Gak perlu lama-lama dan sudah selesai. Aku harap ini bisa menjawab seluruh pertanyaan yang masih berputar dikepala kalian.
So happy reading and tell me your comment about this story
Epilogue
Berhari-hari Luhan terlihat seperti orang linglung, ia tidak hanya sekedar linglung tapi ketakutan, kekhawatiran dan rasa penasaran melandanya. Ia tidak memperdulikan perasaan cemas dan khawatir dari semua sahabatnya, yang diperdulikannya adalah apa yang dikatakan oleh sunbae-nya. Kyuhyun.
Malam ini Luhan meminjam mobil Suho dan segera pergi ke dorm Super Junior. Ia sudah tak bisa menahan semua perasaannya tanpa bisa hidup dengan tenang. Ditambah lagi, gambaran-gambaran aneh serta warna-warna yang menguar dari orang lain membuatnya pusing.
"Luhan?" sapa Eunhyuk ketika membukakan pintu. "Ada apa? Ini sudah malam, terlebih lagi dorm-mu dengan dorm kami sangatlah jauh."
"Sunbae bolehkah aku masuk?" tanya Luhan dengan ragu.
"Oh, maaf." Balasnya dan membukakan pintu lebih lebar untuk Luhan.
Eunhyuk mengajak Luhan untuk masuk ke ruang keluarga dimana beberapa member sedang menikmati waktu istirahatnya dengan bermain game. Eunhyuk dan Ryeowook segera membersihkan sofa dari bungkus makanan dan mempersilahkan Luhan untuk duduk.
"Ada apa kau kemari, Luhan-ah?" tanya Ryeowook santai sembari menyeruput mie ramennya.
"Aku ingin bertemu dengan Kyuhyun sunbae-nim."
"Dia belum pulang," sahut Shindong tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv. "Tapi sebentar lagi dia pulang. Mau main bersamaku?"
Luhan menggeleng pelan dan menunggu Kyuhyun dengan sabar. Ia sedikit merasa nyaman karena tempat ini dilingkupi aura menyenangkan dan hangat. Tidak jauh berbeda dengan dormnya. Penantiannya selama setengah jam akhirnya berakhir ketika Kyuhyun menerjang Eunhyuk dan bermain bola dengan Shindong.
"Kau titisan iblis. Aku sedang bermain, kau tahu?" Eunhyuk mengeluarkan amukannya.
"Aku tahu, tapi aku ingin bermain." Sahut Kyuhyun santai dan menoleh ke arah Luhan yang masih terdiam melihat betapa tidak sopannya Kyuhyun kepada hyungnya. "Ah ada Luhan. Ada apa?."
"Ada yang ingin kubicarakan dengan sunbae?"
"Baiklah, ikuti aku."
Kyuhyun melemparkan stick game itu kembali pada Eunhyuk yang berteriak marah dan tidak karuan. Ia menggiring Luhan memasuki kamarnya yang memiliki 2 sisi yang sangat kontras.
"Matamu pasti sakit melihat seluruh barang Sungmin hyung," ucap Kyuhyun sedikit meringis melihat Luhan terpaku dan berulang kali mengedipkan matanya. "Tenanglah, kau tidak akan buta melihat seluruh shocking pink di ruangan ini."
"Kurasa itu terlalu berlebihan dengan mengatakan kebutaan sunbae." Balas Luhan yang beralih pada Kyuhyun yang meletakkan barang-barangnya secara teratur. "Sunbae…"
"Ada apa, Luhan?"
"Ini tentang kau memanggilku dengan cenayang?"
Kyuhyun menelengkan kepalanya bingung. "Ada apa dengan itu? bukankah sebelum-sebelumnya aku juga pernah memanggilmu dengan sebutan itu?"
"Ahh," luhan menghela napas kecewa. "Kurasa aku salah mengartikannya, sunbae-nim. Kalau begitu aku sebaiknya pulang." Luhan membungkuk dan berbalik pergi.
Tepat ketika Luhan membuka pintu, tangan Kyuhyun kembali menutupnya dan memandangnya aneh. "Sepertinya kau punya masalah Luhan, ada apa? Kau bisa bercerita padaku, setidaknya itu mengurangi bebanmu."
