Jalinan Takdir
Chapter 11
Hinata tidak tidur, dia masih membuka matanya karena dia mendengar suara langkah kaki berjalan menuju kamarnya, itu pasti Naruto, pikir Hianta lalu membenamkan wajahnya ke bawah selimut. Apa yang akan Naruto lakukan pada Hinata, berjalan ke kamarnya selarut ini. Pintu terbuka dan tertutup, Hinata menelan dengan susah, dia tidak dapat melihat karena kamarnya gelap, tapi dia merasakan Naruto membuka selimut yang menutupi dirinya dan menampakan wajah Hinata dengan mata tertutup, "kau sudah tidur sayang?" gumam Naruto. Naruto duduk di tepi tempat tidur, ia membelai rambut Hinata yang menutupi matanya, "aku merindukan mu!" gumam Naruto lagi.
Dalam hati Hinata berkata, aku juga merindukan mu, aku mencintai mu. Tapi Naruto tidak mengatakan hal itu, Naruto membelai pipi Hinata dan dia mencium singkat bibir Hinata, setelah itu ia pun pergi meninggalkan kamar. Hinata terbangun di pagi hari dengan perasaan senang, semalam Naruto menciumnya, dan itu adalah sebuah kecupan kerinduan, sangat indah, batin Hinata. Malam hari dia tidak melihat Naruto, dan begitu juga di pagi hari, dia tidak melihatnya juga. Hinata mengirim pesan pada Naruto dan Naruto membalasnya, "aku pulang larut lagi hari ini, maafkan aku!"
Pesan singkat itu membuat Hinata kecewa, dia ingin sekali bertemu degan Naruto hari ini, tapi... "kenapa aku tidak ke kantornya saja, semua lukisan ku hampir jadi, aku akan mempunyai alasan untuk datang ke kantornya, baiklah, aku harus segera kesana!" Hinata sudah bergegas ke kantor Naruto, disana dia bertanya pada recepcionist apakah Naruto sedang sibuk atau tidak. Ternyata Naruto memang sedang meeting, dan Hinata terpakasa menunggunya di loby. Beberapa menit kemudian Hinata melihat Naruto keluar dari ruangan, dia melihat seorang wanita juga di samping Naruto, dia tersenyum senang sekali dan Hinata tidak pernah melihat Naruto tersenyum seperti itu.
Sebelum Naruto melihat dirinya, Hinata mulai berjalan menjauh ke arah pintu, dia tidak ingin terlihat. Tapi sayang, Naruto melihat bayang Hinata yang berlalu, dan Hinata tidak tahu hal itu. Melihat Naruto tersenyum senang seperti itu karena wanita lain, hatinya bagiakan disayat silet, dibelah menjadi bagian kecil-kecil, bayangkan saja betapa sakit hatinya. Dia ingin melupkan kejadia tadi dengan berkunjung ke rumah orang tua Naruto, "Hinata, kau disini, ayo kita masuk dan mengobrol!" ujar Kushina. Dia mengajak Hinata ke halaman belakang, membuatkan Hinata teh dan berbicara banyak dengannya, sampai... Hinata bertanya mengenai masa lalu Naruto.
"dia anak yang manis dan juga bersemangat, aku dan ayahnya sangat menyayanginya, dia anak kami satu-satunya, kami mencintainya!"
"apakah Naruto pernah mengalami masa yang buruk saat dia kecil?"
"iyah, pernah suatu ketika ada seorang wanita jahat yang menculiknya..."
"ya tuhan." Gumam Hinata.
"dia berumur 10 tahun saat itu. Dia membawa Naruto saat dia sedang bermain di ladang, entah apa motif dari wanita itu menculiknya, dia tidak mengirim pesan apapun untuk meminta jaminan, dia membawa Naruto selama 15 hari, dan setelah 15 hari itu dikabarkan bahwa orang yang menculiknya telah tewas, wanita itu tewas dan polisi pun tidak tahu siapa pelakunya. Menurut informasi yang polisi dapat saat itu, wanita itu memiliki banyak hubungan dengan beberapa pria, mereka menganggap diantara pria itulah yang telah membunuhnya, namun sampai sekarang polisi tidak menemui bukti siapa pelakunya!"
