Halfway To The Grave

(Sang Pemburu Vampir)


Original Story

Novel Halfway To The Grave by Jeaniene Frost

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Novel ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca~

Muahh :)


Byun Baekhyun perempuan berdarah separuh vampir separuh manusia yang pemarah dan bermasalah dengan orangtua.

Park Chanyeol si vampir kuno seksi sekaligus pembunuh bayaran yang sudah berusia ratusan tahun. Di tengah-tengah pertarungan antara perasaan dan akal sehatnya.

Sanggupkah Phoenix meluluhkan hati Bek?


.

.

BAB 11

.

.

"Apa kau punya catatan kuliah hari ini? Aku ketiduran dan baru bangun setengah jam yang lalu! Apa kuliah hari ini sama membosankan seperti sebelumnya?"

Yeri ikut kelas fisika yang sama denganku. Setidaknya pada awal masa perkuliahan. Dia tidak datang pada dua dari lima hari kuliah terakhir, tapi setiap kali aku keluar kelas, dia akan berdiri di luar untuk menungguku. Tebakanku, Yeri suka berkeliaran di kampus. Mungkin dia mendapati bahwa bersosialisasi di kampus lebih menarik daripada masuk kampus.

Yeri bertubuh mungil dan berambut cokelat, dengan kepribadian yang santai, dan dia menghabiskan lima hari terakhir ini dengan berusaha menarikku keluar dari cangkang antisosialku. Kuliah dimulai pada hari Senin. Hari ini Jumat, dan sejauh ini, hanya Yeri yang mengajakku bicara di dalam kampus yang luas dan di penuhi orang ini.

Dengan rekam jejakku yang tidak memiliki teman, aku ragu-ragu untuk terlibat dalam obrolan santai dan ramah tamah. Jika tidak berhubungan dengan mayat, sekolah, atau kebun ceri, aku tidak tahu apa yang harus kuobrolkan. Yeri tidak membiarkan hal itu menjadi kendala. Yeri sangat ceria dan bersemangat, dan entah karena alasan apa, sepertinya dia langsung menyukaiku.

"Iya, aku punya. Kau mau menyalinnya?"

Yeri menyeringai. "Tidak. Toh, aku mungkin tidak akan membacanya. Belajar sangat membosankan. Lagi pula, aku tidak akan menggunakan ilmu yang kupelajari di sini, memangnya siapa yang akan membutuhkannya?"

Yeri adalah mahasiswi baru, tapi dalam banyak hal, dia jauh lebih kompleks daripada aku. Selama percakapan kedua kami setelah kelas berakhir, Yeri mengatakan padaku bahwa dia sudah berkencan sejak usia dua belas tahun, kehilangan keperawanannya pada usia empat belas tahun, dan dia juga menganggap pria sama menyenangkan dan mengenyangkan seperti makanan cepat saji.

"Katakan padaku kenapa kau kuliah?" tanyaku dengan heran.

Yeri mengangguk ke arah seorang pria tampan yang lewat di depan kami.

"Cowok-cowoknya. Tempat ini penuh dengan cowok-cowok keren. Rasanya seperti restoran all-you-can-eat!"

Yeri dan Phoenix memiliki kesamaan. Phoenix pasti juga akan menganggap kampus ini sebagai restoran all-you-can-eat, hanya saja dalam hal yang berbeda.

Aku menghindari Phoenix sejak aku terbangun di tempat tidur bersamanya pada hari Minggu pagi. Seharusnya aku menemuinya di gua pada hari Rabu, tapi aku tidak datang. Aku terlalu bingung. Perasaanku terhadap Phoenix sudah mengalami metamorfosis yang sangat drastis. Dalam suatu waktu sepanjang tujuh minggu terakhir yang kuhabiskan bersama dengan Phoenix, aku berubah dari sangat membenci Phoenix menjadi sangat tertarik padanya.

"Jadi, apa aku mau pergi keluar malam ini dan melakukan sesuatu?"

Aku hanya melongo menatap Yeri selama beberapa detik. Aku berusia dua puluh dua tahun dan tidak pernah pergi keluar dengan seorang teman untuk bersenang-senang dan melakukan hal-hal normal. Astaga, yang lebih menyedihkan, aku tidak pernah memiliki teman untuk kuajak keluar.

