AFTER

.

Cast : Jung Yunho (29 tahun)

Jung (Kim) Jaejoong (27 tahun)

Jung (Shim) Changmin (3 tahun)

Other cast : Yihan (28 tahun), Park Yoochun (26 tahun), Kim Junsu (25 tahun), Son Dongwoon (23 tahun), Jessica Jung (23 tahun), Mr. Jung (52 tahun)

Pairing : YUNJAE

Note : cerita ini asli milik saya sendiri, cerita pasaran, alur lamban, typo(s)bertebaran, bahasa yang tak sesuai dengan EYD

.

.

.

Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^

.

.

DOUZO

.

::

Chap 10

::

.

Suasana dikediaman Jaejoong benar-benar seperti suasana perang. Tiga orang namja yang tengah berada disana semuanya memancarkan aura suram. Terlebih lagi namja dengan mata musang. Ia kelihatan sangat kesal dan memendam amarah yang bergejolak didadanya. Bagaimana tidak, namja cantiknya kini tengah asik mengobrol dengan namja lain yang sangat ia benci. Mereka nampak sangat asik, seakan hanya mereka berdua yang ada diruangan itu. Jus yang tadi dihidangkan Junsupun sama sekali tak disentuhnya. Ingin sekali rasanya menumpahkan jus itu diwajah Yihan, begitulah kira-kira isi pikiran dari Yunho. Junsu sendiri sudah ngacir menuju kamar Changmin, ia beralasan ingin menjaga Changmin.

Jaejoong sendiri seakan tak menghiraukan kehadiran Yunho. Baginya Yunho hanyalah sebuah ilusi saja. Ia tetap saja asik mengobrol dengan Yihan. Ia memang sengaja melakukan itu, agar Yunho berhenti mengganggunya. Dan melupakan rencana konyolnya itu. Tak tahu saja Jaejoong, kalau semakin ia membuat hati seorang Jung Yunho panas, maka malah membuat Yunho tak akan menyerah dan justru akan lebih gencar melaksanakan misinya. Tak ingatkah Jaejoong kalau tingkat keras kepala Yunho sungguh tiada duanya!

Sementara Yihan, oh. Rupanya ia senang tak terkira. Karna namja cantik pujaan hatinya lebih memilih mengobrol dengannya dibandingkan mengobrol dengan mantan 'suami'nya. Itu membuat hati Yihan sedikit berbunga. Itu membuatnya berfikir kalau peluang dirinya mendekati Jaejoong sedikit terbuka. Tak tahu saja kau Yihan, kalau Jaejoong sebenarnya hanya memanfaatkan dirimu, andai saja ia tahu sebenarnya apa yang direncanakan Jaejoong, mungkin saja ia akan sakit hati lagi. Poor Yihan.

Brak

Yunho tiba-tiba menggebrak meja dihadapannya. Kekesalannya sudah memuncak. Ia sudah sangat marah sekarang, daritadi Jaejoong selalu mengacuhkannya.

"Apa kalian pikir hanya ada kalian berdua saja disini eoh?" geramnya sambil mengepalkan tangannya. Mata musangnya sudah merah karna amarah. Sementara dadanya naik turun menahan gejolak jantungnya.

"Hei, jangan berteriak! Minie nanti terbangun kalau kau berteriak begitu!" dengus Jaejoong sambil menatap mata nyalang Yunho. Ia juga kesal sekarang, karna Yunho mengagetkannya.

"Yak, kau sendiripun berteriak!" balas Yunho tak mau kalah.

"Aku berteiak karna kau duluan yang berteriak!"

"Kenapa mengikutiku berteriak!"

"Suka-suka ku mau berteriak atau tidak!"

"Yak kau!"

"Mwo?"

"Hyungdeul, kenapa berteriak-teriak. Minie jadi terbangun!" suara nyaring Junsu tiba-tiba menyela perdebatan Yunjae. Membuat Yunho dan Jaejoong seketika menutup telinga mereka mencegah iritasi akibat lengkingan suara Junsu. Jangan lupakan Yihan, dirinya juga sedari tadi sudah menutup telinga mendengar teriakan-teriakan pasangan Yunjae. Junsu terlihat sangat kesal sekarang. Dirinya tengah menggendong Changmin yang terbangun karna teriakan kedua orangtuanya. Matanya sembab habis menangis karna kaget mendengar teriakan itu.

"Kenapa kalian berteriak eoh! Kalian membuat Minie terkejut!"

Jaejoong segera beranjak mengambil Changmin dari gendongan Junsu. Diturunkannya Changmin dan ia mulai brerjongkok didepan Changmin. Dirinya merasa bersalah telah membangunkan anaknya itu.

"Mianhae Minie, eomma tak bermaksud mengagetkanmu. Cup cup,"

Yunho juga ikut mendekati Changmin dan berjongkok dihadapannya, dielusnya rambut hitam Changmin dan merangkulnya dari samping. "Maafkan appa ne Minie. Membuatmu terbangun." kata Yunho dan menciumi pucuk kepala Changmin.

"Hiks, hiks, takut. Eomma cama appa kenapa teliak-teliak. Hiks, hiks,"

"Uljima Minie, eomma tak akan teriak lagi ne." hibur Jaejoong sambil menghapus air mata Changmin.

"Hiks, hiks,"

"Lagi-lagi Minie menangis gara-gara kau. Hobi sekali kau membuat Minie menangis."

"Yah, kenapa kau menyalahkanku. Siapa suruh kau asik mengobrol dengannya dan mengacuhkanku."

"Tak ada hubungannya. Kau saja yang suka membuat keributan."

"Yah, jelas ada hubungannya."

"Mwo?"

"Aku tak tak suka kau dekat dengannya."

"Apa urusannya denganmu!"

"Karna aku cemburu."

Deg

Mata Jaejoong membulat sempurna mendengar pengakuan Yunho. Dirinya sungguh kaget dengan itu semua. Bagaimana bisa Yunho dengan mudahnya mengatakan dirinya cemburu melihat dirinya dan Yihan mengobrol. Jaejoong sungguh tak habis pikir. Tapi disisi lain ia juga merasa senang. Karna ternyata perasaan Yunho padanya masih seperti dulu. Tak ada yang berubah sedikipun. Kembali, hati Jaejoong berdesir hangat mendengar pengakuan jujur Yunho itu. Semburat merah muncul diwajahnya.

"Kau gila!" desis Jaejoong hampir tak terdengar.

"Apa kau tak bisa melihat kesungguhanku Joongie? Aku benar-benar ingin kita kembali bersama."

Jaejoong berpaling dan menatap mata musang Yunho. Mencari kebenaran dari kata-katanya itu. Sudah dua kali Yunho mengatakan itu. Dirinya sama sekalai tak habis pikir. Kenapa Yunho bisa mengatakan hal itu. Ini diluar perkiraannya.

"Aku serius Jaejoongie."

Perlahan Yunho mendekati Jaejoong dan membalas tatapan Jaejoong. Ditatapnya mata bulat Jaejoong itu sambil tersenyum. Dirinya ingin agar Jaejoong tahu kalau dirinya benar-benar serius dengan perkataannya barusan.

Jaejoong masih terus menatap mata musang Yunho, entah sadar atau tidak Jaejoong balas tersenyum kepada Yunho. Membuat Yunho sedikit kaget, tapi ia berusaha tenang dan terus menatap mata bulat Jaejoong.

Keduanya kini masih saling tatap, menyalurkan perasaan yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Jaejoong sendiri tak mengerti kenapa dirinya malah terhanyut dalam tatapan Yunho. Padahal ia berniat untuk menjauhkan Yunho dari hidupnya. Tapi, saat mendengar keseriusan perkataan Yunho padanya, dirinya malah sangat bahagia dan melupakan niatnya itu.

Entah apa yang merasuki Jaejoong, dirinya malah sekarang mendekatkan wajahnya pada Yunho, mencoba melihat wajah Yunho itu lebih dekat. Sementara Yunho, dirinya sekarang senang bukan main. Ia pikir Jaejoong ingin menciumnya, namun saat wajah keduanya hanya tinggal beberapa centi-

Pletakkk

"Yak appo!"

Sebuah jitakan yang cukup keras sukses mendarat di kepala Yunho. Yunho terlonjak kaget dan otomatis menjauhkan dirinya dari Jaejoong sambil mengusap-usap kepalanya yang berdenyut.

