Previous
"Aku rasa kita tidak bisa tinggal bersama lagi-...Kita semua." Katanya menambahkan dengan perasaan yang begitu gundah dan tak menyangka akhir dari kisah pertemanan mereka akan berakhir secepat ini.
"Luhan."
"Aku rasa sudah cukup kita berteman hampir lima belas tahun lamanya. Sudah waktunya kita menjalani kehidupan tanpa mencampuri urusan pribadi kita masing-masing. Kita tetap akan bertemu dikampus. Aku akan tetap kuliah-...kalian tenang saja. Tapi untuk tinggal bersama-... aku rasa aku tidak bisa." Katanya kembali tertunduk menggigit kencang bibirnya merasa sangat hancur berkeping saat ini.
"Kita tetap teman. Hanya saja-...Hilangkan kata teman kecil dari kita. Aku rasa itu tidak tepat karena itu hanya kalimat tanpa makna. Senang bisa tumbuh bersama kalian. Semoga kalian berbahagia dengan pilihan kalian."
Luhan masih menenangkan dirinya sampai dia kembali menatap ketiga prianya yang hanya diam tak berucap saat ini "Aku lelah." Katanya menghapus cepat air matanya dan perlahan berjalan meninggalkan ketiga prianya yang terlihat terkejut dan sama hancurnya dengan dirinya saat ini.
.
.
.
.
.
.
The first time i saw you, my hearth whispered
"that's the one"
.
.
.
.
.
Triplet794 Present new story :
My Forever Crush
Main Pair : Sehun & Luhan
Support pair : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Other Pair : Song Joong Ki as Oh Joong Ki : Sehun's Dad
Miranda Kerr as Oh Miranda : Sehun's Mom
Kang Gary as Xi Gary : Luhan's Dad
Song Jihyo as Xi Jihyo : Luhan's Mom
Genre : Romance, Friendship
Rate : T & M
.
.
.
.
.
.
.
Brrmmm...Brrmm!
Brrmmm!
Saat ini Luhan membawa mobil Kai dengan kecepatan tinggi. Kakinya menginjak kuat gas mobil sementara tangannya mengepal erat pada kemudi. Dia menerobos apapun yang menghalangi jalannya. Sama sekali tak menggunakan seatbelt dan hanya pergi membawa mobilnya sekencang mungkin.
"YA AKU PERCAYA KAU YANG MELAKUKANNYA! KAU MEMBENCI JIYEON DAN AKAN MELAKUKAN APAPUN UNTUK MELUKAINYA!"
"Sial!"
Luhan mengumpat sangat marah dan terluka mengingat bagaimana Sehun menuduh dirinya yang melakukan tindakan serendah itu pada Jiyeon. Membuat tak terasa air mata jatuh begitu saja melewati pipinya.
Menggunakan tangan kiri untuk mengusap air matanya adalah hal kedua yang membuat Luhan begitu marah. Kenapa?-...Karena menangis dalam keadaan seperti ini hanya menunjukkan kalau dirinya begitu lemah tanpa ketiga teman kecilnya yang selalu berada di sekitarnya.
"Oh ayolah! Aku bisa tanpa kalian!" katanya semakin menggeram dan
Ckit...!
Tin..! tin...!
Di tengah keramaian jalan dengan lampu hijau yang menandakan mobil masih bisa melintas-..Luhan dengan sesukanya berhenti tiba-tiba. Membuat mobil dibelakangnya membunyikan klakson dengan marah dan tak jarang yang mengumpat untuk memakinya.
Luhan sendiri masih sangat kesal saat ini. Sikap Kai dan Chanyeol serta ucapan Sehun masih terngiang sangat jelas di benaknya. Membuat wajahnya yang tersembunyi di kemudi mobil semakin memerah dengan hati yang luar biasa marah dan sangat membenci semua yang berkaitan dengan Jiyeon dan hidupnya.
Tin..tin...
Luhan masih dengan jelas mengganggu lalu lintas jalan di kota Seoul di malam dingin seperti ini. Masih berpikir bagaimana cara agar melupakan hari ini sampai
Brmmmm..!
Luhan kembali menginjak cepat gas mobilnya. Lalu dalam radius lima puluh meter dia tiba-tiba membanting stir ke kanan dan masuk ke jalur yang berlawanan dengannya
Tin...tin...!
Wajah cantik itu tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun-...Sebaliknya berjalan lawan arah dengan mobil yang nyaris menabrakan diri dengannya adalah satu-satunya hal yang sangat ia sukai malam ini. Dan jangan sebut dirinya pembalap "liar´di malam hari, jika hanya menghindari mobil yang berhadapan dengannya tak bisa ia lakukan.
Nging...nging...!
"Sial!"
Kesenangan Luhan seolah hanya berlangsung kurang dari sepuluh menit, karena saat dirinya sedang menikmati sensasi meregang nyawa seperti ini, suara sirene polisi terdengar di belakangnya. Berniat mengabaikan kejaran polisi mungkin akan dia lakukan kalau tidak mengingat masalah akan semakin panjang jika dia melarikan diri.
Tin...Tin!
Kali ini tak hanya suara sirene yang begitu mengganggu fokusnya. Bunyi klakson yang sengaja ditekan untuk memberinya peringatan membuat Luhan tak memiliki pilihan lain selain
Ckit..!
Luhan tiba-tiba membelokan mobilnya ke tempat sepi. Tidak berniat menepi hanya menghentikan sesaat mobilnya sebelum dua polisi lalu lintas yang berjaga terlihat menutup kesal pintu mobil mereka dan mulai berjalan mendekati mobil Luhan lalu mengetuk kasar pintu mobilnya.
"BUKA!"
Katakanlah Luhan hampir tidak memiliki rasa takut malam ini. Karena daripada membuka pintu mobil, dia lebih memilih untuk menurunkan jendela kaca mobilnya dengan raut yang terlalu menantang membuat kedua polisi tersebut terlihat sangat marah.
"Hey bocah! Apa kau mabuk?"
"Ck! Siapa yang kau panggil bocah?" katanya mengumpat membuat kedua polisi yang mendengarnya semakin marah melihat tingkah Luhan
"KALAU KAU TIDAK MABUK CEPAT KELUAR ATAU KAU AKAN DALAM MASALAH SERIUS DAN MENERIMA HUKUMAN KARENA TINDAKANMU YANG MEMBAHAYAKAN NYAWA SESEORANG!"
Luhan menutup satu telinganya saat polisi yang memilik postur tubuh gemuk bertanya padanya. Sedikit menoleh sebelum menatap kedua polisi yang sangat mengganggunya saat ini "Kalau begitu hukum aku." Katanya menantang membuat kedua polisi tersebut semakin menggeram dan
"YAK!"
.
"Jadi aku akan dihukum? Kalau begitu cepat masukan aku kedalam sel. Aku lelah"
Berada di tempat yang dikenal dengan sebutan kantor polisi adalah hal baru untuk Luhan. Dan sebagai remaja normal yang dibawa ke tempat menyeramkan seperti kantor polisi harusnya Luhan merasa takut bukan terus tersenyum bahkan meminta masuk kedalam sel hanya karena dia lelah. Membuat polisi yang sedang mengiterograsi dirinya sedikit memicingkan mata dengan tangan yang terlipat sedikit menyelidik memperhatikan Luhan
"Masuk ke dalam sel bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan kekacauan yang kau buat. Lagipula kau masih terlalu kecil untuk masuk kedalam sel hanya karena membawa mobil dalam kecepatan tinggi."
"ck. Bertele-tele sekali! Kalau aku tidak akan dihukum lalu kenapa aku ada disini? Apa aku boleh pulang sekarang?"
"Kau diperbolehkan pulang saat orang tuamu datang menjemputmu. Kami harus berbicara dengan kedua orang tuamu"
"Aku sudah bilang orang tuaku sibuk. Atau mungkin mereka sudah melupakan aku. Entahlah." Katanya tertawa getir dan kembali berharap kalau dirinya segera bisa beristirahat karena tubuh dan pikirannya sudah tidak mau bekerjasama dengan dirinya.
"Ya kami tahu. Ayah dan ibumu-...Tak ada satu pun dari mereka yang mengangkat satupun panggilan dari ponselmu." Katanya memberitahu Luhan yang daripada terlihat senang lebih terlihat sedih saat polisi didepannya memberitahu kalau kedua orang tuanya sama sekali tak mengangkat panggilan yang polisi buat dari ponsel miliknya.
"whoa...Mereka benar-benar membuatku marah." Katanya berusaha tertawa namun gagal karena hanya suara bergetar yang terdengar. Luhan bahkan mengusap kasar wajahnya berulang sampai sang polisi kembali bersuara dan kali ini sedikit banyak menarik perhatiannya.
"Kau tenang saja. Seseorang sedang dalam perjalanan ke kantor polisi saat ini."
Kepala Luhan mendongak menatap polisi yang terus bertanya padanya. Menatap bingung sebelum sedikit mengepal berharap itu bukan salah satu dari tiga teman kecilnya atau ketiga teman malamnya yang datang menjemputnya saat ini "Siapa?"
"Kontak dengan nama kakek di ponselmu."
"Kakek?"
Luhan sendiri bahkan bertanya-tanya siapa kakek yang dimaksud polisi tersebut. Sedikit berpikir keras sesekali menebak sebelum
"XI LUHAN!-...ASTAGA ANAK INI BENAR-BENAR NAKAL!"
