Chapter 11
4 Hari Kemudian.
Yifan terlihat gusar, duduk tidak tenang sambil berkali-kali mengecek arloji rolex kesayangannya hingga membuat setelan kemeja mahalnya terlihat kusut.
Pasalnya sudah hampir 3 jam ia duduk disana menunggu seseorang, namun seseorang yang di tunggunya sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya sedari tadi.
Ia menghela nafas, sudah habis kesabarannya- karena kemauan kedua orangtaunya ia harus merelakan waktu 3 jamnya yang baginya adalah uang terbuang sia-sia hanya untuk menunggu wanita yang tidak ia ketahui bagaimana rupa dan perangaiannya.
Sudah cukup- ia merapikan jasnya dan hampir berdiri meninggalkan restoran bintang lima tersebut jika sebuah suara tidak mengintrupsinya.
"XI YIFAN?"
Mendengar namanya di panggil dengan sopan ia memalingkan wajahnya menatap seseorang yang memanggilnya tersebut.
Seorang gadis cantik bertubuh jenjang dengan dress maroonnya yang membuatnya semakin tampak elegan.
"anda yifan? Putra tuan Xi-Lou?"
"ah emm, silahkan duduk nona-
"huang zitao- panggil saja aku tao" jawab wanita tersebut santai sambil mendudukkan dirinya di depan yifan.
"kau mau pesan sesuatu?" tawar yifan.
"tidak- aku rasa ini sudah cukup."Sebelumnya yifan memang sudah memesankan makanan.
"yifan, apa anda tahu untuk keperluan apa kita berdua ada disini?" yifan mengangguk.
"kedua orangtuaku ingin aku segera menikah, dan hanya kau yang mereka rekomendasikan untuk menjadi calon pengantinku," tao tersenyum kecut.
"baiklah tidak perlu berbasa-basi, apa kau menerimanya?"
"aku akan mencobanya, aku akan mencoba yang terbaik untuk perjodohan ini."
"kau gila? Kita bahkan tidak saling mengenal sebelumnya" intrupsi tao.
"oleh sebab itu aku katakan aku akan mencobanya, kau benar~ kita tidak saling mengenal, kita tidak saling mencintai- tapi ibuku berharap banyak pada perjodohan ini, jadi aku akan mencoba yang terbaik untuk pernikahan kita kelak- kita bisa belajar mencintai seiring berjalannya waktu- dan aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik- percayalah padaku nona zitao." Tao hanya mengerutkan alisnya.
"aku mempunyai kekasih!" yifan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut membuat tao bingung.
"tapi aku tidak bisa menolak perjodohan ini- ayahku sedang sekarat dan ia berharap banyak padamu- putra dari sahabatnya." Jujur tao.
"lalu apa masalahnya? Tinggalkan kekasihmu dan menikahlah denganku." Ucap yifan datar.
"kau gila?"
"tidak jika kau ingin melihat kesehatan ayahmu memburuk." Skak yifan.
Tao tercekat kehilangan kata setelah mendengar ucapan telak seorang xi yifan, ia membenarkan letak duduknya- sedikit berdehem dan menyuarakan pendapatnya.
"sebelumnya aku minta maaf namun aku datang kemari untuk sebuah permohonan tuan Xi" yifan mengernyit.
"saya mohon gagalkan perjodohan ini tuan Xi, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku tidak bisa berpisah dengan kekasihku- tapi disisi lain aku tidak ingin kehilangan ayahku jika menolak perjodohan ini." ujar zitao melas sambil menangkupkan kedua tangannya.
"satu-satunya harapan saya hanya anda tuan Xi, hanya anda yang bisa menggagalkan pernikahan ini, ayah saya mungkin akan kecewa namun itu tidak akan seburuk jika saya yang melakukannya- saya mohon tu-
"kenapa kau begitu egois?" Tanya yifan dingin.
"ya?" tao sangat terkejut.
"kau membangkang permohonan orangtuamu tapi kau tidak ingin ayahmu terluka, lalu bagaimana denganku? Jika aku melakukan apa yang kau inginkan- ibuku yang akan mengalami serangan jantung setelahnya." Tao menunduk merasa bersalah.
"apapun yang kau inginkan- lakukanlah! Lakukan dengan caramu sendiri, aku sudah menawarkan apa yang aku punya- jika kau tidak bersedia gagalkanlah dengan cara yang tidak akan melukai kedua orangtua kita."
"tapi yifan- seharusnya kau membantuku."
"tidak, karena aku tidak berencana menipu ataupun melukai mereka nona huang, sepertinya saya sudah membuang banyak waktu saya disini- saya masih ada urusan- permisi." Yifan benar-benar beranjak meninggalkan tao sendiri dalam diam.
-In Another Side-
"apa otakmu mengalami gangguan?" luhan hanya menatap polos.
"kau sudah gila? Atau memang tidak waras?" tambah sosok mungil tersebut.
"kenapa kau masih berpura-pura di hadapan sehun? kyungsoo sudah membongkar semuannya- tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan mengunci mulut kami semua, aku sungguh tidak habis pikir dengan jalan fikiranmu." Baekhyun sosok mungil tersebut mengusap wajahnya frustasi.
"aku tidak ingin dia pergi dariku, aku takut jika dia tau aku sudah mengetahui semuanya- dia akan pergi bersama Irene dan meninggalkanmu begitu saja."
"bodoh." Umpat baekhyun membuat luhan mendongak.
"kau mencintai sehun?" luhan mengangguk pelan.
