Tidak lama kemudian, setelah kelahiran Jihoon, Yoongi dan Jimin menikah pada pertengahan bulan April. Saat itu Jihoon baru saja berusia lima bulan, oleh karenanya Yoongi dan Jimin memutuskan untuk mengadakan pesta pernikahan sceara kecil-kecilan. Mereka hanya mengundang beberapa orang terdekat dan juga menyewa fotografer pribadi, yang tak lain dan tak bukan adalah Jungkook. Jungkook menawarkan diri untuk menjadi fotografer pernikahan mereka dengan imbalan dessert dan makanan utama harus disediakan khusus untuknya.

Yoongi tidak akan bohong jika ia bilang sewaktu hari pernikahannya berlangsung, matanya hanya bisa tertuju pada satu sosok, yaitu Jimin. Omega itu memilih untuk tidak mengenakan pakaian tradisional Omega pada umumnya, dan justru memilih setelan jas resmi berwarna putih dengan kerah dan manset berenda. Di matanya saat itu, Jimin menjadi Omega paling cantik yang pernah dilihatnya. Ia langsung melingkarkan tangannya ke pinggul Omega itu dan menciumnya dengan penuh gairah. Jimin menghentikannya, takut Yoongi akan merusak make up yang ia kenakan, tapi Yoongi tidak peduli karena Jimin hari itu akan menjadi miliknya untuk selamanya.

Selama prosesi pernikahan mereka berlangsung, Jihoon terbangun di dalam buaian, di antara dua pasang kakek neneknya. Ia tidak menangis, tapi seperti terlihat penasaran dan tertarik untuk melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Upacara pernikahan kedua orang tuanya berakhir dengan Yoongi menggendong Jimin dengan gaya pengantin dan melumat bibir Omega itu hingga bibirnya yang biasanya berwarna merah ranum—semakin memerah karena bekas ciuman yang ia tinggalkan.

Hari pernikahan mereka berlangsung hingga malam hari. Jihoon yang pada awalnya tampak kalem di gendongan sang kakek, akhirnya menyerah dan beberapa kali menangis—merengek-rengek karena kelelahan di hari pernikahan orang tuanya. Untung saja orang tua Jimin bersedia menunggui cucu mereka di dalam hotel yang sengaja disiapkan untuk kedua mempelai. Semua tamu undangan yang berjumlah tidak lebih dari 50 orang menari dan makan sepuas-puasnya, mengisi hari itu dengan kegembiraan menyambut sepasang pengantin baru.

Setelah resepsi pernikahan mereka benar-benar usai, Yoongi membawa tubuh Jimin ke kamar hotel mereka. Alpha itu sudah tidak sabaran untuk menyicipi tubuh istri barunya, sampai kemudian—lagi-lagi—Jimin menghentikannya.

"Tunggu, Hyung—"

"Yeobo maksudmu?"

Jimin memerah, "Tidak, tunggu dulu, aku serius! Aku belum mengambil Jihoon dari kedua orangtuaku! Aku juga belum memberinya ASI hari ini—"

Yoongi mendiamkan istrinya dengan lumatan di bibir Omega itu, "Ah, diamlah. Orang tuamu sudah membawa persediaan ASI yang cukup di botol. Toh selama mereka belum menghubungi kita, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Tapi—"

"Kita lupakan Jihoon untuk malam ini saja, oke? Setelah itu kita menjemput Jihoon dari kamar orang tuamu."

Tidak sampai separuh dari malam pertama mereka, Jimin sudah mulai mengeluh, mencemaskan keadaan putra mereka. Yoongi mendongkol dalam hati, merasa diduakan oleh istrinya dengan anaknya sendiri. Tetapi ia tidak menerangkan perasaan cemburunya pada Jimin, dan menyalurkan kekesalannya dengan menggerutu sepanjang perjalanan mereka ke kamar orang tua Jimin.

Kedongkolan Yoongi sirna sewaktu ia melihat putra mereka, di dalam gendongan sang nenek, memekik pelan karena mulai merindukan sang ibu. Sebagai seorang Alpha yang protektif terhadap istri dan juga anaknya, Yoongi langsung menawarkan diri untuk menggendong putranya dengan kedua tangannya sendiri. Tetap saja setelah dua bulan menyaksikan kelahiran Jihoon, Yoongi tidak bosan melihat wajah putranya yang mencerminkan fitur wajahnya menatap balik wajah sang ayah dengan dua bola mata yang berbentuk almond. Jihoon langsung berhenti menangis sewaktu ia mengenali wajah ayahnya, mendekut pelan dan menyumpal mulutnya dengan satu kepal tangannya.

Yoongi tahu ia tidak akan pernah bisa marah dengan putranya, tidak peduli jika Jimin justru lebih memperhatikan putranya ketimbang suaminya sendiri.

Jihoon memang menggemaskan.

Malam itu ia memang tidak melewatkan malam pertama bersama Jimin dengan bersenggama seperti yang biasa pengantin baru lakukan, tapi mengingat bahwa di antara tubuhnya dan tubuh Jimin ada seorang bayi mungil mendengkur pelan di dalam buaian, Yoongi tetap memberi penilaian bahwa hari itu adalah hari terindah kedua setelah kelahiran putranya.


A GENIUS IN LOVE

Epilogue

Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!

Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, typos (mungkin akan banyak di chapter ini), karakter boyband lainnya.

Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, KookV


10 November 2028, Seoul

06.01 a.m

Pagi hari itu keadaan mulai dingin karena musim dingin baru saja akan tiba.

Jihoon membuka matanya perlahan-lahan seperti yang biasa ia lakukan di pagi hari—bangun lebih cepat dari alarm ponselnya berbunyi, lebih cepat dari ibunya mendatangi kamarnya dan menyuruhnya untuk pergi mandi dan sarapan.

Saat ia merasakan tubuhnya menggigil karena udara pagi yang memang lebih dingin daripada biasanya, ia menelungkup ke atas tempat tidurnya selama beberapa saat, menghitung sampai sepuluh, dan akhirnya memutuskan untuk benar-benar bangun dari tidurnya. Ia berjalan dengan langkah malas ke kamar mandi, mencuci muka, menggosok gigi, dan menyalakan air hangat dari shower.

Selepas keluar dari kamar mandi dan berpakaian, Jihoon tidak melewatkan sedikitpun penanggalan di kalender yang sengaja ditampilkan di layar ipadnya. Ia menarik napas jengkel, mengingat dalam waktu seminggu lagi heat keduanya akan tiba.

Setelah memastikan semua barang-barang bawaannya telah masuk ke dalam tas, ia memanggul tasnya dan pergi menuruni tangga dari balok kayu menuju ruangan makan. Omega yang masih berusia 16 tahun tersebut dapat mencium aroma masakan ibunya—bahkan di pagi hari pun ibunya selalu siap memasakkan sarapan dengan menu sempurna.

Ibunya selalu punya ekspresi yang menenangkan. Wajahnya tidak pernah lepas dari seulas senyum dan kedua pipinya selalu merona merah, meski hari ini wajahnya tampak sedikit pucat dari biasanya. Ditambah lagi, Jihoon sedikit menaruh perasaan kecewa karena ia sama sekali tidak mewarisi bentuk tubuh ibunya—yang sudah sejak lama terbentuk karena latihan rutin di studio tari bersama Hoseok, seorang koreografer dan rapper terkenal yang kini menjadi teman baik dan kolega dari sang ibu.

Hal lain yang sangat disayangkan oleh Jihoon adalah, meski kedua orang tuanya sama-sama tidak bertubuh tinggi seperti Namjoon—kolega sang ayah yang juga seorang CEO kaya dan produser musik ternama di Korea—Jihoon tetap tidak pernah bisa mencapai tinggi tubuh kedua orang tuanya. Pertumbuhannya seperti berhenti tepat di ulang tahunnya yang ke 12 tahun. Pernah sekali ayahnya bergurau alasan ia tidak pernah bisa tumbuh tinggi adalah karena ia hanya mewarisi gen kurcaci dari kedua orang tuanya, tapi Jihoon mengerti betul kemungkinan lain pertumbuhannya tersendat adalah karena ia lahir secara prematur. Bahkan setelah bertahun-tahun pun, Jihoon yang merasa sedikit kesepian karena merupakan anak tunggal, tidak pernah berani mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang kakak. Untung saja, sekarang ini, ia sudah melupakan keinginannya untuk memiliki seorang adik.

Dan sekarang ini, di sinilah Jihoon, tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari sang ibu, Jimin, yang sedang meletakkan satu piring penuh berisi roti bakar, telur, bacon, dan satu mangkuk berisi sup rumput laut.

Pagi itu, hanya ada satu orang yang tidak terlihat oleh matanya.

"Di mana Appa? Dia tidak pulang?"

"Ah, dia ada deadline yang harus diselesaikan dan menginap di studio."

