.
Kaichou wa Ojou-sama
Chapter 11 : Dan semua ini terjadi karena saya sedang sebel
Disclaimer : Yang pasti bukan punya saya
Author : ini baru saya~ Anggarda sang El23
Rating : T
Pair : Sona X Naru,Sasu,Saji
Warning : Crack, gaje, aneh, OOC (mungkin), typo(tak luput), mungkin masih ada yang lain jadi waspadalah.
.
.
.
Ditengah diskusi kedua iblis wanita berpangkat King di ruang OSIS, Tsubaki selaku wakil ketua OSIS sekaligus Ratu kelompok Sitri, datang dengan sejumlah informasi yang membuat Sona mendesah.
Ekspansi kota oleh bangsa fantasi, kunjungan Hakuryuukou di Kuoh, dan ditambah keterlibatan Naruto dan Sasuke, adalah informasi berstatus 'masalah' yang harus Sona periksa dan ia bereskan.
Sebenarnya bukan hanya Sona saja, Rias pun tak lebih memiliki tanggung jawab yang sama dengannya. Namun mengingat jadwal esok, atau lebih tepat nanti diwaktu dini hari yang dimiliki Rias, mengharuskan Sona harus bertugas sebagai pemimpin tunggal dalam menyelesaikan masalah ini.
"Jadi, kau tidak bisa pergi ikut mendukungku?" ujar Rias di tengah-tengah persiapan kepergiannya ke dunia bawah. Jadwal Rating Gamenya memang nanti dini hari, tapi dia berangkat sekarang karena harus mengurus masalah persiapan dan lain sebagainya.
"Mau bagaimana lagi? Jika aku juga ikut pergi, siapa yang akan mengurus masalah ini?"
"Haah..." Rias menghela nafas, "kenapa masalah selalu datang disaat-saat begini."
"Jangan mengeluh terus. Meskipun aku tak ikut pergi, aku akan tetap mendukungmu disini. Jadi cepatlah berangkat."
"Kau mendukung atau berniat mengusirku, sih?"
"Dua-duanya."
"Setidaknya berbohonglah sedikit, dong," mendengar jawaban Sona, membuat Rias memasang ekspresi cemberut.
Sona hanya tersenyum tipis. Telah lama mengenal Rias membuatnya paham akan sifat sahabatnya itu dan bagaimana menanggapinya.
Hal itu pun berlaku bagi Rias. Pada akhirnya dia pun berkata, "baiklah, aku akan berangkat."
"Ee, berhati-hatilah."
"Um."
Dengan itu Rias pun pergi berkumpul dengan anggota peeregenya, sebelum berangkat menuju dunia bawah.
"Saa..." Melihat Rias telah pergi, Sona membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah dua orang iblis anggota peeregenya yang tengah menunggu perintah darinya, "Tsubaki, Saji, bersiaplah. Kita punya tugas besar untuk menghapus ingatan penduduk tentang insiden ini, dan menghilangkan jejak juga bukti tentang makluk supranatural yang ada."
"Ha'i Kaichou." Tsubaki menanggapi perintah majikannya itu dengan tegas.
"Demo Kaichou, bagaimana dengan Naruto? kata Kiba dan Xenovia-san dia pergi menemui Sasuke dan tengah berurusan dengan Hakuryuukou. Bukankah sebaiknya kita mencari mereka terlebih dahulu?" beda halnya dengan Tsubaki, Saji sendiri mulai mengajukan protes. Meskipun hubungannya dengan Naruto selalu berakhir dengan adu jotos, tapi sama halnya dengan anggota peerege Sitri yang lain, Saji menganggap Naruto adalah bagian dari keluarganya, dan yang namanya keluarga haruslah saling melindungi dan membantu satu sama lain.
Tak ada perubahan raut wajah pada Sona meskipun telah mendengar perkataan Saji barusan. "tidak usah khawatirkan mereka. Jika mereka berdua bersama, aku yakin mereka bakal baik-baik saja," ujar Sona. Meskipun suaranya terdengar datar, namun Saji bisa merasakan keyakinan sangat pada setiap katanya.
"Mm, Wakatta," pada akhirnya Saji pun mengikuti keputusan Rajanya.
"Kalau begitu, ayo kita segera berangkat."
.
O.o
.
Dalam kurungan, Le Fay bisa melihat beberapa orang kini sedang melingkari tempatnya terkurung dengan wajah penuh kesiagaan. Beberapa dari orang itu adalah manusia besar yakni Viking dan beberapa prajurit dengan pakian besi ala eropa. Hal yang membuat Le fay menganggap semua ini adalah suatu kecerobohan dan kebodohan.
Jika kau sedang mengurung penyihir, maka diperlukan juga penyihir untuk menjaganya. Namun apa yang Le Fay lihat, tak ada satupun penyihir yang berjaga.
Mungkin memang kurungan ini telah terpasang segel rumit dan juga kekkai berlapis untuk membuatnya tetap berada dalam kurungan, namun jika mereka berpikir hal seperti ini dapat menghentikan Le Fey tentu mereka salah besar. Di dalam kurungan memang Le Fay tak bisa menggunakan kekuatan sihirnya, tapi dengan sedikit usaha dari ilmu yang di ajarkan oleh kakaknya yang notabene adalah teroris, Le Fay berhasil membuka kunci fisik dari kurungan itu.
Namun di dalam kurungan itu masih ada segel yang menahan kekuatannya dan mengunci kurungan tersebut. Segel yang sangat rumit untuk dipecahkan namun sangatlah mudah untuk dihancurkan. Dengan penekanan 'harus dilakukan dari luar'.
Trik lagi, namun kali ini bukanlah ilmu dari kakaknya. Melainkan ilmu dari seseorang kenalannya yang dulu dikenalkan oleh Kuroka. Dan ini bukanlah memerlukan sihir, ini hanyalah sebuah seni yang dipadukan gerakan permainan.
"Ninpou: Kaze kugutsu."
.
O.o
.
Setelah perbincangan yang rumit tentang rencana penyelamatan dan pembahasan lainnya, semuanya dari Tim Vali, dan Naruto dan kawan-kawannya kini telah bersiap memulai pergerakan. Namun suatu kendala tak terduga menghambat mereka bergerak.
"Cotto..."
"Naruto..."
Semuanya kini menatap Naruto mengikuti Bikou dan Sasuke yang memulai protes. Si biang keladi sendiri membalas tatapan mereka dengan wajah tanpa dosa. "Ada apa?"
"Apa maksudnya ini?" tanya Sasuke sambil menunjuk pakaian yang dikenakannya.
Apa yang dikenakan Sasuke dan lainnya adalah sekumpulan daun yang dibuat sedemikian rupa untuk dibuat sebagai pakaian. Bentuknya pun beragam, seperti milik Vali yang terlihat seperti armor Vanishing Dragon, Sasuke dengan pakaian perang samurai yang mirip dengan bentuk sosok Susano'onya, dan Bikou yang terlihat seperti kostum hamburger. Entah bagaimana Naruto membuatnya.
"Ini untuk penyamaran," jawab Naruto santai.
"Ini namanya bukan menyamar, tapi kamungflase. Dan apa-apaan dengan desainnya ini?" Bikou yang menyahut pertama kali. Dirinya tak terima dengan pemilihan pakaian yang dikenakannya.
"Kita juga butuh maskot untuk tim penyelamat ini," Naruto berkata dengan wajah tanpa dosa.
"Jangan samakan ini dengan piala dunia!" teriak Bikou kesal. Bahkan menurutnya maskot piala dunia lebih keren dengan kostum yang dipakainya sekarang. Dirinya sekarang merasa menjadi bagian dari acara anak-anak yang ada di 'Nicelodeon', dan selanjutnya dia butuh Spongebob Squaerepants untuk memanggangnya dan menaruhnya di meja pelanggan.
Naruto mengacuhkan itu. Setelah Bikou, satu orang lagi memprotes.
"Naruto, kau ini bodoh atau apa? Kitakan bisa pakai teknik hange." Sasuke tak percaya dengan kebodohan temannya, terlebih lagi dengan hal ini.
"Mana asiknya yang seperti itu?"
"Kau pikir asik memakai daun-daun ini menjadi pakaian?! Ini terlihat seperti salad berjalan, kau tahu!"
"Masa? Menurutku ini seperti perkedel bersayap." Naruto memperhatikan hasil karyanya itu dengan wajah seorang kritikus makanan.
"BERHENTILAH MENYEBUT NAMA MASAKAN KULINER!" teriak Sasuke kesal, "yang jelas aku tak mau memakai baju ini hanya untuk menyamar, baka!" Sasuke telah habis kesabaran. Dia memberikan Naruto deatglare. Dia lalu melepas pakaian trendy yang dikenakannya itu.
"Cih!" Naruto membuang mukanya sambil berdecih.
Rencana penyamaranpun dibatalkan. Semuanya mengikuti apa yang dilakukan Sasuke dan kembali mengenakan pakaian biasa mereka. Setelah semuanya kembali dengan pakaian mereka masing-masing, merekapun mulai bergerak.
"Ingat, kita akan melakukanya sesuai rencana." Ujar Naruto di tengah-tengah perjalanan.
"Maksudmu rencana bodohmu?" Ejek Sasuke yang berjalan disampingnya.
"Sebagai informasi, aku setuju dengan perkataan Sasuke barusan," tanpa meminta persetujuan, Vali ikut dalam percakapan.
"Ini rencana yang sangat sempurna, tahu! Dengan rencana ini Le Fay tak akan terluka sama sekali." Naruto berusaha mempertahankan pendapatnya.
"Rencanamu memang sangat cerdik, tapi kau membuat ini menjadi konyol dengan boneka ini." Sambil terus memprotes, Sasuke mengeluarkan sebuah boneka yang terbuat dari dedaunan yang memiliki keidentikan dengan Le Fay.
"Yah, dan lagi, apa benar Sasuke bisa melakukan hal yang kau bicarakan tadi?" tambah Vali.
"Kalau itu bukan masalah. Aku bisa melakukannya."
Mendengar deklarasi Sasuke barusan, Vali nampak tersenyum menyeringai. "Hooh, Omoshiroi."
"Masalahnya adalah yang tadi. Untuk apa kau repot-repot membuat ini?" Sasuke kembali berbicara pada Naruto sambil memperlihatkan boneka yang dipegangnya.
"Aku tidak repot kok. Bagaimanapun lebih baik kita meninggalkan sesuatu yang pantas saat kita mengambil sesuatu," Naruto mengambil boneka Le Fay dari Sasuke dan mengangkatnya ke atas untuk melihatnya dengan jelas, "dan boneka ini sangatlah pantas."
"Kita tidak sedang ingin melakukan negosiasi perdagangan, bodoh! Kita ini akan mengambil apa yang mereka curi dari kita, dan itu artinya kita tidak harus menukarnya dengan sesuatu."
"Berisik! Ini demi kedamaian kedua belah pihak, tahu!" tatapan kesal Naruto berikan tepat di wajah Sasuke.
"Tidak ada yang mau berdamai hanya karena boneka jelekmu itu!" Sasuke juga melakukan hal sama, hingga kini kedua kepala mereka saling menekan satu sama lain.
"Hei, kalian berdua, hentikan. Coba kalian lihat apa yang di depan," suara Kuroka menginterupsi perkelahian Naruto dan Sasuke.
Kedua laki-laki itu berhenti dari acara mereka, dan melihat ke depan. Apa yang bisa mereka lihat adalah gerbang bangunan kuno yang sepenuhnya terbuat dari batu kekuningan, dan di atas gerbang itu terpahat tulisan 'Labirin Kaleng'.
