Summary : Eomma bilang appa itu tampan pemilik doe eyes yang mengagumkan, tinggi dan menawan. Menyenangkan sekali setiap eomma berbicara tentang appa, sorot matanya menunjukkan kekaguman "appa kalian juga pandai bernyanyi,seperti kita" dengan senyum lebar menghiasi wajah tembamnya. Tapi saat sibungsu berbicara kenapa kami tidak pernah melihatnya,eomma bilang "kita memang tidak bisa melihatnya"saatku tanya kenapa? "kita tak akan bisa memilikinya."
TVXQ & SUJU © SM Entertainment
TABU by Fione Maple
Genre : Hurt,family,romance
Rate : T
Cast : CHANGKYU
Little :
-Cho ryeowook
-Cho Baekhyun
Warning : GS Miss Typos, alur cepat, abal dll
Enjoy !
NO BASH NO COPY
.
.
.
.
P.S : Chapter ini mengalami percepatan. This story is mine, don't like don't read !
Happy reading !
Saat changmin terbangun yang di lihatnya pertama kali adalah dinding putih yang terdapat jam berbentuk lingakaran menempel disana. Pukul 16.50, yang mana berarti changmin tertidur pulas melebihi waktu yang biasa ia lakukan. Sebenarnya tubuhnya masih lelah hanya untuk duduk bersandar di tengah ranjang. Namun ia tetap melakukannya.
Kepalanya masih berdenyut, tapi ia perlahan mengingat kejadian ibu kandungnya yang semalam merawatnya hingga demamnya turun. -Sebenarnya changmin terbangun juga karena merasakan sesuatu yang basah mengingat posisi kain yang jatuh di samping pipinya- dan mata bambinya mendapati baskom di meja belajarnya.
Dengan frustasi ia mengacak rambutnya. Ia harus segera bertemu ibunya untuk menjelaskan kejadian semalam. Namun saat ia ingin bangkit sebuah suara ketukan pintu menginterupsinya.
Tok Tok
"Appa?" panggil tiffany pelan saat dia dengan lucu menyembulkan kepalanya pada daun pintu kamar changmin.
"Masuk," kata Changmin lembut.
Tiffany perlahan membuka pintu dan menatap sedih pada sosok yang sedang duduk di tengah ranjang. Dengan cepat kaki kecilnya melangkah mendekat lalu duduk di tepian ranjang."Appa, sudah sembuh?" tanya Tiffany.
"Ya," jawab Changmin dengan suara serak mirip gumaman. "Kenapa tifanie kesini, biasanya fanie bermain?"
Tiffany mengembungkan pipinya lalu bersedekap lucu di hadapan ayahnya. "Sicca.. appa!" changmin perlahan menarik tiffany untuk duduk di sampingnya. "Sicca kenapa?" tanya changmin lagi. Sicca atau jesicca adalah teman bermain anaknya di les khusus menari yang kebetulan tetangga di samping rumah orang tuanya.
"Sicca masih berlibur," kata Tiffany cemberut.
Seulas senyuman mengembang di bibir changmin,ia tahu saat ini anaknya sedang merajuk. Perlahan, ia menggeser badannya untuk berhadapan dengan tiffany. "Bagaimana kalau appa dan fanie jalan-jalan sekarang?" usul changmin.
Mata Tiffany bersinar. "Call !"
"Call !"
Tiffany segera terlonjak girang membuat ranjangnya bergetar. Eyes smilenya kini terlihat membuat senyum changmin perlahan menghilang. Bahunya dengan cepat merosot. Ah.. senyum itu mirip dengan , bahkan lebih manis jika saja baekhyun yang saja ia tak egois meninggalkan mereka tanpa pemberitahuan mungkin saat ini changmin ada bersama mereka sekarang.
"Ap...Appa...boleh tiffany ganti baju sekarang?" tanya Tiffany berulang-ulang saat tak mendengar jawaban dari sang appa.
Changmin yang tersadar segera mengangguk dan mendapati tiffany yang keluar dari kamarnya. Ia mendesah berat saat kedua bola matanya basah yang seketika itu pula ia hapus. Disini changmin mulai bertanya-tanya apakah ryeowook dan baekhyun sesenang ini walaupun hanya berjalan-jalan bersama kyuhyun? Atau tidak?
Dan setelah itu changmin bahkan tak mengingat untuk berbicara dengan ibunya.
