Title: Destiny
Cast: All EXO Member
Pair: Official Pair
Summary: Takdir yang mempertemukan mereka kembali. Suatu takdir yang terulang kembali. EXO fic. KrisTao/TaoRis HunHan ChanBaek/BaekYeol SuLay ChenMin KaiDo
Disclaimer: Semua member EXO itu punya tuhan dan orangtua mereka. Tapi cerita ini berasal dari otak-ku.
-0-
Sehun dan Donghyun berjalan memasuki kamar Jinyoung. Terlihat Jinyoung hanya sendiri menempati kamar itu.
"Ah, Donghyun hyung. Sehun. Kenapa kesini?"
Jinyoung terlihat tersenyum hangat kearah Donghyun dan Sehun. Donghyun hanya membalasnya dengan seulas senyum tipis.
"Sehun ingin bisa mengobrol dengan Tao, Jinyoung-ah," jelas Donghyun "Kau tau, kan?"
"Ah, ne! Aku tau, sekali," kata Jinyoung sambil tersenyum cerah "Kalau begitu, hyung, tolong panggilkan Youngmin, Minwoo, dan Hyunseung, ne?"
"Ahh, ne,"
Donghyun pun pergi. Meninggalkan Jinyoung dan Sehun berdua. Sehun terlihat memperhatikan sekeliling. Kamar Jinyoung begitu bagus. Sungguh.
"Aku pernah bertemu dengan Tao sekali," Jinyoung berkata "Ia begitu manis."
"Ahh, ne, ia memang begitu manis," balas Sehun sambil tersenyum 'Tapi lebih manis Telepathy hyung.'
"Sehun-ah," Jinyoung memanggil "Kalau seandainya kau tidak bisa bertemu dengan Tao lagi, bagaimana?"
"E-Eh?" Sehun terlihat kaget "Apa, apa maksud hyung?"
"Aku hanya bertanya, kalau kau tidak dapat bertemu dengan Tao lagi, bagaimana? Hanya itu," balas Jinyoung
"A-Aku tidak mau. Aku akan merasa sangat sedih kalau itu benar-benar terjadi,"
"Ahh, baiklah. Arraseo," kata Jinyoung "Sekarang, kita tinggal menunggu Youngmin, Minwoo, dan Hyunseung."
Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya ketiga namja itu datang. Namun, terdapat Kwangmin dan Sandeul di sana.
"Hei! Untuk apa kalian ikut?" Jinyoung mengangkat alisnya "Kurasa aku hanya menyuruh Donghyun hyung untuk memanggil Youngmin, Minwoo, dan Hyunseung. Tidak ada nama Kwangmin dan Sandeul di sana."
"Aku hanya waspada, jangan-jangan nanti Minwoo melakukan sesuatu pada Youngmin hyung," balas Kwangmin "Lagipula, pasti akan terjadi sesuatu yang menarik. Aku tidak mau melewatkannya."
"Aku hanya mau menjaga dan melihat, itu saja," balas Sandeul cuek. Ia melangkahkan kakinya ke tempat tidur Jinyoung, dan berbaring di atasnya
"Ah, baiklah. Terserah kalian saja," balas Jinyoung "Eumm, Donghyun hyung, apakah tidak terlalu cepat?"
Donghyun menampilkan smirk-nya. Sedangkan Sehun hanya menatap heran kearah teman-temannya itu. Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan?
"Tidak. Kurasa, sekarang adalah waktu yang tepat," balas Donghyun "Kalau tidak sekarang, kapan lagi?"
"Humm, baiklah…," balas Jinyoung "Semuanya, mulai."
Sehun bertambah bingung ketika melihat Youngmin kini sudah berdiri di hadapannya. Di sebelah Youngmin, tampak Minwoo yang kini menampakkan senyumnya.
"Minwoo? Youngmin? Ada a— argh!"
Sehun berteriak kesakitan ketika merasa bahwa punggungnya tersayat oleh sesuatu. Namun, tidak keluar darah. Disela-sela rasa kesakitannya, Sehun heran. Kenapa tidak ada darah?
"Sehun hyung," kini Youngmin yang berbicara "Mian, ne? Tapi ini harus kami lakukan."
