Secret Room
PREQUEL I
Note : sebenernya Chapter kemarin itu beneran udah end, tapi ada kelanjutan buat penjelasan dari chapter kemarin. Disini bakal dijelasin siapa kyuhyun dan sungmin sebenernya. Bagaimana mereka bisa ketemu untuk pertama kalinya dan apa sebenernya rahasia dari secret room itu. Bakal dibagi jadi 2 atau tiga chapter.
.
.
.
Apa kau pernah menginginkan sesuatu hingga membuatmu tidak dapat berfikir dengan baik ? bahkan kau menjadi bodoh dan bermain-main dengan dunia mu hanya untuk mendapatkan hal itu. Setidaknya begitulah yang ku rasakan. Aku menginginkanya, menipu dan menyelinap masuk dalam kehidupanya.
Hal yang paling konyol yang pernah kulakukan selama ini.
Jahat ? oh kalian tidak dapat mengatakan jika apa yang kuperbuat itu adalah hal yang jahat. Karena bagaimanapun juga aku diciptakan untuk dapat melakukan hal yang ku mau dengan se enaknya. Jadi bukan hal yang salah tentu nya jika aku melakukan berbagai cara dalam mendapatkan apa yang ku mau, toh tidak ada satupun orang yang menginginkanya didunia brengsek itu. Maka jangan salahkan aku jika aku mengurungnya dalam dunia miliku sendiri.
"Apa yang kau fikirkan Min? Kenapa kau diam dan melamun? Apa kau masih marah?" aku memeluk namja kecil yang sedang duduk di atas kursi. Aku tahu apa yang sedang ia fikirkan saat ini, dan itu sanggup membuat ku tersenyum.
"Apa kau sudah merasa puas dengan permainanmu huh? Ck! Kali ini kau bermain cukup lama Kyu!"
"Maafkan aku ne? Aku terbawa suasana disaat harus memerankan marcus, dan membuatmu cemburu dengan dirimu sendiri adalah hal yang menyenangkan"
permainan? Tentu saja, itu adalah hal yang paling mudah ku lakukan dan kau... adalah salah satu peran utama dalam setiap permainan ku atau lebih tepatnya permainan kita.
"Tapi permainan mu kali ini sungguh membingungkan Kyu! Aku sampai merasa sakit jika melihat kau membayangkan Vincent" Sungmin mempoutkan bibirnya. Manis.
"Apa kau ingin bermain yang lain? Kita bisa memainkan peran apapun yang kau inginkan" aku terkekeh dan semakin memeluknya erat.
"Apa kali ini boleh aku yang menentukan? Tapi rasanya tidak menyenangkan saat kau membawaku masuk kedalam permainan itu, seketika aku lupa mana yang asli dan nyata bahkan aku tidak bisa keluar hingga kau yang menghentikanya" Sungmin protes begitu banyak.
Ya, karena aku yang membuat semua permainan itu maka hanya akulah yang bisa mengakhiri semuanya.
"Kau tidak perlu takut Min, bagaimanapun keadaan dan peran yang kita mainkan.. kau akan selalu menjadi pemeran utama"
"Hmmm... " Sungmin berbalik dan membalas pelukanku. Rasanya terkadang masih sulit dipercaya jika sosok yang berada dalam pelukanku saat ini selamanya akan berada disisiku.
"Sudah lama ne ~ tanpa terasa sudah 12 tahun .. sejak saat itu" aku bisa mendengar dengan jelas hembusan nafas berat darinya.
"Aku senang saat itu kau menepati janjimu dan menjemputku... karena aku sangat takut saat terakhir melihat semua menjadi gelap, aku takut kau akan marah karena aku tidak menepati janjiku"
Tidak mungkin aku tidak menepati janjiku. Karena bahkan saat melihatmu detik itu, seperti sekali lagi aku melihat kegelapan. Ingin berteriak namun lebih ingin marah dan menghancurkan semuanya. Menghancurkan siapapun yang sudah menyakitimu dulu.
Hingga pada akhirnya, mengurungmu bersamaku sudah menjadi pilihanku sejak pertama kali kita bertemu. Kematian dan kesendirian ku , kesedihan dan juga kekecewaanmu akan kita rangkai bersama menjadi kebahagian walau penuh dengan tipu daya. Ya, menipu mu adalah hal yang akan selalu kulakukan dan tertipu olehku akan menjadi satu-satunya hal yang kau nikmati.
