Terima kasih bagi yang telah membaca maupun mereview. Silakan menikmati chapter berikut! :D

Captain Tsubasa Fanfiction

Disclaimer: Captain Tsubasa belongs to Yoichi Takahashi-sensei. I don't own the original story, nor the characters. I only own this amateur fanmade fiction, including the plot and other OC(s)/OOC-ness.

Fourteen-Teller presents….

-The Story of A Broken Heart-

Chapter 11: Misugi's Number One Fan


"Kyaaaa! Misugi-saaaaan! Cakepnyaaa!"

"Jun-samaaaaa! Berjuanglah!"

Teriakan-teriakan itu bergemuruh lagi di lapangan. Keberadaan satu orang yang kini memegang kendali lini tengah Musashi FC selalu mencuri perhatian sebagian besar gadis di SMP itu. Dua tahun-an absen, tak membuat skill dan performa sepakbolanya menurun. Dia masih Jun Misugi yang jenius. Juga populer.

Yayoi memandang lapangan dari jendela kelasnya. Saat itu jam istirahat. Itu adalah latihan terakhir sebelum pertandingan perdana di turnamen sepakbola se-Tokyo lusa. Disana, 22 orang berlatih mini game, namun tampaknya ia hanya melihat satu, seorang anak dengan ban kapten di lengan kirinya. Posisi yang sudah satu setengah bulan ini kembali menjadi miliknya.

Yayoi tersenyum. Anak lelaki bernomor punggung 14 itu berlarian, seperti teman-temannya. Orang lain mungkin tidak akan mengira anak itu punya cacat di tubuhnya. Mesin itu bernama jantung, dan ia punya yang tidak bekerja dengan baik. Hanya sepakbola, yang membuatnya sama dengan anak-anak sehat seusianya. Dan kini, ketika ia berlari, tak ada yang bisa menghentikannya.

Yayoi melihat para gadis yang bersorak-sorai di pinggir lapangan. Akhir-akhir ini rasa sebalnya kepada mereka meningkat, entah kenapa. Padahal, sudah sejak SD fans club itu ada, dan gadis itu menganggapnya wajar. Tidak salah memang, mengagumi seseorang yang hampir sempurna seperti kaptennya. Yang tidak ia mengerti, kenapa ia harus merasa terganggu, tidak suka dengan sikap mereka.

"Mau sampai kapan kau terus memandanginya dari sini?"

"Eh?"

Yayoi berbalik badan, kemudian mendapati Haruka berdiri di dekatnya, dengan kedua lengan menyilang.

"Apa maksudmu?" Gadis berambut merah itu berucap.

Haruka tersenyum. "Sang Pangeran Lapangan."

"Eh?"

Yayoi mendapati pipinya mulai merona. Hal-hal seperti ini sering terjadi, dan ia tak merasa perlu menyembunyikannya. Sahabatnya tahu apa yang terjadi padanya.

"Kenapa tidak berdiri disana dan mendukungnya seperti yang selalu kau lakukan dulu?" Haruka berucap lagi.

Yayoi sedikit menunduk. "Tidak…. Terlalu banyak orang…" balasnya tidak bersemangat.

Haruka mengerutkan alis. "Hmm…. Jadi, sekarang kau lebih suka mendukungnya diam-diam?"

"Eh? Bukan begitu…."

Yayoi mengangkat kepala, menggeleng. Wajahnya masih sedikit memerah. "Tidak apa-apa. Aku disini saja. Rasanya tidak nyaman berada disana…." Ia tertunduk lagi.

"Kenapa? Takut jika mereka membicarakanmu lagi?"

"Eh?"

Di sekolah itu, tidak ada yang tidak tahu kedekatan Yayoi dan Jun. Meskipun tidak ada yang bilang mereka berpacaran, namun hubungan yang tampaknya bukan sekedar teman biasa itu sudah membuat banyak gadis sebal. Jun Misugi bukanlah tipe orang yang mudah bergaul dengan anak perempuan. Cuma Yayoi. Cukuplah alasan bagi mereka, para fans untuk tidak menyukai gadis itu. Yayoi sebenarnya punya kepribadian yang cukup tangguh di balik sifat lembutnya. Gosip dan gunjingan, ia sudah sering mendengar. Namun, akhir-akhir ini, semuanya menjadi terlalu banyak baginya. Hanya karena ia dan sang kapten menjadi semakin dekat, namun dengan status yang belum jelas.

