Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?
Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.
Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.
DARI BAGIAN SEPULUH
… Nyaris bersamaan, tiga pasang mata di ruangan itu tertuju pada pintu yang terbuka. Sosok Nara Shikamaru berdiri di sana, dan ada sesuatu di mata pemuda itu yang menyiratkan keseriusan …
… "Aku sudah memutuskan mengenai materi yang akan dibawa Konoha dalam Pertemuan Aliansi mendatang," Shikamaru berujar. Pemuda itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat, lalu meletakkannya di atas meja kerja.
Bahkan Uchiha Sasuke bisa melihat judul yang tertulis di kertas berisi coretan tangan itu: Aturan Pernikahan Antardesa Ninja.
Tiga sosok di ruangan itu memandang Shikamaru. Dalam sekali lihat, mereka mengerti. Nara Shikamaru tidak main-main …
.
#
.
Ujung Mimpi
©fariacchi
Sebelas: Rencana
.
#
.
Namikaze Naruto memandangi ruang kerjanya yang baru saja ditinggal keluar oleh sosok Nara Shikamaru. Pemuda berambut pirang itu menghempaskan tubuh ke sandaran kursi dan menghembuskan nafas. Ia meregangkan otot tangannya sedikit sebelum menggumamkan sesuatu untuk menyemangati diri.
"Naruto, apa rencanamu?" Haruno Sakura bertanya, mengawasi ketika sahabatnya tampak menuliskan sesuatu di kertas.
Naruto menjawab tanpa mengangkat matanya dari kertas yang ditinggalkan Shikamaru beberapa menit lalu, "Aku akan mempercayakan semuanya pada Shikamaru."
Sakura berpikir sejenak. "Sendiri? Tidakkah itu terlalu sulit? Kurasa kita perlu bantuan orang yang paham mengenai hukum dan tata aturan desa," gadis itu bicara.
Berhenti menulis sebentar, Naruto menoleh ke arah Uchiha Sasuke yang masih terdiam di tempatnya. "Bagaimana menurutmu, Sasuke?" tanyanya.
Pemuda berambut hitam kebiruan mendesah pendek sebelum melangkah mendekati meja kerja Naruto. "Aku setuju dengan Sakura," jawabnya. "Bagaimanapun Shikamaru mampu mencari celah amandemen, memang kita perlu melibatkan seseorang yang benar-benar paham."
Namikaze Naruto mendengung, "Hmm—" Pemuda itu meletakkan tangan di dagu dan berpikir.
"Kurasa Kakashi-sensei bisa," usul Sakura.
Naruto menggeleng. "Tidak bisa. Kakashi-sensei sibuk menangani misi tingkat atas untuk jounin dan Anbu. Terlalu beresiko untuk menariknya keluar dari misi untuk waktu satu bulan."
Gadis berambut merah jambu tampak mengerti alasan Naruto, lalu kembali mencoba menemukan nama yang bisa dipikirkannya. "Satu-satunya yang terpikir olehku adalah Shikaku-san," sahutnya beberapa saat kemudian.
Naruto dan Sakura berpandangan, lalu menghela nafas bersamaan. Jelas tidak mungkin. Selama Nara Shikamaru belum berniat melibatkan orangtuanya—pilihan itu tampak tidak masuk akal.
"Tidak harus generasi atas," Sasuke berpendapat—membiarkan dua pasang mata sahabatnya terpaku padanya. "Yang penting orang itu memahami dasar-dasar hukum, dan cukup mampu mendapatkan akses di Konoha."
Begitu saja, sepasang mata safir Naruto mengilat. Pemuda itu dengan cepat menuliskan satu nama di kertas, dan membiarkan Sasuke dan Sakura melihatnya.
Sakura menaikkan satu alis, namun beberapa saat kemudian menggumam paham. Gadis itu mengangguk ke arah Sasuke. Pemuda yang terakhir itu hanya mendengungkan sesuatu seperti 'hn' dan melipat kedua tangan di dada.
