SEHUN'S POV

Aku tidak menghitung lagi sudah berapa bulan berlalu sejak pengumuman tentang kehamilan Luhan yang begitu mengejutkan. Sejak saat itu, hubungan kami tidak juga semakin baik. Kami berdua memutuskan untuk tidak saling memperbaiki diri dan tidak saling menyapa meskipun berada dalam satu atap yang sama.

Bahkan Luhan memintaku untuk berhenti memperkerjakan penjaga di rumah.

Tentu saja, aku keberatan pada awalnya, tapi aku tak bisa melakukan apapun untuk menolak keinginan Luhan. Yang secara hukum adalah istriku sendiri, tapi rasanya sekarang seperti orang asing bagiku.

Zitao dan Kyungsoo sudah mengatakan kalau Luhan sedikit demi sedikit bisa menerima keadaannya sekarang. Ia sudah tidak melakukan hal ekstrim lagi untuk mengakhiri hidup, dan itu juga membuatku sedikit merasa lega.

Bahkan beberapa minggu belakang ini, Luhan mau bicara denganku meskipun bukan membicarakan hal penting. Seperti saat ia mengeluhkan pendingin ruangan di kamarnya yang rusak. Atau meminta uang untuk membeli keperluan hidupnya yang tidak terlalu penting. Yah, meskipun itu bukan topik yang bagus untuk memulai pembicaraan, tapi rasanya sudah cukup untuk membuat Luhan mau bicara denganku.

Ya, jujur saja, aku merindukannya lebih dari apapun.

Aku sadar dulu pernah memperlakukannya dengan buruk, sangat buruk, lebih kejam dari manusia manapun. Aku sangat menyadari itu. Dan bagaimanapun aku menyalahkan Luhan tentang perbuatanku dulu, aku tak bisa menyangkal bahwa itu kesalahanku juga.

Luhan memang yang menyebabkanku menggila, tapi harusnya aku juga bisa mengendalikan diri untuk tidak membalas dendam dengan memperlakukannya seperti itu.

Aku sudah terlalu berdosa dengan menyiksanya, memaksanya menikahiku, dan membuatku melakukan hal gila padanya selama ini.

Dan kurasa, ini adalah karma yang harus kuterima karena sudah membuat gadis itu menderita selama beberapa tahun hingga sekarang.

Aku sadar bahwa Luhan akan segera meninggalkanku setelah bayinya lahir. Tidak menutup kemungkinan aku tidak akan pernah melihat wajahnya lagi setelah itu. Dan sebenarnya itulah hal yang kutakutkan sejak lama.

Luhan akan pergi.

Dan mungkin selamanya pergi dariku.

Merasa cukup merutuki nasibku pagi ini, kuputuskan untuk melangkahkan kaki keluar kamar. Ini sudah hampir siang tapi aku masih saja berdiam diri di dalam ruangan kamar yang senyap. Hari ini akhir pekan, waktu yang seharusnya bisa kumanfaatkan dengan baik untuk beristirahat. Tapi nyatanya aku masih saja tidak bisa tenang.

Pikiranku tentang semua kegilaan ini membuatku lelah.

Aku berhenti melangkah saat kulihat Luhan berdiri di dapur, tepat di depan meja makan dan ia sedang mengoleskan selai ke atas roti. Sejenak menimang untuk tetap berjalan mendekat atau kembali ke kamar dan pura-pura tidak melihat, aku membeku ditempat.

Dan saat yang tepat Luhan mengangkat kepala untuk melihatku.

Aku memandangi wajahnya yang tampak cantik pagi ini. Luhan masih tampak pucat dan kurus, hanya perutnya saja yang sedikit terlihat membesar di balik kaus tipisnya. Mata kami bertemu dan aku tidak bisa memikirkan apapun.

Ia hanya memandangiku selama beberapa detik, tanpa senyum, raut wajahnya susah ditebak, kemudian kembali menundukkan kepala dan melanjutkan kegiatannya.

"Zitao libur, ya?" tanyanya.

Ya, selamat pagi untukmu juga, Luhan.

"Ya, sudah tiga minggu lebih dia tidak libur. Dia pulang ke Shanghai," sahutku asal, kemudian kembali berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil air putih.

Lama Luhan tidak mengatakan apapun dan keheningan seolah melingkupi kami berdua sekarang. Aku tidak berniat berbicara lebih jauh lagi dan sepertinya Luhan juga merasakan hal yang sama. Ia duduk di kursi tinggi itu, kemudian makan roti selainya perlahan.