"Apa yang kau pikirkan eoh! Sudah kukatakan untuk memikirkan kembali pikiranmu itu. Huh!"

"Yak, appo. Kenapa kau kasar sekali."

"Hiks, eomma. Kenapa pukul appa, howaaaa." Changmin menangis semakin keras setelah melihat Jaejoong memukul kepala Yunho. Jaejoong lupa sama sekali kalau ada Changmin didekatnya.

"Aiss, kenapa kalau berada di dekat denganmu membuatku lupa kalau ada Changmin. Huh," gerutu Jaejoong dan langsung menenangkan Changmin. "Uljima Minie, eomma tak memukul appamu ne. Appamu saja yang nakal makanya eomma pukul." ucapnya sambil melirik tajam Yunho.

"Hiks, kacian appa. Hiks,"

"Aigoo, anak appa menghawatirkan appa ne. Appa tak apa Minie. Lihat appa sehat kan, hmm?"

"Ne tubuhmu memang sehat, tapi otakmu yang bermasalah." jawab Jaejoong ketus.

"Jangan mulai lagi Joongie." desis Yunho sepelan mungkin. "Nah, Minie sekarang tidur lagi ne, apa mau appa temani?"

Changmin mengangguk lemah sebelum menjawab, "Ne, appa hiks, menginap caja ne dicini."

Jederrrr

Seperti tersambar petir. Jaejoong seketika melebarkan matanya mendengar keinginan Changmin. Bagaimana tidak, ia meminta Yunho untuk menginap disini, dan itu artinya kalau mereka harus berbagi kasur bersama. Mengingat kamar Jaejoong hanya ada satu kasur. Membayangkan harus tidur seranjang lagi dengan Yunho membuatnya bergidik ngeri. Ia tak tahu apa yang bisa Yunho lakukan kalau mereka tidur bersama lagi.

"Hmm? Anak appa ingin appa menginap disini? Waa, appa senang sekali." Yunho tersenyum lalu beralih memandang Jaejoong, menampakkan seringai mesum akutnya.

"ANDWAE!" teriak Jaejoong yang langsung membuat Changmin kembali menangis.

"Uljima, uljima. Yah, Joongie, kenapa berteriak lagi. Minie jadi terkejut kan!"

"Kau tak boleh menginap disini. Sana cepat pulang, atau perlu kupanggil keamanan!" geram Jaejoong menahan kesal.

"Yak, ini kan permintaan Changmin, jadi apa salahnya aku turuti."

"Aku bilang tak boleh ya tak boleh!" jawab Jaejoong keras kepala.

"Huwee, eomma kenapa appa nggak boleh menginap dicini. Huweee," Changmin kembali menangis. Jaejoong benar-benar pusing sekarang. Ia tak ingin melihat Changmin sedih, tapi ia juga tak bisa membiarkan Yunho menginap disini. Keselamatan dirinya tak terjamin kalau Yunho sampai menginap.

"Yah Joongie, kasihan Minie. Kau tega sekali membuatnya bersedih." ratap Yunho dengan suara yang dibuat sememelas mungkin. Dirinya kini ingin menjadikan Changmin alat supaya Jaejoong mau menerimanya kembali.

"Yah yah, kau mencari kesempatan!" jawab Jaejoong masih geram menahan amarah.

"Ne hyung, kasihan Minie. Dia kelihatannya sangat meridukan Yunho hyung." kata Junsu yang entah sejak kapan berada disekitar Jaejoong dan Yunho.

"Yak, Su-ie. Kenapa malah mendukungnya!" marah Jaejoong pada Junsu.

"Bukan mendukung hyung, hanya saja aku kasihan pada Minie. Ya hyung, kali ini saja. Izinkan Yunho hyung menginap."

Jaejoong nampak menimbang-nimbang perkataan Junsu. Matanya kemudian beralih ke Changmin. Dilihatnya Changmin tengah memeluk Yunho, bahunya masih bergetar menandakan dirinya masih menangis. Jaejoong menghembuskan nafas pelan sebelum memberikan keputusan.

"Hmm, baiklah. Untuk kali ini saja kau kuuizinkan. Tapi hanya sebatas menidurkan Changmin. Setelah Changmin tertidur kau harus cepat-cepat pulang. Arra!"

Yunho hanya tersenyum mendengar keputusan Jaejoong. Yah, walau belum diizinkan untuk menginap, tapi setidaknya ia sudah diizinkan untuk menemani Changmin sampai tertidur.

"Gomawo Joongie," kata Yunho dan beranjak menggendong Changmin menuju kamarnya.

"Nah, begitu hyung, baru namanya berjiwa besar." senyum Junsu sambil menepuk bahu Jaejoong.

Jaejoong hanya tersenyum masam sambil menundukkan wajahnya kesal. "Tapi Su-ie, sepertinya aku melupakan sesuatu?" tanya Jaejoong pada Junsu. Yah, lupakah uri Jaejoong ini pada Yihan?

"Ne hyung, sepertinya kita melupakan sesuatu." kata Junsu ikut berfikir.

"OMO. Yihan hyung." pekik Jaejoong dan Junsu bersamaan..

.

.

Yunho kini tengah menidurkan Changmin dikamarnya. Senyum tak pernah lepas diwajah tampannya. Ia sangat senang karna Jaejoong sudah sedikit melunak padanya.

"Appa, appa menginap dicini ne?" tanya Changmin yang rupanya masih melek. Rupanya ia belum bisa tidur saking senangnya karena appanya kini ada disebelahnya.

"Ne changy. Appa akan menginap. Apa Minie senang?"

"Cangat. Minie cangat cenang appa." senyum Changmin lebar. Dipeluknya Yunho agar Yunho tak pergi lagi sekarang.

"Haha, anak appa sangat senang eoh? Hmm, bagaimana kalau besok appa ajak Minie jalan-jalan? Minie mau beli apa hmm?"

"Jinja? Appa mau ajak Minie jalan-jalan? Waa, Minie mau, Minie mau." Changmin seketika terduduk disebelah Yunho yang masih berbaring dikasur. Matanya mengerjab lucu memikirkan kalau besok ia akan diajak jalan-jalan oleh appanya.

"Ne, Minie mau kemana hmm?"

"Minie mau kelumah appa caja. Minie kangen cama halmoni dan Cicca jumma." kata Changmin lucu sambil menatap mata Yunho. Rupanya evil kecil itu merasa rindu pada halmoni dan ahjummanya.

Mendengar permintaan Changmin, Yunho sedikit terkejut. Ternyata anaknya masih ingat bahkan masih menyayangi orang tua dan adiknya. Hati Yunho sedikit terenyuh mendengar itu, diusapnya kepala Changmin dengan penuh kasih.

"Ne Minie. Minie mau ketemu halmoni dan Sooyeon jumma? Tapi tidak sekarang ne. Mereka tengah sibuk, jadi Minie belum bisa menemui mereka. Arra?"

"Memangnya halmoni dan jumma kemana appa? Meleka tak kangen cama Minie ne?"

"Halmoni dan jumma sedang sibuk. Sama seperti appa ne. Mereka sangat kangen sama Minie. Nanti kalau urusan halmoni dan jumma sudah selesai, baru appa akan ajak Minie menemui mereka ne. Arra?"

Changmin hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. "Hooaammm, appa Minie ngantuk."

"Jaa, kalau begitu Minie tidur ne. Appa temani sampai Minie tidur."

"Tapi appa jangan tinggalin Minie nanti ne, Minie mau becok Minie bangun appa macih ada dicini cama Minie. Ne ne, appa."

"Ne. Kajja, tidur. Jaljayo." Yunho mencium kening Changmin sebelum Changmin tertidur. Iapun kemudian menepuk pelan pantat Changmin, agar anak itu tidur.

Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata bulat milik Jaejoong mengamati gerak-gerik mereka berdua sedari tadi. Matanya mulai memanas merasakan airmata yang ingin tumpah. Dadanya sesak mendengar permintaan Changmin pada Yunho barusan.

Ditutupnya pelan pintu kamar itu agar tak menimbulkan suara. Hatinya berdenyut sakit saat mendengar kalau ternyata Changmin merindukan keluarga Yunho. Entah apa yang sekarang ia rasakan. Rasa bersalah, sedih, dan haru bercampur jadi satu. Tak terasa airmata lolos membasahi pipi putihnya. Segera diusapnya airmata itu agar tak dilihat oleh Junsu yang tengah berjalan kearahnya.

