… Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …
NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto
-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-
WARN
Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read
.
Buat referensi saja, jika berkenan, biar ff nya lebih kerasa, boleh donk dibacanya sambil dengerin instrument 2nd moon ice pond. Sebenernya ini instrument ost Princess Hours. Heheh. Sama ada lagi nih, Legend of mana City of Flickering destruction. Dicoba dengerin yaa. Selamat membaca…
.
.
.
Sasuke berjalan mengendap-endap agar suara langkah kakiknya yang terbalut kaos kaki abu-abu tidak terdengar oleh kekasihnya yang tengah bersandar pada tiang pagar beranda menghadap pemandangan Tokyo.
Sekilas cowok raven itu melirik Rolexnya dan ternyata hari telah menjelang sore.
Sengaja dihentikannya langkahnya tepat 30 cm di belakang Sakura. Dilihatnya punggung wanitanya yang tampak sendu. Sasuke mengayunkan tangannya dalam gerakan lambat lalu melingkarkannya pada pundak Sakura.
Sedikit tersentak kaget, tapi tidak menoleh, Sakura yang hendak membuka mulutnya dibekap oleh tangan Sasuke.
"Jangan katakan apapun… sebelum aku meminta maaf…" kata Sasuke.
Sakura menurut dan diam dalam pelukan Sasuke.
"…."
"…."
Tangan kanan Sasuke turun dan meraih lengan Sakura lalu menghadapkan telapak tangannya pada punggung telapak tangan Sakura. Dinaikkannya genggaman tangan itu ke atas. Terus.
Mendekat pada bibir Sasuke,
"Maaf" seraya mencium punggung tangan Sakura.
Sakura, yang tidak sabar lagi langsung berbalik dengan mata berkaca-kaca lalu menangkupkan kedua tangannya pada kedua rahang Sasuke.
"Kamu baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu kan? Aku lihat berita di L.A sedang badai hebat"
Sasuke meletakkan telunjuknya pada bibir Sakura. Tentu saja terjadi sesuatu. Dan Sasuke tidak terluka fisik satu inci pun. Tapi di dadanya, hatinya terluka karena harus menyembunyikan kenyataan mengerikan tentang dirinya dan Karin.
Sasuke tidak menjawab dan mendekatkan bibirnya pada kening Sakura lalu mencium bibir wanita pink itu.
.
.
.
Sakura menyeruput air dinginnya. Lagi. Untuk gelas yang ke tiga.
Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ketuk tidak sabar pada meja kaca. Sesekali diliriknya jam dinding.
21.50
Bisa-bisanya pangeran kegelapan itu menghabiskan hari terpenting dalam tahun ini dengan menemui kolega abadinya. Nara Shikamaru dari Nara Corp.
Benar kata Shion. Si Nara ini memang tidak punya syaraf untuk peka dalam memilih waktu meeting.
Sakura memandang bayangan para professional di balik dinding kaca buram di depannya.
Siluet tinggi pria-pria hebat itu tengah asyik bergerak-gerak pada permukaan kaca dengan gerakan tangan yang tidak berhenti bergestur. Tak jarang suara tawa menggelegar atau bahkan keheningan terjadi di dalam sana. Apalagi tawa renyah si aktif Naruto.
Sakura menghabbiskan air dinginnya sekaligus lalu meletakkannya keras dan akhirnya menundukkan dahinya pada meja.
.
.
.
Mmmm…. Dimana aku… aroma Sasuke-kun… eh? Kenapa bergerak-gerak…?
"Sasuke-kun?!"
"Jangan bergerak-gerak, nanti kita jatuh"
Sakura memperhatikan dirinya tengah berada dalam pelukan erat Sasuke.
Mata emerald itu masih beradaptasi dengan gelapnya suasana di sekelilinngnya. Sakura menoleh berkali-kali dan menajamkan indera pendengarannya, penciumannya.
"Dimana ini…?"
