Story belong Lhyn Hatake

Cast Belong them self

Chanbaek/BaekYeol – GS

.

Chapter kali ini mengambil sisi Chanyeol untuk diceritakan. Untuk timeline-nya ini terjadi dihari yang sama dengan sebagian chap 8 dan seluruh chap 9, jadi bukan lanjutan tapi pengulangan dari sisi yang berbeda.

.

.

Chap 10

.

Chanyeol memijit pelipisnya pelan. Kepalanya berdenyut sakit, terlalu banyak pekerjaan dan dia sama sekali tak bisa berkonsentrasi seharian. Entah karena alasan apa Baekhyun mendiamkannya hari ini dan sialnya, itu benar-benar mempengaruhi moodnya.

Sulit sekali berkonsentrasi sementara bagian lain dari otaknya sibuk menerka-nerka penyebab Baekhyun kesal padanya. Chanyeol mendesah pelan, diraihnya dengan hati-hati buket mawar yang terduduk rapi dikursi penumpang dimana biasanya Baekhyun duduk.

Sebenarnya, Chanyeol berencana membelikan cup besar ice cream strawberry kesukaan yeoja itu untuk membujuknya. Tapi menurut Minseok, itu sama sekali tidak memiliki sisi romantis. Jadi yeoja pipi tembam itu memberinya secarik kertas berisi alamat florist yang katanya bagus.

Jadi dia kesana dan pulang dengan sebuket bunga mawar. Dia menatap mawarnya, berpikir apakah Baekhyun akan senang atau malah menganggapnya aneh?

Karena isi kepala Baekhyun sedikit berbeda dengan isi kepala yeoja kebanyakan. Baekhyun mungkin akan menganggapnya aneh. Chanyeol harus siap ditertawakan. Hemmm rasanya ditertawakan lebih baik daripada didiamkan.

Chanyeol tiba didepan pintu kamarnya, menyembunyikan bunganya dibelakang punggung dan membuka pintunya perlahan. Sekali lagi, namja itu mendesah pelan. Baekhyun tidak ada disana.

Chanyeol masuk dengan sedikit kecewa. Diletakkan bunganya dengan hati-hati diatas kasur, tempat dimana biasanya Baekhyun menunggunya.

Chanyeol melepas jasnya, mengganti pakaiannya, lalu duduk... menunggu. Ahhh... tidak, dia tidak bisa menunggu. Melangkahkan kakinya dengan cepat, Chanyeol berjalan kearah kamar yeoja itu.

Jika tak mengingat yeoja itu sekamar dengan Kyungsoo, Chanyeol mungkin sudah mendobrak masuk dan bukannya mengetuk pintunya dengan tidak sabar seperti ini.

"Baekhyun..." dia memanggil, rasanya mulai kesal karena Baekhyun tak juga membuka pintunya. "Baekhyun atau Kyungsoo... aku akan masuk," dia masih mengetuk untuk beberapa saat lagi.

Tapi tak ada jawaban juga, Chanyeol membuka pintunya dan akhirnya tahu kamar itu kosong. Entah untuk keberapa kali, namja itu mendesah pelan.

Berjalan kearah dapur, sesekali Chanyeol memanggil namanya. "BAEKHYUN!" dia berseru dipintu dapur hingga semua yang berada disana menatapnya.

Tak ada sahutan, matanya berkeliling dan dia tidak mendapatkan yeoja itu disana.

"Kau! Cari Baekhyun dan suruh dia kekamarku!" Chanyeol mulai kesal dan dia menunjuk asal seorang maid. Maid itu diam dan Chanyeol merasa aneh. "Hei, kau dengar?"

Maid itu menunduk. "Maaf Tuan Muda, tapi Baekhyun tidak dirumah."

"Dia belum pulang?"

Si Maid menggeleng, membuat Chanyeol makin kesal.

"Baekhyun pergi."

"Kemana?"

"Saya tidak tahu Tuan Muda."

"Katakan apa yang kau tahu."

"Baekhyun pergi dengan Tuan Muda Yifan."

Chanyeol mengernyit, ditatapnya Maid itu dengan mengintimidasi seakan itu bisa membuat jawaban dari Maidnya bisa berubah. Tapi Maid itu justru membungkuk semakin dalam, ketakutan. Dan Chanyeol mulai merasa panik, dia merogoh saku celananya mencari-cari ponselnya tapi tak mendapatkannya. Semakin panik, namja itu berlari cepat kembali kekamarnya, mencari dengan gugup ponselnya dan segera menghubungi nomor Baekhyun.

Tidak dijawab.

Sekali lagi.

Masih tidak dijawab.

Sekali lagi.

"Sial!"

Chanyeol meraih kunci mobil secara asal di laci nakasnya, berlari menuruni tangga dan terus berlari hingga keparkiran. Dia berhenti, melihat kunci yang dia ambil sebelum masuk ke mobil yang benar. Tangannya masih menggenggam ponsel, nomor Baekhyun masih jadi sasaran. Dia tak paham apa yang sebenarnya di pikirkan Baekhyun. dari seluruh yeoja didunia ini, isi kepala Baekhyun adalah satu-satunya yang paling bisa dia pahami. Namun entah kenapa belakangan Yeoja itu jadi begitu sulit ditebak.

Baekhyun selalu terbuka padanya, termasuk soal namja Baekhyun selalu mengatakan tentang siapa saja namja yang mencoba mendekatinya. Termasuk soal Jongin dan itu membuat Chanyeol bisa sedikit waspada dan terus mengamati mereka. Menekankan pada Baekhyun poin-poin mana yang boleh dia lakukan dan poin-poin mana yang tak boleh dia lakukan. Baekhyun selalu mendengarkannya.

Tapi sekarang? Apa yang terjadi pada Baekhyun? Ada apa dengan Yifan? Sejak kapan mereka dekat? Dan Chanyeol benar-benar tak menyukai apa yang Yifan lakukan pada Baekhyun di kantornya beberapa waktu lalu. Baekhyun tak pernah mengatakan apapun tentang Yifan dan ini membuatnya sangat cemas.