Luhan berjalan pelan dan menghempaskan bokongnya di kasur pink yang tentunya dimiliki Sungmin sedangkan Kyuhyun duduk berhadapan dengan Luhan dikasur berwarna hijaunya. "Saat aku koma, aku bermimpi tentang kembali ke masa lalu dan berubah menjadi seorang cenayang. Aku berjuang untuk kembali kesini dengan menggunakan kekuasaanku. Saat aku terbangun, mimpi itu terlalu nyata untuk hanya sebagai mimpi." Ia mendesah kasar dan meraup wajahnya yang terlihat kacau.
Kyuhyun terkikik membuat Luhan menatapnya kesal. "sunbae-nim, jangan tertawakan aku! Kau tidak tahu seberapa kacaunya aku karena terbangun dengan mimpi itu."
"Maaf, maaf." Kyuhyun tersenyum tipis. "Apa kau bermimpi menjadi seorang cenayang?"
"Ya sunbae. Berhentilah memasang wajah mengejek itu." luhan membuang wajahnya selagi menguatarakan isi hatinya dengan sengit. Melupakan bahwa yang diajaknya bicara adalah seniornya.
"Dan aku adalah salah satu pangeran yang kau temui?" Luhan menoleh ke arah Kyuhyun dengan shock. Tapi wajah seniornya itu tak berubah, masih tetap tersenyum dengan kerlingan misterius dimatanya. "Aku tak pernah mati sejak kau hidupkan terakhir kali."
Luhan menutup mulutnya, matanya membulat sempurna. "Jadi, semua itu kenyataan? Dan kau abadi?"
Kyuhyun mengangguk mantap. "Aku berterimakasih kau memberikanku sesuatu anugrah tapi terkadang aku mengutuknya." Kini ia menatap Luhan sebal. "Lebih baik aku mati daripada harus melihat beberapa orang yang kusayangi tumbuh dan kemudian pergi. Hidup selama 500 tahun lebih itu bukanlah anugrah tapi kutukan Luhan."
"Ya tuhan! Maafkan aku sunbae-nim." Sesalnya, ia juga cukup terkejut dengan kenyataan ini.
Kyuhyun mengibaskan tangannya. "Tidak usah kau pikirkan, terkadang aku cukup mensyukuri tidak menjadi tua dan keriput." Ujarnya sembari bergidik ngeri memikirkannya. "Kau sudah tahu bukan? Kembalilah ke dorm-mu."
Luhan bangkit menuju pintu namun ia kembali lagi menghampiri Kyuhyun yang hampir membuka baju. "Bagaimana dengan Tao, Kris dan Lay setelah aku pergi?"
"Oh, tunggu sebentar. Biarkan aku mengingatnya." Kyuhyun memegang kepalanya sembari mengeryit, terlihat seperti kesakitan dan Luhan tidak cukup sabar untuk menunggu. Untung saja, Kyuhyun segera mengingatnya. "Oh temanmu yang pedagang itu menepati janjinya. Mereka tinggal bersama, yah cukup lama mengingat mereka hidup hingga menikah dan meninggal saling menyusul." Kyuhyun menepuk-nepuk bahu Luhan pelan. "Tenang saja, meskipun mereka tidak tinggal dengan pedagang itu bisa dipastikan kalau mereka juga akan hidup bahagia bersama cenayang Xi itu."
Luhan sedikit tersentak mengingat orang yang terlihat kasat mata itu. "Bagaimana dengan cenayang Xi sendiri?"
Kyuhyun duduk, mungkin lelah untuk berdiri lebih lama. "Tentu saja pulang ke Guan. Ia sedikit, kurasa tidak sedikit, ia berubah banyak. Tidak kejam ataupun haus kekuasaan, kurasa itu juga yang membuat kekuasaan kerajaan Guan sedikit merosot karena kehilangan figure pendorong. Raja Feng tanpa Cenayang Xi hanya seperti boneka porselain, tak berdaya." Kyuhyun menunggu Luhan yang akan melempar pertanyaan lagi padanya dengan sabar, terlihat dari wajah Luhan yang ragu dihadapannya.
"Bagaimana denganmu?"
Kyuhyun tersenyum lebar kali ini. "Cenayang Xi membawaku pulang ke istana dan membuat geger satu Negara." Ia tertawa keras ketika mengingat hal itu. "Dan kau tahu, kupikir aku akan perlu kekuatan besar untuk menggulingkan Kibum. Tapi ketika melihat wajah cenayang Xi…" kyuhyun hampir terguling dan menahan perutnya. "Kurasa ia punya trauma dengan cenayang itu."
