Four season's

Chapter 11

Dahi Kris berkerut tidak mengerti, untuk pertama kalinya melihat patnernya yang terlampau tinggi -sebagai yeoja- menjadi pemarah seperti itu, karena seorang siswa. Dan siapa itu Lee Donghae? Apakah dia adalah namja yang mengantarnya kekelas itu? Lalu ada apa dengannya? Sepertinya namja itu harus meminta informasi lebih lanjut lagi kepada 'Nya'.

"Tidak usah ditunda. Jika kau penasaran, kau boleh bertanya kepadaku." Ujar seseorang dibelakang meja mereka. Hal itu sukses membuat Kris dan Tao refleks melirik kearah sumber suara.

"VINE!"seru mereka menatap seorang namja misterius yang kini dengan santainya memakan eskrim berukuran ekstra dan beserta antek-anteknya, memenuhi meja namja yang dipanggil Vine. Jika dilihat dari pesanan makanannya. Dapat disimpulkan . dia seorang pemilik nafsu makan yang sangat 'besar'.

"Yo~ apa kabar?" Tanya namja itu. Kali ini, sepotong cake berukuran besar masuk begitu saja kedalam mulutnya. Dan ada beberapa krim menempel diujung menyia-nyiakan kelezatan dari cake itu, dia menjilati seluruh permukaan bibirnya dengan nikmat.

Melihat kelakuan 'Bos'nya yang sedikit hyper ketika berhadapan dengan makanan itu, membuat Kris dan Tao hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka menatap bosnya itu dengan wajah yang sangat datar. Mengapa? Tanyakan saja pada penampilan namja itu, yang hanya memakai kaos yang casual dan celana seperempat yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang sangat panjang itu. Tak lupa, topi yang menutupi wajahnya itu malah semakin membuat dia seperti seorang boyband yang sedang menyamar dibandingkan dengan statusnya, seorang black hacker yang sedang dicari-cari.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?"Tanya Tao dengan sinisnya, menatap atasannya itu yang sangat OOC.

Namja itu memandang Tao, dengan tatapan misteriusnya dia memandang Tao dengan penuh misteri. "Tentu saja untuk makan, apa kau tidak lihat betapa banyak makanan yang aku pesan?" tanyanya dengan suara penuh riang meski wajah yang ia ekspresikan sangatlah datar.

"Jangan buat aku tertawa, Vine-ssi. Lalu untuk apa keberadaan laptop itu disana?" Kali ini Kris dengan sinisnya melirik benda segiempat itu yang tegeletak manis dimeja. Dia memang tidak mengerti kata-kata yang tertera disana. Tapi, dia juga tidaklah sebodoh itu untuk tidak mengetahui betapa pentingnya kata perkata yang tertulis disitu. Berbanding terbalik dengan Kris, Tao menatap laptop itu dengan antusias. Bersyukur memiliki otak sedikit diatas rata-rata, jadi dia sedikit-banyak- mengerti maksud dari isi dilayar itu. Dengan gemetar dia memandang layar itu dengan takjub, seakan tak percaya dan kagum kepada atasannya-yang selalu dikatakannya bodoh itu-

"Vine-ssi, apakah ini…"saking takjubnya, Tao bahkan sulit untuk meneruskan ucapannya. Dia benar-benar terpikat dengan program yang dibuat oleh Vine. Dan Vine tidak bergeming, dengan santainya dia kembali mengetik sesuatu yang tidak terlalu dimengerti oleh orang awam seperti Kris. Mengetiknya dengan sangat serius, menghilangkan wajah kekanak-kanakkan yang ia perlihatkan tadi.

"Aku tidak menyangka jika adikku ikut andil. Dan hal itu membuatku sangat marah Tao-er~!"desis Vine tajam, membuat Kris dan Tao yang mendengarnya merinding mendengar intonasi rendah itu. Menandakan jika dia benar-benar marah.

"Memangnya, apa itu?" ucap Kris sedari tadi penasaran dengan yang mereka bicarakan. Hey, dia hanyalah seorang namja biasa-biasa saja yang tidak diberkahi otak yang jenius untuk masuk dalam pembicaraan intelek mereka.

"I-ini, sudah pasti. Vine m-membuat sebuah virus." Jawab Tao terbata, membuat bibir Vine tertarik keatas dan Kris yang melebarkan matanya kaget.

~"~

"Apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa sulit sekali memahamimu? Kau begitu dekat, tetapi mengapa kau terlihat begitu jauh?"- Kim Ryeowook

.

.

.

.

Tidak ada pembicaraan sama sekali diantara kedua insan tersebut. Dan itu telah terjadi sejak sejam yang lalu. Tidak ada yang berani untuk memulai percakapan, baik itu Ryeowook dan juga Yesung. Mereka berdua terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Melihat situasi itu, Yesung pun merasakan jengah juga.