"Aish, Youngmina. Tidak usah terlalu basa-basi," kata Kwangmin kesal "Langsung ke inti saja."
"Yang melakukan inti kan Hyunseung hyung, Kwangmin," kata Youngmin sambil mempoutkan bibirnya "Aku hanya membantu."
"Aish, terserahlah,"
"Apa sih ma— gyaah!"
Kini Sehun merasakan bahwa sesuatu telah menghantam dadanya dengan keras. Rasanya sakit, sangat sakit.
"Ukh,"
"Minwoo!"
"Mianhae, aku terlalu kesenangan," balas Minwoo cuek "Mianhae, Sehun hyung."
"Ke-Kenapa? Sebenarnya ada apa?" tanya Sehun "Aku tidak mengerti apapun. Sungguh!"
"Kau tidak mengerti?" kini Sandeul mengeluarkan suaranya "Setelah apa yang Minwoo lakukan padamu, kau tetap tidak sadar siapa kami?"
"E-Eh? Me-Memang, kalian siapa?" tanya Sehun "Ukh!"
Sehun terjatuh. Rasanya benar-benar sakit. Tadi ia merasakan bahwa seseorang baru saja menghantam dirinya.
"Kau tetap tidak tau?" tanya Sandeul "Kenapa kau bisa begitu bodoh, Wind?"
Wind? Tubuh Sehun menegang ketika mendengar panggilan itu. Panggilan yang hanya diketahui oleh teman-temannya dan… para musuhnya.
"Ka-Kalian…," Sehun menatap kesekeliling tidak percaya "Kalian, musuhku?"
"Yah, secara teknik sebenarnya kami musuhmu," kata Sandeul "Tapi kami bisa menjadi temanmu, kalau kau mau menuruti perintah kami."
"Kalau kau tidak mau, kau akan merasakan apa yang kau rasakan tadi," kata Minwoo dingin
"Ja-Jadi, kau, Pain Controller?"
"Tentu saja. Siapa lagi? Dasar bodoh,"
Sehun menatap tidak percaya kearah Minwoo. Biasanya ia melihat Minwoo yang mempoutkan bibirnya dan merengek manja kepada Youngmin atau Donghyun dan bertengkar dengan Kwangmin. Tapi ini?
Sehun mengalihkan pandangannya pada Youngmin. Ia menatap Youngmin tidak percaya.
"Ka-Kau juga?"
"Ahh, ne. Aku juga," kata Youngmin dengan senyuman minta maaf, yang Sehun tau sekarang, merupakan senyum pura-pura "Aku juga bagian dari musuhmu. Dan, ah. Aku Mind Controller, salam kenal, Wind."
"A-Apa?"
Sehun sama sekali tidak percaya. Rasanya sulit sekali untuk percaya. Teman-temannya…
"Apakah Gongchan hyung juga?"
"Semua yang ada di rumah ini iya, Sehun-ah," jawab Sandeul "Kecuali kau, tentunya."
Sehun memejamkan matanya, terlihat tidak percaya. Namun, tiba-tiba, suatu pemandangan tersaji di hadapannya.
Ia melihat teman-temannya, Tao, Baekhyun, Luhan, Kris, semuanya. Ia dapat melihat mereka bersenang-senang tanpa dirinya. Bahkan, Luhan tampak sama sekali tidak merindukan dirinya di sana.
'Rasanya enak sekali, tanpa Sehun disini!' kata Baekhyun
'Ya! Lama-lama aku lelah dengan bocah pembenci wortel itu,' kini Tao yang berbicara
'Ya. Aku saja kesal sekali, kenapa partnerku harus dia? Menyebalkan,'
Dan yang terakhir, adalah suara Luhan. Sehun buru-buru membuka matanya, dan pemandangan itu pun hilang. Ia dapat merasakan bahwa dadanya sangat sakit. Bukan, bukan karena Minwoo, tapi karena perkataan Luhan.
"A-Apa itu tadi?" tanya Sehun sambil menatap Youngmin "Ilusi?"
"Itu kenyataan," balas Kwangmin cuek "Youngmin-ku selalu menunjukkan kenyataan."
