Tittle : Hold Me Tight

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : 11 of 11

Genre : Romance

Summary :

Warning : Rated M! Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

Joungkook terdiam. Ia hanya duduk diam bersimpuh didepan foto sang eomma yang terlihat tersenyum lebar dengan riasan make upnya. Untuk pertama kalinya sejak ia sudah bisa memahami keadaan keluarganya, ia melihat dengan jelas wajah yeoja yang telah melahirkannya. Ia tidak bisa mengingat bagaimana sentuhan yeoja itu, atau bagaimana hangatnya pelukan eommanya. Ia tidak memiliki satu ingatan pun mengenai kebersamaannya dengan sang eomma. Dan entah kenapa ia merasa sedih atas fakta itu sekarang.

"eomma." Bibirnya bergetar menyebut kata itu. Satu kata yang tidak pernah ia gunakan untuk memanggil yeoja yang telah melahirkannya.

Kedua tangan Joungkook terkepal diatas pangkuannya, bibirnya bergetar, begitu pula bahunya. Ia menangis, menagisi yeoja yang bahkan baru ia anggap sebagai eomma dihari kematiannya.

"maafkan aku. Aku bukan anak yang baik, aku bukan anak baik. Meskipun kau tak pernah memelukku, tidak pernah ada untukku, aku tetap menganggapmu sebagai eomma, eomma. Eomma, hiks, maafkan aku. Maafkan aku."

Isakan Joungkook semakin tak terkendali, membuat seluruh tubuhnya terguncang, begitu pula air matanya yang tak berhenti keluar. Sepasang lengan tiba-tiba melingkari perutnya diikuti dengan kepala yang bersandar pada bahunya, "kau sudah menjadi anak yang baik, Joungkook. Eomma pasti bangga memiliki anak sepertimu, kau sudah sangat membanggakan, Joungkook ah."

"hyung, hiks, aku, hiks, aku – "

"ssssttt, hyung paham, hyung mengerti. Kemarilah, peluk hyung." Joungkook dengan cepat berbalik dan memeluk erat tubuh Seokjin, menyembunyikan wajah basahnya di bahu kakak lelakiknya itu. Seokjin tidak mengatakan apapun dan hanya membiarkan Joungkook menangis. Tangannya menepuk pelan punggung Joungkook, dengan mata yang ikut menutup. Ia ikut menangis bersama adiknya, ikut merasakan bagaimana sakitnya saat keluarga satu-satunya yang kau miliki pergi.

Karena bagaimanapun, sang eomma adalah satu-satunya orang tua yang keduanya miliki. dan saat yeoja itu sudah tiada, mereka tidak memiliki orang lain selain satu sama lain.

Namjoon, Taehyung, Yoongi, Jimin, dan Hoseok hanya berdiri diam memandang kakak beradik yag masih berpelukan itu. Bahkan Taehyung dan Jimin sampai harus menutup bibir mereka agar tidak ikut terisak. Berbeda dengan Hoseok yang sudah menangis deras sejak tadi. Meninggalkan Namjoon dan Yoongi yang hanya diam, meski dengan mata memerah.

"kita harus segera pulang. Sudah jam 11."

Dan ucapan Namjoon membuat pelukan Seokjin dan Joungkook terlepas. Keduanya mengangkat wajahnya dan melihat kelima namja yang berdiri tak jauh dari mereka. Seokjin tersenyum, "gomawo. Terima kasih sudah membantu acara hari ini."

Yoongi yang tak tahan langsung berjalan mendekat dan duduk, memeluk erat-erat tubuh Seokjin, "kau masih memilikiku, hyung." Bisiknya pelan, sangat pelan hingga hanya Seokjin yang mendengarnya. Namja cantik itu terkekeh, "ya. Aku tidak melupakanmu, Yoongi ya."

Lalu entah siapa yang memulai, mereka tiba-tiba membuat sebuah group hug tanpa Namjoon yang hanya berdiri diam melihat kelakuan mereka. membuat Hoseok yang melihat sahabatnya hanya diam itu melambaikan tangannya cepat.

"ya Namjoon ah! Kemari! Cepat!"

Dan tanpa membuat penolakan apapun, namjoon ikut bersimpuh, merentangkan tangannya dan memeluk Hoseok dan Jimin, bergabung dengan group hug mereka.

.

.

.

Malam sudah larut, bahkan sudah dini hari. Jam digital disamping ranjang Seokjin menunjukkan pukul 1 pagi, namun dua sosok yang tengah berbaring diatas ranjang belum juga masuk kealam mimpi. Seokjin masih setia membuka matanya, menatap kosong pada dada Namjoon yang kini memeluknya erat. Salah satu lengan Namjoon ia jadikan bantal, dengan lengan lain yag memeluk pinggangnya erat. Seokjin tahu bahwa Namjoon belum tidur, karena ia masih bisa merasakan tepukan namja itu di punggungnya.

"Namjoon ah." Seokjin berbisik, dengan kedua tangan yang terkepal didepan dada Namjoon. "ya?" balas Namjoon dengan bsikan yang sama.

Seokjin tidak melanjutkan ucapannya, ia memilih diam dan menikmati kehangatan yang ditularkan Namjoon dari tubuhnya. Dan Namjoon juga membiarkan saja namja cantik itu dengan dunianya sendiri.

Lalu entah setelah lima atau sepuluh menit diisi keheningan, Seokjin menggerakkan tubuhnya, melepaskan dirinya dari pelukan Namjoon. Kedua mata mereka bertemu, dengan hembusan nafas yang saling bersahutan satu sama lain. Seokjin bisa merasakan terpaan hangat nafas Namjoon di wajahnya, begitu pula aroma mint dari bibir Namjoon yang tidak tertutup sempurna.

Mengumpulkan keberaniannya, Seokjin memajukan wajahnya, matanya tertutup pelan mengikuti bibirnya yang menyentuh permukaan kasar bibir Namjoon. Mungkin, karena kebiasaan namja itu merokok dan alkohol yang selalu ia minum. Seokjin tak peduli, karena saat Namjoon menggerakkan bibirnya, mengulum belahan bibir gemuk miliknya, ia melupakan apapun dan hanya mengingat Namjoon.

"angh!" Seokjin melenguh pelan, saat gigi Namjoon menjepit bibir bawahnya, menariknya menjauh sebelum mengulumnya lagi. Keduanya saling melumat bibir satu sama lain, sebelum akhirnya Seokjin membuka mulutnya, membiarkan lidah Namjoon merengsek masuk kedalam gua hangatnya, menyapa lidahnya dan saling membelit.

Namjoon bermain dalam tempo lambat, membiarkan saliva mereka bercampur menjadi satu, begitu pula nafas keduanya. Matanya terbuka, melihat bagaimana wajah bersemu Seokjin yang menggerakkan bibirnya berirama dengan miliknya. Ia dengan sadar mengubah posisi berganti mengurung tubuh Seokjin dibawahnya, dengan kedua tangan yang mencengkeram milik Seokjin erat.

Cup

Cup

Cup

Tiga kecupan yang ditutup dengan lenguhan samar Seokjin menutup tautan bibir mereka. Namjoon menjauhkan wajahnya, memberi jarak bagi keduanya untuk saling menatap. Meski nafas mereka masih bersahutan satu sama lain.

Seokjin membuka matanya, menatap Namjoon yang juga memandangnya dengan kabut nafsu yang sama. Perlahan, Seokjin melepas tautan tangan mereka, berganti menyusuri lengan Namjoon hingga bahu tegapnya. Ia tidak melepas pandangannya dari mata Namjoon sedetikpun, menikmati bagaimana nafas Namjoon menjadi semakin pendek, dan berat.

"you have to know what you are doing right know, princess." Bisik Namjoon saat jemari lentik Seokjin mulai membuka kancing piyamanya. Seokjin tersenyum, mengangkat sedikit wajahnya untuk memberikan sebuah kecupan singkat disudut bibir Namjoon.

"aku tahu, aku sepenuhnya sadar, Namjoon." Dan Seokjin memberikan sebuah kecupan ringan di dada Namjoon yang sepenuhnya terbuka. Namjoon menyeringai, "So, don't stop me."

