One Week Girlfriend (HunSoo ver.)

*

Sehun x Kyungsoo (GS)

*

Disclaimer : cerita ini milik Monica Murphy, penulis asli novel One Week Girlfriend. Gw nulis ulang/remake dari blog READNOVELSBLOG dot WordPress dot COM Yang dimana cerita udah berupa translate Indonesia. Semua karakter yang ada di FF ini semua milik Tuhan YME, orang tua, keluarga, agensi, fans dll. Gw hanya pinjem nama mereka. Gak ada maksud apa - apa dalam penulisan FF ini kecuali hanya untuk hiburan semata. Kalo pengen baca versi asli yang sudah di translate bisa baca di blog yang udah gw tulis sebelumnya. Ganti tulisan (dot) dengan tanda (.)/titik.

*

Warn!OOC, GENDERSWITCH

*

( yang gw remake disini cuma nama tokoh dan beberapa kata/kalimat untuk menyesuaikan jalan cerita tetap sama ga ada yang gw rubah. Novel ini ada 2 seri, dan setiap seri dibagi jadi beberapa bab)

*

HAPPY READING

Hari ke-4, 09.49 malam…

"Love's tendrils round the heart doth twine, as round the oak doth cling the vine."

-Ardelia Cotton Barton-

*

*

*

*

Sehun pov.

Kami di tempat tidurku, tubuh Kyungsoo membungkusku, kami berdua telanjang bulat walaupun kami tak saling menyentuh untuk seks selain hanya saling menempelkan tubuh. Seperti inilah kami jatuh tertidur. Dia masih tertidur, sementara aku telah terbaring selama satu jam tanpa bisa terlelap, pikiranku berpacu dengan kemungkinan aku bisa memilikinya.

Dia memilih tak bergeming ketika aku memperlihatkan sisi terburukku dan mencoba sekuat tenaga mendorongnya menjauh. Aku harus memujinya karena hal itu, walaupun aku benar-benar tak menginginkannya melihatku dalam keadaan memalukan itu. Melihatku seperti itu, rusak parah dan gamang dan kacau balau, tentunya aku terlihat seperti idiot baginya. Atau setidaknya, seperti anak cengeng yang tak bisa melakukan seks—sialan, hanya dengan dugaan tersebut, dia bisa berpikir yang bukan-bukan dan hal itu akan mengacaukan hidupku selamanya.

Tapi, dia bahkan tak mengedipkan matanya. Dia terus berbicara padaku dengan tenang, dengan suara lembutnya hingga akhirnya aku tak punya pilihan lain selain menyerah. Dia mendorongku ke arah tempat tidur, menarik selimut hingga ke daguku, dengan telanjang dada, dia benar-benar tak sopan. Membuatku terpesona dengan pemandangan dadanya yang telanjang ketika dia membungkuk di atasku dan mengecup dahiku.

Walaupun tadi aku begitu panik ketika mendengarnya mengucapkan nama lengkapku—yang mengingatkanku pada masa laluku yang masih terlalu sulit untuk kulupakan—aku ingin dekat dengannya. Aku ingin merasakannya di tubuhku, aku tahu dia akan membuatku nyaman.

Juga akan menyiksaku, tapi kupikir aku bisa menghadapinya.

Jadi, ketika dia mencoba meninggalkanku, aku menarik lengannya dan memintanya tinggal. Aku tak ingin sendirian dengan pikiran dan kenanganku. Aku melihat pandangan enggan di matanya tapi dia tinggal juga, membuka bajunya yang basah dan pemandangan tubuh rampingnya yang telanjang membuat mulutku kering.

Dia naik ke tempat tidurku dan aku menariknya mendekat. Memeluknya dengan lenganku, dia di depanku dan kami tertidur dengan suara hujan yang masih mengguyur di luar. Aku tak bisa mengingat kapan terakhir kali aku merasa begitu puas, bersama gadis yang begitu hangat dan cantik di pelukanku, kulit kami menempel, nafas kami seirama, tanganku berada di kulit perutnya yang lembut.

Ketika aku terbangun, aku terbaring terlentang dengan dia berada di pelukanku, aromanya, rambutnya yang masih lembab berada di seluruh wajahku, kupikir aku tengah bermimpi karena aromanya sangat harum. Lalu aku menyadari segalanya terlalu nyata dan aku tak bergerak sedikitpun karena takut akan mengganggu tidurnya hingga dia akan meninggalkanku.

