T/N: terima kasih reviewnya! Selamat datang bagi para pembaca baru ^^
DISCLAIMER lihat Bab 3
xxx
Bab 11
Daily Prophet tiba keesokan paginya dengan tajuk utama "Dark Lord Memiliki Seorang Keturunan!" pada halaman muka. Mentri Fudge merilis berita tersebut kepada media larut malam tadi bahwa Kalian-Tahu-Siapa memiliki seorang anak, yang dikenal hanya dengan nama Dark Prince. Dia memberikan pernyataan utuh, yang mengumumkan mengenai pasukan elit Hit Wizard-nya yang telah menangkap Dark Prince dan bahwa anak itu akan menerima pengadilannya segera.
"Adalah merupakan hak bagi setiap menyihir untuk menerima pengadilan yang adil dan objektif," Mentri Fudge membacakan sebuah naskah. "Bahkan mereka yang menganggap diri mereka bukan bagian dari masyarakat kita. Penyihir-penyihir, yang menyebut diri mereka memiliki kekuatan kegelapan, ini menentang peraturan-peraturan dan undang-undang yang dianut oleh dunia sihir kita, tetapi sebagai Mentri Sihir, saya masih akan memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki sikap dan mengakui tindak kejahatan yang telah mereka lakukan. Putra dari Dia-Yang-Namanya-Tak-Disebutkan akan menerima pengadilan dan diadili sesuai tindak kejahatan yang dia lakukan terhadap dunia sihir. Detil persisnya mengenai waktu dan tempat diadakannya pengadilan belum dirumuskan tetapi saya berjanji: keadilan akan ditegakkan!"
James menjauhkan korannya dengan marah. Dia tidak ingin membaca lebih banyak pidato Mentri yang dipenuhi kepalsauan dan prasangka. Dia tahu Fudge tidak ingin memberikan kesempatan menempuh pengadilan kepada Dark Prince. Dia hanya melakukannya untuk mencari perhatian publik. Fidge telah menentukan takdir anak itu; Dark Prince akan dijatuhi hukuman Ciuman Dementor. Hal itu tidak diragukan lagi. Pengadilan itu hanya topeng, dikenakan oleh Mentri sehingga dia dapat menunjukkan kepada dunia, betapa adilnya dia sebagai seorang pemimpin. James menusuk bacon-nya dengan marah, hampir membelah piringnya menjadi dua.
"Santai, James!" kata Lily di mejanya. "Itu piring-piring kesukaanku."
"Sori," gumam James.
"Aku paham yang kaurasakan," kata Sirius, sebelum menyisip tehnya. "Aku juga jengkel. Mereka bahkan tidak menyebutkan kerja keras yang kita lakukan untuk menjebak Dark Prince." Dia mengernyit. "Penangkapan Memukau oleh Pasukan Hit Wizard; yang benar saja!" dia mendengus.
James tidak menanggapi, namun dia menurunkan garpunya, selera makannya lenyap.
"James, kau baik-baik saja?" tanya Lily, mengamati suaminya dengan penuh perhatian. "Kau belum menyentuh makananmu."
"Iya, ayolah, bacon dan telur!" kata Sirius, menyikut James. "Itu, kan, kesukaanmu!" dia mencomot salah satu bacon dari piring James dan menggigitnya. "Atau ini kesukaanku?" dia tertawa.
"Kenapa sih kau ada di sini?" tanya Lily, matanya memicing kepada Sirius.
"Aku pingin sarapan," kata Sirius, berpura-pura bingung. "Aku, kan, lapar," dia mengerucutkan bibir.
Lily memutar mata.
"Aku harus berjuang keras kalau untukmu; memberi makan orang yang tak pernah kenyang sepertimu!" katanya.
Sirius nyengir.
"Ah, akui saja, Lils. Kau senang aku datang berkunjung."
Lily mengernyit dan berdiri, membereskan meja.
"Sungguh, aku sungguh tidak senang kau datang berkunjung!" jawabnya.
Sirius terkekeh dan mengembalikan perhatiannya kepada James, yang masih hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Hei, Prongs? Apa yang sangat menyiksa zat kelabumu?" dia bertanya. (T/N: "grey matter", zat kelabu di dalam otak manusia.)
James memandangnya, namun menggeleng.
"Bukan apa-apa. Bukan apa-apa, kok."
Pintu menuju ruang keluarga dari dapur terbuka dan James mendistraksi dirinya sendiri dengan mengamati Damien terduduk di karpet, bermain catur melawan Ron. James lega Ron datang berkunjung, tinggal selama seminggu di sini. Keberadaannya lumayan meringankan kebosanan yang diderita Damien sepanjang libur musim panas.
Dia mengamati anaknya yang berusia dua belas tahun itu melanjutkan permainan yang telah mereka mulai sejak semalam. Damien dan Ron telah membiarkan perangkat caturnya tak dibereskan sejak semalam, sehingga mereka dapat melanjutkannya pada pagi harinya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku akan mengalahkanmu kali ini," kata Damien, menjalankan salah satu pion ke seberang papan.
Ron nyengir kepada anak yang lebih muda itu.
"Menyerahlah, sobat," dia menggoda. "Aku ini pro. Kau tak akan sanggup mengalahkanku." Ron menjalankan sebuah taktik yang menyebabkan pion Damien terbang keluar dari papan.
Damien menatap Ron dengan kesal, sebelum mengembalikan perhatiannya kepada papan catur. Tekadnya membulat; dia memikirkan strateginya dengan hati-hati. Tiba-tiba, dia menjalankan salah satu pionnya sejauh tiga petak, memakan pion Ron. Bahkan dari kejauhan, James dapat melihat bahwa gerakan itu melanggar peraturan.
"Hei!" Ron memprotes. "Itu curang!"