Senyuman Seokjin menjawab semuanya. Lalu keduanya seakan-akan berlomba saling menelanjangi satu sama lain. berakhir dengan tumpukan pakaian yang terbuang di lantai begitu saja, begitu juga selimut yang mulai terabaikan.

Bibir Namjoon menemukan dada Seokjin, mengecup, menjilat, hingga menggigit nipple memerah Seokjin. Gerakan bibir Namjoon yang seringan kupu-kupu disekujur tubuhnya membuat Seokjin merintih pelan, menikmati bagaimana basah dan lembab dari bibir Namjoon menyentuh kulitnya.

"ah!" tanda pertama didapatkan Seokjin tepat di tulang selangkanya, diikuti degan tanda kemerahan lain disepanjang garis leher hingga bahunya. Matanya terpejam erat, dengan kedua tangan yang mencengekaram bahu tegap Namjoon.

"nam – ah! – joon!" Seokjin memekik saat Namjoon menggigit paha dalamnya, menjilat sepanjang garis pinggulnya dengan sangat perlahan, sengaja melewatkan miliknya yang tak tersentuh.

Namjoon terkekeh, membawa wajahnya kembali keatas sejajar dengan milik Seokjin. Ia mencium kedua mata Seokjin yang terpejam, membuat keduanya kini terbuka. Telunjuk Namjoon menemukan bibir Seokjin, menggoda dengan manrik garis disepanjang lipatan bibirnya. "buka bibirmu."

Dan Seokjin menurut. Ia membiarkan tiga jari Namjoon berada di mulutnya. Ia mengulum jemari tersebut seakan-akan memakan permen, dengan kontak mata mereka yang tidak terputus sejak tadi. Namjoon menggeram melihat bagaimana wajah merona Seokjin yang terlihat sangat menikmati ketiga jarinya didalam mulutnya.

"damn you princess!" Namjoon dengan sedikit kasar menarik jemarinya, membawanya langsung ke kerutan pink milik Seokjin. Seokjin merintih saat merasakan lubangnya dimasuki oleh satu jemari Namjoon, secara tidak sengaja mengetatkannya.

Namjoon memberikan kecupan manisnya dipelipis Seokjin, "relax, dear, relax." Dan Seokjin mengangguk, menarik nafasnya dalam-dalam. Menjaga pola nafasnya hingga kini tiga jari Namjoon sudah berada didalamnya, keluar masuk dengan tempo sedang.

"akh! Namjoon!"

Kabut putih klimaks memukul telak Seokjin begitu jemari Namjoon menekan sweetspot nya, membawa nafasnya terburu dengan seluruh wajah yang penuh keringat merona. Ia memejamkan matanya erat dengan dada yang membusur, menikmati sensasi pasca klimaks yang baru saja ia dapatkan.

"waw, kau sudah keluar tanpa aku sentuh sedikitpun, princess."

Namjoon memberikan ciuman-ciuman ringan pada bibir Seokjin yang masih terengah setengah terbuka. Ia memberikan beberapa waktu untuk namja cantik dibawahnya menikmati surga dunianya. Ia juga memberi waktu bagi dirinya sendiri, mengeluarkan jemarinya dari lubang Seokjin dan mengganti dengan miliknya yang sudah tegang sempurna.

"Shall we move to the next step, dear?"

Seokjin membuka matanya, menatap Namjoon yang juga tengah memandangnya lembut. Ia bisa merasakan milik namjon yang sudah menegang berada didepan lubangnya, yang mengirimkan sensasi menggetarkan disepanjang tulang belakangnya.

Tangan Seokjin terangkat, melingkari leher Namjoon dan membawa wajahnya mendekat, "do it, Namjoon."

Dan perlahan, Namjoon memasukkan miliknya, menikmati raut wajah Seokjin yang mengernyit saat lubangnya dipaksa melebar menyesuaikan ukuran miliknya. Nafas Seokjin kembali terengah saat miliknya sepenuhnya berada didalam lubangnya, dengan kening yang mengerut dalam.

"take your time, princess." Bisik Namjoon menyatukan kening mereka. ia mengecup ujung hidung Seokjin, mencoba membuat namja cantik itu relaks.

Gerakan pinggul Seokjin ia artikan sebagai tanda baginya bergerak. Dan Namjoon menayanggupinya. Ia menarik miliknya hingga menyisakan ujungnya saja, sebelum kembali memasukkannya. Menubruk tepat sweetspot Seokjin dan mendapat lenguhan nikmat dari namja itu.

"Lagi, Namjoon, lagi."

Dan Namjoon tidak lagi menahan-nahan. Ia menggerakkan pinggulnya cepat, menubruk tepat milik Seokjin dan mengulangnya lagi. Mempertahankan tempo yang ia punya. Cepat dan kasar, membuat Seokjin merintih nikmat dibawahnya.

"ngh Namjoon, Namjoon!"

Ulangan namanya terdengar sangat merdu keluar dari bibir Seokjin. Mata namja cantik itu memejam erat, dengan jemari yang mencengkeram rambut Namjoon hingga kusut. Ia menikmati saat-saat ini, saat dimana nafas dan tubuh mereka menjadi satu. Dimana Seokjin berada pasrah dibawahnya, tepat berada didepan matanya.

"Namjoon, aku – aku"

"bersama, princess."

Dan Namjoon mnambah kecepatannya, membuat tubuh Seokjin terlonjak dan ranjang mereka berderit. Seokjin beralih mencengkeram bahunya, membuat kukunya seperti melukai bahu tegapnya, karena ia merasa sengatan rasa perih dimana namja cantik itu mencengkeramnya. Dan Namjoon tidak mempedulikan itu.

Ia berusaha mengejar klimaksnya sendiri, mempercepat tempo dan menubruk cepat sweetspot Seokjin, membuat namja itu mendesah hebat dibawahnya.

"Namjoon!" Seokjin memekik nyaring, diikuti dengan Namjoon yang menggeram mendapati klimaksnya.

Keduanya terengah, dengan tubuh yang penuh keringat dan lengket satu sama lain. namun Namjoon tak mempermasalahkan itu. Ia pilih memeluk erat-erat tubuh Seokjin, membisikkan kalimat penuh rayuan disana.

"Namjoon." Panggilan pelan itu membuat Namjoon mengangkat wajahnya, memandang Seokjin yang entah kenapa kehilangan senyum disana.

Kedua telapak tangan Seokjin menangkup wajah Namjoon, mengusap lembut pelipis hingga garis rahangnya, "kau boleh melakukan apapun, memperlakukanku semuamu. Kau boleh menikmati tubuhku kapanpun kau mau. Asal kau tidak meninggalkanku. Aku hanya ingin kau tidak meninggalkanku. Karena – karena aku mencintaimu, Namjoon. Aku benar-benar mencintaimu. Kumohon jangan pergi."

Namjoon terdiam melihat Seokjin yang kini menangis, merengek, memohon kepadanya agar tidak pergi.

"aku tidak akan kemana-mana, sayang, aku tidak akan pergi." Lalu ciuman ia berikan di bibir Seokjin yang bergetar, mengabaikan rasa asin akibat air mata namja cantik itu.

"karena kurasa, aku juga mencintaimu."

.

.

.

Matahari naik hingga berada hampir satu garis lurus dengan bayangan, meski tertutup oleh awan musim dingin yang mulai menyapa. Keempat namja yang tengah duduk dimeja makan selesai menyantap sarapan merangkap makan siang itu terlihat menikmati ice cream coklat tub besar yang entah kapan berada di freezer.

Taehyung terlihat duduk disamping Joungkook, memakai jumper berwarna abu dengan celana pendek sebatas lutut. Ia sesekali memberikan satu dua suapan untuk Joungkook yang duduk diam disampingnya. Bahkan sejak makan nasi tadi Joungkook sudah ia suapi. Kadar manja kekasihnya itu meningkat setelah semalam ia menginap disini.

