Chapter 11
Naruto mengamati kamar yang akan ditempatinya untuk malam ini. Tidak ada futon disini, futon digantikan dengan ranjang besar, disamping ranjang terdapat jendela yang sangat besar yang terbuat dari kaca. Dihadapan ranjang terdapat lemari ukir yang sangat indah. Di dekat lemari terdapat shofa dan meja untuk menerima tamu jika ada yang datang.
Penginapan lotus ini memang terdapat 2 bagian yaitu bagian timur yang bergaya tradisional jepang dan bagian barat yang bergaya western. Ketika sampai si gerbang penjaga penginapan langsung datang menyambut Hinata. Mereka tampak terkejut Hinata datang bersamanya. Hinata langsung menyuruh pelayan untuk mengantarnya ke kamar dibagian western, sementara Hinata langsung pergi bergegas masuk ruangan. Naruto yakin Hinata langsung mencari Arata.
Sebenarnya ingin sekali Naruto meminta kamar di bagian timur saja. Ia ingin melihat anak-anaknya. Naruto memang belum mengenal mereka tapi bukan berarti Naruto tak peduli. Ia juga cemas Arata sakit.
Naruto mengamati sekitar, sepertinya Roppan sangat bagus untuk berlibur. Naruto memang sudah mengatakan bahwa ia akan libur sebagai hokage selama 3 hari. Selama menjadi hokage ini adalah liburannya yang pertama. Bukannya karena ia tidak diberi libur, ia memang tidak menggunakan jatah liburnya untuk libur karena tidak tahu mau apa atau kemana.
Naruto bergegas keluar dari kamar, ia memutuskan akan berjalan-jalan. Pemandangan di Roppan terlalu bagus untuk dilewatkan. Ia agak tenang karena Arata hanya panas biasa. Ia menyusuri lorong menuju gerbang penginapan, ia bisa melihat banyak pelayan yang terkejut melihatnya dan berbisik-bisik. Tak masalah baginya, ia sudah sering menjadi bahan sorotan saat masih dikonoha, apalagi setelah perang, orang yang berbisik-bisik semakin banyak, terutama gadis muda. Tiba-tiba Naruto mendengar namanya dipanggil.
"maaf namikaze san...kalau boleh tahu anda mau kemana? Saya diberi tangggung jawab untuk membantu namikaze san disini oleh Hinata sama" kata wanita yang menurut Naruto berusia 40 tahunan.
"Oh... saya hanya akan melihat-lihat bibi, sepertinya pemandangan disini indah sekali" kata Naruto.
" Oh ya...memang... disebelah utara ada pemandian air panas yang bagus, memang agak jauh, seitar 50 km tapi ninja seperti anda saya yakin bukan masalah. Sebelah selatan ada pantai yang indah apalagi jika menjelang sore seperti ini, selain pemandangan indah juga banyak sekali pedagang yang menjajakan hidangan laut. Kalau mau lihat-lihat pemandangan disekitar sini saja juga tak masalah, disini banyak sekali bangunan kuno yang indah, selain itu Roppan diapit 2 sungai dan 2 lembah yang berisi pohon buah dan bunga-bungaan. Banyak Shinobi yang datang kemari mencari suasana romantis untuk melamar pasangan mereka" jelas bibi itu panjang lebar. Naruto hanya mengangguk-angguk.
"Sepertinya saya akan kepantai saja bi" kata Naruto
"Baiklah...saya akan menyampaikannya pada Hinata sama, siapa tahu Hinata sama khawatir" kata bibi itu sambil membungkuk lalu beranjak pergi.
Naruto pun berjalan santai ke arah selatan, hanya ada satu jalan utama ke selatan jadi Naruto yakin ia tak akan tersesat.
Naruto berdecak kagum...ia belum pernah melihat pantai seindah ini. Pasirnya putih, butirannya sangat halus, warna air lautnya biru kehijauan. Ia melihat banyak muda-mudi bercengkraman sepanjang pesisir pantai, ada juga yang sudah membawa anak-anak mereka. Wah...ia pasti aneh karena datang hanya sendiri.
Ia berjalan menyusuri pantai sambil menunggu matahari terbenam. Pantas Roppan begitu terkenal. Semuanya benar-benar sangat indah, bau air asin becampur dengan berbagai makanan laut yang dijajakan di sekitar pantai.
Tiba-tiba ia melihat sorak sorai anak-anak kecil yang berusia sekitar 7 atau 8 tahun. Sekitar 5 anak mengerumuni sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang. Seorang bocah berumur sekitar 4 tahun, blonde, bermata biru, matanya. Ia persis seperti di foto pemberian Sasuke.
