THE SECRET

.

.

.

.

.

CHAPTER 11 Last chapter

.

.

.

.

.

Cast : Kim Jongin

Kim Sehun ( kan udah nikah makanya marganya ganti )

Kim Taeoh

Oh Kyungsoo ( Ganti marga buat keperluan peran kekeke )

Genre : Drama, Romance

Rate : T

HAPPY READING

.

.

.

.

.

.

.

Chapter sebelumnya

Sehun hampir menabrak mobil yang terparkir di sisi jalan saat mencari tombol penyeka kaca. Beberapa detik, Sehun mengira yang terparkir itu mobil Jongin dan jantungnya melompat, tapi saat ia mendekat Sehun melihat mobil gelap itu bukan milik Jongin.

Bagian atap mobil terangkat dan seorang pria berlari menghampiri mobil Sehun sambil melambai lambai di tengah hujan. Sesaat Sehun berpikir untuk terus menyetir, hari sudah gelap dan ia takut kalau harus menghentikan mobilnya. Tapi kondisi cuaca sangat buruk dan bagaimana kalau pria itu punya anak di dalam mobil? Kalau mobil Sehun sendiri mogok, ia jelas tidak ingin orang mengabaikannya dengan terus melaju.

Kalau saja Sehun mengambil tasnya sebelum pergi. Setidaknya ia dapat menghubungi polisi. Dan, tampaknya Sehun tidak mempunyai pilihan...

Sehun berhenti tepat di belakang mobil tersebut dan menemukan tombol jendela. Butiran air hujan langsung masuk melalui kaca jendela yang terbuka, menerpa keras ke wajah Sehun. Pria itu bergegas menghampiri Sehun.

" Anda ingin menumpang? " Tanya Sehun.

" Kau bisa memberikan yang lebih baik daripada itu, " Kata pria itu, menarik pintu hingga terbuka sebelum menodongkan sesuatu yang dingin dan keras di pipi Sehun.

" Kau bisa memberiku mobil ini. "

.

.

.

.

Chapter 11 Last Chapter

Jongin sama sekali tidak bisa tidur, gelisah, ia membolak balikkan tubuhnya di ranjang. Tepat pada jam tiga dini hari Jongin menerima telepon dari penjaga keamanan di bawah. Setelah menerima telepon tersebut, tiba tiba Jongin langsung bangun.

Dua polisi ingin menemuinya.

Jongin hanya sempat mengenakan jins dan sweter ketika bel pintu apartementnya berbunyi. Dengan segera Jongin berlari ke arah pintu untuk membukanya.

" Ada masalah apa? " Tanya Jongin sebelum polisi memasuki apartementnya.

" Tuan Kim, apakah anda pemilik terdaftar kendaraan Mercedes? " Si polisi menyebutkan nomor polisi yang segera Jongin kenali.

" Itu... Itu mobil istri saya. Saya membelikan mobil itu sebagai hadiah pernikahan. Apakah ada masalah? " Jongin benar benar khawatir sekarang.

" Bisakah anda mendeskripsikan istri anda, Tuan? "

" Ya. Tingginya sekitar 180cm, ramping, berambut cokelat. Ada apa ini sebenarnya? " Tanya Jongin lagi.

Kedua polisi itu bertukar pandang. " Anda mungkin ingin duduk. Mobil itu mengalami kecelakaan malam ini. Saya khawatir kami memiliki kabar buruk. "

Darah Jongin langsung membeku. " Kabar buruk seperti apa? "

" Mobil itu tergelincir di tikungan dan tercebur ke tanggul. Pengemudinya tidak mengenakan sabuk pengaman. Dia terlempar dari mobil. "

Jongin berpaling, dingin menusuk hingga sumsum tulangnya, ia berusaha menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekik kenangan masa lalu. " Tergelincir di tikungan, " " Tercebur ke tanggul. " . Apakah ia benar benar mendengar semua itu atau gambaran itu muncul dari kenangannya yang dulu?

" Pengendara mobil itu seorang pria. Apa anda mengenali ini? " Polisi itu meletakkan sesuatu di telapak tangan Jongin dan Jongin berusaha fokus saat mengamati pita satin tipis dan kunci – kunci yang sama seperti yang Jongin kalungkan di leher Sehun semalam. Jemari Jongin mengepal erat besi dingin itu.