Irina dan Sasuke yang melihatnya swetdrop di tempat.
"Kenapa mereka menamainya seperti movie dari Doraemon?" ujar Irina.
"Mungkin mereka penggemar Fujijo-sensei," sahut Sasuke.
"Apapun itu, ayo kita segera masuk," ucap Arthur. Dengan begitu mereka semua mulai memasuki gerbang itu.
Begitu mereka masuk, apa yang mereka tahu disini adalah,
"Disini gelap," ujar Irina.
Tapi hampir dari mereka semua adalah makluk supranatural, terlebih lagi sebagian besar dari mereka adalah iblis, jadi hal tersebut tidaklah terlalu berpengaruh bagi mereka.
"Aku menemukan tombol lampu."
Ctak
"Naruto apa yang kau lakukan?" tegur Sasuke begitu dirinya mengetahui tangan Naruto menjadi jahil.
Meskipun begitu, cahaya benar-benar muncul begitu Naruto menarik sebuah tali yang dia kira adalah tombol lampu. "Ini memang tombol lampu," ujarnya.
"Kau ini bodoh ya?! Bagaimana kalau itu adalah jebakan!" bentak Bikou kesal.
"Tidak ada orang yang menaruh jebakan bersama dengan tombol lampu!" Naruto membalasnya juga tak kalah kesal.
Mereka bertiga mulai berdebat. Sementara Sasuke, Naruto, dan Bikou yang berdebat, Irina dan Kuroka yang berdiri bersebelahan berbisik sesuatu.
"Nee, apa kau mendengar suara?" tanya Irina.
Kuroka diam beberapa saat, mencoba menajamkan pendengarannya dan mencari-cari suara yang dimaksud Irina. Ada sedikit suara aneh yang mendekat, namun itu bukan suara langkah kaki. "Um, aku juga mendengarnya. Suara apa itu?"
"Entahlah."
BOOUUUM!
Satu detik setelah Irina mengatakan itu, sesuatu jatuh dari atas dan membuat tanah mereka berpijak bergetar meski hanya sesaat.
Secara serempak, dengan perlahan mereka memutar kepala mereka ke belakang. Terlihat sebuah batu berbentuk bola raksasa yang ukurannya memenuhi lorong kini menggelinding cepat ke tempat mereka. Hal itu membuat semua pasang mata yang melihatnya membulat seperti bola pimpong.
"SELAMATKAN DIRI KALIAN!" Naruto yang mengawali kepanikan. Tanpa bantahan, dan tanpa bisa berpikir jernih sebelumnya, yang lainnya juga mengikuti apa yang dilakukan Naruto, mereka berlari. Lari-lari, menjauh dari kejaran bola itu yang mengejar mereka dengan cepat.
"INI SEMUA SALAHMU, NARUTO!" teriak Sasuke.
"SUDAH KUBILANG KAN ITU JEBAKAN!" Bikou juga ikut meneriaki.
"KAU BARU BILANG KETIKA ITU SELESAI BODOH!" teriak Naruto tak terima.
"KALIAN MASIH SEMPAT BEDEBAT SAAT INI?!"
"""PEREMPUAN DIAM SAJA!"""
"BAGAIMANA AKU BISA DIAM JIKA KALIAN PARA LAKI-LAKI TERUS SAJA MEMBUAT ULAH!" Kuroka membentak para laki-laki tak kalah sengit.
"Tunggu dulu, kenapa kita lari? Aku kan bisa menghentikan itu dengan Susano'o,"
"""HARUSNYA KAU BILANG ITU DARI TADI, BRENGSEK!"""
Dengan itu mereka berhenti berlari secara serempak. Dan begitu mereka membalikan badan, mereka menemukan bola yang menggelinding tadi tidak lagi menggelinding, melainkan berhenti dengan sentuhan Vali dan Arthur jauh dilorong tempat mereka sebelumnya berdiri, dan di depan kedua orang itu ada Irina yang melihat mereka berlari dengan tatapan lugu.
"Kenapa kalian berlarian seperti itu?" tanya Irina dengan wajah lugunya.
""""KENAPA KALIAN TIDAK BILANG KALAU KALIAN TELAH MENGHENTIKAN BOLANYA?!""""
"Kalian saja yang bodoh, untuk apa kalian berlari hanya untuk jebakan kecil semacam ini," perkataan Vali terdengar angkuh.
Jarak gerombolan Vali dan gerombolan Naruto yang berlari terlampau cukup jauh. Gerombolan Naruto kembali ke tempat mereka tadi di mana tempat Vali, Arthur, dan Irina berada.
"Sialan, jika aku tahu kau sudah menghentikannya tentu aku tidak akan menghabiskan tenagaku hanya untuk berlari," ujar Naruto kesal.
Sasuke tak mempedulikan perkataan Vali juga Naruto dan lebih memilih untuk berkata, "yang penting, kita selamat. Sebaiknya jangan menyentuh apapun yang mencurigakan."
"Apa kau masih takut dengan jebakan kecil semacam itu?" Vali mengejek sambil menatap Sasuke dengan wajah mengolok.
Sasuke tak mempedulikan itu.
"Hey, manusia uban. Ada tombol di belakangmu," ujar Naruto yang melihat sesuatu dibelakang tubuh Vali.
Vali membalikan tubuhnya dan menoleh ke tempat yang dimaksud Naruto. Di sebuah dinding terdapat sebuah tombol bulat berwarna merah sebesar diameter bola basket. Di atasnya tertulis 'Jebakan Besar'.
"Tidak ada orang bodoh yang menulis jebakan besar di jebakan yang mereka buat sendiri," ujar Vali sambil menekan tombol itu dengan kakinya.
"Hey bodoh, sudah kubilang jangan sentuh apapun yang mencurigakan!" bentak Sasuke.
"Apa kau takut dengan jebakan besar yang tertulis di sana? Jangan khawatir, jika kau takut aku akan melindungimu," Vali memiringkan kepalanya sembari membuat wajahnya terlihat menjengkelkan bagi Sasuke.
Poft!
"Naruto, bisakah aku membunuh orang ini sekarang juga," ujar Sasuke, sesaat setelah dia mengeluarkan kusanaginya dari fuin penyimpanan.
Naruto yang mendengarnya berkata, "hey, kau tahu kita tidak punya waktu untuk itu kan."
Sasuke masih merasa kesal, namun pada akhirnya dia mengembalikan pedangnya ke asal. Vali hanya tersenyum mengejek melihat apa yang dilakukan Sasuke. Setelah itu semuanya dari mereka terdiam. Alasan mereka terdiam adalah mereka mencoba untuk menunggu tanda-tandanya jebakan yang datang, namun cukup lama mereka menunggu mereka tetap tak menemukan adanya tanda-tanda jebakan.
"Tidak ada jebakan apapun," perkataan Irina melenyapkan waktu yang mereka tunggu.
"Tuh kan, aku bilang itu hanya bualan," ujar Vali. Rasa puas ia rasakan begitu apa yang dikatakannya terbukti.
"Kalau begitu, ayo kita per-"
WHAAAM WOOOOOSH!
Sebuah portal muncul tiba-tiba di tengah-tengah mereka. Layaknya black hole, portal itu menghisap segala yang ada di sekitarnya. Bahkan dinding-dinding yang berada di dekatnya juga ikut terhisap ke dalamnya dengan mudahnya. Mengetahui hal itu, semuanya dengan cepat melompat menjauh dari tempat portal itu muncul.
"Apa ini..."
"Aku tidak tahu."
"Sudah kubilang tombol itu jebakan."
"Dan lagi ini benar jebakan besar."
Sambil mencoba bertahan dari daya hisap yang dipancarkan portal itu, Irina, Naruto, Sasuke, dan Bikou mengeluarkan kata-kata keluhan dengan masalah yang terjadi. Mereka semua kemudian mengarahkan kepalanya pada Vali yang bertahan di tempat paling belakang.
Vali yang dilihat seperti itu berkata, "kau tahu, kadang kala aku juga bisa salah," katanya santai.
"Katakan itu setalah aku menonjok wajahmu!" bentak Sasuke.
Selagi hal itu terjadi, Naruto yang sedari tadi membawa boneka Le Fay kini kehilangan pegangannya pada boneka tersebut. Boneka itu lalu masuk terhisap portal tersebut.
"LE FAAAAY!" teriak Naruto saat melihat boneka itu terhisap.
Disisi lain, Sasuke yang bertahan dari hisapan portal tersebut tiba-tiba terhantam oleh bola batu raksasa yang tadi mengejar mereka. Meskipun dia sempat bertahan dengan kerangka Susano'onya untuk menahan daya benturan, tapi dia tetap terpental. Arah dia terpental membawanya ke portal yang terus mengeluarkan daya hisap tersebut.
Untuk sesaat Naruto menatap proses itu sampai Sasuke masuk ke dalam portal.
"LE FAAAAY!" setelah itu dia kembali melanjutkan teriakannya.
Keringat jatuh di kepala semua orang melihat hal itu terjadi
"Naruto-chin, kau kejam banget sih," ujar Kuroka sweatdrop.
"Aku akan menyusulnya. Sepertinya portal itu membawanya pergi ke tampat lain," ujar Vali. Dia lalu menoleh pada Arthur, "Arthur, kau ikut aku."
"Baiklah," balas Arthur.
Setalah itu, Vali mengeluarkan sayap bercahayanya. Dan setelah itu, bersama dengan Arthur dia pergi melewati portal itu.
Sesaat setelah kedua orang itu memasuki portal, portal itu akhirnya reda lalu menghilang.
Tap tap tap
Langkah kaki yang sangat banyak terdengar. Lalu segerombolan pasukan bersenjata datang mengepung Naruto dan yang lainnya.
"Penyusup!" salah satu dari mereka berbicara dengan nada intrograsi.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Irina di tengah hal itu terjadi.
Semuanya tak ada yang membalas. Mereka lebih memilih untuk bersiaga sambil memasang kuda-kuda mereka.
.
O.o
.
Dari udara, Sasuke keluar dari portal dan jatuh di suatu tempat.
"Di mana ini?" gumamnya.
Tempatnya sekarang berada di daerah terbuka. Meskipun dia tak melihat adanya satu pun pemukiman, tapi yang pasti tempat ini adalah tempat lapang yang membuat penglihatannya terbebas.
Sesaat setelah itu, portal itu kembali mengeluarkan orang. Dan yang keluar adalah Vali dan Arthur. Mereka mendarat tepat di depan Sasuke.
Sasuke yang melihat mereka bertanya, "kalian juga ikut terhisap portal itu?"
"Yah. Kami disini datang untuk menyusulmu," yang menjawab adalah Arthur.
"Jadi, kita ada dimana sekarang?" tanya Vali. Dia mengedarkan pandangannya ke sekililing untuk mencoba mengetahui tempatnya berada sekarang.
"Ini sisi pulau bagian timur," jawab Arthur, "tidak jauh dari sini adalah tempat kita beristirahat kemarin. Dan tempat ini lebih dekat dari pusat kota."
"Itu berarti kita terpisah jauh dengan yang lainnya," ujar Sasuke.
"Aa," Vali mengiyakan perkataan Sasuke, "tujuan mereka adalah pusat kota. Kita tetap bisa bertemu mereka di sana."
"Baiklah kalau begitu. Kita juga ke sana," ujar Vali.
Arthur dan Sasuke mengangguk setuju. Dengan begitu, mereka melangkah pergi ke arah pusat kota.
.
O.o
.
