~The Story of Music~
Disclaimer: Vocaloid is Crypton's. Story isn't mine too at all.
Summary: 'Nada-nada yang dilantunkan dalam sebuah lagu memiliki arti banyak cerita. / bad at summary, open request based on song.'
Details and warning: gaje, AU, abal, OOC, aneh, Typo(s). All the stories are music ff. Request open. I'll here the request if it's song request :3 it's all based by song. So, request the song if you want! All genre! Romance, friendship, it's all accepted! J-Pop or western song. Country song or everything! And K-Pop is allowed to... I think... ah, and if it's a romance song, please request the pairing to, or I'll make my own pairing! Sometimes drabble...
Author's note: ah, another request by Karin Miyuki. Yume no Tsuzuki e by Surface. Kyaa~ thanks for request again, Karin-san! I love request! Ah, the apir also requested by Karin-san. GenderBend!Kagaminecest aka Rinto x Lenka. Ahaa~ astaga sampe bosen gue dapetnya request pairing Kagaminecest mulu -_- oh, bukannya lice gak suka Kagaminecest, tapi silahkan lihat fanfic ini, sebagian besar pair Kagaminecest. Lice kepengen sesekali bikin Gakupo x Luka, ato pairing aneh(?) lainnya. Kagaminecest terus deh bikinnya. Sampe bosen ngetik nama Rin/Rinto dan Len/Lenka #kicked tapi tidak apa... biar saja, yang penting ada request. Oh, hope you like, ya! Gomen ne kalo ancur. Memang selalu ancur sih ._. #kicked lice ngerjainnya sambil kebingungan karena gak ngerti maksud lagunya maupun arti lyric lagunya tuh #pluk wait, emang lagu ini lagu yang bertema romance, ya? -_- oke, karena request dari Karin-san pake pairing, jadi anggap saja ini romance ._. #kemudian ditendang# ngambang gaje lho!
Now's Lenka's POV.
Chapter XI: To the Continuation of the Dream
Based Yume no Tsuzuki e by Surface.
Kubuka mataku. Dan yang kulihat adalah sebuah cahaya menyilaukan yang tumpah dari awan yang keruh, seolah muncul dari balik kelemahan jiwaku. Dan aku langsung menjangkaunya. Awan yang keruh... anggap saja itu jiwaku, ya?
Mengingat semua itu cukup membuatku sedih.
.
"Hei, Lenka!" suara merdu itu mengalun di telingaku beberapa minggu yang lalu. Aku menolehkan kepala ke belakang. Tuh, kan, dugaanku tepat. Rinto. "Ada apa, Rinto?" tanyaku dengan agak polos. Rinto Kagamine, cowok pirang yang saat ini sangat kusukai.
Rinto menggenggam tanganku. Wajahku memerah. "A-apa?" tanyaku gugup.
"Dengar, ya, Lenka!" katanya. "Aku akhirnya jadian sama Miku!"
Deg! Oke, jantungku sudah siap untuk berhenti. Aku tau Rinto hanya menganggapku sebagai sahabat biasa, dan aku tau bahwa Rinto menyukai Miku, tapi... aku masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku tidak di takdirkan untuk mendapatkannya. Oke, aku mengerti hal itu. Aku mengerti. Dan tidak bisa menerimanya. Itu saja.
"... Ah... selamat, ya?" kataku suram. Kuusahakan mengembangkan senyum. Yah, gagal. Yang ada hanya senyum pahit yang jelas dipaksakan. Oke, aku tidak bisa senang jika seperti ini.
Dan ini sudah kesekian kalinya... aku mengalah hanya karena perasaan envy. Hanya karena perasaan iri. Yah, memang aneh kalau menyerah dan mengalah hanya karena perasaan iri. Ah, lebih tepatnya bila kukatakan aku berpura-pura menyerah.
Hilang dalam kebingungan. Emosiku lagi-lagi berayun tanpa tujuan. Benar-benar...
.
Aku masih saja menatap ke langit. Ke awan keruh yang mulai menumpah air hujan. Mengingat perkataanmu sungguh menyakitkan. Tak ada pilihan bagiku. Saat ini kita hanya bisa berjalan terus maju. Terus, dan terus. Yah, sekalipun akhirnya kita harus mengembara dalam keraguan dan kesengsaraan, sih. Tapi aku ingin melihat masa depan... di mana hanya ada kita.
Terus saja aku berjalan. Dan akhirnya aku menemukan sosoknya. Sosok Rinto yang hampir selama ini kuhindari. Sejak dia mengatakan hal yang membuatku ingin menangis.
"Rin... to...?" kataku pelan. Tidak bermaksud memanggil, tapi ternyata Rinto menyadari keberadaanku. Wajahnya tampak suram dan sedih.
"Ah, Lenka." Katanya sambil berusaha tersenyum. Senyum terpahit yang pernah kulihat dari wajahnya.
"Ada apa... Rinto?" tanyaku. Ragu-ragu, tentu.
Senyum pahitnya memudar. Bagiku lebih baik melihat wajah murungnya dibanding harus melihat senyum pahitnya. Aku tak suka senyum pahit dan palsu.
"Aku... telah salah." Katanya.
"Eh?"
"Aku... baru putus dengannya. Aku salah. Dia tidak benar-benar menyukaiku. Bodohnya aku." Katanya. Sepertinya menyesal.
Aku? Reaksiku? Aku tidak tau. Sebenarnya ingin tersenyum bahagiam tapi kasihan... sedih juga kalau orang yang kusayangi di khianati, kan?
"Tenang saja, Rinto." Kataku tenang. Kuulurkan tanganku. "Buanglah semua penyesalan itu. Buang semua ketakutan. Tutup semua itu dengan genggaman tanganmu, dan hancurkan semuanya sampai berkeping-keping." Lanjutku. Dan Rinto menerima uluran tanganku. Aku tersenyum.
Sepertinya masih ada kesempatan, ya?
.
Aku mengetahui dunia dengan hati, tapi tampaknya tak ada yang bisa kulihat, ya?
Dan aku tidak pernah merasa bahwa jalan yang kupilih itu benar.
.
Setelah menerima uluran tanganku, Rinto tersenyum. "Lenka... kamu periang sekali, ya." Katanya. "Terima kasih."
Aku mengangguk. "Ya..." oh, bukan begitu, Rinto. Sebenarnya, senyumku ini hanya senyum palsu. Aku juga selalu bersedih. Aku bukan orang yang tegar, Rinto, tapi aku orang yang pandai menutupi perasaan. Tapi, aku tetap percaya, bahwa suatu saat nanti sebuah pintu akan terbuka untukku. Sebuah pintu yang berisi keindahan. Pasti.
.
Pokoknya, jangan pernah hanya berdiri diam jika kau tersesat. Berjalanlah, cukup dengan itu, kau pasti akan bebas dan menemukan jalan kembali. Dan jangan berusaha melarikan diri, jika kau merasa tersesat, coba cari jalan dengan tenang. Soalnya, kalau berusaha melarikan diri, kau malah akan tambah tersesat. Dan suatu saat nanti, kau akan menemui ujung dari mimpi tanpa akhir.
.
Rinto diam saja. Aku jadi bingung. Apa dia sedang mundur dalam ketakutan, atau terkunci kebanggaan yang sia-sia? Ah, terserah. Yang bisa kulakukan adalah membuat semua itu pergi darimu. Itu saja.
Pokoknya, ayo terus bergerak mencari ujung dari mimpi tanpa akhir ini!
-Fin-
