Jatuh cinta itu.. Apakah rasanya menyakitkan?

Jika kita jatuh cinta, apakah sulit untuk mengungkapkannya?

Apakah jika aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku tidak mencintainya, itu malah membuktikan bahwa aku benar-benar mencintainya?

Ataukah, jika aku mencintai seorang dewa.. Apakah aku dapat hidup bersamanya?

Atau malah.. Aku akan terpisah selamanya dari dirinya karena sebuah perbedaan?

Aku tidak tahu.. Yang terpenting, saat aku bersamanya, aku merasa senang.

Jadi... Jika suatu saat kami berpisah. Dihari itu.. Semoga saja aku dapat tersenyum mengantarkan kepergiannya...

Walaupun aku tahu.. Aku selalu ingin bersama denganmu..

¤• Blue Devil •¤•

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

Genre: Romance, Fantasy & Friendship

Pairing: Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga

Rated: Teen

::

::

Kini Hinata telah menyadarinya, ia mencintai sosok lelaki itu. Lelaki berambut pirang, bermata biru laut serta senyumannya yang secerah mentari. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Apakah perasaan itu dapat terus berkembang dalam hati Hinata?

"Hoam~." Hinata bangkit dari ranjangnya setelah bangun dari tidurnya. Ia membuka tirai jendelanya dan menatap ke arah luar dan terlihat samar-samar matahari mulai muncul dari ufuk barat.

Hinata merapihkan ranjangnya dan berjalan keluar menuju beranda kamarnya. "Kenapa aku bisa bangun sepagi ini?" Hinata menatap keluar. Biasanya Hinata bangun jam setengah delapan sebelum sekolah, tapi kali ini baru jam enam saja Hinata sudah terbangun dari tidurnya. Apa karena efek perasaan?

"Lebih baik aku kembali membaca saja." Hinata berjalan menuju meja belajarnya. Sebelum itu, ia menatap Naruto dalam sosok kucing yang masih tertidur di atas sofa di dalam kamar Hinata. Hinata tersenyum, lalu ia kembali melanjutkan perjalanannya membaca buku tersebut.

Zeus adalah pemimpin/raja para dewa, penguasa Olimpus, dewa iklim, dewa petir, dan cuaca.

"Ah.. Ternyata begitu ya." Hinata kini mengerti. Ia juga menyimpulkan, jika ayah Naruto adalah penguasa atau raja dari para dewa, berarti suatu saat Naruto akan menggantikan dewa Zeus dong?

Hinata jadi kepikiran tentang kakak dewa Zeus, jadi Hinata membuka lembaran baru dan mencari tugas dari dewa Poseidon.

Poseidon adalah dewa laut, gempa bumi, dan bapak bangsa kuda.

Benar seperti dongeng putri duyung, penguasa lautan adalah Poseidon. Dan biasanya gempa bumi di bawah laut mungkin karena kemarahan Poseidon. Poseidon sering digambarkan bertubuh setengah manusia dan setengah ikan. Sudah begitu, tongkat trisula adalah tongkat yang menyimpan semua kekuatannya untuk melakukan sesuatu.

Hinata jadi berpikir, ternyata dunia perdewaan menarik. Hinata jadi tersenyum sendiri dikala membaca dewa-dewi lain yang termasuk ke dalam dewa Olimpus.

Jadi Hinata kembali melanjutkan membaca dewa-dewa Olimpus yang lain. Sampai ia teringat, tempat dimana Naruto tinggal saat masih menjadi dewa. Dunia bawah.

Hinata jadi penasaran, dunia bawah itu apa ya? Oleh sebab itu Hinata membuka satu-persatu lembar dari buku tersebut untuk mengetahui bagian yang membahas dunia bawah. Tidak mungkin buku yang menceritakan tentang dewa tidak mempunyai informasi mengenai dunia bawah tempat para dewa yang tidak termasuk dua belas dewa Olimpus.

Setelah membuka lembaran ke sepuluh paling akhir, akhirnya Hinata menemukannya juga.

Dunia bawah dalam mitologi Yunani adalah suatu tempat yang terletak jauh di dalam tanah atau di perut bumi.

Kalimat itu juga pernah diucapkan oleh Naruto. Misalkan Naruto tinggal disana, tempatnya seperti apa ya? Hinata jadi bingung sendiri. Dunia bawah itu tanah kan?

