ME, YOU, AND OUR DULLNESS
Pairing: Min Yoongi x Park Jimin (MinYoon) Slight!: Namjin, KookV, J-hope alone
Cast: BTS (Main Cast), Seventeen, EXO, IKON, NCT, MONSTA X, GOT7 (Other Cast)
Rated: M
Warning: BL, Typo, OOC (?)
Penjelasan:
1. Penampilan Yoongi sekarang berambut hitam kayak di era BST adan YNWA, tapi punya tato kupu-kupu di punggung tangannya kayak di fotoshootnya era RUN
2. Penampilan Jimin dan semua member BTS lainnya sekarang kayak di era BST
3. Penampilan Kihyun, Hyunwoo (Shownu), Wonho, dan Hyungwon kayak di era BEAUTIFUL
4. Penampilan semua member NCT kayak di era NCT life in Bangkok
5. Penampilan Junhoe, hanbin kayak di era AIRLPLANE
6. Mark rambutnya pirang
7. Pair yang ada di New York: JUNBIN, SHOWKI, HYUNGWONHO, JAEYONG, NOMIN
~chapter 11~
Yoongi berharap kalau sosok dihadapannya itu hanyalah ilusi semata. Dia tidak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. kalau boleh memilih, Yoongi lebih memilih terkubur dalam tanah daripada harus bertemu dengannya—apapun asal tidak melihat namja itu. kenapa dia ada disini? kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? kenapa aku harus melihatnya lagi? pikirnya bingung.
"Min Yoongi."
Ucapan Jimin menyadarkan Yoongi kalau sosok dihadapannya itu nyata. Ini bukanlah ilusi. Dia memang melihat Jimin. namja yang telah menghancurkan hatinya. Namja yang telah membunuh cintanya tiga tahun yang lalu. Jimin berjalan mendekat, tidak peduli banyak orang yang menatap mereka.
"tidak." Ucap Yoongi lirih. "jangan mendekat."
"hyung." mata Jimin terlihat memelas begitu mendengar penolakan Yoongi. "aku ingin berbicara denganmu."
"kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan" tanggap Yoongi dengan sinis.
"tapi hyung—"
"pergilah!"
"aku tidak akan pergi sampai kau mau berbicara denganku." Tukas Jimin.
"BAIKLAH, AKU YANG AKAN PERGI!" seru Yoongi kasar.
Jimin segera mengejar Yoongi yang keluar dari cafe. keduanya sudah berada di jalan yang ada diluar cafe. Jimin segera meraih tangan Yoongi begitu berhasil menyusulnya, menggenggamnya erat agar namja itu tidak kabur lagi. bagaimanapun dia tidak boleh kehilangan Yoongi lagi. "kumohon, hyung." berikan aku kesempatan.
"lepaskan!" Yoongi menepis tangan Jimin dengan kasar.
"hyung."
"kau! Berhentilah memaksanya!" seru Junhoe. namja bertubuh tinggi itu mendorong Jimin agar menjauh dari Yoongi.
"jangan ikut campur. Ini urusanku dengannya!" balas Jimin kesal. Jimin bergerak maju— berusaha meraih Yoongi kembali, Namun Junhoe menahannya sekuat tenaga.
"Mark hyung, cepat antar Yoongi hyung pulang. Biar aku yang mengatasinya." Ucap Junhoe begitu Mark dan Kihyun menyusul mereka.
Yoongi menarik lengan Mark. "ayo kita pergi, hyung." ujarnya.
Mark menatap sekilas pada Jimin dengan tatapan menilai, lalu pergi sambil merangkul bahu Yoongi. jimin menatap kepergian kedua namja itu dengan marah. Jangan menyentuh Yoongiku, brengsek! Umpatnya dalam hati. "cih! Kau menghalangiku! Aku ingin berbicara dengan Yoongi hyung!" serunya pada Junhoe yang tengah menghalanginya. Jimin mencengkram kerah baju Junhoe dengan kasar, bersiap akan memukul namja tinggi itu.
"ya! Kau brengsek!" Kihyun langsung mendorong Jimin hingga terjerembab ke tanah. "Yoongi sudah bilang dia tidak mau berbicara denganmu. apa aku tidak dengar itu?! berhentilah bersikap keras kepala dan pergilah dari sini!" serunya marah. Kihyun menarik tangan Junhoe dan membawanya kembali ke cafe. tidak peduli dengan tatapan sekitar, Kihyun langsung membawa Junhoe ke ruang staff. "Junhoe-ya, kenapa kau bersikap begitu? Apa kau tahu siapa namja itu?" tanya Kihyun. Melihat dari tindakannya barusan, tentu Junhoe tahu siapa Jimin.
