Chapter 11 : Childhood - Lost Paradise

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genki desu ka, Minna?

Saya balik lagi, mari kita perkental fantasi mulai chapter ini. Bagi para gamer, kalian pasti akan familiar dengan dengan beberapa kata yang ada di sini, hehehe ^^

Daripada banyak omong! Langsung aja mulai! Check this out!

A Fantasy Fict from me

~Dreamy Cherry Blossom~

Main pair : Kagamine Rin & Kagamine Len, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Cover : OrangeCornPuff from DeviantArt

Summary :

'Apa sebenarnya aku ini? Apa aku bukan bagian dari dunia ini? Apakah ada dunia lain yang tersembunyi?' 'Kau hanyalah mimpi, kau hanya makhluk ciptaan yang tidak nyata, kau hanya hidup di dunia sebagai bayangan. Tidak lebih setelah inangmu menghapus mu dengan yang baru.'

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje karena fict pertama, pendeskripsian kurang, kesalahan eja EYD dan teman-temannya.

'Abc'/"Abc" : flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc"/'Abc' : percakapan normal
"Abc" : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

Balas membalas review seperti biasa di bawah ya...

HAPPY READING MINNA!

Chapter 11 : Childhood - Lost Paradise


Len's POV


'Apa aku sudah mati?'

'Di sini gelap, di mana ini?'

'Apa ini bentuk hukuman pembunuh seperti ku?'

'Bentuk neraka ku?'

'Gelap, suram dan sendirian?'

"Jangan bercanda, kau belum mati bocah!"

"Rei?"

"Sudah kubilang, Rei yang kau kenal sedang tidak ada. Bisa kita ulang? 'Knock, knock, ada orang di rumah?' 'Iya, di sini Akane Len.' 'Hey, aku bukan Rei loh..' 'Jadi kau siapa?' 'Aku RAPHAEL sang PANDORA!'."

"Memangnya ini lawakan solo ya?" Aku jadi bingung sendiri...

"Jangan pura-pura bodoh! Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu!"

"Aku divonis akan meninggalkan dunia malam ini?"

"Benar, dunia manusia. Tidak dengan dunia youkai. Kau bisa kembali kapan saja ke dunia ini. Kau bodoh ya? Tidak mungkinlah seorang youkai sepertimu mati karena penyakit mental!"

"Oh, aku mengerti!" Jawabku sambil memukul telapak tangan kiri ku dengan kepalan tangan kanan ku.

"Terserah kau deh, bocah. Ku beri sedikit kenangan saat kau masih 'janin'!"

"Janin? Aku masih di dalam perut dong?"

"Itu perumpamaan bodoh! Maksudnya masa saat kau masih kecil! Aku tidak percaya Rinto-sama memberi kekuatannya pada bocah sepertimu... Tapi memang tubuhmu kuat, tiga jenis kekuatan berbeda bercampur aduk di tubuhmu, tapi bahkan kau tidak kesakitan atau terganggu sama sekali." Ucah si Pandora ini, dia maunya apa sih?

"Langsung kita mulai! Ingat ini adalah masa kecil yang SEBENARNYA!" Lanjutnya lagi


"Ukh, kepala ku sakit..."

"Hei bocah, apa kau ingat nama yang kau baca di batu nisan yang bersebelahan dengan makam Rinto-sama?"

"Ah, itu... Leon dan Lily kan?"

"Bagaimana jika ku katakan mereka adalah orang tuamu?"

"Oh..."

"Tak ada rasa terkejut sedikit pun, kau membosankan."

"Aku sudah banyak melalui banyak hal aneh. Memangnya saat aku ingat jika yang menghancurkan distrik industri dan bangunan sekolah itu aku dalam wujud setengah monster, membuatku tidak merinding setengah mati? Terimakasih karena memberi ingatan saat aku tidak sadar, itu sudah alasan kuat jika ada hal yang makin aneh tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayainya, paling tidak setidaknya aku bisa percaya dulu."

"Iya, iya..."

