Baekhyun adalah satu-satunya hal terindah yang Chanyeol miliki. Kematian Baekhyun menyisakan luka yang sangat dalam pada dirinya. Bagaimana keajaiban akan menyembuhkan luka di hatinya?
Main cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Genre: Fantasy/Friendship
Scene 10: Tekad
Chanyeol melangkah menuju kelasnya dengan senyuman. Hari ini dia berusaha datang tepat waktu ke sekolah meskipun Baekhyun tidak datang menjemputnya di rumah. Hatinya sudah cukup senang membayangkan bagaimana Baekhyun akan menyapanya dengan riang di kelas. Hal kecil yang sanggup membuatnya bahagia.
Saat Chanyeol membuka pintu kelas, matanya langsung tertuju pada tempat duduk milik Baekhyun. Dia melihat Baekhyun tersenyum lebar padanya sambil melambaikan tangan. Baekhyun adalah sahabat yang telah menjadi sumber kebahagiaannya.
"Chanyeol. Duduklah."
Chanyeol duduk di bangku miliknya yang berada di pojok kelas tepat di belakang bangku milik Baekhyun.
"Maaf aku tak menjemputmu tadi pagi. Aku terlambat bangun. Tapi untung saja kau datang tepat waktu. Sebagai gantinya aku akan mentraktirmu makan siang. Oke?"
Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dan membuat ekspresi menyesal dengan sangat imut. Ekpresi yang sanggup meredakan kemarahan siapa pun yang melihatnya. Ekspresi yang Chanyeol rindukan.
"Oke."
Chanyeol tersenyum lebar. Hatinya bahagia melihat sahabatnya itu selalu berusaha menjaganya, walau pun tak jarang berakhir dengan merepotkannya.
Flashback
Chanyeol langsung berlari menuju kelas dari perpustakaan setelah mendengar dari teman sekelasnya bahwa sahabatnya marah-marah di kelas. Dari lorong kelas dia mendengar teriakan temannya.
"HEI, APA YANG TADI KAU KATAKAN TENTANG CHANYEOL HAH?"
"Kau berani bilang dia aneh? Dia bahkan jauh lebih tampan dan lebih tinggi darimu."
"Kau juga, walau pun kau terlahir kembali, kau tidak akan pernah bisa menjadi lebih pintar dari Chanyeol."
"Dan kau, bilang saja kalau kau diam-diam menyukai Chanyeol dan marah karena dia mengabaikanmu."
Chanyeol segera masuk ke ruang kelas dan melihat temannya bertolak pinggang sambil marah-marah pada teman-teman sekelasnya yang hanya diam mendengarkan kemarahan temannya itu. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena tinggah temannya itu.
"Bukankah Chanyeol juga berhasil meningkatkan nilaimu saat dia berpatner denganmu dalam ujian praktek olahraga. Dasar gendut."
Chanyeol segera menarik lengan temannya untuk keluar dari kelas. Temannya yang telah diseret olehnya pergi masih saja sempat berteriak pada teman-teman sekelasnya saat berada di pintu kelas.
"Chanyeol lepaskan. Kalau kalian berani mengatakan yang macam-macam lagi tentang Chanyeol. Kalian akan berurusan denganku."
Chanyeol segera melepaskan tangan temannya saat mereka sudah berada di halaman sekolah, tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Dia ingin memprotes sikap temannya itu.
"Apa yang kau lakukan tadi? Kau hanya membuatku malu."
"Kau malu karena aku? Anak-anak tadi menertawakanmu. Mana bisa aku diam saja. Semua ini salahmu."
"Aku kenapa?"
"Kau pintar, tinggi, tampan dan hebat dalam olahraga, tapi mereka malah mengabaikanmu. Itu semua karena kau tidak pernah mau berbaur dengan mereka, makanya mereka menganggapmu aneh. Kapan kau akan bersikap dewasa Park Chanyeol?"
Teman Chanyeol berteriak kesal karena Chanyeol tidak juga sadar bahwa dia peduli pada Chanyeol dan tidak suka anak-anak lain mengatai Chanyeol aneh.
Chanyeol terdiam sesaat mendengar kata-kata temannya. Dia sadar betapa temannya itu sangat mempedulikannya. Dia pun menatap temannya dengan lembut.