"Tidak, Haruka…. Bukan karena itu…."

Yayoi berucap lesu. Sebenarnya ia sendiri kesal. Kenapa ia tak seperti Anego yang bisa dengan lantang memarahi gadis lain berteriak mendukung Tsubasa. Kenapa ia tak punya keberanian untuk menunjukkan diri. Kadang, kuat menahan diri saja tidak cukup baginya. Ia perlu sesuatu yang lain.

"Hmm…. Baiklah. Tapi, Yayoi, aku jadi berpikir…. Kalau kau sampai jadian dengan Misugi-kun, kira-kira apa yang akan mereka lakukan ya?"

"Eh?"

Yayoi tersentak. Ucapan sahabatnya tepat mengenai sasaran. Wajah gadis itu memerah lagi.

"A-apa maksudmu?" ucapnya salah tingkah.

Haruka tersenyum. "Jadian. Aku yakin kalian bisa sampai kesana. Menurutku, jika kalian benar-benar pacaran, justru akan lebih baik."

"Eh?"

"Karena semuanya menjadi jelas, dan mereka tidak akan membicarakanmu lagi."

"Eh?"

"Dengan kata lain, menutup kemungkinan mereka mengambil hati Misugi-kun. Barangkali mereka akan menyerah. Hahaha."

"…. Benarkah begitu?" Yayoi menemukan kembali suaranya. Namun, tetap lemah.

"Eh?"

"Aku tidak yakin mereka akan berhenti membicarakan kami. ah, aku terutama. Lagipula, apa maksudmu dengan jadian? Kami tidak-"

"Selamanya sahabat. Apa kau mau seperti itu?"

"Eh?"

"Yayoi, jangan bohong dengan perasaanmu! Tidak apa-apa kan, kalau kau harus mengatakannya duluan?"

"Eh?"

"Misugi-kun kelihatannya kurang peka dengan perasaan perempuan. Tapi, jika itu kau, aku yakin dia akan merespon. Jadi, coba saja!"

Haruka memegang kedua pundak sahabatnya. Kelihatannya justru dia yang bersemangat. Sebaliknya, Yayoi, terus menunduk, dengan muka yang belum kembali ke warna semula.

"Tidak ah. Aku belum siap…."

"Ah…. Jangan begitu! Lalu kapan kau akan siap? Menunggunya bilang duluan? Itu lebih mustahil. Lihat bagaimana dia sekarang, begitu bahagia dengan sepakbola! Bisa-bisa kau dilupakan!"

Yayoi tersenyum kecil. "Baik baginya, gembira seperti itu."

"Eh?"

"Tidak apa-apa. Biarkan saja seperti ini dulu."

"Ah, payah! Nanti, kau bisa kehilangan kesempatan!"

"Begitukah?"

Gadis itu tetap tersenyum. Ia mengambil beberapa lembar kertas di laci mejanya, kemudian mulai berjalan melewati temannya. Haruka berbalik badan.

"Hei, mau kemana, Yayoi?"

Mantan manajer Musashi menoleh. "Kantor guru. Menyerahkan formulir SMA jurusan."

"Ah…. Baiklah. Kau sudah yakin dengan pilihanmu?"

"Hm." Gadis itu tersenyum sebelum meninggalkan kelas.

Berjalan di koridor, Yayoi menghela napas. Dilihatnya sebentar formulir di tangannya. Apa yang ia tulis disana mungkin baginya benar-benar keputusan terbaik. Namun, ada yang membuatnya tidak terlalu senang.

"Manajer, kau sudah menentukan SMA pilihan?"

Itu adalah dua hari yang lalu ketika Jun dan Yayoi berjalan pulang, berdua. Dan apa yang mereka obrolkan, adalah topik yang sedang santer di antara para siswa kelas 3. SMA tujuan selanjutnya.

"Ah… Itu…. Mungkin…. Sama seperti yang lainnya. Kalau kapten?"

Jun Misugi tersenyum. "Ada SMA yang kuinginkan saat ini."

"Dimana? SMA Musashi* ya? Klub sepakbolanya terkenal bagus."

Lelaki itu tersenyum lagi. "Kali ini bukan soal sepakbola."

"Eh?"

"Kau tahu Musashi High School Attached to Medical University?"

"Eh? Itu kan…. SMA yang secara khusus mendidik siswa untuk masuk fakultas kedokteran…. Kapten…. Disana?"

