Session Talkshow

Bella : Minna, gomenne. Bella terlambat update lagi dan lagi.

Kazusa : Memang susah ya punya author yang sibuk.

Bella : Yah itu kan resiko jadi pelajar. Banyak ulangan, banyak tugas, dan bla bla bla.

Kazusa : Iya ya, kalau gitu cepat sana buka!

Bella : Oke, sebelumnya Bella mau nyampein pengumuman. Mungkin ada yang senang dan mungkin ada yang sedih. Tapi kayaknya fanfic ini bakal selesai dalam beberapa chapter lagi.

Kazusa : HEH, KENAPA?!

Bella : Alasannya masih dirasahasiakan dulu *sambil mengedipkan sebelah mata*

Kazusa : Sok misterius -_-

Bella : Chapter ini kita bakalan kedatangan personil baru.

Kazusa : Memagnya grub band, dibilang personil.

Bella : Kalau kalian penasaran dibaca ya.


Title : Vampire Game

Chapter 11 : Full moon part 2

Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

~Vampire Game~ © Bella-chan

Rated : T

Genre : Fantasy ; Mystery

Pairing : KazuRin

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

Summary : "Ckck lagi-lagi dia." / "Wah wah tidak ku sangka akan bertemu denganmu secepat ini Karin." / "Aku hanya mengembalikan ingatan Karin yang sudah diambil oleh Kazune." / "Aku pikir kau akan main kejar-kejaran dengan Akira malam ini seperti malam-malam sebelumnya." / "Sepertinya ia akan berubah menjadi oni."

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~Vampire Game~

Akira P.O.V

Aku segera melangkahkan kakiku secepat mungkin begitu melihat vampir yang tampak seumuran denganku kabur begitu aku mempergokinya sedang meminum darah manusia.

"Ckck lagi-lagi dia," ucapku kesal.

Tanpa membuang waktu lagi aku segera mengejarnya meninggalkan manusia tadi yang dihisap darahnya olehnya. Aku tak peduli dengan keadaannya. Mau dia mati kek atau berubah jadi oni kek. Aku tidak peduli, karena yang ada di pikiranku adalah membunuh vampir yang sekarang ini sedang kukejar. Setidaknya dengan membunuh vampir itu sama saja menyelamatkan nyawa beberapa manusia yang kemungkinan bisa dijadikan mangsa berikutnya olehnya. Jadi setidaknya tindakanku ini lumayan mulia.

Malam purnama atau lebih dikenal dengan nama full moon dalam dunia vampir dimana mereka biasanya akan berburu manusia. Sedangkan tugas para hunter pada malam full moon adalah membunuh para vampir tersebut. Jadi tidak mengherankan jika pada malam full moon terdengar suara tembakan pistol yang dikeluarkan oleh para hunter untuk membunuh para vampir. Semenjak perjanjian tujuh tahun lalu dibuat antar ras vampir dan ras manusia. Memang malam full moon tidak separah dulu dimana darah pasti berceceran di jalan-jalan dan oni-oni berkeliaran dimana-mana. Tapi bukan berarti sekarang keadaan sudah aman. Setidaknya masih ada dua atau tiga vampir yang akan kau temui sedang berburu manusia pada malam full moon.

DOR

Aku melepaskan sebuah tembakan ke arahnya dan tembakan itu hanya mengenai palang lampu di dekatnya. Aku kembali mengejarnya yang terus berlari dariku, seperti mengajakku bermain kejar-kejaran.

"Sial!' decakku kesal.

"Sungguh gadis yang penuh energi ya. Kau tidak lelah mengejarku dengan emosi seperti itu, Nona?" ucap vampir yang tersenyum palsu padaku.

"Sayang sekali untuk mengejar makhluk paling hina sepertimu bagiku tidak ada kata lelah," jawabku enteng.

"Ugh benar-benar hunter yang menyusahkan saja," jawabnya sedikit kesal.

"Terima kasih," balasku seraya tersenyum manis.

Aku kembali melepaskan sebuah tembakan dan lagi-lagi dia bisa menghindari dengan cepat. Hanya beberapa saja yang berhasil mengenainya tapi itu tidak berhasil melumpuhkan pergerakannya. Gerakannya betul-betul seperti angin, nyaris tak terlihat dengan mata.

