Chapter 11 UPDATE! Maaf yang sebesar-besarnya buat para reader yang masih setia membaca ffn hancur milik hamba ini. Dan hamba bersyukur, karena dari beberapa review yang hamba terima, rata-rata para reader semua sudah mengerti maksud hamba tentang penentuan mainpairing di sini. Namun, kalau misalnya ada reader yang tidak bisa menerima, atau mungkin menganggap hamba adalah seorang author yang abal-abal atau tidak konsisten, hamba akan terima. Karena wajar aja, hamba adalah author amatiran. Butuh waktu lebih untuk hamba belajar untuk menjadi seorang author yang mampu membuat ffn yang sangat berkualitas. Tapi untuk reader yang masih setia mendukung hamba, hamba ucapkan sangat-sangat terima kasih. Untuk kedepannya hamba masih membutuhkan dukungan para reader. Arigatouuuuuuuu :****
.
.
Prev Chap :
.
"Naruto, apa kau yakin?"
Akhirnya dengan wajah yang masih tertunduk, ia mengeluarkan suaranya. Namun, bukan sebuah jawaban dalam bentuk kalimat berita yang ia katakan, melainkan sebuah pertanyaan yang semakin membuat Naruto bingung.
"Tentang?"
"Kau tahu apa yang aku maksud, Naruto!"
Sakura sedikit meninggikan volume suaranya. Wajahnya yang semula bersembunyi, kini kembali menatap wajah Naruto, meskipun pemuda itu tidak lagi menatapnya. Ia tahu kalau Naruto mengerti tentang apa yang baru saja ia tanyakan padanya. Hanya saja, seolah-olah pemuda itu melpuakan apa yang menjadi latar belakang pertanyaan darinya.
Cukup lama Naruto bertahan pada posisinya, menatap ke arah luar jendela pesawat. Sejauh ini dari sepasang matanya yang ia lihat hanyalah kepulan awan-awan putih yang menyerupai kapas. Namun bukan hal itu yang menyebabkan Naruto bertahan dengan posisi tersebut. Justru ia tengah memikirkan jawaban untuk pertanyaan Sakura yang sebenarnya ia ketahui maksud dan artinya.
"Aku yakin."
Pemuda itu tersenyum, sembari menatap sang lawan bicara yang berada di sampingnya. Pada mata itu, jika sekilas kau menatap pada sepasang permata safir itu, kau akan melihat sebuah tatapan dengan rasa kasih sayang yang besar terpancar dari sana. Namun, jika kau melihatnya lebih dalam, kau akan menemukan rasa penyesalan yang teramat besar disana, dan wanita Haruno itu melihatnya.
'Naruto..'
.
.
.
The Red Thread Of My Destiny © Aida Yie
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Hurt/Comfort, Drama, Romance. | Warning : AU, OOC, Typos, etc. | Rate : Fiction T/M|
Pairing : NaruSaku, SasuHina.
!WARNING : NO LIME, TYPOS OF COURSE!
.
.
.
"Bagaimana?"
"Kondisinya baik-baik saja. Apa yang dialami Hinata-san itu wajar bagi wanita yang sedang hamil. Namun, Hinata-san, saya harap anda juga harus lebih menjaga dan memperhatikan kesehatan anda."
"…"
"Apakah ini kehamilan pertama anda?"
"…"
Sebuah pertanyaan yang membuat wajah dingin milik seseorang berubah seketika. Kedua alis yang saling bertautan dan mata yang semakin tajam menatap pada sang dokter, terlihat jelas raut ketidaksukaan akan pertanyaan itu tercipta di wajah sang pemilik rumah.
"A-a..I-iya.."
"Hmm. Kalau anda merasakan sesuatu, segera hubungi saya. Baiklah, saya permisi dulu."
"Kabuto."
"Ha'i, silahkan ikuti saya."
Cklek..
Blamm..
Keheningan memenuhi ruangan itu. Tidak satu pun dari kedua manusia disana yang berkeinginan untuk membuka suaranya. Sang wanita yang masih terbaring lemah di sebuah tempat tidur, memandang sendu pada sang pemuda yang masih menghadapkan tubuhnya pada satu-satunya pintu yang baru saja tertutup beberapa detik yang lalu.
Enggan untuk memanggil pemuda Uchiha tersebut, wanita itu menarik pandangannya pada kedua tangan mungil yang saling menggenggam di atas perut rata miliknya.
'Naruto-kun..'
Perlahan, tautan kedua tangannya berubah menjadi sebuah sapuan lembut pada perutnya yang tertutupi selimut tebal berwarna hitam. Dapat dipastikan, kini wanita itu sedang berada di kamar milik sang Uchiha –lagi. Tentu saja, selimut inilah yang menemaninya selama tiga hari sejak pertama kali ia tiba dan menginjakkan kaki di tempat ini.
Namun, kegiatan kedua tangan mungil itu terhenti seketika, tak kala sebuah tangan besar yang dipastikan bukan miliknya menggenggam salah satu tangan wanita itu.
Amethyst bertemu obsidian. Tatapan tanpa makna diberikan pemuda itu pada wanita yang kini juga tengah menatapnya. Ia tersenyum. Bukan, bukan pemuda itu. Hanya wanita dengan sepasang amethyst indah itu yang tersenyum. Sebuah senyuman lembut yang sangat dirindukan oleh pemuda itu sejak terakhir kali ia melihatnya, saat ia masih seorang anak laki-laki yang berumur 5 tahun. Tanpa ia sadari, kedua bibirnya turut menyunggingkan sebuah senyum tipis, namun masih dapat terlihat oleh sepasang amethyst didepannya.