Dunia bawah sering juga disebut Hades, yang diambil dari nama dewa penguasanya, yakni dewa Hades. Dunia bawah merupakan tempat bagi para arwah manusia yang sudah meninggalkan tubuh mereka.

"Ah~ Ini yang pernah kupikirkan." dunia bawah, tempat para tubuh manusia yang tidak bernyawa dibaringkan. Dan setelah itu arwah mereka akan menjalani perjalanan yang panjang sebelum sampai ke tujuannya.

Dunia bawah meliputi Tartaros, tempat para Titan dikurung. Dunia orang-orang mati, tempat untuk roh orang-orang yang telah mati. Tempat ini dipimpin oleh Hades dan istrinya, Persefone.

Lagi-lagi muncul kata-kata Hades. Apa karena Hades pemimpinnya, oleh sebab itu namanya selalu muncul dalam buku tersebut.

Kepulauan Elisian atau Kepulauan Yang Diberkahi, tempat tinggal bagi para pahlawan yang telah mati. Tempat ini dipimpin oleh Kronos.

"Tempat pahlawan yang telah mati? Apa pahlawan-pahlawan dari Konoha juga ada ya?" seru Hinata dalam hati sambil terus membaca-baca buku bagian lain.

Taman Elisian yang dipimpin oleh Rhadamanthis. Tempat tinggal bagi jiwa-jiwa yang telah dipilih dewa.

"Wah~ Jiwa-jiwa yang dipilih oleh dewa? Setelah dipilih oleh dewa, mereka akan menjadi apa ya?" sayangnya informasi tentang kelanjutan taman itu tidak ada lagi. Jadi informasi yang didapatkan oleh Hinata menggantung deh~.

Ada lima sungai yang mengalir di dunia bawah, yaitu sungai Akheron (sungai kesedihan), sungai Kokitos (sungai ratapan), sungai Flegethon (sungai api), sungai Lethe (sungai kelalaian), dan sungai Stiks (sungai kebencian), yang membentuk batas antara dunia atas dan bawah.

Ternyata selain taman, di dunia bawah juga memiliki sungai. Tidak berbeda jauh dengan dunia manusia yang juga memiliki kedua dari bentuk alam itu. Tapi kalau dilihat dari tempatnya langsung, pasti sangat berbeda jauh.

Dewa dunia bawah Yunani adalah dewa-dewa dalam mitologi Yunani yang tinggal atau bertugas di dunia bawah. Pemimpinnya adalah Hades yang didampingi oleh istrinya, Persefone.

Hades, Persefone, sepertinya Hinata pernah mendengar nama itu. Apa dari kartun yang dia tonton semasa kecil? Ntahlah, lebih baik Hinata mencari tugas-tugas dari dewa-dewa dunia bawah itu.

Hades adalah pemimpin di dunia bawah.

Persefone, istri Hades.

"Yah~ Informasinya hanya itu ya. Kukira ada tugas yang mereka kerjakan~." Hinata sedikit kecewa dengan informasi yang dapat dikatakan tidak lengkap itu. Akhirnya Hinata memutuskan untuk melihat dewa-dewa dunia bawah yang lain.

Dari Hekate, Stix, Ploutos, Thanatos, Hipnos, Kharon, Ker, Moros dan semua dewa yang bertugas di dunia bawah. "Loh, sepertinya ada yang kurang. Kemana dewa mimpi?" Hinata membolak-balik lembaran buku itu yang lain. Setau Hinata dari Naruto, dewa mimpi itu bertugas di dunia bawah, tapi kenapa di buku tidak ada?

Akhirnya Hinata telah berada di buku halaman ketiga yang terakhir. Dan ternyata dihalaman itu menjelaskan apa itu dewa mimpi.

Morfeus, Fobetor, Fantasos, mereka bertiga adalah dewa mimpi dengan kemampuan yang berbeda-beda. Mereka bertiga sering disebut Oneiroi.

"Dimulai dari Morfeus saja." seru Hinata dalam hatinya.