Berbeda dengan Seokjin yang memakan ice creamnya semangat. Ia masih cukup lapar setelah menguras energi semalaman dengan Namjoon. Sedangkan Namjoon yang duduk disampingnya hanya diam, menumpukan salah satu sikunya dimeja dan memandang Seokjin dengan senyum diwajahnya. Namja cantik yang hanya memakai kaos lengan panjang yang hampir menutupi jemarinya dan dipadukan dengan celana basket setengah pahanya itu terlihat sangat menawan dimatanya. Apalagi bekas kissmarknya semalam masih tercetak jelas di garis leher Seokjin.

"jadi, bisakah hyung menghentikan tatapan menjijikkan yang hyung perlihatkan pada Seokjin hyung? Aku tahu, semalam kalian sehabis bercinta dengan sangat semangat, hingga bekasnya bisa aku lihat memenuhi leher Seokjin hyung."

Sindiran tidak halus dari Joungkook membuat Seokjin memandang tajam adiknya itu, meski wajahnya memerah sempurna. Berbeda dengan Namjoon yang hanya terkekeh, "jadi, kau dalam mood yang buruk karena aku meniduri kakakmu atau karena kau tidak mendapat jatah dari Taehyung semalam?"

Gantian Taehyung yang memerah, dan Joungkook benar-benar melempar sendok ke arah Namjoon, yang berhasil ia hindari.

"aku tidak dalam mood yang buruk hyung. Aku sedang sedih! Ini masih masa berkabung!" jawab Joungkook cepat. Yang tanpa kata diamini semua yang ada disana. Meski namja Jeon itu mendapat tatapan tajam dari Namjoon

Jangan mengungkitnya bodoh!

Lalu keadaan menjadi hening, bahkan Seokjin menghentikan makannya, ia meletakkan sendok es krimnya begitu saja. Namja cantik itu mengusap lehernya perlahan, merasa tidak nyaman dengan keadaan yang tiba-tiba menjadi kikuk.

"Ah! Ngomong-ngomong kenapa kalian tidak ke sekolah? Bukankah minggu depan kalian sudah harus ujian sebelum liburan musim dingin?" tanya Seokjin. Ia menatap tajam ke tiga siswa SMA didepannya itu.

Taehyung nyengir lebar, terkekeh gugup, "sekali-kali bolos tidak apa-apa hyung. Lagipula bukankah ini masih masa berkabung?" Joungkook mengangguk mengiyakan, sedangkan Namjoon hanya mengangkat bahunya acuh.

Seokjin membelalakkan matanya, "ya! Aish, kalian sungguh ya."

Joungkook dan Taehyung hanya nyengir sembari mengalihkan pandanganya, kemanapun asal bukan Seokjin. Sedangkan Namjoon hanya duduk santai, tidak merasa terganggu dengan tatapan tajam Seokjin.

Namjoon tiba-tiba menegakkan tubuhnya, "aku memiliki informasi penting untuk kalian." Suara beratnya memecah keheningan selama 15 detik yang menyiksa, membuat Seokjin menggeser duduknya menghadap Namjoon, "apa?"

Namja kim itu berdiri, mengabaikan tatapan penasaran dari ketiga orang lainnya dan mengambil amplop coklat dari dalam tasnya diruang tamu, "aku baru saja menerima ini kemarin dari ahjussi Park." Ia membuka amplop coklat itu dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang langsung diambil oleh Seokjin dan Joungkook.

Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam, "aku meminta orang untuk mencari tahu mengenai kasus yang menimpa Kang Haeri ssi. Dan hasil itu yang aku dapatkan."

Bibir Seokjin bergetar membaca apa yang tertulis di kertas putih yang ia bawa, "eom – eomma uang. Maksudku, hiks, uang – eomma hiks." Namjoon langsung memeluk Seokjin begitu namja itu mulai terisak.

"ini semua karena uang Namjoon. Hiks, ini semua salahku, hiks, seandainya aku bisa mendapatkan uangnya, hiks, eomma, hiks, eomma tidak akan keceakaan, eomma hiks, eomma tidak a – "

"Ssssttt, sudah sayang. Kau tidak salah." Namjoon mengusap lembut punggung Seokjin, dengan bibir yang tidak berhenti mengecup pelipis namja cantik itu, "kau tidak salah. Jika ada yang disalahkan dalam kasus ini, tentu saja rentenir yang telah menganiaya eomma mu. Jadi berhentilah menangis."

Joungkook terdiam, ia membiarkan Taehyung ikut membaca kertas yang ia bawa. Dan Taehyung reflek menutup mulutnya mengetahui fakta sebenarnya dari peristiwa yang menimpa eomma kekasihnya. Ia memeluk bahu Joungkook dan mengusapnya pelan.

"kita harus melaporkannya pada polisi kan?" tanya Taehyung cepat.

"ya, tentu saja." Jawab Namjoon masih dengan Seokjin yang terisak dalam pelukannya.

.

.

.

Satu minggu sudah berlalu sejak Namjoon dan Seokjin melaporkan mengenai penganiayaan yang dialami oleh Kang haeri, dan sampai sekarang belum ada laporan apapun mengenai kelanjutan dari kasus itu. Dan hal ini menjadi salah satu yang mengganggu Seokjin. Meski namja cantik itu sudah mulai menjalani hari-harinya seperti biasa, ia sudah mulai masuk kerja.

Hingga tadi malam, saat Namjoon tengah berbaring diranjang bersama Seokjin, ngomong-ngomong, seminggu ini Namjoon selalu tidur di rumah Seokjin dan Joungkook, bahkan bisa dibilang tinggal disana. Seokjin mengungkit kembali mengenai kasus ibunya.

"Namjoon ah, apa sudah ada kabar dari kepolisian mengenai kasus eomma?" tanya Seokjin sembari memandang Namjoon yang juga menatapnya.

Dan dari pertanyaan sederhana itu, Namjoon sekarang disini. Berdiri di atap sekolah dengan batang rokok yang terselip diantara bibirnya.

"yo, Namjoon! ada apa memanggilku?" Hoseok berjalan mendekati Namjoon dengan tangan yang melambai santai. Ia ikut mengambil rokok dari bungkus di saku seragam Namjoon dan menyalakannya. Ia menghembuskan asap beracun itu lalu mengibaskannya cepat.

"nanti anak-anak kumpul?" tanya Namjoon setelah menghisap rokoknya lalu menghembuskannya dengan kasar. Hoseok mengangguk, ikut menghisap rokoknya hingga udara disekeliling mereka menjadi keruh, "ya. Kenapa? Kau ingin ikut kumpul?"

"memang ada apa?"

"tidak ada apa-apa. Terakhir kita melawan geng sebelah, mereka memalak di gang blok 5. Oh, dan Joungkook juga yang memimpin kemarin. Adik iparmu itu cukup kuat juga."

Namjoon mendengus kasar, ia menginjak batang rokok yang baru saja habis ia hisap, "pantas saja anak itu tidak ikut makan malam kemarin. Wajahnya pasti babak belur."

Hoseok menghisap rokoknya untuk terakhir kali sebelum membuangnya, menginjaknya hingga mati meski masih tersisa cukup banyak, "ayo. Pasti anak-anak sudah menunggu ditempat biasa. Kau sudah lama tidak muncul."

Namjoon dan Hoseok lalu berjalan menuruni tangga menuju koridor untuk keluar menuju gerbang belakang sekolah. Meski nakal, Hoseok dan Namjoon tidak ada yang membawa kendaraan pribadi kesini. Sehingga mereka terpaksa berjalan menuju lapangan tempat Cypher berumpul.

"hyung!"

Namjoon dan Hoseok berbalik, menemukan Joungkook dan Taehyung yang berlari menghentikan mereka di gerbang belakang.

"ada apa, Joungkook ah, taetae?" tanya hoseok dengan senyum lebarnya. "aku ikut. Hyung akan ke basecamp kan?" tanya Joungkook. Hoseok mengangguk, denngan Namjoon yang mengerutkan keningnya, "Hey bocah. Kuberitahu satu hal. Sore ini, kita akan melakukan beberapa 'permainan', dan itu bukan untuk dirimu yang bahkan aku masih bisa melihat lebam di pipi kirimu. Aku tak ingin membuat Seokjin memarahiku jika mengajakmu."

