Gloomy

Casts :

- Johnny

- Jaehyun

- Jeno

- Taeyong

- Hansol

- Doyoung

- Yuta

- Ten

- Taeil

- Renjun


Part 11

Jeno duduk sendirian didalam ruang bermainnya, tangannya lihai memainkan stick game sambil terfokus memandang layar tv lcd yang lumayan besar dihadapannya. Mencoba segala cara agar karakter game yang sedang dimainkannya menang melawan musuh, sambil asik mengemut lolipop di mulutnya. Sudah terhitung hampir dua jam Ia berada diruangan bermain sendirian, asik dengan X-Box nya. Sebenarnya ada banyak permainan yang Jeno bisa mainkan namun hanya X-box yang aman baginya. Butuh dua orang atau lebih pemain untuk bermain billiard dan Jeno juga masih belum boleh banyak bergerak. Sudah terhitung dua hari Ia pulang dari rumah sakit, dokter menyuruhnya untuk beristirahat minimal satu minggu, Jeno masih tidak di ijinkan untuk sekolah atau keluar rumah, jika pun Ia ingin keluar rumah Ia harus ditemani oleh seseorang, Ia sebenarnya sudah lumayan bosan ditinggal sendirian dirumah seperti ini, tadi beberapa maid dirumahnya datang untuk membersihkan rumah lalu pulang kembali, Johnny Appa nya sedang kerja, dan Jaehyun Hyung nya sedang kuliah, hanya ada beberapa bodyguard di luar rumahnya dan Jeno tidak ingin bodyguard itu masuk ke rumah karena dia tidak nyaman dengan keberadaan orang asing. Akhir-akhir ini Appa nya sedikit protektif padanya, tak biasanya Appa nya menyuruh beberapa bodyguard untuk menjaganya, saat Jeno bertanya Appa nya itu hanya berkata 'kau sendirian dirumah sebesar ini dan kau sedang sakit, aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu, aku dan Jaehyun tidak akan tenang jika meninggalkanmu sendirian jadi jangan menolak kedatangan bodyguard itu, kau mengerti?' Jeno hanya mengangguk saja meng iya kan pertanyaan yang lebih menjurus kepada perintah Appa nya itu.

Jeno meletakkan stcik X-Box nya dengan asal saat Ia berhasil melawan musuh. Ia sudah tidak ingin melanjutkan permainan lagi, Ia sudah sangat bosan. Jeno melirik ponselnya yang terletak disampingnya, benda itu akhir-akhir ini tidak berguna. Johnny mencabut fasilitas wifi di rumahnya, Jeno sedikit aneh dengan tindakkan Appa nya itu, setau Jeno Appa nya tak bisa hidup tanpa internet karena pekerjaannya, Hyung nya juga tidak menolak saat Appa nya mencabut fasilitas wifi dirumahnya. Lebih anehnya lagi Appa nya itu mencabut semua kabel tv di rumahnya, membuat Jeno tak bisa menonton layar persegi itu, sekalipun Ia ingin hanya dvd film yang mungkin bisa di tontonnya tidak dengan siaran nasional atau internasional. Sekarang Jeno seperti terisolasi, dia seperti berada di pulau terpencil tanpa internet dan televisi, sumpah dia bisa mati bosan jika seperti ini terus. Sejujurnya Jeno sedikit aneh dengan tingkah Appa dan Hyung nya akhir-akhir ini, apalagi saat Jeno menanyakan soal Hansol yang sampai sekarang Jeno belum juga melihatnya, dua orang itu seperti menghindari Jeno saat Jeno bertanya tentang Hansol Hyung nya. Jeno tau Hansol pasti sangat sibuk bahkan dibandingkan dengan Appa nya, tapi baru kali ini Hansol tidak pulang ke rumah selama beberapa hari, kemana Hansol Hyung nya? Sesibuk itukah dia sampai menelpon saja tidak bisa. Jeno sedikit kecewa juga ketika Hansol Hyung tak menanyai kabarnya bahkan sampai Ia keluar dari rumah sakit, apakah Hansol Hyung melupakannya?

Jeno meraih ponsel yang ada disampingnya, mendial nomer Hansol, masih sama seperti kemarin-kemarin suara wanita yang selalu menyambutnya mengatakan bahwa ponsel Hansol Hyung tidak aktif, apa yang terjadi padanya? Kemana dia? Itu pertanyaan yang selalu Jeno tanyakan kepada Johnny, Jaehyun dan dirinya sendiri tetapi sampai saat ini pertanyaan itu belum terjawab. Sejujurnya Jeno merindukan Hansol, suasana dirumahnya memang sepi dan tambah sepi dengan ketidakberadaan Hansol, Jeno merasa ada yang kurang, setiap makan malam kursi yang biasa diduduki Hansol Hyung terlihat kosong, tak ada yang membelanya ketika Appa nya dan Hyung nya mulai menggodanya, dan Jaehyun menjadi penggantinya saat membangunkannya dipagi hari, biasanya Hansol Hyung yang akan membangunkannya dengan suara lembutnya itu dengan sekali ucapan 'Hey Jeno ayo bangun' Jeno akan langsung membuka matanya dan tersenyum saat melihat Hansol Hyung. Sungguh Jeno merindukan Hyung nya yang satu itu Hyung yang mungkin lebih pantas dipanggilnya sebagai samchon atau ahjussi itu, dan sekarang Hyung nya itu menghilang entah kemana.