Damien mengangkat satu alisnya.
"Oh ya?" dia bertanya, nyengir.
Kata sederhana yang diucapkan tanpa sengaja itu seperti menikam James tepat di perutnya. Dia menegakkan punggung di tempat duduknya, menatap Damien. Kata-kata itu memenuhi kepalanya. Cara Damien mengucapkan kata-kata itu, suaranya, nadanya yang mengejek, sedikit bumbu tawa dalam suaranya... semuanya sama. Cara bicara Damien sih tidak terdengar berbahaya, tetapi masih mirip. Luar biasa mirip sampai seram rasanya. Ingatan tentang seorang anak lelaki bertopeng perak, berputar untuk mengamati Kingsley, sebelum mengatakan hal yang sama, dengan cara yang sama, kembali muncul dalam kepala James seperti sebuah gelombang besar yang menghantamnya. Suara Dark Prince menggaung di kepalanya.
Tanpa kata, James bergegas berdiri, sekarang mengabaikan kedua anak yang sibuk berdebat di ruang keluarga.
"Prongs?" Sirius mendongak kepadanya saat temannya itu mendadak berdiri.
"James? Ada apa?" tanya Lily, menjauh dari tempat mencuci piring.
"Tidak ada apa-apa. Aku... aku hanya harus... melakukan sesuatu," gumam James, berjalan ke pintu.
"James? Ada apa? Kau mau kemana?" tanya Lily, melangkah ke hadapan James.
"Aku harus mengurus sesuatu," kata James, masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak benar-benar memperhatikan Lily. "Aku akan segera kembali," dia berjanji dan bergegas menuju pintu belakang, menariknya membuka dan menghilang di luar.
"James?" Lily memanggil, tetapi suaminya sudah pergi. Dia berbalik dan menatap Sirius yang tampak terkejut, masih terduduk di meja dapur. "Aku tak tahu dia kerasukan apa," katanya. "Tingkahnya aneh sejak kemarin."
Sirius berdiri dan menghampiri Lily.
"Ini masalah Dark Prince. Masalah ini mengganggu pikirannya," kata Sirius.
Lily mengangguk.
"Dia tidak berhenti melamunkan itu kemarin," katanya, menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
Mata hijau zamrudnya menatap ke pemandangan di balik pintu lagi, pada titik dimana suaminya ber-Disapparate. Sirius tidak tahan mendapati Lily tampak merana, maka dia melakukan apa yang biasa dia lakukan untuk mendistraksinya; menggodai Lily.
"Ini semua salahmu," tuduh Sirius.
Lily berputar cepat dan menghadapi Sirius.
"Maaf? Salahku?" dia bertanya.
"Kalau kau bisa lebih menghiburnya di kamar tidur, James akan jauh lebih santai dan bahagia," kata Sirius.
Lily melongo.
"Maaf?" kata Lily. "Apa yang terjadi di dalam kamar tidur kami bukanlah urusanmu!"
"Aku tahu, aku tahu," kata Sirius, sambil lalu, melambai-lambaikan tangannya. "Ini privasi kalian," dia membuat tanda kutip di udara. "Tetapi biar kuberitahu. Jika kau memberikan penghiburan penuh cinta kepada James, dia tak akan peduli siapa yang akan di-Cium Demetor!"
Lily melotot.
"Kau sudah gila!" katanya, kembali ke tempat cuci piring.
"Kau tahu apa yang harusnya kaulakukan?" tanya Sirius, mengekorinya. "Malam ini, masaklah makanan kesukaannya, nyalakan beberapa batang lilin, dan kenakanlah kemeja merah-hitam dan berendamu. Itu akan membuat Prongs tua senang seketika!" dia nyengir.
Lily tampak benar-benar tersinggung.
"Apa kau mengintip barang-barangku, orang cabul?!" dia bertanya.
"Tidak kok!" Sirius mengernyit. "Aku tak akan berani melakukan itu! Dan aku mengembalikan tuduhan itu kepadamu!"
"Lalu bagaimana kau tahu kalau aku punya kemeja itu?" tantang Lily.
"Aku tidak tahu, sampai baru saja ini," Sirius nyengir.
"Keluar sana!" kata Lily, jari telunjuk mengarah ke pintu.
Sirius mengedip sebelah mata kepadanya, tetapi berjalan menuju pintu dengan patuh. Dia meniupkan ciuman aku-hanya-menggoda-jangan-marah kepadanya dan meninggalkan dapur.
Lily kembali mencuci piring, tetapi wajahnya dihiasi senyuman kecil saat mengingat kelakuan Sirius. Dia selalu membuay Lily jengkel, tetapi dia selalu dapat membuat Lily tersenyum.
xxx
Mustahil mengetahui apakah hari sudah pagi atau belum tanpa adanya jendela yang membawakan cahaya matahari. Selama terjebak dalam sel yang gelap tanpa adanya petunjuk mengenai waktu, Harry merasa dia telah berada di dalamnya selama berhari-hari, dan bukannya berjam-jam. Satu-satunya obor telah padam berjam-jam lalu, dan meskipun Harry dapat menyalakannya lagi tanpa bantuan tongkat sihir, dia toh tidak membutuhkan obor itu. Memangnya mengapa dia membutuhkan cahaya di selnya? Dia tidak merasa harus mempelajari sesuatu.
Kesadarannya pulih beberapa waktu lalu semalam dan meskipun bekas lukanya masih sakit dan kaki dan sisi tubuhnya masih berdenyut nyeri, dia telah merasa lebih baik daripada sebelumnya. Rasa sakitnya tidak setajam tadi dan telah mulai mereda. Hanya mereda sedikit sih, tapi dia tetap merasa lega. Dia memang tipe yang cepat sembuh jika terluka.