Morfeus (bahasa Yunani: Μορφεύς, Morpheus, atau Μορφέας, Morpheas, "pembentuk mimpi") adalah pemimpin dari Oneiroi. Morfeus memiliki kemampuan untuk menyamar menjadi manusia dan memasuki mimpi orang lain. Morfeus bisa menjelma menjadi siapa saja, dan samaran Morfeus hampir tak bisa dibedakan dari manusia aslinya. Morfeus juga sering mengisi mimpi para raja dan pahlawan. Morfeus terkadang ditugaskan untuk menyampaikan pesan dari para dewa lewat mimpi. Morfeus dilambangkan sebagai daimon bersayap. Obat Morfina dinamai dari namanya.

"Ah.. Begitu ya." ternyata yang dikatakan oleh ayah Hinata benar. Morfeus itu dewa mimpi yang ahli mengubah wujud menjadi sosok manusia. Tapi di buku ini Hinata mendapat lebih banyak informasi mengenai Morfeus yang sebelumnya tidak diketahui oleh dirinya.

"Dan tentang daimon bersayap, apa jangan-jangan sosok asli Naruto-kun seperti itu ya?" Hinata kembali berpikir dalam hatinya. Tapi ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin." Hinatapun kembali melanjutkan membacanya.

Fobetor ("menakutkan") adalah dewa mimpi yang memberikan mimpi buruk, dia muncul dalam mimpi sebagai hewan atau monster. Para dewa menyebutnya sebagai Ikelos. Fobetor tinggal bersama kedua saudaranya di dunia mimpi. Dia menciptakan mimpi buruk untuk para manusia di bumi. Fobetor juga menciptakan sepasang monster untuk menjaga gerbang dunia mimpi dari penyusup. Kedua monster ini akan berubah menjadi hal yang menakutkan bagi penyusup.

Dari awal membaca informasi saja sudah ada kata menakutkan. Ternyata ini yang disampaikan Naruto saat sesudah dewi Afrodit mampir ke kamarnya.

"Ah." tiba-tiba Hinata blushing ketika mengingat apa yang terjadi setelah itu. Kenapa bisa-bisanya Hinata tenang ketika dipeluk oleh Naruto. Hinata tidak menyangka dulu ia pernah melakukan hal itu bersama dengan Naruto.

Ya dari pada memikirkan hal yang sudah lalu, mending Hinata membaca dewa mimpi yang terakhir. Kira-kira seperti apa ya? Ayah Hinata saja lupa tentang dewa mimpi yang terakhir itu. Jadi dengan membaca buku ini, Hinata akan segera mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui oleh Hinata. Dibuku tertulis dewa mimpi itu adalah saudara dari Morfeus dan Fobetor, berarti Naruto pasti memiliki seorang saudara karena Morfeus dan Fobetor sudah termasuk ke dalam diri Naruto.

"Sedang baca apa?" Hinata tersentak ketika mendengar suara baritone dari belakangnya. Jantungnya jadi tidak dapat bergerak dengan normal, ia terkejut seperti seekor kucing yang terkejut dan langsung melompat ke arah samping.

Hal itu tentu membuat Hinata jatuh. "Kamu tidak apa-apa Hinata?" tanya seseorang yang ternyata adalah Naruto sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Hinata berdiri.

"Aku.. Aku tidak apa-apa." untung saja ada kejadian jatuh itu. Jadi detak jantung Hinata sudah kembali normal dan tidak merasakan doki-doki lagi.

Setelah Hinata berdiri, Naruto kembali menanyakan hal yang sebelumnya ditanyakan olehnya tapi belum terjawab oleh Hinata. "Sedang baca apa?" kembali Naruto mengulangi kalimatnya sambil menengok ke arah buku bewarna hitam kelam itu.

"Ah.. Seperti yang aku pernah katakan pada Naruto-kun dulu, aku akan mempelajari tentang dunia Naruto-kun." Hinata berjalan menuju buku tersebut dan menutupnya lalu disimpannya dengan rapih di dekat buku pelajaran.

"Tidak dibaca lagi?" kembali Naruto bertanya.

"Tidak, aku mau siap-siap sekolah, sudah jam setengah delapan." Hinatapun berjalan menuju lemari pakaiannya untuk mengambil seragamnya.

"Dan sampai aku pulang sekolah, Naruto-kun tidak boleh menjemputku di sekolah." kata-kata itu membuat Naruto murung. Selama itu pasti ia akan merasa bosan. Tapi untuk seorang Naruto, mana mungkin ia mematuhi perintah Hinata.