Sasuke tidak menjawab tapi Sakura mendengar pasti kalau kekasihnya itu tengah mendengus keccil dan tersenyum.
Gelap.
Sangat.
Prrrrr
Samar-samar suara air terdengar. Pelan, halus. Dalam jumlah banyak.
Riak.
Iya, mereka berada di atas air.
Shhhhhh
Angin membawa aroma cemara dan Hortensia. Wangi alam.
"Sasu-Sasuke-kun… kita ada dimana?" Sakura mendekatkan dirinya pada dada Sasuke dan berusaha memicingkan mata untuk melihat wajah Sasuke.
Sasuke meraih puncak kepala Sakura dan membelainya untuk dicium.
"Sssuiiiiiit" Sasuke bersiul dan dalam sekejam tempat itu terang temaram disinari cahaya lilin-lilin kecil yang mengambang pada permukaan danau. Tidak ada yang tahu kenapa lilin-lilin itu bisa menyala serentak. Hanya staf-staf Sasuke yang tahu.
"I,Ini…." Sakura terpana. Sangat terpana.
Sasuke menikmati wajah Sakura yang masih terheran-heran.
"Aku mimpi ya?" Sakura berdiri dan mengucek matanya.
"Hei, bahaya! Duduk!" Sasuke menarik pinggang Sakura untuk duduk lagi di pangkuannya.
"Whoaaa. Sebenarnya ada apa ini?"
"Tanya terus" Sasuke memutar bola matanya.
"Habisnya! Aku ketiduran dan tahu-tahu disini" protes Sakura.
"Bahkan meeting dengan Nara Corp. masih belum membuatmu sadar?" cerca Sasuke. Yang ditanya hanya memiringkan kepalanya bingung.
"Fuhhhh. Ini semua, lilin-lilin, danau, perahu, semuanya ideku dan dapat support Nara Corp. lihat, mereka tertawa absurd di pondok seberang sana. Shikamaru dan Naruto"
Sakura mengikuti arah telunjuk Sasuke. Terlihat jelas dua pria sedang tertawa ke arah mereka. Entah tawa mengejek pada Sasuke atau tawa bangga karena project mereka sukses.
"Kalian memang luar biasa" Sakura memukul pelan dada Sasuke dengan muka memerah malu lalu mengalihkan pandangannya pada pemandangan cantik danau yang tengah gemerlap.
….
….
Hening.
Orkestra malam menyusupi atmosfer mereka berdua. Nampaknya sepasang kekasih itu hanyut dalam suasana temaram di sekeliling mereka.
"Nih" ucap Sasuke menyodorkan sesuatu memecah keheningan yang memeluk erat.
Sakura menoleh dan fokus pada benda bening berkilau tanpa box yang sedang diacungkan Sasuke.
….
….
….
Sakura speechless.
Lalu tawanya meledak. "Haahahahaha! Sasuke-kun…. Entah harus sedih atau bahagia. Jadi begini ya, cara Sasuke-kun yang keren melamar kekasihnya? Polos sekali?" Sakura tertawa terbahak-bahak sampai menitikkan air mata.
Sasuke gemas atas reaksi Sakura lalu dengan cepat memasukkan cincin berlian mahal itu ke jari manis Sakura. Sakura memandang jarinya yang kini terhias cantik dengan background langit malam.
"Menikah. Denganku. Ok?" tanya Sasuke dengan mata setajam elang.
Sakura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu mengangguk mantap.
Sasuke tersenyum malu, membuang mukanya lalu memeluk erat kekasih, bukan, tunangannya itu.
.
"YEHEEEYYY! Rencana kita sukses besar Shikamaru!" seru Naruto di dalam pondok kayu.
"Yaaaaaa. Berterimakasihlah aku mau membantu kalian tengah malam begini" jawab presdir Nara Corp. itu sambil menguap.
"Iya. Iya. Aku tahu. Lihat saja Sakura-chan sampai tertawa bahagia begitu!"