Harry berbaring telentang, kedua tangan terlipat di bawah kepalanya sebagai bantal di atas lantai batu yang dingin, dan dia memandang tanpa arah pada kegelapan. Dia belum tidur, dia tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu dipenuhi masalah yang kini dihadapinya untuk dapat tidur.
Obor tadi dimantrai untuk menyala sendiri dan begitu waktunya tiba, obor itu menyala dengan sebuah ledakan api yang mendadak dan cahayanya menari-nari hingga ke sel Harry. Harry mendesah dan memejamkan mata, menyiapkan mental untuk menghadapi penyiksaan yang tidak diragukan lagi akan datang. Dia tahu para penjaga akan menggunakan proses interogasi sebagai alasan untuk menyakitinya. Dia bukannya tidak tahu apa-apa mengenai niatan mereka itu. Bahkan jika Harry menjawab semua pertanyaan mereka—bukan berarti dia berencana demikian—para penjaga masih akan menyakitinya untuk sebab identitasnya. Ayahnya selalu berkata kepadanya bahwa ada orang-orang di dunia ini yang akan menyakitinya hanya karena dia adalah putranya.
Sebuah pop lirih membawakan sebuah mangkok dan piala minum kecil di sudut. Harry berdiam di tempatnya, mengabaikan sarapan itu. Dia tidak merasa lapar. Dia berkata kepada dirinya sendiri, bahwa akan lebih baik jika dia membiarkan perutnya kosong. Setidaknya, dia tidak akan memuntahkan sesuatu selama dia disiksa nanti.
Dia mendengar gema langkah kaki di kejauhan, mengarah kepadanya. Dengan satu tarikan napas panjang, Harry duduk, berharap dia tidak terlihat lemah.
Jackson menepati janjinya dan sampai pada pintu Harry.
"Pagi!" dia menyapa dengan senyuman. Dia menggedorkan tongkat sihirnya ke jeruji besi, membuat suara itu bergema di sekeliling sel. "Bagaimana tidurmu semalam?" dia bertanya.
"Sempurna," jawab Harry.
Jackson melirik mangkuk dan piala minum yang tak tersentuh.
"Kulihat kau tidak menyentuh sarapanmu," kata Jackson. "Ada apa? Tidak sesuai dengan standar Prince?"
Harry menyeringai.
"Biasanya aku makan gourmet saat sarapan," Harry mengikuti permainannya, untuk membuat sipir itu jengkel.
Jackson memiringkan kepala, mempelajarinya. Dia harus merasa kagum kepada anak itu. Untuk seseorang semuda anak itu, dalam situasi seperti ini, anak itu dapat tetap bersikap tenang dan sama sekali tidak tampak takut. Hal itu pantas untuk dihormati.
"Baiklah, mari kita mulai," kata Jackson, membuka kunci pintu dan menarik daun pintunya membuka. "Berdirilah."
Harry menurut; dia beranjak ke kakinya, mengabaikan betapa pegal sekujur tubuhnya. Kedua penjaga yang menyertai Jackson masuk ke sel dan mengawalnya keluar, berada tetap di kanak kiri Harry, tetapi tidak menyentuhnya.
Seperti semalam, Jackson berjalan memimpin sementara Harry mengikuti dengan diapit oleh kedua penjaga yang memastikannya untuk tidak melakukan suatu apapun. Para penjaga membawa Harry ke sebuah tangga dan memanjatnya. Tangga itu sepertinya tidak berujung. Mereka terus menaiki tangga, semakin tinggi dan semakin tinggi pada bangunan seperti benteng itu hingga akhirnya, mereka tiba di lantai teratas. Para penjaga mendorong Harry memasuki sebuah ruangan.
Ruangan kecil itu hanya diisi oleh tiga perabotan. Sebuah meja persegi dan dua kursi saling berhadapan. Harry segera memperhatikan perbedaan antara satu kursi dengan kursi lainnya. Yang satu berpunggung tinggi, terbuat dari kayu yang kokoh dan tampak berwibawa. Sedangkan yang satunya terbuat dari logam, dengan sandaan tangan yang dilengkapi rantai dan belenggu. Sebuah rantai tebal dan panjang melintang di atas tempat duduknya, pada bagian tepi, seolah-olah siap terjatuh.
Harry diseret menuju kursi logam itu dan didudukan, sebelum kedua penjaga kemudian melakukan prosedur pengamanan. Rantai yang tebal dan panjang diseretkan melingkai pinggang Harry dan dikencangkan sehingga rantai itu memberati tubuhnya. Lengannya ditautkan di belakang kursi dan Harry terkejut. Dia pikir tangannya akan dibelenggu pada sandaran tangan, tetapi para penjaga memutuskan hal itu terlalu nyaman bagi seorang putra Voldemort. Harry merasakan gigitan tajam borgol logam yang melingkari pergelangan tangannya saat kedua lengannya diikat di punggung. Kencangnya ikatan itu seketika menyakiti otot bahunya, membuat Harry diam-diam menggeram. Dia tahu dia akan tetap berada dalam posisi ini selama setidaknya beberapa jam. Bagaimana bahunya nanti, ya? Pergelangan kakinya dibelenggu pada kaki depan kursi, borgol logamnya sangat erat sehingga membekas pada kulitnya. Saat dirantai sedemikian rupa itulah Harry pertama kali merasakan dirinya paling tidak berdaya. Dia sama sekali tidak dapat bergerak. Cengkeraman borgol-borgol logam pada pergelangan tangan dan kakinya sudah sangat erat dan rantai di pinggangnya melingkar terlalu erat sampai sakit rasanya.
Harry mendongak saat para penjaga melangkah mundur, setelah mengamankan rantai-rantai dan belenggunya seerat mungkin. Jackson menontonnya, dia mengenakan seringai menyebalkan itu lagi. Perlahan, Jackson mendekati Harry; ketukan sol sepatunya terdengar keras di ruangan itu. Lelaki itu berdiri di hadapan Harry dan duduk di atas meja, langsung di hadapannya.
