Title : Greyish

Chap : 11

Genre : Yaoi, Romance, Drama, Hurt, Angst

Rate : M

Length : ±2700 words

.

.

Iya tahu, aku salah. Getok aja pake centong. Udah sekitar 6 bulan, ff ini dianggurin *malumaluin* bukan gak diusahakan, tapi hati & otak mentok. Tulis-hapus-tulis-hapus terjadi gak Cuma sekali *gakbecusbanget*

Okeh, semoga memuaskan. Dianjurkan jangan baca ini di tempat umum lah, berabe kalo ujug-ujug nangis ato geregetan pengin getok aku.

.

Start

휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘

.

.

Siwon keluar dari kamar mandi, ruanganya sudah rapi, terang karena matahari masuk dari jendela. Ia menatap Sungmin yang terduduk di bawah ranjang, dengan amplop coklat berlogo rumah sakit di tangan. Amplop berisi hasil pemeriksaan.

"Apa maksudnya ini, Siwon ah?" Sungmin masih terduduk, sama sekali tidak memandang Siwon. Tidak sanggup lebih tepatnya.

Siwon diam.

Sungmin mendongak, menatap Siwon nanar "Kau? Berniat mendonorkan hati untuk Kibum?"

Siwon masih diam.

Sungmin bangkit, menarik baju Siwon "Jawab aku Siwon ah!" matanya mulai perih menahan air mata.

Siwon tertunduk "Maaf" lirih.

"Maaf? Hah?" Sungmin ingin tertawa, tapi air mata sudah lebih dulu menggenang. Hatinya terlalu sakit. Maaf?

Bukannya jawaban, ia hanya mendengar permintaan maaf? Maaf untuk apa? Karena Siwon berniat memberikan hati untuk kekasih orang lain? Atau karena kenyataan bahwa selama ini bermain dengan perasaan Sungmin? Atau hanya karena tidak sanggup memberi jawaban?

Pandangan mata Siwon beralih ke jendela, menghindari tatapan mata Sungmin hingga luka pada pelipis terlihat. Luka hasil pertemuannya dengan Yoochun kemarin.

Terenyuh, hati Sungmin sakit bertambah sakit melihat luka itu tapi...

"Siwon ah, pernahkah kau mencintai_ ah bukan" Sungmin menggeleng, tertawa miris "setidaknya menyayangiku? Adakah sedikit perasaan itu?"

Siwon kembali diam.

Sungmin benar-benar tidak tahan, melemparkan amplop tadi, kedua tangannya mencengkeram kaos Siwon "JAWAB AKU CHOI SIWON!" air matanya meluncur bebas, tidak lagi sanggup mengangkat kepala, ia membenamkan wajah di dada bidang Siwon yang perlahan basah karena air matanya.

Tangan Siwon tergerak, menggenggam kedua tangan Sungmin "Maaf Sungmin ah" perlahan melepaskan cengkeramannya.

Jelas sudah. Terjawab semuanya.

Sungmin tersenyum miris, seluruh tubuhnya lemas, cengkeraman terlepas. Ia ambruk di kaki Siwon. Tidak ada lagi pemikiran bahwa Siwon mencintainya. Dirinya hanya alat, atau Siwon yang sedang berusaha mengorbankan diri untuk orang lain. Entah apa yang lebih menyedihkan.

Siwon ikut duduk di hadapan Sungmin, mencoba menghapus air mata di pipi penuh itu namun ditepis. Sungmin menghapus kasar sendiri air matanya, lalu menatap Siwon dingin.

"Baiklah jika begitu, kita lakukan seperti maumu" ucap Sungmin lalu bangkit "kita menikah, segera. Tidak peduli apapun perasaanmu padaku"

.

휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘

.

.

Jari Kibum memutar 3 biji kopi di telapak tangannya, kemudian mengendus aromanya. Entah apa yang biasanya orang lain lakukan dengan biji kopi, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan. Kamar rawat ini terlalu sepi sebenarnya, walau suara Taka menyanyikan lagu Decision terdengar dari ponselnya, tapi masih terasa begitu sepi.

TOK TOK

Kibum menoleh pintu, bibirnya langsung tersenyum lebar melihat Eunhyuk datang. Tidak sendirian, tapi dengan Donghae dan Kyuhyun.

"Long time no see Kibum ah" Eunhyuk menaruh bawaan di atas meja lalu menghambur ke pelukan Kibum, diikuti Donghae dan Kyuhyun.

