copyright © 2016 by crownacre

BEAUTIFUL DISASTER

seperti sebuah dosa yang manis

Park Jimin and Min Yoongi fanfiction

[ NOTE ]

Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.

[ WARNING ]

OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated ; Typo(s)

Terdapat beberapa kalimat kasar dan dirty talk yang mungkin akan menganggu

Yoongi diculik Jimin. Entah bagaimana menyebutnya, tapi, ya, Yoongi dibawa kabur oleh Jimin saat jam kantor. Yoongi menyebutnya sebagai penculikan dan ia sibuk mengomel di dalam mobil besar Jimin. Yoongi tidak suka ide pergi saat jam kantor meski yang membawanya pergi adalah seorang direktur tertinggi dengan izin yang jelas karena pekerjaan harusnya diselesaikan daripada ditinggalkan, tapi jika dirinya dipaksa begini… mana mampu jika harus menolak. Dirinya terlalu lemah untuk melakukan itu.

"Kita mau apa?" Yoongi setengah mendesis, merasa kesal karena Jimin justru tersenyum-senyum tanpa beban di sampingnya saat bibirnya sibuk merapalkan mantra sumpah serapah akibat diabaikan.

Mendengar suara Yoongi yang melunak, Jimin menoleh dengan senyum dingin dengan aura tampan tanpa ampun. "Membelikanmu pakaian," ujarnya tenang. Matanya menatap Yoongi dari atas ke bawah dan melebarkan senyumnya. "Sekarang kau makin feminim, aku suka."

"Pakaian lagi? Apa itu untuk pesta ulang tahunmu nanti malam?" Kening Yoongi mengerut tidak senang, berpikir bahwa membeli pakaian lagi jelas bukan ide baik. Ia menghela napas, "aku bisa menggunakan yang waktu itu."

"Itu terlalu sederhana!" Jimin menolak habis-habisan ide Yoongi dengan nada suara yang sedikit meninggi, matanya kemudian menunjukkan sorot menyesal karena membuat gadis di sampingnya terlonjak pelan. "Kau akan datang sebagai—ah intinya aku mau kau menggunakan pakaian luar biasa indah, mengalahkan perempuan-perempuan glamor yang aku undang."

"Kenapa? Aku memang tidak seglamor mereka."

"Sebentar lagi kau akan jauh lebih glamor dari mereka," mata Jimin menatap serius ke dalam mata Yoongi. "Dan aku bersumpah aku tidak akan membuatmu diejek oleh perempuan-perempuan penghabis uang itu."

"Bukankah uangmu akan habis lebih banyak jika harus menyangi keglamoran mereka?" Yoongi mencebik tipis. Tangannya terlipat di depan dadanya, "aku tidak akan cocok dengan pakaian mahal lagi pula."

"Aku akan membuatmu cocok. Aku akan merangkulmu dan membuatmu terlihat begitu cocok dengan pakaian yang kau sebut mahal itu dan membuat semua perempuan menahan napas iri melihat pesonamu yang luar biasa."

.

Mereka sampai di butik milik Jungkook, Yoongi sedikit girang menyadari akan bertemu bocah lucu dengan tingkah ceria itu. Tapi ia mencoba menahan diri mengingat di sampingnya ada Jimin yang terus memperhatikannya.

Saat masuk, mereka disambut langsung oleh Jungkook yang memekik riang dan langsung merangkul Yoongi. Meski lebih tua, Yoongi terlihat lebih kecil daripada umurnya karena tubuhnya yang mungil dengan wajah seperti penjahat umur. Mereka seperti sepasang sahabat padahal jarak mereka hampir lima tahun.

"Jimin membuatkanmu pakaian," Jungkook bersuara saat masuk ke dalam ruangan lebih kecil dengan suasana jauh lebih indah dibandingkan di luar. Ia masih sibuk merangkul Yoongi sambil terus memuji tubuh kecilnya yang membuat dirinya iri setengah mati. "Dan kau tahu, pakaian yang ia buat tidak muat di tubuhku, gila! Ternyata kau benar-benar kecil, aku iri."

Yoongi melirik tubuhnya sendiri, menyadari bahwa memang dirinya banyak kali mendapat komentar tentang tubuh kecilnya. Ia tidak pernah merasa bangga karena baginya tubuh Seokjin jauh lebih indah, berisi namun tetap nampak langsing. Cantik seperti dewi saat memakai pakaian mahal dan berpose untuk menjadi cover majalah.

