Once Burned (Remake)

Warn: YAOI, BoysLove, typo(s)

Pair: Hunkai

Disclaimer: Novel Once Burned by Jeaniene Frost, Cast(s) milik diri mereka sendiri.

.

.

.

All Jongin's POV

Kami berdelapan menaiki mobil limosin yang berbeda dengan yang menjemputku dan Sehun dari bandara saat pertama kali aku datang kesini. Karena cuacanya sangat dingin, aku menggunakan mantel tebal diatas bajuku. Mantel itu juga berfungsi sebagai pelindung untuk tangan kananku, yang terus kumasukkan ke dalam salah satu sakunya. Tapi, setelah kami semua masuk ke dalam mobil, mobil itu tidak juga bergerak, meskipun supirnya sudah menyalakan mesin.

"Menunggu apalagi, Hunter?" Tanya Ben.

"Menunggu izin," jawab Hunter, kemudian menaikkan kaca pembatas antara kursi supir dan kursi penumpang.

"Izin? Sejak kapan kita membutuhkan izin?" Gumam Ben.

Sejak aku ikut dengan kalian, pikirku, menegang karena marah. Jika sehun bisa memberi perintah untuk melarangku pergi, maka sebaiknya dia juga bisa menemuiku.

Dari tatapan mereka, semua orang sudah bisa menebak bahwa akulah alasan dibalik penundaan ini, tapi mereka terus mengobrol dengan riang seolah tidak ada yang terjadi. Sekitar sepuluh menit kemudian, kaca pembatas diturunkan. Chanyeol duduk disamping supir, memelototkan mata padaku.

"Apakah kau benar-benar berpikir kau bisa menyelinap pergi?"

Pertanyaan itu membuat semua percakapan berhenti. Aku membalas pelototan Chanyeol dengan marah.

"Aku tidak menyelinap pergi kemana pun. Aku akan pergi keluar dengan penghuni lain di rumah ini. Aku lihat mereka tidak perlu meminta izin siapa pun sebelum pergi, kenapa aku harus meminta izin?"

"Karena kau milik Sehun." Jawab Chanyeol dengan cepat.

Ben melihat tanganku yang terkepal. "Hei, tidak masalah. Kami semua milik Vlad," ujar Ben, menepuk lututku dengan cara yang menenangkan.

Dalam sekejap tatapan mata Chanyeol berubah dari abu-abu menjadi hijau terang. "Tidak seperti dia. Jadi singkirkan tanganmu darinya atau aku yang menyingkirkan tanganmu dari tubuhmu. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya kecuali Vlad."

Tangan Ben langsung terangkat dari lututku seolah aku menyetrumnya dengan listrik. Maksud Chanyeol tidak mungkin lebih jelas lagi. Aku terbelah antara keinginan untuk merosot di kursi karena malu-atau melopat ke depan dan menyentrum Chanyeol. Pilihan yang terakhir lebih menggoda, tapi itu akan menghancurkan rencanaku malam ini.

"Kau sudah menandai teritori tuanmu, bisa kita pergi sekarang?" Tanyaku dengan sinis.

Chanyeol mengangguk pada supir, dan mobil langsung bergerak. Sandra menyikut Joe dan berdesis, "Naikkan kaca pembatasnya." Joe menekan tombol, dan sekali lagi kami mendapat privasi.

Segera setelah kaca pembatasnya naik-seolah itu bisa mencegah Chanyeol mendengar pembicaraan kami-Sandra menyeringai padaku. "Jongin," ujarnya dengan suara kagum, "Kau harus menceritakan semuanya pada kami!"

Aku mulai merasa pusing. Kepalaku berputar. Sialan Chanyeol dan mulut besarnya, sialan Sehun dan kearoganannya.

"Bukan seperti," gumamku, menatap keluar jendela dan bukannya membalas tatapan tujuh pasang mata yang terfokus padaku. "Tidak ada yang terjadi diantara kami."

Sandra tersenyum penuh pengertian. "Tapi Vlad pasti bertekad agar sesuatu terjadi sehingga dia bisa mengumumkan bahwa kau adalah miliknya."

