Tentang Penyesalan

Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.


Aku mati.

Lenka tahu bahwa setiap makhluk yang bernapas di dunia ini akan mengalami hal yang disebut kematian. Entah makhluk tersebut sempat menikmati usia yang panjang, atau bernasib sial dengan umur pendek. Meski begitu, seseorang pasti sudah membayangkan bagaimana masa depan yang akan dihadapinya suatu saat nanti.

Lenka pun begitu. Ia membayangkan hidup dengan rumah sederhana, di daerah pegunungan, dengan perpaduan semilir angin dan nuansa hijau pepohonan. Hidup berkecukupan bersama seorang suami dan dua anak—laki-laki dan perempuan, kemudian saling mencintai hingga ajal menjemput.

Tapi Lenka tak pernah menyangka tujuh belas tahun kehidupannya akan berakhir di sini. Di jalan raya yang tengah padat pejalan kaki, dengan darah meresap pada pori-pori aspal, dengan puluhan mata memandangnya ngeri.

Aku mati. Frasa tersebut secara otomatis menyelundup ke dalam benak Lenka saat ia melihat tubuhnya sendiri di jalan, sementara orang-orang menembus dirinya yang sedang berdiri di tepi. Ia tak bisa mendekati jasadnya sendiri, seolah ada tembok tak kasatmata yang menghadang. Tapi Lenka tahu bahwa ia sudah mati, dan ia tinggal menunggu tangan sang malaikat maut menggandengnya untuk meninggalkan dunia ini.

Sebuket bunga di tepi jalan terinjak-injak belasan kaki. Bunga yang semula merekah indah, menebarkan semerbak wangi yang berulang kali Lenka hirup sebelum tragedi ini terjadi, kini ternoda layu. Mati. Seperti Lenka saat ini. Lenka bertanya-tanya dalam hati, tak adakah seorang pun menyadari eksistensi buket bunga itu? Padahal itu adalah salah satu representasi afeksi Lenka. Tapi tidak, tidak ada yang peduli. Buket bunga yang terlempar dari tangan Lenka itu hancur.

Lenka mengamati area di sekitarnya. Ah, rupanya tinggal sekitar setengah kilometer lagi. Setengah kilometer lagi ia sampai pada tujuan. Setengah kilometer lagi bebungaan yang dibawanya tak akan tersia-sia. Kenapa ia bisa ceroboh sekali hingga truk menabraknya? Siapa yang salah? Apakah ia yang saking tak sabarnya hingga tak memerhatikan jalan? Atau apakah si supir truk yang ugal-ugalan?

Entahlah. Siapa pun yang salah, Lenka tak bisa menaruh dendam. Kalau ia yang salah, tidak ada yang bisa menyalahkannya. Aku mati. Siapa yang akan menyalahkan orang mati? Lalu jika supir itu yang salah, apa yang akan ia lakukan? Bergentayangan menghantui si supir truk? Tidak mungkin. Ia tak bisa melakukan apa pun. Dia telah mati.

Saat jasadnya yang penuh darah diangkat, Lenka melihat salah seorang tetangganya menjerit. Kemudian ia pasti menghubungi orang tua Lenka, mungkin mengatakan bahwa anak keduanya telah tewas secara mengerikan. Lenka tak ingin membayangkan bagaimana reaksi orang tuanya, atau reaksi kakaknya nanti.

Selama ini Lenka sudah berusaha menjadi anak yang baik. Mematuhi orang tua, tidak sering bertengkar dengan kakaknya. Apakah mereka semua akan menangis mengetahui Lenka meninggal? Apakah mereka semua dapat menerima kematian Lenka dengan mudah jika Lenka sendiri saja belum rela meninggalkan mereka?

Lenka sendiri sudah tak dapat mencium anyir darahnya sendiri. Kerumunan orang-orang perlahan membubarkan diri, lenyap bersama jenazahnya. Lenka sendirian, tak merasakan tanda-tanda malaikat maut yang menjemputnya juga. Belum juga terdengar tangisan orang yang merasa kehilangan.

Lenka ingin meraih bunga representasi afeksinya, namun tangannya yang transparan menembus bunga tersebut begitu saja. Lenka tahu bunga tersebut takkan sampai pada destinasinya. Seperti perasaan yang ia pendam, tak pernah sampai pada tujuan. Padahal tinggal sedikit lagi ... sedikit lagi untuk menyampaikan perasaannya. Sedikit lagi Lenka bisa mencapai bangunan serba putih yang bahkan atapnya sudah terlihat dari sini.