Jimin melangkah lebih dulu menghampiri sebuah pakaian berwarna hitam dengan banyak kemerlap seperti berlian di permukaannya yang terpasang di manekin. Sebuah gaun tanpa lengan dan dibagian bahunya transparan; gaun itu hanya menutup sampai dada. Ada renda seperti keluar dari pola dan menghias sebelah sisi dari atas dada, terlihat benar-benar sempurna. Indah. Di bagian bawahnya berbentuk seperti gelas cocktail yang sedikit mengembang.

"Ini sempurna," ia memuji dengan senyum sederhana yang tampan. Matanya memberi tatapan terima kasih pada Jungkook dan kemudian beralih pada Yoongi untuk menghampirinya.

Saat Jungkook membawa Yoongi mendekat pada gaun itu, ia sedikit meringis. Yoongi tahu gaun di hadapannya jelas sebuah gaun mahal, kerlip-kerlip di permukaannya saat tertimpa cahaya nampak begitu indah. Jika dirinya yang mengenakan pakaian itu, apa ia akan terlihat baik-baik saja? Ia merasa kurang pantas dengan pakaian seindah itu, terlihat terlalu muluk untuk tubuhnya yang bahkan memakai gaun pun hanya sesekali.

"Aku juga membuatkan sepatu," Jungkook bersuara saat menyadari Yoongi masih sibuk dengan mata berbinar tidak percaya pada pakaian di manekin. Ia melangkah menjauh, mengambil sebuah sepatu yang sudah ia rancang apik.

Jimin melihat sepatu yang dibawa Jungkook dan tersenyum puas. Ia tidak menjelaskan detail sepatu yang ia inginkan tapi sepatu itu benar-benar terlihat indah.

Warnanya hitam mengkilap, stiletto dengan platform, terlihat tinggi namun haknya yang tidak terlalu kecil pasti mampu dikondisikan oleh Yoongi. Jimin menyukainya, tidak benar-benar berbeda dengan yang waktu itu namun kali ini terlihat lebih menarik. Yoongi pasti benar-benar indah dengan outfit yang menantang dirinya sendiri, membuat tubuh putihnya seperti siap melawan warna hitam yang menempel di tubuhnya dan sebaliknya.

Yoongi berdecak kagum lirih, tidak mampu berkata-kata sampai akhirnya Jungkook kesal dan memilih mendorong tubuh Jimin ke luar dan memaksa Yoongi untuk memakai gaun juga sepatu yang sudah ia rancang.

Diam-diam Jimin memperhatikan dari pintu kaca, melihat Jungkook yang membantu Yoongi menanggalkan pakaian hingga menyisakan dalaman lalu segera membantu Yoongi memakai gaunnya. Jungkook menyuruh Yoongi mengangkat tinggi rambutnya atau rambut hitamnya yang indah harus tersangkut dan merelakannya dipotong setelah ini; Jimin mendengar peringatan itu karena memang ruangan dua gadis itu berada tidak begitu besar.

Setelah melihat Yoongi selesai dan Jungkook akan melangkah menyuruhnya masuk, ia pun melangkah sedikit jauh dari pintu dan berpura-pura terkejut saat pintu terbuka. Jungkook mengerling ke dalam ruangan dan Jimin mengikuti langkah gadis itu.

"Yoongi benar-benar sempurna," Jungkook memuji saat tiba dihadapan gadis dengan gaun indah warna hitam.

Yoongi sendiri terlihat gugup saat Jimin tidak mengatakan apapun, hanya menatapnya intens dengan mata penuh minat. Ia berpikir gaun yang digunakannya terlalu pendek dan mungkin itu yang menyebabkan Jimin terus menatapinya, ia belum pernah menggunakan sesuatu seperti rok hanya sebatas hampir setengah paha dan berpikir Jimin terkejut melihatnya menggunakan gaun itu. Tapi saat Jimin mengangguk, Yoongi sedikit bernapas lega.

"Kau tahu, Yoongi menggunakannya tanpa beban seperti pakaian yang dipakai tidak terlalu kecil. Aku menahan napas dan memekik iri menyadari dirinya tidak kesempitan dengan gaun itu, tapi aku senang melihatnya. Ia terlihat begitu sempurna, seperti dewi malam," senyuman dengan gigi kelinci itu bebas, mata bulatnya ikut lenyap tertutup tulang pipi yang lumayan tinggi.

"Aku pikir aku makin jatuh cinta padanya," Jimin berbisik lirih namun mampu didengar oleh dua orang lain di ruangan.

