Audaces Atropine
Main Cast:
Lee Sungmin.
Cho Kyuhyun.
Ren (Choi Minki).
Cho Seungri (Lee Seunghyun).
Warning:
Ada beberapa crack pair untuk kebutuhan cerita, but it's real KyuMin Fanfiction ;; YAOI ;; Semi M ;; Typo(s) ;; dll.
Disclaimer:
KyuMin saling memiliki, dan cerita ini milik kakak saya :D.
.
.
.
:: Happy Reading ::
Hingga detik ini, pikiran mencoba bersikukuh tidak mempercayai pernyataan Kyuhyun beberapa menit lalu. Pernyataan yang begitu menyentak segalanya. Aku sendiri merasa bahwa nilai kepercayaanku padanya semakin hari semakin aus. Namun setelah melakukan proses perenungan lebih dalam, ini bukanlah apa yang disebut sebagai ketidak percayaan. Lebih jujurnya, penyergahan. Kuakui bilik otakku nyaris selalu terbuka sebagai tempat penampungan berbagai macam penyangkalan. Mereka berbisik beraneka ragam kalimat. Penuh akan provokasi.
'Kyuhyun sangat mencintai Ren.'
'Kau bisa saksikan itu sendiri.'
'Itu artinya mustahil mereka berpisah.'
'Bahkan tanpa alasan yang jelas.'
'Bisa saja mereka memang berpisah tapi apa yang mereka putuskan hanyalah emosi sesaat.'
'Lihatlah, beberapa hari lagi mereka pasti kembali bersama.'
'Sudahlah, kau harus tetap melawan ini semua.'
'Kyuhyun hanya sedang membuat lubang.'
'Dan kau tidak boleh jatuh ke lubang yang sama.'
Ya, aku tidak boleh jatuh ke lubang yang sama. Kendati ada kalanya kita harus tahu bagaimana rasanya 'jatuh berkali-kali' agar dapat memahami makna perjuangan hidup. Namun sudah cukup aku bersusah payah mendaki dari kedalaman jebakannya di masa lalu, kini tidak akan ada yang mesti bersusah payah kembali. Pikiran realistisku menyimpulkan seperti itu dan seluruh bagian tubuhku membenarkan kecuali suatu tempat kecil di kedalaman hati. Selalu seperti ini. Pikiran dan hatiku tidak pernah mau diajak melakukan sinkronisasi. Berlawanan bagaikan gambar pada dua sisi selembar uang. Keduanya nyaris selalu berseberangan. Benar-benar membuat jiwa bimbangku menjadi bertambah bingung hendak mengikuti yang mana. Itulah mengapa, jiwaku kerap terbawa arus dan terombang-ambing akibat ketidaksenyawaan antara pikiran dan hati.
Dibalik segala penyangkalan yang dibisikkan oleh pikiranku, diam-diam hatiku juga membisikkan satu kalimat kebenaran versinya. Ini menyengat rongga dadaku. Hanya satu kalimat. Dan apa yang dibisikkan hati kecilku, sukses membuyarkan pikiran realistisku.
'Kau melihat kesedihan pada sorot matanya saat ia melihatmu bersama orang lain, sebaliknya kau melihat kebahagiaan pada sorot matanya saat ia mengungkapkan bahwa ia sudah tidak bersama orang lain.'
Kuayunkan langkah semakin cepat menelusuri koridor. Kesunyian menggemakan langkah demi langkah. Dinding-dinding dingin dan kaca jendela memberkaskan cahaya pucat. Apa yang kini mereka bertiga tengah lakukan? Ingin selekasnya sampai ke kamar menemui Seungri, Eunhyuk, Ryeowook sebelum hatiku berbisik macam-macam lagi. Sebisa mungkin kutekan kuat hatiku dan semampu mungkin kukosongkan bersih pikiran sehingga mereka tidak lagi membuat bingung. Dengan langkah lebar, kususuri koridor sepi, entah mengapa kamar seolah menarikku agar segera tiba disana. Sementara dapat kurasakan sesekali pikiranku melakukan pemberontakan kendati hatiku sudah diam dan menurut.
Tidak terasa aku sudah tiba di depan pintu kamar. Kelegaan menyeruak. Akhirnya sampai juga. Kukuak daun pintu sebelum terlihat Ryeowook tengah duduk membelakangi di kursi yang berhadapan langsung dengan jendela. Mungkin ia sedang menikmati pemandangan pepohonan hutan belakang Vachgaux menjelang sore.
"Hey Wook, kau sendiri saja, Eunhyuk dan Seungri belum datang? Oh sudah selesai ya? Bagaimana videonya?" Tanyaku beruntun seraya mengatup pintu untuk kemudian mendekat ke arahnya. Namun reaksi Ryeowook tidak lebih dari bungkam, seperti tidak mendengar suaraku. Atau mungkin ia tengah bersedih setelah melihat kembali wajah hyungnya di video? Kulirik laptop dimeja telah di non aktifkan.
"Wook, ada apa? Tidak ada masalah kan? Mengapa diam?" Kusentuh bahunya dari samping setelah menarik satu kursi tempatku duduk. Ia agak tersentak sontak menolehkan wajah.
Kontan mataku membulat. Keterkejutan menyentak. Kuyakin keadaan wajahnya tidak jauh beda dengan kondisiku saat bertemu sosok wanita misterius di tepi hutan Vachgaux pagi tadi. "Oh Tuhan! Ada apa dengan wajahmu? Mengapa pucat sekali? Katakanlah sesuatu. Ah aku baru ingat kau belum makan. Kalau begitu ayo kita ke aula besar-
"Tidak, aku tidak akan merasa lapar. Wajahku memang seperti ini. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Terima kasih," Ryeowook tersenyum lembut.
Oh aku tidak peduli ia menyuruh tidak perlu cemas atau sejenisnya, wajahnya sampai pucat begitu seperti akibat menahan lapar. Tapi ada yang ganjil disini. Benarkah hanya karena menahan lapar beberapa jam sampai sepucat ini? Kugenggam telapak tangannya juga dingin, sangat dingin. Dalam hati agak kesal dengan Seungri yang tidak juga kemari membawa cemilan. Kemana anak itu? Seharusnya paling tidak ia sudah sampai satu jam sebelum aku tiba. Lihatlah akibat keteledorannya Ryeowook jadi, mungkin, kelaparan begini. Kalau tahu begitu lebih baik aku langsung ke kamar saja tanpa menuruti permintaannya untuk menghabiskan makanan dan membuatku tertahan di aula besar.
Kulepaskan pautan tanganku darinya karena tidak tahan dengan hawa beku. Ia seperti usai mendekam didalam freezer. "Mengapa tubuhmu sedingin ini?"
"Persis mayat ya? Atau jasad mati yang kedinginan karena dibiarkan begitu saja?"
Rasa bingungku mulai menyelinap masuk. "Apa?"
"Mayat tertikam pisau tepat di jantung."
"Jangan bilang begitu wook. Jangan membahas hal-hal berbau mayat. Membuatku takut saja. Sudahlah sekarang kau harus makan. Atau ada hal lain yang mengganggu? Kau juga terlihat sedih," tanyaku perhatian.