"Tidak bisakah aku hanya berteman denganmu saja? Bagiku kau saja sudah cukup."
Teman Chanyeol luluh mendengar kata-kata manis Chanyeol. Kemarahannya mereda. Dia lalu menopangkan kedua tangannya di dagunya dan mengedip-ngedipkan matanya sambil membuat ekspresi imut andalannya.
"Kenapa kau mengatakan sesuatu yang sangat manis Park Chanyeol? Bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?"
Chanyeol yang berusaha bersikap serius hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Temannya ini memang tidak bisa diajak serius.
"Hentikan, kau membuatku mual."
"Hei, bukankah kau baru saja bilang kau menyukaiku? Kau bilang ingin berdua saja denganku?"
Teman Chanyeol mengalungkan tangannya pada lengan Chanyeol dengan tetap membuat ekspresi imut dengan kata-kata yang dibuat-buat layaknya seorang perempuan.
"Sudahlah, aku mau pergi."
Chanyeol menepis tangan temannya itu dan beranjak pergi dengan perasaan kesal, tapi dia tidak pernah bisa marah. Dia sudah menyadari sejak lama bahwa memang beginilah sikap temannya.
Teman Chanyeol mengejar Chanyeol yang telah pergi meninggalkannya. Dia mengalungkan lengannya ke leher Chanyeol dengan gerakan melompat karena Chanyeol jauh lebih tinggi darinya.
"Baiklah, kau bisa berteman denganku saja."
Chanyeol tersenyum mendengar jawaban temannya. Baginya, memiliki satu teman seperti temannya sudah sangat cukup. Dia bahkan tidak mengharapkan apa pun lagi.
Flashback end
-o-
Baekhyun mondar-mandir di depan pagar rumah Chanyeol sambil sesekali menatap jam di smartphonnya.
"Chanyeol, Park Chanyeol. Cepatlah. Kita sudah terlambat."
Baekhyun berteriak-teriak agar Chanyeol segera keluar dari rumahnya. Mereka sudah terlambat untuk pergi ke sekolah.
"CHANYEOL. CEPATLAH."
"Hei, ini masih pagi. Kenapa kau teriak-teriak?"
Chanyeol keluar dari rumahnya. Dia melihat Baekhyun yang begitu bersemangat. Baekhyun memang selalu seperti itu. Bersemangat dan ceria. Dia berbeda 180 derajat dengan Chanyeol yang tidak banyak bicara. Mereka adalah dua orang yang saling melengkapi.
"Pagi? Kau bilang masih pagi? Pantas saja kau terlambat setiap hari. Beruntunglah sekarang ada aku yang akan memastikanmu pergi ke sekolah tepat waktu. Ayo!"
Baekhyun berlari meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri diam di depan pagar rumahnya. Menyadari Chanyeol tidak mengikutinya Baekhyun berbalik dan berjalan mundur sambil berteriak.
"Hei, Chanyeol. Kau tidak akan pergi ke sekolah?"
"BAEKHYUN AWAS."
Brukkkkkk
Tepat saat Chanyeol berteriak Baekhyun terjatuh tersandung. Hatinya tiba-tiba saja terasa sakit melihat Baekhyun terjatuh. Ya, Baekhyun terjatuh persis seperti hari itu.
"Apa aku tidak akan bisa merubah takdir Baekhyun?"
Chanyeol bergumam pelan. Dia mulai menyadari bahwa keadaan tetap sama. Jika seperti ini terus, Baekhyun mungkin akan tetap mati seperti dulu. Saat itu dia tidak menyadarinya karena terlalu senang bisa bertemu Baekhyun lagi. Tapi terjatuhnya Baekhyun barusan benar-benar membuatnya sadar.
"Apa itu kebiasaanmu tidak menolong orang yang membutuhkan? Atau seenggaknya kau bisa bertanya padaku apa aku baik-baik saja."
Baekhyun berteriak kesal melihat Chanyeol hanya diam saat melihatnya terjatuh.
"Kau baik-baik saja?"
Chanyeol mengembalikan pikirannya setelah mendengar teriakan Baekhyun. Dia pun menghampiri Baekhyun dan mengulurkan tangan untuk membantu Baekhyun berdiri, tetapi Baekhyun tetap merengut kesal. Dia pun menepis tangan Chanyeol dan berdiri dengan kemampuannya sendiri.