"luhan~ cinta bukan berarti kau harus menyakiti dirimu sendiri seperti ini- jika kau terus-terusan seperti ini, kau akan terbunuh karena cintamu sendiri." luhan membeku.
"aku sangat mencintainya baek"
"aku tahu luhan, tapi-" baekhyun kehilangan kata menoleh melihat sosok mungil lain di sampingnya membeku seperti tercekat.
"cinta~ yah kau harus memperjuangkan cintamu, tapi menyerahlah jika perjuaganmu tidak di hargai sama sekali." Luhan tercekat karena ucapan kyungsoo.
"karena cinta tidak selalu memiliki, kelak kau pasti akan bahagia mencintai sehun dengan caramu sendiri." kyungsoo tersenyum kecut.
"hingga detik ini aku masih amat sangat mencintai ayah dyo, inilah caraku mencintainya luhan- aku tidak ingin cintaku menyakitinya, diriku sendiri bahkan putri kami- jadi aku putuskan untuk mencintainya dalam diam."
Luhan dan baekhyun yang sedikit banyaknya sudah tahu mengenai kehidupan dan masa lalu atasan mereka ini hanya menunduk sedih mendengar curahan hati kyungsoo.
Sedangkan kyungsoo menasehati luhan sambil menatap sendu pada putrinya- dyo dan si kembar Chelsea-jesper yang sedang memainkan boneka yang tadi di belinya.
Saat ini ketiga wanita dewasa bersama ketiga bocah kecil itu sedang menikmati jam makan siang mereka yang sudah sangat terlambat di salah satu resto bento favorite anak-anak setelah seharian berbelanja.
"demi tuhan, saat aku mengetahui kau dan sehun memiliki hubungan- aku sangat bahagia sekali~ kau gadis baik, aku percaya bersamamu sehun pasti akan menjadi manusia yang lebih baik- dan tentu saja aku berharap kelak kau akan menjadi adik iparku." Ucap kyungsoo membuat luhan ikut tersenyum.
"namun jika seperti ini ceritanya- aku mohon padamu tinggalkan sehun, luhan." Luhan tercekat.
"aku tidak ingin kalian berdua saling menyakiti satu sama lain, terutama kau luhan, sebagai seorang wanita aku mengerti bagaimana kesakitanmu saat ini- dan aku akan sangat menyesal dan menyalahkan diriku sendiri jika suatu saat nanti sehun akan menyakitimu lebih dalam lagi."
"eonni~"
"aku akan merasa gagal mendidiknya luhan" kyungsoo sudah berkaca-kaca.
Baekhyun bergeser untuk memeluk kyungsoo dan menenangkannya, sembari melemparkan tatapan sedihnya kepada luhan.
"aku tahu aku sangat egois dan terdengar tidak tahu malu, aku terlalu takut dengan kesakitanku tanpa memikirkan perasaan orang lain yang mengkhawatirkanku-
-Eonni~ baekhyun~ terimakasih- terimakasih karena kalian begitu baik padaku, tapi beri aku sedikit waktu lagi- aku yakin ada sedikit rasa cinta sehun kepadaku yang mungkin saat ini tertutup oleh rasa cintanya kepada Irene- bolehkah aku memperjuangkan 1% kemungkinanku tersebut?"
Baekhyun menghela nafas kasar, mungkin sedikit geram kepada sahabat batunya ini, namun ia bisa apa? luhan benar, bukankah sebelum gadis jahat itu datang- hubungan luhan dan sehun baik-baik saja? Ia juga berani bersumpah bahwa ia juga melihat binar cinta di mata sehun saat menatap luhan- dulu- Tch!"
HAAAAH
"baiklah, terserah padamu luhan, semua keputusan ada di tanganmu, tapi ingat- menyerahlah jika kau lelah, kami akan selalu disini bersamamu dan menopangmu." Baekhyun tersenyum teduh membuat luhan tenang.
Lalu keduannya beralih menatap kyungsoo yang hanya terdiam, sedangkan yang di tatap hanya menatap datar keduanya.
"apa?" tanyanya sinis.
"lakukan apa yang ingin kau lakukan- aku hanya berharap semoga kau mendapatkan 99% mu itu, karena jika tidak aku pasti tidak akan memaafkan diriku sendiri- bahkan aku tindak akan punya muka untuk bertemu denganmu karena sehun." Ujar kyungsoo sedih.
"eonni~ apapun yang terjadi kelak diantara aku dan sehun, kau akan tetap menjadi eonniku, jangan pernah menyalahkan dirimu, arrachi?" kyungsoo hanya mengangguk lemah dan membuat ketiganya tersenyum.
"aah eonni, bisakah kau menurunkanku di ujung sana?" pinta luhan.
"waeyo?" kyungsoo kebingungan.
"ada sesuatu yang harus aku beli"
"aku bisa menunggumu dan mengantarmu pulang setelahnya."
"tidak perlu, sepertinya aku akan lama- lihatlah dyo sudah tertidur, sebaiknya eonni segera pulang- lagipula kompleksku tidak jauh dari sini."
"emm baiklah, kalau begitu kami pulang dulu- kau berhati-hatilah." Luhan mengangguk.
Kyungsoo akhirnya mengalah dan menganggukinya, percuma berdebat dengan luhan yang sangat keras kepala menurut baekhyun.
Setelah menghabiskan pesanan mereka di resto bento tadi, tidak selang beberapa lama chanyeol datang untuk menjemput si kembar sekalian mengantar baekhyun yang tinggal searah dengan mereka.