Pandangan Ryeowook kembali bergeser horizontal, menerawang entah apa dengan sorot mata hampa berbaur rindu. Seolah kerinduan itu sudah lama tertahan. Raut wajahnya dingin bercampur hangat disaat bersamaan. "Melihat video itu... aku jadi merindukan saudaraku. Asal kau tahu, kami kakak adik yang sangat dekat."
"Hm aku bisa rasakan itu. Kuatlah Wook. Semua ini memang sulit. Tapi kuyakin hyungmu juga merindukanmu, aku tidak tahu dia dimana, tapi perasaanku mengatakan seperti itu."
Ryeowook menengokkan cepat wajahnya ke arahku. Begitu tiba-tiba. Ekspresinya melirih. "Sangat, dia pasti sangat merindukan adiknya," nada suaranya sedikit bergetar.
Kuusap intens pundaknya menenangkan. Serindu itukah? Jujur aku jadi turut sedih. "Ya Wook aku mengerti. Kim Young Woon hyung kan? Berdoalah apapun yang terjadi padanya sekarang, semoga ia baik-baik saja."
Mendadak Ryeowook menatapku keruh sembari menggelengkan kepala. Benar-benar menyangsikan ucapanku. Namun detik berikutnya, tatapan itu kembali seperti garis lurus tipis. Wajahnya semakin pasi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak ini? "Dia tidak baik-baik saja, mereka tidak dalam keadaan baik. Kalian semua tidak tahu!"
Keningku menaut. Dari mana ia begitu yakin? "Mereka siapa?"
"Kalian semua tidak tahu tapi kau pasti tahu maksudku, kau harus menolong mereka, hanya kau yang bisa, bukan Yesung songsaenim, bukan Kyuhyun, bukan Seungri. Jangan berharap pada siapapun sementara kaulah harapan itu sendiri." Nada bicaranya tetap datar, aku terhenyak. Apa yang diketahuinya?
Kutarik napas serileks mungkin. Sepertinya aku paham siapa 'mereka' yang Ryeowook maksud. "Ya, aku mengerti maksudmu, jadi apa yang harus kulakukan?"
"Lakukan saja sesuai pesan itu. Naskah itu diciptakan atas namamu dan sumpah ayahmu. Mereka menggantungkan harapannya padamu. Mereka sangat tersiksa. Disana dingin, gelap, menakutkan, keras dan dalam. Mereka tidak bisa mendaki ke atas untuk bebas. Pesan itu adalah tali penolong mereka. Dan seseorang yang menahan tali itu dari puncak hanyalah kau. Mereka akan bersabar menunggu. Hingga tiba waktunya kedalaman yang gelap tertimpa warna dan kau bisa melihat keberadaan kematian."
Remangan bulu halus di tengkuk membuatku bergidik. Naskah atas namaku dan sumpah ayahku? Lalu mengapa Ryeowook malah membicarakan pasal kematian? Biasanya ia begitu ragu bahkan untuk sekedar menanyakannya. Ya, mungkin ia sedang terbawa suasana dan kurasa tidak ada salahnya mencoba mengikuti kemana alur pembicaraan ini.
Raut gamang belum pergi dari wajahku. "Maksudmu tentang naskah, apakah naskah Requiem?"
"Ya."
"Dingin, gelap, menakutkan, keras dan dalam? Ini tentang 35 murid Audaces yang menghilang bukan? Apa mereka ada disana?" Tanyaku pelan.
Senyum Ryeowook terkembang tipis. Batas antara kesinisan dan ledekan begitu tampak meliuk di bibirnya. "Itu bukan tempat pembuangan tapi nyatanya mereka tetap dibuang. Tidak ada yang bisa melihat."
"Mengapa tidak ada yang bisa melihat? Bukankah itu tempat terbuka?"
"Terhalang bentangan si gadis kesepian. Ia sangat kesepian karena tidak ada yang mau mendatanginya, kecuali satu orang."
Ya Tuhan kode apalagi ini? Siapa satu orang itu? Lalu... si gadis kesepian? Aku yakin ada makna dibalik tiga kata ini. Tapi apa? Atau bisa jadi ini mengarah pada sosok Choi Minrae.
Setelah bungkam kurang lebih satu menit, kuputuskan untuk menanyakannya langsung daripada lelah menguras otak demi mendapat jawaban yang sifatnya masih menerka-nerka belum pasti. Lidahku berupaya keras agar tidak memberondongi Ryeowook dengan pertanyaan tergesa dan campur aduk. "Siapa si gadis kesepian itu?"
"Belum waktunya kau tahu sekarang, jadi aku tidak akan memberi tahumu. Lagipula jika kau 'awas', tidak lama lagi kau pasti tahu sendiri karena 'satu orang' yang kumaksud sangat dekat denganmu."
Harapanku agar memperoleh jawaban yang sekiranya dapat menggenapkan satu petunjuk, pupus sudah. Keambiguan membuat semuanya berubah kian buruk. Selalu seperti ini. Petunjuk lama belum usai dikuak, muncul petunjuk baru tidak kalah rumit. Lihatlah, lama-lama aku bisa gila kalau kegilaan masalah ini terus menumpuk di otakku yang kini nyatanya telah kelebihan muatan.
"Kalau memang tidak berniat memberi tahu secara keseluruhan sedari awal, alangkah lebih baiknya jika kau tidak perlu membuka mulut perihal petunjuk ganjil itu, kau tidak tahu betapa stressnya aku memikirkan semua ini. Sampai muncul saat-saat dimana aku ingin sekali pindah dari sekolah ini. Kalau aku mengedepankan ego, sudah dari dulu permohonan bantuan 'mereka' kutolak," sungutku kesal. Yeah, sekali-sekali menumpahkan kekesalan tidak ada salahnya juga. Selama itu tidak berlebihan. Lagipula Ryeowook perlu tahu ketidak nyamananku.
Ryeowook tertawa kecil namun anehnya sepasang matanya seolah senter yang menyorotkan sinar kesedihan. Telapak tangan dinginnya mengelus pundakku. Entah ini pertanyaan keberapa yang kulontarkan untuk diri sendiri, tapi ada apa dengan Ryeowook? Tidak biasanya ia sediam ini. Kuyakin pasti terjadi sesuatu yang ganjil menimpanya saat ditinggal sendiri.
Suara Ryeowook mengalun tipis. Nyaris tidak terdengar. "Itulah alasan 'mereka' memilihmu selain karena naskah yang disumpah oleh ayahmu dan satu faktor lainnya, diluar itu karena kau bukan orang yang egois."
"Maksudmu? Lalu naskah yang disumpah oleh ayahku dan satu faktor lain itu apa lagi?" Tanyaku kurang paham.
Ryeowook mengangguk pelan. Tanpa menjawab pertanyaanku, ia malah melempar pertanyaan lain. "Kau tahu ciri-ciri orang yang tidak egois?"
"Mmm... entahlah. Mungkin tidak selalu mementingkan diri sendiri, mendahulukan kebahagiaan orang lain-
"Bukan, itu memang benar untuk cakupan sosial. Ini tidak. Maksudku disini, secara individu," potongnya cepat.
"Tidak tahu. Tidak pernah kepikiran," kuangkat bahu sekilas. Yeah, aku memang tidak tahu.
