Sweet Nightmare 11
.
Hal pertama yang Hermione Granger sadari pagi hari saat ia terbangun dari tidurnya adalah bahwa pinggangnya terasa sakit sekali. Ia mengerang sedikit, masih dengan mata terpejam, menolak untuk bangun dan masih ingin untuk bermalas-malasan. Hal berikutnya yang ia sadari bahwa bantal yang ia gunakan sebagai alas kepalanya saat ini bukanlah bantal yang biasanya ia gunakan. Siapa yang peduli? Ini terasa nyaman, dan...
Selanjutnya ia menyadari bahwa bantal itu bergerak.
Atau lebih tepatnya benda yang sebenarnya bukan bantal itu.
Dalam beberapa detik berikutnya ada berbagai macam hal yang Hermione sadari. Matanya terbuka dan rasa kantuknya hilang namun ia terlalu takut untuk bergerak dan beranjak dari posisinya saat itu. Ia memutuskan untuk menelusuri jejak ingatannya atas apa yang telah terjadi semalam, dan mengumpulkan fakta-fakta yang didapatnya pagi ini.
Pertama, bantal yang digunakan saat ini adalah sebuah lengan, seseorang berbaring di belakangnya, dengan sebelah tangan menjadi alas kepala Hermione dan sebelah tangan lagi melingkar di pinggang penyihir berambut cokelat itu, seolah mencegahnya untuk beranjak dari posisi itu.
Kedua, dari apa yang ia rasakan, kulit bertemu kulit, maka aman untuk mengatakan bahwa saat ini keduanya sama-sama tidak mengenakan sehelai benang pun, dengan kata lain, telanjang.
Ketiga...
Sangat sulit untuk memikirkan poin ketiga dalam posisi seperti ini. Ia harus melepaskan diri terlebih dahulu sebelum berpikir dengan tenang tentang langkah selanjutnya. Ya, pertama-tama ia harus menyingkir dari tempat tidur dan berpakaian, lalu setelah itu...
"Bisakah kau tidak banyak bergerak, aku masih mau tidur."
Hermione harus mengakui bahwa suara serak Draco Malfoy di pagi hari terdengar seksi namun saat ini tidak ada waktu untuk mengagumi suara penyihir pria berambut pirang keperakan itu. Setelah menggeliat beberapa saat akhirnya Hermione berhasil membebaskan diri dari pelukan Draco, yang entah mengapa sama keras kepalanya saat tidur seperti saat terbangun. Mendengus puas atas kemenangannya, Hermione menoleh melalui pundaknya untuk melihat apakah Draco benar-benar masih tertidur pulas.
Itu adalah keputusan yang salah.
Sangat salah.
Wajah Hermione memerah dan ia segera buru-buru memalingkan wajahnya dan beranjak dari tempat tidur berukuran king size itu. Dengan wajah merah padam ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan buru-buru mengenakannya sambil berdoa dalam hati bahwa Draco tidak akan terbangun sampai dia meninggalkan tempat ini
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk Hermione mengenakan pakaiannya. Tanpa berlama-lama ia segera meninggalkan kamar itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia tidak boleh menoleh ke belakang sebab ia tidak bisa mempercayai dirinya sendiri untuk tidak menyerang pria tampan yang tengah tertidur pulas dengan tubuh telanjang bulat itu. Tentu saja, ia tidak bisa menyalahkan dirinya untuk kurangnya pengendalian diri yang dimilikinya. Semua ini salah Draco Malfoy yang tampak begitu tampan, seksi, dan tanpa pertahanan sama sekali.
Tentu saja. Semua ini salah Draco Malfoy. Ya, penyebab dari semua kekacauan ini tidak lain tidak bukan adalah seorang penyihir laki-laki berambut pirang keperakan bernama Draco Malfoy.
Hermione bukanlah wanita yang akan tidur dengan sembarang pria. Selama ini ia cukup bangga dengan dirinya sendiri yang memiliki pengendalian diri, nyaris sempurna. Bertahun-tahun berkencan dengan Ronald Weasley membuatnya belajar untuk mengendalikan diri dan mengingat ia belum pernah sekali pun melontarkan kutukan tidak termaafkan pada Ron, bisa dibilang pengendalian dirinya nyaris sempurna.