Hoseok bersiul, sedangkan Taehyung mengangguk mengiyakan, "iya, kookie ah. Kau sudah membohongi Seokjin hyung sejak kemarin. Jadi lebih baik sekarang kita pulang dan biarkan Namjoon dan hoseok hyung yang melakukan apa itu'permainan' yang mereka maksud, ya?"

Mata Joungkook bertemu dengan milik Taehyung, lalu kembali menatap Namjoon didepannya, "shireo! Aku ingin ikut, hyung. Bukankah hari ini yang telah hyung janjikan kemarin?"

"janji apa?" Taehyung dan Hoseok bertanya bersamaan, membuat keduanya terkikik lalu kembali memandnag Joungkook dan Namjoon.

Helaan nafas berat dikeluarkan oleh namja Kim itu, "aku sudah berjanji pada anak ini untuk membalas eommanya. Jadi rencananya sore ini Cypher akan melwan preman yang menjadi anak buah rentenir itu."

Hoseok tiba-tiba bertepuk tangan, "wah, sepertinya akan seru. Sudah lama aku tidak mendapat lawan yang cukup kuat."

"karena itu aku ikut!" teriak Joungkook kekeh. Ia memandang tajam ke arah Namjoon yang juga dibalas dengan tatapan tajam yang sama.

"tidak."

"ikut hyung! Ayolah, kemarin aku berhasil megalahkan geng sebelah kan."

"Tetap tidak, Joungkook."

"Hyung, please! Hyungkan sudah berjanji kemarin."

"berjanji untuk membalas dendam, bukan mengajakmu untuk balas dendam."

"huh, sama saja! Pokoknya aku harus ikut, titik!"

"Taehyung bujuk kekasih bocahmu itu!" namjon mendengus kasar, sebal juga pada anak itu.

Taehyung mendekat ke arah Joungkook, memeluk lengan kekasihnya itu, "Kookie ya, dengarkan Namjoon hyung, eo?"

"tidak. Dan jangan mencoba untuk membujukku, tae. Kali ini biarkan aku ikut, ya?"

"Tapi Joungkook, kau ingin membuat Seokjin hyung khawatir lagi? Bukankah Seokjin hyung sangat membenci jika kau berkelahi?"

"Tapi ini bukan untuk bersenang-senang, Tae. Aku ingin membalas perbuatan mereka yang sudah melukai eomma, bahkan membuat eomma meninggal. Please, jebal, biarkan kali ini aku ikut, ya?"

Taehyung menghela nafas panjang, kekasihnya itu memang sangat keras kepala. Ia mengangkat kedua bahuya menyerah, "baiklah. Tapi aku ikut. Maksudku aku tidak ikut kalian berkelahi, aku hanya ikut kesana. Deal?"

Joungkook melirik ke arah Namjoon yang hanya mengangkat kedua bahuya acuh, pasrah saja sekarang, "baiklah. Asal jangan sampai kau mendekat, oke? Jaga jarak aman, Tae."

.

.

.

Langit berwarna jingga saat Cypher sampai di Busan. Butuh 2 jam penuh hingga sampai di kota ini menggunakan kereta, dan ngomong-ngomong, segala biaya akomodasi ditanggung oleh Namjoon, bahkan setiap orang di Cypher dibelikan baju untuk mengganti seragam mereka. Namjoon melarang atribut seragam dalam bentuk apapun, bahkan namja itu menyuruh setiap anggota Cypher mengumpulkan kartu siswanya.

"hyung, apa memiliki wajah tampan salah satu syarat masuk Cypher?" bisik Taehyung pada Hoseok yang berjalan disampingnya. Joungkook berada dibaris depan bersama Namjoon.

Hoseok terkekeh, "menurutmu begitu?"

Taehyung mengangguk ceat, "Hyung tak menyadarinya? Joungkook, Mingyu, Hansol, Soonyoung, Seungcheol, Namjoon hyung, Jongin Sunbae, Sehun Sunbae. Lihat kan?" Hoseok mengacak rambut Taehyung sembari tertawa, "tidak, taetae. Tidak ada syarat semacam itu di Cypher. Selama ia bisa memukul dengan baik, tidak ada syarat lain."

"tae! Apa yang kau lakukan dibelakang? Kemarilah!" teriakan Joungkook membatalkan niat taheyung untuk kembali bertanya. Ia menunduk sekilas ke arah Hoseok dan sedikit berlari menghampiri Joungkook.

"baiklah. Aku akan menjelaskan sesuatu kepada kalian."

Suara berat Namjoon membuat Cypher secara otomatis membuat lingkaran mengelilingi sang leader.

"Kali ini kita tidak akan melawan geng sekolah seperti biasanya. Aku sudah menjelaskan pada kalian sebelumnya, kalian tidak perlu takut pada polisi atau apapun, hanya pastikan tubuhmu baik-baik saja dan kalahkan lawan kalian. Jika ada yang berubah pikiran dan tidak ingin ikut kali ini, aku mempersilahkan kalian pulang." Namjoon memandang satu persatu orang disana, "dan jangan kembali lagi ke Cypher."

Wajah-wajah disana menjadi tegang. Dan tidak ada satupun yang mengangkat tangannya. Namjoon menyeringai, lalu membalik tubuhnya, "ayo ikuti aku."

Sekelompok orang yang beranggota sekitar 20 itu berjalan dibelakang Namjoon. bahkan Taehyung memeluk erat-erat lengan Joungkook, "Namjoon hyung menakutkan." Bisiknya ditelinga Joungkook. Joungkook terkekeh, "Kau baru tahu? Dia selalu menakutkan di Cypher."

Taehyung mengangguk paham dan memandang punggung Namjoon didepannya lalu tersenyum kecil, "Tapi tadi Namjoon hyung terlihat keren juga." Joungkook mendengus mendengar pujian itu dan hanya diam, tidak menanggapi.

Cypher sampai disebuah gang kumuh dengan penerangan minim. Meski bias-bias senja matahari masih sedikit membantu, tapi gang kecil yang tidak ada lampu itu terlihat sedikit mengerikan. Siswa-siswa SMA itu berjalan masuk, melewati gang kecil itu hingga menemukan sebuah bangunan tua diujungnya.

Namjoon menyeringai, lalu tanpa ragu menendang pintu besi didepannya. Ia bisa melihat sebuah meja dengan beberapa orang yang mengelilinginya, juga beberapa namja yang sepertinya preman menjaga disekitar nya.

Namjoon mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat melalui lirikan matanya untuk menunggu. Lalu ia sendiri melangkah masuk, diiringi tatapan tajam dari semua yang ada disana. Ia berhenti didepan meja diujung, berhadapan dengan seorang namja paruh baya yang sepertinya pemilik rumah rentenir ini.

"Choi Sangwoon?"

Namja itu mengangkat sebelah alisnya, mengangguk ragu, "ya, itu aku."

Sudut bibir Namjoon terangkat, ia berjalan mengelilingi meja hingga berdiri disamping kursi namja bernama Choi Sangwoon itu, ia dengan angkuh duduk dimeja, berhadapan dengannya, "Jadi, apa kau ingat yeoja bernama Kang Haeri?"

Namja itu terkekeh, "maksudmu yeoja tua yang mengaku-ngaku masih muda dan miskin itu? Cih, dia memang benar-benar tak tahu malu. Ia tiba-tiba datang padaku, mengatakan ingin meminjam uang. Menyombongkan anaknya di Seoul yang sudah sukses. Aku tahu, dia berbohong. Jadi aku sengaja memberinya uang dengan bunga yang tinggi, yang aku yakin dia tidak bisa melunasinya. Batas waktunya 1 bulan, dan dia sudah melewatinya. Jadi aku sedikit memberinya pelajaran. Aku tak tahu bahwa dia akan mati hanya karena beberapa pukulan. Padahal aku belum sempat mengambil uannya, sepertinya aku harus benar—benar menemui anaknya di Seoul untuk membayar utang ibunya."

Sudut bibir Namjoon berkedut, ia melirik ke arah salah satu anak buahnya di Cypher, memberi tanda untuk mendekat, memberikan sebuah tas yang sedari tadi ia bawa.