"Dan sunbae tidak merasa ganjil bertemu dengan Kibum sunbae setelah 500 tahun ini?"
Pria dewasa itu terdiam dan mengedikan bahu acuh. "Entahlah, awalnya aku juga was-was. Siapa tahu dia sama menjengkelkannya seperti 500 tahun yang lalu tapi, dia cukup bersahabat." Ia tersenyum sumringah ketika suatu memori kembali terulas. "Kau tahu, aku hampir memanggil Leeteuk hyung dengan 'ayah'. Untung saja aku tak melakukannya."
Ia bangkit dan membuka jendela kamarnya, membiarkan angin malam memasuki ruangannya. Ia bersandar di kusen jendela dan menatap Luhan yang masih terlihat dilanda kebimbangan. "Sesuatu mengganggumu?"
Pria cantik itu mengangguk pelan. "Ada hal aneh yang kulihat belakangan ini, sebelumnya aku tak pernah melihat hal itu."
"Apa?"
"Aku melihat sebuah warna yang melekat pada orang-orang yang kulihat. Warna-warna itu menguar dan seperti menari, membuatku ingin menyentuhnya."
"Pernahkah kau menyentuhnya?"
Luhan mengangguk kaku. "Aku menyentuh milik Baekhyun sebelumnya. Awalnya aku hanya berdiri bersampingan menunggu mie kami jadi tapi, tiba-tiba warna itu muncul dan aku menyentuhnya." Ia menghela napas dan memijit pelipisnya dengan lelah.
"Apa yang terjadi?"
"Aku pingsan." Jawabnya singkat. "Tapi sebelum aku pingsan, aku merasakan perasaan yang bukan milikku dan melihat Baekhyun kecil."
Kyuhyun menatap Luhan prihatin. "Aku juga mendengarnya dari staff management. Setelah kau bangun dari koma, sikapmu terlihat aneh." Ungkapnya pelan, "Cenayang Xi pernah mengatakan sesuatu padaku." Luhan mengangkat wajahnya dan menatap seniornya intens. "Dia mengatakan tentang aku yang akan terus abadi hingga sesuatu yang ia tidak ketahui bisa membunuhku. Tapi ia mengatakan tentang kemampuanmu juga. Karena kau terlalu lama tinggal ditubuh seorang cenayang, rohmu sedikit demi sedikit menyerapnya."
"Lalu apa yang akan terjadi padaku?"
"Dia hanya mengatakan kau memiliki sedikit kemampuan sebagai seorang cenayang, terlebih lagi kau adalah reinkarnasinya." Kyuhyun memperhatikan ekspresi terkejut Luhan dengan maklum. "Mau tidak mau kau harus melatihnya karena jika tidak, kekuatan itu akan menekan rohmu."
Luhan meraup wajahnya dan tersenyum tipis pada Kyuhyun. "Terimakasih atas informasinya, Kyuhyun sunbae-nim. Sebaiknya aku pulang sekarang."
"Aku akan mengantarmu sampai lift saja kalau begitu." Sahut Kyuhyun yang mengambil mantelnya. Luhan keluar dari kamar dan segera berpamitan dengan seniornya yang lain. "Tenanglah. Pelan-pelan saja kau mempelajari kekuatanmu."
"Ya sunbae-nim. Aku juga tak mungkin langsung mengetahui cara mengendalikannya."
Kyuhyun terkikik dan menekan tombol untuk pintu lift. "Beritahu aku kalau kau sudah menguasainya."
"Baiklah, tapi ada apa?"
"Aku ingin kau melihat masa depanku," ia menahan senyumnya ketika melihat ekspresi terkejut dari Luhan. "Atau setidaknya memberitahuku cara untuk mati."
Luhan menundukkan kepalanya dan berjalan memasuki lift segera ketika pintu itu terbuka. Ia merasa menyesal harus menyeret Kyuhyun dalam kehidupan abadi yang tak dinginkannya. "Dan oh ya Luhan," mau tak mau Luhan mengangkat wajahnya. "Hati-hati pada Sehun ya. Bisa saja Kai dan Sehun kembali bersama seperti dimasa lalu."
Kyuhyun tak bisa menahan seringaiannya ketika melihat wajah Luhan semakin bertambah kacau. "Just kidding." Dan pintu lift menutup.
Luhan mendesah lega dan membawa wajahnya kedalam telapak tangannya. "Aku bisa gila!" teriaknya.