Rasa kecewa dan rasa takut mulai memenuhi dadanya. Terasa menyesakkan.

Dimana Baekhyun? Kenapa dia tak juga menjawab panggilannya? Sedang apa mereka?

Menghentikan mobilnya, Chanyeol kehilangan arah. Sementara hari semakin malam dia justru tak tahu harus kemana dan jantungnya berdetak semakin tak nyaman ditempatnya. Tangannya mencengkram kemudi, matanya terpejam dan mulai berpikir keras.

"Sehun," gumamnya tanpa sadar.

Tanpa memikirkan apapun lagi, Chanyeol memacu mobilnya kearah Mansion Oh. Perjalanan terasa lama, kecepatan mobilnya seakan kalah jauh dibandingkan kecepatan jantungnya yang berdetak semakin tak terkendali. Dia mengklakson gerbang rumah itu dengan tak sabar, seakan dengan begitu penjaganya bisa membuka gerbang dalam sekejap. Lalu, tanpa memikirkan apapun lagi, Chanyeol memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu rumah itu dan berlari secepat langkahnya bisa kearah kamar Sehun. Beruntung, Sehun ada disana, memainkan ponselnya diatas tempat tidur.

"Chanyeol!" namja itu jelas terkejut dengan kehadiran Chanyeol. "Kau membuatku kaget."

"Dimana Yifan?"

"Ha?"

"Dimana Yifan?"

"Apa ada yang penting? Kau terlihat kacau!"

"DIMANA YIFAN!"

"Aku tak yakin, tapi kalau tak salah dia melakukan reservasi di restaurant hotel Scarlet malam ini," jelas Sehun masih dengan kebingunan menatap sepupunya yang benar-benar terlihat kacau.

Itu cukup untuk Chanyeol. Dia meninggalkan Sehun yang masih kebingungan dan berlari kembali ke mobilnya. Dan perjalanan kembali terasa sangat lama. Dengan tak sabar, Chanyeol mengklakson setiap pengendara didepannya, memacu kecepatannya sejauh dia bisa mengontrolnya.

Traffic light terakhir, Chanyeol menunggu dengan tidak sabar. Jalanan didepannya kosong, namun lampu merah sialan ini tidak juga berganti hijau. Chanyeol mengamati dari arah kanan kirinya juga kosong. Sial, apasih yang traffic light ini inginkan? Jalanan kosong dan…

Mata Chanyeol menyipit. Dia mengenali Lamborgini merah yang terparkir sendirian disisi trotoar, itu milik Yifan. Matanya semakin menyipit saat apa yang terjadi di mobil merah itu tertangkap retinanya dan segala sesuatu tentang kontrol diri menghilang. Tanpa mempedulikan traffic light atau apapun lagi dia memacu mobilnya… semakin dekat… tanpa berniat menginjak remnya…

BRAAAKK!

Benturan yang cukup keras dan itu berhasil membuat apapun yang tengah mereka lakukan didalam sana terhenti. Napasnya yang memburu kian cepat, rahangnya mengeras dengan mata berkabut penuh emosi. Tangannya yang bergetar melepas setlbelt dengan kekuatan yang luar biasa. Dia merangsek keluar dari mobilnya dan hal pertama yang dia lakukan adalah melayangkan tinjunya tepat ke sudut bibir Yifan.

Seakan telah siap dengan apa yang akan terjadi, serangan kedua Chanyeol berhasil Yifan tangkis dan dia juga menyarangkan sebuah pukulan ke perut Chanyeol. Tak merasakan sakit sedikitpun, Chanyeol menyerang lagi dan Yifan membalas lagi, lagi… lagi… lagi… belum cukup… rasanya Chanyeol ingin membunuh namja ini.

Dan tiba-tiba bayangan Baekhyun berkelebat cepat, kepalan tangan yang melayang tak sempat terhenti dan menghantam pelipis yeoja itu. Baekhyun langsung limbung dan mengerang.

"BAEKHYUN!" Chanyeol dan Yifan bergerak bersamaan mendekat kearah Baekhyun yang bersandar disisi mobil.

"Apa yang kau lakukan!?" Chanyeol berseru.

"Kubilang tetap didalam!" kata Yifan tak mau kalah.

"DIAM KALIAN BERDUA! Ya tuhan ini pusing!"

Teriakan dan rintihan yeoja itu membungkam kedua namja ini.

"Ayo pulang, kita perlu mengobati lukamu," Yifan berkata.

"Dia akan pulang bersamaku!" Chanyeol menyahut tak terima, menatap penuh benci pada Yifan.

"KUBILANG DIAM!" teriakan Baekhyun sekali lagi membungkam keduanya. "Gege, aku pulang dengan Chanyeol, terimakasih untuk makan malamnya."

Chanyeol mendecil pelan.

"Baiklah, aku akan menelponmu nanti."

Chanyeol membuang muka, dia tak yakin bisa menahan pukulannya lagi jika terus melihat namja ini, dia sangat ingin membunuhnya. Saat Baeknyun berlalu masuk ke mobilnya, Chanyeol mengikuti yeoja itu, ikut masuk dan membanting pintunya keras.

Tangannya masih bergetar, rahangnya masih mengatup rapat, Chanyeol masih belum bisa mengendalikan dirinya. Benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Baekhyun… yeoja ini… apa yang sebenarnya dia pikirkan?

Chanyeol melirik yeoja itu sekilas, melihatnya meringis kesakitan memijit disekitar pelipisnya yang mulai terlihat gelap. Chanyeol menghentikan mobilnya, mencari kotak obat secepat yang dia bisa dan meraih plaster demam dari sana.

Dia membuka bungkusnya dan memasang dengan pelan dipelipis Baekhyun.

"Ini akan meringankan ruamnya. Maaf, tak bisa menghentikan tanganku," sesal Chanyeol.