Pada saat ini, aku tak ingin dia menjauh dariku.

Dengan perlahan aku menyentuh lembut rambutnya dengan jemariku, dengan menahan nafas. Dia beringsut mendekat, wajahnya menekan lembut dadaku, bibirnya mengusap kulitku, membuatku mengeras seketika. Hujan masih turun dengan deras di luar, kamar ini benar-benar di selimuti kegelapan dan aku tak bisa melihat apapun. Aku hanya bisa merasakannya.

Dan aku tak pernah benar-benar merasakan apa-apa selama bertahun-tahun.

Dia terbangun perlahan, aku tahu itu terjadi, bagaimana tarikan nafasnya berubah, ketika dia mencoba menjauh dariku. Kulingkarkan lenganku di sekeliling tubuhnya, memeluknya, tak mengatakan apa-apa karena aku khawatir aku akan mengacaukan segalanya dan melakukan sesuatu yang bodoh.

Alih-alih menarik diri menjauh, dia menyurukkan kepalanya semakin dekat, bibirnya menekan leherku. Dan dia menciumku di sana, dengan perlahan, lembut dan sekujur tubuhku di penuhi sensasi tergelitik, membuatku menggigil. Aku bersumpah aku bisa merasakan dia tersenyum dan aku mengencangkan pelukanku di pinggangnya, berusaha menyentuh sebanyak mungkin kulit telanjangnya dengan jemariku.

Aku tak tahu pasti apa yang tengah kulakukan kini, atau apa yang sebenarnya ingin ku capai, tapi aku yakin aku bisa menangani hal ini. Dalam kegelapan, bersama Kyungsoo. Tak ada kenangan yang menghantuiku, yang ada hanyalah saat ini. Kyungsoo dalam pelukanku, rambut panjangnya menggelitik kulitku, nafasnya yang hangat di telingaku. Dia menggigit pelan daun telingaku dan aku tersentak, desisan kecil lolos dari mulutku dan itu terdengar seperti tawa.

"Geli?" bisiknya dan aku mengangguk, masih takut mengatakan apapun, menikmati suaranya yang manis, menenggelamkanku di dalamnya. Aku tak pernah tertawa ketika berhubungan seks sebelumnya. Aku tak pernah menganggap seks sebagai sesuatu yang lucu. Lebih seperti sebuah akhir…

Atau rahasia yang memalukan, dan penuh rasa bersalah…

"Kau memiliki tubuh yang paling indah yang pernah ku lihat," bisiknya sembari beringsut sehingga dia benar-benar berada di atasku. Selimut tebal masih menutupi tubuh kami berdua dan kehangatan tubuhnya terasa di kulitku, seperti sebuah kepompong di dalam surga pribadi kami.

"Kau bahkan tak bisa memandangku.." Aku terkejut betapa pujiannya membuatku merasa sangat gembira.

"Oh, aku sudah melihatmu, dan aku bisa merasakanmu.." Tangannya dimana-mana, menjelajahi tubuhku, mengelusku.

"Semua otot ini, Oh Sehun. Tak ada lemak sedikitpun di badanmu." Aku bisa mendengar nada memuja dalam suaranya dan aku tahu dia menikmati menggodaku seperti ini.

"Mungkin saja itu tidak benar.." Aku tersedak di kata terakhir karena tiba-tiba saja dia beranjak turun dari tubuhku, dan berbaring di sampingku.

Jemarinya mengelus pelan dadaku, sepanjang otot-ototku, kemudian beralih mengelus perutku, membuatnya gemetar. Aku keras setengah mati dan menderita karenanya, dan aku tak akan meminta sesuatu lebih dari apa yang bersedia di berikannya.

Aku takut, takut setengah mati berhubungan seks dengannya karena aku khawatir akan mengacaukan segalanya. Atau lebih buruk lagi, kenangan-kenangan itu akan datang dan menguasaiku, sesuatu yang tak bisa kuterima.

Apa yang terjadi padaku di masa lalu telah membayangi seluruh hidupku. Merusak hidupku. Aku lelah membiarkan hal itu mengatur kehidupanku.

Benar. Benar. Lelah.