"Kebahagiaan dapat membuatmu menangis sebelum tersenyum dan kesedihan dapat membuatmu tersenyum sebelum menangis. Membingungkan bukan? Tapi itulah ciri-ciri individu yang tidak egois dan kau masuk kedalamnya."
Setelahnya kami sama-sama terdiam. Hanyut dalam renungan masing-masing. Benarkah aku seperti yang dikatakan Ryeowook barusan? Jadi dengan kata lain, selama ini aku dapat memaknai kebahagiaan dan kesedihan dengan dua sisi yang berlawanan maupun dua sisi yang bersamaan? Tapi jujur, aku tetap tidak mengerti.
Ryeowook menggumam pelan. Nada bicaranya seolah menuntut kepastian. "Jadi kau tidak akan lepas tanggung jawab dari apa yang 'mereka' harapkan darimu bukan?"
Aku tertegun sesaat. "Tentu saja tidak." Jawabku yakin.
"Aku yakin kau bisa, tapi aku masih ragu kau bersedia."
"Hidupku penuh dengan ketidak adilan, karena itu aku paham rasanya berada di posisi 'mereka', tenang saja, aku akan berusaha semampuku menyelamatkan mereka semua termasuk hyungmu, aku janji, lagipula aku sudah terlatih mendapatkan kenyataan pahit, jadi segetir apapun kenyataan yang terkuak nanti, semoga tidak akan membuatku terpuruk. Kalaupun tetap membuatku terpuruk, aku berjanji akan bangkit lagi seiring berjalannya waktu."
Seolah terdapat senjata di mata Ryeowook yang mengawasi pandangannya, ia menatapku hati-hati. "Kesimpulan dari semuanya, mereka memiliki tiga alasan untuk memilihmu. Pertama, karena pencipta Requiem tidak lain adalah ayah kandungmu. Naskah itu disumpah dan ayahmu tidak merahasiakan sama sekali. Kau pernah diberitahu melalui semacam surat wasiat setelah ayahmu tiada. Kau membacanya sendiri."
Jantungku seakan melonjak saking herannya, alih-alih membaca, nyatanya tidak ada secarik pun surat yang kudapat pasca kepergian ayah. "Kau bicara apa? Ayah tidak pernah meninggalkan sebuah surat pun. Apalagi ke-
"Alasan kedua," Ryeowook menyerobot cepat. "Kau bukan orang yang egois. Bahkan seseorang yang terlihat kuat dan penyayang pun akan berubah egois dan tidak berani jika dihadapkan pada urusan menghadapi langsung kematian dan roh. Tapi kau terus maju bahkan saat pikiran untuk mundur menguasaimu."
Kuelus tengkuk dengan kikuk. Kupikir Ryeowook berlebihan. "Sudahlah wook, aku tidak sebaik itu, maksudku-
"Alasan ketiga," tidak bosan-bosannya Ryeowook memotong. "Kau penuh dengan kenangan tapi sayangnya kenangan itu dirampas darimu. Bukan keinginan dan salahmu, tapi kau yang harus dikorbankan olehnya. Hidupmu jadi seperti garis lurus."
Aku tercenung. Memandang Ryeowook dalam bisu. Entah mengapa, gerakan dan suara seperti lenyap dari diriku. Tubuhku mematung dan mulutku terkatup rapat. Namun hatiku perih, padahal tidak ada sebab yang melatar belakangi. Ibaratnya kulit yang mendadak berdarah tanpa ada benda tajam yang melukai ataupun kecelakaan yang menimpa. Mengapa bisa seperti ini?
Senyum Ryeowook mengembang lembut. Bersamaan dengan pelupuk matanya berkaca-kaca. "Boleh aku memelukmu?" Pintanya penuh harap.
"Tentu saja Wook, aku sayang padamu seperti keluarga sendiri, tidak mungkin tidak boleh, kemarilah. Jangan sedih lagi."
Lalu kami berpelukan seperti layaknya saudara dan dingin hawa tubuh Ryeowook tidak lantas membuat pelukanku mengendur seincipun. Kutahan-tahankan saja. "Senang bertemu denganmu, ini kesempatan satu-satunya yang kumiliki," suara Ryeowook nyaris berbisik.
Merasa ada yang aneh, sontak kulepas perlahan pelukan kami sehingga kami saling berhadapan kembali. Sepasang mataku memandangnya tidak mengerti. "Hey, setelah ini kita masih bisa bertemu di akhir pe-
"Min kau bicara dengan siapa? Maaf ya tadi kutinggal sebentar."
Suara dari arah pintu sontak membuatku menoleh dan... Bahuku tersentak tiba-tiba. Ya Tuhan! Ryeowook di muka pintu tengah menatapku penasaran. Dengan napas memburu, kugeser pandangan ke depan dan Ryeowook yang barusan kupeluk tepat beberapa detik lalu... lenyap!
Seketika keringat dingin mengalir. Ujung-ujung jemari tanganku bergetar shock. Keadaan yang aneh memicu Ryeowook semakin penasaran. Perlahan kakinya melangkah mendekat dengan tatapan hati-hati. "Min? Ada apa? Wajahmu pucat sekali."
Ditengah kekalutan hati, kucoba untuk tenang dengan menarik dan menghembuskan napas seteratur mungkin. Tidak, ekspresiku tidak boleh terlihat cemas. Bila kegelisahan mengepungku, aku khawatir Ryeowook akan takut. Walau bagaimana, sosok lenyap yang barusan kupeluk adalah persis dirinya. Dan terjawablah kecurigaan tersembunyiku mengenai 'mengapa sikap Ryeowook aneh'. Jadi yang tadi itu siapa? Apakah makhluk yang 'menyerupai'. Keyakinanku begitu tinggi dengan Ryeowook yang kini telah duduk cemas disampingku adalah Ryeowook... manusia. Ryeowook yang sebenarnya.
"Min? Apa yang terjadi?" Suara khawatir Ryeowook melontar lagi.
"Ya? Mmm... tidak ada." Senyumku melekuk berusaha mengusir kecemasan Ryeowook. Apakah ini berhasil? Kuharap iya.
Dan ternyata sedikit berhasil. Mendengarku bicara, seketika kelegaan melingkupi Ryeowook. Senyuman Ryeowook buktinya. "Kau kenapa? Latihan dialog?"
"Eh? Ya. Hm. Senin besok pengambilan nilai. Menyebalkan sekali. Padahal aku belum hapal. Tentu saja, naskahnya enam lembar bolak balik." Beberapa detik setelah berbicara, aku baru sadar betapa bodohnya diriku. Kertas naskah untuk hapalan saja tidak ada disekitarku, bagaimana bisa aku mengiyakan tentang 'latihan dialog untuk pengambilan nilai' dan berkata 'belum hapal'? Ck, semoga Ryeowook tidak curiga. Setidaknya kalau memang kecurigaan itu ada, mulutnya tidak bertanya apapun lagi. Aku belum menyiapkan amunisi alasan. Semua keanehan ini terlalu mendadak.
"Oh, ehm, tadi kalian lama sekali jadi kuputuskan kembali ke kamar sebentar. Aku sudah selesai menonton videonya. Jadi mmm... aku mengambil ini." Tangannya mengangsurkan sebuah buku jurnal.