Jihoon hanya diam dan menyantap sarapannya. Biasanya, beberapa bulan sekali sang ayah tidak akan menyempatkan diri untuk pulang karena menyelesaikan produksi lagu atau kolaborasi dengan artis-artis lainnya. Terkadang pada pagi-pagi tersebut Jihoon merindukan sang ayah. Min Yoongi alias Suga—nama panggung sang ayah, adalah tipe yang tampak dingin dan tidak bersahabat di luar; terutama jika sedang diwawancarai oleh studio TV manapun. Tetapi sesungguhnya, ayahnya itu adalah pribadi yang cerewet—selalu punya hal-hal menyenangkan untuk diceritakan. Apalagi jika soal musik yang ditekuninya. Alpha itu juga selalu punya pengetahuan yang sama sekali tidak terjamah oleh Jihoon, yang selalu membuatnya merasa tertarik untuk mendengarkan cerita sang ayah.

Meski terkadang sang ayah membuatnya kesal karena sering membuat lelucon di saat-saat yang tidak tepat dan sedikit norak dalam beberapa hal, Jihoon selalu mengagumi sang ayah. Berkat sang ayahlah Jihoon menjadi tertarik untuk menekuni bidang musik ketimbang mendalami bakat tari yang diturunkan oleh ibunya.

Karena Yoongi tidak ada pada pagi hari itu (setiap pagi Jihoon selalu hampir terlambat ke sekolah untuk mendengarkan celotehan sang ayah), Jihoon menghabiskan sarapannya lebih cepat dari biasanya. Begitu menyantap habis sarapannya, ia turun dari kursi dan memberi ciuman pada sang ibu.

Begitu sampai di stasiun dan menunggu subway yang akan ia tumpangi tiba, Jihoon sudah bisa melihat foto-foto sang ayah bertebaran di mana-mana. Entah foto sang Alpha yang sedang mempromosikan gadget, berbagai macam produk rumahan, dan lain sebagainya. Bahkan ia bisa melihat dua tiga orang calon penumpang sedang asyik memilih lagu di aplikasi musik—menampakkan nama Min Suga. Jihoon berkerut tidak nyaman begitu ia menemukan orang-orang begitu menggemari musik-musik sang ayah.

Seorang Beta—berusia sepantaran sepertinya, tidak sengaja menumbuk bahu Jihoon begitu ada kerumunan penumpang berebut keluar dari dalam kereta.

"Oh, aku tidak senga—hei, wajahmu seperti Min Suga!" seru sang Beta pada Jihoon dengan wajah berbinar-binar sambil menunjuk ke mukanya secara terang-terangan.

Jihoon menyumpah pelan saat ia melihat orang-orang melempar pandangan ke arahnya, "Uh—hanya kebetulan. Semua orang bilang aku mirip dengannya. Aku berterima kasih atas pujiannya," ia langsung menyahut secepatnya, berusaha menghindari tatapan mata orang-orang yang penasaran.

Saat keretanya tiba, Jihoon buru-buru menyerobot agar ia tidak perlu berbicara lama-lama dengan Beta yang tampaknya begitu tertarik untuk mengobrol dengannya.

Seperti itulah dampak yang diberikan oleh nama Min Suga alias Min Yoongi—sang rapper dan produser terkenal di Korea Selatan setelah berhasil meluncurkan namanya di pasaran internasional. Jihoon juga ingat betul sebagaimana pun ayahnya berusaha memprivasikan kehidupan pribadinya, tetap saja ada orang-orang tak dikenal yang berhasil menyabotase sedikit informasi tentang keluarga mereka. Setiap kali ada orang yang baru berkenalan dengannya, pasti Jihoon memberikan nama keluarga sang ibu. Lagipula, siapa di Korea Selatan yang memiliki nama Min Jihoon selain anak dari Min Suga sendiri?

Sambil memutar musik dari ponselnya (tidak, tidak, dia bukanlah tipe anak muda yang ikut mendengarkan musik sang ayah kecuali jika ia benar-benar menyukai musik yang diproduseri oleh sang ayah) dan mendengarkannya melalui earphones, Jihoon berusaha mencari tempat untuk berdiri seaman mungkin di dalam kereta. Ia tahu betul, bagaimana setiap harinya di kereta selalu ada kasus pelecehan seksual terhadap Omega. Biasanya, kasus pelecehan yang terjadi pada transportasi publik ini hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas—yang menganggap bahwa sudah pasti aroma menarik yang dikuarkan oleh Omega akan selalu menarik perhatian Alpha atau Beta pria manapun untuk melakukan pelecehan seksual.

Untung saja, Yoongi adalah seorang Alpha yang selalu membuka matanya terhadap hal-hal yang menyangkut hak-hak Omega. Entah apa yang pernah terjadi di masa mudanya, sehingga Alpha itu selalu uring-uringan setiap kali ia menemukan kasus pelecehan terhadap Omega di berita TV. Bahkan sejak kecil, Jihoon sudah diajarkan untuk membela dirinya dari para Alpha yang hendak mendekatinya dan berbuat macam-macam (pernah sekali Jihoon meragukan hal ini sebagai sifat ayahnya yang terlalu protektif padanya).

Sampai kemudian matanya menangkap seorang Alpha tua—bertubuh gempal dan punya rupa yang benar-benar terlihat mesum—sibuk mengusap bokong seorang Omega dari belakang. Memang saat itu kereta ramai oleh penumpang, tapi Jihoon dengan jelas dapat melihat Alpha itu memasukkan tangannya ke dalam celana si korban. Jihoon melihat ke sekitarnya, melihat beberapa orang tampak berpura-pura melempar pandangn mereka ke arah lain—meski jelas-jelas mereka juga melihat kejadian tersebut dengan tampang cemas.

Merasa kesal, Jihoon menjulurkan sedikit tubuhnya dan mengambil foto kejadian—memastikan kalau ia juga mengambil wajah si Alpha pelaku pelecehan seksual. Begitu turun, Jihoon segera bergegas ke petugas keamanan yang sedang berjaga, menunjukkan foto tersebut. Dengan cepat, sang petugas keamanan menangkap sang Alpha—yang baru saja turun dari kereta dengan wajah merah dan berkeringat seperti baru saja melepaskan birahinya—atas tuduh pelecehan seksual. Jihoon memberikan bukti foto tersebut pada salah satu petugas keamanan lainnya dan mengatakan, "Aku harus berangkat ke sekolah sekarang. Dan jika kalian perlu bukti, bisakah aku hanya mengirimkan foto ini?"

Beta yang bertugas sebagai petugas keamanan tersebut hanya mengerjap kebingungan, "Kami tetap butuh saksi mata untuk menyeret orang ini ke pihak hukum."

Menghela napas kesal, Jihoon akhirnya terpaksa menunggu di dalam stasiun, melihat Alpha yang sedang diseret paksa oleh petugas keamanan memakinya, "Ini pasti fitnah! Aku sama sekali tidak melakukan pelecehan! Para Omega ini hanya pura-pura menjadi korban!"

Jihoon tidak banyak berkata-kata dan pada akhirnya ia terpaksa untuk ikut ke kantor polisi terdekat, dimintai keterangan. Sang korban, yang tampaknya adalah anak SMA—dari bentuk seragam musim dingin yang ia kenakan, menghampiri Jihoon dengan wajah merah entah karena rasa malu atau karena terharu telah ditolong oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal.

"Untung saja kau mengambil foto, kalau tidak, mungkin aku—" Omega berwajah cantik itu mulai menangis dan Jihoon hampir kelabakan harus berbuat apa.

"Tidak masalah. Mungkin lain kali kau harus lebih berani untuk melakukan perlawanan," hanya itu yang sanggup diberikan oleh Jihoon untuk menenangkan si korban.

Omega tersebut menghapus airmatanya dan menjabat tangan Jihoon, "Aku benar-benar berhutang budi padamu! Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?"

"Park Jihoon," jawab Jihoon dengan cepat, berharap ia bisa segera berangkat ke sekolah dan tidak tertinggal ujian matematika hari ini.

"Namaku Yoon Jeonghan, mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi? Aku harus memberimu hadiah untuk hari ini."

"Tidak perlu repot-repot," Jihoon menolak dengan sehalus mungkin, memaksakan diri untuk tersenyum.

"Ngomong-ngomong, wajahmu—seperti mengingatkanku pada seseorang. Kau tahu si produser musik dan rapper terkenal Min Suga, kan? Kau mirip dengannya!" ucap Jeonghan, masih belum bisa melepaskan tangan Jihoon.

Jihoon kembali tersenyum dan berkata, "Tentu saja aku tahu. Dan terimakasih sudah mengatakan aku mirip dengannya," ia bergegas pergi dari kantor polisi dengan wajah berubah keruh sesudahnya.

Ia benar-benar merasa jengkel jika orang-orang sekitarnya mulai menyebut nama ayahnya tepat di depan mukanya—karena kesaman pada fitur wajah dan ekspresi mereka. Bagaimana pun juga, dia adalah Min Jihoon, dan ia tidak perlu ratusan kali disamakan dengan sang ayah.