.
.
.
"A-aku tidak mau! Disana adalah rumah hantu!" anak kecil itu berteriak pada temanya yang mengajaknya berlari menuju rumah itu.
"Kau pengecut!" sedangkan tiga anak lain yang mengejek sebenarnya tidak kalah takut dengan anak itu. Dari luar rumah besar penuh dengan semak belukar itu sudah lama tidak dihuni. Menurut warga dulu rumah besar itu habis terbakar bersama dengan pemilik dan juga anak satu-satunya yang mereka miliki.
"Sungmin! Kau pengecut! Bukankah kau ingin menjadi teman kami? Seharusnya kau yang masuk kedalam sana! Tadi kita sudah membuat kesepakatan" Anak yang takut itu mengigit bibirnya. Sesungguhnya ia benar-benar ingin menangis tetapi ia sangat ingin diterima menjadi bagian jadi mereka. Selama ini tidak ada yang mau berteman denganya hanya karena Sungmin cacat dan sulit berjalan.
"Ba-baiklah" dengan langkah ragu Sungmin menuju ke arah pintu gerbang tua yang tidak tertutup dengan rapat iitu.
"Krieeeeeeeeeet"
Sungmin berdiri tegang disaat pintu itu tiba-tiba bergerak sendiri seperti mengizinkan dirinya untuk masuk. Rasa takut semakin besar namun ia tetap berfikir positif, ya pintu itu pasti terbuka karena angin yang berhembus.
"Hihihi sesudah ia masuk kita harus meninggalkanya"
"tentu saja bodoh! Siapa yang mau berteman dengan anak cacat sepertinya ? kedua orang tuanya saja malu"
Bisikan kecil yang tidak bisa didengar oleh Sungmin yang sudah semakin melangkakan kakinya masuk kedalam halaman rumah tersebut. Sungmin menatap sekelilingnya yang penuh dengan tumbuhan semak belukar, hingga ia perlahan menapaki tangga yang membawanya berdiri tepat didepan pintu masuk rumah besar tua itu.
Ia ragu untuk membuka pintu tersebut dan lebih memutuskan berbalik, mencoba menengok apa kah temanya masih berdiri disana menunggunya. Tetapi seperti yang sudah Sungmin duga, mereka sudah tidak lagi berdiri disana. Pasti menyuruhnya masuk kedalam rumah ini hanyalah alasan mereka agar Sungmin tidak bermain dengan mereka.
"Hiks..Hikss" Sungmin kecil terduduk dan melipat kedua kakinya. Menangisi nasipnya yang terlalu kejam untuk dirasakan seorang anak kecil. Ia tidak peduli lagi dengan betapa menakutkanya rumah tersebut. Sungmin hanya tau saat ini ia benar-benar sudah ditolak oleh siapapun dikehidupanya.
"Mengapa menangis, Anak manis?" seseorang menepuk kepala Sungmin. Sungmin terdiam dan rasa takut kembali menyeruak masuk ke dada kecilnya. Siapa orang yang sedang menepuk kepalanya ini.
Dengan keberanian yang tersisa, Sungmin mengangkat kepalanya dan menatap sosok tinggi yang berdiri dihadapanya. Sosok itu berwajah pucat namun tampan, dan yang paling penting adalah ia berwujud manusia.
"Hiks..hiksss.." tanpa pikir panjang Sungmin memeluk sosok itu. Melampiaskan semua rasa sakit juga kecewa yang sudah ia alami. Setidaknya sosok itu masih mau membalas pelukan Sungmin dan menepuk bahu Sungmin, mencoba menenangkan anak kecil yang menangis meraung-raung.
"Apa kau sudah lebih baik?" Sosok itu tersenyum dan menghapus air mata dari wajah mungil yang ada dihadapanya. Menarik, baru kali ini ia kedatangan tamu seorang bocah kecil.
"Ne, Terimakasih Hyung" Sungmin kecil mengangguk dan menghapus air matanya. Ia mengambil tongkat miliknya dan berdiri. "A-aku pulang dulu ne?" Sungmin merasa canggung karena sepertinya pria dewasa yang berdiri dihadapanya terus menatapnya.