Senyum yang terpatri disana tidak berlangsung lama. Hanya beberapa detik, dan bibir itu kembali pada bentuknya semula, sesaat setelah tangan mungil itu memaksa untuk melepaskan diri dari genggaman miliknya. Sukses. Tangan mungil itu telah bebas dari "sangkar" yang sedetik lalu masih mengurungnya. Raut kekecewaan terlukis di wajah pemuda Uchiha itu. Berbanding terbalik dengan apa yang disuguhkan oleh wanita si pemilik tangan mungil tersebut. Senyum lembut senantiasa terpatri diwajahnya, rona merah tipis kembali muncul dan semakin memperindah wajah miliknya. Perlahan, tangan mungil yang baru saja bebas tersebut, terulur kearah sisi wajah pemuda di hadapannya. Membuat beberapa helai surai raven yang membingkai wajah dingin khas Uchiha terlilit di jari-jari kurus milik wanita itu.
Rasa kecewa yang semula menguasai relung hatinya, perlahan menghilang, tergantikan oleh rasa hangat yang kini malah semakin menguasai. Sungguh, rasa hangat dan nyaman benar-benar menguasai dirinya saat ini. Bahkan ia hampir saja memejamkan matanya disaat tangan wanita itu semakin memperluas daerah sentuhannya pada wajah Uchiha itu. Sama seperti sepasang bibir miliknya tadi, tanpa ia sadari salah satu tangan besar miliknya bergerak kesisi wajahnya sendiri, menyusul tangan mungil nan hangat yang masih setia bersembunyi dibalik anak rambut miliknya.
Sekali lagi, amethyst bertemu obsidian, namun kini tatapan keduanya memiliki makna yang sama. Ingin mencintai dan dicintai, melindungi dan dilindungi, membahagiakan dan dibahagiakan, ingin memiliki dan dimiliki, menghapus semua kegundahan, ketakutan dan kesepian, itulah yang mereka rasakan. Maka disaat itulah Hyuuga Hinata memutuskan, ia akan selalu berada disisi pemuda Uchiha ini, bersama, selamanya.
.
.
.
.
Tokk.. tokk.. tokk..
Cklek..
"Tou-san.."
"Oh..Naruto."
"Boleh aku masuk?"
"Tentu. Masuklah."
Blamm..
Pintu tertutup. Suasana hening seketika. Dua manusia yang memiliki ikatan darah berada dalam satu ruangan bernuansa birunya laut. Tidak ada yang memulai percakapan. Keduanya disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Seorang pria bersurai pirang dengan kaca mata yang bertengger di wajahnya, tengah sibuk dengan beberapa kertas dan map yang berserakan di atas meja jati berwarna coklat tua, duduk membelakangi seorang pemuda dengan surai berwarna sama, yang baru saja masuk ke ruangan tersebut dan hanya duduk termenung di sebuah tempat tidur berukuran cukup besar, dengan kedua tangannya yang saling bertautan.
Suasana itu bertahan cukup lama, hingga sang pria yang terlihat lebih tua dibandingkan seorangnya lagi mencoba untuk membuka sebuah percakapan.
"Jadi, ada apa?"
Pria itu masih focus dengan sebuah map merah dan beberapa lembar kertas yang terselip di dalamnya. Namun, meskipun begitu, dapat dipastikan perhatiannya tidak hanya tertuang pada kertas-kertas itu saja.
"Tidak.. Tidak ada apa-apa."
"Benarkah?"
"..."
Pemuda yang dipanggil Naruto itu hanya terdiam. Bohong, jika sedang tidak terjadi apa-apa padanya. Ia berbohong, jika saat ini keadaanya baik-baik saja. Ia frustasi. Ia butuh seseorang yang dapat memberikannya sebuah jalan keluar dari segala masalah yang sedang menimpanya.
"Apa ini tentang Sakura?"
"…"
Pertanyaan sang ayah seakan tepat, mengenai sasaran dari apa yang sekarang tengah dipikirkannya. Ia terdiam, maka saat itu Minato mengganggap itu adalah jawaban 'YA'.
"Bagaimana keadaanya?"
"Baik-baik saja. Dia sedang istirahat di kamar."
"Syukurlah."
"…"
"Lalu, ada apa?"
Sikap sang anak yang berbeda sejak terakhir kali ia bertemu dengannya, membuat perhatian Minato sepenuhnya menjadi terfokus pada pemuda di belakangnya. Kaca mata yang telah berpindah tempat ke atas meja, dan map merah yang telah tertutup sempurna, menjadi bukti bahwa masalah yang tengah dihadapi anaknya lebih menjadi prioritasnya dibandingkan map-map dengan warna berbeda yang masih bertumpukan di depannya. Dengan pasti, Minato beranjak dari tempatnya, berjalan menuju sisi tempat tidur dimana Naruto mendudukkan dirinya.
"Jadi.."
"Tou-san.."
"Ya.."
"Apa tou-san sangat mencintai kaa-san?"
Pemuda itu masih berkutat pada kedua tangannya yang masih bertautan. Enggan untuk menatap mata sang ayah yang seakan dapat membaca seluruh isi pikirannya.
"Kushina.. Ya. Tou-san sangat mencintai kaa-san."
"Lalu, apa yang tou-san rasakan saat kaa-san meninggalkan kita?"
Pemuda itu tidak lagi menatap pada kedua tangannya, namun menatap sisi wajah sang ayah yang tengah menengadahkan wajahnya.
"Saat itu, tou-san merasa setengah jiwa dan raga tou-san telah pergi, hilang entah kemana. Rasanya seperti kau tidak akan mampu hidup hanya dengan setengah jiwa dan ragamu saja. Kau akan merasa kosong, takut dan ingin meminta pada seseorang untuk mengembalikannya ke sisimu. Dan juga.."
"Juga..?"
"Kau akan merasakan sakit yang teramat sangat dan rasa kehilangan yang begitu besar."
"Sakit.. dan kehilangan?"
"Tentu saja.."
Minato kembali menatap mata pemuda disampingnya seraya menepuk puncak kepala Naruto.
"Kau sudah pasti merasakan sakit saat tulang rusukmu diambil darimu dan akibatnya, tentu saja kau akan merasa kehilangan, Naruto."
"… Lalu, bagaimana jika.."
"Jika..?"
"Tou-san menyukai dua wanita di waktu yang bersamaan?"
"Maksudnya?"