"Hanya itu? Kau juga sudah menabrak mobil Yifan dan kita bertiga bisa saja dalam bahaya."

Chanyeol menggertakkan giginya, dia bahkan berniat membunuh Yifan saat itu juga. "Aku tidak menyesal untuk itu."

Chanyeol memejamkan matanya, mencoba mengatur napas dan emosinya tapi dia sadar itu sulit. Dadanya berdenyut sakit dan itu tak mudah untuk ditangani. Saat membuka matanya, Chanyeol melihat tangan yeoja itu memegang kapas dan terangsur ke arahnya. Dia menepisnya. Daripada wajahnya, hatinya lebih membutuhkan pertolongan.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan!?"

"Aku hanya ingin mengobatimu," Baekhyun menjawab pelan dan ketakutan, Chanyeol berusaha tidak peduli.

"Kau membiarkan dia menciummu!"

Chanyeol tak menatap Baekhyun, rasa sakitnya bertambah melihat bibir yeoja itu yang memerah.

"Kupikir, awalnya aku tak tahu kenapa aku menerimanya. Tapi kemudian aku sadar, aku hanya ingin kita impas."

Chanyeol mengernyit, kali ini meski sakit, dia mencoba menatap yeojanya. "Impas?" dan dia tak mengerti.

"Kau dan Zitao juga berciuman."

Deg.

Matanya membulat, sekelebat ingatan tentang malam kemarin mengapung di otaknya. Rasa bersalah kini menyisipinya, "Baekhyun—"

"Ya, aku melihatnya," mereka saling menatap dan Chanyeol tahu, Baekhyun terluka karena kebodohannya.

"ARGGHH! SIAL!"

Chanyeol tak bisa menjelaskannya. Malam itu dia tak bisa mencegahnya, dia sedikit mabuk karena alkohol dan dia tak bisa menjelaskan ini pada Baekhyun. Yeoja itu akan semakin marah dan kecewa.

Tapi Baekhyun telah cukup kecewa dan dia tak bisa mengatakan apapun lagi karena akhirnya dia mengerti. Baekhyun melihatnya… Baekhyun melihat kejadian malam kemarin dan itu sebabnya yeoja itu marah padanya. Itu sebabnya Baekhyun pergi dengan Yifan malam ini.

Chanyeol membiarkan Baekhyun pergi meninggalkannya sendirian dimobil begitu mereka tiba dirumah. Ini berawal dari kesalahannya, kebodohannya.

Chanyeol turun dari mobilnya, namja itu berjalan linglung ke kamarnya. Pikirannya kacau dan dadanya terus saja berdenyut menyakitkan. Dia membuka pintu kamarnya dan memandang ruangan besar itu dengan hampa.

Tapi... Baekhyun tidak seharusnya melakukan ini padanyakan? Baekhyun bisa mengatakan padanya dan dia akan minta maaf seberapa banyakpun Baekhyun inginkan. Matanya menangkap buket mawar yang dia tinggakan di atas kasurnya. Mawar permintaan maafnya.

"BRENGSEK!" Chanyeol melempar mawar itu hingga menabrak seluruh benda di atas nakasnya, membuat semuanya berjatuhan.

Baekhyun tidak seharusnya menemui Yifan dan melakukan semua itu. Baekhyun miliknya, tak seorangpun boleh menyentuh Baekhyunnya.

Chanyeol meraih mawarnya yang terjatuh dilantai dan saat itulah apa yang tergeletak disisi mawarnya, membuat sebuah pemikiran melintas dengan tepat dikepalanya. Chanyeol meraih strip pil milik Baekhyun itu, bersama mawarnya dia membuangnya ketempat sampah disudut kamarnya.

ĹlLalu, segera dia meraih ponsel dalam sakunya dan menghubungi sebuah nomor. Dengan cepat nomor itu menjawab panggilannya

"Kau tahu caranya agar yeoja bisa cepat hamil?"

"Apa? Ini Park Chanyeol kan?"

"Beritahu aku bagaimana caranya."

"Apa yang kau lakukan pada Baekhyun? Kau menyanderanya? Cepat lepaskan dia atau aku akan menyuruh Jongdae mendobrak kamarmu sekarang juga!"

"Minseok Noona, aku sedang sendirian sekarang. Kau hanya perlu memberitahuku bagaimana caranya!"

.

.

.

Park Chanyeol duduk disalah satu kursi dicafetaria, didepannya seorang yeoja cantik duduk dengan rambut tergerai indah. Sebenarnya Chanyeol tak pernah merasa nyaman berada di cafetaria dimana banyak orang yang datang akan menyapanya atau sekedar tersenyum padanya. Chanyeol hanya membalas mereka dengan sebuah anggukan sopan.

"Bagaimana dengan tuan Choi? Aku mendapat berita bahwa dia sedang tertarik pada property," suara maskulin namja itu terdengar tenang. Setelah menyesap kopinya perlahan dia melanjutkan. "Aku berharap bisa mendapatkan akses dan menawarkan kerjasama padanya."

"Dia pria yang agak sulit," komentar Zitao.

"Ayahmu mengenalnya, kan?"

"Ya, Babaku cukup mengenalnya. Tapi itu tak cukup untuk membuatnya menjadi mudah," yeoja itu mengaduk saladnya sesaat sebelum menyuapkannya lagi kedalam mulut.

"Dia akan mengadakan pesta untuk istrinya besok malam, kau bisa mendapatkan undangannya untuk kita?" Chanyeol sedikit memajukan tubuhnya dan menatap yeoja yang tengah mengunyah itu dengan tajam. Si yeoja berubah gugup.

"Ya.. Iya.. kurasa aku bisa mengusahakannya," dia menelan dan mengangguk kaku.

Chanyeol tersenyum, si yeoja ikut tersenyum. "Biarkan aku masuk dan aku akan mendapatkan proyek besar untuk kita."

