Title: Without word

Cast: Kyuhyun, Changmin, cast lain menyusul seiring cerita berjalan

Desclaimer: Semua cast milik Tuhan YME, but this story is mine

Genre: Brothership, friendship, family, no-romance

Rating: Fiction T

Warning: Just fanfic, don't like don't read, typos, OOC, masih author baru, alur membosankan, cerita pasaran

Summary: -

Happy reading

Puput257™

"Garis takdir tidak akan terputus"

Chapter 11 End

Kyuhyun dan Changmin dengan cepat membalikkan badan. Kedua namja itu membulatkan matanya dengan ekspresi terkejut.

"Kyuhyun-ah, Changmin-ah."

"Annyeong,"

"Hei, kalian."

Kedua namja itu membeku ditempatnya. Masih memproses apa gerangan yang terjadi.

Kyuhyun menoleh begitu pula Changmin. "Apa kau berpikiran sama denganku?" ujar kedua namja itu bersamaan dan kedua namja itu mengangguk bersamaan -lagi.

Changmin mencubit pipi Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun mencubit lengan Changmin.

"Appo...sssh," ringis keduanya bersamaan. Berarti ini kenyataan?

PLETAKK PLETAKK

"Ouch,"

"Yak!"

Donghae tersenyum senang melihat kedua namja itu meringis kesakitan.

"Kalian harusnya menyapa kami, bukannya melakukan hal bodoh seperti tadi." ucapnya sambil berkacak pinggang. Ia heran, baru berapa tahun tidak bertemu, tapi sepertinya kedua namja jenius itu tiba - tiba berubah menjadi bodoh -menurut Donghae.

"Hae hyung, Siwon hyung, Sungmin hyung, dan Yunho hyung... ini sungguh kalian?" tanya Changmin belum percaya. Ia hanya melongo melihat keempat namja yang ia rindukan telah berdiri didepannya.

Keempat namja itu hanya mengangguk dengan senyum. Dengan cepat Changmin memeluk keempatnya.

"Aigo... kenapa kalian disini?" Keempat namja itu melongok, begitupun Changmin.

"Yak!" teriak Kyuhyun saat Changmin menariknya secara tiba - tiba. "Ayo, sini." Kyuhyun pasrah saat ditarik ke tengah.

"Hei, aku ikut." Suara lain terdengar.

"Hyuk hyung, kemarilah." Eunhyuk mendekat lalu memeluk mereka.

Terdengar gerutuan sebal dari mulut namja pucat yang berada ditengah. Sedangkan namja yang saling berpelukan itu hanya tersenyum mendengarnya.

"Kyu, berhentilah menggerutu. Kau semakin cerewet saja." tegur Yunho. Kyuhyun menutup mulutnya kesal. Ini sangat kekanakkan menurutnya.

"Yunho hyung benar. Diamlah dulu, Kyu-ah."

Mereka akhirnya berpelukan dalam diam. Saling mengeratkan pelukan satu sama lain. Menyalurkan rasa rindu yang bertumpuk selama bertahun - tahun.

"Hyung... Chwang..." cicit Kyuhyun. "Aku seperti melihat telletubbies yang sedang berpelukan."

Untuk sejenak hanya suara angin yang terdengar. Mereka saling berpandangan.

"Ku rasa Kyuhyun benar." Yunho berkomentar.

"Ck, persetan dengan telletubbies! Aku merindukan kalian." Changmin justru mengeratkan pelukannya. Seketika tawa membahana di sekeliling mereka.

.

Keenam namja itu kini duduk melingkari sebuah meja di dalam cafe. Terlihat rona bahagia diantara mereka. Beragam candaan terlontar satu sama lain. Tawa membahana bahkan terdengar memenuhi ruangan tersebut. Menarik perhatian beberapa pengunjung yang penasaran dengan keriuhan yang terjadi.

"Wow... Yunho hyung, kau terlihat keren dengan tubuhmu yang kekar." Changmin menyeletuk. Matanya berbinar.

Yunho tersenyum bangga, "Tentu saja. Sebagai tentara aku harus bisa menjaga bentuk tubuhku. Bayangkan saja jika aku sekurus Eunhyuk. Mana mungkin kuat mengangkat senjata."

Eunhyuk mendelik kearah Yunho yang justru tertawa.

"Itu benar, hyung. Hyuk-hyuk tak mungkin kuat mengangkat senapan." Kini giliran Kyuhyun yang berkomentar. Wajah polos yang ditampilkan saat ini tidak sesuai dengan ucapannya yang sadis. Eunhyuk hanya menekuk wajahnya kesal. Pasalnya mereka justru menertawai dirinya.

"Yak! Teruskan mengolokku seperti itu. Dasar tidak tau terima kasih kalian." cercanya kesal. Jika mereka bukan sahabatnya, ingin rasanya Eunhyuk menyeret mereka keluar dari sana.

Sungmin dan Donghae yang duduk disamping Eunhyuk dengan kompak memeluk namja itu. Mengelus pelan bahu Eunhyuk untuk meredam rasa kesalnya.

"Eunhyuk hyung, jangan dianggap serius. Kami hanya bercanda."

Si tampan Siwon mencoba menenangkan Eunhyuk lewat ucapannya. Yunho yang ikut mengolok tadi menunjukkan tanda damai menggunakan jarinya.

"Ya ya. Aku tau. Kalian memang sahabat yang baik. Terutama seongsangnim yang duduk di samping Siwon." sindir Eunhyuk. Seketika keempat namja yang lain menoleh pada Kyuhyun yang sibuk dengan jus melon nya.