Aku terdiam. Memperhatikan covernya dengan seksama. Jadi ini buku absen Audaces tiga tahun lalu? Mendadak semangatku timbul, sedikit banyak dapat mengalahkan perasaan takut akan peristiwa 'dua Ryeowook' barusan. Kuraih jurnal tersebut dari genggaman Ryeowook ketika ia mendudukkan diri di kursi bekas 'Ryeowook misterius'.
"Coba kau periksa, siswanya 35 bukan 34. Tulisannya agak pudar karena debu, aku hanya membersihkan covernya tadi, jadi singkirkan saja dulu debu di kertas," Ryeowook memberi petuah.
Kuturuti dengan menguak pada bagian lembar nyaris paling depan seraya meniup sebaran serbuk debu dan kuteliti satu per satu nama yang tergurat. Telunjukku menghitung memastikan semakin ke bawah. Memang benar adanya, 35 siswa. Tentu saja dengan deretan nama-nama yang asing bagiku kecuali Choi Minrae dan Kim Young Woon.
"Jadi mengapa Yesung songsaenim bilang 34? Heran sekali," Ryeowook memenggal sunyi. Kedua alisnya bertaut memikirkan hal ini.
"Mungkin salah satu dari 35 ini tidak dibuang di tempat dingin, gelap, menakutkan, keras dan dalam. Kalau bukan masih hidup, kematiannya terpisah," gumamanku teralun pelan. Nyaris seperti lirihan.
Ryeowook yang kian tidak paham, mengernyit bingung. Tatapannya memandangku aneh. "Tempat apa itu?"
"Wook aku ingin bertanya sesuatu. Jawablah dengan jujur." Tanpa menjawab rasa penasaran Ryeowook, aku malah melayangkan pertanyaan yang pasti makin membuat benaknya terjejali tanda tanya. Untunglah Ryeowook tidak tampak berniat menyergah. Ia hanya meresponku dengan sebuah anggukan bingung.
"Kau tahu arti dari 'kebahagiaan dapat membuatmu menangis sebelum tersenyum dan kesedihan dapat membuatmu tersenyum sebelum... hey, kau baik-baik saja? Apakah pertanyaanku salah? Ada apa?"
Perasaan cemas seperti berebut menyerbuku ketika mata Ryeowook membesar shock. Oh Tuhan apa pertanyaanku memang keliru? Kulihat kini giliran Ryeowook yang disergapi ketakutan.
"Darimana? Itu... Mengapa..." Ia tampak begitu gugup dan shock bahkan untuk sekedar melanjutkan kalimatnya. Seolah suaranya pun enggan meluncurkan kalimat berartikulasi jelas.
Mau tidak mau, kegugupan Ryeowook menular padaku. "Ada apa?" Setelah itu aku terdiam, bingung bagaimana bertindak.
Ryeowook menggigit bibirnya, masih tampak gamang. "Itu... itu kalimat yang tidak umum."
Tanggap situasi, kuputuskan menyediakan segelas air putih untuk menetralisir kegugupan Ryeowook. Syukurlah kestabilan emosionalnya kembali setelah menerima dan menenggak sodoran segelas air yang kuambil dari kulkas. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" Kekhawatiranku tidak akan lenyap sebelum ia benar-benar sudah dapat bicara seperti biasa.
"Huft, sudah lebih baik, maaf ya membuatmu takut, karena jujur, sampai kini diriku sendiripun takut mengingat pertanyaanmu. Bagaimana bisa kau mengungkit kalimat itu." Oh syukurlah bicaranya lancar. Itu artinya situasi kembali netral dari ketegangan. Tapi tetap saja raut itu belum mengusir pergi sesuatu yang bernama kegamangan.
"Takut? Mengungkit?" Apa maksudnya? Kurasa pertanyaanku tadi tidak ada seram-seramnya. Satu-satunya bagian seram adalah sosok yang pertama kali melontarkan kalimat yang hendak kutanyakan pada Ryeowook.
"Itu kalimat terakhir yang kudengar dari hyungku sebelum ia dibunuh. Bisa disebut pesan sebelum kematian." Ryeowook menjelaskan dengan suara tertahan.
"Apa? Rasanya mustahil."
"Ya. Tapi tidak ada kenyataan yang mustahil min. Aku tidak tahu alasan ia berkata begitu. Aku juga belum sempat menanyakan maksudnya karena ia langsung pergi kembali ke Vachgaux sedetik setelah mengatakannya. Yang kutahu, itu ciri-ciri individu yang tidak egois, tidak lebih."
Tubuhku membatu. Denyutan di permukaan pelipis menjalarkan pening. Aku tidak yakin akan mampu bersikap 'tidak ada apa-apa' setelah mendengar penjelasan Ryeowook. Jantungku seperti ambruk setelah menerima dorongan yang kuat. Jadi yang tadi... "Wook..." kutatap wajah Ryeowook, kali ini dengan raut ketakutan tak tersembunyi.
"Hm? Jangan takut, katakanlah."
"Oke. Tadi hyungmu da-
Suara pintu terkuak terdengar. Kami menengok dengan kaget. Eunhyuk dan Seungri masuk dengan santainya ketika cepat-cepat kutatap Ryeowook dengan tatapan 'kita tunda dulu obrolan pribadi ini'. Anggukan sangat perlahan kode isyarat mengerti Ryeowook membuat perasaanku lebih lega. Setidaknya hal ini bisa menjadi semacam kontrol agar tidak kelepasan bicara yang dapat memicu terjadinya hal-hal tidak terkehendaki.
"Pasti menunggu lama ya? Kami singgah cukup lama tadi." Eunhyuk berkata tidak enak.
"Maaf Min, Wook. Tidak ada masalah kan? Kami memang ada urusan sebentar. Oh ya ini raspberry cake untukmu." Seungri tersenyum ke arah Ryeowook ketika menaruh cemilan di atas meja sofa. Aku dan Ryeowook beranjak bersamaan bergabung dengan Eunhyuk dan Seungri di sofa setelah sebelumnya cepat-cepat mengamankan jurnal dari pandangan keduanya.
"Thanks. Raspberry rasa favoritku. Aku makan ya, kelihatannya lezat," Ryeowook membuka plastik dan kotak lalu melahap sepotong raspberry cake yang memang sudah dibelah beberapa bagian. Selama Ryeowook sibuk mengunyah cake, kami bertiga hanya saling bungkam. Entah mengapa, tapi dapat kurasakan keterasingan yang tidak dapat kupahami.
"Kalian dari mana? Ada urusan apa?" Akhirnya salah satu dari kami yaitu aku membuka percakapan. Sungguh tidak nyaman rasanya terjebak di antara kesunyian dengan tiga orang disekelilingmu. Mumpung ada topik pembicaraan, mengapa tidak difungsikan sebagai pengusir canggung? Lagipula Seungri dan Eunhyuk mesti secepatnya menjelaskan keterlambatan mereka.
Seungri menatapku lekat. Beberapa momen, kutangkap feeling tidak biasa pada roman wajahnya. "Kami mampir ke kamar Kyuhyun."
