Btw, gimana hasil ujiannya? (Shina) ada beberapa yang turun haha dan itu mengecewakan :(( eyy XD okelah permintaanmu yang minta Wonu tetep cool walaupun dia cewek, aku usahakan fufufufu :3

Perasaan Wonu ke Mingyu sebenernya gimana? (Yeri960) aku rasa sedang dalam perjalanan menyadari perasaan lol

Si Wonu pake baju ceweknya di ch brapa? (gyutem) btw, jawabanku sebelumnya kan ch 15 keatas, tapi setelah ku pikir-pikir lagi ternyata ch 20-an XD Cuma gak tau pasti 20 berapa, btw, sabarnya buat fisikanya XDD

Kamu kelas berapa? (baby) kelas dua belas/tiga sma~

Dia tomboy rambutnya gimana? (bizzleSTarxo) tau gak jaman Wonwoo rambutnya agak panjangan dikit? Kayak masa dia trainee atau pas di episode-episdoe 17 project. Nah, kayak gitu. Aku suka banget liatnya disitu, so adorable mueheheheheh bahkan dia bagiku lebih cantik daripada Jeonghan/eyyy

bakal happy ending kaan? (shabrinadivaniarl) Iya mungkin XD atau malah ending gantung muehehehe

Thanks buat yang kemarin udah review, thanks banget~ thanks juga uda ngasih sedikit masukan dengan review kalian, thanks juga udah nunggu ff ini :3 thanks juga untuk pertanyaannya :D and thanks lagi buat follow fav kalian :)) btw, selamat datang juga buat pembaca baru ^^

Selamat baca~

RnR

.

Ch 11

.

From : Wonwoo

Apa kau jadi ke tempatku? :)

Mingyu mengernyit saat pesan itu masuk ketika istirahat kedua dimulai. Ia meneguk yogurt sekali sebelum menggerakkan jemarinya diatas keyboard ponsel.

To : Wonwoo

Ha? Buat apa? :)

Dengan cepat pesan balasan datang.

From : Wonwoo

Sialan. Kau melupakannya. :(

Mingyu terdiam sebentar mencoba mengingat-ingat. Kerumah Wonwoo? Untuk apa? Sementara, sebuah pesan kembali masuk.

From : Wonwoo

Daging :D

Mingyu menepuk kepalanya. Dan dengan cepat membalas.

To : Wonwoo

Aku pikir aku tidak bisa. Aku mendapat pelajaran tambahan karena tidur di kelas. :(

From : Wonwoo

Benarkah? YES! X'D

Oke, kalau begitu besok?

Mingyu merengut saat mengetahui Wonwoo malah senang dia dihukum, tapi dengan segera dia tersenyum tipis.

To : Wonwoo

Baiklah, aku usahakan :)

.-

.-

.

Hari berikutnya. Setelah bel pulang berbunyi, dengan cepat Wonwoo melangkahkan kakinya. Bersenandung pelan dan berjalan hati-hati menuju wilayah parkir. Ia celingukan mencari sosok yang ia cari.

Gotcha! Dia mendapatkannya. Mingyu sedang duduk diatas sepedanya dan bersiap untuk pulang. Namun saat merasakan suatu beban berat di belakangnya ia menoleh dengan cepat, mendapati Wonwoo tersenyum lebar, duduk diatas kursi penumpang dibelakang, dan hal itu membuat Mingyu terkejut.

"Huwah!" Wonwoo terkekeh mendengar teriakan Mingyu, "Apa yang kau lakukan?! Kau mau membuat jantungku lepas?!" tanya Mingyu tidak terima.

Wonwoo tertawa dan menaruh kedua tangannya diatas kedua bahu Mingyu, "Kita pergi bersama ke apartementku." Ucap Wonwoo.

"Kau bercanda? Kau itu berat tahu!" seru Mingyu.

"Yya! Enak aja! Kau lebih berat dariku!" balas Wonwoo, entah kenapa ia tiba-tiba naik darah menghadapi pemuda tinggi itu.