Tangannya menjauh dari kemaluanku dan aku benafas dengan lega… dan sedikit kecewa. Aku akan memberikan apa saja agar bisa merasakan tangannya di tubuhku. Aku merasakan kebutuhan yang tak tertahankan untuk bisa terhubung dengannya, aku meremas payudaranya dengan telapak tanganku dan menengadahkan wajahnya, menciumnya. Bukan ciuman manis dan lembut kali ini. Aku mencumbunya habis-habisan, minum dari bibirnya, menghisap lidahnya dan dia melakukan hal yang sama. Tangan kami dimana-mana, menjelajahi tubuh masing-masing, bergerak ke tempat-tempat paling pribadi dengan setiap sentuhan jemari kami dan aku merasakan genggamannya di tubuhku. Tangannya bergetar, aku bergetar.

Aku menggeram ketika sentuhannya di kemaluanku menimbulkan sensasi luar biasa, dan itu membuatnya lebih berani lagi. Dia meremas kemaluanku lagi dan mulai menggerakkan jemarinya naik turun, jemarinya yang mungil itu bekerja dengan sangat cepat, dan aku di penuhi perasaan butuh yang luar biasa. Aku menciumnya lagi, kehilangan diriku dalam rasa bibirnya, dalam tangannya dan aku kini merasakan sensasi luar biasa di bagian bawah tubuhku.

Dia membisikkan namaku diantara bibirku, tangannya yang sibuk menjadi lebih sibuk lagi dan aku menggeram, untuk ke sekian kalinya, menggerakkan pinggulku seirama dengan sentuhannya. Pertarungan di mulai di dalam benakku, dengan orgasme yang kian dekat dan aku berusaha menahan dorongan itu.

Ini tidak benar. Kau harusnya malu. Kau harusnya mual akan apa yang kini kau lakukan. Kau menjijikkan.

Aku mengusir suara rengekan di dalam kepalaku dan mengingat diriku bahwa ini adalah Kyungsoo. Kyungsoo yang cantik, manis dan tegar. Bahwa yang sedang kami lakukan ini, apa yang tengah kami bagi terhadap satu sama lain, bukanlah sesuatu yang memalukan. Tak ada yang salah diantara dua orang yang ingin mendekatkan diri, dan memberikan kepuasan kepada satu sama lain.

Walaupun sulit untukku mempercayai hal itu sepenuhnya.

Tangannya berhenti dan dia menjauh dari ciumanku. "Kau baik-baik saja?"

Dia bahkan mempertanyakannya dan itu mengacaukan pikiranku. Dan juga membuatku merasa menjadi pengecut sialan. Aku sudah akan menjauh dan pegangannya di kemaluanku menjadi semakin kencang, membuatku sedikit panik. Aku tak akan kemana-mana dengan pegangan mautnya di bagian tubuhku yang paling pribadi.

"Sehun, dengar… Aku hanya… Aku punya perasaan kalau ini takmudah bagimu. Bermesraan…" Dia terdengar ragu-ragu, tak yakin dan dia melonggarkan pegangannya, jempolnya membuat lingkaran di bagian paling ujung tubuhku, lagi… dan lagi.

Aku akan meledak. Dengan cepat. Aku meraihnya, merengkuh kepalanya dengan tanganku dan aku menciumnya dengan lembut. Dengan hormat.

Aku tak ingin saat-saat ini berakhir. Dan aku tak ingin dia semakin dekat. Dia sudah terlibat begitu dalam denganku, aku takut jika dia tahu apa yang kusembunyikan jauh-jauh di dalam diriku, aku bukanlah orang yang akan di harapkannya. Bahwa aku tak akan menjadi laki-laki yang dicarinya.

"Aku menginginkan ini," aku memberitahunya ketika akhirnya aku menghentikan ciumanku.

Tangannya telah menjauh dari ereksiku tapi aku masih bisa merasakannya. Menginginkannya. Mengharapkannya membawaku ke tahapan selanjutnya, di tempat dimana aku akhirnya bisa melupakan segalanya, walaupun hanya sesaat.

"Aku ingin melakukannya bersamamu, Kyungsoo."

Aku mengucapkan namanya untuk membuatku tetap sadar. Untuk mengingatkanku bahwa ini kulakukan bersama Kyungsoo. Gadis yang menjadi sumber kebahagian dalam hidupku.

Gadis yang kepadanya aku telah jatuh cinta…

-o0o-

Kyungsoo pov.