"Apa kau tidak ingin masuk terlebih dahulu?" Pria itu membuka pintu besar rumah tua itu. Sungmin terdiam, kakinya terasa bergetar. Ia merasa ada hal yang tidak beres dengan pria itu.
"Jangan takut, kau datang kesini ingin bertamu bukan? Maka akan ku persilahkan kau masuk " Pria itu menarik tangan Sungmin dan menggendongnya.
"A-andwee! Turunkan aku Hikss.. A-aku Takuut! Andweee" Sungmin kecil berontak tapi pria itu seperti tidak perduli dan terus membawa Sungmin masuk kedalam rumah itu.
"Behentilah menangis dan lihatlah" Sungmin mengigit bibir bawahnya sebelum perlahan membuka matanya dan mendapati hal yang mengejutkan.
Isi rumah itu tidak sama dengan apa yang terlihat dari luar. Sungguh! Rumah itu terlihat sangat mewah dengan perlengkapan yang memenuhi ruangan. Layaknya rumah mewah bangsawan pada umumnya. Ini gila, pasti Sungmin kecil sedang bermimpi.
"A-apa..ini"
"Rumahku" Pria itu tersenyum dengan kecil lalu duduk dikursi besar berwarna hitam. Ia mengarahkan tanganya untuk mempersilahkan Sungmin duduk.
"Jadi, ada keperluan apa kau menangis didepan rumahku, anak manis?"
"Mi-mianhee, aku tidak bermaksud menggangu Hyung sungguh.. hanya saja teman ku berjanji akan mengizinkanku bermain dengan mereka jika... aku berhasil masuk ke rumah hantu ini" suara Sungmin semakin mengecil ketika ia mengatakan rumah hantu.
"Lalu? Apa yang kau inginkan sekarang?"
"Ti-tidak ada , aku hanya ingin pulang karena jika tidak umma akan memarahi dan memukul ku" Sungmin tau ini sudah sore.
"Jadi siapa namamu?" Pria itu seperti mengabaikan apa yang Sungmin katakan. Tatapanya masih sama, menusuk dan menelanjangi.
"Su-Sungmin.. Lee Sungmin Imnida" Sungmin menundukan tubuhnya seakan memberi hormat.
"Ah Lee Sungmin, nama yang manis seperti dirimu" Pria itu terkekeh. Ia bangun dari tempat duduk nya dan mendekat kearah Sungmin.
"apa kau ingin mempunyai teman? Bagaimana jika aku menwarkan diri menjadi teman mu? Maka kau .. tidak akan kesepian dan tidak akan tersakiti lagi" Pria itu menarik tangan mungil Sungmin dan menciumnya.
Namja kecil itu terdiam sebelum matanya meneteskan air, menangis. Untuk pertama kalinya ada yang memperlakukanya dengan lembut dan menawarkan menjadi teman bermainya. Walau Sungmin kecil tau, bahwa sosok dihadapanya tidak lah sama dengan dirinya. Tentu saja mata merah pekat yang dimiliki oleh sosok dihadapanya sudah cukup membuktikan bahwa ia bukanlah manusia.
"Apa hyung tidak akan menyakitiku atau memakanku?" Sungmin dengan nada berbinar melantunkan pertanyaan konyolnya.
"Hahaha, tidak akan lagi pula aku tidak suka memakan anak kecil" tetu saja ! aku lebih suka membunuh dibandingkan memakan. Tidak akan ada rasa yang enak jika memakan daging-daging penuh dosa milik manusia yang tidak tahu diri.
"kalau begitu aku mau! Hyung sekarang menjadi teman ku ne? Jangan jahat kepadaku" Sungmin mengulurkan tangan kecilnya " Siapa nama Hyung?"
"Aku Kyuhyun.. Cho Kyuhyun" Kyuhyun tersenyum dan menyambut uluran tangan kecil itu. Rasanya hangat dan kehangatan itu perlahan masuk kedalam hatinya. Perlahan tapi pasti.
.
.
.
Aku tidak pernah tau apa kesenangan yang sesungguhnya. Terkurung disini sudah menghilangkan makna kesenangan itu tersendiri, aku terbiasa sendiri. Duduk menunggu tetapi tidak tahu apa yang ditunggu, menatap semua yang lalu lalang dari luar jendela dan hanya memandang kosong. Tidak ada yang menarik. Hanya seperti ini sejak beratus-ratus tahun yang lalu.