"Hyung, apa Yihan hyung sudah pulang?"

"Ne, dia baru saja pulang. Aku merasa tak enak tadi meninggalkannya begitu saja."

"Emm, nado. Kalau Minie sudah tidur hyung?"

"M..mollayo. Aku tak sempat melihatnya." gugup Jaejoong.

"Ah, kalau begitu aku tidur dulu ne hyung. Besok masih ada rapat, jadi aku masih harus ke kantor dan tak bisa menemani Changmin. Gwencanayo hyung?"

"Ne, gwencana Su-ie. Kajja, tidur sana. Jangan sampai kau telat. Jalja."

"Jalja hyung." Junsupun bergegas masuk kamar, sementara Jaejoong masih setia berdiri didepan pintu kamarnya. Bersandar pada daun pintunya. Ia bingung antara masuk ke dalam atau diam diluar. Belum sempat berfikir, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Jaejoong tak tahu kalau pintu itu terbuka. Alhasil, dirinya yang tengah bersandar seketika kehilangan keseimbangan dan jatuh kebelakang.

"Kyaaaa."

Happ

Jaejoong merasakan tubuhnya sama sekali tak menyentuh lantai. Perlahan dibukanya matanya yang tadi ditutupnya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat siapa yang menolongnya itu. Yunho. Kini posisi mereka mirip seperti di drama-drama di televisi. Yunho menopang tubuh Jaejoong dari belakang dengan tangan kanannya. Wajah mereka hanya berjarak sekitar beberapa senti, membuat Jaejoong bisa merasakan deru nafas Yunho di wajahnya.

Jantung keduanya berdetak kencang. Suasana hening tercipta, membuat keduanya bisa mendengar detak jantung mereka masing-masing. Jaejoong menatap lekat mata musang Yunho, begitupun dengan Yunho. Keduanya sama-sama terkejut, masih saling pandang sampai Jaejoong tersadar dan segera berdiri.

"Ah, go..gomawo." katanya sangat gugup, berusaha berdiri dan merapikan sedikit bajunya.

Yunhopun tak kalah gugupnya. Pasalnya baru kali ini lagi mereka ber'sentuh'an kembali, masih agak canggung rupanya. "Cheonma." jawabnya tanpa melihat Jaejoong.

Hening

Mereka masih shock dan kaget atas kejadian barusan. Jaejoong melirik Yunho yang ada didepannya. Hatinya berdesir saat mengingat bagaimana tangan kekar Yunho tadi menopangnya. Wajah mereka yang begitu dekat, sehingga ia bisa mendengar detak jantung Yunho. Begitu pula dengan Yunho. Ia kembali teringat saat ia dapat merasakan hangat tubuh Jaejoong dalam dekapannya tadi. Wajah mereka yang begitu dekat membuatnya bisa merasakan aroma bunga lily yang menguar dari tubuh Jaejoong. Keduanya masih sangat canggung untuk memulai bicara.

"A..apa Minie sudah tidur?" kata Jaejoong berusaha terlihat tenang. Tapi tak berhasil, suaranya masih bergetar.

"Ne, dia sudah tidur." jawab Yunho sambil mengangkat wajahnya menatap Jaejoong.

"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Jaejoong balas menatap Yunho.

"Ne. Aku akan pulang, bukankah aku berjanji tadi setelah Minie tidur aku akan pulang." jawab Yunho dengan sedikit senyuman diwajahnya. Sebenarnya ia sangat ingin untuk menginap, tapi berhubung Jaejoong tidak mengizinkannya, ia lebih memilih pulang. Daripada namja cantiknya itu nanti malah marah karna ia melanggar janji.

"Ba..bagaimana ka..kalau kau menginap saja? Diluar sudah malam." jawab Jaejoong yang langsung menundukkan wajahnya.

Bagai petir disiang bolong, tawaran Jaejoong barusan membuat Yunho membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana mungkin Jaejoong berubah pikiran semudah itu. Atau jangan-jangan Jaejoong memang ingin agar dirinya menginap disini. Ditatapnya Jaejoong yang masih setia menundukkan wajahnya.

"Tapi tadi kau bilang-"

"Ya sudah kalau kau tak mau, aku mau tidur dulu." Jaejoong dengan cepat memotong perkataan Yunho. Ia langsung berbalik masuk kamar. Ternyata mood namja cantik kita ini mudah berubah. Tak mau kehilangan kesempatan, Yunho segera mengikuti Jaejoong.

"Bukan begitu maksudku. Aku tentu mau menginap disini, asal kau mengizinkan," jawab Yunho berusaha menenangkan kembali namja cantiknya itu.

"Aku tak akan mengatakannya dua kali." jawab Jaejoong ketus dan mulai naik ke kasur, menyebelahi Changmin.

Yunho hanya bisa tersenyum bahagia. Biarpun Jaejoong mengatakannya dengan ketus, tapi ia sangat senang karna diizinkan menginap. Tak mau membuang waktu iapun duduk ditepi ranjang menyebelahi Jaejoong.

"Gomawo sudah mengizinkanku menginap." Jaejoong yang pura-pura tidur hanya diam tak menjawab. "Aku tahu kau belum tidur." lanjut Yunho.

Jaejoong pun mulai membuka matanya, lalu menatap Yunho sebal. "Yak, sana cepat tidur. Sebelum aku berubah pikiran." teriaknya dan membuat Changmin sedikit terusik.

"Eung,"

"Yah, jangan berteriak Joongie, nanti Minie terbangun." Yunho beranjak kesisi lain tempat tidur dan menepuk pantat Changmin agar Changmin tertidur lagi.

"Aiss, kenapa aku selalu lupa ada Minie kalau aku bersamamu huh!" dengus Jaejoong dan mulai ikut menenangkan Changmin.

Kini kegiatan mereka berdua adalah menenangkan Changmin agar anak itu tak terbangun. Yunho masih menepuk pantat Changmin, sedangkan Jaejoong kini mengusap pelan kepala Changmin. Dikecupnya pucuk kepala Changmin.

Setelah Changmin kembali terlelap, Jaejoong segera menyelimuti tubuh Changmin. Sementara Yunho, kini ia tengah bersandar ditembok belakang tempat tidurnya, memandang Jaejoong yang tengah sibuk menyelimuti Changmin.

Yunho benar-benar merasakan bahagia yang tak terkira. Bagaimana tidak, ia sekarang diizinkan menginap di rumah Jaejoong, terlebih lagi ia diizinkan untuk tidur seranjang lagi dengan Jaejoong. Sungguh, ia tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Tapi yang jelas sekarang ia sangat bahagia.

"Kau mau menatapku terus sampai pagi ha?" bentakan dari Jaejoong seketika membuat Yunho tersadar. Digaruknya kepala belakangnya yang tidak gatal.

"Emm, apa kau mau tidur Joongie?" tanya Yunho balik yang melihat Jaejoong bersiap untuk tidur.

"Tentu saja. Aku sudah mengantuk, lagipula besok aku harus bekerja." jawab Jaejoong ketus tanpa memandang Yunho. Iapun mulai memejamkan matanya.

Yunho perlahan menurunkan badannya untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jaejoong. Ditatapnya intens wajah Jaejoong, namja cantik yang tak pernah sekalipun hilang dari hatinya. "Joongie, gomawo ne. Gomawo sudah mengizinkanku menginap disini. Kau tahu, aku sungguh bahagia sekarang. Aku tak menyangka bisa merasakan lagi kebersamaan sebuah keluarga seperti ini." ucap Yunho pelan, takut membuat Jaejoong terbangun.

Namun Jaejoong mendengar semua itu. Dirinya memang belum tertidur sedari tadi. Dirinya hanya ingin menenangkan debaran jantungnya yang berdetak sangat kencang, mengingat sekarang dirinya dan Yunho berada dalam satu kamar, bahkan satu ranjang. Perlahan dirasakannya hatinya berdesir hangat, matanya mulai memanas mendengar pengakuan Yunho tadi. Dua kali sudah ia mendengar pengakuan jujur Yunnho padanya.

"Aku sungguh senang Joongie." tangan Yunho perlahan terulur menyentuh pipi Jaejoong, dirasakannya halus lembut pipi Jaejoong. Menikmati permainan tangannya dipipi Jaejoong, Yunho tersenyum senang. Dirinya sangat merindukan sosok namja cantik didepannya ini.