Junhoe menghela napas panjang, lalu mengangguk mengiyakan. "ne, aku tahu siapa namja itu."
"darimana kau tahu? Apa Yoongi juga menceritakannya padamu?" tukas Kihyun dengan nada menyelidik.
"Yoongi hyung tidak sengaja menceritakannya padaku saat dia sedang mabuk dan aku menjemputnya ke Bar."
"jjinja?" Kihyun juga menghela napas. "menurutmu... apa yang harus kita lakukan?"
"kita harus menjauhkan namja itu dari Yoongi hyung. aku tidak mau si brengsek itu kembali menyakiti Yoongi hyung. sudah cukup dia tersakiti selama ini."
"tapi... kurasa dia sudah berubah."
Junhoe berdecak kesal. "yang benar saja hyung?! mana mungkin namja itu berubah?!"
Kihyun tahu seharusnya dia beranggapan sama dengan Junhoe. Kihyun sendiri sebenarnya juga tidak menyangka akan bertemu dengan Park Jimin—namja yang menjadi penyebab kesedihan sahabatnya selama ini. Kihyun marah pada dirinya sendiri. Seharusnya dia marah pada Jimin. Seharusnya Kihyun segera mengusir namja itu dari cafe, memukulnya, dan memakinya karena telah membuat Yoongi patah hati. Ya, seharusnya begitu. Namun begitu melihat mata Jimin menyiratkan kerinduan yang dalam saat menatap Yoongi, Kihyun terpaku. Seumur hidup Kihyun tidak pernah melihat tatapan sedalam itu. tatapan yang begitu menyiratkan penyesalan, cinta dan kerinduan yang melebur menjadi satu. Bohong kalau mengatakan Jimin tidak mencintai Yoongi. Kihyun sangat yakin namja itu sangat mencintai sahabatnya. Tatapan Jimin menjelaskan semuanya. Namun kenapa namja itu menyakiti Yoongi? menghancurkan perasaannya seperti itu?
Selama perjalanan Yoongi hanya terdiam . nampaknya mood-nya menghilang begitu bertemu dengan Jimin. Bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengannya lagi? apa bumi ini sesempit itu? kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? pikirannya berkecamuk jadi satu.
"kita sudah sampai." Ucapan Mark membuat lamunan Yoongi terhenti.
Mark membukakan pintu mobil untuknya.
"terima kasih sudah mengantarku, hyung." ujar Yoongi.
"kau tidak apa-apa?" tanyanya Mark khawatir.
Yoongi mengangguk lemah. Tentu saja aku tidak baik-baik saja. "gwaechana hyung."
"kau perlu sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu."
Yoongi menggeleng cepat. "tidak perlu hyung."
"tapi kau belum makan malam."
"aku akan memasaknya sendiri. lagipula aku bisa memesan makanan kalau tidak ada bahan makanan."
"baiklah... istirahatlah. Ini sudah malam. Jangan terlalu sering tidur terlalu malam."
Yoongi mengangguk. "mmm..."
Mark menangkap gelagat Yoongi yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. "ada apa? kau terlihat bingung."
Yoongi terlihat ragu, "hyung... bolehkah aku mengambil jatah liburku?"
"tentu saja boleh. Lagipula selama ini kau tidak pernah mengambil jatah liburmu bukan?" Mark membelai rambut Yoongi yang halus dengan hati-hati, seakan-akan namja itu akan hancur hanya dengan sentuhannya. Mark tahu Yoongi memutuskan hal ini pasti berhubungan dengan namja tadi, namun Mark tidak mau memikirkannya sekarang. Dia akan mencari tahu nanti, lagipula Kihyun pasti tahu apa yang terjadi. "aku harap kau tidak terlalu lama mengambil jatah liburmu, okay? Kihyun dan yang lainnya pasti akan kewalahan tanpamu."
"aku tahu hyung."
"baiklah. Aku pulang. Jaga dirimu." Mark mengenggam tangan Yoongi sejenak sebelum pergi meninggalkannya.
