Dumped Princess
Chapter 11
GS! EXO OFFICIAL COUPLE
MONARCHY CONSTITUTIONAL! AU
HUNHAN AS MAIN COUPLE
. . .
Luhan diusir dari rumahnya ketika pemilihan Putri Mahkota Korea Selatan akan dilaksanakan. Pilihan yang diberikan Xi Hangeng—ayahnya hanyalah masuk ke istana atau keluar dari rumah selamanya. Luhan yang bingung tak tau harus bagaimana. "UJIAN TAHAP PERTAMA DIMULAI!" TENGGG! Suara gong kerajaan berbunyi! Putra Mahkota yang duduk disinggasana yang tertutup tirai hanya menatap semua calon Putrinya.
. . .
Oh Sehun as Crown Prince Oh Sehun
Xi Luhan as Crown-Princess-to-be Xi Luhan
Wu (Oh) Yifan as Crown Prince's Brother
Oh Yunho as South Korea King
Kim Jaejoong as South Korea Queen
Tan (Xi) Hangeng and Kim Heechul as Luhan's parents
. . .
FujoAoi present…
. . .
Seminggu kegiatan bulan madu mereka lakukan dengan kunjungan ke keluarga kerajaan Thailand dan juga menikmati wisata di Thailand. Hingga akhirnya, Sehun dan Luhan kembali tiba di Korea Selatan. Sama seperti saat keberangkatan kemarin, Sehun dan Luhan terus diliput oleh pencari berita yang seperti semut mengerubungi gula.
Sehun dan Luhan masuk ke dalam limousine dan menghidupkan radio. Luhan menyandarkan kepalanya di dada Sehun karena lelah. Sehun mengelus rambut Luhan dengan lembut. Mereka sama-sama lelah saat ini. Tapi, Sehun harus bertahan, karena ia berjanji akan membiarkan Luhan menjadikannya tempat sandaran yang nyaman.
'Berita terkini dari gedung dewan tetua Korea Selatan. Kebijakan Yang Mulia Raja tentang penyelidikan penyebab kematian orang tua Yang Mulia Putri Mahkota menimbulkan gejolak di dalam gedung dewan. Lee Ki Hyo, anggota dewan tetua Korea mengajukan surat untuk membatalkan perintah Yang Mulia Raja pada badan Intelijen untuk menyelidiki kejadian itu.'
'Saat ini, mulai timbul desas-desus yang mempertanyakan posisi Putri Mahkota yang tanpa orang tua dan tanpa penyokong dari belakang. Apakah ia sanggup untuk menjalankan tugasnya sebagai Putri Mahkota tanpa bimbingan orang tuanya?'
Luhan menegang. Apa maksudnya semua berita ini? Luhan menatap Sehun dengan tatapan penuh tanya. "A-Apa maksudnya i-itu?"
'Usulan pencopotan gelar Putri Mahkota dari Yang Mulia Putri Mahkota Xi Luhan semakin kuat gaungnya di masyarakat. Apakah ini benar adanya usulan ini, belum ada kepastian dari pihak keluarga kerajaan. Mari kita tunggu kabar selanjutnya dari pihak keluarga kerajaan'
Luhan menyandarkan tubuhnya yang menegang di jok limousine. Sehun mencoba menenangkan Luhan dengan mengelus punggung tangan istrinya. Di sepanjang jalan menuju istana, beberapa televisi besar yang berada di gedung-gedung menampilkan gambar perbandingan kekuatan pendukung dirinya dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh calon-calon Putri Mahkota dulu.
Setibanya di gerbang istana, mereka disambut oleh para pencari berita yang menunggu mereka untuk keluar dari limousine dan memberikan sedikit kabar kepulangan mereka dari Thailand. Para pencari berita itu mulai mendekati limousine dan menghalangi jalan masuk Sehun dan Luhan. "Yang Mulia, harap bersabar. Tim pengamanan akan segera mengamankan mereka. Kita akan segera masuk," ucap supir.
Luhan menutup matanya. Matanya rasanya semakin panas. Apa lagi ini? Ia belum memiliki fondasi yang cukup kuat setelah meninggalnya orang tuanya. Jangan lagi ada gangguan atau terpaan saat ini.
. . .
Sebulan sudah usulan gila itu muncul dan masih saja topik yang sangat sensitif itu tidak menghilang walaupun raja Yunho sudah memberikan ultimatum kepada berbagai media yang mengusik ketenangan menantunya. Luhan menjadi lebih pendiam dari biasanya. Sudah sering Jaejoong mengajak Luhan berbicara. Tapi, Luhan lebih memilih untuk mengabaikan saran Jaejoong.