Kemudian perhatiannya tersita sebuah pengumuman yang terletak di luar stasiun. Ia menghentikan langkah dan membaca pengumuman tersebut sekilas, sebelum akhirnya menampakkan raut tertarik dengan apa yang dibacanya.

"Sepertinya aku bisa mencoba mengikuti ini."


Jihoon bersyukur gurunya masih mengizinkannya masuk untuk mengikuti ujian. Setelah bertahun-tahun bersekolah dengan posisi teratas, Jihoon mendapatkan penghargaan yang setimpal di sekolahnya. Meski ia adalah seorang Omega, Jihoon menjadi murid yang paling difavoritkan oleh guru-gurunya dan disegani oleh seisi sekolah. Mungkin hal itu juga merupakan pengaruh dari nama sang ayah, tapi setidaknya ia memiliki beberapa teman dekat yang sama sekali tidak mempermasalahkan identitas dirinya. Termasuk Minhyun dan Jisoo—anak-anak dari Namjoon, walau tidak terlalu dekat dengan mereka, tetapi ia merasa nyaman menghabiskan waktu bersama mereka (walau bisa jadi hal itu dikarenakan ketiga-tiganya adalah anak dari orang-orang berpengaruh di industri musik Korea Selatan).

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa terlambat datang ke sekolah?" tanya Wonwoo, salah satu teman yang bisa ia anggap cukup dekat begitu mereka menyelesaikan ujian. "Untung saja kau masih diperbolehkan masuk pada tiga puluh menit terakhir."

"Aku terlambat karena sibuk mengambil foto seorang Alpha yang sedang melakukan pelecehan seksual pada seorang Omega di kereta," ujar Jihoon sambil memasukkan kembali alat tulis yang ia gunakan. "Dan ternyata petugas keamanan tetap membutuhkan keterangan dariku untuk memberikan saksi."

Ekspresi Wonwoo berubah begitu mendengar jawaban Jihoon, "Wah! Yang benar saja! Kau melaporkan pelaku pelecehan seksual?"

"Mungkin kau bisa menurunkan sedikit suaramu? Aku tidak ingin orang jadi ikut bergabung dengan obrolan kita," gumam Jihoon dengan kedua tangan terkatup di atas dadanya. Terkadang ia merasakan, perhatian yang diberikan oleh teman-teman sekelasnya adalah palsu karena mereka tahu ia anak dari seorang produser musik terkenal. Dan ia tidak ingin teman-temannya menaruh perhatian padanya hanya karena melaporkan seorang pelaku pelecehan tadi pagi.

Wonwoo tersenyum, "Setidaknya orang-orang perlu tahu kalau kau adalah orang yang baik. Untuk apa merahasiakan sesuatu kebaikan yang telah kau perbuat?"

"Untuk tetap menjadi orang rendah hati," gusar Jihoon. Kemudian sudut matanya menangkap dua orang Alpha yang sedang berebut masuk ke dalam ruang kelas, membuatnya semakin mengerutkan wajahd engan tidak senang. "Sepertinya aku akan kedatangan tamu."

Wonwoo melihat ke arah yang dipandangi oleh Jihoon, "Hmm? Mereka itu—Choi Seungcheol dan Kwon Soonyoung?" senyumannya semakin mengembang di wajah Omega itu saat ia menyadari sesuatu, "Setidaknya kau beruntung, mungkin saja kau akan punya pacar sebelum kita naik ke tingkat tiga."

"Aku tidak butuh pacar, mau dia Alpha atau bukan," sungut Jihoon masih gusar.

Ia berpura-pura mengalihkan pandangannya dan melanjutkan pembicaraan dengan Wonwoo, sampai kemudian ia kembali mendapati dua orang Alpha tersebut kali ini menuju kursinya. Dua Alpha itu berbeda kelas dengannya, tapi Jihoon tahu sekali sejak ia pertama kali masuk sekolah, ia menarik perhatian banyak orang karena tahu dirinya adalah seorang Omega sekaligus putra dari Min Yoongi. Bahkan meski ia berkali-kali melakukan penolakan cinta terhadap para Alpha dan Beta yang berusaha mendekatinya, ia masih kelimpungan untuk menghindari mereka.

Jihoon tahu dirinya tidak semenarik teman-temannya yang lain ataupun rupa sang ibu, tapi ia punya aroma tubuh yang unik (seperti perpaduan cherry dan vanila, kalau ibunya bilang) yang selalu membuat orang-orang meliriknya jika ia lupa menyemprotkan cairan penyembunyi aroma tubuh di pagi hari.

Dan entah kenapa, masih saja ada orang-orang yang berusaha mendekatinya.

Omega mungil itu berusaha untuk tidak menyentakkan kepalanya saat ia semakin mendengar suara langkah kaki mereka mendekat.

Perpaduan aroma dua orang Alpha semakin kental di hidungnya.

"Oh, hei, Jihoon," kata salah seorang dari mereka—Soonyoung—pada Jihoon dengan sikap malu-malu. "Kalau kau tidak keberatan, bisakah kita—"

"Kami berdua ingin bertemu denganmu secara privat, kalau bisa," Seungcheol melanjutkan ucapan Alpha di sebelahnya. Keduanya saling bersikut-sikutan.

Wonwoo memilih untuk meninggalkan meja Jihoon dengan senyuman iseng di wajahnya, membuat Jihoon merutuki nasibnya hari itu. "Aku sedang sibuk hari ini. Setelah ini aku akan ada ujian kimia dan aku harus pulang lebih awal."

"Oh, kalau begitu mungkin sebaiknya—"

"Tidak, kami harus bicara sekarang, karena kami harus mengetahui jawabannya sekarang."

Jihoon berusaha untuk tidak menjatuhkan kepalanya dengan frustasi ke atas meja mendengar jawaban dramatis Seungcheol, "Aku sedang sibuk."

Soonyoung tampaknya mengerti dengan jawaban Jihoon dan menarik temannya, "Mungkin sebaiknya besok saja. Aku tidak mungkin melakukannya di sini—"

"Ah, yang benar saja! Kita sudah sampai di sini, masa kau ingin membatalkannya sekarang?!"

"Tapi dia bilang dia sedang sibuk!"

"Kalau begitu aku saja yang menyatakannya duluan! Hei, Jihoon!" sergah Seungcheol seperti seorang pejuang yang akan menghadapi peperangan, "Aku menyukai—"

Soonyoung mendorongnya, "Tidak adil! Aku juga harus menyatakannya—"

"Tapi kau bilang kau tidak ingin mengganggunya, kan?!"

"Aku berubah pikiran!"

Keributan yang ditimbulkan oleh dua orang Alpha yang jelas-jelas bukan teman sekelasnya tentu menarik perhatian yang lain. Merasa kesabarannya semakin menipis; apalagi setelah melihat Wonwoo berusaha menahan tawanya di sudut ruang kelas, Jihoon pada akhirnya berdiri dari kursinya. Sesaat, kedua Alpha yang sedang bersitegang tersebut mengalihkan perhatian mereka pada sosok Omega mungil yang hendak menerima pernyataan cinta dari mereka.

Sampai kemudian Jihoon melayangkan tinju pada kedua-duanya secara bergantian.


10 November 2028, Seoul

02.21 p.m

Yoongi baru saja melakukan rekaman untuk peluncuran album mixtape terbarunya di perusahaan rekaman musik yang baru ia dirikan dua tahun lalu berkat bantuan Namjoon. Kini nama Yoongi juga telah mencapai cakupan pasar Amerika dan juga Eropa karena kolaborasinya dengan artis-artis ternama di dunia. Meski namanya kini menjadi jajaran salah satu orang berpengaruh di Korea, Yoongi tetap memilih untuk tidak banyak mengekspos kehidupan pribadinya dengan publik.

Sewaktu Yoongi melangkah keluar dari studio rekamannya, ia merasakan ponsel di saku celananya mulai bergetar. Wajahnya yang memberengut seharian karena harus memenuhi jadwal yang sudah ditetapkan oleh manajer Sejin, manajer barunya yang sangat ketat akan soal musik yang tidak lama lagi akan diluncurkan, berubah berseri-seri sewaktu ia melihat nama istrinya terpampang di layar ponselnya.

"Yeobo? Ada apa tumben memanggilku jam segini?"

Ia tidak menyangka harus mendengar suara istrinya menyemprotnya di saluran telepon, "Jihoon dipanggil oleh gurunya. Ternyata hari ini ia berbuat masalah di sekolah. Bisakah kau menjemputnya sekaligus menemui gurunya di ruang konseling, yeobo?"

Dari nada suaranya, Yoongi bisa menebak istrinya sedang dalam mood yang sedang tidak baik. Bukan hanya anaknya saja yang akan terkena amarah dari sang istri, tapi juga dirinya. Jika sedang marah, Omega itu pasti akan menyeret semua orang yang ada di dalam penglihatannya untuk diomeli. Tetap saja Yoongi mencintai istrinya, karena tanpa istrinya, Yoongi tidak akan bisa mengurus kehidupannya sendiri hingga seperti ini.