"Apakah bibirmu itu hanya dijadikan sebagai hiasan saja?" sindir Yesung membuat Ryeowook yang sedari tadi menunduk, langsung mendongakkan kepalanya. Dan seketika itu juga pandangan mereka berdua bertemu. Membuat keduanya saling menatap satu sama lain. Menciptakan gemuruh hebat dihati mereka masing-masing, berdegub dengan cepat.

"M-mian, aku hanya tidak tahu ingin berkata apa oppa~"cicit Ryeowook sambil mengalihkan pandangannya ketempat yang lain. Menutupi wajahnya yang telah memerah dan menstabilkan detak jantung yang sedari tadi berdetak cepat.

Ada perasaan kecewa ketika Ryeowook mengalihkan pandangannya. Tapi, diacuhkannya perasaan itu. Untuk menutupi perasaan itu. Yesung membuka daftar menu yang telah tersedia. "Ah, kau ingin pesan apa Wokkie?" tanya Yesung sambil membolak-balikan menu itu, sambil memperlihatkan gambaran per gambaran yang terlihat.

Pandangan Ryeowook langsung berbinar. Dia menatap gambaran itu dengan wajah mupeng. Ada banyak sekali macam-macam eskrim disana, dan Ryeowook ingin SEMUANYA.

"Dan kuharap kau tidak memesan semua yang ada dimenu itu, kau tahu kan bagaimana isi kantong anak SMA?" sindir Yesung yang serius menatap menu itu seakan tahu apa yang ada dipikiran Ryeowook saat ini, tanpa melihat Ryeowook sedikitpun.

Mendengar itu, Ryeowook langsung mempoutkan bibirnya. Dia tidak serakus itu, dia tidak memiliki perut sekaret Sungmin dan Eunhyuk. Hanya saja, jarang-jarang ia ditaktrik ditempat se-elite ini. Maka dari itu, tidak ada salahnya kan sedikit antusias?-coret autis coret-

"Aku mau yang ini, ini, ini, dan ini."ujar Ryeowook sambil menunjuk gambaran itu satu-satu, diacuhkannya sindiran dari Yesung itu karena ia memilih lebih dari satu.

Yesung hanya diam, menikmati raut wajah Ryeowook yang sedari tadi menurutnya sangat menggemaskan. Dia benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa yeoja didepannya itu benar-benar sangat polos seperti itu. Membuat Yesung ingin sekali melindunginya. Merengkuhnya dan mengurungnya. Sekejap, rasa possesive itu muncul. Membuat Yesung tersenyum miris, meski tidak dilihat oleh Ryeowook.

"Oppa~ kenapa diam? Apakah karena aku tidak tahu diri? K-kalau begitu aku pesan satu saja." Lirih Ryeowook menahan tangis. Dia tidak ingin dibenci oleh Yesung. Salahkan menu itu yang terlihat menggiurkan.

"Tidak, kau boleh memesan lebih dari satu kok. Nah, aku panggil kan pelayan dulu ya? Ehm, pelayannn!" teriak Yesung cepat agar Ryeowook tidak menangis ditempat. Akan sangat gawat jika yeoja satu itu menangis.

Tak butuh waktu lama, seseorang berpakaian pelayan muncul dihadapan mereka. Yesung dan Ryeowook tidak melihatnya karena terlalu sibuk mengobrol. Dan...

"Ingin pesan apa nona, tuan?"tanya pelayan itu. Suaranya sangat familiar sekali ditelinga Yesung dan Ryeowook. Sontak, Yesung dan Ryeowook mendongakkan kepalanya dan melebarkan matanya kaget. Sesosok namja tampan berwajah kekanakkan muncul dihadapan mereka dengan kostum pelayan. Bukan hanya Ryeowook dan Yesung saja yang kaget, pelayan itu pun bereaksi sebelas dua belas dengan mereka, kaget.

"D-donghae? Apa yang kau lakukan disini?" seru Ryeowook melihat saengnya yang kini memucat.

~"~

Bingung, itulah yang dirasakan Sungmin saat memasuki ruangan itu. Dia memasuki tempat itu dengan ragu, meski sudah diijinkan oleh pemiliknya, Kyuhyun. Hah? Kenapa Sungmin ada dirumah Kyuhyun? Ceritanya begini, awalnya Sungmin pergi kerumah kediaman Leeteuk, mengunjungi Ryeowook dan patner in crimenya pastinya. Hanya saja ia lupa, jika hari ini adalah hari shift Donghae berkerja dan tidak mengira jika Ryeowook diculik oleh sunbae yang menurut Sungmin aneh itu. Langsung saja, dengan tanpa tujuan Sungmin melagkahkan kakinya kemari.