Jaejoong sudah tak sanggup lagi menenangkan hati Luhan yang bagai api yang bergejolak di dalam es yang beku. Sehun juga sudah pernah berbicara pada Luhan. Tapi, Luhan hanya diam dan kemudian beranjak pergi meninggalkan Sehun sendirian.
Saat ini, di sekolah contohnya, ruang kelas khusus untuk tiga pasangan populer di Korea Selatan itu sedikit ricuh membicarakan bagaimana desain cincin pernikahan Chanyeol dan Baekhyun yang akan dilaksanakan setelah upacara kelulusan beberapa bulan lagi. Chanyeol dan Baekhyun akhirnya memutuskan menikah setelah kedapatan oleh orang tua Chanyeol—yang kebetulan sangat-sangat-sangat-sangat menyukai dan menyayangi Baekhyun—bercumbu dalam kamar Chanyeol hingga kancing seragam sekolah Baekhyun terbuka tiga kancing.
Tentu saja, Nyonya Park memutuskan menjadikan Baekhyun sebagai menantunya sesegera mungkin sebelum Baekhyun 'kebobolan' oleh anaknya sebelum mereka menikah. Jongin dan Kyungsoo mendecak mendengar Chanyeol yang sangat-sangat senang mendengar kabar pernikahannya dengan Baekhyun sudah tersebar di lingkungan sekolah. Dengan begitu, dia lebih mudah mengklaim Baekhyun itu sebagai miliknya dan Baekhyun tak akan bisa didekati siswa lain.
Jongin dan Kyungsoo sudah menjadi sepasang kekasih yang saling pengertian. Jongin yang kelihatan kasar diluar bertemu dengan seorang wanita berjiwa juang tinggi dan keibuan seperti Kyungsoo. Kini, keluarga Jongin tak lagi menentang hubungan Jongin dan Kyungsoo setelah menyaksikan sendiri bagaimana Kyungsoo begitu keibuan merawat Jongin ketika mereka mengundang Kyungsoo ke rumah besar mereka.
Sehun ricuh bersama Jongin membicarakan berapa kali Chanyeol harus membuat Baekhyun hamil agar rumah Chanyeol itu cukup berisik saat mereka berkunjung dan tentu saja omongan tak berkualitas—menurut Baekhyun dan Kyungsoo—itu hanya menjadi urusan laki-laki. Sedangkan Luhan, dia menjadi rajin dan lebih sering menyibukkan dirinya menyelesaikan semua kegiatan belajarnya bersama guru-guru istana.
Pulang sekolah, Luhan kadang mengikuti pelajaran musik, sastra, sejarah, tata krama, dan mengikuti kelas memasak—hobi barunya. Hingga akhirnya Luhan hanya akan teronggok tak berdaya ketika tiba di paviliun dengan badan penuh peluh dan gurat kelelahan. Sehun dan Luhan masih berkomunikasi walaupun itu menjadi sedikit kaku.
Ketika Jongin—atau Kai—mengusulkan Chanyeol untuk memiliki 10 anak dan diikuti pukulan Baekhyun, Sehun membuka kamera di ponselnya dan merekam kegiatan Luhan. Luhan yang sedang sibuk menulis akhirnya terusik ketika melihat Sehun merekamnya dari depan. "Selamat siang Putri Mahkota," sapa Sehun. Luhan tersenyum dan kembali serius.
Sehun meninggalkan ponsel miliknya yang ia sandarkan untuk tetap merekam Luhan yang sedang bekerja mengerjakan berbagai hal. Ketika jam pelajaran selanjutnya dimulai, Sehun mengambil ponselnya dan menyimpan video tadi.
. . .
Saat ini langit terlihat mendung, beberapa pohon yang tertiup angin menimbulkan suara berisik seolah memanggil hujan agar segera turun dan membasahi Seoul di sore hari. Sehun melihat dari jendela kaca paviliun tak ada orang yang masuk ke area paviliun dan bahkan dayang-dayang yang biasanya bersiaga di depan paviliun sekarang berteduh di sebuah ruangan kecil yang disediakan untuk dayang yang berjaga.
Daun-daun kering berterbangan dan hujan perlahan turun semakin deras dan semakin deras. Luhan tak kunjung kembali ke paviliun dari kelas musik yang seharusnya berakhir 15 menit lalu. Sehun resah. Ia memegang payung yang tersusun rapi di ujung ruangan, bersiap menyusul jika Luhan tak kunjung kembali. Tapi, niatnya untuk mencari Luhan pupus ketika melihat tuan Hong datang dan memberikannya beberapa berkas tentang perkembangan promosi budaya mereka di luar negeri.