Tubuhku tersentak. Aku yakin ia hanya sedang bergurau di saat yang tidak tepat. "Ap-
"Ren keluar dari Vachgaux. Pindah ke sekolah umum asrama di Dongjak-gu, dekat taman Boramae," sambung Seungri.
Debaran jantungku menghentak cepat. Mengungkapkan betapa ini begitu cepat. Keluar dari Vachgaux? Mendadak perasaan campur aduk beranjak cepat menghampiri. Itu artinya Ren tidak bersekolah disini lagi dan yang terpenting ia tidak lagi bersama Kyuhyun. Merasa tidak pantas berpikiran seperti 'bahagia diatas kesedihan orang lain', kugelengkan kepala menepis perasaan ganjil yang tiba-tiba muncul dari sesuatu yang bernama ketiadaan. Ren pasti hanya sedang tergiring emosi, bisa saja besok ia kembali lagi mengingat begitu cintanya ia pada Kyuhyun.
Seakan dapat menembus pikiranku, Eunhyuk melontarkan pernyataan tepat sasaran. Ia berkata sangat yakin. "Ren tidak akan kembali."
"Apa? Maksudmu..."
"Ya. Dia benar-benar kehabisan nyali untuk kembali kemari. Disamping itu, ia keluar dari Vachgaux bukan karena putus, err.. kau sudah diberi tahu Kyuhyun?" Eunhyuk tersenyum lebar berbanding terbalik dengan Ryeowook yang termangu bingung.
"Yeah, mereka putus. Tidak ada hubungan kekasih atau sejenis itu," ujarku mempertegas.
"Siapa? Siapa yang putus?" Suara Ryeowook menyerobot ketika Eunhyuk baru membuka mulut.
"Kyuhyun dan Ren. Aku pun juga baru tahu." Kali ini Seungri yang menjawab. Ryeowook manggut-manggut santai sedangkan Eunhyuk tampak kian bergairah.
"Bukankah bagus? Aku mengerti perasaan Kyuhyun. Malsudku, kasihan dia kalau hubungan mereka terus berputar-putar di pusaran 'to be continued'. Sudah sepantasnya mereka mengakhiri dan itu keputusan yang paling tepat," Eunhyuk berujar penuh semangat.
Ryeowook meraih sepotong cake lagi. Kini ia sudah lebih lunak karena Kyuhyun telah berani mengambil keputusan dan ia juga tampak tidak menaruh prasangka buruk seperti kemarin. "Apa alasanmu berkata seperti itu?"
"Percaya atau tidak tapi berhubung mereka sudah berakhir jadi kurasa tidak akan berdosa bila kubocorkan hal ini. Sebenarnya ini rahasia tapi aku tidak peduli. Lagipula Donghae sudah lebih dulu membocorkan padaku, karena itu kalau ada seseorang yang patut disalahkan, salahkan saja dia. Ehm, dengarkan baik-baik. Kyuhyun tidak pernah mencintai Ren, setidaknya dalam beberapa bulan terakhir ini, entah kalau sebelumnya. Bukan alasan tidak setia maupun sejenisnya, tapi Ren sendiri yang membuat Kyuhyun muak. Ren sering berulah dan mencari-cari bahan agar dapat memicu pertengkaran. Dia juga sangat mengekang Kyuhyun, seolah Kyuhyun adalah narapidana yang tidak memiliki hak kebebasan. Dari depan mereka memang mesra, tapi kalian tidak tahu betapa mengerikan hubungan keduanya bila ditilik dari belakang layar. Benar-benar jauh dari kata harmonis dan romantis seperti yang biasa kalian lihat. Kyuhyun masih berusaha bersabar kendati hatinya bukan lagi untuk Ren, tapi Ren makin memperburuk segalanya dengan menyiksa batin Kyuhyun," Eunhyuk menggelengkan kepalanya.
Kuhela napas dalam-dalam. Hari ini merupakan hari penguakan besar-besaran. "Menyiksa batin Kyuhyun?"
Eunhyuk mengangguk. Ada secercah lega menyinari wajahnya. "Biar dia sendiri yang menceritakan perihal itu. Yang pasti akhirnya dia tidak pernah sebahagia seperti saat ini."
Ryeowook turut mengangguk, entah kemana jiwa Seungri-Sungmin shipper yang dibangga-banggakannya dua hari terakhir. Mungkin jiwa itu keluar hanya akibat ketidak setujuannya atas hubungan Kyu-Ren. "Syukurlah, kurasa berpisah dari Ren dan mencoba bersatu dengan orang yang benar-benar dicintainya adalah langkah paling efektif."
Aku terdiam. Membenamkan perasaan penuh kejutan sedalam mungkin. Tidak pernah menyangka bahwa selama berhubungan dengan Ren, Kyuhyun sampai berada dalam kondisi 'tersiksa'. Sontak benakku teringat kalimatnya saat mengatakan 'pada saat yang tepat nanti, tanganku akan meraih, menggenggam, merekat tangan itu dan tangan kita tidak akan terpisah lagi'. Adakah saat yang tepat itu adalah hari ini?
Deheman Eunhyuk membuyarkan pikiranku. Matanya menatapku memberi keyakinan. "Jadi Ren pindah sekolah bukan dilatar belakangi oleh perpisahan dengan Kyuhyun, Ren memang sudah mempersiapkan kepindahannya dari sebulan lalu."
"Apakah Kyuhyun memang tahu dari awal mengenai rencana kepindahan Ren? Ada yang aneh sebenarnya. Atas dasar apa dia pindah di saat-saat tanggung seperti sekarang?" Ryeowook penasaran juga rupanya, kupikir ia tidak akan peduli.
Seungri menyerobot sebelum Eunhyuk membuka suara. Kupikir anak ini pastilah sudah tahu semuanya. "Kyuhyun tidak tahu, hanya Donghae yang diberi tahu dan kepergian Ren beberapa jam lalu benar-benar membuat Kyuhyun tercengang dan sedih kendati ia tidak bisa memaksa agar Ren tetap tinggal. Ren menjelaskan mengenai kepergiannya, ia tidak tahan terus bersekolah disini karena selalu teringat bayang-bayang noonanya yang sudah meninggal. Percayalah dia benar-benar pindah dari Vachgaux, kalau masih sangsi, tanyakan saja pada Yesung songsaenim yang mengurus surat-surat kepindahannya." Kuyakin bagian kalimat terakhir Seungri dialamatkan padaku yang sedari awal memang menatapnya separuh yakin.
Bisakah aku mengatakan mendadak menjelma lampu kelegaan menerangi sudut hatiku yang gelap? Walaupun seperti masih ada sesuatu yang terasa ganjil tapi aku tidak bisa membohongi perasaan. Apakah ini layak disebut kebahagiaan? "Jadi kalian berdua menyaksikan perpisahan tadi? Siapa yang mengakhiri hubungan? Kyuhyun atau Ren? Apakah perasaan Kyuhyun baik-baik saja?"
Mengapa ujung-ujungnya malah menanyakan perasaan Kyuhyun? Pertanyaan yang satu itu sungguh-sungguh refleks. Apakah sebegitu pedulinya? Bukankah beberapa waktu lalu aku tengah berupaya keras melenyapkan segala tentang Kyuhyun dari hidupku? Benarkah aku betul-betul berupaya atau sekedar upaya paksaan demi mempertahankan ego saja?
