Hujan turun dengan sangat derasnya, membuat para murid kebingungan untuk pulang.

Sehun berdiri dengan tegak, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Ia bukan menatap hujan, tetapi menatap seorang gadis yang sedang menari dengan gembira dengan payung biru.

'Bahkan payung saja dipeluk.' gumamnya dalam hati.

Gadis itu memamerkan payung biru tersebut kepada teman-temannya. Sehun tertawa kecil saat melihat tingkah gadis itu yang terlalu kekanakkan. Ya, Sehun tertawa hanya karena itu.

Satu fakta yang perlu diketahui, Sehun menyukai gadis yang imut, berpenampilan natural dan tidak dibuat-buat. Seperti gadis yang sedang ia perhatikan saat ini.

Gadis itu tidak peduli dia di cap sebagai gadis yang bodoh, jelek atau apapun. Yang dia pikirkan hanyalah membuat dirinya dan orang-orang disekitarnya bahagia. Ya, gadis itu adalah Luhan.

Sehun menggelengkan kepalanya, "Dasar aneh."

"Kau selalu bilang gadis itu aneh, tapi kau menyukainya. Kau lebih aneh Oh Sehun." ucap Jongin sambil menggelengkan kepala lalu melipat kedua tangannya.

"Orang aneh is not my style." ujar Yifan sambil menggelengkan kepala.

Sehun hanya menatap Yifan dengan tatapan tajam. Ya seperti inilah pertengkaran orang aneh.

Hujan mulai berhenti, banyak murid yang berlari ataupun berjalan kearah gerbang sekolah dan parkiran.

Sehun melihat Luhan yang berjalan keluar gerbang bersama teman-temannya. Iapun memandang Luhan dari kejauhan sambil tersenyum simpul.

"Gadis aneh."

.

.

Everytime

Main pair: Oh Sehun x Luhan

Rating: T

Disclaimer: Seluruh tokoh milik keluarga dan agensi masing-masing.

Warning! OOC, TYPO, GS, AU.

selamat membaca~

.

.

Pukul delapan malam di apartment milik Sehun, sedang ada acara makan malam spesial.

Luhan dan nyonya Oh yang menyiapkan semua ini, mulai dari memasak makanan, menyiapkan meja makan, hingga menata piring dan gelas.

Makan malam hari ini mungkin akan menjadi makan malam paling spesial bagi Luhan.

"Masakanmu sangat enak." ujar nyonya Oh sambil mengangkat jempol kearah Luhan.

Luhan tersenyum, "Terima kasih."

Nyonya Oh menatap Sehun yang sedang makan dengan lahap, sudut bibirnya mulai melengkung keatas sehingga membuat senyuman.

"Ekhm— Sehun, bukankah kau akan melamar dokter cantik itu?"

Sehun yang sedang makan dengan lahapnyapun tersedak hingga batuk. Anehnya, Luhan juga seperti itu. Hm, kok bisa sama? Mungkin jodoh—coret.

Jinyoung menatap kedua orang yang sedang tersedak, lalu menatap nyonya Oh sambil tersenyum misterius.

"Selagi dokter cantik itu ada disini, kenapa tidak melamarnya sekarang saja?" celetuk Jinyoung sambil mengedipkan satu mata kearah nyonya Oh.

Nyonya Oh mengangkat kedua jempolnya sambil tersenyum kearah Jinyoung. Pasangan ibu dan anak ini, memang selalu kompak.

"Aku sudah melamarnya kemarin, tapi belum dijawab."

Nyonya Oh menatap Sehun dalam, ia tetertawa lepas.

~OoO~

Luhan berjalan kedapur sambil membawa piring kotor, ia membereskan piring dan gelas kotor yang habis dipakai. Nyonya Oh berbaring di kasur yang ada di dalam kamar, sedangkan Jinyoung melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda—bermain playstation.

Sehun? Entahlah, tiba-tiba saja dia hilang setelah makan malam. Entah di toilet atau di kamar belakang.