"Hm."

"Kenapa?"

Yayoi belum bisa berhenti terkejut. Selama ini sang kapten tidak pernah bercerita tentang cita-cita lainnya di samping sepakbola. Dia bukan orang yang mudah tiba-tiba tertarik dengan satu hal. Dia juga bukan orang yang percaya pada pertanda, jika keputusannya itu datang lewat mimpi. Dia terkenal rasional, dan selalu terencana. Hanya pernah suatu ketika ia bilang mengagumi kardiologisnya, dokter Ninomiya. Namun, bagi Yayoi, saat ini lebih mudah baginya melihat Jun Misugi beberapa tahun mendatang berdiri di lapangan dengan jersey biru kebanggaan tim Jepang, dibanding memegang stetoskop, juga jubah putih membungkus badan kurusnya. Kalaupun memang begitu, itupun bukan mustahil. Tidak ada yang meragukan kecerdasan lelaki itu.

"Pengalaman keluar-masuk rumah sakit membuatku berpikir, rasanya, aku harus berbuat sesuatu, bukan cuma menjadi pasien. Kalaupun dengan menjadi dokter aku tidak bisa menyembuhkan penyakitku sendiri, namun setidaknya aku ingin bermanfaat bagi orang lain."

Yayoi terdiam, takjub dengan tutur kata temannya. Ia tak pernah menyangka sang kapten yang biasanya hanya antusias dengan topik sepakbola, ternyata punya pemikiran sejauh itu.

"Lalu, bagaimana dengan sepakbola?" Gadis itu bertanya tiba-tiba.

Jun tersenyum. "Tentu saja aku tidak akan menyerah terhadap sepakbola. Mungkin setelah ini aku akan berhenti bermain untuk sementara. Tapi, suatu saat nanti, aku pasti akan kembali, bergabung dengan yang lainnya."

"Hmm… Jadi, mau berhenti dulu ya?"

"Hm. Dokter Ninomiya hanya memberiku ijin sampai turnamen nasional. Kalau aku sampai bandel lagi, aku tidak yakin akan diberi ijin kalau aku minta."

"Hmm…. Benar juga."

"Lagipula, aku memang sudah memutuskan hanya ingin fokus di pendidikan setelah lulus SMP."

Yayoi terdiam kembali. Ia semakin mengenal temannya. Dia memang anak yang berorientasi terhadap impian. Dan yang membuatnya terkesan, anak itu punya dua yang begitu besar.

"Kau hebat." Yayoi berucap dengan senyuman kecil.

Jun menggaruk pelan kepala belakangnya, cukup tersipu. "Ah, tidak…. Semua orang melakukannya…."

"Tidak. Kapten hebat. Dokter yang juga pemain sepakbola, itu jarang. Sekarang, karena itu kapten, rasanya aku mulai bisa membayangkannya."

"Hehe. Begitu ya? Terima kasih."

"Hm. Berjuanglah!"

"Kau juga, manajer!"

"Hm. Baiklah."

Yayoi berhenti di depan pintu ruang guru. Ia pandangi sekali lagi sebendel kertas di tangannya. Ia menghela napas panjang.

"Kita mengambil jalan yang berbeda pada akhirnya."

Ia mulai mengetuk pintu, kemudian membukanya. Ia pun berjalan masuk.

"Mungkin Haruka benar. Aku sudah hampir tak punya kesempatan."

###

Kata orang, kesebelasan SMP Musashi punya catatan prestasi yang bagus. Sudah beberapa tahun ini tim dari sekolah elit itu menduduki peringkat kedua se-Tokyo. Meskipun diperkuat pemain-pemain berbakat, jika hanya menjadi runner-up, itu tidak ada artinya bagi mereka. Yang dibutuhkan adalah posisi pertama jika ingin melaju ke turnamen nasional. Tahun ini, ambisi tim Musashi FC sangat besar.

Kini mereka punya kembali apa yang mereka sebut senjata pamungkas. Dengannya, yang walau baru dimainkan di menit ke sepuluh babak kedua, meloloskan tim itu dari babak penyisihan grup begitu mudahnya. Bahkan, ia pun tak perlu ngotot meminta tambahan waktu bermain untuk dapat memenangkan pertandingan di perempat final dan semifinal. Tapi, hari ini, di final, tampaknya ia melupakan janjinya. Sebenarnya, menjadi hal yang dilarang, jika ia bermain bahkan sejak di babak pertama. Sayangnya, tak ada yang bisa mengalahkan keras batu anak itu.