Namikaze Naruto tersenyum lebar. "Kurasa ia orang yang tepat," ujarnya puas. Lalu, pemuda pirang itu menoleh ke arah Sasuke. "Nah, Teme, tolong panggilkan, ya," pintanya.
Detik itu, Uchiha Sasuke mengerutkan alis tidak setuju. "Sejak kapan aku berubah posisi menjadi pesuruhmu, Dobe?" sahutnya tidak suka. "Suruh Sakura saja."
Naruto menggeleng sedikit. "Tidak bisa. Sakura-chan akan membantuku mencari literatur rujukan untuk masalah ini. Hanya kau yang tersisa," ungkapnya.
Diam. Sepasang mata hitam Sasuke menatap tajam mata biru Naruto—keduanya tampak tidak mau kalah. Adu pandang itu menyisakan Haruno Sakura yang memutar bola matanya dan mendesah pelan atas tingkah dua sahabatnya yang belum juga berubah sejak dulu.
Akhirnya, Uchiha Sasuke menyerah. "Baiklah," sahutnya datar. Dan dalam sekejap, pemuda itu menghilang di balik kepulan asap.
Sakura menghembuskan nafas. "Kau ini iseng sekali, sih," komentarnya, memandang Namikaze Naruto yang tampak terkekeh.
"Kapan lagi kau bisa menyuruh-nyuruh Uchiha Sasuke?" Naruto berujar puas, mengerlingkan mata ke arah Sakura yang tampak tersenyum tipis.
Setelah beberapa saat, Sakura kembali pada pandangan seriusnya. "Naruto, aku punya permohonan—" ujarnya.
Naruto, yang sedang membalik beberapa kertas di mejanya, menaikkan satu alis ke arah gadis bermata hijau di depannya. "Ya?"
"Ini soal Temari-san," sahut Sakura. Naruto tampak memajukan tubuhnya sedikit sebagai isyarat agar Sakura melanjutkan. "Sebenarnya, tidak ada masalah dari sisi medis mengenai kehamilannya. Tapi sebagai ninja medis, aku menyarankan Temari-san tidak memforsir tenaga—dan pikirannya—selama kehamilan, terutama dalam masa-masa awal ini." Jeda sedikit sebelum Sakura menambahkan, "Usia kehamilan Temari-san saat ini hampir memasuki satu setengah bulan. Dan dari pemeriksaan rutin, aku menemukan bahwa kejiwaan Temari-san sedang dalam kondisi yang kurang stabil—sedikit tertekan kalau bisa kukatakan."
Naruto tampak mengangguk memahami penjelasan Sakura. "Temari-san masih akan di Konoha sampai Pertemuan Aliansi selesai. Selama itu ia akan mengurus persiapan dan pelaksanaan Pertemuan Aliansi," ujar Naruto.
"Itulah, Naruto." Gadis itu menarik nafas sedikit. "Aku sedang berpikir apakah Temari-san bisa ditarik dari misinya untuk mengurus Pertemuan Aliansi—"
Naruto menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, memandang langit-langit dan tampak menimbang ucapan Sakura.
"Kalau bisa, Temari-san harus memiliki waktu untuk mengistirahatkan diri—terutama pikirannya. Mengurus Pertemuan Aliansi mungkin tidak menyita tenaga fisik, tapi jelas cukup menyita pikiran. Dengan waktu luang, kuharap Temari-san bisa memulihkan kestabilan emosinya. Stres bukan sesuatu yang boleh diabaikan dalam kehamilan."
Hening.
"Aku mengerti," Naruto bersuara beberapa saat kemudian. Rokudaime Hokage itu kemudian memandang lurus Sakura. "Apa kau bersedia menggantikan Temari-san untuk mengurus teknis persiapan dan pelaksanaan Pertemuan Aliansi, Sakura-chan?" ia bertanya.