" Istriku... Apakah dia terluka parah... Atau? " Jongin bertanya dengan gugup.

" Tuan Kim, " Panggil salah seorang polisi, suaranya berat penuh simpati. " Keadaannya lebih serius daripada itu. Pengemudinya tewas. Pada situasi seperti ini, kami khawatir pengemudi itu mungkin saja istri anda. Kami ingin anda ikut dengan kami dan membantu mengidentifikasikan jenazahnya. "

Sehun !

Mereka pikir itu Sehun. Tapi Jongin meninggalkan Sehun di rumah pedesaannya. Pria itu tidak mungkin Sehun. Jongin meninggalkan mobil itu di garasi. Seseorang pasti telah mencurinya. Tapi kenapa pencuri itu memiliki kuncinya? Pikir Jongin.

Hanya ada satu cara untuk mencari tahu.

Jongin menyuruh dua polisi tersebut untuk menunggu, kemudian berjalan menuju telepon. Sehun pasti ada di rumah pedesaan. Seseorang pasti telah mengambil kunci tersebut dan mencuri mobilnya. Pikir Jongin dengan kalut.

Jongin menelpon telepon rumah di pedesaan. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya sang pengurus rumah mengangkat teleponnya.

" Hallo, selamat malam? " Suara pengurus rumah terdengar profesional namun jelas setengah mengantuk.

" Ini Jongin. " Ucap Jongin. " Aku ingin tahu apakah istriku ada di rumah? Ini penting sekali. Dan tolong periksa garasi juga apakah mobilnya ada di sana? " Tambah Jongin setelah berpikir sesaat.

Jongin mendengar suara langkah kaki saat menunggu, menghindari tatapan iba para polisi saat mereka memandang ke segala arah.

Itu bukan Sehun. Tidak mungkin. Batin Jongin.

Beberapa saat kemudian, pengurus rumah datang lagi, suaranya yang resah membuat punggung Jongin gemetar. Pengurus rumah berkata tidak ada tanda tanda keberadaan Sehun. Sehun tidak tidur di kamar manapun. Dan mobilnya tidak ada di garasi.

Jongin memegangi telepon beberapa saat, hanya setengah menyadari suara prihatin di ujung sambungan. " Segera hubungi ponselku begitu kau mendengar kabar dari istriku, " Ucap Jongin sebelum menutup telepon.

Jongin memandangi kedua polisi, pikirannya hampa, perutnya dingin dan kosong. " Mari kita pergi. " Ajak Jongin.

.

.

.

.

.

Sehun pasti telah mengikutiku. Mengapa aku tidak memikirkan hal itu? Sehun telah mengikutiku dan sekarang meninggal. Anak mereka meninggal. Pikir Jongin. Duka meluap dalam diri Jongin bagaikan gelombang kuat air pasang.

Semua ini karena kesalahanku ! Teriak batin Jongin.

Sehun ingin bicara dan Jongin malah lari. Sehun ingin tinggal dan Jongin malah pergi. Sehun mengatakan ia mencintai Jongin dan Jongin malah berpailng dari Sehun.

Mengapa Sehun mengikutiku? Mengapa Sehun masih tetap bersikeras ingin aku mendengar penjelasannya jika dia sudah mendapatkan semua keinginannya? Apakah Sehun sangat membutuhkanku? Apakah Sehun sungguh sungguh mencintaiku? Pikiran pikiran itu berkecamuk di benak Jongin.

Sehun tertabrak, tercebul ke tanggul, tidak berhasil selamat. Jongin membebani Sehun dengan nasib yang sama seperti yang telah menimpa anggota keluarga Jongin lainnya. Semua ini terjadi karena Jongin tidak memiliki keberanian untuk menerima apa yang dikatakan Sehun dan menghadapi perasaannya sendiri.

Perasaan bahwa ia membutuhkan Sehun. Bahwa Sehun membuat Jongin merasa istimewa, kuat dan protektif.

Karena Jongin tidak bisa menerima bahwa ia mencintai Sehun.