Merasa semua mata tertuju padanya, Kyuhyun memasang wajah bingung. "Aku?" tunjuk Kyuhyun pada dirinya sendiri. Adakah yang ia lewatkan?

Eunhyuk mengangkat dagunya. "Kau seenaknya mengolokku seperti tadi dengan wajah polosmu. Itu sangat menyebalkan, kau tau?"

"Aku? Polos?" Kyuhyun menunjuk dirinya lagi. Siwon yang duduk di samping kiri Kyuhyun tiba-tiba menarik pipi namja itu.

"Yak! Siwon hyung!" protesnya kesal. Tangannya mengusap pipi kirinya yang terasa panas.

Siwon tersenyum tanpa dosa. "Kau tidak berubah, Kyu. Kau begitu manis."

Changmin menatap horor pada Siwon. Dengan segera ia menarik Kyuhyun agar duduk merapat padanya. Kyuhyun menatap Changmin heran.

"Hyung...k-kau...kau bilang Kyu-ah itu manis?" tanya Changmin gelagapan. Siwon dengan cepat mengangguk. Senyum lebar membuat dimple di kedua pipinya makin terlihat.

Changmin justru bergidik. "K-kau menyukai Kyu-ah."

Sedetik kemudian raut wajah Siwon berubah bingung. Matanya bergulir menatap sahabatnya yang -justru terkikik- lain.

"Ck, Chwang. Pikiranmu pendek sekali. Bagaimana bisa kau menilai Siwon hyung seperti itu?"

Kyuhyun bersungut sambil menjauhkan badannya dari Changmin. Ia mendumel kesal.

"Tapi...t-tapi Siwon hyung tadi bilang ia menyukaimu."

Sontak tawa kembali membahana. Donghae, Sungmin, Yunho, dan Eunhyuk memegang perutnya yang terasa kram karena terlalu banyak tertawa. Siwon menggaruk lehernya yang tidak gatal.

"Aigo... Changmin-ah. Bukankah Siwon selalu seperti itu pada Kyuhyun sejak dulu?"

Kyuhyun mengangguk cepat. Kalau masalah skinship ia sudah biasa menghadapi Siwon yang seperti itu. Selain itu, noonanya suka sekali menjawil pipinya, jadi bukan hal yang tabu bagi Kyuhyun.

"Aku menyukai Kyuhyun karena ia sudah seperti dongsaengku, Changmin-ah. Bukan dengan konotasi lain."

Changmin bernapas lega. Ia meringis mendapati pikirannya yang pendek. Ia kembali tersenyum lebar setelahnya.

Pembicaraan mereka terus bergulir bergulir setelah 'acara salah paham' itu berakhir.

"Eh, hyung. Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa ada disini dalam waktu bersamaan?" Changmin bertanya penuh rasa ingin tahu. Sejak melihat kedatangan keempat sahabatnya itu ia sudah ingin bertanya. Namun ia terlupa sampai baru teringat saat ini.

"Eumm... tanyakan saja pada Eunhyuk." Sungmin melirik Eunhyuk disampingnya.

Kyuhyun menegakkan tubuhnya. "Jadi ini maksudnya ingin berkencan dengan kekasihmu?" tanyanya penuh selidik menatap Eunhyuk. Tangannya menumpu di atas meja.

Eunhyuk tersenyum garing.

"Tapi kau menyukai ini, bukan?" Eunhyuk justru membalikkan pertanyaan Kyuhyun. Kedua alisnya naik turun dengan wajah penuh kemenangan.

Kyuhyun berdehem sebentar. Tangannya beralih menggaruk lehernya yang tidak gatal.

"Eung.. euhm..."

Eunhyuk tertawa lebar. "Sudahlah, Kyu. Aku tau kau menyukai hal ini. Kau merindukan mereka, bukan?"

Kyuhyun menatap sekelilingnya. Ia bisa melihat Donghae, Siwon, Sungmin, dan Yunho yang tersenyum kearahnya. Wajahnya sedikit memerah menyadari mereka mengetahui apa yang Kyuhyun pikirkan.

"Eung... Yunho hyung, bagaimana kau bisa izin pulang ke Seoul. Bukankah itu tidak boleh?" Changmin dengan cepat melontarkan pertanyaan lain. Ia sudah gatal ingin bertanya pada keempat namja itu.

"Siapa bilang tidak boleh? Boleh saja Changmin-ah, tapi hanya beberapa kali dalam setahun. Dan aku sudah mempersiapkan kepulanganku kali ini sejak beberapa bulan lalu."

"Lalu Sungmin hyung dan Siwon hyung?"

"Kami mengumpulkan cuti kerja selama beberapa bulan untuk pulang ke Seoul kali ini."

Changmin dan Kyuhyun hanya mengangguk tanda mengerti.

"Donghae hyung bagaimana?"

"Aku sebenarnya bisa ke Seoul kapan saja. Tapi aku menunggu ketiga orang ini." tunjuknya pada Sungmin, Siwon, dan Yunho.

"Hyung, kalian tidak menjawab pertanyaan Changmin." Kyuhyun bersuara setelah menyadari satu hal. Sepertinya ini bukan jawaban yang tepat dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Changmin.

Seketika mereka langsung terduduk dengan gelisah di kursinya masing-masing.

"Eoh, iya. Kalian belum menjawab pertanyaanku." ucap Changmin menyetujui Kyuhyun.