Yoongi menghela napas berat sambil menatap kepergian Mark. Yoongi segera memasuki flatnya dan menuju kamarnya. Namja manis itu merebahkan dirinya di ranjang. hari ini terlalu melelahkan untuknya. Yoongi mengambil ponselnya dari tas dan segera menghubungi Mingyu.
"yeoboseo hyung. ada apa? tumben kau menghubungiku duluan."
"apa kau mengatakan keberadaanku pada Jimin?"
"apa? aku tidak pernah mengatakannya pada siapapun."
"katakan yang sebenarnya, Mingyu-ah. Apa kau tidak pernah menceritakan keberadaanku pada siapapun?"
"Astaga hyung... aku berkata yang sebenarnya. Aku memang tidak penah mengatakan keberadaanmu kepada siapapun. Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu?"
Yoongi kembali menghela napas panjang. Ucapan Mingyu terdengar jujur. lagipula Mingyu adalah orang yang bisa dipercaya. Yoongi percaya Mingyu memang tidak membocorkan keberadaanya kepada siapapun meskipun Mingyu pernah memintanya untuk berbaikan dengan Jimin. "hari ini aku bertemu dengannya."
"jjinja?! Bertemu si brengsek itu?! Bagaimana bisa hyung?"
"entahlah. Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa mengetahui keberadaanku. Tadi kami bertemu di cafe. sebenarnya aku sudah mendengar kalau dia akan mengadakan konser di New York, tapi aku tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi. maksudku, New York kan luas—"
"kau tidak apa-apa hyung?"
"hah?"
"berhentilah berpura-pura tenang. Aku tahu kalau kau sedang sedih sekarang."
Mingyu diseberang sana terkejut begitu mendengar suara isakan Yoongi. "Hyung...! gwaechana?!" serunya panik. dia tidak menyangka Yoongi akan menangis.
Yoongi mengusap air matanya, "ne...mianhae."
"katakan padaku bagaimana perasaanmu sekarang. Jangan pendam perasaanmu sendiri hyung."
Yoongi berdehem dengan suara yang aneh. Napasnya terdengar berat karena menahan tangis. "aku hanya... kesal. Aku marah karena aku masih berdebar-debar saat bertemu dengannya, padahal seharusnya aku membencinya. Seharusnya aku menamparnya atau memakinya seperti yang seharusnya kulakukan. Aku... aku tidak tahu kenapa aku tidak melakukannya. Aku hanya lari seperti pengecut. Aku tidak siap bertemu dengannya..."
"tenanglah hyung. jangan terlalu dipikirkan. Mungkin itu cuma kebetulan."
"apa yang harus kulakukan kalau bertemu lagi dengannya?"
"bagaimanapun kau juga akan bertemu dengannya lagi. dia sudah tahu tempat kerjamu. Bahkan mungkin saja dia sudah tahu tempat tinggalmu sekarang. Kau tidak punya pilihan."
Yoongi semakin cemas. "Ottoke, Mingyu-ah?"
"kurasa hanya kau yang berhak memutuskan apakah kau akan menemuinya atau tidak. Pikirkanlah baik-baik."
Yoongi menghela napas berat. Mingyu memang benar. Dia tidak bisa terus melarikan diri.
"hyung."
"YAA~! KAU PIKIR SEKARANG JAM BERAPA PARK JIMIN?!" protes Namjoon.
Seokjin yang tengah tertidur pulas dipelukan Namjoon langsung terbangun begitu mendengar suara kekasihnya. Seokjin yang masih setengah mengantuk mengusap kedua matanya. "Joonie...?" ucapnya dengan nada mengantuk yang terdengar lucu.
Namjoon merasa bersalah karena telah membangunkan kekasihnya. "astaga... maafkan aku karena membangunkanmu, princess. " ucap Namjoon dengan nada bersalah karea telah membuat tidur seokjin terganggu. Namja itu kembali mendekatkan ponselnya ke telinganya, bermaksud menyalahkan seseorang yang menelponnya ditengah malam seperti ini. "yaa, ini salahmu! Gara-gara kau aku jadi membuat Jinseok terbangun. Awas saja kalau kau pulang dari Amerika!" ancamnya. "lagipula kenapa kau menelpon sih?"
"aku bertemu dengannya hyung. aku bertemu dengan Yoongi hyung."
"APA?! BA-BAGAIMANA BISA?" Seru Namjoon tidak percaya.
"kami tidak sengaja bertemu di cafe tempat Yoongi hyung bekerja."