"Ah, baiklah kalau begitu. Memangnya kau kenapa tidak bisa datang untuk menjemputnya sendiri?"

"Aku sedang ke rumah sakit saat ini. Sepertinya masuk anginku tidak kunjung hilang," kata istrinya memberitahu. "Kabari aku kalau kau sudah menjemput Jihoon."

Yoongi menghela napas sewaktu JImin mematikan sambungan telepon. Ia langsung pergi menemui manajer Sejin, meminta izin untuk pulang lebih awal agar bisa menjemput Jihoon dari sekolah. Alpha yang merupakan manajer Yoongi tersebut langsung memberinya izin, karena ia sudah mengenal keluarga kecil Yoongi sejak lama dan mengerti betul bagaimana situasi Yoongi. Apalagi mengetahui Yoongi begitu memanjakan putra semata wayangnya.


Berbicara tentang Jihoon, Yoongi benar-benar tidak menyangka Jihoon tumbuh seperti dirinya. Putranya itu memiliki wajah sama persis seperti dirinya dan juga memiliki kecintaan terhadap musik sama besarnya seperti sang ayah. Sejak masa batita, Jihoon kecil sangat tertarik dengan berbagai macam musik yang dimainkan oleh ayahnya. Ia mulai belajar memainkan piano sejak usia tiga tahun dan sudah mulai mahir di usianya yang kelima tahun. Jihoon bahkan minta sendiri padanya sewaktu anak itu ingin belajar untuk memainkan instrumen musik lainnya, seperti klarinet dan peralatan band. Di usianya yang masih delapan tahun, Jihoon sudah banyak memenangkan kejuaraan musik klasik, sesuatu yang sama sekali hampir-hampir mustahil dicapai oleh Yoongi sewaktu kecil.

Walaupun putranya tersebut terlahir seperti perpaduan kedua orang tuanya, Jihoon sama sekali tidak tertarik dengan soal tari kontemporer yang didalami oleh sang ibu. Sewaktu Jimin menawarkannya untuk ikut les balet, Jihoon langsung menolaknya. Anak itu mengatakan dengan keras kepala bahwa ia ingin mendalami musik. Hal itu tentu saja membuat Jimin jengkel pada suaminya dan mendiamkan Alpha itu selama beberapa hari ("Aku yang melahirkannya, tapi kenapa dia malah mengikuti semuanya darimu?! Tidak adil!"). Bahkan walaupun Jimin beberapa kali mengajak putranya ke studio tari yang telah ia dirikan bersama Hoseok, Jihoon tetap tidak menunjukkan ketertarikan dengan tarian kontemporer. Padahal putranya itu juga memiliki refleks yang bagus dalam soal menari—yang ia warisi dari Jimin.

Memang Jihoon mewarisi banyak hal dari sang ayah, tapi dalam soal kepribadian, putranya itu sangat mirip dengan ibunya. Pertama, Jihoon sangat serius. Jika Yoongi adalah orang yang terlihat di luar tetapi sebenarnya adalah orang yang hangat di dalam, maka Jihoon adalah sebaliknya. Ia memang memiliki wajah manis, tetapi terkadang ia bisa memiliki mulut tajam. Sewaktu ia kecil, Jihoon memang tidak banyak menangis jika ada keinginannya yang tidak terpenuhi, tetapi ia akan memasang wajah memberengut dengan bibir bagian bawah terkatup ke depan dan mengerutkan hidungnya—perpaduan yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya—dan memasang wajah seperti itu sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

Kedua, ia memiliki gestur yang mirip dengan Jimin ketika merespon orang di sekitarnya. Kalau Yoongi mengutarakan beberapa lelucon, Jihoon akan memukul lengan ayahnya sebagai bentuk apresiasi—sama persis seperti yang dilakukan oleh Jimin kalau ia merespon orang yang sedang bergurau.

Ketiga, Jihoon benar-benar keras kepala dan memiliki watak ulet seperti ibunya. Anak itu tidak akan pernah mau berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan jika ia tidak mendapatkan posisi teratas di sekolah, anak itu akan memberengut sepanjang hari sampai Jimin menanyakan keadaan putranya. Jihoon juga banyak mengikuti kegiatan di sekolah, seperti misalnya unit olahraga baseball. Yoongi pernah sekali mencandai istrinya kalau nama yang ia buat untuk putranya tersebut benar-benar mencerminkan watak Jihoon begitu ia tumbuh besar.

Meski putranya itu kini telah berusia 16 tahun dan tumbuh menjadi seorang anak yang independen, Yoongi tetap tidak bisa melepaskan putranya. Begitu ia mendapati putranya mengalami heat pertamanya beberapa bulan yang lalu, Yoongi hampir-hampir tidak rela melepaskan putranya ke sekolah. Ia cemas Jihoon akan bertemu dengan Alpha-Alpha brengsek—yang bahkan lebih brengsek dari Chanyeol yang pernah mengaku sebagai ayahnya—atau bahkan mengalami heat di saat-saat yang tidak menguntungkan. Jihoon hanya menenangkan ayahnya, berkata bahwa sekarang ia ikut latihan taekwondo di sekolahnya untuk mempertahankan diri dari Alpha-Alpha ganas yang kemungkinan besar mengincarnya ("Memangnya Appa bukan Alpha yang ganas seperti yang lain?" "Menurutmu sendiri bagaimana?" Jihoon memasang raut pura-pura jijik sebagai jawabannya).

Merupakan suatu kebanggan bagi Yoongi melihat anaknya yang dulu bertubuh kecil dan rapuh karena lahir prematur, kini menjadi Omega yang independen. Jihoon bukanlah anak kecil lagi, tapi telah menjadi remaja yang sudah bisa memutuskan semuanya sendiri. Mengingat hal tersebut, Yoongi merasakan dirinya sedih. Putranya itu kini telah bertumbuh dewasa, dan sebentar lagi akan meninggalkan dirinya dan Jimin berdua setelah ia menemukan Alpha yang cocok dan membentuk keluarga baru.

Ke mana perginya bayi kecilku yang dulu selalu merengek kalau ingin minta minum ASI ibunya?

Tanpa sadar, Yoongi telah tiba di depan gedung sekolah Jihoon. Alpha yang sampai saat ini masih memiliki rambut hitam tersebut melangkah keluar dari mobil BMW hitam bertipe X6 M—yang dibelinya dengan hasil penjualan albumnya selama beberapa tahun terakhir, yang tentu saja mengundang perhatian banyak orang—yang kebanyakan adalah murid-murid yang hendak pulang. Seisi sekolah berhenti untuk memandangi Alpha tersebut, mengenali Yoongi sebagai seorang produser musik terkenal sekaligus ayah dari Min Jihoon.

Yoongi berjalan mendekati seorang anak laki-laki—Omega—yang mendongak begitu ia mencium aroma pekat sitrus dari tubuh Yoongi. Begitu menyadari dengan siapa ia berbicara, anak tersebut langsung gelagapan, "U-uuhm? A-apa ada yang bisa kubantu?"

"Bisa kau tunjukkan di mana ruangan bimbingan konseling?" tanya Yoongi sambil melepas kacamata hitamnya—bukannya untuk berniat sok keren, tapi karena sore itu matahari masih bersinar begitu terang.

"Umm, kau bisa ikuti aku, ahjussi."

"Panggil saja aku Yoongi-hyung, aku belum setua itu," kata Yoongi sambil tersenyum.

Wajah anak itu memerah.

Omega yang kira-kira berusia sama dengan Jihoon tersebut mengantar Yoongi ke depan ruangan dengan pintu kaca dan sebuah label besar yang menunjukkan bahwa ruangan tersebut adalah ruangan bimbingan konseling. Setelah berterimakasih dan memberikan tanda tangannya pada Omega berambut kecoklatan yang telah menolongnya, Yoongi langsung memasuki ruangan tersebut tanpa ragu.

Dilihatnya di dalam ruangan tersebut ada tiga orang murid berdiri membelakanginya—dengan salah satu anak yang paling pendek diapit oleh dua anak yang lebih tinggi lainnya, sementara di depan mereka terdapat sebuah meja yang diisi oleh seorang Beta tua yang sepertinya merupakan guru konseling yang ingin bertemu dengan Yoongi. Tanpa dicari pun, Yoongi tahu bahwa anak bersurai hitam seperti dirinya dengan tubuh paling pendek di antara ketiga murid tersebut adalah Jihoon. Tinggi badan putranya tersebut bukan diakibatkan oleh salinan genetika kedua orang tuanya, melainkan karena kelahiran prematurnya yang ternyata baru berdampak begitu ia tumbuh besar.

"Ah, Min Yoongi-ssi?"

Yoongi menganggukkan kepalanya saat sang guru memanggil namanya, "Ah, annyeong. Aku ke sini karena aku dengar dari istriku kalau putra kami baru saja membuat masalah."