Eunhyuk menyahut. Menghembuskan suatu desahan. "Ya kami ke kamar Kyuhyun sekaligus menyaksikan perpisahan mereka juga. Tidak ada pihak yang menyatakan putus pada pihak lain. Mereka berdua sama-sama berbicara empat mata dan mengambil langkah berpisah. Meskipun lega, Kyuhyun masih agak sedih. Wajarlah, mereka hidup bersama bertahun-tahun. Ren lebih seperti ia anggap adik ketimbang kekasih, jadi rasa kekosongan pasti ada." Sorot mata Eunhyuk mengeruh. Seakan turut merasakan kondisi mental Kyuhyun saat ini.
Masalahku sekarang, bagaimana bila bertemu Kyuhyun? Bagaimana jika ia menegur? Sikap apa yang mesti kuambil? Tetap tidak peduli atau sebaliknya?
"Tunggu apa lagi, cepatlah datangi Kyuhyun. Dia betul-betul seperti kehilangan arah. Isi kembali hatinya yang kosong dengan maaf dan kesempatan darimu. Eunhyuk sudah menceritakan semuanya membuatku paham alasan dibalik mengapa tidak juga kau terima perasaanku. Dia memutuskan untuk melepas Ren juga demi kau jadi... well, seperti yang kukatakan, tunggu apa lagi?"
Seungri tersenyum tulus padaku. Tidak kalah tulus dari ucapannya. Setulus pertama kali ia mengajak berteman saat menyapaku di aula besar Audaces. Tidak ada gelombang ketidak sukaan seriak pun di sepasang matanya yang selalu berhasil meneduhkan hatiku. Kutatap ia lekat. Kerongkonganku tercekat. Dan apa ini? Mengapa hatiku sakit saat ia mengatakan hal tadi? Aku sangat menyayangi lelaki dihadapanku ini, aku tidak mau ia terluka. Seungri sudah terlalu baik padaku.
"Aku benar-benar minta maaf. Tapi-
"Ayolah kita masih tetap bisa bersahabat. Dari awal mudah bagiku menerka kalau sayangmu padaku hanya sebagai sahabat, tidak akan pernah berubah. Kau pikir aku akan melarangmu dengan dia setelah nyata-nyata aku telah diberi tahu tentang duduk persoalannya? Jangan menatapku seperti itu. Tidak ada lagi alasanmu untuk bersedih. Aku tidak marah. Aku malah senang kalau semuanya terbuka jelas seperti ini. Kemarilah. Peluk aku."
Tanpa berpikir apapun lagi, tubuhku menghambur cepat masuk ke dalam pelukannya. Mengunci tubuhnya seerat yang kumampu. Seungri tertawa ringan saat mendekapku semakin erat. Kutenggelamkan kuat wajahku di bahunya. Jujur Seungri kecewa atau tidak, tapi tetap saja hatiku sakit. Walau bagaimana, kami sudah terlalu dekat meskipun hanya berstatus sahabat. Kerelaannya menerima semua ini malah membuat rasa bersalahku semakin membukit.
"Sungmin memang agak manja denganku. Interaksi kami memang sedikit lain daripada hubungan persahabatan pada umumnya. Lihat saja, dia tidak akan melepas sebelum aku meyakinkannya berkali-kali." Kudengar Seungri menjelaskan pada Eunhyuk-Ryeowook ketika tangannya mengusap-usap lembut punggungku.
Selanjutnya terdengar suara Eunhyuk menanggapi. Sepertinya ia sudah lumayan akrab dengan Seungri. "Kau sahabat yang paling ideal untuknya."
"Bagaimana bisa kalian semesra ini? Seperti sepasang kekasih begitu. Aku jadi iri." Ryeowook menimpali.
Sedikit demi sedikit, rasa bersalahku meluruh seiring dengan bujukan Seungri yang ia lontarkan seriang mungkin demi mengusir kesentimentilanku. Tidakkah ia memikirkan perasaannya sendiri kala menghiburku? Ah, anak ini. Sementara itu, Eunhyuk dan Ryeowook sesekali ikut berkomentar. Kini mereka tengah ribut berebut cake. Ckck, aku jadi heran dengan persahabatan mereka yang kalau tidak diisi dengan memperebutkan hal sepele, yeah sindir-sindiran.
"Ck! Tidak adil! Kau sudah makan tiga po- eh, Sungmin sudah baikan," suara Eunhyuk melengking membuat perseteruannya dengan Ryeowook terhenti. Aku dan Seungri memang telah menyudahi rengkuhan.
Eunhyuk bertanya antusias. Menatapku ingin tahu. "Bagaimana keputusanmu Min?"
"Tidak perlu banyak berpikir. Lakukan saja apa yang hatimu katakan sedetik setelah kau bertanya pada dirimu sendiri," Ryeowook mengemukakan saran.
Seungri mengangguk menatapku. Tidak membiarkanku sekedar bertanya apa yang ia rasakan saat ini. "Pergilah, Kyuhyun mengharapkan kau menemuinya." Tangannya menepuk pipiku.
Pergi menemuinya? Sepengetahuanku tidak ada pelabuhan menyambangi kapal. Mengapa harus aku yang menemuinya? Tidak semudah itu. Kepalaku menggeleng. "Apa untungnya bagiku? Dulu ia yang mendatangiku lebih dulu dan sekarangpun juga mesti seperti itu." Nada bicaraku agak ketus tatkala melontarkannya.
Seungri tersenyum penuh makna. Geli akan sikapku yang tiba-tiba panas. "Kau masih marah pada Kyuhyun?"
Kuangkat bahu dengan malas. Mungkin iya. "Tidak tahu."
Benarkah ini kemarahan? Jika ini disebut marah, mengapa aku masih mempertanyakan benarkah aku marah? Kurasa aku hanya sedang tidak berniat memberinya kemudahan. Setidaknya untuk saat ini dialah yang seharusnya datang padaku, bukan sebaliknya.
"Atau kau marah padaku? Ternyata benar ya? Apa salahku?" Tanya Seungri bercanda seraya terkekeh kecil.
"Mmm... sebenarnya... ya. Sedikit."
"Hey? Kau marah padaku?" Kening Seungri mengernyit menatapku efek dari ketidak tahuan letak kesalahannya.
Lidahku berdecak. Mendadak terlintas sikap Kyuhyun yang benar-benar sulit diterka. "Aku kesal padamu karena kau dengan mudahnya menyuruhku menemui Kyuhyun lebih dulu. Kau pikir aku tidak punya harga diri? Dia boleh mempermainkan harga diriku di hari lalu tapi tidak untuk sekarang."
Kupikir Seungri akan menampilkan tampang tidak enak lalu berakhir dengan permohonan maaf, namun dia malah tersenyum tidak jelas. Mengapa ia mendadak seperti merestui begini? Eunhyuk pun turut tersenyum mendengar curahan hatiku. Ya Tuhan.
Sahutan Seungri terlontar setelah kekehannya mereda. Suasana kembali serius. "Aku tidak akan menyuruhmu menemui Kyuhyun kalau Kyuhyun tidak menemuimu terlebih dulu. Cobalah jangan berpikiran buruk sebelum bertanya."