Dari waktu yang berlalu, dengan memanfaatkan celah dan menghajar beberapa lawannya, Naruto dan lainnya berhasil lolos dari pasukan yang mengepung mereka. Sekarang mereka sedang bersembunyi. Dari banyaknya belokan, lari mereka membawa mereka ke jalan yang buntu.
Ada yang berbeda dari kelompok mereka. Dari sejumlah kelompok itu, empat diantaranya adalah apa yang sudah diketahui sebelumnya. Namun kini ada satu orang tambahan yang berkumpul bersama mereka. Seseorang yang duduk dengan posisi seiza itu memiliki wajah lugu dan tubuh biasa, dia memiliki rambut pirang panjang dan mengenakan pakaian besi ala eropa yang merupakan seragam pasukan yang tadi mengepung Naruto dan kawan-kawan.
"Namaku Þorkell Leifsson."
""Itu sangat susah diingat."" Ujar Bikou dan Naruto serempak. Wajah mereka menampakan kemalasan yang amat sangat mendengar perkenalan dari manusia di depannya.
"Be-benarkah?" orang itu nampak gelagapan, "ta-tapi semua orang bilang namaku sangat mudah di ingat."
"Apa benar? Aku pernah dengar orang yang bernama Percy Jackson, dan Michael Jackson. Tapi, siapa namamu tadi? Sony Erickson? aku tidak pernah dengar nama serumit itu sebelumnya," ujar Naruto.
"Anoo, tapi itu bukan namaku, yang kau sebutkan itu tadi lebih terdengar seperti merek HP."
Naruto tak mempedulikan perkataannya.
"Selain itu bukankah kau ini musuh kami? Kenapa kau malah memperkenalkan dirimu sendiri sih?" ujar Bikou.
"Benar juga karena kalian mengungkit ini maka..." dan orang itu mulai membicarakan tentang dirinya.
Tidak mempedulikan cerita orang itu, Bikou menatap Naruto, "Hey bodoh, kenapa kau membawanya kemari sih?" ujarnya sambil menunjuk orang itu dengan telunjuknya.
Naruto yang mendengarnya membalas, "apa boleh buat kan. Karena dia ada didekatku, aku otomatis membawanya tahu!"
"Otomatis? apa maksudmu otomatis, hah? apa kau memungut semua hal apapun itu yang ada ditanah, hah?"
"Urusaiyo! kau bahkan tak menyadarinya dari tadi kan?!"
Sementara Bikou dan Naruto yang mulai berdebat, orang itu tampak tidak enak melihat mereka berkelahi, "Kalian... to-tolong kalian berdua berhentilah memperebutkan aku!"
""SIAPA YANG SEDANG MEMPEREBUTKANMU?!"" bentak Bikou dan Naruto serempak.
Kuroka dan Irina yang melihat itu hanya bisa sweatdrop di tempat mereka.
"Hey, kalian, mau sampai kapan terus berdebat?" Kuroka akhirnya memutuskan untuk menginterupsi mereka.
""KAU KIRA KAMI MAU TERUS BERDEBAT?!""
"KALAU BEGITU BERHENTILAH!"
Kali ini Irina sweatdrop sendirian. Pertama kalinya dia melihat orang yang berusaha memarahi orang tapi malah dimarahi oleh orang yang dia marahi.
Pada akhirnya Bikou dan Naruto berhenti dari perdebatannya.
"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanannya," ujar Naruto.
"Bagaimana dengan dia?" tanya Kuroka sambil menunjuk Þorkell.
"Mau diapakan lagi? Jelas dia harus ikut dengan kita," ujar Bikou.
"Baiklah, ayo kita pergi," dengan perkataan Naruto barusan semuanya pun mulai melangkah dengan tujuan mereka kembali.
Sementara itu, di tempat Vali, Sasuke, dan Arthur berada.
Mereka berjalan dengan tenang menuju pusat kota. Suasana tenang dan damai begitu kental diperjalanan mereka. Bahkan itu sudah tak pantas disebut tenang, melainkan hening. Meskipun keadaanya terasa santai, tak ada dari mereka yang berbicara. Tentu itu hal yang patut terjadi jika tiga pria yang tidak banyak bicara dikumpulkan dalam satu tempat.
"Cuacanya cerah ya," ujar Arthur memecah keheningan.
"..."
"Hn."
Hanya Sasuke yang membalas, itu pun dengan gumaman Ambigu.
Setelah itu suasana kembali hening.
Kembali di tempat Naruto dan lainnya.
Di tempat ini adalah kebalikan dari sana, selain karena dua orang berisik hadir di satu tempat, itu juga karena kedua orang berisik itu punya sesuatu yang di jahili.
Kuroka yang tak tahan dengan keberisikan mereka berdua, tampak menahan kesal. Dirinya sekarang mengerti bagaimana perasaan Vali saat melihat dirinya sering bertengkar dengan Bikou, hal itu tentunya sangatlah menjengkelkan untuk didengar, apa lagi dilihat. "Hey kalian! Berhentilah menjahilinya!"
Saat kuroka berbalik untuk menoleh, suasana menjadi hening. Tapi apa yang bisa dilihatnya adalah keadaan Þorkell yang terlihat seperti Mickey Mouse, dimana dia memiliki telinga tikus yang terbentuk dari potongan rambut pirangnya.
"Kalian."
Bikou dan Naruto sendiri hanya membuang muka mereka dengan arah berlawanan sambil bersiul-siul pura-pura tak bersalah.
Kuroka menarik tangan Þorkell dan membawanya berjalan ke depan, "Nee, malaikat rainkarnasi, bisakah kau berjalan bersamanya."
Irina memandang Kuroka dengan wajah lugunya, "mm, tidak masalah."
Dengan begitu Þorkell berjalan bersama Irina diposisi paling depan, dibelakangnya ada Kuroka yang saat ini sejenak menatap kedua laki-laki dibelakangnya, "laki-laki berjalan di belakang," ujarnya dengan nada peringatan.
""Cih,"" Naruto dan Bikou membuang muka mereka sambil mendecih.
Merekapun kembali berjalan normal dengan mereka yang berada diposisi paling belakang. Suasana menjadi hening ketika Naruto dan Bikou telah kehilangan hiburan mereka.
"Membosankan," ujar Naruto. Berjalan dalam keheningan seperti ini membuatnya merasa bosan.
Tak ada bedanya dengan Naruto, Bikou sendiri juga mengungkapkan rasa yang sama itu dengan cara menghembuskan nafas berat. Dia maupun Naruto berjalan dengan langkah lesu. Bikou lalu menoleh pada Naruto, "kau mau hiburan?" tanyanya.
"Itupun kalau ada," jawab Naruto malas.
Mendengar itu, sebuah seringai misterius tampak diwajah Bikou.
"Kalau begitu, mari kita membuat permainan. Siapa yang bisa bertahan dari runtuhan adalah pemenangnya."
"Huh?"
Ting!
Sebelum Naruto ingin bertanya, Bikou terlebih dahulu mengetuk ujung tongkatnya pada tanah tempat Naruto berdiri. Seketika tanah tempat Naruto berdiri pecah,
Wiiiing
"WAAAAAA!" seolah dibawah tempat itu ada jurang tak berdasar, Naruto jatuh beserta pecahan-pecahan tempatnya berpijak.
"Ouups," Bikou melihat kejadian itu dengan tatapan ngeri. Sebenarnya itu bukanlah apa yang menjadi niatnya. Niatnya memukul tongkat ke tanah adalah untuk membuat tempat mereka berdiri terjadi guncangan, dan langit-langit di atas mereka dapat runtuh dan berjatuhan menimpa mereka. Itu semua hanya dengan tujuan demi kesenangan. Namun dia tak mengira akan hal ini, bukannya tanah tempat mereka berguncang, seolah dibawah lorongan ini terdapat dongeon, tanah itu malah hancur dan membawa Naruto terjatuh ke bawah.
"Dia mati deh," ujar Bikou sambil menatap lubang tempat Naruto terjatuh, "sebaikanya aku segera pergi."
Dengan begitu Bikou berjalan pergi dari tempat itu dan segera menyusul Kuroka dan lainnya berada.
.
O.o
.
Apa yang pertama kali Naruto rasakan setelah terjatuh adalah pantatnya sakit, kepalanya juga sakit. Jika dia ingin memegang kedua bagian badannya yang disebutkan tadi untuk meredakan rasa sakitnya, dia berpikir dia akan terlihat seperti seorang primata berbulu yang belum mandi, maka dari itu Naruto mengurungkan niatnya dan memilih untuk berdiri.
Saat berdiri Naruto mengedarkan pandangannya kesekitar. Tujuannya sih untuk mengetahui dimana dirinya sekarang berada. Namun meskipun telah melihat tempat lapang nan gelap disekitarnya itu, Naruto tetap tak bisa mengetahui ini dimana.
"Dimana ini?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.
"Naruto-san."
Suara misterius seorang gadis memanggilnya.
Naruto menoleh, ke tempat yang dia kira merupakan asal suara itu. Tempatnya sangatlah gelap, namun karena dirinya adalah iblis Naruto dapat melihat apa yang ada disana dengan jelas. Disana berdiri seorang gadis berambut pirang panjang yang bergulung sebahu, gadis yang terlihat berada diusia anak SMP itu mengenakan jubah penyihir dan topi kerucut. Hal itu lantas membuat Naruto terkejut, "Le Fay?"
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Le Fay pada Naruto.
"Seharusnya aku yang bilang begitu."
"Eh?" tanda tanya muncul diatas kepala Le Fay. Dirinya bingung. Bukankah yang aneh itu seharusnya adalah keberadaan Naruto yang berada disini. Jikalau dirinya berada disini itu tentunya wajar dikarenakan dirinya sedang terlibat masalah dengan para Viking yang menculiknya. Namun Naruto, yang Le Fay tahu Naruto tidaklah memiliki keterlibatan apa-apa dengan manusia fantasi itu.
Namun saat Le Fay dilanda Kebingungan, Naruto menambahkan perkataannya, "bukankah kau sekarang sedang di tawan?"
'Kenapa Naruto-san bisa tahu aku sedang ditawan?' dalam hati Le Fay bertanya pada dirinya. "Aku melarikan diri."
"Hah?" Naruto membuat mulutnya menganga, "kalau begitu untuk apa aku kesini," ujarnya yang dia buat seperti orang yang telah kehilangan harapannya.
"Memangnya kenapa Naruto-san kemari?" tanya Le Fay dengan wajah bingung.
"Tentu saja untuk menyelamatkanmu!"
Seketika raut terkejut terpasang di wajah Le fay. Dia bingung, juga tak menyangka, kenapa Naruto mau menyelamatkannya? Dan lagi kenapa Naruto bisa tahu akan keadaannya yang tengah dalam masalah? Pertanyaan itu berputar dikepala Le Fay. Banyak dari orang yang menganggap dirinya masih terlihat polos seperti anak-anak, namun pikirannya cukup membuatnya berpikir tentang sesuatu. Sesuatu yang membuat pipi Le Fay memerah karena malu juga senang.
Berpikir, jika dia berpikir, dirinya seorang perempuan, lalu seorang laki-laki bisa tahu bahwa keadaan dirinya sedang dalam masalah tanpa dia beritahu, dan tanpa keraguan laki-laki itu berani untuk datang menyelamatkannya. Tentu hal pertama yang tersimpulkan oleh pikiran gadis labil sepertinya adalah dia mengira laki-laki itu jatuh cinta padanya. Dan laki-laki yang dimaksud disini adalah Naruto, sosok laki-laki pirang yang berada di depannya. Seorang laki-laki yang dikenalnya beberapa waktu lalu.