"bagaimana dengan Naruto?"
"kau pasti bertanya-tanya apakah Naruto yang mungkin melakukannya? Entahlah! Kami sebagai orang tuanya pun tidak pernah tahu apa yang dilakukan Naruto saat itu, saat ditemukannya wanita itu tewas, Naruto hanya menatap tajam mayat itu, dia tidak pernah lagi seceria dulu dia berubah setelah kejadian itu, dan ibu tidak mengerti apa yang harus kami lakukan. Dia selalu menjauh dari wanita, saat sekolah pun dia hanya ingin bersekolah di tempat yang hanya ada laki-lakinya saja, dia tidak pernah berhubungan dengan wanita sekali pun, sampai akhirnya dia mengenalkan mu pada kami, mungkin itu adalah sebuah keajaiban karena dia bisa beruhubungan dengan..."
"tidak ada hubungan diantara kami, kami hanya rekan bisnis, dia tidak..."
"kenapa kau ada disini?"
Hinata menoleh ke sumber suara itu, dia melihat Naruto berdiri menatapnya tajam. Naruto menghampiri Hinata dan menarik tangannya, "ikut aku, bu kami pergi dulu!" Kushina menatap kepergian Naruto dan Hinata, semoga saja hubungan mereka baik, batin Kushina. Naruto menarik Hinata setelah ia turun dari mobil dan membawanya masuk ke rumah, mereka sudah sampai di rumah Naruto dan Hinata berdiri ditengah kamar, kamar Naruto.
"apa yang kau lakukan disana, mengorek informasi ku dari ibuku, apakah ini tujuan awal mu yang sebenarnya, kau masih ingin mengetahui masa lalu ku, jawab aku Hinata, jawab, katakan padaku, cepat!" bentak Naruto.
"iya, aku ingin tahu semuanya Naruto, aku ingin tahu semuanya tentang dirimu dan masa lalu mu, apakah berat bagi mu untuk berbagi dengan ku!"
"aku sendiri tidak pernah bercerita masalah ini pada orang tua ku, dan kau tiba-tiba ingin tahu semuanya tentang diriku, siapa kau ingin mengetahuinya hah..."
Hinata tersentak mendengar kalimat itu, siapa dia bilang? Apa... lalu selama ini dia menganggap Hinata itu siapa, patnernya, rekan kerja, teman, kekasih... tidak mungkin kekasih, Hinata tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah kekasih Naruto, dan Naruto memang tidak pernah menganggap Hinata adalah kekasihnya, lalu sia dia bagi Naruto, "kau bilang siapa aku? Seharusnya kau tanya pada dirimu sendiri, kau menganggap diriku apa Naruto, teman mu, rekan kerja mu, atau budak.. budak sesuka hati mu mungkin, pilih saja mana yang menurut mu itu benar!"
"kau merusak semua keinginan ku Naruto, aku hanya ingin lebih mengenal mu, dan itu ku lakukan semata-mata karena aku, aku..."
"apa? Karena kau berhak tahu mengenai diriku, karena kau sudah mengenal orang tua ku, jadi kau ingin tahu semuanya, segalanya tentang diriku, itu yang kau maksud..?''
"kau salah.. aku.. kau sudah berjanji padaku untuk memberitahu semua mengenai masa lalu mu, kau ingat bukan, kau sudah berjanji!"
"bagaimana kalau aku mengingkarinya?"
"dan bagaimana aku meminta imbalan ku sekarang untuk lukisan yang kau minta?"
"disaat seperti ini, apa yang kau inginkan?"
"semuanya. Ceritakan semuanya mengenai masa lalu mu, apa yang terjadi padamu selama 15 hari itu, katakan pada ku, aku ingin itu!"