Mendengar suara teriakan yang kembali ditujukan untuknya membuat Luhan sedikit menoleh ke asal suara. Memicingkan matanya untuk mengenali sosok tua yang berjalan menggunakan tongkat dengan dua penjaga yang berjalan di samping kiri kanannya. Luhan masih menatap kakek tua yang kini sedang melayangkan tongkat seolah ingin memukulnya sampai
"Ah benar-...Kakek!"
Dan akhirnya Luhan mengeluarkan kalimat pengakuan yang menyatakan dia mengenal kakek yang sedang menatap kesal padanya. Sedikit berdiri dan membungkuk untuk menyapa kakek tua yang dikenalkan oleh sang ibu tepat sebelum kepergiannya dan sang Papa ke Beijing beberapa waktu yang lalu.
"Haraboji anyeong." Katanya menyapa si kakek sebelum
Pletak!
"YAK!"
Luhan sendiri secara refleks berteriak saat tongkat sang kakek mengenai kepalanya. Membuat si kakek sedikit terkejut dan semakin memukul Luhan berulang dengan tongkatnya "Dasar anak nakal! Ini sudah larut dan apa yang kau lakukan di kantor polisi dasar anak nakal!"
Ayah angkat Garry terus memukul pelan tubuh putra sulung Garry. Membuat susana di kantor polisi tersebut mendadak terasa seperti sebuah drama dengan judul Kemarahan sang Kakek pada cucunya yang terlihat mengesalkan namun sangat tampan dan cantik dalam waktu bersamaan! Membuat pengawal si kakek beserta polisi yang menginterograsi Luhan hanya bisa menggelengkan kepala mereka menyaksikan bagaimana cucu dan kakek didepan mereka bertengkar layaknya bocah enam tahun.
"Tuan Kim..."
"APA?" Kakek Kim tak sengaja membalas berteriak polisi yang memanggilnya, membuat keadaan menjadi tegang sebelum kakek Kim menyadari kesalahannya "ah-...Maafkan aku. Aku tidak bermaksud berteriak. Aku hanya kesal pada cucuku." Katanya tertawa dengan tangan yang terus mencubit kencang lengan Luhan dan mengabaikan raut wajah Luhan yang tampak kesakitan.
"Jadi apakah cucuku boleh pulang?" katanya kembali bertanya pada polisi yang kini memperisilahkan kakek Kim untuk duduk "Tentu saja bisa-... Setelah kau menandatangani beberapa surat, kau bisa membawa cucumu yang begitu keras ini untuk segera pulang dan tidur. Bukan berkeliaran dengan mobil mewahnya."
"Maafkan cucuku. Orang tuanya terlalu memanjakan dia sewaktu kecil. Maka tidak heran jika dia tumbuh menjadi anak arogan yang keras kepala?"
"Memanjakan katamu? Aku dibuang." Timpal Luhan membuat
"arrrhh.."
Seketika suara teriakan kesakitannya kembali keluar saat ayah angkat papanya menginjak kuat kaki kanannya "KAKEK!"
"Diam kau-...Cepat bawa dia ke mobil. Aku akan menyelesaikan kekacauan yang anak nakal ini buat lalu menyusul ke mobil." Katanya memberi perintah pada penjaganya membuat Luhan menggeleng sebagai tanda penolakan sebelum
"y-YAK! LEPASKAN AKU!"
Dan kali ini sang kakek yang tersenyum menang. Melihat bagaimana wajah kesal Luhan meronta meminta di lepaskan sungguh menjadi pemandangan yang indah untuknya. Merasa tersenyum begitu senang karena pada akhirnya Luhan akan berada di bawah pengawasannya "Aku rasa akan sulit mengendalikan putra kalian." Katanya bergumam kecil sebelum berbicara dengan polisi dan berniat untuk menyelesaikan dengan cepat segala kekacauan yang telah Luhan lakukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cklek...!
Terdengar suara pintu kamar dibuka perlahan. Menampilkan seorang pria tua dengan tongkat yang membantunya berjalan tengah menghampiri remaja dengan tingkat emosi melebihi rata-rata yang kini tengah terlelap di kamar super nyaman yang memang telah ia sediakan untuk Luhan di hari dimana Jihyo memintanya untuk menjaga putra kecilnya.
Si kakek berjalan perlahan mendekati Luhan, sedikit tersenyum kecil saat mendengar suara dengkuran khas milik Luhan yang menandakan kalau putra sulung Jihyo dan Garry memang tengah tertidur pulas saat ini "Maaf membentakmu."
Luhan sedikit menggeliat dan membalikan tubuhnya ke arah berlawanan saat sang kakek mengusap lembut dahinya. Sedikit menarik selimut sebelum kembali terdengar suara dengkuran halus yang dikeluarkan Luhan dalam tidurnya. Membuat sang kakek hanya bisa memperhatikan punggung Luhan dengan senyum bahagia yang jelas terlihat di wajahnya karena setidaknya bisa menepati janjinya pada Jihyo untuk menjaga Luhan.
"Baiklah. Kita bicara besok pagi. Kau terlihat lelah." Katanya bergumam membenarkan selimut untuk Luhan. berniat untuk pergi sebelum
"Haraboji.." Sang kakek sedikit menaikkan dahinya saat suara Luhan memanggilnya . Membuatnya kembali duduk di tepi ranjang dengan Luhan yang masih tidur dengan membelakangi dirinya.
"eh? Kau belum tidur."
"Aku sudah." Katanya menjawab membuat kakek Kim kembali tersenyum karena tingkah Luhan yang bisa dibilang sangat menjengkelkan namun terlihat menggemaskan jika dia mengutarakannya sedikit lebih lembut tanpa berteriak.
"Lalu kenapa memanggilku?"
"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih."
Suasana hening sempat terasa saat Luhan si arogan dengan kasta tertingginya mengucapkan terimakasih pada kakek yang pada pertemuan pertama mereka sangat tidak ia sukai. Membuat hati sang kakek sedikit menghangat sebelum mengusap lembut punggung Luhan yang masih membelakanginya "Tidak perlu berterimakasih. Lagipula untuk apa kau berterimakasih?"
"Untuk banyak hal-...khususnya hari ini."
"Apa kau hari ini kau mengalami hal yang buruk?"
"Ya. Sangat." Katanya menjawab lantang namun kakek Kim mendengar suara Luhan bergetar hebat saat Luhan menjawab pertanyaanya. "Aku dikhianati. Dan setelahnya-..Aku tidak akan mengalami hari baik." Timpalnya dengan air mata yang ia biarkan terjatuh namun tak merubah sedikitpun suaranya agar sang kakek tidak mengetahui kemarahan yang sedang ia rasakan.
"Sebentar lagi kau akan merasakan hari yang baik Lu."
Luhan yang masih mencengkram erat selimutnya sedikit tergoda dengan ucapan sang kakek, membuatnya sedikit menoleh namun tetap pada posisinya membelakangi sang kakek "Apa maksudmu?"
"Alasan kenapa polisi tidak bisa menghubungi orang tuamu adalah karena Garry dan Jihyo sedang menyiapkan liburan singkat ke Seoul untuk mengunjungi putra kesayangan mereka."
Jika Luhan tidak membalikan badannya ke arah berlawanan, mungkin kakek Kim akan bisa melihat wajah bodoh Luhan yang terlihat terkejut namun senyum tak bisa hilang dari bibirnya.
Bagaimana Luhan tidak terus tersenyum jika dari semua kejadian yang ia alami hari ini. berita kepulangan kedua orang tuanya adalah hal yang paling membahagiakan. Sangat membahagiakan sampai Luhan lupa bahwa hatinya masih sangat sakit karena apa yang baru Sehun lakukan padanya. Membuatnya ingin bersorak senang namun ia tahan untuk menjaga image nya di depan kakek Kim.
Katakanlah Luhan egois dan arogan. Tapi semua sifat kekanakannya itu semata-mata hanya sebagai bentuk pertahanan dirinya agar tidak diremehkan dan dijatuhkan. Pertahanan diri agar bisa ditakuti dan tidak bisa disakiti. Dia memang keras kepala dan nyaris tak memiliki perasaan. Tapi kembali lagi pada takdirnya-...Luhan hanyalah seorang anak yang bisa merindukan kedua orang tuanya jika berjauhan. Yang bisa merindukan suara kedua orang tuanya yang selalu berkata lembut padanya. Bahkan hanya dengan sebaris kalimat yang mengatakan -Karena Garry dan Jihyo sedang menyiapkan liburan singkat ke Seoul untuk mengunjungi putra kesayangan mereka.- Hatinya terasa begitu hangat dan merasa jauh lebih baik. Membuatnya berniat untuk mimpi indah malam ini berharap kedua orang tuanya akan segera datang untuk bertemu dengannya "Aku lelah dan ingin tidur. Selamat malam kek." Katanya kembali menarik selimut dan berpura-pura mendengkur agar kakek Kim segera keluar dari kamarnya.
"Araseo..! selamat tidur nak. Satu pesan kakek-...Jangan terlalu banyak tersenyum." Katanya menggoda Luhan dan tak lama meninggalkan Luhan yang kembali membuka matanya dan terus tersenyum sudah membuat keputusan. "Aku ingin ikut kalian Ma...Pa.." Katanya tersenyum dengan keputusan bahwa setelah minggu depan. Kemanapun Garry dan Jihyo pergi, Luhan akan selalu bersama kedua orang tuanya-...Bersama keluarganya.