"Terima kasih sudah mau datang ke sini" Kibum menatap mereka satu persatu. Jika dihitung, memang sudah lumayan lama tidak bertemu "eh, tahu dari mana aku di sini?"

"Dari Choi Siwon" jawab Kyuhyun mengambil sebuah jeruk lalu mengupasnya "ternyata kalian bertetangga? Buka mulutmu"

Kibum menurut, ia membuka mulut menerima potongan jeruk.

"Kau pindah rumah sakit?" tanya Donghae

Kibum mengangguk "Rekomendasi. Di sini kan rumah sakit universitas. Ada kemungkinan aku bisa didonor" membuka mulut, menerima potongan jeruk lagi "jadi... ada kabar apa?"

"Aku akan melanjutkan kuliah ke Jerman" Kyuhyun tersenyum.

Kibum tercengang.

Donghae mengangkat genggaman tanganya dan Eunhyuk "Dan kami akan bertunangan"

"Selamat! Selamat untuk kalian bertiga!" Kibum berteriak, menghentakan kaki di atas bangsal membuat seprai putihnya berantakan. Terlalu senang. Ia membuka lengan lebar-lebar, berharap dipeluk.

Tawaran pelukan bersambut. Mereka bertiga memeluk Kibum.

"Terima ka_" baru saja berucap, Kyuhyun melihat noda di atas seprai Kibum. Ia melepas pelukan lalu menghela napas "kau sengaja menyembunyikan ini?"

Kibum mengikuti arah mata Kyuhyun, nyengir lebar "Bukan disembunyikan, tapi memang tidak sengaja tertutup" bohong, jelas itu.

"Kibum ah..." ucap Eunhyuk melas.

"I am okay. Really. Totally" senyum lebar lagi "aaah. Aku ikut bahagia dengar kabar dari kalian ini" ia merentangkan tangan lagi, minta dipeluk.

Kibum bahagia untuk apa yang dialami orang lain. entah kapan bahagia untuknya datang.

.

휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘

.

.

Dasi ditarik paksa, jas dilempar begitu saja, Siwon menghempaskan diri di atas lantai. Ia lelah mental dan fisik, padahal yang baru saja dilakukan hanya mengikuti acara makan malam...

...bersama keluarga Sungmin, membahas pernikahan mereka.

Bayangan Sungmin muncul tetap di depan mata. Siwon nelangsa.

Ssetelah pertengkaran kemarin, Siwon pikir Sungmin akan bersikap dingin padanya, naun ia salah. Sungmin tidak berubah, masih bersikap manis seperti biasanya, sangat baik bahkan tersenyum sepanjang acara. Sungguh ingin rasanya Siwon berlutut, berterima kasih sekaligus minta maaf padanya tidak akan cukup.

Siwon menatap bulan berawan dari jendela kamarnya yang kumuh. Merogoh saku, mengambil ponsel yang sudah beberapa hari ini tidak difungsikan. Scroll, ia menemukan nama Kibum.

Rindu? Adakah yang melebihi esensi kata itu? Yang dirasakan lebih menyiksa dari rindu. Seperti cutter yang menyayat jantungnya kecil-kecil setiap ingat bagaimana senyum berubah menjadi batuk perih, kemudian bibir itu berlumuran darah.

Siwon tersenyum miris. Ia menekan nomor Kibum.

Rindu? Ingin rasanya mencoret kata itu, mengganti dengan 'siksaan lahir dan batin namun tidak bisa teriak'

.

.

Layar ponsel Kibum menunjukkan pukul 22.15. Yoochun sudah pulang sejak sejam lalu, Kibum yang memaksanya, tahu mata Yoochun terlihat lelah menjaganya beberapa malam terakhir.

Kamar rawat begitu lengang saat malam, hanya terdengar suara tetesan infus dan beberapa kali suara derap langkah perawat kemudian diikuti suara batuk parah kamar sebelah. Jauh lebih menyenangkan tadi siang, saat Kyuhyun, Eunhyuk dan Donghae datang. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi, dari Siwon, mereka tahu bahwa Kibum sakit.

Iseng membuka ponsel, Kibum menemukan pesan-pesan lawas dari Siwon. Ia menerawang, menghitung, sudah berapa hari ia tidak bertemu dengannya?

Ponsel di tangan Kibum bergetar. 'Siwon calling' terpampang.

"Siwon?" otomatis, Kibum tersenyum lebar saat mengangkatnya.