"Kau kelihatannya pintar," dia memulai, "jadi kau tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Jika kau menjawab pertanyaan kami dan memberikan semua informasi yang kami butuhkan, kami akan membiarkanmu sendiri sampai tanggal pengadilanmu." Jackson menjelaskan, "Namun, jika kau berlagak bodoh dan tetap melawan atau tidak ingin berbagi informasi, maka hanya kaulah yang akan menderita. Kau akan diseret kemari, terikat seperti ini dan ditanyai setiap hari sampai kau menjawab semua pertanyaan kami. Tapi aku tak ingin banyak merepotkan Penyembuh Bennett, jadi, mari mencoba mengakrabkan diri, oke?"
Harry memberikan seringai sebagai tanggapan.
"Mengakrabkan diri dengan sampah dari Kementrian?" tanya Harry. Seringainya berubah menjadi raut kebencian. "Aku lebih baik mati."
Jackson tampak kecewa. Dia mengamati Harry agak lama, sebelum berpaling darinya. Dia menggeleng, sebelum meraih sesuatu di jubahnya dan mengeluarkan setabung kecil cairan tanpa warna.
"Menurut pengalaman kami, pembunuh berdarah dingin seperti dirimu," Jackson mengayunkan tangan kepada Harry, "menolak untuk menjawab dengan jujur." Dia mengangkat tabung kecil itu ke hadapan Harry. "Beberapa tetes Veritaserum, untungnya, akan membereskan hal itu."
Harry menegang, walaupun apapun usaha yang telah dia lakukan untuk menenangkan diri. Dia mengamati tabung itu dengan cemas, otaknya berputar mencari cara untuk melindungi ayahnya.
Jackson mencondongkan badannya maju dan menepuk bahu Harry, menyeringai kepadanya.
"Waktunya untuk membeberkan apapun yang kauketahui, Nak," katanya.
Harry tak dapat melakukan apapun selain melotot kepadanya. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan beringsut mundur saat Jackson mendekatkan tabung itu kepadanya. Jackson mendesah dan memandang seorang penjaga di sebelah kiri Harry, mengangguk kepadanya. Penjaga itu menodongkan tongkat sihirnya kepada Harry.
Dia menggumamkan sebuah mantra dan sebongkah cahaya meluncur dari tongkat sihirnya. Bongkahan cahaya itu menghantam rusuk Harry, mengagetkan tubuhnya yang memar-memar dan nyeri di sana-sini. Rasa sakit meledak di sisi tubuhnya, sehingga Harry menjerit, menggulung tubuhnya sebisa mungkin dengan rantai yang mengikatnya. Penjaga yang lain bergerak di belakang Harry dan meraih senggenggam rambutnya dan menjambaknya tanpa ampun, hampir mematahkan punggung Harry. Jackson telah menggenggam wajah Harry; genggamannya sangat erat sehingga mungkin dapat meninggalkan memar. Dia meneteskan tiga tets Veritaserum ke mulut Harry. Para penjaga pun melepaskannya, membiarkan anak itu terengah-engah, mengatur napas.
Jackson menunggu beberapa saat, mata birunya tak meninggalkan Harry, mengamati anak itu terengah kesakitan, tetapi tetap berusaha menegakkan punggung. Amarah di mata hijau zamrudnya mengintimidasi. Jackson harus mengakui itu, tetapi anak itu terikat dengan aman, sehingga tidak akan dapat membalas apapun perlakuannya.
Jackson mengeluarkan sebuah bola perak dan menyentuhnya, memulai rekaman proses interogasi ini. Dia mencondongkan tubuhnya maju sehingga wajahnya hanya beberapa inci jauhnya dari wajah anak itu.
"Apakah kau yang dipanggil Dark Prince oleh para Pelahap Maut?" dia mengeluarkan pertanyaan itu sebagai uji coba; sebuah pertanyaan yang telah dia ketahui jawabannya.
Harry memaksa rahangnya mengatup, tetapi jawaban itu tetap keluar darinya.
"Benar."
Jackson tersenyum dan menjauhkan wajahnya dari Harry. Dia melipat tangan di dada dan mempelajari anak itu selama sesaat.
"Siapa namamu?" dia bertanya. Dia toh memang ingin tahu.
Harry memejamkan mata saat nama itu meluncur keluar dari bibirnya.
"Harry."
Satu alis Jackson terangkat.
"Harry?" ulangnya. "Nama yang sangat biasa. Bukan nama yang kuduga akan diberikan oleh Kau-Tahu-Siapa," dia terkekeh. "Kau tak punya nama keluarga?" dia bertanya, iseng.
"Punya, tapi aku tak menggunakannya," geram Harry.
Jackson memberikan pertanyaan berikutnya, salah satu yang ingin dia ketahui sejak pertama kali melihatnya. "Berapa usiamu?"
"Enam belas," datanglah jawaban itu.
Seringai Jackson lenyap. Enam belas? Dia pikir anak itu lebih tua dari itu. Perilakunya seperti berasal dari anak yang berusia lebih tua dan Jackson sempat menganggap anak itu telah cukup umur. Tadinya dia berharap anak itu menjawab setidaknya usia delapan belas. Jackson bertukar pandangan dengan dua lelaki lainnya di ruangan itu; bahkan mereka tampak sama terkejutnya. Mereka sedang menghadapi seorang anak-anak. Jackson kembali memandang Harry, mengamati wajahnya dan melihat bahwa dia memang terlihat muda seperti anak berusia enam belas tahun lainnya, tetapi pembawaannya seperti lebih tua dari itu.