"Ya, misalnya tou-san sangat menyukai, bahkan mencintai seorang wanita, namun tou-san lebih memilih bersama wanita lain karena tou-san sudah berjanji akan selalu menjaga dan melindungi wanita lain tersebut. Tapi—"
"Naruto, apa kau mencintai Sakura?"
"A-apa?"
"Tou-san tanya, apa kau mencintai Sakura, Naruto?"
Minato kembali mengulangi pertanyaannya. Dengan selembut mungkin, ia menatap wajah Naruto yang semakin terlihat frustasi. Wajahnya tertunduk dan kembali memandang kedua tangannya yang masih bertautan.
"A-aku tidak tahu."
"Lalu, apa kau merasakan sakit dan kehilangan pada wanita lain itu saat kau memilih untuk bersama Sakura?"
"…Iya.."
"Kalau begitu, tinggalkan Sakura."
Sepasang safir milik Uzumaki muda itu melebar. Perkataan sang ayah yang terdengar enteng namun sukses membuat ia bagaikan disambar petir.
"A-aku tidak bisa. Aku sudah berjanji pada Sakura untuk menjaga dan melindunginya. Bahkan aku akan menikahinya, tou-san!"
"Kalau begitu, tepatilah."
"Eh.."
"Kalau kau sudah berjanji seperti itu, maka tepatilah."
"Ta-tapi aku tidak-"
"Dengar, saat ini, tepatilah janjimu pada Sakura. Kalau wanita yang kau cintai itu benar-benar ditakdirkan untuk bersamamu, maka ia pasti akan bersamamu, Naruto"
"..."
"Tou-san yakin, jika kaa-sanmu masih disini, dia pasti akan mengatakan hal yang sama seperti yang tou-san katakan."
"Um."
Naruto hanya dapat menundukkan kepalanya. Perkataan sang ayah memang benar adanya. Ia yang telah berjanji, maka ia pula yang harus menepatinya. Jika orang yang ia cintai benar-benar memang telah ditakdirkan untuk bersamanya –dalam hal ini orang itu adalah Hinata, maka ia pasti akan bersama dengan wanita bersurai indigo itu pada akhirnya.
"Baiklah, ada yang ingin kau bicarakan lagi?"
"Tidak. Arigatou, tou-san.."
"Nee, jangan berwajah murung seperti itu. Semangatlah, besok adalah hari pernikahanmu, kan?"
"Hmm."
"Bagus, sekarang istirahatlah. Besok adalah hari besar untukmu."
.
.
.
.
"Lalu.."
"Sehari setelah kaa-san meninggal, tou-san membawaku dengan paksa ke luar negri."
"Jadi karena itu kau tidak lagi datang ke taman bermain?"
"Uhmm..I-iya.."
"Hmm.. Bodoh."
Pemuda Uchiha itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh wanita Hyuuga yang terlihat rapuh dalam kurungan tubuhnya. Kedua manusia itu terlihat begitu menikmati setiap detik kebersamaan mereka. Meskipun suhu diluar sana begitu dingin menusuk, namun suhu tubuh kedua manusia itu dapat dipastikan jauh lebih tinggi dibandingkan suhu dari musim yang segera akan berganti.
"Dingin.."
"Sa-sasuke-kun kedinginan?"
Bohong. Dengan selimut tebal berwarna hitam dan dengan tubuh mungil wanita Hyuuga di pelukannya, mustahil jika Uchiha itu masih merasa kedinginan. Hinata segera membalikkan tubuhnya, menciptakan jarak untuk berhadapan dengan Sasuke yang semula memeluk tubuhnya dari belakang.
"Benar. Dan jika kau tidak keberatan, tolong jangan membuat ruang kosong agar udara dingin tidak menggantikan tempatmu, Hinata."
"Hihihi benarkah? Ba-bagaimana kalau aku keberatan, tuan muda Uchiha?"
"Kau keberatan? Tidak terdengar seperti nona muda Hyuuga."
" Hmm.. Da-dan Sasuke-kun yang terlalu banyak bicara, tidak terdengar se-seperti tuan muda Uchiha yang ku kenal."
Hinata kembali menyentuh sisi wajah Sasuke. Menangkup wajah tampan nan dingin yang menjadi topeng dari rasa kesepian yang selama ini ia coba menyembunyikannya. Begitu lembut dan penuh dengan perasaan sayang, dan tentu saja, Uchiha itu mengetahuinya. Dengan sigap, pemuda itu segera menangkap tangan mungil Hinata dan menggenggamnya. Membuat wanita itu sedikit terkejut atas tindakan tiba-tiba pemuda Uchiha tersebut.
"Jika kau mau, kau bisa menjadi nona muda Uchiha, Hinata."
"..."
"Aku mencintaimu. Sejak dulu, bahkan hingga sekarang."
"..."
"Tetaplah disini, bersamaku. Jadilah milikku, Hinata."
"A-aku.."
Dengan tangan Hinata yang masih digenggam oleh Sasuke, perlahan Uchiha itu mengecup sisi telapak tangan Hinata. Begitu lembut, bahkan sisi dingin yang biasa terlihat di wajah itu seakan pudar dan tergantikan oleh rasa sayang yang begitu besar.
"Uchiha Hinata."
.
.
.
.
Putih.. bersih.. dan dipenuhi dengan kehangatan.. membuat sebuah acara yang sakral akan terlihat sempurna di beberapa pasang mata yang akan menjadi saksi dari bersatunya kedua anak adam dan hawa. Tidak ada yang mengira, dibalik acara yang terlihat sempurna ini, terdapat beberapa keganjilan tidak kasat mata yang tak seorang pun akan mengetahuinya.
Hanya beberapa menit lagi, dan ini semua akan menjadi satu kenangan yang takkan terlupakan.
"Apakah kedua mempelai sudah siap?"
"Aku siap."
Mempelai pria, dengan stelan jas berwarna putih bersih, yang melambangkan cinta yang suci terhadap pasangannya kelak, dengan sukses mampu menutupi segala rasa frustasi dan kekacauan yang ia alami beberapa jam yang lalu. Terbukti dengan suara lantangnnya yang menandakan bahwa ia siap menjalani sisa hidupnya bersama sang mempelai wanita yang berdiri disisinya.