"Hei, apa kabar?" suara serak Siwon menyapa.

"Baik, walau kesepian" Kibum menarik napas "kau memberi tahu yang lain bahwa aku masuk rumah sakit?"

"Heum. Mereka terus mendesakku. Salah ya?"

"Tidak" tangan Kibum memainkan selimut, hatinya bergetar tidak wajar "aku senang tadi mereka menemaniku"

"Kibum ah..."

"Heum?"

"Bertahan sedikit lagi ya"

Kibum terkekeh "Apa kau bahagia, jika aku bisa bertahan?"

"Iya. Itu yang membuatku bahagia"

"Baiklah, aku akan berjuang untuk bertahan"

Hening.

Ada yang ingin Siwon ucapkan, tapi hanya mengambang di awang.

"Siwon ah. Kau ngantuk?"

"Tidak"

"Baguslah. Temani ngobrol sampai aku tidur ya"

"Jadi, maksudmu aku harus menunggumu tiba-tiba terlelap tidak bicara apapun? Aih, payah sekali"

Kibum tertawa "Iya. Mau?"

Jangankan menunggumu tertidur, menukar nasib denganmu pun aku mau.

.

휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘

.

Ini pertama kalinya Youngwoon datang ke daerah ini. Daerah nyaris kumuh di pinggiran Seoul dengan bangunan di bertingkat sederhana. Jauh berbeda dari lingkungan tempat tinggalnya. Entah apa yang ada di pikiran anak semata wayangnya, tidak mau kembali ke sana.

"Di sini alamatnya" Youngwoon melihat ke jendela mobil, hanya sebuah rumah bertingkat kecil dengan tangga di sampingnya yang disebut Sungmin sebagai rumah Siwon. Ia keluar dari mobil, ragu menaiki tangga yang nyaris rapuh.

Dari jendela rumah, terlihat suasana di dalam rumah yang remang. Hanya lampu redup yang dinyalakan. Memutar kenop pintu, ternyata tidak dikunci, terlihat keadaan di dalam rumah ternyata lebih kelam. Masuk, ia melihat sesosok tubuh masih dengan kemeja putih, terlelap di atas karpet tipis. Siwon.

"Siwon ah" ditepuknya pipi berlesung itu "Choi Siwon, bangun"

Siwon bergerak, membuka mata melihat ayahnya duduk di sampingnya "Appa" ucapnya sambil berusaha duduk. Punggungnya pegal, efek tidur di atas lantai beralaskan karpet tipis.

"Agenda kita padat hari ini"

Siwon tersenyum miris. Ia ingat percakapanya dengan Kibum baru selesai subuh tadi, kini harus ditampar kenyataan bahwa dalam 2 hari, dirinya akan berstatus suami orang lain.

"Aku siap-siap dulu" terseok, Siwon melangkah ke kamar mandi.

Youngwoon bangkit. Bukan mengikuti langkah anaknya, ia menuju pintu kamar yang terbuka. Keadaaan kamar itu tidak berbeda dengan ruang depan, kelam berantakan. Baru akan keluar meninggalkan kamar, matanya terpaku pada tempat sampah di pojok ruangan. Kertas coklat menyembul dari sana.

"Hanyang Hospital?"

Youngwoon buru-buru menghubungi Hankyung.

.

휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘

.

Di sebuah gereja kecil di pinggiran Seoul...

Siwon duduk di barisan depan bangku, menatap altar di depannya membayangkan apa yang akan terjadi dalam 2 hari lagi. Hari pernikahannya yang orang bilang begitu terburu-buru persiapanya namun ia tidak peduli. Lebih tepatnya Sungmin tidak peduli.

"Ini tempat ayah dan ibuku menikah" Sungmin duduk di samping Siwon. Dibandingkan saat datang ke rumah Siwon, ia sangat ceria seperti biasanya "berhubung tempatnya kecil, hanya sedikit keluarga dan teman dekat yang kukabari. Sisanya, bisa datang di acara perjamuan"

"Sungmin ah, kau... aku akan berusaha membayarmu kembali"

Sungmin tersenyum "Bayar dengan cinta bisa?"

Siwon tercengang. Sungmin terkekeh lalu memeluknya.

"Bagiku uang tidak masalah, tapi setidaknya sekarang kau tahu seberapa aku sayang padamu"

Siwon membalas pelukan Sungmin "Seandainya, perasaan juga bisa dipermainkan..."