Yayoi duduk di salah satu bangku di tribun. Jauhnya jarak ia dengan lapangan tak menghalanginya melihat pemain ber-jersey kuning dengan nomor punggung 14. Pertandingan hari ini, mungkin sudah bisa ia duga sebelumnya, akan menjadi berat. Namun, ia tak mempersiapkan diri untuk sesuatu yang buruk terjadi.

Ia melihat lelaki itu jatuh. Seluruh tubuh bagian depannya, juga wajahnya, mengenai permukaan tanah lapang. Tidak jelas ia pingsan atau masih tersadar. Namun, wasit tidak membunyikan peluitnya. Bola yang terlepas dari kaki anak itu, diambil oleh rekannya. Mungkin serangan terakhir dari Musashi FC yang sudah ketinggalan skor 2-3.

Dewi fortuna tampaknya sedang tidak ingin bersama tim itu. Kalau saja tim lawan tidak punya kiper sehandal Wakashimazu, atau kalau saja sang kapten tim mampu berdiri, berlari lagi, dan membuat gol, mungkin keadaan tidak akan seperti ini sekarang.

Yayoi menyaksikan Jun Misugi berdiri dengan susah payah. Namun, semuanya sudah terlambat. Tersisa beberapa menit lost time cukup meyakinkannya dengan hasil akhir pertandingan. Tak kuat lagi melanjutkan, lelaki itu dipapah rekannya keluar lapangan. Ia masih bisa begitu kalem, tersenyum, dan memberi semangat kepada pemain lainnya. Pada akhirnya, peluit panjang berbunyi. Skor tidak berubah. Dan Jun Misugi, seolah itu adalah salah satu keahliannya, berhasil menyembunyikan kekecewaannya lewat senyuman.

Hari sudah sangat sore. Para pemain di kedua tim sudah kembali ke ruang ganti. Tribun sudah hampir kosong oleh penonton. Di sekitar lapangan, masih ada beberapa wartawan dengan liputannya, juga beberapa lagi yang sudah membereskan peralatannya. Namun, Yayoi masih belum beranjak dari tempatnya.

Mata gadis itu mengarah ke lapangan kosong di bawah. Wajahnya sedih. Wajar, ia sangat berharap timnya menang kali ini. Bukan untuk dirinya. Ada seseorang yang sangat menginginkannya. Baginya, tak seharusnya langkah anak dengan bakat sepakbola yang luar biasa seperti Jun Misugi, harus terhenti disini. Selalu, ia berdoa di setiap pertandingan yang diikutinya, agar jantung anak itu tak berulah. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa melawan organ paling vital dalam hidup manusia itu.

Yayoi tidak menghitung berapa lama ia duduk disitu. Sepertinya sangat lama. Kini, bahkan cuma dia satu-satunya yang masih bertahan di tribun. Tidak sadar, jika sebenarnya saat ini keberadaannya dicari oleh seseorang.

"Manajer, apa yang kau lakukan disitu?"

Seorang lelaki muncul dari belakang, kemudian berjalan mendekat ke arahnya. Yayoi menoleh, terkejut.

"Kapten? Kenapa kemari?"

Laki-laki itu duduk di samping Yayoi. Ia belum berganti jersey. Wajahnya masih terlihat kecapekan. Dahinya basah oleh keringat.

"Kenapa kau tidak menemuiku?" ucapnya dengan ekspresi kecewa.

"Eh?"

"Dokter Ninomiya saja, begitu aku masuk ruang ganti, langsung memeriksaku. Kupikir kau pulang lebih dulu."

"Eh? Tidak…. Aku…."

"Biasanya manajer selalu datang paling awal setelah selesai pertandingan, dan menanyakan keadaanku. Kali ini kau tidak mengkhawatirkanku?" Lelaki itu berucap dengan muka masam. Namun, ketika dilihatnya raut muka bingung Yayoi, ia tersenyum.

"Haha. Aku bercanda. Aku tahu kau disini dari dokter. Katanya kau kelihatan sedang galau, makanya-"

"Eh? Aku? Galau? Tidak kok." Gadis itu mengibas-kibaskan tangan di depan wajahnya yang kini mulai memerah.