"Ini berkasnya, Yang Mulia," ucap Tuan Hong. Sehun menerima berkas dan kemudian meletakkannya di meja kecil di depannya. "Yang Mulia, anda menunggu siapa?" tanya Tuan Hong. Sehun diam kemudian menjawab, "Putri Mahkota belum kembali," jawabnya was-was ketika melihat pintu masuk yang tak dijaga bergerak sedikit.
Sehun baru saja akan mengabaikannya sebelum ia lebih dahulu melihat tubuh Luhan basah kuyup berlari menuju paviliun. "OH TUHAN!" Sehun berlari menghampiri Luhan yang terengah-engah dan mencoba merapikan rambutnya yang berantakan. "OH LUHAN!"
Luhan mendongak melihat Sehun yang sangat cemas dan marah melihatnya seperti itu. Dayang-dayang berhamburan keluar dan memberikan Luhan handuk serta mengambil tas Luhan yang basah. "Ya-Yang Mulia," cicit Luhan. Suaranya yang kecil, hilang karena suara petir dan angin yang semakin keras. Sehun menutup matanya karena kesal, tak sanggup memarahi Luhan.
"Masuk, aku tak peduli kau marah atau tidak sekarang. MASUK!" bentak Sehun akhirnya. Luhan berjengit begitu pula dayang-dayang disana. "Tak ada orang yang boleh masuk ke paviliun termasuk raja dan ratu. Mengerti?" Perintah Sehun membuat semua dayang mengangguk dan melaksanakan perintah.
Sehun menggiring Luhan masuk ke kamar mandi dan membiarkan Luhan duduk di atas kloset duduk mewah berharga jutaan. Sehun hanya diam tak bertanya kenapa Luhan melakukan hal berbahaya seperti itu. Bisa saja jika Luhan salah melangkah ia terjatuh ke dalam kolam yang dalam dan berjumlah banyak di istana, atau ia terpeleset dan luka parah.
Luhan menggigil dan ia melihat Sehun menyiapkan air hangat di shower yang mengalir. Perasaan bangga dan bersalah masuk ke hatinya. Ia bangga memiliki Sehun—sang Putra Mahkota nan terhormat—sebagai suaminya yang sangat baik. Namun, rasa bersalah tak bisa ia elakkan dari hatinya. Sehun seharusnya dilayani bukan melayani dan ia merasa tak berguna sebagai seorang istri, hanya menyusahkan Sehun.
"Buka bajumu," perintah Sehun dengan dingin. Luhan menurut. Setelah membuka seluruh pakaiannya di depan Sehun, Luhan ditarik menuju shower box. Sehun mengguyur seluruh tubuh Luhan dengan air hangat. Air hangat yang Luhan rasakan menjadi dingin melihat bagaimana wajah Sehun menahan amarah. Luhan menyentuh pipi Sehun yang sudah sangat jarang ia cium di pagi hari.
Sehun melepaskan tangan Luhan dari pipinya dan membersihkan tangan Luhan itu. Luhan menunduk melihat Sehun yang dingin padanya. Sehun mulai menyabuni seluruh tubuhnya sehingga aroma vanila menguar dari badan Luhan. Luhan menutup matanya, berat sekali hanya untuk melihat semuanya.
BRUKKK
. . .
Luhan terbangun dan melihat langit-langit kamar berwarna putih dan kuning pucat. Luhan teringat dia pingsan di dalam shower box saat Sehun memandikannya, sekarang dimana Sehun berada?
Luhan melihat pintu kamar yang terbuka memperlihatkan Putri Zitao masuk dibantu oleh seorang dayang dan kemudian duduk di kursi yang disediakan di sebelahnya. "Sudah sadar?" Luhan mengangguk pelan. Zitao mendekat dan kemudian mengecek suhu tubuhnya.
Aura keibuan Zitao keluar dan membuat Luhan kagum bagaimana seorang Putri kerajaan bisa sangat ramah dan sebaik Zitao. Zitao tersenyum ketika sudah mengecek suhu Luhan. "Tidak terlalu panas. Sudah turun."
ZItao diam, sama dengan Luhan, mereka tak punya topik untuk dibicarakan. "OH!/OH!" Luhan dan Zitao bersamaan mengatakan hal yang sama. "Yang Mulia duluan saja," ucap Luhan. Zitao tersenyum. "Maaf, aku memotong. Bagaimana perasaanmu selama tinggal di istana?" tanya Zitao. Luhan tersenyum kecut.
"Rasanya terlalu sepi dan terlalu membebani," jawab Luhan jujur. Zitao tersenyum. "Begitulah yang setiap Putri Mahkota rasakan," kata ZItao. "kalian akan dielu-elukan ketika kalian melakukan sesuatu yang baik. Dan ketika ada cacat saja pada diri kalian, kalian akan dicibir, seperti barang yang tak berguna dan entah kenapa ada di dunia ini," sambungnya.