"Jeno aku pulang" itu suara Jaehyun Hyung nya, sayup-sayup Jeno dapat mendengar suara langkah kaki Jaehyun.

"hey, disini kau rupanya" Jeno melihat Jaehyun yang masuk kedalam ruang bermain, meletakan ranselnya di sofa yang sedang Ia duduki, mengeluarkan ponsel yang ada di saku belakang celana jeansnya lalu meletakannya dengan asal di atas meja tepat disamping stick X-Box yang tadi Jeno gunakan untuk bermain.

"kau terlihat sangat lelah Hyung"

"ya, dan kau terlihat sangat bosan" Jaehyun tersenyum dan mengacak rambut hitam adiknya.

Jeno mengangguk, Hyung nya benar dia sudah hampir mati kebosanan disini.

"tunggu sebentar aku mau mandi, badan ku sudah lengket dan juga gerah, setelah mandi aku akan menemanimu, tunggu sebentar yah" Jaehyun bangkit dan mengambil ranselnya, berjalan kearah pintu ruang bermain mereka, keluar menuju kamarnya untuk membersihkan diri.

"ya Hyung, jangan lama-lama"

"oke"

Jeno kembali terdiam setelah kepergian Jaehyun, apa yang harus Ia lakukan untuk membunuh waktu sambil menunggu Jaehyun? Jeno melirik ponsel Hyung nya yang terletak di atas meja, satu pikiran nakal terbesit dibenaknya. Ia meraih ponsel tersebut dan menyentuh layarnya untuk membuka lockscreen.

"yes!" Jeno berteriak senang saat tau Jaehyun memiliki paket data untuk mengakses internet.

Johnny sempat melarang Jeno untuk menggunakan internet maka dari itu Johnny tidak membelikannya paket data untuk mengakses internet di handphone nya. Appa nya akhir-akhir ini memang sangat aneh, apa Ia sedang memberi hukuman pada Jeno sehingga dirinya tak boleh melakukan apapun dirumah ini? Tak boleh menonton tv, membuka laptop, ponselnya pun tak boleh mengaktifkan paket data. Jeno tau dirinya memang harus beristirahat tapi ini sudah keterlaluan menurutnya.

Jeno langsung membuka explore, membuka berita-berita yang sedang trending saat ini. Jangan salah, Jeno selalu mengikuti perkembangan yang sedang terjadi di sekitarnya baik di dunia nasional maupun internasional, Ia lebih senang membuka situs-situs yang berisikan banyak berita entah itu ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain-lain dibandingkan dengan membuka social media yang dianggapnya sangat membosankan, lebih baik menambah wawasannya kan daripada membuang waktu dengan social media yang tak berguna. Jeno menautkan kedua alisnya saat melihat nama Appa nya yang menjadi pencarian nomer satu di situs yang biasa Ia buka. Ini bukan yang pertama kali memang Appa nya itu menjadi trending topik dalam dunia bisnis, Jeno bahkan sudah tidak asing lagi melihat nama Appa nya di beberapa artikel atau majalah, dan sekarang apa yang sedang terjadi sehingga membuat Johnny Appa nya itu menjadi pencarian nomer satu di situs ini? Sepertinya Jeno melewatkan sesuatu selama Ia sakit dan dikurung dirumah seperti ini.

Jeno langsung mengklik layar dan memunculkan artikel yang membahas tentang Appa nya itu. Mata sipitnya membesar saat membaca judul artikel tersebut "apa-apaan ini?" gumamnya. 'pelaku dibalik terbunuhnya istri Johnny Seo terungkap' begitulah setidaknya judul artikel yang membuat Jeno sedikit terkejut itu. Jeno membaca artikel itu dengan seksama, meresapi setiap kalimat yang tertulis disana, seketika tangannya terasa kaku saat membaca salah satu nama sebagai tersangka, jarinya seakan tidak mampu lagi bergerak untuk menggeser layar.

"lelucon macam apa ini? Tidak mungkin, artikel ini sungguh keterlaluan" Jeno menggelengkan kepalanya mencoba menyangkal kebenaran dari artikel tersebut.