Kemudian aku mengingat sesuatu, suatu hal penting yang Kyungsoo bicarakan semalam melalui sambungan telepon. "Kyungsoo bilang, kau harus menemui dokter kandungan siang ini,"

Luhan mendesah ringan, suara napasnya terdengar keras di rumah yang nyaris senyap.

"Ya, kurasa begitu. Dia akan marah jika aku tidak pergi. Aku harus pergi,"

"Aku bisa mengantar," jawabku cepat.

Kemudian siap menunggu lontaran umpatan yang mungkin akan Luhan katakan. Aku sudah siap menerima semua kata-kata kejamnya pagi ini. Bahkan aku selalu mempersiapkan diri mendengar ucapan sarkas Luhan.

Setiap waktu.

"Oke," balasnya acuh, kemudian berjalan menjauh menuju tangga dan masuk ke kamarnya.

Apa aku tak salah dengar?

Tumben sekali dia tidak terdengar dingin?

Aku berjalan ke tempat dimana Luhan tadi duduk untuk sarapan dan menemukan dua buah roti yang sudah diberi selai di atas piring. Tanpa sadar aku tersenyum, entah Luhan memang sengaja menyisakan makanan itu untukku atau dia tidak sengaja melakukannya.

Perlahan tapi pasti, aku tau ia sudah bisa membuka diri.

Tapi Luhan masih terlalu berusaha menyangkalnya.

.

.

Siang berlalu dengan cepat dan aku sudah siap di depan kamar Luhan. Ragu-ragu apakah harus mengetuk pintu dan memberitahunya kalau ini sudah saatnya pergi. Atau biarkan saja hingga Luhan keluar dari kamar dengan sendirinya.

Menyerah untuk menunggu lebih lama lagi, kuputuskan untuk masuk. Aku mengetuk pintunya beberapa kali, tapi tak ada jawaban dari dalam. Mulai merasa tidak tenang, kubuka pintu kamarnya. Dan bisa melihat Luhan berdiri di depan jendela yang terbuka. Jendela itu dilapisi kerangka besi dengan ornament rumit. Mengingat dulu ia pernah berkali-kali mencoba mati, aku tidak mau ambil risiko dengan hal itu.

"Luhan, aku sudah siap,"

Ia menoleh sedikit ke arahku, kemudian menarik earphone dari telinganya. Luhan menghisap dalam-dalam rokok terakhirnya, lalu meniupkan asap ke udara sementara tangannya mematikan puntung rokok di atas asbak.

"Oke," sahutnya asal, menyambar tas kecil di atas ranjang dan berjalan keluar ruangan.

Kubiarkan kamar Luhan terbuka agar asap rokok bisa cepat hilang. Sebuah kebiasaan buruk Luhan yang tak bisa dihentikan. Merokok bukan hal yang baik, terlebih dia sedang hamil, itu bisa membahayakan bayinya. Bahkan Kyungsoo dan Zitao sudah melarangnya, dan Luhan akan menuruti mereka untuk sesaat. Lalu saat mereka tidak ada, ia akan mulai merokok lagi.

Dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk melarangnya.

Luhan berjalan mendahuluiku untuk masuk ke mobil sementara aku mengunci pintu rumah. Ia duduk bersandar dengan mata terpejam. Kurasa, ini kali pertama kita berada dalam satu mobil yang sama sejak beberapa bulan lalu.

Berani bersumpah, kami berdua akan canggung sekali.

Perlahan, aku mulai mengemudikan mobil menelusuri jalanan ibukota yang padat di tengah hari di akhir pekan. Luhan tidak bicara sejak tadi, ia hanya menekan layar ponselnya beberapa kali. Dan aku juga tidak tau harus bicara apa sekarang.

Aku berdeham untuk menghilangkan gugup yang mendadak saja menguasai. Kupikir Luhan melihatku, tapi aku tidak berani menoleh ke arahnya. Aku hanya tidak ingin membuat Luhan semakin kesal saat melihatku. Dan itu adalah hal buruk jika moodnya berantakan sekarang.

"Kau tau tempatnya, kan?" tanya Luhan tiba-tiba.

Tentu aku tau, bahkan tempat dimana biasanya Luhan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, aku tau. Memangnya apa yang tidak kuketahui tentang Luhan selama ini. Aku tau semuanya.

