["Aku takut, saat terbangun nanti, aku menjadi seorang diri.."]

.

"Apa? Jangan katakan, selama ini, dia masih tinggal bersama kita!"

Kyuhyun meraung, menapakkan kasar kakinya, menapaki lantai yang dingin di kediaman megahnya, yang telah kembali menjadi miliknya bersama sang hyung kandungnya. Menapaki anak tangga, ditemani lontaran-lontaran kecil, namun terlihat resah dari mulut sang hyung.

"Kyuhyun tenanglah. Hyung bisa jelaskan.."

"Tidak bisa!" bantah Kyuhyun keras sambil terus melangkah dalam marah. "Aku harus mengusirnya!"

"Kyuhyun!" sentak Leeteuk akhirnya. Ia tak sabar, hingga menarik lengan Kyuhyun dengan kasar. Ditatapnya wajah sang adik yang lantas balik menatapnya, membuatnya luluh. "Jangan egois Kyu.."

Namun Kyuhyun tak mendengar. Ia terus menggerutu sambil akhirnya membuka sebuah pintu. "Ya, keluar kau! Kau tak berhak tinggal disini lagi, Donghae!"

Kyuhyun, berteriak pada seorang Donghae ternyata..

"Keluar! Hey! Kau mendengarku tidak, huh?"

"Kyuhyun.."

"Keluar dari rumahku atau? Hey! Kau tak mendengarku! Ya.."

Leeteuk memijit pelan pelipisnya, pening. "Kyuhyun hentikan itu.."

Memang terhenti, menyisakan Kyuhyun yang terkesiap, memandang ke arah Leeteuk. "Hyung, dia.."

[CHAPTER 11]

.

Tepatnya siang yang mendung itu, di sebuah rumah sakit di Busan..

Saat seorang Kibum, tengah mencari beberapa makanan untuk mengganjal perutnya, dan meninggalkan Donghae yang tengah terlelap, seorang diri di ruang rawatnya. Menyisakan Donghae seorang diri, yang nyatanya, hanya berlangsung beberapa menit saja. Karena tak lama setelah itu..

Terdengar langkah lain di ruangan itu. Langkah sepasang kaki yang terlihat pincang, dimana salah satunya, nampak mengerikan. Terbalut kain yang entah berwarna apa. Merah? Hitam? Begitu kira-kira. Itu adalah darah, yang bahkan masih mengucur, mengotori lantai. Langkah itu mendekat, mendekati Donghae yang terlelap.

"Donghae-ya.."

Tak ada sambutan dari Donghae tentu, yang tengah beristirahat nyaman dalam ketidaksadarannya. Tengah menghirup nyaman udara di balik alat pernafasannya. Ia raih jemari-jemari Donghae. Ia ciumi dengan lembut, diiringi tangis lembut, lantas menyimpan jemari itu di sisi wajahnya.

"Mengapa kau pergi, eoh?" ucapnya serak. "Kau tidak boleh membenci hyung seperti itu!" tuturnya.

Hening beberapa saat. Mungkin ia menunggu, Donghae akan membuka matanya, mengutarakan maaf, sebagai penyesalan. Sayang itu tak juga ia lihat. Ia terlihat kecewa, hingga dengan tak sabar ia berkata, "kau pasti akan suka, jika melihat apa yang akan kutunjukkan padamu, Hae. Kau menginginkannya sejak kecil.."

Perlahan, jemarinya terulur pada pergelangan tangan Donghae yang tengah berada dalam genggamannya. Jemari itu bergerak, hingga melepas infus di tangan Donghae. Ia lalu beranjak, membuka alat pernafasan Donghae sambil tersenyum, aneh.

"Ayo kita pulang.."

Kata terakhir, bersamaan dengan dia yang membawa tubuh Donghae, yang terkulai dalam gendongannya. Hey! Ayolah, Donghae bahkan tak sadar dibawa sedemikian rupa. Hanya mampu membebankan beratnya seutuhnya, pada dia yang membawanya.

...

Begitu penat Leeteuk menanti di tiap detik dan menitnya. Operasi di dalam sana, begitu banyak memakan waktu. Ia tak dapat memikirkan apapun. Ia butuh sesuatu yang dapat menghiburnya, sejenak menghilangkan kepenatan itu namun, bahkan Kibum belum kembali untuk menemaninya.

Ia gerakkan kadua kakinya, berjalan hingga mendapati sebuah toilet, lantas membasuh wajahnya disana. Ia basuh, lantas dapat menemukan wajahnya di cermin, menatapnya sendu, berfikir, 'betapa buruknya diriku sebagai hyung,' diiringi satu tetes air mata.

Apa ini penyesalan? Terlalu berlebihan jika ia berfikir seperti itu. Ada banyak hal yang ia lakukan, dari mulai membawa Siwon ke rumahnya. Memperlakukannya bagai teman. Juga Kibum yang ia tolong, hingga detik ini, bahkan setia berada di sampingnya.

Hingga hadirlah Donghae, yang ia sayangi sedemikian rupa. Ia sayangi dengan kenyataan yang menyaitinya sekaligus namun, sayang itu tak pernah ragu. Sedang Kyuhyun, adalah pihak yang seharusnya berada dalam posisi itu. Disini, disini ia merasa buruk. Bagaimana harus bertindak? Benarkah pilihannya selama ini salah, dan lantas menyakiti adik kecilnya sendiri?

Ia berfikir keras untuk hal tersebut..

Lama, lama ia merenung, hingga air yang menyentuh wajahnya, kering dengan sendirinya. Ia tersadar kembali, lantas mulai pergi, berniat kembali menunggui Kyuhyun, namun..

Jejak darah di lantai, membuat keningnya mengkerut. Ini, menarik perhatiannya, dan ia, lantas mengikuti jejak darah tersebut. Ia melangkah, mengendap, hingga langkah itu melemah, seiring dengan matanya yang mulai menyipit, menatap selidik, ke arah dimana darah itu berhenti.

Di ujung lorong sana, ia melihat seorang dengan luka di kakinya, jelas terlihat, nampak sedang menggendong seseorang yang mengenakan seragam pasien yang ia tahu, sama dengan yang dipakai Donghae.

Donghae..

Ya. Leeteuk tercekat, kala menyadari siapa itu. Ia segera mendekat, dan berteriak hingga menghentikan langkah dia yang di ujung sana. "Apa yang kau lakukan, Siwonie? Kau akan membawa Donghae kemana, Hn?" tanyanya hati-hati.

Siwon, Siwon yang nyatanya, adalah orang yang membopong Donghae, lantas sedikit melirikkan wajahnya, dan menatap dengan ujung matanya. "Bukan urusanmu!" bisiknya pelan.