Namjoon mengambil tas itu dan meletakkannya didepan Choi Sangwoon, ia membukanya kasar, memperlihatkan tumpukan uang didalamnya. Yang tidak hanya mengejutkan namja itu, namun juga seluruh orang disana, termasuk Joungkook.

"Namjoon hyung?! Kau bercanda kan?! Kau ingin memberikan uangmu untuk si brengsek itu, hah?!" teriakan Joungkook membuat Namjoon dan Choi Sangwoon menatapnya. Namjoon menyeringai, "aku belum selesai, brat."

"Well, Choi Sangwoon ssi. Aku akan memberikan uang ini, melunasi semua hutang atas nama Kang Haeri. Dengan syarat – "

Namjoon berdiri, mengambil tas tersebut dan kembali memutari meja itu untuk menuju ke arah Hoseok dan Joungkook.

" – bagaimana dengan melawan kami? Aku lihat kau memiliki banyak bodyguard disini."

Choi Sangwoon mendengus murka, ia memukul mejanya dan menunjuk Namjoon dengan telunjuknya, "Cepat ambil tas itu!"

Dan perkelahianpun dimulai. Taehyung yang hanya berdiri diluar menangkupkan kedua tangannya erat-erat.

"semoga mereka baik-baik saja."

.

.

.

"bagaimana, Namjoon ah?" tanya Hoseok begitu Namjoon keluar dari kantor polisi. Namja itu didampingi oleh ahjussi park yang juga ikut datang. Setelah perkelahian yang sangat berbahaya tadi, ahjussi park datang bersama beberapa polisi yang langsung mengamankan Choi Sangwoon dengan anak buahnya. Bahkan polisi membiarkan Namjoon dan Cypher begitu saja, tidak mau repot-repot meminta keterangan. Dan Hoseok lebih dari tahu bahwa ada campur tangan Namjoon disini.

"semuanya berjalan sesuai rencana. Mereka tertangkap, dan uangnya masih aku bawa." Jawab Namjoon. ia mendapat pelukan singkat dari Hoseok, "kau memang brengsek, Namjoon. kau membiarkan kita melawan mereka padahal sudah pasti mereka ditangkap polisi. Lalu apa gunannya kita berkelahi dengan manusia-manusia itu hah?"

"untuk memberikan luka yang lebih parah karena telah melukai Kang Haeri. Juga untuk melatih Cypher, bukankan ideku sangat cemerlang?"

Hoseok mendengus kasar. Namjoon menyeringai dan memandang anggota cypher yang duduk terlantar diluar kantor polisi, dengan beberapa luka ringan disekujur tubuh.

"baiklah, dengarkan aku. Sekarang, obati dulu luka kalian, lalu kita makan malam. – " Namjoon melihat jam tangannya, " – sudah lewat dari jam 9. Sepertinya kita akan pulang memakai bis." Teriak Namjoon, yang langsung membuat semuanya berdiri.

Namjoon berjalan menuju ahjussi Park, "Ahjussi, tolong siapkan satu bus untuk membawa kita kembali ke Seoul. Oke?"

Ahjussi park menggeleng tak percaya, "kelakuanmu, Namjoon. tunggu sampai Tuan Kim mendengarnya." Namjoon hanya terkekeh mendengarnya.

"Namjoon hyung!" teriakan Joungkook membuat Namjoon berbalik, ia bisa melihat namja itu menghamoirinya dengan ponsel ditangan.

"Seokjin hyung menelponku. Bagaimana ini hyung?" ucap Joungkook panik. Ia menyerahkan ponselnya dengan layar bertuliskan Seokjinnie hyung is calling...

Namjoon berdecak sebal, "memang kau bilang apa ke Seokjin?" Joungkook menggeleng, "aku tidak bilang apa-apa. Aku hanya ijin pulang terlambat."

"dasar! Menyusahkan saja." Gumam Namjoon kesal, meski ia tetap menerima ponsel Joungkook dan mengangkat panggilan Seokjin.

"Princess?"

Joungkook mengernyit mendengar nada yang terlampau lembut yang dipakai Namjoon untuk memanggil kakaknya itu.

"Namjoon?"

"ya?"

"dimana Joungkook?"

"Dia ada disampingku. Kenapa?"

"Ini sudah jam 9 lebih Namjoon. dimana anak itu? Kenapa belum pulang?"

"dia sedang ada urusan denganku, princess. Mungkin lewat tengah malam baru pulang."

"ha? Memang sekarang kalian dimana? Kenapa malam sekali?"

Namjoon memutar otaknya, tidak mungkin ia menjawab tengah di Busan, Seokjin pasti berpikir yang tidak-tidak.

"Namjoon?"

"Ah ya? Kenapa princess?"

"Kalian dimana? Butuh aku jemput?"

"tidak. Aku sekarang sedang berada diluar Seoul. Aku mengajak Joungkook untuk membereskan beberapa masalah."

"masalah apa? Jangan bilang Joungkook kamu ajak berkelahi lagi?"

"well, hanya beberapa urusan lelaki, sayang. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan membawa pulang Joungkook dengan selamat, eh, tapi mungkin dengan sedikit bekas lebam ditubuhnya."

"Astaga! Cepat pulang! Aku akan memberikan kalian berdua pelajaran begitu sampai. Aku tunggu dirumah!"

"Ya, princess. Selamat malam. Tidur duluan saja, jangan menungguku dan Joungkook."

"ya ya, ya. Yang penting kalian segera pulang."

"Ya."

Lalu sambungan diputus Namjoon. ia kembali menyerahkan ponsel itu ke Joungkook, "cepat obati lukamu. Aku tak ingin Seokjin marah hanya karena adiknya tergores sedikit."

Joungkook mendengus dan berlalu dari sana, kembali menuju Taehyung yang berdiri ersama temannya seangkatan di Cypher.

"ayo ahjussi, kita mencari makan malam. Bisnya sudah datangkan?"

Ahjussi mengangguk dan menunjuk sebuah bis didepan Kantor polisi. Namjoon memberi kode kepada Hoseok, dan temannya itu mengajak seluruh anggota Cypher meninggalkan kantor polisi, mencari minimarket atau apotek terdekat untuk membeli obat luar. Sekalian mencari tempat makan bagi mereka.

.

.

.

Namjoon bisa melihat jam tangannya menunjukkan pukul 1 lebih dini hari saat ia dan pasangan KookTae sampai di rumah Seokjin. Ketiga namja itu membuka pintu dengan sangat pelan, beruntung Joungkook membawa kunci rumahnya, hingga mereka tidak perlu membunyikan bel untuk masuk.

Seluruh lampu rumah sudah dimatikan, namun mereka masih bisa melihat TV yang menyala dan sosok manusia yang terlihat tidur di sofa depan TV. Namjoon mendengus, "Dasar keras kepala!"

"kalian segera masuk kamar saja, biar aku yang mengurus Seokjin." Bisik Namjoon. Joungkook mengangguk, menarik lengan Taehyung menuju kamarnya. Taehyung memang menginap disini, karna sedari awal ia memang ijin kepada orangtuanya untuk menginap bersama Joungkook.

Namjoon memutar pandangannya, melihat ke arah Seokjin yang bergelung dengan sellimut pinknya disofa. Bias cahaya dari TV membuat Namjoon tidak bisa melihat Seokjin dengan jelas. Hingga ia memutuskan untuk berjalan mendekat. Ia mematikan TV dan duduk disamping Seokjin. Ia tersenyum kecil melihat wajah Seokjin yang terlihat sangat polos saat terlelap. Belum lagi bibir gemuknya yang sedikit terbuka, hingga Namjoon tidak bisa menahan diri untuk tidak menunduk dan mengecup sekilas bibir itu.

Seokjin melenguh samar, tubuhnya secara tidak sadar semakin merapat ke arah Namjoon, bahkan kepalanya bersandar nyaman didada namja itu. Namjoon yang mendapati tingkah menggemaskan Seokjin hanya pasrah saja, lagipula memang namja cantik itu setiap malam selalu bergelung dipelukannya.