Aku menggeleng ringan, sedikit menghembuskan napas berat. "Maaf, aku tidak tau," dustaku.

Bisa kudengar Luhan mendecak sebal, lalu mengetikkan sesuatu pada GPS. "Kupikir kau memata-mataiku selama ini,"

Ya, kau benar. Memang kulakukan.

"Tidak," suaraku terdengar dingin dan aku menyesal sekarang. "Aku percaya pada Zitao dan Kyungsoo,"

Luhan tidak menjawab lagi, cukup lama hingga aku harus melirik ke arahnya, dan ternyata ia masih memandangiku.

"Ada apa?" tanyaku lagi, sadar ia memandangiku cukup lama tanpa alasan yang jelas.

"Tidak ada," balasnya cepat, kemudian memutar tubuh menghindari tatapanku. "Aku hanya ingin bertanya sejauh mana kau sudah mempersiapkan perceraian kita,"

Ah, kau mengatakannya lagi. Bisa tidak, tak usah membahasnya sekarang.

"Jangan khawatir, aku sudah mengatur semuanya," tidak, aku tidak melakukan apapun karena aku tidak ingin bercerai.

"Bagus. Alasan apa yang akan kau katakan pada media?"

Aku menimang-nimang alasan yang mungkin terdengar masuk akal meskipun hal ini belum pernah kupikirkan sebelumnya. Dan Luhan tak memberikanku jeda untuk berpikir lebih jauh lagi. Jadi aku mulai memainkan pikiran gila dalam otak.

"Masuk akal tidak jika aku memilih pergi bersama wanita lain?" tanyaku, sedikit mengernyit saat berhasil mengatakan hal itu.

Luhan berhenti sejenak untuk berpikir dan aku mengamati wajahnya diam-diam. "Masuk akal. Sekertarismu?"

"Maksudmu, kau suruh aku berpura-pura berselingkuh dengan Minseok?' kali ini, suaraku terdengar lebih keras dari sebelumnya, tentu saja aku terkejut mendengar pemikiran kotor Luhan.

Ia terkekeh ringan, dan entah kenapa suara tawanya membuatku sedikit tenang.

"Masuk akal, Sehun. Bukannya dia satu-satunya wanita yang ada disampingmu selama ini?" tanyanya lagi.

Aku nyaris mengerang karena kesal, tapi urung kulakukan. "Minseok sudah punya suami,"

"Bagaimana kalau Zitao?"

"Kupikirkan nanti," jawabku, mengakhiri pembicaraan tidak penting ini sepihak.

Dan beruntungnya, kami sudah sampai di rumah sakit sementara Luhan juga tidak bicara lebih banyak lagi. Aku mencari tempat parkir yang paling dekat dan membiarkan Luhan berjalan mendahuluiku menuju meja pendaftaran.

Aku mengekor di belakangnya, seperti orang bodoh karena ini kali pertama mengantarkan istriku sendiri menemui dokter kandungan. Disekitarku ada banyak sekali lelaki yang duduk dengan istri mereka yang sedang hamil. Wajah mereka tampak bahagia meskipun menunggu di ruang tunggu dokter adalah hal yang paling membosankan.

"Tuan Oh," sapa perawat di meja resepsionis, Luhan memandangiku sementara aku tersenyum kaku menjawab sapaan perawat itu. Dan jujur saja, aku belum pernah bertemu dengan perawat itu sebelumnya.

"Selamat siang," sapaku.

"Nyonya Luhan selalu pergi kesini bersama temannya, dan senang bisa bertemu denganmu," ucapnya, terdengar sarkas, tapi dia memang benar.

Aku memang bukan suami yang baik untuk Luhan.

Kupaksakan seulas senyum canggung dan Luhan hanya memandangiku sebentar. "Dia sibuk sekali," ucapnya pada sang perawat, kemudian keduanya sama-sama tersenyum.

Perawat muda itu tersenyum, mencatat nama Luhan dikomputernya, kemudian mempersilahkan kami duduk untuk menunggu. Dan aku, mengikuti Luhan, duduk disampingnya, menatap sekelilingku dengan canggung. Takut-takut kalau ada orang yang mengenaliku. Bukan apa-apa, rasanya berdosa karena tidak pernah mengantarkan istri sendiri periksa kandungan.