"Baiklah aku berangkat sekolah dulu ya Naruto-kun. Ingat kata-kataku sebelumnya." Hinata mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar. Sambil menatap kepergian Hinata dengan wajah datar.

Sampai sosok itu tak terlihat lagi di depan pintu, tiba-tiba wajah menyeringai Naruto muncul.

"Tidak mungkin kan aku tetap diam disini."

::

::

"Karena hari ini pulang cepat, kita main dulu yuk Hinata-chan."

"Eh?" Hinata menengokkan kepalanya ke arah seseorang yang berkata itu. Sudah jelas dan sudah pasti itu adalah Sakura.

"Iya, mumpung sekarang masih jam sepuluh. Sekali-kali bersenang-senang tidak apa-apa kan Hinata-chan?" Sakura menggebrak-gebrakkan tasnya di atas meja Hinata sehingga terdengar suara benturan yang cukup keras.

"Sebenarnya boleh saja sih. Tapi memangnya Sakura-chan mau kemana?" tanya Hinata. Kini Hinata yang sudah selesai merapihkan bukunya bangkit berdiri.

"Kemana saja boleh. Apa ada tempat yang ingin Hinata-chan datangi?" mereka lalu berjalan keluar kelas.

"Hm.. Tidak ada. Kalau Sakura-chan?" Hinata menatap Sakura yang menatap lurus kedepan.

"Aku mau mampir ke toko itu dulu boleh?" Hinata memiringkan kepalanya.

"Toko apa?" Hinata tidak mengerti. Kalau Sakura tidak menjelaskan secara rinci apa nama toko yang ingin dikunjungi, mana Hinata mengerti.

"Toko barang antik itu." Hinata mengangguk. Kini ia mengerti apa maksud dari perkataan Sakura sebelumnya.

"Baiklah, jalan itu juga tidak jauh dari rumah kan." Sakura ikut mengangguk sambil tersenyum.

"Oke, kita menuju kesana!~." dengan semangatnya Sakura menarik tangan Hinata menuju ke tempat tujuannya tersebut.

::

::

"Jadi apa tujuan Sakura-chan kesini?" tanya Hinata. Kini mereka sudah berada di dalam toko tersebut. Mereka telah disambut oleh pengusaha toko barang antik itu yakni Kakashi.

"Aku ingin membeli cangkir teh yang waktu itu. Ternyata aku tidak dapat melepaskannya. Apa masih ada ya?" Sakura berjalan menuju ke tempat yang dulu pernah ia lihat yang menyimpan cangkir tersebut.

Tapi perasaannya sedikit kecewa disaat ia tidak melihat cangkir itu ditempatnya. Lalu ia menengok ke arah Kakashi yang tidak terlalu jauh berdiri di dekatnya. "Apa cangkir dengan motif buah cherry sudah terjual?" tanya Sakura menatap ke arah Kakashi.

"Ah itu ada didalam. Hinata bilang mungkin suatu hari kamu akan membelinya. Oleh sebab itu Hinata menyuruhku untuk menyimpannya terlebih dahulu." setelah Kakashi berkata begitu, Sakura menatap ke arah Hinata. Dilihatnya Hinata tersenyum.

"Bagus kan Sakura-chan?" Hinata lalu berjalan mendekat ke arah Sakura. "Sudah kuperkirakan pasti Sakura-chan akan membelinya." dan akhirnya mereka berdua menunggu selagi Kakashi mengambilkan barang antik pesanan Sakura.

"Terima kasih Hinata-chan, aku senang." seru Sakura. Iapun kembali melihat ke arah cangkir-cangkir disana. Kemudian matanya tertuju kepada sebuah cangkir dengan motif tomat.

"Wah~." ucapnya. Itu membuat Hinata penasaran cangkir apa lagi yang kini menarik perhatian Sakura.

"Apa ada cangkir yang menarik lagi Sakura-chan?" tanya Hinata setelah dirinya sudah berdiri di samping Sakura.

"Itu." lalu Sakura menunjukkan cangkir tersebut.

"Apa Sakura-chan menyukai tomat?" tanyanya lagi. Sakura menggeleng.

"Sasuke yang menyukainya." itu membuat Hinata mengangguk.

"Lalu apa Sakura-chan ingin membelikannya untuk Sasuke biar jadi sepasang?" beribu-ribu pertanyaan kini sudah terlontar dari mulut Hinata.