Luhan mengangguk. "Lalu, kau mau bertanya apa?" tanya Zitao. Luhan menatap pintu sebentar namun Zitao sudah mengerti. "Hari sudah sore, Sehun sedang menghadiri pertemuan dengan Tuan Hong dan Menteri Kebudayaan. Rencananya, Sehun akan pergi ke Inggris besok pagi selama 4 hari kedepan. Ini kepergian pertamanya setelah kalian menikah, benar?" tanya Zitao. Luha mengangguk.
"Mungkin akan sedikit sepi, tapi biasanya Yang Mulia Ratu akan menemanimu di paviliun," jelas Zitao. Zitao benar-benar baik dan ia memberitahukan segala kebudayaan istana kepada Luhan. Sampai akhirnya hari benar-benar gelap, Zitao bersiap untuk pergi. "Semoga cepat sembuh, Yang Mulia Putri Mahkota."
Zitao pergi dengan tas Gucci berwarna peach di lengan kanannya. Luhan merasakan selang infus menempel di tangannya. Hanya itu yang menemaninya saat ini. Sepi, lagi. Luhan melihat remote televisi di nakas sebelah kirinya. Namun, tangannya terlalu jauh untuk menjangkau itu. Luhan mencoba untuk duduk, namun pusing menderanya. Luhan mencoba menutup matanya dan meraih remote dalam keadaan mata tertutup.
Luhan menjangkau hingga akhirnya tangannya tidak lagi menyentuh nakas. Badannya oleng dan hampir saja terjatuh sebelum sesuatu menahannya. Sehun. Putra Mahkota sudah kembali. Sehun dengan kemeja putih dan dasi hitamnya yang renggang menopang badan Luhan agar tak terjatuh.
"Hati-hati," ucapnya.
Sehun membantu Luhan kembali ke posisinya dan menghidupkan televisi yang berisi berita jam 7 malam tentang berita internasional. Sehun mengambil posisi di samping Luhan dan menghadap sebelah kanan wajah Luhan yang menatap serius layar televisi.
Sehun mencuri ciuman dari bibir Luhan dan membuat Luhan kaget serta merona. "A-Apa-apaan itu?" tanya Luhan dengan gugup. Sehun tersenyum, "Kau kaget ya?" godanya. Luhan merona lagi. "Si-Siapa yang tak akan kaget ji-jika begitu?" balas Luhan.
Sehun tersenyum dan kemudian mendekatkan badannya dengan badan Luhan. "Aku benar-benar merindukanmu," ucap Sehun. Luhan tersenyum. "Kita setiap hari bertemu, sayang," balas Luhan dan membuat Sehun meringis. "Kau tidur seharian ini."
Luhan terdiam. "Siapa yang tidak kaget melihat istrinya pingsan di dalam shower box? Untung saja kita punya bath up. Jadi aku segera membilas badanmu dan memakaikan pakaian baru kemudian aku memanggil dayang dan dokter," ucap Sehun. "aku tidak mungkin membiarkan seluruh badanmu diperlihatkan ke orang lain."
Luhan mengangguk. "Terima kasih kalau begitu," ucapnya yang kemudian ditambah dengan ciuman selamat malam yang panjang sebelum akhirnya berpelukan dan tidur berdua.
. . .
Luhan menatap Sehun yang sedang sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Inggris. "Sehun, aku hari ini ke sekolah, ya?" bujuk Luhan lagi. Sehun menggeleng tidak setuju, istrinya ini masih sakit dan dia memaksa masuk sekolah? "Sekali tidak, tetap tidak, sayang," tolak Sehun. Luhan mengerucutkan bibirnya sebal. "Kumohon," bujuk Luhan lagi.
"Luhan!" Peringatan Sehun membuat Luhan tak tinggal diam. "Aku sudah banyak ketinggalan pelajaran, Yang Mulia," kata Luhan. Sehun menghela nafas, "Kau sudah terlalu sering dan rajin belajar akhir-akhir ini, karena itu kau jadi demam kemarin, kau juga kelelahan Oh Luhan," Sehun membantah semua kata-kata Luhan.
Sehun menangkup wajah Luhan. "Aku mohon, aku kesepian jika hanya berdiam di paviliun," bujuk Luhan sekali lagi. Kali ini, bujukan Luhan ini disertai dengan aegyo khasnya, mengandalkan keimutan dan keindahan matanya. "Ah… Baiklah, aku menyerah," ucap Sehun akhirnya. "tapi, jangan lupa memakai jaket dan minum obat dari dokter, mengerti?"