Tidak puas dengan satu artikel, Jeno membuka situs lain mencari nama Appa nya disana dan semua artikel tentang pembunuhan yang terjadi atas Eomma nya langsung bermunculan. Jeno membukanya satu persatu, membaca semua artikel dengan topik yang sama dari beberapa penulis yang berbeda dan semuanya mengatakan hal yang serupa, nama itu selalu muncul sebagai tersangka setiap Jeno membuka artikel-artikel tersebut.

"Jeno, apa yang kau lakukan dengan ponselku?" seketika suara Jaehyun menginterupsinya.

"Hyung ini apa?" Jeno dengan perlahan bangkit dari sofa karena lututnya yang lemas. Ia menunjukkan layar ponsel Jaehyun kepada pemiliknya itu yang menampilkan artikel yang sedang dibacanya.

Penglihatan Jaehyun itu tidak bagus, Jaehyun tak bisa membaca dengan jelas apa yang sedang ditunjukkan oleh Jeno.

"mengapa mereka mengatakan Hansol Hyung adalah tersangkanya Hyung?"

Jaehyun langsung melebarkan kedua matanya saat mendengar perkataan Jeno tadi. Sekarang Ia tau apa yang telah dibaca Jeno. Jaehyun mengutuk dirinya yang meletakkan ponselnya sembarangan, ini salahnya Jeno jadi mengeahui semuanya, padahal Appa nya berusaha semampu mungkin untuk mencegah Jeno mengetahui semuanya.

"kembalikan ponselku Jeno" Jaehyun menghampiri Jeno dan mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya kembali.

"tidak" Jeno mundur satu langkah menarik tangannya menjauh dari Jaehyun, menyembunyikan tangannya yang memegang ponsel dibalik punggungnya "katakan dulu padaku bahwa artikel itu tidak benar Hyung"

"Jeno..itu.."

"sekarang dimana Hansol Hyung? kumohon kali ini jawab pertanyaanku Hyung, dimana Hansol Hyung?"

.

.

.

Johnny melangkahkan kakinya lebar-lebar membuka pintu pagar rumahnya dengan kasar, dia setengah berlari melewati halaman rumahnya yang besar. Menatap beberapa bodyguard didepannya yang berjaga dipintu utama rumahnya dengan kesal.

"apa yang kalian lakukan disini? Kenapa kalian malah diam saja dan tidak masuk kedalam?" Johnny bertanya pada bodyguard yang ada didepannya dengan nada dinginya.

Johnny dengan terpaksa pulang dari kantornya dan menyerahkan semua pekerjaannya pada sekertaris barunya saat menerima telepon dari rumahnya yang ternyata adalah Jaehyun. Suara Jaehyun yang terdengar panik dan menyuruhnya untuk cepat pulang, bahkan Ia sempat mendengar sesuatu yang terlempar entah apa itu. Jika mendengar situasi di telepon tersebut yang sepertinya sangat kacau mengapa bodyguarnya ini malah berdiri didepan rumahnya dan tak melakukan apapun? jika kedua anaknya itu kenapa-kenapa bagaimana?

"maaf Tuan, kami tadi sudah masuk kedalam tapi tuan muda Jaehyun menyuruh kami untuk kembali keluar" salah serorang bodyguardnya menunduk kepada Johnny diikuti dengan beberapa orang dibelakangnya.

"apa yang terjadi didalam?"

"saya tidak tau Tuan, tapi sepertinya tuan muda Jeno terlihat sedang marah"

Johnny tidak bertanya lebih lanjut, Ia langsung melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam rumah, mencari kedua anaknya. Johnny langsung berlari kearah ruang bermain saat mendengar suara Jaehyun disana.

"Jeno, kumohon jangan seperti ini, dengarkan aku dulu"

Pemandangan pertama yang dilihat Johnny adalah Jaehyun yang terlihat sedang membujuk Jeno, keadaan disekitar mereka juga sangat berantakan, stick billiard yang bertebaran dimana-mana, uno stacko yang juga berserakan dilantai, keadaan sofa yang bantalnya sudah jauh dari tempat seharusnya berada dan masih banyak lagi, sekarang Johnny tau mengapa Ia mendengar suara lemparan saat di telepon tadi setelah melihat keadaan di ruangan ini.

"Jeno" Johnny memanggil Jeno yang berada di pojokan ruangan. Baik Jeno dan Jaehyun langsung menoleh kearahnya.

"Appa, akhirnya kau datang, aku tak tau harus berbuat apa lagi" Jaehyun langsung menghampiri Johnny yang berada tak jauh darinya.

"apa yang terjadi?"