Kyuhyun dan Changmin memajukan tubuhnya kearah meja. Kedua namja itu memincingkan matanya melihat tingkah sahabatnya itu. Terutama Eunhyuk yang tengah bersiul tidak jelas.

"Kau tahu sesuatu kan, Hyuk hyuk?"

Eunhyuk tersenyum canggung mendengar pertanyaan Kyuhyun.

"Sebenarnya ini rencanaku. Sebuah kejutan untuk kalian berdua."

Kyuhyun dan Changmin kembali memundurkan tubuhnya.

"Jadi tadi pagi kau menjemput mereka berempat secara bergantian di bandara?" Eunhyuk mengangguk menanggapi pertanyaan Changmin.

"Kalian sangat tega."

Kyuhyun tiba-tiba berdiri. Ia menarik lengan Changmin untuk berdiri.

"Ayo, Chwang. Kita pergi saja." ucapnya dengan nada datar. Changmin melihatnya dengan bingung. Namun sedetik kemudian ia ikut berdiri.

"Baik, Kyu-ah. Lebih baik kita pergi."

Kelima namja yang lain sontak membelalak.

"Kyu, apa maksudnya?"

"Hei, kalian mau kemana?"

Kyuhyun dan Changmin dengan cepat meninggalkan cafe tersebut.

"Yak! Kalian tunggu kami!" Eunhyuk keluar pertama kali disusul Yunho dan Sungmin.

"Siwon-ah, kau bayar makanannya dulu."

Donghae berlalu meninggalkan Siwon yang menggerutu sambil mengeluarkan dompetnya. Ia meletakkan beberapa lembar uang seratus won, lalu segera berlari mengejar sahabatnya.

.

.

.

"Kyu, Chang, tunggu!" Eunhyuk dengan cepat mencegat kedua namja itu. Ia merentangkan tangannya menghalangi jalan, namun Kyuhyun dan Changmin tetap merangsek maju.

"Kubilang berhenti!" bentak Eunhyuk tak sabar. Sungguh, ia bingung dengan kedua namja ini. Ia kan sudah menyiapkan kejutan untuk keduanya. Lalu kenapa kedua orang ini justru marah?

Kyuhyun menghentikan langkahnya lalu maju selangkah. Tangannya terlipat di depan dada.

"Kau harusnya mengajak kami berdua jika masih menganggap kami sahabat." ucapnya dingin. Eunhyuk dan yang lain tertegun mendengarnya.

"Kau menganggap kami apa? Aku bahkan tinggal di tempatmu dan kau tidak memberitahuku?" kini giliran Changmin yang maju selangkah.

Eunhyuk mau tidak mau meneguk ludahnya kasar. Baru sekali ini ia melihat kedua 'dongsaeng'nya ini marah.

"T-tapi... ini kejutan untuk kalian." katanya mencoba meyakinkan.

"Dan kalian!" Kyuhyun berbalik menunjuk keempat namja di belakangnya. "Bagaimana mungkin kalian tidak mengabariku jika akan kembali ke Seoul?"

Keempat namja itu berdiri kaku di tempatnya. Tatapan Kyuhyun seolah mengintimidasi mereka.

"Sahabat macam apa kalian itu?!" Changmin berkata dengan keras. Beberapa pejalan kaki sampai menoleh pada mereka. Tapi Changmin tidak peduli.

"Itu... itu..." Sungmin mencoba mengatakan sesuatu namun gagal.

"Pabbo!" seru Kyuhyun dan Changmin bersamaan. Keduanya ber'tos' lalu tersenyum dan saling merangkul.

Mereka memandang keduanya heran. Bukankah kedua namja itu marah pada mereka? Lalu kenapa sekarang keduanya terlihat senang?

Jangan...jangan...

"Sial! Kalian mengerjai kami, kan?"

Kedua namja itu berpandangan penuh arti.

Hana

Dul

Set

"Yak kalian! Jangan lari!" teriak mereka tidak terima saat Changmin dan Kyuhyun berlari meninggalkan mereka. Kedua namja itu bahkan tertawa lebar.

"Aishh, Donghae-ah. Ayo lari!" Eunhyuk menarik tangan Donghae yang sedari tadi terdiam di tempat.

"Eh?"

Flashback

Changmin mengikuti langkah Kyuhyun yang menariknya keluar dari cafe. Sejak Kyuhyun memberi 'kode' di dalam sana tadi ia langsung mengerti.

Kyuhyun sesekali menengok ke belakang dan mempercepat langkahnya. Ia kemudian menghentikan langkahnya sebentar.

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Changmin setelah menghentikan langkahnya.

Kyuhyun menampilkan seringainya. "Mungkin ini sedikit out of character. Tapi kau pasti akan suka."

Changmin menatap Kyuhyun ingin tahu. Kyuhyun menyuruh Changmin mendekatkan telinganya.

"Kita mengerjai mereka. Pura-pura marah saja."

Changmin ikut menampilkan seringainya. Keduanya melakukan tos lalu memulai rencana 'mari mengerjai mereka'.

Flashback end

.

.

.

"Ahjumma, maafkan aku. Jika saja aku tidak menyetujui rencana untuk menjahili mereka berlima, Kyuhyun tidak akan seperti ini." Changmin dengan nada menyesal mendekati nyonya Cho. Ia membungkuk sedikit.

Kelima namja itu mengikuti Changmin. "Maafkan kami juga, ahjumma."

Nyonya Cho tersenyum maklum. "Kalian tidak salah. Tidak perlu minta maaf. Terutama kau, Changmin-ie."