"tidak, itu tidak bisa aku terima, tidak Hinata, tidak..."
"kalau begitu... terima kasih sudah mau mengenal ku tuan Naruto, aku permisi!"
Hinata melangkah pergi dari hadapan Naruto, dan tiba-tiba Naruto terkejut dengan apa yang Hinata lakukan, dia menyusul Hinata dan menarik tangannya agar berhenti, "jangan pergi begitu saja saat pembicaraan belum selesai!" Hinata menghempaskan tangan Naruto, "pembicaraan telah selesai ketika kau mengatakan tidak, dan sudah cukup bagiku alasan untuk pergi menjauh dari mu, jangan halangi aku!" Hinata sekali lagi pergi dan Naruto berhasil meraih tangannya, "tolong, jangan lakukan ini Hinata, aku ingin kau tetap disini, bersama ku, jangan tinggalkan aku!"
"dan jika kau ingin semua itu, maka berceritalah aku akan sangat senang dan bahagia jika kau mau berbagi penderitaan mu pada ku!"
"kau tidak akan senang saat kau mengetahui semuanya Hinata, kau akan pergi setelah tahu semuanya, aku tidak ingin kau pergi meninggalkan aku, aku mohon jangan pergi!"
"aku tidak akan pergi sebelum dan setelah kau bercerita, aku akan ada disini, bersama mu, aku janji!"
Naruto sudah mendapatkan janji dari Hinata, dan mungkin itu adalah jalan yang terbaik agar Hinata tidak lari darinya setelah apa yang akan ia ceritakan ini. Semuanya di mulai ketika Naruto diculik seorang wanita, dia menculik Naruto tanpa ada alasan. Melihat Naruto tengah bermain-main diladang dia langsung membawanya pergi, Naruto dibius hingga dia tidak bisa berteriak, dan saat itu ladang tengah sepi. Saat wanita itu pergi jauh dari rumah Naruto dan dia membawa Naruto ke rumahnya, disana sudah ada satu orang laki-laki, kekasih dari wanita itu.
"dia ternyata menjadikan ku budaknya, menyuruhku melakukan hal ini dan itu, bahkan dia melukai ku, aku menangis kesakitan dan dia semakin melukai ku. Itu berlangsung selama 15 hari, penderitaan ku menjadi budaknya sangatlah menyakitkan dan itu tidak bisa dimaafkan. Suatu ketika saat dia membawa laki-laki lain, dia menyuruhku membawakan minum, dan laki-laki itu merasakan sesuatu yang tidak enak dari minuman yang ku bawa, akhirnya wanita itu menyalahkan ku, dan dia memukuli ku..."
"ya tuhan, Naruto!" gumam Hinata.
"dia hampir membunuhku dengan tamparan dan tendangannya yang begitu keras mengenai semua bagian tubuhku, laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya pada apa yang dia lihat... dia berteriak gila pada perempuan itu, tapi perempuan itu hanya diam dan masih memukulku, lalu laki-laki itu pergi, dia tidak mau ikut campur dengan apa yang dilaukan wanita itu. Aku mulai lemah dan tak berdaya, lalu kulihat sesuatu dihadapan ku, sebuah pisau terjatuh di lantai saat dia menendang meja karena marah padaku. Aku mengambil pisau itu, lalu..."
"tidak!"
"aku menancapkan pisau itu di kakinya," Hinata menggelengkan kepalanya tidak percaya, "dia kesakitan, dan suara rintihannya itu membuat ku tersenyum kecil, lalu aku mulai lagi menancakan pisau itu di perutnya, dia semakin menjerit, dan aku semakin tertawa keras, aku ulangi hal itu beberapa kali hingga akhirnya dia tidak lagi menjerit. Aku terdiam sesaat karena dia tidak menjerit, aku kehilangan kesenangan dan itu membuat ku kacau, aku tidak mau menjadi tersangka karena membunuh seorang wanita, jadi aku membuang pisau itu ke danau dan membuang semua pakaian ku yang terkena darah. Keesokan harinya tidak ada yang tahu bagaimana wanita itu tewas, dan siapa pembunuhnya, tidak ada satu orang pun yang tahu, hanya aku dan tuhan..."