Naruto segera bergegas mendekati mereka. Ia bisa melihat sorot ketakutan dari sang bocah. Ia juga bisa melihat bocah itu sedang menahan tangis.
"Hei..hei...hei... ada apa ini?" tanya Naruto menengahi. Naruto bisa melihat kelegaan di mata putranya.
"Paman siapa?"kata seorang yang bertubuh gempal, Naruto bisa melihat sorot khawatir dari anak itu dan teman-temannya. Naruto mengernyit.
"Meleka mengambil uangku paman" kata Kanata, bibirnya bergetar menahan tangis. Bukannya kasihan, Naruto justru ingin tertawa, anaknya ini imut-imut sekali, gemas Naruto melihatnya.
"Hayo...kalian tidak boleh mengambil yang bukan haknya...ayo kembalikan uang nya" kata Naruto sambil berkacak pinggang.
Belum sempat anak itu menjawab, Naruto mendengar seseorang meneriaki mereka.
"HEI!...apa yang kau lakukan pada putraku?" kata seseorang itu sambil berlari mendekat, dari gayanya Naruto tahu dia adalah ninja. Wajahnya pucat seketika ketika melihat wajah Naruto.
"Ro...ro...rokudaime sama"
Naruto hanya mengernyit, ia melihat lambang suna di ikat kepalanya.
"Dia anak mu?" tanya Naruto datar. Naruto bisa melihat kegugupan ninja itu.
"I..iya hokage sama"
"Bisakah kau katakan untuk mengembalikan uang yang ia ambil dari temannya ini"kata Naruto sambil mengacak rambut Kanata gemas. Kanata menggembungkan pipinya.
"Ia bukan temanku" teriak Kanata. Naruto hanya geleng-geleng kepala. Sekarang Shinobi itu sedang membujuk anaknya untuk mengembalikan uang yang ia ambil dari Kanata.
"Maaf kan putra saya hokage sama, kaa channya memang memanjakannya. Sudah saya nasehati agar tak mengganggu putra anda lagi"kata Shinobi itu sambil mengembalikan uangnya pada Naruto.
"Terimakasih" kata Naruto. Entah mengapa ia enggan menyangkal bahwa Kanata adalah putranya. Padahal ia sendiri yang mengatakan pada Hinata bahwa jangan pernah mengatakan pada siapapun kalau anak yang Hinata kandung adalah anaknya.
"Nah...ini uangnya..."kata Naruto sambil berjongkok dan mengacak-acak rambut Kanata gemas.
"Telimakacih" kata Kanata sambil membungkuk dan berlari kearah gerobak penjual sup katsuo.
"Saya baru tahu anda sudah mempunyai seorang putra, hokage sama" kata Shinobi itu sambil masih melihat tak percaya pada Kanata yang sekarang berbicara dengan penjual sup katsuo.
"Bukan seorang tapi 2 orang...putraku kembar,siapa namamu?"tanya Naruto
"Eh...Kojiro" jawab Shinobi itu ragu-ragu.
"Baiklah Kojiro, jangan pernah mengatakan pada siapapun kalau aku sudah mempunyai anak, aku mempunyai 2 putra adalah rahasia, kau mengerti?" kata Naruto serius.
"Oh...eh...baik hokage sama, saya tak akan mengatakannya pada siapa pun" kata Kojiro gugup sambil membungkuk pamit.
Setelah Kojiro pamit, Naruto segera bergegas mendatangi Kanata dan penjual yang kelihatannya sedang berdebat.
"Ya cudah... kacih cedikit aja paman.."kata Kanata sambil berkaca-kaca.
"Dengar ya nak...uangmu ini tidak cukup..."kata penjual itu kelihatan kesal.
"Tapi kakakku cedang cakit..." kata Kanata belum menyerah. Naruto memutuskan untuk menengahi.
"Ada apa paman?" tanya Naruto, paman itu kelihatan lega melihat Naruto.
"Putramu ingin membeli sup ku, tapi uangnya tidak cukup" kata si penjual.
"Dia bukan ayahku" teriak Kanata mendengar perkataan pamannya. Naruto meringis seperti orang kesakitan. Sepertinya bayi yang tengah dikandung Hinata dulu mendengar perkataan Naruto ketika mengatakan bahwa mereka bukan anaknya. Sekarang gantian mereka yang tidak mau mengakui jika Naruto adalah ayahnya.
"Bungkuskan saja paman biar aku yang bayar" kata Naruto sambil mengeluarkan gama-chan.
Mendengar perkataan Naruto, mata Kanata langsung berbinar-binar.
"Telimakacih paman...paman baik deh" kata Kanata, Naruto hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Kanata.