Jungkook tertawa kecil mendengar kalimat yang diucapkan Jimin, sementara yang mendapat pernyataan cinta tiba-tiba merona dan menundukkan wajahnya.

.

"Ini jelas bukan jalan-jalan ke mall," Yoongi berkomentar saat sekarang sudah berada di dalam mobil sambil memangku pakaian yang tadi di beli juga sepatu. Ia mendecak pelan menatap Jimin yang masih sibuk tersenyum-senyum di sampingnya. "Jimin-ah, kau menjengkelkan."

"Aku menyuruhmu memanggilku Jimin bukan untuk kau sebut menjengkelkan," laki-laki itu terkekeh kecil dan mengacak rambut halus Yoongi. Matanya menatap gadis di hadapannya dengan sorot tajam yang tampan dan bibir terus mengulum senyum. "Sekarang kita akan jalan-jalan sekalian makan, kau suka?"

"Bagaimana bisa aku senang kalau pekerjaanku di kantor terlantar?" Gadis itu menghela napas lelah, tangannya menggaruk rambutnya dengan setengah tidak nyaman. Lucu, batin Jimin gemas.

"Kau tidak memiliki pekerjaan tersisa di kantor kalau aku boleh mengingatkan."

"Bagaimana kau—yah, apa ini rencanamu? Aish, pantas saja tidak ada apa-apa yang masuk ke aku, ternyata itu semua karena kau."

Jimin tertawa kecil, "maaf, aku benar-benar ingin mengajakmu jalan-jalan. Apa itu salah?"

"Untuk apa berjalan-jalan? Kau sudah membelikanku pakaian pesta, bukankah itu cukup?"

"Kali ini aku mau membelikanmu pakaian untuk jalan-jalan," senyuman menawan itu kembali muncul di wajah Jimin dan membuat sosok Yoongi meringis kecil karena terpesona.

Gadis itu menggeleng saat tersadar dari dunianya, menolak habis niat baik hati Jimin untuknya. "Kau berlebihan."

"Aku tidak suka penolakan, kau tahu?"

Yoongi menghela napas, "arraseo, terserah kau saja."

Sekali lagi Yoongi turun dari mobil dengan pintu yang dibukakan Jimin, menghela napas pelan dan membiarkan laki-laki itu memasang senyum puas karena dirinya sudah mengalah.

Mereka berjalan masuk, melangkah menuju tempat pakaian-pakaian dijual. Beberapa pakaian dengan bentuk yang seksi membuat Yoongi meringis kecil, tertawa dalam hati membayangkan dirinya menggunakan yang semacam itu. Meski beberapa kali menggunakan hot pants, ternyata tetap saja ada yang sejenis itu dengan bentuk seksi.

"Kau suka pakaian jenis apa?"

Suara Jimin menginterupsi kegiatan mengagumi apa yang terpajang di tiap gantungan. Ia mendongak sebentar, menatap blank pada Jimin dan otaknya bekerja mencoba mengingat pakaian jenis apa yang akan ia suka.

Ia tidak benar-benar memiliki kriteria tentang pakaian kesukaan, jika itu terlihat menarik dan pas untuk tubuhnya ia akan membelinya. Ia biasa belajar dengan Seokjin yang pintar soal fashion sehingga ilmunya sedikit berkembang, membuatnya lumayan bisa mengurus pakaian-pakaian tidak–sepasang yang ia miliki tetap terlihat apik digunakan.

"Aku suka yang polos," ujarnya setelah mencoba mengingat jenis pakaian yang ada lemarinya, sebagian besar hanya bentuk polos atau berpola sederhana. Ia tidak benar-benar suka corak karena terkadang sedikit sulit menggabungkan corak dengan sesuatu.

Jimin mengangguk mengerti, matanya mengedar dan menemukan pakaian dengan merk yang ia kenal dan menurutnya memiliki banyak jenis pakaian polos yang bagus. Beberapa kali ia menemani Seolhyun belanja dan beberapa kali juga ia melihat gadis itu memuji mereknya yang memang oke.

"Pilih yang kau suka atau aku akan membeli semua untukmu."

Perintah yang tidak bisa Yoongi tolak.

Yoongi menghela napas, matanya memutuskan untuk memilih mana yang ia mungkin suka dan kembali mencari yang menjadi favoritnya. Ia mendesah pelan saat melihat harga yang tertulis di baju yang ia pegang, terlalu mahal. Dalam hati ia menggerutu. Rasanya pakaian yang ia beli pun tidak ada yang semahal ini, padahal modelnya tidak unik, kainnya pun sama, lalu kenapa sesuatu dengan merek terkenal harus semahal ini sementara yang merek biasa bisa dijangkau dompetnya?