Tanpa persetujuan dariku, pikirku dengan jengkel.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Ben menggelengkan kepalanya. "Seharusnya aku tahu ada sesuatu diantara kalian, saat Vlad sendiri yang datang melihatmu setelah kau pingsan. Jika ada diantara kami yang sakit, memang ada doktet yang datang untuk memeriksa kami, tapi kami tidak melihat Vlad."

Terdengar gumaman mengiyakan. Aku masih tidak mengatakan apa-apa, tapi aku bertekad untuk memikirkannya lagi nanti.

"Ceritakan padaku tentang klub ini," kataku, mengubah topik pembicaraan.

Dari penjabaran mereka, bahkan pada malam musim dingin pun klub itu tetap ramai, karena itu satu-satunya klub di kota berpenduduk tiga ribu jiwa ini. Kami akan sampai disana dalam waktu tiga puluh menit. Aku duduk paling dekat dengan pintu mobil, jadilah aku yang harus keluar pertama.

Di depan bangunan berlantai dua yang terbuat dari kayu dan batu itu tergantung papan nama bertuliskan FANE'S. Cerobong batu mengeluarkan asap ke langit malam. Bangunan lain dijalan ini sudah tutup, tapi di sebrang jalan ada beberapa bangunan yang lampunya masih menyala. Aku suka melihat bagaimana lampu jalanan terlihat menyerupai lentera besi di atas tiang tinggi. Lampu itu membuat kota ini terasa kuno.

Chanyeol keluar dari mobil tapi tetap menempel padaku. "Apa, kau menjadi pengasuhku malam ini?" gerutuku.

Chanyeol mengangkat bahu. "Kau bisa menggunakan istilah apapun yang kau mau."

Tunggu sampai aku bertemu dengan Sehun. Omong kosong semacam ini mungkin berhasil di abad kelima belas, tapi hanya akan menyerangnya balik sekarang.

"Tolong aku," kataku, tidak bersikap kasar pada Chanyeol hanya karena aku masih bersalah tentang kejadian kemarin. "Berada sejauh mungkin dariku, agar aku tidak terlihat seperti membawa tas ransel seukuran orang viking."

Chanyeol tersenyum dan membuka pintu klub. " Akan kucoba."

Aku masuk ke dalam klub, terkejut melihat Fane's tidak berbeda jauh dari bar-bar di Seoul. Meja-meja mengisi ruang di sekitar bar yang panjang dan melengkung, dengan perapian yang membuat atmosfernya terasa seperti berada di restoran. Sandra membawaku ke ruang penyimpanan mantel, dimana kami semua melepas mantel berat kami. Kemudian aku mengikuti Sandra ke bar dan duduk di kursi yang sudah disiapkan Sandra untukku.

"Kau mau minum apa?" Tanya Sandra.

"Vodka dan jus cranberri, jika mereka punya. Jika tidak, vodka dengan jus apapun yang biasa mereka camputkan ke dalamnya."

Sandra menyeringai. "Oslow!" teriak Sandra. Bartender berbalik. "O vodka si un suc de coacaze in contul voivode*."

Aku hanye mengenali kata yang terakhir. Voivode. Pangeran. "Kau bilang apa?"

"Aku memesankan minuman untukmu dan meminta bartender untuk mrmasukkannya ke tagihan pangeran."

"Apakah semua orang mengenal Vlad?" tanyaku dengan kaget.

Sandra menyisir rambut merah-keemasannya dengan tangan, sebelum menjawab. "Di kota ini, ada cukup banyak orang yang tahu, tapi hanya sedikit orang yang membicarakannya. Orang Rumania memuja pahlawan dalam sejarah mereka dan mereka tahu bagaimana menyimpam rahasia."

Kemudian Sandra melirikku. "Sebagai objek ketertarikan pangeran, orang-orang akan menganggapmu sebagai manusia paling beruntung."

"Istilah 'objek'lah yang menjadi masalah terbesar untukku," gumamku, langsung mengambil minumanku begitu diletakkan di depanku. "Dan aku membutuhkan banyak minuman seperti ini sebelum aku merasa beruntung."


Setelah meminum enam gelas vodka bluberri, aku membiarkan Sandra membawa ke lantai dua dimana area berdansa. Sandra, Ben dan yang lain membuat lingkaran pelindung di sekelilingku. Aku terus menempelkan tangan kananku ke pinggulku dan berdansa seolah aku tidak memiliki masalah apa pun di dunia ini. Aku mungkin tidak mengerti lirik lagunya, tapi musik yang enak tidak butuh diterjemahkan.