"Kau selalu kesini dengan Kyungsoo, ya?" tanyaku dengan suara tipis, sebenarnya aku sudah tau hal itu, hanya saja, aku ingin memulai pembicaraan dengan Luhan.

Aku tidak tahan terus menerus terjebak dalam diam. Selain itu, sepertinya aku ingin terlihat normal disini.

Luhan mengangguk beberapa kali. "Dengan Kyungsoo, juga Zitao," balasnya singkat.

"Apa yang biasa kalian lakukan disini?" oke, itu terdengar seperti pertanyaan bodoh, tapi aku akan melakukan apapun untuk tetap bicara dengan Luhan.

Bahu gadis itu terangkat acuh. "Tidak banyak, biasanya sepulang dari sini, Kyungsoo akan mengoceh banyak hal tentang hidup sehat dan Zitao selalu mengajakku makan siang setelah diperiksa,"

"Kau mau makan siang setelah ini?"

Aku tau Luhan mengembuskan napas berat, lalu ia menggelengkan kepala beberapa kali. "Nafsu makanku sedang tidak baik,"

Apa itu karenaku?

"Oke, nanti saja," sahutku, berusaha tidak terdengar menyebalkan meskipun aku kesal setengah mati.

"Luhan," sebuah suara membuat kami menoleh secara bersamaan kearah kanan. Dan disana, aku bisa melihat seorang gadis muda melambaikan tangan ke arah kami berdua. Ia tersenyum lebar, kemudian berjalan mendekat.

Sepertinya aku pernah bertemu gadis ini sebelumnya, tapi dimana, aku lupa.

Luhan juga tersenyum lebar. "Hey, Baekhyun," sapanya dengan suara keras, kemudian berdiri dan memeluk gadis itu sebentar.

Baekhyun?

"Hey, apa kabar?" sapa Baekhyun. "Hey, Sehun," ia menyapaku kali ini.

"Halo," sahutku, terdengar sangat canggung dan aku memaksakan seulas senyum lagi sekarang.

"Kupikir aku tidak akan bertemu denganmu disini," ucap Luhan. Sepertinya mereka berdua terdengar sangat dekat sekarang. "Kau tidak ingat Baekhyun, Sehun?" tanya Luhan padaku, dan aku terkejut mendengar perubahan suaranya yang mendadak saja terdengar riang gembira.

Oke, itu hanya akting, sekedar mengingatkan saja.

"Maaf, rasanya aku pernah bertemu dengan Baekhyun sebelumnya," bisikku tipis, berusaha untuk jujur meskipun mungkin Baekhyun akan merasa sedikit kesal dengan itu.

Luhan merengut ke arahku dan aku mengangkat bahu. "Ini istri Chanyeol,"

Chanyeol?

Bajingan itu?

"Ah, ya, aku ingat," tidak juga kurasa. Siapa dia?

"Wajar saja, aku hanya bertemu dengan Sehun saat pernikahan kalian dulu. Satu kali," Baekhyun menjawab dengan suara yang sama gembiranya dengan Luhan. "Hey, aku tidak tau kau sudah hamil. Selamat ya," ucapnya, memandangiku dan Luhan bergantian.

"Terima kasih," Luhan tertawa renyah. "Masih baru beberapa bulan," tambahnya, sekarang mengsuap perutnya dengan lembut, kupikir mataku salah lihat atau memang Luhan seolah sudah menyayangi bayinya itu.

"Kau tampak lebih cantik sekarang, kupikir itu bayi perempuan," tambah Baekhyun lagi.

Bayi perempuan?

"Ya, aku juga ingin bayi perempuan," sahut Luhan dengan tawa lagi.

Apa aku bermimpi sekarang?

"Kenapa kau sendirian, Baekhyun?" tanya Luhan,.

Baekhyun mendesah ringan. "Chanyeol sedang berada di Hongkong minggu ini dan sekarang jadwal terapiku,"

"Terapi?" Luhan sedikit meninggikan suaranya. "Apa ada masalah?"

Satu hembusan napas berat keluar dari bibir Baekhyun dan mendadak saja Luhan meraih tangan gadis itu. Membuat Baekhyun tersenyum sedikit, menatap Luhan dengan raut wajah penuh kesedihan.