"Jangan pikirkan harganya," Jimin bersuara pelan menyadari Yoongi baru saja berhenti dari kegiatannya memilih baju. Pasti sosok itu menemukan angka yang tidak ia suka dan dia merasa tidak perlu membelinya. Selalu begitu. "Kalau kau suka, katakan saja."

Menyadari Jimin yang mulai mengeluarkan sifat penuh paksaannya, Yoongi mengangguk. Ia mengambil satu pakaian yang menarik hatinya dan memasangkan pakaian itu dengan dirinya, "bagaimana menurutmu?" Dalam hati Yoongi mengeluh keras-keras, merasa konyol dengan tingkahnya sendiri karena bersikap seperti seorang remaja perempuan yang genit mencoba menarik perhatian kekasihnya yang cuek.

Jimin tersenyum melihat tingkah Yoongi yang mulai berkurang kekakuannya, "itu bagus," ujarnya saat melihat pakaian yang Yoongi pilih. Meski dari golongan biasa, ternyata mata gadis itu cukup baik dalam memilih sebuah pakaian. Mungkin temannya yang model sudah mengajari banyak hal tentang selera berpakaian padanya, batin Jimin saat mengingat Seokjin adalah seorang model.

"Aku ambil ini saja," Yoongi pun memasukkan baju yang ia pilih ke dalam tas yang sudah Jimin bawa tadi, mengambil alih benda itu untuk ia pegang. Gadis itu tersenyum, "sudah 'kan?"

Senyuman dan anggukan dari Jimin membuat Yoongi menghela napas lega, setidaknya dirinya tidak dipaksa kembali memilih pakaian yang dipajang. Ia tidak bisa. Melihat harganya saja ia sudah merasa tertekan.

Mereka pulang setelah itu, Jimin menjanjikan jemputan nanti malam untuk pesta ulang tahun di sebuah hotel mahal. Yoongi mengangguk mengiyakan karena tidak mungkin gaun yang ia tenteng sekarang ini tidak ia gunakan, setidaknya hanya sekali, hanya sekali Yoongi merasa senang berada di sisi Jimin tanpa mengkhawatirkan apapun.

.

.

"Oh, apa itu orang yang menjemputmu?" Seokjin memekik heboh menyadari ada suara bel dari luar kamar, berubah menjadi gadis yang tidak sabar padahal jelas-jelas jikapun tebakannya memang benar, itu bukan untuknya.

Yoongi melirik jam di dinding, mencoba mengingat-ingat pukul berapa Jimin menjanjikan jemputan untuknya.

"Eoh," gadis yang rambutnya tengah entah–diapakan itu mengangguk kecil. "Sepertinya memang yang menjemputku."

"Waah, uri Yoongie sekarang akan menjadi konglomerat!"

Yoongi tertawa mendengar candaan Seokjin, "menurutmu begitu?"

"Tentu saja, Park Jimin itu positif menyukaimu!"

"Aku 'kan belum tentu akan menerimanya."

"Kau harus menerimanya meski Namjoon dan Hoseok menghalangimu! Mereka hanya terlalu khawatir pada sahabatku satu ini yang baru saja patah hati, jadi jangan dengarkan mereka."

"Araseo," Yoongi tersenyum. "Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa di sana Seokjin!"

"Yeah," Seokjin mengangguk dan tersenyum. "Sampai jumpa!"

.

Mereka tiba di tempat pesta Jimin yang disambut langsung oleh sang pemilik pesta. Mata Yoongi terbelalak, mendadak terkejut kenapa harus disambut dengan mawar merah dan uluran tangan sopan dari atasannya itu. Ia dengan malu-malu menerima mawar itu dan membalas uluran tangannya.

Jimin memuji tentang betapa cantiknya Yoongi dan merangkul lebih erat tubuh mungilnya. Beberapa orang menatap ke arah mereka, gadis-gadis dengan kesan glamor menahan napas melihat pakaian yang dikenakan Yoongi terlihat benar-benar mahal. Hal itu membuat Jimin tersenyum lebih bangga dengan gadis di rangkulannya.

Mereka tiba di bangku besar pada tengah ruangan, Jimin menyuruh Yoongi untuk duduk di sebelah bangku miliknya dan lalu mendaratkan satu kecupan di kening Yoongi setelah menyibak poni yang menggantung manis pada rambutnya.