Luhan memasang earphone bluetooth ditelinganya. Lalu terdengarlah lagu DBSK yang berjudul ballons. Luhan mencuci piring sambil mendengar musik.

"Nananaana~ Heummm~"

Sehun menatap Luhan dari belakang—entah sejak kapan Sehun berdiri disana. Ia mendekati Luhan dan melepaskan benda yang ada di telinga Luhan.

"Eh—" Luhan membalikkan badannya lalu mendongkak keatas.

Luhan menunduk dan mematikan keran air. Canggung? Pasti.

"Boleh aku bantu?"

Aku?

"A—ya, boleh."

Sehun dan Luhan mencuci piring bersama.

Jantung Luhan mulai berdegup kencang. Luhan memalingkan wajahnya dari Sehun.

"Aku menyukaimu, apa kau ingin menikah denganku?"

Luhan membulatkan mulutnya hingga membuat bundaran kecil, lamaran macam apa ini? Melamar di dapur, tepatnya di wastafel. Astaga—sangat tidak elit. Tapi, Luhan suka kok.

"Kalau kau tidak menjawab, aku anggap kau menerima lamaran ini."

Luhan diam.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

Luhan tetap diam.

Sehun melihat kearah Luhan, "Kenapa diam?"

"Katamu, kalau aku diam kau akan menganggap aku menerima lamaranmu."

Ya tuhan, adakah gadis seperti Luhan di dunia ini? Ada, buktinya Luhan ada.

Sehun menepuk keningnya, ia lupa kalau tangannya itu banyak busa sabun. Sekarang, keningnya penuh dengan busa dan juga air.

Sehun hanya berfikir apakah gadis ini benar benar bodoh? Sehun menggelengkan kepala.

"Jadi kau menerima lamaranku?" Luhan hanya mengangguk seperti bayi rusa.

Sehun tersenyum lalu mencubit pipi Luhan dengan gemas hingga membuat pipi Luhan juga terkena busa dan air—karena tangan Sehun penuh dengan busa dan air.

Luhan yang tidak terima pipinya basahpun ikut mengolesi Sehun dengan busa, hingga membuat wajah tampan Sehun tertutup dengan busa putih.

Merekapun tertawa sambil menyirami air dan busa satu sama lain. Lantai penuh dengan air, busa, bahkan sabun. Ya itu semua karena Sehun dan Luhan.

Ya, sejak saat itulah Sehun sudah resmi melamar dokter cantik yang selalu ia ceritakan pada sang bunda.

~OoO~

Hari demi hari yang sudah dilewati Sehun dan juga Luhan. Setelah Sehun datang kerumah Luhan bersama keluarganya untuk acara lamaran, lalu keluarga merekapun sepakat untuk menikahkan mereka. Bahkan acara pertunanganpun sudah mereka lewati.

Hari ini adalah hari yang paling spesial bagi Luhan maupun Sehun. Ya, hari ini adalah hari pernikahan mereka. Tiga bulan sudah berlalu, dan hari ini mereka benar-benar akan meresmikan hubungan mereka. Bukan sebagai sepasang kekasih, tetapi sebagai sepasang suami-istri.

Jungkook masuk kedalam ruang rias pengantin wanita. Ia membawa sebuket bunga mawar dan memberinya kepada Luhan.

"Wahh kakakku tidak sendiri lagi." ucap Jungkook sambil memeluk Luhan dengan erat.

"Kalian ini seperti teletubbies saja." ucap Woojin sambil melipat kedua tangannya dan menatap kedua kakaknya yang sedang berpelukan.

Dan pada akhirnya Woojin mendapat jitakan kecil dari Jungkook.

~OoO~

Acara resepsipun dimulai. Ya, sekarang Sehun dan Luhan sudah resmi menjadi sepasang suami-istri.

Banyak orang yang datang ke acara resepsi pernikahan mereka. Mulai dari keluarga, para dokter, para militer, jenderal, serta sahabat mereka.