Nakajima Gumiya. Lelaki yang menjadi destinasinya hari ini. Lelaki yang terpisah distansi setengah kilometer darinya, yang mungkin saat ini tengah menunggu. Kemarin, Lenka berjanji akan menemani Gumiya satu hari penuh, setelah Gumiya bercerita bahwa ia bosan di rumah sakit. Gumiya dan Lenka sudah mengenal sejak kecil, namun baru kali ini Gumiya meminta waktu Lenka satu hari penuh.

Lenka telah berkata pada Gumiya, bahwa ada suatu hal yang harus ia utarakan. Hal yang harus Gumiya ketahui. Lenka bertekad kuat bahwa ia akan menyatakannya hari ini, dengan sebuket bunga. Dengan kata demi kata yang telah ia rancang semalam. Dengan nyali demi nyali yang telah mati-matian ia kumpulkan.

Lenka seharusnya menyatakan cinta.

Tapi aku mati.

Ia bertanya-tanya apakah Gumiya akan marah padanya. Apakah Gumiya mengumpat-umpat kesal saat Lenka belum datang meski jam yang ia janjikan sudah lewat. Apakah Gumiya akan menuduhnya macam-macam. Sejak Gumiya divonis terkena kanker otak beberapa tahun lalu, Gumiya menjadi sensitif sekali. Tak jarang Gumiya merasa kesal karena kesalahan kecil yang Lenka buat.

Tapi di samping semua itu, Lenka mencintai Gumiya apa adanya. Belasan tahun ia memendam rasa itu. Sekarang apa? Dengan reminisensi yang telah mereka rangkai selama ini, apakah Gumiya mau mengenangnya? Akankah Gumiya tertawa mengingat kenangan indah, dan meneteskan air mata saat menyadari Lenka tak mungkin kembali?

Gumiya selalu berkata pada Lenka tentang kematian yang terasa selalu mendekati Gumiya. Apakah Gumiya pernah menyangka bahwa Lenka yang akan meninggalkan Gumiya lebih dulu? Ada masa-masa di mana Gumiya benar-benar putus asa dan sudah membuat persiapan selamat tinggal pada Lenka dan keluarganya. Pernahkah Gumiya berpikir bahwa Lenka akan mendahului?

Lenka sendiri tak pernah menduga. Ia berpikir betapa sisa hidup Gumiya tinggal sedikit, betapa berdukanya ia nanti jika Gumiya meninggalkannya. Ia selalu memikirkan bagaimana ia bisa hidup bahagia jika Gumiya tidak ada lagi di sisinya. Tapi tak pernah sekali pun ia berpikir, apakah Gumiya akan baik-baik saja seandainya Lenka yang pergi terlebih dahulu?

Kematian seseorang memang benar-benar tak terduga. Sekarang Lenka tak memiliki tujuan, tak ingin pulang karena tak tega melihat reaksi keluarganya. Tak ingin sekali lagi melihat jasadnya. Tak ingin pula meneruskan perjalanan ke rumah sakit karena sudah tak mampu ia menyatakan cinta.

Lenka mati, dan semuanya berakhir.

"Gumiya, harusnya hari ini aku ada di sampingmu, mengatakan bahwa aku mencintaimu."

Tak ada seorang pun yang memberitahu Nakajima Gumiya bahwa Kagamine Lenka telah mati.


Gumiya menunggu, di atas ranjang dan semerbak khas rumah sakit, di samping tirai putih yang melambai-lambai berdansa bersama pawana.

Gumiya menunggu. Ia telah memohon satu hari penuh bersama Lenka, memohon waktu untuk mengutarakan semuanya. Ia sadar ada banyak sekali hal yang belum ia sampaikan pada Lenka, dan hari ini Gumiya berharap waktu satu hari cukup untuk mengucapkan semuanya.

Gumiya menunggu meski Lenka tak pernah datang. Padahal Gumiya telah merancang kata-kata. Kata-kata yang seharusnya digunakan untuk menyatakan cinta dan selamat tinggal. Gumiya merasa malaikat maut kian menghapus distansi, dan Gumiya tak ingin memiliki penyesalan.