"Turun!"

"Tidak! Aku malas berjalan, jadi ini lebih praktis!"

Keduanya berdebat tanpa peduli dengan tatapan orang disekitar mereka dan Wonwoo memenangkannya.

"Pokoknya, sekarang…. Majuu!" teriak Wonwoo.

Mingyu mendesis kesal sebelum menginjak pedal dan memutarnya, sepeda berjalan dan Wonwoo tersenyum senang.

Angin malam menerpa keduanya. Walaupun tahu kalau angin malam itu tidak baik, Wonwoo menikmati bagaimana angin malam menyentuh kulitnya. Sudah lama ia tidak merasakan hal ini. Ia bahkan mulai merentangkan tangannya dan berteriak-teriak tanpa malu, apalagi saat jalan menurun.

"YAAHUUUU!" teriaknya lantang lalu tertawa riang.

Mingyu merona malu karena tingkah makhluk yang lebih tua darinya itu, "Bisakah kau tidak melakukan tindakan kampungan yang membuatku malu itu?!" tanyanya sedikit berteriak.

Wonwoo terdiam namun wajahnya berubah kesal. Ia mengguncang tubuh Mingyu beberapa kali.

"He—hey! Hentikan! Kau mau membuat kita celaka? Berhenti mengguncangku—Waah!" Wonwoo melepaskan guncangannya, tapi Mingyu panik saat sepeda mereka malah meluncur menuju tiang listrik.

GUBRAK.

Keduanya terjatuh bersama sepeda. Mengaduh kesakitan, Mingyu lalu menoleh dan menatap tajam pada Wonwoo yang nyengir lalu berkomat-kamit meminta maaf.

"Huh! Inilah alasan aku tidak meminjamkan sepeda padamu dan sekarang aku memboncengmu tapi akibatnya sama saja!" ujar Mingyu kesal, ia mengecek sepedanya.

Wonwoo tersinggung dan terdiam.

Mingyu menghela napas, "Untung sepedanya baik-baik saja." Ucapnya lalu berdiri dan menuntun sepedanya.

Tak mendapat jawaban dari lawan bicara, Mingyu menoleh kearah Wonwoo yang masih saja duduk di aspal.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Mingyu.

Wonwoo menoleh, raut wajahnya terlihat kesal. Mingyu mengernyit. Wonwoo berdiri dan menghentakkan kakinya kesal. Keduanya lalu berjalan dengan Wonwoo memimpin dan mereka tak bicara apapun selama beberapa menit.

"Kau ini kenapa sih?" tanya Mingyu saat melihat Wonwoo cemberut.

"Aku marah padamu." Jawab Wonwoo.

Mingyu menoleh dengan cepat, "Apa? Seharusnya aku lah yang marah."

"Diam!" Ucap Wonwoo sekali lagi.

"Kau yang merusak sepedaku, seharusnya aku yang marah. Jika kau yang marah, untuk apa?" tanya Mingyu tidak terima.

Wonwoo menoleh, "Diam! Aku tidak merusak sepeda mu kali ini! Kau bilang sepedanya masih baik-baik saja, tapi kenapa kau tetap menyalahkanku?!"

Mingyu mengatupkan bibirnya.

Wonwoo menghentakkan kakinya kesal, "Dasar menyebalkan!"

Mingyu diam, tetap melanjutkan langkahnya sambil menuntun sepedanya. Keheningan melanda mereka dalam beberapa menit.

Wonwoo menoleh kebelakang, "Mingyu, kenapa kita tidak naik sepeda lagi?" tanya Wonwoo.

"Tidak usah. Nanti kejadian tadi terulang, lagipula apartementmu tinggal beberapa meter lagi." jawab Mingyu.

"Aku ingin naik sepeda." Lirih Wonwoo.

"Tidak."

"Mingyu!"

"Tidak!"

"Kalau kau tidak mau, biarkan aku yang menaikinya!" seru Wonwoo kesal.