Aku minum beberapa gelas lagi, dan memutuskan malam itu sebagai malam terbaik ynag pernah kujalani selama beberapa tahun, saat tiba-tiba terdengar suara yang lebih keras dari musik. Lantai ikut bergetar, membuatku menoleh ke sekeliling dengan bingung. Apakah Rumania dilanda gempa bumi? Aku bukan satu-satunya yang menyadarinya, tapi kemudian aku mendengar raungan Chanyeol.

"Hunter, bawa Jongin keluar dari sini!"

Pada saat itulah aku mencium bau asap. Lantai dansa berguncang lagi, dan orang-orang mulai menjerit ketakutan.

Lingkaran teman-temanku berpencar saat kerumunan orang berlari ke arah tangga. Aku berusaha keras untuk mencegah tangan kananku menyentuh siapapun, tapi kerumunan orang menjadi semakin padat. Orang di sebelahku jatuh ke lantai saat dia terdorong ke arahku. Gambaran abu-abu mengisi pikiranku, tentang gadis itu yang sedang mencuri di toko, tapi saat aku kembali ke alam nyata, aku tidak lagi melihat gadis itu. Aku semakin terdorong jauh. Aku mencoba untuk menemukan gadis yang terjaduh itu, takut dia akan terinjak-injak oleh masa yang panik.

Aku menjepit tanganku di bawah ketiak untuk mencegah terjadinya kontak tak disengaja dan berusaha menyeruak kerumunan, sengaja mengambil arah yang berlawanan dari tangga. Aku tidak bisa mengamil risiko dengan begitu banyak orang di sekitarku. Aku mungkin akan membunuh seseorang, atau mungkin sudah. Mungkin Chanyeol atau Hunter bisa membantuku mencari wanita yang kusetrum. Dimana mereka?

Akhirnya aku berhasil sampai ke balkon. Sesuatu yang samar di bawah tertangkap mataku, dan guncangan berikutnya membuat lantai dansa kosong dalam sekejap. Bayangan samar itu menjadi wujud seorang pria bertubuh tinggi berambut perak-Chanyeol, yang menepiskan debu dari pakaiannya sambil berjalan ke arah tiga orang yang tidak bergerak, meskipun ada lusinan orang yang berhamburan ke arah mereka.

Saat aku melihat kilau keperakan di cengkraman tiga pria asing itu, aku mengerti semuanya. Ini bukanlah kecelakaan. Ini adalah penyerangan.

Sesuatu yang keras mencengkram lenganku, memutarku dengan cepat. Aku punya waktu sedetik untuk mengenali Hunter, si supir limo, sebelum dia mengangkatku ke atas bahunya dan berlari pergi, bukan ke tangga tapi ke jendela yang ada di seberang ruangan.

"Tunggu!" teriakku, sambil memukuli punggung Hunter. "Bawa wanita itu juga. Dia ada di suatu tempat di lantai, dan dia terluka!"

Hunter tidak berhenti. "Kau yang penting. Dia tidak."

"Keparat!" makiku, memukul punggung Hunter dengan lebih kuat. "Berbalik sekarang..."

Kaca meledak di belakangku saat terdengar suara guncangan lain, hanya saja kali ini suara itu tidak berasal dari bawah kami. Tapi dari depan kami.

"Ah, itu dia," ujar sebuah suara yang terdengar asing.

Hunter menegang, dan aku menjulurkan kepala untuk melihat ke balik tubuh Hunter, tapi Hunter memegangiku dengan sangat kuat.

"Vlad akan membunuhmu," desis Hunter pada siapapun yang menerobos masuk melalui jendela.

"Tidak, jika kami membunuhnya lebih dahulu," jawab pria itu tanpa terlihat khawatir, kemudaian aku dilemparkan ke lantai, kepalaku menghantam kayu yang keras.