Leeteuk semakin gusar. "Kumohon, kau menyakitinya! Berikan dia padaku, Siwonie! Kembalikan.." tuturnya resah. Hingga akhirnya Siwon berbalik utuh, menampakkan wajah Donghae yang tak berwarna di bahu Siwon. Terkulai disana, bagai tak bernyawa.

"Aku hyungnya! Aku lebih berhak!" ujar Siwon tajam.

Leeteuk menelan ludahnya. "Aku tahu itu. Kau, boleh membawanya setelah ia sembuh. Atau, setelah ia siuman," bujuk Leeteuk. Leeteuk yang semakin hawatir dengan gurat ekspresi yang penuh kejanggalan di wajah Siwon.

"Tidak!" tolak Siwon pasti. Kukuh dengan inginnya, bahkan memundurkan langkahnya kala Leeteuk mendekat.

Lorong itu terlalu sepi, tak banyak yang melewatinya, bahkan, mereka yang tak sengaja lewatpun, hanya menatap aneh pada keduanya.

"Jangan mendekat!" teriak Siwon pada akhirnya. Ia terlihat takut. Ia pererat pegangannya pada tubuh Donghae, membenahi Donghae dalam gendongannya. "Aku tak akan membiarkan kau membawanya. Dia.." ucap Siwon melembut, hingga kata "dia adikku," terlontar dengan lirih, bahkan membuat kedua mata Donghae, terbuka perlahan, setelah mendengar penuturan indah tersebut. Ia? Tersenyum lemah.

Leeteuk melihatnya. Ia melihat, bagaimana Donghae membuka matanya, berkedip pelan, dan juga, senyuman di wajah itu. Ia turut tersenyum haru. Ia tahu, betapa Donghae menginginkannya. Ingin mengetahui, benarkah ia memiliki saudara yang sebenarnya? Leeteuk mengerti.

Namun..

Sedetik kemudian, semilir angin menerpa, bersamaan dengan senyuman, dan tatapan yang Donghae berikan pada Leeteuk. Mengartikan bahwa, semua baik-baik saja, memberitahukan bahwa, ia tak perlu cemas, hingga bibirnya yang kering itu berbisik, "mari pulang, hyung.." dengan sangat pelan.

Saat itulah, Leeteuk kembali menitikan air matanya. Ia tahu, apa yang seharusnya terjadi. Ia sadar, terlebih, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ada Kibum yang menghubunginya di seberang sana, berujar panik.

"Kau dimana? Dokter bilang, Kyuhyun butuh darah! Mungkin kau bisa.."

Pip.

'Lagi-lagi pilihan,' batin Leeteuk dalam bingungnya. Namun ini tak seberapa, karena ia telah rela, mengetahui kenyataan, untuk segera melepas Donghae, mungkin.

Entah mengapa Siwonpun diam, kala Leeteuk mendekatinya. Melepas jaketnya, lantas melingkarkannya di punggung Donghae. "Baiklah jika itu inginmu," ungkap Leeteuk, mengelus helaian rambut Donghae. Ia raih jemari Donghae, yang tak berdaya itu, lalu menciuminya. Mencurahkan kasih yang tak nampak itu.

"Jaga dia untukku, Siwonie. Kau harus berjanji.." tutur Leeteuk lagi, sambil berusaha menahan tangis. Ia kecup kening Donghae, juga kedua pipi Donghae, sebelum akhirnya, "pergilah.." titahnya lembut.

Perlahan, keduanyapun mulai berbalik, berjalan dalam arah yang berlawanan. Mencoba menempuh hidup mereka yang sebenarnya, tanpa lagi kepalsuan.

Leeteuk yang akhirnya mepercepat langkahnya, dengan satu tangan yang menutup mulutnya, meredam tangisnya. Begitupun Siwon, yang melangkah ringan tanpa beban dengan wajahnya yang entah, terlihat kosong. Juga Donghae..

Donghae yang kembali, mengatupkan kedua matanya, mencoba meredam sakit dan lelah yang dirasanya. Ia menutup matanya, setelah sebelumnya, genangan air di kedua sudut matanya, tertumpah menyisakan rasa yang bercampur, antara kepedihan, kebahagiaan, dan juga kelegaan yang dirasanya..

...

Masa kritis terlewati.

Leeteuk, sudah dapat menjaga Kyuhyun dari dekat. Ia tersenyum, dan tak henti menggenggam tangan Kyuhyun. Ia begitu lega, meski, terdapat raut hampa di wajah itu. Sesekali, ia akan melamunkan sesuatu yang tak pernah tertuang dari bibirnya. Minimal pada Kibum? Ia tak bercerita apapun. Bibirnya masih bungkam.

Hingga akhirnya, Kibum datang dengan wajah bingung, setengah menyeretnya, keluar dari ruang rawat Kyuhyun. "Donghae hyung dimana? Ia tak ada di ruang rawatnya, kau tahu?" tanya Kibum, masih tenang.

"..."

Leeteuk tak menjawab, hanya mampu memalingkan wajahnya.

"Hyung!" sentak Kibum kemudian. Ia sangat mengetahui, Leeteuk menyembunyikan sesuatu. "Katakan kemana dia?"

"Kibumie, dia.."

...

Dimana Donghae?

Tersisa Siwon, yang tengah mengunci pintu kediamannya. Dikuncinya rapat, dan tak lupa, ia sisipkan beberapa sofa di depannya, seolah takut, kunci itu tak bertahan, bila suatu saat, ada yang mendobraknya, memaksanya untuk terbuka. Sedang Donghae?

Terduduk di atas sofa, meski tetap, matanya enggan terbuka. Sayang sekali, ia tak melihat tingkah gila sang hyung. Ia tak mampu menghentikannya. Ia hanya terdiam, terlelap.

Hingga semua selesai, Siwon tersenyum bangga, lantas menepukkan kedua telapak tangannya mencoba mengusir debu dari sana. Tak ia sadari, padahal telapak tangan itu kini telah penuh oleh darah yang mengering disana. Dengan semangat, ia berbalik ke arah dimana ia tidurkan Donghaenya. Namun wajahnya merenggut, murung. Ia hampiri, dan lalu duduk di disamping Donghae.

"Hae, kenapa masih tidur? Kau tak ingin bangun?"

Hening. Masih bisa ia menyebut Donghae tidur? Padahal tak ada dengkuran halus sedikitpun..

"Donghae! Bangunlah, hey!" ucap Siwon, mulai meraih Donghae namun, Donghae tak bergeming.

Siwon mulai resah, terlebih, ia sentuh kulit di kening Donghae. Terasa sangat panas ia rasa. Ia mulai menangkap keganjilan pada roman kesakitan di wajah Donghae. Mulai ditepuknya wajah Donghae perlahan. "Kau baik-baik saja? Kumohon, bangunlah.." titah Siwon, dengan air yang mulai menggenang di sudut matanya.

Tak ada balasan. Hanya nafas lemah Donghae yang Siwon rasa, semakin membuatnya tersentak. "Donghae!" teriaknya panik.