Akhirnya penjual itu membungkuskan 5 bungkus, sebenarnya penjual itu hanya membungkuskan 2 bungkus tapi Naruto juga ingin menccipi jadi ia minta ditambahkan 3 bungkus.
"Kenapa minta di bungkuskan 2 bungkus? Yang satu untuk kakakmu ya?" tanya Naruto sambil menggendong Kanata. Lutut Kanata luka gara-gara dikeroyok anak-anak tadi.
"Mm...untuk kaa chan catu untuk kakakku yang cakit catu" kata Kanata malu-malu.
"lho kau tidak suka, kenapa kau tidak minta dibungkuskan?" tanya Naruto heran
"Ng... nanti melepotkan paman...paman kan cudah bayalin buat kaa chan cama kakak" kata Kanata pipinya memerah, Naruto tertawa, anaknya benar-benar persis ibunya. Padahal kata Sasuke anak bungsunya ini benar-benar fotokopi Naruto, namun kenyataanya ia mewarisi 'sifat baik hati dan tidak ingin merepotkan orang lain' ibunya.
"Untung paman beli 5, nanti kau juga makan ok?" kata Naruto nyengir. Kanata balas nyengir pada Naruto.
"Paman benal mau antal aku campe lumah?" tanya Kanata
"Iya, kenapa?kau takut paman menculikmu?" tanya Naruto
"Nggak...Cuma nanti melepotkan" kata Kanata, pipi Kanata kembali memerah. Naruto hanya tertawa kecil. Ia seperti berada di alam mimpi, sekarang ia bisa menggendong buah hatinya. Sekarang ia tahu kenapa Shikamaru senang sekali menggendong Hikari walaupun Hikari sudah bisa berjalan bahkan lari-lari.
"Tentu saja tidak merepotkan, kebetulan paman menginap di penginapanmu. Kan paman yang mengantarkan kaa chanmu pulang" kata Naruto bangga.
"Paman teman kaa chan?" tanya Kanata semangat
"Iya"
"Paman ninja?"
"Yup"
"Paman bica melempal kunai?"
"Tentu saja"
"Ajalin Kanata melempal kunai paman"
"Ok...eh tunggu dulu...kau kan masih kecil" kata Naruto panik. Kanata menggembungkan pipinya.
"Paman jadi milip kaa chan, paman cacuke aja ajalin kakak cama aku lempal kunai kok"
"Sasuke mengajari kalian melempar kunai?" tanya Naruto tak percaya, Naruto tak habis pikir apa yang Sasuke pikirkan ketika mengajari anak-anaknya melempar kunai pada usia 4 tahun.
" Iya...kata kaa chan, paman cacuke itu ninja yang cangaaaaaaat hebat" kata Kanata terkagum-kagum. Naruto jadi iri, putranya begitu mengaggumi Sasuke.
"Oh... begitu ya...kau harus ijin kaa chan dulu..." kata Naruto, sebenarnya Naruto tak yakin Hinata mengijinkan Kanata atau Arata belajar melempar kunai darinya. Ia bahkan sangsi Hinata mengijinkan mereka berdekatan dengan Naruto. Tanpa sadar Naruto mengeratkan gendongannya pada Kanata. Sungguh ia ingin sekali mengenal kedua putranya.
"Kaa chan..." teriak Kanata tiba-tiba, membuat Naruto mendongak dan melihat Hinata berlari menuju kearahnya.
"Kanata dari mana saja?kaa chan khawatir nak?" tanya Hinata, dari wajahnya, Naruto tahu Hinata panik dan habis menangis.
"Maap kaa chan...Kanata beli cup katcuo kecukaan nii chan" kata Kanata sambil menunduk, ia merasa bersalah membuat kaa channya panik.
" Ya...sudah lain kali kau harus minta ijin kaa chan dulu ya..." kata Hinata sambil mengelus rambut Kanata yang kini sudah ada dalam gendongannya.
"Terimakasih sudah mengantarkan putra saya sampai rumah namikaze sama" kata Hinata menekankan kata 'putra saya' sambil membungkuk. Baru saja Naruto mau menjawab, Hinata sudah berbalik dan buru buru masuk ke penginapan. Naruto menghela nafas, Hinata sepertinya benar-benar ingin menjauhkan putra-putranya dari Naruto. Ia bahkan menggunakan bahasa formal dan kaku pada Naruto. Naruto tahu ia perlu bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan Hinata.
.
.
.
.
####
yuhu...chapter 11
btw gw baru nyadar email gw ga ketulis bener ni email gw 26
makasih bgt bwt yang dah review...
tell me bout this chapter too then... ^_^