Di jam yang sama saat ini Cho kyuhyun merasakan lelah sekali. Seluruh tubuhnya seakan terserap habis. Pasca pingsan beberapa menit yang lalu tubuhnya seakan mengejeknya untuk tetap diam. Ia ingat saat terbangun mendapati raut wajah ayahnya sedih sekaligus kecewa. Tentu saja ini membuat kyuhyun ingat betapa seringnya ia membuat orangtuanya terluka.
Yang bisa kyuhyun lakukan saat ini pun hanya terdiam menatap ujung bajunya yang terpenting ia tidak melihat ke arah laki-laki yang membesarkannya. Hatinya sakit, terlalu sakit hingga air matanya keluar sedikit demi sedikit. Kyuhyun berharap masalah ini cepat selesai.
"Ayo,turunlah." Kata Siwon sambil melepaskan sabuk pengaman.
Kyuhyun tersadar. Ia pun segera melepaskan sabuk pengaman tanpa keluar dari mobil. Pandangan itu menyita tubuhnya saat kedua bola mata tajamnya menatap rumah yang sejak kecil ia tinggali. Sekarang air matanya terus menerus keluar hingga membuat buram kejelasannya. Bahunya bergetar lalu terdengar isakan kecil yang mendominasi mobil ini, mobil yang di dalamnya terdapat kyuhyun dan ayahnya.
Siwon melirik kyuhyun yang sejak perjalanan dari kantornya hingga ke rumah menangis terus menerus hanya mampu terdiam. Ia sebagai ayah tidak mampu berkata apa-apa karena masih berusaha mengatur nafas. Ia tak ingin menakuti sang anak dengan mengeluarkan emosi yang saat ini berada di dadanya. Jelas mental dan kejiwaan kyuhyun yang terpenting apalagi saat ini anaknya adalah orangtua tunggal kedua cucu manisnya. Tidak, ia tidak boleh gegabah melampiaskan kemarahan di mata anak dan cucunya ia harus mendengarkan anaknya membicarakan ini dan jika ia pun harus marah masih ada changmin selaku ayah biologis kedua cucunya bukan?
"Wookie dan baekhyun ada di luar, ayo turun."
Kyuhyun menoleh ke kaca mobil di sebelahnya. Benar saja, little cho berada di depan bersama chansung yang mengandeng keduanya. Memikirkan kedua buah hatinya membuat kyuhyun cemas. Apa selama ia pingsan keduanya baik-baik saja? Berhubung kedua anaknya sangat sensitif ia takut mereka terlalu khawatir. Sebelum keluar ia membersihkan sisa air mata yang berada di pipi pucatnya.
"Eomma, Ppalli." rajuk baekhyun saat melihat kyuhyun keluar dari mobil di susul oleh kepala keluarga cho itu di belakangnya menggumam 'mereka baik' seperti tahu kekhawatiran yang di dalam hati sang anak. Sedangkan chansung seperti biasa menampilkan ekspresi konyolnya kepada kyuhyun seolah mengatakan 'kau tak perlu khawatir'.
"Harabeoji ikut?" Mata bambi ryeowook bergulir ke arah shim kangin yang masih berdiri di dekat mobil miliknya.
Cho kyuhyun hanya diam tidak bergerak mendengar ryeowook memanggil ayah changmin haraboeji. Cukup paham situasi karena melihat chansung yang juga salah tingkah di tengah kedua little cho itu. Namun berbeda dengan hatinya yang seakan di remas yang bisa kyuhyun lakukan hanya memejamkan matanya yang tiba-tiba panas. Terharu sekali melihat shim kangin bahkan tidak menolak panggilan itu. Ia bahkan menjawab dengan berjongkok mengingat tinggi badan kedua anak kyuhyun.
"Harabeoji akan kesini nanti malam bersama appa kalian, bagaimana?"
Tanpa sadar Ibu dua anak itu tersenyum manis sekali saat kedua anaknya terlonjak girang di tempat, namun pandangannya mulai kabur lagi dan kali ini tidak bisa di hentikan.
"Yaksok?" keduanya menjulurkan jari kelingking mungilnya.
Shim kangin memandang keduanya sambil tertawa kecil. "Ne, yaksok!" tak lupa kedua kedua kelingkingnya menyambut jari kelingking mereka. Little cho terkikik dengan suara khas anak-anaknya lalu menghempaskan tubuhnya ke dada besar kangin.