.
Keesokan paginya...
.
"Hey lihat! Itu mahasiswa baru yang kemarin membuat ulah pada seorang wanita."
"ck. Aku tidak menyangka dibalik wajahnya yang terlihat seperti malaikat dia memiliki hati seorang iblis."
"Omo! Itu Luhan kan?"
"Benar! Dia si idiot yang mengambil obat teman satu kelompoknya. Mengerikan."
Memasang headset dengan Volume yang menunjukkan angka full adalah hal yang dilakukan Luhan sepanjang perjalanannya masuk kedalam kelas. Mengabaikan segala gunjingan yang ditujukan untuknya adalah hal yang sangat biasa untuknya. Membuatnya hanya bisa tersenyum miris dengan kaki yang terus melangkah tak mempedulikan siapapun yang mencibir dirinya.
Luhan masih terus berjalan tanpa menyapa senior maupun teman satu angkatnya. Berusaha menepati janji pada kakek Kim untuk tidak membuat ulah adalah alasan kenapa Luhan tak membalas seluruh cacian untuknya.
Karena pada dasarnya, Luhan memang sangat terbiasa dengan cibiran dan sindiran. Telinganya bahkan sangat menikmati setiap makian yang dilontarkan untuknya-...Ya-...Menerima sindiran memang tidak mengganggunya. Mereka semua boleh mencaci menyindir menggunjing atau bahkan mengumpat langsung di telinganya. Semua boleh mereka lakukan kecuali satu-...Jangan pernah mengusiknya. Karena jika kau mengusik seorang Xi Luhan maka sudah dipastikan kau akan berhadapan langsung dengannya.
"ck. Dia benar-benar tidak memiliki rasa malu. Berani sekali dia datang ke kampus kita!"
"Jika aku tidak membayar aku tidak akan sudi datang dan bertemu sampah seperti kalian." Timpalnya membalas membuat sekumpulan mahasiswa yang sedang membicarakan dirinya seketika diam menggeram sangat marah.
Luhan tersenyum menang saat berhasil membuat sekumpulan geng bodoh yang mengejeknya menggeram kesal. Sedikit membenarkan headset nya dan kembali berjalan dengan bahu yang ditegakkan sebelum
BRAK...
Luhan seketika kehilangan keseimbangannya saat kaki seseorang mencekal langkahnya. Membuat dirinya begitu saja terjatuh dengan suara gelak tawa yang terdengar begitu senang karena dia dipermalukan begitu saja "Kenapa? Ingin marah? Ingin mengambil obatku dan membunuhku."
Luhan hanya diam pada posisinya saat ini. Tak berniat merespon semua sindiran sampah yang ditujukan untuknya dengan tangan yang dikepalkan erat sebagai pelampiasan kemarahannya "Aku penasaran seperti apa orang tuamu. Aku yakin mereka akan sangat malu padamu. Atau jangan-jangan-...Mereka hanya sepasang suami istri bodoh yang-..."
"DIAAAAM!"
Habis sudah kesabaran Luhan mendengar cacian pagi hari untuknya. Dia mungkin bisa bertahan sedikit lebih lama mendengar cacian untuknya jika si pria brengsek yang ia ketahui bernama Kim Hansol yang merupakan teman sekelasnya saat di bangku sekolah dulu tidak menyebut kedua orang tuanya untuk hal yang sama sekali tidak ia perbuat.
Luhan memojokkan Kim Hansol ke dinding terdekat, sedikit mencengkram kuat kerah Hansol membuat suasana begitu hening melihat bagaimana Luhan menunjukkan sifat aslinya. Semua masih berbisik menebak apa yang akan Luhan lakukan pada Hansol. Keduanya masih bertatapan tajam satu sama lain. Dan untuk beberapa saat Luhan sedikit bertanya-tanya mengapa Hansol tidak memintanya untuk melepaskan cengkraman di kerahnya. Sebaliknya-...Hansol malah memberikan senyum mengejeknya yang membuat isi kepala Luhan semakin meluap karena marah.
"Wae? Kenapa hanya diam? Cepat pukul aku. Tidak akan ada yang menghentikanmu kali ini. Cepat pukul aku." katanya mendesis membuat Luhan semakin mencengkram erat kemeja yang Hansol gunakan "Aku ingin melihat ibumu menangis karena malu memiliki putra mengerikan sepertimu!-...JADI CEPAT PUKUL AKU AGAR MEREKA SEMUA TAHU KALAU KAU HANYA MONSTER MENGERIKAN!"
"KIM HANSOL!"
Pukulan Luhan mungkin sudah akan mendarat di wajah Hansol jika tangan seseorang tak mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat. Membuat emosi Luhan semakin memuncak tatkala melihat Sehun adalah orang yang tengah memegang erat tangannya saat ini "Lepas." Katanya memberitahu Sehun dengan nada terlampau dingin yang menunjukkan kalau daripada Hansol-..Luhan lebih marah dan membenci seorang Oh Sehun.
"ck. Kenapa berhenti Lu? Kau takut? CEPAT PUKUL AKU-.."
BUGH!
Hansol benar-benar tersungkur saat ini. Pipinya berdenyut sakit dengan tangan yang mengepal erat karena marah. Dia marah bukan karena menerima pukulan telak di wajahnya. Tapi karena siapa yang memukulnya. Dia berharap Luhan yang melakukannya bukan Sehun yang mewakili pukulan untuknya, membuat seluruh rencananya untuk mengeluarkan Luhan dari kampus ini seketika gagal berantakan karena campur tangan teman kecil Luhan yang selalu mengganggu seluruh rencananya dari awal mereka saling mengenal
"Sudah puas? Atau aku harus memukulmu lagi?"
Sehun kembali mencengkram kemeja Hansol cukup marah-...Memperingatkan pria yang sangat membenci Luhan entah untuk yang ke berapa kali agar tidak mengusik Luhan dalam keadaan apapun agar kejadian seperti ini tidak terulang "Menjauh dari Luhan. Oke?" katanya mendorong kasar tubuh Hansol sebelum menggenggam tangan Luhan dan menatap seluruh teman-temannya "KALIAN LIHAT KAN? AKU YANG MEMUKUL HANSOL-..JADI BERHENTI MENGGANGGU LUHAN ATAU KALIAN AKAN MEMILIKI HARI YANG LEBIH BURUK DARI YANG DIALAMI HANSOL. MENGERTI?!" katanya berteriak memperingatkan sebelum membawa Luhan pergi menjauh dari kerumunan yang sepertinya berharap lebih pada pertengkaran Hansol dan Luhan jika Sehun tak datang mengacau.
.
"Lepas..."
"..."
Sehun mengabaikan seluruh permintaan yang Luhan keluarkan sepanjang perjalanan mereka ke koridor kosong di kampus mereka. Entah apa yang akan Sehun lakukan tapi yang jelas warna muka Luhan benar-benar berubah menjadi merah tanda bahwa dia sangat marah bahkan terlalu marah pagi ini "Aku bilang lepas."
"...'
Dan seiring dengan permintaan Luhan yang semakin terdengar mengerikan. Sehun memberanikan dirinya mencengkram kuat pergelangan tangan Luhan. Menahan sekuat tenaga rontaan yang Luhan lakukan sampai
"OH SEHUN-...AKU BILANG LEPAS!"
Dengan sisa tenaga yang ia miliki. Luhan menghempas kasar tangan Sehun membuat keduanya kini sama-sama berhenti dan berdiri di tempatnya masing-masing. Luhan sendiri tidak mengerti apa yang diinginkan Sehun. Bertanya-tanya mengapa Sehun seperti merubah sikapnya secara menyeluruh setelah malam tadi berteriak menuduhnya melakukan hal yang sama sekali tidak ia lakukan
"Kita perlu bicara Lu."
Tatapan menyelidik Luhan berubah menjadi suara tawa histeris mendengar permintaan teman kecilnya. sedikit menatap murka pada Sehun dan mengabaikan pria yang masih membuatnya berdebar tak menentu "Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan." Katanya menyela membalikan tubuhnya dan berjalan menjauh meninggalkan Sehun sebelum
"Maaf."
Langkah kaki Luhan terhenti saat mendengar satu kalimat yang menyimpan berjuta makna didalamnya. Membuat Luhan sedikit tergoda untuk menoleh dan melihat apa Sehunnya benar-benar tulus meminta maaf atau hanya terpaksa karena paksaan dari Kai dan Chanyeol "Apa kau bilang?"
"Aku minta maaf Lu."
Luhan sedikit memicingkan matanya memperhatikan ketulusan Sehun. sedikit merasa senang kalau memang Sehunnya sedang meminta maaf dan tak berniat membuatnya kembali marah seperti tadi malam "Untuk apa?"
"Untuk hal yang tidak pernah kau lakukan. Aku minta maaf karena menuduhmu mengambil obat Jiyeon. Aku yakin kau tidak akan melakukannya-...Dan harusnya aku selalu meyakini kalau kau tidak akan berbuat hal mengerikan seperti kemarin."
"Apa kau mempercayaiku?"