"Namamu Akira bukan, Nona?" tanya vampir itu sambil terus menghindari tembakanku.

"Kenapa kau bisa tahu?" tanyaku yang masih mengejar sosoknya.

"Ya, kau terkenal sebagai hunter yang handal dan tak pernah gagal melaksanakan tugas. Semua vampir sudah tahu mengenai dirimu, termasuk juga dengan masa lalumu," jawabnya santai.

"DIAM?! AKU PASTIKAN AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBUNUHMU BEGITU JUGA DENGAN GADIS ITU DENGAN TANGANKU SENDIRI!" bentakku padanya. Sekarang aku sudah tidak peduli jika orang-orang akan terbangun begitu mendengar teriakanku,

"Hehehehe, jangan terburu-buru. Jika kau mau aku bisa membantumu untuk membalaskan dendammu," tawarnya.

"Aku tidak butuh bantuan dari vampir sepertimu. Lagipula aku yakin kau tidak akan membantuku secara cuma-cuma seperti gadis itu telah lakukan padaku!" seruku padanya.

"Aku akui kau benar-benar vampir yang pintar," ucap vampir itu sambil memasang senyumannya. "Aku jadi mulai tertarik denganmu."

"Sayangnya aku sudah terlanjut membencimu. Bagaimana kalau kita akhiri saja semua ini?" ujarku begitu aku berhasil mengejarnya dan kini sosoknya tepat berdiri di hadapanku. Aku mengarahkan pistolku tepat ke depan matanya dan bersiap akan menembaknya.

Di bawah bulan purnama

Di temani terpaan angin yang dingin

"Kurasa tidak," ujarnya sambil menoleh ke arah lain.

Aku mengikuti arah pandangannya dan menemukan Karin sudah berdiri di sana dengan wajah terkejut.

"Akira dan kau… aww!" serunya kesakitan sambil memegang kepalanya.

"Wah wah tidak ku sangka akan bertemu denganmu secepat ini Karin," ujar vampir itu sambil berjalan mendekati Karin.

"Jangan berani macam-macam padanya!" seruku sambil berlari ke depan Karin seraya masih mengarahkan pistolku padanya.

"Bagaimana kau bisa tahu namaku? Dan siapa kau?" tanya Karin kebingungan. Terlihat dia masih memegang kepalanya.

"Sepertinya Kazune benar-benar sudah menghapus ingatanmu," terangnya santai.

Aku langsung melotot ke arahnya. Aku memang berniat untuk mengatakan semuanya pada Karin. Tapi aku tidak pernah mengharapkan lelaki ini ikut terlibat juga dalam masalahku dengan Karin.

"Apa kau bilang! Kazune menghapus ingatanku. Itu tidak mungkin, kami saja baru kenal sewaktu aku pindah kemari," ucap Karin tak percaya.

Aku menghela napas panjang. Apa sekarang benar-benar waktu yang tepat untuk mengatakannya. "Karin, sebenarnya aku adalah sepupumu. Dan benar yang dikatakannya bahwa Kazune lah yang sudah menghapus ingatanmu," jelasku seraya menghadap ke arahnya.

"APA?! ITU MUSTAHIL I-ITU OUUCHH!" Karin langsung mengerang kesakitan. Dia langsung terduduk lemas sambil memegang kepalanya yang sepertinya kesakitan.

"Karin, kau tidak apa-apa?" tanyaku yang langsung menyimpan pistolku dan berjongkok di hadapannya.

Karin tidak menjawab, dia hanya mengerang kesakitan.

"Sepertinya ingatannya sudah kacau gara-gara kita sudah mengungkit ingatan masa lalunya," ujar vampir itu seraya berjalan mendekat ke arah kami.

"Apa maksudmu dan jangan coba untuk mendekat kemari, Niimi," ujarku dingin padanya.

"Jangan berpikir negatif dulu. Justru aku ingin menolong gadis itu," ucapnya santai.

"APA?!" seruku kaget.

Dia segera berjongkok di samping Karin dan mulai mengarahkan tangannya pada kening Karin. Seketika muncul cahaya putih dan seketika itu juga cahaya itu mulai meredup dan akhirnya menghilang. Karin langsung tertidur, sontak saja Akira langsung menangkap tubuh Karin agar tidak jatuh.

"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" tanya Akira tajam pada Niimi.