Shim Changmin akhirnya kembali ke rumah lebih dari dua jam setelah dia pergi. Dia melirik ke kursi tengah mobilnya lagi sebelum menggendong tiffany yang telah terlelap di kursi depan penumpang. Barang belanjaanya di penuhi keinginan tiffany dan tak satupun ia membeli sesuatu. Ah, changmin mengingat dia juga sempat membeli dua boneka kembar yang pada akhirnya menjadi bahan pertanyaan tiffany mengenai untuk siapa dua boneka itu. Yang pasti changmin selalu mengingat kedua anak kembar yang sekarang memenuhi kepalanya.
Pintu terbuka perlahan saat changmin mendorongnya dengan satu kaki kanannya. Ingatkan dia tiffany berada dalam gendongannya saat ini. Changmin melangkah masuk menuju ruang tamu dengan cepat tanpa menimbulkan suara. Dia lantas tersenyum melihat ibu kandungnya duduk di ruang itu bersama ayah dan ibu tirinya.
Leetuk segera mendekati changmin lalu membuka kedua tangan lebar. "Biar eommonim saja." Katanya setengah berbisik lalu changmin membiarkan sang anak di bawa sang ibu tirinya ke kamar tiffany.
"Gomawo" Wanita lembut itu lantas tersenyum dan berlalu membawa tiffany ke kamarnya.
Kini di ruangan itu hanya tinggal keluarga kecil yang dulunya Changmin ingin mendekat ke arah heechul untuk duduk di dekatnya, Sang ayah tiba-tiba berdiri tepat di depannya dan itu yang membuat changmin segera bertanya.
"Appa, ada ap -"
PLAK
Heechul berteriak segera. "Shim kangin!" Mata bulatnya mengkilat karena terkejut bercampur marah lalu dengan cepatnya ia telah berdiri di samping changmin.
"Apa yang kau laku-"
"Kumohon diamlah, heechul-ah!" Kangin memotong ucapan heechul lalu memandang changmin lagi. Dia tak benar-benar mengeraskan suaranya pada heechul karena di akhir hanya suara serak yang terdengar. Ini jelas ampuh membuat heechul terdiam.
"Mereka tumbuh dengan baik,ya kan?" tanya kangin dengan gurat sedih pada wajahnya
DEG
Namja tampan itu terdiam seolah tersihir oleh kata-kata ayahnya. Jantungnya kini berdetak kencang, ia yakin mengetahui ucapan sang ayah. Tidak mungkin tamparan ini dilakukan tanpa sebab. Mata bulat changmin kini menatap sang ayah diam. Mungkinkah ayahnya mengetahui?
Sementara itu melihat kondisi changmin yang seperti itu, kangin memutuskan untuk duduk di single sofa dengan menghembuskan nafas dengan kasar. Anakknya hanya diam berdiri di tempat tanpa mau menjawab pertanyaannya atau mungkin changmin tidak tahu apa yang tadi ia ucapkan. "Katakan pada appa,Apakah ryeowook dan baekhyun-"
"Apa mereka ada disini?" tanya changmin yang tiba-tiba memotong ucapan sang ayah.
Baekhyun mencondongkan badan kecilnya ke depan. "Gambarnya jelek sekali, itu bukan hyunie dan eonnie!" ejek si kecil baekhyun.
Mata chansung melebar. "Gambarmu juga sama jeleknya." Balasnya mengejek.
Baekhyun lalu cemberut memasang wajah puppy khasnya. "Dress uncle, not strawberry!" rajuknya lagi.
Chansung berdeham sebentar lalu mengiyakan ucapan baekhyun. Tapi bukan untuk menggambar lagi melainkan menutup kertas gambar itu menghadap ke bawah. Baekhyun menatapnya dan sebelum baekhyun berucap lagi chansung segera menyambar tubuh baekhyun lalu di angkatnya tinggi-tinggi mengundang kekehan kecil cho bungsu itu. "Turunkan hyunie." Cicitnya dari tadi.
"Arraseo, princess." Chansung terkekeh dengan ucapannya.
Ryeowook yang sejak tadi terdiam hanya tersenyum simpul menatap keduanya. Ia lalu melirik sekilas ke baekhyun yang membisikan sesuatu kepada chansung. Dan benar saja otak si adik menjurus di angkatnya ryeowook oleh chansung namun lebih tinggi dan tinggi lagi berputar-putar seperti pesawat hingga tawa mereka bertiga pecah memenuhi ruangan keluarga yang tadinya sepi.