"ini salah ku Appa, maafkan aku"

Terdengar nada menyesal dari suara Jaehyun, akhirnya Johnny beralih menatap Jeno yang saat ini menatap dirinya dengan tatapan marah. Ia melihat Jeno yang menggengam ponsel Jaehyun dengan erat ditangan kanannya, pantas saja tadi Jaehyun menghubunginya dengan telepon rumahnya ternyata ponselnya ada ditangan Jeno.

"Hey Jeno kau kenapa?" Johnny melangkah mendekati Jeno, dan melihat Jeno yang malah melangkah mundur membuat dirinya semakin terpojoki.

"Appa jangan mendekat, Appa juga selama ini membohongi ku sama seperti Jaehyun Hyung kan?"

Johnny menghentikan langkahnya, Ia melihat Jeno yang semakin mengepalkan tangannya, jika ponsel yang ada ditangan Jeno tidak di design dengan baik mungkin ponsel itu sudah hancur ditangan Jeno. Johnny menghembuskan napasnya dengan berat, menghadapi Jeno yang seperti ini harus tetap tenang. Jeno memang jarang sekali marah tidak seperti Jaehyun Hyung nya, namun jika sudah marah beginilah Jeno, harus ekstra sabar dan tenang untuk menghadapinya.

"maafkan Appa"

"kenapa Appa minta maaf? Bukan itu yang ingin kudengar" mata Jeno mulai berkaca-kaca "Jaehyun Hyung juga hanya berkata maaf padaku, aku tak ingin mendengarnya juga dari Appa, jika Appa juga seperti ini, berarti semua artikel yang kubaca tadi benar adanya"

"Jeno..."

"katakan padaku Hansol Hyung tidak melakukannya. Katakan padaku bahwa Hansol Hyung hanya sibuk sehingga sampai detik ini aku tidak melihatnya, katakan seperti itu lagi Appa, katakan seperti yang sebelumnya, bukan maaf yang ingin aku dengar" Jeno mulai menangis.

Johnny dan Jaehyun terdiam sejenak. Sejujurnya, mereka belum siap jika Jeno mengetahui segalanya, Johnny sudah berusaha semampu mungkin agar Jeno tak mengetahui segalanya dengan mencabut fasilitas wifi di rumahnya dan tak mengizinkan Jeno mengaktifkan paket datanya agar Jeno tak mengakses internet, mencabut semua kabel telivisi yang ada di rumahnya agar Jeno tak bisa menonton berita, memberitahu Mark, Jaemin, Haechan dan bahkan Renjun untuk tak mengatakan apapun pada Jeno. Johnny sudah melakukan semuanya tapi kesalahan kecil Jaehyun membuat usahanya itu sia-sia. Johnny sebenarnya sudah menyadari, cepat atau lambat Jeno pasti akan mengetahuinya juga, tapi tidak sekarang, Johnny belum siap untuk mengatakannya pada anak bungsunya itu, Johnny masih belum bisa menjelaskan segalanya.

Johnny mencoba mengambil langkahnya mendekati Jeno namun yang didapatnya adalah Jeno yang membanting ponsel Jaehyun yang ada ditangannya. Bantingan yang bukan main-main karena Johnny dapat melihat ponsel itu hancur seketika di hadapannya. Jaehyun yang merupakan pemilik ponsel tersebut hanya diam saja melihat benda persegi miliknya itu sekarang sudah hancur, Ia tak peduli dan tidak sedikitpun marah pada Jeno, Ia malah khawatir dengan adiknya yang sepertinya benar-benar marah besar. Johnny memandang kepingan ponsel Jaehyun yang hancur lalu Ia menatap Jeno yang balas menatapnya dengan marah, Jeno memang menangis tapi kilatan marah dari matanya tidak hilang, sepertinya air mata yang dikeluarkan Jeno itu adalah air mata kekecewaan.

"Jeno, kau ingin Appa untuk tidak berbohong bukan? Baiklah, Appa akan mengatakan yang sebenarnya, semua artikel itu adalah benar adanya. Itulah kebenarannya Jeno, Hansol Hyung..." Johnny sedikit menarik napas lalu menghembuskannya lagi sebelum melanjutkan perkataannya "Hansol Hyung lah yang melakukannya, dia pelakunya"

"tidak mungkin"

Akhirnya Johnny benar-benar mendekati Jeno, dan memeluk Jeno untuk menenangkan putranya ini, namun Ia malah mendapat penolakan dari Jeno yang malah berusaha mendorong tubuhnya.

"aahh.." Jeno meringis kesakitan dan memegang perutnya yang masih terdapat bekas luka tusukkan disana, sepertinya Jeno mendorong Appa nya terlalu kuat tadi sehingga membuat lukanya terasa sakit.

"Jeno, kau tidak apa?" Johnny menatap Jeno khawatir, Jeno belum sembuh total, jika tidak berhati-hati luka tusukkannya itu bisa terbuka kembali.