"…"
Bagaimana dengan sang mempelai wanitanya? Kenapa ia diam saja. Bukankah ini yang sudah mereka sepakati? Sepakati? Apa ia dan pemuda disampingnya pernah melakukan sebuah perjanjian sehingga harus ada yang disepakati? Sesungguhnya keraguan dan rasa bersalah, seutuhnya telah menguasai hati dan pikiran wanita tersebut.
Dengan gaun indah berwarna serupa dan dihiasi beberapa ornament kelopak bunga berwarna merah muda, sehingga akan terlihat seperti kelopak dari bunga yang bernama sama dengan dirinya. Kini, Sakura berdiri, disisi seorang pria yang berjanji akan selalu menjaga dan melindunginya. Pria yang sebenarnya tidak mencintai dirinya, namun berusaha menutupi perasaan ketidak adaannya cinta tersebut. Jadi, masih haruskah ia bersama pria ini? Siapkah ia menghabiskan sisa hidupnya bersama pria ini, Uzumaki Naruto?
"Sakura.."
Wanita bersurai merah muda itu menatap sang mempelai pria yang memanggilnya. Sekali lagi, dari wajah itu, terpancar akan rasa kasih sayang yang begitu besar. Dan itu hanya untuknya. Namun disaat itu pula, ia bisa melihat, tak ada cinta yang terpancar disana.
Sebuah senyuman lembut diberikan Naruto pada Sakura yang menatapnya, berusaha meyakinkan wanita itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa ia akan selalu menjadi penompang hidup bagi wanita itu, baik dalam suka, maupun duka. Dengan tangan Naruto yang semakin erat menggenggam tangan mungil Sakura, menjadi bukti bahwa ia akan melakukannya.
Sedikit keberanian muncul dalam benak Sakura untuk segera menyelesaikan upacara pernikahan ini. Hanya dengan mengucapkan janji suci, maka semua akan selesai. Ia tidak akan lagi melihat para undangan yang tersenyum bahagia padanya, karena itu akan semakin membuatnya sesak dan kesulitan untuk bernapas. Hanya beberapa menit dan semua akan selesai.
"Ya, aku siap.."
"Baik. Saya akan mulai upacara pernikahannya. Uzumaki Naruto, apakah anda bersedia menerima Haruno Sakura sebagai istrimu, baik dalam suka maupun duka, dalam senang ataupun susah, kaya maupun miskin, sehat ataupun sakit dan akan selalu mencintai serta melindunginya hingga akhir hidupmu.."
"Aku bersedia."
"Dan anda, Haruno Sakura, apakah anda bersedia menerima Uzumaki Naruto sebagai suamimu, baik dalam suka maupun duka, dalam senang ataupun susah, kaya maupun miskin, sehat ataupun sakit dan akan selalu mencintai serta mendampinginya hingga akhir hidupmu.."
Keraguan itu sekali lagi mucul dalam benaknya. Haruskah ia mengatakannya? Bisakah ia menjalani hidup bersama pria yang tidak lagi mencintainya? Lalu,apa yang harus ia lakukan sekarang?
"A-aku bersedia…"
.
"Hahh! Hahhhh…Hah..!"
Seorang wanita bersurai indigo tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini ia seolah dibangunkan dengan sebuah mimpi yang terasa begitu nyata namun terlalu menyedihkan baginya jika itu memang sebuah kenyataan. Reaksi yang berbeda dari apa yang ia tunjukkan pada dunia saat terbangun tadi, seolah mimpinya itu adalah sebuah mimpi buruk yang sama sekali tak ia harapkan terjadi. Terbukti dengan beberapa bulir keringat telah membasahi dahinya, membuat beberapa anak rambutnya menempel pada dahi putih tersebut. Meskipun begitu, tidak hanya air asin itu saja yang membasahi wajah porselen miliknya , air asin yang lain pun turut ambil bagian membasahi daerah di sekitar sepasang permata amethyst tersebut. Itu sebuah mimpi buruk, mimpi buruk yang sangat menyedihkan untuk menjadi sebuah kenyataan, baginya.
"Na-naruto-kun.."
Setetes cairan bening meluncur dengan bebas, membuat wajah wanita itu semakin terlihat basah. Kedua tangan mungilnya yang semula mengenggam erat selimut berwarna gelap tersebut, berpindah untuk menutupi kedua permatanya. Tak ada isakan. Hanya saja wanita itu merasa tidak lagi berdaya setelah mimpi itu menghampirinya.
'Ugh!'
Tidak. Ia tidak bisa seperti ini terus. Ia tidak ingin terlihat begitu menyedihkan dengan apa yang ia alami sekarang. Ia harus berubah dan berhenti menjadi seorang pengecut yang selalu dibayangi oleh ketidakbahagiaan yang tak berhasil ia capai. Ia harus bahagia dan hidup bersama anaknya kelak. Ya, ia pasti akan berbahagia, bersama sang buah hati, meskipun ini adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang ibu, ia akan berusaha untuk menikmati kehidupannya nanti.
Wajah jelita itu berubah seketika. Mata amethyst yang awalnya sarat akan kesedihan dan ketidakberdayaan, seolah lenyap, tergantikan oleh tekadnya untuk menjalani hidup yang bahagia bersama si mungil nanti. Permata itu kembali tertutup. Meyakinkan dirinya untuk memulai hidup yang baru tanpa dibayangi oleh masa lalu, dan ia sudah bertekad.
Setelah menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya, wanita itu mengambil beberapa napas, dan itu cukup membuat ia merasa lebih baik. Amethyst yang semula terutup oleh sang kelopak permata, kini kembali menunjukkan keindahannya pada sang surya yang ternyata telah meninggi. Hangat.. namun seketika saja, suatu perasaan yang lain kembali mengganjal dalam hatinya, untuk kesekian kalinya, pagi ini ia merasa sang surya seakan mengerahkan seluruh sisa cahaya yang masih ia miliki sebagai penutup dari musim yang akan berganti. Ia terdiam di tempatnya. Memikirkan, apakah ini hanya perasaannya saja atau..