Berbeda dengan luhan yang di antar oleh kyungsoo namun segera meminta di turunkan setelah mendapatkan pesan dari seseorang.
"luhan~"
"ne?" luhan melongokkan kepalanya di jendela mobil.
"kuharap kau benar-benar memikirkan ucapanku tadi." Luhan membalasnya dengan tersenyum lalu melambaikan tangannya hingga mobil kyungsoo menghilang.
Luhan kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya menuju sebuah kedai yang lumayan ramai sambil asik berbalas pesan.
Beberapa jam yang lalu, yifan menghubunginya- memberitahunya bahwa saat ini ia sudah sampai di seoul dan meminta luhan membawakan daging sapi korea yang mahal serta beberapa soda kaleng atau beer.
Luhan sempat mengomelinya tadi karena ia tidak pulang selama beberapa hari, ia juga tidak memberi kabar, bahkan ia tidak pergi bersama yixing- dan hal itu hampir membuat luhan frustasi.
Luhan menghela nafas lega saat di beritahu alasannya oleh yifan, ternyata beberapa hari ini yifan berada di wasington untuk menangani sesuatu- dan karena mendadak ia tidak sempat memberi kabar luhan ataupun yixing.
"ini pesanan anda nona."
"nde~ terimakasih bibi." Balasnya tersenyum sambil membungkuk.
Setelah cukup lama mengantri, akhirnya luhan mendapatkan pesanannya dan segera beranjak meninggalkan kedai ramai tersebut.
ia akan membeli beberapa minuman kaleng pada mesin minuman di dekat taman yang akan di lewatinya saat perjalanan pulang nanti.
Ia tersenyum setelah menemukan mesin minuman tersebut, sembari merogoh kantong skiny jeansnya untuk mengambil beberapa koin, ia melihat kearah kanan-kiri untuk menyebrang.
Setelah mendapatkan beberapa kaleng minuman, ia berbalik- berniat melanjutkan perjalanan pulang, namun sesuatu menghentikannya.
Disana- di kedai ramyeon yang berada di ujung sana ia melihat sehun mencuci mangkuk-mangkuk kotor dengan di temani Irene yang berjongkok di sampingnya sambil sesekali mengelap keringatnya.
Luhan merasa terguncang dan sesak, dengan tertatih ia berusaha mendekati mereka yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya.
Dengan jarak yang cukup dekat tiba-tiba luhan membeku, ia mendengar semuanya- semua yang mereka bicarakan- semua yang sehun katakan.
Akhirnya dengan air mata yang sudah tidak dapat ia bendung, ia berbalik dan berjalan gontai meninggalkan sepasang kekasih tersebut.
TUUUUUT TUUUUUT
TUUUUUT
'Yeoboseo'
"sehunna~ bisakah kau datang ke taman dekat komplek sekarang, aku-
'mianhae luhan, aku sedang sibuk sekali hari ini, aku sedang menghadiri pameran photografi'
"sebentar saja sehun, aku mohon"
'udara di luar sangat dingin, sepertinya akan segera turun hujan- lekaslah pulang, aku akan menemuimu di rumah, bey luhan~"
TUT TUT TUT TUT
Luhan hanya menatap kosong layar ponselnya yang sudah terputus dengan sehun, ia tersenyum kecut dan mengerjap untuk menyamarkan air matanya.
Setetes air hujan turun membasahi telapak tangannya, ia justru mendongakkan kepalanya menikmati gerimis yang sudah menjadi favoritenya sedari kecil.
Namun tidak berapa lama, gerimis yang menenangkan tersebut berubah menjadi hujan yang cukup lebat membuat orang-orang berlarian mencari tempat untuk berteduh.
Berbeda dengan luhan yang tidak memperdulikan situasinya dan hanya duduk di bangku taman tersebut.
"kau bahkan membohongiku, apa sebegitu tidak berartinya aku untukmu sehunna~" gumamnya nanar.
'apa dengan kau mencuci mangkuk disini kita akan mendapatkan uang?' Tanya Irene sambil memperhatikan sehun.
'tentu saja, ini namanya berkerja- jika kita berkerja kita akan mendapatkan uang, yaah meskipun tidak banyak- tapi aku akan berusaha agar kita bisa mendapatkan banyak uang' ucap sehun semangat.
'agar secepatnya kita pergi dari rumah luhan? Tanya Irene.
'aku akan berusaha agar kita bisa menyewa flat sendiri.' Irene bertepuk tangan.
'kalau begitu aku akan membantumu supaya kita mendapat banyak uang untuk membeli rumah kita sendiri." sehun hanya tersenyum.
Kemudian mereka berdua terlarut dalam canda tawa untuk menikmati waktu mencuci piring mereka.
Luhan masih mengingat percakapan yang terjadi di antara sehun dan Irene beberapa saat yang lalu, sekarang ia mengerti bahwa dia tidak berarti apa-apa bagi sehun.
"baekhyun-ah, kai-ah, aku sudah kehilangan 1% ku hiks hiks"
Sudah hampir pukul 9 malam, namun belum ada tanda-tanda kehadiran luhan di flat mungilnya tersebut.
Yifan yang sudah kehilangan kontak dengannya beberapa jam yang lalu hanya mampu berjalan mondar-mandir di ruang tamu karena khawatir.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi luhan namun hanya rekaman suara luhan yang mengalihkan panggilan ke dalam kotak mail box yang selalu ia dengar.
"aisssssh.. jinjja" ia mengusak kepalanya frustasi.