Aku benar benar mencintai Sehun. Batin Jongin. Kesedihan mendalam bergejolak di dalam hati Jongin. Walaupun sekarang dia mengakui mencintai Sehun tapi sekarang semua sudah terlambat.

Jongin benar benar menyesal karena ia belum mengungkapkan perasaannya itu kepada Sehun, membuat duka yang dirasakan Jongin bertambah semakin parah.

Lamunan Jongin terhenti saat merasakan mobil yang di tumpanginya bersama dua polisi menepi di luar rumah sakit. Jongin memandangi bagian muka bangunan rumah sakit itu. Ia tidak ingin masuk ke gedung itu. Sekarang Jongin ingin menyangkal semuanya, walaupun ia tahu inilah kenyataannya. Ini akan menjadi salah satu hal tersulit yang pernah dilakukannya. Namun ada hal lain yang bahkan lebih sulit lagi.

Bagaimana aku memberitahukan masalah ini kepada Kyungsoo? Erang Jongin.

.

.

.

.

Dua polisi membimbing Jongin berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, bau antiseptik, pencahayaan lampu neon tampak menyilaukan dan dingin pada jam sepagi ini. Lalu mereka meminta Jongin menunggu di luar kamar mayat, memberi Jongin lebih banyak waktu lagi untuk berpikir bagaimana ia seharusnya bertindak, bagaimana ia seharusnya berkata betapa berartinya Sehun baginya, betapa salah tindakan Jongin selama ini.

Jongin sudah berlaku tidak adil pada Sehun. Jongin memperlakukan Sehun dengan buruk di tempat kerja, di Amerika, juga memaksa Sehun untuk menjalani pernikahan ini. Dan sekarang Jongin tidak mempunyai kesempatan untuk memberitahu Sehun betapa menyesalnya Jongin.

Panggilan polisi membangunkan Jongin dari lamunan. Mereka memanggil Jongin untuk masuk ke ruangan. Jongin berjalan perlahan ke satu sisi petugas polisi yang berada di ruangan itu.

" Tuan Kim? " Kening si perawat mengernyit simpati.

" Dia sedang hamil. Anak pertama kami. " Gumam Jongin.

" Apakah anda sudah siap, Tuan Kim? " Tanya si perawat.

Jongin mengangguk singkat. " Siap, " Gumam Jongin sambil menahan napas takut.

Perawat itu mengangkat kain penutupnya. Jantung Jongin berhenti dan kakinya goyah saat memperhatikan wajah pria yang terbaring di ranjang. Di balik goresan dan luka memarnya, wajah pria itu masih tampak tampan mengingat dia menderita kematian mendadak yang kejam, matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka. Dia tampak sangat tenang.

Tetapi pria itu tampak asing di mata Jongin.

' Ini bukan Sehun, istriku. " Jongin menghembuskan napas lemah yang membawa kelegaan. Ia menoleh kepada para polisi di belakangnya.

" Jadi dimana istriku? "

.

.

.

.

.

Sehun merasa sangat kedinginan. Dua menit di bawah hujan deras sudah cukup membuat tubuh Sehun basah kuyup. Sekarang Sehun memang sudah tidak kehujanan lagi, tapi di tempat itu dia tidak bisa menghangatkan tubuhnya. Sehun menemukan kain tua yang baunya begitu menyengat tapi setidaknya kain itu dapat menghangatkannya sedikit.

Sehun merasa kram, tidak nyaman dan tidak tahu sekarang jam berapa, hanya tahu hari masih gelap. Tubuhnya terasa sakit saat dibawa bergerak. Tapi yang lebih menyakitkan, tidak ada yang akan mencarinya selama beberapa jam kedepan. Jongin di apartementnya dan di rumah tidak akan ada yang mengetahui kepergiannya.

Setiap kali mendengar mobil mendekat, Sehun akan menggedor dan berteriak sampai suarannya serak. Tapi tidak ada yang mendengarnya dan mobil mobil itu terus melaju.

Sehun terperangkap disini, menggigil. Mereka harus menemukanku. Jongin harus segera menemukanku. Sebelum aku mati... sebelum bayi kami mati. Batin Sehun.