"Kalau bisa seperti itu, ya akan kulakukan." tepat setelah itu Kakashi datang dengan membawa cangkir yang sudah dibungkus supaya tidak pecah jika dibawa pulang.

Lalu Kakashi menyerahkannya kepada Sakura dan Sakura meminta supaya cangkir yang satu lagi dibungkus juga. Setelah membayar, akhirnya mereka berduapun bersiap untuk ke tempat lain.

"Apa ada tempat lain yang ingin Sakura-chan kunjungi?" tanya Hinata. Setelah menuju toko barang antik, mereka ingin jalan-jalan ke tempat lain. Waktu juga masih memungkinkan mereka untuk bersantai-santai.

"Tidak usah jauh-jauh. Ke taman saja yuk Hinata. Sekalian liat anak-anak tk yang bermain. Biasanya jam segini aku sering liat mereka bermain." tawar Sakura. Sakura merupakan seseorang yang menyukai anak-anak. Begitu pula dengan Hinata.

Menurut mereka, anak-anak itu sangat manis. Apalagi jika memiliki pipi tembem dan kemerahan. Itu menambah kemanisan yang dimiliki oleh mereka.

Akhirnya sudah bulat keputusan mereka untuk menuju ke taman. Lalu mereka berjalan kesana, dan setelah sampai disana mereka duduk di kursi taman. Sambil meminum minuman kaleng yang sudah dibeli di mesin penjual otomatis, mereka menatap anak-anak yang sedang main permainan disana.

"Sakura-chan." panggil Hinata dikala mereka sedang meneguk minuman kaleng pertamanya.

"Ada apa?" tanya Sakura.

"Aku baru kepikiran sekarang, Sasuke itu bukankah orang yang tidak suka dengan sesuatu yang seperti cangkir sepasang itu ya? Sifatnya kan dingin." Hinata mengeluarkan semua pemikirannya tentang jika Sakura memberikan cangkir tersebut terhadap Sasuke, mungkin responnya akan dingin. Seperti karakter yang selalu ditunjukkan oleh dirinya disekolah.

"Tidak kok, aku yakin Sasuke-kun akan menerimanya dengan senang." Sakura tersenyum, kemudian ia menatap ke arah langit.

"Oh ya Hinata-chan." ucap Sakura.

"Hm?" Kini Hinata yang kembali diberikan pertanyaan oleh Sakura. Masih tetap menatap anak-anak yang bermain.

"Bagaimana keadaan lukisan yang Hinata-chan dapatkan? Disimpan atau dipajang?" setelah mampir untuk membeli cangkir, tiba-tiba Sakura jadi teringat mengenai lukisan yang menurutnya disukai oleh Hinata.

"Aa.." Hinata bingung. Tidak mungkin kan dia berkata jujur bahwa lukisan itu tiba-tiba berubah menjadi seorang dewa? Kalau Hinata berkata seperti itu, pasti Hinata dianggap ngawur oleh Sakura.

Ia merasa tidak enak juga kalau misalnya harus berbohong, tapi apa boleh buat. Demi kebaikan, tidak apalah walau berbohong sedikit. "Maafkan aku karena sudah berbohong Kami-sama." seru Hinata dalam hatinya.

"Aku pajang di dalam kamar." sukses sudah kebohongan meluncur dari mulut Hinata. Ya tapi apa boleh buat, itulah jawaban yang saat ini masuk ke logika dan dapat dimegerti.

"Oh begitu ya. Oh ya! Kemana pria pirang itu? Kok tidak jemput Hinata-chan sih?" pertanyaan itu sukses membuat Hinata yang menatap anak-anak kini memberikan seluruh pandangannya untuk menatap Sakura.

"Aku.. Aku menyuruhnya supaya tidak menjemputku lagi kok."

"Ya Hinata-chan baga.."

"GYAA!" sebuah teriakan yang membuat Hinata dan Sakura terkejut tiba-tiba datang. Mereka berdua dikejutkan olehnya sampai Sakura tidak dapat menyelesaikan kalimatnya.

Merekapun penasaran suara apa itu. Sehingga mereka berdua menengok secara bersamaan asal suara tersebut.

"KYAA! Tinggi tinggi!"