"Memang kenapa jika mereka adalah orang tuaku?"

"Mereka adalah..."

"Iya?"

"Youkai Hunter, secara teknis mereka pemburu makhluk seperti mu sekarang. Itu menjelaskan kenapa kau bisa memunculkan banyak senjata dalam waktu bersamaan. Tekhnik Multi Weapon sang Scimitar Master seperti mereka berdua, hanya bisa diwarisi oleh anaknya. Itu adalah satu-satunya tekhnik yang hanya mereka yang bisa."

"Tapi kenapa Rin bilang, bahwa mereka adalah teman dari Rinto-san? Rinto san juga youkai, jadi itu mustahil buruan dan pemburunya berteman."

"Biar ku beritahu sedikit. Rinto-sama yang telah menciptakan ku, ia adalah seorang Beast Tamer, Lenka-sama istrinya adalah seorang Youkai Hunter juga, kemampuannya adalah patokan dari seluruh pemburu youkai, kenapa? Karena ia satu-satunya yang pernah mendapat anugerah sang Tsukuyomi, kekuatannya bisa menyegel bahkan membersihkan hati seorang youkai jahat tanpa membunuhnya." Sang Pandora mengatakan hal aneh lagi, Lenka-san itu juga pemburu youkai?

"Kita harus kembali pada masa mereka semua masih muda.. Dan juga masa saat kau lahir." Aku lahir? Bukannya aku anak yang dipungut Kiyoteru? Tapi itu juga bukan halangan fakta bahwa aku juga dilahirkan seseorang sih.


"Cerita yang sungguh panjaaaaaang~~~ Membosankaaaaaan~~~." Ucapku sambil menguap.

"Tapi aku mengerti sekarang... Lenka-san, Kaa-san dan Tou-san. Mereka beraliansi, dan karena aliansi mereka merupakan tim yang kuat, makin banyak youkai yang berpaling menjadi teman manusia. Maou dari dunia youkai akhirnya memberi perjanjian damai dengan menikahkan anaknya, Rinto-san dengan Lenka-san sebagai bentuk diplomasi politik. Dan demi menjaga keamanan, sang Maou membentuk Twilight Epitaph yang dipimpin Kiyoteru yang berperan sebagai penjaga keamanan dari kedua dunia, tadinya..." Aku mengambil pose berpikir.

"Kau tidak akan tahu hati seseorang seperti Kiyoteru, dia menyalahgunakan fungsi Twilight Epitaph dan membunuh semua anggota yang membangkang. Kiyoteru itu gila, dia mengambil mu, Akane Len yang masih baru lahir dari orang tuamu. Ia bohong jika berkata jika kau adalah anak buangan. Rinto-sama inginnya membantu kedua orang tuamu dengan berkata jika kau ada di base Twilight, tapi Kiyoteru mengancam jika Rinto-sama melakukan yang aneh-aneh keselamatan Rin-sama yang baru lahir dan Lenka-sama yang masih lemah akan menjadi taruhannya." Jelas sang Pandora, panggil saja Raphael mulai dari sekarang.

"Tapi Re- Ehm.. Raphael, kudeta di dunia youkai yang menewaskan sebagian populasi youkai, Rinto-san, bahkan sang Maou sendiri. Setelah itu siapa yang memerintah?" Aku bertanya dengan antusias.

"Kiyoteru, ia merangkap sebagai perdana menteri juga sampai sekarang. Memang perdamaian antara youkai dan manusia masih terjaga, tapi hal itu tidak bisa dijamin kapan akan pecah peperangan." Jawab Raphael.

"Aku tidak menyangka masa lalu orang tuaku dan Rin begitu kelam. Jika Rin memang anak persilangan antara 'kehancuran' dan 'pengampunan' apa ia menguasai keduanya?"