Kedua mata Sakura membulat sesaat, namun kemudian gadis itu mengangguk mantap. "Aku siap," ujarnya.
Naruto tersenyum puas. "Suna tidak perlu tahu bahwa misi Temari-san digantikan oleh orang lain. Selama bisa mengetahui perkembangan misinya, kurasa aman."
Sakura membalas senyum itu. "Aku tahu. Aku bisa mengurus semuanya."
Namikaze Naruto kemudian bangkit berdiri dari kursinya, membiarkan jubah oranyenya bergoyang ketika ia meregangkan tubuh. "Ah~" gumamnya. "Shikamaru pasti kena karma karena terlalu banyak mengeluh selama ini—" Naruto menyeringai ke arah Sakura. "Merepotkan," sahutnya.
Haruno Sakura hanya tertawa kecil.
Meski demikian, jauh di dalam hati, kedua sosok itu mengerti—hanya bantuan seperti ini yang bisa mereka lakukan untuk sahabat sejak kecil mereka. Dan mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk menolong Nara Shikamaru.
.
#
.
Langkah kaki Nara Shikamaru bergema di sepanjang koridor gedung Perpustakaan Konoha. Pemuda itu tampak serius, berjalan dengan tegap nyaris tanpa disadarinya.
Benar, Shikamaru tidak akan berdiam diri lagi. Sudah cukup ia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir mengenai apa yang harus dilakukan. Sekarang adalah waktunya untuk bertindak, bahkan meski ia belum sempat benar-benar berpikir.
"Kau tidak hanya menyakiti dirimu sendiri, tapi juga orang yang seharusnya kau lindungi. Ini bukan dirimu. Aku tidak mengenalimu, Shikamaru."
Itu tamparan pertama dari Yamanaka Ino.
"Tidak cukup hanya dengan berusaha … kadang kau juga perlu melawannya."
Itu tamparan kedua dari Hyuuga Neji.
Dua kalimat itu seperti mendengung di pikiran Shikamaru. Sepasang tamparan yang—akhirnya—berhasil membuat Shikamaru menemukan kembali pijakannya. Ino—juga Chouji—benar. Neji benar. Ia tidak bersikap seperti dirinya. Ia berusaha, namun tidak melawan.
Shikamaru ingat, pertama kali ia merasakan kemantapan seperti ini dalam hatinya adalah saat kematian Asuma. Shikamaru mengira ia bisa mendinginkan kepala, menenangkan diri, dan menerima semua itu. Namun ternyata yang ia lakukan hanyalah melarikan diri—tidak menjadi dirinya sendiri. Saat itu, ayahnya, Nara Shikaku, menamparkan kenyataan untuknya. Dan Shikamaru akhirnya bisa melawan, dan menang*.
Ini adalah kedua kalinya, dan Shikamaru yakin, ia juga akan berhasil.
Langkah Shikamaru terhenti di depan seksi berjudul Hukum dan Tata Aturan Desa. Pemuda itu menyipitkan mata, dengan hati-hati mulai memperhatikan judul-judul dari buku dan gulungan yang tersusun di sana. Jemarinya menyusuri sampul kulit buku, menarik beberapa yang dianggapnya tepat, lalu menumpuknya.
Hanya dalam beberapa menit, Shikamaru sudah duduk di salah satu meja kosong dengan setumpuk penuh buku dan beberapa gulungan dokumen di dekatnya. Shikamaru baru membuka satu buku ketika ia terhenti.
"Bagaimana jika kau harus meninggalkan Suna dan menetap di Konoha—selamanya?"
Begitu saja, ucapannya sendiri bergema tanpa bisa ditahan. Jemari Shikamaru tanpa sadar meremas sampul buku yang dipegangnya. Pemuda itu memejamkan erat matanya.
Sebuah pertanyaan egois yang dengan gilanya ia lontarkan kepada gadis yang seharusnya ia lindungi. Shikamaru merasa ingin menghukum dirinya sendiri—namun ia memutuskan itu terlalu membuang waktu.