Anak yang bersangkutan langsung membalikkan tubuh untuk melihat sang ayah ternyata datang untuk memenuhi panggilan guru konselingnya. Jihoon mengerutkan dahi dengan tidak senang saat ia tahu Yoongi berada tepat di belakangnya. Yoongi membalas tatapan anaknya dengan tatapan hendak memarahi, tetapi Jihoon buru-buru membalikkan tubuh.

Sang guru mempersilahkan Yoongi untuk duduk dan berjabat tangan dengan Alpha tersebut, "Perkenalkan Min Yoongi-ssi, namaku Kim Ryeowook. Aku selaku guru konseling di sini, ingin melaporkan bahwa putra Anda baru saja menghajar dua pemuda di sebelahnya ini."

"Menghajar?" Yoongi mengernyitkan dahi, seperti tidak menangkap apa yang dimaksud oleh sang guru. Ia berbalik dan memperhatikan dua orang Alpha muda dengan seksama di belakangnya, melihat dua wajah mereka ternyata babak belur—tidak seperti yang ia harapkan. "Apa mereka berkelahi?"

"Ani, ani, sebenarnya semuanya berawal dari Jihoon sendiri," kata sang guru memberi penjelasan.

Yoongi menyipitkan matanya pada Jihoon yang mulai bergerak tidak nyaman pada posisinya, "Jadi Jihoon sendiri yang memulai semua ini?"

Guru konseling tersebut memanggil seorang murid yang merupakan korban dari 'kekerasan' yang disebabkan oleh Jihoon maju ke depan dan meminta Alpha muda berambut hitam tersebut untuk memberikan penjelasan.

"Jadi—namaku Choi Seungcheol," Alpha muda itu memperkenalkan dirinya, menatap ke Alpha yang berdiri di sebelah Jihoon, "Aku dan uh—" ia menunjuk Alpha yang berdiri di sebelah Jihoon dengan sikap canggung, "Aku dan Soonyoung—kami berdua sedang bertaruh untuk menyatakan—" wajah Alpha muda itu berubah merah.

Alpha bernama Soonyoung melanjutkan ucapan Seungcheol, "Kami sedang bertaruh untuk menyatakan cinta pada Jihoon. Kami berebut siapa duluan yang dapat melakukannya. Lalu saat kami mendatangi Jihoon untuk menyatakan cinta, tiba-tiba saja dia menghajar kami."

"MWO YA? MWONGAE SORIYA? Pernyataan cinta?! Anak sekecil kalian?!" seru Yoongi sambil menyentak berdiri dari kursinya, tidak mempercayai apa yang barusan didengarnya. Sewaktu ia menyadari ia baru saja mengeluarkan kalimat seruan yang tidak pantas, buru-buru Alpha itu berdeham dan kembali duduk dengan tenang, mengagetkan sang guru yang diam mempelototi reaksi Alpha tersebut. "Ah, begitu rupanya. Jadi hal ini merupakan murni kesalahan Jihoon, ne?"

Sang guru memasang wajah heran, "Anda mau langsung menerima kalau putra Anda telah melakukan kesalahan?"

Yoongi mengendikkan bahu, "Kalau dia memang bersalah, berarti dia harus meminta maaf," katanya dengan enteng. Ia berjalan ke arah Jihoon yang mulai memberengut jengkel dan berkata, "Jihoon-ah, minta maaf pada teman-temanmu karena sudah menyakiti mereka."

Ia pura-pura tidak mendengar suara decakan kesal dari Jihoon. "Joesonghamnida. Aku benar-benar ingin meminta maaf sudah menyakiti kalian. Aku tidak bermaksud melakukannya."

"Berarti masalah sudah selesai, kan?" kata Yoongi dengan antusias yang terlalu berlebihan. "Apa kalian memaafkan Jihoon-ah?" ia melihat ke arah dua Alpha tersebut satu persatu.

Seungcheol dan Soonyoung saling berpandangan dan melihat ke Jihoon secara bersamaan, sebelum akhirnya kembali menatap Yoongi—dan kembali lagi menatap Jihoon, "Tentu saja! Kau tidak marah pada kami, kan?"

Sang guru semakin bingung, tetapi Yoongi tidak perlu berpikir keras untuk mengerti apa yang terjadi. Begitu sang guru mempersilahkan mereka untuk pulang, Yoongi langsung menyuruh Jihoon untuk pulang bersamanya. Tak disangkanya, Seungcheol dan Soonyoung mengikuti mereka dari belakang.

"Jihoon, kau tidak benar-benar marah pada kami, kan?"

"Kami berjanji tidak akan melakukannya lagi, jadi jangan marah pada kami, ya, ya?"

"Kami akan senang kalaupun hanya bisa berteman denganmu!"

Yoongi membentengi putranya yang hampir-hampir berteriak frustasi karena ada dua orang Alpha yang mengerubunginya tanpa alasan jelas. Tangan Yoongi terangkat untuk memberi perintah agar kedua anak muda yang mungkin baru saja mengalami masa-masa pubertas gender kedua tersebut jauh-jauh dari putra semata wayangnya.

"Sayang sekali, hari ini Jihoon harus pulang cepat ke rumah. Kalian juga harus cepat pulang agar tidak mengkhawatirkan kedua orang tua kalian, oke?"

Tanpa menunggu respon dari kedua anak tersebut, Yoongi langsung menarik Jihoon masuk ke dalam mobil di pelataran parkir.


"Mereka benar-benar keterlaluan," kata Jihoon sambil menggerutu di dalam mobil, melipat kedua tangannya di dada dan duduk dengan punggung menyongsor di sandaran kursi. "Aku tidak tahan karena mereka terus menerus berdebat di depanku, saling adu mulut tentang siapa yang maju untuk menyatakan cinta duluan," ia pura-pura merinding saat membayangkan kejadian sepele tersebut di benaknya, "Memangnya mereka anak kecil atau apa? Kenapa mereka dengan bodohnya memperdebatkan hal seperti itu di depanku?!" ia menoleh pada Yoongi yang mulai fokus mengendarai mobil, "Appa tidak akan marah karena aku meninju wajah mereka, kan?"

Yoongi malah tertawa, "Tentu saja tidak! Justru itu yang harus kau lakukan agar tidak ada Alpha yang sembarangan mendekatimu. Aku sudah mengajarkannya padamu, menghindarlah kalau ada Alpha yang dengan sengaja mendekatimu, kecuali dia mirip denganku."

Jihoon memandang ayahnya dengan tatapan aneh, "Andwae, Appa, aku tidak akan mau mencari pasangan ataupun menikah sampai kapanpun, bahkan kalaupun ada yang mirip dengan Appa," kata Jihoon berterus terang, membuat Yoongi melirik ke arah putranya dengan tatapan sedikit kecewa. Kemudian ia menghela napas, "Apa Eomma akan memarahiku sewaktu pulang nanti?"

Walaupun Yoongi tidak dapat melihat ekspresi anaknya, ia tahu kalau Jihoon sangat takut pada Jimin. Seserius dan segalak apapun Jihoon pada orang-orang di sekitarnya, ia tetaplah seorang Jihoon yang sangat menghormati kedua orang tuanya, apalagi jika menyangkut soal Jimin. Jihoon takut terhadap ibunya bukan karena Omega itu senantiasa ringan tangan terhadap sang putra, tetapi karena Jimin adalah sosok ibu yang tegas dan sangat awas terhadap apa yang dilakukan oleh Jihoon. Kalaupun Jihoon sudah menentang keinginan ibunya untuk ikut menari, Jimin tetap mengawasi perkembangan putranya dalam bidang pendidikan di rumah maupun di luar. Bahkan Jimin tidak segan-segan mengomeli Jihoon jika putranya itu terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk bermain di luar. Ia juga mengontrol waktu latihan musik Jihoon di rumah. Untung saja Jihoon adalah anak yang cerdas dan hampir selalu menempati posisi nomor satu di sekolah, sehingga Omega itu tidak akan mengomeli putra mereka setiap saat ("Tentu saja kau boleh memiliki hobi bermain game dan bermain musik, tapi tetap saja kau harus memperhatikan pelajaran di sekolah. Setidaknya untuk bekalmu nanti. Semakin kau berwawasan, maka kau akan semakin mudah mengenal segalanya, termasuk musik." "Ne, Eomma.").

Begitu mereka sampai di rumah mereka—yang kini bukan merupakan apartemen, melainkan sebuah rumah berlantai dua di suatu kompleks perumahan—Jimin sudah menunggu di depan pintu dengan wajah memberengut sambil berkecak pinggang, sama persis dengan yang dilakukan Jihoon ketika ia marah.

Bahkan dalam usianya yang sudah hampir menginjak 35 tahun pun, Jimin masih memiliki postur tubuh yang bagus dan wajah yang masih mulus—sama seperti ketika ia berusia 19 tahun. Yang berubah dari Omega tersebut hanyalah warna rambutnya yang kini diwarna pirang kecoklatan. Yoongi juga tidak akan pernah berhenti jatuh cinta setiap harinya melihat sang istri, bahkan meski wajahnya kini mengerut tidak senang sewaktu menyambut Yoongi dan Jihoon di depan pintu rumah.