Sehun memeluk lembut perutnya, agak tenang saat mengetahui dorongan tidak nyaman yang dirasakannya di bawah sana lebih disebabkan tekanan pada kantong kemih, bukan karena kandungannya. Sehun berusaha mengayunkan tubuhnya di tengah ruangan yang padat dan pengap itu, bersuara lembut seolah menenangkan bayi kecilnya.

.

.

.

.

.

Polisi bilang mereka akan menelepon Jongin segera setelah menemukan Sehun, tapi jika mereka pikir ia dapat duduk dan menunggu saja sementara istrinya hilang, mereka salah.

Ketika Jongin memulai pencariannya sendiri, fajar sudah menyingsing. Sehun pasti berada di suatu tempat di antara rumahnya di pedesaan dan jalan raya.

Bagaimana pria yang meninggal tersebut berhasil mencuri mobil Sehun, terlalu menakutkan untuk Jongin pikirkan. Jongin hanya bergantung pada satu harapan bahwa Sehun masih hidup di suatu tempat, hidup dan menunggu ditemukan.

Jongin hampir melewati mobil itu, yang hanya menampakkan lingkaran sempurna lampu belakangnya, mobil tersebut tidak mencolok di tengah semak semak pinggir jalan. Seseorang berusaha menyembunyikannya, kalau tidak mengapa di parkir di tempat seperti itu?

Jantung Jongin berpacu cepat saat menepikan mobil, mencari tanda tanda keberadaan seseorang, tapi ia hanya dapat mendengar cicitan burung dan gagak yang bertengger tinggi di pepohonan. Hingga terdengar bunyi pukulan beberapa kali, agak teredam dan berulang ulang. Harapan Jongin langsung membuncah liar. Jongin mendengar tangisan, pelan dan lemah. Jongin segera berlari ke arah mobil itu.

Itu pasti Sehun. Batin Jongin.

" Sehun ! " Panggil Jongin, wajahnya menempel ke besi mobil. " Apakah itu kau? Dapatkah kau mendengarku? "

Jongin tidak yakin apakah yang merespon itu pekikan lega atau bahagia, tapi yang jelas suara itu suara terbaik dan terindah yang pernah di dengarnya.

Sehun masih hidup.

Jongin memeriksa bagasi tapi tidak ada tombol pembuka dari luar. Tanpa kunci, Jongin harus mendobraknya hingga terbuka. Jongin membuka pintu sisi kemudi dan bersyukur dalam hati ketika melihat tuas pembuka bagasi. Jongin menariknya dan mendengar suara klik memuaskan saat pengait besi terlepas.

Beberapa saat kemudian, Jongin menarik tutup bagasi dan menggendong Sehun keluar dari temapt kecil itu, memeluk sang istri dan merangkulnya erat.

Pakaian Sehun robek dan bernoda minyak, kain tua tersampir di bahunya. Sehun lebih tercium seperti mobil dan oli ketimbang aroma jeruk dan bayi seperti biasa dan air mata meninggalkan jejak di wajah Sehun yang sangat kotor, tapi Sehun belum pernah terlihat secantik ini bagi Jongin.

" Sehun. " Jongin memeluk erat sang istri, bibirnya mencium dahi Sehun saat Sehun terisak pelan.

" Kau menemukanku, " Kata Sehun, suaranya bergetar karena menangis.

" Aku takut akan kehilanganmu selamanya. Apakah kau baik baik saja? Apakah dia menyakitimu? " Tanya Jongin secara beruntun.

" Tubuhku kaku, sakit dan dingin. Tapi kurasa aku baik baik saja. Seorang pria mencuri mobilku, dia mempunyai senjata. Dia memaksaku masuk ke bagasi dan mengendarainya ke semak semak. " Jawab Sehun.

Jantung Jongin terasa berhenti. Pria itu mempunyai senjata. Napas Jongin berdesis melalui gigi terkatup.

Jongin menggendong Sehun menuju mobilnya dan duduk di dalam sambil memangku Sehun untuk berbagi kehangatan. Jongin menarik kain bau itu dari bahu Sehun dan menggantikannya dengan selimut yang ada di mobilnya. Sehun meringkuk lebih rapat lagi, menikmati kehangatan dari tubuh Jongin dan selimut. Jongin mengeluarkan handphone nya dan menelepon polisi, memberitahukan mereka bahwa dia sudah menemukan istrinya.