"Rasa khawatirmu itu sungguh terlambat."
Melihat Baekhyun kesal, Chanyeol pun menggeser tas selempangnya ke depan dan berjongkok sambil menepuk bahunya.
"Naiklah! Bukankah kakimu sakit?"
"Baiklah jika ini caramu minta maaf. Aku akan memaafkanmu."
Baekhyun pun tersenyum lebar dan naik ke punggung Chanyeol. Chanyeol pun lalu berdiri dan berjalan sambil menggedong Baekhyun.
Chanyeol tersenyum kecil, tetapi otaknya penuh dengan pemikiran tentang bagaimana mencegah kejadian-kejadian seperti tadi terulang kembali. Dengan begitu mungkin saja dia bisa mencegah kematian Baekhyun.
"Baekhyun."
Chanyeol memanggil Baekhyun yang berada di punggungnya dengan suara pelan. Dia menjadi tidak begitu bersemangat setelah kejadian tadi.
"Hemm."
Baekhyun menjawab sekedarnya saja. Dia merasa heran karena tumben sekali Chanyeol berbicara padanya dengan nada malas.
"Apa kau akan meninggalkanku juga seperti dia?"
"Maksudmu apa aku akan mati seperti sahabatmu dulu? Tidak. Aku tidak akan mati semudah itu sebelum aku jadi idol terkenal."
Baekhyun mulai bersemangat menceritakan bahwa dia akan jadi idol dulu sebelum dia mati. Hal itu membuat hati Chanyeol semakin berat.
"Hemm jadi idol ya? Aku berharap kau bisa jadi idol dan tetap sukses untuk waktu yang lama."
"Hei, kau mau tanda tanganku lebih dulu? Setelah aku jadi idol mungkin kita akan sulit bertemu."
Tiba-tiba saja senyum Baekhyum merekah. Dia membayangkan jika dia benar-benar jadi idol nantinya.
"Setidaknya kau tetap hidup."
"Kau bicara apa? Dasar bodoh. Cepatlah atau kita akan terlambat."
Baekhyun memukul kepala Chanyeol dengan keras. Dia tidak suka melihat Chanyeol bersedih dan mengatakan kata-kata yang cukup aneh, seolah-olah dia akan mati besok.
Chanyeol menaikkan tubuh Baekhyun yang mulai melorot dari punggungnya. Dia melangkah menuju sekolah dengan diam. Hatinya merasa ragu, apa benar dia bisa melindungi Baekhyun kali ini. Jika Baekhyun memang ditakdirkan untuk mati hari itu, mungkin memang benar hal itu akan terjadi. Sama seperti isi tasnya yang tetap berantakan, dan dia yang tetap terjatuh hari ini.
Chanyeol menghela napasnya berat dan mulai tersenyum. Dia memutuskan akan tetap berusaha sampai akhir untuk melindungi Baekhyun. Dia telah bertekad, apapun yang terjadi dia tidak akan membiarkan Baekhyun meninggal. Walau pun dia harus kehilangan nyawanya sekali pun.
-oOo-
Akhirnya selesai juga Chapter ini. Maaf sedikit terlambat, karena tiba-tiba saja ide di kepala saya menguap begitu saja dan butuh waktu untuk mengembalikannya.
Terima kasih untuk neomuchanbaek1 atas reviewnya. Dia memang Baekhyun kok. Baekhyunnya Chanyeol oppa.
Terima kasih untuk GreenTea6104 atas reviewnya. Saya sangat suka membaca review, mengetahui orang lain membaca dan menyukai cerita saya.
Terima kasih untuk bellasalb atas reviewnya. Baekhyun memang kembali kok. Apa menulis FF tidak seharusnya seperti ini?
Terima kasih untuk Theresia341 atas reviewnya. Semangat juga, jangan nyerah buat baca ya.
-oOo-
Sunbaenimdeul, don't be silent readers ya. Please review. Biar tambah semangat nulisnya. Fighting.
-oOo-
Mohon pembaca menginformasikan jika menemukan cerita yang serupa atau sekiranya ada unsur plagiat. Dimohon juga untuk memberikan review yang bersifat membangun untuk memperbaiki cerita selanjutnya. Terima kasih telah menjadi pembaca yang baik. Semoga sehat selalu.
