SWEET LIES

^ByunYuna^

Pairing:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Other cast:

Xi Luhan

Oh Sehun

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Kim Jongdae

Wu Yifan

Kim Minseok

Cast akan bertambah dan berkurang dengan sendirinya

^Warning^

Genre cerita Boys Love, Yaoi,

Mohon yang tidak suka, jangan dibaca

Dont Like Dont Read

Siapkan kantong kresek, takutnya pada muntah wkwk. Percayalah ini cuma cerita klasik dengan banyak adegan sinetron yang memuakkan. Terima kasih.

chalienBee04: Peluk Jongin hehe

Aisyah1 dan Yaya: thanks. Udah di next yah

6104chanbaek: jimin durhaka waduh kiamat dunia wkwk

Happy Enjoy Reading!

. . .

Jimin menghela napas untuk yang kesekian kali, tangannya bergerak memijit daerah kepalanya yang sedikit pusing. Lelaki itu menatap kosong Tv di depannya. Ini sudah ketiga harinya dia seperti orang kurang akal, duduk termenung setiap kembali ke rumah, padahal selagi di kantor, dia baik-baik saja, tapi entah kenapa setiap memasuki rumahnya, seketika perasaannya berubah dalam sedetik.

Dia paham betul apa yang terjadi pada dirinya, bahkan Sunny seringkali menasehatinya dan berkata. "Sudahlah, sebaiknya kita batalkan saja semuanya!" tapi dia selalu menggeleng dan memberikan alasan yang sama setiap kali Sunny mengingatkannya.

Baekhyun yang baru turun dari kamarnya berhenti berjalan saat melihat Jimin sedang duduk diam sambil menyesap kopi. Namja manis itu meletakkan barang yang dibawanya ke atas meja, kemudian menghampiri ke arah Sofa dimana Jimin berada.

"Kau termenung lagi, Appa," ucap Baekhyun ketika sudah berada di samping lelaki itu.

Jimin terlonjak kaget, kemudian melirik ke arah Baekhyun yang sedang menatapnya penuh iba. Jimin cuma membalas dengan senyumannya.

"Appa hanya menenangkan pikiran, Baek!" balasnya tersenyun lembut. Baekhyun menghela napas lelah, selalu saja kalimat itu yang diucapkan Jimin, seperti kehabisan kosa kata saja. Atau memang Jimin tak berniat menjawab, tapi terpaksa karena Baekhyun yang kelewat khawatir.

"Baik, itu adalah ke dua-puluh-limanya Appa mengucapkan hal yang sama, dalam kurun waktu tiga hari." ujar Baekhyun seakan mengingatkan, dan hanya dibalas tawa renyah Jimin. Tidak Ayah, tidak anak sama-sama suka tertawa tidak jelas! pikir Baekhyun menatap dongkol ke arah Jimin yang masih terkekeh di sofa, dan kembali menyesap kopinya.

"Kau mau kemana, Baek?" tanya Jimin, ketika melihat Baekhyun sudah beranjak darinya. Mata lelaki itu melirik ke arah namja yang sedang memegang sebuah kotak besar di tangannya.

"Aku mau minta izin untuk ke rumah Yifan Hyung, Appa. Dia mengundangku ke acara Ulang Tahunnya," ujar Baekhyun, memang tadinya dia sekalian mau minta izin Appanya.

"Yifan? Teman Chanyeol itu bukan?" tanya Jimin mengerutkan dahi mencoba mengingat-ngingat.

"Ah nde, dia memang teman Chanyeol Appa," balas Baekhyun tidak bohong. Memang benarkan kalau Yifan itu teman anaknya.

Jimin menghela napas, kemudian mengangguk. "Pergilah, tapi jangan pulang terlalu larut," seru Jimin. Baekhyun hanya mengangguk patuh.

Baekhyun melirik ke arah Appanya, kemudian berdehem pelan. "Emm, apa Chanyeol belum pulang, Appa?" tanya Baekhyun pelan.

Jimin menoleh dan melihat raut bingung dari wajah namja manis di dekatnya. Baekhyun sedang menunduk, takut-takut kalau pertanyaannya menyakiti hati Jimin atau mengingatkan Jimin pada malam hari itu. Jimin diam, sebenarnya ini memang salahnya yang terlalu keras dengan Chanyeol malam itu, dan tidak seharusnya juga dia sampai menampar dua kali wajah anaknya, namun melihat tingkah namja itu yang semakin kelewatan malah membuat darah Jimin naik.