" Bagaimana kau bisa menemukanku? " Tanya Sehun ketika Jongin selesai menelpon.

" Polisi menemukan mobilmu. Tapi kau tidak ada didalamnya. " Jongin tidak bercerita tentang pengemudinya, ada beberapa hal yang dapat menunggu dan ada hal lain yang lebih penting dan tidak bisa menunggu.

" Aku sungguh minta maaf, Jongin. " Ucap Sehun, suaranya gemetar. " Aku tidak bermaksud membuatmu kerepotan begini. "

" Sssttt.. " Ujar Jongin. " Ini bukan kesalahanmu. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu seperti itu. Kau mengikuti, kan? "

" Aku harus bicara denganmu. Aku tidak dapat membiarkanmu pergi dengan rasa marah seperti itu, aku tidak ingin kau salah paham padaku. " Jawab Sehun.

Jongin merapikan rambut Sehun yang kusut dengan jemarinya. " Aku salah berpikir seperti itu. Aku yang salah. " Ucap Jongin.

" Tapi, Jongin _ " Sehun terisak, mengusap hidung dengan jemarinya, " _ di satu sisi, kau ada benarnya. "

" Tidak, Sayang. Kau tidak perlu menjelaskannya sekarang. " Potong Jongin.

" Tolonglah, aku harus melakukannya. Aku gila karena ingin punya anak, itu memang benar. Aku pernah bertanya mengenai program bayi tabung, tapi mereka tidak bisa mengabulkan keinginanku karena aku tidak menikah. Aku bahkan berpikir menyewa seseorang, untuk melakukan hubungan singkat satu malam. " Jelas Sehun. Jongin terpaku, tidak yakin ingin mendengar hal ini.

Sehun memandangi jongin. " Aku sempat memikirkan gagasan itu tapi aku tidak sanggup menjalaninya. Aku sudah melupakan harapan memiliki anak saat ada acara pesta topeng, hal itu bahkan tidak terpikir olehku saat itu. Malam itu terjadi hal seperti itu dikarenakan kau. Kau membuatku sangat nyaman, sangat luar biasa, membuat yang lain tidak lagi penting. Baru setelah kejadian itu aku menyadari tindakan kita. Aku sangat panik saat menyadari apa yang telah kita lakukan. " Lanjut Sehun.

" Kau sungguh sungguh berpikir aku akan memecatmu? " Tanya Jongin.

' Aku tidak tahu dan aku terlalu takut untuk mencari tahu. Tapi ketika aku hamil, aku tahu kau harus di beritahu. Aku sudah tidak bisa merahasiakannya lagi. Maafkan aku karena menunggu selama itu. Membuatmu jadi lebih sulit mempercayaiku. " Jawab Sehun.

Jongin menghela napas dan memeluk Sehun lebih erat. " Aku yang membuatnya sulit untuk mempercayaimu. Aku tidak ingin dekat dengan siapapun. Tapi aku tidak bisa mengeluarkanmu dari pikiranku. Tidak mempercayaimu adalah salah satu jalanku untuk menjauhimu. " Ucap Jongin.

" Tapi aku marah. " Kata Jongin, memasang telinga mendengar suara sirene yang mendekat.

" Marah pada diriku sendiri. Aku merasa menyesal telah menjauhkanmu. Setelah kupikir aku telah kehilanganmu, barulah aku sadar betapa berartinya kau bagiku. " Lanjut Jongin.

Sehun memandang Jongin, ekspresinya penuh dengan pengharapan. " Benarkah? "

Jongin menarik Sehun di pangkuannya dan mencium bibir istrinya itu.

" Oh, tentu itu benar. " Bibir Jongin menekan bibir Sehun dan memperdalam ciumannya. " Apa aku sudah bilang, bahwa aku mencintaimu? " kata Jongin sambil menarik bibirnya beberapa senti dari bibir Sehun.

" Kau belum pernah mengatakannya. " Kali ini Sehun menarik bibirnya menjauh, matanya mengerjap bahagia.