Sementara Jaejoong? Dirinya juga terlarut dalam sentuhan Yunho. Dirinya juga sebenarnya sangat merindukan sentuhan-sentuhan dari Yunho. Dibiarkannya tangan kekar Yunho menyentuh pipinya, ia tak ingin kehilangan moment seperti ini.

"Neomo yeopo Joongie."

Seketika wajah Jaejoong memanas mendengar pujian Yunho padanya. Untung keadaan kamar gelap sehingga Yunho tak bisa melihat dengan jelas semburat merah diwajah Jaejoong, dan tak tahu kalau sebenarnya dirinya belum tertidur.

Setelah puas mengelus pipi Jaejoong, perlahan Yunho menundukkan kepalanya ingin mencium Jaejoong. Jaejoong yang merasakan tangan Yunho sudah tak menyentuhnya lagi, perlahan membuka matanya. Ia ingin sedikit mengobrol dengan Yunho. Namun saat ia membuka matanya, betapa kagetnya ia melihat wajah Yunho sangat dekat dengannya. Sedangkan Yunho? Oh, dia juga sangat terkejut melihat mata Jaejoong terbuka. Dan seketika-

"KYAA," Jaejoong berteriak kencang saking kagetnya melihat apa yang ingin Yunho lakukan padanya. Seketika dilemparkannya bantal yang ada disebelahnya. Yunho yang tak kalah kagetnya, hanya bisa menghindar dari lemparan bantal Jaejoong.

"Apa yang kau lakukan ha!" geram Jaejoong.

"Mi..mian, aku tak bermaksud." jawab Yunho gugup, menyadari bahaya apa yang akan ia dapatkan setelah ini.

Sementara itu, Changmin terkejut mendengar teriakan Jaejoong tadi, kini ia terjaga dari tidurnya dan mulai menangis. "Huweee, hiks hiks."

"Yah, Minie, cup cup." Jaejoong baru sadar kalau Changmin terbangun dan mulai menangis. Dirinya lalu menenangkan Changmin dan sebelumnya menghadiahi Yunho dengan deathglare gratis.

"Uljima Minie, cup cup. Mian eomma kengagetkanmu. Cup cup,"

"Minie, uljima ne. Minie mau susu hmm?" Yunho kini ikut menenangkan Changmin, dielusnya kepala Changmin.

"Huweeee, hiks hiks, huwee." Changmin terus saja menangis namun matanya masih terpejam.

"Tiga kali. Sudah tiga kali kau membuat Changmin menangis." dengus Jaejoong.

"Mian, aku tak bermaksud." sesal Yunho.

"Aku akan menenangkan Minie dulu, kau sebaiknya cepat tidur. Supaya aku tak berteriak lagi melihat kelakuanmu itu." Jaejoong segera menggendong Changmin, dan menidurkannya lagi. Sementara Yunho? Ia hanya pasrah, meringkuk dikasur dan mulai memejamkan matanya.

Jaejoong hanya menghela nafas saat dilihatnya Yunho mulai memejamkan matanya. Dirinya sungguh kaget tadi sampai tak sadar berteriak kencang. Bagaimana seandainya dirinya tak membuka mata? Pasti ia sudah merasakan bibir Yunho menempel di bibirnya. Sungguh, ia merutuki kebodohannya. Kenapa malah membuka mata dan menghilangkan kesempatan dicium Yunho?

"Mwo? Aiss, apa yang kau pikirkan Kim Jaejoong!" desis Jaejoong atas pemikirannya itu.

.

.

Changmin kini sudah tertidur kembali, Yunhopun nampaknya juga sudah tertidur. Setelah menidurkan Changmin diranjang, Jaejoong melangkah keluar. Ia ingin mengambil minum sebentar. Tak lama Jaejoong kembali ke kamarnya, namun ia sedikit mengernyit, karna kini Yunho sudah terbangun dan duduk ditepi ranjang.

"Kau belum tidur?" tanya Jaejoong sesaat setelah masuk kamar.

"Ne, aku tak bisa tidur."

Jaejoong perlahan duduk disebelah Changmin. "Jadi daritadi kau tak tidur eoh?"

"Ne, begitulah." jawab Yunho sambil tersenyum pada Jaejoong.

"Ini sudah malam, sebaiknya kau cepat tidur. Bukankah besok kau juga harus bekerja?"

Yunho diam sebentar sebelum menjawab, "Joongie, apa aku boleh menginap lagi lain kali?" tanya Yunho tak menjawab pertanyaan Jaejoong.

Jaejoong menolehkan kepalanya memandang Yunho, dirinya heran mendengar pertanyaan Yunho, "Kenapa kau bertanya begitu?"

Yunho menatap lembut mata Jaejoong sambil berkata, "Ne. Apa boleh?" tanya Yunho sama sekali tak menjawab pertanyaan Jaejoong.

Jaejoong berfikir sejenak sebelum menjawab, dirinya berfikir keras memikirkan sikap apa yang harus ia ambil. Apakah harus luluh dengan Yunho yang nampaknya begitu keras dengan sikapnya. Atau harus melawan hati kecilnya agar Yunho berhenti mengganggunya. Jaejoong menatap lekat mata musang Yunho. Dirinya sangat bingung, alhasil ia hanya mendesah panjang sebelum menjawab.

"Tidurlah, kita bicara lagi besok." jawab Jaejoong dan beranjak untuk tidur. Namun, belum sempat menyentuhkan kepalanya pada bantal, suara Yunho membuatnya menolehkan kepala.

"Kenapa kau mengizinkanku menginap?"

Jaejoong mengurungkan niatnya untuk tidur, dirinya kini kembali terduduk dan menatap mata musang Yunho. "Aku hanya ingin melihat Changmin bahagia. Aku lihat ia sangat merindukanmu, jadi tak ada salahnya, kalau sekali ini aku mengabulkan permintaannya."

"Hanya itu? Tak adakah alasan lain? Bukankah tadi kau hanya mengizinkanku untuk menemani Changmin sampai ia tertidur?"

"Aku hanya kasihan padamu jika pulang malam-malam begini." jawab Jaejoong dan mulai mengalihkan pandangannya kearah lain. Tak ingin menatap mata Yunho.

Yunho hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Jaejoong. Ya setidaknya Jaejoong masih perduli padanya, walau hanya sedikit. "Gomawo ne." ucapnya dan berhasil membuat Jaejoong menoleh dan mengernyit bingung.

"Gomawo sudah mengkhawatirkanku." jawab Yunho lagi sambil tersenyum. Ditatapnya lembut mata bulat Jaejoong. Jaejoong sendiri hanya diam.

"Cheonma, asal kau tak berbuat macam-macam seperti tadi!" ancam Jaejoong dan membuat Yunho tertawa kecil.

"Apa yang kau tertawakan!" dengus Jaejoong kesal karna Yunho malah tertawa.

"Aiss, pelankan sedikit suaramu. Nanti Minie terbangun lagi. Ani, hanya saja aku merasa bahagia." jawab Yunho dan lagi-lagi membuat Jaejoong mengernyit bingung.

"Kau tahu, kau sangat menggemaskan kalau tengah kesal begitu."

"Huh,"

"Kau sendiri yang membuatku bertingkah yang macam-macam." jawab Yunho sambil menaik-turunkan alisnya. Membuat Jaejoong bergidik ngeri, tanpa sadar ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya.

"Jangan macam-macam!" ancamnya namun tak berefek bagi Yunho.

Yunho yang memang sangat hobi mengerjai namja cantiknya itu, kini malah semakin menjadi mengerjai Jaejoong. Perlahan didekatkannya tubuhnya pada tubuh Jaejoong. Menyeringai sambil memasang senyum mesum tingkat dewa.

"Kau malah terlihat semakin manis saat ketakutan begitu." desis Yunho membuat bulu kuduk Jaejoong berdiri. Ternyata pikirannya salah saat mengizinkan Yunho menginap dirumahnya. Kini keselamatannya sudah berada diujung tanduk.

"Ma..mau apa kau!" tunjuk Jaejoong tepat diwajah Yunho. Melihat itu Yunho tersenyum menahan tawa. Lihat saja wajah Jaejoong sekarang, sangat ketakutan. Membuat Yunho sangat senang karna berhasil mengerjai Jaejoong. Dirinya sudah lama tak mengerjai Jaejoong.