Luhan mengangguk. Sehun tersenyum, "Aku pergi dulu, jaga dirimu." Sehun memajukan wajahnya dan kemudian mencium bibit Luhan lama, merasakan tekstur bibir Luhan yang pasti akan ia rindukan beberapa hari ke depan.
"EKHEM…"
Luhan mendorong tubuh Sehun dengan wajah merona. "Maaf, Yang Mulia. Kita harus segera berangkat," kata Tuan Hong dengan perasaan bersalah. Sehun mencoba memfokuskan dirinya kepada keberangkatannya. "Ba-Baik, sebentar saja, aku akan menyusul ke mobil," kata Sehun.
Tuan Hong mengangguk mengerti dan kemudian menunggu Sehun di mobil. Luhan menarik badan Sehun ke pelukannya. "Aku juga ingin mengatakannya. Jaga dirimu. Aku akan menunggu kepulanganmu," cicit Luhan yang membuat Sehun tertawa kecil. "Aku akan pulang."
Luhan kemudian melepaskan pelukannya dan memberikan Sehun sebuah gelang yang terbuat dari manik-manik berwarna hitam dan di gelang itu juga terdapat sebuah gantungan yang berwarna putih bertuliskan 'keberuntungan'.
"Terima kasih." Sehun lalu memeluk Luhan sekali lagi dan kemudian berjalan menuju mobil. Saat pintu mobil terbuka dan Sehun baru akan masuk, ia melambaikan tangnnya ke Luhan sekali lagi. Kemudian ia pergi meninggalkan Luhan dengan kesepian yang menyelubungi dirinya.
. . .
Luhan tiba di sekolah dengan kepala yang sedikti berputar-putar seperti baru turun dari roller coaster dengan bagian yang melingkar sebanyak 5 putaran. Ia ingin muntah saat ini. Perutnya seakan bisa meledak dimana saja di lingkungan sekolah.
Setelah semua pengawal pergi dari hadapannya, Luhan segera menuju kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya pagi ini. Perih pada tenggorokan mulai membuat perutnya kembali mual.
"Oh, Putri—Maksudmu Luhan, siswi kelas 3-E itu? Dia kembali? Memangnya dia kemana kemarin?"
"Kau tak tau ya? Dia itu sakit kemarin. Kabarnya, dia tak sadar satu hari penuh karena tekanan yang ia terima selama dia menjadi Putri Mahkota,"
"Menyedihkan sekali hidupnya itu. Tunggu, bukankah kalau dia tertekan dia akan mudah dan menjadi sering sakit?"
"Ya, benar,"
"Jika seperti itu, bisa saja dia benar-benar dicopot dari posisi Putri Mahkota. Kau tau maksudku kan?"
"Tidak, apa maksudmu?"
"Begini. Usulan pencopotan dirinya belum benar-benar reda diantara masyarakat walaupun Yang Mulia Raja telah mengancam semua media yang mencoba mengusik kehidupan Luhan. Nah, posisinya yang yatim piatu dan tanpa dukungan pihak tetua istana juga membuat posisinya semakin rentan. Dan lagi, sekarang dia penyakitan, sudah pasti jika ada skandal atau masalah lagi, dia akan segera meninggalkan istana,"
"Wah, benar. Kau cerdas juga ternyata!"
Luhan terduduk lesu. Sebegitu lemahkah posisinya saat ini? Tidak, dia tak mengkhawatirkan posisinya lagi di istana. Hanya saja, jika dia dicampakkan dari istana, apakah dia akan sendirian hingga kematian menjemputnya?
Luhan keluar dari bilik toilet dengan kepala berkunang-kunang. Tidak, dia tidak boleh pingsan lagi. Ini masih di sekolah, semua yang dikatakan oleh orang-orang tadi berputar di kepalanya. Ia akan kelihatan lemah. Tak ada calon ibu negara yang selemah dirinya. Payah! Kau payah Xi Luhan!
Luhan menegakkan badannya dan kemudian membimbing dirinya berjalan menuju koridor yang penuh dengan siswa yang berlalu lalang. Ia dapat merasakan keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Dia saat ini sudah akan menyerah sebelum kembali teringat dengan semua kemungkinan yang terjadi padanya.
Tidak, ia tidak bisa hidup sendirian. Apalagi tanpa Sehun disisinya. Karena Sehun telah berjanji tak akan meninggalkannya.
. . .
"Baik, sekarang kita akan membuat kurva dari persamaan yang kita dapat—"
Son seonsaeng terdiam melihat satu siswa dari kelas khusus tertidur. "Yang Mulia…" panggilnya. Tak biasanya Luhan tertidur di kelasnya. Karena Luhan adalah siswi paling rajin di sekolah ini. Ia benar-benar pantas diangkat menjadi seorang Putri Mahkota.