"Hmm, baiklah."

Yeri menyeringai. "Bagus, kita pasti akan bersenang-senang. Bagaimana jika kau menemuiku di kamarku? Dari sana kita akan pergi ke klub keren, dan kebetulan aku mengenal penjaga pintunya. Dia akan mengizinkanmu masuk."

"Oh, usiaku sudah lebih dari dua puluh satu tahun," kataku, terbiasa dengan orang yang menganggapku lebih muda. "Bahkan, aku sudah dua puluh dua tahun."

Yeri memberiku tatapan tajam yang membuatku merasa tidak nyaman. Oke, aku memang sedikit lebih tua daripada mahasiswa tingkat awal pada umumnya, tapi aku harus membantu mengurus perkebunan buah setelah kakekku terkena serangan jantung…

Akhirnya, Yeri tersenyum. "Wah. Kau memang penuh kejutan."

.

.

.

Yeri tinggal di apartemen yang ada di luar kampus, tidak jauh dari tempat yang akan segera kusewa. Dengan uang yang diberikan Phoenix padaku, aku bisa pindah lebih cepat. Aku tidak lagi harus menyembunyikan pakaianku yang bersimbah darah dari kakek-nenekku, atau menanggapi komentar sinis tetanggaku. Ya, aku sudah tidak sabar menantikannya.

Aku mengetuk pintu dengan sopan. "Ini Baekie."

Itu adalah nama yang kugunakan di kampus. Toh, nama itu tidak berbeda jauh dengan yang biasa kugunakan.

Tidak berapa lama kemudian, Yeri membuka pintu, hanya mengenakan bra dan rok.

"Hei! Aku sedang berpakaian. Ayo masuk."

Aku mengikuti Yeri ke dalam, menunggu di dekat pintu saat ia menghilang ke tempat yang menurut dugaanku merupakan kamar tidurnya. Yang mengejutkan, apartemen Yeri sangat bagus, tidak seperti apartemen kumuh yang menjadi tempat tinggal mahasiswa pada umumnya. Yeri memiliki TV di seberang sofa kulit, seperangkat home theater, laptop di salah satu sisi ruangan, dan beberapa barang mewah lain yang di tempatkan untuk mempercantik dekorasi ruangan.

"Aku suka tempatmu," kataku dengan tulus. "Kau tinggal di sini sendirian, atau kau punya teman sekamar?"

"Masuklah ke sini, aku sulit mendengarmu," teriak Yeri.

Aku mengulangi pertanyaan itu saat menyusuri lorong pendek menuju ke kamar Yeri. Yeri berdiri di depan lemari pakaian, mengerutkan bibirnya saat memilih isi lemari tersebut.

"Hah? Oh, aku tidak punya teman sekamar. Jadi, ceritakan lebih banyak tentang dirimu, Baekie. Aku tahu kau tinggal di rumah bersama dengan ibu dan kakek-nenekmu, tapi di mana persisnya?"

"Di sebuah kota kecil sekitar satu jam perjalanan ke arah utara dari sini. Kau mungkin tidak pernah mendengar namanya." jawabku, sambil berpikir bahwa kamar Yeri bahkan lebih bagus daripada ruang tamunya. Jelas sekali Yeri memiliki orangtua yang kaya raya.

"Kau tidak pernah membicarakan ayahmu. Apakah ibumu bercerai, atau ayahmu sudah meninggal?"

"Ayahku kabur sebelum aku lahir, aku bahkan tidak tahu siapa dia," hanya itu yang kukatakan. Yah, itu juga bukan kebohongan.

"Kau punya cowok?"

Aku langsung merespons. "Tidak!"

Yeri tertawa. "Wow, itu mengejutkan. Apa kau tertarik pada jenis yang lain?"

"Jenis lain apa?" tanyaku, bingung.

Mulut Yeri menyunggingkan senyuman. "Apa kau lesbian? Aku tidak peduli jika memang benar, tapi jawaban 'tidak'–mu saat kutanyakan tentang cowok terlalu tegas, sehingga memancingku untuk bertanya."