"Bahkan dia sama sekali tidak pulang, Baek." balas Jimin masih dengan senyum. Baekhyun tak enak hati, dia kembali berdehem karena merasa suasana di sini terasa canggung. Ucapan Jimin tidak salah, bahkan Chanyeol tak muncul di sekolah mereka. Kemana perginya namja itu pun Baekhyun tidak tahu.

"Ya sudah Appa, nanti aku tanyakan ke Yifan Hyung saja, siapa tau Chanyeol ada di rumahnya," ujar Baekhyun sambil berlalu pamit dari rumah dan bergegas ke bagasi untuk mengambil sepeda milik Chanyeol. Karena dia tidak bisa mengendarai mobil, dan lagi dia terlalu malas naik bus malam-malam begini, jadi diputuskannya untuk pakai sepeda saja. Hitung-hitung jalan malam pikirnya.

Namja manis itu mengendarai sepedanya sambil sesekali tertawa, dia langsung berteriak senang ketika angin malam dengan sengaja menerpa lembut wajahnya. Bahkan Baekhyun tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman di sepanjang jalan.

"Selamat malam Ahjussi!" sapanya dengan senyum lebar saat tak sengaja melihat lelaki paruh baya sedang berjalan entah mau kemana. Ahjussi itu hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan Baekhyun.

"Sudah mau tutup Ahjumma? Hati-hati di jalan!" teriaknya saat melewati sebuah toko roti, dimana seorang wamita yang sedang mengunci tokonya. Dia melirik Baekhyun yang masih tertawa di atas sepeda yang sedang melaju kencang.

"Yaa! Pelan-pelan, Nak. Jangan tertawa sambil bersepeda!" serunya geleng-geleng kepala melihat tingkah Baekhyun yang sama sekali tidak takut jatuh atau menabrak pembatas pagar.

"Wuhuuu! Aku merasa bebas!" teriak Baekhyun sambil menambah kecepatan mengayuhnya, tak peduli kalau lampu merah di depan sana sebentar lagi akan berubah hijau, karena namja itu tak ingin terjebak lampu merah, seketika dia menambah laju sepedanya. Beruntung tepat saat dia berhasil lewat, lampu berubah hijau. Well, setidaknya hari ini dia merasa sangat bahagia sekali.

Baekhyun mengerem mendadak saat tak mengetahui kalau rumah Yifan sudah di depannya, dan karena terlalu ceroboh namja itu bahkan sampai menubruk pagar yang masih setengah terbuka, untung saja dia tidak jatuh. Baekhyun turun dari sepeda dan memarkirkan benda itu kemana saja, toh sepedanya takkan dicuri juga.

Dia berdiri di depan pintu, memastikan kalau penampilannya sudah pas dan benda yang dibawanya tidak lecet sedikitpun. Dia menekan bel, tak berapa lama seonggok kepala muncul dari balik pintu, setelah melihat siapa yang datang, seonggok kepala itu berubah menjadi seorang manusia dengan pakaian casual. Yifan tersenyum saat melihat kedatangan Baekhyun.

"Kau sudah datang? Cepat sekali," ujar Yifan sambil menyuruh Baekhyun untuk masuk, namja itu hanya mengekor di belakang yang lebih tua.

"Tentu saja. Hyung tampan sekali dengan baju seperti itu," ucap Baekhyun. Yifan berhenti dan menoleh ke arah yang muda.

"Jadi selama ini aku jelek begitu?" tanya Yifan main-main, Baekhyun hanya tertawa mendengar pertanyaan namja tinggi itu. Mata Yifan kemudian terjatuh ke benda yang sedang dipegang Baekhyun, dia menggelengkan kepalanya kemudian menatap namja itu.

"Kan sudah kubilang tidak usah bawa hadiah, Baek. Kau mau datang saja aku sudah senang," ujar Yifan.

Baekhyun mendelik tajam. "Apa Hyung baru saja menyindirku? Setidaknya aku masih punya uang tau! Hitung-hitung aku bisa membelikan kaos kaki bekas untuk Hyung" ujar Baekhyun sambil tertawa renyah, dia menyerahkan Kadonya dan Yifan mau tak mau menerima, dia juga tak enak hati untuk menolak hadiah dari Baekhyun, walaupun dia tidak meminta.