Baekhyun melihat aba-aba dari Son seonsaeng untuk membangunkan Luhan. Ia berdiri kemudian menyentuh bahu Luhan. Hangat. Bahkan bahunya hangat. "Yang Mulia?" panggil Baekhyun. Baekhyun memperhatikan wajah Luhan yang meringis dan banyak keringat mengucur di dahinya. "Yang mulia?!"
Baekhyun segera menegakkan kepala Luhan dan mencoba membangunkan Luhan. "Ya tuhan! Yang Mulia? Kau bisa mendengarku?" tanya Baekhyun mencoba memastikan Luhan masih sadar. "Jongin, panggil pengawal Yang Mulia tanpa membuat satu sekolah tau!" perintah Son seonsaeng yang juga panik.
Baekhyun memanggil Kyungsoo dan membawa Luhan menuju sofa yang tersedia di dalam kelas. "Ahhh… Jangan… Kau berjanji, Yang Mulia…" racau Luhan yang setengah sadar mencoba menggapai-gapai sesuatu. Jongin tiba dengan beberapa pengawal berseragam hitam yang mencoba membuat Luhan sadar.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit," saran Son seonsaeng. Pengawal Luhan setuju. Mereka segera memberi kabar kepada rekan mereka yang ada di bawah untuk menyiapkan mobil. Luhan kemudian digendong menuju mobil yang tersedia di depan pintu masuk sekolah.
Baekhyun dan Chanyeol membantu pengawal Luhan membawa Luhan masuk ke mobil. Baekhyun menyerahkan semua barang Luhan ke pengawal Luhan yang panik. Dan tak lama, mobil kerajaan meninggalkan sekolah dengan kecepatan tinggi.
Baekhyun berbalik badan dan melihat beberapa siswi mengambil gambar dari kejadian barusan. Chanyeol menggeram kesal. Apa mereka tak berpikir jika hal itu bukan untuk diabadikan?
Chanyeol berjalan ke arah siswi-siswi yang mengambil gambar kejadian tadi. "Hapus foto tadi!" bentak Chanyeol yang membuat beberapa siswi itu terdiam. "Apa urusanmu menyuruh kami seperti itu?" tanya mereka. Chanyeol mendecih.
Chanyeol menarik kerah siswi tadi dan membuat siswi itu ketakutan. "Jangan pernah bersikap kurang ajar ke keluarga kerajaan, kau mengerti?" tanya CHanyeol. Gadis itu ketakutan. Chanyeol menghempaskan badan gadis tadi dan kembali mengancamnya serta temannya untuk menghapus gambar kejadian tadi.
Setelah memastikan tak ada lagi foto yang tersisa, Chanyeol segera menarik Baekhyun kembali ke kelas mereka yang berada di lantai paling atas bangunan sekolah.
. . .
Luhan berbaring di kasurnya dengan keadaan tak sepenuhnya sadar. Jaejoong dengan hanbok biru tuanya segera menghampiri Luhan dengan khawatir dan terburu-buru. "Infus sudah terpasang, Yang Mulia." Ratu segera menggenggam tangan Luhan. "Luhan, kau kenapa lagi, sayang?"
Luhan tersenyum kecut dan kemudian menggeleng. "Aku tak apa, Yang Mulia." Ratu segera merogoh sakunya. "Kita harus memberi tahu Sehun," putus Yang Mulia Ratu. Luhan memegang lengan Jaejoong dengan tatapan memohon sambil menggeleng. "Jangan. Aku mohon," pinta Luhan.
Jaejoong menggeleng. "Tidak Lu—"
"Yang Mulia, apa perlu aku berlutut padamu? Aku hanya tak ingin membuat Sehun khawatir."
Jaejoong terdiam ketika melihat Luhan tersenyum lega ketika melihatnya meletakkan handphonenya kembali ke saku. "Aku yang memaksa pergi," katanya sambil mencoba mengingat-ngingat kejadian sebelum Sehun pergi. "aku pantas menerima ini."
Luhan menutup matanya dan mulai mengingat semua perkataan orang tentangnya diluar sana ketika usulan pencopotannya merebak. Ia hanya melihat dan sekarng benar jika orang menganggapnya hanya menumpang tinggal diistana. Dia pantas untuk pergi.
. . .
Sehun menghubungi telepon paviliun istana. Tak ada yang mengangkat. Sehun menutup panggilannya dan melihat jam yang terpasang di lengannya. Pantas saja, Luhan pasti sudah tidur. Sedangkan di London, orang-orang baru akan menyiapkan upacara teh.
