Judul : Hikari no Honoo
Author : saiganokotoba
Rating : T
Genre : Supernatural, Drama
Character : Kagami (Main), All
Warning : AU
Disclaimer : © Fujimaki Tadatoshi
Kurobas Characters in a different Universe and Storyline
Inspired by Kyoko Karasuma's Case files Manga by Hiroi Ouji and Kozaki Yusuke
*harisen: giant paper fan
*There will be no (real) pairing in this fanfiction
Chapter 11 Two Different Hopes
"Tidak boleh." Tegas Hyuuga sekali lagi. Ia berdiri di depan pintu keluar kediaman Klan Kiyoshi. Tangannya dilipat di dada dan ia menatap Kuroko tanpa ampun. Tidak akan ia ijinkan pemuda berambut biru melangkah kaki keluar dari tempat ini.
"Aku Cuma mau pergi ke sekolah." Jawab Kuroko modus. Ia memang sudah mengenakan seragam sekolah dan tasnya pun sudah digenggam di tangan. Setelah kemarin ia dikembalikan ke pengawasan Klan Kiyoshi, ia tidak diperbolehkan pergi kemana pun. Ia dalam penjagaan ketat, ke sekolah saja tidak diperbolehkan.
"Kau bisa saja kabur untuk mencari Kagami-mu itu."
Kuroko menggerutu. Rupanya pikirannya terbaca. "Aku tidak akan kenapa-kenapa. Aku ini tidak selemah seperti yang kalian pikirkan."
"Sekali tidak tetap tidak. Kembali ke kamarmu."
"Tidak mau." Kuroko memaksa, ia menantang Hyuuga, pemimpin tertinggi di klan Kiyoshi sekarang. "Aku mau bertemu dengan Kagami-kun."
"Berhenti memaksa. Kau tahu dia ada dimana sekarang?" Kuroko menggeleng dengan pasti. "Ia berada di Touou." Begitu mendengar kata 'Touou' mata Kuroko langsung terbelakak. Ia tahu, itu adalah tempat dimana Aomine berada sekarang. Benar, Aomine dan Kuroko sama-sama mengetahui dimana posisi masing-masing tapi mereka tak pernah bertemu kembali sejak 3 tahun lalu. Atau lebih tepatnya memilih untuk tak saling bertemu. "Kau ingin kesana? Bertemu dengan Aomine Daiki juga?"
Kuroko tidak menjawab. Ia ingin bertemu tapi disaat yang sama juga tidak ingin.
"Kukira kau akan bilang 'Mau'." Ujar Hyuuga agak menyindir. "Dia kan Aomine-kun yang selalu kau bela."
"Diam." Ucap Kuroko dengan nada marah.
"Aomine-kun yang seorang pengecut."
"Aku bilang diam!" Seru Kuroko dengan tatapan ingin membunuh. "Kalau memang itu maumu aku akan tetap diam disini." Kuroko pun menyerah dan berjalan kembali ke kamarnya dengan kesal. Langkah kakinya sangat keras hingga menimbulkan bunyi di setiap kayu yang diinjaknya. Jarak dari pintu depan hingga ke kamarnya lumayan jauh. Ketika ia baru saja sampai setengah jalan, Kuroko berhenti, ada seseorang yang mengikutinya. "Mau apa kau mengikutiku?"
"Ah tidak, Hyuuga menyuruhku." Jawab Izuki sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Ia selalu saja kedapatan tugas untuk mengawasi atau menemani Kuroko lebih sering daripada teman-temannya yang lain. Itu karena mata elang yang ia miliki. Ia bisa melihat ke segala penjuru tanpa harus menengok atau memutar badan. Matanya itu juga memungkinkan ia untuk melihat gerakan Kuroko yang tidak normal. Tapi, walaupun ia bisa melihat, ia tetap tak bisa mengikuti gerakan Oni itu.
"Jangan ikuti aku." Kuroko pun melanjutkan langkahnya. Tapi Izuki tidak menyerah.
"Kau mau kemana, kamarmu itu belok sini, loh." Izuki menujuk ke arah kanan, ke arah lorong tempat kamar Kuroko berada.