"Stop! Di..diam disana!" teriak Jaejoong tercekat. Dirinya sungguh takut sekarang. Bagaimana tidak, Yunho sudah sangat dekat dengannya.

"Hmmpphh, hahahahaha." Yunho tak bisa lagi menahan tawanya, kini ia sudah tertawa cukup keras. Bahkan sampai terguling-guling sambil memegangi perutnya. Jaejoong yang melihat itu hanya diam keheranan. Dirinya menatapa tajam Yunho menuntut penjelasan.

"Yak, pelankan tertawamu. Minie nanti terbangun!" dengus Jaejoong sambil menatap kesal Yunho. "Dan kenapa juga kau tertawa!"

Yunho masih terus tertawa, dirinya tak bisa menjawab pertanyaan Jaejoong. Melihat Yunho yang tak kunjung berhenti tertawa, membuat Jaejoong kesal dan mempoutkan bibirnya. Kesal sekali rupanya ia diacuhkan begitu oleh Yunho.

"Terus saja tertawa sampai kau puas!" ketus Jaejoong dan bersiap untuk tidur,

"Ha, ne ne. Mi..mian hah hah, Joongie." jawab Yunho terputus-putus mengatur nafasnya. "Aku ha..hanya hah hah, senang melihat wajah ketakutanmu." lanjut Yunho yang sudah berhenti tertawa. "Mian, tadi aku hanya bercanda."

Jaejoong yang mendengar itu seketika membulatkan matanya terkejut. Rupanya Yunho hanya mengerjainya tadi. Dengan sekuat tenaga Jaejoong segera memukul Yunho dengan bantal guling yang ada disebelahnya. Dipukulnya Yunho dengan sangat brutal.

"Yak, apa katamu. Kau mengerjaiku ha. Rasakan ini!" Jaejoong semakin brutal menyerang Yunho, Yunho yang mulai kewalahanpun kini beranjak untuk berlari. Melihat Yunho mencoba kabur, seketika Jaejoong mengejar Yunho.

"Ya, mau kemana ha. Ini rasakan!"

"Yak yak, appo Joongie. Kau menyakitiku."

"Biar saja, kau yang memulai duluan."

"Jangan berteriak, nanti Minie terbangun."

"Biarkan saja!" Jaejoong masih setia menyerang Yunho. Yunho sendiri juga masih terus berlari dan menghindar dari amukan Jaejoong. Kamar itupun sekarang sudah mirip seperti kapal pecah. Bantal bertebaran dimana-mana. Membuat Jaejoong tak sengaja menginjaknya dan terpeleset.

"Kyaa."

Bruukk

Dalam sekejap tubuh Jaejoong kini sudah berada dibawah tubuh Yunho. Bagaimana bisa? Itu karena saat Jaejoong terpeleset tadi, tangan Yunho refleks menggenggam baju Jaejoong, namun karna keseimbangan mereka yang tak bagus, alhasil mereka tetap saja terjatuh dengan posisi Jaejoong yang terjatuh lebih dulu.

Jaejoong terkesiap dengan kejadian itu. Matanya memandang tajam mata musang Yunho. Jantungnya berdetak kencang saat dirasakannya wajah Yunho yang sangat dekat dengannya. Deru nafas Yunho menghembus diwajahnya, membuatnya dapat merasakan aroma mint yang keluar dari bibirnya. Jaejoong menelan ludah gugup dengan posisi mereka saat ini. Semburat merah lagi-lagi tercetak diwajah putihnya.

Sementara Yunho? Dirinya kini tengah menatap lekat wajah namja cantik yang sangat ia cintai itu. Mata musangnya tak pernah lepas dari wajah Jaejoong. Ingin rasanya Yunho untuk menyerang Jaejoong detik itu juga. Mengingat betapa rindunya ia dengan tubuh namja cantik itu. Dihirupnya dalam aroma bunga lily yang menguar dari tubuh Jaejoong. Perlahan didekatkannya wajahnya pada wajah Jaejoong. Sambil terus menatap mata bulat Jaejoong, perlahan namun pasti. Jaejoong yang tahu apa yang ingin Yunho lakukan, mendadak tegang. Badannya menegang dan matanya membulat lebar. Semakin dekat wajah Yunho dengan wajahnya, Jaejoong semakin merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang. Suda tinggal sejengkal lagi jarak diantara mereka, sedikit lagi bibir hati Yunho akan menempel pada bibir cherry Jaejoong namun-

"Eom..ma, EOMMA!"

Brakkk

Teriakan keras dari Changmin membuat Jaejoong dengan keras mendorong tubuh Yunho dari atasnya. Dengan gelagapan ia segera berdiri dan mendekati Changmin. Sedangkan Yunho? Ah, rupanya ia tengah meringis kesakitan karna dorongan Jaejoong tadi. Dirinya tengah mengusap pantatnya yang berdenyut sakit mencium lantai kamar.

"Cup cup, Minie. Eomma disini ne. Cup cup," Jaejoong mencoba menenangkan Changmin. Dirinya sangat kaget tadi, hingga tak sengaja mendorong Yunho. Ia sedikit cemas akan keadaan Yunho yang didorongnya tadi, sesekali tampak Jaejoong melirik kearah Yunho. Takut Yunho terluka karna dirinya.

"Neo gwencana?" tanya Jaejoong saat dilihatnya Yunho bangkit berdiri dan berjalan pelan kearah ranjang.

"Ani, aku tak baik-baik saja." jawab Yunho sedikit ketus. Rupanya ia tengah kesal karna tiba-tiba Jaejoong mendorongnya seperti itu.

Mendengar nada kesal dari Yunho, Jaejoong sedikit merasa bersalah. "Mi..mian aku tak bermaksud." sesal Jaejoong sambil menundukkan wajahnya.

Melihat itu Yunho jadi tak tega, perlahan ia duduk menyebelahi Jaejoong dan menyentuh bahu Jaejoong. "Gwencana, aku sudah tak apa." katanya lembut berusaha menenangkan Jaejoong. "Apa Minie terbangun hmm?" lanjut Yunho mengalihkan pembicaraan. Dirinya tak mau melihat Jaejoong lebih lama merasa bersalah.

"Ani, ia hanya mengigau." jawab Jaejoong dan senyum tipis mulai muncul diwajahnya.

"Lebih baik kita juga tidur ne. Apa kau tak mengantuk?" tanya Yunho sambil mengelus pelan pundak Jaejoong. Jantung Jaejoong kembali berdetak kencang menerima perlakuan manis Yunho, dirinya sungguh senang diperlakukan manis begitu oleh Yunho. Tak dirasanya semburat merah sedikit tercipta diwajahnya.

"N..ne, kita lebih baik tidur." gugup Jaejoong. Segera ia beranjak kesisi lain ranjang itu. Yunho juga memilih untuk merebahkan dirinya. Dirinya lumayan lelah hari ini, tapi dibarengi dengan kebahagiaan yang tak terkira.

Jaejoong mengecup pelan pucuk kepala Changmin sebelum dirinya merebahkan diri, Yunho yang melihat kejadian itu hanya tersenyum. Andai saja ia juga bisa mendapat ciuman selamat tidur dari Jaejoong, pasti dirinya sangat senang.

"Jalja Joongie." ucapnya sebelum memjamkan mata.

"Jalja." jawab Jaejoong singkat.

"Tak ada ciuman selamat tidur?"

Blusshh

Wajah Jaejoong merona merah saat digoda Yunho, langsung saja ia menjitak ringan kepala Yunho, "Jangan harap!" jawabnya dengan ketus berusaha meredam detak jantungnya.

.

.

Pagi menjelang. Changmin menggeliat pelan dari tidurnya. Badannya lumayan sakit karna ditindih suatu benda. Benda yang lumayan keras dan berat. Perlahan Changmin membuka mata sipitnya. Menggeliatkan badannya tak nyaman. Mulutnya mengerucut sebal karna badannya sangat berat untuk digerakkan.

"Ugh," erangnya tertahan. Dirasakannya sebuah benda menempel dibadannya. Perlahan diangkatnya wajahnya untuk melihat benda apa yang mengganggu tidurnya.

"Eum," sebuah senyum terukir diwajah tampannya. Ditolehkannya wajahnya kesamping kanan, dilihatnya wajah eommanya yang tertidur pulas. Disentuhnya pipi eommanya itu dengan tangan kanannya sambil tersenyum. Kemudian ditolehkannya kepalanya kekiri, dan tampaklah wajah appanya tertidur tenang disana. Disentuhnya juga wajah appanya itu dengan tangan kirinya. Senyum langsung mengembang diwajahnya.