"Dia saja yang terlalu teledor." Ahra yang baru keluar dari kamar Kyuhyun, duduk di samping Nyonya Cho.

Mereka sedang duduk di sofa ruang tamu. Ada Nyonya Cho, Ahra, Changmin, Eunhyuk, Siwon, Donghae, Sungmin, dan Yunho.

Lalu dimana Kyuhyun? Jawabannya adalah di kamar. Kejahilan yang dilakukannya bersama Changmin tadi berujung petaka. Asmanya tiba-tiba kambuh dan berakhir dengan Kyuhyun yang terbaring di ranjang dengan mata terpejam.

"Apa dia selalu seperti itu?" Sungmin bertanya ragu. Beberapa tahun tidak bertemu membuatnya merasa penasaran.

"Aniya. Kyuhyun tidak pernah kambuh selama ini."

Jawaban dari Ahra membuat beberapa namja itu saling berpandangan. Ada rasa menyesal dan khawatir di hati mereka.

"Ahjumma, aku ingin menemui Kyu-ah."

Changmin berlalu setelah nyonya Cho mengangguk. Sementara Changmin menuju kamar Kyuhyun, beberapa orang yang masih duduk di sofa itu saling berbincang. Terutama nyonya Cho yang lama tidak bertemu dengan keempat namja yang baru pulang ke Seoul ini.

.

Changmin membuka pintu kamar Kyuhyun lalu masuk. Ia menutup pintu itu dengan pelan. Ia lalu duduk di pinggir ranjang sahabatnya itu.

Matanya bergulir menatap Kyuhyun yang masih terpejam. Kyuhyun sedang tertidur.

"Hei, Kyu-ah. Kau sangat bodoh, kau tau?" Changmin berucap lirih.

Hening

"Begitupun aku yang terlalu bodoh."

Ia merutuki kebodohannya. Kyuhyun itu pengidap asma, Changmin! Sangat bodoh mengajaknya berlari seperti tadi.

"Kau membuat kami khawatir."

Changmin teringat wajah khawatir sahabat-sahabatnya tadi. Termasuk ekspresi yang ditampilkan nyonya Cho dan Ahra noona saat mereka mengantar Kyuhyun pulang. Walau nampak tenang, namun ia tahu. Ada rasa khawatir di mata kedua yeoja itu.

"Kau tidur atau pingsan? Kenapa belum bangun?"

Ia melirik jam di atas nakas. Hampir dua jam sejak kejadian terjadi, namun Kyuhyun belum kunjung bangun.

Changmin menyipitkan matanya saat melihat kelopak mata Kyuhyun sedikit bergerak. Ia pikir Kyuhyun akan bangun, namun lama ia tunggu, Kyuhyun tidak membuka matanya.

"Astaga, Kyu-ah. Kau mau mengerjaiku, eoh?" Batin Changmin saat menyadari Kyuhyun sudah bangun, namun sahabatnya itu berpura masih tidur.

"Kyu-ah, kau belum ingin bangun juga?"

Changmin menampilkan seringainya saat Kyuhyun tidak merespon ucapannya.

"Haruskah aku menciummu seperti di dongeng Sleeping Beauty agar kau bangun?"

Hening

Changmin terkikik dalam hati. Ia bisa melihat dahi Kyuhyun yang sedikit berkerut.

"Jadi harus, ya? Baiklah. Bersiaplah, Kyu-ah. Aku akan..."

"Andweee!"

PLUK

Kyuhyun mengerjapkan matanya setelah melempari Changmin dengan bantal. Ia bisa melihat Changmin yang justru terkikik geli.

"Sial kau, Chwang!" Kyuhyun mengumpat pelan lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Changmin tertawa keras.

"Hei, hei. Jangan marah, Kyu-ah."

"Pergi kau, pabbo!"

"Aniyo."

"Pergi!"

"Tidak"

"Pergi kau!"

"Tidak akan."

Kyuhyun menghembuskan napas kesal. Changmin itu sama kerasnya dengan dirinya. Percuma berdebat dengan tiang listrik itu.

Kyuhyun akhirnya menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. "Wae?" tanyanya pendek.

Changmin sejak tadi tertawa tiba-tiba menghentikan tawanya. Wajahnya langsung berubah serius. Tangannya mengambil bantal di lantai -yang tadi di lempar Kyuhyun. Ia meletakkan benda tersebut di pangkuannya.

"Maafkan aku." lirih Changmin seraya menundukkan kepala. "Harusnya aku berpikir lebih panjang. Maafkan aku. Aku bukan sahabat yang baik."

Kyuhyun dengan segera menarik tangan Changmin yang bersiap pergi. "Apa yang kau katakan?" tanya nya tidak mengerti.

"Kau kambuh dan itu karena aku." jawab Changmin tanpa memandang Kyuhyun.

"Bukan," Changmin sontak mengangkat kepalanya. "Aku yang salah, bukan kau. Karena terlalu senang kita bisa berkumpul, aku sampai lupa dengan asmaku."

"Tapi..."

"Tidak. Kumohon jangan menyalahkan dirimu lagi. Berhentilah minta maaf jika itu bukan kesalahanmu." sanggahan dari Changmin langsung dipotong oleh Kyuhyun.

Changmin menunduk, menatap tangannya yang masih di genggam erat oleh Kyuhyun. Ia perlahan mendekat lalu kembali duduk di pinggir ranjang.

"Aku mengerti, Kyu-ah."

Keduanya saling tersenyum.