"Aku tidak tahu, yang pasti setengah dari 'kehancuran' Rinto-sama sudah pernah ia tunjukan, emosi yang kuat. Bagaimanapun darah seorang anak dari Maou dunia youkai dan darah dari sang dewi utusan Tsukuyomi ada di dalam tubuh Rin-sama ." Jelas Raphael lagi, kukira Rin hanya anak cengeng yang lemah. Setelah mendengar itu semua, aku jadi percaya jika ia bahkan bisa membunuhku dalam tidur.

"Jadi sekarang aku harus apa? Aku harus ke dunia manusia lagi dan menghentikan Kiyoteru kan?"

"Kau kira segampang itu bocah? Kau bahkan tidak bisa mengendalikan kekuatanmu. Ku beri kau tiga test, kau harus melawan tiga wujud perspektif dari masing-masing kekuatanmu. Jika kau bisa akan ku perbolehkan kau pergi ke dunia manusia."

Aku berpikir, jika aku yang tidak bisa apa-apa pergi sekarang, itu sama saja menyetor nyawa ke Kiyoteru. Tapi jika harus melawan tiga wujud dari diriku sendiri tanpa bisa apa-apa juga, itu sama saja omong kosong.

"Baiklah! Aku siap! Lakukan sekarang!"


Crash! Crash! Crash!

"Hah, hah, hah!" Aku tidak percaya jika bagian dari diriku, menyerang ku seganas ini.

"Apa kau cuma bisa lari Bocah? Walau wujudnya sama denganmu, ia tak punya akal. Bagaimanapun ia mencoba membunuhmu, satu gerakan aneh darimu akan langsung membuatnya bingung, ingat ia makhluk yang terbangun dari insting." Suara Raphael menggaung dari langit di dimensi yang ia ciptakan khusus untuk bertarung ini. Haruskah aku melakukan sesuatu yang tiba-tiba? Tapi apa?

Jika aku memang bisa mengeluarkan senjata sebanyak itu, kenapa tidak kucoba? Tapi bagaimana caranya?

Ingat Len, ingat. Bagaimana caramu waktu kecil dulu mengeluarkan kekuatanmu! Apa aku harus emosi dulu? Tapi bagaimana caranya membuat diriku sendiri emosi?

"Change : Soul of Luna! Heavy Cross-Slash!"

DUAR! GREK, GREK!

Sial! Ia membelah bangunan lagi! Jika begini tidak akan ada lagi tempatku bisa sembunyi!

"Change : Rune Blade! Holy Field of Judgement!"

BRAK! BRAK! BRAK!

Apa ini? Mata pedang bermunculan dari tanah? Sial! Cepat sekali, tidak ada waktu untuk berlari! Aku hanya bisa menutup mata ini...


Normal POV


Saat Len menutup matanya, tubuhnya mengeluarkan cahaya berwarna biru. Len bingung, lama ia menutup mata tapi ia tak merasakan apapun yang menyakitinya.

"Apa ini? Biru? Aura bertahan?" Ucap Len lebih kepada dirinya sendiri.

"Change : Glave of Birth! Dragon Slide!"

Tiruan Len mengeluarkan senjata berbeda lagi, tapi Len menahannya dengan hanya aura. Tiruan itu menggeram dan makin ganas, tapi naas semua serangannya tertahan hanya dengan sinar biru yang mengelilingi tubuh Len.

"Ukh! Kepalaku!"

PATS!

"Lihat lihat! Haku! Aku bisa membelah batu itu hanya dengan satu serangan!"

"Iya Len! Kau sudah hebat!"

"Cih! Hebat darimana, aku bisa menghancurkan batu yang lebih besar dari itu hanya dengan tendangan tumit."

"Kau sombong ya! Ayo kita berduel, Multi Weapon ku melawan Martial Arts mu!

"Boleh!

.

.

.

"Akh! Aku ingat! Aku hanya harus..."

"Offensive Aura, Change : Gear Gun! Slingshoot!"

Len mengeluarkan dual handgun dan melepaskan tembakan acak yang berbentuk seperti ekor komet ke arah tiruannya, tiruannya yang menahan dengan glave yang ia pegang tidak sadar jika tujuan serangan acak itu bukan depannya tapi mengarah ke arah punggungnya, dengan kata lain serangan itu seperti bumerang.

