah bersenang-senang dengannya. Kau harus merasa gembira, kalau tidak segalanya akan terasa terlalu menyakitkan dan terlalu melelahkan."

Aku mengulurkan tangan dan meremas tangannya. "Terima kasih."

"Untuk apa?" Donghae mengabaikan ucapan terima kasihku dengan kibasan anggun tangannya. "Mudah sekali menghancurkan hidup seseorang. Kau tahu aku takkan bisa melewati masa-masa sulit tanpa dirimu."

"Dan aku tidak perlu menghadapi masa-masa sulit itu lagi sekarang," cetusku, mengalihkan perhatianku padanya. "Terima kasih, Donghae."

.

.

.

Aku baru kembali ke meja kerjaku ketika aku memeriksa smarphone-ku dan menemukan pesan dari Kyuhyun uang memberitahuku bahwa dia bisa meluangkan waktu lima belas menit pada jam 14.45 nanti. Diam-diam aku menantikan satu setengah jam ke depan, setelah memutuskan untuk menerima saran Donghae dan bersenang-senang sedikit.

Aku mengirimkan SMS kepadanya sebelum aku berangkat, memberitahunya bahwa aku sedang dalam perjalanan.

Aku menemuka asistennya sedang menungguku di area penerimaan tamu ketika aku tiba di ruang tunggu Cho Industries. Ia membawaku ke bagian belakang setelah resepsionis membukakan pintu untukku.

Kyuhyun sedang menelepon ketika aku memasuki kantornya. Nada suaranya tajam dan tidak sabar sementara ia memberitahu orang diujung sana bahwa mereka seharusnya bisa melakukan tugas mereka tanpa perlu diawasi olehnya secara langsung.

Ia mengacungkan satu jari ke arahku untuk memintaku menunggu sebentar. Aku menjawab dengan meniup balon dari permen karet yang sedang kukunyah dan meletuskannya dengan keras.

Alis Kyuhyun terangkat, dan ia menekan tombol-tombol untuk menutup pintu dan memburamkan dinding kaca.

Aku tersenyum lebar, berjalan menghampiri mejanya, dan melompat duduk di atas mejanya, mencengkeram pinggiran meja dan mengayun-ayunkan kakiku. Ia meletuskan balon berikutnya yang kutiup dengan jarinya. Aku mengerucutkan bibi dengan manis.

"Atur saja," katanya dengan nada pelan penuh kuasa kepada siapa pun yang ada di telepon. "Aku baru bisa pergi ke sana minggu depan, dan kalau kita menunggu, segalanya akan terhambat. Berhentilah bicara. Ada sesuatu yang sangat mendesak di mejaku dan kau menghalangiku untuk mengurusnya. Kujamin hal itu tidak memperbaiki pendapatku. Perbaiki apa yang harus diperbaiki dan laporkan padaku besok."

Kyuhyun menutup telepon dengan kekerasan yang ditahan. "Sungmin—"

Aku mengacungkan satu tangan untuk menyelanya dan membungkus permen karet ku dengan kertas post-it yang kuambil dari mejanya. "Sebelum kau mengomeliku, Tuan Cho, aku ingin berkata bahwa kita sudah impas. Seharusnya aku tidak pergi begitu saja di hotel kemarin, dan aku tahu reaksiku tidak baik menyangkut masalah juru bicaramu dan fotonya. Tapi … Walaupun aku sudah menjadi sekretaris yang nakal, kurasa aku harus diberi kesempatan lain untuk memperbaikinya."

Mata Kyuhyun menyipit sementara ia menatapku, menilai dan mempertimbangkan kembali situasi yang ada. "Apakah aku meminta pendapatmu tentang tindakan yang pantas, Nona Lee?"

Aku menggeleng dan menatapnya dari balik bulu mataku. Aku bisa melihat rasa frustasinya karena hubungan telepon tadi memudar, digantikan oleh minat dan gairahnya yang semakin besar.

Aku melompat turun dari meja, menghampirinya, dan membelai dasinya yang rapi dengan dua tangan. "Tidak bisakah kita memikirkan sesuatu? Aku memiliki banyak keahlian yang berguna."

Ia menangkup pinggulku. "Itulah salah satu alasan kenapa kaulah satu-satunya yang kuinginkan untuk posisi ini."

Kehangatan menjalari tubuhku mendengar kata-katanya. Aku menangkup kejantanannya dari balik celana panjangnya dengan berani. "Mungkin aku harus melamar kembali? Aku bisa mendemonstrasikan beberapa caraunik untuk bisa membantumu."