Jaehyun yang sedaritadi berada dibelakang Johnny juga seketika menghampiri Appa dan Adiknya itu "Jeno kau baik-baik saja?"

"Appa...hiks...Appa...Appa...hiks kenapa Hansol Hyung melakukannya? Kenapa Appa tidak menyangkalnya bahwa Hansol Hyung lah pelakunya? Kenapa Appa malah membenarkannya dan mengakuinya? Kenapa? Hiks..." tangisan Jeno semakin menjadi setelahnya.

Johnny yang melihat itu kembali memeluk Jeno dan kali ini Ia tidak mendapat penolakkan, Jeno menangis sejadinya di bahunya. Johnny dan Jaehyun tak berkata apapun, hanya tangisan Jeno yang terdengar, suara tangisan yang sama saat Jeno menghadiri acara pemakaman Eomma nya, benar-benar tangisan pilu yang sama. Johnny mengelus punggung Jeno dengan sayang, menenangkan putranya ini, Ia paham pasti Jeno sangatlah terkejut dan juga sedih. Tingkah lakunya saat ini tak jauh berbeda dengan Jaehyun dan dirinya saat pertama kali mengetahui bahwa Hansol lah salah satu pelakunya.

"Appa...hiks..itu tidak mungkin Hansol Hyung, pasti bukan Hansol Hyung" suara isakan dan gumaman Jeno yang terpendam karena dirinya yang menangis di bahu Appa nya itu masih bisa terdengar oleh Jaehyun dan Johnny.

Jaehyun dan Johnny hanya saling tatap, mereka berdua juga sama, berharap bahwa bukan Hansol lah pelakunya, tapi apa boleh buat, fakta berkata lain.

"tenanglah Jeno, jangan menangis" Johnny, sambil mengelus punggung Jeno dengan sayang.

Jeno bukannya menuruti apa kata Appa nya itu malah semakin menumpahkan air matanya. Jeno kecewa, kecewa dengan semua kenyataan Hansol yang menjadi salah satu penyebab kematian Eomma nya, dan dia juga kecewa telah mengetahui semua kenyataan itu dari sebuah artikel bukan dari mulut Appa atau Hyung nya, Jeno kecewa dengan kedua orang itu yang berusaha menutupi segalanya.

.

.

.

Jaehyun mengantar Jeno sampai kedepan halaman rumahnya, ada dua orang yang sudah berdiri di depan pintu pagar rumahnya menunggu Jeno.

"hai Jeno" Renjun, salah seorang yang berdiri di depan pagar rumah Jeno itu melambaikan tangannya saat melihat Jeno dan Jaehyun keluar dari pagar tersebut.

"hai"

"apa kau sudah sembuh? Kau terlihat baik-baik saja" Kali ini orang yang berada disamping Jeno mengeluarkan suaranya, orang yang sudah tidak asing lagi bagi Jaehyun dan Jeno, mereka pernah bertemu sekali, dikantor polisi. Seseorang yang bisa disebut sebagai detektif yang kala itu menanyai kesaksian mereka, yang baru-baru ini mereka ketahui adalah Hyung dari Renjun, Doyoung.

"Annyeonghaseyo" Jeno dan Jaehyun membungkukkan badan mereka menyapa Doyoung dengan sopan.

"aku sudah membaik, mungkin beberapa hari lagi aku sudah bisa masuk sekolah"

"Doyoung Hyung, aku mohon titip Jeno, maaf merepotkanmu dan Renjun"

"tidak apa"

Hari ini Jeno memaksa Appa nya untuk menemui Hansol yang ada ditahanan, walaupun sempat melarang akhirnya Johnny mengijinkan juga, dengan satu syarat dia harus ditemani. Jaehyun tak ingin menemani Jeno karena dirinya sendiri belum sanggup untuk bertemu dengan Hansol, sementara Appa nya itu sibuk bekerja. Disisi lain, Johnny juga tak ingin bertemu dengan Hansol untuk sementara setelah terakhir kali Johnny dan Hansol menyatakan perasaan mereka masing-masing dengan menyedihkannya, akan sangat aneh jika mereka berhadapan kembali terlebih lagi ada Jeno disitu. Akhirnya Jeno meminta Renjun untuk menemaninya, dibandingkan dengan Mark, Jaemin dan Haechan, Jeno lebih memilih Renjun. Saat mengetahui itu Johnny langsung menyetujui dan menghubungi Doyoung, setidaknya Johnny bisa tenang ada Doyoung yang akan menjaga Jeno. Doyoung juga tak keberatan dengan permintaan Johnny berhubung pekerjaannya sekarang tidak begitu banyak.