Tuan Hong muncul dengan setelan rapi menghampiri Sehun yang melihat orang yang berlalu lalang di sekitarnya. "Sebaiknya Yang Mulia beristirahat. Anda harus menyesuaikan waktu di sini dengan di Seoul. Yang Mulia Putri Mahkota baru tidur sekitar satu jam lalu ka—" Tuan Hong menutup mulutnya.
"Kenapa dengan Luhan?" tanya Sehun khawatir. "Yang Mulia Putri keadaannya menurun sedikit, Yang Mulia," ucapnya. Sehun terdiam. "La-Lalu?"
Tuan Hong menceritakan bagaimana Luhan dirawat tanpa menceritakan bagaimana awalnya Luhan bisa tiba di paviliun. Sehun terdiam, lengannya serasa lemas. "Kalau begitu, besokpagi siapkan sambungan video call ke Seoul saat Luhan bangun, paham?"
Tuan Hong mengangguk. Lalu, Sehun kembali menatap pemandangan Seoul dari kamar hotelnya dengan tatapan kosong seolah memohon kepada Pencipta pemandangan itu untuk menyembuhkan istrinya dan memberikan mereka rumah tangga yang bertahan lama.
. . .
Selama Sehun pergi ke Inggris, Luhan akan selalu bangun lebih pagi kemudian menghubungi Sehun dengan video call yang mereka buat. Sehun akan berakhir mengecup ponselnya karena ia terlalu rindu dengan kecupan ringan dari Luhan. Hingga akhirnya Sehun pulang, keadaan Luhan sudah benar-benar pulih.
Hari ini, Sehun dan Luhan menerima agenda mereka untuk esok hari setelah pulang sekolah. Setelah kelas sastra, Luhan dan Sehun akan menghadiri wawancara live di sebuah stasiun televisi swasta. Ini pertama kalinya Luhan dan Sehun menghadiri wawancara seperti ini setelah mereka menikah.
"Baiklah, aku setuju," putus Luhan. Sehun mengangguk. Luhan melepaskan jas almamaternya dan kemudian melepaskan milik Sehun dan menggantungkannya di hanger yang tersedia. Sehun segera memeluk Luhan dari belakang setelah Luhan menggantungkan jasnya dan jas milik Sehun.
Sehun mengecup ringan bahu Luhan dan menghembuskan nafasnya perlahan di atas bahu Luhan. "Kau tau, sudah lama kita tak mencoba membuat calon Putra Mahkota," kata Sehun. Luhan beridik. "A-Apa? La-Lalu?"
"Bagaimana kalau kita membuatnya sekarang?" tawar Sehun dengan menaik turunkan alisnya satu persatu. Luhan menggeleng. Namun, Sehun tetap saja membalikkan badannya dan kemudian mencium bibir Luhan dengan 'panas' dan 'ganas' seperti serigala kelaparan.
Sehun mendesak tubuh Luhan agar terhimpit dinding dan Sehun memegang kedua lengan Luhan agar Luhan tak memberontak. Luhan menikmati ciuman dari Sehun hingga akhirnya mereka terngah-engah setelah melepaskan tautan mereka.
Luhan tersenyum senang begitu pula Sehun. Sehun kemudian meletakkan tangannya di pinggang Luhan. 'Ramping'. Sehun menaikkan tangannya ke atas payudara Luhan dan membuka kancing baju Luhan, tiga dari atas.
Sehun menarik lengan Luhan dan meletakkan tangan Luhan di dadanya. "Rasakan bagaimana jantungku seakan ingin meledak ketika berada di dekatmu dan bagaimana rasanya otakku tak terkendali ingin membuatmu berada di bawahku, Putri Mahkota," ucap Sehun. Luhan tertawa dan memukul pelan dada Sehun.
Sehun ikut tertawa juga hingga akhirnya mereka terdiam dan saling menatap satu sama lain. Luhan tersenyum begitupun Sehun. Namun, Luhan membuka kemeja sekolah Sehun dan melepaskan semua kancingnya hingga dada Sehun yang atletis tersaji untuk Luhan.
Sehun menggeram ketika dia mulai membuka kemeja Luhan dan melihat bagaimana tali bra Luhan menyembul malu-malu—warna hitam. Ia kemudian menarik Luhan ke atas kasur dan menghimpit tubuh Luhan di bawahnya.
Sehun mengoyakkan seragam sekolah Luhan dan membuat Luhan kaget. "Aku tak suka ini semua!" Sehun membuka semua pakaian Luhan hingga Luhan benar-benar polos. "KAU CURANG!" tuduh Luhan karena Sehun belum membuka semua pakaiannya.