"astaga... ini benar-benar takdir." ujar Namjoon takjub. Bagaimana mungkin Yoongi yang selama tiga tahun ini menghilang bertemu dengan Jimin, namja yang telah menyakitinya? Takdir memang benar-benar aneh. "lalu bagaimana dia sekarang?"
"dia tidak mau bertemu denganku, hyung. Kurasa dia sangat membenciku. Ya, Tentu saja dia membenciku. Aku telah menyakitinya dan menghancurkan hidupnya. Tentu saja dia sangat membenciku sekarang. Apa yang harus aku lakukan hyung? aku benar-benar tidak tahu." Jimin terdengar begitu putus asa.
Namjoon menghela napas berat. dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana. Namjoon menatap seokjin yang tengah menatapnya juga. Seokjin telah sepenuhnya terbangun. Namja cantik itu terlihat begitu tegang. Sepertinya seokjin tengah mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi.
"aku juga tidak tahu, Jim."
"hyung, tolong sampaikan pada Sejin hyung kalau aku ingin berada disini lebih lama lagi."
"yaa, tapi kau masih ada jadwal lain!" seru Namjoon.
"aku mohon hyung. biarkan aku menyelesaikan semuanya. Hanya kali ini saja."
Namjoon berpikir sejenak. Sejujurnya dia juga tidak tega untuk menolak permintaan Jimin. bagaimanapun Jimin telah menderita selama ini. "arraseo. Besok aku akan mengatakannya pada Sejin hyung. kurasa dia juga akan mengerti. aku dan member yang lainnya akan segera menyelesaikan semua urusan disini. Bagaimanapun masih ada pekerjaan yang belum selesai. Kami akan segera ke New York setelah semua selesai. Jangan terlalu memaksa Yoongi hyung. kau mengerti?"
"gomawo. Maaf sudah merepotkanmu, hyung."
"Joonie... apa Yoongi sudah ditemukan?" tanya seokjin begitu Namjoon telah mengakhiri telepon dengan Jimin.
"ya, Jinseok. Sekarang Yoongi hyung berada di New York. Jimin tidak sengaja bertemu dengannya di cafe tempat Yoongi hyung bekerja."
"astaga... maksudmu dia bekerja disana?" Seokjin tidak bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan sahabatnya itu selama tiga tahun ini. "apa Yoongi mau bertemu dengan Jimin."
"Yoongi hyung tidak mau bertemu dengannya. Kurasa memang sangat sulit untuk meluluhkan hati Yoongi hyung sekarang. Bagaimanapun Jimin sudah menyakitinya. Ini tidak akan mudah, Honey."
Seokjin terlihat begitu cemas. Namjoon memeluk kekasihnya dan membelai rambutnya dengan lembut. "Besok aku akan mengatakannya pada Sejin hyung dan yang lainnya. Aku akan mencoba mendiskusikannya dengan Sejin hyung untuk mengatur ulang jadwal kita, lalu secepatnya kita akan pergi ke New York untuk menemui mereka berdua."
"ya... kau benar. Aku ingin segera bertemu dengan Yoongi."
"tenanglah. Aku janji kita pasti akan segera bertemu dengannya, Chagi."
"Yoo Kihyun, katakan padaku siap namja yang kemarin memaksa Yoongi untuk pergi bersamanya."
Kihyun tahu kalau hari Mark pasti akan menanyakan hal ini padanya. namja manis itu menghela napas berat, lalu mendudukkan dirinya di sofa yang berada di ruangan khusus untuk pemilik cafe—ruangan pribadi Mark. "maaf hyung. aku tidak bisa mengatakannya padamu. Yoongi tidak akan suka kalau aku menceritakan soal kehidupan pribadinya."
"apa dia namja yang telah menyakiti Yoongi? apa dia yang telah membuat Yoongi sedih selama ini? kau tidak perlu menutupinya, Kihyun. Aku sudah tahu semuanya. Park Jimin, rekan segrup Yoongi saat dia masih menjadi Idol."
Kihyun terkejut. dia tidak menyangka Mark tahu tentang status Yoongi sebelum bekerja di cafe ini. selama ini dia mengira kalau namja berdarah China itu hanya menganggap Yoongi sebagai orang biasa. "da-darimana hyung tahu?"
"i'm not stupid, Kihyun. Kau pikir selama ini aku tidak tahu tentang status Yoongi? bagaimanapun aku pernah tinggal di korea selama beberapa tahun."