Meskipun masih ada bintang-bintang yang berputar di atas kepalaku, aku masih memiliki akal sehat untuk merangkak pergi. Asap semakin tebal, membuatku terbatuk saat mengerjapkan mata untuk menjernihkan pandangan mataku. Hal pertama yang kulihat adalah Hunter dan pria berambut kelabu terlibat pertarungan mematikan yang berlangsung singkat, aku hanya sempat mencengkram susuran pagar balkon dan berdiri. Kemudian Hunter terjatuh, pisau menancap di dadanya, tubuhnya mulai menciut di depan mataku. Vampir berambut kelabu menatapku sambil tersenyum.

"Kai, iya kan?" tanyanya dengan riang.

Insting pertamaku adalah berbalik dan lari, tapi aku tidak bisa. Fakta bahwa vampir berambut kelabu itu tidak menyerangku berarti dia ingin bermain-main denganku. Bagus, pembunuh sadis, seolah aku belum bertemu cukup banyak orang semacam itu belakangan ini. Aku menoleh ke sebelah kananku, dan menatap vampir itu.

"Iya, aku Kai," jawabku. "Senang bertemu denganmu." Kemudian aku melompat dari pagar balkon.

Risiko yang kuambil ternyata tidak sia-sia karena jelas sekali vampir itu tidak menduganya. Aku mendarat di salah satu pengunjung klub yang belum melarikan diri, dan langsung berguling begitu aku merasakan kulit yang hangat. Pendaratan itu mengurangi efek benturan, tapi orang yang kujatuhi masih menjerit dan berjalan pincang ke arah pintu, sambil terbatuk-batuk karena asap semakin tebal.

Aku belum sempat melangkah ke arah pintu, sebelum suara berdebum keras terdengar dari arah belakangku dan tangan yang kasar menahanku.

"Ooh, kau tidak mudah menyerah ya?" Komentar si rambut kelabu.

Dengan tangan kanannya menahanku, aku tidak bisa mengangkat tangan kananku untuk menyetrumnya, dan aku mulai kehabisan waktu. Api menggerogoti dinding klub dengan cepat. Suara benturan yang terdengar berulang kali menandakan Chanyeol masih bertarung, tapi teriakan orang-orang sudah berhenti. Sepertinya hampir semua orang berhasil keluar dari klub. Musik terus membahana, membuatku sulit untuk mendengar apa yang dikatakan Chanyeol dan vampir yang lain, tapi beberapa kali aku mendengar 'Kai' disebutkan dan aku tahu bahwa akulah alasan dibalik penyerangan ini.

Si rambut kelabu menoleh ke belakangku dan menghela napas. "Kelihatannya mereka membutuhkan bantuan untuk membunuhnya," ujar si rambut kelabu dengan jengkel. "Tetap di sini."

Kaki si rambut kelabu menendangku dengan kebrutalan yang efisien. Dua tendangan kemudian aku jatuh ke lantai, air mata mengalir deras ke pipiku. Betisku bengkok ke arah yang aneh, patah sangat parah sehingga tulangnya menembus keluar kulit. Si rambut kelabu tersenyum, kemudian berjalan ke arah Chanyeol, yang sedang berdiri memunggunginya sambil melawan tiga vampir lain. Dengan perlahan, si vampir kelabu mengeluarkan pisau peraknya.

Hunter dibunuh saat berusaha melindungiku. Sekarang Chanyeol akan mengalami nasib yang sama. Aku menyeret tubuhku ka arah mereka, menjerit karena rasa sakit yang menyiksa yang berasal dari kakiku yang patah, tapi itu tidak menghentikanku.

Si rambut kelabu pasti mendengar jeritanku, tapi dia tidak berbalik. Dia tidak takut aku mengehentikannya, dan itu membuat amarahku menggelegar. Takut akan keselamatan Chanyeol, benci terhadap si rambut kebalu, dan rasa sakit yang semakin menyiksa membuat tangan kananku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya: Ada arus listrik berwarna keperakan yang tampak jelas seperti petir kecil. Aku menatapnya kemudian beralih menatap si rambut kelabu-yang sudah hampir sampai di tempat Chanyeol berdiri-dan aku merangkak lebih cepat. Rasa sakit yang membutakan menyerangku, tapi petir kecil di tanganku terlihat senakin kuat dan besar.