Sepasang mata hitam pemuda itu kembali membuka, memancarkan keteguhan yang tak terucapkan.
Tidak ada yang perlu dipilih. Jika pilihan itu tidak masuk akal, maka Shikamaru akan melawan. Ia akan membuat pilihannya sendiri—yang masuk akal.
Dan putaran waktu berikutnya dilalui Shikamaru untuk menekuri buku dan dokumen yang bertebaran di dekatnya. Pemuda itu membolak-balik halaman, mencatat, sesekali memejamkan mata untuk berpikir, dan membuka buku lainnya. Ia begitu serius, hingga menyadari derit kursi di dekatnya yang tertarik.
Shikamaru mengangkat wajah dari bukunya, menemukan sosok gadis berambut merah jambu yang membanting setumpuk tinggi buku dan dokumen ke atas mejanya.
"Sakura—?"
Haruno Sakura mendesah pendek setelah memindahkan beban di tangannya ke atas meja, lalu membanting tubuh di kursi kayu yang bersebelahan dengan Shikamaru. "Aku tidak akan mengungkapkan keheranan atas keberadaanmu di perpustakaan, Shikamaru," gadis itu berujar hangat.
Shikamaru melembutkan ekspresi wajahnya sesaat, sebelum tersenyum tipis kepada gadis di sampingnya.
"Naruto sudah memintaku untuk mengurus mengenai literatur rujukan yang kira-kira akan kau butuhkan untuk mendalami materi itu," Sakura menjelaskan seraya menunjuk tumpukan buku di depannya. "Kau tidak perlu membuang waktu untuk mencari. Aku yang akan melakukannya."
Shikamaru memandang Sakura. "Terima kasih," ujarnya.
Sakura tersenyum. "Kau tidak akan mengurung diri di perpustakaan lagi, kan?" Tangan gadis itu bergerak untuk merapihkan beberapa gulungan yang dibiarkan Shikamaru terabaikan. "Lebih baik mengerjakannya di ruang kerjamu. Aku akan membawa bahan-bahan yang kau butuhkan ke sana—" sahut Sakura.
Shikamaru tampak menimbang-nimbang beberapa saat sebelum menjawab, "Baiklah. Kurasa itu lebih efisien."
Sakura mulai merapihkan buku-buku yang bertebaran di sekitar Shikamaru, dengan cekatan menyusunnya dalam urutan yang sesuai. "Ada hal yang harus kau ketahui," ujar Sakura seraya menggulung sebuah dokumen bersampul hijau.
Mata hitam Shikamaru hanya memandangi Sakura, menunggu.
"Naruto setuju untuk menarik Temari-san dari misinya menyiapkan pelaksanaan Pertemuan Aliansi," Sakura memberi jeda, memperhatikan ketika Shikamaru sedikit membulatkan mata. "Aku akan menggantikan tugasnya." Sakura menarik nafas sedikit. "Mungkin tidak begitu terlihat, tapi Temari-san sedang dalam kondisi tertekan. Dari sisi medis, aku menyarankan Temari-san meluangkan lebih banyak waktu untuk menenangkan dirinya. Misi yang dijalaninya sekarang terlalu memforsir pikiran, dan itu tidak baik untuk keadaannya."
Shikamaru kembali menekuri buku yang sedang dibacanya. Dalam hati, ia merasa bahwa Sakura sedang berusaha menyudutkannya atas sesuatu—dengan cara yang sangat halus.
"Ehm, Shikamaru," Sakura mulai bicara dengan nada yang agak tidak enak. "Aku tidak bermaksud ikut campur dalam masalah pribadi kalian, tapi kau perlu tahu bahwa jika kalian bersikap seperti ini terus—"
"—Aku tahu." Shikamaru memotong ucapan Sakura. Menutup buku di depannya, Shikamaru bersuara, "Aku sudah mengerti, Sakura."