Tubuh Sehun telah menjadi begitu besar dan keras hingga kuyakin dia sangat kesakitan sekarang. Itu adalah bagian dari alasan aku menyentuhnya. Aku tak bisa mengelak. Well, itu dan aku harus tahu apa yang akan terjadi jika aku melakukannya. Apakah dia akan mendorongku menjauh kali ini? Aku ingin memberinya kepuasan karena kebahagiannya perlahan menjadi kebahagiaanku dan aku bisa membantunya mengenyahkan apapun yang menjadi masalah baginya dalam melakukan seks, dan semua itu sepadan.

Aku berharap lampunya menyala, agar aku bisa melihatnya, tapi aku punya firasat dia belum siap untuk itu.

Aku merasa sangat kesakitan di selangkanganku dan kupikir aku bisa mati karena menginginkannya. Aku berharap aku bisa membuatnya memasukiku… tapi aku tak ingin terlalu memaksa. Berpikir bahwa kali ini aku adalah pihak yang lebih agressif sudah membuatku sangat malu tapi sepertinya dia memiliki semacam rahasia yang aku harap bisa kukorek darinya suatu hari nanti, walaupun aku tak tahu seberapa parah hal itu akan menggangguku.

Dan tentu saja apapun itu, pasti akan sangat mengganggu.

Sehun membisikkan namaku dan aku menciumnya. Mengayuhnya, meremasnya lebih kencang, menggerakkan tanganku lebih cepat lagi. Jika malam ini aku akan melayaninya hanya dengan tanganku, maka tidak apa-apa. Aku cukup gembira mengingat akhirnya kami berdua melakukan sesuatu yang sangat khas… remaja.

Kami dua orang dewasa yang telanjang di tempat tidur, sendirian di rumah raksasa ini dan kami bisa bercinta habis-habisan dimanapun kami menginginkannya. Dia bisa memasukiku di kamar manapun di rumah ini, di teras luar, dimanapun, dan aku akan mengijinkannya, dan aku amat sangat menginginkannya.

Kami sudah seperti sepasang kekasih di kursi belakang mobil di parkiran, di bagian belakang bioskop, mencoba mendapatkan satu sama lain sebelum jam tengah malam berakhir.

Geraman pelan lolos dari bibirnya dan dia bergetar, seluruh tubuhnya seolah tegang pada saat-saat menggantung itu sebelum kemudian dia benar-benar hancur berkeping-keping dalam kepuasan. Dia datang, dalam genggaman jemariku ketika aku masih menggenggamnya erat-erat, tubuhnya bergetar hebat, pinggulnya menghentak-hentak. Gelombang kepuasan memenuhiku dan aku mendongak untuk menciumnya dan menautkan lidah kami, tersenyum ketika dia melepas ciumanku dan melepaskan geraman kecil gemetar.

Menjauh darinya, aku turun dari tempat tidur tanpa kata menuju ke kamar mandi di seberang ruangan. Aku menyalakan lampu, bayanganku di cermin menatapku dan aku berhenti dan melihatnya sejenak.

Mataku berbinar, pipiku merona dan bibirku bengkak karena ciumannya yang mematikan. Seluruh tubuhku bersemu merah jambu dan putingku mengeras.

Aku berharap Sehun bisa melihatku. Bahwa kami tak perlu di selimuti kegelapan. Atau… apakah gelap membuatnya lebih mudah baginya?

Mendorong pikiran-pikiran murung dari kepalaku, aku membasuh tanganku, mematikan keran dan mencoba setengah mati meratakan rambutku. Rambutku benar-benar kacau balau. Bergelombang di sekitar wajahku dan aku menyalahkan hujan.

Aku juga menyalahkan laki-laki yang mencengkramkan jemarinya di kepalaku, membuatku terdiam sementara dia terus menciumiku tanpa belas kasihan.

Dia masih terbaring di tempat aku meninggalkannya. Aku memandangi siluetnya ketika aku memasuki kamar, berpikir setidaknya dia masih bernafas. Aku menuju ke arahnya, memanjat tempat tidur, dan aku berbaring di sampingnya.

"Kyungsoo…" dia baru akan memulainya ketika aku menyuruhnya diam, mendongak menatap wajahnya dan meletakkan jariku di bibirnya.

"Jangan katakan apapun. Mungkin kau akan mengacaukannya," Aku bergumam dan aku merasakan dia tersenyum lemah diantara jemariku.