Zitao menelan ludah dan mengangguk paham. Chanyeol tak pernah berkata omong kosong. Hanya dalam beberapa bulan saling mengenal Zitao sudah paham pria jenis apa Chanyeol ini. Pria yang tak sekedar memiliki tujuan, tapi dia juga memiliki perencanaan yang begitu matang untuk mencapai tujuannya.

Chanyeol melirik jam di tangannya. "Kurasa aku harus kembali ke atas," dia menyesap kopinya terakhir kali dan bangkit.

"Kau belum menghabiskan makan siangmu," Zitao menunjuk pandangannya pada piring setengah penuh milik Chanyeol.

"Kau tahu? Aku agak kesulitan makan tanpa seseorang," gumam Chanyeol. Tanpa menunggu komentar lain, namja itu berjalan meninggalkan si yeoja yang ekspresinya berubah datar seketika.

Chanyeol meraih ponsel disakunya dan menelpon seseorang. Perasaannya sedikit gugup namun bahagia. Nada tersambung dan tak lama seseorang disana menjawab.

"Ya, Tuan Park?" suara Minseok terdengar.

"Baekhyun sudah datang?"

"Ya, dia sudah datang tapi.."

"Tapi? Dia menunggu atau—"

"Dia pulang. Dia menitipkan ice creamnya dan pulang."

Kebahagiaan yang mulai menggembung didadanya tiba-tiba mengempis. "Kenapa? Kau tidak mencegahnya?"

"Saya tak bisa tuan Park, dia terlihat kecewa saat tahu anda makan siang dengan Zitao. Sudah saya katakan pada anda untuk menolaknya, kan?"

Chanyeol mengabaikan ucapan Minseok, Chanyeol menutup ponselnya dan mengubah arah kakinya menjadi keluar gedung besar itu. Dia berlari dengan langkah kaki panjangnya menuju halte bus yang mungkin menjadi tujuan Baekhyun.

Baru saja dia keluar dari halaman Phoenix yang luas dan berbelok di jalan besar, dia melihat sebuah bus yang melintas pelan dan matanya menangkap sosok Baekhyun yang masih berdiri didalamnya. Chanyeol terlahir dengan berkat otak jenius, namun saat berhadapan dengan Baekhyun, otak itu sering kali macet.

Dia tak bisa memikirkan cara lain selain menuju mobilnya dan memacu kuda besi itu mengejar bus yang ditumpangi Baekhyun. Dia mengejarnya dan ternyata agak sulit membuat bus itu berhenti tanpa membuatnya tertabrak. Beberapa kali dia memberi kode pada si pengemudi bus untuk berhenti namun si pengemudi mengabaikannya.

Chanyeol tak punya pilihan lain selain mengambil jarak yang agak panjang dari bus dan menghentikan mobilnya dengan posisi menyilang ditengah jalan. Dia keluar segera dari mobilnya dan berharap kali ini bus ini mau berhenti. Dan bus berhenti.

Chanyeol bernapas lega, dia segera berlari dan masuk kedalam bus, mencari sekejap dan menemukan sosok mungil yeoja kesayangannya duduk didekat jendela dengan menundukkan wajahnya, sedang berusaha mengurai kabel headsetnya.

"Baekhyun!" Chanyeol berseru, dia sedikit terengah dan si yeoja mendongak terkejut menatapnya.

"Chanyeol? Apa yang terjadi?" Baekhyun terlihat kebingungan.

"Maaf menganggu perjalanan kalian. Maaf dengan sangat. Maaf sekali lagi." Chanyeol membungkuk-bungkuk pada beberapa penumpang lain yang memandang mereka. Dia mengabaikan tatapan kebingungan Baekhyun dan segera menarik yeoja itu keluar dari bus.

Baekhyun mengikutinya, dia tak punya pilihan, Chanyeol mencengkram lengannya dengan kuat untuk memastikan yeoja ini tak memberontak. Chanyeol membuka pintu sisi penumpang dan membiarkan Baekhyun masuk sebelum dia berlari kearah sisi kemudi dan masuk kedalamnya.

Dia segera menyalakan mobilnya dan melajukannya menepi membiarkan bus besar itu lewat. Chanyeol menyetir kembali kearah gedung phoenix dengan membawa yeoja itu terus disisinya.

"Chanyeol, biarkan aku pulang," suara yeoja itu memohon, tapi Chanyeol mengabaikannya.

"Aku berpesan supaya kau menungguku atau menyusulku ke cafeteria, bukan pulang Baekhyun," Chanyeol berkata dengan menekankan kedua pilihannya.

Dia sudah cukup menderita dengan menahan semua perasaannya selama seminggu penuh dan saat kebahagiaan mulai berkembang didadanya, yeoja itu malah memilih pergi dan membuat kebahagiaan itu mengempis seketika.

Chanyeol membawa yeoja itu memasuki lift. Baekhyun terus menunduk dan Chanyeol menatap yeoja itu tak mengerti. Yeoja kecil yang bisa dengan mudah menaik-turunkan perasaannya dalam sekejap.

"Aku tak bisa bergabung denganmu dan Zitao," dan setelah waktu yang luar biasa lama bagi Chanyeol, akhirnya yeoja itu menatapnya. Sebuah tatapan memohon yang tak Chanyeol pahami maksudnya.

"Kenapa tidak? Kami hanya mengobrol biasa dan kau bisa bergabung kapan—"

"Chanyeol mengertilah, apapun yang berhubungan dengan Zitao itu menyakitiku!"

Chanyeol tersentak. Matanya berusaha mencari sebuah arti yang begitu sulit dia pahami. Saat Baekhyun mencoba menunduk, Chanyeol menahannya. Dia masih membutuhkan mata itu untuk mencari jawaban dari kebingungannya. Tapi saat mata itu menyiratkan luka, Chanyeol justru semakin bingung.

"Baekhyun… kena-masudku… Baekhyun, kau masih percaya padakukan?"