"Aku tidak menyindirmu tau. Ya sudahlah terima kasih, ne," ujar Yifan. Baekhyun hanya mengangguk.

"Kenapa masih sepi, Hyung? Dimana teman-temanmu yang lainnya?" tanya Baekhyun bingung, karena memang tidak ada tanda-tanda kalau di tempat ini akan diadakan pesta ulang tahun. Bahkan balon saja tidak ada. Yaa! Kau pikir Yifan itu anak TK Baek yang mesti ada balon dan badut kalau sedang berulang tahun? Dia sudah kuliah jika kau tidak ingat. Balon is not my style! kalau kata Yifan.

"Sebenarnya aku sudah merayakan pesta ulang tahunku kemarin, namun karena itu hanya dihadiri teman kampusku, jadi aku berniat membuat acara yang kedua. Khusus teman-teman dekatku saja, tenang saja dua teman anehmu itu juga aku undang kok," ujar Yifan menjelaskan. Ah teman aneh yah? Baekhyun pikir itu pasti Kyungsoo dan Jongdae. Baekhyun hanya mengangguk paham, dia terdiam lama, sebenarnya dia ingin menanyakan hal lain ke Yifan tapi dia sedikit ragu.

"Em, apa baru aku yang datang, Hyung?" tanya Baekhyun melirik seisi ruangan yang kosong melompong, bahkan orang tua Yifan juga tidak kelihatan batang hidungnya. Kalau kalian bertanya dimana keberadaan mereka, jawabannya adalah di China. Karena Yifan tinggal sendiri di Korea. Yifan kan sudah besar, dia sudah bebas untuk melakukan apa saja. Lagipula ada Appa Luhan yang dengan senang hati rutin mengecek keadaan ponakannya itu.

"Luhan sedang di dapur, entah apa yang dilakukan anak itu, aku juga tak tahu," balas Yifan menggedikan bahu acuh. Well Luhan memang sudah sejam tadi berada di dapurnya.

"Aku akan ke sana, ne?" pamit Baekhyun yang langsung dihadiahi anggukan dari Yifan.

Baekhyun berjalan riang, langkahnya terhenti saat mendengar suara krasak-krusuk yang berasal dari ruangan di depannya. Baekhyun menyembulkan kepalanya dan mendapati seseorang tengah berkutat dengan beberapa peralatan dapur di atas meja. Keadaan dapur benar-benar kacau balau, Baekhyun memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan menuju ke arah Luhan yang masih sibuk sendiri.

"Wah, apa Hyung berniat menghancurkan dapur Yifan Hyung?" seru Baekhyun seraya mengelilingi ruangan itu sambil bergidik ngeri. Luhan yang mendengar suara itu mendadak matanya berbinar cerah, dia meninggalkan dan melempar asal benda yang dipegangnya dan berlari menghampiri Baekhyun.

"Baekkie! Bogoshipo!" serunya sambil menerjang lembut tubuh namja manis itu. Baekhyun hanya terkikik pelan melihat tingkah Luhan yang selalu berlebihan kalau di dekatnya.

"Hyung, kita baru saja bertemu tadi di sekolah, dan kau sudah merindukanku? Yang benar saja," ujar Baekhyun jengah tapi masih ikut memeluk tubuh namja itu.

Luhan melepaskan pelukannya, kemudian menatap namja manis di depannya. "Memangnya tidak boleh? Ya sudah aku tidak akan pernah merindukanmu lagi," balas Luhan dengan wajah cemberut yang dibuat-dibuat.

Baekhyun melongo. Buru-buru dia menarik tangan Luhan. "Aish maksudku bukan begitu, Hyung! Yaa! Hyung jangan seperti ini," rengeknya saat melihat Luhan hendak pergi dari hadapannya.

Seketika tawa Luhan pecah begitu saja, bahkan saking kerasnya, Yifan sampai berteriak dari luar karena pusing mendengar suara Luhan. "Aku hanya bercanda Baekkie," ucap Luhan, membuat Baekhyun menghela napas lega.

"Hyung sedang apa?" tanya Baekhyun.

"Membuat kue untuk Yifan. Apa uri Baekkie mau membantu Hyungnya ini?" tanya Luhan sambil menaik turunkan alisnya. Baekhyun tersenyum cerah dan sontak mengangguk dengan semangat, membuat Luhan kembali terkekeh dengan tingkah menggemaskan namja itu.