"Ya. Jiyeon sudah mengatakan semuanya Lu. Dia bilang kau tidak bersalah. Dia juga mengatakan kalau kau membantunya untuk bertahan agar tidak kehilangan kesadaran. Dia bahkan bercerita-.."
"Jiyeon?"
Dan lagi-...Seluruh penjelasan Sehun seolah tidak ada artinya saat nama wanita itu kembali diucapkan. Membuat tubuh Luhan seketika terasa panas dan membentuk semacam alergi pada tubuh Luhan setiap kali mendengar nama Jiyeon diucapkan oleh Sehun atau siapapun yang sedang mencoba membandingkan dirinya dengan Jiyeon.
"Ya-...Jiyeon sudah sadar. Dia menceritakan semuanya Lu-...Aku salah menilaimu. Aku minta maaf."
Luhan memalingkan wajahnya saat ini. Entah untuk alasan apa dia merasa ingin berteriak marah atau menabrak Sehun menggunakan mobil sport nya. Dia bahkan ingin sekali menusuk Sehun atau memukul kencang kepalanya agar tak terus membawa nama Jiyeon-...Jiyeon dan Jiyeon saat berbicara dengannya. Membuat bibir mungil Luhan tertawa begitu marah dengan tangan yang mengusak kasar wajahnya. "Jadi kau percaya dengan apa yang Jiyeon katakan?"
"Ya-..Jiyeon mengatakan yang sebenarnya Lu-..."
"Jadi kau pikir aku berbohong?"
Sehun sedikit tertegun saat Luhan terus memotong ucapannya dengan wajah yang kembali memerah. Namun kali ini bukan karena marah tapi karena teman kecilnya sedang luar biasa kecewa dengan rasa sedih teramat yang sedang ia rasakan "Lu-..."
"Aku mengatakan hal yang sama dengan yang Jiyeon katakan. Tapi kau tidak mempercayaiku Sehunna." Katanya dengan suara bergetar yang jelas menunjukkan betapa marahnya dia pada Sehun. Bukan karena Sehun menuduhnya melakukan perbuatan rendah seperti menyembunyikan obat Jiyeon tapi lebih karena Sehun sama sekali tak mempertimbangkan sedikit pun apapun yang coba Luhan jelaskan dan katakan padanya.
"Aku sedang panik saat itu. Maafkan aku Lu."
"AKU KETAKUTAN SAAT KAU TIDAK MEMPERCAYAIKU!"
Langkah kaki Sehun seketika terhenti mendengar teriakan teman kecilnya yang benar sedang ketakutan. Membuat hatinya seperti tersayat karena dengan bodohnya membiarkan luka gores menyakiti hati pria cantiknya "Maaf Luhan-...Maafkan aku."
"Maaf?-..Biar aku ingatkan satu hal padamu Oh Sehun-...Malam tadi. Tepat sepuluh jam yang lalu, kau berteriak padaku dan mengatakan kau mempercayai bahwa aku yang melakukan perbuatan rendahan yang kau tuduhkan. Aku bahkan sudah tak peduli jika kau benar-benar mengira aku yang mengambil obat permaisurimu sampai kau meminta maaf padaku. Kau sama sekali tidak mempertimbangkan ucapanku, tapi kau-..."
"Luhan.."
"TAPI KAU DENGAN MUDAH MEMPERCAYAI APA YANG JIYEON KATAKAN-...KAU MEMPERCAYAI SELURUH UCAPAN YANG DIKATAKAN PERMAISURIMU SEMENTARA SELURUH UCAPANKU HANYA OMONG KOSONG UNTUKMU!-..Kau!-..Whoaa-...Kau benar-benar membuatku marah Oh Sehun." katanya bergumam dengan tangan yang mencengkram kasar dadanya. "Jika tahu akan seperti ini-..Harusnya aku membiarkan Jiyeon sekarat didalam hutan. HARUSNYA AKU PERGI DAN TAK MEMBUANG WAKTU MENYELAMATKAN GADIS SEKARAT SEPERTINYA!"
"Lu.."
Sehun semakin mendekat dengan kaki Luhan yang semakin mundur menjauh. Luhan mengangkat jari telunjuknya seolah memperingatkan Sehun untuk tidak mendekatinya "Sudahlah." Katanya putus asa membuat Sehun berdegup kencang tak mau mendengar pa yang akan Luhan katakan selanjutnya "Semuanya sudah tidak sama." Katanya menatap Sehun penuh arti
"Luhan jangan seperti ini. Aku benar-benar menyesal. Aku-.."
"Malam tadi-...Tepat sepuluh jam yang lalu. Aku juga sudah membuat keputusan bahwa saat kau tidak mempercayaiku bahkan untuk satu ucapan yang aku keluarkan-...aku menyerah. Mulai malam tadi kau dan aku hanya Sehun dan Luhan. Bukan dua orang remaja yang menyebut diri mereka sebagai teman kecil –hell- tidak pernah ada teman kecil diantara kita. Hanya Sehun dan Luhan. Ingat itu!" katanya menggertak dengan suara yang jelas bergetar. Meninggalkan Sehun yang jelas sudah menebak bahwa kekecewaan Luhan kali ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah mereka saling mengenal. Sehun hanya bisa diam tak melakukan apapun dengan kedua tangan mengepal erat sebelum
"ARGHHHHH..!"
Sehun meninju kasar dinding yang berada didepannya. Mengabaikan rasa sakit di tangannya karena rasa sakit di pikiran dan hatinya lebih menguasainya saat ini. Merasa sangat putus asa karena tidak tahu harus memulainya darimana agar setidaknya Luhan tidak menyesal tentang kenyataan bahwa mereka adalah teman kecil-...Bukan hanya sebagai Sehun dan Luhan.
.
.
.
.
.
.
.
Cklek!
"Kakek? Kau sedang apa?"
Menggunakan kaos casual berwarna hitam yang dipadukan celana pendek selutut adalah penampilan seorang Luhan yang baru bangun dari tidurnya setelah hampir enam jam terlelap. Dan bukan tanpa alasan mengapa si remaja yang memiliki aura kecantikan layaknya seorang wanita itu tidur untuk waktu yang lama.
Tadi siang sepulang dari menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa di kampus, Luhan merasa sangat kelelahan. Bukan karena serangkaian pelajaran yang harus ia ikuti, tapi karena dia belum bisa melupakan bagaimana rasa sakitnya saat satu-satunya orang yang kau pikir akan selalu berada di pihakmu, akan lebih memilih orang lain daripada dirimu sendiri.
Singkatnya adalah seperti ini-...Luhan masih terlalu sakit hati pada semua yang semua Sehun katakan atau lakukan. Dia bahkan belum bisa melupakan bagaimana pria yang ia sukai itu dengan jelas mengatakan lebih mempercayai Jiyeon "Si Permaisurinya" daripada dirinya sendiri. Lebih ringkasnya seperti ini-...Luhan sangat menyadarinya kalau dirinya dan Jiyeon adalah sama-sama teman kecil Sehun. Jiyeon bahkan mengenal Sehun terlebih dulu. Tapi bukankah Jiyeon bilang Sehun menyukainya?-...Lalu kenapa Sehun bahkan tidak mempercayainya jika itu berkaitan dengan Jiyeon?-...Membuat tawa miris kembali tercetak di wajah khas bangun tidur versi Luhan dengan mata bengkak karena sedikit menangis ditambah rambut yang terlihat sangat urakan.
"haraboji...Aku bertanya." Katanya menggerutu dengan langkah mendekati sang kakek yang masih sibuk dengan pisaunya didapur.
"Aku sedang memasak."
"Memasak?"
"Ya. Memasak untukmu."
"Untukku?"
"Ish anak nakal ini! berhenti menggodaku dan hanya duduk di sofa sambil menunggu masakan siap?"
Luhan yang entah kenapa menjadi sangat menyayangi kakek Kim hanya diam di tempatnya. memandang menggoda sang kakek dan terus berjalan mendekati Kakek Kim "Ada yang bisa aku bantu? Membakar dapur misalnya?"
Pletak!
"HARABOJI!" katanya berteriak dengan tangan yang memegangi kepalanya karena terkena pukilan dari spatula sang kakek.
"Cepat pergi ke sofa dan tunggu masakan siap. Jangan ganggu aku!"
"ish. Galak sekali!-...Memangnya kau bisa memasak?"
Umpatan Luhan cukup terdengar di telinga Kakek Kim. Membuat sang kakek hanya tersenyum menggelengkan kepalanya melihat bagaiman remaja yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri itu jelas terlihat kesepian dengan keangkuhan dan ucapan kasar yang ia gunakan untuk menyembunyikan kekosongan dirinya.
Luhan sendiri menyadari kalau kakek Kim sedang memperhatikannya. Dia bahkan berani bertaruh alasan mengapa Kakek Kim mau repot-repot memasak adalah karena siang tadi sang kakek melihatnya begitu gusar dengan air mata dan umpatan yang terus ia lontarkan untuk Sehun. Membuatnya sedikit tertawa tak enak hati dan berusaha untuk mengalihkan ingatan sang kakek mengenai apa yang terjadi siang tadi "Aku akan menonton selagi kakek memasak." Katanya berteriak mengambil remote TV dan
Klik...
"Eh? Apa ini?" katanya bergumam saat melihat hot news dengan berita
Hot News
Oh Miranda-...Model cantik yang merupakan istri dari aktor terkenal Oh Joongki dikabarkan menjalin hubungan khusus dengan aktor hollywood yang bernaung di agensi yang sama dengannya yakni aktor Sebastian Clark.