Hingga sosok kecil itu datang dengan air mata dan juga kesedihan didalam dirinya. Aku bisa merasakanya. Melihatnya membuat senyum kecil terulas dibibirku yang sudah lama kaku. Rasanya aku ingin mengurungnya disini bersama denganku. Tetapi apakah itu benar? Karena jika ia berada disini bersama ku maka ia akan merasakan apa yang ku rasakan.
"Kyuhyun Hyung " suara kecil itu bergema diruangan kosong ini. Menyelinap perlahan dan menengok mencoba mencari sesuatu. Aku hanya tersenyum melihatnya dari atas.
Beberapa minggu belakangan ini sosok kecil inilah yang selalu menemaniku. Menerobos masuk kedalam rumah kosong yang hanya berisikan semak belukar jika yang lain melihatnya.
"Apa kau mencariku Min?"
"Hyaaaaa!" sosok itu berjengit kaget, ia membalikan tubuhnya dan memandangku dengan wajah cemberutnya.
"kau menganggetkan ku Hyung! Kenapa lama sekali?" dengan perlahan Sungmin merentangkan tanganya dan memeluk ku erat.
"A-Auuu!" ringisan kecil keluar saat aku memeluk punggung kecil miliknya. Aku menatapnya datar dan ia terlihat takut.
"Buka baju mu Min, biar aku melihatnya"
"A-andwe! Jangan hyung! Belakang tubuhku sangat jelek" Sungmin menahan ujung bawah bajunya dengan gemetar.
"Kemarilah biar aku lihat Min, kau tidak jelek" Aku menarik tanganya dan mendudukanya diatas pangkuan ku. Ia dengan ragu mengangguk dan membuka bajunya.
Hanya wajah datar yang saat itu dapat ku tunjukan. Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa melihat punggung kecil yang penuh dengan luka itu.
"A-appo hyung" Ia meringis saat tanganku menyentuh bagian luka yang terlihat baru. Membiru dan bahkan ada bekas darah yang masih tersisah.
"Apa umma dan appa mu memukul mu lagi?"
"Ti-tidak"
"aku tidak suka kebohongan Min, bukankah kita sepakat untuk berkata jujur?"
"Umm, Mianhee..."
"Lalu bagaimana bisa kau mendapatkan luka ini?"
"Umma dan appa memukul ku karena ia tahu aku menyelinap keluar rumah dan datang ke rumah ini, mereka bilang disini banyak hantu dan ... mereka selalu mendoa kan ku agar tak kembali jika aku masuk kedalam sini" Sungmin menundukan wajahnya, air mata jatuh dari manik foxy miliknya.
"lantas, mengapa hari ini kau kesini? Bukankah kau tau jika umma dan appamu akan menghukumu?"
"Aku ingin bertemu dan bermain dengan Kyunnie Hyung"
Sungmin menangis. Aku hanya bisa mendekapnya dan mengelus dengan lembut surai hitam pekat miliknya. Aku tidak mengerti bagaimana cara menenangkan seseorang. Karena dulu, akupun tidak pernah tau bagaimana rasanya kasih sayang juga kehangatan.
Aku hanya tau bagaimana mebalas rasa sakit yang pernah ada. Meski itu berati menyerahkan seluruh kehidupanku selamanya untuk terkurung dirumah ini.
"Ah! Aku lupa.. ini, untuk Kyunnie hyung" tangan kecil itu memberikan ku sebuah plastik putih berisikan es krim.
"Untuk ku ? sungguh ?"
"Ne! Tentu saja! Hadiah karena hyung sudah mau menjadi temanku"
Wajah polos penuh dengan ketidak tahuan itu membuatku ingin mengurungnya. Seharusnya sejak pertama bertemu yang ia lakukan adalah berlari dan tidak pernah kembali kerumah ini. Seharusnya ia takut kepadaku, namun sebaliknya... dengan wajah polos dan senyum lebar ia selalu kembali ke esokanya. Menanyakan bagaimana kabarku, memberikanku hadiah kecil, dan bercerita segala hal yang ia sukai.
Mengisi kekosongan rumah hampa ini dengan gemaan suara cerianya.