...

"Aku tak percaya kau melakukannya, hyung.."

Kibum tengah marah pada Leeteuk, setelah semua cerita terlontar dengan detailnya. Leeteuk yang diam saja, melihat wajah keruh Kibum, menekuk di hadapannya. "Kurasa, pilihanku tepat kali ini. Donghae bahagia bersama hyungnya yang sesungguhnya. Akupun, akan berusaha hidup bersama Kyuhyun, Menjaganya seutuhnya, Kibumie.."

Kibum palingkan wajahnya. Meski amarah begitu membuncah, kala ia tahu apa yang diperbuat Leeteuk, bahkan Leeteuk sempat mencegahnya menyusul Donghae. Kibum hanya mampu mendecak pelan, sambil mengusap wajahnya kasar. "Masalahnya, aku tak yakin dengan Siwon! Dia gila.."

Leeteuk tertawa hambar. "Jangan bicara seperti itu, Kibumie. Bagaimana jika Tuhan mendengarnya?" canda Leeteuk.

"Aku bukan sedang mengumpatinya, hyung! Tapi, kurasa dia benar-benar gila. Aku tak main-main. Kau tak lihat sorot matanya kemarin?"

"..."

Leeteuk diam. Mencoba berfikir, dengan merangkai apa yang dilihatnya pada diri Siwon, hingga ia terperanjat. "Kibumie," ucapnya seolah tersadar. "Kurasa kau benar?" ucap Leeteuk, hingga dirasanya, jemari Kyuhyun bergerak. "Kyu?" panggilnya, menatap haru, pada Kyuhyun yang mulai mengedipkan matanya, melupakan topik sebelumnya.

Kibumpun hadir di sisi yang lain, mengamati perkembangan kesadaran Kyuhyun, dibalik haru yang tersimpan. Ia, bernafas lega.

...

Saling genggam.

Kedua tangan itu saling menggenggam erat. Sudah lama sekali bahkan itu tak terjadi. Dan kini?

"Aku senang kau kembali.." satu kalimat Siwon berikan, untuk Donghae yang kini setengah terpejam, bersandar di bahunya. Donghae yang lalu mengangguk pelan. Lemah, dengan kesadaran seadanya, dan juga keringat dingin yang semakin dan semakin banyak mencuat dari tiap permukaan kulitnya.

"Hyung ingin menunjukkan sesuatu padamu, Hae.."

"Apa, hyung?"

Siwon tersenyum. Terlalu lama menunduk, membuat Donghae tak menyadari, apa yang nampak tepat di hadapan matanya. Siwonpun menunjukkannya. Diacungkannya jemarinya tepat ke depan. Menunjuk aquarium, yang memang sengaja ia buat untuk saudaranya tersebut. "Hyung pernah menjanjikan itu padamu, dulu.."

Donghae mengangkat wajahnya. Ia menangkap pemandangan laut kecil di dalam aquarium. Terdapat beberapa nemo yang berenang bebas kesana kemari, dan itu? Membuat Donghae tersenyum dengan kedua matanya yang kian berembun, menyisakkan sesak di dadanya.

Siwon, akhirnya mampu memenuhi janjinya.

"Kau ingat, Hae?"

"Hm.."

"Kau senang?"

Kembali menetes air mata itu, dalam anggukan lemah, namun pasti. Dengan parau Donghae berucap, "terima kasih hyung.."

"Aku menyayangimu, Hae.."

"Hn.."

Genggaman tangan keduanya, semakin gencar. Erat, di antara lengket yang kian terasa. Juga bau amis yang begitu pekat, menyadarkan Donghae, untuk merunduk, melihat apa yang terjadi. "Huh?" ia tertegun, di antara isakan yang semakin ia tahan, tertahan di tenggorokannya. Nyatanya, genggaman tangan yang terjalin itu, terlumuri darah yang entah darimana Donghae tak tahu. Darah yang membanjir, begitu merah memasuki pandangannya, membuatnya pening, lantas mencoba kembali menutup matanya.

'Mungkin aku bermimpi,' pikirnya dalam hati, lantas mencoba terlelap kembali, berharap saat terbangun nanti, semua tak seperti apa yang dilihatnya. Semua akan menjadi indah..

...

"Aku dimana, hyung?"

Kyuhyun bertanya lirih, di antara perih yang ia rasa di sekujur tubuhnya. Tubuh yang begitu kaku dengan mulut yang begitu kering. Ia mengamati sekelilingnya, mengacuhkan Leeteuk dan Kibum di sampingnya. "Ini dimana?" ulangnya.

Leeteuk tersenyum. "Ini di rumah sakit, Kyuhyunie. Aku senang kau baik-baik saja," sambut Leeteuk, mengutarakan kelegaannya. Ia usap sayang helaian rambut Kyuhyun dan semakin dekat mengamati wajah Kyuhyun yang pucat pasi itu.

"Mereka.."

"Sst!" Leeteuk membenahi letak selimut Kyuhyun, sambil memberikan perintah agar Kyuhyun diam dan tak lagi banyak bicara. "Jangan pikirkan apapun, Kyuhyunie, kau harus pulih.." ucap Leeteuk namun, ia terdiam setelahnya..

"Jangan banyak berfikir, Hae. Kau harus pulih.."

Bukan apa-apa. Leeteuk hanya berfikir, mengingat kata itu pernah ia ucapkan pada Donghae. Sejauh ini, Donghae begitu banyak menyita perhatiannya, padahal belum melewati waktu 24 jam ia dan Donghae berpisah.

"Hyung!"

Kibum mencoba menyadarkan Leeteuk kembali. Membuat Leeteuk mendongak dan mencoba tersenyum. "Ya?" jawabnya.

"Kau banyak melamun!" peringat Kibum, sambil memberikan sebuah arti, dari lirikannya pada Kyuhyun, yang kini merenggut di tempatnya.

"Ah maaf," sesal Leeteuk. "Kau butuh sesuatu Kyu?"

Kyuhyun menggeleng. "Ada banyak yang ingin kubicarakan tapi," ungkap Kyuhyun tertahan oleh ringisan sakit, di karenakan luka di dadanya yang belum mengering. "aku lelah, hyung.." keluhnya.

"Kalau begitu beristirahatlah. Tidurlah lagi," titah Leeteuk, namun Kyuhyun menggeleng. "Aku takut kau pergi meninggalkanku lagi," ucap Kyuhyun membuat Leeteuk terenyuh. "Tidak akan!" timpalnya yakin.

"Benarkah?"

Leeteuk, menggenggam jemari Kyuhyun setelahnya. "Hyung akan disini, sampai kau terbangun lagi nanti," ungkapnya, sambil memberikan senyuman hangat.