"dan sekarang aku!" ujar Hinata.
"yah, dan kau tahu itu, apa yang akan kau lakukan Hinata, aku adalah seorang pembunuh..."
"tidak, kau tidak membunuh, aku mengerti situasi mu, kau tidak bersalah!"
"aku menusukan pisau itu berkali-kali padanya Hinata, dan aku membunuhnya, itu yang kenyataannya!"
"tapi itu hanya untuk membela diri, kau tidak salah kau..." Hinata mendekati Naruto dan memeluknya erat, "kau tidak bersalah, aku yang salah!" baik naruto mau[un Hinata keduanya meneteskan air mata dan menangis, "jangan tinggalkan aku, aku mohon pada mu, aku ingin bersama mu, hanya dirimu, Hinata!" Hinata mengangguk cepat, "aku tidak akan meninggalkan mu, kau tidak salah, aku disini!" mudah sekali bagi Hinata mengatakannya, dia sama sekali tidak jijik dan takut pada Naruto, masa lalunya yang menyakitkan itu menyadarkan Hinata bahwa Naruto hanya membutuhkan perlindungan dan kenyamanan dari orang-orang yang mencintainya.
Tapi orang-orang itu hanya kedua orang tuanya, dan kini Hinata sudah tahu semuanya, dia juga akan menyayangi Naruto dan selalu mencintainya. Bagaimana pun keadaanya dan masa lalunya yang kelam dulu Hinata tetap mencintai Naruto, dia tidak akan pernah meninggalkannya. "aku disini!" gumam Naruto. Naruto masih meneteskan air mata, dia juga masih berada dipelukan Hinata, terduduk di lantai dan sangat lemah melihat kondisi Naruto saat ini, Hinata teramat sangat sedih.
Setelah kejadian siang itu kini Hinata merasa malu akan semua yang telah Naruto ceritakan padanya, begitu sulit hidup yang harus Naruto jalani hingga membuatnya kehilangan perlindungan dan kenyamanan, disini Hinata akan membuatnya merasa terlindungi dan sangat nyaman saat dia berada didekat Hinata. Naruto tertidur setelah ia menangis dipelukan Hinata selama beberapa jam, dan dia belum makan sampai saat ini, Hinata tidak tega membangunkannya. Hinata duduk ditepi tempat tidur, persis seperti apa yang Naruto lakukan padanya waktu itu.
Aku mencintai mu, batin Hinata dan dia sama sekali tidak mengatakan hal itu pada saat Naruto menangis, dia takut kalau kata-kata cintanya hanya akan menambah beban bagi Naruto karena belum siap menghadapi apa yang namanya cinta. Hinata membelai pipi Naruto, dia juga mencium bibir itu singkat, lalu Naruto terbangun, "kau belum tidur?" tanya Naruto. Hinata menggelengkan kepala, "aku belum mengantuk, aku harus..." sebelum Hinata pergi Naruto menarik tangannya, "tidurlah dengan ku, disini!" pinta Naruto, "aku mohon!" lalu Hinata pun menuruti permintaannya.
~~~###~~~
Saat pagi hari tiba Hinata terbangun sendirian ditempat tidur, dia tidak melihat Naruto dimana pun, dia melihat ponselnya lalu membawanya serta, dan dia mencari Naruto di ruang studio, tempat ia melukis. Disanalah Naruto berada, sedang memandangi lukisan yang ia pesan dari Hinata, "kau disini?" gumam Hinata. Naruto tersenyum tanpa membalikan badan ke arah Hinata, barulah setelah Hinata berada didekatnya ia membalikan badan dan tiba-tiba saja menyerang Hinata, Naruto memeluknya dan menciumnya dengan lembut, Hinata melingkarkan lengannya dileher Naruto. mereka saling menikmati momen itu, moment yang jarang terjadi, namun setelah Naruto bercerita mengenai masa lalunya, mungkin itu membuatnya bebas.