"Aku mau ke atap."
Lagi-lagi ia mau melihat langit.
Sejak dulu, kalau ada masalah, ia selalu pergi ke atap
"Oi tunggu." Izuki terus mengikuti Kuroko.
"Berhenti! Aku mau sendirian!" Akhirnya Kuroko berhenti dan menghadap ke arah Izuki. Ia sudah kesal harus selalu dijaga seperti ini. Bukan hanya oleh klan Kiyoshi saja, semua orang, semenjak ia kecil selalu saja menjaganya secara berlebihan. Ia benci sekali. Ia ingin bebas. "Kalian selalu saja memperlakukan aku seperti seorang tawanan. Selain itu, kalian juga tidak memikirkan perasaan orang."
"Kuroko." Gumam Izuki. Ia sebenarnya tidak membenci anak itu. Ia justru kasihan dan ingin membantunya. "Kau tidak usah memedulikan kata-kata Hyuuga, ia cuma-"
"Cuma apa..?" Kuroko menatap Izuki dengan sedih.
Aku sebenarnya tidak membenci mereka.
Setidaknya dulu, sebelum peristiwa itu terjadi.
Ketika Aomine-kun menyuruhku lari dan mengorbankan dirinya sendiri.
"Kuroko!" Kiyoshi Teppei, saat itu masih seorang calon ketua. Ia berhasil membawa para pendeta klannya untuk masuk dan menolong klan Kuroko. Ia yang pertama sampai. Dan untunglah ia dapat menemukan Kuroko yang sudah luka sana-sini. Jalan pun sulit.
"Kiyoshi-san." Kuroko terjatuh sambil menahan luka di bahu kanannya. Ia tak mampu berjalan lagi. "Tolong.. Aomine-kun."
"Dia ada dimana?" Tanya Kiyoshi sigap.
"Ada di ruangan ayah.. Dia, melawan seorang Oni dari klan Hanamiya. Dia bisa mati. Kumohon, selamatkan dia." Kuroko tak dapat menahan air matanya, ia menatap Kiyoshi dengan penuh harapan agar 'cahaya'nya itu dapat diselamatkan.
"Aku akan menolongnya. Aku janji." Kiyoshi tersenyum tenang. "Hyuuga! Kau jaga Kuroko!" Hyuuga yang sampai lebih terlambat pun segera bersiaga di sisi Kuroko.
"Baik! Anda mau kemana?!"
"Aku akan menyelamatkan yang satunya lagi!" Kiyoshi pun segera berlari menuju tempat yang dimaksud oleh Kuroko. Sementara anak laki-laki berambut biru itu hanya bisa pasrah melihat Kiyoshi pergi menyelamatkan orang terpenting bagi dirinya.
Kiyoshi tidak bisa menahan diri untuk tidak bisa merasa jijik ketika melihat banyaknya mayat yang berserakan di lantai. Beberapa diantaranya sudah dikenalnya sejak lama, mereka adalah pendeta klan Kuroko yang selalu baik padanya. Tapi kini mereka hanya tinggal raga yang tak bernyawa. "Sialan."
Kiyoshi pun akhirnya sampai di ruangan ayah Kuroko. Yang pertama dilihatnya adalah mayat sang ketua Klan Kuroko. Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Tubuh itu.. seperti sudah tak berbentuk. Tapi Kiyoshi tahu kalau itu adalah ketua Klan Kuroko hanya dari bajunya. "Aomine! Aomine!" Kiyoshi mencari-cari sosok bocah berkulit hitam itu di ruangan yang sudah porak poranda itu. "Aomi-"
"To-long.." Kiyoshi samar-samar bisa mendengar suara seseorang yang muncul dari bawah reruntuhan. Ruangan ini seperti saksi nyata pertarungan antara Aomine dengan klan Hanamiya, salah satu klan terkuat di dunia Oni. Tentu saja tak mungkin bagi Aomine untuk menang. Ia masih 13 tahun dan ia tak memiliki kekuatan roh.