"Aku sudah menikah selama empat tahun dengan Chanyeol dan aku belum hamil juga," ia berhenti sebentar untuk bernapas. "Dokter bilang tidak ada masalah dengan Chanyeol dan kupikir itu salahku,"

"Jangan menyalahkan diri sendiri, Baekhyun. Mungkin waktunya saja belum tepat," jawab Luhan, suaranya terdengar begitu lembut dan menenangkan.

"Ya, kuharap begitu. Ada sesuatu yang salah dengan kandunganku dan aku sedang berusaha mengobatinya," jawab Baekhyun dengan kepala tertunduk.

Luhan menyenggol lenganku dengan sikunya, memberikan isyarat padaku untuk bicara tapi aku tidak tau harus berbuat apa. Aku mengatakan kata 'apa' tanpa suara dan Luhan memutar bola mata sebal karena itu.

Ah, kau ingin aku mengatakan sesuatu pada Baekhyun, ya?

Oke, oke, aku coba.

"Terapi itu pasti berhasil, Baekhyun," ucapku ragu-ragu, khawatir itu adalah pilihan kata yang salah untuk diucapkan saat ini. "Jangan khawatir," aku menambahkan.

Baekhyun menganggukkan kepala beberapa kali, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kuharap juga begitu,"

"Jangan putus asa, ya," tambah Luhan. "Semua akan baik-baik saja,"

Oke, sejak kapan Luhan menjadi sebaik ini?

Kupikir Luhan baik pada semua orang di dunia ini kecuali padaku –ah, dan pada Minseok juga, sekertarisku yang sangat ia benci hingga sekarang.

Saat nama Baekhyun dipanggil melalui pengeras suara, Luhan memeluknya sebentar. Baekhyun melambaikan tangan padaku dan Luhan, kemudian punggung mungilnya menghilang di balik pintu. Selepas Baekhyun pergi, kami berdua kembali terjebak dalam diam.

Suara berisik ada disekitar, tapi hening panjang diantara kami.

Akting Luhan sudah berakhir dan ia kembali menjadi Luhan yang sedingin bongkahan es.

"Kurasa aku harus sering-sering mengunjungi Baekhyun dan memberinya semangat," Luhan berkata tiba-tiba setelah ia berpikir cukup lama.

"Ide bagus, dia sepertinya butuh teman," jawabku sekenanya.

Aku tidak tau harus mengatakan apalagi sekarang.

"Seseorang menginginkan bayi disaat aku tidak menginginkannya. Kenapa Tuhan tidak memberikan bayi ini pada Baekhyun? Kenapa Tuhan harus memberikan bayi ini padaku dan membuatku tersiksa? Baekhyun lebih membutuhkan bayi ini daripada aku," Luhan mengatakan itu seolah bicara dengan diri sendiri.

Dan aku tidak bisa memikirkan apapun untuk menjawab pertanyaannya.

.

.

Sore menjelang malam, aku menemani Luhan makan. Bukan menemani lebih tepanya, karena Luhan makan sambil menonton televisi sementara aku memandanginya dari jauh di meja kerjaku sambil menyelesaikan pekerjaan yang kubawa dari kantor kemarin.

Jujur saja, bagiku, akhir pekan itu tidak ada.

Akhir pekanku akan dimulai jika pekerjaanku sudah selesai.

Sadar sudah lama aku terjebak dalam pekerjaanku, bisa kudengar suara televisi yang mendadak saja mati dan langkah kaki Luhan mendekat. Berusaha mengabaikannya, aku kembali membaca berkas-berkas yang sejak tadi sudah membuatku bosan setengah mati.

Saat yang bersamaan, pintu ruang kerjaku diketuk. Dan saat aku menoleh, Luhan berdiri disana dengan raut wajah yang terlihat ragu-ragu. Aku tak bisa membaca pikirannya tapi sepertinya Luhan tampak sedang gelisah sekarang.

Ada apa?

"Sehun," panggilnya dengan suara tipis.

"Kau butuh sesuatu?" tanyaku dengan suara yang sama tipisnya, aku tidak ingin menunjukkan ekspresi apapun padanya.

Luhan menimang-nimang sebentar sambil masih berdiri di depan pintu sementara aku menunggunya bicara tanpa ingin menginterupsi pikiran-pikirannya sekarang.

"Apa kau sibuk?"

Apa kau bilang?

"Well, tidak juga. Ada yang bisa kulakukan untukmu?" berusaha tidak terdengar terlalu bersemangat, aku mengatur napas.

Luhan memandangiku sejenak, mungkin mengamati wajahku yang tampak bingung. "Boleh aku masuk?" tanyanya.