Rekan-rekan si rambut kelabu melihatnya di belakang Chanyeol dan meningkatkan serangan mereka. Chanyeol terdorong ke belakang, tidak tahu bahwa itu membuatnya berada semakin dekat dengan si rambut kelabu. Aku merangkak lebih cepat, hampir pingsan oleh rasa sakit yang tak tertahankan, tapi melalui air mata dan asap, aku melihat si rambut kelabu mengangkat pisau peraknya. Sekarang teriakanku sarat akan keputusasaan. Aku tidak akan berhasil. Jarakku masih beberapa puluh meter dari mereka...

Kilat putih keperakan terlempar dari tanganku, secepat petir yang menyambar di langit. Kilau itu mengenai punggung si rambut kelabu, mengoyak kemejanya dan membuat tubuhnya berkilau selama sepersekian detik. Si rambut kelabu jatuh berlutut, pisaunya meleleh di tangannya dan mengalirkan arus listrik ke kulitnya. Chanyeol tidak sedikitpun menoleh, seperti yang dilakukan salah satu lawannya, dan dengan satu sapuan cepat, pisau Chanyeol menebas di leher lawannya itu. Vampir itu jatuh dengan kepala terlepas dari lehernya.

Si rambut kelabu berbalik dan memelototkan mata padaku. Aku mengenali tatapan itu-aku pernah melihatnya di wajah orang yang hendak membunuh. Aku mencoba menciptakan petir lagi dari tanganku, tapi tenagaku sudah banyak terkuras. Aku mulai merangkak menjauh, hanya karena aku tidak mau mati tanpa berusaha, tapi aku tidak terkejut saat sejenak kemudian tubuhku terangkat.

"Jalang," maki si rambut kelabu, mengangkatku sampai wajah kami sejajar. "Sekarang kau tidak akan bisa bergerak lagi."

Kemudian dia melemparku dengan sangat keras hingga hal terakhir yang kurasakan adalah dinding yang hancur di belakangku


Rasa sakit pasti membuatku pingsan, karena saat aku membuka mata, kelihatannya aku berada di balik selimut, tapi itu mustahil. Aku masih berada di suatu tempat di klub yang terbakar, kan?

Aku menyingkirkan selimut yang menutupiku, dan seketika itu juga asap membuatku terbatuk sangat keras, hingga tenggorokanku seperti sobek. Iya, aku masih berada di klub, dan aku bukan ditutupi selimut tapi mantel. Beberapa dari mantel itu teronggok di sekitarku, sebagian masih tergantung, sebagian lagi terjatuh akibat terdorong olehku Si rambut kelabu telah melemparku ke ruang penyimpanan mantel.

Aku mencoba untuk merangkak-dan menjerit. Reruntuhan tembok jatuh ke atas kakiku yang patah, membuatku tidak bisa bergerak. Lubang yang kubuat terlalu ke atas, sehingga aku tidak bisa melihat keluar untuk mencari tahu apakah Chanyeol masih ada di sana. Dan dinding di sekitarku mulai terasa panas, meskipun asap terus membuatku kesulitan bernapas.

Di tengah-tengah rasa sakit dan batuk, aku masih bisa berpikir jernih. Aku tidak mungkin bisa keluar sendiri dari sini, kecuali seseorang datang menolongku, aku pasti mati. Jika aku beruntung, asap akan membunuhku lebih cepat. Jika tidak, well... rasa sakit di kakiku tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit yang akan kurasakan saat terbakar sampai mati.

"Chanyeol!" teriakku, berharap dia berhasil mengalahkan si rambut kelabu dan vampir yang lain. "Chanyeol, aku ada di sini!"

Tidak ada sahutan, yang terdengar hanya suara musik yang membahana dan suara retakan yang menandakan bahwa klub ini akan runtuh. Aku terbatuk-batuk, merasa pusing. Apa yang dilakukan petugas pemadam kebakaran untuk menyelamatkan dirinya sendiri? Pertama-tama mereka pasti akan mencari sesuatu untuk melindungi tubuh mereka dari api.

Aku mengambil setiap mantel yang bisa kutemukan dan menumpuknya diatas tubuhku. Panasnya tak tertahankan, tapi tumpukan mantel itu bisa menjadi benteng terakhirku sebelum dilahap api. Kemudian aku mengambil mantel yang lebih tipis dan membungkus mulutku dengannya, mencoba menggunakannya sebagai saringan asap.