"Aku tidak yakin itu tertawa bahagia atau tertawa mengejek" sahut Shikamaru menggoda Naruto yang tengah kegirangan.
"Hei, jangan merusak suasana!" Naruto menyikut dada Shikamaru.
"Ugh! Bocah ini!"
"Eits! Jangan emosi! Nanti aku adukan ke Shion lho!"
Shikamaru yang hendak membalas kejahilan Naruto mendadak diam dan membalikkan badannya sambil menggosok-gosok tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Cieee. Cieee!" Naruto terus menggoda Shikamaru yang dirundung malu.
"Ckck. Aku tahu. Seleramu memang cewek blonde. Dulu pernah kencan sama supermodel Ino, tapi ditinggal nikah sama dia dengan sutradara Sai. Terus pacaran sama Temari-san, yang ternyata menyukai perempuan. Dan setelah patah hati kau berniat mendekati yang ini ya?" goda Naruto mengabsen kenangan masa lalu Shikamaru sambil mengacung-acungkan kelingkingnya.
Shikamaru berbalik dan siap menerkam Naruto tepat saat yang digosipkan masuk ke dalam pondok membawa kardus medium berisi ayam dan 1 pack bir.
"Hm, Nara-san sedang mendekati seseorang ya?" lirik Shion sambil meletakkan belanjaannya.
"Tidak. Naruto mengada-ada" bohong Shikamaru sambil memberikan tatapan mengancam pada Naruto yang sedang meringis menahan tawa di belakang Shion.
"Cewek yang didekati Nara-san kudu hati-hati nih. Kau kan banyak sekali fans-nya" goda Shion yang tidak tahu kalau dirinyalah yang sedang dibicarakan.
"Fans-fans itu merepotkan sekali" Shikamaru menghempaskan dirinya pada kursi dan menyandarkan kepalanya pada kedua telapak tangannya di belakang kepala.
"Masih mending daripada aku gak punya fans" Naruto manyun dan mencomot paha ayam.
Shion melirik Naruto lalu mengambil nafas dalam-dalam. "Yahhh, lebih merepotkan lagi kalau berhadapan dengan orang bebal bodoh yang sangat berotak udang"
"Haaah?! Apa maksudmu?" tanya Naruto yang berkonsentrasi penuh pada ayamnya. Shion melepas nafas panjang dan geleng-geleng kepala lalu menawari Shikamaru sekaleng bir. Si Nara itu membalasnya dengan senyuman tipis.
Shikamaru yang cerdas sekarang memahami situasinya.
Dia menyukai Shion, Shion menyukai Naruto, dan Naruto tidak menyadari apapun.
Mereka bertiga hanyut dalam perasaan malam. Memandang dua insan yang tengah berpelukan mesra di tengah danau. Ada bintang di danau dan langit. Semua orang di tempat itu sedang larut pada perasaan masing-masing.
.
Kecuali Naruto dengan ayamnya.
.
.
.
"Sudah sampai di apartemen atau belum?"
"Sudah. Barusan. Ini baru turun dari mobil…"
"Hati-hati. Kudengar akhir-akhir ini kejahatan di basement parkir sedang marak di Jepang"
"Tenang saja. Sasuke-kun lupa dengan skill-ku waktu pertama kali kita bertemu ya?" jawab Sakura dengan headset masih menempeldi telinganya yang berhias tindik-tindik silver.
"Iya. Aku tahu. Tetap saja"
"Sudah, jangan terlalu cemas. Sasuke-kun bagaimana? Pekerjaan di L.A lancar?"
"Hn. Jadi, bagaimana reaksi orang tuaku?"
"Semuanya senang. Bahagia. Apalagi Oba-sama. Duh, aku jadi malu kalau mengingat betapa takutnya aku menyampaikan kabar ini. Sasuke-kun tega menyuruhku memberitahu mereka tentang pernikahan kita bulan depan sendirian tanpa kamu" Sakura memejamkan matanya erat gemas.