"Baiklah, mari kita buat kue untuk Yifan!" seru Luhan yang diikuti sorakan penuh semangat dari Baekhyun.

.

.

"Woah, kalian sudah datang ternyata? Em sebentar, sepertinya masih ada yang kurang!" seru Luhan sambil menghitung jumlah orang yang ada di sofa milik Yifan. Baekhyun duduk di samping Kyungsoo, sedang Jongdae memilih untuk duduk di sofa single, karena merasa belum terlalu dekat dengan mereka, ya kecuali Baekhyun dan Kyungsoo tentu saja.

"Kemana si bodoh itu?" tanya Luhan dan ikut nyempil di antara Kyungsoo dan Baekhyun.

"Si bodoh yang kau maksud ada di sini!" tiba-tiba suara bass itu terdengar, membuat ke delapan orang itu kompak menoleh ke arah pintu, dimana seorang namja tinggi sedang berjalan santai ke arah sofa dan mendudukan dirinya di samping Jongin.

Chanyeol menyerahkan sebuah kotak kecil ke Yifan, sedangkan Yifan hanya menghela napas dan menerimanya dengan setengah hati. Padahal aku sudah berpesan kepada mereka tidak perlu bawa hadiah. Batin Yifan. Ah sepertinya ketujuh orang ini—minus Minseok yang memang hanya membawa diri— sama sekali bebal dengan ucapanmu itu, Yifan.

"Selamat Ulang Tahun, Hyung!" seru Chanyeol.

"Terima kasih, Chan!" balas Yifan seraya menjabat tangan Chanyeol.

Baekhyun melirik ke arah Chanyeol diam-diam, memastikan keadaan namja itu baik-baik saja. Ah tidak bertemu selama tiga hari benar-benar membuatnya merindukan namja tinggi itu. Ingin rasanya dia berlari dan memeluk Chanyeol sambil berkata. "Chanyeolli, aku merindukanmu!" Boleh saja, tapi kau pastikan dulu kalau urat malumu sudah putus, Baek! Jadilah namja mungil itu hanya tersenyum tipis.

"Jangan lama-lama menatapku, nanti kau jatuh cinta!" celetuk Chanyeol tiba-tiba seraya menatap dalam ke arah Baekhyun, membuat mereka semua menoleh begitipun dengan si objek tatapan. Baekhyun menelan ludah, dia ketahuan sedang melihat Chanyeol, apa yang harus dikatakannya sekarang? Ya Tuhan selamatkan aku! batin Baekhyun komat-kamit.

"Aku juga tidak sudi jatuh cinta denganmu!" balas Jongin ketus. Ah sepertinya keberuntungan ada di pihakmu Baekhyun, namja itu akhirnya bernapas lega, smentara Chanyeol hanya mendengus sebal menatap ke arah Jongin yang balas menatapnya. "Apa? Aku memang tidak menyukaimu!" isyaratnya dengan tatapan.

10 menit berlalu. Luhan sedang memakan kue yang dibuatnya bersama Baekhyun tadi, begitupun dengan yang lainnya. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka, Jongin yang memang mau modus pura-pura mendekati Kyungsoo dan berusaha menyuapkan namja itu, namun Kyungsoo hanya memberikan tatapan tajamnya, dan seketika Jongin keder lalu buru-buru menelan habis kuenya dalam satu suapan.

Jongin tersedak kuenya sendiri, sontak Kyungsoo panik dan sigap menyerahkan minuman ke namja berkulit tan itu, Jongin masih tak percaya dengan penglihatannya sendiri, dia lalu tersenyum dan menerima minuman yang ternyata punya Jongdae, karena sekarang namja itu sibuk mencari gelasnya yang mendadak hilang. Jongin tak masalah, setidaknya kali ini dia tidak modus untuk mendapat perhatian Kyungsoo.

Luhan bergantian menyuapkan kue itu ke Sehun dan Baekhyun. Chanyeol hanya membuang mukanya melihat adegan picisan itu, sungguh dia ingin sekali menggetok kepala Luhan supaya dia hilang ingatan dan tidak memanjakan Baekhyun seperti itu. Aku merasa mereka sudah seperti sebuah keluarga saja. Sehun Ayahnya, Luhan Mamanya, Baekhyun Anaknya, dan aku sendiri? Mungkin Suami Baekhyun? Chanyeol geli sendiri membayangkan pikiran bodohnya itu. Namja itu minum sambil tersenyum-senyum.