Tubuh Kyuhyun mengeras dengan cepat. "Sangat kreatif, Nona Lee. Tapi aku harus rapat lagi dalam waktu sepuluh menit. Aku juga tidak terbiasa mengambil kesempatan-kesempatan yang bisa memperbaiki pekerjaan di kantorku."

Aku melepaskan kancing celana panjangnya dan menurunkan ritsleting. Dengan bibir menempel di rahangnya, aku berbisik, "Kalau kau pikir ada tempat dimana aku tidak ingin membuatmu mencapai klimaks, kau harus memikirkannya kembali."

"Sungmin," desahnya, matanya panas dan lembut. Ia menangkup leherku, ibu jarinya membelai rahangku. "Kau mengacaukanku. Apakah kau tahu itu? Apakah kau melakukannya dengan sengaja?"

Aku menyelipkan tangan ke balik celana dalamnya dan mencengkeram kejantanannya, menawarkan bibiku untuk dicium. Ia menurut, menguasai mulutku dengan keliaran yang membuat napasku tercekat.

"Aku menginginkanmu," geramnya.

Aku berlutut di lantai berkarpet, mendorong celananya ke bawah sehingga memberikan akses yang kubutuhkan.

Kyuhyun mengembuskan napas dengan kasar. "Sungmin, apa yang kau—"

Kyuhyun mengulurkan tangan ke belakang, tangannya mencengkeram pinggiran meja sampai buku-buku jarinya memutih. Aku menahannya dengan dua tangan dan mengisap kejantanannya dengan lembut. Kulitnya yang halus serta aromanya yang unik dan menggoda membuatku mengerang. Aku merasakan getaran menjalari sekujur tubuh Kyuhyun dan mendengar geraman serak di dadanya.

Kyuhyun menyentuh pipiku. "Jilat."

Merasa bergairah karena perintah itu, aku menggerakkan lidahku di bagian bawah tubuh Kyuhyun dan gemetar senang ketika Kyuhyun menghadiahiku dengan semburan precum nya. Sambil mencengkeram tubuh Kyuhyun dengan satu tangan, aku bergerak berirama, mengharapkan lebih.

Kuharap aku punya waktu untuk berlama-lama. Membuatnya gila…..

Kyuhyun mengeluarkan suara yang dipenuhi siksaan manis. "Ahh, Sungmin….mulutmu. Teruslah seperti itu…."

Aku begitu bergairah karena kenikmatannya sampai aku menggeliat-geliat. Tangannya menyusuri rambutku yang terikat, menarik-nariknya. Aku senang merasakan Kyuhyun memulai dengan lembut, lalu semakin kasar sementara gairah yang dirasakannya untukku semakin mengambil alih kendali dirinya.

Kepalaku bergerak naik-turun sementara aku menyenangkannya, mencengkeramnya dengan satu tangan sementara aku membelai puncaknya dengan mulutku.

Lututku terasa tidak nyaman, tetapi aku tidak peduli, mataku terpaku pada Kyuhyun sementara kepalanya ditengadahkan dan ia berusaha menarik napas.

"Sungmin, ahh. Kau membuatku kenikmatan." Ia menahan kepalaku dan mengambil alih. Mendesakkan pinggulnya. Mendesak mulutku.

"Ahh, Sungmin." Suara Kyuhyun hanya berupa seruan serak. Cengkeramannya dirambutku mengencang.

Aku menelan dengan susah payah. Tidak sadar karena kenikmatannya, Kyuhyun mendesak tubuhnya hingga kebelakang tenggorokanku, berdenyut di dalam mulutku. Sekujur tubuhnya gemetar sementara aku menerima semua yang diberikannya. Suara yang dikeluarkannya, pujian lirih dan tertahan adalah hadiah paling besar yang pernah kudengar.

Aku takjub melihat bahwa tubuhnya tidak benar-benar melemah bahkan setelah orgasme yang meledak-ledak. Ia masih mampu berhubungan seks denganku dengan liar dan ia sangat bersedia melakukannya, aku tahu itu. Tapi tidak ada waktu dan aku merasa senang karenanya.

"Aku harus pergi," gumamku sambil berdiri dan menempelkan bibirku ke bibirnya. "Kuharap sisa harimu luar biasa,juga makan malam bisnismu."

Aku hendak menjauh, tetapi ia menangkap pergelangan tanganku, matanya menatap jam yang tertera di teleponnya di atas meja. Aku melihat fotoku saat itu, diletakkan ditempat yang jelas dimana ia bisa melihatnya sepanjang hari.

"Sungmin…Tunggu."