Mengabaikan syoknya, Jackson melanjutkan kembali tugasnya. Dia menatap mata anak itu, memikirkan pertanyaan berikutnya dan efek apa yang dimunculkan sebab jawabannya akan sangat berpengaruh pada dunia sihir.
"Dimana Lord... V-Voldemort?" dia bertanya, ragu saat mengucapkan nama penyihir hitam itu.
Harry menatapnya lurus-lurus saat dia menjawab.
"Di rumah."
Jackson mengejap. Bukan itu jawaban yang dia minta.
"Dimana letak rumah Voldemort?" tanya Jackson.
"Riddle Manor," jawab Harry.
Jackson diam-diam mengumpat. Semua orang tahu itu.
"Dimana letak Riddle Manor?" tanya Jackson.
"Di dalam perlindungan Mantra Fidelius," jawab Harry. Dia bahkan tak dapat menjawab pertanyaan itu saat di bawah pengaruh Veritaserum.
Jackson menatap Harry sesaat.
"Siapa Pemegang Rahasianya?" dia bertanya.
"Lord Voldemort," jawab Harry.
Jackson mengumpat. Seharusnya dia telah menduga ini. Dark Lord tak akan mempercayai siapapun selain dirinya sendiri. Dia mendesak lagi, jika dia tak dapat menemukan informasi yang berkaitan dengan Voldemort, dia harus mencari informasi mengenai Pelahap Mautnya.
"Siapa saja nama-nama Pelahap Maut Voldemort?" dia bertanya.
Harry diam sejenak; bibirnya terkunci selagi dia menatap lelaki di hadapannya. Jackson tahu ramuan itu akan memaksa Harry mengeluarkan jawaban. Dia hanya tinggal menunggu. Benar saja, Harry membuka mulutnya.
"Igor Karkarof, Regulus Black, Larry Hunt, Rodolphus Lestrange..."
"Mereka sudah mati!" bentak Jackson. Seringainya sekarang benar-benar lenyap.
Harry tidak menanggapi, karena Jackson tak mengajukan pertanyaan.
"Siapa saja nama para Pelahap Maut yang masih hidup?" desak Jackson.
Lagi-lagi Harry tampak berjuang keras sebelum dia menjawab, menjaga matanya terfokus pada Jackson.
"Anotonin Dolohov dan Bellatrix Lestrange."
Jackson menggeretakkan gigi. Matanya berkilat marah.
"Kami sudah tahu tentang mereka!" bentaknya.
"Itu bukan masalah bagiku," jawab Harry.
Jackson kehilangan kesabarannya. Tinjunya mengenai Harry, melemparkan wajahnya ke samping. Kursinya hampir terjungkal akibat kekuatan pukulan itu, tetapi penjaga di samping Harry segera menyeimbangkannya kembali.
Jackson menjambak segenggam rambut Harry dan menarik tinggi-tinggi kepalanya.
"Sebutkan nama-nama Pelahap Maut yang belum diketahui Kementrian!" serunya.
"Jason Riley... Thorfinn Rowle..."
"Mereka sudah mati!" Jackson menggelegar, menguatkan cengkeramannya.
"Kementrian, kan... tidak tahu, mereka... Pelahap Maut," Harry terengah; menyeringai pada ekspresi membunuh sipir itu.
"Kau bajingan kecil!" Jackson melepaskan rambut Harry dan bergerak untuk meninjunya lagi.
"Jackson! Tahan dirimu!" salah satu penjaga menarik Jackson dan membawanya menjauhi Harry. "Dinginkan kepalamu!"
Harry terengah-engah, merasakan darah di mulutnya. Dia meludahkannya, menengadah untuk menatap sipir yang murka itu.
"Dia cuma mengerjaimu," penjaga itu berkata kepada Jackson. "Jangan kehilangan kesabaranmu."
Jackson mengambil napas panjang. Dia tahu anak muda itu mengerjainya, memaksanya kehilangan kesabaran. Dia tidak mengatakan satupun hal yang dapat dimanfaatkan. Dia memanipulasi Veritaserum, mengatakan kejujuran tetapi tidak menjawab pertanyaan.
Jackson menyisiri rambut pirang pendeknya dan menghela napas panjang lagi. Dia berjalan mendekati Harry dan, lagi-lagi, mencondongkan badan kepada Harry pada tepian meja. Dia menggenggam tepian meja, seolah-olah untuk mencegahnya mencapai anak itu lagi.
"Baiklah, Harry," dia berkata, mencoba untuk menyeringai dengan tenang. "Mari kita coba lagi," dia berpikir keras untuk mengkalimatkan pertanyaannya, sehingga dia dapat memancing jawaban yang sesungguhnya dari Dark Prince.
"Sebutkan nama-nama Pelahap Maut yang masih hidup tetapi bersembunyi dari Kementrian."
"Fenrir Greyback, Mark Jugson, dan Evan Rosier," jawab Harry.
Pegangan Jackson pada pinggiran meja sangat erat sehingga buku-buku tangannya memutih.
"Semua orang itu dalam pelarian," dia mendesis. Kementrian sudah tahu mereka adalah anak buah Voldemort.
Harry menyeringai.
"Maka dari itu, bersembunyi dari Kementrian."
"Oke! Cukup!" Jackson menegakkan punggung, mengisyaratkan para penjaga untuk melepaskan Harry.
Para penjaga menurut; Jackson berbalik untuk menyentuh bola perak itu, untuk menghentikan proses rekaman. Dia berbalik dan mendapati para penjaga telah melepaskan Harry dan menariknya berdiri.
"Kau pikir kau pintar, ya?" tanya Jackson, berjalan mendekatinya sehingga dia hanya berdiri beberapa inci jauhnya dari anak berusia enam belas tahun itu.
Dalam pengaruh Veritaserum, Harry menjawab dengan jujur.
"Ya."