Sehun menggelengkan kepalanya tidak percaya. Tidak, ia yakin bahwa pemandangan tadi hanyalah sebuah ilusi belaka. Tidak mungkin mereka mengatakan itu. Setidaknya, Sehun tau bahwa Baekhyun dan Tao tidak mungkin mengatakan hal seperti itu tentangnya.
Tapi tiba-tiba muncul lagi bayangan teman-temannya di EXO yang sedang bercanda tawa dengan bahagia-nya. Bayangan Luhan yang sedang mengobrol akrab dengan Kai. Bayangan Tao dan Baekhyun yang tampak sama sekali tidak kehilangan dirinya. Membuat Sehun, untuk sesaat, mempercayai bahwa itu adalah kenyataan.
"Hentikan!" bentak Sehun "Aku mohon hentikan! Hentikan menunjukkan bayangan-bayangan itu! Aku mohon..!"
Suara Sehun terdengar sangat memprihatinkan. Ia tampak benar-benar tertekan.
"Kau mau aku hentikan, eum?" tanya Youngmin "Kalau kau mau, kau harus menuruti perintahku. Perintahku adalah, kau harus masuk ke dalam perkumpulan kami, dan membantu kami melawan para makhluk bodoh itu."
"A-Apa?" Sehun terlihat tidak percaya "Tidak! Aku tidak akan mau mengkhianati teman-temanku!"
Lalu Sehun merasakan bahwa lehernya seperti tercekik oleh seseorang. Membuat wajah Sehun membiru karena kehabisan nafas. Dan, tubuh Sehun sedikit terangkat karenanya.
"Kau pikir dengan bersama kami sekarang, itu berarti kau tidak mengkhianati teman-temanmu, eh?" tanya Minwoo
Ketika Minwoo selesai bertanya, tubuh Sehun terjatuh. Membuat Sehun meringis kesakitan karenanya.
"Aku, aku tau bahwa aku berkhianat," balas Sehun pelan "Tapi, yang pasti, aku tidak mau membantu kalian untuk melawan teman-temanku! Ukh."
Donghyun tersenyum miring. Ia berjalan mendekati Sehun.
"Berani menolak, eh? Kau mau merasakan akibatnya?"
Sehun mengangkat kepalanya, ia menatap Donghyun tepat pada manik matanya. Tatapannya tajam. Seperti tatapan pada seorang musuh.
"Terserah! Lebih baik aku sendiri yang menanggung akibatnya daripada teman-temanku!" balas Sehun "Kalian tau? Kalian tidak akan bisa mengalahkan teman-temanku lagi!"
Donghyun kini berjongkok, sehingga kepalanya sejajar dengan kepala Sehun. Dan Donghyun menatap Sehun sambil menunjukkan smirk-nya.
"Jadi, kau mau mengatakan kami payah, begitu?" tanya Donghyun pelan "Baiklah. Minwoo, kau bisa ambil alih."
Minwoo terkekeh senang. Ia pun berjalan mendekati Sehun. Dan akhirnya…
"ARGHH!"
-0-
DEG.
Luhan merasakan suatu perasaan tak enak yang tiba-tiba muncul di hatinya. Hatinya benar-benar tak enak sekarang. 'Ya Tuhan, apa yang terjadi?'
Luhan menggigit bibirnya, kebiasaannya saat bingung dan cemas. Ia benar-benar cemas. Apa yang terjadi?
Luhan merasakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Atau, sedang terjadi. Dan Luhan merasakan bahwa hal buruk itu terjadi pada orang yang ia kenal.
'Siapa?' batin Luhan
Tiba-tiba Luhan teringat akan Sehun yang kini berada di tangan musuh. Tubuh Luhan langsung menegang karenanya. 'A-Apakah… Apakah Sehun sedang mereka serang?'
Luhan mengepalkan tangannya erat. Ia benar-benar khawatir dan takut. Takut kalau para musuhnya itu menyakiti Sehun. Luhan benar-benar takut.
Karena tidak tahan, Luhan pun akhirnya berdiri dan keluar dari kamarnya. Sepi, sepi sekali. Tentu saja. Semua orang sedang tertidur karena kelelahan. Namun, Luhan hanya dapat berharap bahwa Tao belum tidur.