"Ukh!"

"Yes! Kena! Ini akan mudah!" Ucap Len


Normal POV : Other Side


"Bagaimana perkembangannya?"

"Dari reaksi Pandora Rage ku, Akane Len sekarang tengah melakukan sesuatu di dimensi yang dibuat oleh Raphael, Master."

"Bagus, jadilah lebih kuat lagi dan pelepasan Nanaohanagou akan mudah! Hahahahahaha!"

.

.

.

"Bagaimana, Code : frozen Butterfly? Kenapa kau tidak menjenguk teman mu? Anak bernama Akane Len itu?"

"Sudahlah Dell. Jika tidak dihadapan Master, kita tidak perlu menggunakan codename kita. Benarkan Gakupo?"

Orang yang dipanggil 'Gakupo' tersenyum lalu mengangguk-angguk disko sambil makan berdiri, benar-benar pose yang bodoh.

"Baiklah, aku juga lelah Kai."

"Seenaknya menyingkat nama orang."

"Dimana Neru, Haku dan Meiko?" Orang berambut teal menyelak pembicaraan antar 'sahabat' yang baru saja terjadi.

"Neru, ia sudah hampir 6 bulan belum kembali dari tugasnya masa' kau lupa? Haku dan Meiko akhir-akhir ini suka jalan-jalan keluar."

"Memang Neru tugas apa?"

"Astaga kau benar-benar lupa, Kurangi tidur berlebihan mu itu. Neru diberi tugas untuk meneliti Nanohanagou bersama beberapa peneliti lain. Biasa, tugas dari perdana menteri." Cibir orang yang dipanggil 'Kai' tadi.

"Loh? Bukannya perdana menteri dan Master itu sama? Kenapa tidak panggil 'Master' saja?" Si rambut teal kembali berbicara.

"Itu hanya lelucon bodoh, kau memang tidak bisa diajak bercanda Mikuo."

"Cih, pembicaraan aneh. Aku keluar saja, mungkin membunuh beberapa manusia sampah bagus untuk latihan." Ucap Dell.

"Ingat Dell, jangan membunuh yang masih punya hubungan, kita masih dalam suasana gencatan senjata. Jika ulahmu tercium oleh para pemburu kita akan dimarahi Master."

"Tenang, aku hanya membunuh beberapa sampah. Paling gelandangan yang tidak punya tujuan, atau sampah politik seperti para... Koruptor kotor." Dell berjalan sambil menyeringai lalu ia menghilang.

"Dasar anak itu, awas saja jika ia sampai tercium oleh para pemburu jika ia membunuh bidak politik manusia. Akan kubunuh hingga tersisa tulangnya yang digigiti para rayap." Si biru merasa emosi.

"Ya nanti Kai, saat kau sudah lebih kuat darinya." Sambar Gakupo.

"Berisik kau!"


Normal POV : Len's Side


"Sekarang apa? Apa aku langsung melawanmu?" Len mencoba bertanya pada langit di atasnya.

"Jangan bercanda bocah, Pandora adalah boss terakhir! Kau akan melawan perspektif dari Beast Tamer. Ia benar-benar berbeda, persiapkan dirimu."

"Heh, dengan kekuatan Multi Weapon tidak sulit jika hanya melukai binatang!" Len mulai menyombongkan diri, ia tak tahu arti kata dari 'benar-benar berbeda'.

"GROAAR!"

"Cih, hanya sekumpulan daging berjalan. Apanya yang beda? Command Aura, Change : Scythe of Birth! Doom Slash!"

Len memberi serangan kuat beruntun yang ia punya, mulai dari pukulan, tebasan, tembakan, hingga hantaman. Semua jenis serangan itu mengenai telak wujud aneh monster yang berdiri dengan dua kaki itu hingga diselimuti asap tebal. Tapi, entah kenapa setelah semua asap yang menutupi monster itu hilang, tubuhnya bahkan tidak tergores sedikit pun.