Jackson mengerling kepadanya.
"Kalau begitu, kita tinggal melihat seberapa pintar dirimu!"
Dia merenggut kerah jubah Harry dan menariknya, melemparkannya dengan marah ke seberang ruangan. Harry menabrak meja; pojok meja menusuk sisinya. Dia hampir terpelanting ke lantai, kesakitan. Penglihatannya memutih, dan dia berpegangan pada meja agar tidak terjatuh. Sebuah tangan menyergapnya dari belakang dan memutar tubuhnya.
Saat itulah kesabaran Harry habis. Nalurinya mengambil kendali tubuhnya dan dia bereaksi. Dia menampar tangan Jackson, sebelum meninjunya tepat di wajah. Jackson terlempar ke belakang, terkejut. Para penjaga membidikkan tongkat sihir mereka ke arah Harry, namun sebelum mereka sempat mengutuknya, Harry mengangkat salah satu tangannya dan menyabetkannya ke udara. Kedua penjaga itu terjerembab, seakan-akan sebuah mantra tak terlihat telah menangkap mereka. Kedua penjaga itu membentur dinding dengan keras dan jatuh ke lantai.
Jackson membidikkan tongkat sihirnya kepada Harry dan menembakkan kutukan pengikat tubuh kepadanya. Harry menghindarinya dengan mudah sebelum melemparkan Jackson dengan sapuan tangannya. Jackson menabrak dinding, dan kepalanya terbentur. Harry memusatkan perhatian pada kursi logam tempatnya tadi dirantai. Tangannya menyabet udara lagi dan kursi logam itu bergeser ke seberang ruangan, menghajarnya dengan brutal, menyebabkan lelaki itu menggelung tubuhnya, kesakitan.
Kedua penjaga lainnya telah berdiri, tongkat sihir siap di tangan. Keduanya mengirimkan kutukan kepada Harry, tetapi tak satupun berhasil mengenai sasaran. Satu lagi mantra tanpa tongkat sihir Harry melontarkan kedua penjaga itu ke seberang ruangan, menabrakkannya ke dinding, sebelum kedua lelaki itu ambruk ke lantai, tak sadarkan diri. Pintu di belakang Harry tiba-tiba menjeblak terbuka dan tiga penjaga berhamburan masuk. Sebelum Harry dapat bereaksi, dia telah diseruduk hingga jatuh ke lantai. Dua penjaga menindih tubuhnya, menautkan kedua lengannya di punggung dan menekannya di sana.
"Apa yang terjadi?" salah satu dari penjaga baru itu bertanya kepada Jackson. "Kami melihatmu dari bola perekam. Kenapa kau melepaskan ikatannya?"
Harry merasakan borgol logam melingkari pergelangan tangannya, menjaga kedua tangannya tetap di punggung. Dia ditarik berdiri dengan kasar dan ditahan di sana oleh kedua penjaga yang menyeruduknya tadi. Harry terengah-engah; amarah dan ketidakpuasan berdenyut-denyut dalam dirinya saat dia melotot kepada Jackson. Sipir pirang itu menggeram kepada Harry, sama-sama terengah. Dia tak dapat berdiri tegak karena tadi dihantam kursi logam. Harry tahu tulang rusuk lelaki itu retak, setidaknya.
Harry menyeringai kepadanya.
"Tampaknya bukan cuma aku yang tersakiti," dia mengejek.
Jackson melesat ke arahnya, tetapi penjaga satunya mencegahnya, mencengkeram lengannya dan menariknya.
"Hei! Apa sih yang kaulakukan?" penjaga berambut coklat itu bertanya, terkejut karena Paul Jackson telah menyerang seorang narapidana. Biasanya dialah yang paling tenang di antara mereka. "Apa yang terjadi?"
Jackson melepaskan diri dari cengkeraman koleganya. Mata birunya terpaku kepada Harry. Jari telunjuknya terarah kepada Harry.
"Kau akan membayarnya!" dia menggeram. Dia memandang kedua menjaga yang memegangi Harry. "Bawa dia ke ruang bawah tanah, bagian tenggara," dia memberi instruksi. Dia berpaling kepada penjaga yang berambut coklat saat Harry ditarik keluar pintu. "Davis, carikan aku borgol Kelso."
"Jackson, apa...?"
"Carikan saja!" sergah Jackson, sebelum menyusul Harry.
xxx
Harry diseret menuju sisi bawah tanah Nurmengard oleh kedua penjaga; Jackson menyusul di belakangnya kali ini. Begitu Harry diseret memasuki koridor yang panjang dan berputar-putar di seksi bawah tanah penjara itu, dia langsung merasakan efeknya. Di sini, dia lebih sulit bernapas; udaranya terasa berat dan tebal. Dia tidak tahu apakah itu disebabkan mereka berada di bawah tanah atau disebabkan oleh mantra. Di sini juga lebih dingin. Sel yang dihuninya semalam terasa hangat dan sesak, tetapi tempat ini dingin. Dia menyaksikan sebaris sel merapati dinding.
Dia diseret menuju salah satu sel, tetapi alih-alih didorong masuk, para penjaga menghantamkan wajahnya ke jeruji. Borgolnya dilepaskan dengan paksa dari pergelangan tangannya dan dia diputar agar menghadapi Jackson. Sepasang tongkat sihir diacungkan ke wajahnya oleh para penjaga, tetapi tak satupun mantra terucap.
Penjaga berambut coklat, Justin Davis, menyerahkan sebuah borgol kepada Jackson.
"Jangan coba-coba melakukan sesuatu," Jackson memperingatkan dan untuk menekankan poinnya, salah satu penjaga membawa ujung tongkat sihirnya ke pelipis Harry. Jackson menyambar pergelangan tangan Harry dan memborgolnya dengan borgol itu, tak peduli betapa merahnya tangan Harry.