Tok Tok Tok
Luhan mengetuk pintu beberapa kali, sebelum akhirnya menemukan sosok pria tinggi berambut pirang yang berdiri di belakang pintu itu. Pria yang dikenali sebagai Kris itu terlihat masih sangat mengantuk.
"Eh? Luhan hyung?" Kris terlihat kaget "Ada apa?"
"Eum, anu, Kris," Luhan terlihat bingung "Tao, Tao bangun, tidak?"
"Ah, Tao sedang tidur, hyung. Sepertinya ia sangat kelelahan," jelas Kris "Memang ada apa?"
"E-Entahlah…," Luhan terlihat menggigit bibirnya "Aku hanya merasakan suatu firasat buruk, itu saja."
"Firasat buruk?" Kris mengerutkan dahinya "Mungkin itu cuma firasat hyung saja."
"Ah… aku juga berharap seperti itu," kata Luhan sambil tersenyum cemas(?) "Umm, baiklah. Nanti kalau Tao sudah bangun, tolong bilang padanya, ne? Aku ingin berbicara dengannya."
"Ya, aku akan bilang padanya,"
Luhan pun menganggukan kepalanya dan akhirnya pergi dari depan kamar Kris dan Tao. Ia tidak sabar sebenarnya, untuk menceritakan tentang firasat buruk-nya ini. Tapi, ia bisa apa? Ia harus berbicara dengan siapa lagi kalau bukan dengan Tao? 'Ah.. ya! Xiumin-ge! Aku bisa berbicara dengannya,'
Luhan tersenyum senang ketika mendapat ide itu. Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar ChenMin. Dan saat sampai, ia melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan di kamar KrisTao, mengetuk pintu.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya muncul lah sosok Xiumin. Ia menatap Luhan heran.
"Luhan-ah? Ada apa?" tanya Xiumin
"Umm, aku mau mengatakan sesuatu…,"
-0-
Kini Xiumin dan Luhan sedang berada di ruang tengah. Sebenarnya bisa saja mereka mengobrol di kamar ChenMin, tapi tidak. Luhan tidak ingin ada banyak orang yang mengetahui perihal firasat buruknya itu.
Xiumin terdiam sesaat setelah mendengar cerita Luhan. Luhan menggigit bibirnya –lagi- ia sangat penasaran dengan apa yang akan di katakan Xiumin.
"Lu…," Xiumin menghela nafas "Aku takut, firasatmu sama dengan firasatku dulu. Dulu, saat Chen dihasut, aku juga merasakan firasat yang sama denganmu. Aku merasakan firasat itu saat Chen tengah disakiti oleh mereka."
"Ja-Jadi, maksud gege…," Luhan terlihat panik "Sehun tengah disakiti oleh mereka?"
"Aku juga tidak tau," Xiumin terlihat berfikir "Tapi mungkin saja. Ahh, entahlah."
Luhan terlihat sangat panik. Ia sangat khawatir pada Sehun. Bagaimanapun, Luhan masih menyayangi Sehun. Walaupun Sehun tidak mau bergabung kembali, tapi perasaan Luhan tidak berubah.
Luhan dapat merasakan tangan Xiumin yang menepuk bahunya. Luhan tau, tepukan Xiumin itu bermaksud untuk menenangkan.
"Tenang saja, ne? Sehun itu namja kuat. Ia pasti tidak apa-apa," kata Xiumin "Humm, lebih baik kau kembali ke kamarmu saja. Semua orang sedang kelelahan saat ini. Pasti kau juga."
Luhan tersenyum, senyumannya sedikit dipaksakan, Xiumin tau itu. "Ne, ge. Gege kembali ke kamar duluan saja. Aku masih mau di sini."
"Baiklah. Tapi, jangan lama-lama, ya?" kata Xiumin "Aku kembali ke kamar dulu."
Xiumin melangkahkan kakinya menjauhi Luhan. Sebelum benar-benar menjauh, Xiumin menengok ke belakang, memperhatikan Luhan. Ia dapat melihat Luhan tengah menunduk. Seperti menahan tangis.