"Aku bosan!" Celetuk Minseok seraya meregangkan otot tangannya yang pegal. Jongin melirik ke arah namja itu, kemudian sebuah ide muncul di otak minimalisnya.

"Bagaimana kalau kita main saja? Truth or Dare mungkin?" tanya Jongin menaikkan alisnya.

Yifan menggeleng keras. "Oh ayolah, Jong. Terakhir kali aku main ini dengan kalian, aku justru menjadi banci dan make up is not my style, you know!" balas Yifan sambil marah-marah. Yah dia ingat benar bagaimana wajah bahagia Kim Jongin yang melihatnya berpakaian wanita dengan make up hancur lebur yang merupakan mahakarya seorang Luhan, dia benar-benar tak ingin kejadian itu terulang kembali.

Jongin cuma senyam-senyum. "Oh ayolah, Hyung! Kali ini aku tidak akan macam-macam, janji! Lagipula itu sudah lama, ayolah, jebal, jebal!" seru Jongin dengan wajah penuh harap.

Yifan menghela napasnya kasar. "Kali ini jangan harap aku akan memilih Dare, terserah kalian saja mau mengatakanku pengecut!" seru Yifan final.

Jongin tersenyum senang, dia langsung membuka tasnya dan mengambil sebuah botol keramat—menurut Yifan dan Minseok yang pernah jadi korban Dare Jongin—dan meletakkannya di tengah-tengah mereka semua. Mereka segera duduk melingkar dan sibuk dengan hati masing-masing.

"Baiklah, aku yang mulai!" seru Jongin bahagia seraya memutar botol, masing-masing menunggu dengan hati berdebar, berharap tutup botol itu tidak mengarah ke arah mereka. "Sehun, kau kena! Truth or Dare!" tanya Jongin penuh semangat. Oh ayolah, dia berharap sekali kalau Sehun memilih Truth.

"Truth," balas Sehun acuh. Yes! Jongin berteriak dengan senang. Saatnya membongkar semuanya, batin Jongin kelewat semangat.

"Ceritakan pada kami apa hubunganmu dengan Luhan!" ujar Jongin dengan senyum iblis terukir di bibirnya. Mata Luhan membola, sedang Sehun hanya diam menatap tajam ke arah namja tan itu. Sialan kau Jongin! Tak akn kubiarkan kau hidup bahagia setelah ini! monolog Sehun.

Sehun tak punya alasan mengelak lagi, persetan dengan Jongin yang sedang tersenyum bahagia ataupun wajah penasaran teman-temannya. "Pacar!" ujar Sehun santai. Namun cukup membuat Shock semua orang, tidak termasuk Jongin, Luhan dan Sehun sih.

"Wah Hyung pacaran dengan Sehun? Aku tidak tahu, yaa! Hyung jahat tidak pernah cerita denganku!" ujar Baekhyun cemberut.

"Sekarang kan Baekkie sudah tahu, jadi aku tidak jahat kan?" balas Luhan.

Baekhyun tersenyum lembut. "Selamat Hyung, tapi bagaimana dengan..." ucapan Baekhyun terhenti karea Luhan mengisyaratkan dengan mulutnya. Sehun yang melihat hal itu jadi semakin penasaran, namja itu langsung merebut botol yang dipegang Jongin dan memutarnya pelan menandakan dia orang kedua yang akan bermain.

Sesuai dugaan, tutup botol itu berhenti di depan Luhan, membuat namja cantik itu mendelik tajam ke arah Sehun yang justru tersenyum manis. "Truth or Dare, sayang?" tanya Sehun, membuat mereka malah bersorak dan bersiul genit. Bahkan Baekhyun menyenggol pelan lengan namja di sampingnya.

"Truth!" seru Luhan tidak santai.

"Aku penasaran, sebenarnya ada yang kau sembunyikan dariku? Yah semacam rahasia, maybe?" ujar Sehun kelewat santai.

Ah sial! Tau begini lebih baik Luhan memilih Dare saja. Dia tidak mungkin mengatakan semuanya, ke Sehun dan di sini juga ada Baekhyun, dia takut menyakiti perasaan namja manis itu. Biarlah dia yang menderita, asal Baekhyunnya senang. Tapi sudah resikonya memilih Truth.