"Mustahil!"

"Bocah, kau terlalu sombong. Memangnya kau kira Rinto-sama bertahan selama ini hanya menggunakan satu tubuh monster lemah? Tubuh monster yang kau lawan merupakan gabungan dari makhluk legendaris yang hanya dianggap mitos di dunia manusia. Leviathan, Behemoth, Wyvern, Dragon, Lamia, Medusa, begitu banyak yang Rinto-sama kumpulkan dalam tubuhnya." Sang Pandora mencoba mengintimidasi Len, dan bodohnya Len terperangkap oleh jebakan itu.

"Jadi maksudmu? Ia bukan hanya mengendalikan monster itu, tapi ia menghisap energinya?!" Len mulai terkejut dengan apa yang dikatakan Raphael.

"Itulah kenapa ia disebut 'penjinak' bukan 'pelatih'. Untuk apa menjinakan monster jika kau tidak merasakan sendiri kekatannya?"

"GROAAR! DUAAAR!"

Sebuah kilatan hitam yang diselubungi listrik keluar dari telapak tangan monster itu, Len mencoba menahannya dengan auranya. Hanya dalam 3 kali serangan beruntun, aura Len pecah tanpa sisa.

"Hebat, aku tidak percaya kekuatan seperti ini ada dalam tubuhku.."

"Nah sekarang, coba kalahkan dengan akalmu. Makhluk di depanmu sama, ia hanya bergerak berdasar insting, kalahkan dengan akal bukannya dengan insting juga."

.

.

.

"Hah, hah, hah... Kau kira monster seperti itu bisa mengalahkanku? Jangan harap! Sekarang, mari lihat reaksi ketakutanmu saat melawan dua kekuatan legendaris sekaligus!"

"Boleh juga bocah, tapi kuingatkan sekali lagi. Aku memiliki akal, jangan menggunakan taktik sama kepadaku."


Rin's POV


"Uh, dimana ini?"

Aku membuka mataku saat merasakan cicitan burung. Saat aku mendongakkan kepalaku. Aku melihat Len yang memejamkan matanya. Saat melihatnya aku ingat semua yang terjadi, jadi Len benar-benar pergi ya?

"Ayolah Rin, hiks, hiks, tahan tangis... Mu... Hiks..."

"..."

"Len..."

"HUWAAAA!"

"Hey Rin, Rin, jangan nangis keras-keras. Berisik tahu."

"Eh? Hiks... Len? Hiks.."

"Iya, siapa lagi coba?"

"LEN! KAU KEMBALI! KAU KEMBALI!" Aku memeluk Len dengan gembira, ternyata bertaruh pada kemungkinan terkahir tidak buruk.

"Memangnya aku kemana? Kan sudah ku bilang 'Bersama, selamanya'." Ucap len dengan senyuman, senyum yang menawan seperti biasanya.

"Tapi Len. Bagaimana?"

"Oh soal itu, aku dibantu oleh Rap- maksudku Pandora yang ada di tanganku ini. Ia memberi sebuah test padaku dan aku berhasil itu saja. Memangnya kau kira, makhluk seperti ku akan mati hanya karena tekanan mental? Aku bukan manusia yang akan gila jika kehilangan keluarga atau kehilangan uang Rin."

"Jadi, intinya kau tidak akan pergi lagi kan?"

"Tidak Rin. Aku tidak akan kemana-mana. Sekarang kita harus pergi ke rumah mu, ada yang harus kutanyakan pada Lenka baa-san."

"Eh? Baiklah tapi, pertanyaan apa?"

"Ini penting dan kau juga harus ikut untuk mendengarnya. Sebenarnya aku juga tidak percaya dengan apa yang ku tahu." Len menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, memangnya apa yang terjadi?


Len's POV


"Bagus bocah! Kau lulus."

"Tidak ku sangka kekuatan Pandora semenyeramkan ini. Menguasai ruang dan waktu, memegang kendali kehidupan dan kematian benda tertentu. Itu menyeramkan."