Naruto menghentikan ciumannya namun masih mendekatkan bibirnya dengan Hinata, lalu sekali lagi dia mencium Hinata, kali ini hanya untuk menggigit bibir bawah Hinata, dan Hinata merasakan sesuatu yang baru, sebuah sengatan listrik bertenaga penuh menyerang tubuhnya, apa yang terjadi, batin Hinata. Lalu Naruto melepaskannya, dan sengatan listrik itu pun hilang sudah. Wajah mereka masih saling berdekatan, namun keduanya tidak ada yang berbicara sedikit pun, sampai... suara ponsel berbunyi, dan itu adalah ponsel Hinata, Hinata menatap Naruto dan dia mengangguk, melepaskan Hinata, "hallo ayah!"
"dapatkah aku bertemu dengan mu putriku, aku merindukan dirimu!"
"tentu saja ayah, aku yang akan menemui ayah, dimana ayah ingin bertemu? Baiklah... aku akan segera kesana!"
Hinata berbalik kearah Naruto, "ayah ingin bertemu dengan ku!" Hinata tidak dapat mencerna pikirannya karena masih berkelana mengenai ciuman barusan, dia bicara pelan dan ada rasa sedikit malu, "kau bisa bertemu dengan ayah mu, aku akan mengantar mu!" Hinata menggelengkan kepalanya cepat, "tidak perlu, kau harus bekerja bukan, aku..."
"aku akan mengantarkan mu, ceptlah mandi!" ujar Naruto.
Hinata mengangguk pelan, dia menghembuskan napas panjang, apa apaan dia tadi, berbicara didepan Naruto seperti berbicara didepan raja, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintahnya, aneh, kenapa dia menurut sekali, Hinata tersenyum kecil lalu dia mulai memasuki kamar mandi. Beberapa jam kemudian semuanya sudah siap, kini mereka menuju lokasi dimana ayah Hinata berada, "ayah!" Hinata menghampiri ayahnya yang sedang duduk di depan jendela sebuah restoran sambil menikmati pemandangan jalan raya yang ramai. "ayah, aku bersama Naruto, dia disini!" lalu Naruto bergabung dengan Hinata dan ayahnya.
"senang bisa bertemu dengan anda lagi tuan..."
"tolong jangan seformal itu pada saya!"
"baiklah, haruskah aku memanggil nama mu?"
"tentu saja, itu lebih baik!" ujar Naruto.
Pertemuan Naruto dengan ayah Hinata tidak berlangsung lama, saat Hinata kembali dari kamar kecil Naruto berpamitan dengan ayahnya dan juga dengan Hinata, "sampai nanti sayang!" Naruto menyentuh pipi Hinata dengan ibu jarinya, tepat didepan ayah Hinata. Hinata merona malu, apakah Naruto tidak malu, oh tuhan ayahku tepat berada disampingnya dan dia memanggil ku dengan sebutan sayang, betapa beraninya dia. Hinata menatap ayahnya yang tengah memandanginya, "ayah!" Tegur Hinata, ayahnya tertawa pelan, "jadi inikah anak ayah, kau beruntung sekali mengenalnya, bahkan kalian pacaran, ayah tidak menyangka putri ayah mendapatkan seorang pria kaya dan muda!"
"ayah, itu hanya sebuah keberuntungan, lagi pula belum tentu hubungan ini bertahan lama!"
"jika kau bicara seperti itu, maka kau tidak mempunyai kepercayaan diri, sayang, hubungan itu dibangun karena adanya saling percaya antara satu sama lain, kau percaya pada Naruto bukan?"