Sungmin melepas pelukan "Aku... ikhlas dipermainkan. Mungkin suatu saat permainanmu bisa menjadi terlalu serius, berubah nyata" ia tersenyum lebar "Pelan-pelan saja"

Youngwoon yang sedang mengobrol dengan Pendeta, melihat kejadian itu. Sungmin terlalu baik untuk terus dipermainkan seperti ini.

.

휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘

.

"Kecelakaan. Keluarganya habis dihantam truk. Hanya ia yang selamat dengan kerusakan hati"

Youngwoon terus terngiang ucapan Hankyung di telepon pagi tadi "Siwon ah" panggilnya pada Siwon yang sedang menyetir mobil.

"Hm?"

"Kau mencintai Sungmin?"

Siwon tidak menjawab.

"Kau tidak bisa memaksakan diri untuk mencintai_"

"Aku mencintainya"

Bohong. Sudah bertahun berpisah, Youngwoon masih bisa lancar membaca otak anaknya. Setelah diingat, tidak pernah Siwon berbicara irama cinta, tidak pernah Siwon menatap cinta, tidak pernah menghembuskan cinta pada Sungmin. Berbeda dengan semua yang dilakukan pada Kibum.

Iya, Youngwoon sudah curiga saat pertama kali melihat Kibum di pesta waktu itu. Semua yang Siwon lakukan, terlalu hangat bagi Siwon yang sedingin antartika. Pertunangan ini? terlalu pasrah bagi Siwon yang sudah membantahnya bertahun. Belum lagi pernikahan ini? terlalu terburu-buru tidak ada reaksi bahagia apapun yang Siwon ungkapkan.

"Siwon ah, jika kau mencintai orang lain, jangan biarkan dirimu tersiksa"

Tatapan Siwon mengeras. Bayangan Kibum terus melayang di hadapannya "Justru lebih menyiksa jika aku tidak berusaha"

Hening.

Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya memberi efek suara. Bersamaan itu, yang semakin ramai.

"Ayah macam apa aku..." lirih Youngwoon memandang jendela. Teringat bagaimana ia menghancurkan hidup anaknya dengan menyembunyikan keadaan ibunya. Kali ini ia tidak sanggup membantu sang anak menggapai cintanya.

Wiper bergerak menyapu kaca mobil Siwon. Jalanan Seoul rata dengan air, nyaris licin bagi pengendara yang melintas. Walau lengang, butuh ekstra perhatian ekstra untuk melewatinya.

Siwon baru saja akan menginjak rem di garis zebra cross, ketika sebuah truk gandeng melaju cepat tak terkendali. Pengemudi truk menginjak rem panik, jalan terlalu licin, truknya berputar menghantam mobil Siwon.

Tidak ada yang bisa menghindari kenyataan.

.

Terngiang percakapan dengan Kibum tadi malam di telpon

.

~"Kau tidak pernah cerita bagaimana keluargamu meninggal"

~"Kecelakaan, rem mobil blong hingga menghantam truk"

.

.

휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘

.

.

"Buka mulutmu"

Yoochun menggeleng, menghindar dari serangan sendok penuh nasi dengan potongan sayur di atasnya.

"Aaaak" ucap Kibum, menyuruh Yoochun membuka mulut.

"Kibum ah..." Yoochun masih tidak mengerti. Ia sehat, tidak seharusnya disuapi oleh orang sakit. Dan... ada apa dengan kekasihnya ini? Begitu ceria.

Kibum merengut "Kalau kau tidak mau makan, aku juga tidak akan makan" ancaman dilontarkan dari bibir pucat milik Kibum.

Yoochun menghela napas, pasrah kemudian membuka mulut, menerima suapan.

"Aigoo, anak baik"

Yoochun pasrah saja dielus kepalanya "Kau sudah baikan?"

"Aku kan selalu baik"

Walau matanya menguning, tubuhnya semakin kurus dan pembuluh darah terus mencuat dari kulitnya, jawaban akan tetap sama.

"Kibum ah" Yoochun menarik napas dalam saat Kibum menatapnya "Siwon akan menikah"

"Aku tahu" ucap Kibum menyuap potongan terakhir kentang ke mulutnya sendiri.

"Tahu dari mana?"

"Dari Siwon. Dia cerita padaku"

"Kau tidak apa-apa?"

"Aku sedang bingung bagaimana cara kabur lusa nanti. Kau akan membantuku kan?"