"A-ah! Sa-sauke-kun!"
Dengan segera ia menoleh ke sisi sampingnya. Tidak ada. Kosong. Beruntung, pemuda itu tidak mendengarnya menyebutkan nama dari salah seorang sahabat sang pemuda. Sedikit perasaan lega menyelubungi dada wanita itu, terbukti dengan helaan napas yang keluar dari bibirnya.
Namun seketika, keberadaan pemuda yang menemaninya semalaman memenuhi isi pikirannya. Pemuda Uchiha itu menghilang. Apa ia yang terlalu siang untuk bangun pagi, atau memang pemuda yang ia panggil Sasuke itu yang terlalu pagi untuk bangun? Sekali lagi, ia terdiam. Bingung, apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Tokk.. tokk.. tokk..
"Hinata-san.."
"Ha-ha'i.."
De Javu.. sebelumnya ia pernah mengalami semua ini. Bangun pagi di tempat yang sama, suasana yang sama dan dipanggil oleh orang yang sama dalam keadaan yang sama seperti beberapa hari yang lalu. Dan tidak lupa, surai indigonya yang berantakan, sekali lagi ia rapikan dengan kedua tangannya. Meskipun ia memang baru saja bangun dari tidurnya, namun setidaknya ia tidak ingin terlihat buruk untuk kedua kalinya saat bertemu dengan salah satu orang kepercayaan di keluarga Uchiha itu.
Cklek..
Pintu itu akhirnya terbuka, namun hanya menciptakan sebuah celah kecil untuk sekedar melihat orang yang berada di luar pintu tersebut. Dengan ragu, Hinata melongokkan wajahnya untuk bertemu dengan Kabuto yang beberapa detik lalu memanggilnya.
"A-ano, Yaku-"
"Kabuto."
Hinata terdiam. Rasa gugup langsung saja menghampirinya saat lelaki bersurai abu-abu tersebut memotong kalimatnya.
"A-ah, e-to, Kabuto-san, a-ada apa?"
"Hmm.. Hinata-san, maaf, apa anda ingin saya mengantarkan sarapan untuk anda?"
"A-ah ti-tidak perlu. A-aku akan segera ke meja makan."
"Begitu, baiklah. Tapi, hari ini saya tidak dapat menemani anda untuk sarapan. Pagi ini saya harus pergi mengawasi Sasuke di perusahaan. Jadi, an-"
"Sa-sasuke-kun, a-apa dia sudah pergi?"
Pemuda bersurai abu-abu itu tersenyum ramah pada Hinata yang masih bersembunyi dibalik pintu kamar tersebut.
"Sudah. Sebelum Hinata-san terbangun, Sasuke sudah pergi ke kantor."
"Be-begitukah.."
Ekspresi wajahnya berubah, setelah mengetahui bahwa pemuda pemilik rumah ini telah pergi sebelum ia sempat terbangun untuk sekedar melakukan sarapan pagi bersama.
'Sa-sasuke-kun..'
"Hinata-san, daijoubu ka?"
"I-iya, a-aku baik-baik saja."
Senyum hambar tercipta di wajah jelitanya, berharap dapat menghapus kekhawatiran dari orang kepercayaan keluarga Uchiha tersebut.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."
"U-um.."
Blamm..
Pintu telah tertutup sempurna. Tubuh Hinata yang semula menghadap pada pintu coklat tersebut, kini telah membelakangi dan bersandar padanya. Kedua amethystnya menatap lurus ke depan, ke sebuah pintu kaca yang langsung menuju ke teras di luar kamar tersebut. Tidak lama, kini sepasang amethysnya tertuju pada salah satu jarinya yang telah tersemat sebuah cincin dari emas putih dengan sebuah permata mungil terselip disana.
'Sasuke-kun..'
.
.
.
SKIP TIME : 2 months later..
.
"Jadi, bagaimana kabarmu, Hinata-chan?"
"A-aku baik-baik saja, Matsuri-chan. Bagaimana dengan Matsuri-chan dan yang lainnya? Apa semua baik-baik saja?"
"Umm, aku baik-baik saja. Selama dua bulan ini, kau benar-benar tidak bisa dihubungi ya. Aku sudah pergi ke rumahmu, tapi kata Ayame-chan, dia tidak tahu kau ada dimana sekarang. Bahkan aku sampai minta tolong juga pada Kiba-senpai untuk mencarimu."
"Hahaha, be-benarkah?"
Wanita bersurai indigo itu hanya tersenyum hambar mendengar penuturan sang sahabat yang sudah hampir dua bulan terakhir tak pernah ia hubungi. Ayame yang selalu menemaninya saat ia masih tinggal di rumah lamanya, sengaja ia mintai tolong agar tidak pernah memberitahukan pada siapapun tentang keberadaannya sekarang, termasuk pada gadis bersurai pendek tersebut.
"Iya! Tapi meskipun ada atau tanpa bantuan dia, hasilnya sama saja. Senpai bodoh itu benar-benar tidak berguna."
"Hihihi.."
"Bahkan, setelah ujian kemarin selesai, dia memintaku untuk mentraktirnya takoyaki selama satu minggu full. Dasar senpai bodoh. Hasilnya tidak ada, malah minta imbalan."
"Ah, ujiannya, bagaimana? A-apa semuanya lancar?"
"Yapp! Semuanya berjalan dengan sukses, Hinata-chan!"
"Yokatta ne, lalu.."
"Lalu..apa?"
"Ba-bagaimana dengan Ga-gaara senpai?"
Yap. To the Point. Inilah yang selalu dinantikan oleh ia dan sahabatnya sejak dulu. Pernyataan dari gadis bersurai coklat itu, masih sangat jelas diingatannya. Berharap ia akan mendengar kabar yang bagus, membuat senyum manis terpatri di wajah wanita tersebut.
"Hahhh... MENGECEWAKAN."