Jihoon pura-pura tidak melihat ibunya sampai Omega itu dengan sengaja memanggil nama putranya, "Jihoon-ah, jangan masuk ke dalam sampai kau menjelaskan semuanya dulu padaku."

Jihoon mencuri-curi pandang pada ayahnya, meminta pertolongan agar sang Alpha mau membelanya, "Uh—aku—"

Yoongi berdeham, "Dia diganggu oleh dua Alpha di sekolah. Untung saja dia cepat-cepat menghentikan mereka. Hanya masalah sepele, gurunya salah paham mengira Jihoon berbuat masalah di sekolah."

Jimin menatap tajam Yoongi, "Kau tidak sedang membelanya, kan?"

"Itu kenyataannya, aku tidak berbohong," kata Yoongi dengan wajah datar.

Jimin menatapnya sekali lagi, dengan mata menyipit, dan kemudian masuk ke dalam rumah setelahnya.

Jihoon menyeringai pada ayahnya tanpa sepengetahuan sang ibu, "Apa Appa membantuku karena takut terkena omelan Eomma juga?"

Yoongi mengangkat bahunya, "Untuk apa aku takut padanya. Aku hanya takut tidak akan mendapat kebagian jatah jajan hari ini?"

"Jajan?"

Yoongi tidak menyahut pertanyaan putranya dan berjalan masuk ke dalam rumah (putranya juga masih terlalu kecil untuk mengerti soal kehidupan orang dewasa sepertinya selain hanya tidur di tempat tidur). Toh sifat kasar Jihoon terhadap setiap Alpha yang dilihatnya adalah karena hasil dari cuci otak dan pengaruh Yoongi. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Jimin, ia mengajarkan Jihoon bagaimana cara menghindari dari Alpha yang tidak dikenal maupun Alpha yang dikenal secara terang-terangan hendak mendekati Jihoon. Makanya tidaklah aneh jika Jihoon begitu antusias mengikuti latihan beladiri di sekolahnya karena ucapan sang ayah, "Kalau kau tidak punya kemampuan bela diri, bagaimana kau melindungi dirimu dari Alpha-Alpha yang beringas dan berniat buruk terhadapmu?"

Kalau saja Jimin tahu Jihoon menghajar dua teman sekolahnya karena hasil pengaruh dari Yoongi, kemungkinan besar selama sebulan Yoongi akan dibiarkan oleh istrinya tidur di kamar tidur tamu sampai Alpha itu menyesali perbuatannya.


Sore itu Yoongi mendapat telepon dari Hoseok, yang mengundangnya untuk menghadiri pesta pertunangannya dengan seorang selebriti muda dari Thailand yang telah lama debut di Korea—seorang Beta wanita bernama Lalisa Manoban. Tentu saja Yoongi juga mendapat kehormatan untuk menjadi pengirin pengantin pria jika Alpha itu tidak keberatan—sebuah kesempatan yang langsung diterima oleh Yoongi dengan rasa senang. Hoseok yang kini telah mendirikan sebuah studio tari bersama-sama dengan Jimin, juga telah bersolo karir sebagai rapper terkenal. Calon istrinya juga bekerja sebagai rapper sekaligus penari professional, suatu profesi yang menyatukan keduanya hingga ke jenjang pernikahan.

Sementara Heechul, sejak lima tahun lalu ia telah menjalin hubungan dengan seorang Alpha pria bernama Hangeng yang merupakan seorang penyanyi terkenal dari Cina. Kabar terbarunya, Heechul dan kekasih barunya memutuskan untuk menikah tahun depan di Amerika dan mengadopsi seorang anak. Korea masih menganggap tabu hubungan homoseksual antara Beta pria dengan Beta pria lainnya, Alpha dengan Alpha, dan Beta pria dengan Alpha pria. Oleh karenanya Heechul memutuskan untuk tinggal di Amerika, di mana hubungannya dengan calon suaminya bisa dapat diterima dengan mudah di sana.

Yoongi juga masih menjalin hubungan baik dengan Zhoumi, dan Beta itu kini kembali ke negaranya dan membina rumah tangga dengan seorang Beta wanita yang hanya sesekali Yoongi lihat. Mereka sudah dikaruniai dua orang anak, dan saat ini Zhoumi sedang mendirikan sebuah perusahaan retail kecil-kecilan sambil tetap menjadi seorang pembuat lagu sekaligus presenter di acara-acara radio.

Taehyung dan Jungkook menikah tujuh tahun yang lalu dan pernikahan mereka diadakan secara besar-besaran, dihadiri oleh berbagai macam tamu terkenal dan menjadi sorotan publik dalam waktu yang lama. Hubungan mereka yang dirahasiakan dengan baik mengejutkan banyak orang, apalagi setelah seluruh anggota BTS memutuskan untuk bersolo karir. Jungkook tetap berkarir di dunia musik sebagai penyanyi dan sering bekerja sama dengan Yoongi dan Namjoon, terkadang Alpha muda itu juga bekerja sebagai fotografer professional setelah menyelesaikan pendidikannya secara online di Global Cyber University.

Sementara Taehyung bekerja sebagai seorang model dan aktor. Sejak beberapa tahun lalu, namanya semakin melejit karena kemampuan akting dan visualnya yang menarik banyak perhatian orang. Pasangan Alpha Omega tersebut sudah dikaruniai tiga orang anak, yang salah satunya juga bernama Jihoon (Yoongi pernah bergurau mungkin ia akan mulai memanggil putranya sebagai Jihoon 1 dan anak Jungkook-Taehyung dengan sebutan Jihoon 2). Meski kini telah dikaruniai anak, beberapa minggu lalu Taehyung mengumumkan kehamilannya yang keempat, yang tentu saja mengejutkan Jimin.

("Yang benar saja? Empat anak dalam tujuh tahun?! Apa kau tidak lelah harus mengandung, melahirkan selama empat kali?! Apalagi mengurus empat orang anak?!"

"Tidak perlu marah begitu, Chim, toh Jungkook bersedia merawat anak kami kalau aku bekerja."

"Untung saja kau punya bentuk tubuh yang bagus, Jungkook tidak akan keberatan menghamilimu setiap tahun sepertinya."

"Mungkin benar. Kau sendiri serius tidak mau menambah anak sama sekali? Apa Jihoon tidak kesepian?"

"Kurasa satu anak saja sudah cukup."

"Apa mungkin sperma Suga-hyung terlalu sedikit?"

"Jangan bercanda! Jumlah spermanya normal! Dia juga punya barang yang besar!"

"Hmm, tidak lebih besar daripada milik Jungkook sepertinya."

"Karena terlalu besar makanya kau sering hamil, eo?"

Yoongi dan Jungkook yang mencuri-dengar obrolan mereka diam-diam berusaha menutup kuping masing-masing).

Untuk Namjoon dan Seokjin, siapa menyangka setelah Seokjin melahirkan Jisoo dan Minhyun, mereka kembali dikaruniai seorang putra—Omega yang bernama Jisung, enam tahun kemudian. Setelah kelahiran putra bungsunya, Seokjin memaksa Namjoon untuk melakukan vasektomi. Seokjin khawatir kalau ia masih harus melahirkan sampai usianya menjelang 50 tahun. Omega itu tidak berhenti-hentinya mengomeli Namjoon sewaktu ia tahu ia kembali hamil anak ketiga mereka, bahkan saat Seokjin mendatangi rumah Jimin, ia tidak berhenti bercerita bagaimana ia melampiaskan kekesalannya karena hamil lagi pada Namjoon dengan menyuruh suaminya tersebut untuk memenuhi keinginan anehnya selama mengidam ("Kalau aku sampai punya anak lagi di usia 50 tahun, karirku sebagai kardiologis akan hancur! Begitu pula dengan bentuk tubuhku!" Yoongi bisa mendengar Seokjin bercerita keras-keras dari arah dapur keluarga Kim).

Namjoon sendiri, setelah perusahaannya hampir bangkrut karena perselingkuhannya dengan Jimin mengudara di Korea, tetap menjalankan perusahaannya dari awal dan kini NJE-C menjadi perusahaan hiburan sekaligus perusahaan rekaman musik yang paling terkenal se-Asia. Alpha itu juga tetap menjalin hubungan dengan Yoongi, dan menjadi salah satu sahabat dekat Yoongi. Namjoon menjadi orang pertama yang menawarkan bantuan saham sewaktu Yoongi memutuskan untuk memulai perusahaan rekamannya sendiri.

Jihoon juga berteman baik dengan Jisoo dan Minhyun, dan jika mereka saling berkunjung ke rumah satu sama lain, Jihoon yang biasanya serius akan kembali seperti anak-anak di mata Yoongi. Terkadang Yoongi berpikir, mungkin sebenarnya Jihoon ingin punya saudara lagi, tapi terlalu bersempit hati untuk mengatakannya. Selama Jihoon masih kecil, ia selalu menyibukkan diri dengan bermain musik dan melakukan hal-hal yang disenanginya di dalam rumah. Hanya ada beberapa sahabat dekat Jihoon yang bermain ke rumah keluarga Min di hari libur sekolah, tetapi setidaknya Yoongi merasa lega karena Jihoon masih memiliki teman.