"Bagaimana cara mencuri hati seorang dokter? Cepat beritahu aku!" ujar Chanyeol yang saat itu sedang bersalaman dengan mempelai pria.

"Kenapa? Kau ingin mencuri hati dokter Byun?" omongan Sehun membuat pipi telinga Chanyeol memerah. Ya, Chanyeol menyukai dokter Byun. Entah sejak kapan, yang pasti ia mulai menyukai teman seperjuangan Luhan itu.

"Akhirnya kau menikah juga, haha." ucap seorang pria bertubuh goals dan memakai seragam militer, lalu bersalaman dengan Sehun.

Luhan membulatkan matanya saat melihat pria itu. Pria itu tersenyum pada Luhan.

"Dunia terasa sangat sempit ya, bahkan teman seperjuanganku di sekolah militer menikah dengan tetangga dekat rumahku." ucap pria itu.

Pria berwajah tampan itu memang tidak asing lagi bagi Luhan. Ya benar, pria yang sedang berbincang dengan Sehun adalah tetangga rumah Luhan. Bahkan keluarga Luhan dan keluarga pria itu sangat dekat.

"Kau mengenal Taehyung?" ucap Luhan sambil menunjuk kearah pria tersebut. Sehun hanya mengangguk.

Dia adalah Kim Taehyung, adik dari Kim Junmyeon—pria yang pernah Luhan suka saat sekolah menengah pertama. Dunia ini rasanya sangat sempit, karena ternyata mereka semua saling mengenal.

"Taehyung adalah junior ku saat kita sekolah militer, kita sama-sama mengambil angkatan udara saat itu." jelas Sehun.

Dari kejauhan, Jungkook menatap punggung pria yang sedang berbincang dengan Sehun dan Luhan. Ia tersenyum lalu menunduk.

~OoO~

Acara selesai, semua tamu undangan sudah pulang. Hanya ada keluarga dan beberapa pelayan yang ada di dalam gedung.

Sehun dan Luhan juga sudah berganti pakaian, mereka berpenampilam santai. Sehun memakai celana hitam panjang dan kaos putih dan juga sweater. Sedangkan Luhan memakai celana panjang dan juga kaos lengan panjang.

Mereka duduk di taman belakang gedung, menatap air yang ada di dalam kolam renang.

Sehun menggenggam erat tangan mungil Luhan, dan sebaliknya. Luhan bersender di bahu lebar milik Sehun, dan pria yang menjadi tempat senderan Luhanpun juga menaruh kepalanya diatas kepala Luhan.

Sehun bisa menunjukkan sikap romantisnya, tanpa harus mengeluarkan kata-kata manis.

Sehun memang pria idaman. Tapi sekarang Sehun adalah milik Luhan.

"Ini seperti mimpi." ucap Luhan sambil tersenyum.

"Tapi ini nyata, apa perlu kucubit dulu agar kau percaya kalau ini bukan mimpi?" Sehun tertawa.

Sehun semakin mengeratkan genggamannya, Luhan tertidur pulas di bahu Sehun.

"Aku mencintaimu, Luhan." ucap Sehun sambil menatap Luhan yang tertidur dengan pulas. Ia langsung menggendong Luhan ala bridal style dan membawanya kedalam—selain memesan gedung untuk melangsungkan acara pernikahan, Sehun dan Luhan juga memesan kamar hotel yang berada di sebelah gedung untuk mereka, dan keluarga besar mereka.

"Mungkin aku bukanlah pria yang hangat, tapi aku adalah pria yang akan melindungimu setiap saat bahkan selamanya." —Sehun.

"Mungkin aku bukanlah wanita yang cantik ataupun pintar, tapi aku adalah wanita yang akan menjaga hatimu setiap saat bahkan selamanya." —Luhan.

.

.

End.

Omake.

"Ya begitulah, sangat rumit tapi berakhir bahagia."

Luhan dan Jungkook sedang berbincang-bincang di taman belakang rumah.