Tidak sesuai dengan perkiraan. Seketika jawaban yang dilontarkan dari orang yang berada di seberang sana membuat senyum di wajah itu luntur, tergantikan dengan ekspresi terkejut yang begitu jelas terlihat.
"Eh, me-mengecewakan?"
"Umm! Ternyata dia sudah punya tunangan."
"A-apa?! Tu-tunangan? Hontou ka?!"
Rasa terkejutnya semakin berlipat ganda. Seorang yang telah lama disukai oleh sahabatnya ternyata telah memiliki pasangan hidup! Kenapa ia bahkan sahabatnya sendiri tidak pernah mengetahu hal itu?
"Iya, dan juga, dia akan menikah setelah selesai kuliah nanti. Mengecewakan, ya kan?!"
"U-um, ta-tapi Matsuri-chan, daijoubu ka?"
Sedikit rasa iba pada sang sahabat muncul dalam benaknya, terlebih pada saat dia berkata "Mengecewakan, ya kan?!" Sedikit banyak, ia dapat merasakan kesedihan yang dialami gadis itu.
"Hey, aku baik-baik saja, Hinata-chan.
"Matsuri-chan.."
"A-ano, Hinata-chan.."
"Ya..?"
"..."
"Matsuri-chan..?"
"A-ah nandemo nai.."
"Eh.. Hontou ni nandemo nai?"
"Umm, daijoubu. Nee, Hinata-chan, sekarang kau ada dima—"
"A-ano, go-gomen ne Matsuri-chan, a-aku harus pergi. J-jaa.."
"Ah, Hina—"
Tutt..tutt..
Flipp..
Harus pergi? Pergi kemana? Bohong. Ia tak akan pergi kemana-mana. Dengan salju yang turun semakin deras, mustahil ia bisa berpergian seorang diri keluar rumah. Satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang hanya duduk manis di sofa kamar milik salah satu anggota keluarga Uchiha yang telah ia tempati selama beberapa minggu. Duduk menghadap pada pintu kaca yang menghubungkan langsung dengan teras kamar ini, mengingatkannya pada kamar miliknya sendiri di rumahnya yang lama. Dengan segelas teh hijau favoritnya, dan beberapa mocha hangat, membuatnya seakan ia benar-benar berada dirumahnya sekarang.
'Hahh… Gomen ne, Matsuri-chan..'
Benda persegi panjang itu telah tertutup sempurna, namun masih berada dalam genggaman jari lentiknya. Untuk kesekian kalinya, ia berbohong, dan untuk kesekian kalinya pula rasa bersalah kembali menghampiri relung hati wanita tersebut. Ingin sebenarnya Hinata memberi tahu tentang keberadaannya pada Matsuri, namun sekali lagi, ia selalu merasa berat untuk menjelaskan semuanya.
Matsuri adalah sahabatnya. Salah satu orang yang begitu baik dan sangat ia percayai. Tidak semestinya ia melakukan ini. Pikirannya melayang. Membayangkan jika suatu hari gadis itu mengetahui hal yang sebenarnya dan merasa kecewa pada dirinya yang terlalu bodoh menganggap semua ini dapat terselesaikan hanya dengan dirinya sendiri. Bukan bermaksud menyembunyikan apa yang terjadi padanya, hanya saja Hinata tak ingin menyusahkan orang lain dengan melibatkannya dalam masalah yang tengah ia hadapi.
Namun bagaimana jika suatu hari Matsuri mengetahui yang sebenarnya? Ia kenal betul bagaimana sifat salah satu sahabatnya tersebut. Jika ia memiliki masalah, dan tidak pernah ia ceritakan pada gadis bersurai coklat muda tersebut, maka gadis itu akan diliputi rasa bersalah karena tidak memahami masalah yang tengah terjadi, dan itu akan berlangsung hingga berhari-hari. Itulah salah satu pengalaman yang pernah terjadi antara ia dan Matsuri. Sejak saat itu, Hinata berjanji pada gadis itu akan selalu menceritakan segala masalah yang terjadi pada dirinya. Tapi ini? Bagaimana?
Entah ia yang terlalu disibukan dengan pikirannya, atau apa, yang pasti membuat wanita bersurai indigo itu tidak menyadari kedatangan seseorang dari arah belakangnya.
"Hmm.. Siapa?"
"A-ah Sasuke-kun, na-nani?"
Dengan santainya pemuda yang dipanggil Sasuke tersebut segera melingkarkan sepasang lengan kokohnya pada leher jenjang Hinata, membuat sang pemilik leher jenjang tersebut sedikit merasa gugup.
"Dari siapa?"
Tak hanya itu, bahkan pemuda bermata obsidian itu juga 'bermain' di satu bagian yang pernah ia tinggalkan beberapa tanda miliknya, membuat wanita yang pernah mendapatkan tanda tersebut menjadi semakin gugup dengan rona merah yang kembali mengiasi wajah pucatnya.
"A-apa?"
"Siapa yang menelepon?"
"A- ah.. Ma-matsuri-chan, a-aku yang menghubunginya, Sa-sasuke- Akh..."
Satu tanda merah telah tercipta disana.
"Hmm..kau tidak pernah meneleponku."
Menghentikan sejenak kegiatannya, lantas Sasuke segera mengambil benda persegi panjang milik Hinata yang ternyata telah terlepas dari genggamannya dan menekan beberapa tombol yang ada disana.
"Eh.."
"... Bahkan nomorku saja tidak ada."
"Ta-tapi, bukankah a-aku harus me-menghubungi Kabuto-san dulu, la-lalu dia yang akan meyampaikannya pada Sa-sasuke-kun.."
Jujur saja, kegiatan yang berlangsung singkat tersebut membuat aliran darah Hinata menjadi tidak teratur, dan tentu saja akan berefek pada pasokan udara dingin yang mampu ia hirup untuk bernapas.
Perkataan Hinata tak dipedulikan oleh Sasuke. Perhatiannya masih tertuju pada benda persegi panjang berwarna ungu pucat milik Hinata yang ada di genggamannya.