"Aku tidak menyangka jika kau akan kemari, Ming. Masuklah, tapi maaf jika berantakkan." Kata Kyuhyun sambil mempersilahkan Sungmin masuk, dan ketika ia masuk. Wajah Kyuhyun memerah karena yeoja itu datang di saat keadaan rumahnya yang sedang kacau-kacaunya.

Dan betapa kacaunya ruangan itu, dimana-mana buku berserakan. Beberapa kabel menjutai kesana kemari, laptop yang dibiarkan menyala, beberapa coretan-coretan dikertas berterbangan, dan jangan lupakan beberapa cup mie berada diranjang. Membuat ruangan itu sangat berkarakteristik.

Sungmin menghela napasnya. "Ada apa dengan ruangan ini? Mengapa terlihat lebih kacau setelah terakhir aku kemari?"sindir Sungmin, ia menyosongkan kedua baju lengannya dan melihat Kyuhyun dengan serius. "Ini penting kapten Cho! Kali ini biar aku yang membereskan ruangan ini seperti sedia kala dan kamu.." Sungmin tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menatap penampilan Kyuhyun dengan intens. "Tolong bersihkan badanmu itu, terutama wajahmu. Aku serius!"

Daripada mendengar ocehan lebih parah dari ini, dengan terburu-buru Kyuhyun masuk kedalam kamar mandinya. Sebenarnya, Kyuhyun sangat senang saat melihat ada seseorang yang memerhatikannya seperti ini. Inilah yang selama yang ia cari, yang selama ini ia inginkan. Bukan dari hyungnya tetapi dari orang lain, meski orang itu dulunya sempat menjadi seseorang yang spesial dihati hyungnya, yaitu yeojachingunya sendiri. Ah, lebih tepatnya sang mantan yeojachingu.

Kembali ke Sungmin, lihatlah ia sekarang! Dengan telaten ia mengambil sampah-sampah yang berserakan disana dengan teliti dan cepat. Ia ambil baju yang belum dicuci dan seprai ranjang namja itu dan memasukkannya kedalam mesin cuci dan menukarnya dengan sepray berwarna putih bersih. Seluruh berkas-berkas Kyuhyun ia susun dengan rapi dan buku-buku itu ia taruh kedalam lemari bukunya. Tempat yang tadinya berantakan langsung menjadi bersih seketika. Setelah itu, ia beranjak kedapur dan mengambil belanjaannya yang sempat ia beli dijalan dan mengeluarkan bahan-bahan makanan yang tadinya ingin ia buat.

Beberapa menit setelahnya, Kyuhyun keluar dari kamar mandi dan takjub menatap rumahnya yang kini menjadi bersih itu. Ia yang sebelumnya sangat tidak layak dikatakan sebagai manusia dengan brewokannya yang sedikit tumbuh, bau badan yang menyengat, dan rambutnya yang sangat acak-acakkan. Kini, ia benar-benar sangat rapi dan tampan. Dengan kumis dan brewokannya yang dicukur rapi, dengan bau badan yang menyegarkan, serta rambut bersih dan basah menciptakan bentuk eksotis dari ekstitensi seorang namja.

Melihat Kyuhyun yang keluar itu sempat membuat Sungmin terpana sesaat, tapi bukan Sungmin jika tidak bisa mengendalikan perasaannya yang berdegup dengan cepat itu. Ia kini menatap Kyuhyun dengan datar. "Kemari, cicipi masakan ini." panggil Sungmin sambil menunjukkan makanannya.

Mendengar itu, dengan kikuk Kyuhyun mendekati Sungmin. Jujur saja ia merasa sangat canggung sekarang. Selama ini, ia tidak pernah diperhatikan selembut ini. Bahkan orangtuanya sekalipun, bahkan perhatian orang yang selama ini melahirkannya itu hanya terpusat pada hyungnya saja. Kepadanya pun, itu berupa cacian dan makian. Seakan-akan ia adalah seorang yang hina.

"? Hey? Kenapa diam saja? Cicip ini!" perintah Sungmin sambal menjejelkan masakannya untuk dirasa oleh Kyuhyun.

Dengan ragu Kyuhyun membuka mulutnya. Sungmin yang melihat itu resah, penasaran dengan komentar Kyuhyun tentang masakannya itu. Tanpa diduga, Sungmin begitu terkejut melihat Kyuhyun yang malah menitikkan air matanya.

"Yak, kenapa kau menangis? Sebegitu tidak enaknya?" tanya Sungmin panic, ia pun mencoba untuk mencicipinya juga. Dan ia tidak merasakan hal yang salah pada masakannya. Tetap enak seperti biasanya.