"Apalagi itu! Dua kali tidak!" balas Mingyu.

"Kau menyebalkan! Tidakkah kau bisa membuatku senang sebentar saja?" tanya Wonwoo.

"Kita sudah hampir sampai! Jangan mengomel!" balas Mingyu.

"Tidak bisakah kau tidak berteriak padaku!" seru Wonwoo.

"Aku tidak akan berteriak jika kau juga tidak berteriak kearahku." balas Mingyu.

"Apa?!"

"Apa?!"

Wonwoo mendecih, "Terserahmu lah!"

Keduanya lalu terdiam sampai menginjakkan kaki di apartement Wonwoo.

"Wonwoo noona? Kau masih marah padaku?" tanya Mingyu.

"Hmm—ntahlah.." Jawab Wonwoo sambil membuka kunci pada pintunya.

Mingyu mengernyit bingung, "Aku tidak mengerti."

"Masa bodoh." Jawab Wonwoo dan membuka pintu lalu keduanya pun masuk.

"Apa yang akan kau masak?" tanya Mingyu, "Bulgogi?"

Wonwoo mengangguk.

"Asyik! Aku akan menunggu—tidak, aku akan ikut membantu." Ucap Mingyu senang.

"Tidak usah," jawab Wonwoo, "lebih baik kau menunggu saja." Lalu masuk kedalam kamar dan setelah beberapa menit ia keluar lagi dengan seragam yang sudah ia ganti dengan kaos lengan pendek dan celana panjang.

Mingyu mengerjap. Ia memperhatikan Wonwoo yang kini berjalan cepat menuju dapur dan mengikutinya. Wonwoo memakai apron dan mengambil beberapa bahan yang ia butuhkan. Mingyu melongokkan kepalanya, memperhatikan Wonwoo yang kini mulai mengiris daging tipis-tipis. setelah itu beralih mencincang halus beberapa bawang kemudian mencampurkannya dengan bahan lain dalam sebuah mangkuk kecil.

"Ada yang bisa kubantu?" tanya Mingyu.

"Tidak usah, Mingyu." Jawab Wonwoo.

Mingyu merengut lalu keluar dari dapur. Ia bernyanyi tidak jelas sambil meletakkan bokongnya di atas sofa dan menyalakan televisi. Wonwoo muncul kembali setelah sepuluh menit dan duduk disamping Mingyu, ikut menonton drama yang sedang ditonton Mingyu.

"Bagaimana masakanmu?" tanya Mingyu.

"Aku sedang mendinginkannya di kulkas." Jawab Wonwoo.

Mingyu mengangguk mengerti. Keheningan menyelimuti mereka dan keduanya lebih asyik menonton televisi, beberapa kali Mingyu mengganti channel dan itu membuat Wonwoo kesal.

"Bisakah kau berhenti mengganti?!" tanya Wonwoo sewot.

"Habis tidak ada yang menyenangkan." Jawab Mingyu.

"Tapi drama yang tadi itu favoritku!" seru Wonwoo.

"Sekarang lagi iklan." Balas Mingyu, kembali menekan tombol remote dan mengganti channel berkali-kali.

Wonwoo merengut, "Tapi kau tidak perlu mengganti channelnya! Iklannya tidak begitu lama kok!"

"Oke! Tapi bisakah kau tidak berteriak?" tanya Mingyu.

"Tidak!" seru Wonwoo.

"Kalau begitu aku tetap mengganti-gantinya." Ucap Mingyu.

"Hey! Enak saja! Ini televisiku tahuuu…!" seru Wonwoo lalu mulai merebut remote dari tangan Mingyu.

Mingyu menjauhkan remote dari jangkauan Wonwoo dengan tangannya yang panjang. Wonwoo tak mau kalah, kedua kakinya mulai naik keatas sofa agar tubuhnya bisa menjangkau tangan Mingyu, Mingyu dengan cepat berdiri.