"hei, sayang, ayo pindah ke kamar." Bisik Namjoon dengan bibir yang ia tempelken ke pelipis Seokjin, memberikan beberapa kecupan disana. "eungh." Seokjin melenguh namun tetap tidak membuka matanya. Ia justru mengangkat tangannya ke arah Namjoon, "gendong."

Namjoon terkekeh dan dengan gemas mencium pipi Seokjin, menggigitnya gemas, "baiklah, princess." Seokjin tersenyum lebar, melingkarkan tangannya keleher Namjoon dan membiarkan namja itu membawanya bridal style.

"kenapa baru pulang?" tanya Seokjin dalam gendongan Namjoon. ia membuka matanya sedikit, melirik Namjoon yang juga menatapnya, "kami kehabisan kereta, terpaksa menggunakan bis. Jadi lebih lama." Jelas Namjoon. ia menendang pintu kamar Seokjin – ehm, maksudnya kamar mereka dan kembali menutupnya dengan cara yang sama. Ia menurunkan buntalan Seokjin dan selimutnya ke atas ranjang.

"kau tidak tidur?" tanya Seokjin saat Namjoon justru berdiri menjauhi ranjang. "aku harus berganti baju dulu, sayang. Sabarlah." Lalu Namjoon dengan santai membuka baju dan celana jeansnya disana, dengan tenang membiarkan Seokjin bisa melihat tubuhnya.

Seokjin memekik kaget dan segera mengalihkan pandangannya, membuat Namjoon terkekeh melihat tingkah Seokjin yang sangat imut menurutnya, "kenapa malu sayang? Kau sudah sering melihatnya." Goda Namjoon. ia mengambil celana pendek dari lemari dan memakainya, tanpa repot-repot memakai atasan. Ia sudah biasa hanya tidur tanpa baju.

"tetap saja, uhh, Namjoon!"

Namjoon tertawa dan melompat ke ranjang, membuat tubuh Seokjin bergoyang mengikuti ranjang. Namjoon memeluk tubuh Seokjin, membuka selimut yang membungkus namja cantik itu dan ikut masuk ke dalam selimut yang sama.

"jja, ayo tidur. Aku sangat lelah."

Seokjin menyipitkan matanya, mendapati beberapa lebam di tubuh dan wajah Namjoon.

"hey Namjoon, jujur padaku. Kau habis berkelahi lagi?" tanya Seokjin, ia menatap tepat ke mata Namjoon yang juga memandangnya. Namjoon mengangguk, karena memang sejak awal tidak berniat berbohong, "ya. Dan akan kuceritakan semuanya besok pagi. Sekarang aku sangat lelah, princess, biarkan aku tidur dulu, ya?"

Kening Seokjin mengerut tidak setuju, namun tetap diam dan melingkarkan tangannya memeluk pinggang Namjoon, menjadikan dada namja itu sebagai bantalnya.

"aku benar-benar akan menagih ceritamu besok."

"hmm. Sekarang tidurlah."

"eum."

.

.

.

Rencna Namjoon berjalan dengan lancar, sesuai dengan yang diharapkan. Rentenir dan anak buahnya semuanya masuk penjara, dan Namjoon serta Cypher tidak ada sangkut pautnya sama sekali dimata polisi. Tentu saja, semua campur tangan Namjoon dan ayahnya.

Semuanya memang berjalan sesuai rencana, kecuali Seokjin tentu saja. Bahkan namja cantik itu melakukan aksi merajuk selama 3 hari penuh tidak memasak sama sekali untuknya dan Joungkook.

"kalian bisa menyelesaikannya baik-baik melalui polisi, namun justru berkelahi dan melukai diri sendiri dengan jauh-jauh ke Busan. Kalian memang benar-benar, aish!"

Hanya seperti itu dan kemudian Seokjin melancarkan aksi ngambeknya. Bahkan ia tak mau repot-repot mengobati luka-luka Namjoon dan Joungkook. Yah, meski beruntung karena Taehyung masih mau mengobatinya.

"Hey, sayang. Ayo nanti ke Tunnel." Ajak Namjoon saat ia tengah duduk dimeja makan dan menyaksikan Seokjin memasak. Akhirnya, setelah 3 hari tidak merasakan makanan buatan Seokjin, hari ini namja cantik itu luluh. Setelah semalaman tubuhnya digarap dengan sangat apik oleh Namjoon. well, jika saja dia tahu bahwa dengan vanilla sex Seokjin bisa luluh, sudah sejak kemarin ia lakukan. Sayangnya ia terlalu takut membuat Seokjin semakin marah jika ia ajak bercinta.

Seokjin meletakkan omelette, bacon, dan sweet corn yang baru selesai ia masak kedalam tiga piring dan ia bawa ke meja makan, "kenapa?" tanya Seokjin. Ia kembali berjalan ke balik meja dapur dan mengambil kardus susu dan gelas.

"bukankah sudah lama kau tidak melihat Converse? Nanti malam kita tampil." Jawab Namjoon begitu Seokjin sudah duduk didepannya. Seokjin diam, ia memandang Namjoon yang tengah menyangga dagunya dengan tangan kiri. Namja Kim itu tersenyum lebar melihat Seokjin yang tengah berpikir. Seokjin terlihat sangat seksi pagi ini, dengan kemeja hitam dan celana hitam juga. Jangan lupakan kissmark yang terlihat mengintip dari kerahnya, semalam Seokjin benar-benar menarik rambutnya saat ia akan mendaratkan giginya di leher, sehingga terpaksa Namjoon menurut dan hanya meninggalkan kissmark ditempat tertutup.

"aku ikut ya hyung?" Joungkook tiba-tiba muncul dengan seragam dan tas dipunggungnya. Ia mendudukkan diri disamping Namjoon, membalas high five yang ditawarkan kakak kelasnya itu.

Seokjin menggeleng tidak setuju, "Tunnel itu pub, kookie. Klub malam, kau belum cukup umur untuk masuk ke sana."

"itu gampang diurus, princess. Aku bisa memasukkan Joungkook dengan mudah. Kau tak lupakan kalau aku dan Hoseok yang masih dibawah umur juga bisa keluar masuk Tunnel sesukanya?"

Kening Seokjin berkerut dalam, "tidak. Klub malam bukan tempat yang seharusnya kau datangi, kook. Biarkan Namjoon dan Hoseok dengan dunianya, kau jangan ikut-ikutan.

Joungkook mengerucutkan bibirnya, "Ayolah hyung. Sekali ini saja, ya? Aku ingin melihat Yoongi hyung, Namjoon hyung, dan Hoseok hyung tampil. Ya hyung? Jebal~" bahkan namja Jeon itu menangkupkan tangannya didepan dada, mmberikan tatapan memohonnya.

"tidak."

"hyungie~ jebal hyung! Sekali ini saja! Ya? Aku hanya ingin melihat converse tampil, lalu pulang. Ya?"

"Joungkook, hyung sudah bil – "

"Jebal~" Joungkook menatap Seokjin, memohon dengan puppy eyes penuh aegyonya.

Seokjin menghela nafasnya panjang, "baiklah, kau boleh datang. Tapi tidak ada alkohol dan jangan coba-coba mencicipi minuman itu, Oke?"

Joungkook memukulkan tangan kanannya keatas, "oke. Aku juga akan mengajak Taetae."

Seokjin sudah akan melarang sebelum Namjoon menggenggam tangannya di atas meja, "biarkan saja princess. Tenang saja, aku akan memesan meja didekat panggung khusus untuk kita. Sehingga dua bocah itu tidak harus berbaur dengan pengunjung yang lain."

Seokjin menghembuskan nafasnya pasrah, "ya, terserah kalian saja."

.

.

.

Lalu, disinilah mereka.

Sebuah meja bundar dengan kursi merah yang mengelilinginya. Seokjin, Yoongi, Taehyung, dan Joungkook sudah duduk disana, menikmati penampilan DJ yang bertugas malam ini. Sedangkan Jimin, Hoseok, dan Namjoon pergi utuk memesan minuman katanya, entah apa yang mereka lakukan selama ini.