"Oh!" Argh. "Bukan, aku bukan lesbian. Aku, eh, hanya tidak tahu apa yang kau maksud sebelumnya…"

"Kau tahu," Yeri memotong perkataanku dengan senyuman ramah, masih sambil mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya, "kau sangat cantik. Tapi kau berpakaian seperti gadis dusun. Ayo kita lihat apakah kita bisa menemukan pakaian milikku yang bisa kau kenakan malam ini."

Wow, Yeri terdengar seperti Phoenix. Ubah aksennya dengan aksen Inggris dan aku yakin Phoenix-lah yang sedang berbicara.

Aku menunduk ke celana jinsku. Cukup nyaman dipakai. "Oh, kau tidak harus melakukannya."

"Ini." Yeri menarik sesuatu dari lemarinya, kemudian melemparkan gaun navy padaku. "Coba kau pakai."

Karena tidak mau terlihat terlalu sopan, sementara Yeri masih setengah telanjang, aku melepaskan sepatu botku dan mulai menanggalkan pakaianku di tempat aku berdiri.

Yeri menatapku dengan sorot menilai saat aku melepaskan celana jinsku. Cara tatapannya menyapu tubuhku membuatku merasa aneh. Sepertinya aku sedang dinilai. Mungkin dia hanya terkejut melihat betapa pucatnya dirimu, tegasku pada diri sendiri, berusaha untuk menyingkirkan kegelisahan yang menguasai diriku.

"Kau punya tubuh yang indah, Baekie. Awalnya aku tidak yakin, karena kau selalu mengenakan pakaian yang kebesaran, tapi setelah melihatnya secara langsung, aku bisa yakin sekali."

Suara Yeri terdengar datar. Hampir tidak peduli. Perlahan kegelisahanku semakin menjadi. Memang, aku tidak pernah memiliki seorang teman sebelumnya, tapi ada sesuatu tentang Yeri yang sepertinya tidak benar. Yeri tidak lagi terlihat seperti gadis ceria dan ramah dari kelasku. Yeri terlihat seperti orang yang sepenuhnya berbeda.

"Kau tahu," kataku, sambil menurunkan lagi gaun yang sedang kupakai. "Aku pikir aku akan mengenakan celana jinsku saja. Aku memang tidak menginginkan hal buruk terjadi, tapi kau tahu bagaimana situasi klub. Seseorang bisa saja menumpahkan minuman di gaun ini, atau tersangkut sesuatu dan sobek…"

"Kau benar-benar gadis lugu dari desa, ya?" Senyuman aneh itu tidak pernah meninggalkan wajah Yeri. "Aku langsung mengenalimu sejak pertama kali melihatmu masuk kelas, dengan kepala tertunduk dan bahu dibungkukkan. Tidak punya teman, tidak punya koneksi, berasal dari keluarga miskin… kau sama sekali tidak menarik perhatian. Seseorang seperti dirimu bisa begitu saja" –Yeri menjentikkan jarinya– "menghilang."

Mulutku sudah menganga sejak mendengar hinaan pertama Yeri. Dan masih terus menganga sampai aku menutupnya dengan ekspresi tidak percaya.

"Apa ini semacam lelucon? Ini sama sekali tidak lucu."

Yeri tertawa. Tawa itu begitu lepas, sehingga untuk sejenak aku kembali santai. Yeri hanya bergurau. Oke, memang tidak lucu, tapi mungkin saja dia memang memiliki selera humor yang aneh.

Yeri mengulurkan tangan ke lemari. Kali ini, bukannya mengeluarkan gaun, ia mengeluarkan sepucuk pistol.

"Jangan berteriak atau aku akan menembakmu."

Ada apa ini? "Yeri, ada apa denganmu?" seruku sambil terkesiap.

"Tidak ada apa-apa denganku," jawabnya dengan santai. "Hanya berusaha untuk membayar utang sewa apartemenku, dan kau, Sayang, adalah mangsa yang disukai oleh bosku. Ini. Cepat pakai."

Yeri melemparkan borgol padaku. Borgol itu mendarat di kakiku. Aku masih sangat terperangah, hingga tidak bisa bergerak.