Aneh, jika dia berpikir cinta Naruto bisa secepat ini. Hal itu membuatnya terlihat kikuk untuk banyak alasan, "etoo, a-aku harus bi-lang apa ya...?"
"Pertama-tama..." Naruto menatap Le Fay dengan jarak yang cukup membuat Le Fay menghentikan nafasnya saat itu juga. Dari jarak yang hanya satu jari itu, Le Fay bisa melihat raut wajah Naruto terlihat serius.
Kryuk kryuk kryuk kryuk
"... apa kau bisa membuat makanan?"
"..."
Hening.
Tak ada suara. Le Fay tak terlihat akan mengatakan sesuatu untuk membalas perkataan Naruto barusan. Wajahnya juga terlihat membeku.
Hal itu membuat Naruto bingung, "Le Fay?"
Namun dia belum menjawab.
Ada perasaan merinding pada Naruto mengetahui hal ini, 'apa yang terjadi padanya? Apa aku merusaknya," batin Naruto konyol. Kalau bisa dibilang, satu-satunya yang rusak disini adalah otaknya.
Naruto membawa tangannya berjalan ke arah dahi Le Fay untuk mengira Le Fay baik-baik saja. Namun tak sampai tangan itu menyentuh, Naruto bisa melihat bahu Le Fay tampak naik turun dengan cepat. Sebuah suara yang mencoba ditahan juga tedengar.
"Hihihihi!" selanjutnya suara itu sudah tak lagi dapat di tahan dan dengan jelas tawa geli Le Fay menggema di seluruh tempat itu.
Keringat jatuh dibelakang kepala Naruto. Dengan ragu dia mencoba memanggil gadis di depannya.
"Le Fay. Waras?"
"Um!" Le Fay mengangguk manis. Hal aneh yang Naruto pikir ada yang salah dengannya. Le Fay lalu menatap Naruto dengan senyum cerita, "maafkan aku. Aku hanya hanya terkejut dengan hal yang terjadi."
'Whooh, kau tidak akan tahu bagaimana aku yang lebih terkejut melihatmu seperti setan kesurupan,' batin Naruto. Entah bagaimana angannya? Jika manusia biasanya kesurupan oleh setan, lalu setan kesurupan sama siapa coba?
"Kalau begitu, ayo kita makan," mengatakan itu, lingkaran cahaya tercipta di tanah di depan Le Fay. Lalu ketika lingkaran sihir itu bergerak menuju ke atas, apa yang keluar disana adalah seperlengkap meja dapur beserta kompor dan bahan-bahan makanan.
Le Fay berdiri di depan meja tersebut. Dia atas meja tersebut terdapat sebauh celemek yang dia ambil lalu ia gunakan pada tubuhnya. Dia lalu mengambil sebuah pisau, kemudian berbalik dan menatap Naruto dengan sebuah pose gadis rumah tangga. "Kau ingin aku memasakan apa untukmu, Naruto-kun?"
Karena normal, tentu hal yang dilakukan gadis cantik seperti Le Fay barusan membuat pipi Naruto memerah. Jika dia mendiskripsikan penampilan Le Fay saat ini, dia pasti akan mengatakan, manis. Sangatlah manis. Dengan kostum penyihir yang dirangkap celemek.
Le Fay hanya tersenyum sebagai tanggapan pipi Naruto yang memerah.
.
O.o
.
"Bikou, dimana Naruto-chin?" Kuroka yang melihat Bikou tiba-tiba datang dari belakangnya tanpa Naruto bertanya begitu.
Hal itu lantas membuat Irina juga langsung menoleh, dan menatap Bikou.
Membuat dirinya tak sampai dicurigai, Bikou menjawab pertanyaan tadi santai, "katanya ada yang harus dia periksa. Dia menyuruh kita untuk pergi duluan."
"Kenapa dia pergi sendirian?" tanya Irina. Wajahnya terlihat khawatir.
"Masalah yang dia kerjakan tidak akan teratasi jika banyak orang yang bersamanya dengannya," ujar Bikou santai. Raut wajah Irina seperti tidak puas, melihat itu Bikou berusa mengalihkan perhatian. Dan sanganlah kebetulan dia melihat sebuah cahaya dari ujung lorong yang ia simpulkan; "lihat, itu jalan keluar."
Dengan begitu Bikou mengambil langkah lebih cepat dari yang lainnya. Yang lainnya sendiri yang mengetahui itu berusaha untuk mengikuti langkah Bikou.
Irina sendiri masih merenung berjalan di belakang. Perasaannya dirasa tak mengenakan saat Naruto tak ada bersamanya. Ini juga membuatnya sedih karena Naruto tak memberitahukannya apa-apa mengenai perihal kepergiannya.
Saat Irina tengah larut dalam pikirannya, Þorkell yang tadi berada di depan datang menghampirinya, "Irina-san, ada apa?"
"Mm? Tidak ada. Aku hanya berpikir apa yang sedang dilakukan Naruto-kun saat ini."
Mendengar itu, sekilas terlihat raut wajah Þorkell mengalami perubahan. Raut wajah itu susah diartikan. Namun setelah itu dia menampakkan senyuman, "tak perlu khawatir, aku yakin Naruto-san baik-baik saja."
"Um. Aku juga berharap begitu."
"Kalau begitu, ayo kita segera menyusul yang lainnya."
Irina mengangguk atas ajakan Þorkell. Dengan begitu mereka manambah kecepatan pada langkah mereka dan segera menyusul Bikou dan Kuroka yang berada di depan.
Saat mereka keluar, apa terlihat adalah sebuah tanah lapang yang di ujungnya terlihat rumah-rumah pemukiman yang berjejer memenuhi ujung pandangan mereka.
"Kita sudah hampir sampai," begitu Irina dan Þorkell berhasil menyusul Bikou dan Kuroka, mereka langsung di sambut perkataan Bikou tadi.
Tak sengaja pandangan keempat orang itu melihat gerombolan yang terdiri dari tiga orang, berjalan tak jauh di depan mereka dengan arah ke kota.
Mereka semua mengetahui siapa gerombolan itu.
"Vali!" panggil Bikou. Gerombolan itu adalah gerombolan dari Vali, Sasuke, dan Arthur.
Ketiga orang itu menoleh pada seseorang yang memanggil nama salah satu anggota mereka.
Tanpa menunggu balasan dari Vali dan lainnya, gerombolan Bikou langsung berlari mendekat ke tempat mereka berada.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi," ujar Bikou begitu mereka sampai.
"Kalian baru saja keluar dari labirin tadi?" tanya Arthur.
"Yah, begitulah nyan," balas Kuroka.
"Jadi labirin itu membuat kalian sampai sini. Kalian tahu, tempat ini adalah sisi pulau bagian timur. Dengan kata lain, kalian baru saja berputar untuk sampai kesini."
""Yang benar saja?!"" ujar Bikou dan Kuroka serempak. Perasaan jengkel muncul dalam hati mereka ketika mereka mengetahui bahwa mereka baru saja dibuat untuk melakukan perjalanan doble. Mereka bersumpah akan memukul wajah siapa saja orang yang telah membuat labirin itu.
Disisi lain, Sasuke yang sedari tadi diam, matanya terlihat melirik-lirik seperti mencari sesuatu, "dimana Naruto?"
"Dia sedang mengurus beberapa hal. Sebentar lagi dia pasti akan menyusul kita," Bikou yang menjawab. Dia licik _
Bagi Sasuke, itu sesuatu yang ganjal. Tapi dia percaya pada Naruto, apapun yang terjadi padanya dia pasti bisa mengatasinya.
"Kalau begitu, ayo kita kembali berjalan," untuk kesekian kalinya Bikou mencoba mengalihkan perhatian. Tanpa menunggu tanggapan dari rekan-rekannya, dia langsung melangkah duluan ke tujuan pusat kota.
.
O.o
.
Setelah berjalan untuk waktu beberapa saat, Vali dan lainnya kini telah sampai ke pusat kota. Ada perasaan seperti kedatangan mereka sedang ditunggu, karena itulah Sasuke menyarankan sebuah strategi untuk meningglakan dua orang untuk bergerak secara bersembunyi dibelakang mereka. Dan yang terpilih adalah Irina dan Þorkell.
Sesaat setelah strategi telah mereka mulai laksanakan, kelompok mereka tiba-tiba telah dikepung oleh sejumlah besar pasukan mulai dari Viking, penyihir, dan prajurit abad pertengahan.
Tiba-tiba dari salah satu bagian, pasukan itu membuat sebuah jalan, dengan mereka yang menepi dikiri dan kanan. Selanjutnya seseorang paruh baya yang memiliki tubuh kekar setinggi 3 meter, dan mengenakan topi besi berbentuk kerucut dan jubah berbulu datang sambil membawa sebuah kapak di tangan kirinya.
"Jadi kalian penyusup yang telah mencuri simbol pulau kami," ujar sosok itu.
"Siapa kau?" tanya Sasuke mewakili seluruh kelompoknya.
"Aku adalah pemimpin pulau ini. Namaku Leif Eriksson."
"""""Hingga dinga dorgen!"""""
Sesaat saat sosok itu memperkenalkan diri, semua pasukannya tiba-tiba meneriaki perkataan aneh yang sama sekali tak bisa diartikan dalam kekuatan penerjemah iblis maupun malaikat. Dan yang pasti, itu bukan bahasa spanyol.
"Jadi kau pemimpinnya. Kalau begitu ini akan lebih mudah, kami ingin mengadakan pertukaran," ujar Sasuke. Hal ini sebenarnya adalah rencana Naruto sebelumnya. Karena musuh mengira mereka memiliki apa yang musuh cari, hal itu bisa dibuat sebagai penawaran. Dan sesuatu telah mereka siapkan.
"Kami ingin menukarkan apa yang kau cari dengan adikku," ujar Arthur.
Leif Eriksson menatap Arthur yang tadi berbicara. "Begitu, jadi kau adiknya. Kalau begitu baiklah. Mana simbol pulau kami?"
"Sebelumnya, kami ingin kalian memperlihatkan Le Fay dan menjaminnya dalam keadaan baik-baik saja sekarang," perkataan Arthur terdengar dingin.
Beberapa saat Leif Eriksson terlihat berdiam diri. Hal itu membuat kecurigaan muncul pada kelompok Arthur dan lainnya. Dia lalu akhirnya berkata, " baiklah." Dia kemudian memberikan tanda pada anak buahnya.
Dengan begitu beberapa dari Viking datang sambil membawakan sebuah kurungan yang ditutupi kain. Dari celah kain, dapat Arthur dan lainnya lihat sebuah rambut pirang yang mereka langsung menyimpulkan itu adalah Le Fay.
"Sekarang mana simbol pulau kami?" tanya Leif Eriksson.
"Baiklah. Bikou kuserahkan padamu," ujar Bikou sebelum dia membalikan badannya pada teman-temannya. Sejenak saat dia kembali ke belakang, matanya tampak memberikan tanda pada Sasuke.
Melihat Arthur telah pergi, Leif Eriksson kemudian mengarahkan tatapannya pada Bikou yang maju ke depan. Di tangan yokai satu itu, Leif Eriksson dapat melihat sebuah koper yang dia kira tempat mereka menaruh simbol pulau mereka.
Bikou dengan berani menghadap pada pemimpin dari pulau ini. Dengan sebuah koper yang entah dia dapat dari mana, Bikou membuat efek dramatisir saat dia memasukan tangannya ke dalam koper.