"Aku hanya mengembalikan ingatan Karin yang sudah diambil oleh Kazune," jawabnya sambil berdiri.

"APA?!" Lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh perkataannya. "Kenapa kau… hei kemana dia!" seruku kaget begitu tidak mendapati sosoknya lagi.

'Sial, dia berhasil kabur lagi!' batinku geram.

Aku langsung membopoh tubuh Karin dengan sekuat tenaga. Tapi sialnya aku malah bertemu dengan monster yang merupakan ras paling rendah dalam dunia vampir.

'Cih, kenapa di saat begini malah bertemu dengan oni,' batinku kesal.

Tidak ada pilihan lain, aku harus menghadapi oni ini terlebih dahulu. Setidaknya aku tidak berhadapan dengan vampir. Jadi tidak sulit untuk membunuhnya.

Aku segera menyandarkan tubuh Karin yang masih pingsan pada tembok. Setelah itu aku segera mengeluarkan pistol andalanku dan mengarahkannya tepat di jantungnya.

DOR

Dan berhasil, tembakanku tepat mengenai sasaran. Aku pun memasukkan kembali pistolku pada sarungnya dan berjalan menghampiri Karin. Tapi baru beberapa langkah, aku melihat ada banyak oni yang berdatangan ke arahku. Seperti seekor semut yang menemukan gula. Aku berhasil dikepung oleh kawanan Oni. Aku memposisikan diriku di depan Karin dan mengarahkan pistolku pada mereka.

Sial, kalau sebanyak ini aku tidak bisa melawannya sendirian. Aku harus kabur, tapi aku tidak bisa membawa Karin bersamaku jika kabur. Cih, tidak ada pilihan lain. Aku harus melawan mereka semua.

Mereka berjalan mendekatiku seperti zombie dan mulai menyerangku secara bersamaan. Walaupun dengan mudah aku dapat mengalahkan mereka. Namun, mereka seperti tidak ada habisnya. Aku sedikit kewalahan harus menghadapi mereka sekaligus melindungi Karin. Tapi aku harus menghadapi mereka semua.

"Ah dimana ini?" Sontak saja aku melirik ke arah Karin yang rupanya sudah sadarkan diri. Matanya langsung membulat begitu melihat pemandangan di depan matanya. Seketika raut wajahnya langsung menampakkan ketakutan yang luar biasa.

"Ini sama seperti dulu," gumamnya lirih.

"Tenang saja, Karin," ucapku tanpa menoleh ke arahnya.

"Akira!" seru Karin kaget begitu melihatku yang masih sibuk melawan para oni. "Arrghhh!" jeritnya tiba-tiba.

Aku langsung menoleh ke arahnya dan segera menembak oni yang tadi mendekat ke arah Karin. Karin langsung kabur begitu melihat darah segar berceceran di depan matanya.

"Tunggu!" seruku padanya. Aku langsung menembak para oni yang berusaha mengejar Karin.

Karena perhatianku teralihkan. Tiba-tiba saja ada oni yang menyakar lengan kiriku dengan kuku panjangnya yang cukup membuat lenganku langsung mengeluarkan darah segar.

'Sial, sepertinya aku harus mengalahkan mereka dulu baru mengejar Karin,' batinku.

Deg

Tiba-tiba saja tubuhku terasa panas dan genggamanku pada pistol pun terjatuh. Kepalaku tiba-tiba terasa pening sekali. Dapat kulihat luka di lengan kiriku segera menutup. Nafasku mulai tidak beraturan. Tiba-tiba saja aku ingin sekali meminum darah.

TIDAK?!

Aku dapat melihat kukuku mulai tumbuh panjang dan kesadaranku berangsur-angsur mulai hilang.

JANGAN BILANG AKU AKAN BERUBAH MENJADI SEPERTI MEREKA!


~Vampire Game~


Normal P.O.V

Sekarang ini, Kazune dkk sedang berjalan menyusuri jalanan yang tampak sangat sepi sekali. Sepertinya sekarang sudah tengah malam, jadi tidak mengherankan juga jika semua orang sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing.

"Darah," gumam Kazune seraya berjongkok di depan sebuah gang. Ia tampak mencolek darah segar pada jalanan lalu diciumnya. "Sepertinya baru sekitar sepuluh menitan yang lalu," lanjutnya yang sekarang sudah berdiri kembali.