"Hyung, kau yakin tidak ingin ikut?" Jeno bertanya kepada Jaehyun, memastikan dirinya sekali lagi

"tidak Jeno mungkin lain kali"

"baiklah kalau memang Hyung tidak berubah pikiran, apa Hyung ingin menyampaikan pesan kepada Hansol Hyung?"

Jaehyun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, jika pun ada yang ingin disampaikan, Jaehyun ingin menyampaikannya secara langsung tidak melalui Jeno.

"baiklah, aku pergi dulu yah Hyung"

"hmm..hati-hati, Doyoung Hyung, Renjun sekali lagi titip Jeno yah, maaf merepotkan"

Doyoung mengangguk dan mengiring Jeno dan Renjun ke mobilnya, mengantar dua orang itu ketempat tujuan dimana Jeno akan bertemu dengan Hansol nanti.

.

.

.

"Hyung?" Jeno mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di kaca dihadapannya, membuat Hansol yang dari lima belas menit yang lalu hanya terdiam saat bertemu Jeno tersadar dari lamunannya.

Hansol dari tadi hanya menatap Jeno dalam diam, dengan pandangan kosong. Ia sedikit terkejut saat mengetahui seorang petugas mengatakan bahwa hari ini ada seseorang yang mengunjunginya dan itu adalah Jeno. Hansol sungguh-sungguh sangat terkejut saat melihat Jeno menunggunya bersama seseorang yang dikenalkan oleh Jeno sebagai temannya bernama Renjun. Hansol sempat memperthatikan Jeno, sedikit bernapas lega melihat anak itu baik-baik saja, bahkan Ia menyambutnya dengan senyum bulan sabitnya yang sangat Hansol rindukan. Sekarang Hansol bisa tidur dengan tenang, Jeno yang selama ini Ia khawatirkan sudah baik-baik saja dan bahkan bisa tersenyum seperti biasanya.

"kau melamun Hyung" Jeno tersenyum melihat Hansol "kau tidak merindukanku? Kau malah diam saja, aku yakin kau tidak mendengarkanku tadi"

"kau tadi bilang apa?" Hansol bertanya kepada Jeno, memintanya untuk mengulangi kata katanya yang sama sekali tidak Hansol dengar. Jujur Hansol sedikit tidak fokus

"ya tuhan Hansol Hyung, aku berbicara panjang lebar dari tadi kau tidak mendengarnya?"

Renjun tertawa kecil mendengar keluhan Jeno.

"aku bertanya bagaimana kabarmu? kau hanya diam saja tak menjawab. Aku tanya kau sudah makan atau belum? kau juga diam saja. Aku bertanya bagaimana suasana disana? kau juga tak bersuara. Sampai aku menceritakan bagaimana bosannya diriku berada di rumah sakit sampai dirumah pun aku seperti terisolasi kau juga tak merespon Hyung. Aku bukan radio yang hanya bisa di dengar kau harus meresponku juga" Jeno berbicara panjang lebar sedikit merengut karena dari tadi Hansol benar-benar tak mendengarnya.

Hansol tersenyum melihat Jeno yang seperti ini, Jeno yang merengut jika sedang kesal atau jika sedang dijaili oleh Appa dan Hyung nya itu sangat menggemaskan. Sementara Renjun hanya tersenyum tipis, jadi Jeno yang sangat pendiam dan banyak dikagumi oleh murid-murid satu sekolahnya itu punya sisi lain seperti ini? Renjun ingat, salah satu teman wanitanya Hina pernah berkata 'ya tuhan, Jeno tampan sekali, dia punya karisma yang kuat dan sangat misterius' well, jika Renjun mendengar Hina berkata seperti itu lagi mungkin Renjun akan tertawa.

"aku baik-baik saja, aku juga sudah makan, dan yaah suasana disana hmmm...bisa dikatakan luamayan" Hansol menjawab pertanyaan Jeno sekaligus.

"lumayan? Lumayan baik? Atau lumayan buruk?"

"jangan kau bandingkan dengan rumahmu, bahkan kamarku disana jauh lebih luas daripada tempat yang sekarang aku tempati"

Jeno tersenyum, ya dia hanya bisa tersenyum. Sebelum datang kesini Ia berjanji untuk tidak mengeluarkan ekspresi sedih dan kecewanya, Ia datang untuk melihat Hansol Hyung nya berharap saat Hansol melihatnya tak ada perasaan bersalah atau pun sedih, maka dari itu Jeno terus mengeluarkan senyuman terbaiknya dihadapan Hansol.

"kau tau Hyung, aku ketinggalan banyak pelajaran, aku juga harus mengejar tugas yang belum ku kerjakan dan sebagainya, mungkin akan lebih mudah jika ada kau yang membantuku Hyung"

"kau harus mulai mandiri, jangan bergantung padaku terus dasar maknae manja"

"Hyung jahatnya"

"hahaha..." Hansol tertawa ringan melihat Jeno, Renjun yang ada disebelah Jeno pun ikut tertawa mendengarnya.