Keduanya terlihat keluar bersama dari apartemen Sebastian pada jumat malam sekitar pukul dua dinihari. Keduanya bahkan terlihat saling berpelukan dan berciuman dalam keadaan mabuk. Sampai berita ini diturunkan belum ada klarifikasi baik dari pihak Miranda maupun Sebastian.
Keduanya dikabarkan masih berada di tempat yang sama dan belum memberikan statement apapun. Mengenai berita terkait yang beredar-..Aktor Oh Joongki juga belum bisa ditemui untuk memberikan keterangan lebih lanjut mengenai skandal yang dialami sang istri. Membuat beberapa netizen meyakini bahwa Oh Miranda dan Sebastian Clark memang memiliki hubungan spesial melebihi hubungan dari aktor dan model yang berada di satu agensi.
Pip!
"Sampah!"
Disaat kakek Kim masih sibuk di dapur dan berkutat dengan bahan makan malam mereka. Luhan memilih untuk menyalakan TV dan menghibur diri, berharap bisa tertawa lepas karena hiburan yang disajikan oleh seluruh penyiar Televisi.
Namun alih-alih tertawa, si remaja tujuh belas tahun ini justru mengumpat mendengar berita yang jelas-jelas mengatakan hal buruk tentang wanita yang sudah seperti ibunya sendiri.
"Apa yang sampah?-...Dan cepat kemari. Kakek sudah selesai memasak."
Luhan membuang asal remote TV nya dan berjalan mendekati kakek Kim. Sedikit mendengus sebelum menarik kursi meja makan didepannya "Semua orang sampah." Katanya berbicara asal membuat kakek yang berusia enam puluh tahun didepannya sedikit mengernyit dan mulai menghela dalam nafasnya "Termasuk kakek?"
"Tentu saja tidak." Katanya menjawab dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Mama papa?"
"Ani!"
"Lalu kenapa kau menyebut semua orang sampah nak?"
"Karena mereka membuatku kesal!"
"Aigooo... Lihat ini. Kau benar-benar seperti Garry jika sedang menggerutu seperti ini."
"Aku seperti Mama." Katanya mengelak membuat kakek Kim tertawa kencang mendengar penuturannya. "Ish. Apa yang lucu? Aku benar-benar mirip Mama."
"Araseo...araseo.. Kau mirip Jihyo." Katanya mengalah sedikit dan mengusap gemas kepala Luhan "Ayo cepat makan. Kau pasti lapar."
"Umhh...aku lapar." Katanya mengangguk cepat dan mulai mengambil sendok serta sumpitnya dengan tak sabar "Selamat makan kek."
"Makan yang banyak-...Bagaimana? Apa enak?"
Hanya mengangguk dan mengangkat ibu jarinya adalah hal yang dilakukan Luhan untuk memberikan respon. "Sangat." Katanya menjawab membuat kakek Kim sekali lagi hanya tertawa dan mulai ikut mengambil sendok serta sumpitnya.
"Jadi kapan orang tuaku sampai? Aku mau ke bandara dan menjemput Mama Papa."
Gerakan menyuap kakek Kim seketika terhenti saat mendengar pertanyaan Luhan. Sedikit tak berani menatap Luhan sebelum akhirnya kembali meletakkan garpu dan sendoknya "Luhan"
"Hmmm..." Katanya menjawab dan sedikit melihat kakeknya sebelum kembali menghabiskan makanannya.
"Mengenai orang tuamu-..."
"Orang tuaku kenapa?"
Kakek Kim menatap sendu pada Luhan. Sangat mengetahui kejadian yang akan terjadi selanjutnya adalah Luhan merasa begitu dikecewakan dengan apa yang akan dia beritahukan "Kakek? Kenapa diam?"
"Ah-... Kakek hanya ingin memberitahumu, kemungkinan besar kedua orang tuamu batal untuk pulang ke Seoul."
Gerakan mengunyah Luhan seketika terhenti. Jantungnya kembali berdebar cepat dengan rasa denyutan di hatinya yang menguat. Dia hanya berharap kalau telinganya salah menangkap ucapan yang dilontarkan kakek Kim. Dan tersenyum adalah satu-satunya cara untuk meniadakan ketegangan yang tiba-tiba terjadi di ruang makan saat ini "Eh? Kakek bicara apa?"
"Sesuatu baru saja terjadi pada adikmu. Dan kedua orang tuamu terpaksa membatalkan rencana kepulangan mereka karena keadaan semakin memburuk disana. Jadi mereka menyesal tidak bisa datang padamu secepatnya nak."
Semua terasa jelas untuk Luhan. Bagaimana satu persatu semua prioritas tak menjadi miliknya. Disini Luhan harus mengalah pada Sehun yang lebih mementingkan Jiyeon. Dan disana-...Tepatnya di tanah kelahirannya. Luhan kembali harus mengalah pada orang tuanya yang terus menjadikan si kembar prioritas mereka dari saat mengandung sampai Lana dan Luna sudah menginjak usia remaja.
"Begitukah?"
"Luhan-..."
"Aku baik kek. Hanya-.." katanya menggeser kursi dan mulai berdiri dari meja makan "Kau mau kemana nak?"
"Aku hanya ingin tidur. Aku lelah."
Definisi lelah disini tentu adalah kecewa. Kecewa dalam level tinggi yang membuat seseorang lebih memilih untuk berbaring daripada berteriak. Lagipula bagaimana Luhan bisa lelah dalam kondisi fisik?-..Dia baru saja tidur selama enam jam. Hal inilah yang membuat kakek Kim menyadari kalau kali ini kedua orang tua Luhan beserta dirinyalah yang memberikan goresan luka baru di hati Luhan. Memberikan harapan tinggi lalu menghempasnya kasar ke dasar jurang.
"Aku permisi."
Nada suara Luhan sudah berubah sangat bergetar persis siang tadi. Remaja itu bahkan membungkuk pada kakek Kim sangat formal sebelum berjalan sedikit terhuyung menuju kamarnya.
BLAM...!
Luhan menutup kencang pintu kamarnya. Masih dengan ekspresi yang sama, dia menuju tempat tidurnya. Duduk merenung cukup lama dengan tangan yang menyembunyikan wajahnya "Rasanya ingin pergi jauh." Katanya bergumam tersenyum sangat miris dengan tangan yang mengusap kasar wajahnya. Dan setelah puas membenci semua orang. Dia memutuskan kembali untuk berbaring. Menarik selimutny dan memejamkan paksa kedua matanya "Selamat malam-...entah untuk siapa." Katanya bergumam lirih dengan kedua mata terpejam dan air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi wajahnya.
Kakek Kim melihat bagaimana Luhan menahan amarahnya. Dia bahkan bertaruh kalau remaja tujuh belas tahun itu merasa sangat kesakitan dengan alasan yang tak pernah ia ketahui sama sekali. Kakek Kim kemudian mengambil ponselnya. Mencari kontak Garry sebelum
Abonim?
"Hmm...Ini aku."
Ada apa? Luhanku baik kan?"
"Ya-...Hatinya yang terluka."
"..."
"Garry?"
"Ya abonim."
"Apa kau belum memberitahu Luhan tentang keadaan Lana?"
"..."
"Diam berarti belum-...Kau tidak berhak menyembunyikan kondisi adik perempuan pada kakak lelakinya."
"Luhan tidak menyukai adiknya. Dia merasa si kembar merebut seluruh perhatian kami untuknya."
"Berhenti berpikir kekanakan! Kau pikir Luhan sejahat itu? Dia tidak mengetahui apapun yang menjadi haknya. Jika dia marah dan membenci Lana dan Luna itu karena kau yang terus membuatnya terlihat seperti orang asing di keluarganya sendiri."
"abonim..."
"Putramu-...Dia kesepian!"
Pip...!
Kakek Kim tidak bisa lagi menyembunyikan rasa ibanya pada Luhan. Mendadak memaklumi semua yang dilakukan Luhan semata-mata hanya melindungi dirinya sendiri. Tapi mengingat bagaiman polisi menghubunginya dan mengatakan Luhan mengemudi dengan kecepatan tinggi dan berbahaya beberapa waktu lalu. Membuatnya sangat takut kalau sesuatu yang buruk bisa terjadi pada Luhan kapan saja.
"Tidurlah nak-...Jika tidur bisa membuatmu melupakan segalanya. Kau harus tidur dan beristirahat. Jangan memikirkan semuanya terlalu rumit Luhan." katanya bergumam sangat pelan. Membiarkan Luhan berjuang untuk mencapai alam bawah sadarnya sebelum menutup perlahan pintu kamar Luhan.
.
Sementara itu...
Hot News
Oh Miranda-...Model cantik yang merupakan istri dari aktor terkenal Oh Joongki dikabarkan menjalin hubungan khusus dengan aktor hollywood yang bernaung di agensi yang sama dengannya yakni aktor Sebastian Clark.
Keduanya terlihat keluar bersama dari apartemen Sebastian pada jumat malam sekitar pukul dua dinihari. Keduanya bahkan terlihat saling berpelukan dan berciuman dalam keadaan mabuk. Sampai berita ini diturunkan belum ada klarifikasi baik dari pihak Miranda maupun Sebastian.
"Apa itu Mommy?"