"Hmp. Yang penting kita menikah bulan depan. Ok?"
"Apanya yang Ok? Dasar pria keras kepala yang memaksa kerja sampai H-4 pernikahan" protes Sakura.
"Iya. Iya. Demi kamu aku akan pulang lebih awal deh"
"Benarkaaah? ….?!" Pertanyaan Sakura mengandung intonasi terkejut saat tepat di depan lift, di basement sepi itu pundaknya disentuh oleh seseorang.
"Sakura? Ada apa?" tanya Sasuke yang menyadari perbedaan suara Sakura.
"Ada apa? Tidak ada apa-apa kok. Baiklah. Aku tutup ya telfonnya. Mau naik lift nih. Gak enak kalau didengar orang-orang. Bye, Sasuke-kun. Love you"
"Too…"
TREK
Sakura menoleh dan memandang lekat-lekat 'tamu' tak diundangnya.
.
.
.
TEP
"Minumlah… Teh Cina ini akan membuatmu relax"
Sakura meletakkan dua cangkir teh dan dua potong raspberry cheesecake untuknya dan sang tamu.
"Terima kasih, Sakura-san… aku, kehadiranku-"
"Minumlah dulu"
Sakura sudah bisa merasakan aura kesedihan dari tamunya itu. Entah kenapa dia tidak ingin buru-buru mendengar apa yang akan dikatakan lawan bicaranya.
Karin pun menyeruput pelan teh hangat yang disajikan Sakura.
Karin menunduk, melepas topi lebar merah menyala yang senada dengan warna rambut ikal panjangnya. Emerald Sakura menoba menangkap arah pandangan sendu Karin.
Sakura tidak ingin memulai percakapan ini. Biar Karin menyelesaikan kekalutannya terlebih dahulu. Dan apapun yang akan didengarnya kelak, Sakura tahu ini bukan hal yang baik.
Sakura menganalisa. Satu-satunya yang bisa dibicarakan antara dirinya dan wanita berambut merah itu adalah tentang Sasuke. Entah apa itu. Entah. Sakura tidak mendapat bayangan apapun.
Sasuke-kun. Aku mempercayaimu…
Karin meneteskan air mata. Setetes.
Dua tetes.
Dan mengalir deraslah kepedihan Karin.
Sakura beranjak, dia berdiri dan mengambil box tisu.
"Terima kasih Sakura-san…" ucap Karin sesenggukan.
"Kau baik-baik saja Karin-san?" tanya Sakura hati-hati.
"Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Ini-" Karin mengeluarkan dengan cepat amplop dari dalam handbag Chanelnya lalu menutup wajahnya.
Sakura dengan ekspresi bingung campur cemas membuka amplop itu ragu.
.
SET
.
Tangan Sakura gemetar hebat akibat melihat foto-foto Sasuke dan Karin telanjang di atas bed. Ada tanggal tertera di foto-foto itu.
22 Juli.
Tepat saat Sasuke terlambat pulang untuk ulang tahunnya.
Ini bohong kan? Ini hanya mimpi buruk kan?
"JANGAN TERKEJUT DULU!" seru Karin tiba-tiba.
Sakura tidak bisa berkata apa-apa kecuali air mata yang tahu-tahu sudah mengalir deras di permukaan wajahnya. Tubuhnya kaku tanpa gerakan apapun. Hanya emerald yang berkaca-kaca memohon pada mata Karin untuk memberi penjelasan logis tentang semua ini.
"Sa… Sakura-san… Kumohon. Maafkan aku arus melakukan ini padamu. Percayalah, jika bukan karena bayi Sasuke di dalam perutku ini, aku hanya akan merobek foto-foto itu!" Karin menunduk, dia berlutut di depan Sakura dengan tangan menggenggam tangan Sakura untuk mengambil foto di tangan tunangan resmi Sasuke itu.