Kyuhyun menarik nafasnya dalam. Ia terlihat lega, dengan keberadaan Leeteuk di sampingnya. Maka, mata itu tertutup dengan indah, di susul dengkuran halus, buah dari tidur yang nyaman itu. Begitupun Leeteuk dan Kibum yang turut lega, memandang Kyuhyun yang damai dalam tidurnya, hingga Kibum kembali berkata, "perasaanku tidak enak, hyung!"

Leeteuk melirik Kibum, lantas mengusap dadanya sejenak. "Apa kau memikirkan Donghae?" bisiknya pada Kibum, seolah tak ingin Kyuhyun mendengarnya, dan Kibum? Mengangguk.

"Perasaanku benar-benar tak enak hyung. Dimana dia sekarang? Sedang apa? Yang kutakutkan adalah, Siwon yang berbuat gila!" dengus Kibum, terlihat putus asa. Ingin sebenarnya ia segera menyusul dan membawa Donghae kembali namun, berulang kali pula Leeteuk mencegahnya. Memuakkan, karena ia tak mampu untuk melawan. Hanya berkutat dengan rasa cemas yang begitu meraja.

Leeteuk tetap menggenggam tangan Kyuhyun, sambil menatap wajah saudaranya tersebut. Rasa bersalah terhadapnya teramat besar, hingga Leeteuk tetap bersabar. Bersabar, untuk tetap berada di samping Kyuhyun meski bayangan Donghae terus hinggap di benaknya.

Dan tak berapa lama, ponselnya berdering dengan layar yang menampakkan sebuah nama yang mampu membuat matanya membulat, lantas menatap Kibum sambil berbisik, "Siwon menghubungiku.."

...

Benar!

Nyatanya, Siwon tengah menghubungi Leeteuk. Dalam tangisnya, dalam getar suaranya, ia baru saja memantapkan dirinya menghubungi Leeteuk, lantas berucap "Hyung," memanggil nama Leeteuk seperti biasa, dalam nada seperti biasa namun disertai tangisan.

"Maafkan aku, hyung.."

Tak jelas, apa jawaban Leeteuk di ujung sana. Entah apa yang dikatakan Leeteuk, namun tak merubah Siwon yang terus menangis dan terisak di antara bibirnya yang kian memucat. Ia tak peduli, seolah ada banyak hal yang ingin ia utarakan. Ia menepis semua kata Leeteuk dan terus berucap tanpa jeda.

"Aku meminta maaf untuk segalanya. Aku bersalah! Aku menyakiti banyak pihak, termasuk Donghae. Adikku sendiri.." tuturnya, sambil melirik Donghae di sampingnya, yang nyatanya kembali menutup matanya dan tetap bersandar di pundaknya.

"Aku tak mampu, bahkan untuk kembali bersama kalian. Aku tak akan berani, hyung. Aku tak pantas," timpalnya, kembali berucap. "Jangan ajak aku untuk kembali, tapi," ungkapnya mengambil satu jeda, di antara nafas yang kian melemah. "Kuharap, masih ada tempat untuk Donghae. Untuk berada bersama kalian, bisakah?"

"..."

"Jaga Donghae untukku, kumohon, hyung. Aku, aku bany. ak berh. ber. harap padamu.." ucapnya terputus, di akhiri dengan ponsel yang tergeletak di lantai, berbaur dengan darah yang membanjir disana. Menyisakan teriakan di ujung sana, yang meneriakkan namanya.

"Siwon! Siwonie! hey!"

...

Leeteuk semakin terkurung dengan gurat cemas di wajahnya. Ia terlihat begitu takut, meski belum melepas genggamannya pada Kyuhyun.

"Biar aku saja yang kesana, hyung. Kau, tunggui Kyuhyun saja, ya?" tawar Kibum mencoba mengambil keputusan yang terbaik.

Namun bagi Leeteuk, kali ini berbeda. 'Persetan dengan pilihan itu!' batin Leeteuk. Ia menepis semuanya. Pilihan? Kyuhyun atau Donghae? Ia tak lagi berfikir. Keduanya, ia merasa mampu meraihnya. Hingga genggaman itu terlepas, dan ia, menatap Kibum. "Kita kesana secepatnya, dan kembali sebelum Kyuhyun terbangun, apa bisa?"

Kibum terdiam sejenak, "bisakah?" tanyanya.

"Ayo pergi sekarang!"

...

Sunyi menyapa, kala Leeteuk dan Kibum menapaki kediaman, dimana baku hantam senjata bahkan sempat terjadi di sana, di salah satu ruangan yang kini bahkan pintunya tertutup rapat. Hari sudah malam, namun kediaman itu, belum tersentuh cahaya lampu sedikitpun. Semuanya nampak gelap gulita dalam keheningan.

Leeteuk semakin gusar melihatnya. Ia menjadi sangat cemas, hingga mengajak Kibum untuk mendobrak pintunya.

"Kibumie, kita dobrak saja pintunya.."

"Hm.."

Keduanya akhirnya sibuk mendobrak pintu depan kediaman itu. Namun semua tak semudah yang dibayangkan. Itu sangatlah sulit, hingga keduanya putus asa namun tetap mencari jalan yang lain. Mereka menggitari sekeliling rumah itu dalam gelap, hingga ditemukan pintu belakang menuju rumah tersebut.

Tak ada cara lain, mereka mendobraknya dan kali ini lebih mudah, juga berbuah hasil. Pintu terbuka, hingga kegelapan di dalam sana menyambut mereka, juga tak lupa, dengan bau amis darah yang menyeruak begitu kuat, semakin menakuti mereka.

Namun dengan cemas yang semakin menyerang, mereka melawan rasa takut itu. Mereka mencari sakelar, hingga sebagian rumah mendapatkan cahayanya. Perlahan, mereka susuri, hingga tiba di ruang depan. Ruang yang bahkan, Leeteuk merasakan lengket, sesaat kakinya menginjak lantai disana.

"Apa ini!" decaknya. "Kibumie, sudah kau temukan? Cepat kau nyalakan.."

..

..

..

Trek.

Lampu menyala, dengan pemandangan mengerikan yang menyambut keduanya. Dari setumpuk kursi yang ternyata menghadang di depan pintu, penyebab keduanya sulit mendobrak pintu tersebut. Dan yang lebih mencengangkan adalah, genangan darah di lantai.

Leeteuk terkesiap, menahan nafasnya sambil menjambak rambutnya tanpa sadar. "Astaga!" umpatnya, menatap genangan darah, dimana Siwon dan Donghae berada. Terduduk berdampingan di atas lantai, dengan tubuh yang bersandar di salah satu sofa, menghadap pada sebuah aquarium. Tidakkah ikan-ikan disana menjadi saksi?

Kibumpun mematung menyaksikan itu semua. Ia tak mampu berkata..