Sampai Draco Malfoy datang dan merobohkannya hanya dengan satu ciuman.
Satu ciuman yang sangat seksi.
Wajah Hermione berubah semakin merah saat ia mengingat kembali ciuman semalam yang mengawali semuanya. Tentu saja... Sekarang ia mengerti mengapa begitu banyak penyihir wanita yang mengatakan bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk bisa berada di ranjang yang sama dengan seorang Draco Malfoy. Tadinya Hermione berpikir bahwa penyihir-penyihir bodoh itu terlalu berlebihan memuja Draco Malfoy, namun sekarang ia cukup mengerti perasaan itu. Tentu saja ia tidak memuja Draco seperti yang para penyihir wanita itu lakukan, hanya saja ia mengerti bahwa berada di ranjang Draco dan bercinta semalam suntuk dengannya memanglah sesuatu yang luar biasa.
Sial.
Hermione menampar dirinya sendiri dalam hati.
Ia harus belajar lebih banyak lagi mengendalikan diri.
.
Hal pertama yang Draco Malfoy sadari saat ia, akhirnya, benar-benar terbangun dari tidur pulasnya siang itu adalah bahwa kedua orang tuanya berdiri di sisi tempat tidurnya dengan wajah yang merupakan gabungan antara kesal dan tidak percaya. Narcissa melipat kedua tangan rampingnya di depan dada dan mengangkat dagunya. Matanya terpicing tajam saat ia memandang anak laki-laki satu-satunya itu, yang berbaring telanjang, hanya berbalut selembar kain sprei tipis yang menutupi bagian pinggang ke bawah. Draco mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum beralih memandang ayahnya, Lucius Malfoy, yang entah mengapa terlihat sedikit bangga. Draco menguap lebar dan menggeliat meregangkan otot-ototnya yang kaku. Tidurnya benar-benar nyenyak semalam.
"Ayah, Ibu?" Draco bangun dan duduk dengan malas-malasan, ia mengusap kelopak matanya dengan sebelah tangan, "kapan kalian kembali ke Inggris?"
Alih-alih menjawab pertanyaan anak kesayangannya itu Narcissa menggelengkan kepalanya, "aku tidak percaya!" Ia mendelik kesal ke arah Draco, "lagi-lagi kau membawa wanita ke Manor kita?! Apa kau sudah gila! Saat ini yang kita tidak boleh membiarkan skandal sekecil apapun tersebar, apa kau mengerti?! Aku tidak memintamu untuk berhenti mengencani sembarang wanita, hanya saja, pikirkan posisi kita! Saat ini semua orang berpikir bahwa kau dan gadis darah lumpur itu berkencan, kalau sampai prilakumu inu tersebar, ini akan menyakiti perasaan para pengagum darah lumpur itu dan kau tahu akibatnya?"
Draco tertawa kecil.
"Apa yang lucu?" tanya Lucius, yang meskipun tidak semarah istrinya namun ada nada tegas dalam perkataannya.
Penyihir berwajah tampan itu menggelengkan dan tersenyum geli, "jangan khawatir, tidur dengan kekasihku bukanlah sebuah skandal..."
Wajah Narcissa yang tadinya merah padam kini berubah pucat pasi, "kau memiliki kekasih selain Granger?!" tiba-tiba saja penyihir wanita cantik bertubuh kurus itu merasa pusing, "apa kau tahu apa artinya ini bagi keluarga kita?"
"Tidak ada kekasih lain, hanya Hermione Granger."
Ibunya menatap Draco dengan bingung, "Tapi katamu baru saja..."
Draco mengangkat kedua bahunya, "well, maksudku, wanita yang bercinta denganku semalam adalah Hermione Granger."
Kalau tadi wajah Narcisa sudah cukup pucat maka kali ini wajah penyihir berdarah murni itu kini berubah transparan. Ia bertukar pandang dengan suaminya dengan panik namun tidak bisa mengatakan apa-apa. Lucius pun tidak bisa menutupi keterkejutannya. Ia memicingkan mata menatap putra sematawayangnya yang kini tengah menguap lebar sambil mengacak-acak rambutnya.
"Jadi kau benar-benar berkencan dengan Hermione Granger? Ini bukan hanya akal-akalanmu saja?"