Sakura menggerakkan kepalanya kaku seperti sebuah manekin memandang wajah Karin yang tidak kalah berantakan karena air mata di bawahnya.
Karin menggoncang-goncangkan lutut Sakura memohon pengampunan.
"Percayalah padaku Sakura-san! Hal terakhir yang akan kulakukan di dunia ini adalah mengetuk pintu rumahmu dan memohon, meminta, seperti seorang pengemis padamu! Aku tahu, aku tahu, aku seorang pendosa! Tapi kumohon biarkan bayi ini memiliki seorang Ayah walaupun Ibunya ini sangat hina!"
Tiap kata dan nada dari mulut Karin masuk ke telinga Sakura dengan jelas dan turun melalui tenggorokannya lalu bersemayam dalam dada Sakura serta menekannya erat hingga Sakura seperti lupa bagaimana cara bernapas.
"LEPASKAN AKU!" bentak Sakura dengan sekumpulan energi yang tidak tahu dia dapat dari mana.
"Sakura-saaaannn!" rintih Karin pilu dan memeluk kaki Sakura.
"PERGIIII!"
"Maafkan akuuuu…"
"KUMOHON PERGILAAAAAAAHHHH!" teriakan Sakura menggelegar.
.
Tanpa sepatah kata lagi, Karin pergi dalam sebuah keambiguan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia akan menunggu keputusan Sakura. Dengan langkah gontai Karin menutup pintu apartemen Sakura.
Walau matanya memerah, dan penuh akan air mata, Sakura masih bisa melihat Karin pergi dengan memegangi perutnya yang terlihat membuncit kecil.
Bayi? Sasuke-kun?!
Neraka apa ini!
Sakura terduduk lemas pada lantai. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan dan meraung-raung di atas meja.
Saat lututnya bergeser, Sakura menyadari dia menyentuh satu foto jahanam itu tertinggal disana.
Dengan penuh keputus-asaan, Sakura melihat untuk terakhir kalinya gambar Sasuke dan Karin tengah telanjang bulat dengan posisi Karin mencium Sasuke dari atas tubuh Sasuke memegangi satu dadanya, dan tangan satunya tampak memegangi kamera.
Dengan raungan penuh rasa sakit Sakura merobek-robek kacau foto itu dalam kegelapan.
.
.
.
Dear Sasuke-kun, maaf ya, untuk beberapa hari ke depan sepertinya phone-ku off. Aku ada acara semacam charity event di desa terpencil di Nagano. See you later.
Sakura
.
Tidak ada rasa curiga pada Sasuke. Dia membalas pesan singkat tunangannya itu dengan ucapan hati-hati dan sedikit basa-basi. Sasuke tidak tahu apa yang terjadi pada Sakura. Dia hanya seorang pria bahagia yang tidak sabar menunggu hari pernikahannya.
.
.
.
Hari 1
Sakura mengurung diri di dalam kamar. Membungkus tubuhnya erat erat dalam kegelapan. Tidak ada cahaya matahari, lampu, atau bahkan pantulan kaca atau apapun. Hanya kehampaan dan kegelapan.
Hari 3
Aneh. Sakura bahkan tidak merasa lapar. Masih di kamar. Terbungkus selimut. Hanya saja, keadaan kamar itu terlihat berantakan dibandingkan kemarin dan lusa. Selimut robek disana-sini. Bulu-bulu angsa berhamburan karena bantal-bantal telah hancur. Cermin pecah. Bekas darah dari luka jemari Sakura tercecer di tiap sudut.
Hari 5
Ya, Sakura mulai kalah oleh metabolisme tubuhnya. Dia menuju dapur dan meminum air dingin. Saja.
Hari 6
Masih dalam kegelapan. Sakura berbaring di lantai ruang tamu. Memandangi langit-langit apartemen. Sasuke mendesain tempat ini dengan nyaman. Dan air mata lagi-lagi jatuh membasahi pipinya yang kini sangat kusam.