"ya ayah, aku percaya padanya."
Entahlah, Hinata belum sepenuhnya percaya pada Naruto, meskipun ia sudah menceritakan semua masa lalunya, tapi Naruto belum sama sekali mengungkapkan perasaannya pada Hinata, mungkinkah belum ataukah tidak akan pernah. Hinata bingung dan dia masih tetap ingin bersama Naruto karena dia sudah sangat mencintainya, bahkan mungkin saat pertama kali Hinata melihat lukisannya di kantor Naruto, dan ketertarikannya terhadap seni, mungkin itulah yang membuatnya jatuh cinta.
Kini dia hanya harus menjalani hubungan tanpa nama ini, dia akan tetap bertahan selama Naruto masih ingin berada disamping Hinata, tapi dia juga pernah mengatakan kalau dia ingin bersama Hinata, selamanya. Hinata tidak mempunyai kesibukan apapun, saat ini semua lukisannya sudah hampir jadi, hanya tinggal beberapa polesan saja dia akan menyelesaikan semuanya. Dan setelah itu apa yang akan terjadi, setelah rekan bisnis, lalu apa lagi. Dia harus memikirkan semuanya setelah semua itu berakhir, harus. Namun dengan memikirkan semua itu membuat Hinata membutuhkan pengalih perhatian, dia lalu menelpon Sakura dan mengajaknya bertemu, untung saja dia tidak sedang sibuk bekerja.
Mereka bercerita banyak hal dan Hinata lupa dengan semua pemikiran mengenai Naruto, namun tiba-tiba Sakura bertanya tentang Naruto. "dia memiliki masa lalu yang kelam Sakura, tapi aku minta maaf aku tidak bisa mneceritakannya!"
"iyah aku mengerti, itu rahasia kalian, dan aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi!"
Masa lalu yang kelam. Pikir Hinata merenungkan kembali semua kisah yang Naruto lalui saat dia masih kecil, andaikan Hinata bertemu Naruto saat dia masih kecil, Hinata tidak akan pernah meninggalkannya, tapi saat ini pun dia tidak ingin meninggalkan Naruto, bahkan sekali pun Naruto menolaknya. Tapi, mana mungkin Naruto menolaknya, sepertinya Naruto sudah sangat... Hinata tersenyum kecil saat memikirkan hal itu, dia selalu berpikir positiv dan terlalu percaya diri. Jika memang Naruto tidak menolaknya, maka Hinata memerlukan bukti nyata, tapi bagaimana caranya?
"hallo... Naruto, kau masih di kantor... boleh aku kesana... umm, tidak, aku hanya...okeh!"
Naruto menutup telpon dari Hinata, dia tersenyum senang saat Hinata akan datang ke kantornya. Dan saat itu dia melihat Hinata dan belum sempat bertanya kemarin, akan dia tanyakan nanti. Beberapa menit kemudian Hinata sampai di loby, dia tidak akan menunggu lagi, karena saat ini Naruto sedang tidak mengadakan rapat, Hinata memasuki ruangan Naruto tanpa gugup, dulu dia sangat gugup memasuki ruangan itu untuk pertama kalinya, dan sekarang adalah yang kedua kalinya.
"sebuah kejutan kau datang ke kantor ku!" Naruto tersenyum senang saat dia melihat Hinata.
Jika memang benar Naruto tidak akan menolakku, batin Hinata lalu membalas senyum Naruto, maka aku akan membuktikannya, dia tidak akan pernah menolakku, Hinata menyemangati dirinya. Dia mulai berlari kecil kearah Naruto, lalu kemudian dia melingkarkan lengannya dileher Naruto dan menciumnya. Naruto sangat terkejut, dan dia menikmati moment itu, dia membalas ciuman Hinata. Hinata tersenyum dalam ciuman yang mereka lakukan, dn Naruto tahu bahwa hal ini membuat Hinata senang, apa yang terjadi, batin Naruto.