Dengan tergesa ia mengambil jaket dan kunci mobilnya untuk segera pergi mencari dimana keberadaan adiknya saat ini.
Ia mengunci pintu depan dengan tergesa sambil berysaha memasukkan lengan kirinya kedalam lengan jaket kulitnya dan segera berbalik hendak menuruni anak tangga rumah atap mereka.
Namun baru menapaki satu anak tangga teratas, dirinya hampir terlonjak kaget- pasalnya di sana~ di tengah tangga seorang gadis berkemeja putih dengan rambut terurai yang sudah tidak rapi dan setengah basah duduk sambil menundukkan kepalanya.
Yifan menyipitkan matanya mencoba mengenali sosok yang membuatnya ketakutan tersebut di malam yang sunyi ini.
Dengan langkah pelannya ia mencoba mendekat untuk dapat mendeteksi sosok tersebut dengan jarak lebih dekat.
Seketika ia melebarkan kedua bola matanya saat menyadari sosok asing yang ia takuti tersebut tidak lain adalah adik kandungnya sendiri- xi luhan.
"luhan!" dengan tergesa ia menuruni anak tangga menghampiri sang adik.
Yifan tercekat melihat keadaan adiknya saat ini, dimana luhan duduk dengan pakaian basahnya yang sudah hampir mengering ditambah dengan wajah memerah dan setengah sadar dengan beberapa kaleng beer kosong berserakan di sebelahnya.
"luhan" ia kembali memanggil luhan untuk menarik kesadarannya.
Luhan segera menghapus air matanya dan segera mendongak menajamkan pandangannya kepada sosok yang berdiri di depannya.
"yifan?"
Sedangkan yifan sontak melebarkan kedua matanya dan berjongkok menatap sang adik yang sepertinya sedang bersedih saat ini.
"kau menangis? Ada apa? apa seseorang menyakitimu?" luhan menggeleng kuat dengan memasang senyum palsunya.
"lalu ada apa? kenapa kau menangis hmm?" yifan menghapus jejak-jejak air mata di pipi luhan.
"gege mian~ hiks"
"waeyo?"
"bulghoginya sudah dingin~ seharusnya aku membawanya pulang sejak sore tadi hiks hiks." Luhan mati-matian menahan isakannya.
"gweanchana, kita bisa menghangatkannya." Ucap yifan kalem.
"dan aku menghabiskan beer pesanan gege~ hiks hiks"
"gweanchana, kita mempunyai cola di lemari pendingin." Yifan menyelipkan anak rambut luhan yang menutupi wajahnya kebelakang telinganya.
"gege miaaaan~" tangis luhan seketika pecah membuat yifan kelabakan dan dengan segera menrengkuh sang adik kedalam pelukannya.
Yifan tahu, adik kecilnya tidak mungkin menangis hanya karena masalah sesepele ini, pasti terjadi sesuatu- sesuatu yang benar-benar menyakiti lulunya ini.
'apa sehun lagi yang membuatmu menangis?' batinya.
"badanmu panas sekali, apa kau kehujanan tadi?" yifan meraba dahi luhan memastikan.
Sementara sang adik hanya mengangguk lemah karena tidak ingin semakin menambah kekhawatiran sang kakak.
"udara di luar dingin, kau akan sakit jika seperti ini terus, ayo sebaiknya kita masuk." Yifan sudah menari lengan luhan namun tidak ada pergerakan sama sekali membuatnya mengernyit.
"kakiku lemas sekali, bisakah aku masuk beberapa saat la- YIFAN!" luhan memekik kaget saat yifan dengan ringannya menggotong tubuhnya.
"kau akan kedinginan jika lebih lama lagi disini." Desisnya kemudian membawa luhan masuk kedalam rumah.
-In Another Side-
"apa sesuatu terjadi pada luhan? dia semakin kurus dan tirus."
"emm.. akhir-akhir ini dia terlalu banyak berfikir dan mengabaikan pola makannya."
"apa yang sedang di fikirkannya hingga sekeras itu?"
"aa.. emm.. dia sedang ada masalah dengan kekasihnya."
"sehun? Setauku dia pria yang lugu dan polos, memang hal apa yang dilakukannya hingga membuat luhan seperti itu?"
"aku juga berfikir begitu, tapi ini benar-benarr membingungkan." Chanyeol mengernyit.
Yah percakapan ini terjadi di antara chanyeol dan baekhyun saat perjalanan pulang dari supermarket untuk membeli kebutuhan mereka masing-masing.
"kekasih sehun dimasa lalu datang lagi, dan gilanya mereka belum saling mengucapkan kata berpisah sebelumnya." Baekhyun menghela nafas.
"apa sehun masih menyukai kekasihnya itu?"
"hmm,, kau pikir apa yang membuat luhan menjadi kurus jika tidak karena memikirkan kekasihnya yang mash mencintai wanitanya yang dulu."
Keduanya terdiam cukup lama sambil memikirkan serumit apa masalah luhan dan sehun, bahkan chanyeol sudah menggeleng tidak jelas sambil menggaruk dahinya bingung.
"woooaaaaah aku bahkan tidak bisa berkomentar haaaah." Keluh chanyeol bingung.
"ini benar-benar membuatku gila." Keluh baekhyun frustasi.
HAAAAH
Keduanya menghela nafas kasar secara bersamaan sambil menatap kearah jalan raya.
"aku rasa masalah akan lebih mudah jika sehun berselingkuh." Baekhyun mengangguk.
"seperti itu lebih baik, jadi aku punya alasan untuk memukulnya." Gumam baekhyun yang mendapat kikikan dari chanyeol.