"Hei, gantian dong! Giliranku nih!"

"Tidak, seharusnya aku!"

Para anak-anak tk yang awalnya senang dengan wahana di taman itu kini bergerumul melingkari seorang pemuda yang berada di tengahnya. Sepertinya mereka semua ingin mencoba diterbangkan(?) ke atas. Maksudnya diterbangkan adalah anak-anak itu digendong tinggi-tinggi dengan kedua tangan pemuda itu.

"Haha, gantian ya."

Mata Hinata membulat seketika melihat siapa yang melakukan hal tersebut kepada anak-anak itu. Dengan sigap Hinata langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju gerombolan anak-anak tk tersebut.

"Apa.." langkah mereka pun semakin dekat.

"Apa yang.." Hinata menunduk, mendengar seseorang yang sepertinya berkata kepada pria ditengah anak-anak itu, akhirnya pemuda itu menatap seseorang di depannya.

"Apa yang Naruto-kun lakukan disini?" Hinata mengangkat kepalanya, dengan tatapan seram ia menatap seseorang yang diajak bicara.

"Eh?" pemuda itupun menengok kearah gadis di depannya. "Eh Hina.. Hinata." dengan kakunya ia menurunkan anak laki-laki yang ia gendong dan menatap Hinata dengan ketakutan.

"Apa yang Naruto-kun lakukan disini?!" dengan nada yang lebih ditinggikan dan juga suara yang diseram-seramkan, Hinata menatap Naruto tajam.

"Aku.. Aku hanya.." pemuda yang ternyata bernama Naruto itu mengangkat kedua tangannya sebagai perlindungan sementara.

"Ada apa ini?" mendengar suara disampingnya, kemarahan Hinata jadi meredam. Ia lalu menengok ke samping. Ternyata itu adalah Sakura yang sudah menyusulnya.

"Eh Sakura. Hehe." mendengar ada yang memanggil namanya dan itu adalah seorang laki-laki. Sakurapun menengokkan kepalanya menuju ke arah suara yang memanggilnya tersebut.

"Pria pirang!" dengan terkejutnya Sakura memanggil Naruto dengan sebutan itu.

"Heihei, aku bukan pria pirang, aku ini Naruto!" dengan nada kejengkelan Naruto menolak panggilan dari gadis bublegum itu kepadanya.

"Eh maaf." seru Sakura kemudian.

"Jadi, apa yang Naruto-kun lakukan disini?" kembali lagi Hinata membuka mulutnya setelah sekian lama menunggu percakapan di antara sahabatnya dengan laki-laki yang disukai olehnya selesai.

"Eh.. Hanya.. Bermain.. Saja.." kembali lagi ke keadaan yang gugup, Naruto serasa aura Hinata jadi menyeramkan.

Hinata menghela nafas. Tiba-tiba Naruto merasakan aura itu sudah kembali ke semula. "Kalau Naruto-kun mau main-main, jangan pulang malam ya." jelas Hinata pelan.

"Jangan pulang malam?" Sakura yang langsung mendengar itu langsung penasaran. Ia menengok ke arah Hinata dan Naruto secara bersamaan.

"Iya, kalau pulang malam nanti bahaya. Banyak orang jahat kan?" dengan polosnya Hinata berkata demikian. Sakura langsung tertawa terbahak-bahak mendengar hal tersebut. Sedangkan Naruto yang jadi bahan pembicaraan dan anak-anak yang masih berdiri di sekitar sana hanya bingung.

"Ke.. Kenapa Sakura-chan tertawa?" wajah Hinata merona karena malu ditertawakan seperti itu oleh Sakura.

"Dia itu laki-laki Hinata-chan~ Laki-Laki!" mendengar perkataan Sakura kini Hinata menjadi mengerti. Naruto kan laki-laki, jadi pasti dia bisa menjaga diri dia sendiri walaupun pulang malam sekalipun.

"Ah maafkan aku Naruto-kun!" seru Hinata tiba-tiba. Walaupun Naruto tidak mengerti, tapi ia akhirnya hanya bisa menyengir yang menjadi ciri khasnya.

Lagi-lagi. Tiba-tiba saja Hinata kembali merasakan hal yang dinamakan berdebar. Tatapan mata Hinata seperti orang yang sedang jatuh cinta, dan Sakura menyadari hal itu hanya tertawa pelan.