Semua manusia fantasi tampak tegang melihat apa yang dilakukan Bikou.
"Kuserahkan pada kalian. Baling-baling bambu!" teriak Bikou setelah dia menarik kembali tangannya.
Mata semuanya terpaku pada tangan Bikou, dimana dia mengacungkannya ke atas dengan jempolnya yang diapit oleh jari telunjuk dan jari tengah.
Hal itu lantas membuat keadaan hening.
"Apa maksudmu semua ini?! Dimana Simbol pulau kami yang kalian bawa?" Leif Eriksson menghilangkan keheningan dengan amarahnya.
"Kau tahu, kami tidak memiliki apa yang kau cari. Apa yang pernah kami ambil di tempat ini hanyalah pakaian dalam yang kami buat untuk mengelap kacamata orang di sana," ujar Bikou sambil menunjuk seseorang di tengah kelompoknya yang sedang mengumbar aura hitam dari wujud nafsu membunuhnya. Apa yang dikatakan Bikou tadi mengingatkan laki-laki itu pada traumanya.
"Selain itu," Sasuke masuk dalam percakapan, "kalian juga menipu kami." Dia memperlihatkan seseorang yang berada dibelakangnya. Seorang gadis berambut pirang yang sama sekali tak dikenal satupun dari kelompok Vali.
"Bagaimana bisa?" Leif Eriksson menampakkan wajah terkejut. Dia lalu membuka kain yang menutupi kurungan raksasa di sampingnya. Dan yang berada di sana adalah sebuah boneka dari daun yang terlihat identik dengan seorang gadis dan memiliki rambut jerami berwarna kuning.
"Yang berada dalam kurungan itu bukanlah Le Fay, melainkan wanita ini," ujar Sasuke.
Ternyata masing-masing dari kedua belah pihak telah memiliki rencananya masing-masing.
Apa yang dilakukan Sasuke sebenarnya adalah strategi yang disusun oleh Naruto sebelumnya. Dimana Naruto membuat boneka Le Fay untuk menggantikan Le Fay yang asli. Dengan menggunakan mata kirinya Sasuke membuat hal itu terjadi.
Choku Tomoe Rinnenggan yang dimiliki Sasuke, mempunyai kemampuan spesial, yang pada dasarnya itu bukanlah berpindah tempat ataupun teleport, melainkan 'menukar'. Dia bisa menukarkan tubuhnya dengan suatu obyek untuk berpindah tempat, ataupun memindahkan obyek yang dilihatnya dengan obyek yang dipegangnya. Semuanya terdengar mirip, namun itu berbeda.
Namun meskipun rencananya sukses dilaksakanan, namun apa yang Sasuke dapat bukanlah apa yang menjadi tergetnya.
"Dimana kalian menyembunyikan Le Fay?" tanya Arthur dengan suara tajam.
Leif Eriksson tak menjawab pertanyaan yang diajukan Arthur. Tentunya dia tak mungkin mengatakan "Gadis itu telah kabur." Tentunya tidak mungkin. Sudah sejauh ini dia bisa menahan pola permainan, dimulai menemukan solusi akan kehilangan tahanannya, dia memakai sellirnya untuk menggantikan posisi tawanan di kurungan. Setelah semua yang dilakukannya itu tak mungkin Leif Eriksson mengatakan berita bahwa tawanannya telah kabur. Selain itu akan membuat musuh-musuhnya pergi karena telah kehilangan tujuannya kemari, itu juga membuatnya kehilangan kesempatan akan menemukan simbol pulau yang dicuri.
"Aku baru akan menyerahkannya pada kalian ketika menyerahkan simbol pulau kami," ujarnya.
"Kami tidak pernah membawa barang yang kalian maksud, nyan," Kuroka mencoba ikut membantu menjelaskan.
"Sudahlah, sebaiknya kita atasi ini dengan pertarungan," ujar Vali angkuh. Usulan yang memang Cuma itu yang ada dalam pikirannya.
"Biar aku saja yang mengatasinya," mengatakan itu, Arthur mengambil satu langkah ke depan.
Leif Eriksson mengerti akan maksud dari tindakan pemuda berkacamata itu. Banyak dari anak buahnya yang mengambil langkah di depannya seperti mencoba menjadi penjaganya. Namun Leif Eriksson memberikan tanda dengan tangannya, membuat orang-orang itu kembali ke posisinya. Dia lalu mendekat.
Dengan begitu kini Leif Eriksson saling berhadapan dengan Arthur.
Tak main-main Arthur langsung mengeluarkan pedang utamanya. Pedang suci terkuat, pedang yang berada ditingkat yang lebih tinggi dari pedang suci Excalibur dan Durandal...
"Bersinarlah, Caliburn."
Saat Arthur melepas Caliburn dari dimensinya, cahaya menyilaukan dan tekanan suci yang luar biasa terpancar hingga terasa ke seluruh pulau. Sesuatu seperti itu bisa melenyapkan iblis kelas rendah hanya dengan tekanannya. Bahkan ada dari beberapa sekawanan Viking yang mulai merasa tak tahan akan tekanannya, tubuh mereka seperti dipaksa untuk berlutut saat itu juga.
Tak ada raut perubahan saat Leif Eriksson melihat semua itu. Dia bahkan terlihat santai akan semua itu. Dari tangan kirinya sebelumnya telah ada Kapak batu raksasa, dia lalu kini mengeluarkan sebuah pedang dari sarungnya yang berada disamping pinggangnya. Dua senjata dalam genggamannya. Namun senjata itu bahkan tak terasa memiliki energi apapun.
Hal itu tidak membuat Arthur menurunkan kewaspadaannya. Niat meremehkan tidak sama sekali terpintas dipikirannya, Arthur berpikir tak mungkin seorang pemimpin dipilih tanpa adanya sesuatu yang spesial, dia yakin masih ada yang disembunyikan dari lawannya tersebut.
Selagi Arthur berpikir, Leif Eriksson terlihat melakukan suatu pergerakan. Membuat kuda-kuda semi kanan, Leif Eriksson membawa semua senjatanya disamping wajahnya dengan posisi menyilang.
"Sryser Hem Vasjonen lark."
Tiba-tiba hawa disekitar berubah menjadi dingin. Dingin sekali seakan kutub selatan baru saja di teleport di tempat itu. Setelah hal itu, dari tempat Leif Eriksson berdiri, es mulai merambat cepat hingga kini membekukan seluruh pulau.
Saat es itu merambat, dengan reflek, semua telah memasang pertahanan dengan kemampuan mereka masing-masing. Namun pertahanan yang bisa bekerja hanya milik beberapa orang. Sasuke dengan kerangka susano'onya, Kuroka dengan api pensucian berwarna biru yang melingkari tempatnya, dan Bikou yang memasang kekkai senjutsu di depannya. Vali yang melihat pertahanannya tak bekerja segera mengeluarkan sayap cahayanya dan terbang ke udara, menghindari es yang merambat melewati tempatnya.
Hal itu juga terjadi pada Arthur, kekuatannya tiba-tiba tidak bisa dia gunakan. Tekanan suci yang tadi meledak dari pedang Caliburnnya hilang seketika, dan membuat pedang itu tak lebih dari pedang biasa. Dengan itu, Arthur melompat sesaat untuk menghindari es yang merambat melewati tempatnya.
Kuroka yang melihat apa yang diperbuat Leif Eriksson pada pulau ini sempat tercengang, "orang tua ini baru saja membekukan seluruh pulau."
"Ini bukan hanya sekedar membekukan pulau, orang ini juga membekukan kekuatan iblisku," ujar Vali. Dari yang Vali simpulkan, penyebab dia tidak bisa mengaktifkan lingkaran sihir pertahanan tadi adalah pengaruh karena es-es ini. Es ini menjadikan tempat ini seperti menolak semua kekuatan yang ada. Tapi hal yang mengganjal bagi Vali adalah, kekuatan naganya masih baik-baik saja, lalu ada kekuatan Sasuke, Kuroka, dan Bikou yang terlihat tidak ada yang berpengaruh.
Arthur yang mendengar perkataan Vali mengatakan ini padanya, "sepertinya apa yang kau katakan itu benar. Aku sekarang merasa telah kehilangan kekuatanku."
"Khu khu khu," Leif Eriksson tertawa dengan seringainya, "inilah kekuatan yang kumiliki, kekuatan ini memiliki elemen es. Dan ini adalah salah satu dari tiga wujud dalam pengendalian tertinggi pembekuan. Sryser hem Vashjonen lark. Ini biasa disingkat ShemVhak!"
Keringat jatuh dibelakang Arthur dan lainnya.
"Kau benar-benar tidak pandai memberikan nama," ujar Arthur. Yang lainnya mengangguk setuju atas perkataan Arthur barusan.
"Huh, nama tidaklah penting. Yang terpenting adalah kemampuannya. Teknik ini membekukan sekitar sampai wujud kekuatan dari orang yang berada dalam jangkuannya. Tapi sepertinya beberapa dari kalian ada yang memiliki lebih dari satu energi."
"Jadi itu sebabnya," perkataan Leif Eriksson barusan menjelaskan pertanyaan dalam hati Vali. Itulah sebabnya kenapa dia tidak bisa menggunakan kekuatan iblisnya. Kekuatan iblisnya telah dibekukan sebelumnya, dan yang tersisa padanya hanyalah kekuatan dari Divine Divinding miliknya.
Begitupun dengan Sasuke dan lainnya. Karena status Sasuke adalah iblis, kekuatan yang selalu aktif dalam dirinya adalah demonic power, sedangkan kekuatan miliknya yang berupa cakra aktif jikalau dia ingin mengaktifkannya. Sama halnya dengan Sasuke, Kuroka yang statusnya iblis memiliki kekuatan yang aktif utama adalah demonic power, sedangkan Youjutsu yang dimilikinya itu memiliki tempat berbeda sehingga energi itu tak terkena pembekuan. Bikou sendiri saat ini kekuatannya memang dibekukan, energi utama dari yokai adalah youjutsu, namun dia kini tidak memakai itu, kekuatan yang sedang dipakainya adalah energi dari luar, dengan kata lain, senjutsu.
Namun beda halnya dengan mereka. Arthur adalah seorang manusia, kekuatannya hanya sebatas ki yang sedikit lebih dari manusia normal pada umumnya. Dan kekuatan yang diandalkannya adalah kekuatan dari pedangnya, yakni kekuatan kudus dari Caliburn. Tapi, baik kekuatannya ataupun Caliburn kini telah menghilang. Dia sekarang tak lebih dari pendekar pedang biasa.
"Kau tak memiliki kesempatan menang melawanku," ujar Leif Eriksson dengan angkuh. Dengan itu Leif Eriksson menciptakan tombak-tombak es di sekitarnya, yang dia bidikan di tempat Arthur berada, "RASAKAN INI!"
Tombak-tombak es itu meluncur cepat.
Cntlang! Cntlang! Cntlang! Cntlang!
Semua tombak-tombak es itu terpental ketika suatu energi halus bertemu untuk menghalanginya. Senjutsu yang tercipta dari udara kosong yang dilakukan oleh sosok raja kera yang kini berada di depan Arthur.
"Aku akan ikut bermain denganmu."
"Huh," Arthur mendengus mendengar perkataan Bikou, "aku harap kau tidak menghambatku."
"Itu juga berlaku untukmu," balas Bikou. Mereka berduapun memasang kuda-kuda mereka dengan senjata mereka masing-masing yang mereka acungkan pada lawan.
Leif Eriksson menatap kedua orang di depannya dengan ekspresi yang masih angkuh, "tak ada yang akan berubah walaupun kalian melakukan itu bersama."