"aaah iya, apa kau tahu jika sehun adalah adiknya kyungsoo sajangnim? Eoomanya dyo- sahabatmu!" pupil mata chanyeol melebar dengan bingung.
"aku bahkan baru mendengarnya saat ini."
"benarkah? Apa kyungsoo tidak pernah menceritakan atau menyinggungnya sebelumnya?" chanyeol mengerutkan keningnya untuk berfikir.
"emm.. sebelumnya dia sering menceritakan adiknya kepadaku tentang adiknya yang polos, baik, dan selalu menyayanginya- dan aaah yang tidak bisa aku lupakan adalah fakta bahwa ia mempunyai adik 24 tahun yang masih cadel hahaha bukankah itu sangat memalukan?" giliran baekhyun yang mengernyit.
"tapi aku tidak pernah tahu ahwa seorang adik yang selalu di bangga-banggakan oleh kyung-ie adalah sehun" tambah chanyeol sambil mengendikkan bahunnya.
"jadi kau tidak mengenal sehun sebelumnya?"
"tentu saja tidak! kyung-ie saja tidak pernah bertemu dengannya! Yang ku tahu kyung-ie tidak tinggal dan tidak bertemu dengan adiknya sangat lama." Gerutu chanyeol.
"pertama kali aku mengenal sehun adalah saat dia berjongkok di depan kedua anakku dengan senyum berbinar saat Chelsea memberinya sepotong coklat." Chanyeol menerawang.
"yah- aku juga mempunyai kesan yang baik saat pertama bertemu dengannya, dia sangat polos seperti malaikat- aku bahkan terkejut melihat luhan bisa luluh kepada anak kecil sepertinya."
Baekhyun terkekeh menginggat betapa antinya sahabatnya itu dengan yang namanya brondong, sejak mengenal luhan di bangku senior high school hingga ke universitas baekhyun selalu mendengar gerutuan luhan di pagi hari karena mendapatkan pernyataan cinta dari juniornya.
-flashback-
"kau gila? Dia bahkan masih berusia 17 tahun! Apa aku seorang pedofil mengencani anak di bawah umur? Yang benar saja"
Baekhyun hanya terkekeh mendengar gerutuan luhan sepanjang koridor kampusnya tanpa berniat mencela gerutuan sahabat cantiknya tersebut.
"kau bahkan terlihat seperti gadis 15 tahun yang manis saat melihat bubble tea, bagaimana anak SHS itu tidak terperosok kedalam pesonamu tuan putri." Baekhyun menggoda luhan hingga membuat telinggannya memerah.
"apa katamu? Yak! Kau ini sahabatku! Bukannya berada di pihakku- kau justru mengolokku! Kau ini-
"STOP" potong baekhyun cepat.
"jangan menggerutu, kau menggerutu seperti nenek-nenek, jadi jangan salahkan aku jika sebentar lagi kakek-kakek seperti professor kang akan menyatakan cintanya padamu." Bisik baekhyun sebelum melarikan diri dari amukan rusa betina.
"YAK! BYUN BAEKHYUUUUUUUN"
Luhan akhirnya berlari menyusul baekhyun yang sudah menjauh untuk memberikan hadiah atas perkataan konyolnya barusan, Hingga akhirnya terjadi kejar-kejaran sepanjang koridor mereka.
-flashback off-
"ada apa? apa ada yang lucu?"
"tidak! aku hanya menginggat masalaluku bersama luhan dulu" chanyeol mengangguk mengerti.
"kalian pasti sangat lengket dari dulu ya?"
"yah seperti itulah~ luhan sangat lengket kepadaku dan kai, khususnya kai." Chanyeol mengernyit.
"luhan itu tidak banyak dekat dengan orang lain, kata kai luhan itu tidak mau bergaul dengan orang lain dan hanya mau menempel pada sepupunya saja- kai bahkan kesulitan untuk berteman dengannya-
-namun sejak keberangkatan sepupunya ke amerika untuk melanjutkan studynya, perlahan ia mau membuka diri untuk bersosialisai- dan kai adalah orang pertama yang menjadi sahabatnya- jadi jika di bandingkan denganku, kai adalah orang yang lebih luhan butuhkan." Chanyeol menganggukinya.
"lihatlah si kembar, mereka pasti kelelahan, aigoo! Mereka lelap sekali- lucunya!" pekik baekhyun terpesona sementara chanyeol hanya mengulum senyum menatap kedua malaikatnya dari kaca spion atas.
Mereka (baekhyun-chanyeol) menjadi dekat seperti ini karena banyaknya jumlah intensitas mereka bertemu setiap harinya, selain tinggal di kompleks apartement yang sama keduannya juga sering pergi hang out bersama atas permintaan si kembar hingga akhirnya mereka bersahabat dekat seperti ini.
Tidak jarang keduannya saling mengunjungi apartement satu sama lain di akhir pekan hanya untuk menemani si kembar menonton dvd kesukaan mereka.
-skip-
"semalam kau pulang jam berapa?"
"jam 3 pagi hyung, maaf tapi aku baru bisa menyelesaikan pekerjaanku saat itu." sehun menundukkan kepalanya.
"pekerjaan? Pekerjaan apa?" yifan mengernyit bingung.
"kemarin aku mencoba membantu bibi yang menjual ramen mencuci mangkuk kotor disana- dan aku mendapatkan upah hyung." Sehun tersenyum cerah.
"kau butuh uang? Aku bisa memberikannya padamu! Kau tahu? Semalaman luhan demam dan dia memanggil-manggil namamu karena khawatir!" omel yifan.