Namun suara bell menghentikan mereka. Chansung menurunkan tubuh ryeowook ingin bergegas menghampiri pintu namun kedua little cho segera berlari mendahuluinya. Bahkan chansung tertawa kecil saat melihat ryeowook oleng saat berlari. "Dasar anak-anak" di iringi senyum khas pada wajahnya.
CHANGMIN POV
"Kenapa kita kesini?" tanya ibuku sambil menggosok lengannya perlahan. Matanya menatap ke depan di pintu masuk rumah keluarga cho.
Ayahku segera melepaskan jaketnya yang segera di pakai heechul. "kau akan tahu setelah melihatnya nanti." Pandangannya menatap ke arahku.
Kangin ayahku itu segera melepaskan tatapannya padaku lalu segera memencet bel dan mundur selangkah untuk menunggu pintu terbuka. Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan kecil dari dalam kemudian pintu terbuka dengan cepat.
Merekalah Ryeowook dan baekhyun yang berdiri di tengah-tengah pintu. Keduanya tersenyum lebar saat mendapati harabeoji mereka yang datang.
"Kenapa diam saja?" tanya ayahku tiba-tiba.
Mereka berdua terkikik geli menyadarinya. Kini dengan antusias kedua anak kyuhyun itu memeluk harabeojinya yang sudah berjongkok. "we miss you" ucap mereka bersamaan.
Dari belakang aku melihat ayahku terkekeh. Saat mataku bertemu dengan mereka senyumnya seketika semakin lebar. Aku bisa melihat baekhyun yang bergumam "Appa..." pada cherry lipsnya.
Ryeowook kini menoleh ke arah harabeojinya dan tersenyum. "Appa datang,harbeoji.." ucapnya.
Shim kangin mengangguk dan melepaskan rangkulan mereka sebelum bangkit. Sebelum kangin sempat membuka mulut, heechul sudah lebih dulu mencondongkan tubuhnya ke arah baekhyun maupun ryeowook. "Yang mana ryeowook dan yang mana baekhyun?"
"Ini halmonie," bisik kangin.
Mulut mereka membulat dengan segera keduanya membungkukkan tubuhnya dan menyapa heechul dengan sangat sopan. "Annyeong haseyo, Halmonie. Jeoneun Cho Ryeowook imnida."
"Cho Baekhyun imnida." Ucap baekhyun kemudian.
Heechul langsung tersenyum miris mendengar ucapan keduanya. Bagaimana mungkin mereka menyandang nama dari keluarga perempuan. Kini rahangnya bergetar, ibuku tidak bisa berucap apapun selain segera memeluk ryeowook maupun baekhyun. "Benar,panggil aku seperti itu. aku halmonie kalian, chagiya."
"Shim Changmin..." tiba-tiba suara berat ayahku memanggil. Membuatku beralih menatap ayahku yang entah sejak kapan basah oleh air mata. "Kau harus cepat selesaikan ini, Appa tidak ingin mereka hidup tanpa seorang ayah."
Aku pun langsung menganga lebar. Tapi buru-buru mengatupkan mulut. Perkataan ayahku secara tidak langsung memintaku untuk menikahi kyuhyun. Tapi hal lain yang masih ku ingat aku masih memiliki istri dan seorang anak. Aku teringat boa dan tiffany yang selama ini ada di sampingku mana mungkin aku menduakannya, sedangkan ryeowook maupun baekhyun bagiku kini tidak mungkin meninggalkannya lagi.
"Kau bisa menceraikan boa. Lagi pula tiffany bukan cucu appa."
"Appa!" pekikku cepat.
Heechul ibuku yang mendengar percakapan mantan suami dan anaknya berdeham lalu melepaskan pelukan dan segera bangkit namun kedua tangan lentik itu masih memegang pundak mereka. "Nah wookie hyunie,kenapa kalian tidak memeluk appa?" heechul menunjukku.
Ryeowook dan baekhyun saling berpandangan lalu menatapku ragu, mereka juga sempat mendongak ke arah heechul yang mengangguk seakan berkata lakukanlah. Mereka kemudian melangkah pelan mendekatiku.
Satu langkah.