Chanyeol yang sedang memberi makan ketiga anjing peliharaan mereka dirumah sedikit bertanya pada Kai yang terlihat sibuk mendengarkan berita. Mengangguk menjawab pertanyaan Chanyeol sebelum
Pip!
Dia mematikan saluran TV karena Sehun tiba-tiba datang ke ruang tengah dan terlihat mengernyit menatapnya
"Kenapa dimatikan?"
"Hanya berita sampah."
"Jika sampah kenapa kau matikan?" katanya bertanya dan
Sret...
Sehun mengambil remote TV sebelum
Klik..!
Keduanya dikabarkan masih berada di tempat yang sama dan belum memberikan statement apapun. Mengenai berita terkait yang beredar-..Aktor Oh Joongki juga belum bisa ditemui untuk memberikan keterangan lebih lanjut mengenai skandal yang dialami sang istri. Membuat beberapa netizen meyakini bahwa Oh Miranda dan Sebastian Clark memang memiliki hubungan spesial melebihi hubungan dari aktor dan model yang berada di satu agensi.
Raut wajah Sehun terlihat sangat memucat saat ini. Dia bahkan langsung terduduk di samping Kai-..Dan Chanyeol yang melihatnya berani bertaruh kalau Sehun terduduk di samping Kai bukan karena dia ingin. Tapi karena dia terkejut. Membuatnya berjalan menghampiri Sehun sebelum
Sret...!
"Tidak usah didengarkan. Itu hanya gosip." Katanya menyela namun wajah Sehun masih menandakan ketidakmampuannya untuk tidak terkejut "Sehun. Lebih baik kau tidur. Ini sudah-.."
"SIAL!"
Sehun tiba-tiba menggeram mengabaikan seluruh perkataan Kai maupun Chanyeol. Segera berlari menuju kekamarnya dan tak lama keluar mengenakan jaket dengan kunci mobil yang berada di tangannya sebelum
BLAM...!
Sehun menutup kencang pintu rumahnya. Meninggalkan Kai dan Chanyeol yang hanya saling menatap saat ini "AKU TIDAK TAHAAAN!"
"y-YAK!"
"Aku akan membawa Luhan pulang. Aku tidak tahan jika hanya kita bertiga yang tinggal! Selama Luhan tidak pulang. Aku tidak akan tinggal disini!"
Chanyeol hanya bisa diam memperhatikan bagaimana Kai juga menambah rasa sakit di kepalanya. Dia bahkan diam saat Kai membawa beberapa pakainnya dan menutup kencang pintu rumah sama persis dengan yang dilakukan Sehun.
Ya... Diam dan tak melakukan apapun adalah hal yang belakangan ini menjadi keahlian Park Chanyeol. Belum lama dia hanya diam tak bisa membela Luhan saat semua orang menggunjing pria cantiknya. Dan malam ini dia hanya bisa diam saat satu persatu Kai dan Sehun juga ikut meninggalkan rumah yang sengaja mereka beli untuk tinggal bersama. Membuat bibir tipisnya tersenyum dan tak lama terduduk dengan ketiga anjing peliharaan yang jelas bukan miliknya berada di dalam pelukannya.
"Tenang saja-...Aku tidak akan meninggalkan kalian seperti yang dilakukan majikan kalian! Luhan menyayangi kalian. Jadi apapun yang Luhan sayangi akan aku jaga. Aku akan menjaga kalian anak-anak." Katanya tertawa lirih menciumi satu persatu Janggu Monggu dan Vivi. Menghela dalam nafasnya merasa rumah besar ini terasa begitu sepi seperti tak berpenghuni. Chanyeol sedikit menatap isi rumahnya agak lama. Menguatkan pelukannya pada Vivi dan Janggu sebelum bergumam dengan pasti dan penuh janji "Kami pasti kembali-...Ya... aku yakin pasti kami akan kembali bersama"
.
.
.
.
.
A few days later…
Tempat bernama kantin adalah tempat yang nyaris tidak pernah sepi pengunjung dimanapun dia dibuat. Tempat yang merupakan surga bagi semua orang baik di kalangan siswa, mahasiswa atau karyawan sekalipun. Mereka berbondong-bondong pergi ke kantin untuk mengisi ulang tenaga mereka yang nyaris hampir terkuras karena aktivitas di pagi hari.
Yeah...semua orang mungkin berpikir seperti itu. Semua orang-...kecuali satu pria berparas tampan namun terkesan cantik yang sedang berjalan memasuki kantin universitasnya dengan wajah yang ditegakkan terkesan begitu angkuh. Mengabaikan seluruh bisikan sialan yang menyindirnya tentang hal yang tidak ia lakukan bahkan setelah beberapa hari berlalu dan mereka masih menjadikan dirinya sebagai hot news. Mengalahkan berita ibu Sehun yang digosipkan memiliki hubungan khusus dengan aktor satu agensinya.
Luhan bahkan berniat berterimakasih pada Ibu Sehun saat mereka bertemu nanti. Karena sedikit banyak Luhan belajar bahwa hal terbaik untuk meredakan berita buruk adalah dengan tidak tersembunyi. Dan oleh karena itu Luhan lebih memilih menunjukkan pada sekumpulan badut di kampusnya. Bahwa dia-...Xi Luhan. Adalah duri yang bisa menyakiti bagian terdalam tubuhmu jika kau mengusiknya sekali saja.
Dia bukan tipe pria yang bisa bersabar atau tiba-tiba menghilang hanya karena orang-orang menginginkannya seperti itu. Dia adalah tipe pria sombong dan arogan yang akan selalu menunjukkan keangkuhan dirinya sendiri. Tak bisa diusik dan akan selalu berdiri di atas kedua kakinya sendiri mengingat tak ada lagi tempat untuknya bersandar.
Sret…
Dia menarik kursinya tepat di samping Jessica dan Taeyeon berada. Menatap sinis kedua rubah disampingnya sebelum memutuskan untuk lebih menahan diri dengan menghabiskan air soda yang ia pesan.
"Ck!... Dia memiliki masalah dengan tiga teman idiotnya. Tapi kenapa kita juga harus menanggung akibatnya. Kenapa dia juga menghindari kita?"
Adalah Do Kyungsoo-...sahabat yang merupakan partner Luhan di malam hari yang terlihat menggerutu. Dia bersama kedua temannya yang lain duduk enam meja dari tempat Luhan berada. Memperhatikan teman mereka yang nyaris tanpa ekspresi dan selalu terlihat mengerikan walau terlihat di wajahnya kalau dia sangat lelah bersikap seperti itu.
"Dan lihat! Sudah tiga hari ini aku perhatikan dia hanya memakan mie ramen dan soda. Apa dia berniat membuat dirinya sendiri keracunan?" timpalnya dengan tangan terlipat di atas dada masih memperhatikan Luhan tanpa bisa mendekatinya karena akan berakhir saling berteriak satu sama lain.
"Aku tidak tahu keadaan bisa separah ini untuknya. Tidak heran jika dia bergabung dengan dunia malam jika dunia pagi harinya adalah yang terburuk yang harus ia lalui." kali ini Baekhyun yang berceloteh lirih. Begitu ingin mendekati Luhan namun kembali harus menahan diri tak mau membuat Luhan berteriak seperti kemarin atau kemarin harinya lagi. Membuatnya harus menahan diri sampai
"Taec? Kau mau kemana?"
Taecyeon berdiri dari kursinya dengan nampan berisi makan siangnya yang berupa nasi dan daging. Sedikit menoleh ke Baekhyun dan Kyungsoo dan tersenyum pahit memberitahu kedua temannya "Memastikan nasi masuk kedalam perut Luhan." katanya memberitahu dan berjalan mendekati Luhan sebelum
Sret..!
Langkahnya terhenti saat dua teman kecil Luhan lebih dulu menarik kursi di depan Luhan. Membuat Taecyeon tak bergeming di tempatnya dan terus memperhatikan ketiga teman kecil yang terlihat sangat dibenci Luhan saat ini.
"Lu…" Terdengar suara Kim Jongin memanggil Luhan. Menggenggam jemari teman kecilnya sebelum Luhan menarik lasar tangannya "..."
"Luhan aku mohon jangan seperti ini. Kau membuat kami tidak bisa tidur dengan tenang. Sebenarnya dimana kau tinggal?"
"Apa pedulimu?"
"Tentu saja aku peduli!"
Kai dan Luhan masih dalam nada suara yang tinggi satu sama lain. Saling menatap penuh amarah dengan tangan yang juga mengepal erat. Membuat Chanyeol memutuskan untuk menyudahi keadaan tegang yang mungkin akan menjadi arena pukul jika Kai terus mengusik pria cantiknya "Lu…"
Luhan sedikit menoleh saat Chanyeol memanggilnya. Memutuskan kontak mata dengan Kai dan hanya meneruskan memakan ramen yang ia pesan "Kenapa tidak makan nasi? Kau bisa sakit."
"Aku bahkan ingin mati." katanya berbicara asal membuat
Brak…!
Kai seketika memukul kencang meja tempat mereka berkumpul. Membuat Taecyeon melangkah semakin mendekat sebelum melihat Luhan tertawa begitu marah saat ini "PERGI!" Katanya berteriak lirih membuat beberapa pasang mata semakin menatap tak suka padanya.