"Eh? Nyatanya dia tidak menemuiku."
"Kyuhyun ada di luar kamar, tadinya aku dan Eunhyuk memintanya langsung masuk tapi ia berpikir kau masih marah sehingga ia tidak berani masuk kesini. Dia sempat menceritakan raut wajah dan nada bicara dinginmu saat kalian berdua makan siang. Kalau kau memang masih marah, kunci saja pintunya. Tapi bila sebaliknya, cepat temui dia. Beberapa siswa yang melintas di koridor sampai menatapnya heran. Aku memang membencinya tapi kasihan juga melihatnya menunggu di koridor seperti orang bodoh. Seorang Cho Kyuhyun. Hanya demi agar Lee Sungmin tidak marah. Ckck."
Jadi dari awal Seungri dan Eunhyuk masuk, dia sudah ada di depan kamar? Tidak berani menemuiku? Apa Kyuhyun mendengar semua percakapan kami? Apakah setelah ini dia akan canggung padaku?
"Aku... ck, baiklah. Yang terpenting ia cukup tahu diri untuk tidak langsung masuk kesini. Ini semua karena sikapnya sendiri."
Seungri mengangguk. "Benar sekali."
"Kau masih membencinya, maksudku, tidak ada yang berubah meski rasa kasihanmu menutupi, aku tahu."
Eunhyuk menyahut. "Sudahlah min, dia itu masih kekasihmu... mmm... maksudku, cepatlah temui dia sana."
"Baiklah-baiklah aku keluar. Jangan mengintip."
~Audaces Atropine~
Kulihat Kyuhyun berdiri menyandarkan tubuh pada tembok seberang kamarku. Pandanganku beralih menelusuri penampilannya. Ia mengenakan setelan jeans biru muda berpadu t-shirt viscose hitam lengan panjang. Kutelisik raut wajahnya. Ia tetap tampan seperti biasa meski tampak jejak lelah mengitari sorot matanya. Pandangannya menerawang seolah hendak menembus dinding. Menatap nanar. Seperti asyik melamunkan suatu perihal. Bahkan belum juga ia sadar bahwa aku telah menguak pintu dan kini tengah berdiri memperhatikan.
Setelah memikirkan baik buruknya selama kurang lebih satu menit, kuputuskan beringsut mendekat. Kesenyapan merambati koridor. Kudekap tubuhku sendiri. Menggenggam kain pakaian seerat mungkin. Entahlah, tapi gesturku seakan tengah melakukan semacam upaya proteksi diri. Seolah aku sengaja membuat jarak bahkan sebelum ia menatapku. Sementara itu, Seungri, Eunhyuk dan Ryeowook masih berbincang di kamar setelah sebelumnya kulontarkan peringatan agar jangan coba-coba mengintip. Mereka merespon dengan sebuah anggukan kendati aku tidak yakin hati mereka berkesinambungan dengan anggukan kepala itu.
Diluar kesengajaan, Kyuhyun menoleh sebelum terkesiap menyadari keberadaanku yang telah berjarak satu meter, tengah menatapnya lekat. Aku tidak tahu apa yang mesti dipercakapkan setelah ini. Ditegakkan tubuh itu menjauhi tembok. Belah bibirnya memberiku rekahan senyum. Ia berujar lega. "Aku tahu pada akhirnya kau akan menemuiku."
Selontar gumaman meluncur dari mulutku. Tidak ada rangkaian kalimat. Lagipula tidak ada pertanyaan darinya yang perlu dijawab. Setelah itu hanya sunyi. Biarkan saja keterdiaman yang berbicara.
Kyuhyun membuka suara setelah membungkam selama kurang lebih 60 detik. "Kau masih marah? Apa yang harus kulakukan untuk menebusnya? Aku benar-benar menyesal dan minta maaf."
Lagi-lagi pertanyaan serupa. Apa ekspresi wajahku hari ini memang meruapkan raut amarah? Kurasa sama saja dengan hari-hari kemarin. Mungkin hanya sedikit lebih dingin. Selebih itu tidak ada perbedaan. Tapi kenapa kemarin tidak ada yang sepeduli hari ini?
Kugelengkan kepala sekilas, mulutku masih mengatup rapat. Biar dia rasakan bahwa didiamkan dan dibuat bingung sangatlah tidak menyenangkan. Sebisa mungkin kutatap mata Kyuhyun beriringan dengan sebuah kekosongan. Biarkan saja dia. Aku tidak akan membuat segalanya menjadi terasa mudah.
Melihatku yang diam bagai manekin disertai tatapan keruh dan mimik wajah nyaris beku, lengan Kyuhyun terulur, mengusap perhatian tengkuk leherku. Sesekali diremasnya pelan. Mencoba merilekskan ketegangan syarafku. Aku membiarkan. Sedangkan tubuh ini tak juga bergeming meskipun sentuhannya terasa nyaman sekali.
"Mengapa diam? Katakan sesuatu dan aku pasti mendengarkan," gumam Kyuhyun dengan lengannya masih membelai leherku. Menatap sungguh-sungguh. Ia tampak seperti melancarkan berbagai bujukan ekstra demi mendapat satu kata apapun dari mulutku.
Kami bersitatap, kulihat pancaran keseriusan menghujamku. Mengapa ia selalu memandang dengan tatapan seperti itu? Ulu hatiku semakin nyeri. Dan sejujurnya, selama ini tidak pernah kutangkap sorotan bermain-main disana. Bola matanya bergerak-gerak memandangi bergantian seluruh bagian wajahku, seakan dia benar-benar merindukan menatap wajahku pada jarak sedekat ini.
Seperti menurut niat sebelumnya, untuk kesekian kali tidak kugubris pertanyaan Kyuhyun. Bahkan kugeser pandang ke arah ujung koridor, menatap kehampaan karena hanya tampak tegakkan tembok membisu. Beberapa kali ia melemparkan pertanyaan namun tidak urung juga mulutku bersuara. Sontak sikap ini membuat Kyuhyun mendengus lelah. Ia tampak mati-matian menekan perasaan ingin meledak. Dilepasnya belaian pada leherku. "Bisakah jangan diam seperti ini? Aku tahu aku salah tapi jangan membuat benang kefrustasianku menjadi semakin kusut. Kau mau apa? Ingin aku melakukan apa? Bersujud meminta maaf di kakimu? Berteriak ke semua orang seperti manusia overacting bahwa aku mencintaimu-
Mataku membulat. Seketika mencegat pernyataannya. "Kau apa?"
Muncul ekspresi lega melingkupinya saat mendengarku bersuara. "Oh, akhirnya."
"Kau apa tadi?!"
Ia mendesah lelah. "Kau mendengarnya."
"Aku tidak dengar jelas."