Benar juga. Kenapa Kihyun tidak pernah memikirkannya. "apa selama ini hyung mendekati Yoongi karena tahu kalau Yoongi adalah seorang mantan Idol?
"of course not. Aku memang mendekati Yoongi karena aku menyukainya. Aku tidak peduli apakah dia seorang Idol atau bukan. Aku akan tetap menyukainya."
"i know, sorry hyung." Tukas Kihyun. Kenapa aku menanyakan hal-hal bodoh, sih? Rutuknya pada dirinya sendiri.
Mark mengangguk, mengisyaratkan kalau dia tidak merasa tersinggung. "apa junhoe juga tahu tentang masalah ini?"
"ya, dia tahu. Yoongi tidak sengaja menceritakan hal ini padanya."
Kihyun menatap Mark dengan iba. Baginya Mark Tuan adalah namja yang sempurna. bertubuh tinggi dan berwajah tampan dengan senyum yang menarik. sifatnya juga sangat baik, ramah dan juga pintar. Seingat Kihyun, Mark adalah lulusan jurusan bisnis di Harvard University. Dia juga berasal dari keluarga yang kaya. Banyak sekali yeoja-yeoja yang rela datang ke cafe ini hanya untuk melihatnya. Sayang sekali namja sebaik Mark mengalami kisah cinta yang rumit seperti ini. "hyung, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau tahu kan kalau Yoongi tidak akan membuka hatinya dengan mudah?"
Mark tersenyum kecil. "aku hanya perlu berusaha, Yoo Kihyun."
TOK TOK TOK. "apa aku boleh masuk?" terdengar suara lembut dari luar.
Hampir saja Kihyun akan menanyakan sesuatu yang lain, namun suara hyungwon membuatnya teralihkan.
"masuklah."
Seorang namja bertubuh tinggi dan berpinggang langsing layaknya model memasuki ruangan. Ah, setiap melihat Hyungwon hanya membuat Kihyun teringat pada tubuh pendeknya. Meskipun bertubuh tinggi dan terkesan elegan, namun sifat asli Hyungwon sangatlah manis dan polos, membuat Kihyun dan pegawai lainnya memperlakukannya seperti anak kucing yang manis. Hyungwon tersenyum manis dengan pipi yang merah—mungkin karena dia jarang memasuki ruangan Mark. aduh imutnya~ sayang sekali namja semanis Hyungwon memiliki pacar yang mesum dan posesif seperti Wonho... batin Kihyun entah kemana.
"ada apa, Wonie?"
"ada seseorang yang mencarimu, Kihyunnie."
"eh? Nugu?"
"aku tidak mengenalnya. Dia namja yang sangat tampan dan memiliki rambut Silver Grey yang mencolok." Jelas Hyungwon, berusaha mencirikan namja itu.
Seingat Kihyun dia tidak mengenal seseorang yang mendekati ciri-ciri seperti yang disebutkan Hyungwon. Apa Hyunwoonie ganti gaya rambut? Ah tidak mungkin! Lagipula Hyungwon kan kenal Hyunwoonie. Lalu siapa? Apa jangan-jangan— Kihyun tersentak. "baiklah. Aku pergi dulu Mark hyung. Wonie tolong gantikan pekerjaanku sebentar sampai aku kembali, ne?"
Hyungwon mengangguk, menyetujui permintaan Kihyun. "dia menunggu didepan cafe."
Kihyun segera keluar dari cafe. benar saja, seseorang berambut Silver Grey—Park Jimintengah bersandar pada dinding luar cafe.
"yaa~! Berani sekali kau menampakkan wajahmu disini!" Protes Kihyun kesal.
Jimin mendekati namja manis itu, tidak memperdulikan protesan Kihyun padanya.
"kau beruntung karena sekarang bukan shift Junhoe. kalau dia melihatmu lagi dia pasti akan menghajarmu!"
"aku yakin kalau kau sendiri juga ingin menghajarku sekarang, Kihyun hyung."
"ya. Aku ingin sekali menghajarmu. Sayang sekali aku tidak jago berkelahi. Mungkin aku akan meminta bantuan namjachingu-ku untuk menghajarmu." Tukas Kihyun dengan nada sinis. "dan satu lagi, jangan pernah memanggilku hyung seolah-olah kita akrab. Aku musuhmu, Arra? Kita musuh!" tegasnya dengan cara yang sangat kekanak-kanakan.