"luhan demam?" sehun tercekat.
"kemarin dia kehujanan dan banyak minum beer, aku sedang menunggu dokter datang untuk memeriksanya." Yifan mencoba kalem saat melihat sehun menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"sebentar lagi dokter akan datang, aku akan memasak bubur untuknya- bisakah kau menjaganya sebentar sambil mengganti kompresnya?" sehun mengangguk dan segera melangkah memasuki kamar luhan.
CKLEEEK
Kamar luhan masih terlihat tamaran karena sinar dari lampu tidur yang ada di sebelah kiri ranjangnya.
Sehun melangkah dengan pelan mematikan lampu dan menyibak gorden jendela kamar luhan agar luhan mendapatkan pasokan sinar matahari pagi yang menyehatkan.
Ia tersenyum melihat luhan yang menggeliat lucu karena menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk menerpa wajah pucatnya.
Ia menyentuh jemari luhan yang terasa panas, sambil memperhatikan wajah pulas luhan yang seperti bayi dengan plester penurun panas di dahinya.
Ia mengeratkan jemarinya pada jemari luhan hingga bertautan sebelum membawanya kedalam kecupan hangatnya.
"maafkan aku luhan, semua salahku- maafkan aku."
Luhan mengerjap dan dengan perlahan membuka kedua kelopak matanya untuk menyesuaikan sinar yang memasuki retinanya.
"sehunna?" sapanya parau.
"hai luhannie, apa yang sakit?" sehun tersenyum sambil menggenggam jemari luhan.
"kepalaku pusing sekali~"
Tanpa diduga sehun mendaratkan kecupannyatepat pada pelipis sebelah kanan luhan hingga membuat luhan terbelalak.
"apa sudah merasa lebih baik?" luhan hanya mengerjap polos.
"luhan~ cepat sembuh, jangan sakit lagi ya. Aku berjanji akan mengajakmu membeli ice cream dengan uangku jika kamu sudah sembuh."
"uang?"
"emm.. aku bekerja~ aku mencari uang sendiri sekarang agar aku tidak merepotkanmu lagi, dan aku ingin membelikanmu sesuatu dengan uang pertamaku." Jelas sehun antusias.
Berbeda dengan sehun yang tersenyum sumringah, luhan justru tersenyum kecut sambil membayangkan peristiwa hari sebelumnya.
"tidak perlu sehun, simpan uangmu- itu adalah hasil kerja kerasmu, gunakan sebaik-baiknya untuk sesuatu yang memang benar-benar kau inginkan." Luhan tersenyum membelai jemari sehun yang menggenggamnya.
"kau tidak ingin makan ice cream vanilla bersamaku?" Tanya sehun kecewa.
"tentu saja, ayo kita makan ice cream begitu aku sembuh, aku yang akan mentraktirmu." Seru luhan dengan suara paraunya.
Meskipun sedikit kecewa karena luhan menolaknya tapi ia tersenyum dan menganggukinya dan bertekat dalam hati akan membelikan sesuatu untuk luhan dengan gaji pertamanya.
Karena baginya luhan merupakan orang yang penting dalam hidupnya dan sesuai dengan nasehat luhan tadi ia benar-benar menginginkan untuk memberikan hasil kerja kerasnya kepada luhan.
"emm sehunna~" Sehun mendongak menatap luhan.
"bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" sehun mengangguk.
"aku ingin tahu, sebenarnya apa artiku bagimu sehunna?"
"nde?" pekik sehun bingung, namun luhan tidak mengulang pertanyaannya dan hanya tersenyum.
"bagiku, luhan adalah orang yang sangat special, luhan adalah orang terpenting kedua setelah kakakku, luhan tahu? Pertama kali kita bertemu? Aku merasakan bagaimana itu bertemu dengan malaikat- aku seperti melihat pancaran cahaya di balik punggung luhan! luhan mengulurkan tangan dan menolongku- itu adalah hal luar biasa yang tidak pernah aku lupakan. Aku sangat menyayangimu luhan."
Luhan mendengarkan curahan hati sehun dengan seksama dan dalam diam, kemudia ia mendongak dan tersenyum teduh menatap sehun yang sudah selesai bercerita.
Kini ia mengerti, bahwa cinta dan kasih sayang itu berbeda, dialah yang salah selama ini mengartikan rasa sayang sehun kepadanya dan justru menjebak pemuda polos itu kedalam hubungan cinta sepihaknya- bahkan dengan egois tidak ingin melepaskannya.
Seharunya luhan sadar bahwa wanita yang dicintai sehun adalah Irene, dan bukankah seharusnya ia bersyukur setidaknya- walaupun itu bukan cinta, tapi luhan menempati posisi kedua di hati sehun dan mungkin setingkat diatas Irene.
"terimakasih sehun, terimakasih- terimakasih karena sudah menyayangi noona~ terimakasih karena sudah menjadikan noona sebagai orang kedua yang berarti dalam hidup sehun, Terimakasih." Sehun hanya mengangguk canggung dan mengerjap bingung mendengar ucapan terimakasih dari luhan yang bertubi-tubi.
"tapi luhan, ada apa?"
"sehunna~ mari kita berpisah dan memulai semuanya dari awal?" tawar luhan sambil mengulurkan telapak tangan kanannya.
Sehun terdiam dengan kaku tanpa berniat meraih uluran tangan tersebut karena ia memiliki firasat buruk jika ia mengambil uluran tangan tersebut.