Saat yeoja itu terdiam beberapa detik, detik itu terasa sangat menyiksa bagi Chanyeol. "Aku percaya padamu, sangat percaya padamu. Hanya saja…"

"Hanya saja…?" Chanyeol membutuhkan semuanya terbuka lebar didepannya.

Namun saat yeoja itu tak kunjung bicara, Chanyeol tahu ada dinding yang mulai terbangun diantara mereka. Dadanya berdenyut sakit. Kepercayaan Baekhyun adalah satu-satunya hal yang dia butuhkan untuk tetap berdiri di tempatnya yang begitu kejam saat ini.

"Baekhyun… kumohon percayalah padaku." Chanyeol menangkap pandangan yeoja itu.Kumohon… hanya itu satu-satunya hal yang bisa membuatku tetap berdiri diatas kewarasanku.

"Kubilang aku percaya padamu, hanya saja aku tak tahu sampai kapan aku bisa menggantungkan hatiku pada apa yang sedang kau lakukan yang bahkan aku tak tahu apa itu!" Baekhyun berkata dengan cepat. "Aku tak tahu kapan hatiku akan hancur! Melihat kau dan Zitao semakin dekat selalu menyakitiku dari waktu ke waktu, aku hemph!—"

Chanyeol membungkam bibir itu dengan bibirnya. Bagaimana mengatakannya pada yeoja ini? Bagaimana caranya membuat yeoja ini mengerti bahwa Chanyeollah yang akan hancur bila semua kepercayaan itu lenyap. Chanyeol lah si lemah yang tak bisa bertahan tanpa tali kepercayaan itu. Bagaimana cara mengatakannya pada Baekhyun?

"Sedetikpun, bahkan hanya sesaat aku tak pernah berniat untuk menyakitimu. Sedetikpun, tak ada orang lain dihatiku selain kau. Meski hanya sedetik Baekhyun," Chanyeol berharap Baekhyun mengerti. Jangan membangun dinding apapun diantara kita, aku akan mati jika kau membiarkanku sendirian disisi yang berbeda darimu.

"Byun Baekhyun… Aku mencintaimu." Tolong tetap berdiri disisiku.

"Jangan menangis," Chanyeol tersentak saat menyadari tetesan air mata jatuh dari mata yeojanya.

"Maafkan aku," yeoja itu bergumam pelan.

"Jangan menangis Baekhyun, aku juga meminta maaf padamu," Chanyeol memohon, dadanya berubah sesak hanya dengan melihat Baekhyun menangis didepannya. Chanyeol menarik yeoja kecilnya kedalam rengkuhan kedua lengannya dan Baekhyun sesegukan disana.

"Sshhh…" Chanyeol mengusap kepalanya pelan.

"Baiklah, Drama selesai!" Ah! Wanita ini, Chanyeol menatap Minseok yang berdiri didepan pintu lift. "Ayolah, kalian harus keluar dari lift karena aku pegal terus menekan tombol ini agar lift tidak kembali turun kebawah membawa kalian dengan bodohnya!"

Chanyeol melihat Baekhyun mengusap air matanya dan menunduk malu dari Minseok yang memandangi mereka.

"Terimakasih Noona," Chanyeol memberi senyum tipis pada skretarisnya. "Dimana makan siang dan ice cream yang tadi Baekhyun bawa? Dan aku punya waktu berapa lama?"

"Aku sudah memakan bentonya satu dan sisanya kuletakkanya dimeja dan anda tak punya waktu sedetikpun tuan Park!"

"Noona, aku tahu kau yang terbaik," Chanyeol mencoba merayu dengan senyumannya.

"Kau punya tumpukan berkas! Bagian perencanaan menunggu persetujuanmu dan Joonmyun menunggu kau memeriksa laporannya sebelum dia berangkat ke Tokyo besok," mendapat delikan dari yeoja bulat didepannya, Chanyeol hanya mendesah pasrah.

"AH! Sial," Chanyeol menggerutu. "Baiklah, hanya menemaninya makan siang."

"Ya. Hanya makan siang! Jangan coba-coba membawanya masuk ke kamar!" Minseok memperingatkan dengan jarinya yang tajam dan menusuk perut Chanyeol.

"Apa? Kamar didalam, kuncinya masih di Yixing Noona," gumam Chanyeol, tak peduli.

Minseok tersenyum dan menarik kembali telunjuknya, dia membiarkan Chanyeol membawa Baekhyun masuk kedalam ruangannya.

Chanyeol mengamati yeoja itu menghabiskan makan siangnya dengan lahap. Dadanya mulai dipenuhi kebahagiaan dan rasa rindu mendesak-desak ingin segera meledak. Dia menunggu hari ini, dia sudah menunggu hari ini datang.

"Sudah selesai?" Chanyeol bertanya hati-hati. Chanyeol sangat menginginkan yeoja ini.

"Ehem." Yeoja itu mengangguk dan meletakkan gelas minum dari Chanyeol di meja.

"Mau ice cream?" tawarnya.

"Tidak, itu pisang."

"Ini enak," Chanyeol memaksa, mengulurkan sendok ice cream didepan mulutnya. "Ayo…" Chanyeol tahu yeoja itu tak akan menolak. Baekhyun tak pernah menolak Chanyeol.

Saat ice cream itu berpindah dari sendok ke mulut Baekhyun, pertahanan Chanyeol meledak. Ice cream kesukaannya dan bibir kesukaannya… Chanyeol bergerak cepat, menyapukan lidahnya disana. Dua paduan sempurna untuk mengobati kerinduan yang membuat dadanya kering dan sakit.

Chanyeol tersenyum tipis melihat reaksi terkejut yeoja didepannya.

"Coba lagi?" dia menawarkan.

"Tidak," dan Baekhyun menolak cepat.