-0-
Di kamar Jinyoung, tampak seorang namja berkulit seputih susu tengah berusaha untuk bangkit dari jatuhnya. Tubuhnya tidak lecet sama sekali, tidak ada darah. Namun, dilihat dari tatapan matanya, dapat terlihat kalau namja itu tengah disakiti.
"Tidak mau menyerah juga, eoh?" tanya Minwoo sambil menatap Sehun, namja itu "Lihat saja. Tubuhmu sudah sangat lemah. Sangat mudah bagi Hyunseung hyung untuk memasukkan jiwa kegelapan kedalam tubuhmu."
Sehun menatap Minwoo dengan tatapan meremehkan. Seolah tidak takut sama sekali dengan namja di hadapannya itu.
"Kau kira walaupun aku akan mati aku tetap akan menyerah dan menurut padamu?" tanya Sehun "Jangan mimpi."
Minwoo menatap tajam Sehun. Jujur saja, kesabarannya sudah habis menghadapi namja berkulit putih ini. Rasanya susah sekali. Sudah disakiti berulang-ulang tapi tetap saja tidak mau menyerah. Minwoo jadi kelelahan dibuatnya.
"Minwoo, kau sudah kelelahan?" tanya Donghyun yang daritadi hanya memperhatikan "Kalau begitu, Youngmin. Giliranmu."
Youngmin terkekeh. Akhirnya gilirannya tiba juga. Ia sudah tidak sabar untuk menunjukkan ilusi-ilusi menyakitkan untuk Sehun.
Sehun menatap Youngmin yang bertukar posisi dengan Minwoo. Sehun sedikit ngeri melihat kilat licik di mata Youngmin. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa sosok Youngmin yang begitu baik padanya ternyata hanyalah topeng belaka.
Lalu, tanpa peringatan apapun, muncul bayangan-bayangan Luhan di hadapan Sehun. Luhan yang terlihat sedang bermesraan dengan namja yang ia tidak ketahui namanya. Luhan yang sedang…
"ARGH! Berhenti!" teriak Sehun. Air matanya mengalir "Berhenti, aku mohon berhenti."
Sehun terlihat meringkuk di lantai. Bayangan-bayangan tadi sukses menyakti hatinya. Rasanya bahkan jauh lebih sakit daripada saat ia tengah menghadapi siksaan Minwoo.
"Wuaah! Daebakk! Youngmin hyung benar-benar hebat!"
"Ahh, biasa saja," Youngmin terlihat tersenyum senang "Hyunseung hyung, tinggal tugasmu!"
Youngmin pun segera menggantikan posisi Hyunseung. Hyunseung berdiri di depan Sehun, seperti Youngmin tadi.
"Tenang saja, ya? Rasanya tidak menyakitkan," kata Hyunseung "Humm, 1, 2… 3!"
Tiba-tiba Sehun seperti merasakan hawa dingin menyelingkupi tubuhnya. Rasanya benar-benar dingin, dan menyeramkan. Tiba-tiba Sehun seperti merasakan kesedihan yang amat sangat. Keputus-asaan.
"A-Apa apaan..?"
SLASH
Suasana tiba-tiba hening. Sehun tidak bersuara. Begitu juga dengan yang lain. Semuanya diam. Seakan-akan tengah menunggu sesuatu terjadi.
Lalu, dengan cepat dan tanpa peringatan, Sehun berdiri. Gerakannya benar-benar cepat. Dan ia memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.
"Hai, Wind," sapa Donghyun tenang
Sehun menatap Donghyun. Tidak ada tatapan Sehun yang lembut dan hangat. Sekarang hanya ada tatapan dinginnya.
"Sieben hyung," sapa Sehun "Aku sekarang sekutu-mu."
-TBC-
Gyahaha, otte? Sehun udah jadi pihak musuh sekarang~ Jangan timpuk saya plis(?)
Mian di chap ini ga bisa bales review kalian. Sebagai hadiahnya, aku kasihtau nih kekuatan member BF sama B1A4.
Sandeul: Shield
CNU: Strength
Baro: Shadows
Youngmin: Mind Controller
Kwangmin: Mind
Minwoo: Pain Controller
Gongchan: Death Rises
Jeongmin: Invisible
Hyunseung: Darkness
Last, mind to review?