Oke, mungkin ini yang Zitao sebut dengan mood swing. Luhan kesal melihatku siang tadi, tapi tidak pada malam harinya. Mungkin ini juga yang selalu membuat Zitao dan Kyungsoo bingung.

Mood swing orang hamil itu tidak bisa ditebak.

"Tentu, tentu," sahutku, terdengar begitu bersemangat. Aku berdiri, mengambil beberapa kertas dari atas sofa dan membiarkan Luhan duduk disana. "Kau butuh sesuatu?"

"Tidak," ia menggelengkan kepala sekali. "Aku hanya bosan,"

Bosan, kau bilang?

"Dan sepertinya kau akan lebih bosan lagi jika melihatku bekerja," aku sedikit tertawa canggung dan yang lebih mengejutkan lagi, Luhan tersenyum mendengar ucapanku. Luar biasa sekali. "Kau mau pergi ke suatu tempat? Aku bisa mengantarmu,"

Luhan menggeleng kuat-kuat. "Tidak, aku hanya ingin melihatmu saja,"

Apa kau bilang?

Telingaku sudah rusak, ya?

.

.

"Zi, apa masuk akal kalau Luhan ingin melihatku bekerja?" tanyaku pada Zitao melalui sambungan telepon malam harinya saat kupastikan Luhan benar-benar sudah tidur di sofa ruang kerjaku. Setelah beberapa jam menungguiku bekerja, akhirnya ia terlelap juga.

Diseberang sana, Zitao sedikit tertawa. "Aku tidak terkejut, Tuan," balasnya, membuatku mengerutkan kening bingung. "Itu bukan keinginan Luhan,"

"Apa maksudmu?" tanyaku, masih berbisik.

"Itu keinginan bayinya. Bayinya yang mendorong Luhan melakukan hal itu. Tentu saja, Tuan, itu anakmu. Wajar saja ia ingin melihat ayahnya,"

Dan aku tidak bisa mencerna ucapan Zitao dengan baik.

"Kau pikir itu masuk akal. Dia belum jadi bayi, maksudku, itu masih di dalam kandungan Luhan. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu?" aku mendebatnya lagi, kemudian melirik Luhan sekilas dan memastikan gadis itu tidak bangun dari tidurnya.

Suara tawa Zitao terdengar lagi. "Ada ikatan antara Luhan dan bayinya. Juga ikatan antara ayah dan bayinya. Itu hal yang wajar, coba cari saja di internet," balasnya masih dengan tawa renyah.

"Aku tidak mengerti," jawabku lagi. "Sudah kalau begitu, maaf mengganggu waktu liburanmu. Selamat bersenang-senang di Shanghai. Sampaikan salamku pada orang tuamu,"

"Oke," sahut Zitao. "Hubungi saja aku jika ada apa-apa. Sampai jumpa minggu depan, Tuan Oh," balasnya, kemudian mematikan sambungan sepihak.

"Sehun," suara parau Luhan membuatku nyaris tersentak. Aku menoleh kearahnya lagi, khawatir dia mendengar semua pembicaraanku dengan Zitao, tapi mata Luhan masih terpejam.

Sepertinya ia mengigau dalam tidurnya.

"Oh Sehun," ucapnya lagi dan aku berjalan mendekat. Ragu-ragu duduk di samping tubuhnya, juga gugup saat menyentuh tangannya yang terasa dingin. Dan saat kulit kami bersentuhan, mata Luhan sedikit terbuka.

"Hey, kau baik-baik saja?" tanyaku, berusaha tidak mengejutkannya. Aku melepaskan tangannya, khawatir ia akan kesal saat kusentuh.

Tangan Luhan terangkat ke udara dan jemarinya menyentuh pipiku. Aku mendekatkan wajah, berusaha mendengar ucapannya yang tidak jelas. Bibir Luhan terbuka, tapi tidak ada kata yang bisa kudengar keluar dari sana.

"Maafkan aku, Sehun," bisiknya lagi, kemudian kembali memejamkan mata dan tangannya jatuh dari wajahku.

Kau sedang mimpi buruk ya, Luhan?

Tanpa sadar, kusentuh perutnya yang sedikit membuncit, mengusapnya perlahan dan lembut. Kurasa ini kali pertama sejak terakhir kali aku menyentuh perut Luhan saat di rumah sakit. Dan Luhan juga yang membuatku merasa jauh dengan anakku sendiri.