"Aomine.. tenang.." Kiyoshi berusaha menarik Aomine dari reruntuhan itu. Ia berhasil. Namun Tubuh Aomine yang ada di hadapannya sudah tidak terselamatkan lagi. Bukan apa-apa, hanya saja racun Hanamiya yang sangat mengerikan itu, sudah hampir merenggut seluruh tubuhnya. Ia hanya tinggal menunggu kematian.
"Kiyoshi-san.. Aku tidak ingin mati."
.
.
"Kiyoshi!" Setelah berhasil mengantar Kuroko ke tempat yang aman, Hyuuga pun menyusul Kiyoshi. Ia mencari calon ketua klannya itu di dalam ruangan dengan wajah bingung. "Jawab hoi, kau dimana!"
"Aku disini, Hyuuga." Ujar Kiyoshi yang rupanya duduk bersandar di tembok dengan tubuh lunglai. Sekujur tubuhnya mulai menghitam, tanda-tanda terkena racun. Ia memegangi dada kanannya yang habis tertusuk sesuatu.
"Ka-Kau! Apa yang terjadi denganmu? Dimana Aomine?" Hyuuga segera duduk di sebelah tuan mudanya itu dengan wajah cemas.
"Dia, waktu aku sampai disini, racun Hanamiya sudah tak bisa diambil lagi dari tubuhnya, kecuali dipindahkan ke orang lain." Kiyoshi menyela dengan batuknya yang terdengar sangat menyakitkan. "Kemudian ia menusukku dan membiarkan racun itu berpindah ke tubuhku. Haha.. yah, aku tak akan mati sih, aku bisa menetralisirnya sedikit. Jadi kemungkinan terburuk, aku akan berada dalam keadaan koma.."
"Ti-tidak mungkin, lalu kemana dia sekarang?!" Hyuuga mencari-cari sosok Aomine. Tapi tak ada siapa pun kecuali mereka berdua disana.
"Dia sudah pergi." Kiyoshi tersenyum pasrah. "Hyuuga, dengarkan aku.."
"Sudah diam saja! Aku akan segera membawa-" Kiyoshi menggenggam erat pundak Hyuuga.
"Kalau aku tak ada. Kau yang akan menggantikanku. Kau adalah pendeta tinggi klan kita. Dengan cara apa pun, kau harus bisa menjaga Kuroko, untukku. Menangkan hak itu, jangan biarkan klan lain yang mendapatkannya." Kiyoshi mulai kesulitan melihat. "Kau mau janji?"
"Aku janji."
Kemudian. Kiyoshi tertidur.
Ia tak pernah terbangun lagi.
.
.
"Hyuuga, apa kita tak bisa melakukan apa pun untuk membangunkannya?!" Riko mendatangi Hyuuga yang baru saja selesai memberikan pidato kepada para anggota klannya. Ayah Kiyoshi, meninggal dalam peristiwa itu, ditambah lagi Kiyoshi, satu-satunya keturunan sah, kehilangan kesadarannya. Perintah dan wewenang semuanya ada di tangan Hyuuga, sang pendeta tinggi. Dengan susah payah, akhirnya Klan Kiyoshi berhasil memenangkan hak dalam menjaga Kuroko yang kini sudah kehilangan tempat tinggal.
"Tidak. Tidak ada. Kecuali api suci." Hyuuga menghentikkan langkahnya ketika melihat Kuroko yang terduduk di dekat kolam tengah klan Kiyoshi. Kuroko yang merasa diperhatikkan pun balas menatap Hyuuga. "Apa kau bisa melakukannya, Kuroko?"
"Tidak." Kuroko menjawab cepat. "Aku lupa bagaimana cara melakukannya."
"Begitu." Gumam Hyuuga kesal.
"Hyuuga-san." Kuroko mendekati sang pendeta tinggi. "Aku yakin, ini bukan salah Aomine-kun, ia tak mungkin melakukan hal seperti itu."
"Apa?" Hyuuga bereaksi mendengar ucapan Kuroko. "Kau mau bilang kalau Kiyoshi, berbohong, begitu?"