Akhirnya Hinata membuktikan kebenarannya, Naruto memang tidak akan menolaknya, dan Hinata senang sekali bahwa Naruto... dia pernah mengatakan kalau dia menginginkan Hinata, jika memang seperti itu, apa mungkin Naruto... itu berarti dia mencintai Hinata. Hinata memikirkan hal itu saat dirinya masih berciuman dengan Naruto, lalu tiba-tiba dia menjauhkan diri dari Naruto dan menatapnya, "ada apa?" tanya Naruto bingung. Hinata menyentuh pipi Naruto dengan kedua tangannya dengan sangat lembut. "sayang, ada apa?" Naruto kembali bertanya.
"a-aku... ingin pulang!" ujar Hinata.
Kenapa tiba-tiba dia sangat gugup sekarang, apa yang terjadi. Naruto tersenyum bingung, "aneh, kenapa tiba-tiba kau ingin pulang, kau sendiri yang kesini, dan hanya untuk mencium ku? Begitu?"
Hinata memalingkan wajahnya dari Naruto, "aku hanya ingin membuktikan sesuatu."
"apa itu?"
"aku tidak mungkin membicarakannya di kantor, dan..."
Hinata melihat disekelilingnya, "dimana lukisan ku, bukankah kau menggantungkannnya didinding itu, lalu kemana..."
"aku memindahkannya ke tempat yang lebih indah, akan aku ajak kau ke tempat itu dan... sekepertinya aku ingin tahu apa yang kau buktikan, ayo kita pulang!"
Tanpa persetujuan dari Hinata, Naruto langsung menggenggam tangan Hinata dan membawanya keluar kantor. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah, Naruto langsung membawa Hinata ke ruang studio, "katakan pada ku kau mau membuktikan apa?" tanya Naruto. Hinata menelan dengan susah, "umm... aku ingin pergi!" Hinata berbohong. Dan itu membuat Naruto mengernyitkan dahinya, "apa maksud mu?" suara Naruto mulai meninggi dan tajam. Apa rencana ini akan berhasil, batin Hinata lalu... "aku tidak ingin lagi bersama mu, kau... aku ingin berpisah dari mu, kau dengar bukan, aku..."
"jangan katakan lagi kau akan meninggalkan aku, aku bisa gila mendengarnya Hinata, jangan pernah berpikir aku akan membiarkan mu pergi, kau tidak akan bisa lari dariku..."
"kenapa? Kenapa kau tidak ingin aku berpisah dari mu, apa hubungan kita Naruto, dari awal kita tidak pernah memiliki hubungan, tidak pernah. Lalu kau menganggapku apa, katakan!"
"aku menginginkan dirimu, dan hanya kau, hanya kau!"
Naruto berlalu ke arah Hinata dan menciumnya dengan keras, itu membuat Hinata hampir terjatuh kalau saja Naruto tidak menahannya. Walau pun saat ini Naruto marah, tapi itu membuat Hinata sekaligus senang, dia menikmatinya dan Naruto semakin liar saat ini. Hinata mendorongnya dengan kuat, "aku mohon tenanglah Naruto, kendalikan dirimu, aku hanya bercanda, aku tidak akan meninggalak mu aku berbohong, aku tidak akan pernah pergi, kau dengar itu?" ujar Hinata sambil menenangkan Naruto. keduanya memburu napas dan terengah-engah, "kau... berbohong, apa maksudnya kau membohongiku, Hinata dengarkan aku, aku tidak ingin kau mengatakan hal itu lagi meskipun kau bercanda, aku tidak ingin kata-kata itu keluar dari bibir manis mu, jangan pernah lagi mengatakannya, jangan!"
"tapi katakan dulu padaku. Siapa aku bagi mu?"
"kau miliku!"
"sebagai apa?"
"kekasihku!"
"kapan kita pernah mengikat diri kita sebagi kekasih, lagi pula kau tidak pernah mengatakan kata-kata romantis seperti cinta, mungkin!"