Draco menaikkan sebelah alisnya, "apa maksud ibu."
"Oh kau tahu apa maksudku," Narcissa mengibaskan sebalah tangannya, bibirnya tampak lebih tipis dari biasanya, ia menatap putranya itu dengan tatapan curiga. Ia tahu bahwa putranya itu sangat licik, seperti tipical seorang pewaris keluarga Malfoy, "kau selalu menolak semua rencana perjodohan yang kusiapkan untukmu. Kau pikir dengan berpura-pura mengencani seseorang akan membuatku menyerah mencarikan calon istri untukmu..."
Draco tertawa kecil dan menggelengkan kepala namun tidak berkata apa-apa. Ia tahu kedua orang tuanya masih mencurigai tentang hubungannya dengan Hermione tapi ia sangat mengenal ibunya. Ia tahu bahwa sebenarnya ibunya hanya ingin membuktikan bahwa kali ini ia benar-benar telah memiliki hubungan yang serius. Tentu saja ibunya benar. Draco masih belum mau terikat dan masih ingin menikmati kebebasannya namun Narcissa tidak akan berhenti menekannya untuk segera menemukan calon istri untuk dinikahi. Draco telah menggunakan hubungannya dengan Hermione sebagai alasan untuk menghentikan usaha perjodohan ibunya. Hermione adalah partner yang tepat untuk rencananya ini karena ia berbeda dari penyihir wanita lain yang dikenalnya. Penyihir-penyihir berdarah murni lainnya tidak akan puas dengan menjadi pasangan pura-puranya. Mereka akan menuntut lebih darinya, tapi Hermione Granger berbeda. Ia adalah wanita pertama yang meninggalkan kasurnya secara diam-diam di pagi hari setelah mereka bercinta. Sebenarnya itu cukup melukai harga dirinya sebagai seorang pria tapi itulah yang membuat Hermione berbeda dari yang lainnya.
Tanpa sadar Draco tertawa kecil membuat kedua orang tuanya memandangnya dengan bingung.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Lucius curiga.
Draco hanya berdeham kecil untuk menghentikan tawanya dan tersenyum pada kedua orang tuanya.
"Kalau kalian tidak keberatan, aku akan berpakaian sekarang dan bersiap-siap," kata Draco sambil kembali meregangkan ototnya, "ada yang harus kubicarakan dengan Granger... Dan oh, jangan khawatir tentang pestanya, semua akan berjalan sesuai rencana."
.
Hermione melampiaskan kekesalannya dengan membersihkan seluruh rumahnya. Ia mencoba menata ulang semuanya secara manual, tanpa bantuan sihir, untuk menjernihkan pikirannya. Ini adalah satu kebiasaan yang dimulainya semenjak ia mejauhkan diri dari dunia sihir dan kembali membaur dengan para muggle.
Hal pertama yang ia lakukan saat sampai di rumahnya adalah mandi dan membersihkan diri. Segera setelah berganti pakaian ia mulai menata ulang seisi rumahnya. Membuang barang-barang yang sekiranya sudah tidak diperlukan lagi. Menjelang waktu makan siang, ia nyaris tidak bisa mengenali apartemennya lagi. Ia bahkan memutuskan untuk menggunakan sedikit sihir untuk mengganti wallpapernya dengan warna yang lebih cerah.
Setelah memandang sekelilingnya dan merasa puas dengan hasil kerjanya, Hermione menghempaskan dirinya ke atas kursi sofa panjang miliknya. Menarik napas panjang dan menikmati aroma pengharum ruangan yang baru disemprotkannya. Ia merasa lebih baik. Tentu saja, semua akan baik-baik saja. Ia berada berkilo-kilometer jauhnya dari penyihir sialan yang sudah menjebaknya semalam.
Menjebaknya.
Tentu saja, semua ini adalah rencana Draco Malfoy. Entah apa yang diinginkan penyihir angkuh itu darinya tapi Hermione tahu bahwa satu-satunya alasan mengapa seorang Malfoy mau merendahkan diri untuk bercinta dengan darah lumpur sepertinya adalah karena ia menginginkan sesuatu darinya. Entah apa dan apa pun itu, Hermione tidak akan memberikannya.