"akhirnya Seokjin hyung mengijinkan kalian kemari?" tanya Yoongi pada Joungkook dan Taehyung. Joungkook mengangguk, "ya, dengan bantuan Namjoon hyung tentu saja. Aku juga ingin melihat Converse tampil, hyung." Jawabnya dengan senyum lebar, "dan aku juga berhasil mengajak Taehyung. Aku tidak menyangka kalau klub malam akan se – well, bagaimana mengatakannya, sopan?"

Yoongi tertawa, "Tunnel memang salah satu klub legal yang sedikit elit, Joungkook. Disini memang selalu seperti ini, tidak ada pelacur, kekerasan, dan semacamya."

"tapi jangan coba-coba pergi ke klub lain yang kalian belum pernah kesana." Seokjin ikut menimpali, "karena tidak semua klub seperti ini, kookie. Banyak klub yang lebih liar daripada ini."

Yoongi mengangguk membenarkan. Sedangkan Joungkook dan Taehyung mengangguk paham, mereka kembali mengedarkan pandangan kesekeliling klub, melihat lantai tengah klub yang memang kosong tanpa meja mulai penuh dengan orang-orang yang menari, dan panggung yang masih kosong. Taehyung melirik jam tangannya, sudah jam setengah 10.

"Yo!"

Hoseok datang membawa dua gelas tinggi dengan isi berwarna pink dan biru. Ia mengulurkan gelas tersebut ke arah Taehyung dan Joungkook, "selamat datang di Tunnel. Aku mentraktir kalian malam ini, semoga suka."

"mereka tidak aku perbolehkan minum alkohol, Hoseok." Seokjin menyahut cepat. Tapi sebelum Hoseok menarik lagi tangannya, Namjoon sudah ikut menimpali, "tenang saja, ini bebas alkohol. Aku memesan cocktail yang tidak mengandung sedikitpun alkohol. Kalian tidak akan mabuk."

Seokjin mengernyitkan keningnya memandang Namjoon, tapi tetap membiarkan Joungkook dan Taehyung menerima minuman itu.

"dan ini untuk Yoongi hyung." Jimin duduk disamping Yoongi dan memberikan satu gelas besar bir disana. Yoongi tertawa dan menerimanya, "dasar Park Jimin."

"karena malam ini ada anak dibawah umur, aku hanya memesan bir rendah alkohol." Jelas Jimin. Yoongi mengangguk dan menyesap sedikit minumnya, "tidak buruk."

Hoseok duduk diamping Jimin dan meminum minuman yang sama, berbeda dengan Namjoon yang duduk disebelah Seokjin, merapat pada namja cantik itu.

"kau meminum apa?" tanya Seokjin. Ia bisa melihat Namjoon membawa sebuah gelas dan satu botol minuman yang ia letakkan diatas meja. Namjoon menyusupkan tangannya dibelakang tubuh Seokjin, membuatnya menyentuh pinggang namja itu, dan Seokjin tidak terlihat keberatan.

"wine, the sweet one." Jawab Namjoon seraya menyesap cairan merah digelas yang ia bawa. Seokjin memandang Namjoon, membuat keduanya saling berhadapan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Lagipula musik semakin keras, mereka harus berteriak atau berbicara ditelinga masing-masing untuk bisa mendengar apa yang orang lain katakan.

Namjoon terkekeh, "Wanna try it?" tawarnya sembari mengarahkan gelasnya ke bibir Seokjin. Seokjin melirik Namjoon dan dibalas dengan anggukan samar oleh namja itu. Seokjin membuka bibirnya dan membiarkan Namjoon mengangkat sedikit gelasnya hingga Seokjin bisa meminum wine dari sana.

Mata Seokjin sedikit melebar, "ini enak." Ucapnya. Namjoon terkekeh.

"Tentu saja. Namjoon membeli satu yang mahal, hyung." Kali ini hoseok yang menimpali.

"sepertinya kita perlu bersiap kebelakang." Kalimat Yoongi membuat hoseok dan Namjoon menatap hyung mereka.

"ya, sudah jam setengah 10 lebih." Gumam Hoseok sembari ikut berdiri mengikuti Yoongi. Yoongi menunduk dan mencium sekilas bibir Jimin sebelum melambaikan tangannya dan berlalu menuju belakang panggung. Sedangkan Hoseok langsung berjalan dibelakangnya.

"aku juga harus kesana." Ucap Namjoon. ia tanpa mengatakan apapun memberikan ciuman dibibir penuh Seokjin sebelum mengerling dan berlalu. Membuat 4 orang disana terdiam, bahkan termasuk Seokjin.

"well, meski aku tahu hyung dan Namjoon bersama, aku masih shock melihat Namjoon menciummu, hyung." Ucap Jimin jujur. "aku baru pertama kali ini melihatnya secara langsung dan jelas." tambah Joungkook.

Wajah Seokjin memerah, "aku juga tak menyangka ia akan menciumku disini. Dan Yoongi juga menciummu."

Jimin memutar matanya, "Hyung tak lupa kan? Yoongi hyung selalu begitu setiap di klub malam. Well, kelakukannya sedikit liar disini."

"hyung, kapan Converse akan main?" tanya Taehyung. Jimin dan Seokjin melihat kearah panggung yang mulai menyala lampunya.

"sebentar lagi."

.

.

.

30 menit adalah waktu yang dimiliki converse untuk tampil di Tunnel. Dan selama itu pula, Joungkook dan Taehyung tidak berhenti berteriak, benar-benar menikmati penampilan ketiga orang yang berdiri diatas panggung. Bahkan Joungkook ikut mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ikut berteriak bersama pengunjung Tunnel lainnya.

"Aku tak menyangka Namjoon hyung benar-benar pintar melakukan rapp." Bisik Joungkook tepat dielinga Seokjin. Converse sudah selesai tampil, digantikan oleh seorang DJ yang bertugas malam ini, yang mengubah lantai klub menjadi tempat menari yang sangat ramai. Belum lagi musik yang mulai menghentak.

Seokjin tertawa, "awalnya aku juga tidak pernah menyangkanya, tapi sunbaemu itu memang sangat keren saat dipanggung. Berbeda saat ia di rumah."

"memang kalau aku dirumah bagaimana?" tiba-tiba Namjoon muncul dan langsung melingkarkan tangannya di pundak Seokjin. Joungkook tertawa, sedangkan Seokjin menyikut pinggang Namjoon, "kau mesum." Ucapnya sebal.

Namjoon terkekeh mendengar ucapan Seokjin, "hanya padamu sayang." Bisik Namjoon mesra ditelinga Seokjin, membuat namja cantik merona tipis.

"ehm, hyung, jangan bermesraan disini, ok?" Joungkook tiba-tiba menyela. Ia berdiri bersedekap memasang wajah datarnya memandang adegan NamJin didepannya tadi. Taehyung ikut memandang Namjoon dan Seokjin tak berkedip, "Aku masih belum terbiasa memandang Namjoon hyung dan Seokjin hyung bermesraan."

"Biasakan dirimu, kalian akan sering melihatnya kedepan." Jawab Namjoon. Joungkook mendengus dan menggenggam tangan Taehyung, "Ayo pulang! Bukankah hyung bilang harus segera pulang setelah melihat Converse?"

"aah iya, kau benar. Ngomong-ngomong, dimana yag lain?" tanya Seokjin saat ia tak bisa menemukan Yoongi, Jimin, dan Hoseok. Taehyung menunjuk ke arah tengah klub, "mereka turun untuk menari."

Seokjin menoleh, mendapati Yoongi dan Jimin yang menebar kemesraan ditengah keramaian dengan hoseok yang entah bersama siapa disana. "Yoongi benar-benar liar saat di klub." Gumam Seokjin.

"baiklah, ayo kita pulang." Ajak Seokjin. Lalu ke empat namja itu berjalan keluar, sedikit bersusah menembus lautan manusia yang menari mengikuti beat yang diputar oleh DJ disana.

"nanti kalian aku antar pulang dulu. Aku akan mengajak Seokjin ke suatu tempat sebelum pulang." Ucap Namjoon saat keempatnya sudah masuk mobil. Kali ini Namjoon yang menyetir mobil Seokjin, dengan alasan aku tak ingin partnerku menyetir mobil selama ada aku yang bisa. Yang diamuk Seokjin karena diperlakukan seperti wanita. Tapi tetap saja, akhirnya Seokjin pasrah saja Namjoon selalu menyetir setiap mereka pergi.