"Chanyeol!" teriakku lagi. "Chanyeol, di mana kau?"

Masih tidak ada respons. Panik mulai menguasaiku, tapi aku berusaha menepisnya. Jika ada satu hal yang kupelajari, panik tidak akan membantu siapapun. Baiklah, entah Chanyeol memang tidak bisa mendengarku di sela-sela musik yang membahana dan bangunan yang akan runtuh, atau dia sudah mati. Aku harus mencoba cara lain.

Aku menunduk serendah mungkin, mempertahankan tumpukkan selimut di atas tubuhku dan mencoba untuk menyingkirkan rasa pusing dan sakit yang menyebar ke sekujur tubuhku. Andai saja aku membawa sesuatu milik Sehun, dengan begitu aku bisa terhubung dengannya dan meminta bantuan. Bahkan sekalipun Sehun tidak bisa datang sendiri, dia bisa mengatakan pada seseorang dimana aku berada. Tapi aku tidak membawa apa-apa, dan aku belum bertemu dengannya hari ini.

Mungkin keputusasaan yang memberiku ide gila, mungkin itu disebabkan kurangnya oksigen di otakku, tapi aku mengeluarkan tangan kananku dari balik tumpukan mantel dan mulai menggosok bibirku. Kumohon, oh, kumohon, semoga saja Sehun merasakan sesuatu saat dia menyentuh bibirku kemarin! Jika belaian tangan Sehun di bibirku kemarin tidak berarti apa-apa untuknya, maka aku pasti mati. Tapi jika dia merasakan emosi yang cukup kuat, aku mungkin bisa menemukan jejak esensinya yang bisa membawaku padanya...

Ruang penyimpanan mantel menghilang, digantikan oleh Sehun yang diselubungi latar belakang gelap yang kukenali sebagai langit malam. Kegelapan ingin membuatku menangis, tapi sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, suara Sehun terdengar di kepalaku.

"Jongin, di mana kau?

Aku tidak menjawab dengan lantang karena aku masih terbatuk-batuk.

Di ruang penyimpanan mantel di klub.

"Keluar dari sana," tegas Sehun. "Klub itu terbakar."

Kau pikir aku tidak menyadarinya? tanyaku tidak percaya. Kakiku patah dan aku tertimbun reruntuhan dinding.

Mata Sehun terpejam. Saat terbuka lagi, mata itu berkilat hijau.

"Aku hanya beberapa menit. Tutupi dirimu dengan apapun yang ada di dekat situ dan merunduklah sedekat mungkin dengan lantai."

Batuk membuatku tidak bisa merespon Sehun, karena butuh segenap konsentrasi untuk bisa bernapas. Aku tidak yakin suara berdengung di telingaku berasal dari api yang membakar dinding atau indikasi bahwa aku akan segera pingsan.

Sudah kulakukan, aku berhasil memikirkan itu sebelum pikiranku mulai berkelana tak tentu arah. Sebagian dari diriku tahu itu oertanda buruk, tapi bagian diriku yang lain tidak peduli.

"Jongin," panggil Sehun dengan tajam. "Jangan pingsan."

Arogan sekali, pikirku. Seolah kau bisa memerintahkan seseorang untuk tetap sadar. Sedikit demi sedikit, batukku berkurang, begitu juga dengan rasa sakit di kakiku. Perasaan itu membuatku sedikit lega. Jika aku tidak bisa merasakan kakiku, mungkin aku juga tidak akan merasakan api yang nanti membakarku.

"Kau tidak akan terbakar." Bahkan di tengah-tengah pikiranku yang melayang, aku bisa menangkap ketegasan dalam suara Sehun. "Aku akan tiba disana tepat pada waktunya."

Aku tidak merespon. Sehun mengatakan hal lain, tapi suaranya hilang di tengah-tengah alunan musik yang indah disekelilingku. Jika aku berkonsentrasi pada suara itu, maka aku merasa seperti terbang. Aku memfokuskan perhatianku. Dan dalam sekejap semuanya terasa memudar. Aku merasa ringan, mengambang, bebas...