Chanyeol tak menyerah, dia menginginkan dua paduan itu lagi dan dia akan mendapatkannya lagi. Namja itu menyuapkan ice cream kesukaannya kedalam mulutnya sendiri sebelum kembali meraih bibir kesukaannya lagi dan menggabungkan keduanya dalam pagutan cepat. Saat bibir itu terbuka, Chanyeol dengan cepat mengulurkan lidahnya, mencari rasa manis itu lebih dalam.

"Yeol…" Chanyeol merasakan dorongan lemah di dadanya. "Ini lengket."

Chanyeol melepaskan bibir Baekhyun sesaat demi meletakkan sendok ice cream ditangannya, setelahnya dia kembali membawa bibir itu dalam pagutan liar yang sama. Menyesap dan mencari rasa manis yang tak pernah habis dari bibir Baekhyun yang mulai memerah.

Setiap kecupan terasa indah, terasa menyegarkan rasa haus Chanyeol pada sosok mungil dalam genggamannya. Dan Chanyeol berpikir dia akan mulai mengabaikan segalanya dan menyerah pada hasratnya saat Baekhyun mulai mengerang dan membalas gerakannya.

"TEETTT! TEETTT! Okeh, TIME OUT!"

Suara seorang yeoja mengembalikan Chanyeol pada dirinya yang masih berpijak dibumi. Minseok menatap mereka dengan jengah, Chanyeol hanya bisa memberikan tatapan berterimakasih yang tipis karena yeoja itu menariknya kembali disaat yang tepat.

Saat Chanyeol memulai untuk menyentuh Baekhyun, akan menjadi hal yang sulit untuk dihentikan.

"Kalau kalian tidak berhenti, kupikir kalian benar-benar membutuhkan sebuah kamar! Dan kau punya ini Tuan Park! Jadi simpan kembali hasratmu setidaknya untuk nanti malam." Chanyeol memandang bosan pada tumpukan kertas yang baru saja Minseok letakan diatas mejanya.

"Kamar apa sih? Kalian mengatakan sesuatu tentang kamar sejak tadi."

Chanyeol menatap Baekhyun yang matanya berkilau penasaran, dan dia menjawab dengan menunjuk sebuah pintu. "Sebuah kamar, kau tahu? Joonmyun sering mendapat tugas keluar dan begitu pulang dia akan segera kesini dan menumpahkan hasratnya di atas Noonaku di dalam sana."

Baekhyun mengernyit. Entah pikiran apa yang muncul dibalik mata cantiknya.

"Aku tidak tertarik dan Baekhyun, ini tidak seperti dirumah. Bisakah kau—"

"Ya, aku bisa." Chanyeol tersenyum, yeoja ini memang paling memahaminya dalam bentuk apapun. "Bereskan semua pekerjaanmu, aku menunggu disini untuk makan malam bersama. Okeh?"

Sebuah kecupan manis penuh rasa sayang dan terima kasih Chanyeol berikan dikening Baekhyun. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat sebelum kembali mencumbui Baekhyun dengan lebih panas.

Oh. Chanyeol hanya seorang pria biasa dimana otaknya akan memunculkan banyak hal-hal panas untuk dilakukan saat Baekhyun berada didepannya. Hanya saja, rasa cintanya membuat dia berpikir lebih baik mengenai hal-hal yang pantas Baekhyun dapatkan.

"Chanyeol, apa kau punya beberapa buah strawberry?"

"Coba tanya Minseok noona, dia punya kulkas besar di pantrinya," jawab Chanyeol dengan mengalihkan pandangannya sesaat pada yeoja itu.

Baekhyun mengangguk dan selanjutnya dia melihat Baekhyun berjalan keluar.

"Yixing Unnie?" perhatian Chanyeol kembali ditarik oleh suara Baekhyun.

"Baekhyun? Sedang Ap- AH… aku mengerti kenapa Minseok bilang Chanyeol membutuhkan kunci kamarnya."

"Kupikir kau sudah tak punya urusan disini, Noona?" Chanyeol berdiri, menatap Yixing dengan waspada. "Baekhyun, keluarlah. Kurasa Noonaku punya urusan yang sangat penting denganku hingga membuatnya meninggalkan rumah sakit yang sangat dicintainya." Lanjutnya dengan sarkasme.

Saat Baekhyun keluar dari ruangan itu, Chanyeol kembali duduk meski tatapannya tidak berpindah sedikitpun dari Yixing.

"Aku mau kau memberi tiga hari ekstra untuk Joonmyun di Tokyo besok. Kami akan berangkat bersama dan kami butuh waktu untuk diri kami sendiri," Yixing berkata tanpa memandang Chanyeol, dia memperhatikan cup ice cream dan sisa makan siang Baekhyun dimeja.

"Dapatkan apapun yang kau inginkan, kau memang butuh liburan agar pikiranmu menjauh dari hal-hal buruk tentang Baekhyun."

"Hal-hal buruk tentang Baekhyun? Hal buruk apa yang pernah kulakukan padanya?" pandangan Yixing kali ini jatuh di mata Chanyeol, pandangan yang menantang.

"Noona, kau benar. Kau tak pernah melakukan hal buruk apapun pada Baekhyun, hanya saja kau masih terlalu egois untuk mengakui bahwa kau juga menyayanginya."

"Aku tak pernah berlaku buruk bukan berarti aku juga menyayanginya!"

"Noona, kalau kau mau menurunkan sedikit egomu, kau akan tahu bahwa Baekhyun juga menyayangimu."

"Aku hanya tidak cukup peduli untuk itu."

"Terserah padamu."

"Ini kuncimu, sepertinya kau membutuhkannya segera."

Chanyeol melihat sebuah kunci yang Yixing letakkan diatas mejanya. "Bawa kembali, aku tidak membutuhkannya."

"Jadi kau akan melakukannya di sofa? Itu cukup sempit." Yixing tersenyum mengejek.

"Noonaku Sayang, Baekhyun bukan barang yang bisa kupakai dimanapun dan kapanpun aku membutuhkannya. Aku hanya akan menumpahkan apa yang terdalam dari diriku ditempat yang cukup pantas untuk kami."