Yoochun bingung. Bagaimana menanggapi pertanyaan Kibum di saat ia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Selain itu, ia takut Kibum akan drop lagi.

"Aku tidak apa-apa" tegas Kibum menaruh piring kosongnya di meja sebelah brankar.

TOK TOK

Belum sempat menanggapi ucapan Kibum, pintu kamar diketuk. Heechul masuk dengan kantong kertas di tangan.

"Kibum ah!" Heechul langsung menghambur ke pelukan Kibum tanpa menaruh bawaanya.

"Aku baru makan Hyung, sesak rasanya" Kibum menyingkirkan Heechul darinya.

Heechul merengut "Iya, iya, tahu. Yang sedang berduaan tidak mau diganggu" pandangan beralih ke kantong infus yang menggantung "sudah hampir habis"

Kibum turun dari brankar sambil tersenyum.

"Mau ke mana?" tanya Yoochun.

"Mengganti infus" jawab Kibum menarik tiang bersamanya.

Heechul menatapnya heran "Kau kan bisa memanggil suster ke sini"

"Tapi aku ingin jalan-jalan"

"Biar kuantar" Yoochun bangkit dari kursi, berjalan di samping Kibum.

"Dasar" cibir Heechul.

Kibum menjulurkan lidah, meledek Heechul sebelum benar-benar keluar kamar.

Heechul menata bawaanya di atas meja. Bunga dan buah apel. Baru saja akan membereskan selimut, ponsel di saku coat nya bergetar. Hankyung memanggil.

"Ya Honey?"

"Heechul ah, Siwon dan ayahnya kecelakaan"

Heechul hanya bisa diam tercengang.

"Heechul ah" panggil Hankyung, meminta reaksi sekaligus takut istrinya terlalu shock.

"Jangan bercanda" suara Heechul bergetar.

"Aku tidak bercanda. Mereka berdua kritis, sedang dibawa ke rumah sakitku"

Terdengar suara tubuh Heechul terhempas di atas brankar. Lututnya terlalu lemah untuk menopang tubuhnya yang seolah bertambah 3 kali lipat.

"Jangan beritahu Kibum, kita tidak tahu apa yang akan terjadi"

Heechul mengangguk dengan air mata berjatuhan.

.

.

Menunggu suster mengambil kantong infus baru, Kibum mendongak menonton tv yang sedang menayangkan acara wisata kuliner.

"Sudah lama aku tidak makan begitu" keluh Kibum.

"Cepatlah sembuh, aku akan membelikannya untukmu" Yoochun menggenggam tangan Kibum.

"Nanti, saat Siwon menikah, aku akan makan banyak di perjamuannya" Kibum tersenyum lebar...

... tapi hambar.

Yoochun tidak lagi bisa dibodohi dengan wajah ceria itu.

"Maaf membuatmu menunggu Kibum ssi" seorang suster datang dengan sekantong infus di tangan "suster lain sedang kontrolling"

"Tidak apa-apa" Kibum kembali menatap layar tv, yang sudah menayangkan iklan.

BREAKING NEWS

Sebuah kecelakaan terjadi di daerah persimpangan arah Ilsan. Sebuah mobil ringsek dihantam truk. Tiga orang dikabarkan kritis, yaitu supir truk, dan pengendara mobil bernama Choi Youngwoon dan Choi Siwon.

Mata Kibum terpaku pada layar. Tidak ingin percaya pada pendengarannya. Di dunia ini tidak hanya 1 orang yang bernama Choi Siwon, pasti ada orang lain yang sekarang jadi berita, itu yang ia jadikan mantra, diputarkan di otaknya.

"Kibum ah..."

Namun, semua itu sirna ketika layar tv menampilkan sosok Siwon digotong masuk ke ambulance dengan keadaan berlumuran darah.

"Choi Siwon..."

Napas Kibum sesak, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Seisi ruangan panik begitu tanganya berlumuran darah yang ia batukkan.

"Kibum ah"

Batuk Kibum semakin nyaring. Napasnya putus-putus. Darah keluar makin banyak.

"KIM KIBUM" Yoochun berteriak saat Kibum ambruk di tangannya.

.

.

Tbc

.

Semoga gak ada lagi yang baper sama Sungmin ya. Duh, sudahlah.

Ff ini akan berakhir mungkin chap depan ato 2 chap lagi. Belum tahu. Btw, review adalah bahan bakar nulis ff ini loh.