Obrolan mereka terus berlanjut, Jeno banyak bercerita kepada Hansol semua hal yang selama ini ingin Ia ceritakan, sesekali Renjun juga ikut dalam obrolan mereka. Jeno bertanya apapun pada Hansol, apapun itu tetapi tak sekali pun Jeno bertanya 'Hyung kenapa kau melakukannya?' tak ada satu katapun dari mulut Jeno yang membahas tentang kasus pembunuhan Eomma nya itu. Tanpa Hansol sadari, diam-daim Jeno mengepalkan sebelah tangannya yang ada dipangkuannya itu, Jeno berusaha menahan air matanya, mencoba sekuat tenaga untuk tetap tersenyum dihadapan Hansol. Renjun yang melihat itu meraih tangan Jeno memberikan sedikit kekuatan padanya, Renjun memang tak tau bagaimana perasaan Jeno saat ini tapi Renjun tau temannya ini sedang memaksakan senyumnya. Semua berjalan seperti biasanya setidaknya menurut Hansol, mereka berbicara seperti tidak terjadi apapun. sampai tak terasa sudah satu jam berlalu.

"waktu sudah habis" seorang petugas, mengingatkan mereka bahwa waktu kunjung yang diberikan sudah habis.

"yaaah cepat sekali" keluh Jeno dengan kecewa.

Jeno dan Renjun bangkit dari tempatnya, Hansol juga ikut berdiri dari tempatnya duduk.

"jaga kesehatanmu Hyung, jangan sampai tidak makan, aku tidak tau seperti apa rasa makanan disana tapi aku harap kau tak akan melewati makanmu, karena kesehatan merupakan hal yang terpenting"

"hmm..kau juga, belajar dengan giat yah"

Jeno tersenyum dan mengangguk, Ia melambaikan tangannya, sementara Renjun sedikit membungkukkan badannya berpamitan pada Hansol.

"sampai jumpa Hyung"

Jeno dan Renjun berbalik berjalan menghampiri pintu keluar.

"Jeno" sebelum Jeno benar-benar keluar dari ruangan tersebut Hansol memanggilnya membuatnya menoleh kembali.

"hm?"

"maafkan aku"

Jeno tau, maksud dari maaf yang disampaikan Hansol, untuk apa Hansol meminta maaf padanya, Jeno tau itu. Sekali lagi, sekuat tenaganya Jeno menahan air matanya, Ia hanya tersenyum menanggapi Hansol dan tak berkata apapun, lalu berbalik dan membuka pintu dihadapannya keluar dari ruangan tersebut.

Setelah keluar dari ruangn itu, senyuman Jeno menghilang. Jeno berjalan tertunduk dalam diam, Renjun yang ada disampingnya pun hanya diam saja tak berkata apapun. Jeno meneteskan air matanya yang sedaritadi ditahan olehnya dan langsung buru-buru menghapus air matanya itu, Ia baru ingat ada Renjun disampingnya. Akan sangat memalukan jika menangis dihadapan Renjun.

"menangis saja jika kau ingin" Renjun yang menyadari Jeno menghapus air matanya itu akhirnya bersuara "aku tau kau daritadi menahannya"

"aku sudah menangis seharian kemarin, memalukan sekali bukan? Jangan katakan pada siapapun termasuk Mark, Jaemin dan Haechan mereka akan meledekku crying baby jika mereka tau"

"tentu saja tidak akan, hey kau malah akan terlihat mengerikan jika kau tidak menangis sama sekali menghadapi masalah seperti ini. Tidak peduli jika kau lelaki sekalipun, menangis adalah hal yang manusiawi menurutku"

Jeno tersenyum singkat, mereka berdua berjalan beriringan menuju lobby utama untuk menghampiri Doyoung yang menunggu disana.

"apa tadi aku menutupinya dengan baik?"

"hmm...senyumanmu tadi benar-benar menutupi semuanya"

"syukurlah, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak terlihat sedih dihadapannya tadi"

"apa kau tidak dendam padanya? Dia kan turut andil dalam membunuh Eomma mu"

"dibandingkan dengan dendam mungkin kecewa akan lebih tepat. Aku rasa Jaehyun Hyung dan Appa juga seperti itu. Aku tau mereka juga pasti sangat kecewa sekali, aku tidak marah padanya, bukankah kecewa dan marah itu adalah dua hal yang berbeda?"

Renjun mengangguk menyetujui, dan sedikit kagum dengan Jeno. Siapa yang tidak akan dendam dengan seseorang yang sudah membunuh Eomma mu? tapi lihat Jeno tadi, bahkan Ia berusaha untuk tersenyum dihadapan orang yang mekakukannya.