"Kau sudah merasa baik?"

"Aku tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya." Kyuhyun menjawab masih dengan senyum. "Oh, ya. Eomma dimana?"

"Eommamu di ruang tamu bersama Ahra noona dan hyung deul."

"Tolong panggilkan eomma, Chwang."

"Baiklah."

"Tapi ingat! Hanya eomma saja. Jangan biarkan mereka masuk." Kyuhyun meletakkan telunjuknya di depan mata Changmin.

Changmin tersenyum kaku. "E-eh, baiklah. Hanya ahjumma."

Kyuhyun menatap pintu yang kembali tertutup. Ia menyamankan duduknya dengan bersandar pada kepala ranjang.

Sebenarnya ia sudah terbangun sebelum Changmin masuk ke kamarnya. Namun ia terlalu malas menanggapi Changmin yang pasti akan seperti tadi. Hhah, andai saja Changmin tidak menjebaknya dengan leluconnya. Pasti ia akan bertahan dengan 'kepura-puraan'nya sampai sahabat-sahabatnya itu pulang.

CKLEK

"Kyu..." ia tersenyum saat menangkap eommanya yang masuk ke dalam bersama Changmin di belakangnya. Namun matanya langsung melirik tajam Changmin saat Ahra serta satu-persatu sahabatnya ikut masuk.

"Maaf. Mereka memaksaku." Changmin meringis. Kyuhyun hanya mendengus kesal.

Pletakk

"Appo... ssshh. Eomma..." rengek Kyuhyun saat merasakan jitakan bersarang di kepalanya.

"Kenapa eomma menjitakku?" ia kesal bercampur malu. Ia bukan Kyuhyun yang masih SMA. Ia sudah 23 tahun dan eommanya menjitak kepalanya di depan sahabat-sahabatnya. Sungguh memalukan.

"Kau membuat eomma khawatir, bocah nakal."

Tanpa diduga, nyonya Cho memeluk Kyuhyun dengan erat. Air mata bahkan tampak menggenang di kedua mata yang sewarna dengan milik Kyuhyun itu.

Kyuhyun justru tertegun mendengar eommanya yang memanggilnya dengan sebutan bocah nakal. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mendengar panggilan itu.

"Berjanjilah tidak akan mengulanginya lagi." Ahra mengusak rambut Kyuhyun lalu ikut memeluk Kyuhyun dari belakang.

"Aku tak akan mengulanginya lagi, eomma, noona. Aku janji."

Keenam namja yang berdiri di sekeliling ranjang Kyuhyun itu mengulas senyum.

.

.

.

"Donghae hyung, menyingkirlah! Aku mau menonton berita." seru Changmin kesal karena Donghae dengan seenak jidatnya berdiri di depan televisi. Membuat ia yang sedang duduk manis di sofa menggeram kesal.

Donghae membanting tubuhnya di samping tubuh Changmin. Ia menengok kearah Changmin yang kini tak melepas pandangannya dari televisi. Kedua matanya bergulir menengok sahabatnya yang lain.

Yunho sedang sibuk dengan ponselnya. Siwon, ia sejak tadi tidak lepas dari bible di tangannya. Sungmin, namja bergigi kelinci itu sedang di dapur. Membuat cemilan, mungkin?

"Dimana Eunhyuk?"

"Tadi keluar. Mungkin membeli sesuatu." Changmin menjawab tanpa menoleh pada Donghae.

"Kyuhyun belum datang?"

Changmin mengangkat bahunya acuh, "Belum."

Tak lama kemudian Sungmin mangambil tempat di samping Changmin. Sofa panjang itu muat untuk lima orang dewasa.

"Kau selalu seperti ini?"

Merasa Sungmin berbicara dengan dirinya, Changmin menoleh. "Apa?"

"Kau hanya berdiam seperti ini selama di Seoul?"

Changmin hanya membentuk huruf 'o' dengan mulutnya. Ia menggeleng setelahnya.

"Tidak. Biasanya aku selalu keluar. Jika tidak dengan Kyu-ah, mungkin bersama Eunhyuk hyung."

Sungmin meraih toples snack lalu mulai memakan isinya.

"Ah, rasanya sudah lama tidak mengobrol dengan kalian." Siwon bergabung dengan obrolan mereka. Ia duduk di samping Sungmin.

"Yunho hyung! Apa yang kau lakukan disana?" ucap Siwon keras agar Yunho mendengarnya. Sebenarnya jika tidak berteriak pun, Yunho akan mendengar ucapan Siwon. Namun Siwon sedang ingin menggoda Yunho yang senyum-senyum tidak jelas dengan ponselnya.

Donghae memberi kode Changmin untuk mendekat, "Dia sedang berkirim pesan dengan kekasihnya." bisiknya pelan. Changmin sedikit terkejut.

"Benarkah?" tanya nya tidak percaya. Donghae mengangguk yakin, "Itu sudah pasti. Apalagi melihat tingkahnya yang seperti orang kasmaran."

Tiba-tiba Yunho ikut duduk di sofa panjang yang sekarang terasa sesak itu.

"Yak, Yunho hyung! Geser sedikit!" gerutu Changmin saat Yunho dengan seenaknya duduk di sampingnya -dan itu membuat ruang duduknya terasa sempit.

Yunho tersenyum manis, "Apa yang kalian bicarakan?" tanya nya tanpa menanggapi gerutuan Changmin.

"Tidak ada." jawab Donghae cepat. Yunho sedikit mengkerutkan kening, namun ia tidak mau ambil pusing.