"Ya, Aku akan dijodohkan dengan seseorang yang tidak aku cintai!" balas Luhan seadanya, Baekhyun diam, Chanyeol diam, begitupun dengan Sehun yang justru tersenyum dan mengecup pipi Luhan, membuat mereka semua mematung di tempat.

"Eomma! Mataku!" teriak Jongin lebay seraya menutup mata Kyungsoo yang dibalas geplakan oleh namja yang lebih pendek.

"Jongdae kau jangan seperti mereka, ne?" ujar Minseok mengacak rambut Jongdae. Jongdae hanya tersenyum seraya mengacungkan jempolnya.

"Baik, Hyung!" ujarnya kembali tersenyum.

Yifan merebut botolnya dan berteriak lantang. "Giliranku! Ya, bersiap-siaplah kalian!" tawa Yifan menggelegar, tak berapa lama dia terbatuk-batuk dan berakhir memutar botolnya tak beraturan. Keheningan kembali terasa di sini, botol itu masih asyik berputar, semakin pelan, pelan, pelan, dan berakhir berhenti menghadap ke arah Jongin.

"Ya, Chanyeol, Truth or Dare!" teriak Yifan semangat. Ada yang berpikir kalau botol itu berhenti di Jongin, tentu saja tidak, maksudku pantat botolnya memang mengarah ke arah Jongin, tapi tutup botolnya berhenti tepat di depan Chanyeol. "Kau harus gentle kali ini, Bung!" tambah Yifan menatap remeh ke arah Chanyeol.

"Dare!" jawab Chanyeol. Yifan tersenyum setan di sana.

Dia melirik ke seisi ruangan, yang ditatap langsung merasa ada yang tidak beres. Minseok menatap jengah ke arah Yifan, apa lagi yang akan di lakukan anak itu? pikirnya.

Yifan berdehem. "Chan, aku menantangmu untuk mencium Luhan!" ujar Yifan. Luhan melongo, Baekhyun tersentak kaget mendengar ucapan namja itu.

Chanyeol menggedikan bahu. "Bai-Apa! Yaa! Kenapa aku harus menciumnya!" teriak Chanyeol saat menyadari tantangan Yifan itu.

"Terserah aku, atau kau tidak berani karena ada Sehun?" tanya Yifan. Ayolah, jangan mengadu domba seperti ini Yifan. Chanyeol menatap tajam ke arah namja itu, baru saja dia ingin mengeluarkan bantahan, sebuah suara mengejutkan Chanyeol. Tidak hanya Chanyeol, tapi juga yang lainnya.

"Sudah larut! Aku pamit pulang! Selamat malam!" ucap Baekhyun membungkukkan badannya dan bergegeas menjauh, persetan dengan tatapan bingung dari mereka, Baekhyun tak ingin hatinya semakin sakit.

"Baek, jangan pulang dulu!" teriak Kyungsoo mengejar namja itu.

"Kalau kubilang mau pulang ya pulang!" balas Baekhyun membentak Kyungsoo dan langsung membanting pintu dengan keras. Kyungsoo mematung di tempatnya, refleks Jongin menghampiri namja itu sambil menepuk pelan bahunya, mencoba menenangkan Kyungsoo yang sepertinya cukup shock dengan kejadian tadi.

Suasana mendadak tegang sejak kepergian Baekhyun, Chanyeol masih ikut mematung di tempatnya. Luhan yang pertama sadar langsung buru-buru bangkit dan melirik ke arah Yifan. "Aku pinjam sepedamu!" ujar Luhan langsung menghilang di balik pintu.

Lama mereka terdiam, mungkin ada sekitar 5 menit, untung saja suara Jongdae cukup membuat mereka sadar sepenuhnya. "Apa kita hanya akan diam seperti ini?" tanyanya pelan.

Sehun dan Chanyeol saling pandang, kemudian mengangguk. "Hun kita susul mereka, pasti belum jauh! Kita bawa mobil sendiri-sendiri saja! Hyung kami pergi dulu!" pamit Chanyeol.

Yifan mengangguk. "Baiklah hati-hati!" ucapan namja itu dibalas anggukan oleh Chanyeol dan tepukan pelan dari Sehun.

Kyungsoo duduk di dekat Jongin, Jongdae, Minseok dan Yifan duduk di sofa yang sama. Mereka nampaknya masih memikirkan kejadian tadi, buktinya Kyungsoo masih diam, begitupun dengan Yifan.