Kyuhyun melengos frustasi. "Aku mencintaimu. Kurang jelas? Aku sangat mencintaimu. Tidakkah kau merasakannya sejak awal? Sekarang aku harus bagaimana? Apapun akan kulakukan. Atau kau ingin aku keluar dari Vachgaux dan pergi jauh agar kau tidak muntah melihat wajah brengsekku? Aku pasti melakukannya. Ku-
"Jangan pergi! Jangan melakukan hal bodoh itu!" Potongku refleks. Dadaku perih mendengar kata 'pergi', hingga menimbulkan buruan halus pada napasku. Ekspresiku beralih nyaris 180°. Entah kemana perginya poker face yang membatasi diriku dengan Kyuhyun. Kini wajahku begitu sarat akan rasa cemas. "Jangan pernah melakukan itu lagi! Sama saja kau membunuhku secara tidak langsung jika berani melakukannya!" Oh kalimatku ini betul-betul tanpa ekspektasi.
Dapat kurasakan dada Kyuhyun juga turut menyesak. Ia menelan ludah. Ada sinar lega tidak terhingga di wajah itu. Bertahap, batasan diantara kami makin menipis dan akhirnya lenyap, Kyuhyun bergerak, menubruk tubuhku kemudian lengan-lengannya menggulungku ke dalam dekapan begitu lekat.
"Kau sudah mendengar semuanya dari Eunhyuk bukan? Mengapa begitu sulit? Mengapa kehangatanmu kau usir pergi jika ada aku? Hari-hari terakhir ini seperti bukan dirimu. Mengapa memandangku seolah aku tidak ada di hadapanmu? Aku berpisah dengannya demi kau min. Kau lihat sendiri dinding penghalang itu telah runtuh. Mengapa kau bangun lagi tembok baru? Aku sudah bersusah payah mengancurkan ego di antara kita, mengapa kau susun kembali?" Nada suaranya begitu pelan nyaris berbisik. Pelukan Kyuhyun semakin ketat. Menggiringku memasuki kenyamanan sekaligus kepedulian tinggi.
Perlahan kedua lenganku bergerak, mendekap lehernya ketika tak henti diciuminya bahu dan rambutku. Mengimplementasi luapan rindu yang sudah lama tertahan. "Kau masih mencintainya? Masih mengharapkannya? Kau berpisah hanya karena emosi bukan?" Tanyaku di sisi telinganya. Untunglah koridor sedang sepi. Kalaupun tidak, kuyakin Kyuhyun tidak akan begitu saja menyudahi dekapan ini.
Kyuhyun pasti paham siapa yang kumaksud tanpa mesti kusebutkan nama. Nama itu ibarat pisau yang bagai cepat-cepat ingin kusingkirkan sebelum ia melukaiku lagi. Setelah terdiam beberapa detik, Kyuhyun bergerak merenggangkan pelukan, tidak benar-benar melepasnya, untuk kemudian menatapku lembut. "Kau tahu apa yang berbeda? Tahukah kau ketidak samaan kalian dalam mengambil alih diriku? Dan tentu saja perpisahan ini yang paling kunanti."
"Hm? Ketidak samaan dalam mengambil alih? Apa maksudmu?"
"Selama ini Ren mendapatkanku tapi tidak pernah memilikiku. Sedangkan kau sudah memilikiku bahkan tanpa harus berupaya mendapatkanku," ia terdiam lagi. Entah apa yang tersimpan di benaknya. Hanya saja semakin ia diam, semakin sorot mata itu membuatku terhanyut. "Sekarang setelah semua jalan terbentang lebar, tidakkah kau berniat memilikiku sekaligus... mendapatkanku? Tidakkah kau menginginkannya?"
Aku tercenung mendengar pertanyaanya. Lidahku beku akibat pertanyaan Kyuhyun yang terlalu mendadak. Benakku seperti digempur oleh berbagai macam pandangan. Begitu sibuk meladeni pikiranku hingga tanpa mampu kucegah, bibir Kyuhyun meraup penuh bibirku. Dieeratkan lingkaran lengannya pada pinggangku seiring kecupan bibirnya menyalurkan kehangatan. Mengulum dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Hatiku bergetar. Tubuhku berupaya meronta namun kuncian lengan Kyuhyun sudah terlampau rapat. Aku masih tanpa gemingan saat raupan Kyuhyun semakin beringas. Pautan bibir ini betul-betul membuat kakiku lupa fungsinya sebagai penopang. Jemariku refleks mencengkram kuat pakaian di bagian dadanya. Lututku mendadak melemas bersamaan saat lidahnya sukses menyelip di antara dua belah bibirku dan kini pengecap elastis miliknya kian menggila mencari lidahku, menemukannya, lantas memelintir kuat. Oh, ini membuatku mabuk.
"Hirup pelan-pelan sayang," instruksinya di sela ciuman saat kepalanya sedikit miring ke kanan tanpa melepas pagutan. Memberiku kesempatan mengamunisi oksigen.
Saat kecemasan mendadak muncul, kudorong dada Kyuhyun, terengah sebentar sebelum mencoba mengingatkan. "Ini koridor, siswa bisa lewat kapan saja."
"Aku tidak peduli, biar mereka tahu yang sebenarnya."
Bibir Kyuhyun langsung menubruk bibirku sedetik setelah kalimatnya usai. Beberapa detik awal, tidak ada gerakan apapun dariku. Setelah berhasil mencerna ciuman tiba-tiba Kyuhyun, segera kubalas permainan lidahnya dengan lembut mengimbangi putaran lidah Kyuhyun yang begitu lincah memanjakan seluruh area mulutku tanpa kecuali. Perpaduan antara kelembutan dan keposesifan membuat pagutan ini semakin menghanyutkan dan kami tidak bisa berhenti bahkan ketika Eunhyuk, Ryeowook dan Seungri serta beberapa siswa yang kebetulan melintas, terdiam shock menatap kami. Kuyakin Kyuhyun juga sadar tengah diperhatikan. Tanpa rasa cemas, ia malah tersenyum di sela lumatannya. Dengan handal, ia melancarkan gigitan pelan menjepit lembut bibir bawahku dan penyatuan bibir ini masih terus berlanjut. Kami sudah terlanjur saling terbuai hingga lupa untuk berhenti. Hanya ada aku, Kyuhyun dan pagutan bibir kami.
.
.
.
TBC
A/N:
HALO SEMUA~~~~! MAAF atas keterlambatan update, kami tau ini benar-benar kelewat lama, bahkan hampir 1 bulan, sudah 1 bulan sepertinya, mwehehehe :D maaf sekali lagi maaf, ini benar-benar diluar kehendak kami, kami sangat sibuk, sangat sangat sibuk, hikshiks rasanya frustasi menggeluti sekolah dari jam 7 sampe jam 6, ditambah tugas dan minggu ekskul TT saya tidak ada waktu free, bahkan untuk menulis ini saya lakukan sambil mengerjakan tugas, sedikit nyeleneh(?) untuk stalking SJ sih wakakaka~
Oke buat cerita, kami harap kalian masih mau membacanya, cerita ini akan terus kami lanjut sampai end, tenang saja :D dan makasih banyak atas review kalian, atas support berharga kalian, masukan, komentar dsb, itu semua salah satu motivasi kami untuk melanjutkan cerita ini. Wkwkwk
Terakhir karna saya harus mengerjakan tugas sesegera mungkin :D TERIMAKASIH, KAMI CINTA KALIAN, dan JANGAN LUPAKAN KAMI mwehehehe KEEP SUPPORT SJ & KYUMIN~~~! Byebye