Kagamine Lenka. Teman masa kecilnya, yang sering menjadi korban pelampiasan amarahnya. Kagamine Lenka yang setia ada di sisinya meski Gumiya tahu betapa menyebalkannya Gumiya. Kagamine Lenka yang tak pernah menghindar saat orang lain menyingkir dari eksistensi Gumiya.

Gumiya menyadari betapa ia belum pernah mengatakan terima kasih sekali pun.

Sejak dulu Gumiya sudah menyiapkan semuanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada Lenka. Video kenangan, rekaman suara, surat-surat. Ia terlalu takut Lenka melupakannya. Meski mereka selalu melalui hari-hari bersama, tapi bukan tidak mungkin 'kan, kalau suatu hari Lenka merangkai kehidupan sendiri dan melupakan kenangan bersama Lenka? Oleh karena itu, Gumiya berusaha membuat sesuatu yang dapat membuat Lenka mengenangnya.

Tapi bagaimana jika Lenka menangis saat teringat masa-masa saat Gumiya masih ada? Apakah ia se-berharga itu untuk membuat air mata Lenka tumpah? Gumiya tak ingin membuat Lenka menangis, namun ia juga tak ingin dilupakan. Ia tak tahu mana yang lebih buruk.

Gumiya masih duduk di pinggir ranjang. Gema suara tangisan memenuhi ruangan. Ada ibunya yang tersungkur sambil tersedu, ada ayahnya yang berusaha menenangkan sang istri, dan ada adik perempuan Gumiya yang menangis histeris.

Gumiya berharap semoga otaknya masih dapat berputar untuk menghitung apakah ada penyesalan yang dimilikinya di dunia. Melihat tubuhnya sendiri terbaring dan ditutupi selimut, Gumiya dapat menginterpretasikannya sendiri.

Aku mati.

Penyesalan? Gumiya rasa ia sudah melengkapi semuanya. Ia sudah meminta maaf pada sang ibu dan ayah. Mereka sudah berkata bahwa Gumiya sudah cukup membanggakan dan itu cukup melegakan Gumiya. Adiknya, Gumi, sudah berkata bahwa ia bahagia memiliki kakak bernama Nakajima Gumiya. Mereka bilang mereka akan merelakan sepenuhnya agar Gumiya bisa terlelap tenang di alam sana.

Tapi, Kagamine Lenka ...

Hari ini. Gumiya mengira, kalau saja ia bertahan sedikit lagi, mungkin Lenka akan datang. Kalau saja malaikat maut tak terburu-buru dan mau bersabar sedikit saja, mungkin Gumiya akan sempat mengatakan cinta. Kalau saja Lenka tidak terlambat ...

Tapi Gumiya tak menyalahkan Lenka. Gumiya tahu ia mungkin saja tak sepenting itu di mata Lenka, jadi Lenka tak ingin repot-repot terburu-buru. Mungkin saja Gumiya sedemikian sepelenya bagi Lenka. Kalau begitu, Gumiya jadi bertanya-tanya, mungkin saja lebih baik kalau Gumiya tak menyatakan cinta? Karena toh Lenka datang terlambat. Gumiya merasa kurang dihargai.

Namun, meski dengan tubuh transparan dan menembus entitas di sekitar, Gumiya menunggu.

Meski satu sisi di hatinya sudah putus asa dn berpikir cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi satu sisi masih mengharapkan kedatangan Lenka. Lenka berkata bahwa ada sesuatu yang harus ia utarakan. Mungkinkah Lenka datang dan mengatakan sesuatu yang sedikit mengurangi penyesalan Gumiya?

Gumiya menunggu, hingga kamar itu kosong dan sunyi. Lenka tak pernah datang.

Gumiya mati, dan semuanya berakhir.

"Lenka, harusnya hari ini kau datang, dan kau akan mendengarku mengatakan bahwa aku mencintaimu."

Tak ada seorang pun yang memberitahu Kagamine Lenka bahwa Nakajima Gumiya sudah mati.

(Mereka mati, dengan penyesalan masing-masing, dengan afeksi yang tetap terkubur dengan jasad tiada sukma. Tiada seorang pun tahu apakah alam lain masih berbaik hati menyatukan mereka)