Sehun mendecak karena melihat Luhan begitu kesal. Ia membuka celananya di depan Luhan. Namun, ketika ia baru akan membuka celana dalamnya, Luhan menutup matanya malu-malu. "Luhan, lihat ini!"
Sehun melepaskan celana dalamnya dan kemudian menerjang tubuh Luhan. Mereka kembali berciuman dengan panas dengan Sehun mencoba menekan tubuh Luhan yang berada di bawahnya. Luhan menerima perlakuan suaminya dengan memberikan respon positif.
Setelah lelah berciuman, Sehun menikmati buah dada milik istrinya layaknya seorang bayi yang kehausan, itu membuat Luhan menggelinjang karena terkadang Sehun menggigiti putingnya dan Luhan mengeluarkan desahan-desahan yang menambah panas suasana sore di musim semi akhir.
Sehun memegang tangan Luhan dan mengarahkan tangan Luhan ke kejantanannya. Luhan dengan semburat merah melakukan apa yang dikatakan Sehun dengan baik. Sehun tersenyum dan terus-terusan mengelus kepala Luhan sebelum akhirnya dia mengeluarkan benih-benihnya di atas tubuh Luhan.
Sehu kembali menyuruh Luhan melakukan hal yang sama ketika dia sudah kuat lagi. Ketika Sehun mulai menegang, Sehun mundur dan membuka kaki Luhan. Sehun menurunkan tangannya dari payudara Luhan, menuju pinggang, paha luar lalu paha dalam.
Sehun memasukkan kebanggaannya yang diharapkan hampir semua gadis di Korea ke kewanitaan Luhan, wanita yang sudah lama ia klaim menjadi miliknya setelah upacara pernikahan. Luhan meringis kesakitan karena ia dan Sehun jarang melakukan hubungan badan.
Mereka bermain sesuai tempo yang mereka ciptakan. Hingga akhirnya Sehun dan Luhan mencapai puncak mereka beberapa kali.
. . .
Jaejoong menelepon paviliun pewaris tahta dari tadi. Hanya saja, tak ada yang mengangkatnya sehingga membuatnya harus datang sendiri ke paviliun itu. Jaejoong bingung kenapa paviliun terdengar sedikit sepi. Dia masuk dan berjalan menuju arah kamar.
"Aahhh… Eunh… Lagihhh… Ahhh… Se-Sehunhhh… Di-Akhhh…"
Jaejoong terdiam dengan bibir terbuka melihat menantunya dan anaknya sedang melakukan percintaan sore hari yang panas dibawah siraman cahaya sunset yang indah. Sayang sekali, Jaejoong tampaknya akan menghabiskan sore sendirian di istana karena Yunho sedang mengadakan kunjungan ke Jepang.
. . .
"Ya, selamat datang semua penonton Talk With Us. Hari ini, kami akan membahas tentang sepasang sami-istri paling fenomenal di Korea. Mereka adalah…"
"PUTRA MAHKOTA OH SEHUN DAN PUTRI MAHKOTA, OH LUHAN!"
"Baik, apa kabar?"
"Baik."
"Kami melihat bagaimana pernikahan kalian terlaksana di dalam istana,"
"Benarkah?"
"Benar. Itu benar-benar mewah dan keren!"
"Itu hasil kerja keras semua orang di istana."
"Baik, sekarang kami akan mulai pertanyaannya, yang pertama, apakah tinggal di istana sesuai dengan buku-buku cerita yang ada ketiika kita SD atau TK?"
"Hampir saja… Ya…"
"Kalau begitu, apa mudah berada di posisi ini?"
"Tak terlalu."
"Lalu, ini yang sedang hangat-hangatnya walaupun berita ini dan topik ini sangat sensitif. Yang Mulia Luhan, bagaimana jika anda harus keluar dari istana?"
. . .
Bold: pertanyaan pewawancara
. . .
TBC
. . .
Hahahai! Sudah update ya, maaf kalau nggak nyambung. Karena Aoi juga nggak nyambung. Kayaknya FF ini bakalan jadi long fiction karena belum sampai puncak aja udah 11 chapter. Nah, demi itu, Aoi minta maaf ke semua pembaca karena mengecewakan kalian.
Lalu, untuk yang mau tanya-tanya dan info update, Aoi udah punya instagram, kalian bisa follow, kalian bisa ingatin Aoi disana soal FF punya Aoi. Maaf kalau sedikit isinya dan banyak typo.
Aoi juga pengen bilang terima kasih atas semua follow, favs, dan review chapter kemarin.
Terima kasih semua, semoga kita bisa lebih dekat di instagram Aoi.
ohvelia_
REVIEW JUSEYYYYOOOO!~~~