Puas karena aku tahu dia tak akan mengatakan apapun yang bisa menghancurkan saat-saat ini, aku berbaring di sampingnya dan menarik selimut menutupi kami berdua. Meskipun tubuhku masih bergetar, aku sangat lelah dan gagasan tidur meringkuk di pelukan Sehun sangat sulit untuk di tolak. Maka aku mendekat padanya, menyandarkan pipiku di dadanya yang sekeras batu, dan aku bisa mendengar suara jantungnya yang berdetak cepat.

Jemarinya kembali berada di rambutku, bibirnya menyapu pelan dahiku. Perasaan puas yang luar biasa memenuhiku, begitu kuat dan memabukkan dan aku memejamkan mataku, membiarkan jemariku mengelus kulitnya pelan.

"Aku tahu besok hari raya Thanksgiving dan semuanya, jadi seharusnya aku menyimpan percakapan ini untuk besok. Tapi aku tak mungkin mengatakan hal ini di depan orang tuaku jadi aku akan memberitahumu sekarang, apa yang membuatku sangat bersyukur," dia berbisik diantara rambutku, suaranya yang rendah, dan dalam menenangkanku, meredakan ketakutanku, dia seolah berharap aku tak terlalu lelah untuk berbincang.

Aku membuka mataku, memandang kegelapan yang tak terjamah mataku.

"Apa yang sangat membuatmu bersyukur?" Aku bertanya, nafasku terkunci di tenggorokanku. Aku ingin tahu, sekaligus ngeri mendengar apa yang ingin dikatakannya.

Dia terdiam sejenak, seolah dia tengah mengumpulkan keberanian dan hatiku mengencang.

"Kau. Berada di sini, menghabiskan waktu bersamamu, bagaimana kau memperlakukanku sekuat apapun aku mencoba untuk mendorongmu menjauh," suaranya serak dan dia membersihkan tenggorokannya.

"Aku bersyukur kau ada di sini."

Aku tak mengatakan apapun dalam waktu yang sangat lama, dan syukurlah diapun demikian, dalam menit-menit yang sunyi. Tenggorokanku seolah tersumbat oleh semacam emosi asing yang tak kukenali, aku mencoba menelan dengan susah payah, mencoba menyingkirkannya tapi tak ada gunanya.

Lengannya yang berotot masih membungkus tubuhku dengan kencang, aku merasa seolah aku tak bisa bergerak, tak bisa bernafas dan dengan tangisan kecil aku meluncur turun dan menjauh dari pelukannya, turun dari tempat tidur.

Aku berdiri di kedua kakiku, mendengarnya bangun, selimut tersibak karena gerakannya.

"Kyungsoo, ada apa?"

Sekarang aku yang panik dan aku benci itu. Aku merasa buruk. Dia tak meminta aku memperlakukannya dengan sangat buruk, seperti sekarang ini. Dia hanya mencoba membuka hatinya dan mengatakan dia bersyukur untukku dan sekarang aku mencoba untuk kabur. Takut akan apa yang di katakannya dan betapa luar biasa kedengarannya, jika saja semuanya nyata.

Tapi itu bukan kenyataannya. Dia hanya terbawa suasana, seperti halnya diriku dan aku tak bisa lagi membedakan mana yang sebenarnya dan mana yang pura-pura. Aku tahu dia masih sama seperti sebelumnya. Dia ingin kami kelihatan seperti sungguhan dan sangat mudah berpikir kami akan bisa bekerja sama ketika kami hanya berdua saja, berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan sebenarnya.

Ketika kami kembali ke dunia nyata, kami akan menyadari betapa kami berbeda. Bahwa sangat mustahil kami bisa menjadi sepasang kekasih.

Aku tak cukup bagus menjadi pasangan dari Oh Sehun.

"Aku—Aku ingin mandi." Tiba-tiba saja aku ingin melakukannya. Gagasan membasuh tubuhku dengan air hangat, sekaligus emosiku yang bergemuruh di dalam diriku, luar biasa menarik dan aku ingin segera keluar dari sini.

"Baiklah." Dia berdehem lagi dan aku penasaran apakah dia menyadari betapa aku merasa sangat tak nyaman. Dia harus menyadarinya.

"Apakah… Apakah kau akan kembali ke sini dan tidur bersamaku ketika kau selesai?"