"Ah, waktu sangat cepat berlalu. Aku masih ingin di sini, tapi...ah." Yunho menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya pada sofa. Matanya menerawang langit-langit rumah Changmin yang mereka tempati saat ini.

"Itu benar. Rasanya baru kemarin kita masuk ke rumah ini. Dan ternyata sudah lima hari berlalu sejak kedatangan kita." Siwon ikut menyandarkan tubuhnya pada sofa lalu memejamkan mata.

"Berat rasanya meninggalkan Seoul -lagi." Sungmin ikut menghela napas.

"Aku berharap bisa tinggal disini lagi."

Changmin menelaah setiap ucapan sahabatnya. Ia tanpa sadar melamun.

"Min..."

"Eh? Ya?" sahutnya setelah tersadar.

"Kau melamun?" tanya Yunho diikuti wajah penasaran dari keempat namja itu.

Changmin tersenyum sekilas, "Sedikit."

Sungmin merangkul bahu namja yang lebih tinggi darinya itu. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kami tau, kau memikirkan hal yang sama dengan kami."

"Tidak perlu khawatir, Min. Semua akan berjalan baik."

"Kau tidak perlu mencemaskan masa depan persahabatan kita. Sejauh apapun kita terpisah, kita tetap sahabat."

Changmin berusaha tersenyum. Ada rasa khawatir di hatinya. "Ya. Aku juga berharap seperti itu."

Hening

Hanya terdengar suara penyiar berita yang sedang membacakan rangkuman kasus minggu ini. Ruangan itu terasa hening, mereka tidak berniat menanggapi ucapan Changmin, sibuk dengan pikirannya sendiri.

.

.

.

"Aku merasa kembali ke waktu kita masih SMA dulu." gumaman Kyuhyun menghentikan tawa yang sejak tadi terdengar.

Changmin nampak berpikir. "Saat aku akan pindah saat itu, bukan?" Kyuhyun menjawabnya dengan anggukan.

"Tapi sekarang tidak hanya kau saja, Chwang. Yunho hyung, Sungmin hyung, Donghae hyung, dan Siwon hyung juga termasuk."

Mereka tanpa sadar tersenyum mengingat kenangan tersebut. Saat mereka selalu bersama. Saat mereka tertawa bersama. Saat mereka mengukir kenangan indah bersama. Itu adalah hal yang tidak akan pernah terlupakan dihati mereka.

"Membuat hari yang indah di setiap harinya." ucap Kyuhyun menatap keenam sahabatnya.

"Kita bersama di sekolah." Changmin menanggapi dengan senyum yang tidak luntur.

"Pergi bersama." Sungmin berkomentar.

"Makan bersama." Yunho menambahkan.

"Berangkat dan pulang sekolah bersama." kata Donghae menerawang.

"Menonton film bersama." Siwon sedikit tersenyum.

"Bahkan ke toilet juga bersama." Eunhyuk sedikit menggelengkan kepalanya namun kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.

Mereka bertujuh kembali tertawa karena celetukan lucu dari Eunhyuk. Sangat menyenangkan melihat keakraban yang tidak bersekat.

.

.

.

Hari berlalu dengan cepat. Seminggu telah berlalu sejak kedatangan keempat namja tampan itu. Yunho, prajurit abdi negara itu mau tidak mau harus kembali menjalankan tugasnya. Ia harus kembali ke camp militer hari ini.

"Yunho hyung, jaga dirimu baik-baik."

"Aku akan merindukanmu, hyung."

"Pegang senjatamu dengan baik."

"Tetaplah menjadi Jung Yunho yang ku kenal."

"Jangan menangis, hyung."

Yunho tersenyum setelah memeluk satu persatu sahabatnya itu. Ia berusaha mengontrol air matanya yang hendak keluar.

"Aku menyayangi kalian. Maaf aku pergi lebih dulu. Sampai jumpa."

Mereka melambaikan tangan ke arah taxi yang membawa Yunho pergi. Namja tampan itu menolak di antar ke bandara. Ia berkata akan menemui orang tuanya dulu. Protes sudah dilayangkan namun Yunho tetap bersikeras tidak mau diantar. Dan mereka hanya bisa mengangguk pasrah.

Kyuhyun masih memandang taxi -yang membawa Yunho- yang mulai menghilang di kejauhan. Ia memandang kosong pada jalan.

"Hei, ayo masuk."

Tepukan pelan di bahu menyadarkan Kyuhyun. Ia segera masuk ke dalam rumah Changmin mengikuti jejak kelima sahabatnya.

Tiga hari kemudian hal itu kembali terulang. Donghae, Siwon, dan Sungmin harus kembali pada kehidupan mereka lagi. Yang membedakan adalah, Kyuhyun, Changmin, dan Eunhyuk kali ini mengantarkan ketiga namja itu sampai di bandara.

Donghae akan terbang lima belas menit lagi sedangkan Siwon dan Sungmin akan terbang tiga puluh menit lagi.

Donghae segera beranjak memeluk satu persatu sahabatnya saat mendengar pengumuman pesawat yang ia naiki akan take off lima menit lagi.

"Aku pergi. Sampai jumpa." Donghae melambaikan tangan sebelum menghilang di area pemeriksaan tiket.

Sekitar setengah jam kemudian, giliran Sungmin dan Siwon untuk pergi.

"Kami pergi. Sampai jumpa lagi."