"Yah! Kau bocah sialaan!" seru Wonwoo tidak terima dan kembali menggapai remote.

Mingyu terkekeh dan berjalan menjauh, Wonwoo melompat dari sofa, melayang kearah Mingyu yang kini melongo melihat kelakuannya dan keduanya pun berakhir jatuh dilantai dengan suara debaman keras.

Gubrak!

"Aduuh!"

"Aw!"

Mingyu merasakan punggung dan kepalanya berdenyut setelah 'mencium' lantai dan ia pun meringis, membuka mata dilihatnya wajah Wonwoo yang berada tepat dihadapannya dengan hidung saling menempel dan bibir yang hampir tak berjarak. Mingyu membatu. Wonwoo melebarkan matanya. Sedikit saja pergerakan yang salah, bisa di pastikan bibir mereka akan bersentuhan.

Wajah Wonwoo merona sempurna. Dengan cepat dia menjauhkan wajahnya dari wajah Mingyu dan menampar pemuda itu bolak-balik.

Plak! Plak! Plak! Plak!

"AH—ADUH! HENTIKAN!" teriak Mingyu tak terima.

"A-a-apa ya-yang ka-kau lakukan?" tanya Wonwoo tergagap.

"Harusnya aku yang bertanya begitu! Enak saja kau menamparku! Kau yang jatuh diatasku!" protes Mingyu.

"Tapi kau mengambil remote ku!" balas Wonwoo.

"Tapi tidak perlu melompat kearah ku!" balas Mingyu.

Tamparan itu berhenti. Wonwoo terdiam dengan perasaan malu luar biasa. Mingyu lalu duduk dan mengeluh akan punggung, kepala dan wajahnya.

"Ini menyakitkan…" keluh Mingyu. Sesaat kemudian ia terkejut saat sepasang tangan mengelus kedua pipinya. Ia menatap kearah Wonwoo yang kini menatapnya cemas.

"Maafkan aku." Ucap Wonwoo.

Mingyu mengerjap, otaknya terlalu lambat untuk merespon apa yang sedang terjadi dan setelah itu dia melepaskan elusan tangan Wonwoo dari pipinya.

"Tidak apa-apa." Balasnya.

"Oke." Wonwoo tersenyum. Ia lalu berdiri dan pergi ke dapur. Sedangkan Mingyu terdiam diatas lantai dengan tangan menutupi wajah yang mulai memerah mengingat apa yang terjadi.

.-

.-

"Mingyu!" Wonwoo memanggil pemuda tinggi itu dari dapur dan Mingyu dengan cepat datang. Diatas meja, sudah terhidang sepiring bulgogi dan dua mangkuk nasi hangat juga semangkuk sayur.

Harum makanan masuk ke indra penciumannya dan itu membuat Mingyu semakin lapar. Ia segera mendudukkan dirinya diatas kursi. Wonwoo pun duduk disebelahnya setelah meletakkan dua gelas air putih diatas meja.

"Selamat makan." Ucap keduanya dan segera melahap makanannya.

Mingyu mengunyah daging dan menelannya, "Tidak enak," Ucapnya dan setelah melihat Wonwoo tersenyum manis dengan pisau dapur ditangan, dia menambahkan, "a-aku bercanda. Jangan membunuhku."

Wonwoo memutar matanya dan menatapnya datar sambil tetap mengunyah. Setelah menelan makanan yang ada di mulutnya, ia berkata,

"Tanpa kau menghina masakanku pun entah kenapa ingin membunuhmu." Ucap Wonwoo.

"Apa?"

"Aku tidak akan melakukannya, tenang saja." Ucap Wonwoo, kembali memasukkan daging kemulutnya dan mengunyahnya.

Mingyu mengendikkan bahunya tidak peduli. Ia mengambil lima daging sekaligus dan itu membuat Wonwoo melotot kearahnya.

"Tidak bisakah kau mengambil satu-satu?" tanya Wonwoo tidak terima.