Kai sendiri tak menyangka Luhan akan bereaksi terlalu marah seperti ini membuatnya sedikit menyesal namun tak menghilangkan rasa kecewanya pada Luhan "Sampai kapan kau akan bertingkah kekanakan seperti ini. Kapan kau-..."
"KIM JONGIN!"
Teriakan Luhan semakin menjadi dengan kemarahan Kai yang tak bisa ditutupi lagi. Membuat Chanyeol segera menahan lengan Kai seolah memberitahunya bahwa apapun yang coba ia katakan pada Luhan malam ini adalah percuma.
"Baiklah kami pergi. Kami memperhatikanmu dari jauh. Hanya jangan terus bersikap seperti ini pada kami-...KAMI MENGKHAWATIRKANMU!"
"Ck. Tidak perlu repot-repot memikirkan aku. Cepat pergi."
Bisa dikatakan ketiga hati yang sedang berbicara saat ini berdenyut sakit. Mereka sering bertengkar hebat. Tapi ini adalah kali pertama ketiga teman kecil itu merasa tidak menginginkan satu sama lain. Membuat ketiganya sadar bahwa apapun yang akan terjadi kedepannya. Itu adalah murni kesalahan mereka dan seluruh keegoisan yang mereka miliki.
Kai yang berniat kembali membukan mulutnya terpaksa harus menatap rapat mulutnya saat Chanyeol mencengkram lengannya. Dan melihat Chanyeol memasang ekspresi dingin tak berkedip adalah hal baru untuk Kai-...Karena biasanya hanya dirinya, Luhan dan Sehunlah yang memiliki emosi mengerikan yang bisa membuat seseorang terluka karena sikap dan ucapan yang di keluarkan "Jangan ganggu dia jika dia tidak mau diganggu. Dan jangan memohon jika hanya cacian yang kita dapatkan. Kita pergi!"
Untuk Luhan-...Ini juga kali pertamanya mendengar Chanyeol mengucapkan kalimat yang begitu menyakitinya. Membuatnya mati-matian untuk tidak terpancing dan lebih memilih menghabiskan ramen dengan Kai dan Chanyeol yang terus memperhatikannya dari meja sebelah.
Luhan masih terus mengabaikan tatapan mengerikan Kai dan Chanyeol yang kini duduk dua meja dari tempatnya berada. Terus memaskan ramennya dengan cepat sampai
Sret...!
Kursi didepannya kembali ditarik dan kali ini menampilkan Taecyeon yang meletakkan kasar nampannya dan menatap Luhan penuh emosi.
"Ck. Dia pikir dia bisa membuat Luhan memakan makanan yang dia bawa! Butuh waktu lama untuk bisa mengendalikan Luhan." Kai sedikit mencibir memperhatikan bagaimana Taecyeon dengan rasa percaya dirinya yang tinggi menghampiri Luhan dengan menu nasi dan sup yang ia belikan.
Luhan sendiri sedikit melirik ke arah Kai dan Chanyeol. Memastikan kalau kedua temannya tidak terganggu dengan keberadaan Taecyeon. Sebelum matanya menoleh menatap Taecyeon sedikit bertanya "Apa yang kau lakukan?"
"Makan."
"Apa kau buta? Aku juga sedang makan! Cepat pergi!"
"Tidak sampai kau makan nasinya."
"Ok Taec-yeon."
Luhan mendesis dengan meletakkan sumpit ramennya dan mulai menatap marah pada Taecyeon yang bertingkah keras kepala. "Makan." Katanya kembali memberi perintah. Membuat Luhan tertawa tak percaya dan berniat pergi meninggalkan Taecyeon yang terlihat menyebalkan saat ini.
"Aku sudah tidak lapar. Jadi sampai nanti." Katanya berdiri dari kursinya dan berniat pergi sebelum
"Makan-... atau aku akan berjalan kesana dan memberitahu kedua temanmu tentang apa yang kau lakukan di malam hari-...Bersamaku."
Ancaman Taecyeon berhasil membuat Luhan kembali duduk di kursinya. Menatap sangat marah pada Taecyeon yang nyaris tak berekspresi saat ini
"Apa kau gila? Mereka bahkan bisa mendengarnya dari tempat mereka!"
"Aku tidak-...Aku hanya meminta kau untuk makan. Atau aku akan berjalan kesana dan memberitahu siapa Xi Luhan di malam hari."
"OK TAECYEON!"
Suara Luhan meninggi membuat Kai dan Chanyeol menatap ingin tahu padanya. Dan menyadari reaksinya terlalu berlebihan membuat Luhan kembali tenang atau Taecyeon akan benar-benar serius pada ancamannya.
"Sialan!-...Berani sekali kau mengancamku!"
"Aku hitung sampai tiga atau aku benar-benar akan nekat pergi ke meja dua temanmu."
"Ok Taecyeon kau-..."
"Satu..."
Taecyeon memulai hitungannya membuat Luhan bergerak resah dengan tangan yang mengepal erat menatap marah pada Taecyeon "Jangan berani mengancamku atau kau-.."
"Dua..."
"Ok Taecyeon!"
"Tiga-..."
Sret...!
Taecyeon sudah menggeser kursinya. Bersiap berjalan mendekati Kai dan Chanyeol sebelum tangan Luhan mencengkram erat lengannya. Terlampau erat hingga rasa sakit cukup terasa di lengannya saat ini. "Apa?" katanya bertanya menantang pada Luhan
"Duduk!"
"Tidak sampai kau makan."
"..."
"Jika tidak menjawab aku akan pergi!"
Kali ini Luhan melepas pegangannya pada lengan Taecyeon. Membuat Taecyeon sedikit berdebar jika pada akhirnya Luhan membalas ancamannya dengan mengatakan cepat pergi dan beritahu mereka. –sial- Taecyeon hanya menggertak dia bahkan tidak berniat untuk memberitahu ketiga teman Luhan yang sudah pasti tidak akan membiarkan Luhan kembali bergabung dengannya jika mereka tahu. Membuatnya sedikit cemas namun
"Aku makan!"
Namun sepertinya kecemasan Taecyeon tidak beralasan. Karena saat ini Luhan tengah melahap nasinya dengan mata tak berkedip menatap marah pada Taecyeon. Taecyeon sendiri hanya bisa tersenyum lirih menyadari kemarahan Luhan padanya. Sedikit menepuk bahu Luhan karena beberapa kali tersedak namun tentu Luhan tidak akan berbaik hati menerima bantuannya.
"brengsek!"
Kali ini terdengar Kai menggeram begitu marah. Merasa begitu sakit hati pada sikap Luhan yang mulai tidak bisa membedakan mana teman yang harus dijaga perasaannya dan man teman yang harusnya diabaikan. Membuatnya terlihat begitu marah dan berjalan melewati Kyungsoo yang menatapnya sedikit tak berkedip "cih. Egois!" katanya mencibir namun sangat mengerti bagaimana perasaan Kai saat ini.
Chanyeol sendiri masih duduk di tempatnya, memperhatikan bagaimana Luhan makan hanya karena Taecyeon memintanya cukup membuat dirinya kecewa. Menghela dalam nafasnya dan mengusap kasar wajahnya adalah hal terakhir yang dia lakukan sebelum meninggalkan kantin dan tak sengaja berpapasan dengan Sehun yang juga sedang menatap ke arah Luhan saat ini.
"Kalau kau tidak menyalahkannya. Hal seperti itu tidak akan terjadi!" katanya mendesis menabrak kencang bahu Sehun dan meninggalkan sahabatnya dengan menyalahkan seluruh keadaan yang rumit ini padanya.
Sehun sendiri hanya diam menerima semua kesalahan yang dituduhkan Chanyeol padanya. Membenarkan bahwa seluruh keadaan rumit ini terjadi karena dirinya. Dan terlalu rumit sampai dia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Drtt...drtt...
Perhatian Sehun yang sedang menikmati rasa panasnya melihat Luhan makan bersama Taecyeon sedikit teralihkan pada ponselnya bergetar. Hampir mengabaikan panggilan yang ditujukan padanya sebelum nama Kim Junghoon yang merupakan Manager ibunya di Seoul menghubunginya. Sehun sendiri sedikit terburu-buru menerima panggilannya sebelum
Sret...!
"Bagaimana Hyung? Apa kau dan Mommy sudah tiba di bandara?"
"Sehunna kami sudah sampai di Seoul. Tapi ibumu melarikan diri begitu saja. Cepat bantu aku mencari ibumu. Berbahaya jika wartawan atau paparazzi menemukan ibumu tanpa pengawalan!"
"sial!-...Baiklah! hubungi aku jika kau menemukan Mommy." Katanya membalas dengan panik sebelum
Pip...!
Sehun menatap ke meja Luhan cukup lama. Menebak kalau Luhan akan dengan mudah menemukan ibunya dalam keadaan seperti ini. Karena daripada dirinya-...Luhan lebih mengenal siapa model cantik yang tak lain adalah ibunya. Sehun bahkan berani bertaruh kalau daripada dirinya-...Luhan lebih bisa menenangkan ibunya yang sedang ketakutan saat ini. "Ya-...Andai aku tidak bodoh menyalahkanmu. Kau pasti akan membantuku mencari Mommy. Aku bahkan sudah sangat merindukanmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Blam...!