Ditengokkannya lagi wajahnya keatas perutnya. Ternyata, benda berat yang menempel ditubuhnya itu adalah tangan eomma dan appanya. Tangan Yunho dan Jaejoong yang sama-sama tengah memeluk Changmin. Tangan mereka saling menumpuk, dengan tangan Jaejoong berada dibawah tangan Yunho. Tentu mereka tak menyadari itu.

"Eomma, appa." desis Changmin sambil tersenyum bahagia melihat eomma dan appanya tidur disebelahnya. Iapun kembali tertidur sambil terus tersenyum.

.

::

AFTER

::

.

Keesokan harinya

Kediaman Jung Yunho terlihat lengang pagi ini, dimeja makan hanya terlihat dua orang yeoja yang tengah menikmati sarapannya. Tak nampak wajah Jung Yunho dimeja makan itu. Mrs. Jung dan Jessica, tengah menikmati sarapan mereka tanpa mengeluarkan suara. Mereka diam menikmati makanan. Bukan karna tak ada bahan obrolan, tapi tata cara makan dikeluarga itu memanglah seperti itu. Dilarang ada yang bersuara sampai mereka benar-benar selesai makan.

Klenting

Suara garpu dan sendok yang beradu, mencipkan gema diruang makan itu. Kini kedua yeoja beda usia itu sudah selesai dengan sarapan mereka. Mrs. Jung tengah minum jus yang tiap pagi selau rutin diminumnya. Sementara Jessica memilih makan buah pencuci mulut yang tersedia disana.

"Apa Yunho semalam tidak pulang?" suara halus Mrs. Jung menggema diruang makan itu, memecah kesunyian yang tadi menyelimuti ruangan itu.

Jessica menoleh sebentar pada eommanya, setelahnya ia menunduk lagi sambil menjawab, "Yes, he is not come back home last nigh!"

"Apa kau tahu dia ada dimana? Tak biasanya ia tak pulang seperti ini." lanjut Mrs. Jung sambil menyesap kembali jusnya.

"Mollayo."

Berbohong. Itulah yang sedang Jessica lakukan. Ia bukannya tidak tahu oppanya itu ada dimana. Bahkan ia sangat tahu. Kemarin Yunho menelponnya dan mengatakan ia akan melancarkan misi mereka untuk membuat Jaejoong kembali bersama mereka. Jadi, bisa dipastikan kalau semalam Yunho pasti melakukan sesuatu sehingga bisa berada dirumah Jaejoong. Mengingat itu Jessica tersenyum senang.

"Waeyo? Kenapa kau senyum-senyum begitu Sooyeon-ah?"

Jessica terkesiap mendengar suara eommanya. Dirinya tak sadar kalau ternyata eommanya memperhatikannya.

"Ani eomma."

"Apa dia juga sama sekali tak menghubungimu? Hmm?"

"Ani eomma, Yunho oppa tak menghubungiku sama sekali. Mungkin saja ia menginap dirumah Yoochun oppa."

"Aneh sekali oppamu itu. Tak biasanya ia seperti ini."

"Biarkanlah eomma, lagipula berikanlah kebebasan pada oppa. Siapa tahu dia tengah kesepian."

Deg

Kata-kata Jessica seketika menghentikan kegiatan Mrs. Jung meminum jusnya. Jantungnya sedikit berdetak saat mendengar pemikiran Jessica itu. Tangannya perlahan mengepal diatas meja. Wajahnya menegang dan matanya mulai memicing tajam. Ingatannya kembali saat menemukan foto Yunho dan Jaejoong serta Changmin dilaci meja kerja Yunho. Entah kenapa, tapi perasaan Mrs. Jung sangat marah saat mengetahui Yunho masih memikirkan Jaejoong.

"Kesepian! Apa yang bisa membuatnya kesepian!" geram Mrs. Jung menahan emosi didadanya.

"Yah, eomma tahu sendiri. Sudah hampir sebulan Yunho oppa tak bertemu Changmin, pasti ia sangat rindu dengan anaknya itu. Aku saja sangat rindu padanya." jawab Jessica enteng tanpa merasakan perubahan aura pada eommanya.

"Aku sudah selesai eomma. Aku berangkat dulu." Jessica mulai bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan meninggalkan eommanya, "Oh ya. Nanti kalau Yunho oppa menghubungiku, akan ku beritahu eomma. Annyeong eomma." lanjutnya sebelum menghilang dipintu depan.

Sementara Mrs. Jung? Ia masih menahan amarah yang bergejolak didadanya. Diambilnya foto yang didapatnya dari ruangan Yunho kemarin dan menatapnya tajam.

"Kalau sampai aku melihatmu masih berhubungan dengan Yunho, akan kupastikan kau akan mendapat balasan yang setimpal." desis Mrs. Jung sebelum akhirnya menyobek foto itu.

.

::

AFTER

::

.

Suasana ruang makan dirumah Jaejoong sedikit berbeda sekarang. Biasanya hanya ada Changmin dan Junsu yang akan menghabiskan masakan buatan Jaejoong, kini bertambah satu makhluk lagi yang ikut mengahabiskan masakan Jaejoong. Yunho. Dirinya kini tengah ikut makan bersama dengan Jaejoong, Changmin dan Junsu. Saat bangun tidur tadi, Yunho hanya menemukan Changmin yang meringkuk tengah memeluknya. Sedangkan Jaejoong sudah bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan.

Awalnya Jaejoong langsung menyuruh Yunho untuk pulang kerumah. Tapi dengan berjuta alasan dan rengekan dari Changmin yang meminta Yunho untuk tetap tinggal dan ikut sarapan bersama, akhirnya Jaejoong mengalah dan mengizinkan Yunho untuk ikut sarapan bersama.

"Akhirnya kau menginap juga hyung." terdengar suara Junsu memulai percakapan. Dirinya cukup senang karna Jaejoong tak benar mengusir Yunho. Karna sebenarnya ia sangat menyayangkan perpisahan hyungnya itu dengan Yunho. Diam-diam dirinya ingin menyatukan kembali pasangan itu.

"Ne, aku akhirnya menginap." jawab Yunho seadanya. Takut kalau banyak bicara, Jaejoong akan marah lagi padanya.

"Kupikir kau benar-benar diusir oleh Jae hyung." lanjut Junsu sambil melirik kearah Jaejoong. Jaejoong tak mempedulikan sindiran Junsu padanya, sedari tadi ia hanya diam sambil memasang wajah super kesal.

"Ani, Joongie tak mengusirku."

"Eum, jadi kalian tidur bersama ne?" tanya Junsu yang langsung membuat Jaejoong mendongakkan wajahnya. "Waa, apa ada hal yang terjadi semalam?" lanjutnya sambil menyeringai.

"Yak, Su-ie. Apa yang kau katakan!" jawab Jaejoong sambil sedikit membentak. Wajahnya sudah merah sekarang.

"Yah, aku kan hanya bertanya hyung. Kenapa kau jadi berteriak begitu."

"Tak terjadi apa-apa semalam Junsu-ah. Kami hanya tidur lalu bangun pagi harinya." jawab Yunho sambil menunduk. Mencoba menahan tawa saat melihat wajah Jaejoong yang merah padam. Memang tak ada kejadian seperti yang Junsu pikirkan, namun ada hal lain yang sangat membuat Jaejoong merasa malu.

"Justru kalau kau berteriak seperti itu aku jadi semakin curiga hyung. Pasti ada apa-apa semalam ne? Lihatlah wajahmu, merah padam seperti tomat."

"Yak!"

"Hihi, ne jumma, eomma cama appa kemalin memang melakukan cecuatu."

Jederrrr

Seketika Jaejoong membulatkan matanya sempurna mendengar perkataan Changmin, sedangkan Yunho langsung mendongakkan kepalanya memandang horor pada Changmin. Sementara Junsu? Ah, ia rupanya sangat tertarik sehingga tanpa sadar malah memajukan tubuhnya agar bisa dengan jelas perkataan Changmin.

"Yak hyungdeul, kalian pasti melakukannya sambil berteriak keras eoh! Sampai-sampai Changmin terbangun dan bisa melihat apa yang kalian lakukan. Omo!" pekik Junsu.

"Yah apa katamu ha!"