"Pasti kerjaannya Akira. Entah sudah berapa vampir yang berhasil dia bunuh malam ini," ujar Miyon santai.

"Dan juga sudah berapa manusia yang diubah menjadi oni oleh para vampir malam ini," tambahYuuki.

"Maafkan kami kalau masih ada beberapa vampir yang sudah menyalahi perjanjian," ucap Kazusa dengan nada menyesal.

"Agh tidak apa-apa. Itu bukan kesalahan kalian, lagipula di manapun pasti ada pemberontak," ujar Miyon menenangkan.

"Yah salah satunya dia," ucap Kazune dingin.

Semua langsung mengernyit bingung dan menoleh ke arah yang sedang dilihat oleh Kazune.

"Ckckck kenapa malam ini aku sial sekali sih," ujar sosok yang berjalan ke arah Kazune dkk.

"Niimi, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Himeka bingung.

"Himeka, sepertinya pertanyaanmu itu salah," ujar Micchi sweatdrop.

"Heh?"

"Aku pikir kau akan main kejar-kejaran dengan Akira malam ini seperti malam-malam sebelumnya," ujar Yuuki datar.

"Tadi sih memang iya, tapi tiba-tiba ada penganggu yang datang," ujar Niimi cuek.

"Berarti kali ini Akira gagal lagi untuk membunuhmu, kalau begitu bagaimana kalau aku saja yang membunuhmu," ujar Miyon yang sudah mengarahkan pistolnya pada Niimi.

"Jangan Miyon, biarkan saja dia," tahan Kazune tanpa menoleh.

"APA?! Tapi aku harus membunuhnya, dia sudah membuat banyak manusia berubah menjadi oni. Kau mengerti kan, Kazune!" protes Miyon.

"Aku mengerti, tapi aku tidak bisa membiarkan kau melakukannya saat ini," ujar Kazune dingin.

"Apa! Ya sudahlah baiklah, terserah kau sajalah," ucap Miyon sambil menurunkan pistolnya. Dapat dilihat raut wajahnya yang kesal.

"Siapa yang kau maksud dengan penganggu?" tanya Kazune tajam.

"Siapa ya, hmm…. Mungkin anak gadis yang ingatannya pernah kau ambil dulu," jawabnya Niimi seraya tersenyum.

"Karin!" seru mereka(-Kazune) kaget.

"Sekarang dia ada dimana?" tanya Kazune dingin.

"Dia, mungkin sekarang dia masih bersama dengan gadis hunter itu," jawab Niimi enteng.

"Maksudmu Akira?" tanya Kazusa memastikan.

"Iya, memangnya siapa lagi?" balas Niimi.

DOR DOR DOR

TIba-tiba saja ada suara tembakan yang terdengar secara bertubi-tubi, memecahkan keheningan malam.

"Oh iya aku baru ingat, sewaktu aku meninggalkan mereka. Sepertinya ada kerumunan oni yang menuju ke arah mereka," ucap Niimi datar.

"APA?!" seru mereka kaget.

"Kenapa kau meninggalkan mereka?" tanya Kazusa kesal.

"Itu bukan urusanku, lagipula gadis itu tidak mau menerima bantuanku," ucapnya sambil mengedikkan bahu. "Sepertinya kalian harus cepat sebelum terjadi apa-apa dengan mereka," ucap Niimi memperingati. Setelah itu ia langsung pergi dari hadapan Kazune dkk lalu menghilang ditelan kegelapan.

"Kazune, sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Micchi pada sahabat baiknya ini.

"Kenapa masih tanya, kita cari mereka!" seru Kazune sedikit kesal.

Akhirnya mereka memutuskan untuk melacak keberadaan Karin dan Akira. Dengan indra penciuman yang dimiliki oleh vampir. Mereka dapat dengan mudah menemukan Akira yang tengah dikerumuni oleh para oni.

Kazusa dan Jin segera membunuh para oni yang mendekati Akira dengan kekuatan mereka. Sedangkan Miyon dan Yuuki segera menghampiri Akira yang keadaannya sudah memprihatinkan. Matanya berwarna merah menyala dan air liur keluar dari mulutnya yang mengeluarkan dua taring. Tubuhnya bergetar hebat dan kuku-kukunya tumbuh sangat panjang.