Joungkook mengerutkan keningnya, "kemana?" pertanyaan yang juga dinanti jawabannya oleh ketiga orang disana. Bahkan Seokjin juga tidak tahu mau kemana.

"kencan."

.

.

.

"kau suka aku ajak kemari?" suara Namjoon memecah keheningan diantara keduanya. Seokjin memandang kedepan, memandang suasana malam kota Seoul dari atas bukit dimana ia kini berada dengan Namjoon. Namjoon yang mengajaknya kemari, Seokjin tak tahu ada tempat seperti ini di Seoul, seperti dataran tinggi yang bisa melihat Seoul dengan gemerlap lampu malamnya.

"ya, aku suka." Seokjin menoleh kesamping memandang Namjoon yang menyandarkan dagunya dibahu kananya. Namja Kim itu memeluknya dari belakang, berbagi selimut yang sama yang entah kapan ia siapkan dimobil. Udara dingin tidak membuat Seokjin menggigil, bahkan ia terasa hangat dengan pelukan Namjoon.

Namjoon tersenyum dan mengecup pelipis Seokjin lembut, memejamkan matanya sejenak. Ia sangat suka mengecup pelipis Seokjin. Seokjin ikut tersenyum, ia menyandarkan kepalanya didada Namjoon, menikmati bagaimana namja tampan itu mengecup pipinya kali ini. Ia menggenggam tangan Namjoon yang berada diperutnya, ikut menyalurkan kehangatan pada kedua telapak tangan tersebut.

Kepala Namjoon kembali bertumpu pada bahu Seokjin, kali ini menempelkan pipinya dengan milik namja cantik itu. Seokjin merona parah, dengan bibir yang tak berhenti tersenyum. Namjoon bersikap sangat manis malam ini.

Namjoon menghembuskan nafasnya panjang, menyebabkan uap putih yang hilang tersapu angin, "aku ingin mengatakan sesuatu yang serius denganmu, sayang." Bisik Namjoon. Seokjin menoleh, mendapati Namjoon yang juga tengah memandangnya.

"Cantiknya." Lalu satu kecupan pada bibir Seokjin diberikan Namjoon. namja cantk itu terkekeh, membalas dengan mencium pipi Namjoon, "Kau sangat manis malam ini, Namjoon."

"karena aku ingin mengatakan satu hal yang penting."

"apa?"

"Aku mencintaimu. Kali ini bukan hanya 'I think', now I'm sure, I do really love you."

Seokjin terdiam, ia menatap mata Namjoon yang kini berbalik berhadapan dengannya. Namja itu melingkarkan tangannya dipinggang Seokjin, menjaga tubuh mereka tetap menempel satu sama lain.

Tangan Seokjin terangkat, menangkup kedua sisi wajah Namjoon. Melihat bayangan dirinya yang menjadi satu-satunya objek dimata namjoon, begitu juga miliknya yang hanya memantulkan bayangan Namjoon. ibu jarinya mengusap lembut rahang tegas Namjoon, membuat jarak wajah mereka semakin dekat.

"aku juga mencintaimu, Namjoon. sungguh-sungguh mencintaimu."

Namjoon tersenyum, memajukan wajahnya untuk menemukan bibir keduanya. Ia memberikan sebuah kecupan singkat, "jadi, kita sekarang sepasang kekasih?" tanya Seokjin. Namjoon terkekeh, ia menggigit gemas sudut bibir Seokjin, "Kita sayang. Kita sepasang kekasih. Kalau perlu aku akan menikahimu sekarang."

Seokjin mengerucutkan bibirnya, tangannya kini meremas bahu Namjoon, "bagaimana dengan appamu?"

"orang tua itu? Lupakan saja." Namjoon mendengus tak peduli.

Seokjin mengerutkan keningnya tak terima, "Tapi ia ayahmu."

"biarkan saja. Lagipula ia juga merestui hubungan kita."

"ha?"

"iya. Saat ia menemuimu hari itu, ia hanya ingin menggertakku sebenarnya. Ia tidak bermaksud jahat padamu. Bisa dibilang, ia hanya mengujimu dan mengujiku."

"ayahmu cukup menarik." Gumam Seokjin tak yakin. Namjoon tertawa dan memberikan tiga kecupan dibelah bibir Seokjin, "memang, dia sedikit, well, unik."

Lalu kedua bibir itu kembali bertemu. Kali ini bukan hanya sebuah kecupan singkat, namun ciuman lembut yang menghanyutkan. Keduanya saling melumat milik yang lain, saat namjoon mengulum bibir atas Seokjin, namja cantik itu membalas perlakuan yang sama pada bibir bawah Namjoon. bergantian, hingga akhirnya lidah Namjoon mengetuk pelan bibir Seokjin, membuat namja cantik itu tersenyum dan membuka mulutnya suka rela.

Keduanya berciuman selama bermenit-menit. Menolehkan kepala kekanan lalu kekiri, mencarii posisi nyaman. Memisahkan diri selama beberapa detik untuk mengisi paru-pasru sebelum kembali berciuman.

"ngh," Seokjin melenguh samar, merespon dengan baik tangan dingin Namjoon yang mengusap pinggangnya setelah masuk kedalam baju yang ia pakai.

Cup

Cup

Cup

Tiga kecupan, dan Namjoon kali ini benar-benar menyelesaikan ciuman mereka.

"ayo pulang, sebelum aku lupa diri dan bercinta denganmu dimobil lagi."

Wajah Seokjin memerah, ia memukul pundak Namjoon malu-malu, "memang kenapa? Dulu juga malah kau yang mengajak."

Namjoon menyeringai dan mendekatkan bibirnya ketelinga Seokjin, hingga bibirnya bisa menyentuh kulit Seokjin saat berbisik, "karena aku tidak akan puas jika hanya menikmati tubuhmu di mobil yang sempit."

Seokjin memekik malu dan kali ini memukul bahu Namjoon berkali-kali, "mesum!"

Namjoon tertawa, menangkap pergelangan tangan Seokjin dan memeluk namja cantik itu, "tapi kau tetap cinta. Dan akan kubuat selalu dan selamanya mencintaiku."

Bibir Seokjin melengkung penuh, ia balik memeluk punggung Namjoon erat, "Ya, aku akan selalu mencintaimu. Dan biarkan dirimu selalu disisiku, jangan pergi."

"aku tidak akan pergi, tidak akan pernah."

.

.

.

END

End! Selese! Berakhir! Yuhuuu~ akhirnya selese juga, hehehhe

Officially end, but...

Aku rencana buat satu chapter epilogue untuk mengakhirinya 'lagi'. Kkk, jadi kalau mau menunggu silahkan, kalau tidak ya silahkan.

Karena memang ini ceritanya udah selesai. Wkwkwkwk

Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselesainya fanfic yang sangat panjang ini. Walapun bukan fanfic terpanjang yang pernah aku tulis, tapi tetap saja ini panjang, wkwkwkkw terima kasih kepada semua yang sudah menyempatkan untuk membaca, dan terkhusus yang sudah review.

And last but not least, Big Thanks to:

Macchiato Cwang/ Dororong/ Mongtaevee/ moodymonniej/ Aiko Vallery/ 07/ cluekey 6800/ itsathenazi/ princess jinnie/ Bbangssang/ Black Crush/ Jikyungieee Wu/ hiluph166/ aiihee bee/ Flakesscarlet/ esazame/ hanashiro kim/ minetsune09/ Nam-SuPD/ Gigi Hadid/ Ddonee/ momonpoi/ Ammiguns/ iPSyuu/ Ema/ gneiss02/ dewiaisyahlbs/ juney532/ hazel 1996/ sugasugababy/ ORUL2/ litaarshi/ uknow Namjinn/ Guest/ pengagum rahasia 'bohongnan'Mu/ L.A/ justcallmeBii/ Nam0SuPD/ hilallia/ hadakumi/ kookiee92/ rismamalmul/ zizi'd exo/celindazifan/ jilakie/ rrriiieee/ gneiss02