"Lantas apa kau pernah merasa jika mereka tak pernah menangis karenamu!"
DEG!
Ucapan chansung adik tiriku terdengar jelas di telingaku, aku segera menutup mata sebentar lalu memandang mereka lagi. Wajah penuh harap mereka menatapku dengan pelan langkah kedua mereka lakukan.
"Kenapa kau tak mengerti changmin-ssi, lihatlah mereka... mereka akan berhenti menangis dan segera memaafkanku tapi jika kebenaran ini mereka dengar. Aku tak yakin mereka memaafkanmu."
"...kau telah menyakitinya dan tanpa kau sadari menyakiti anak-anakmu pula,hyung."
"Tidak" seruku cepat saat langkah ketiga mereka mendekatiku. Terkejut, aku segera mendekap mulutku sendiri. Mereka mematung seketika di tempat. Air mukanya tak dapat di gambarkan terutama ryeowook. Astaga, aku seakan menolak keberadaan mereka.
Heechul ibuku yang berdiri di sebelah changmin hanya meringis dan menyesali perbuatan bodohku yang begitu menghindari atau bahkan bersikap defensif pada kepada mereka. Dengan cepat kedua orang tuaku menggendong ryeowook dan baekhyun satu sama lain.
"Kau akan menyesal" gumam heechul menyindirku telak, bersamaan dengan kangin yang menatapku aku masih mendengar dia berkata. "Kau tak pantas di sebut ayah setelah ini." hingga mereka berlalu meninggalkanku di samping pintu yang terbuka lebar.
"Mianhae." Sesalku dalam hati.
CHANGMIN POV END
"Biarkan aku saja yang menggendong mereka,ahjumma."
Yeoja cantik itu mengambil dengan mudahnya kedua anak kecil yang berada di gendongan kangin maupun heechul. Heechul tidak bisa melakukan apa-apa selain melepas ryeowook yang tadi berada di gendongannya. Kini mata cantiknya menatap yeoja cantik berkulit pucat itu, jelas sekali dia sangat menyayangi kedua bocah dalam gendongannya. Bahkan sangat terlihat dari pancaran kasih sayang dalam bola mata anugerahi bola mata mirip sang ibunya –kim kibum tak bisa di pungkiri jika keteduhannya mirip sang ayah Cho siwon.
"Ahjumma, ahjussie kalian bisa duduk dulu." Kyuhyun pun akhirnya bersuara menatap heechul dan kangin bergantian dengan senyuman hingga senyumannya nyaris hilang saat menatap wajah tampan yang berada di belakang mereka. "Dan kau juga.. changmin"
Mereka semua duduk di ruang tamu keluarga Cho sekarang, menunggu sang kepala keluarga cho datang. Tadi saat kyuhyun berada di kamarnya, chansung memanggil untuk segera turun karena keluarganya sudah datang. Dengan segera ia melenggang menuju keluar kamar sedang chansung memilih tidak mengikutinya. Lalu apa yang ia dapatkan? Kedua anaknya tidak memekik histeris saat ayahnya bahkan di depan mereka sendiri. Apa mereka tidak bahagia bertemu changmin ayah kandungnya? Jawabannya tentu tidak, harapan besar mereka adalah bertemu dengan sang ayah layaknya para anak di usia mereka.
Pria dengan rambut hitam berantakan melangkah mendekati ruang tamu, di tangannya selimut lebar ia gengam. "Kau melupakan ini kyunie-ah," ucapnya. Dan semua orang jelas menatap chansung intens saat dengan tulusnya ia menyelimuti kedua buah hati kyuhyun di depan keluarganya. "Kau siapa?"
Mata bulat heechul yang kebingungan memandang wajah satu persatu termasuk kyuhyun sendiri untuk meminta jawaban. Hingga suara berat seseorang yang masuk di ikuti wanita seumuran dengannya di belakang berbicara. "Putra tunggal leetuk dan yeah, mungkin daddy bagi baekhyun."
"Mwo!"
TBC..
Fio note :
-For you readers, followers, and fav my story,"THANK YOU!"
It may be too short for you to read,but maybe soon i finish. And this is seconds away from the last chapter.
And you want to end up happy or sad?
So,
Give me a riview!
:D
PS: Ckck... fio update juga, maaf chapter ini sedikit.( -_-") maafkan fio jika semakin gaje ffnya. Ok –bow
19/01/2016