Kyungsoo menatap Jongin sendu. "Apa Baekhyun marah denganku, Jong? Apa dia tidak akan memaafkanku? Aku benar-benar khawatir dengannya!" ujar Kyungsoo meremas ujung bajunya kuat. Dia takut sekarang, benar-benar takut.

Jongin langsung menggeleng dan menarik namja mungil itu ke pelukannya. Sa ae lu Jong! "Aku yakin Baekhyun tidak seperti itu, tenang saja ne, Chanyeol dan Sehun pasti bisa menemukan Luhan dan Baekhyun. Sebaiknya aku antar kau pulang ne?" tawar Jongin. Kyungsoo cuma mengangguk pelan.

Jongdae memang nampak tenang tapi dia tak bisa munafik kalau dia juga khawatir dengan sahabatnya itu. Minseok yang melihat gelagat aneh dari Jongdae langsung menepuk pelan bahu namja itu. "Jangan khawatir, percayakan saja dengan Chanyeol dan Sehun!" seru Minseok menenangkan dan dibalas anggukan oleh Jongdae.

Kini pandangan Minseok jatuh ke arah Yifan yang masih termenung. Namja itu menggeleng pelan dan menarik Yifan ke pelukannya, Jongdae hanya diam melihat interaksi mereka. "Sudahlah, ini bukan salahmu oke?" ujarnya tersenyum tapi tidak semanis saat dia tersenyum ke Jongdae tadi.

Yifan mengangguk dan tersenyum miris. Dia menatap datar pintu rumahnya. "Aku sudah mengacaukan semuanya!" lirihnya pelan.

.

.

Baekhyun mengayuh kuat pedal sepedanya, tak peduli entah dia berada di mana saat ini. Yang jelas dia tak ingin berhenti sampai kakinya benar-benar lelah. Entah kenapa dia merasa tak sanggup kalau semakin lama berada di rumah Yifan, hatinya benar-benar sakit memikirkan perkataan Yifan tadi.

"Kau benar-benar berniat pergi ya?" sebuah suara mengagetkan Baekhyun, Luhan sudah berada di sampingnya dengan sepeda tentunya. Baekhyun hanya diam tak merespon ucapan namja cantik itu.

"Bukan urusan Hyung!" balas Baekhyun acuh dan kembali mengayuh dengan kuat, namun Luhan justru ikut mengayuh dan akhirnya berada di samping Baekhyun lagi.

"Kau tidak takut, Baek? Bagaimana kalau ada penjahat yang menghadangmu?" ujar Luhan bergidik ngeri, pasalnya mereka berdua entah sedang berada di mana sekarang. Hanya ada hutan di kiri kanan, membuat otak Luhan mulai memikirkan macam-macam.

"Kenapa aku harus takut? Paling mereka akan langsung membunuhku!" balas Baekhyun terus mengayuh tanpa mengindahkan suara Luhan.

Luhan mendelik tajam. "Bagaimana kalau mereka memperkosamu? Apa kau masih berani? Lagipula aku tidak tahu kita ada di daerah maan!" balas Luhan melirik ke sekeliling. Sekali lagi hanya ada suara jangkrik dan binatang malam yang menemani kedua namja yang sedang bersepeda itu.

Baekhyun mulai bergidik, ucapan Luhan ada benarnya juga. Namun keduanya mendadak mengerem saat dua buah mobil menghadang di depan. Bahkan saking terkejutnya, Luhan langsung jatuh dari sepeda. Baekhyun dan Luhan saling berpandangan, namun Luhan bersyukur saat namja berkulit putih yang keluar dari sana dan segera menghampirinya.

Mata Baekhyun langsung terjatuh ke arah namja tinggi yang keluar dari mobil lainnya, kedua orang itu hanya diam, Baekhyun membuang muka dan mulai mencoba naik ke sepedanya namun segera ditahan oleh Chanyeol.

Baekhyun meronta saat tangan Chanyeol menariknya masuk ke dalam mobil. "Lepas! Aku bilang lepas!" teriak Baekhyun terus memberontak, namun Chanyeol tak kehabisan akal, dia kembali menarik paksa Baekhyun.

"Hun bisa tolong masukkan sepeda itu ke belakang sana?" Sehun hanya mengangguk dan memasukkan sepeda Baekhyun ke dalam mobil.

"Kalian pulanglah, Luhan biar aku yang urus!" ujar Sehun langsung mengangkat tubuh Luhan enteng, bahkan sempat melambaikan tangan ke arah Chanyeol yang sudah pergi dari hadapan mereka.