Aku mengerutkan kening mendengar nada suaranya, yang terdengar cemas. Frustasi.

Dengan cepat ia memperbaiki penampilannya, meluruskan ujung kemejanya sehingga ia bisa mengancingkan celana panjangnya. Ada kesan manis ketika mengamatinya memperbaiki penampilan.

Ia menarikku mendekat dan menempelkan bibirnya ke alisku. Tangannya bergerak ke rambutku dan melepaskan ikatan rambutku yang berwarna biru. "Aku belum memuaskanmu."

"Tidak perlu." Aku menyukai rasa tangannya di kulit kepalaku. "Itu saja sudah luar biasa."

Kyuhyun terlalu sibuk memperbaiki ikatan rambutku, pipinya memerah karena orgasmenya. "Aku tahu kau menginginkan pertukaran yang setimpal," bantahnya serak. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi dan merasa seolah-olah aku memanfaatkanmu."

Kelembutan yang manis bercampur pahit menghujam diriku. Kyuhyun mendengarkanku. Ia peduli.

Aku menangkup wajahnya. "Kau memang memanfaatkanku, tapi dengan izinku, dan rasanya sangat seksi. Aku ingin memberikannya kepadamu, Kyuhyun. Ingat? Aku sudah memperingatkanmu. Aku ingin kau mengingat kenangan ini, tentang diriku."

Matanya melebar cemas. "Kenapa aku butuh kenangan padahal aku memilikimu? Sungmin, kalau ini tentang fotonya—"

"Diamlah dan nikmati saja." Kami tidak punya waktu membahas foto itu sekarang, dan aku juga tidak ingin membahasnya. Hal itu hanya akan merusak segalanya. "Kalau kita punya waktu satu jam, aku tetap tidak akan membiarkanmu memuaskanku. Aku tidak berusaha mengalahkanmu, ace. Dan jujur saja, kau adalah namja pertama yang membuatku mengatakannya. Sekarang, aku harus pergi. Kau harus pergi."

Aku hendak menjauh lagi, tetapi ia menangkapku kembali.

Suara Yesung—asisten Kyuhyun—terdengar dari pengeras suara. 'Mianhamnida, Tuan Cho. Janji jam tiga Anda sudah datang.'

"Tidak apa-apa, Kyuhyun." Aku menenangkannya. "Kau akan datang malam ini, bukan?"

"Tidak ada yang bisa mencegatku datang."

Aku berjinjit dan mencium pipinya. "Kita akan bicara nanti."

.

.

.

Aku pulang ke apartemenku diantar oleh sopir Kyuhyun, Shindong.

Ketika sampai, aku merogoh dompet, mengeluarkan kunci, dan mencondongkan tubuh untuk meletakkannya di kursi penumpang depan. "Bisakah kau menyerahkannya kepada Kyuhyun? Dia akan mampir setelah acaranya malam ini, dan kalau sudah terlalu malam, aku mungkin tidak mendengar dia mengetuk pintu."

"Tentu saja."

Aku pun memasuki apartemen setelah sebelumnya memberitahukan kepada resepsionis bahwa Kyuhyun akan mampir nanti, dan langsung naik ke apartemenku. Alis Donghae yang terangkat ketika ia membuka pintu untukku membuatku tertawa.

"Kyuhyun akan mampir nanti," aku menjelaskan, "tapi aku merasa sangat lelah sekarang jadi aku mungkin akan tidur lebih awal. Jadi aku memberikan kunciku kepadanya supaya dia bisa masuk. Apakah kau sudah memesan makanan?"

"Sudah. Dan aku sudah memasukkan beberapa botol wine ke kulkas anggur."

"Kau memang yang terbaik." Aku mendorong tasku kearahnya.

Aku mandi dan menelepon ibuku dari telepon kamarku, mengernyit mendengar omelannya.

.

.

.

Aku terbangun dalam gelap dan mencium aroma kulit Kyuhyun. Kyuhyun menjulang diatas tubuhku, sosoknya hanya berupa bayangan yang bergerak, kulitnya yang telanjang terasa dingin ketika disentuh. Mulutnya menempel di mulutku,menciumku dengan pelan dan dalam.

Tanganku membelai punggungnya yang berotot, kakiku terbuka sehingga ia bisa menempatkan dirinya dengan nyaman diantara kakiku.

"Well, halo juga," kataku terengah ketika ia membiarkanku bernapas.

"Lain kali, kau harus ikut denganku," gumamnya dengan suara seksi dan panas itu sambil menggigit-gigit leherku.

"Benarkah?" godaku.