"Banyak bicara kau!" mengatakan itu, Bikou melompat sambil menghantamkan Ruyi Jingu Bang secara vertikal ke arah Leif Eriksson.
Tring!
Leif Eriksson menahan serangan itu dengan menggunakan pedang yang berada di tangan kanannya. Menggunakan tangan kiri, Leif Eriksson mengayunkan kapaknya ke samping tubuh Bikou yang berada di udara.
Menggunakan pedang Leif Eriksson sebagai tumpuan, Bikou menekan tongkatnya untuk mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya dia kembali mengudara dan membuatnya selamat dari kapak yang terayun dari sampingnya.
"Memanjang!" di udara, dengan posisi tubuh terbalik, tongkat Bikou yang dia buat dengan gaya berada dipunggungnya tiba-tiba memanjang dengan sasaran wajah Leif Eriksson.
Leif Eriksson memiringkan kepalanya,
BOOUUM!
Tanah berguncang ketika tongkat itu menghantam tanah yang telah menjadi es itu, retakan besar juga tercipta sebagai dampak. Meskipun begitu, Leif Eriksson tetap masih bertahan di tempatnya. Menggunakan pikirannya Leif Eriksson menciptakan sejumlah tombak es yang bidikannya telah terkunci pada Bikou yang berada di udara. Tanpa ada jeda setelah penciptaan, tombak-tombak itu melesat. Semua tempo yang terjadi begitu cepat.
Cntlang! Cntlang! Cntlang! Cntlang!
Diposisi yang berada di udara, Bikou menangkis semua tombak itu dengan memutar-mutar tongkatnya, setiap gerakan putarannya sangatlah cepat dan lihai seperti tongkat itu merupakan bagian dari tubuhnya.
Dari situ Arthur melesat sambil melakukan tebasan horizontal.
Tring!
Leif Eriksson menahannya dengan menggunakan pedangnya. Semua tempo yang terjadi sungguhlah di waktu yang cepat, karena itulah saat ini status dari kepak yang berada di tangan kirinya kini baru saja dia tarik setelah menyerang Bikou sebelumnya. Dengan itu Leif Eriksson menggunakan apa yang masih tersisa, dengan kaki, dia berusaha memberikan tendangan ke Arthur.
Arthur menghindar, dan dia kembali melakukan tebasan.
Kapak milik Leif Eriksson telah kembali leluasa dalam kuasanya, menggunakan itu dia menghantamkan pedang Arthur membuat serangannya membelok. Lalu pedang yang berada di tangan kanannya dengan cepat melakukan tusukan yang mengarah pada dada.
Arthur menjauh. Namun kini dia dikejar oleh es-es runcing yang tiba-tiba tumbuh dari tanah. Arthur menebas setiap es yang menyerangnya dengan gerakan cepat dan hati-hati hingga membuat es-es itu pecah menjadi serpihan.
Tap
Bertepatan dengan Arthur yang telah memberikan jarak pada Leif Eriksson, Bikou mendarat di sampingnya.
"Meskipun tubuhnya besar, dia juga cukup lincah," ujar Arthur mengenai analisa pertarungan yang telah dia jalin tadi.
Bikou mengangguk, yang artinya dia setuju, namun anehnya wajahnya menampakkan seringai, "dia sungguh hiburan yang menarik."
"Apa hanya itu yang bisa kalian berikan padaku?" tanya Leif Eriksson dengan angkuh.
"Huh, kau sendiri belum bisa melakukan serangan yang berarti bagi kami," Bikou membalasnya dengan nada memperolok.
"Jangan sombong, nak. Kau sekarang berada dalam wilayahku. Membuatmu mati saat ini juga itu sangatlah mudah."
"Apa kau hanya bisa berbicara? Jika memang kau bisa melakukannya, kenapa kau tidak melakukannya?"
"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu." Setalah mengatakan itu, Leif Eriksson kini merubah posisi kuda-kudanya.
Arthur dan Bikou hanya mempertegas kuda-kudanya, sebagaimana mereka yang kini tengah bersiaga akan apa yang datang.
Tiba-tiba Arthur dan Bikou merasa mereka tak bisa mengangkat kaki mereka. Ketika mereka melihat ke bawah, tanah yang telah menjadi es tempat mereka berpijak itu mulai membuat es-es itu merambat pada kaki mereka dan membekukan pergerakan mereka. Semakin lama kini es itu telah mencapai paha mereka
Leif Eriksson dengan cepat bergerak ke tempar mereka. Melihat hal itu, Bikou meledakkan sejumlah besar senjutsu pada kakinya dan membuat es-es itu pecah, dan dia melompat sebelum Leif Eriksson datang padanya.
Leif Eriksson datang, dan yang di depannya hanya Arthur seorang. Dengan pedang di tangan kanannya dia melakukan tebasan vertikal yang dia arahkan pada kepala Arthur.
Triing!
Arthur menahan pedang tesebut dengan pedangnya. Tenaga dari yang dipakai lawannya sangatlah besar membuatnya harus menggunakan kedua tangannya dimana tangannya yang satu menumpu pedangnya pada sisi tumpul pedang tersebut.
Tak sampai disitu, menggunakan tangan kirinya Leif Eriksson mengayunkan kapaknya di tempat pedangnya dan pedang Arthur saling bersilangan. Hal itu membuat beban yang diterima Arthur menjadi tak teratasi.
BOOUUM!
Bagaikan serangan hantaman, tubuh Arthur membentur bumi tempatnya berpijak dengan sangat keras bersamaan dengan guncangan hebat yang menggetarkan seluruh pulau. Bahkan tubuhnya kini lengket dalam retakan raksasa yang ditimbulkan. Dengan itu Arthur telah tumbang.
Satu lawannya yang masih tersisa adalah Bikou yang kini telah memposisikan dirinya ditempat yang berbeda dengan sebelumnya. Dia berada di udara dengan awan emas yang melayang sebagai pijakannya. Bikou berpikir, jika dia masih berpijak pada es-es yang berada di daratan, pergerakannya pasti akan terkunci untuk kedua kalinya. Maka dari itu, tempat paling aman sekarang adalah di udara.
Sasuke yang melihat itu semua berkata pada Kuroka yang berada di sampingnya, "naa, bukankah sekaranglah waktunya kita membantu mereka?"
"Yah, kita harus membantu mereka. Orang ini terlalu kuat untuk mereka hadapi," Kuroka lalu menghadap Vali yang berada di udara, "Vali!"
Vali mengangguk mengerti akan tatapan yang diberikan Kuroka. Dengan itu pecahan-pecahan cahaya biru merambat cepat membungkus tubuhnya dan akhirnya sosok Vali kini hadir dalam armor Vanishing Dragon. "Kita lakukan," ujarnya.
Kuroka dan Sasuke mengangguk.
Namun saat itu sebuah teriakan cempreng menusuk setiap telinga makluk yang ada di sana.
"WOY! DIMANA KAU PRIMATA BERBULU SIALAN?!"
Itu Naruto, yang berlari dengan gaya seorang satpam yang sedang mengejar maling. Seluruh tubuhnya aktif akan energi senjutsu dan mode Kyuubi yang dia gunakan untuk mencari orang yang telah meninggalkannya tenggelam dalam reruntuhan.
"Naruto-kun!" Irina yang sedari tadi bersembunyi langsung berdiri dengan wajah terkejut.
"Si bodoh itu, dari mana saja dia?" ujar Sasuke.
Naruto tidak sendirian. Jauh dibelakangnya ada Le Fay yang berjalan sambil tersenyum malu akan tindakan Naruto.
""Le Fay?!"" ujar Bikou dan Kuroka serempak mengetahui orang yang dicari-cari kini muncul bersama Naruto.
Leif Eriksson sendiri yang melihat Naruto tiba-tiba berlari masuk ke dalam medan pertempurannya nampak menaikan alisnya. Namun mengambil semua itu acuh, dia kemudian berkata sambil berlari untuk menyerang Naruto, "siapa kau bocah?!"
Tanpa ada niat berhenti berlari, begitu Naruto bertemu dengan Leif Eriksson Naruto langsung melompat dan mengayunkan tangan kanannya dengan arah keluar, "MINGGIR KAU!"
BUAG!
BOOUUUM!
Kepalan tangan Naruto mengenai kepala Leif Eriksson dan menghempaskannya tanpa halangan. Leif Eriksson tak bisa mengikuti akan cepatnya Naruto melakukan semua itu. Kuroka, Bikou dan semua pengikut Leif Eriksson yang melihatnya matanya melotot tak percaya seperti mata mereka ingin keluar dari tempatnya.
Tidak mempedulikan semua itu, Naruto yang telah menemukan dimana Bikou berada segera melompat dan berpijak di awan emas yang sama di tempat Bikou berada. Sambil mencekik leher Bikou dan menggoyang-goyangnya, Naruto berkata dengan kesal, "Brengsek! Beraninya kau menjatuhkanku lalu meninggalkanku seenak jidatmu sendiri!"
Menyampingkan ketidakpercayaannya, Kuroka yang melihat ulah Naruto saa ini sweatdrop di tempat. Tak ada bedanya dengan Kuroka, teman-temannya yang lainnya juga kurang lebih sama dengannya. Namun mengingat situasi yang sedang terjadi, Kuroka memutuskan untuk menginterupsi Naruto.
"Hey Naruto-chin, musuhnya masih banyak, tahu."
"Huh?!" masih dengan tangannya yang mencekik leher Bikou, dengan tatapan kesal yang sedari tadi terpasang Naruto menoleh ke tempat kerumunan orang-orang yang merupakan pasukan dari Leif Eriksson.
Namun yang saat itu Naruto lihat adalah, orang-orang disana kini berdiri terpaku di tempat mereka sambil beberapa dari mereka ada yang mengibarkan kain putih dari baju mereka yang dipasangkan pada sebuah ranting, bendera putih tanda mereka menyerah.
"Kami menyerah." ujar salah satu dari mereka.
Untuk kedua kalinya Kuroka dibuat sweatdrop melihat hal yang terjadi.
""Hah?"" Sasuke dan Vali yang melihat itu hanya bisa memandang semua itu dengan mata setengah terbuka.
Sedangkan Irina yang bersembunyi, melihat hal itu dia memutuskan untuk keluar bersama dengan Þorkell.
Es yang saat itu menyelimuti pulau itu seluruhnya, kini perlahan mencair, bukti dari kekuatan penggunanya yang melemah.
Leif Eriksson bangkit perlahan dari tempatnya menghantam. Serangan tadi berasa sekali meskipun tidak terlalu parah. Namun serangan itu tetap saja membuatnya agak susah berdiri.
"Aku tak akan membiarkan kalian lolos," ujarnya dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
Kuroka yang mendengarnya berkata, "hey, behentilah melakukan ini. Kau tahu, semua pengikutmu sudah tidak mau lagi melanjutkan pertarungan."
"Aku tidak peduli. Kalaupun pendudukku sendiri telah kehilangan kepercayaan mereka akan simbol pulau ini, maka aku tetap akan teguh dengan apa yang kupercayai," perkataan Leif Eriksson terdengar mantab dan penuh keyakinan, sebagaimana apa yang dikatakannya.
"Kau ini, keras kepala sekali sih," ujar Kuroka dengan wajah mendesah, "selain itu, kenapa kau berpikir kami yang membawa barang berharga yang kau sebutkan itu?"
"Simbol itu hilang bertepatan dengan kepergian kalian dari pulau ini. Itu tentunya tidak mengherankan bila pelakunya adalah kalian."