.

.

Chanyeol melepaskan sabuk pengaman miliknya dan milik Baekhyun. Namja mungil itu masih diam di samping kursi Chanyeol. Baekhyun sama sekali tak berniat bicara, dia kesal sekali dengan Chanyeol, apalagi tarikan namja itu benar-benar kuat tadi. Bahkan tangannya saja ikutan memerah.

"Masuklah ke rumah," ujar Chanyeol lembut.

Baekhyun tak menjawab, dia langsung menarik pintu dan hendak melangkah kalau saja tangan Chanyeol tidak menariknya dan berakhir dia jatuh terduduk kembali.

Chanyeol mendekat dan langsung menempelkan bibir kissablenya ke bibir tipis Baekhyun. Baekhyun yang terkejut langsung mendorong kuat tubuh namja itu agar menjauh, namun tangan Chanyeol langsung menarik Baekhyun ke pelukannya.

Chanyeol menggigit pelan bibir bawah Baekhyun agar namja mungil itu memberinya jalan masuk. Baekhyun yang masih dalam mode terkejut hanya diam tak membalas ciuman itu, satu sisinya mengatakan ingin tapi sisi lainnya mengatakan kalau semua ini tidak benar.

Baekhyun kembali memukul Chanyeol, namun karena namja tinggi itu sudah terbawa emosi dia menarik pinggang Baekhyun dan semakin menyesap kuat bibir tipis itu. Dan entah setan darimana, Baekhyun justru membuka mulutnya sehingga lidah Chanyeol langsung masuk dan tanpa sadar Baekhyun ikut terbawa dengan ciuman manis namja itu.

"Eungh.." satu lenguhan tak sadar keluar dari bibir Baekhyun saat Chanyeol menjilat lehernya intens dan kembali menyesap bibirnya dengan lembut.

Mata Baekhyun masih terpejam dengan pikiran mengambang, Chanyeol masih terus menyesap, menggigit bibir bawahnya. Hati Baekhyun bergejolak, dia meremas kuat rambut Chanyeol saat namja tinggi itu menggigit kuat bibirnya untuk yang kesekian kali.

Tidak Baekhyun! Ini tidak benar! Apa yang kulakukan! Astaga! Ini salah! batin Baekhyun kembali bergejolak. Dengan sekuat tenaga, Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol, beruntung namja tinggi itu paham dan segera melepaskan pagutannya. Bibir Baekhyun sedikit bengkak, sementara wajahnya benar-benar memerah. Chanyeol menatapnya sendu, kepalanya jadi agak pusing setelah mereka berciuman.

"Apa yang kau lakukan! Ini salah Chanyeol, kita tidak boleh seperti ini!" teriak Baekhyun terengah, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Dan jangan lupa salahkan juga mulutmu yang ikut mendesah tadi, Baek!

"Aku tak peduli, Baek! Aku tak pernah mencintai Luhan, jadi buat apa perjodohan itu dilanjutkan!" seru Chanyeol tak kalah teriak.

Baekhyun menggeleng, matanya memanas, ingin sekali dia memaki-maki Chanyeol tapi apalah daya di satu sisi dia justru mencintai namja itu. "Aku membencimu!" final Baekhyun langsung keluar dari mobil.

Chanyeol terdiam, kemudian dia ikut keluar tapi tak mengejar Baekhyun yang perlahan menjauh. "Dia bilang apa tadi? Membenciku? Kau terlalu munafik Baek untuk bilang mencintaiku," ujar Chanyeol pelan. Dia tersenyum dalam diam, namun saat merasakan kepalanya berdenyut kuat, namja itu merosot terjatuh di depan mobil dan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Chanyeol dapat melihat siluet seseorang berlari tergesa ke arahnya.

"Sudah kubilang bukan, kalau dia juga mencintaiku!" seru Chanyeol lirih. Lalu gelap langsung menguasai tubuh namja itu.

TBC

Chapter terpanjang yang pernah gue buat!

Gue sadar banget, waktu gue nulis bagian akhir, malaikat atid di samping gue pasti ikutan nulis. Iya, nulisin dosa gue yang segede gunung. Huee cobaan terberat di chapter 11, nulis dialog buat 9 orang biar kebagian semua itu susah banget ya awla. Yaudah kuy, 4 Ch lagi ni Ff bakalan tamat Yeheet!

_Baekhyunwife