Yixing terdiam sesaat dan menatap dongsaengnya dengan pandangan kagum yang sangat tipis. "Terserah, aku juga tidak cukup peduli untuk itu. Hanya cukup pastikan dia tidak menangis nantinya."

"Dia tidak akan menangis, kupikir kau mulai paham apa yang sedang kulakukan didepanmu saat ini. Dan pastikan kau tidak mengangganggunya."

"Aku tidak pernah—"

"Kau menganggunya dengan pandangan penuh harga dirimu itu. Noona, kalau kau bisa melihat dengan benar, seharusnya kau tahu siapa diantara kami yang lebih bergantung dan lebih membutuhkan."

"Harga diriku adalah urusanku, kuharap kau tidak berusaha untuk mengaturnya."

Chanyeol mengedikkan bahu. "Hanya saran."

"Terimakasih, sampai jumpa."

Chanyeol melihat yeoja itu berlalu dari ruangannya dengan langkah yang sedikit menghentak. Tak lama, Baekhyun masuk dengan wajah penasarannya.

"Apa yang kalian bicarakan? Dia terlihat kesal," dia bertanya pada Chanyeol tapi matanya jelas tertuju pada meja yang dia tinggalkan bersama ice creamnya.

"Tidak ada. Kau mendapatkan strawberrymu?"

Yeoja itu menjawab dengan bersemangat dan senyum manis dibibirnya, Chanyeol senang melihatnya. Chanyeol suka melihat apapun yang ada dalam diri Baekhyun kecuali air matanya. Bahkan saat yeoja itu saling balas berteriak dengan skretarisnya, Chanyeol sama sekali tak terganggu.

Suara cekikikan dan gumam-gumam rendah mengisi seluruh ruang kerjanya yang biasa sepi. Dua yeoja disana pelakunya, bergosip sambil menghabiskan ice cream dengan buahnya.

Baekhyun adalah dunianya.

Chanyeol memperhatikan bagaimana yeoja itu duduk, berbaring, telentang dan miring, berguling dari atas kebawah dan merangkak dari bawah keatas sofa tempatnya menunggu dengan bosan. Chanyeol tahu, kebosanan banyak menyerang yeoja itu dan Chanyeol sangat berterimakasih pada bagaimana yeoja itu tak pernah mengeluhkannya. Sepanjang tujuh belas tahun kebersamaan mereka, Baekhyun tak pernah mengeluh bosan.

Hubungan diantara mereka, banyak orang yang salah mengira, mereka salah menilai. Mereka berpikir Chanyeol yang berdiri dibelakang Baekhyun adalah untuk melindunginya. Mereka salah menempatkan posisi keduanya. Bukan Baekhyun yang berlindung pada Chanyeol, Chanyeollah yang berlindung pada Baekhyun.

Banyak yang tak memahami bagaimana kehidupan Chanyeol tanpa Baekhyun. Kaku, penuh tekanan, tak ada harapan yang muncul dari hatinya, segalanya telah diatur dalam lembar-lembar jadwal dan kewajiban, kegelapan yang mengelilinginya membuatnya tak tahu arah. Tak mengerti apa yang di inginkannya. Tak paham pada hasrat ingin memiliki, tak tahu, asing. Semuanya telah ditentukan, tanpa ada celah untuk keluar.

Chanyeol muda yang tak paham apapun selain kewajiban, mulai merasa terusik saat mendengar sebuah tangis. Tangis pilu yang menggerakkan hatinya. Dia mulai peduli, dia mulai paham keinginan melindungi, hasrat untuk memiliki.

Byun Baekhyun… seperti lentera penuh cahaya dalam kehidupan Chanyeol yang gelap.

Tak seorangpun memahami bagaimana Chanyeol memuja cahaya yang datang dalam hidupnya. Satu-satunya cahaya. Cahaya yang begitu indah bagi seekor Ngengat kecil seperti Chanyeol. Seekor Ngengat yang ketakutan pada kegelapan disekelilingnya namun tak tahu bagaimana cara untuk keluar.

Kehidupan Ngengat kecil berubah terang saat lentera itu datang.

Dan tak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain berputar-putar diantara lenteranya, mengagumi keindahan cahayanya. Ingin terus memeluk dan melindunginya, menjaga agar tak ada mahluk lain yang datang dan menyentuhnya.

Si Ngengat kecil tak bisa kehilangan lenteranya, satu-satunya cahaya dalam kehidupannya.

Chanyeol menghela napas lega dan merenggangkan tubuhnya dengan nikmat saat lembar terakhir berhasil dia baca dan dia tanda tangani. Besok Minseok akan mengurus selebihnya, yeoja itu sudah pamit pulang setengah jam yang lalu dan ditinggal berdua dengan Baekhyun di sebuah lantai tanpa siapapun lagi benar-benar menjadi cobaan yang berat bagi Chanyeol.

Chanyeol harus segera membawa Baekhyun pulang sebelum hasratnya mengambil alih akal sehatnya. Chanyeol memastikan yeoja itu mendapat makan malam sesuai keinginannya, tempat manapun yang dipilihnya dan bersabar sedikit lagi untuk menekan keinginannya.

Tapi sial! Entah mengapa setiap gerakan kecil dari yeoja-nya seakan mengundang Chanyeol untuk segera menyerangnya. Sudah dikatakan, Chanyeol lelaki biasa, pikiran-pikiran erotis kadang berkelana menganggunya terutama saat Baekhyun berada persis didepannya.

Saat yeoja itu menghabiskan Ochanya, Chanyeol tak ingin berlama-lama lagi, dia segera menarik yeoja itu dan mengabaikan dengan sepenuh hati protes Baekhyun tentang diskon.

"Baekhyun berhenti bicara. Setiap gerakan bibirmu menggodaku!"

Chanyeol tersenyum tipis saat yeoja itu menutup bibirnya dengan cepat. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya penuh curiga.