Bahkan aku belum pernah menyentuh perutnya setelah usia kehamilannya beberapa bulan.

Perlahan, kuangkat tubuh ringan Luhan dan memindahkannya ke kamar. Aku hanya tidak ingin dia menghabiskan malam di dalam ruangan kerjaku dan tidur di sofa.

.

.

Aku bisa merasakan sesuatu yang dingin menyentuh wajahku. Tapi rasanya masih terlalu awal untuk bangun. Lagipula ini masih hari minggu, masih ada satu hari kosong sebelum kembali bekerja di senin pagi.

"Sehun, bangun," dan aku langsung membuka mata saat mendengar suara Luhan.

Hal pertama yang kulihat adalah wajah Luhan tepat di depan wajahku. Dan aku berada di kamar Luhan. Aku mengerjapkan mata beberapa kali berusaha menyadarkan diri sendiri dari mimpiku tapi rasanya aku memang sudah benar-benar bangun sekarang.

Jemari Luhan masih berada di pipiku dan aku memandanginya dengan tatapan bodoh.

"Kenapa kau tidur di kamarku?" tanyanya lagi.

Aku?

Sial, aku pasti ketiduran semalam.

"Ah, itu," ucapku gugup. Aku hendak berdiri tapi ternyata kepala Luhan berada di atas lengan kananku. Dan kami sedang berbaring berhadapan di atas ranjangnya. "Sepertinya aku ketiduran disini semalam, maaf," aku berbisik tipis, kemudian tersenyum canggung.

Luhan masih tidak memindahkan kepalanya dari atas lenganku dan aku juga tidak bisa menariknya dengan paksa.

"Kau tidak menyentuhku, kan, semalam?" dan aku terkejut mendengar pertanyaannya.

"Tidak, tentu saja tidak," sahutku cepat-cepat. "Semalam kau ketiduran di ruang kerjaku dan aku membawamu kesini. Maaf sepertinya aku ketiduran," ucapku, nyengir.

Dan Luhan terkekeh ringan, membuatku mengerutkan kening bingung. Mulai berpikir mungkin saja aku masih bermimpi sekarang dan melihat Luhan yang sudah berkelakuan baik padaku. Tapi rasanya ini bukan mimpi karena aku bisa merasakan tangan kananku yang keram di bawah kepala Luhan.

"Aku tidak mau bangun," ucapnya, masih tertawa-tawa kecil.

Kau bicara apa, Luhan. Masih mengigau, ya?

"Kenapa?" tanyaku, bingung sebenarnya.

Ia tersenyum lagi. "Biarkan saja aku tidur disini sampai tanganmu mati rasa," ia melirik lenganku sekilas dan aku membalasnya dengan senyuman kecut.

"Ya, ya, jika seperti ini terus rasanya tanganku bisa diamputasi," aku bergurau dan dia tergelak mendengar ucapanku.

Benar ini Luhan?

Luhan mengangkat kepalanya dan aku menarik tanganku cepat-cepat, kemudian bisa merasakan lenganku yang nyaris mati rasa. Bagaimana bisa semalaman penuh Luhan tidur diatas lenganku. Tapi aku tidak menyesal sama sekali.

"Bangun, Sehun. Kau harus mandi sekarang," ucapnya masih dengan kekehan ringan, kemudian susah payah bangun sambil memegangi perutnya. Ia mengernyit sedikit seperti sedang merasa sakit, sebelum akhirnya menarik napas dalam-dalam.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku sambil berusaha memegang tubuhnya.

"Ya," sahut Luhan cepat, kemudian berdiri perlahan dan mengusap perutnya beberapa kali. "Dia selalu seperti ini setiap pagi,"

Dia?

Senang kau tidak menyebutnya 'janin' lagi.

"Butuh sesuatu?" tanyaku lagi.

Luhan berpikir sejenak. "Aku ingin sarapan ayam goreng dan telur setengah matang,"

"Oke," sahutku ringan, kemudian punggung Luhan yang menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Apa aku masih bermimpi sekarang?

Bagaimana bisa Luhan berubah secepat ini padaku. Apa yang sudah dikatakan dokter kandungan padanya kemarin.

Ini hal bagus, tapi kenapa aku merasa ada yang ganjil.

.

.