Hari 8
Sakura memandangi iPhone nya yang sudah dia off kan untuk beberapa hari ini. Setelah mendengus pelan, Sakura kembali berbaring di ruang tamu yang keadaannya kini tak beda dengan kamarnya. Hancur.
Hari 11
Sakura memandangi dirinya yang tampak seperti mayat hidup di depan cermin. Tidak ada mata indah ceria, ataupun lesung pipi yang selalu nampak tiap kali dia tersenyum manis. Tidak ada tubuh sempurna. Semua itu digantikan oleh kurus kering, kuyu, dan air mata.
Sakura menggigit bibir bawahnya yang sangat kering dan menangis lagi. Entah berapa banyak sudah air mata yang dia keluarkan. Rasanya benda bening itu tak ada habisnya. Sakura lelah. Lelah. Tapi perih ini tak kunjung berhenti.
Sakura melirik silet di atas wastafel. Haruskah ia menggantikan perih batin ini dengan perih yang sesungguhnya?
Hari 15
Sakura terbangun dengan kepala yang amat sangat pening.
NYUUUT
Sakura memicingkan matanya. Luka sayatan di pergelangan tangannya belum mengering. Sepertinya usahanya menyayat pergelangan tangan sia-sia. Kurang dalam. Dan hanya perih luar biasa yang dia dapatkan. Bukan kematian. Rasanya mati terasa lebih baik bagi Sakura sekarang.
Bodoh.
Yah. Sakura tidak peduli.
Sakura beranjak ke balkon meninggalkan kamar mandi mewah yang kini memiliki corak merah pekat di tiap sisinya. Darah.
BREEEETTT
Sakura silau terkena sinar matahari yang menusuk langsung emeraldnya. Masih indah, mata hijaunya. Hanya sedikit kehilangan sinarnya.
Sakura menghirup udara dan dadanya yang kemarin-kemarin seperti parit tanpa cahaya ataupun udara segar, kini hidup.
Sakura menutup mata dan memutuskan untuk mandi.
Lalu keluar. Ke mart mungkin.
.
.
.
Cart Sakura penuh sekali dengan keperluan sehari-hari. Sakura hidup normal sekarang. Walau cahaya di matanya belum kembali.
Setelah mengambil kebutuhan terakhirnya, Shampoo dan Conditioner, Sakura bersiap pulang tepat saat sebuah botol samphoo bayi jatuh menggelinding ke sepatu bootnya.
Sakura merunduk mengambil botol itu dan mengembalikannya pada wanita anggun yang sedang menggendong bayi lucu berusia sekitar 8 bulan.
Bayi itu tersenyum dan mencoba meraih botol samphoo yang tengah dipegang Sakura.
"Maafkan saya… maafkan saya…" Ibu itu menunduk hormat. Sakura membalasnya kikuk.
Ibu itu pergi dan disambut suaminya dari balik rak selanjutnya.
Sang Ayah terlihat bertanya pada istrinya karena mendengar istrinya berbicara dengan Sakura. Si Istri menggeleng dan tersenyum lagi pada Sakura. Sakura menunduk pelan hormat pada mereka. Mereka pun tersenyum dan pergi ke rak sebelah tempat display popok bayi.
Hati Sakura pedih. Setetes air mata membasahi pipinya dan dia pergi berlalu mendorong belanjaannya yang sangat berat menuju kasir.
Berat sekali sih cartnya…
Batin Sakura dengan tangan gemetar serta setitik air mata.
.
.
.
PINGGGG
KLEG
Sakura membuka pintu dan kepala pinknya menyembul dari balik pintu apartemennya.
"Masuklah. Aku sudah menunggumu"
Karin masuk tanpa banyak kata. Dia sudah cukup terkejut dengan interior apartemen itu serta penampilan Sakura yang sangat kusut.