"Kisah cintamu sangat manis." ucap Jungkook.

Luhan dan Jungkook saling bercerita sambil meminum teh hangat. Sudah empat tahun sejak Luhan menikah, mereka jadi jarang bertemu—terakhir kali bertemu saat Jungkook menikah beberapa bulan yang lalu.

"Jungkook, bagaimana kalau kita membuat cerita? Kau membuat cerita tentang kisah cintaku dan aku membuat cerita tentang kisah cintamu." ucap Luhan.

"Ide yang bagus, haha." Jungkook dan Luhanpun tertawa.

Seorang anak laki-laki berumur sekitar tiga tahun berlari dengan lincahnya dan hanya memakai celana pendek selutut, "Mamah!"

Luhan menggendong anak itu dan memeluknya dengan erat, "Haowen! Anak mamah yang tampan, kenapa kau tidak memakai baju eoh?"

"Aku thedang belajar wushu dengan ayah." ucap anak itu sambil terbata-bata.

"Haowen! Kau lucu sekali." ucap Jungkook sambil mencubit pipi Haowen.

"Bibi Jungkook jahat! Pipi Haowen chakit."

Haowen selalu membuat semua orang gemas. Dengan wajahnya yang cuek dan dingin seperti ayahnya, Haowen membuat banyak wanita berteriak histeris saat melihatnya.

Ya, seperti inilah kehidupan Luhan setelah menikah dengan Sehun dan mempunyai anak. Hidup bahagia dengan keluarga kecil mereka.

"Oh iya, menurutmu apa judul yang bagus untuk menceritakan tentang kisah cintamu?" tanya Jungkook pada Luhan.

"Hmm, mungkin everytime."

.

.

The End.

A/N:

Annyeong! Saya kembali dengan membawa chapter terakhir dari fanfik ini.

Tidak terasa sudah chapter yang ke sebelas saja hehe, perasaan baru kemarin saya membuat chapter pertama /abaikan. Saya sangat berterima kasih bagi kalian yang sudah membaca fanfik ini /membungkuk dengan sopan.

Cerita ini ada side storynya loh hehe... Bukan hanya Luhan yang mempunyai kisah cinta manis dan seru, adiknya (Jungkook) juga memiliki kisah cinta yang tak kalah seru. Kalau mau membaca side story dari fanfiksi 'Everytime' ini, kalian bisa baca 'Valuable' di akun Dianzu.

Balasan review:

Dianzu: Gas terus wkwkw xD. Terima kasih sudah membaca dan mereview.

KMHHS: Aduhh jadi malu xD. Terima kasih sudah membaca dan mereview.

ererigado: Otw ambil tandu buat angkat author ererigado xD. Terima kasih sudah membaca dan mereview.

Phe19920110: Camer sukanya main kode kodean wkwkw beda sama anaknya yang suka to the point xD. Terima kasih sudah membaca dan mereview.

Ersaheizza07: Bremm bremmm /ceritanya tancap gas xD. Terima kasih sudah membaca dan mereview.

kepala jamur: Iya nih, bikin Luhan terbang mulu xD hahaha iya deh calon istri wkkw xD. Terima kasih sudah membaca dan mereview.

Yani Mardiani: Sudah dilanjut~ Terima kasih sudah membaca dan mereview.

dreamsoo12: Sehun emang nih wkwk xD manis kayak muka authornya ya /ditabok. Terima kasih sudah membaca dan mereview.

seluhundeer: Iya nih, rusa cina jadi terbang mulu kan xD. Terima kasih sudah membaca dan mereview.

Hannie222: Tinggal lampu hijaunya aja /apasih. Terima kasih sudah membaca dan mereview.

Terima kasih bagi yang sudah membaca, memfollow, memfavorite, dan mereview /bow.

Fanfiksi ini didedikasikan untuk my sista, Dianzu.

Sampai bertemu di fanfik selanjutnya.

With love, Erumin Smith.