Diam.
Haruno Sakura memiringkan tubuhnya sedikit sehingga lebih menghadap sosok pemuda di sampingnya. Ia tersenyum dan meletakkan satu tangan di bahu Shikamaru. "Kalian tidak perlu berjuang seorang diri. Aku tahu kau memahaminya, Shikamaru. Biarkan kami membantumu dan Temari-san," Sakura berujar perlahan.
Shikamaru menolehkan kepalanya dengan lambat, menemukan mata hijau cemerlang Sakura memancarkan kehangatan ke arahnya. Lalu pemuda itu tersenyum lembut. "Arigatou …," sahutnya tulus.
Sakura melepaskan sentuhannya, kembali menyentuh buku di hadapannya dan bangkit berdiri. "Naruto meminta kau menemuinya. Kita akan menyusun rencana mengenai semua ini," ujar Sakura.
Mengikuti gadis di sampingnya, Shikamaru mengangguk. Pemuda itu lalu membantu merapihkan tumpukan buku dan membawa sebagian besar di lengannya, sementara Sakura mengambil bagian untuk tumpukan gulungan.
"Ah, aku hampir lupa," Sakura bergumam ketika mereka baru saja akan melangkah menuju pintu keluar Perpustakaan Konoha.
Dari balik tumpukan buku di tangannya, Shikamaru melirik Sakura dengan pandangan menunggu.
Sakura memandang Shikamaru. "Naruto sudah memutuskan bahwa dalam penyusunan materi ini, kau akan ditemani seseorang." Gadis itu tersenyum penuh arti.
Nara Shikamaru mengangkat satu alisnya.
.
#
.
Uchiha Sasuke menyusuri koridor gedung Hokage dengan wajah masam. Tidak setiap hari ia mengizinkan dirinya disuruh oleh Rokudaime Hokage bermata biru untuk mengerjakan hal-hal remeh. Ada banyak chuunin di gedung ini yang memang ditempatkan untuk mengerjakan hal sederhana seperti sekedar memanggil seseorang.
Membiarkan kedua tangan di saku, Sasuke mengayunkan kaki dengan agak lambat. Dari sudut mata hitamnya, Sasuke melirik sosok yang berjalan tak jauh di sampingnya. Pemuda itu mendecak nyaris tanpa suara. Bagaimana ia bisa mengizinkan sang Hokage pirang itu untuk menyuruhnya melakukan hal membuang waktu seperti ini? Kadang Sasuke tidak paham mengapa ia bisa begitu saja mudah menyerah pada permintaan—yang cukup sering tidak masuk akal—Namikaze Naruto.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" suara di samping Sasuke terdengar.
Sasuke melirik singkat, lalu menjawab, "Wajahku memang seperti ini."
Terdengar decak singkat dari sosok di samping Sasuke. "Kau masih saja bertahan dengan sikap tidak sopanmu itu, Sasuke," ujar sosok itu—dengan nada hangat yang berlawanan dari maksud kalimat yang diujarkannya.
"Hn." Sasuke memutuskan tidak merespon lebih jauh. Bukan seperti ia biasa bercakap-cakap dengan banyak orang, meski mungkin ia mengenal mereka—atau dalam kasus ini, seseorang di sampingnya.
Sosok di samping Sasuke tampak menyunggingkan senyum tipis. "Sungguh tidak biasa untuk Hokage meminta kau memanggil seseorang secara langsung," ia berujar. "Apa sesuatu yang penting sedang terjadi?"
Sasuke melirik lawan bicaranya dengan agak jengah. "Bisa dikatakan begitu," jawabnya. "Kau akan tahu detailnya nanti."
Hening. Hanya langkah-langkah kaki yang bergema di sepanjang lorong menuju ruang kerja Hokage.
"Sasuke," terdengar suara lagi.
"Apa?" Sasuke menjawab datar.