Mingyu tertawa kecil, "Habis enak sih."

Wonwoo mencibir, "Alasan."

Keduanya lalu melanjutkan makan mereka dalam diam. Hingga daging tersisa satu dan keduanya berebutan untuk mendapatkannya.

"Yah! Ini milikku!"

"Milikku!"

"Enak aja, ini milikku!"

"Siapa yang masak?!"

"Kau bilang kau memasakkannya untukku!"

"…."

"Yesh!" seru Mingyu senang dan memasukkan daging terakhir itu kemulutnya.

Wonwoo menghentakkan tangannya ke meja lalu dengan cepat berdiri, "Cuci piringnya!" serunya kesal lalu pergi dari dapur.

"Tidak usah berteriak juga." Balas Mingyu.

"Diam!"

"Aku sudah bilang beberapa kali jangan berte—"

"Diam dan cepat cuci piringnya! Juga jangan membantahku!" seru Wonwoo.

Mingyu melongo lalu menghela napas. Ia lalu menaruh piring-piring kotor di bak cuci dan mencucinya. Ia merasa bingung kenapa Wonwoo suka sekali marah padanya hari ini, sesuatu yang sepele saja sudah membuat yang tertua itu kesal.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Mingyu mengeringkan tangannya dan mengambil ponselnya. Mengetikkan nomor Jihoon dan menempelkan ponsel di telinga. Tak butuh waktu lama karena Jihoon langsung mengangkat sambungan darinya.

"Apa lagi kau meneleponku? Kali ini malam hari!" seru Jihoon sewot.

Mingyu mencibir, "Nyantai lah."

"Aku mau tidur, jadi cepatlah." Ucap Jihoon.

"Siapa yang menelpon?"

Mingyu terdiam sejenak saat mendengar suara seorang dibelakang Jihoon, "Oh, aku menggangu acara tidurmu dengan pacarmu?" tanyanya sambil menyeringai.

"Aku tutup sekarang."Kesal Jihoon.

"Eehh! Tunggu," ucap Mingyu.

"Apa?"

"Apa kau juga sedang datang bulan?! Kenapa sih cepat sekali marah?" tanya Mingyu.

"Aku tidak sedang datang bulan dan aku tidak marah!" Jawab Jihoon.

"Kau barusan marah, Jihoon." ucap seorang di belakang Jihoon lagi.

"Diam Soonyoung!" balas Jihoon.

"Kau sedang PMS, jujur saja." Ucap Soonyoung.

"Aku tidak sedang PMS!"

Mingyu menjauhkan ponsel dari telinganya saat Jihoon berteriak, lalu ia mengernyit heran dan kembali mendekatkan ponsel ke telinga, "Huh? PMS? Apa itu?" tanya Mingyu.

"Oh, sorry. Kau tanya apa?"

"Apa itu PMS?"

"Oh—itu hanya gejala fisik dan emosional sebelum menstruasi."

"Hah?"

"Memangnya untuk apa kau bertanya tentang ini?"

"Noona gampang sekali marah dan—"

"Oh. Aku mengerti. Dia marah padamu?"

"Begitulah."

"Yah, begitulah gejalanya."

"Hanya itu?"

"…." Jihoon terdiam berpikir, "…Soonyoung! Kembalikan ponselku!"

"Halo. Biar aku yang jawab. Gejalanya banyak, mulai dari mood yang selalu berubah—gampang emosi, nangis tanpa alasan, kecapekan, banyak makan, kalau di Jihoon begitulah. Kau harus lihat, dia semakin gemuk sekarang…tapi.. aku tetap cinta dia." Ucap Soonyoung lalu tertawa.

"Yya! Kembalikan ponselkuu!"

"Lalu—apa yang harus kulakukan?"

"Sabar dan turuti kemauannya. Pokoknya jangan buat emosinya makin jelek."

"Kau sudah membuat emosi ku semakin jelek! Kembalikan ponselku!"