"Ini tidak mungkin!" ucap Leeteuk, menahan tangisnya, lantas menghampiri dua sosok yang tak sadarkan diri itu. "Donghae-ya! Siwon-ah!" jeritnya lebih mendekat ke sisi Donghae, bersama Kibum di belakangnya. Ia menangis keras, mengiba pada nasib dua saudara yang kini berada dalam keadaan tragis.

"Ini tidak benar!" isak Leeteuk, bahkan sambil memisahkan genggaman tangan Siwon dan Donghae yang erat, di antara darah yang mulai mengering, lengket disana. "Donghae?" Leeteuk berujar panik, selepas genggaman itu terlepas. Ia menepuk pipi Donghae sambil mengamati sekujur tubuh Donghae, mencoba mencari tahu, darimana darah-darah itu berasal. Hingga..

"Dia menyayat nadinya!" simpul Kibum, setelah mengamati tangan Siwon dengan nadi tersayat disana.

Leeteuk menggigit bibirnya, lantas mendekap Donghae erat. "Ya Tuhan!" dia mengiba, sambil mengusap-usap Donghae. "Donghae," isaknya. Namun anak itu tak bergeming. Leeteuk menjadi tersadar, bahkan tubuhnya terasa dingin. Kecemasan semakin menjadi. Karena Leeteuk, tak dapat merasakan nafas Donghae. Samar! Ada, dan tidak ada..

Hingga detik berikutnya menjelang, disambut penuturan Kibum. "Hyung, dia meninggal!"

"Huh?"

...

"Bagaimana, Hae? Bagaimana aku mengatakannya padamu nanti? Aku," Leeteuk menahan tiap bulir yang kembali akan menetes dari kedua matanya. "Aku tak sanggup mengatakannya!" isaknya pada akhirnya sambil menutup wajahnya.

Dengan satu keberanian, akhirnya ia kembali membuka wajahnya, menatap Donghae yang kini tengah kembali terbaring dengan wajah yang pias. Ia kembali di ambang hidup dan matinya setelah apa yang terjadi. Leeteuk sendiri tak tahu, bagaimana kejadian detailnya hingga mereka berdua tergolek di lantai, dengan Siwon yang menyayat nadinya. Apa Donghae tahu? Dan Leeteuk ragu.

Satu tepukan pada bahunya dan Leeteuk menoleh. Ia dapati Kibum yang akhirnya terduduk di kursi di sampingnya. "Bagaimana Kibumie? Kau sudah urus semua?" tanyanya.

Kibum mengangguk dalam wajah bingungnya. "Aku terlalu terkejut," ungkapnya.

"Akupun tak menyangka," timpal Leeteuk, lantas menarik nafas dalam sambil kembali menatap Donghae, lalu diam.

"Pemakamannya akan dilakukan esok hari, hyung. Bagaimana? Kau berencana menyampaikan ini pada Donghae hyung?" tanya Kibum.

Leeteuk mengusap kasar wajahnya. Wajahnya yang begitu mendung, berkabung. Bagaimanapun, Siwon adalah seseorang yang berharga pula baginya. "Aku belum tahu. Jika ia bangun, dan memang memungkinkan, aku akan beritahu dia, Kibumie. Dia harus tahu, cepat atau lambat.."

"Kyuhyun?"

"Oh!" Leeteuk tersadar. "Kuharap dia tak tahu tapi? Dia?"

Kibum tersenyum kaku. "Sepertinya dia marah padamu, hyung. Cepatlah temui dia.."

...

Pemakaman berlangsung di pagi harinya, mengantarkan kepergian seorang Siwon, hanya dengan beberapa orang saja. Diantar oleh tangisan Leeteuk yang begitu terluka, akan tragisnya kematian seseorang yang telah di anggap saudaranya itu. Namun dengan sangat menyesal. Yang Leeteuk sesali adalah, tak banyak yang tahu mengenai ini, termasuk Kyuhyun dan Donghae. Kyuhyun yang memang berencana akan dipindahkan ke rumah sakit di Seoul hari itu.

Sedang Donghae? Ia belum membuka matanya, bahkan di saat tubuh sang hyung, masuk ke dalam tanah sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Donghae, tak mampu melihatnya dan ini? Miris terdengar.

Waktu terus bergulir, detiknya kian berdatangan tanpa mampu dicegah..

Dengan banyak alasan, Leeteuk mengarang banyak hal untuk menenangkan Kyuhyun yang terlihat menekuk wajahnya, karena Leeteuk telah meninggalkannya terlalu lama. Ia berkata, "disini sulit mendapat makanan," dan juga alasan lainnya.

Sempat Kyuhyun bertanya, "dimana Kibum?" Karena jangan salah! Ia belum tahu perihal Donghae yang nyatanya, berada dalam satu rumah sakit yang sama, dan bahkan mengenakan pakaian yang sama dengannya.

"Kibum sedang ada urusan lain, Kyu. Mengapa kau menanyakannya, huh?"

"Aneh saja, ada kau tanpa dirinya.." cetus Kyuhyun, mengamati Leeteuk yang tengah mengemasi barangnya. Ia sendiri telah mendengar bahwa Leeteuk, akan membawanya ke rumah sakit di Seoul untuk melanjutkan perawatan atas dirinya tersebut.

"Dia ada urusan lain!" jawab Leeteuk tak memberi celah pada Kyuhyun, untuk bertanya lebih jauh.

Memang benar, Kibum memiliki urusan lain. Leeteuk tak berbohong, karena Kibum, tengah bersama Donghae yang masih belum tersadar.

"Kapan kau akan bangun, hyung? Dokter bilang, seharusnya kau sudah bangun sejak tadi, huh? Betah sekali kau tertidur.."

Suara Kibum, di sertai bunyi detik jarum jam, mengalun perlahan, menyapa pendengaran seorang Donghae, bahkan turut masuk ke dalam alam bawah sadarnya, mungkin.

"Aku takut, saat terbangun nanti aku menjadi sendiri, hyung.. aku hanya sedang bermimpi kan? Jikapun bukan, ajak aku bersamamu!"

Begitulah seorang Donghae berkata dalam tidurnya. Tak ada yang mampu mendengar. Siapapun! Menyisakan dirinya, yang masih tertidur, seolah hanya ingin hidup dalam mimpinya saja. Mungkin inilah alasan, mengapa mata itu enggan terbuka.

...

Leeteuk masih menatap gusar, pada jam yang melingkar di tangannya. "Satu jam lagi kita akan berangkat, Kibumie. Tapi kita tak bisa membawa Donghae jika ia belum siuman," ungkap Leeteuk. Tentu ia harus pergi ke Seoul bersama Kyuhyun. Namun untuk kali ini ia berkata kepada Kibum, untuk tak lagi memilih dan tetap, berusaha meraih keduanya. Sulit, namun, ia ingin selalu berusaha untuk menggapainya.

Dalam kalutnya, Leeteuk beranjak, mendekati Donghae, lantas mengusap sisi wajah Donghae dan juga berbisik pelan di telinganya.