Jun tersenyum, kemudian memasang ekspresi serius. Dipandangnya lapangan kosong di bawah. "Kenapa? Karena kita kalah?" ucapnya melankolis.

Yayoi mengikuti arah pandang lelaki itu. Wajahnya ikut sedih. "Sayang sekali ya. Padahal tinggal sedikit lagi bisa ke turnamen nasional." Ia berkata lemah.

Jun tersenyum tipis. "Apa boleh buat. Melawan Tsubasa-kun bisa lain kali. Hehe."

Yayoi tahu, salah satu tujuan kaptennya ingin lolos ke turnamen nasional adalah bertanding kembali melawan saingannya, Tsubasa Ozora. Berkali-kali ia bilang akan menang melawannya. Bahwa sekarang ia sudah bertambah kuat. Bahwa ia ingin duel satu lawan satu dengan anak itu lagi, dan membuktikan bahwa tendangan barunya tidak akan mempan melawan Musashi. Sayangnya, takdir berkata lain. Namun, untungnya, Jun Misugi punya kapasitas sabar yang begitu besar.

"Kau sedih?"

"Eh?"

Namun, sepintar apapun anak itu berlagak tegar dengan tersenyum, tidak akan bisa mengelabuhi Yayoi. Jun melihat sorot mata temannya. Sorot mata yang menangkap basah dirinya.

"Tentu saja. Apa yang kau tanyakan?" Ia berucap sembari memalingkan muka.

Satu hal yang ia ketahui belum lama ini. Di dekat Yayoi, ia bisa menjadi anak kecil yang jujur.

Gadis itu tersenyum. "Syukurlah."

"Eh? Apanya yang syukurlah?" Jun kembali menoleh ke arah temannya.

Mantan manajer Musashi masih tersenyum, mulai menatapnya. "Karena itu normal. Orang yang kalah seharusnya sedih atau kesal, bukannya tersenyum."

"Eh?"

"Bukannya bilang 'apa boleh buat', seharusnya kau bisa lebih emosional lagi. Iya, kan?"

Jun memalingkan mukanya lagi. "Apa yang kau sebut emosional itu adalah aku harus merengek-rengek di depan banyak orang, atau mengamuk, menendang kursi, melempar benda-benda? Begitu? Yang benar saja! Cuma kalah di final, bukan akhir dunia."

"Hmph."

"Hei! Kenapa kau tertawa?"

"Ah. Tidak tidak. Aku cuma membayangkan kalau kapten mengamuk seperti itu. mungkin semuanya akan ketakutan. Ah, mungkin fans-mu akan berkurang. Hihihi."

"Terdengar seperti ide bagus untuk menyingkirkan mereka ya? Mungkin bisa kucoba kapan-kapan."

"Jangan!" Tiba-tiba Yayoi berseru, mengibaskan tangannya lagi. "Tidak cocok denganmu. Beneran. Tetap kalem saja, ya!" lanjutnya.

Jun tertawa kecil. "Tuh, kan! Kau sendiri yang bilang, stay cool lebih baik."

"Ah… Ya ya. Kadang-kadang itu perlu juga sih…."

"Hmm…."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Jun melihat kembali ke arah rumput hijau, namun pandangannya kosong. Yayoi tahu apa yang lelaki itu pikirkan.

"Anu…. Kapten…. Sebenarnya, jika tim kita menang, aku bermaksud memberimu hadiah."

Gadis itu berucap tiba-tiba. Suaranya pelan, namun masih bisa terdengar. Ia menunduk, meremas-remas jemarinya sendiri. Wajahnya memerah lagi.

Jun menoleh. "Eh? Ah…. Begitu ya? Sayang sekali…." balasnya, kemudian berpaling kembali.

"Tapi, bagiku kau tidak kalah."

"Hah?"

Yayoi melanjutkan ucapannya. Ia semakin meremas kuat jari-jarinya. Jun Misugi mulai dibuatnya bingung.

"Sejak dulu, kau sudah menjadi pemenang."

Masih menunduk, gadis itu tersenyum. Entah kenapa ia tampak grogi.

"Eh? Ah…. Jadi…."

"Hm. Hadiahnya…. Akan kuberikan…." Ia mulai mengangkat kepala.