Yeri mengacungkan pistolnya. "Ayolah, Baekie. Jangan membuat situasi menjadi kacau."

"Kau tidak akan menembak karena tetanggamu akan mendengarnya," kataku, berusaha untuk membuat suaraku tetap tenang, sambil bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi.

Jari-jari Yeri mengetuk bagian samping pistolnya. "Ada peredam suara. Mereka tidak akan mendengar apa-apa."

Mataku menyipit saat sesuatu terlintas di dalam pikiranku. "Apakah Phoenix yang menyuruhmu melakukan ini?"

"Siapa?" Tanya Yeri dengan jengkel.

Dari ekspresi wajahnya, jelas sekali Yeri tidak pernah mendengar tentang Phoenix, dan itu membuatku merinding. Jika ini bukanlah tes kecil Phoenix, atau jika pistol yang dikeluarkan Yeri bukanlah pistol mainan, maka aku benar-benar akan mati.

Aku memilih kata-kata dengan sangat berhati-hati. "Aku tidak punya uang ataupun narkotika, jika kau hanya membuang-buang waktu. Turunkan pistolmu dan aku akan pergi dari sini tanpa melapor polisi."

Yeri melangkah mendekat. Hanya ada jarak sekitar dua meter di antara kami. "Gadis-gadis kampus, kalian semua sama saja. Kalian pikir kalian sangat cerdas, tapi jika saatnya tiba, aku harus mendiktekan semuanya seperti aku mengajari anak TK. Mungkin sebaiknya aku merekamnya saja, jadi aku tidak harus mengatakannya berulang kali pada kalian! Baiklah, dengarkan aku, Bodoh! Aku akan menghitung sampai tiga untuk memberimu kesempatan memakai borgol itu, dan jika kau tidak melakukannya, maka aku akan menembakmu. Pertama-tama aku akan menembak kakimu. Satu… dua… tiga."

Pistol itu meletus, tapi aku sudah menyingkir sebelum Yeri selesai bicara. Sial, apa pun ini, Yeri serius dengan apa yang dilakukannya! Jika aku tidak cepat bergerak, saat ini tubuhku pasti sudah berlubang!

Yeri menembak lagi sambil mengumpat, jelas sekali tidak menyangka aku bisa bergerak secepat itu. Aku melompat ke arahnya, berusaha merebut pistol yang digenggamnya. Yang membuatku terkejut, ternyata Yeri lebih kuat daripada yang kuperkirakan. Kami jatuh ke lantai, berguling, dengan pistol ada di antara tubuh kami, masing-masing dari kami berusaha merebutnya. Kemudian pistol itu meletus lagi, aku membeku.

Mata Yeri membelalak lebar, dan langsung menatap ke arahku. Sesuatu yang hangat mengalir ke tubuhku. Aku bergeser, membiarkan pistol jatuh dari tanganku yang mati rasa, dan mengamati saat darah merembes menjadi noda besar di dada Yeri.

Aku mengangkat tanganku ke mulut dengan ekspresi ngeri dan melangkah mundur sampai punggungku menyentuh dinding. Yeri mengeluarkan suara setengah mengerang, setengah menghela napas. Kemudian ia sama sekali tidak bergerak.

Aku tidak perlu memeriksa denyut nadinya –aku bisa mendengar jantungnya berhenti. Selama beberapa saat yang terasa seperti selamanya, aku hanya menatap Yeri. Di sekitar kami, sepertinya tidak ada seorang pun yang mendengar sesuatu. Yeri memang benar. Pistol itu dilengkapi dengan peredam suara. Dan ternyata berfungsi seperti yang diharapkan.

Dalam kebingungan, aku beranjak ke meja kecil dan mengambil telepon, menekan satu-satunya nomor yang bisa kupikirkan. Ketika aku mendengar suaranya. Ketenangan sirna dan aku mulai gemetar hebat.

"Phoenix, aku… aku baru saja membunuh seseorang!"

.

.

.