"Hyung? Kau datang? Ah-...Aku senang sekali kau datang. Malam ini aku turun three round hyung. Aku sudah memenuhi syarat dari Bakehyun, Kyungsoo dan Taec Hyung-...eh? kenapa kau tidak menjawabku hyung."
Luhan hanya terus berjalan mengabaikan celotehan Mark. Sedikit mempercepat langkahnya sebelum
BRAK...!
Dia membuka kasar pintu basecamp mereka. Membuat beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Ada yang tersenyum melihat kedatangannya dan ada pula yang terlihat bertanya-tanya tentang kedatangannya "Luhan kau disini?"
Suara Baekhyun menginterupsi ketegangan saat ini. Membuat Luhan sedikit tersadar dan menatap tak berkedip pria yang memiliki tinggi kedua setelah Jung Jaehyun di antara anggota mereka "Hey Lu-.."
Alih-alih menjawab sapaan Kyungsoo. Luhan lebih memilih menghampiri temannya dengan raut wajah yang jelas mengatakan kalau Luhan sedang emosi ini. Luhan mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan tadi siang saat berada di kampus. Membuat Taecyeon, Kyungsoo dan Baekhyun menebak kalau Luhan memang baru menyelesaikan mata kuliahnya dan langsung menuju ke basecamp saat selesai.
"Ok Taec-yeon!"
Suaranya mendesis lagi. Suaranya ditahan lagi. Itu artinya-...Luhan datang ke basecamp malam ini bukan karena dia ingin tapi karena dia harus datang untuk menemui Taecyeon dan memastikan bahwa hal yang terjadi tadi siang dengan Taecyeon yang mengancamnya tidak akan pernah terulang lagi-..tidak akan.
"Ada apa Lu? Kau terlihat-..."
BUGH!
"HYUNG / LUHAN!"
Suara teriakan terkejut datang dari seluruh adik mereka serta Kyungsoo dan Baekhyun. Semua menatap tak percaya pada Luhan yang tanpa alasan memukul telak wajah Taecyeon dengan kencang. Tidak sampai terjatuh memang-...Tapi cukup membuat wajah tampan Taecyeon mengeluarkan darah di sudut bibirnya
"Jangan pernah mengancamku lagi atau aku bersumpah akan-..."
"AKAN APA? AKAN MEMBUNUHKU? LAKUKAN SEMAUMU LUHAN! AKU MEMANG HANYA SAMPAH DI MATAMU."
Kali ini Luhan yang terdiam karena Taecyeon membalasnya. Dia bahkan melihat dengan jelas bagaimana wajah marah Taecyeon terlihat sangat marah dan kecewa. Membuat dirinya sedikit merasa bersalah namun tetap pada pendiriannya untuk bersikap tegas pada Taecyeon dan yang lain "Aku akan terus mengancammu jika itu bisa membuat sesuap nasi masuk melewati kerongkonganmu! Aku tunggu pukulanmu yang berikutnya!" katanya menyenggol kencang bahu Luhan sebelum
"MARK!"
"Y-ya Hyung?"
"Berikan kuncimu. Kau batal turun malam ini."
"Tapi hyung-..."
"CEPAT!"
Mark sedikit tersentak mendengar teriakan Taecyeon. Membuatnya tak memiliki pilihan lain selain melemparkan kunci pada Taecyeon dan merelakan balapan tunggal perdananya gagal hanya karena Luhan datang dan mengacaukan segalanya.
Brmm...brrm...BRRRMMMM!
Dan diluar sana terdengar suara mobil dijalankan dengan kecepatan tinggi. Membuat semua orang tahu bahwa emosi Taecyeon sedang pada puncaknya dan melampiaskannya pada balapan mereka malam ini.
"Apa kau senang Lu?-...Jika Ya. Selamat untukmu."
Kyungsoo terdengar menyindirnya, membuat Luhan tak berani menatap dan hanya menunduk memperhatikan satu-persatu anggotanya pergi meninggalkan dirinya
"Kau tahu Lu?"
Kali ini Baekhyun yang bersuara. Mendekati Luhan dan sedikit menghela dalam nafasnya "Dia tidak berniat mengancammu. Sungguh-...Dia hanya mengkhwatirkanmu secara berlebihan. Aku bahkan berani bertaruh kalau rasa khawatir Taecyeon lebih besar dari rasa khawatir kami atau bahkan ketiga temanmu. Hanya pergi temu dia dan segera minta maaf." Katanya memberi saran sebelum ikut menyusul Kyungsoo yang sudah berada di luar menunggunya.
"Hyung! Sebenarnya ada apa denganmu?"
"PERGI-...KALIAN SEMUA CEPAT PERGI! PERGI"
"Kau bukan Luhan."
Ucapan menusuk Taeyong adalah hal yang terakhir Luhan dengar di basecamp mereka. Basecamp yang biasanya dipenuhi suara tawa seluruh anggota kini berubah menjadi tempat mengerikan dengan seluruh umpatan yang dikeluarkan.
Luhan bahkan merasa kehilangan tempat bersembunyinya. Tempat yang biasa ia gunakan untuk "lari" dari masalahnya kini menjadi semua sumber masalahnya.
Brak...!
"Apa yang aku lakukan."
Luhan terjatuh duduk dengan melihat kedua tangannya saat ini. Beberapa hari ini dia menampar kencang wajah Sehun dan beberapa menit yang lalu dia memukul Taecyeon dengan tangan yang sama. Membuatnya sedikit tertawa mengagumi kemampuannya untuk menyakiti seseorang kini bertambah dari sebuah ucapan kasar menjadi sebuah pukulan kencang. Dan parahnya-...Dia menggunakan tangannya untuk memukul dua orang terdekatnya. Dua orang yang membuatnya sangat nyaman di dua hidupnya yang berbeda.
Tangannya mencengkram kuat dadanya. Matanya begitu panas dengan hati yang terus terluka merasakan denyut. Sangat membutuhkan pelampiasan atau dia akan berakhir karena rasa marahnya sendiri.
"ARGHHHHHHHH!"
Luhan menyesalinya. Terlalu menyesalinya hingga tak sudi untuk bertemu atau sekedar mengucapkan maaf. Dan dia sangat mengetahui jika dia terus memiliki sifat dan perilaku mengerikan seperti ini maka dia akan kehilangan-...Segalanya.
Drtt...drrtt..
Sejujurnya ponsel Luhan sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Tapi karena dia terlalu sibuk melampiaskan rasa kesalnya pada Taecyeon dia terus mengabaikannya sepanjang perjalanan dari kampus ke basecamp nya
Drtt...drrtt..
Luhan secara refleks merogoh ponselnya. Sedikit mengusap kasar wajahnya sebelum menaikkan dahi melihat nama Mommy tertera di layar ponselnya. Bertanya-tanya adalah hal yang dipikirkan Luhan saat ini sampai dia teringat skandal yang sedang dialami model berusia tiga puluh tujuh tahun saat ini. Membuatnya sedikit membelalak sebelum
Sret...!
"ARGHHH! PERGI! TOLONG AKU-...SIAPAPUN TOLONG AKU. MINGGIR!"
Jantung Luhan berdegup kencang mendengar suara teriakan ibu Sehun. Dia menebak kalau nomornya tidak sengaja tertekan di panggilan cepat oleh ibu Sehun. Membuatnya semakin berdebar dengan pikiran menakutkan yang mulai menghantuinya sampai
"LUHAN TOLONG MOMMY NAK!"
Tidak-...Mommynya memang menghubungi Luhan. Dan hal semacam inilah yang membuat Luhan semakin gugup bahkan untuk membuka suaranya saja dia tidak bisa. Beberapa kali Luhan memejamkan matanya mencoba mengambil nafas sebanyak-banyaknya sebelum
"M-Mommy?"
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
Yang nanyain gue hiatus apa ga? Hel-luwwww ini gue baru telat seminggu disindir dimana mana. Segala ditanya hiatus ka? Udah nyerah ka?
.
Iya nyerah! Nyerahnya sama kalian yang ga sesabar ngguin HH kode2an di IG di Weibo :" wkkkkk... gue ga nyari alesan. Gue emang telat apdet gegara keasikan maraton W sama UF. Bukannya hiatus...Beluman kepikiran. Tapi kalo ditanyain terus ntar jadi kepikiran guenya *nahkan.
Punya tiga cerita ongoing kan musti ngumpulin mood dlu. Tiap minggu musti moveon dari satu cerita ke cerita lain. Jadi demi kenyamanan dan kenyambungan cerita. Dimohon kesabaranyya ya para reveiwers, readers sama yang silent2 cantik kkkk. Yang jelas apdet pasti lancar? Yep!
.
Pokonya sabar-sabar yang kecintaanku. Aku beluman nyerah kok nulis HH nya. Pasti setiap minggu ada yang di apdet. Ini Cuma masalah waktunya sama jadwal apdet aja yang amburadul. Selebihnya dari senin-minggu. Pasti ada yang diapdet. Okey ya?
Back to story...
.
Maapin bgt HH momentnya kurang bgt. Kondisinya lagi gini jadi ga memungkinkan untuk banyak moment :'V. Tapi udah gue buat memungkinkan di tbc chap ini. jadi kemungkinan banyak di chap depan. Tapi tetep aroganLu! GapekaHun! Yak :V
.
Syip...Happy reading and review.
.
Ketemu di...*masih dipikirin apa yang diupdate.
.
Dahhhhhh met pagiiiii
.