"Bukan. Hanya saja-"
"Kuberitahu saja ya, ia menusuk ketua kami, memindahkan racunnya. Tak apa kalau memang selama hal itu dilakukan ia bisa hidup. Tapi, kenapa ia meninggalkannya begitu saja..? Kenapa ia meninggalkan Kiyoshi yang memiliki luka dalam di dada kanannya?"
"..Itu." Kuroko tak bisa membalas. "Pasti ada kesalahan."
"Hahahaha, jangan membelanya, Kuroko. Dia itu bukan cahayamu lagi. Dia cuma seorang bocah pengecut."
"Jangan bicara seperti itu tentang Aomine-kun! Kau tak tahu apa-apa soalnya!" Kuroko membela sahabatnya itu.
"Aku memang tak tahu apa-apa. Tapi sekarang, aku tahu orang seperti apa dia." Balas Hyuuga tenang. "Kalau begitu katakan kepadaku, kenapa ia tak datang menemuimu?"
.
.
Peristiwa itu menjadi awal terjadinya konflik di dalam batin Kuroko. Ia ingin memercayai Aomine tapi juga tak bisa memungkiri kalau sahabatnya itu tak pernah menemuinya lagi. Apa maksudnya? Apa perbuatannya pada Kiyoshi merupakan suatu fakta? Untuk apa ia melakukannya? Selama bertahun-tahun, Kuroko tak bisa menemukan jawabannya. Akhirnya perasaan mengambang dan kacau itu berubah menjadi suatu kebencian pada Kiyoshi dan para pendeta lainnya. Mungkin benci bukan kata yang tepat; 'ketidakpercayaan'.
Ia tak tahu harus kepada siapa ia percaya.
Bahkan ia pun ragu pada dirinya sendiri.
Pada perasaannya.
Pada keyakinannya.
.
Jika Kiyoshi-san adalah seorang pembohong
Mungkin Aomine-kun adalah seorang pengkhianat
Yang manapun
Aku tidak suka
.
Kuroko menghentikan langkahnya. Ia berhenti persis satu langkah sebelum sampai ke atap, tempat ia kebanyakan menghabiskan waktunya di rumah ini. Tempat yang paling dekat dengan langit. "Bahkan, langit pun menangis."
.
Kuroko memejamkan matanya.
Mendengarkan bunyi rintik-rintik hujan yang meresap ke dalam batinnya.
.
Hujan ini
Entah kapan akan berakhir
.
.
.
.
"Bagaimana, Kagami-kun? Kau sudah mengerti belum?" Tanya Momoi dengan harisen di tangan kanannya. Ia siap memukul Kagami kapan saja ketika 'murid'nya itu melakukan kesalahan.
"Ehm jadi ada 3 konsep yang harus kupahami agar bisa menggunakan kekuatan rohku?" Kagami mencoba mengingat-ingat teori yang baru saja Momoi ajarkan padanya. "Yang pertama: Percaya. Yang kedua: Jangan merasa takut. Yang ketiga.. apa ya?" Harisen Momoi pun melayang ke arah Kagami.
"Berapa kali harus kubilang sih! Yang ketiga itu adalah: Pasrah."
"Ma-Maaf." Kagami memegang dahinya yang merah karena pukulan tadi.
"Baiklah, kau sudah cukup mengerti. Jadi sebaiknya langsung ke praktek." Momoi pun mengajak Kagami mengikutinya ke ruangan lain. Ruangan berdinding dan berlantai kayu itu cukup sempit dan tidak ada penerangan sama sekali di dalamnya kecuali sebatang lilin kecil yang ada di tengah ruangan.
"Mau apa kita kesini?"
"Aku mau kau memadamkan api itu-"
"Oh itu sih gampang-"
"Tanpa menggunakan alat. Tanpa meniupnya. Tanpa menyentuhnya."
"A-Apa?!" Kagami terkaget mendengar kata-kata Momoi. Mana mungkin mematikan api itu tanpa melakukan ketiga hal tadi?
"Dengan kata lain, gunakan kekuatan rohmu untuk mematikannya. Oke?" Momoi pun bersiap meninggalkan Kagami sendirian di dalam ruangan. "Kau baru boleh keluar kalau kau sudah bisa melakukannya."
"Si-Sial.." Kagami menggerutu kesal.