Setelah memastikan pesawat yang membawa kedua namja itu sudah terbang, Changmin, Kyuhyun, dan Eunhyuk meninggalkan bandara lalu kembali ke rumah Changmin.

.

.

.

"Bukankah ini terlalu cepat?" Changmin menatap keluar jendela. Eunhyuk yang sedang menyetir melirik lewat kaca spion.

"Apa?" tanya nya berpura tidak paham.

Changmin menarik napas panjang lalu melepaskannya pelan. "Waktu kita untuk berkumpul bersama."

Kyuhyun tidak menanggapi. Ia seolah terpaku pada pemandangan di sepanjang jalan pulang.

"Bagiku ini lebih dari cukup." Changmin melirik Eunhyuk lewat ekor matanya. "Waktu sesedikit apapun jika dimanfaatkan dengan tepat akan menyisakan memori yang indah." sambung Eunhyuk lagi.

Changmin merenung setelah memahami perkataan Eunhyuk. Ia tidak bisa egois meminta mereka untuk bersamanya lebih lama. Sekarang mereka memiliki hidup sendiri dan Changmin harus memahami itu.

Kyuhyun memang diam, namun telinganya mendengar jelas perkataan Eunhyuk. Dam Kyuhyun yang sudah mempersiapkan perasaannya sejak lama tidak keberatan. Biarkan sahabatnya memiliki hidupnya sendiri, namun pafa intinya status sahabat tidak pernah berubah.

.

.

.

Changmin mulai mengemasi barangnya dengan bantuan Eunhyuk. Ia lalu duduk di ranjangnya.

"Hanya ini?" Changmin mengangguk samar. Wajahnya tampak keruh sejak kemarin.

Eunhyuk hanya menepuk bahu Changmin pelan lalu berjalan keluar.

Changmin menghela napas panjang. Ia lumayan -sangat- tidak rela untuk kembali ke Jepang besok.

"Hhahh..."

"Jangan terlalu sering menghela napas, Chwang."

Changmin mengalihkan pandangannya pada pintu yang baru di buka Kyuhyun.

"Eomma bilang, terlalu banyak menghela napas bisa menghilangkan keberuntunganmu." lanjut Kyuhyun sambil menutup pintu lalu melangkah mendekati Changmin.

"Hhahh... aku tidak bisa." kesal Changmin dengan tidak menghilangkan helaan napasnya.

Kyuhyun duduk di samping Changmin lalu merangkul bahu sahabatnya itu. Sedikit out of character, namun Kyuhyun ingin melakukannya. Biarlah ia terlihat bukan seperti Kyuhyun yang biasanya.

"Kau seolah akan berpisah denganku selamanya jika seperti ini." ledek Kyuhyun. Ia ingin menghibur Changmin yang terlihat suram sejak kemarin.

"Aku memang merasa seperti itu, Kyu-ah." ujar Changmin terdengar frustasi. Kyuhyun justru terkekeh.

"Itu tidak mungkin, Chwang."

Namja penyuka makan itu sontak menoleh pada Kyuhyun. "Kenapa?" tanyanya dengan dahi berkerut.

Kyuhyun mengambil tangan kanan Changmin. Ia menyodorkan kelingking kanannya lalu mengaitkannya pada kelingking kanan Changmin.

"Karena kita adalah sahabat."

Kyuhyun mengatakannya dengan senyum yang membuat Changmin akhirnya tersadar.

"Sahabat?" ucap Changmin dengan ragu. Kyuhyun mengangguk mantap.

"Kau tidak perlu khawatir dengan hari yang akan datang. Kita memang berpisah, namun kita tetap sahabat. Mau sejauh apapun jarak memisah, kita tetap sahabat."

Changmin terdiam lama sampai akhirnya ia bisa tersenyum. Senyum -yang sangat lebar- yang nampak menggelikan di mata Kyuhyun.

Tanpa aba-aba, Changmin memeluk Kyuhyun erat. Membuat Kyuhyun yang tidak siap hampir saja terjengkang ke belakang.

"Aku mengerti, Kyu-ah. Aku akhirnya mengerti. Kita sahabat, kita memang sahabat."

Kyuhyun menepuk punggung Changmin pelan dengan senyum yang terulas di bibirnya. Dengan kelakuannya yang -sedikit- berbeda dengan biasanya ternyata membuat Changmin mengerti. Ia lega, sangat lega.

"Ya, berpikirlah seperti itu. Jangan memikirkan hal yang buruk."

"Aku memang pergi, namun tidak dengan persahabatan kita."

Kyuhyun hanya tersenyum saja saat Changmin melepas pelukannya.

"Aku lebih baik melihat senyum selebar itu daripada melihatmu muram. Tidak enak dilihat."

Changmin berpikir lalu menaik turunkan alisnya. "Kyu-ah, aku baru sadar. Kata-katamu tadi sangat manis. Aigo... kurasa tadi itu bukan kau, Kyu-ah."

Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Eum..aniyo. Hanya perasaanmu saja mungkin."

Changmin menggoyang lengan Kyuhyun seperti anak kecil yang sedanh merajuk pada eommanya. "Ayolah, Kyu-ah, sekali saja. Bicara padaku dengan kata-kata yang manis seperti tadi."

"Tidak!" tolak Kyuhyun tegas.

"Kyu-ah... Come on, please."

"Tidak, Chwang!"

"Kyu-ah..."

"Aish... diamlah!"

"Kyu..."

Eunhyuk yang mendengarnya hanya terkikik geli. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.

"Sebaiknya aku memasak makan malam saja."

.

.

.