Phoenix tidak mengajukan pertanyaan apa pun yang tadinya kupikir akan ditanyakannya. Misalnya, ada apa denganmu? Atau, apa kau sudah menelepon polisi? Phoenix hanya bertanya di mana aku berada dan memintaku untuk tetap di tempat. Aku masih memegang telepon saat Phoenix datang sepuluh menit kemudian. Aku sama sekali belum bergerak. Aku bahkan nyaris tidak bernapas.

Melihat Phoenix datang membuatku merasa luar biasa lega. Jika Yeri vampir, tidak masalah buatku. Aku hanya perlu membungkus mayatnya, membawanya ke hutan, dan menguburnya di tempat yang terpencil tanpa rasa takut. Tapi, ini berbeda. Aku sudah merenggut nyawa seorang manusia, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.

"Apa saja yang sudah kau sentuh?" Itu adalah pertanyaan Phoenix saat berlutut di depanku.

Aku mencoba berpikir. Butuh waktu beberapa saat untuk bisa menjawabnya.

"Hmm… telepon… mungkin pinggiran meja atau meja lampunya… itu saja. Aku baru saja datang ke sini saat dia mulai bertingkah aneh dan mengatakan hal-hal buruk…"

Phoenix mengambil telepon dari tanganku. "Tidak aman di sini. Salah satu dari mereka bisa kembali kapan saja."

"Salah satu dari siapa? Yeri tidak punya teman sekamar," cetusku, sambil mengamati Phoenix melepaskan telepon dari dinding dan memasukkannya ke kantong sampah besar.

"Tempat ini berbau vampir," ujar Phoenix singkat. "Kita harus membersihkan sidik jarimu dan pergi."

Perkataan Phoenix membuatku terlompat berdiri. "Vampir? Tapi dia tidak… dia bukan…"

"Apa lagi yang dikatakannya tentang Cho Kyuhyun?" potong Phoenix.

Sekarang aku benar-benar bingung. "Kyuhyun? Kyuhyun? Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini."

"Tidak mungkin," geram Phoenix, sambil melepaskan seprai dari tempat tidur Yeri dan mengunakannya untuk membungkus mayat wanita itu, seperti kepompong. "Bau Kyuhyun-lah yang kucium di sini. Dia, atau orang lain yang berhubungan dengannya. Yang jelas, ada bau Kyuhyun di sini."

Kepalaku mulai berdenyut. Ini seperti mimpi buruk. Phoenix selesai menggulung seprai ke tubuh Yeri, kemudian mulai mengisi kantong sampah dengan barang-barangnya. Buku-buku kuliah. Map dan surat. Phoenix dengan cepat mengosongkan laci meja dan menambahkan berbagai macam barang ke dalam kantong sampahnya. Aku tidak banyak membantu. Aku hanya berdiri saja di sana, memastikan tanganku tidak meninggalkan sidik jari di mana pun.

Phoenix meninggalkan aku untuk memeriksa ruang tamu dan kembali dengan kantong yang sudah lebih penuh.

"Bawa ini, Luv."

Kantong sampah itu diserahkan padaku. Aku harus menggendongnya untuk bisa membawanya, karena kalau tidak kantong plastik itu pasti akan jebol karena isinya terlalu berat. Kemudian, Phoenix mengambil salah satu kaus Yeri dan mulai menggosok laci, kusen pintu, ujung meja, dan kenop pintu. Setelah merasa puas, Phoenix mengangkat lilitan seprai berisi mayat Yeri dan memanggulnya di bahu.

"Cepat pergi ke trukmu, Bee. Jangan menoleh ke sekeiling, langsung saja masuk dan duduk di kursi penumpang. Aku akan berada tepat di belakangmu."

tbc...


makasih buat follow, favoritenya, dan reviewnya.

KimAnn23/zenbaek/ennoo96/parkbyundie/Dini695/realvina/GENDUT/keenz/SusuPisang/khspark/baeqtpie/ChanBMine/abcbcbcd/pepepe/rly/Byun/choi96/gisaniya/ChanNhye/phantom.d'esprit/katsumi99/rizypau16/Delightfull61/Namenifbaek/ByunJaehyunee/nifbaek/Park Beichan/yousee/chankyoung/Latifanh/Ahn naemi/keysha/Nanik755/Ricon65/

saya butuh secangkir kopi -.-''