Dua wanita itu duduk berhadapan.
"Sakura-san ak-"
SET
Sakura menghentikan perkataan Karin dengan meletakkan telunjuknya di depan bibir. Memaksakan diri untuk tersenyum.
"Jangan katakan apapun sampai kau keluar dari apartemen ini. Ok? Ini bukan permintaan. Tapi perintah"
Karin tidak mengerti dan memilih untuk diam menuruti Sakura.
Sakura. Masih dengan senyum yang sangat dipaksakan, memulai kata-kata panjangnya. Kata-kata yang akan menyakiti semua pihak.
"Aku akan memulainya dengan sebuah kalimat. Kau, dan Sasuke-kun, akan bersatu." Sakura menelan ludahnya saat Karin terbelalak kaget.
"Kau akan menjadi istrinya, dia akan menjadi suamimu. Dan bayi itu, jagalah dia baik-baik. Kalau tidak akan kuhancurkan kepalamu" suara Sakura bergetar saat mengatakan hal itu. dia masih tersenyum tapi kepalan tangannya sibuk menyeka air matanya yang deras mengalir.
"Buatkan dia sarapan yang enak! Buatkan jus buah dengan jelly seusai dia olahraga pagi. Ugh!" Sakura menyeka air matanya lagi.
"Berhentilah menjadi model. Apalagi model panas. Jadilah wanita yang baik demi dia. Dan… aku akan menghilang dari hadapan kalian"
Karin baru saja akan bergerak saat Sakura memandangnya lekat dan berkata, "SUDAH KUBILANG DIAM! Jangan buat aku menyesal mengatakan ini!"
Karin menangis memandang Sakura. Tangannya ikut bergetar.
"… Tapi, sampai tanggal yang kutentukan, jangan ada pergerakan apapun darimu. Setelah itu, aku akan menghilang sepenuhnya"
Sakura bangkit dan pergi menuju balkon karena tidak dapat menahan derasnya air matanya.
Karin yang juga menangis histeris mendadak mengalami kontraksi dan mual. Dia masuk ke dalam kamar mandi Sakura dan mendapati suasana kacau dengan darah dimana-mana. Karin memuntahkan kontraksinya, membasuh muka lalu, menuju balkon.
Sakura tahu Karin tengah mendekatinya. Dan Sakura tahu Karin menundukkan badannya hormat pada Sakura untuk berterima kasih.
Dua wanita itu berpisah dalam keheningan. Sakura menangis sejadi-jadinya di bawah langit malam penuh bintang.
Karin, setelah menutup pintu di belakangnya mampu mendengar raungan kepedihan Sakura yang memilukan. Air matanya dengan deras mengiringi kata-katanya.
"Maafkan aku, Sakura"
.
.
.
Ampuuuuun. Lama banget yaaaa. Gomen… hontou gomenasai minna-san…
Mau bagaimana lagi, kucing kesayanganku meninggal beberapa bulan lalu dan aku jatuh dalam keterpurukan huaaaa, terus kerjaan akhir tahun menagih DEADline dan bikin Mother DEAD! Kirain awal tahun bakal agak senggang, eh sama saja. UGH!
Sudahan ya alasannya, saya memang penuuh dosa. Mau alasan kayak apa juga yang namanya telat ya telat update. HONTOU GOMENASAIIII…
Dan tentu saja terima kasih saya haturkan pada reviewer, visitor, guests yang sudi mampir dan ngikutin cerita ini…
Well, maaf ya aku kasih yang agak sedih begini buat poor Sakura-chan… masalah inti sudah dimulai. Silahkan menikmati ff ini sampai tirai panggung ditutup yaaa..
Saya akan berusaha sampai ff ini tamat. Sekali lagi TAMAT. Saya sendiri gak rela kalau ff saya gak tamat.
Akhir kata, please keep follow the story yaa…
I LOVE YOU
Review, Please?
Mother CHANYOU