Rasa sakit menyeretku lagi ke alam sadar dengan ketergesa-gesaan yang yak kenal belas kasihan. Aku tidak lagi berada di lantai, tapi berada dalam dekapan keras Sehun yang sedang menggendongku. Api berwarma merah dan oranye mengelilingi kami, panasnya membakar, tapi kemudian api mati dan menciptakan lorong untuk kami lewati. Sehun berjalan melewati lorong itu dan tiba-tiba asap yang mencekik hilang. Digantikan oleh cahaya dan orang-orang yang tertutup jelaga. Sehun mengigit pergelangan tangannya, kemudian sesuatu yang hangat dan basah menekan mulutku.

"Minum." Perintah Sehun.

Rambut pirangnya menyentuh wajahku, saat dia menunduk ke wajahku, memastikan aku menelan di sela-sela batukku. Rasa sakit menusuk kakiku, sebelum memudar menjadi rasa berdenyut dan akhirnya rasa gatal yang aneh. Batukku sudah berkurang, meskipun aku masih kesulitan bernapas. Akhirnya Sehun menjauhkan pergelangan tangannya, dan kepalaku tekulai di lekukan lengannya.

"Kau berhasil," gumamku dengan lemah.

Senyuman Sehun hanya berlangsung singkat-dan tajam. "Aku sudah bilang padamu aku akan tiba tepat pada waktunya."


Sehun membawaku terbang ke rumahnya, tapi bukannya berhenti di lantai dua, dia terus naik ke lantai empat dan membawaku ke sebuah kamar bergaya gotik, dengan langit-langit tinggi berbentuk segitiga. Dengan ukurunnya yang besar dan megah, aku pikir ini adalah kamar tidur Sehun, tapi tempat tidurnya tidak dilengkapi tirai berwarna hijau.

"Memangnya apa yang salah dengan kamar yang sebelumnya?" tanyaku, masih merasa pusing dan lelah, meskipun darah Sehun sudah menyembuhkan luka-lukaku.

Sehun melepaskan sepatu botku, melemparkannya ke lantai sebelum menyingkirkan selimut dan membaringkanku di atas tempat tidur.

"Ada seseorang yang sangat menginginkanmu sehingga dia nekat menyerang wilayahku. Sudah ratusan tahun tidak ada yang berani melakukan itu, jadi kau harus terus berada di dekatku sampai aku menemukan orang itu."

Aku memejamkan mata, rasa bersalah dan marah menguasaiku. "Chanyeol?"

"Aku sempat melihatnya, dia masih hidup," ungkap Sehun, yang membuatku lega.

Sehun menyelimuti tubuhku. Biasanya aku benci ketika ada seseorang yang memperlakukan aku seperti manusia yang tidak berdaya-aku sudah mendapat perlakuan itu saat aku benar-benar tidak berdaya karena kecelakaan itu-tapi sekarang, aku tidak keberatan. Mengetahui ada vampir paling berbahaya di dunia yang menjagaku membuatku merasa aman, setelah nyaris mati terbakar, aku ingin berpegang pada perasaan aman itu lebih lama.

"Bagaimana caranya kau bisa terperangkap di ruangan penyimopnan mantel?" tanya Sehun dengan tenang. "Seharusnya Chanyeol menjagamu."

Aku meringis saat mengingatnya lagi. "Vampir berambut kelabu yang terlihat hampir mirip dengan Anderson Cooper melemparkanku ke ruang penyimpanan mantel setelah aku menyetrumnya."

Kedua alis Sehun terangkat. "Kau menyerangnya?"

"Chanyeol sedang bertarung dengan tiga vampir lain, dan si rambut kelabu baru saja membunuh Hunter. Dia hendak menyerang Chanyeol dari belakang, jadi aku menyetrumnya. Itu memberi Chanyeol waktu untuk menghabisi salah satu vampir dan mengantisipasi serangan si rambut kelabu. Tapi si rambut kelabu marah dan melemparku ke ruang mantel."

"Apa yang kau pikirkan, membahayakan nyawamu seperti itu?" gumam Sehun.

Apakah Sehun melewatkan bagian Chanyeol yang nyaris terbunuh? "Aku mabuk," kataku dengan ketus. "Aku mencoba segalanya ketika aku mabuk."