.
.
"Satsuki, mana Kagami?" Tanya Aomine yang baru selesai melakukan tugas rutinnya sebagai opsir pemberantasan Oni. Ia masih mengenakan seragam sekolah.
"Dia sedang kulatih untuk bisa mematikan api. Sudah mulai dari 5 jam yang lalu tapi belum selesai juga." Jawabnya santai.
"Hoo.." Gumam Aomine seolah tahu dimana Kagami sekarang. Ia pun segera menuju ke ruangan itu. Penasaran dengan yang dilakukan oleh si rambut merah itu.
Bisa tidak ya?
Rata-rata pendeta di kuil kami baru berhasil mematikannya sekitar seminggu lebih
Soalnya ini latihan yang paling dasar sih
Perlu pemahaman konsep yang ku-
Apa?!
Aomine terkejut ketika mengintip latihan Kagami.
Kagami hanya merentangkan tangan kirinya ke arah lilin itu. Ia berwajah sangat serius. Kemudian perlahan, tangannya itu digerakkan seperti sedang meremas sesuatu selama beberapa saat. Setelah ia membuka kepalan tangannya, secara ajaib api yang ada di depannya menghilang. "Ah kali ini lebih cepat." Kagami pun mengambil korek yang ada di dekat lilin itu, kemudian ia kembali menyalakan lilin yang sudah padam itu.
Se-sebenarnya sudah berapa kali ia mematikan api itu?
"Kagami!" Aomine akhirnya mengganggu juga. Kagami yang sedang memegang korek yang terbakar pun terkejut hingga tangannya terselomot api.
"Aw Aw Aw! Jangan bikin kaget kenapa sih!?" Protes Kagami sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang agak gosong kena api.
"Kau sudah bisa memahami konsepnya?"
"Ah.. ya.."
"Bagaimana Caranya? Kau kan bodoh-"
Bukan, justru karena ia bodoh..
Makanya ia cepat mengerti.
"Gampang saja kok. Aku nggak mengerti dengan 3 hal utama yang diajarkan oleh Momoi-san tadi. Akhirnya aku menyerah. Lalu tiba-tiba muncul ide di kepalaku. Untuk apa susah-susah memikirkan hal rumit seperti itu. Mematikan api seperti itu sih hanya perlu membalik fakta yang terjadi sehari-hari."
"Hah?" Giliran Aomine yang terlihat bodoh.
"Kalau mematikan api secara fisik, artinya tubuh kita menjalankan apa yang kita pikirkan. Jadi, kenapa kita tak membaliknya saja? Pikiran kita menjalankan apa yang tubuh kita lakukan. Menurutku itu adalah konsep yang lebih tepat."
Kekuatan roh
Sesuatu yang tak nyata
Kita tak bisa mengendalikannya dengan raga
Hanya dengan jiwa
Hahahaha
Dia ini.. lebih menarik dari dugaanku
Kami para pendeta memang sengaja membingungkan calon pendeta dengan 3 konsep palsu itu. Tujuannya agar mereka bisa menemukan konsep itu sendiri.
Makanya butuh waktu yang lama bagi pendeta-pendeta untuk menyelesaikan latihan ini
Sebenarnya mereka sudah punya potensi, kalau konsep mereka kuat, maka mengendalikan akan menjadi mudah.
Dan konsep yang kuat itu, harus ditemukan sendiri
"Jadi bodoh itu enak ya." Aomine tertawa.
"Daritadi ngatain bodoh terus, padahal kau- ..Ah tidak." Kagami yang tadinya mau membalas kata-kata Aomine teringat bahwa Aomine, apapun yang ia lakukan, tak bisa membangkitkan kekuatan rohnya. Bahkan dengan memahami konsep kekuatan roh itu sendiri.
"Tidak apa-apa." Aomine menjawab santai. "Kau hebat juga, bisa menyelesaikannya. Aku heran.. kenapa kau mau melakukan latihan ini."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Maksudku. Kau tiba-tiba saja 'dikurung' di tempat ini oleh orang yang tak kau kenal sebelumnya. Kemudian mereka menyuruhmu melakukan hal-hal yang tak pernah kau lakukan. Bahkan mereka bilang kalau kau punya beban tanggung jawab yang besar. Apa kau tak merasa kesal dan ingin kabur?" Tanya Aomine memanas-manasi.