"Selesai. Tekan 1 dan aku yang akan segera menjawabnya."
Dengan mudahnya, Sasuke melemparkan benda itu ke sisi sofa yang lain, seakan benda itu akan menganggu waktunya bersama Hinata nanti.
"Eh.. Ta-tapi Sasuke-kun.. Akh.."
Sasuke kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Tidak butuh waktu lama, beberapa tanda miliknya telah mengiasi leher jenjang Hinata. Bahkan bagian leher wanita itu semakin basah dan terlihat mengkilat akibat pantulan cahaya lampu dari langit-langit ruangan tersebut.
"Sakh—sukeh..Umm.. Ah.. hahh.. hahh.."
Gigitan terakhir dari Sasuke sukses membuat Hinata mengalami sesak napas bagaikan ia tengah berlari marathon ratusan meter. Ia merasa tubuhnya melemas dan panas. Terbukti dengan bulir keringat yang membasahi pelipisnya, wajahnya yang semakin merah merona dan tubuhnya yang terkulai tak berdaya, bersandar pada sandaran sofa berwarna biru gelap tersebut.
"Hinata.."
Suara Sasuke seakan meyadarkannya. Dengan lemah, wanita itu menoleh ke sisi sampingnya dan menatap wajah dingin milik pemuda tersebut yang ternyata juga telah disinggahi oleh rona merah yang tipis namun masih dapat terlihat oleh sepasang amethyst milikinya.
"Sa-sasuke-kun.."
Dengan selembut mungkin, salah satu tangan kokoh itu terulur, menyentuh sisi wajah sendu Hinata dan membawanya untuk memperpendek jarak yang ada diantara mereka. Masing-masing permata telah terpejam, menandakan bahwa inilah yang sama-sama mereka inginkan, dan mereka menikmati setiap detiknya.
.
.
"Umm, daijoubu. Nee, Hinata-chan, sekarang kau ada dima—"
"A-ano, go-gomen ne Matsuri-chan, a-aku harus pergi. J-jaa.."
"Ah, Hina—"
Tutt..tutt..
Seorang gadis bersurai pendek tengah menatap sebuah benda bercahaya di tangannya. Beberapa detik yang lalu, seseorang yang baru saja berbicara dengannya diseberang sana telah memutuskan pembicaraan mereka. Ia terdiam. Menatap pada layar dari benda persegi tersebut yang masih menunjukkan tanda merah, menandakan bahwa pembicaraan antara ia dan orang tersebut telah terputus.
'Hinata-chan..'
"Apa aku harus mengatakannya.."
.
Flashback : ON
"Bagaimana, apa Hinata-chan sudah bisa dihubungi?"
"Um.."
Gadis itu menggelengkan kepalanya, mewakili kata "Tidak" yang mungkin terasa berat untuk ia ucapkan.
"Sudah pergi ke rumahnya?"
"Um.."
Gadis itu menganggukkan kepalanya, seakan hanya dengan melakukan itu, ia berharap dapat menjawab pertanyaan dari pemuda bersurai coklat tua di sampingnya.
"Lalu?"
"Dia tidak disana."
Terlihat jelas bahwa gadis itu begitu berat untuk mengatakan tiga kata terakhirnya. Bagaimana tidak, masih jelas diingatannya, saat ia tidak menemukan sang sahabat dengan surai indigo panjangnya di rumah sakit, hal pertama yang terlintas di otaknya adalah tempat tinggal sahabatnya tersebut. Saat itu juga, ia segera melesat menuju sebuah rumah dengan arsitektur jepangnya yang masih terlihat begitu kental. Namun saat ia telah sampai di sana, yang ia dapat hanya beberapa kalimat yang intinya menyatakan bahwa orang yang ia cari tidak berada di rumahnya.
Beranjak dari tempat itu, hal kedua yang terpikirkan olehnya adalah seorang pemuda dengan dengan sepasang permata biru safirnya. Hampir saja ia menghubungi orang itu, namun mengingat bahwa ia pernah berlaku kasar pada pemuda tersebut, ia segera membatalkan niatnya.
Dan, hal terakhir yang terlintas di pikirannya sebagai penyebab ketidakberadaan wanita Hyuuga itu di rumah sakit adalah, seorang pemuda yang cukup ia kenal namanya, Uchiha Sasuke. Pemikirannya tentang Uchiha itu, dapat disimpulkannya dari saat terakhir kali ia bertemu dengan sahabatnya, pemuda itulah yang bersama dengan Hyuuga itu. Hingga keesokkan harinya, ia tidak menemukan pasien bernama Hyuuga Hinata ditempatnya. Selanjutnya, yang harus ia lakukan adalah saat itu adalah segera menemukan pemuda bermarga Uchiha tersebut dan bertanya tentang keberadaan sahabatnya. Tapi bagaimana? Jujur saja, ia tidak terlalu akrab dengan seniornya itu. Bahkan alamat rumahnya saja ia tidak tahu. Ia putus asa, merasa tidak dapat melakukan apapun untuk sang sahabat yang saat ini keberadaannya entah dimana.
"…"
"…"
Keduanya terdiam, namun dengan masing-masing alasan yang berbeda. Gadis itu hanya tertunduk, mengingat saat-saat terakhir ia bersama sahabat yang selalu bersamanya sebelum satu-satunya sahabat bermarga Hyuuganya itu menghilang entah kemana, sedangkan pemuda disampingnya tampak sedang memikirkan cara untuk mengatakan apa yang sedari tadi ia pikirkan.
"Aku.. ada berita untukmu. Tapi aku tidak yakin ini adalah berita yang bagus."
"…"
Gadis itu masih tertunduk, seakan tidak peduli dengan berita yang dibawa oleh pemuda bertato segitiga merah di kedua pipinya.
"Dua hari yang lalu, Naruto menghubungiku."
"Eh!"
Baru saja mendengar nama dari pemuda yang sangat familiar di telinganya, lantas saja wajah murung yang semula tertunduk itu segera menengadahkan wajahnya dengan ekspresi terkejut yang jelas terlihat.