Beberapa orang terkesiap dan Yoongi sendiri terbelalak. Terkejut mendapati serangan tiba-tiba dari atasannya itu.

"Ji–Jimin," ia tergagap, wajahnya memerah dan ia menunduk malu.

Jimin tertawa melihat tingkah Yoongi, tangannya mengelus lembut rambut gadis di hadapannya. "Tunggu di sini, appa eomma-ku akan segera datang. Aku perlu menyambut mereka."

"A–apa? Orang tuamu… datang?"

Jimin mengangguk tanpa beban, "tentu saja datang."

"Kalau begitu…," gadis itu terlihat panik. "Kalau begitu seharusnya aku tidak di sini, 'kan?"

Tawa Jimin membuat gadis yang berniat turun itu menatap bingung. Ia menahan tubuh kurus Yoongi dan membiarkannya duduk di bangku tadi, "aku akan mengenalkanmu pada mereka, jadi tidak perlu khawatir."

"Untuk apa mengenalkanku pada mereka?"

"Nanti kau juga tahu sendiri."

Saat Jimin sudah melangkah ke luar, Yoongi yang berada di bangku itu mendadak merasa begitu asing. Orang-orang memandangnya dengan beberapa komentar yang entah apa, hanya bisikan lirih yang tidak terlalu terdengar di telingnya. Ia meringis, menyembunyikan wajah dalam-dalam di tundukan kepalanya karena merasa begitu bodoh menuruti perintah Jimin untuk tetap ditempatnya. Jika pun dia turun, mau ke mana dia? Seokjin belum muncul, Jungkook yang sedikit ia kenal pun nampaknya belum tertangkap mata sosoknya itu. Ia menghela napas, benar-benar terasa asing berada di lingkungan yang belum pernah ia temui sebelumnya.

"Yoongi?"

Suara seorang gadis yang tidak asing membuat Yoongi mendongak. Ia menemukan Seolhyun dengan senyum lebar menatap ke arahnya, dalam hati bersyukur mendapati Seolhyun sudah ada di depannya. Ia berdiri dan memeluk sebentar tubuh seperti cita-cita semua gadis, menghela napas terang-terangan.

"Senang melihatmu," Yoongi mengumam pelan setelah kembali duduk. Seolhyun sekarang ada tepat di sebelahnya, menatap dirinya penuh pujaan.

"Bajumu bagus sekali!" Seolhyun memuji, mengacungkan ibu jari pada gadis di hadapannya. "Apa baju ini didesain oleh Jungkook? Ah, aku yakin iya. Dia satu-satunya desainer kesukaan Jimin yang selalu sangaaat dipercaya oleh bocah itu. Hasilnya selalu keren!"

Yoongi tertawa canggung mendengar pujian Seolhyun, ia kemudian mengangguk kecil. "Jungkook memang keren untuk mendesain baju," dalam hati ia meringis karena dirinya tidak benar-benar tahu seperti apa baju yang bagus dan tidak, baginya semua baju terlihat sama.

"Omong-omong, kenapa kau di sini?"

"Ah," gadis itu tergagap, ia menatap ke arah ular tempat Jimin tadi melangkah pergi. "Jimin menyuruhku berada di sini…."

"Oh iya, benar!" Seolhyun menepuk keningnya, memasang wajah menggerutu untuk dirinya sendiri. "Itu kan alasan kenapa kau diundang!"

"Huh? Apa?"

Seolhyun tersenyum kecil, "bukan apa-apa, lihat saja nanti."

Saat mereka tengah mengobrol banyak, tiba-tiba dua orang dewasa yang melangkah di belakang Jimin membuat Seolhyun langsung berdiri dan membungkuk. Yoongi yang tidak tahu apa-apa pun ikut melakukan hal yang sama dengan gadis itu.

To Be Continue.

Apa apaan ini. sebulan lebih aku buat dan berakhir sependek ini. aslinya masih ada panjang sehabis ini, tapi aku potong dulu aja biar gak nunggu kepanjangan ya… maafkan aku :'3

Aku bener-bener minta maaf karena keterlambatannya karena… seperti yang aku bilang, tiba-tiba idenya lenyap. Tapi aku udah bangun ide baru kok :'3 buat ini dan what we are. Hehehe

Akhir akhir ini lagi suka menjelajah pairing dan genre, jadi aku agak malas lanjutin yg genrenya sama aja. Maafkan aku

Ya sudah, sampai jumpa di chapter B dari part 10 ini ya! see ya!