Vali turun dari udara dan mendarat tepat di samping Kuroka, "cepat bunuh saja dia. Aku sudah mulai muak dengan ocehannya," ujarnya.
"Yah, lagian dia sekarang sudah cukup terluka, dan kita telah mendapatkan kekuatan kita kembali," ujar Kuroka. Setelah itu, dia menjentikan jarinya santai. Tiba-tiba sebuah simbol sihir berbentuk segi delapan dengan nuansa china muncul dibelakangnya. "Dengan ini, sebaikanya kau cepat mati saja."
Namun saat Kuroka ingin melepaskan kekuatannya seseorang tiba-tiba berdiri di depan Leif Eriksson sambil merentangkan kedua tangannya seperti melindunginya. Orang itu adalah Þorkell.
"Hey, gaki. Jika kau tak menyingkir dari sana, kau juga akan ikut mati lho," Kuroka memberikan peringatan.
Tapi hal itu tidak dianggap oleh Þorkell.
Tiba-tiba Kuroka beserta Vali terperangah. Hal itu disebabkan karena Þorkell yang tiba-tiba membungkuk sembilan puluh derajat ke hadapan mereka. Tak hanya mereka berdua, sepertinya semuanya juga terperangah dengan apa yang terjadi. Bahkan Naruto yang saat ini masih mencekik Bikou tiba-tiba menoleh sebentar hanya untuk melihat.
Leif Eriksson yang melihat siapa sosok yang berada di depannya memiliki ekspresi lain yang lebih dari semuanya. Dia terkejut, sekaligus tercengang.
Masih dalam posisi menunduk, Þorkell berkata, "tolong ampuni ayahku."
Beberapa saat keheningan terjadi, sebelum...
""""Eeeeeh! Ayah?!""""
Teriakan terkejut itu hanya keluar dari Bikou, Kuroka, Naruto, dan Irina.
Itulah yang membuat Leif Eriksson terkejut sekaligus tercengang. Terkejut karena sosok yang berada di depannya itu adalah anaknya, dan tercengang karena anaknya mau menunduk dihadapan musuhnya.
"Þorkell, apa yang kau lakukan. Bagaimana bisa kau menunduk di hadapan musuhmu?" ujar Leif Eriksson.
Þorkell yang mendengar ayahnya berbicara padanya berbalik dan menatap ayahnya dalam-dalam, "ayah," panggilnya, "sebenarnya akulah yang mencuri simbol pulau kita."
Mata Leif Eriksson melebar mendengarnya, "apa maksudmu?! Kenapa kau melakukan itu?!"
Þorkell terdiam sesaat seperti dia berusaha mengumpulkan semua keberaniannya, "ayah. Sebenarnya..." ada jeda cukup lama yang dia buat untuk membuat suasana menjadi dramatisir, matanya menutup seperti dia berusaha mengatakan sesuatu dari lubuk hatinya. Dia lalu membuka matanya, "aku mendapat pesan, bahwa aku mungkin bisa bertemu dengan cintaku saat orang-orang ini datang kembali kemari."
"Apa kau bertanya padanya?" entah apa yang dibicarakan Leif Eriksson dengan anaknya, tapi yang pasti pembicaraan itu terlihat sangat serius.
"Yah, aku bertanya padanya, dan semua jawaban yang dia berikan telah terbukti. Aku telah menemukannya..." Þorkell berbalik dan mengacungkan jari telunjuknya pada seorang gadis berambut coklat kekuningan yang bergaya twintail yang berdiri sendirian di tempat yang cukup jauh dari tempat Kuroka dan Vali berada.
Gadis itu sendiri yang merasa di tunjuk tampak kebingungan, "Eh? Eh? Ada apa?" ujarnya kebingungan.
"Ayah, Dialah gadis yang kucintai."
""""...""""
,
,
,
""""HEEEEEEEEEH?!""""
Kembali Naruto, Bikou, Kuroka, dan Irina dibuat terkejut. Terlebih lagi Irina yang merupakan tokoh utama. Pipi Irina seketika saat itu memerah mendengar pernyataan tersebut. Hal itu sungguh membuatnya malu dalam alasan berbeda.
"A-apa maksudnya itu?" ujar Irina gelagapan.
Þorkell melangkahkan kakinya berjalan ke tempat Irina berada, setiap langkahnya terlihat tenang dan gagah.
Begitu dia sampai dia langsung berlutut bak pangeran sambil memegang salah satu tangan Irina.
"Irina-san, takdir telah mempertemukan kita. Setelah berkonsultasi dengan simbol pulau kami, aku diberitahukan bahwa perjalananku akan mempertemukanku dengan cintaku. Dan saat tadi, sewaktu aku bertemu denganmu, hanya dengan memandangmu aku langsung jatuh cinta padamu. Itu pertemuan yang tak terduga. Dan itu sebabnya aku mau mengikutimu bersama kelompokmu sebelumnya."
"A-apa-apaan itu. Kenapa kau sangat percaya dengan hal yang diberitahukan secara tidak pasti seperti itu," Irina berusaha mengelak.
Þorkell hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tenang akan perkataan Irina. Dia lalu kembali mendongkak menatap mata Irina, "Irina-san, kumohon jangan meragukan kekuatan simbol pulau kami. Simbol telah menjadi penuntun hidup bangsa kami sejak generasi ke generasi. Dia seperti dewa bagi kami."
Irina yang mendengarnya masih ingin membantah, "memangnya apa sebenarnya simbol kalian itu?" tanyanya. Wajahnya masih memerah sangat, apalagi sedari tadi Þorkell masih menyentuh tangannya dengan pose seorang pangeran.
Ada waktu beberapa saat untuk Þorkell terdiam, "baiklah. Karena kau akan segera menjadi bagian dari kami, sepertinya memberitahukan ini tidaklah masalah," sesaat Þorkell menengok ke belakang di tempat ayahnya berada. Seperti memberikan persetujuan, Leif Eriksson menganggukkan kepalanya pada tatapan anaknya. Þorkell kembali menatap Irina, "kau boleh terpukau. Kau boleh terpesona dan jatuh akan kemulyaan simbol kami. Kuperlihatkan, inilah Kulit kerang ajaib!"
"KULIT KERANG AJAIB! WOLOLOLOLO!"
Saat Þorkell mengeluarkan sebuah kulit kerang berwarna biru dari belakang bajunya, semua seisi pengikut Leif Eriksson menggemakan suara penghormatan.
Dan hal itu spontan membuat Naruto, Bikou, Vali, Sasuke, dan Kuroka terjungkal saat itu juga. Le Fay sendiri masih berdiri meskipun kini dengan keringat sebesar pantat sapi yang jatuh di belakang kepalanya.
Irina swetdrop dengan apa yang diperlihatkan pangeran gadungan di depannya, "apa mainan ini simbol yang kau maksud?"
"Ini bukan mainan Irina-san. Benda ini sangatlah berharga bagi kami. Dan benda inilah yang mempertemukan kita berdua," ujar Þorkell penuh rasa hormat.
Irina mendesah di tempatnya. Sesaat dia menoleh ke belakang, ke tempat dimana pemuda pirang yang melihat semua yang dilakukannya sekarang dengan tatapan penasaran. Irina lalu kembali membawa tatapannya ke depan. Dia memperlihatkan senyum manis pada Þorkell.
Hal itu membuat perubahan wajah Þorkell meningkat semakin cerah.
"Þorkell-san, maafkan aku. Aku menghargai perasaanmu padaku, tapi sepertinya aku belum siap dengan hal-hal seperti ini."
Raut cerah yang sempat berada di wajah Þorkell kini berubah menjadi raut kebingungan, "apa itu artinya... itu..." dia terlihat kesulitan mengatakannya, "kau... menolakku? Kenapa?"
Irina masih bertahan dengan senyumannya. Dia mengatakan semua perkataannya dengan nada yang begitu lembut, "maafkan aku ya. Ada banyak hal yang diperlukan untuk menerima pernyataan seperti ini. Tapi, untuk saat ini aku hanya bisa bilang aku tidak bisa."
Þorkell terpaku di tempatnya berlutut. Penolakan itu sebenarnya membuat hatinya sakit. Sakit seperti hatinya baru saja di remas oleh tangan transparan. Ini pertama kalinya dia merasakan yang namanya patah hati. Bertahan dari ini untuknya sangatlah sulit. Tapi, dia mencintai Irina. Tidak menghargai perasaannya tentunya bukanlah hal baik dilakukan kepada gadis yang dia cintai. Dia sediri tahu memang jika lamaran yang dia berikan itu terlalu cepat untuk orang yang baru ia temui, tapi dia hanya ingin jujur pada perasaannya.
Dengan menahan sakit pada hatinya, Þorkell memaksakan senyum meskipun terlihat masam. Dia ingin menghargai keputusan Irina, "kalau memang Irina-san, menolakku, aku tidak punya pilihan lain selain menghargainya."
Senyuman Irina melembut. Dia juga sangat menghargai ketegaran pada diri Þorkell.
"Tapi, bisakah aku meminta satu hal?" tanya Þorkell dengan wajah penuh harap.
Irina sendiri sih agak ragu, dia gugup berpikir kalau saja mungkin permintaan yang diminta Þorkell adalah permintaan yang aneh-aneh, tapi dia setidaknya ingin menghibur laki-laki itu, "yah... selama aku bisa, aku akan memenuhi permintaanmu."
"Terima kasih, Irina-san," ujar Þorkell dengan wajah penuh bersyukur, "kalau begitu, bisakah kau bertanya pada kerang ajaib mengenai hubungan kita? Aku ingin tahu apa aku masih memiliki kesempatan denganmu?"
"Eh? Y-ya bisa sih..." perkataan Irina terdengar agak ragu. Tingkahnya sendiri malah lebih terlihat seperti orang kikuk.
"Kalau begitu," Þorkell menunjukkan kulit kerang ajaib di hadapan Irina, "tolong kau tarik tali ini, lalu tanyakan pertanyaanmu, setelah itu lepas."
"Um, baiklah," Irina mengangguk. Kemudian dia menarik tali putih yang ada pada kulit kerang itu, "etoo... kerang ajaib, a-apakah suatu hari Þorkell-san akan ber... samaku?" tanyanya sembari menahan malu. Wajahnya memerah pada tingkatan dimana itu telah memenuhi seluruh kepalanya. Irina lalu melepas tali yang ditarikanya. Tali itu perlahan kembali ke tempatnya berada.
Dalam perjalan tali itu kembali, semua tampak menunggu dengan wajah tegang. Bahkan dalam tim Vali maupun Naruto dan kawannya, kini menunggu hal itu dengan tegang. Penduduk bahkan ada yang kini mulai berdoa agar pangeran mereka dapat menemukan jawaban yang memberinya sedikit kebahagian. Leif Eriksson sendiri entah bagaimana kini telah menyiapkan altar, sambil mulutnya yang komat-kamit dia menunggu jawaban itu dengan tegang. Namun dari semua itu, yang paling merasa tegang adalah Irina dan Þorkell. Tentunya tak aneh karena ini merupakan pertanyaan dari mereka.
Saat tali itu telah mencapai asalnya, suara mekanik terdengar,
[Mungkin suatu hari]
"""""PUJA KULIT KERANG AJAIB! WOLOLOLOLOLOLOLOLO!"""""
Suara meriah akan penghormatan terdengar hingga ke seluruh pulau. Kebahagiaan besar mereka dapatkan akan kesempatan yang diberitahukan Kerang ajaib.