"Aku tahu kamu sedang PMS Jihoon—tapi jangan teriak-te—akh!"

Mingyu tertawa mendengar hal itu, lalu ia bisa mendengar suara pukulan dan akhirnya Jihoon kembali bersuara, "Sudahkan?"

"Kapan semua itu selesai?" tanya Mingyu.

"Mingyu. Kau bicara dengan siapa?" Wonwoo muncul dan berdiri dihadapannya.

"Hanya beberapa hari setelah menstruasi dimulai, paling tidak dua tiga hari." Jawab Jihoon.

"Oh, begitu, baiklah noona, terima—" Mingyu terkejut saat Wonwoo merebut paksa ponselnya, wajah Wonwoo terlihat marah.

"YYA! JANGAN BERANI-BERANINYA KAU MENELPON MINGYU, DASAR LACUR!" teriak Wonwoo kearah ponsel.

Mingyu melongo.

"APA KAU BILANG MULUT BUSUK?! BISA KAU MENJAGA MULUTMU?!"

"Wonwoo-noona—" Mingyu berniat menghentikan Wonwoo.

"MULUTMU LEBIH BUSUK!"

"DIAM, BITCH!"

"APA KATAMU?!"

Mingyu terdiam saat keduanya saling melontarkan hinaan. Mingyu memutar mata jengah, dia lalu melangkahkan kakinya meninggalkan dapur.

"LAGIPULA, MINGYU DULUAN YANG MENELPONKU!"

"BUAT APA?!"

"TANYA SAJA PADANYA!" teriak Jihoon lalu mematikan sambungan.

Wonwoo lalu menoleh kearah Mingyu, namun pemuda itu sudah pergi dari dapur. Ia lalu mencari Mingyu dan mendapati Mingyu bersiap untuk pulang dengan tas yang sudah ia pakai.

"Tunggu! Mau kemana kau?!"

"Pulang. Kemarikan ponselku."

"Apa? Tidak! Aku tidak akan mengembalikannya padamu jika kau pulang sekarang!"

Mingyu menghela napas, "Lalu aku harus pulang kapan?"

"Tidak untuk hari ini."

Mingyu terdiam sebentar sebelum menatap datar pada Wonwoo, "Kalau begitu aku tinggal saja ponselnya padamu." Ucapnya lalu bersiap membuka pintu.

Wonwoo terperanjat, dengan cepat dia menahan pintu sebelum Mingyu keluar dari apartementnya.

"Kau tidak boleh pergi." Ucap Wonwoo.

"Tapi aku harus pulang sekarang… lagipula besok sekolah." Jawab Mingyu.

"Tetap saja kau tidak boleh pergi." Ucap Wonwoo.

"Aku harus mandi dan tidur Wonwoo-noona. Aku capek."

"Aku juga capek. Kalau begitu kenapa kau tidak melakukan dua hal itu saja di sini? Aku punya baju ganti untukmu."

Mingyu terkekeh, "Tidak usah, lagipula itu terlalu merepotkanmu. Sudahlah." Ucapnya lalu menyingkirkan Wonwoo dari depan pintu.

Wonwoo terkejut, tubuhnya limbung hingga jatuh terduduk diatas lantai, "Aduh!"

Mingyu panik, dengan cepat mengangkatnya, "Maaf—"

Raut wajah Wonwoo terlihat kesal, "Kau tidak bisa pergi."

Mingyu kembali menurunkannya ke lantai, "Aku harus pulang, sampai besok." Ucapnya kemudian membuka pintu.

"Kalau begitu aku akan duduk disini dan menunggumu kembali." Ucap Wonwoo.

"Jangan merepotkan dirimu."

Wonwoo tak membalas dan memilih memeluk kedua lututnya. Mingyu menghela napas, ia lalu keluar dari apartement Wonwoo lalu menutup pintu.

"Sampai besok!"

Wonwoo menggigit bibir, entah kenapa ia merasa sangat sedih. Matanya mulai berkaca-kaca dan ia pun menangis.