"jujur saja, aku, Jaehyun Hyung dan juga Appa berusah mati-matian untuk menemukan orang yang membunuh Eomma. Aku tau mungkin salah satu dari mereka entah itu Appa atau Hyung akan membunuh orang tersebut saat mereka menemukannya nanti. Aku menyaksikannya sendiri, Jaehyun Hyung yang menghajar Kun habis-habisan, bahkan jika tidak ku hentikan waktu itu, orang itu mungkin sudah mati. Tapi melihat Hansol Hyung yang baik-baik saja walaupun banyak luka di tubuhnya membuatku berpikir 'ah aku tau Hyung dan Appa tak sanggup membunuh orang dihadapanku ini' dan saat di rumah sakit waktu itu, ketika aku bertanya 'dimana Hansol Hyung?' aku ingat ekspresi mereka yang tak bisa kujelaskan, aku ingat Appa yang malah memelukku dan tidak menjawab pertanyaanku, membuatku mengerti mereka benar-benar sangat kecewa dengan Hansol Hyung. bodohnya aku terus menanyai dimana Hansol Hyung tanpa menyadari itu semua"

"setelah dipikir-pikir, seharusnya aku berterimakasih padamu karena telah mengambil gambarku itu"

"hm?" Renjun menautkan kedua alisnya bingung.

"kau mengambilnya demi penyelidikan yang dilakukan Hyung mu kan? dan karena itu akhirnya masalah yang menghantui aku dan keluargaku terpecahkan sudah. Seharusnya dari awal saja aku menyerahkan gambarku pada Hyung mu"

"penyesalan memang datang belakangan"

"kau benar"

Renjun merogoh saku jaketnya, mencari sesuatu yang sengaja disimpannya seharian ini. Menarik lolipop yang ada disakunya itu dan menyerahkannya kepada Jeno.

"untukmu, aku sengaja membawanya karena aku tau kau pasti membutuhkannya. Makanan manis bisa meningkatkan mood mu" Renjun menyerahkan lolipop tersebut sambil tersenyum.

"terimakasih"

"sama-sama"

Jeno membuka lolipop tersebut dan mengemutnya, Renjun benar Ia butuh makanan manis saat ini.

"hey Renjun, aku rasa dengan melihat senyummu saja mood ku akan membaik"

"huh?" Renjun melongo dengan tidak elitnya mendengar perkataan Jeno, Ia menghentikan langkahnya seketika, sementara Jeno tetap terus berjalan.

Jeno tadi bilang apa? Dia tidak salah dengar kan? Renjun menatap punggung Jeno yang sudah beberapa langkah didepannya.

"hey Renjun kenapa diam? Hyung mu sudah menunggu" Jeno menoleh sebentar ke arah Renjun yang ada dibelakangnya kemudian melanjutkan langkahnya lagi.

"ah iya..iya" tersadar dari lamunannya, Renjun kembali melangkah menyusul Jeno yang ada dihadapannya.

Sambil mengemut lolipop nya diam-diam Jeno tersenyum, ekspresi Renjun tadi lucu sekali. Jeno tidak bohong senyuman Renjun lebih manis daripada lolipop yang diemutnya ini, jadi berarti itu bisa meningkatkan mood nya juga bukan?

-TBC-


Annyeonghaseyo~

hahahaha Star mau ketawa dulu sebentar, karena niatnya mau end di chap 11 tapi malah tbc lagi lagi dan lagi haha. di chapter ini Star mau fokus dimana Jeno tau kalau Hansol ikut terlibat ternyata setelah Star ketik panjang banget yaah cuma bagian Jeno doang, jadi lah Star jadiin satu chapter aja deh, mungkin ini akan end di chapter 12 atau 13 entahlah.

btw Star cuma mau bilang. JENO GANTENG PARAH DI COMEBACK NYA DREAM KALI INI. WTF DIA SEUMURAN ADE AKUUUUUUU TAPI KENAPA DIA HOT PARAAH? WHY? WHY? WHY?

oh iya mungkin kalian akan berpikir, kenapa ini keluarga nangis mulu sih? si Johnny nangis, si Jaehyun nangis, si Jeno juga nangis. well guys Star harap kalian jangan mendeskripsikan karakter mereka sebagai karakter yang cengeng yaah, Star cuma mau menyampaikan kekecewaan mereka lewat air mata mereka.

dan itu tbc nya disitu gpp kan yaahh hahaha. Star mau ucapkan terimakasih untuk para readers yang telah memberikan reviewnya, fav, dan juga follow. maafkan kalau ada typo karena ini ngeditnya gak pake kacamata jadi mata aku rada rada deeh. sekian dari Star selamat membaca, Annyeong~