Dia mengerahkan segala upayanya untuk mengucapkan hal itu, bisa kupastikan dari nada suaranya.

"Tentu saja."

Aku berbohong, merasa sangat buruk. Aku manusia yang benar-benar jahat, membohonginya seperti itu. Aku benci pembohong. Dan aku sangat benci diriku sendiri, karena aku hanya membohongi diri sendiri, berpikir Sehun akan bisa, entah bagaimana, merasakan sesuatu terhadapku.

Aku kabur dari kamarnya dan bersembunyi di kamar mandi, mandi dengan air yang paling panas yang bisa kutahan. Aku menggosok kulitku hingga merah dan lecet, uap di kamar mandi yang sempit dan udara yang panas membuatku pening.

Air mata membanjiri mukaku karena aku menangis seperti orang gila, tanpa suara dan membuat tubuhku gemetaran. Aku tak mengerti kenapa aku bisa sesedih ini atau kenapa aku ingin sekali menjauh dari Sehun. Aku tak menyesali apapun yang telah kulakukan untuknya, bagaimana aku menyentuhnya dan membuatnya puas. Lepas. Jika sentuhanku membantunya menghapus, sekecil apapun hal yang menghantuinya itu, aku bahagia bisa melakukannya. Setidaknya dia pantas mendapatkannya.

Tapi reaksiku terhadap semua ini lamat sangat konyol. Aku hancur berkeping-keping. Aku tak pernah ingin bergantung pada Sehun. Tapi kini sudah terlambat. Aku benar-benar membutuhkannya. Pelan tapi pasti aku telah bergantung padanya dan jika aku tidak berhenti segera, hatiku akan terpaut sangat jauh kepadanya, dan aku akan sangat menderita ketika tiba saatnya kami berpisah.

Aku bernafas dengan gemetar ketika aku melangkah keluar dari kamar mandi dan dengan tergesa mengeringkan badanku. Aku menyelinap kembali ke kamarku dan memakai padanan kaus tua dan baju hangat, kemudian menenggelamkan diriku ke tempat tidurku yang sedingin es, tubuhku yang masih panas gemetar karena perbedaan suhu udara, di dalam kamar yang membeku ini.

Aku benar-benar lelah dan kering secara emosional, tapi aku tak bisa benar-benar tertidur nyenyak sepanjang sisa malam itu, bergoyang dan berbalik arah, berpikir tentang Sehun yang sendirian di kamar sebelah. Aku meninggalkannya, aku telah mengecewakannya.

Aku tak lebih baik dari ibuku.

Dengan pemikiran itu, aku menangis.

-TBC-

A/N : tinggal beberapa bab lagi nih mau selesai :v dan gw belum dapet pencerahan buat Fall gw T.T

Jadi mungkin bakalan lama gw update Fall. Mungkin gw mau nge- remake lagi abis ini cerita selesai. Gw lagi suka baca2 novel historical romance gitu. Emg sih bahasa nya rada berat tapi penyampaian adegan NC nya itu loh bagus banget. Ada beberapa judul novel yg pengen gw remake sih, tapi liat nanti lah :v

shareena : hooh mereka ada something :v gw mikir juga gitu parah sih sekarang. Tiap ada artikel tentang salah satu dari mereka komen pasti rame bgt pada maki2 gitu, sindir2. Beda buanget sama dulu sih yg tinggal war nya ga 'separah' sekarang. Kadang gw bingung kalo ada yg micu war mereka pada bilang itu 'immature fans' hellooo Kalo dipikir lagi mereka caci maki, sindir2 koar2 ga jelas itu tindakan 'mature' ya? Wkwkwkwkwk.. (yg disini jgn baper yak :v)

Kaisooship : wkwkwk.. Nanggung ya NC nya? Sabar yee :v

Kimsoya : iya.. Pada koar2 ga jelas parah sih.. Jgn ada yg baper yaa gaes :v

erikaalni : tunggu aja chap berikutnya yaa.. Bentar lagi bakalan keungkap semua kok :v

hasnawatymayda : bakalan kaget sih kalo tahu ada apa antara Sehun-Yoona tunggu aja yaa gamau bagi spoiler gw :v

Big thanks yaa yg udah mau baca di lapak gw, termasuk buat para silent readers gw maklumin kok kalo kalian ga review :v

-MelliFlouse-