"Changmin beranjak berdiri mendengar pengumuman jika pesawat yang ia naiki akan segera take off sepuluh menit lagi.

"Hyung..." ia memeluk Eunhyuk.

"Jaga dirimu di sana. Hyung berharap yang terbaik untukmu. Jangan lupa menghubungiku jika sudah sampai."

"Tentu, hyung. Aku akan merindukanmu, sangat."

Keduanya melepas pelukannya. Eunhyuk mengusak surai Changmin pelan. "Kau harus mengunjungi Seoul lagi kapan-kapan."

Changmin menggangguk dengan senyum menatap Eunhyuk, "Ya, tentu saja."

Pandangan Changmin teralih pada Kyuhyun. Eunhyuk mundur beberapa langkah, ia memberi waktu pada dua orang itu untuk bicara.

"Aku harus pergi."

"Kau sudah mengatakannya, Chwang."

"Bicaralah semanis kemarin. Aku benar-benar terkesan mendengarnya."

Changmin bisa melihat wajah Kyuhyun yang bimbang. Ia melipat bibirnya menahan tawa.

"Sudahlah, aku hanya bercanda." Changmin menarik Kyuhyun dalam pelukannya.

"Ck, dasar!" kesal Kyuhyun dibalik punggung Changmin.

"Aku pasti merindukanmu, Kyu-ah."

"Hm..."

"Jangan pernah berubah. Tetaplah menjadi Cho Kyuhyun yang menjadi sahabat Shim Changmin."

Kyuhyun kini tersenyum.

"Dan kau juga. Tetaplah menjadi Shim Changmin yang menjadi sahabat Cho Kyuhyun."

Keduanya melepas pelukannya. Saling melempar senyum satu sama lain.

"Aku pergi. Selamat tinggal."

Changmin berniat menarik kopernya namun sebuah tangan menghalanginya.

Ia melihat Kyuhyun yang menggeleng padanya.

"Jangan ucapkan 'selamat tinggal'. Ucapkan 'sampai jumpa' karena kita pasti bertemu lagi."

Changmin kembali tersenyum. Ia mengangguk lalu mulai menarik kopernya menjauh dari kedua sahabatnya.

"Sampai jumpa..." teriaknya lantang tanpa memperdulikan beberapa orang yang terganggu dengan suaranya.

Aku mengerti sekarang. Perpisahan yang kulalui memang bukan pertama kali. Mungkin kedua, ketiga, atau entah yang ke berapa. Sakit, ragu, khawatir, cemas, itu pasti terasa. Namun, janji persahabatan kami membuat perpisahan ini nampak tidak terasa. Hanya sebuah janji yang membuat kami saling mengingatkan, saling mmenguatkan dan saling mempercayai.

Kyu-ah, hyungdeul. Aku pergi. Kita akan bertemu lagi suatu saat. Sampai jumpa lagi.

Kyuhyun masih melambaikan tangannya walau Changmin telah menghilang dari pandangannya.

"Kyuhyun-ah, ayo kita pergi..." suara Eunhyuk membuat Kyuhyun menoleh pada namja yang tengah tersenyum di belakangnya itu.

Kyuhyun mengangguk, "Baik, hyung."

Ia berjalan bersama Eunhyuk untuk meninggalkan bandara.

Kyuhyun menoleh ke belakang. Berhenti melangkah lalu menatap sejenak tempat terakhir ia melihat sahabatnya.

Sejak awal aku sudah menyiapkan diri untuk hari ini. Bahkan sejak beberapa tahun lalu aku sudah siap. Hari ini pasti datang, dan aku hanya bisa menguatkan hati.

Sebuah ikatan persahabatan tidak akan putus karena terhalang jarak. Tidak masalah dengan mereka yang tidak disampingmu. Yang paling penting adalah janji persahabatan yang selalu di pegang teguh oleh setiap dari mereka.

Chwang, aku akan merindukanmu, sahabatku. Sampai bertemu lagi, kau harus kembali.

"Kyuhyun-ah."

Kyuhyun dengan segera menjajarkan langkahnya dengan langkah Eunhyuk yang berjalan lumayan jauh di depannya.

Biarlah seperti ini. Ini bukan akhir dari persahabatan mereka. Masih ada hari esok yang lebih terang. Dan Kyuhyun menunggu hari itu.

"Berbahagialah dan miliki hidupmu sendiri. Namun jangan pernah lupakan sahabatmu."

.

.

END

Finally, bisa ngerampungin ini fanfic yg mangkrak sejak awal tahun.

Maaf atas ketidaknyamanan selama fanfic ini berjalan. Maaf juga kalau alur tidak sesuai keinginan readers dan molornya update setiap chapter.

Terima kasih untuk yg setia menemani author sejak fanfic ini mulai di publish sampai end di chapter ini. Terima kasih untuk respon positif dan negatif dari semua pihak.

Thanks to :

Lydiasimatupang2301/meimeimayra/awaelfkyu13/kyutty8 STILE/nanakyu/cinya/wonhaesung love/angel sparkyu/pcyckh/lia/melani s khadijah/hyunhua/riena/dewidossantosleite/

Maaf gak bisa bales reviewnya.

Mungkin ini fanfic yg bisa author publish di bulan February ini. Sekali lagi author minta maaf. Ada urusan di real life yg menyita waktu sampai akhir bulan. Jadi, maaf.

Intinya, author bakal hiatus sampai awal Maret dan bakal kembali sekitar akhir Maret.

Last, thank you very much*bungkuk90°