"Donghae-ya, bangunlah. Hyung mohon.."

Hening.

Leeteuk mencoba bersabar, mengusap helaian rambut Donghae dengan sayang. "Kita akan ke Seoul, Hae. Kau tak inginkan, disini sendirian?" ancam Leeteuk dalam sebuah candaan yang nyatanya, membuatnya terkejut, akan hadirnya tetes air mata di dua ujung mata Donghae yang tertutup itu. Leeteuk menjadi tersenyum. Ia merasakan, harapannya belumlah sirna.

"Dengar!" tutur Leeteuk, tetap berbisik di telinga Donghae. "Hyung sangat tahu, kau mendengar hyung?" tanya Leeteuk, sambil mengusap tetes air mata itu. "Hyung tahu, kau terlalu takut sendirian?" ucapnya seolah memahami, apa yang menjadi ganjalan dalam hati Donghae.

Kibum di sisi yang lain, menatap Donghae terus, mencoba mengamati pergerakan Donghae meski itu tak ada sama sekali nampaknya.

"Ada aku, Hae.." ucap Leeteuk selanjutnya. Ia melirik Kibum, lantas kembali mengatakan, "ada Kibum," disertai usapan yang tak putus itu. "Juga, ada Kyuhyun! Hyung percaya, diapun teramat menyayangimu.."

Setelahnya, kembali memakan waktu, hingga berpuluh detik menjelang. Dan, baik itu Leeteuk ataupun Kibum, berwajah tegang, berharap banyak, hingga kedua wajah itu tersenyum. Mata Donghae mengerjap, di antara jemari yang turut bergerak. Perlahan namun pasti, mata itu terbuka perlahan, namun..

Leeteuk menatap aneh. Ia tepuk pipi Donghae perlahan. "Lihat kemari, Hae. Tatap mataku.."

Sunyi. Menyisakan Leeteuk dan Kibum yang saling memandang, lantas disusul sebuah hembusan nafas putus asa. "Donghae, kau jangan menakuti kami!"

Namun tetap Donghae tak bergeming. Mulutnya mengatup rapat, dalam tatapan kosongnya..

"Donghae.."

"Hyung.."

...

Begitu cepat. Dua minggu berlalu, dan hari itu, adalah hari pertama dimana Kyuhyun menapaki rumahnya. Rumah yang seharusnya menjadi rumahnya sejak awal.

Ia tersenyum mendapat sambutan dari Leeteuk yang menjemputnya. Leeteuk yang tak pernah lepas dari sisinya, sejak kejadian itu. Menjaganya tanpa waktu kosong yang terlewatkan. Ia puas, sangat puas telah mendapat hyungnya kembali meski..

Benarkah ia melupakan Donghae? Ia membenci Donghae? Dan tak akan memaafkannya?

Iapun tak tahu, dan bingung akan itu, membuat langkahnya hampa terasa. Bahkan disaat Leeteuk mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ia hanya mampu diam, dan bungkam mengenai perasaannya tersebut. Baiklah! Ia sudah akan mencapai bahagianya bersama keluarganya, bukan? Apalagi yang harus ia pikirkan?

"Kau tidur di kamarmu, kamar yang dulu.."

Kyuhyun melirik Leeteuk, menanti untaian kalimat dari mulut Leeteuk yang belum berakhir. Ia cerdik, dan mampu menebak. "Kamar yang dulu di tempati olehnya, kan?" ujarnya, membuat Leeteuk mengangguk kaku. Entah mengapa Kyuhyun merasa, Leeteuk menghindarkan nama Donghae jauh darinya. Enggan membahas itu bila di hadapannya. Padahal, "hyung, ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu!" ungkapnya lancar.

"Apa itu?"

Bahkan belum memasuki pintu kediaman itu, namun Kyuhyun sudah mampu berbicara banyak. Tentang, "kemana Donghae dan Siwon? Kemana mereka? Apa mereka sudah kau laporkan pada polisi? Atau sudahkah dihukum mati?"

"Kyuhyun!" sanggah Leeteuk tajam. "Aku tahu kau tak sekejam itu! Mengapa harus memaksakan diri, untuk membenci mereka, terlebih Donghae, hm? Hyung tahu, kau menyayanginya.."

Kyuhyun, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku hanya penasaran. Itu saja!" balasnya ketus.

"Biar kita bahas di dalam. Hyungpun ingin mengatakan sesuatu padamu.."

Kyuhyun menahan langkahnya, ketika Leeteuk menarik lengannya. Kyuhyun menatap Leeteuk. Cemas, atas apa yang ia tahu, tengah Leeteuk sembunyikan darinya. Itu benar! Ia dapat menangkapnya dengan jelas, dan Leeteuk, segera menarik nafasnya lelah. "Kita bicarakan di dalam, Kyu. Hyung janji.."

Kyuhyun akhirnya menurut, menyamai langkah Leeteuk, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menapaki lantai rumahnya. Sedikit lega ia rasakan, karena kini ia hadir tanpa beban disana. Ia sedikit tersenyum, hingga menatap pada seorang pelayan yang tengah membawa segelas susu hampir menapaki anak tangga, membuatnya mengerutkan keningnya. "Tunggu!" sanggahnya pada sang pelayan, mengabaikan Leeteuk yang awalnya, akan mendudukkan dirinya di sofa. Dihampirinya sang pelayan, sambil menatap aneh segelas susu pada nampan yang tengah dibawa sang pelayan.

"Untuk siapa ini?" tanyanya.

Sang pelayan nampak gusar, sambil berusaha menatap Leeteuk yang mendekat padanya. Ia seolah tengah meminta tolong pada Leeteuk. "Ini.."

"Jangan katakan ada orang lain disini, hyung!" potong Kyuhyun tak sabar. "Kibumkah?" tanyanya.

Leeteuk bungkam, hingga Kyuhyun tahu! "Jadi, dia masih tetap tinggal disini? Aku tak percaya!"

"Kyuhyunie, dengarkan dulu hyung!" sanggah Leeteuk, namun terlambat. Sang adik sudah menapaki tangga sambil menghentak-hentakkan kakinya dan terus menggerutu.

"Dimana dia!" raung Kyuhyun, mencoba membuka kamarnya, tak ada. Membuka kamar Leeteuk? Tak ada. Ada banyak ruangan tidur di lantai dua itu dan Kyuhyun, membukanya satu persatu, dengan nafas memburu. Hingga di suatu ruangan ia terdiam.

Ragu menyapa Kyuhyun sebenarnya. Semua nampak aneh, kala matanya melihat, sosok yang dicarinya disana. Ada. Namun, ruangan itu nampak ganjil. Hanya ada satu tempat tidur, tanpa barang apapun disana. Kosong. Ruangan redup yang bahkan tak memiliki jendela.