Begitu Harry selesai diborgol dengan kedua tangan di depan, Jackson mencengkeramnya dan menyeretnya ke pintu sel. Kunci pintu itu dibuka dan daun pintunya ditarik membuka sebelum Harry didorong masuk. Harry berputar dan melotot kepada Jackson saat pintu selnya dibanting menutup; sebuah klik keras membuktikan kuncinya terpasang.
"Semalam di sini dan akan membeberkan semuanya kepadaku!" geram Jackson. Dia menudingnya dengan salah satu jarinya. "Kau yang membawa semua ini ke dirimu sendiri!" Dia berbalik dan melangkah menjauh. Ketiga penjaga lain menyusulnya. Terdengar bunyi berdebam keras dan tahulah Harry bahwa dia telah ditinggalkan sendirian.
Harry menggigil. Di tempat ini dingin sekali dan dia hanya mengenakan sehelai kaos tipis di balik jubahnya. Dia mengamati borgol yang melingkari pergelangan tangannya, mendapati huruf K terukir di permukaan logamnya. Dia menggerakkan jarinya, melengkungkannya untuk menciptakan bola api kecil. Tidak terjadi apa-apa. Harry mengumpat.
Dia bergerak cepat ke pintu selnya, meletakkan tangannya yang terborgol ke panel persegi di pintu. Dia mencoba melepas kuncinya, seperti yang dia lakukan pada pintu selnya semalam tadi. Tidak ada yang terjadi. Harry mundur, kecewa. Dia tahu apa kepanjangan dari huruf K tersebut. Para penjaga tadi telah memborgolnya dengan borgol Kelso; dinamakan seperti penyihir yang menciptakannya, Caluim Kelso. Borgol Kelso meredam kemampuan sihir tanpa tongkat sihir. Itulah sebabnya Jackson memasangkan ini ke tangan Harry.
Harry telah mencoba, sekeras mungkin, menahan emosinya dan tidak menggunakan kemampuan sihirnya tanpa bantuan tongkat sihir. Ayahnya selalu memberitahunya agar jangan menunjukkan potensi sesungguhnya kepada musuh. Elemen kejutan sering menguntungkan bagi pertarungan. Tetapi Harry tak dapat menahan diri lagi dan nalurinya melindungi diri telah menyebabkan para penjaga mengetahui kemampuannya menggunakan sihir tanpa tongkat dan mereka dapat mencegahnya menggunakan kemampuan itu dengan borgol ini.
Harry mundur, gemetar kedinginan di sel yang membekukan itu. Dadanya sakit dalam usahanya bernapas. Dia terjebak di tempat ini, tak dapat menggunakan sihirnya sama sekali untuk meloloskan diri dan menyamankan dirinya. Dia menengadah dan memandang langit-langit selnya dan mengembuskan napas. Napasnya berasap di hadapannya. Dia harus menunggu sehari untuk dapat keluar dari tempat ini.
xxx
Hari mulai petang saat James tiba di markas. Dia lega mendapati Remus juga ada, tentunya untuk menemani Sirius.
"Hei, Prongs!" sapa Sirius, saat James melangkah keluar dari perapian, selepas menggunakan Floo. "Ini sebuah kejutan. Aku tidak mengira Lily akan mengizinkanmu datang setelah kau kabur darinya tadi pagi!"
James tidak menanggapi gurauan itu, membuat Sirius mengernyit.
"Semuanya baik-baik saja?" tanya Remus.
"Ya, sekarang semuanya baik-baik saja," kata James.
Dia bergegas menghampiri mereka, mengeluarkan dua gulungan perkamen. Dia menyerahkan masing-masing satu kepada mereka.
"Apa ini?" tanya Sirius.
"Surat izinmu," kata James, "untuk dapat ke Nurmengard."
Kedua lelaki mendongak bersamaan dan menatapnya.
"Apa?" tanya Sirius.
"Bagaimana kau mendapat ini?" tanya Remus.
"Tidak mudah," James mendesah, duduk di kursi. "Aku harus meminta Robertson melakukan sesuatu. Prosesnya rumit dan membutuhkan hampir delapan jam untuk membuatnya menyetujui surat ini." James melambaikan tangan ke gulungan-gulungan itu, sebelum melepas kacamatanya dan menggosok matanya.
"Robertson melakukan itu untukmu?" tanya Sirius, terkejut.
"Ya, dan aku jadi ingat, kau masih punya tongkat pemukul itu, kan, yang ditandatangani Bagman?" dia bertanya.
"Tentu!" Sirius nyengir. "Salah satu benda favoritku!"
James meringis.
"Yah, kau harus menyerahkan benda itu kepada Robertson," dia memberitahu sahabatnya.
"Apa?! Kenapa?" tanya Sirius.
"Maaf, Bung," James mengangkat bahu. "Itulah kesepakatannya dan Robertson tahu kau punya tongkat pemukul itu dan dia tidak ingin benda lain yang kutawarkan," James menjelaskan.
"Aku tidak tahu Robertson adalah penggemar Bagman," kata Remus.
"Bukan kok," jawab James. "Tapi sejak kematian Bagman, apapun yang pernah ditandatangai Bagman dapat dijual dengan harga tinggi," James mengangkat bahu. "Aku akan menawarkan uang kepadanya, tapi itu akan dipandang sebagai suap."
"Maaf, tapi mengapa aku harus memberikan tongkat pemukul terbaik yang dibubuhi tanda tangan asli Ludo Bagman?" tanya Sirius, masih tidak sanggup mendengar James telah mengaturnya sedemikian rupa.
"Karena hal ini lebih penting," James menjelaskan, mengacungkan surat izin ke Nurmengard-nya sendiri.
Kedua lelaki itu terdiam, menatap gulungan perkamen di tangan James.