"seharusnya noona melakukan ini sudah dari dulu, maafkan noona karena terlalu egois ne?"
"luhan, ada apa?"
"mari kita mulai semuanya dari awal lagi, sehunna~ noona berjanji akan menjadi noona yang baik untukmu, sama seperti kyungsoo noona. Jadi maukah kau memulai semua dari awal? Menjadi teman dan adik kesayangan noona?" luhan kembali mengulurkan tangannya.
"kau ini bicara apa luhan? aku sungguh tidak mengerti, sebaiknya kau kembali istirahat aku akan mengambil plester penurun panas yang baru."
Sehun merapikan helai rambut luhan sebelum meninggalkan kamar gadis itu, dan tepat saat sehun menutup pintu kamarnya, air mata gadis rusa itupun pecah- meluncur dengan derasnya tanpa bisa terkendali.
"jangan menangis luhan- jangan menangis hiks hiks-
-setidaknya dia sangat menyayangimu, kau seharusnya senang hiks-
-yaaah aku senang, tidak apa-apa, tidak apa-apa luhan jangan menangis hiks." Luhan berusaha menenangkan dan menghibur dirinya sendiri untuk mengurangi rasa sedihnya.
Saat ia kembali terlihat luhan sudah terlelap kembali kedalam mimpinya, Lama ia terduduk memperhatikan luhan dalam diam, ia tidak mau satu gerakan saja dapat membangunkan tidur nyenyak rusa manisnya ini.
Hingga suara ketukan pintu mengintrupsinya, dimana yifan muncul bersama wanita cantik bersurai ikal dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
"apa kau bisa membangunkannya?" pinta wanita tersebut kepada yifan yang segera di laksanakannya.
"lulu- luhan- bangun sayang- lu- luhan~" luhan menggeliat dengan kelopak mata yang bergerak-gerak liar mencoba membuka kedua matanya yang terpejam.
"eonni?"
"hai cantik, apa kabarmu?" sapa wanita itu ramah kepada luhan yang sudah membuka kedua matanya.
"aku sakit eonni~" ujar luhan parau.
Sementara wanita yang di panggilnya kakak tersebut hanya tersenyum hangat sambil mengecek tekakan darah luhan.
"sekarang buka mulutmu aaaaaa" pintanya sambil menyodorkan thermometer kedalam mulut luhan.
AAAAKH
"apa ini sakit?" Tanya wanita itu sambil menekan perut luhan.
"iya itu sakit sekali sssssshh" luhan mendesis kesakitan.
"ada apa kyu? Apa sesuatu yang buruk?" Tanya yifan kepada sang dokter yang bername tag cho kyuhyun.
"tidak makan dan meminum banyak beer, ku rasa kau tahu apa yang terjadi pada adikmu ini." sang dokter tersenyum menatap yifan.
""tenang saja- dia baik-baik saja, aku akan memberinya obat penurun panas dan obat maagh untuknya, dan pastikan lulu makan tepat waktu kris."
"kau juga jangan mengabaikan kesehatanmu seperti ini lagi ya~ kau pasti terlalu sibuk bekerja bukan? Makan teratur dan kurangi kebiasaan minummu itu, arrachi?" kyuhyun menasehati luhan.
Cho kyuhyun adalah istri dari relasi bisnis sekaligus sahabat yifan- choi siwon yang merupakan pengusaha muda hebat di korea.
Mereka cukup dekat, karena selain mempercayakan luhan kepada bibinya sekeluarga, siwon-kyuhyun merupakan orang yang yifan percaya untuk menemani luhan.
Luhan sudah menganggap kyuhyun dan siwon seperti kakaknya sendiri, ia sering menginap di appartement kyuhyun ketika siwon sedang mengadakan perjalanan bisnis ke new york, sehingga mereka berempat yakni kyuhyun,siwon,yifan dan dirinya akan bervideo call hingga larut malam.
"lalu siapa pemuda tampan ini? aaaa apa dia kekasih uri luhanie, yifan-ah?" goda kyuhyun sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"waah lihat, wajah luhan memerah karena demam atau malu ya?" ia masih menggoda sementara sehun hanya menundukkan kepalanya karena ikut merona.
"iya, dia kekas-
"kami teman! Dan dia sudah aku anggap sebagai adik kesayanganku"
Yifan terkejut saat ia akan berucap membenarkan pertanyaan kyuhyun, luhan justru memotongnya sepihak dengan kalimat yang benar-benar membuatnya bingung.
Sementara orang yang mereka maksud, yang tak lain adalah sehun pun ikut tercekat mendengar ucapan luhan, pasalnya selama ini luhan selalu mengatakan kepada semua orang bahwa ia adalah kekasihnya.
Bukankah seharusnya ia senang jika luhan sudah tidak bersikap egois dan memonopolinya lagi, paling tidak ia tidak akan merasa tertekan lagi- tapi kenapa di tengah kelegaan ini ada rasa sakit yang mencubit hatinya.
"oh- oke- baiklah, kau mempunyai teman muda yang tampan, kau benar-benar adikku! Hehe dan kau sepertinya sangat menginginkan adik, yifan-ah segeralah berikan adikmu keponakan yang lucu-lucu." Gurau kyuhyun membuat luhan terkekeh.
"ne~ uisanim" seru yifan galak membuat kedua wanita itu terpingkal.
"baiklah- baiklah cukup- sudah cukup berguraunya, aku harus kembali kerumah sakit, luhan-yifan ingat pesanku! Arrachi?" ucap kyuhyun mengingatkan sebelum berpamitan dan meninggalkan mereka bertiga.