"Sungmin, apa kau tidak mau tinggal disini denganku?" Pertanyaan bodoh yang selalu tertahan dimulutku akhirnya pun keluar.
"Aku tidak bisa, umma dan appa pasti akan mencariku dan khawatir padaku" Sungmin terlihat murung, namun sedetik kemudian wajah ceria itu kembali terlihat. "Tapi hyung tenang saja! Aku akan selalu kembali kesini dan bermain dengan hyung! Jadi hyung tidak akan merasakan kesepian"
"kau janji?"
"Ne!"
Seperti anak kecil yang takut dibohongi, seperti itulah aku saat ini. Manusia itu lemah, entah kapan saja mereka bisa mati. Manusia itu egois, melupakan bukanlah hal yang sulit untuk mereka. Dan manusia itu .. mudah berbohong.
"Jika kau bohoong, maka aku akan mendatangimu lalu memakanmu hidup-hidup" gurauan kecil itu sengaja aku lontarkan, namun jawaban mengejutkan dari bibir kecilnya membuat ku terdiam.
"Baiklah, kalau Minnie tidak datang dan berbohoong hyung bisa datang ke rumah ku dan memakanku hidup-hidup! Aku akan ikut bersama hyung jika aku berbohoong" Ia terkekeh kecil tapi jari kelingking kecilnya mengait jari kelingking ku.
"Yakso ne ? hyung akan menjemputku kalau aku berbohong?"
Ia terkekeh dan mulai bercerita banyak hal. Aku hanya bisa mendengarkan sambil tersenyum sesekali. Anak manis ini membawa rasa manis juga dikehidupanku yang sudah lama mati. Takdir kah? Atau hanya candaan tuhan yang ingin mempermainkan ku? Tidak peduli apapun namanya... aku hanya tahu satu hal.
"dia akan menjadi miliku"
Tanpa sadar, sore pun sudah menyapa. Sosok kecil itu bangun dan menepuk-nepuk pakaianya. Ia menatap keluar dan menghembuskan nafasnya berat. Berbalik lalu menatap ku dengan senyum kecilnya.
"Aku pulang dulu ne Kyunnie Hyung..." Sungmin menggerakan tongkat kecil yang selalu ia gunakan untuk membantunya berjalan. Bahu kecil itu menjauh perlahan demi perlahan. Namun ia berbalik sebelum benar-benar menghilang.
Ia tidak mengatakan apapun namun wajahnya penuh dengan kesedihan. Seperti berkata tidak ingin pulang dan meminta ku menolongnya. Aku hanya bisa diam disini, terkaku saat sosok itu berbalik lagi dan melangkah semakin menjauh.
Sore itu... aku tidak pernah tau.. jika sore itu menjadi terakhir kali nya aku melihat senyum dan tawa serta wajah sosok kecil bernama Sungmin itu.
.
.
.
Seminggu berlalu dan sosok kecil itu tidak pernah lagi terlihat sedangkan aku dengan bodohnya masih menunggu. Apa tidak boleh mempercayai janji seorang anak kecil? Jika ia menyebutnya kebodohan maka biarlah aku menjadi bodoh bersam dengan janji yang sudah ku buat.
"Ah~ bulan purnama" aku menatap langit yang hanya ada bulan, tidak ada bintang disana. Angin yang terlalu dingin membuat bintang pun tertutup awan gelap. Hujan turun dan kesepian semakin menyeruak kedalam hatiku.
Sebelumnya kesepian ini terasa biasa saja untuk ku. Sebelumnya sendiri bukanlah hal yang menyebalkan untuk ku. Sebelumnya kekosongan ini bukanlah masalah buatku. Dan sebelumnya keheningan ini adalah teman baik ku.
Tapi ... entah mengapa sekarang semua terasa berbeda.
Aku menghembuskan nafasku berat dan rasa bosanku menunggu sudah sampai pada batas ambangnya. Aku memutuskan untuk menepati janji yang sudah kami buat, menjemputnya jika ia tidak datang menemui ku lagi.
Setidaknya tidak untuk memakanya, tetapi untuk memastikan bocah itu baik-baik saja sudah cukup.
Aku menyusuri jalan dari satu bangunan kebangunan lain, sudah sejak lama tidak melangkahkan kaki ku keluar dari rumah itu. Ya, sejak saat itu aku memilih berdiam diri disana dan mengunci diriku rapat-rapat.