"Um.. Gimana ya. Aku tak merasa ini adalah sesuatu yang salah. Lagipula, ini bukan pertama kalinya aku melihat latihan seperti ini?"
Apa maksudnya?
"Aku tidak bilang ya. Ayahku di Amerika juga seorang pendeta, dia membuat kuil disana. Yah kuil kecil sih. Meskipun begitu, dia tak pernah mengajariku hal seperti ini. Tapi setidaknya aku lumayan familiar." Cerita Kagami.
"Tunggu.." Aomine merasa ada suatu hal yang selama ini tak disadarinya. "Kagami.. jangan-jangan.."
"Kenapa?"
"Apa nama Ayahmu.. Kagami Seiji?"
"..Kau kenal dia?"
Mata Aomine membelakak. Ia tak menyangka ada kebetulan seperti ini. "Ahahahahaha… Kau tak tahu ya Kagami, ayahmu itu lumayan terkenal disini."
"Terkenal bagaimana?"
"Dia itu mantan pendeta tinggi Klan Kiyoshi."
Eh?
Eh?!
EEEEEEEEH?!
Kagami tak bersuara. Ia terlalu kaget untuk mengekspresikannya dalam bentuk suara. Ia sama sekali tak menyangka bahwa ayahnya memilih kaitan dengan semua ini. Soalnya, selama ini Kagami mengira kalau ayahnya Cuma pendeta gadungan yang tidak bisa melakukan mantra apa pun.
"Apa yang kau tahu soal ayahku?" Tanya Kagami yang sudah terlanjur penasaran.
"Aku Cuma sering dengar namanya. Lebih dari sepuluh tahun ia hilang entah kemana. Tak kusangka ia pergi ke Amerika."
"…Aku.. nggak tahu apa-apa." Kagami bergumam sendiri.
"Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau mau melakukan semua latihan ini?" Tanya Aomine yang berusaha mengembalikan topik pembicaraan itu ke jalan yang benar.
"Oh itu.. mudah saja.. soalnya aku ingin jadi kuat." Wajah Kagami berubah raut menjadi lebih lembut.
"Kuat?"
"Dulu aku pernah kehilangan seseorang yang sangat penting. Aku tak bisa melindunginya, padahal aku sudah janji." Kagami pun membalikkan badannya, tidak ingin menatap Aomine. "Sebenarnya.. selama ini aku selalu merasa bersalah. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri."
Aomine hanya mendengar ceritanya dengan seksama. Ia pun memiliki perasaan yang sama seperti Kagami. Perasaan gagal melindungi seseorang.
"Waktu aku tiba disini dan semua hal aneh ini terjadi.. jauh di dalam lubuk hatiku aku merasa.. Bahwa, aku diberi kesempatan sekali lagi untuk memaafkan diriku. Untuk sekali lagi mencoba melindungi seseorang. Aku tak merasa bahwa ramalan itu adalah sesuatu yang berat.. aku merasa itu adalah suatu berkah yang perlu kusyukuri.. Karena aku diberi kesempatan sekali lagi." Kagami menengok ke arah Kagami dengan senyum percaya dirinya. Wajahnya penuh antusiasme. Sepertinya tak sabar untuk menempa dirinya sendiri.
.
Bukan.. Kagami
Bukan perasaan seperti itu yang harusnya kau miliki
Kau tak bisa berusaha hanya karena kau ingin menjadi kuat
Tidak boleh semata-mata hanya karena dirimu sendiri
.
.
Kau harus memikirkan bayanganmu.
Memikirkan rekanmu.
Kalau tidak, sampai kapan pun
Kalian tidak akan bisa bersatu
.
.
.
Aomine hanya bisa terdiam membisu.
.
.
To be Continued
Just try to forget the fire practice part if it is confusing LOL /kicked
It's so hard to make rules in this universe :") /and I am not onmyouji myself /shot
Thanks for reading
Please kindly review