Sehun menyeringai lebar. "Aku akan mengingatnya. Kita bicara lagi besok. Sekarang, kau butuh istirahat."

Nada memerintah Sehun mengingatkanku pada alasanku ke klub. Meskipun aku merasa kacau, aku memaksakan diriku untuk bangun.

"Belum. Ada beberapa hal yang harus kita luruskan terlebih dahulu."

"Misalnya?" Pertanyaan itu diucapkan dengan lembut, tapi mata Sehun berkilat.

"Kenapa kau menghindariku?"

"Aku tidak menghindarimu. Aku pergi keluar untuk mengumpulkan barang-barang bersama dengan Kris dan yang lain. Aku baru sejam sampai dirumah saat Ben menelpon untuk melaporkan serangan di klub."

Sehun menatapku tanpa berkedip, tapi... "Kalau begitu, kenapa Chanyeol mengatakan kau memerintahkannya untuk mengikutiku keaana?"

"Chanyeol menelpon untuk mengatakan padaku apa yang kau lakukan." Nada suara Sehun mengeras. "Meskipun kelihatnnya justru kau yang melindunginya."

Oke, jadi Sehun tidak menghindariku. Itu berarti hnaya ada satu masalah lagi, masalah yang lebih besar.

"Kenapa kau tidak mengatakan padaku ada konsekuensi dari meminum darahmu? Chanyeol bilang meminum darahmu akan membuatku menjadi, um..."

"Milikku," Sehun menyelesaikan kalimat itu tanpa ragu.

Amarahku bangkit saat melihat kepercayaan diri Sehun. "Aku tidak setuju dengan pengaturan itu, jadi lupakan saja."

Sehun duduk di tepi tempat tidur dan menunduk, meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku.

"Kau pikir darahku adalah satu-satunya pengikat di antara kita?"

Suara Sehun pelan, tapi menyiratkan rasa lapar yang tak tertahankan. Suara itu seperti membelaiku di tempat-tempat yang hanya pernah disentuh olehku sendiri, membuat amarahku pudar di dalam kabut gairah. Sehun berada sangat dekat denganku sehingga aku bisa merasakan rambutnya di wajahku, dan saat dia membelai wajahku dengan lembut tapi pasti, butuh usaha keras untuk membuatku tidak memejamkan mata karena nikmat.

"Inilah ikatan sejati kita," bisik Sehun, napasnya terasa panas di bibirku. "Kau ditakdirkan untukku, dan aku akan memilikimu."

Kemudian mulut Sehun melumatku dalam ciuman yang keras dan menuntut. Erangan terlontar dari mulutku dan lidah Sehun menyelinap masuk untuk membelai lidahku dengan dominasi yang sensual. Sehun terasa seperti dosa yang dibuat menjadi wine: gelap, keras, dan mustahil untuk ditolak. Tuntutan yang terasa dalam ciuman Sehun dan tubuh keras Sehun yang menekanku ke kasur membuat syarafku bergelenyar oleh sensasi yang membutakan. Kebutuhan menguasaiku, membuat ototku mengencang. Aku menarik Sehun mendekat, menyusupkan tanganku ke rambutnya, dan aku terkesiap saat merasakan taringnya keluar. Akal sehatku lenyap saat Sehun menciumku lebih dalam, menarik lidahku ke dalam mulutnya, dan mengisapnya sampai denyut di pangkal pahaku seirama dengan detak jantungku.

Tiba-tiba saja, Sehun sudah ada di sebrang ruangan, matanya terlihat hijau dan bagian depan celananya terlihat sesak.

"Jika aku tidak berhenti sekarang, aku akan melupakan rencanaku untuk mencari para penyerangmu atau melupakan fakta bahwa kau masih lemah. Istirahatlah. Aku akan menemuimu nanti."

Sehun pergi sebelum aku sempat menjawab. Aku menghela napas frustasi. Istirahat, yang benar saja. Memangnya ada orang yang bisa beristirahat setelah itu..

.

.

.

TBC


*Vodka dengan jus bluberri masukkan ke tagihan pangeran.


A/N:

tuh yang bilang hunkainya di chap kemaren kurang udah ada progress lagi di chap ini wkwk. Masih kurang kah?

Btw HAPPY SEHUN'S DAY~