Kyuhyun mengabaikan rasa itu. Ia memandang marah pada sosok yang lantas, namanya ia teriaki. "Mengapa kau masih disini, Donghae!" sambil bergegas mendekati sosok Donghae, yang hanya tertidur telungkup. Matanya terbuka, namun nampak tak memiliki arti, hampa..

"Mengapa diam saja, huh? Kau tak mendengarku?"

Leeteuk mendesah. "Hentikan itu, Kyu!" sanggahnya namun, Kyuhyun tak mendengar.

"Tidak bisa!" bantah Kyuhyun berusaha beranjak, untuk melihat wajah Donghae. "Dia harus.." teriaknya, sambil mengacungkan jarinya tepat di wajah Donghae namun, kata-katanya seolah pergi. Ia bungkam, menatap keganjilan pada wajah Donghae. Dengan ragu, Kyuhyun tatap Leeteuk yang hendak menghampirinya, lantas terduduk di ranjang, di samping Donghae.

"Hyung, dia.."

Leeteuk nampak tengah mengusap helaian rambut Donghae. "Coba saja berteriak semampumu, Kyu. Dia.." Leeteuk mendongak menatap Kyuhyun yang masih berdiri. "Dia tak akan mendengar kita.."

"Huh?"

Suasana menjadi sepi seketika, selepas Leeteuk menjelaskan segalanya. Kyuhyun menjadi pendiam, lantas duduk di sisi ranjang lain, memunggungi Donghae dan Leeteuk hingga, hanya ia sendiri yang dapat merasakan raut pedih di wajahnya. Ia usap perlahan, genangan air di matanya.

"Aku tak mengurungnya Kyu. Hanya saja, berulang kali ia mencoba mengakhiri hidupnya. Kau tega? Kau ingin seperti itu, hm?" tanya Leeteuk, sambil berusaha tersenyum.

"Cukup!" ujar Kyuhyun kesal. Ia nampak mengusap kasar wajahnya, hingga berlalu, menapaki luar ruangan itu, dan bahkan pergi keluar entah kemana. Leeteuk tak mencegahnya. Ia tahu, Kyuhyun tak mungkin pergi lagi. Mungkin, ia butuh waktu untuk sendiri.

...

"Kyuhyunie, hyung dan Kibum akan ke Busan, mengambil sesuatu disana.."

Kyuhyun tetap diam. Ia tak banyak bicara sejak kejadian tadi pagi. Hanya deheman berat yang ia berikan, untuk menyetujui kepergian sang hyung.

"Jaga Donghae.."

Kyuhyun diam, tak lagi memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia simpan sendok di atas piringnya, lantas menatap Leeteuk sejenak, namun tetap, hanya anggukan kecil, lantas ia kembali berkutat dengan makanannya. Leeteuk mengulum senyumnya, memberi isyarat pada Kibum, bahwa semua akan baik-baik saja. Kyuhyun tak akan berbuat macam-macam.

Dan akhirnya, mereka benar-benar pergi. Meninggalkan Kyuhyun, yang kini terduduk di sisi ranjang Donghae, yang masih saja terbaring disana. Sempat ia lirikkan matanya pada Donghae. Ia menyapa Donghae, "lama tak bertemu, hyung.." mungkin amarahnya telah pergi, menguap oleh rasa yang begitu mengiba.

Donghae diam saja, akhirnya membuat Kyuhyun tak sabar, lantas turun untuk terduduk di lantai. Ia sejajarkan wajahnya, dengan wajah Donghae, lantas menarik kain di baju Donghae. "Hyung, kau tak mengenalku, huh?" tanyanya. Ia termenung, mendapati wajah Donghae yang tak berwarna, dengan lingkaran hitam di matanya, mata yang kian mencekung dengan pipi yang teramat tirus, kurus.

"Hyung.." sapa Kyuhyun lagi, dengan mata yang kian berembun. Kedua tangan yang ia tekuk di sisi ranjang itu, menjadi sandaran wajahnya, ketika tangis tertumpah. Ia terisak disana, di hadapan Donghae yang diam tak bergeming. "Hyung maafkan aku.." ujarnya tulus, meski teredam lengannya sendiri.

Lama ia menangis, membuat mata, hidung dan bagian wajah lainnya memerah. Ia mencoba, meraih tangan Donghae, untuk ia genggam namun, "kukumu panjang!" ketusnya kemudian.

Selang beberapa waktu..

Donghae, terduduk dengan kepala yang tersampir di pundak Kyuhyun. Sedang Kyuhyun, tengah asik memotongi kuku-kuku pada jemarinya, setelah sebelumnya, kuku di kakinya yang Kyuhyun benahi. Sedikit, meski tak dapat Kyuhyun menyadarinya, bola mata Donghae, bergerak pada jemari Kyuhyun yang tengah bersentuhan dengan kulit di jemarinya. Donghae nampak berangsur membaik. Terlebih..

Setelahnya, Kyuhyun pergi dan tak lama kembali, dengan sebuah gitar yang terlihat nampak lusuh. Kyuhyun tak merawatnya namun, itu tidaklah penting. Kyuhyun, menyimpan gitar itu di sisi tubuh Donghae. "Ini.." ujarnya. "Tapi aku tak akan mengembalikannya.."

Hening..

"Aku tahu, kau memberikannya untukku, kan?"

Tetap tak ada jawaban, hingga Kyuhyun tersenyum. "Aku ingin ini menjadi milik kita bersama. Mari, bermain lagi.." ungkap Kyuhyun akhirnya, menundukkan wajahnya, dan lantas kembali menangis di hadapan Donghae. Donghae yang perlahan, menggerakkan jemarinya, menyentuh gitar yang ia hafal. Ia mengenalnya, dan ini, untuk kedua kalinya Kyuhyun tak melihatnya. Tak menyadari pergerakan hidup dari bola mata Donghae, yang menatapnya dengan sendu meski bibirnya yang kering, tetap tak berucap.

...

Tak terasa, malam menjelang. Tepat saat Leeteuk dan Kibum hadir, disambut Kyuhyun. Kyuhyun yang tak mengerti dengan apa yang dilakukan dua orang itu. Kyuhyun yang hanya mampu mengerutkan kedua keningnya, dan bertanya, "untuk apa aquarium itu, hyung?"

Leeteuk dan Kibum, sibuk memasang, lantas membersihkan aquarium tersebut. Membenahi dalamnya, hingga mereka berikan lagi kehidupan disana, berupa ikan-ikan kecil yang lalu berenang bebas disana. "Donghae akan menyukainya.."

"Huh?"