"Dia mengirimku sebuah email."
"…"
"Dan isinya, dia mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan Sakura, tiga hari sebelum dia mengirimku email itu."
'D-dia..!'
Kedua tangan gadis itu mengepal begitu erat, hingga membuat buku-buku jari lentiknya memutih. Wajahnya kembali tertunduk, berusaha menyembunyikan rasa amarah yang tercetak jelas di wajahnya. Sedangkan pemuda yang berada di sampingnya hanya memandang lurus pada wajah gadis tersebut. Ia memaklumi mengapa gadis yang tengah tertunduk di sampingnya ini sampai berwajah seperti itu, dan hal itu wajar baginya, mengingat bahwa pemuda bernama Naruto yang merupakan sahabatnya telah membuat satu masalah yang besar pada sahabat gadis tersebut. Juur saja, saat ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"… Aku tahu, kau sangat membenci Naruto, karena dia telah menyakiti sahabatmu, Hinata-chan. Aku pun juga akan merasakan hal yang sama jika itu terjadi pada sahabatku."
"…"
"Tapi, percayalah. Naruto bukan laki-laki sebejat itu. Aku sudah lama mengenalnya. Sejahat-jahatnya Naruto, dia tidak akan pernah menyakiti seorang wanita. Ak—"
"Bukan laki-laki bejat? Tak akan pernah menyakiti seorang wanita? Tapi kenyataannya dia sudah menyakiti Hinata-chan, senpai!"
Cukup sudah. Emosinya sudah tak bisa dibendung lagi. Wajahnya yang memerah karena menahan amarah yang sedari tadi ia coba tahan, kembali memandang pemuda yang diketahui merupakan salah satu senpainya. Di wajah itu, bulir-bulir air mata telah menggenang dikedua sudut permata hitamnya, hingga menunggu samapi bulir-bulir itu mengalir dan membasahi pipi gembilnya.
"Hey, tenanglah. …Aku tahu itu. Jujur saja, saat kau menceritakan semuanya, aku sangat terkejut mendengarnya."
"…"
"Ini adalah kali pertama Naruto melakukan hal itu pada seorang wanita. Aku sangat mengenalnya, sejak masih taman kanak-kanak, bahkan hingga kami masuk ke masa-masa kuliah, tak pernah sekali pun aku melihatnya berlaku kasar pada wanita."
"…"
"Dia pernah mengatakan padaku, kalau ia telah berjanji tak akan pernah menyakiti satu orang wanita pun, karena itu adalah pesan dari okaa-sannya sebelum meninggal.
'Eh..'
"Bahkan dia juga berpesan padaku, jika kau menyakiti seorang wanita, bayangkan jika okaa-sanmu disakiti oleh tou-sanmu sendiri."
"…"
"Aku mengetahui dengan baik bagaimana sifat dan sikapnya, sekali ia berjanji, maka dia tak akan pernah mengingkarinya."
"Dan dia sudah mengingkari janjinya."
"Aku tahu."
"..."
"Kau tahu, isi email yang dia kirim, tidak hanya berisi kabar tentang pernikahannya dengan Sakura. Di beberapa kalimat terakhir, dia bertanya tentang Hinata-chan. Bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja, bahkan dia menyuruhku untuk selalu menjaga dan mengawasi Hinata-chan saat dia tidak ada disisinya."
"…"
"Dari kalimat-kalimatnya tentang Hinata-chan, aku tahu kalau Naruto sangat mengkhawatirkan sahabatmu, Matsuri-chan."
"…"
"Tidak, bahkan aku merasa bahwa Naruto sangat mencintai Hinata-chan."
"Kalau dia memang mencintai Hinata-chan, kenapa dia pergi dan menikahi perempuan lain, hah?! hiks.. "
Tanpa sepengatahuan pemuda bertato itu, bulir-bulir yang menggenang di sudut mata kelam itu ternyata telah sukses membasahi pipi gadis bernama Matsuri tersebut. Tak ingin terlalu lama menatap pandangan mata yang sarat akan rasa amarah dan kesedihan yang begitu dalam, membuat pemuda itu memalingkan wajahnya.
"Masalah itu.. aku tidak tahu. Aku yakin, Naruto punya alasan tersendiri kenapa dia sampai melakukan hal itu."
"Tch! Hiks.. Hi-hinata-chan.. hiks.."
.
.
.
Flashback :OFF
.
TBC
^^Review Please^^
Hollllllllllaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Gomenasaiiiiiii… hontou ni gomenasai, minna-san. Sudah hampir dua bulan hamba tidak melakukan update fanfic yakkk? Hahahaha, maaf. Hal itu terjadi karena beberapa halangan yang membuat hamba selalu tidak memiliki waktu untuk melanjutkan chap ini, pertama, bulan desember ini, hamba disibukkan dengan berbagai tugas kuliah yang harus segera diselesaikan. Kedua, hamba harus segera mempersiapkan diri karena ujian semester yang akan dilaksanakan pada bulan januari 2014 ini, ketiga, hamba sekali lagi jatuh sakit sehingga cukup menganggu daya konsentrasi hamba untuk melanjutkan chap ini. Sekali lagi hamba minta maaf ppada semua reader yang menanti chapter baru fanfic hancur hamba ini, terutama buat SANG GAGAK HITAM, hahaha hamba mohon maaf ya karena telat updatenyaaaa :'D
Dan juga hamba minta maaf jika beberapa chapter yang lalu di dominasi oleh SasuHina. Bukankah hamba sudah mengatkannya, di sini tidak ada mainpairing, mungkin Sasuhina memang mendominasi, namun untuk endingnya adalah NaruHina. Lalu hamba harus mengatakan apa? Bukankah mainpairing selalu berakhir bersama? Untuk beberapa chapter ke depan, fanfic ini akan mulai memasuki tahap antiklimaks. Dan pada chapter itulah permulaan bagaimana hubungan antara Naruto dan Hinata akan dimulai kembali. Jadi tetap ikuti fanfict TRTOMD yakkkkkkkk… Arigatou..