Senyum ku terukir saat melihat rumah kecil disudut kota ini. Aku bisa mencium dengan jelas bau harum dari tubuh Sungmin. Tetapi... ada yang salah. Dengan cepat aku mendekat dan menerobos masuk kedalam rumah gelap yang tidak diterangi satu lampupun.
Langkah kaki ku terhenti saat mendapati kondisi rumah yang berantakan, dengan barang-barang yang sudah pecah dan ... sosok dua orang yang tergantung pada seutas tali yang terikat erat pada leher keduanya. Denganperasaan tidak menentu, perlahan aku menelusuri rumah itu dan mencoba mencari sosok kecil yang aku rindukan.
'aku menemukanya'
Batin ku berteriak senang sebelum akhirnya aku terdiam. Tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini, aku melihat sosok kecil itu tergeletak diatas lantai dengan luka dikepalanya dan darah kering yang menghiasi lantai.
Tongkat yang selalu ia gunakan untuk menopang tubuhnya pun sudah patah menjadi dua bagian. Kaki ku gemetar mendekat ke arahnya.
Mata foxy itu tertutup rapat dengan bekas air mata yang tersisah. Bibir mungil itu mengeluarkan darah. Dan wajah putih cantik itu penuh dengan luka lebam. Itu belum seberapa hingga aku.. tidak lagi merasakan hawa kehidupan dari sosok kecil itu.
Ku ulurkan tanganku tepat ke atas dadanya ... dan tidak ada lagi yang berdetak disana. Sungmin telah mati. Sosok kecil yang selalu tersenyum dihadapanku kini sudah terbaring kaku dengan bekas luka juga darah disekitarnya.
Seharusnya sore itu aku tahu... aku harus menahanya dan mengurungnya bersama ku. Namun dengan bodohnya aku membiarkan ia pulang dan pergi meninggalkanku.
"Kau berbohong Min, kau bilang kau akan datang lantas mengapa kau tidak menemui ku dan malah asik tertidur disini?" Aku merengkuh tubuh mungilnya dan memeluk tubuh yang sudah dingin itu.
"Janji tetaplah janji Min, aku sudah datang dan ... kau harus menepati janjimu"
Untuk pertama kalinya sebuah cairan bening mengalir dari mataku. Entah sudah berapa lama aku tidak tahu rasanya menangis... dan detik ini hanya kerena sebuah bocah kecil, aku menangis. Aku menggendong sosok itu sebelum melangkah keluar dari rumah gelap terkutuk itu.
Dalam hitungan detik, rumah itu terbakar dengan api yang menyala besar. Aku masih bisa melihat satu persatu orang datang dan mencoba mematikan api yang semakin melahap habis rumah tersebut. Untuk kedua kalinya aku membakar rumah beserta dengan isiniya... juga kenangan didalamnya.
Setidaknya sangat bagus aku bertemu dengan kedua orang tua Sungmin dalam ke adaan mereka mati. Karena jika tidak, aku akan dengan senang hati mencabut kedua lengan yang selalu mereka gunakan untuk melukai Sungmin dan mematahkan leher mereka hingga sakit akan mereka rasakan sampai kematian menghampiri.
"Ayo kita pulang Min..." Aku mencium kening sosok yang berada dalam pelukanku. Tidak akan ada yang tahu jika Sungmin menghilang, karena mereka akan berfikir Sungmin sudah mati bersama dengan hangusnya rumah tersebut.
Mulai detik ini, aku akan mengurungnya dalam duniaku. Sehingga tidak akan ada lagi yang akan menyakitinya. Mengurungnya dan memilikinya semauku hingga tidak ada lagi batasan yang dapat memisahkan kami.
Karena jika tuhan hanya menjadikanya perantara sebagai alat mempermainkanku, maka aku sudah bersyukur bertemu denganya. Selanjutnya ... permainan ini hanya akan ada aku sebagai penciptanya.
Rumah besar kosong yang ditumbuhi semak belukar, akan ku sulap menjadi rumah megah penuh dengan kehangatan. Dan disana sekali lagi, kau dan aku akan memulai semuanya. Membangun permainan dan hayalan-hayalan kecil penuh dengan kebahagian.
.
.
.
sejujurnya author... gamang (?) #DIBANTAI