"Jangan katakan bahwa aku akan diminta untuk mengerjakan misi tingkat S yang seharusnya diselesaikan Anbu—lagi," sosok itu berujar.
Uchiha Sasuke memandang tajam sosok di sampingnya. Baiklah, Sasuke sedang tidak dalam suasana hati yang bagus untuk terus diajak berbicara. Namun, memahami perangai sosok di sampingnya, agaknya Sasuke perlu menjawab dengan memuaskan sebelum ia berhenti.
"Tidak," jawab Sasuke. "Ini tentang Pertemuan Aliansi."
Sasuke benar. Mendengar jawaban itu, sosok di sampingnya terdiam. Namun hanya untuk beberapa saat.
"Bukankah biasanya itu tugas Shikamaru?"
Agaknya Sasuke perlu bersabar beberapa waktu lagi. "Kau akan menemaninya untuk menyusun materi," sahut Sasuke.
Sosok itu mengangkat satu alisnya. "Bisakah aku mendengar alasannya?" ia bertanya dengan nada heran.
Sasuke mendesah pelan. "Karena kau pernah familiar dengan bidang hukum dan tata aturan desa," jawab Sasuke. "—dan karena Hokage menginginkannya," ia menambahkan. Pemuda itu berharap bahwa semua cukup untuk menghentikan pertanyaan lebih jauh pemuda di sampingnya.
Dan itu memang cukup. Sosok di samping Sasuke tampak diam dan memikirkan sesuatu. Jauh di otaknya, ia mengingat sesuatu tentang semalam lalu, dan setengah mengira-ngira apakah semua itu ada kaitannya dengan misi barunya ini.
Dua sosok jounin itu berhenti di depan pintu ruang kerja Hokage. Uchiha Sasuke mengetuk pintu beberapa saat, lalu membukanya tanpa menunggu persetujuan sosok di balik pintu.
"—Jadi, akan lebih baik jika kau dibantu seseorang untuk mendalami masalah itu," Namikaze Naruto tampak bicara dengan sosok yang berdiri di depannya.
Mata hitam Sasuke menemukan sosok Haruno Sakura berdiri di sisi meja Naruto, membolak-balik halaman buku. Sementara sosok Nara Shikamaru berdiri memunggunginya, menghadap ke arah Naruto yang sedang bicara.
"Lalu—ah!" Naruto menghentikan bicaranya ketika menemukan sosok Uchiha Sasuke terlihat melangkah masuk. "Kau lama sekali," komentar Naruto sesaat. Kemudian pemuda itu kembali memandang Shikamaru. "Nah, itu rekan kerjamu dalam misi ini, Shikamaru," sahutnya seraya mengisyaratkan pandangan ke arah sosok yang baru saja masuk mengikuti Sasuke.
Shikamaru memutar tubuhnya, mengangkat satu alis ketika menemukan sosok yang dimaksud Naruto.
"… Neji?"
Hanya Shikamaru yang sedikit terkejut. Hyuuga Neji, di sisi lain, terlihat seperti menyadari bahwa dugaan yang tadi sempat berputar di kepalanya memang tepat.
Ternyata misi ini memang ada kaitannya dengan masalah yang sedang dihadapi Nara Shikamaru.
.
#
.
.
Bersambung
.
Catatan Faria:
Sebelumnya, mohon maaf atas update yang sangat lambat. Beberapa chapter ke depan sudah selesai sejak lama, namun upload-nya terhambat (terima kasih untuk 'internet positif' itu). Finally, saya menemukan solusi untuk mengakses FFN kembali. Terima kasih untuk teman-teman yang tidak bosan meneror saya melalui kotak review.
Anyway, saya punya dua alasan fangirling untuk chapter ini. Pertama adalah interaksi Neji-Sasuke yang menjadi preferensi pribadi saya. Dan kedua, tentu saja, Hyuuga Neji lagi :')
Terima kasih sudah membaca.
.
~fariacchi – 140825~