Awalnya Kyuhyun tak mengerti. Hingga akhirnya, Donghae, dibawa turun untuk melihatnya. Dan semua terjawab sudah. Seperti apa yang diharapkan Leeteuk dan Kibum. Wajah Donghae, kembali memberikan sebuah warna. Matanya membulat menatap aquarium yang ia kenal. Ia hafal. Matanya mulai berembun. Ia lirik Kyuhyun, lalu Leeteuk, dan juga Kibum bergantian. Mencoba bertanya namun, seolah tiba-tiba ingat, ia menjadi terkesiap sambil menahan nafasnya. Ditatapnya kedua tangannya yang pucat, bersih tanpa noda.

Donghae berfikir keras. Kemana darah-darah yang terakhir ia lihat itu? Darah yang begitu banyak, ia mampu mengingatnya. Darah yang turut membuat jemarinya lengket, berbau amis yang pekat. Itu, darah siapa!

Tetesan air mulai mengalir deras dari matanya, membuat Leeteuk panik, mendekat lantas mengusap punggung Donghae sambil memanggil namanya, "Donghae," dengan lembut.

"Hyung.."

Leeteuk terkejut dalam sebuah rasa haru yang menyentuh jiwanya, kala mendengar kembali suara Donghae. Ia mencoba untuk tersenyum namun, kalimat Donghae selanjutnya?

"Sepertinya aku memang bermimpi!"

Donghae tersenyum, merasakan tangannya bersih tanpa noda darah yang ia pikir, ada sebelumnya. Ia menjadi bingung dan kembali bertanya, "lalu dimana Siwon hyung?" seolah mematahkan harapan Leeteuk.

Semua orang tahu, Donghae adalah sosok yang paling mengetahui, apa yang terjadi malam itu. Malam dimana Siwon mengakhiri hidupnya. Hanya Donghae yang melihatnya bukan? Dan kini, Donghae berusaha menepis kenyataan itu, membuat siapapun menatap miris ke arahnya.

"Dimana dia?"

"Hyung.." Kibum mencoba mendekat, namun Leeteuk datang terlebih dahulu. Memeluk Donghae, yang pada akhirnya, meronta, menjerit disana. Meraung, serta menangis keras. Terlebih, saat Leeteuk terpaksa berujar, "itu semua benar!"

Malam itu, mereka habiskan dengan isakan dan tangis yang kian tertumpah namun, satu kelegaan mereka dapatkan. Semua, baik-baik saja..

...

Satu bungkukkan kecil, Donghae berikan sebagai penghormatan terakhirnya, di hadapan Siwon, yang kini terbaring di dalam sana, mungkin. Ia tak mungkin untuk tak menangis bukan? Dan Leeteuk membiarkannya. Ia hanya berusaha menguatkan Donghae, dengan mengusap punggungnya.

"Maaf," ucap Donghae tertahan isakannya. "Maaf, aku tak sempat mengantarmu, hyung.." ungkapnya penuh penyesalan. Ia cium nisan bertuliskan nama hyungnya tersebut, dengan tetesan air matanya yang tak sengaja jatuh disana. "Aku menyayangimu, hyung.."

"..."

Langit memancarkan cahayanya, cerah. Menemani Donghae, yang entah mengapa, merasa hatinya menghangat. Terlebih, ada langkah Leeteuk, di belakangnya dan selalu menemaninya. Ada Kyuhyun dan Kibum di kedua sisinya, yang dengan erat menggenggam tangannya. Mereka telah berjalan, beriringan dari tempat pembaringan terakhir seorang Siwon.

Semua sudah baik-baik saja namun, Donghae mengulum senyumnya dengan kening mengkerut. "Tidakkah kalian memperlakukanku sebagai seorang tahanan, huh?" tanyanya, terlihat mendengus. Bagaimana lagi, sungguh ia penat jika ingat mereka terlelu berlebihan. Kibum dan Kyuhyun yang seolah, tak ingin melepasnya, kali inipun. Tetap memenjarakan dirinya.

"Tidak!" bantah keduanya bersamaan.

"Lalu mengapa tanganku tak kalian lepas?!" rutuk Donghae. "Aku bisa berjalan sendiri, dan aku tak akan melakukan hal bodoh lagi! Hentikan itu!" bentaknya, namun disambut tawa dari belakangnya. Leeteuk, tengah turut mentertawakan tingkah konyol Kibum dan Kyuhyun.

Namun tak berhasil. Kyuhyun dan Kibum, semakin merapatkan genggamannya pada Donghae, seolah menggeret Donghae, membuat Donghae meronta. "Hey! Lepaskan!" teriaknya putus asa.

"Hati-hati!" peringat Leeteuk, tetap mengekori ketiganya dalam tawa keras.

Kali ini mungkin benar. Semua, sudah berubah menjadi lebih baik..

Semoga..

THE END

F.I.N

SELESAI


Saya katakan; alhamdulilah, untuk selesainya fict ini. Saya? LEGA DAN SENANG! xDD

Bagaimana? Maaf jika ini tak membuat kalian puas. Saya telah berusaha semaksimal mungkin, mengurangi typo, mengurangi keterlambatan, dan saya sangat yakin, ini? SANGAT CEPAT publishnya, bener pan? Hahaha. :) Juga, saya berusaha membuat ini happy ending, meski satu nyawa melayang. :(

Ada banyak hal yang ingin saya utarakan disini, berhubung ini ungkapan terakhir saya bersama fict ini, tapi? Saya tak memiliki banyak waktu. T.T sedikit sedih tapi? Saya bisa bernafas lega, karena hutang saya berkurang. ;)

Eoh! Donghae saya bayar murah di chapter ini, karena dia kebanyakan tidur! -_-" Hahahaha.

Ingin juga balas review kalian kemarin. Review yang, saya pikir, sangat membantu dan mendorong saya untuk lebih bersemangat. Maaf ya, saya tak mampu balas. Saya berikan salam hangat saya saja, untuk kalian semua..

Fitri MY - sparkyu amore - Blackyuline - ndah951231 - siskasparkyu0

thiefhanie. fhaa - Dew'yellow - Elfishy - Bryan Andrew Cho - tiaraputri16 - lyELF

kihae dp26 - choyeonrin - laila. r. mubarok - IrumaAckleschia - Guest

namihae - bella - cece - riekyumidwife - Ainun861015 - yjwkcksj - GaemGyu92

haelfishy - fikyu - Yulika19343382 - princelee86 - iloyalty1 - Anonymouss - Rinrin 910909

nnaglow - Evilkyu Vee - 92Line - Angelika Park - Safa Fishy - casanova indah - Zea Wonkyuna - vha chandra

arumfishy - teukiangle - YeonHae179 - Gyurievil - turtle407 - ekha sparkyu - Dinan Lee

...

Terakhir mungkin, tak akan habisnya saya ucapkan terima kasih pada kalian semua. Pada semua pembaca? Terutama yang selalu rajin review? Ihihihi,, yang nungguin ini dari awal hingga akhir? :')) Yang komen di FB? Termasuk siders? :D Terima kasih banyak saya ucapkan. Selamat bertemu, di fict lain, mungkin.

Bye~ :*