"Prongs..." Remus memulai.
"Aku menolak berdiam diri duduk di sini dan menerima apapun yang dilakukan orang lain terhadap Dark Prince," James memutus Remus. "Kita yang bersusah payah, kita mengerahkan segenap usaha kita dan aku hampir terbunuh olehnya," dia mengingatkan sahabat-sahabatnya. "Kupikir aku berhak menemuinya karena itu."
Remus dan Sirius bertukar pandnag, sebelum Remus kembali menghadapi James.
"James, kami paham mengapa kau ingin menemuinya," dia berkata. "Wajar saja merasakan apa yang kaurasakan," dia melanjutkan. Kata-katanya dipilih dengan hati-hati. "Tetapi ini tidak benar."
James tampak bingung.
"Apa yang tidak benar?" dia bertanya.
Remus ragu mengucapkan jawabannya. Alih-alih, dia menunduk dan berpaling. Sirius mengambil alih.
"Dengar, Prongs, Kawan," Sirius memulai. "Tak ada yang berhak menyalahkanmu jika kau marah atau ingin... melakukan... sesuatu, tetapi kami tidak menyalahkanmu. Kau bukan orang yang seperti itu!" dia memohon.
"Apa sih yang kalian omongkan?" James benar-benar bingung.
"James, kau terobsesi oleh Dark Prince sejak kau menemukannya," kata Remus. "Bahkan sekarang setelah dia ditangkap dan akan dijatuhi hukuman secepatnya, hal ini belum cukup bagimu." Remus menangkap mata James. "Aku tahu kau ingin menyakiti Voldemort," dia berkata, pelan-pelan. "Kau ingin menyakitinya atas apa yang dilakukannya kepada... kepada Harry." Dia menyaksikan James gelisah saat nama putranya yang telah tiada disebutkan, tetapi Remus tetap pada pendiriannya. "Tetapi jika kau menyakiti anaknya Voldemort, kau tak akan menyelesaikan masalah, dendam Harry tak akan terbalaskan. Melawan api dengan api hanya akan membuat apinya bertambah besar."
James berdiri, rahangnya mengatup rapat, tangannya terkepal di sisi.
"Kalian pikir aku ke Nurmengard untuk menyakitinya?" dia bertanya dengan kesal.
"Bukankah begitu?" tanya Sirius, lirih.
"Bukan!" James marah. "Bukan! Kalian pikir aku ini apa?!" dia berseru. "Ini bukan soal membalas dendam! Aku ingin membunuh Voldemort atas apa yang bajingan itu lakukan kepada...!" dia merasakan jantungnya terpuntir nyeri di dadanya saat gambaran anak tercintanya muncul di benaknya lagi. Dia bahkan tak dapat mengucapkan nama anaknya tanpa merasakan sakit di dadanya. Dia menarik napas panjang. "Aku tidak akan menyakiti anaknya," dia menyatakan, dengan lebih tenang. "Aku tidak berniat melakukan itu."
Baik Remus maupun Sirius terlihat lega.
"Untunglah!" desah Sirius.
"Jadi, kau berniat melakukan apa?" tanya Remus. "Kenapa kau melalui semua ini hanya untuk menemuinya?"
James berhenti, tak yakin akan mengatakan apa. Dia sendiri tidak yakin mengapa dia ingin pergi dan menemui anak Voldemort. Dia hanya tahu, bahwa dia harus melakukannya.
"Sejujurnya, entahlah," kata James, menjatuhkan diri lagi ke kursi. "Aku tak dapat menjelaskannya tapi ini seperti... seperti naluriku atau semacamnya, berkata agar aku pergi dan menemuinya," dia mencoba menjelaskan. "Aku tahu bagaimana ini terdengarnya, tapi... tapi aku merasa seperti aku harus bicara dengannya. Aku harus menemuinya."
Remus dan Sirius terhenyak.
"Dan ini tidak ada hubungannya dengan pembalasan dendam atau semacamnya?" tanya Sirius, tampak ragu lagi.
James menggeleng kuat-kuat.
"Bukan, bukan!" dia bersikeras. "Sudah kukatakan, aku bukan ingin menyakitinya."
"Jadi, begitu kita sampai di Nurmengard, lalu apa?" tanya Remus. "Apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kaukatakan kepadanya?" dia bertanya, dengan sikap seriusnya yang biasa. "Apa kau benar-benar berpikir anak yang mencoba membunuhmu itu akan mengobrol dengan ramah bersamamu?"
James terdiam.
"Entahlah," dia mengakui. "Yang kutahu hanyalah, begitu aku menemuinya, aku akan memikirkan sesuatu."
Sirius memandang temannya bergantian.
"Jadi, kapan kita berangkat ke Nurmengard?" dia bertanya.
"Sekarang," jawab James. "Kita hanya dapat izin untuk malam ini," dia menjelaskan pada kedua lelaki yang terkejut itu. "Aku mendapatkan koordinatnya. Kita ber-Apparate ke pulau terdekat, lalu ke sana dengan mengendarai perahu," dia memandang mereka. "Tidak apa-apa, kan?" dia bertanya, sadar pertama kalinya bahwa mereka berdua bisa saja tidak ingin pergi bersamanya.
Remus tersenyum, sementara Sirius nyengir.
"Apa lagi yang kita tunggu?" tanya Sirius. "Ayo, kita ke Nurmengard!"
James tersenyum lega. Dia selalu bisa mengandalkan kedua sahabat baiknya. Dia menggenggam gulungan perkamennya erat-erat di tangan, menatapnya.
"Benar," dia diam-diam setuju. "Ayo, kita ke Nurmengard."
xxx
T/N: Untuk sekitar seminggu ke depan tidak akan ada update, karena saya tidak akan dapat mengakses internet. Mohon bersabar ya :)