Hermione mengerang sambil memejamkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang telah ia lakukan. Kalau Harry dan Ron sampai tahu... Tunggu, tentu saja ia tidak bisa menceritakannya pada Harry dan Ron. Lagipula keluarga Weasley mengira ia dan Draco Malfoy benar-benar berkencan... Hermione menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk mencegah dirinya melontarkan umpatan atas kebodohan yang telah dilakukannya.
Sekarang semuanya menjadi begitu rumit. Sebelumnya semua sudah cukup rumit dengan kesepakatan konyol yang mereka buat, kini hal yang seharusnya tidak perlu ini terjadi di luar kendalinya... Hermione merasa begitu bodoh. Sejak awal seharusnya ia tidak perlu bekerjasama dengan Malfoy. Persetan dengan ramuan bodoh itu, lagi pula belakangan ini ia sudah tidak pernah lagi mengalami mimpi buruk seperti dulu. Misalnya semalam...
Wajah Hermione memerah mengingat kembali kejadian semalam. Kini setelah mandi dan seratus persen sadar dari kantuknya, Hermione dapat mengingat dengan jelas setiap detil kejadian semalam. Malam tadi ia sama sekali tidak bermimpi buruk. Ia benci harus mengakui ini tapi merasakan lengan Draco memeluknya erat semalaman membuatnya merasa aman.
Selama ini ia cukup tahu bahwa tubuh Draco cukup berotot namun baru kali ini ia dapat menyentuh otot perutnya secara langsung dan...
Hermione memarahi dirinya sendiri karena memikirkan hal yang tidak senonoh di siang hari seperti ini. Terlebih lagi yang menjadi objek khayalannya adalah musuh bebuyutannya sejak sekolah dulu, Draco Malfoy. Penyihir darah murni yang licik dan akan melakukan apapun untuk membuat seluruh darah lumpur di dunia sihir menderita.
Meskipun ia sudah banyak berubah sekarang...
Seseorang mengetuk pintu apartemen Hermione.
Hermione mengerutkan dahi. Normalnya orang-orang yang berkunjung akan membunyikan bel alih-alih mengetuk pintu. Dalam sekejap saja Hermione tahu siapa orang yang berdiri di balik pintu kayu itu. Tentu saja. Ia pergi begitu saja tadi pagi, sekarang Draco Malfoy datang untuk membicarakan semuanya.
.
Harry Potter masih sibuk dengan semua pekerjaannya, kasus yang ditanganinya kali ini sedikit lebih rumit dari biasanya. Ia bahkan tidak punya waktu untuk beristirahat karena sekelompok penyihir Iran yang diam-diam masuk ke wilayah Inggris tanpa ijin. Kelompok penyihir yang memasuki Inggris dengan karpet terbang ini sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Harry benar-benar merasa lelah dan stress sehingga saat Ron mengeluh tentang Hermione dan Draco, Harry tidak bisa menanggapinya dengan serius.
"Dan lalu Malfoy mencium tangan Hermione! Kau bisa bayangkan? Ia menyentuhkan bibirnya ke tangan seorang darah lumpur!"
Hari mengerutkan dahinya, memandang wajah Ron di perapian, temannya itu tampak panik sekaligus marah, dan anehnya Harry menangkap sedikit nada cemburu.
"Kukira kita sudah setuju bahwa tidak akan pernah menyebut Hermione darah lumpur, Ron," Harry mengingatkan sahabatnya itu. Rambut hitamnya tampak jauh lebih berantakan dari biasanya, "lagi pula, bisakah kita melupakan masalah ini? Mungkin kau hanya merasa paranoid. Buktinya sampai sekarang Hermione masih baik-baik saja."
Harry sebenarnya merasa bosan dengan pembicaraan seperti ini, mereka terus menerus berputar di topik yang sama. Kalau saja saat itu Harry tidak sedang lelah mungkin ia akan mendengarkan semua keluhan sahabatnya yang pernah menjadi kakak iparnya itu tapi kali ini ia sedang merasa lelah dan Ron sudah waktunya diberi sedikit pelajaran.