Ia mengulurkan tangan kebawah dan menangkup bokongku, meremas dan mengangkatku untuk menyambut desakan pinggulnya. "Ya. Aku merindukanmu, Sungmin."

Aku menyisirkan tanganku ke rambutnya, berharap aku bisa melihatnya. "Kau belum mengenalku cukup lama untuk merindukanku."

"Kau tidak tahu apa-apa," Kyuhyun mendengus, meluncur ke bawah, dan menyurukkan wajah ke antara payudaraku.

Aku terkesiap ketika mulutnya mengulum puncak payudaraku dari balik bahan satin gaun tidurku. Ia bergerak ke payudaraku yang lain, tangannya mengangkat pinggiran gaunku. Aku melengkungkan punggung ke arahnya, lidahnya menyelinap ke dalam pusarku dan semakin turun.

"Dan kau juga merindukanku," dengkurnya dengan nada jantan dan puas, ujung jari tengahnya membelai kemaluanku. "Kau bergairah untukku."

Ia menarik kakiku ke bahunya dan menjilat vaginaku, jilatan lembut, menggoda dan panas dikulitku yang sensitif. Tanganku mencengkeram seprai, dadaku naik turun sementara ia membelaiku dengan ujung lidahnya. Aku memekik, pinggulku bergerak-gerak gelisah karena tersiksa, otot-ototku menegang karena ingin mencapai kepuasan.

Belaian ringan itu membuatku gila, hanya membuatku menggeliat-geliat namun tidak mencapai pelepasan. "Kyuhyun, please."

"Belum."

Ia menyoksaku, membujuk tubuhku ke tepi orgasme,lalu membiarkanku meluncur turun kembali. Berulang kali. Sampai keringat menyelimuti kulitku dan jantungku terasa akan meledak. Lidahnya tetap tekun dan liar, dengan cerdas memusatkan perhatian padaku sampai satu belaian bisa membuatku mencapai kepuasan, lalu bergerak ke bawah untuk mendesakkan lidahnya ke dalam tubuhku. Desakan lembut dan dangkal itu luar biasa, belaian di kulit yang sensitif itu membuatku cukup putus asa untuk memohon tanpa malu.

"Please, Kyuhyun… biarkan aku mencapai puncak… Aku harus mencapai puncak, please."

"Sstt, Angel… Tenanglah, aku akan mengurusmu."

Ia mengakhiriku dengan kelembutan yang membuat orgasme menerjang diriku seperti gelombang besar, semakin besar, semakin tinggi, dan menerjang tubuhku dengan serbuan kenikmatan.

Ia menautkan jemarinya dengan jemariku ketika ia kembali menghampiriku, menahan lenganku. Kejantanannya mendesak masuk dengan nikmat. Aku mengerang, bergerak untuk menyesuaikan diri dengan desakannya.

Napas Kyuhyun terasa keras dan lembap di leherku, tubuhnya yang besar gemetar sementara ia meluncur dengan hati-hati di dalam tubuhku. "Kau begitu lembut dan hangat. Milikku, Sungmin. Kau adalah milikku."

Aku melingkarkan kakiku di pinggulnya, mendorong kejantanannya masuk lebih dalam. Dengan tangan kami bertautan, ia mencium mulutku dan mulai bergerak, meluncur dengan ahli iramanya tepat dan tegas, namun mulus dan ringan.

Ia mnegucapkan pujian dan dukungan panas, berkata betapa cantiknya diriku… betapa sempurnanya diriku baginya… bahwa ia tidak akan pernah berhenti… tidak bisa berhenti. Aku mencapai puncak sambil berteriak keras dan lega, tubuhku gemetar karena kenikmatan, dan ia tetap ada di sana bersamaku. Iramanya semakin cepat ketika ia mendesak beberapa kali lagi, lalu ia mencapai klimaks sambil mendesahkan namaku, menyemburkan benihnya ke dalam tubuhku.

Aku berbaring lemas di atas ranjang, berkeringat, lemas, dan puas.

"Aku belum selesai," bisiknya gelap, memperbaiki posisi lututnya untuk menambah kekuatan desakannya menyatakan kepemilikan—tubuhmu ada untuk melayaniku.

Aku menggigit bibir, menahan suara penuh kenikmatan yang mungkin akan memecahkan keheningan malam… dan menyatakan emosi mendalam dan menakutkan yang mulai kurasakan untuk Cho Kyuhyun.


.

.

To Be Continued

.

.


Annyeong ^^

Ini dia lanjutannya, langsung baca aja ya .. gomawo ^^

Langsung NEXT CHAP ^^