Pletak

Sebuah sendok melayang mulus dan mendarat tepat dikepala Junsu. "Yak hyung, appo!" ringis Junsu sambil mengusap kepalanya.

"Memangnya Minie lihat apa hmm?" tanya Yunho dengan hati-hati. Takut juga ia kalau sampai Changmin melihat apa yang dilakukannya pada Jaejoong. Bagaimanapun Changmin masih dibawah umur. Jaejoong sendiri sudah harap-harap cemas mendengar penjelasan Changmin. Dikaitkannya kedua tangannya menati apa yang akan Changmin katakan.

"Hihi, jumma, eomma cama appa kemalin peluk Minie, tangan eomma cama appa cepelti ini jumma." Changmin mulai menirukan posisi tangan Yunho dan Jaejoong saat memeluknya. Diangkatnya tangan kanannya lalu menumpuknya ditangan kirinya, senyum mengembang diwajahnya saat selesai membuat posisi itiu. "Cepelti ini jumma."

Deg

Jantung Jaejoong langsung berdetak kencang melihat apa yang Changmin lakukan. Bagaimana bisa ia dan Yunho saling berpegangan tangan seperti itu. Bahkan saat mereka tengah tertidur. Yunhopun tak kalah kagetnya. Ia hanya menatap Jaejoong tanpa bisa berkata apa-apa. Ia sangat senang. Sementara Junsu? Ah, ia terlihat sedikit kecewa, tapi sekaligus senang. Kecewa karna bukan hal seperti itu yang ia bayangkan terjadi antara Yunho dan Jaejoong, tapi sekaligus bahagia karna walaupun dalam keadaan tidur mereka masih bisa membagi kasih sayangnya.

"Begitukah Minie? Waa, Minie pasti senang ne?"

"Tentu jumma. Minie cangat cenang." senyum Changmin mengembang saat mengatakannya, ditatapnya wajah Jaejoong dan Yunho bergantian, "Minie cenang kalna waktu Minie bangun appa macih ada dicebelah Minie." lanjutnya sambil memandang Yunho dan tersenyum lebar.

Yunho yang melihat itupun ikut tersenyum dan mengacak pelan rambut Changmin, "Ne, appa juga senang."

Jaejoong yang mendengar itupun hanya bisa menatap Changmin dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Melihat Changmin begitu senang karna Yunho bersamanya membuat Jaejoong terenyuh dan tanpa terasa airmatanya sudah menggenang dipelupuk matanya. Segera dipalingkannya wajahnya agar tak ada yang melihat.

"Jaa, kalau begitu cepat habiskan makannya. Setelah ini Minie mandi ne. Mau mandi sama appa?"

"Humm, Minie mau."

Merekapun kini melanjutkan sarapan. Dengan suasana yang agak canggung antara Jaejoong dan Yunho. Selesai makan, Yunho segera memandikan Changmin, sementara Jaejoong membereskan meja makan dan mencuci peralatan yang tadi mereka gunakan. Junsu sendiri tadi sudah pamit duluan berangkat ke kantor.

"Eomma, hali ini Minie ikut eomma lagi ne?" tanya Changmin sesaat setelah ia selesai mandi dan memakai pakaian. Yunho sendiri sekarang tengah mandi setelah tadi ia memandikan Changmin.

"Ne, Minie ikut eomma lagi ne. Su-ie jumma masih sibuk jadi tak bisa menemani Minie."

"Em, apa Mini boleh, emm,"

"Boleh apa hmm?" tanya Jaejoong lembut sambil mengusap pelan kepala Changmin, karena dilihatnya Changmin sedikit takut mengatakan keinginannya.

"Apa Minie boleh pelgi cama appa caja eomma?"

Jaejoong mengernyit kecil mendengar permintaan Changmin itu, ia hanya tersenyum kecil sebelum menjawab, "Minie mau pergi sama appa? Memangnya Minie mau pergi kemana hmm?"

"Minie mau kelumah appa, pengen ketemu Halmoni cama jumma. Tapi kata appa halmoni cama jumma cedang cibuk jadi Minie nggak bica ketemu." jawab Changmin sambil menundukkan wajahnya.

"Emm, jadi kalau tidak kerumah appa, Minie mau pergi kemana hmm?"

Changmin mendongakkan kepalanya, "Minie mau kemana caja. Acalkan cama appa." mata Changmin berbinar saat mengatakan itu. Dirinya benar-benar ingin jalan-jalan dengan appanya.

Jaejoong tampak berfikir sejenak, tak ada salahnya memang kalau ia membiarkan Changmin pergi dengan Yunho. Lagipula ia tak tahu kekacauan apa lagi yang akan dilakukan anaknya itu kalau diajak lagi ke Cojjee. Kemarin saja ia sudah menghancurkan ruangan Dongwoon, tak ada yang menjamin kalau sekarang ia tak melakukan itu lagi.

"Baiklah, tapi Minie harus janji jangan ganggu appa. Jangan nakal dan jangan menyusahkan appa. Minie ingat ne, appa juga sibuk. Arra?"

Mendengar itu, seketika mata Changmin membulat sempurna. Mulutnya terbuka lebar. Segera ia menatap lekat mata bulat eommanya, "Jinja eomma? Jinja? Minie boleh pelgi cama appa, eomma? Jinja?" tanyanya sambil tersenyum girang.

Jaejoong hanya mengangguk sambil tersenyum. Entah mengapa, tapi semenjak semalam ia mendengar permintaan Changmin pada Yunho, ia terus berfikir mengenai permintaan Changmin itu. Ia sadar kalau Changmin benar-benar merindukan appanya itu. Ia pun memutuskan tak akan lagi membatasi pertemuan antara Changmin dengan Yunho.

Melihat eommanya mengangguk, seketika Changmin melompat kegirangan. Meyebabkan rambut hitamnya bergoyang lucu, pipi tembamnya tak berhenti terangkat karna tersenyum. "Ya ya ya." teriaknya kegirangan. Jaejoongpun ikut tersenyum melihat anaknya itu bahagia. Sekarang ia tak mau memikirkan hal apa yang akan terjadi nanti karna keputusannya ini, yang penting sekarang adalah melihat Changmin bahagia.

Tanpa Jaejoong sadari, sepasang mata musang milik Yunho melihat semua kejadian itu. Bibirnya terangkat naik saat mendengar Jaejoong mengizinkan Changmin pergi bersamanya. Sepertinya, hati namja cantiknya itu sudah sedikit melunak padanya. Mudah-mudahan ini adakah langkah awal dirinya bisa mendapatkan kembali namja cantiknya itu.

"Jaa, kalau begitu, Minie mau eomma buatkan bekal?"

"Ani. Minie tak mau melepotkan eomma." jawab Changmin sambil tersenyum pada Jaejoong. Ternyata evil kecil itu tak mau merepotkan eommanya. Tapi, yang namanya Changmin tak akan begitu saja melewatkan masakan eommanya, pasti ada rencana lain yang sudah tersusun diotaknya.

"Jaa, kalau begitu Minie siap-siap saja ne. Kita tunggu appa selesai mandi. Kajja." Jaejoong pun mendorong Changmin masuk kamar, menggantikannya baju agar anaknya itu terlihat lebih tampan.

.

.

Yunho sudah bersiap akan berangkat ke kantor, dirinya kini tengah duduk menunggu Jaejoong selesai berpakaian. Ia juga ingin sekalian mengantar Jaejoong berangkat kerja. Changmin sendiri sedari tadi sudah menempel terus pada Yunho. Tak ingin jauh-jauh dari appanya itu.

"Kau sudah siap?" tanya Yunho saat dilihatnya Jaejoong berjalan mendekatinya. Lengkap dengan baju kemeja putih lengan panjang dan jaket yang melapisinya.

"Ne, aku sudah siap."

"Appa, appa. Minie ikut appa ne."

"Eh, Minie mau ikut appa?"

"Ne, Minie mau pelgi cama appa saja."

"Em, tapi-"

"Pokonya Minie mau pelgi cama appa. Ne eomma, boleh kan?"

"Apa boleh Joongie?" tanya Yunho pada Jaejoong. Walaupun ia sudah mendengar semua pembicaraan Jaejoong dan Changmin tadi, tapi tak ada salahnya bukan bertanya untuk memastikan.

"Ne, asal kau tak keberatan dan sibuk."

Mendengar itu Yunho sedikit kaget, "Jinja?" tanyanya memastikan.