Leif Eriksson menangis terharu di altar yang dibuatnya, sambil melemparkan sekumpulan kelopak-kelopak bunga perayaan. Dia merasa seperti telah sukses membesarkan anaknya.
Naruto dan lainnya lebih memilih untuk memberikan sekedar tepuk tangan untuk mereka.
Namun dari semua itu Þorkell lah yang mendapat kebahagiaan terbesarnya. Air mata haru berjatuhan akan kebahagiaannya yang di terimanya, "Irina-san, terima kasih. Ini pastinya merupakan berkah dari dewa asmara," ujarnya dengan senyuman.
'Kau yakin ini bukan kutukan?' dalam hati Irina membatin begitu. Dirinya agaknya sedikit merasa shock akan jawaban yang dia dengar dari mainan yang di anggap dewa oleh orang-orang disini.
Singkatnya, setelah kebahagiaan terjadi, kini para penduduk telah berbaris di belakang dari pemimpin mereka beserta anaknya. Di depan mereka kini berdiri Naruto dan kelompoknya yang Irina berada di depan dari mereka. Arthur sendiri yang masih terluka kini dibantu oleh Bikou dengan membopong melalui bahunya.
Semua ini dikarenakan akan terjadi perpisahan.
"Kapan-kapan, mampirlah kemari. Kedatangan kalian sangatlah diterima disini," ujar Þorkell sambil menatap orang-orang dihadapannya.
Beberapa dari orang-orang itu tersenyum, hanya untuk mereka yang memang bisa tersenyum. Naruto membalasnya sebagai perwakilan, "ooh! Kapan-kapan kami akan mampir."
"Monyet, kapan-kapan, ayo kita melanjutkan pertarungan kita," ujar Reif Eriksson pada Bikou.
"Aaah!" sahut Bikou, "lain kali, aku tidak akan kalah denganmu pak tua!"
Reif Eriksson mengangguk dengan senyuman.
Þorkell menatap Irina, "Irina-san, jika kau memiliki masalah, jangan ragu untuk mengatakannya padaku. Apapun itu aku pasti akan membantumu."
Irina hanya tersenyum canggung, "terima kasih, aku sangat menghargainya."
"Kalau begitu, kami akan pulang," ujar Naruto.
"Yah, berhati-hatilah di jalan," balas Þorkell.
Naruto dan lainnya pun berbalik, dan mulai berjalan pergi. Sambil berjalan mereka mendapat lambain tangan dari para penduduk disini, dan mereka membalasnya dengan ikut melambaikan tangan. Banyak dari Naruto dan lainnya maupun para penduduk itu yang tak menyangka semua ini berakhir dengan kedamaian, namun nyatanya hal ini terjadi. Berawal dari kesalahpahaman persahabatan tercipta.
.
O.o
.
"Haaah..."
Irina mendesah berat. Banyak hal yang terjadi yang membuatnya tak menyangka akan semuanya. Terlebih lagi pengakuan dari pangeran pulau ini tadi adalah yang membuatnya paling tidak menyangka. Dia bahkan tak merasa menampakkan daya tarik apapun pada seseorang selain Naruto, namun kenapa ada yang bisa jatuh cinta padanya.
Dan yang lebih membuatnya tak menyangka, kenapa Naruto tak melirik sedikitpun padanya saat dia sedang mengumbar daya tarik yang dirasa dimilikinya. Bahkan rasa tak menyangka itu telah berubah menjadi kesal, hal lain yang menyebabkannya adalah melihat bagaimana Naruto dengan cerianya sedang berdiri sambil berbincang-pincang dengan seorang gadis berambut pirang di depannya. Hal itu memunculkan perasaan aneh yang bersatu dengan kekesalan dalam dirinya. Entah apa perasaan ini, tapi yang jelas ini sangatlah tidak enak. Perasaan ini memicu keinginan Irina untuk menyingkirkan gadis itu menjauh dari Naruto sekarang juga. Namun dia tentu tak dapat melakukan itu semua, selain karena tentunya aneh untuk tiba-tiba melakukan hal itu, tapi juga karena dia tak merasa dapat melakukannya ketika dia mengetahui gadis itu merupakan bagian dari kelompok teroris yang saat ini bergerombol bersamanya.
"Haaah..." dia kembali menghela nafas. Ini sudah lima belas menit di tempat teleportasi mereka datang sebelumnya, tapi kedua remaja pirang itu belum mengakhiri pembicaraannya. Irina melihat ke sekeliling dan mengetahui yang lainnya terlihat melakukan aktifitas lain hanya untuk menunggu kedua orang itu selesai berbicara.
Irina menoleh pada Sasuke, "Sasuke-san, bisakah kau memanggil Naruto-kun untuk segera pulang."
"Aku juga punya pemikiran yang sama denganmu. Mau berapa lama lagi si bodoh itu berbicara dengan pacarnya."
Irina mengginggit bibirnya begitu dia mendengar kata 'pacar' dari Sasuke. Itu membuat rasa sakitnya bertembah nyeri untuk suatu alasan.
"Naruto! Cepatlah! Mau sampai kapan kau terus berbicara dengannya?!" ujar Sasuke kesal.
"Cih," Naruto mendecih dan menoleh pada Sasuke untuk sesaat, "mengganggu saja kau ini." Dia lalu kembali menatap Le Fay dan tesenyum padanya.
Le Fay juga ikut tersenyum, "sekali lagi terima kasih karena kau mau bersusah payah datang kesini dan membantu hanya untuk menyelamatkaku, Naruto-san."
"Tidak masalah. Jika kau perlu bantuanku lagi, tidak usah sungkan untuk memanggilku," ujar Naruto dengan ramah.
"Um! Dan ngomong-ngomong, Naruto-san, aku punya resep baru. Sebuah kroket. Aku akan memberi gula dibagian luar, agar kroketnya memiliki rasa yang manis."
"Begitu, kah? Aku akan selalu menyambut setiap masakan buatanmu."
"Sebelum aku memasukannya dalam menu perjalanan kelompok kami, bolehkah Naruto-san mencobanya terlebih dahulu?"
"Apa aku jadi bahan percobaan?"
"Ti-tidak bukan seperti," Le Fay tampak gelagapan.
"Hahahaha!" Naruto tertawa, "aku hanya bercanda."
Le Fay tersenyum. Perasaannya geli mengetahui dia sedang digoda oleh Naruto, "kalau begitu, aku akan membuatkanmu, saat kita bertemu nanti."
"Aku sangat menantikannya."
"Iya! Aku yakin rasanya akan sangat enak!"
"Dan Le Fay, ngomong-ngom-"
"Naruto! cepatlah!"
"Iya-iya!" Naruto menyahut Sasuke yang memotong perkataannya dengan kesal. Dia lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Le Fay, "kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi."
"Um!"
Dengan begitu Naruto berbalik, dan berjalan menuju tempat Sasuke dan Irina yang mendukungnya. Namun sebelum sampai ke sana, dia mendengar suara Vali dibelakangnya yang memanggilnya, "Naruto."
"Ap-"
BLAAAR!
Dan yang Naruto dapat adalah sebuah bulatan demonic power yang tepat mengenai perutnya. Ledakan besar diterimanya sebagai dampak dari kekuatan Lucifer itu.
Irina dan Le Fay yang melihat itu matanya melotot tak percaya. Hal itu tentunya membuat mereka terkejut separahnya.
"Itu untuk balasanku sebelumnya," ujar Vali. Hal yang dilakukannya itu adalah balasan dari serangan api yang dia terima pada Naruto sebelumnya saat di melawannya di bukit Kuoh.
Sasuke yang mendengarnya hanya mendesah, "sepertinya kau melakukan hal bodoh lagi saat aku tidak ada bersamamu," dia tahu mungkin hal ini terjadi adalah karena ulah Naruto sebelumnya. Seperti yang sudah di pahaminya akan sifat sahabatnya itu.
"Kalau begitu, sampai jumpa dipertarungangan kita selanjutnya," ujar Vali dengan senyuman. Sambil merentangkan satu tangannya ke atas, lingkaran teleportasi muncul dibawah setiap member timnya. Dengan bergeraknya lingkaran sihir itu ke atas, mereka semuanya telah menghilang pergi dari tempat mereka itu.
Naruto sendiri tepar di kawah besar tempatnya berada dengan matanya yang berputar-putar seolah kocak.
.
.
.
TBC
Maafkan aku. Chapter ini tercipta karena rasa sebel yang entah bagaimana tiba-tiba muncul.
Dalam dua hari ini, sekolah dibebaskan untuk para siswanya mengurusi nilai-nilainya yang kurang, dengan kata lain remidi. Dan karena aku tidak mendapatkan remidi, disekolah sepenuhnya aku menganggur. Jadi aku gunakan ini untuk wifi gratis di sekolah sambil mencicil beberapa tulisan.
Sebernya gak mood banget nulisnya, tapi seiring waktu hal itu mulai dinikmati. Namun saat itu berlanjut terus, tiba-tiba itu terhenti di karenakan aku yang lupa dengan chapter ini ingin aku buat apa(baru nulis -+ 500k). Kerangkanya yang sebelumnya aku kira ketinggalan di rumah ternyata hilang. Kan coeg banget itu. hal inilah yang buat aku kesal, dan sebel. Rasa kesal dan sebel membuatku menulisnya dengan pemikiran seadanya. Mood sebel membuat setiap kata dalam tulisan tidaklah bisa dinikmati, tapi tetap aku tulis dengan kecepatan wow akan kekesalan. Dan jeng-jeng, pulang dari sekolah tepat di waktu senja lalu, dan aku mengupdatenya sekarang.
Tapi terima kasih untuk kalian yang masih ingin membaca. Dan semoga ini tidaklah mengecewakan, karena jujur, selain karena nulisnya saat mood lagi sebel, aku mikirnya seadanya.
Meskipun hal di atas bisa dikategorikan hal buruk. Tapi aku juga akan mengumumkan hal baik.
Aku bisa melihat endingnya B-)
Sebelumnya aku hanya mengetahui tentang perjalanan Romance fic ini, tapi beberapa waktu lalu tak sengaja aku kepikiran dengan beberapa hal. Dan setelah disusun, aku telah mendapatkan ending yang pantas untuk fic ini. Advanture, sekaligus romancenya.
Fic ini akan berakhir di chapter 40-an. Apa kalian keberatan dengan chapter sebanyak itu?
Akan ada 4 Arch besar yang terjadi ke depan. Dua di antaranya merupakan Arch LN, sedangkan 2 yang lainnya ciptaan sendiri, bukan Made In China. (oups)
Dan tambahan, perkiraanku meleset sedikit. Pair sebenarnya akan dimulai dengan 2 chapter lagi, aku masih perlu mengembangkan beberapa hal.
.
Untuk balesan review non login, maaf pada chapter ini aku tak bisa membalasnnya. Yah tentunya karena salah satunya adalah faktor di atas, tapi selain itu, ini sudah sangatlah malam dan aku sangatlah capek untuk tetap terjaga.
Tapi apa yang bisa kukatakan sebagai balasan dari semua review itu intinya adalah 'Terima kasih banyak'. Tentunya semua review kalian kubaca dan aku hargai banget, dan itulah yang membuatku tetap bertahan.
Mungkin beberapa yang review login ada yang belum aku balas. Saat ada waktu nanti akan aku balas kok.
Sekali lagi terima kasih kalian mau terus mengikuti cerita ini. Apapun yang kalian berikan padaku, entah itu review, fav, foll, pm, dan lain semacamnya, itu semua sungguh membuatku tersanjung dan bersemangat.
.
.
Sampai jumpa di chapter depan.