Naruto menatap Hinata, "sepasang kekasih seharusnya saling mencintai bukan, apa kau punya cinta untukku, jika tidak ada sedikit pun, maka kita tidak bisa dianggap sebagai kekasih, kita hanya teman, dan teman tidak akan berciuman. Dan anehnya kita berciuman, dan kau bilang kita kekasih, padahal tidak ada kata-kata cinta sedikit pun yang terucap dari bibir manis ku atau dari bibir... mu. Apa yang terjadi Naruto, kenapa kau diam, kau tidak bisa menjawab pertanyaan ku, baiklah kalau begitu... ini adalah akhir, akan ku terik kembali kata-kata ku, aku akan pergi, selamat tinggal!"
Naruto tidak sedikit pun menghentikan Hinata, dia dengan sangat mudah pergi dari ruangan itu, lalu air matanya mengalir deras. Setelah kejadian itu Hinata tidak turun dari kamarnya, dia masih berdiam diri di kamar dan Naruto sangat khawatir. Hinata bertanya dan kenapa dirinya tidak menjawab, kau sangat bodoh Naruto, katakan saja kalau kau mencintainya, kau pasti mencintainya bukan, kalau kau tidak mencintainya kau tidak akan menahannya dan menginginkan Hinata, kau pengecut, olok Naruto pada dirinya sendiri.
Hari sudah gelap dan Hinata belum turun dari kamar semenjak kejadian itu, Naruto semakin khawatir, dia mengetuk pintu tapi Hinata tidak menjawabnya. Dia memaksa masuk dengan membuka pintu dengan kunci cadangan. Hinata masih ditempat tidur, diam dan tak bergerak, "Hinata, apakah kau tidur?" Naruto masih mendengar isakan, "maafkan aku, aku..."
"pergi, aku mohon pergilah, tinggalkan aku sendiri!"
Naruto tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menuruti permintaan Hinata. Hinata tidak tahu apa yang sudah Naruto kerjakan untukknya, dan sekarang Hinata malah bersedih, dan Naruto takut dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Hinata pergi. Malam itu Naruto tidak bisa tidur karena memikirkan Hinata, namun akhirnya jam 3 lalu dia sudah tertidur, dan kini sudah mulai terang. Naruto teringat Hinata dan langsung pergi ke kamarnya, namun disana sudah tidak ada siapaun termasuk semua pakaian Hinata, "kemana dia, Hinata!" Naruto tidak bergegas mencari dia hanya ingin memastikan sesuatu, "besok harus sudah siap, aku tidak mau tahu!"
Naruto merencanakan sesuatu yang tidak diketahui, padahal rencana itu akan membuat Hinata senang, namun karena kejadian kemarin dia hampir kehilangan Hinata, dan saat ini dia tidak berencana melepaskan Hinata. Sebelum menemui Hinata dia harus seudah menyelasaikan semuanya. Disisi lain Hinata berbaring di tempat tidur di apartementnya, saat ini Sakura sedang tidak ada, dan Hinata ingin sekali bercerita banyak tentangnya. Apakah dia harus menelpon ayahnya? Tapi... apa yang harus dia katakan..
"ada apa sayang, apakah kau baik-baik saja?"
"aku baik ayah, ayah... apakah ayah menyukai Naruto?"
"ayah menyukainya, karena dia menyayangi mu, apa kau dan dia baik-baik saja sayang?"
"iya ayah, semuanya baik-baik saja!"
Dan Hinata tidak seharusnya berbohong, Hinata menangis setelah dia menutup telponnya, dia ingin melupakan kejadian ini dan akankah dia bisa melupakan Naruto? tidak akan bisa , "aku tidak bisa Naruto, aku harus bagaimana?" bagaimana pun Hinata mengakuinya sendiri, mungkin dia perlu waktu untuk berbicara dan bertemu kembali dengan Naruto, entah kapan itu.
^^bersambung...^^