" Kalau begitu, sudah waktunya aku menyampaikannya. Aku mencintaimu, Sehun. Aku hampir kehilanganmu untuk menyadari hal itu, tapi aku bersungguh sungguh. Aku mencintaimu dan aku bangga, bahkan merasa terhormat karena sekarang kau bagian dari keluargaku dan kau akan menjadi keluargaku selamanya, itu juga kalau kau masih menginginkanku setelah perbuatanku padamu. " Ucap Jongin.

Mata Sehun berkaca kaca saat memandangi Jongin.

" Oh, Jongin. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak dapat membayangkan berada di tempat lain selain berada di sisimu. Kau menyelamatkan hidupku. " Ucap Sehun dengan rasa bahagia terasa membuncah di hatinya.

" Kita impas. Kau telah mengembalikan hidupku lagi. " Kata Jongin.

Sehun membuka mulut, seakan ingin mendebat masalah itu tapi Jongin mendiamkannya dengan menempatkan jari di mulut Sehun saat suara sirene mobil Polisi kian mendekat.

" Jangan mendebatku, sebentar lagi kita di kepung petugas medis, padahal ada hal penting lain yang harus segera kulakukan. " Sehun tersenyum di bawah jemari Jongin, mata Sehun bersinar saat Jongin mencium bibirnya dengan hangat dan lembut.

" Jauh lebih penting... "

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

EPILOG

Hari yang melelahkan ! Pikir Jongin.

Jongin keluar dari jalan bebas hambatan, mengendurkan dasi saat angin musim panas bertiup melalui atap mobilnya yang terbuka.

Sekarang setelah ia berkeluarga, Jongin akan mengusahakan setiap jam dua siang, ia akan pulang ke rumah. Berada di rumah lebih menyenangkan daripada di kantor menurut Jongin.

Hal tersebut menjadi kebiasaan Jongin belakangan ini, Xiumin dengan cepat menyadarinya. Dalam dua tahun terakhir ini Jongin merasa sangat bahagia. Jongin tidak pernah menyangka akan menemukan kepuasaan dari kehidupan di luar kantor, Jongin baru bertemu Sehun dua tahun yang lalu dan Sehun sudah mengubah segalanya dalam hidup Jongin.

Jongin melirik jam di dasbor saat memasuki pekarangan rumahnya. Bagus, aku masih sempat melihat si kecil Taeoh sebelum dia tidur siang. Pikir Jongin, tersenyum sambil memikirkan anak lelakinya yang suka makan tersebut.

Orang orang yang dicintai Jongin ternyata tengah duduk duduk di beranda, ditemani angin yang bertiup sejuk. Jongin tersenyum saat melihat balita kecilnya sedang duduk di ban pelampung yang mengapung di kolam kecil, taeoh memercikkan air dangkal dengan gembira.

Taeoh memekik senang begitu melihat Jongin muncul di sudut rumah, melambaikan tangan gempalnya tinggi tinggi sambil berseru " Da – da, da – da. " dengan suara bayinya yang manis. Taeoh melompat lompat di ban pelampungnya, senyum lebar terlihat di pipi tembamnya, memperlihatkan deretan giginya.

Jongin menggendong Taeoh, yang telanjang dan basah, kemudian Taeoh berteriak kegirangan saat Jongin dengan main main meniup perutnya

" Kau pulang cepat, " Kata Sehun, tertawa saat Jongin menunduk untuk menciumnya, Taeoh yang masih terkikik dalam gendongan Jongin, balas meniup niup Jongin.

" Bagaimana mungkin aku jauh jauh di saat ketiga orang yang ku cintai dan terpenting dalam hidupku tengah bersenang senang. " Ucap Jongin.

Jongin mengusap usap rambut anaknya saat Taeoh menguap lebar, kelopak mata Taeoh tiba tiba menutup. " Apakah sekarang waktu tidurmu, bayi kecil? " Tanya Jongin sambil mengecup pipi Taeoh.

" Aku akan membawanya. Sepertinya aku juga butuh istirahat siang. " Kata Kyungsoo. Terlihat ramping dan sehat dalam rok terusan musim panas yang sejuk.