"Ne, tapi kalau kau sibuk aku akan menarik lagi uca-"

"Ani. Aku tak sibuk. Kau tenang saja." jawab Yunho cepat memotong perkataan Jaejoong. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk mengajak Changmin. Rupanya Jaejoong benar-benar sudah mulai membuka hatinya lagi.

"Gomawo." jawab Yunho.

Entah sadar atau tidak, Jaejoong hanya tersenyum membalas pernyataan Yunho. Hal itu membuat Yunho bertambah senang. "Kajja, aku antar."

Jaejoongpun menurut dan berjalan mendahului Yunho sambil menggandeng Changmin. Dan Yunho? Ah, lagi-lagi ia tersenyum bahagia. Karna Jaejoong langsung setuju diantar olehnya. Tanpa pikir panjang ia segera menyusul Jaejoong dan berjalan sejajar dengannya.

Tak beda dengan Yunho, Changminpun sangat senang hari ini. Tangannya perlahan terulur meraih tangan Yunho. Kini posisinya pun berada ditengah diapit oleh kedua orangtuanya. Berjalan sambil menggandeng tangan kedua orang tuanya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

.

.

Disinilah sekarang mereka, didalam mobil dalam perjalanan ke Cojjee resto. Changmin tak henti-hentinya tersenyum dan berceloteh girang. Jaejoong dan Yunhopun hanya tersenyum menanggapi celotehan Changmin. Waktu seakan cepat berlalu, tak terasa merekapun sekarang sudah sampai didepan Cojjee resto.

Yunho baru saja memberhentikan mobilnya didepan Cojjee resto, tak berapa lama seseorang dengan brutal mengetuk jendelanya.

"Minie, Changminie." teriak orang itu dari luar.

Changmin langsung menoleh saat didengarnya seseorang memanggil namanya. "Woonie hyung!" pekiknya girang. Segera dibukanya pintu mobil Yunho dan menghambur kepelukan Dongwoon. Rupanya ia sangat senang bermain dengan Dongwoon. Ia sudah menganggap Dongwoon sebagai hyungnya sendiri.

"Yaa, Minie kau kemari lagi eoh?" tanya Dongwoon saat Changmin sudah melepaskan pekukannya.

"Ani hyung, Minie hanya mengantal eomma. Hali ini Minie akan pelgi cama appa, hyung." jawab Changmin girang.

"Ah, jinja? Padahal hyung sudah membelikanmu makanan yang banyak." ratap Dongwoon sedih.

Mendengar makanan, segera otak Changmin berputar cepat. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan mendapatkan makanan. "Jinja hyung? Waa, kalau hyung cudah membelinya untuk Minie, halusnya hyung kacih Minie dong." jawabnya sambil tersenyum evil. Ternyata otak evilnya mulai bekerja.

"Benar juga ya. Baiklah, kajja ikut hyung mengambil makanannya. Ah ya Jae hyung, sebentar ne, aku akan ajak Minie mengambil sesuatu dulu." Jaejoong hanya mengangguk, segera setelahnya Dongwoon mengajak Changmin masuk kedalam.

Sekarang tinggal Jaejoong dan Yunho dalam mobil. Ternyata sejak tadi mereka tak keluar dari mobil, menyadari itu Jaejoong segera turun dan disusul Yunho. Yunhopun berjalan mendekati Jaejoong.

"Gomawo Joongie." katanya sesaat setelah berada disebelah Jaejoong.

"Nde?"

"Gomawo karna sudah mengizinkan Changmin pergi bersamaku." jelas Yunho.

"Cheonma. Ini semua permintaan Changmin." jawab Jaejoong sambil tersenyum.

"Ne, ini semua memang permintaan Changmin, tapi kurasa ada alasan lain dibalik semua itu." perlahan Yunho membalikkan badannya menghadap Jaejoong. Ditatapnya kedua mata bulat Jaejoong.

"Aku tak tahu apa alasanmu mengizinkanku menginap semalam, begitu juga sekarang, aku tak tahu apa alasanmu mengizinkanku mengajak Minie. Aku tak tahu apakah ini semua adalah tanda darimu kalau kau mengizinkanku masuk kembali dalam hidupmu." jeda sejenak, "Tapi Joongie, yang perlu kau tahu, kalau aku benar-benar bahagia. Aku sangat bahagia saat kau mengizinkanku untuk menginap dan mengajak Changmin. Rasanya lebih membahagiakan dari apapun."

Yunho tersenyum hangat pada Jaejoong. Ia ingin mengungkapkan semua yang ia rasakan. Perlahan, didekatkannya tubuhnya pada tubuh Jaejoong. Menatap lebih intens mata bulat Jaejoong. "Joongie," desisnya. "Jeongmal saranghae."

Perlahan wajah Yunho mendekat kewajah Jaejoong. Semakin dekat hingga Jaejoong bisa merasakan nafas Yunho menerpa wajahnya. Tak lama, ia merasakan sesuatu yang basah dan kenyal menempel di bibirnya. Menekannya dalam dan mulai mengulumnya. Jaejoong pun sadar apa yang tengah terjadi, segera dipejamkannya matanya menikmati perasaan yang bergejolak didadanya. Dilingkarkannya tangannya pada leher Yunho. Mencari penopang tubuhnya. Sementara tangan Yunho kini sudah melingkar dipinggang Jaejoong. Menariknya semakin dekat dan menempel dengan tubuhnya. Entah apa yang terjadi pada Jaejoong, dirinya seakan lupa dan hanyut dalam ciuman itu.

Yunho semakin memperdalam ciumannya. Dikulumnya bibir atas Jaejoong dengan lembut, Jaejoongpun membalas kuluman bibir Yunho, ia mulai mengulum bibir bawah Yunho yang bebas. Perlahan ciuman yang awalnya hangat, kini bertambah panas. Yunho menuntut lebih pada Jaejoong. Disodoknya mulut Jaejoong dengan lidahnya, meminta akses untuk masuk. Jaejoong mengerti dengan isyarat Yunho, iapun membuka sedikit mulutnya hingga lidah Yunho dengan cepat menyusup kedalamnya. Mengabsen semua gigi Jaejoong. Perang lidah pun terjadi didalam sana. Cukup lama mereka bertukar saliva didalam sana, saling mendominasi ciuman. Saling membagi kehangatan yang sudah lama tak pernah mereka lakukan kembali. Sampai Jaejoong merasakan sesak didadanya. Didorongnya pelan dada Yunho.

"Yun..hmmpph,.ho.." Jaejoong menggumam pelan, saat dirasakannya pasokan udara yang sudah sangat tipis diparu-parunya. Dipukulnya dada Yunho untuk membuatnya sadar.

Merasakan dadanya dipukul Yunhopun mengerti dan dengan enggan melepaskan tautan bibir mereka, menciptakan benang saliva saat keduanya melepas tautannya. Jaejoong segera mengambil nafas dalam-dalam, sesak begitu diarasakannya. Karna sudah lama ia tak berciuman panas seperti itu.

Yunho sendiri juga mulai mengatur pernafasannya, namun saat melihat Jaejoong yang terengah-engah kehabisan nafas, dengan mulut yang sedikit terbuka, menyebabkan dirinya hilang kontrol dan meminta hal lebih lagi. Dibukanya pintu belakang mobil, lalu digenggamnya tangan Jaejoong, sebelum akhirnya mendorongnya masuk kedalam. Tamatlah riwayat seorang Kim Jaejoong sekarang, karna sudah membangunkan sisi macan seorang Jung Yunho.

Namun, tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang dengan jelas melihat adegan demi adegan yang meteka cipatakan. Merekamnya dalam memori otaknya. Tatapan matanya sangat tajam. Semua perasaan bercampur menjadi satu disana, antara marah, kesal, sedih, kecewa, semua menguar menjadi satu.

"Neo!"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Voilaaaaaaa

Gimana kisseunya? Apakah seru, kurang seru atau malah nggak seru sama sekali?

Haha, mianhae. Aku belum profesional membuat adegan Kisseu. #peace

"Neo!" kira-kira siapakah pemilik sepasang mata itu? Kenapa ia mengeram kesal melihat adegan kisseu dari pasangan utama kita ini?

Monggo ditebak, yang bener aku kasih selamat aja.

Hahahahaha

Chap ini lumayan panjang ya, atau cuma aku aja yang ngerasa panjang ya?

.

Denpasar, 21 Januari 2014