"Bagini saja," Harry berkata dengan nada lelah, mata hijaunya berkilat terkena cahaya kebiruan dari perapiannya, "bagaimana kalau kau membatalkan pertunanganmu dengan Lavender dan meminta maaf pada Hermione atas semua kebodohanmu selama ini dan lamar dia. Berlutut di hadapannya, belikan ia cincin berlian dan seikat bunga, lalu mintalah dia untuk meninggalkan Malfoy dan memilihmu."
"Seperti yang kau lakukan pada Ginny dulu?" sindir Ron.
Harry memicingkan mata, "aku serius Ron, kau bersikap berlebihan. Mungkin kau sedang lelah dengan hubunganmu dan Lavender, tapi kenapa tidak biarkan Hermione menjalani hidupnya?"
Ron mangatupkan rapat-rapat hingga bibirnya menyerupai satu garis tipis. Untuk beberapa saat ia tampak seperti tengah memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia menghela napas dan mengatakan sesuatu.
"Akan ada pesta di Malfoy Manor..."
Harry mengangkat sebelah alisnya, mempersilahkan penyihir bertubuh jangkung itu untuk melanjutkan.
"Semua penyihir-penyihir penting diundang, tentu saja, itu artinya kau juga boleh datang."
Harry menggelengkan kepalanya, "aku sedang sangat sibuk, kau tahu belakangan ini..."
"Ada sesuatu yang aku ingin kau lakukan."
Harry terdiam.
Ia bertukar pandang dengan kepala Ron yang melayang di perapiannya.
Ia memiliki perasaan tidak enak tentang ini. Ia telah berteman lama dengan Ronald Weasley dan ia berani bersumpah bahwa ia rela mengorbankan apapun untuk menyelamatkan sahabatnya itu, dan begitu pula sebaiknya. Persahabatannya dengan Ron adalah salah satu hal yang paling berharga yang pernah ia miliki sampai saat ini, hanya saja kadang-kadang ia harus membayar mahal untuk mempertahankan persahabatan mereka itu.
.
"Apa yang kau inginkan dariku, Malfoy?" kata Hermione dingin dari balik pintu apartemennya yang hanya dibuka sedikit, hanya agar Ia bisa melihat penyihir pucat yang berdiri di depan pintunya, "aku sedang tidak ingin melihat wajahmu sekarang, pergilah."
Draco mengangkat sebelah alisnya, "wow, sambutan yang hangat sekali..." ia tersenyum miring saat melihat ekspresi kesal di wajah Hermione tidak berubah sedikit pun, "aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Kau meninggalkan rumahku tanpa berpamitan setelah apa yang kita lakukan semalam. Aku merasa kau seperti mempermainkanku... Setelah menikmati tubuhku kau pergi begitu saja..."
"Pelankan suaramu!" desis Hermione panik dengan wajah memerah. Ia menjulurkan wajahnya sedikit dari pintu dan memeriksa sekelilingnya untuk memastikan tidak ada tetangga usil yang tengah berdiri di sekitarnya. Ia tidak ingin menjadi buah bibir para tetangganya.
Melihat sikap panik Hermione, Malfoy memanfaatkannya dengan cerdik, ia sedikit mengeraskan suaranya dengan sengaja saat berkata, "Bukankah semalam kau yang mengajakku untuk bercinta denganmu, kau merayuku tapi lalu kau meninggalkanku di tempat tidur setelah kau puas..."
Hermione menarik Malfoy ke dalam rumah dan dengan cepat menutup kembali pintu itu. Draco tersenyum penuh kemenangan saat Hermione melepaskan cengkeraman tangannya dan berjalan kembali ke arah sofa tempatnya duduk tadi sementara Draco mengikuti dari belakangnya sambil memandang ke sekelilinginya dan bersiul.
"Ini tidak seperti terakhir kali aku ke sini..."
"Jangan banyak bicara," gerutu Hermione dengan alis berkerut, "katakan tujuanmu kemari."
Draco duduk di sofa yang sama dengan Hermione, membuat penyihir wanita itu beringsut minggir agar bisa menjauh dari penyihir darah murni yang kini tengah tersenyum menyebalkan itu.
"Jadi?" kata Hermione saat Draco tidak juga mengatakan apa-apa. Ia merasa tidak sabaran. Berada terlalu dekat dengan Draco Malfoy setelah apa yang terjadi semalam membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Hermione mencoba untuk melihat kemana pun asal tidak ke arah Draco. Meski pun tubuhnya menghadap ke arah Draco, namun mata Hermione tertumpu pada pangkuannya.