"Tapi kau bisa mengatasinya. Itu yang penting bocah. Sebenarnya masih ada kekuatan lain yang tidak bisa ku keluarkan."

"Apa itu?"

"Kita harus bertanya pada Lenka-sama, sang dewa kematian."

"Loh? Kau bilang ia adalah dewi penyelamat?"

"Ya, kematian yang merangkap sebagai penyelamat. Itu wajar kan?"

.

.

.

Aku tidak percaya jika penyebab kudeta dunia youkai adalah Lenka baa-san. Apa ia yang menginginkan kematian Maou dan Rinto-san?

Aku masih tidak mengerti, ia sendiri yang menyetujui perdamaian, tapi ia juga yang memulai kembali perang. Ini rumit.

Saat aku dan Rin keluar dari kamar pasien, banyak perawat dan dokter yang memandang aneh kami. Pasti karena berita bahwa seharusnya aku sudah mati, hehehehe. Kalian kira aku bisa mati semudah itu?

Setelah mengurus administrasi aku dan Rin langsung berlari ke halte bus, hendak menunggu bus. Tapi keberuntungan nampaknya baru pergi dari hadapanku.

"Yo, lama tidak jumpa Pandora Eyes."

"Dia siapa Len? Dan kenapa ia tahu identitas mu?"

"Honne... Dell..."

"Honne Dell? Siapa dia Len?" Rin bertanya lagi sambil bersembunyi di belakangku.

"Dia, makhluk yang seharusnya menjadi tempat akhir tubuhku berada..."


Chapter 11 completed~~~

Wahahahaha! Update senin jadi update rabu! XD
Saya sudah mulai agak panik, seminggu lagi saya balik sekolah! #Gak ada yang nanya!

Saya akan membuat cerita ini paling tidak setengah dominan ke fantasy tiap chapternya, jadi biar kerasa jika ini benar-benar fantasy!

Balas review ah~~

-To reviewer named Alfianonymous22 :

Hahaha, gak apa... Mau review pas 1 detik setelah fict ini baru di update juga gak masalah XD
Yes ndak ada typo!
Kalo tangannya meledak, pake lap basah! XD #PLAK
Oh kamu laki-laki ya? Maaf, saya males buka profile orang sih XD

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named Namikaze Kyoko :

Saya sedang merencakan cara kematian Len yang terburuk, khukhukhu (Len : Emangnya gue hewan!)
Soalnya Rin lagi puber, jadi emosi labil XD #PLAK #GA NYAMBUNG

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named CoreFiraga :

Selamat! Kamu benar dan mendapat jackpot! Eh... Ano... Etto, jackpotnya apa ya? Lupa... ^^a #PLAK
Saya usahakan chapter depan Len heartless! XD

Len jadi kayak titan ya, badannya bisa ada asapnya, ekekeke

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named Stida Otoejinsei :

Hahaha *ikut ketawa datar *Loh?

Kalo bingung ngomong sama author satu ini, pake konyaku penerjemah aja! XD #PLAK

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named billa neko :

Endingnya kenapa? Gaje ya? :(
Memang chapter yang berjudul Zoetrope itu, ngambil tema Time Loop dari Amnesia sama KagePro, jadi wajar kalo agak mirip..
Makasih FavFoll nya!
I-iya a-aku lanjutin, ja-jadi ka-kamu jangan gi-gi-gi-gigit aku ya? *Inget Mao dari GJ-bu yang kalo kesel kerjaannya gigit

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

Chapter ini sengaja saya buat banyak dialog dari pada prolognya, soalnya gak seru kalo adegan pertarungan banyakan ngomong sendiri XD

Maafkan saya kalau ada cara membalas yang kurang berkenan di hati para reviewer.. saya mohon maaf.
Dan akhir kata, pembaca yang baik selalu meninggalkan pesan dan kesan ^^ jangan terlalu pedas ya! Karena review kalian adalah penyemangatku untuk menulis! Jaa~~ Matta ne~~ !

Best regards,
Aprian