Kyungsoo menyelimuti Taeoh dengan handuk tebal dan membiarkan Taeoh mencium kedua orang tuanya dan melambaikan selamat tinggal dengan letih sebelum masuk ke rumah. Jongin memperhatikan Kyungsoo pergi sebelum menarik Sehun dan berjalan bersama ke susuran beranda.

" Benar benar menakjubkan, perubahan pada kesehatan ibumu. Dulu dia sama sekali tidak cukup kuat untuk menggendong seorang anak. " Kata Jongin.

" Emm, kau benar Jongin. " Ucap Sehun. " Para dokter juga sangat terkejut. Aku tahu ibu belum sepenuhnya sembuh, tapi mereka bilang ibu memiliki harapan untuk sembuh. Mereka bilang ini terjadi karena perubahan dalam sikapnya, ibu membiarkan obat bekerja dalam tubuhnya kata mereka. "

" Dan apa yang kau katakan? " Tanya Jongin.

Sehun berpaling dari pemandangan di depan untuk menghadap Jongin. " Kukatakan bahwa ini adalah keajaiban dan keajaiban itu banyak berhubungan denganmu, Jongin dan apa yang telah kau lakukan terhadap keluargaku. " Ucap Sehun sambil tersenyum manis pada Jongin.

" Kau sekarang adalah keluarga yang sangat penting untukku. Aku akan melakukan apa saja untukmu. Selalu dan selamanya. Aku sangat bersyukur bisa memilikimu dalam kehidupanku. Aku mencintaimu, Sehun. " Kata Jongin dengan lembut sambil mengangkat dagu Sehun.

Jongin mencium bibir Sehun bahkan saat Sehun berkata, " Aku juga mencintaimu. " Sehun sadar Jongin menarik napas sejenak sebelum memperdalam ciumannya. Ketika akhirnya Jongin menarik bibirnya, Jongin tersenyum dan mengulurkan tangan menyentuh perut Sehun yang membuncit.

" Dan bagaimana dengan keajaiban kita yang lain? Bagaimana perkembangan putraku? " Tanya Jongin tersenyum bangga.

Sehun tertawa. " Kau sangat yakin dia laki laki. Yah, mungkin kau benar, mengingat cara bayi ini menendang. Bayi kita ini lebih aktif dibandingkan saat aku mengandung Taeoh. Kurasa dia berlatih menjadi seorang Pemimpin seperti Ayahnya di dalam perutku. Dia pasti akan seperti Ayahnya. "

Jongin memeluk Sehun lebih erat lagi, mendekap istrinya lebih erat ke tubuhnya. " Kuharap kau tidak mempermainkanku, " Jongin mengingatkan.

" Padahal dulu kukira kau tikus kecil pemalu. Kau tahu aku akan memaksamu membayar pembangkangan apapun. " Ancam Jongin, menggoda Sehun.

" Dan hukuman apa yang ada dalam pikiranmu? " Tanya Sehun sambil membelai lengan Jongin.

Mata Jongin berseri seri selagi memandangi Sehun, cinta di antara mereka memercik penuh hasrat.

" Aku akan memberimu hukuman siksaan yang pelan dan nikmat, " Jawab Jongin sambil menarik Sehun menuju rumah, bibirnya melengkung membentuk senyum licik. " Aku akan membuatmu memekik minta dibebaskan. "

Dan Jongin benar benar melakukannya.

.

.

.

.

.

.

Beneran END.

Yeaaaayyyyyyyyyy, Alhamdulillah FF nya END dengan absurdnya kekekekee

Makasih banyak buat yang udah review, favorite and follow FF ini. Sumpah aku gak nyangka banyak yang suka. Bagi Silent readers, aku mohon di chapter akhir ini tolonglahh di review jgn cuma nebeng baca doank yeee...

Dan maafin aku yang udah bikin kalian kesel ama sikap Jjongtem di FF ini. Jjongtem kyk gitu cuma bwt keperluan peran aza kok.

Sekali lagi terima kasih buanyaaakkkkkkkkkk... Moga kalian baca FF ku yang laen dan gak bakalan bosan ama FF aku yaa.

Muaaaacccchhhhhh...