Hermione Jean Granger merasa salah tingkah di hadapan Draco Malfoy dan hal ini tidak luput dari pengamatan mantan ketua asrama Slytherin itu namun ia memilih untuk tidak mengomentarinya.
"Mengenai apa yang terjadi semalam," kali ini Draco terdengar serius. Nada bicaranya memaksa Hermione untuk menoleh ke arahnya, mata biru keperakan Draco seperti menghipnotis Hermione. "aku rasa kita perlu membicarakannya dengan serius."
Perut Hermione terasa bergolak. Ia tidak siap. Ia belum siap untuk membicarakan hal ini. Hermione adalah penyihir yang cerdas dan berpikir adalah salah satu keahliannya namun kali ini ia merasa panik karena tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Dengarkan aku," Hermione memuji dirinya sendiri dalam hati karena mampu terdengar tenang meski pun sebenarnya saat ini jantungnya tengah berdebar kencang saat mengatakannya, "aku tidak tahu apa yang terjadi semalam. Maksudku, pasti winenya terlalu kuat..." ia mengibaskan sebelah tangannya, "atau apapun itu..." Draco memandanginya tanpa mengatakan apapun. Hermione menghela napas, "Maksudku, kita berdua bukan remaja lagi. Hal semacam ini biasa terjadi kan?"
Mata Draco menyipit namun ia tidak mengatakan apa-apa seolah menunggu Hermione selesai bicara.
"Aku tahu kau juga ingin melupakan apa yang terjadi semalam, tentu saja aku juga demikian..." kali ini Hermione bersyukur karena Draco tidak mengatakan apa-apa, itu memudahkannya untuk berkonsentrasi dengan perkataannya, "kita anggap saja semua itu tidak pernah terjadi. Tadinya aku berniat untuk menggunakan mantra penghilang ingatan, atau ramuan, tapi..." Hermione menelan ludah, "kurasa sebaiknya, kita sepakat saja untuk melupakannya. Setuju?"
Untuk beberapa saat keduanya saling bertukar pandang. Draco masih belum mengatakan apa-apa tapi ekspres wajahnya saat itu menunjukan bahwa ia tengah serius berpikir saat itu. Hermione sedikit merasa was-was. Ia ingin Draco segera mengatakan sesuatu, apa saja, untuk memecahkan keheningan yang canggung ini.
"Baiklah," akhirnya Draco bicara juga. Nada bicaranya terdengar entah mengapa lebih dingin, begitu juga dengan senyumannya kali ini, "terserah kau kalau kau mau melupakannya."
Hermione tidak mengatakan apa-apa karena merasa bahwa Draco belum selesai bicara. Benar saja tidak lama kemudian Draco membuka mulut untuk melanjutkan perkataannya.
"Asal kau tahu saja," katanya, kali ini dengan nada yang lebih ringan, "aku tidak menyesalinya." Lalu ia menambahkan dengan seringai khasnya, "apa kau menyesal?"
Wajah Hermione memanas saat ia sadar bahwa Draco hanya tengah menggodanya. Dengan kesal ia bangkit dari sofanya dan berjalan ke arah dapur, "aku akan menyiapkan makan siang. Apa kau akan tetap di sini atau pergi?"
Suara perut Malfoy seperti menjawab pertanyaannya. Sambil memutar kedua bola matanya Hermione berjalan menuju kulkas untuk mengambil bahan-bahan untuk membuat makan siang. Untungnya ada cukup bahan untuk dua porsi makan siang.
.
.
.
Author's Note:
Banyak dapat pertanyaan, "bukannya Hermione udah pernah ke Malfoy manor?"... Sepertinya banyak yg lupa kalau ini ceritanya Alternate Reality, beda sama AU, kalau AR universe nya tetep tapi realitynya beda. Kalau misalnya stuck sama plotnya JK Rowling, Hermione ga mungkin putus sama Ron dan Ginny putus sama Harry... Karena memang ceritanya AR jadi banyak disana-sini fakta yg dirubah.
Aku nggak bisa janji kapan akan update lagi... Semoga saja tidak sampai setahun...