Untuk pertama kali dalam beberapa bulan terakhir, aku dan Luhan duduk berdampingan untuk sarapan. Kami makan di depan televisi karena Luhan tidak ingin ketinggalan berita paginya. Dan dia makan dengan lahap, nyaris menghabiskan satu kotak penuh ayam goreng yang kupesan lewat jasa pesan antar.

Sementara aku cukup kenyang hanya dengan melihatnya makan.

"Ada rencana hari ini?" tanyaku setelah kami kembali terjebak dalam diam yang panjang.

Luhan berpikir sejenak. "Tunggu dulu, aku harus membersihkan ini," jawabnya dengan nada suara yang terdengar riang. Kemudian berlarian kecil menuju wastafel sementara aku memandanginya dengan kening berkerut dalam.

Oke, dia aneh sekali.

"Sehun, semalam aku bermimpi aneh," kata Luhan dari dapur, ia nyaris berteriak.

"Mimpi apa?" tanyaku, berjalan menghampirinya untuk membuang kotak ayam kosong. Ia mengeringkan tangannya dengan handuk, kemudian menatapku dengan raut wajah seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Aku mimpi tidak lagi membencimu,"

Apa kau bilang?

Aku mengerutkan kening bingung, cukup bisa membuat Luhan mengerti bahwa aku tidak memahami ucapannya.

"Maksudku, dimimpiku, aku tidak membencimu. Dan saat bangun rasanya juga aneh," ia mengangkat bahu acuh dan meminum susu dingin dengan satu kali teguk.

"Oh ya?" sialnya, hanya itu yang bisa kukatakan sekarang.

Aku terlalu bingung.

"Saat melihatmu ada di ranjangku pagi ini, rasanya aku kesal sekali. Tapi itu hanya sebentar, selanjutnya aku tidak merasa kesal lagi. Aneh, kan?"

Ya, aneh sekali.

Luhan berjalan kembali dan duduk di depan televisi sementara aku mengikutinya. Dalam hati mulai menimang-nimang apakah aku harus mengatakan apa yang Zitao katakan semalam atau tidak. Aku duduk di sampingnya, cukup hati-hati untuk memulai pembicaraan.

"Apa terjadi sesuatu denganmu belakangan ini?" aku memberanikan diri untuk bertanya.

Ia menggeleng. "Tidak banyak," sahutnya. "Rasanya aneh saja, seolah tubuhku dikendalikan oleh orang lain,"

Kau merasakan itu juga?

"Mungkin karena bayinya," sahutku, terdengar gamang.

"Ya, mungkin juga," balasnya acuh. Luhan mengambil sekotak rokok dari samping televisi. Ia mengeluarkan satu batang rokok ramping berwarna hitam dari sana, menjepitnya diantara bibir, kemudian mengambil pemantik api dari atas meja.

"Luhan," ucapanku membuatnya menoleh dan berhenti berusaha menyalakan api. "Apa kau bisa berhenti merokok dulu? Aku khawatir dengan bayinya," aku nyengir, kemudian sedikit mengernyit, siap mendengarkan umpatan yang akan Luhan keluarkan dari mulutnya.

"Oh, oke, sorry," jawabnya singkat, ia tersenyum sedikit, kemudian kembali memasukkan rokok pada kotaknya. "Aku lupa lagi, Sehun. Maaf ini sudah kebiasaan," ia nyengir.

Apa baru saja kau menuruti perkataanku, Luhan?

Ini gila.

.

.

TBC

.

.

YAASHHHH AUTHOR KEMBALI KARENA INI APRIL DAN FF HUNHAN HARUS DIUPDATE DONG KARENA APRIL ADALAH BULANNYA HUNHAN

ASYIIIKKK

Maaf ya kalau lama dan semoga tidak mengecewakan. Sepertinya ini sudah mau mendekati END nih ehehehe. Gimana gimana ceritanya semakin kesini semakin gimana? Hehe.

Itu aja dulu untuk chapter ini.

Kedepannya, Author usahakan untuk fast update dan tentu saja jangan lupa sampaikan kritik, saran, dan komentar kalian ya dikolom review.

Sekian dari lolipopsehun semoga FF yang lain bisa segera diselesaikan hehe.

APRIL PROJECT HUNHAN? Jangan khawatir, silahkan ditunggu updatean selanjutnya untuk FF EVENT hehe.

Oke, jangan lupa review ya semuanya.

See yaa~

With love,

lolipopsehun