"Membuatmu mendesah dibawahku secepatnya!" geram Chanyeol, sial! Dia benar-benar membutuhkan yeoja itu dibawah kekuasaannya.

"Yeol kau—"

"Aku sudah cukup bersabar dengan semua pekerjaanku dan makan malammu yang sialnya kau makan dengan sangat menikmatinya!" itu godaan yang berat untukku.

Sisa perjalanan menjadi cukup menghibur untuk Chanyeol setiap kali dia melihat Baekhyun yang semakin mengecil di kursi penumpang. Baekhyun seperti anak kecil lemah korban penculikan yang akan segera diperkosa. Chanyeol sangat bersyukur ketika akhirnya dia berhasil mengemudikan mobilnya sampai dirumahnya, wajah Baekhyun benar-benar menggodanya.

"Yeol…" yeoja itu mencicit saat Chanyeol membukakan pintu mobil untuknya, kali ini Chanyeol memberinya perhatian penuh. "Boleh aku kekamarku? Sendirian?"

"Tidak."

Ya tuhan! Habis sudah kesabaran Chanyeol! Wajah Baekhyun yang seperti perawan ketakutan membuat pertahanan Chanyeol lenyap. Dengan satu gerakan mudah, Chanyeol mengangkat yeoja itu dipundaknya.

Tak perlu khawatir Baekhyun, tak perlu ketakutan. Aku akan memberikan yang terbaik untuk kita, aku akan melakukannya dengan indah. Selembut mungkin, semanis mungkin. Dan maafkan aku, bila kali ini aku ingin mengikatmu lebih jauh.

Chanyeol tersenyum tipis mengingat dia telah membuang pil-pil sialan milik Baekhyun dinakasnya. Chanyeol membuangnya begitu saja saat hatinya begitu kalut melihat Baekhyun dan Yifan sedang bercumbu.

Biarkan dia egois. Dia hanya ingin memiliki Baekhyun tanpa berbagi sedikitpun cahayanya dengan orang lain.

Biarkan dia menjadi Ngengat jahat yang melakukan hal terlarang demi memiliki lenteranya seorang diri. Biarkan dia menyatukan benih-benih cinta mereka dan menghancurkan dinding apapun yang menghalanginya.

Menyatukan diri, menghancurkan semua batas.

"Aku mencintaimu, Park Chanyeol."

"Dan aku mencintaimu dengan jiwaku, Byun Baekhyun."

.TBC.

AAaaarrggh… kenapa aku merasa Part-nya Chanyeol justru lebih puitis? #KACAU! dan, semoga ga ada yang muntah karena kepanjangan. Hampir dua chapter aku gabungin. Karena ada yang Request Scene Chan nabrak Yifan dan ada Request Yixing Chaan berantem. Yang Request harus Riview! Mana ni anaknya? Muncul kau!

Dan aku mau nyapa temen2 lama yang ternyata masih inget aku, terimakasih kalian mau baca fic ChanBaek ini meski ini fic beda Couple (FanTao) bahkan beda Fandom (KyuMin) dari fic2 favorit kalian. Kecap eh, kecup mesrah ya... muuuuaaaccchhhh.

Terimakasih sekali lagi aku ucapkan untuk Riviwer baru dan Terima kasih banyak untuk Riviewer lama yang tetap setia :

BaekhyunOh, wardatul, Chanbaekhunlove, Ervyanaca, Guest, byunkkaebb, Asayakano, byun, AyuliLiffia, lee ana ki, daeri2124, bie, asoy, nanda, baekin236, beeee, yeollo, bebekJail, keenz, yeolloaddedbaek, chenma, neli, amelia, V0USTALGRAM, riribas, 4kimhyun, Ai, Aveirofitri, AeELF, devrina, ay, indivpcy, syasya zhang, Ekayoon, byunchaca, openg, BYUNVIE, dabbybaek, pcyjang, Guest, TKsit, luluk, chika love baby baekhyun, narashikaino, Byuncabai, sakura, Byunae18, Memel861, RahmaIndirawati, hcbshsn, seulbiseul40, Ryry, devvana614, anggitaoh94, hyunsi, dodyoleu, yyaswda, Baek04, Real ParkHana, parkyubi, Baekhyunee, Pcy. bbh, Guest, owzehvn, Anggilee, parkobyunxo, deboramichailin, Puji Hkhs, binichan, whey. K, sehunshit94, Guest, m2qs, Ls, Haruka el-Q, klm27, ssuhoshnet, HyunRa, Sebutsajamawar, chankybaek, byunbaekhill, bbyubee, cintapark, dila, yousee, intaaany, sebeyeolxo, ZEENICKY9, rly, guest, parkdina, Riskakai88, B506, Vallenninda, Park, indi1004, mpiet. lee, rizkaa, Tak Secantik Baekhyun, Guest, heymrn, guest, guest, byundeva, sehunnie94, Aerii, Sukmatheunyum, Roromato, Yarachan, 06byunbie, guest, Yunbaeki, Maaf bila ada nama yang terlewat, kamu boleh protes dan aku akan edit.

QUESTION AND ANSWER

Q : Jangan nikahin Baekhyun sama Yifan! Jangan bikin Baekhyun Hamil!

A : Hemmm... yang jelas baek bakal Nikah, dan Baekhyun bakal punya 4 anak. Jadi jelas baekhyun harus hamil, dapet anak dr mana kalo ga hamil? Wkwkwk.

Q : Nasib Kaisoo, gimana?

A : perhatiin deh, pas Chanyeol nyari Baekhyun, dia ga nemuin Kyungsoo juga, makanya dia nanyain Baek ke Maid yg ga dia kenal. Boleh balik ke chap 8, sebelum pergi sama Yifan Baek pulang kerumah sama Jongin. Jadiii... Kyungsoo ga ada karena lagi kencan sama Jongin.

Okeh! Ditunggu Tanggapan kalian tentang Chap Ini. Riview!