Saat tiba waktu makan malam, Jimin membuatkan mereka kimchi jjigae dan budae jjigae. Seperti biasa, mereka tidak akan banyak mengobrol saat makan kecuali Jimin yang senantiasa menanyakan kabar sekolah Jihoon (meski Yoongi yakin Omega itu pura-pura melupakan kejadian Jihoon yang telah memukul dua orang temannya di sekolah).

Tiba-tiba, entah kenapa, Jihoon menghentikan makannya di tengah-tengah untuk memperhatikan kedua orang tuanya satu persatu, "Eomma, Appa, aku butuh membicarakan sesuatu dengan kalian."

"Ne? Apa kau mau mengikuti perlombaan musik lagi?" tanya Jimin.

Wajah Jihoon terlihat sungkan, "Sebenarnya, bukan hanya perlombaan musik biasa—"

Yoongi tampak tertarik. Ia menyuapkan makanan ke mulut dengan kedua mata masih menatap Jihoon, "Coba katakan."

Jihoon memainkan tangannya dengan agak canggung di depan mangkuk makanannya, "Uhh—jika boleh, apakah kalian akan mengizinkanku ikut audisi grup idola?"

Yoongi tersedak sampai Jimin menawarkan segelas air putih, "Audisi? Kau serius?"

"Mereka mencari anggota yang mengerti musik, dapat menari dan menyanyi," jawab Jihoon dengan wajah serius, "Aku bisa melakukan semuanya."

"Hmm, menarik—"

"Tunggu dulu—" Yoongi menegak air putih, "Kau tidak tahu bagaimana perindustrian musik sekarang? Bisa saja kau ditipu oleh Alpha-Alpha tua, lalu—"

"Tidak akan. Audisi ini diadakan oleh perusahaan besar," Jihoon mengerutkan dahinya seperti tidak senang dengan apa yang ditutukan oleh sang ayah, "Dan juga akan banyak orang yang ikut. Jurinya berasal dari artis-artis terkenal, bukan hanya tim penilai biasa. Mereka benar-benar mencari orang bertalenta, Appa."

"Tentu saja kau boleh ikut—"

Kali ini Yoongi kembali memotong Jihoon, "Lalu bagaimana kalau ada yang ternyata memanfaatkanmu? Kalau kau mendaftar audisi dan ada orang yang tahu kau ini anak dari penulis lagu jenius, mereka pasti akan menyuruhmu melakukan hal yang tidak kau senangi!"

Jimin memukul lengan Yoongi, "Yeobo, geumanhae! Jangan berkata yang aneh-aneh dan tidak benar!"

"Tapi kau dan Namjoon-nim dulu pernah—"

"Pernah apa?"

Jimin kembali memukul suaminya, "Yeobo! Jangan berkata yang macam-macam di depan Jihoon!"

"Tapi bagaimana kalau dia benar-benar dijahati nanti—?" mata Yoongi membulat saat mengatakan hal tersebut, "Sekarang banyak kasus pelecehan seksual di dunia hiburan! Apalagi kalau Jihoon menjadi terkenal nanti—"

"Aku akan baik-baik saja, Appa!" sergah Jihoon frustasi, "Aku bisa melindungi diriku sendiri! Ini hanya audisi, oke? Aku tidak akan apa-apa!"

"Tentu saja kau boleh ikut, aku mengizinkanmu," kata Jimin pada Jihoon.

Yoongi tampak putus asa, "Kau serius mau melepaskan anak kita untuk ikut audisi seperti ini?! Kau tahu, kan, bagaimana dunia hiburan saat ini, Jiminie-yeobo?"

"Kau terlalu khawatir. Jihoon dapat menjaga dirinya sendiri! Lagipula dia juga sudah besar, dia sudah bisa memutuskan semuanya sendiri," Jimin kembali menoleh pada putranya, "Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Asal jangan melupakan pelajaran di sekolah."

"Yang benar saja," gerutu Yoongi, "Rumah ini akan semakin sepi kalau—"

"Kau bicara apa? Kau akan menjadi Appa lagi dalam beberapa bulan lagi."

Kali ini Jihoon menjatuhkan sumpit yang ia gunakan, menyebabkan bunyi dentingan di lantai. Omega muda tersebut tampak sama terperanjatnya dengan sang ayah sewaktu mereka menoleh ke arah Jimin dengan wajah seperti orang kehilangan petunjuk, "A-aku akan punya dongsaeng?"

"April nanti tepatnya–kau akan punya seorang dongsaeng."

"Kau hamil dan kau sama sekali tidak memberitahuku?" Yoongi menyela dengan tidak percaya pada istrinya.

"Aku baru periksa ke dokter. Tampaknya aku masuk angin akhir-akhir ini karena aku mengalami morning sickness."

"Kukira kita sudah berhati-hati—"

"Ingat sewaktu aku hamil Jihoon dulu, kan? Tampaknya kau menghancurkan kondom lagi pada heat terakhirku," ujar Jimin memberitahu.

"Atau mungkin karena kalian terlalu banyak berhubungan seks," gumam Jihoon, tapi cukup keras untuk didengar oleh kedua orang tuanya, "Aku bisa mendengar Eomma berteriak keras sekali beberapa bulan lalu. Sepertinya saat itu kalian memproduksi cikal bakal dongsaengku nanti."

Rona merah di wajah Jimin tidak terelakkan, "Kau mendengar kami melakukannya?"

Yoongi memasang wajah panik, "Apakah sekeras itu?"

"Ah, jjinja! Aku sudah sering mendengar kalian berhubungan seks, tapi kebetulan saja malam itu aku mendengar suara Eomma lebih besar daripada biasanya! Jangan bersikap seolah-olah aku ini masih kecil dan belum pantas tahu apa itu yang namanya seks!"

"Tapi kau memang masih kecil!"

"Aku sudah besar, Appa! Aku sudah mendapatkan heat pertamaku!" seru Jihoon tidak mau kalah, "Intinya, aku boleh ikut audisi atau tidak?"

"Tentu saja tidak bo—"

"Tentu saja boleh. Kau hanya perlu mengabari kau akan ikut audisi kapan. Kalau perlu mungkin Appamu bisa mengantar ke tempat audisi."

Yoongi menggeram jengkel. "Aku tidak pernah bilang aku setuju Jihoon ikut audisi."

Seperti tidak mendengar ucapan sang ayah, wajah Jihoon semalaman itu berseri-seri. Ia tidak tidur sampai tengah malam karena sibuk memainkan piano untuk mencari-cari baris untuk lagu yang dikarangnya. Yoongi sama sekali tidak mengganggu waktu putranya untuk memperhalus kemampuan bermusiknya. Ia hanya melihat dari ruang tengah, menunggu, dan ikut mendengarkan.

Jimin datang tidak lama setelahnya, dengan kepala menyembul di antara cerukan leher dan tulang bahu Alpha tersebut. Yoongi bisa mencium aroma manis cherry sewaktu ia merasakan sesuatu yang agak berat menapaki pundaknya. Jimin melingkarkan lengannya ke sekitar tubuh Yoongi.

"Hyungie—" bisik Jimin pelan sambil mendesah. Yoongi hampir-hampir menyahut sewaktu Jimin memanggilnya dengan nama panggilan intim yang tidak bisa Omega itu hilangkan bahkan setelah bertahun-tahun pernikahan mereka terjalin, "Kau tidak akan mau tidur?"

"Kau yang seharusnya tidur duluan, yeobo, untuk aegi di dalam sini," kata Yoongi dengan lembut. Ia segera memutar tubuhnya dan memegang kedua sisi tubuh Jimin. Kemudian dengan hati-hati Yoongi mengulurkan tangan ke perut Omega itu, yang dirasanya memang sedikit lebih besar dan keras daripada biasanya. "Sudah berapa lama kau tahu kalau kau hamil?"

"Aku bahkan tidak menyangka kalau aku akan hamil lagi," Jimin mengakui dengan tertawa yang berkesan malu-malu, "Uisa-nim mengatakan kalau aku sudah hamil 12 minggu. Tapi aku sama sekali tidak merasakan perubahan sampai beberapa hari yang lalu."

"Untung saja sekarang kau sedang tidak melakukan proyek yang memberatkan," gumam Yoongi menghembuskan napas lega dengan mulutnya.

Sejak Jimin mendirikan studio tari dengan Hoseok, Omega itu mulai rutin membuka kelas tari kontemporer untuk anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Tidak hanya sampai disitu, ia juga terkadang mengadakan konser di gedung-gedung pertunjukkan bersama beberapa penari professional lainnya. Bahkan Yoongi beberapa kali memanfaatkan bakat Jimin dalam menyanyi untuk membuat rekaman lagu-lagu terbaru sebagai pengarah dalam pengkomposisian musik. Pernah tiga kali Yoongi melakukan duet dengan istrinya dan berkat duet mereka tersebut, Yoongi dianugerahi berbagai macam penghargaan.