-skip-
Beberapa hari berlalu, luhan tidak ke kantor karena masih tidak enak badan, sementara yifan terpaksa harus menyelesaikan pekerjaannya dirumah sambil merawat luhan dengan ia mempercayakan kepada yixing untuk menghadiri pertemuan-pertemuan penting dengan relasi bisnisnya.
Sementara sehun semakin sibuk dengan usahanya mencari pekerjaan lain selain menjadi tukang cuci di kedai ramyeon, ia juga mengantarkan susu dan Koran di kompleks dekat rumah luhan.
Selain itu ia juga mencoba bekerja di restoran cepat saji sebagai pelayan karena kebiasaannya melihat para pelayan di kedai ramyeon melayani tamu- bukankah sehun adalah anak yang tanggap dan cepat belajar.
Berbeda lagi dengan Irene yang menghabiskan setiap harinya untuk berjalan-jalan karena tidak bisa selalu mengikuti sehun yang sibuk bekerja, dan sehun memakluminya karena dirinya sebelumnya juga seperti itu.
"yifan, jangan mencemaskanku~ aku sudah baikkan, mungkin beberapa hari lagi aku sudah bisa masuk kerja, kau bisa meninggalkanku sendiri di rumah untuk menghadiri rapat penting, kasihan yixing jika harus menghandel semuannya sendirian."
"kau masih sakit, bagaimana bisa aku tidak mencemaskanmu, siapa yang akan memberimu makan tepat waktu jika aku pergi bekerja? Tenanglah, lagipula aku mengirimkan pekerjaanku lewat email, aku hanya menyuruh yixing untuk mengkonfirmasinya, lagi pula aku akan menemui mereka sendiri pada jam makan malam saat kai datang kemari untuk bergilir menjagamu."
"ya tuhan yifan, aku hanya demam dan mengalami sedikit gangguan pencernaan, lagipula aku bukan pasien rumah sakit, jadi untuk apa kalian bergilir menjagaku? Aku baik-baik saja."
"menurutlah pada gege!"
"arraseo"
Tidak bisa di bantah, luhan pun mengalah dan kembali duduk di sofa menonton televisi sambil meminum vitaminnya yang baru saja yifan hangatkan.
"kau sudah memakan obatmu?" Tanya yifan masih sibuk dengan layar laptopnya di atas meja dimana ia duduk di atas karpet tepat di depan luhan.
"emm ne, kau sudah makan?" yifan mengangguk sambil menyesap kopinya.
TOK TOK TOK
TOK TOK
"siapa itu?"
"biar aku yang buka!" luhan segera beranjak menuju pintu depan.
Sedangkan yifan hanya mengendikkan bahunya dan kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya hingga suara teriakan luhan membuatnya melotot dan kalang kabut menyusulnya ke depan.
"GEGEEEEEEE!"
Yifan hampir terjungkal saat luhan dengan tergesanya berbalik arah, mungkin hendak menghampirinya hingga mereka bertabrakan bahu di dekat rak penyimpanan sepatu.
"ada apa? kenapa berteriak?" panik yifan.
"gege! Gege tahu? Di luar ada wanita yang bersikeras ingin bertemu dengan gege! Apa dia mabuk?" omel luhan pada wanita di depan sana.
"aniyo, dia mengetahui nama gege! Apa gege menghamili seorang gadis? GEGE!"
"LUHAN!" sentak yifan memotong gerutuan luhan.
"aku tidak tidur dengan sembarang wanita! Lagipula aku sangat berhati-hati dalam masalah itu- jadi tidak mungkin ada wanita yang mengaku hamil denganku!" jelas yifan santai hingga membuat pipi adiknya merona karena ucapan frontalnya.
"yak! Hentikan, lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya luhan.
"apa? memangnya siapa yang datang?" jawab yifan sambil menerobos tubuh mungil luhan kearah pintu depan.
"aku tidak mengenalnya!" luhan mengekorinya.
"dia terus memaksaku mempertemukannya denganmu" adu luhan.
CKLEEEK
"Xi Yifan"
-To Be Continue-
hay semua, lulu bawa chapter 11 sekalian mau ngucapin selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan ya! oh iya untuk pertanyaan mengenai kira2 ff ini bakal selesai di chapter yang keberapa? jawabannya lulu masih enggak tahu- soalnya dari awal lulu bikin ceritanya tuh untuk all pair punya cerita masing-masing enggak asal jadi aja- kecuali chenmin karena aku gemes liat baozi yang kaya macan ternak (mama cantik anter anak) hehe..
jadi kalau ada yang bakal bosen sama cerita ini kedepannya karena enggak selesai-selesai mohon jangan marah dan ngebash lulu ya~ karena lulu udah bilang mulai dari sekarang..
jadi konsepnya tuh lulu cuma mau pengen enggak anak hunhan shipp aja yang bakal baca ff lulu, lulu juga pengen liat chanbaek shipp, taoris shipp, sulay shipp, chenmin shipp dan kaisoo shipp nyempil di kolom review ffnya lulu..
jadi mohon dimengerti ya! karena kalian pasti tahu, kadang untuk satu official pair aja bakal selesai berchap-chap, apalagi ini yang 6 official pair- jadi mohon dimengerti dan tetep mau baca dan review ff lulu ya,, syukur-syukur di favorite dan di follow- apalagi di promoin biar di baca temennya atau orang lain- huuuh varokah mah idupnya..
jangan lupa reviewnya ya di chapter ini
annyeong^^