"kau boleh menghajarku sesukamu setelah pembicaraan kita selesai."
"sejak kapan aku setuju untuk mengobrol denganmu?! cih, yang benar saja."
"jebal."
Kihyun bimbang, dia tidak tahu apakah dia harus ikut campur dalam masalah ini atau tidak. Beberapa menit berlalu dan Jimin masih menanti jawaban persetujuan Kihyun. Kihyun menatap namja yang berdiri dihadapannya itu. kenapa dia terlihat sangat putus asa? Aisshhh, Ottoke?! Batin Kihyun frustasi. "aishh... Geurae! aku setuju. Tapi ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya aku terlibat dalam urusanmu dan Yoongi."
"gomawo Kihyun Hyung."
Ahh... inilah kenapa Kihyun membenci dirinya sendiri. dia sangat lemah terhadap pria tampan. Bahkan pesona seorang namja brengsek seperti Park Jimin pun dapat meluluhkan sifatnya yang keras kepala. "ikuti aku."
Jimin mengikuti Kihyun kebagian belakang cafe yang merupakan lorong yang sepi.
"jadi apa yang ingin kau bicarakan? Kau tidak memaksaku kesini hanya untuk diam saja kan?" kata Kihyun membuka pembicaraan.
"tadinya aku ingin mencari Yoongi hyung, tapi rekan kerjamu bilang kalau dia tidak masuk. Mereka bilang kau sahabat terdekatnya, jadi kau pasti tahu dimana dia sekarang."
"kalaupun aku tahu memangnya aku akan memberitahukannya padamu?" seru Kihyun. "sekarang dia sedang cuti. Kurasa dia benar-benar tidak ingin bertemu denganmu."
"kapan dia akan masuk kerja?"
"entahlah. Aku juga tidak tahu."
"kumohon. Tolong beritahukan padaku dimana keberadaannya sekarang."
Kihyun menggeleng. "aku tidak mau. Yoongi sudah mengatakan padaku kalau dia tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini." jawab Kihyun dengan tegas.
"tapi—"
"dengarkan aku," sahut Kihyun. "kalau dia sudah siap, dia pasti akan menemuimu. Sekarang Yoongi hanya butuh waktu untuk menenangkan perasaannya, jadi berikan dia waktu." Kihyun menepuk bahu Jimin, "hanya itu kan yang ingin kau bicarakan? Kalau begitu aku akan kembali bekerja."
Jimin mengangguk. Lagipula tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Kihyun adalah sahabat yang setia. Jimin yakin, sekeras apapun dia memaksanya untuk memberitahukan keberadaan Yoongi, Kihyun pasti tidak akan pernah mengatakannya. Begitu Kihyun berlalu, Jimin memukul dinding disampingnya dengan keras. Dia tidak peduli tangannya lecet karena telah memukul tembok berkali-kali. Jimin hanya ingin meredam emosinya yang bergejolak.
"AGHH...!" Pekiknya, meluapkan segala emosi yang ada. Jimin menyandarkan tubuhnya ditembok setelah dia merasa lelah. namja itu mengusap wajahnya dengan tangannya.
"Yoongi hyung..." hanya nama itu yang ada dipikirannya saat ini.
~end of chapter 11~
Hah... akhirnya chapter ini selesai juga. BTW akhir-akhir ini author jadi suka sama MONSTA X. Lagu-lagunya mereka enak-enak banget. Apalagi yang Beautiful sama Shine Forever. Entah kenapa lagu2 ini selalu terngiang-ngiang. Bias Author di MX itu Kihyun. Kenapa Kihyun author jadiin sahabat Suga disini? soalnya mereka emang beneran sahabatan, bahkan mereka udah kenal sebelum mereka debut lho~ kalau diliat sekilas sifat keduanya juga mirip banget, Cuma bedanya Kihyun lebih cerewet dan kayak Eomma, kalau Suga lebih ke SWAG. Author gk janji buat update fast (Soalnya jujur aja author gk bisa nulis cepet2. Nunggu inspirasi lewat dulu), tapi author emang nargetin kalo 1 bulan sekali bakalan update kok. Pliss jangan lupa nulis review ya guys... soalnya autho emang butuh banget review dari kalian. Thank you bagi yg udah menyempatkan waktu buat baca ff ini. kapan kelar? Author tidak bisa memastikan...