"B-bukan tidak enak baby Ming, bahkan ini adalah masakan terenak yang pernah aku cicipi selama ini." ujar Kyuhyun.

"Babo, seharusnya kau bilang masakanku masakan terenak kedua setelah ibumu!"jelas Sungmin mencoba untuk tidak merasa senang akan ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum miris mendengar ucapan Sungmin. 'Bahkan aku tidak pernah mencicipi rasanya masakan ibuku sendiri Ming.'

~"~

"Aku tidak pernah menyangka jika hari ini kedatangan tamu yang begitu terhormat, bagaimana amerika?" tanya Hankyung pada tamu yang kini berada dikantornya. Tamu itu tidak bergeming, ia hanya menatap pemandangan seoul pada malam hari dari jendela besar kantor Hankyung itu. Diliriknya Hankyung tanpa minat.

"Seperti biasa, menyesakkan."ujarnya singkat.

"Istrimu?" tanya Hankyung, kali ini dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan orang didepannya itu.

Namja itu menyeringai dengan sangat khas, mengingatkan Hankyung pada seseorang. Ia menghela napasnya menatap sahabat lamanya itu yang kian hari tampak tampan dan bersahaja. Memputarbalikkan fakta mengenai umurnya yang kini berkepala dua itu. Tapi, tidak sedikitpun keriput yang menghiasi wajah tampannya. Membuat Hankyung sedikit iri.

"Sayang, ia belum sembuh dari sakitnya. Kehilangan satu-satunya putra kami membuat ia harus mendekam ditempat itu lebih lama."namja itu berjalan mendekati Hankyung, diambilnya berkas yang sedari tadi dibaca Hankyung. Ia tidak suka diacuhkan. "Lalu kau? Bagaimana dengan istrimu yang cantik dan menantuku yang menggemaskan itu?" tanyanya tanpa rasa bersalah.

Hankyung menatap manic mata yang tajam itu, ia sedikit tidak suka dengan nada bicara namja itu yang seakan-akan merendahkannya. Dan ia tidak terlalu suka dengan perhatian yang diberikan namja itu kepada keluarganya, lebih tepatnya kepada putri satu-satunya. Ia tidak suka dengan ambisi sahabatnya itu yang begitu menginginkan anaknya. Ia tahu, sahabatnya bukanlah menginginkan putrinya. Ia hanya menginginkan kecerdasan yang dimiliki oleh putrinya, tak lebih. Dan ia tidak suka.

"Seperti biasa, baik-baik saja. Dan ingat, putramu ada dua bukan satu."sahut Hankyung membenarkan.

Namja itu terlihat tidak peduli. "Istriku tidak mengakuinya, maka aku juga tidak akan mengakuinya."ucap namja itu enteng. Hankyung yang mendengar itu langsung mencengkram kertas yang baru saja dipegangnya.

"Sehun-ah~ tak seharusnya kau berbicara seperti itu! Meskipun dia bukanlah anak yang dikandung langsung oleh Luhan-ssi. Bukan bearti, kau tidak menganggapnya sebagai anak. Didalam dirinya mengalir darahmu juga!"desis Hankyung.

Namja yang bernama Sehun itu memandang Hankyung dengan tatapan yang tidak bisa diartikan dengan kata-kata. Dia menyeringai, "Anakku? Aku tidak ingat pernah menanamkan benihku pada pelacur itu!" katanya tajam.

"Sudahlah~ aku tidak akan menang jika berdebat denganmu! Sekeras apapun aku berbicara kau juga tidak akan mau mengerti!" desah Hankyung pasrah.

"Cih~ karena itu aku tidak suka denganmu yang seperti itu! Tidak berambisius! Aku heran mengapa perusahaanmu bisa berdiri sebesar ini jika memiliki pemimpin sepesimis sepertimu!" sindir Sehun.

"Jangan berpura idiot, Sehun. Kau lupa jika aku masih memilki istri dan anak yang mewarisi sifatnya yang memiliki jiwa pemimpin?"

"Dan jangan lupa jika dia jenius sepertimu, Hankyung-ah~" tambah Sehun.

Hankyung mengacuhkan kata-kata terakhir itu, dalam hati ia menambahkan. 'Anakmu itu bahkan lebih jenius dari anakku, terutama yang bungsu!'

"Lalu, apa yang kau inginkan dariku Sehun? Aku tahu, kau tidak akan kemari jika tidak ada sesuatu yang penting." Tanya Hankyung datar dan sekali lagi Sehun menyeringai.

"Aku menginginkan…

.

.

.

.

.

"Sungmin, anakmu!"

To be continued