Jun menggaruk kembali kepala belakangnya, tertawa. "Ah…. Haha. Seharusnya kau tidak perlu repot-re-"

Itu adalah hadiah tercepat yang pernah Yayoi berikan. Sama sekali tidak repot, namun butuh keberanian. 100% keberanian. Ia memang telah lupa bagaimana ia melakukannya belasan tahun yang lalu. Kini, ia masih belum percaya, telah mengulanginya. Tak pernah ia bayangkan akan berani mencium pipi anak laki-laki di usianya sekarang.

Ia tertunduk seketika. Kedua tangannya mengatup, seperti berusaha menutupi wajahnya yang kini sudah sangat merah. Ia merasakan detak jantungnya semakin gila.

Lelaki di sampingnya diam saja. Bola mata cokelatnya mengawasi gadis itu. Mulutnya sedikit terbuka. Syok barangkali. Dan dia terus seperti itu hingga beberapa menit, membuat Yayoi semakin tidak nyaman. Gadis itu tahu harus memberikan penjelasan.

"Ma- ma- maaf…."

Ia masih tertunduk. Kali ini sangat dalam. Sebenarnya ia tidak membuat kesalahan. Jun diam saja.

"Tidak seharusnya…. A-aku…. Lancang…."

Usahanya begitu keras, meskipun dengan terbata-bata. Jun masih belum merespon.

"Ta-tapi…. Aku…. Punya alasan…."

Gadis itu meremas-remas tangannya lagi. Kali ini mungkin sudah basah oleh keringat dingin.

"A-aku…. Tidak tahu sejak kapan…. Tapi, aku…. Rasanya jadi sangat aneh…."

Ia mulai bisa bicara sedikit lebih panjang. Jun masih diam, namun ia mendengarkan.

"Kupikir aku…. Ah, bukan…. Aku memang…. A-aku…."

Ia menelan ludah, kemudian menarik napas panjang.

"Aku menyukaimu!"

Kali ini Yayoi datang dengan ucapan pamungkas yang begitu lantang. Syok lain bagi Jun Misugi.

Yayoi terus menunduk. Sudah tidak tahu lagi dimana harus menyembunyikan wajahnya. Setiap detik yang berjalan, sangat menyiksanya. Respon itu tak kunjung datang. Sementara, degup jantungnya masih begitu kencang. Mungkin belum akan tenang sampai ia mendengar jawaban. Namun, lelaki di sampingnya, mungkin sudah kena sihir menjadi batu atau semacamnya. Tentu saja, ini bukan reaksi yang gadis itu harapkan.

"Ah… Hahaha…. Kurasa aku harus pergi…."

Sepertinya Yayoi punya selera humor yang salah. Tidak ada hal lucu untuk ditertawakan. Mungkin ia sudah kehabisan ide untuk bicara dan bertahan lebih lama disana. Yang penting, perasaannya sudah tersampaikan. Masalah diterima atau ditolak, itu urusan belakangan. Mungkin begitu pikirnya.

Ia benar-benar beranjak. Sementara, Jun masih belum bergerak. Kemudian, gadis itu mengambil beberapa langkah. Dan sebelum ia berjalan lebih jauh, sesuatu memaksanya untuk menoleh kembali.

"T-thanks…."

Ucapan Jun Misugi yang pertama setelah kembali dari syok. Ah, bukan…. Barangkali sekarang ia masih terkejut. Ia tak memandang gadis itu. Biasanya ia jarang bicara membelakangi orang lain.

Yayoi terdiam di tempatnya, menunggu ucapan anak itu selanjutnya. Namun, hingga beberapa saat kemudian, ia tak mendengar apa-apa. Akhirnya, gadis itu melangkah lagi, benar-benar pergi, meninggalkan Jun Misugi sendiri.

-End of chapter 11-


*SMA Musashi. Anggap saja begitu namanya. Hehe.

Author's note:

Author minta maaf atas waktu update yang lama. Bukannya author tidak mau update. Hanya saja author belakangan ini tidak cukup waktu luang untuk menulis. Selain itu, author juga mempertimbangkan faktor mood dan ide. Tanpa itu, author tidak akan bisa menulis.

Author tidak bisa menentukan waktu tepatnya akan update berapa kali dalam sebulan. Kemungkinan waktunya tidak akan sama dan teratur. Bisa lebih cepat, atau lebih lambat. Tapi, jika ada kesempatan, author pasti akan update. Mohon pengertiannya ya, readers yang baik! :D

Sekian untuk chapter ini. Terima kasih telah membaca. Selanjutnya, aku akan berusaha. Nantikan dengan sabar ya! Jangan lupa review! See you! :D