.

Mingyu melangkahkan kakinya menuju lift, menekan tombol turun dan menunggu lift terbuka. Ia terdiam melamun, merenungkan apa yang sudah terjadi. Ia sedikit bersalah pada Wonwoo. Mingyu mengacak rambutnya.

Ting!

Pintu lift terbuka. Mingyu melangkahkan kaki masuk ke dalam lift. Pintu kemudian tertutup, namun lift tak segera berjalan karena Mingyu belum menekan tombol menuju lantai yang akan ia pilih. Ia masih terdiam melamun.

"Sabar dan turuti kemauannya. Pokoknya jangan buat emosinya makin jelek."

Mingyu dengan cepat menekan tombol untuk membuka pintu lift dan segera keluar dari lift. Ia mempercepat langkahnya menuju pintu apartement Wonwoo dan membuka pintunya. Wonwoo mendongak. Mingyu menahan napasnya sepersekian detik saat melihat mata itu basah oleh air mata.

Mingyu masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Kemudian, ia menatap Wonwoo yang kini panik dan menghapus air matanya. Mingyu pun duduk menyamakan tingginya dengan tinggi Wonwoo.

"Maaf—maaf aku—" Mingyu terdiam saat Wonwoo malah memeluknya.

"Jangan pergi." Bisik Wonwoo semakin membungkam mulut Mingyu kala mendengar itu.

Mingyu mengelus rambut Wonwoo perlahan-lahan sambil balas memeluknya.. Wonwoo terisak sesekali dan mengeratkan pelukannya. Lama keduanya dalam posisi seperti itu hingga Mingyu merasakan tangan yang memeluk tubuhnya mengendur dan suara hembusan napas Wonwoo terdengar teratur. Mingyu mendengus melihat wajah Wonwoo yang tertidur.

"Huh. Enak saja dia tidur begitu saja. Bukan dia yang repot, tapi aku." Desis Mingyu sebal, tapi ia kemudian tersenyum dan mengangkat Wonwoo lalu berjalan menuju kamar Wonwoo.

Di baringkannya tubuh itu diatas kasur lalu menyelimutinya. Ia tertawa kecil dan mengelus rambut Wonwoo lalu berniat pergi keluar kamar. Namun, tarikan kecil pada bajunya membuat dia terdiam.

"Bo..doo..h.. tetaplah di..si..ni…" igau Wonwoo.

Mingyu terdiam. Ia melepaskan tangan itu hati-hati. Lalu keluar dari kamar, beberapa menit kemudian ia masuk lagi kedalam kamar dengan seragam yang sudah ia ganti dengan kaos yang kebetulan ia bawa.

Ia terkejut saat melihat Wonwoo terbangun dan menatapnya dengan tatapan mengantuk. Mingyu tersenyum kecil, mengelus rambut Wonwoo sekali lagi dan berucap, "Tidurlah lagi.."

Wonwoo tersenyum tipis sambil menepuk pelan ruang kosong disebelahnya. Mingyu mengangguk dan membaringkan diri di ruang kosong itu. Keduanya saling berpandangan selama beberapa saat sebelum Wonwoo kembali memejamkan mata dan tertidur.

.

.

A/N : Jujur, agak ragu juga ngepost ch ini. Aneh ngga? Syukurlah kalau nggak XD habis ntah kenapa Wonwoo nya kubuat begini. Oke, gejala pms wkwk, walaupun sebetulnya gak sampe gitu banget (kalau aku, maksudnya). Btw, Wonwoo bilang dia gak bisa masak /ngakak/ dan aku buat di sini dia bisa masak xD yaudah lah, ff juga. Oh ya, aku sedang terganggu dengan kedekatan Jun-Wonu oke, gue kezeeelll setengah mati ayey. Huft.

Okay,

:)

TBC or END ?

Review, Please!

P.S : Besok aku rapotan! :"D doain nilainya bagus dan rankingnya naik ya~ hehe :D saranghae~