Kalau dulu ada orang yang bertanya, apa yang menginspirasi Yoongi dalam membuat lagu, ia akan menjawab "banyak hal". Tapi kalau sekarang, ia akan menambahkan jawaban, "banyak hal, terutama istriku dan putraku."

Suara alunan musik piano yang dimainkan Jihoon mulai berhenti mengalir. Omega muda itu berteriak dari ruang tengah, "Appa, setelah ini, bolehkah aku meminjam studio musikmu sebentar?"

Yoongi meringis, dan hanya menyahut sambil balas berteriak dari seberang ruangan, "Yah, silahkan! Lakukan sesukamu! Tapi jangan sembarangan membuka rekaman lagu yang sudah aku komposisikan!"

Ia melihat istrinya tergelak mendengar jawaban yang ia berikan.

"Mungkin sebaiknya kita pergi meninggalkan Jihoon sendirian. Biarkan dia berlatih sesukanya."

Yoongi hanya menuruti saran istrinya dan pergi menuju kamar tidur mereka.

Begitu mereka membaringkan tubuh di atas tempat tidur, Jimin menggeliat mendekat di dalam pelukan Yoongi. Melihat apa yang dilakukan oleh istrinya, Yoongi mengalungkan sebelah tangannya ke tubuh Jimin, dan satu tangannya digunakan sebagai bantalan kepala.

"Apa kau benar-benar tidak mengizinkan Jihoon untuk pergi mengikuti audisi?"

"Hmm?" Yoongi tertegun mendengar pertanyaan istrinya. "Aku hanya khawatir, makanya aku tidak mau memberikan dia izin untuk ikut audisi besok. Aku hanya cemas—" Yoongi terhenti, "Kalau-kalau kejadian seperti dirimu dan Namjoon-nim kembali terulang pada Jihoon."

Jimin tertawa pelan, "Oh, yang benar saja! Hubunganku dan Namjoon-nim dulu karena aku masih bodoh dan polos untuk mengenal cinta, Hyungie. Lagipula aku yakin, Jihoon akan selalu menghajar Alpha-Alpha yang berani mendekatinya. Dia lebih pintar dan lebih dewasa daripada diriku sewaktu muda."

"Menurutmu begitu?" Yoongi mengecup leher Jimin, "Jihoon terlalu cepat besar. Rasanya aku tidak rela melepaskannya untuk pergi menjadi seorang idola. Dia akan jarang pulang," permukaan tangannya bergerak memegangi perut istrinya. "Dan dia tidak akan banyak menghabiskan waktu untuk mengenal calon adiknya."

"Tapi dia menyayangi kita," balas Jimin, "Dia pasti akan pulang kalau merindukan kita. Dia anak yang baik, sama persis dengan Appanya."

Ada sedikit kekosongan di antara mereka untuk sesaat, dan Yoongi memanfaatkan saat tersebut untuk merasakan sebagian permukaan kulit Jimin yang sensitif, menyebabkan Omega itu mengerang karena dorongan rangsangan yang menjengitnya seperti listrik.

"Hyung—"

"Jiminie—"

Setidaknya Jihoon tidak bersama mereka untuk menyaksikan orang tuanya hampir-hampir bersenggama saat ini. Saat malam tiba Yoongi, Yoongi hanya punya dua pilihan di tempat tidur yang tidak bisa diganggu gugat. Entah itu tidur, atau berhubungan seksual dengan istrinya.

Tetapi kemudian Jimin meremas tangannya sambil berkata pelan, "Hari ini aku bercuma dengan Chanyeol di rumah sakit."

Yoongi merasakan darah di dalam sulur-sulur urat nadinya berhenti mengalir dan rahangnya seperti mengeras sewaktu ia mendengar ucapan Omega di dalam rengkuhannya saat ini. "Kau bertemu dengannya?"

Sejak kelahiran Jihoon, Yoongi tidak pernah banyak melihat berita Chanyeol di media sosial elektornik, kecuali beberapa situs yang beberapa kali mendiskusikan tentang keberadaannya. Terakhir yang ia dengar, Chanyeol kini pergi ke Jepang dan memulai hidup baru di sana. Entah apa yang terjadi pada Chanyeol sejak Yoongi memberikan video rekaman pengakuan Chanyeol yang telah mengutit dan memperkosa Jimin selama kurun waktu beberapa bulan. Mendengar perkataan istrinya yang bercerita bahwa ia baru saja bertemu dengan Chanyeol tadi siang, langsung menumbuhkan pikiran buruk di benak Yoongi.

"Chanyeol baru saja kembali dari Jepang," Jimin memberitahu. "Dia bercerita kalau dia memulai hidup baru di sana sebagai penulis lagu dan membuka studio rekaman kecil-kecilan. Kalau kulihat tampaknya dia cukup sukses."

Yoongi tetap membenci Chanyeol atas apa yang telah Alpha itu lakukan pada Jimin, "Lalu apa alasannya kembali ke Korea?"

"Dia akan menikah dengan Baekhyun-hyung Desember mendatang," ucap Jimin lagi. Kemudian ucapannya terputus seperti sedang menimbang-nimbang apakah ia akan melanjutkan perkataannya lagi atau tidak, "Dia bilang dia benar-benar menyesal atas apa yang telah ia lakukan padaku. Dia bilang, sejak SM memberhentikannya untuk sementara, dia memikirkan ulang perbuatannya dan ingin menebus semuanya. Sewaktu dia melihat berita kelahiran Jihoon, dia ingin memberi selamat untuk kita sekaligus meminta maaf, tapi tidak pernah sempat karena ia sudah kehilangan muka untuk mengatakannya langsung padamu."

"Hmm," Yoongi tidak terpengaruh sama sekali oleh ucapan Jimin. Tetapi mendengar penjelasan Omega itu, Yoongi setidaknya sedikit merasa lega karena sekarang Chanyeol sudah tidak ingin berurusan lagi dengan istrinya. "Untung saja Jihoon sangat mirip denganku. Sebenarnya aku ingin sekali menyombongkan Jihoon di depan wajah Chanyeol dan bilang kalau Jihoon adalah putraku."

Yoongi merasakan tubuh Jimin bergerak karena gelak tawa, "Jihoon benar-benar mirip denganmu. Yang ia warisi dariku hanyalah pribadi yang keras kepala."

"Dan juga jenius, seperti diriku," sambung Yoongi. "Dalam soal musik tentunya."

"Terkadang aku bertanya-tanya apakah kau memang jenius, Hyung."

"Aku memang jenius, tapi juga akan selalu menjadi orang bodoh kalau berhadapan denganmu."

Jimin membalikkan tubuhnya dan mencium bibir Yoongi, "Aku memang beruntung memiliki Alpha sepertimu."

"Nado."

Mereka terus mendengar suara lantunan musik piano hingga Yoongi merasakan kantuk mulai menyerangnya.

Mungkin besok ia akan bicara pada Jihoon, bilang kalau ia mengizinkan putranya tersebut untuk ikut audisi. Dalam lubuk hatinya, ia mendukung keputusan putranya untuk mengikuti audisi. Setidaknya, kalau ia benar-benar menjadi idola suatu hari nanti, Yoongi dengan bangga akan memperkenalkan pada dunia bahwa Jihoon adalah putranya—meski hingga saat ini Jihoon sama sekali tidak pernah mengecewakannya.

Malam itu Yoongi bermimpi, di mana sewaktu ia masih muda dan masih baru mendapatkan tawaran untuk bekerja pada Namjoon, ia bertemu dengan seorang Omega berambut pirang dengan mata kecil yang menawan, bibir ranum dengan aroma cherry pekat di tubuhnya. Omega tersebut menari di dalam studio dengan gerakan luwes, menonjolkan setiap lekukan tubuh sempurna, dan juga ekspresi yang berubah-ubah seolah-olah tari adalah perjalanan hidupnya. Hanya melihat pemandangan seperti itu saja dalam sekejap telah menarik perhatian Yoongi.

Dalam tidurnya, Yoongi tersenyum.

Ah.

Bahkan dalam mimpi pun, ia tetap jatuh cinta.


(THAT'S THE END OF THE STORY)

Terimakasih yang sudah bersedia mengikuti cerita ini hingga akhir. Yang sudah rajin memberikan review, yang rela memasukkan cerita ini ke favorite dan followed stories! Juga yang diam-diam membaca dan mengikuti sampai akhir!

Yang sudah mereview di chapter sebelumnya (terima kasih banyaakkk masih bersedia meninggalkan review huhu. Review kalian banyak yang membuat saya terhibur): YMlove, LittleOoh, Anik0405, Hanachanoke, yoonminable, Minimini SyugaMin, MinPark, , Linkz account, Kuki Ra, .