"Kalau begitu, ayo kita main sampai titik darah penghabisan!" dengan semangatnya Naruto mengepalkan tangannya dan diangkatnya tinggi-tinggi kelangit sebagai tanda semangatnya sudah dirinya sekarang.

Lalu Narutopun beserta anak-anak yang lain berlari ke arah lain di sekitar taman itu. Hinata dan Sakura yang melihat ayunan kosong memilih untuk duduk disana sekalian bermain-main pula.

"Hah~ Rasanya sudah lama sekali tidak bermain ayunan." Hinata mengayun-ayunkan ayunannya kedepan dan kebelakang. Sambil merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya, Hinata menutup matanya supaya dapat merasakannya lebih dalam lagi.

"Hinata-chan suka sama pria pirang itu kan?"

"Eh?" Hinata menghentikan gerakan kakinya menggerakkan ayunan tersebut. Setelah ayunan tersebut berhenti, Hinata menatap Sakura.

"Maksud Sakura-chan apa?"

"Tatapanmu." Hinata semakin tidak mengerti. Tatapan apa yang dimaksud oleh Sakura.

"Tatapanmu menunjukkan seorang gadis yang sedang jatuh cinta."

"Eh?" Hinata tambah tidak mengerti. Walaupun ia yakin kalau dirinya menyukai Naruto, tapi itu belum tentu sampai cinta kan?

"Dulu Hinata-chan pernah memberitahukanku arti cinta," Sakura menggerakan ayunannya maju mundur. "tapi kenapa sekarang Hinata-chan yang tidak mengerti?" Sakura melompat dari ayunan yang masih bergerak itu dan mendarat dengan mulus ditanah. Ia menghadap ke arah Hinata yang juga tengah menatapnya.

"Bukannya aku tidak mengerti, tapi.. Memang.. Tidak dapat dipungkiri, aku menyukainya." Hinata menatap ke arah Naruto. Lalu ia bangkit dan berdiri di samping Sakura. "Tapi aku tidak tahu apakah aku boleh mencapai batas mencintai." Sakura tidak mengerti. Sudah jelas mencintai seseorang itu hal yang wajar kan? Siapa saja boleh merasakan sesuatu yang dinamakan cinta, perasaan tersebut muncul dengan sendirinya tanpa kita ketahui apa penyebabnya.

"Maksud Hinata-chan apa?" ketidakmengertian Sakura kini telah terlontar melalui sebuah pertanyaan.

"Ada hal yang membuat aku bertanya-tanya apakah aku boleh mencintainya atau tidak." Hinata berjalan menuju tempat bermain Naruto.

"Karena.. Perbedaan yang kami miliki sangat jauh."

To Be Continue

(Ch. 11 end)

Yuhu yuhu~ Akhirnya selesai juga. Dalam menyelesaikan chapter ini, banyak sekali rintangan karena aku merasa males-males gimana gitu mengerjakan fic ini. Tapi untungnya chapter ini terselesaikan juga.

Gomen kalau chapter ini kurang memuaskan ya. Karena aku merasa chapter ini tidak terlalu memuaskan bagiku.

Oke, cara penulisanku berubah. Yang sebelumnya aku membalas review di atas sebelum cerita, kini berganti di bawah. Jadi yang me-review chapter lalu, aku bales sekarang ya~ Tapi yang tidak login saja~

Yui Kazu : haha, ya sudah pasti dong dengan Naruto~

Karena sudah mencapai batas 1 chapter~

Hayoo~ jangan mikir yang macem-macem~

Ya kita lihat saja nanti, arigatou~

puchan : haha, arigatou~ ini udah kok~

fujisawa suzuchan : ini udah~

NamiMirushi : haha, ini udah~

Ayon R. Marvell : ini udah~

Ya, sekian saja dariku~

Spesial Thanks to:

- Hikaru-Ryuu Hitachiin

- Yui Kazu

- Blue-senpai

- puchan

- Karizta-chan

- a first letter

- bala-san dewa

- Akira no Rinnegan

- fujisawa suzuchan

- setsuna-yami

- NamiMirushi

- isas . hernandes

- ujhethejamers

- Ayon R. Marvell

- eliza . halianson

- Akatsuki Hotaru

- Elgha-Shi no GoBesuto

::

::

V