Tiba-tiba saja Akira mencakar Miyon hingga tubuhnya terpelanting menjauh.

"Miyon, kau tidak apa-apa?" tanya Yuuki yang dengan cekatan langsung menangkap tubuh Miyon.

Miyon hanya menggeleng lemah. Pandangannya masih tertuju pada Akira yang berubah menjadi monster.

"Sepertinya Karin tidak ada di sini," ujar Himeka.

"Jangan-jangan dia terpisah dengan Akira," sambung Micchi.

"Kalau begitu ayo kita cari dia!" seru Kazune. "Himeka dan Micchi, kalian ikut denganku. Sisanya urus keadaan Akira dan oni-oni ini," ujar Kazune yang setelah itu langsung berlari dengan diikuti oleh Micchi dan Himeka.

"Sepertinya ia akan berubah menjadi oni," ujar Kazusa yang masih berkonsentrasi menghadapi para oni.

"Apa!" seru Miyon dan Yuuki kaget.

"Tidak mengherankan juga sih, dia sudah pernah dihisap darahnya hingga meninggalkan bekas kutukan itu. Seharusnya sudah dari dulu dia berubah menjadi oni, tapi anehnya dia mampu menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh kutukan itu dan tidak berubah menjadi oni. Setidaknya sampai saat ini dia berhasil melakukannya," jelas Kazusa tanpa mengalihkan pandangannya.

"Apa kita tidak bisa menolongnya?" tanya Yuuki.

"Tentu saja selama dia belum berubah menjadi oni sepenuhnya," ujar Kazusa yang berhasil menusuk jantung oni dengan tangannya sendiri.

Kazusa pun menendang oni tersebut yang sudah tewas di tangannya lalu berjalan menghampiri Akira.

"Tapi sebagai gantinya ada bayarannya," ucap Kazusa lirih. Dapat dilihat Kazusa terkena cakaran dari Akira tapi Kazusa tampak tidak bergeming. Matanya malah menatap sendu ke arah Akira.

Tampak beberapa oni mulai berjalan mendekati Akira dan Kazusa begitu juga dengan Miyon dan Yuuki. Jin yang melihatnya langsung membuat kobaran api di sekeliling mereka dan membakar oni-oni tanpa mengenal kata ampun.

Miyon dan Yuuki hanya bisa bergidik ngeri melihat adegan di depannya. Mereka memang sudah tahu kalau vampir dari ras Black Rose dan ras bangsawan memiliki kekuatan istimewa yang tentunya tidak dimiliki oleh ras vampir lainnya. Tapi selama ini ia belum pernah melihat kekuatan semacam itu. Karena kebanyakan vampir yang melakukan pemberontakan itu berasal dari ras vampir yang dulunya manusia atau dikenal dengan sebutan vampir berdarah campuran. Paling hanya Niimi satu-satunya vampir yang berasal dari ras bangsawan. Tapi sepengetahuan mereka, Niimi tidak pernah mengeluarkan kekuatan semacam itu ketika melawan para hunter. Itu saja sudah membuat mereka bahkan Akira yang dikenal hunter paling hebat mengalami kesulitan untuk membunuhnya.

"Kazusa cepat lakukan itu sebelum dia berubah menjadi oni sepenuhnya!" seru Jin tiba-tiba sambil melirik sekilas ke arah Kazusa.

"Aku tahu, dengan begini mungkin bisa menebus semua kesalahan kami," ucapnya lirih.

"Apa yang akan kau la-" Seketika saja Miyon dan Yuuki terpengarah begitu melihat apa yang dilakukan oleh Kazusa pada Akira.

.

.

To Be Continued

.

.

Please Review


Session talkshow

Akira : What! Kenapa ada Niimi juga di sini, author?

Bella : Heh itu, karena-

Niimi : Yee, aku ikut main di sini. Tapi kenapa aku dikasih peran jahat. Aku kan anak baik-baik *langsung ditimpuk Akira*

Kazusa : Tambah satu deh OC author yang payah *sweatdrop*

Bella : Oh iya minna berhubung Bella lagi nggak mood buat balas review. Balasan review-nya digabung di chapter depan ya J

Kazusa : Dan jangan lupa review lagi yang banyak biar author semangat buat ngelanjutinnya!

Akira dan Niimi : Akhir kata, jaa ne minna!